Anda di halaman 1dari 10

Epilepsi

I. Pengertian Kata epilepsi berasal dari Yunani Epilambanmein yang berarti serangan. Masyarakat percaya bahwa epilepsi disebabkan oleh roh jahat dan juga dipercaya bahwa epilepsi merupakan penyakit yang bersifat suci. Hal ini merupakan latar belakang adanya mitos dan rasa takut terhadap epilepsi. Mitos tersebut mewarnai sikap masyarakat dan menyulitkan upaya penangani penderita epilepsi dalam kehidupan normal. Epilepsi sebetulnya sudah dikenal sekitar tahun 2000 sebelum Masehi. Hippokrates adalah orang pertama yang mengenal epilepsi sebagai gejala penyakit dan menganggap bahwa epilepsi merupakan penyakit yang didasari oleh adanya gangguan di otak. Epilepsi merupakan kelainan neurologi yang dapat terjadi pada setiap orang di seluruh dunia. Epilepsi bukanlah suatu penyakit, tetapi sekumpulan gejala yang manifestasinya adalah lewat serangan epileptik yang berulang. Epilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat yang dicirikan oleh terjadinya serangan (seizure, fit, attack, spell) yang bersifat spontan (unprovoked) dan berkala. Serangan dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekelompok besar sel-sel otak, bersifat sinkron dan berirama. Serangan dapat berupa gangguan motorik, sensorik, kognitif atau psikis. Istilah epilepsi tidak boleh digunakan untuk serangan yang terjadi hanya sekali saja, serangan yang terjadi selama penyakit akut berlangsung dan occasional provokes seizures misalnya kejang atau serangan pada hipoglikemia. II. Epidemiologi Penelitian insidensi dan prevalensi telah dilaporkan oleh berbagai negara, tetapi di Indonesia belum diketahui secara pasti. Para peneliti umumnya mendapatkan insidens 20 - 70 per 100.000 per tahun dan prevalensi sekitar 0,5 - 2 per 100.000 pada populasi umum. Sedangkan pada populasi anak diperkirakan 0,3 - 0,4 % di antaranya menderita epilepsi. Penderita laki-laki umumnya sedikit lebih banyak dibandingkan dengan perempuan. Epilepsi merupakan masalah pediatrik yang besar dan lebih sering terjadi pada usia dini dibandingkan usia selanjutnya. World Health Organization menyebutkan, insidens epilepsi di negara maju berkisar 50 per 100.000 penduduk, sedangkan di negara berkembang 100 per 100.000 ribu. Salah satu penyebab tingginya insidens epilepsi di negara berkembang adalah suatu kondisi yang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen. Kondisi tersebut di antaranya: infeksi, komplikasi prenatal, perinatal, serta post natal.

III. Diagnosis

Patogenesis .IV.

Aktivitas neuron diatur oleh konsentrasi ion di dalam ruang ekstraseluler dan intraseluler. sehingga terjadilah apa yang disebut sinkronisasi dari impuls. Epileptic seizure apapun jenisnya selalu disebabkan oleh transmisi impuls di area otak yang tidak mengikuti pola yang normal. disinhibisi. pergeseran konsentrasi ion ekstraseluler. dan oleh gerakan keluarmasuk ion-ion menerobos membran neuron. Sinkronisasi ini dapat mengenai pada sekelompok kecil neuron atau kelompok neuron yang lebih besar atau bahkan meliputi seluruh neuron di otak secara serentak.Hilangnya “postsynaptic inhibitory controle” sel neuron. .V. . Lokasi yang berbeda dari kelompok neuron yang ikut terkena dalam proses sinkronisasi inilah yang secara klinik menimbulkan manifestasi yang berbeda dari jenis-jenis serangan epilepsi.Perlunya sinkronisasi dari “epileptic discharge” yang timbul. voltage-gated ion channel opening. dan menguatnya sinkronisasi neuron sangat penting artinya dalam hal inisiasi dan perambatan aktivitas serangan epileptik. Patofisiologi Serangan epilepsi terjadi apabila proses eksitasi di dalam otak lebih dominan daripada proses inhibisi. Perubahan-perubahan di dalam eksitasi aferen.Perlu adanya “pacemaker cells” yaitu kemampuan intrinsic dari sel untuk menimbulkan bangkitan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa untuk timbulnya kejang sebenarnya ada tiga kejadian yang saling terkait : . .

