Anda di halaman 1dari 6

BAB 1.

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Kebakaran adalah suatu reaksi oksidasi eksotermis yang berlangsung dengan cepat dari suatu bahan bakar yang disertai dengan timbulnya api atau penyalaan. Suatu kejadian kebakaran seringkali diakibatkan oleh api terbuka (37,19%), listrik (26,6%), pembakaran (7,17%), peralatan panas (3,14%), mekanik (2,15%), kimia (1,34%), proses biologi (0,45%), alam (0,18%), dan tidak dapat ditentukan (19,77%) (Depnakertrans, 2003). Kebakaran di tempat kerja dapat merugikan bagi banyak pihak baik bagi perusahaan, tenaga kerja, masyarakat, dan lingkungan. Kerugian tersebut dapat berupa kerugian material, stagnasi kegiatan usaha, kerusakan lingkungan, serta menimbulkan ancaman terhadap keselamatan jiwa manusia, hilang lapangan kerja dan kerugian lain yang tidak langsung. Kebakaran dapat terjadi apabila tiga unsur terbentuknya api tersebut terpenuhi yaitu adanya oksigen, bahan yang mudah atau dapat terbakar dan panas yang cukup. Berdasarkan data yang ada sekitar 80% kasus kebakaran terjadi ditempat kerja dan sekitar 20% kasus kebakaran habis total selain di tempat kerja. Hal ini disebabkan oleh listrik, sambaran petir, listrik statis, rokok, api terbuka, pemotongan/ pengelasan, permukaan panas, bunga api pembakaran, bunga api mekanik, reaksi kimia, non teknis (Depnakertrans, 2003). Akan tetapi risiko tersebut dapat diminimalisir dengan penerapan disiplin Keselamatan Kesehatan Kerja pada suatu perusahaan. Hal ini dapat diwujudkan melalui suatu sistem tanggap darurat kebakaran yang menyeluruh dan berkelanjutan dimana upaya tersebut harus mendapat dukungan dari semua pihak yang ada pada suatu perusahaan mulai dari pihak manajerial hingga karyawan. Tanggap darurat merupakan suatu upaya dan kegiatan yang dilaksanakan secara terencana, terkoordinir dan terpadu pada kondisi darurat dalam waktu yang relatif singkat dengan tujuan untuk mencari, menolong, menyelamatkan jiwa atau harta benda lingkungan serta mengurangi dampak akibat bencana melalui pemberian bantuan moril dan materil kepada korban bencana. Adapun fungsi dari prosedur tanggap darurat adalah upaya dalam menghadapi dan mengendalikan keadaan darurat serta 1

mengurangi kerugian atau dampak yang ditimbulkan. Prosedur tanggap darurat sangat bermanfaat bagi suatu perusahaan yaitu sebagai tata cara untuk mencegah terjadinya kerugian akibat kebakaran atau peledakan serta dapat memenuhi syarat dalam mendapatkan sertifikasi ISO 14000. Salah satu upaya tersebut adalah dibuatnya suatu Rencana Tindakan Darurat Kebakaran (RTDK). Sesuai dengan keputusan Dirjen Perumahan dan Pemukiman No.58/ KPTS/ DM/ 2002 maka RTDK didefinisikan sebagai strategi dari Manajemen Penanggulangan Kebakaran untuk mengantisipasi bila terjadi keadaan darurat kebakaran pada bangunan gedung tergantung situasi dan kondisi masingmasing. Wujud dari RTDK tersebut adalah dengan adanya kesiapan dari penyediaan fasilitas pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang memadai, tepat guna, siap digunakan setiap saat serta adanya pelatihan penanggulangan kebakaran pada pekerjanya sehingga dapat memanfaatkan fasilitas-fasilitas tersebut dengan baik. Selain itu juga diperlukan dukungan dan komitmen dari pihak manajerial serta peran aktif pemerintah melalui peraturan-peraturan dan keputusan serta kebijakan yang menjadi tolak ukur pelaksanaan upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran seperti undang-undang, Permenakertrans, Kepmenakertrans, dan Perda serta sanksi yang ditetapkan bagi pelanggarnya. Berdasarkan data dari Pusat Laboratorium Fisika Forensik Mabes Polri tahun 1990 sampai 2001 menunjukkan bahwa telah terjadi 2033 kasus kebakaran sejak tahun 1990 sampai tahun 1996 dimana hampir sebagian besar kebakaran tersebut terjadi pada tempat kerja. Sedangkan pada tahun 1997 sampai 2011 telah terjadi 1121 kasus kebakaran dengan persentase 76,1% kasus terjadi pada tempat kerja dan 23,9 % sisanya terjadi pada daerah yang bukan tempat kerja. Pada tahun 2007 di Kota Surabaya setidaknya telah terjadi kasus kebakaran mencapai 245 yang sebanyak 35,5 % diakibatkan oleh api terbuka (35,5%) (Statistik Kebakaran Tahun 2007 dalam kota Surabaya dalam Pradiklatsar, 2008). Selain itu pada tahun 2010 dilaporkan telah terjadi 139 kejadian kebakaran dengan jumlah korban 19 orang tewas dan 12 orang mengalami luka bakar (Fat, 2010). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa tempat kerja sangat berpotensi terjadinya kebakaran baik kebakaran kecil maupun kebakaran yang besar. Hal ini dikarenakan semua unsur yang dapat menyebabkan kebakaran berada di tempat kerja dan teridentifikasi 20% dari

