Anda di halaman 1dari 8

TUGAS HUKUM dan HAM

DOSEN : Pak Sonny wicaksono

Pemberian Pidana Kepada Aparat Yang Melanggar HAM Dalam Kerusuhan Mei 1998

Disusun oleh :

Nama Mata Kuliah

: :

Saut Oloan Samosir Hukum dan HAM

8111410119/2010

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2011

Bab I Pendahuluan

1. Latar belakang
Dalam rangka ingin mengadakan suatu perubahan pasti akan banyak suatu tantangan berat yang dihadapi. Hal itu oleh karena diri kita tidak terbiasa akan hal yang baru dan yang lebih baik,sebab biasanya untuk merubah hal buruk menuju hal baik adalah hal yang sulit,tetapi merubah hal yang baik menjadi hal yang tidak baik itu sangatlah mudah. Itu dapat terbukti juga dalam hal pemerintahan,kia dapat melihat dimana suatu program pemerintahan yang bersih yang,bebas dari korupsi sangatah mengalami perselisihan dalam peleksanaannya. Kita dapat melihat dalam contoh kerusuhan mei tahun 1998,yang dimana para pemuda yang terdiri dari gabungan mahasiswa dari berbagai universitas mengadakan demo,yang dimana demo tersebut bertujuan untuk menghasilkan suatu perubahan atau reformasi dalam penyelengaraan pemerintahan ini. Kemarahan masyarakat juga timbul terhadap kebrutalan aparat keamanan dalam peristiwa Trisakti dialihkan kepada orang Indonesia sendiri yang keturunan, terutama keturunan Cina. Betapa amuk massa itu sangat menyeramkan dan terjadi sepanjang siang dan malam hari mulai pada malam hari tanggal 12 Mei dan semakin parah pada tanggal 13 Mei siang hari setelah disampaikan kepada masyarakat secara resmi melalui berita mengenai gugurnya mahasiswa tertembak aparat. Sampai tanggal 15 Mei 1998 di Jakarta dan banyak kota besar lainnya di Indonesia terjadi kerusuhan besar tak terkendali mengakibatkan ribuan gedung, toko maupun rumah di kota-kota Indonesia hancur lebur dirusak dan dibakar massa. Sebagian mahasiswa mencoba menenangkan masyarakat namun tidak dapat mengendalikan banyaknya massa yang marah. Setelah kerusuhan, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia pada abad ke 20, yang tinggal hanyalah duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Belum lagi kerugian jiwa di mana korban yang meninggal saat kerusuhan mencapai ribuan jiwa. Mereka meninggal karena terjebak dalam kebakaran di gedung-gedung dan juga rumah yang dibakar oleh massa. Ada pula yang psikologisnya menjadi terganggu karena peristiwa pembakaran, penganiayaan, pemerkosaan terhadap etnis Cina maupun yang terpaksa kehilangan anggota keluarganya saat kerusuhan terjadi. Sangat mahal biaya yang ditanggung oleh bangsa ini.

2. Rumusan masalah a. Apa penyebab terjadi kerusuhan Mei 1998? b. Apa akibat kerusuhan mei 1998? c. Apa sanksi yang didapat yang melanggar HAM pada kerusuhan Mei 1998 3. Tujuan
a. Mengetahui penyebab terjadinya kerusuhan mei 1998 b. Mengetahui akibat yang timbul dari kerusuhan mei 1998 c. Mengetahui sanksi yang didapat terhadap pelanggar Ham pada kerusuhan mei 1998