kejadian kebakaran berakibat habis total (Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia, 2003). PT. PAL Indonesia (Persero) merupakan Badan Usaha Milik Negara yang yang menangani proses produksi kapal baru dan perbaikan kapal. Proses produksi dan repair yang dilakukan oleh PT. PAL Indonesia (Persero) dapat dikategorikan sebagai pekerjaan berat yang terkadang dapat memunculkan berbagai risiko bahaya kebakaran yang sewaktu-waktu mengancam jiwa pekerja maupun menimbulkan kerugian baik kerugian secara materil maupun non materil. Secara keseluruhan PT. PAL Indonesia (Persero) memiliki 4 divisi bidang pembuatan dan perbaikan kapal yaitu Divisi Kapal Perang, Divisi Kapal Niaga, Divisi General Engineering, dan Divisi Pemeliharaan dan Perbaikan. Dalam masing-masing divisi tersebut terdapat beberapa bengkel yang memiliki fungsi dan perannya sendiri dalam suatu proyek yang dijalankan oleh PT. PAL Indonesia (Persero). Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan kepada staf Keselamatan Kesehatan Kerja Divisi Kawasan (K3 Coorporate) dan menyebutkan dari 4 Divisi tersebut Divisi Kapal Niaga lebih aktif dan lebih banyak melakukan pekerjaan panas seperti brander atau membuat lubang pada dinding kapal yang berisiko tinggi menyebabkan kebakaran karena pada saat membuat lubang pada kapal dan confined space, seringkali pekerja tidak bisa memprediksi bahan-bahan mudah terbakar yang ada pada ruang sebelah seperti kabel yang terbuka yang apabila terkena percikan api dari proses brander tersebut maka akan berisiko terjadinya kebakaran pada confined space. Kebakaran tersebut dapat berupa kebakaran besar dan sebagian besar merupakan kebakaran kecil. Akan tetapi bila kebakaran-kebakaran kecil tersebut tidak segera ditangani maka akan mengancam kesehatan dan keselamatan pekerja yang ada disekitarnya karena lebih dari 60% pekerjaan dilakukan diatas kapal dengan lingkup ruang kerja yang sempit dan terbatas. Data kebakaran pada tahun 2009 dan 2010 yaitu pada Divisi Kapal Niaga tahun 2009 sebanyak 1 kasus dan tahun 2010 sebanyak 2 kasus, pada Divisi Kapal Perang tahun 2009 yang terlaporkan sebanyak 1 kasus dan tahun 2010 sebanyak 1 kasus, pada Divisi Pemeliharaan dan Perbaikan tahun 2009 sebesar 1 kasus dan tahun 2010 sebesar 1 kasus sedangkan pada Divisi General Engineering tahun 2009 sebesar nihil kasus dan tahun 2010 sebesar 1 kasus. Kasus yang terjadi tersebut

memiliki tingkat severity yang tergolong kecil dan menimbulkan kerugian berupa terbakarnya material-material dalam kapal dan bengkel yang menjadi lokasi kejadian serta korban pada pekerja. Sistem tanggap darurat kebakaran yang dilaksanakan PT. PAL Indonesia (Persero) sudah cukup baik, hal ini terlihat dari kebijakan, identifikasi keadaan darurat, preplanning, prosedur, struktur organisasi, sumber daya sarana dan prasarana, pembinaan dan pelatihan, komunikasi, investigasi dan sistem pelaporan serta inspeksi dan audit pada industri tersebut. Akan tetapi kejadian kebakaran sejak tahun 2005 hingga 2010 di Divisi Kapal Niaga tersebut masih tetap ada dengan frekuensi yang naik turun (fluktuatif) setiap tahunnya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk menganalisis lebih mendalam tentang Sistem Tanggap Darurat Kebakaran Terhadap Kejadian Kebakaran Tahun 2005-2010 Pada Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero). 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalah yang ada adalah Bagaimanakah pengaruh sistem tanggap darurat terhadap angka kejadian kebakaran tahun 2005-2010 pada Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero)? 1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Menganalisis sistem tanggap darurat terhadap angka kejadian kebakaran tahun 2005-2010 pada Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero). 1.3.2 Tujuan Khusus
a.

Menganalisis komitmen tanggap darurat kebakaran PT. PAL Indonesia terhadap upaya pelaksanaan sistem tanggap darurat kebakaran Divisi Kapal Niaga yang berada dalam lingkup Divisi Kawasan PT. PAL Indonesia (Persero).

b. Menganalisis upaya identifikasi keadaan darurat kebakaran pada Divisi

Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero). c. Menganalisis perencanaan awal dalam upaya penerapan sistem tanggap darurat pada Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero).

d.
e.

Menganalisis prosedur tanggap darurat kebakaran pada Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero). Menganalisis struktur organisasi tanggap darurat kebakaran PT. PAL Indonesia (Persero) khususnya Divisi Kapal Niaga. Menganalisis upaya penyediaan sarana dan prasarana seperti Alat Pemadam Api Ringan (APAR), hidran, jalur masuk mobil Pemadam Kebakaran (PMK), pintu darurat dan tangga darurat serta pemeliharaannya.

f.

g.

Menganalisis pembinaan dan pelatihan yang dilaksanakan dalam penerapan sistem tanggap darurat Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero).

h. Menganalisis komunikasi tanggap darurat kebakaran Divisi Kapal

Niaga yang berada dalam lingkup Divisi Kawasan PT. PAL Indonesia (Persero).
i.

Menganalisis pelaksanaan investigasi dan sistem pelaporan terhadap sistem tanggap darurat kebakaran PT. PAL Indonesia (Persero) Menganalisis pelaksanaan inspeksi dan audit yang dilaksnakan Divisi Kawasan dalam penerapan sistem tanggap darurat Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero) demi terciptanya suatu upaya pencegahan dan penanggulangan kebakaran yang menyeluruh dan berkala pada PT. PAL Indonesia (Persero).

j.

k.

Menganalisis kejadian kebakaran tahun 2005-2010 pada Divisi Kapal Niaga PT. PAL Indonesia (Persero).

1.4 Manfaat 1.4.1 Manfaat teoritis Secara teoritis diharapkan penelitian ini dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang Kesehatan Masyarakat, terkait dengan masalah Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) khususnya sistem tanggap darurat kebakaran pada industri perkapalan terbesar di Indonesia yaitu PT. PAL Indonesia (Persero). 1.4.2 Manfaat Praktis
a. Manfaat bagi mahasiswa

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu kajian tentang sistem tanggap darurat kebakaran pada Divisi Kapal Niaga yang berada pada lingkup Divisi Kawasan PT. PAL Indonesia (Persero) guna pencegahan dan minimalisir terjadinya kebakaran serta diharapkan dapat memberikan pengetahuan tambahan dan pengalaman di lapangan tentang sistem tanggap darurat kebakaran. b. Manfaat bagi Fakultas Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan salah satu referensi tambahan khususnya dalam mempelajari tentang sistem tanggap darurat kebakaran pada Divisi Kapal Niaga yang berada pada lingkup Divisi Kawasan PT. PAL Indonesia (Persero) dimana sistem tanggap darurat yang dilakukan oleh perusahaan seringkali berbeda-beda tergantung pada proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan tersebut. c. Manfaat bagi Instansi Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan suatu masukan dalam meningkatkan upaya-upaya menjalankan sistem tanggap darurat kebakaran pada Divisi Kapal Niaga yang berada pada lingkup Divisi Kawasan PT. PAL Indonesia (Persero) demi terciptanya suatu keselamatan dan kesehatan kerja kerja yang optimal pada proyek-proyek berikutnya.