Bab II Pembahasan
Kerusuhan mei 1998 terjadi bukan tanpa sebab,tetapi karena sebab yang sangat berati yaitu dimana masyarakat beserta mahasiswa ingin terjadi adanya suatu perubahan yang berati dalam penyelenggaraan pemerintahan ini dan juga masyarakat geram akan kebrutalan aparat keamanan dalam peristiwa Trisakti dialihkan kepada orang Indonesia sendiri yang keturunan, terutama keturunan Cina. Betapa amuk massa itu sangat menyeramkan dan terjadi sepanjang siang dan malam hari mulai pada malam hari tanggal 12 Mei dan semakin parah pada tanggal 13 Mei siang hari setelah disampaikan kepada masyarakat secara resmi melalui berita mengenai gugurnya mahasiswa tertembak aparat. Setelah kerusuhan, yang merupakan terbesar sepanjang sejarah bangsa Indonesia pada abad ke 20, yang tinggal hanyalah duka, penderitaan, dan penyesalan. Bangsa ini telah menjadi bodoh dengan seketika karena kerugian material sudah tak terhitung lagi padahal bangsa ini sedang mengalami kesulitan ekonomi. Belum lagi kerugian jiwa di mana korban yang meninggal saat kerusuhan mencapai ribuan jiwa. Mereka meninggal karena terjebak dalam kebakaran di gedung-gedung dan juga rumah yang dibakar oleh massa. Ada pula yang psikologisnya menjadi terganggu karena peristiwa pembakaran, penganiayaan, pemerkosaan terhadap etnis Cina maupun yang terpaksa kehilangan anggota keluarganya saat kerusuhan terjadi. Sangat mahal biaya yang ditanggung oleh bangsa ini. Akhirnya dibentuk Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) untuk menyelidiki masalah ini karena saat itu Indonesia benar-benar menjadi sasaran kemarahan dunia karena peristiwa memalukan dengan adanya kejadian pemerkosaan dan tindakan rasialisme yang mengikuti peristiwa gugurnya Pahlawan Reformasi. Demonstrasi terjadi di kota-kota besar dunia mengecam kebrutalan para perusuh. Akhirnya untuk meredam kemarahan dunia luar negri TGPF mengeluarkan pernyataan resmi yang menyatakan bahwa adalah benar terjadi peristiwa pemerkosaan terhadap wanita etnis minoritas yang mencapai hampir seratus orang dan juga penganiayaan maupun pembunuhan oleh sekelompok orang yang diduga telah dilatih dan digerakkan secara serentak oleh suatu kelompok terselubung. Sampai saat ini tidak ada tindak lanjut untuk membuktikan kelompok mana yang menggerakkan kerusuhan itu walau diindikasikan keterlibatan personel dengan postur mirip militer dalam peristiwa itu. Peristiwa kerusuhan tanggal 13-15 Mei 1998 tidak dapat dilepaskan dari konteks dinamika sosial politik masyarakat Indonesia pada masa itu, yang ditandai dengan rentetan peristiwa Pemilu 1997, krisis ekonomi, Sidang Umum MPR RI Tahun 1998, demonstrasi simultan mahasiswa, penculikan para aktivis dan tertembaknya mahasiswa Trisakti. Pada peristiwa inilah rangkaian kekerasan yang berpola dan beruntun yang terjadi secara akumulatif dan menyeluruh, dapat dilihat sebagai titik api bertemunya dua proses pokok yakni proses pergumulan elit politik yang intensif yang terpusat pada pertarungan politik tentang

kelangsungan rezim Orde Baru dan kepemimpian Presiden Suharto yang telah kehilangan kepercayaan rakyat dan proses cepat pemburukan ekonomi. Di bidang politik terjadi gejala yang mengindikasikan adanya pertarungan faksi-faksi intra elit yang melibatkan kekuatan-kekuatan yang ada dalam pemerintahan maupun masyarakat yang terpusat pada isu penggantian kepemimpinan nasional. Hal ini tampak dari adanya faktor dinamika politik seperti yang tampak dalam pertemuan di Makostrad tanggal 14 Mei 1998 antara beberapa pejabat ABRI dengan beberapa tokoh masyarakat, yang menggambarkan bagian integral dari pergumulan elit politik. Di samping itu dinamika pergumulan juga tampak pada tanggung jawab Letjen TNI Prabowo Subianto dalam kasus penculikan aktivis. Analisa ini semakin dikuatkan dengan fakta terjadinya pergantian kepemimpinan nasional satu minggu setelah kerusuhan terjadi, yang sebelumnya telah didahului dengan adanya langkah-langkah ke arah diberlakukannya TAP MPR No. V /MPR/1998. Di bidang ekonomi terjadi krisis moneter yang telab mengakibatkan membesarnya kesenjangan sosial ekonomi, menguatnya persepsi tentang ketikdakadilan yang semakin akut dan menciptakan dislokasi sosial yang luas yang amat rentan terhadap konflik vertikal (antarkelas) dan horizontal (antargolongan). Di bidang sosial, akibat krisis bidang politik dan ekonomi, nampak jelas gejala kekerasan massa yang eksesif yang cenderung dipilih sebagai solusi penyelesaian masalah, misalnya dalam bentuk penjarahan di antara sesama penduduk di daerah. Begitu pula adanya sentimen ras yang laten dalam masyarakat telah merebak menjadi rasialisme terutama di kota-kota besar. Di samping itu identitas keagamaan telah terpaksa digunakan oleh sebagian penduduk sebagai sarana untuk melindungi diri sehingga menciptakan perasaan diperlakukan secara diskriminstif pada golongan agama lain. Mudah dipahami bahwa latar belakang kekerasan-kekerasan itu telah menjadikan peristiwa penembakan mahawiswa Universitas Trisakti sebagai pemicu kerusuhan berskala nasional. Yang dimana kejadian-kejadian tersebut sangat miris dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Dan para pelaku tindak pelanggaran HAM yang ada pada saat itu sampai saat ini tidak diusut tuntas. Satu persatu petinggi militer yang dituntut pidana lolos dari jerat hukum. Atas kondisi ini,pemerintah SBY-JK yang kala itu memerintah melakukan langkah serius untuk mengadili dan menghukum para pelaku pelanggaran berat HAM. Padahal penindakan pelanggaran HAM berat masuk dalam prioritas 100 hari pemerintahannya. Dimana setelah dua tahun berlaku Paska 1998, keputusan Pemerintah dan DPR menerbitkan Undang-undang (UU) No. 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia dan UU No 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Ketentuan normatif ini tidak serta merta mendorong penegakkan HAM di Indonesia semakin membaik. Pengungkapan berbagai kasus pelanggaran HAM berat belum menemukan titik terang. Kendati kemudian pemerintah membentuk dua pengadilan HAM Ad Hoc dan satu pengadilan HAM permanen, kesemuanya gagal sebagai mekanisme penegakan keadilan. Dari monitoring kelompok organisasi HAM kegagalan mekanisme Pengadilan HAM tersebut salah satunya adalah disebabkan oleh resistensi dari institusi militer. Resistensi ini tidak hanya dapat dilihat saat Pengadilan HAM digelar, namun juga pada keseluruhan prosesnya, khususnya dari proses investigasi.

Dengan demikian, korban dalam kerusuhan Mei lalu dibagi dalam beberapa kategori sebagai berikut: 1. Kerugian Material: Adalah kerugian bangunan, seperti toko, swalayan, atau rumah yang dirusak, termasuk harta benda berupa mobil, sepeda motor, barang-barang dagangan dan barang-barang lainnya yang dijarah dan/atau dibakar massa. Temuan tim menunjukkan bahwa korban material ini bersifat lintas kelas sosial, tidak hanya menirnpa etnis Cina, tetapi juga warga lainnya. Namun yang paling banyak menderita kerugian material adalah dari etnis Cina. 2. Korban kehilangan pekerjaan: Adalah orang-orang yang akibat terjadinya kerusuhan, karena gedung atau tempat kerjanya dirusak, dijarah dan dibakar, membuat mereka kehilangan pekerjaan atau sumber kehidupan. Yang paling banyak kehilangan pekerjaan adalah anggota masyarakat biasa. 3. Korban meninggal dunia dan luka-luka: Adalah orang-orang yang meninggal dunia dan luka-luka saat terjadinya kerusuhan. Mereka adalah korban yang terjebak dalam gedung yang terbakar, korban penganiayaan, korban tembak dan kekerasan lainnya. 4. Korban Penculikan: Adalah mereka yang hilang/diculik pada saat kerusuhan yang dilaporkan ke YLBHI/Kontras dan hingga kini belum diketemukan, mereka adalah: 1) 2) 3) 4) 5) Yadin Muhidin (23 tahun) hilang di daerah Senen. Abdun Nasir (33 tahun) hilang di daerah Lippo Karawaci; Abdun Nasir (33 tahun) hilang di daerah Lippo Karawaci; Ucok Siahaan (22 tahun), hilang tidak diketahui di mana; Aspek Pertanggungjawaban Keamanan

Dari hasil verifikasi saksi dan korban, testimoni para pejabat ABRI dan mantan pejabat terkait, dari aspek keamanan TGPF menemukan fakta bahwa koordinasi antara satuan keamanan kurang mamadai, adanya keterlambatan antisipasi, adanya aparat keamanan di berbagai tempat tertentu membiarkan kerusuhan terjadi, ditemukan adanya di beberapa wilayah clash (bentrokan) antarpasukan dan adanya kesimpangsiuran penerapan perintah dari masing-masing satuan pelaksana. Di beberapa tempat didapatkan bukti bahwa jasa-jasa keamanan dikomersilkan. Begitu pula TGPF menemukan adanya kesenjangan persepsi antara masyarakat dan aparat keamanan. Masyarakat beranggapan bahwa di beberapa lokasi telah terjadi vakum kehadiran aparat keamanan, atau bila ada tidak berbuat apa-apa untuk mencegah atau meluasnya kerusuhan. Sebaliknya, para pejabat keamanan berkeyakinan tidak terjadi vakum kehadiran aparat keamanan, meskipun disadari kenyataan menunjukkan bahwa untuk lokasi tertentu masih tetap terjadi kerusuhan (di luar prioritias pengamanan), hal ini disebabkan oleh karena terbatasnya kekuatan pasukan.

Bab III Penutup Kesimpulan


Hak Asasi Manusia ( HAM ) di Indonesia masih kurang dalam penanganannya. Itu dapat dilihat dalam kasus-kasus yang telah terjadi di Indonesia. Dimana dalam penegakan hukum kepada pelanggar pidana hak asasi manusia tidak tegas,yang mana apabila pelanggaran tersebut dilakukan oleh aparat keamanan penegakan hukum terhadap mereka akan tumpul,bagaikan pedang yang ditancapkan kebatu,akan tumpul.

Saran
Dalam rangka penegakan hukum terhadap pelanggar Hak Asasi manusia,haru dimiliki hukum yang tegas dan kuat,yang tidak memandang bulu, pejabat ataupun aparat keamanan mereka harus tetap diusut dan apabila terbukti melanggar HAM mereka harus dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku.

Daftar pustaka

http://semanggipeduli.com/tgpf/bab4.html www.kontras.org/kegiatan/berita_rakyat_1.pdf