Epilepsi Absans pada remaja . Hemoragi. Pada keadaan tertentu (hipoglikemia otak.Lobus frontalis .Berbagai macam kelainan atau penyakit di otak (lesi serebral.Epilepsi pada anak dengan paroksismal oksipital b. Tipe 1 (tidak ada lesi struktural) : 1. Gangguan metabolik.Epilepsi mioklonik pada remaja . Overdose obat. 3. toksik dan metabolik. 6. stroke. 3. hiponatremia. Infeksi CNS. 4.Lobus parietalis . Sekitar 70% kasus epilepsi yang tidak diketahui sebabnya dikelompokkan sebagai epilepsi idiopatik dan 30% yang diketahui sebabnya dikelompokkan sebagai epilepsi simptomatik. Etiologi Epilepsi sebagai gejala klinis bisa bersumber pada banyak penyakit di otak. Infeksi. gangguan peredaran darah otak.Epilepsi dengan serangan tonik-klonik pada saat terjaga . misalnya West syndrome dan Lennox Gastaut syndrome.Sindroma Lennox Gastaut . Tipe 2 ( Ada lesi struktural) : 1. hipoksia. VII. CVA. Klasifikasi Klasifikasi menurut sindroma epilepsi yang dikeluarkan ILAE tahun 1989 adalah : 1.Kejang neonatus familial benigna .Sindroma West (spasmus infantil) . stimulus sensorik dan lain-lain. Epilepsi kriptogenik dianggap sebagai simptomatik tetapi penyebabnya belum diketahui. 2. VI. Simptomatik . 6. misalnya trauma kepala.Epilepsi tonik-klonik dengan serangan acak b.Kejang epilepsi mioklonik pada bayi . 4. infeksi. asidosis metabolik) depolarisasi impuls dapat berlanjut terus sehingga menimbulkan aktivitas serangan yang berkepanjangan disebut status epileptikus. 5. 2. lesi desak ruang. Simptomatik .Kejang neonatus benigna . Idiopatik .Lobus oksipitalis 2. Alkohol. Anoksia/hipoksia. Umum a. Idiopatik. 5. Idiopatik . trauma otak. Turunnya level AED.Epilepsi Rolandik benigna (childhood epilepsy with centro temporal spike) .Lobus temporalis .Epilepsi Absans pada anak . Trauma. Tumor CNS. kelainan herediter dan lain-lain) sebagai fokus epileptogenesis dapat terganggu fungsi neuronnya (eksitasi berlebihan dan inhibisi yang kurang) dan akan menimbulkan kejang bila ada rangsangan pencetus seperti hipertermia. hipoksia otak. hipoglikemia. Berkaitan dengan letak fokus a. kongenital.

Adanya kelainan fokal pada EEG menunjukkan kemungkinan adanya lesi struktural di otak.3.Berkaitan dengan obat-obatan . sedangkan adanya kelainan umum pada EEG menunjukkan kemungkinan adanya kelainan genetik atau metabolik.Eklampsia .Berkaitan dengan alkohol . dan gelombang lambat yang timbul secara paroksimal. Pemeriksaan fisik harus menepis sebab-sebab terjadinya serangan dengan menggunakan umur dan riwayat penyakit sebagai pegangan. Pemeriksaan Fisik Umum dan Neurologis Melihat adanya tanda-tanda dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi. gangguan neurologik fokal atau difus. Elektro ensefalografi (EEG) Pemeriksaan EEG harus dilakukan pada semua pasien epilepsi dan merupakan pemeriksaan penunjang yang paling sering dilakukan untuk rnenegakkan diagnosis epilepsi.Serangan yang berkaitan dengan pencetus spesifik (refleks epilepsi) VIII. Pada anak-anak pemeriksa harus memperhatikan adanya keterlambatan perkembangan. gangguan kongenital. infeksi telinga atau sinus. Epilepsi yang berkaitan dengan situasi . Pemeriksaan Penunjang a. misalnya gelombang tajam. paku majemuk. perbedaan ukuran antara anggota tubuh dapat menunjukkan awal gangguan pertumbuhan otak unilateral.Kejang demam . organomegali. 3) Adanya gelombang yang biasanya tidak terdapat pada anak normal. paku (spike).Serangan neonatal 4. Berkaitan dengan lokasi dan epilepsi umum (campuran 1 dan 2) . 1) Asimetris irama dan voltase gelombang pada daerah yang sama di kedua hemisfer otak. seperti trauma kepala. 2) Irama gelombang tidak teratur. IX. . Rekaman EEG dikatakan abnormal. irama gelombang lebih lambat dibanding seharusnya misal gelombang delta. paku-ombak.

karbamazepin. misalnya spasme infantile mempunyai gambaran EEG hipsaritmia. menurunkan kemampuan syaraf untuk menghantarkan muatan listrik. Obat-obat anti epilepsi : -Obat-obat yang meningkatkan inaktivasi kanal Na+: • Inaktivasi kanal Na . Pemeriksaan Radiologis Pemeriksaan yang dikenal dengan istilah neuroimaging bertujuan untuk melihat struktur otak dan melengkapi data EEG. • menghambat GABA transaminase . valproat -Obat-obat yang meningkatkan transmisi inhibitori GABAergik: • agonis reseptor GABA . X. Penentuan lokasi fokus epilepsi parsial dengan prosedur ini sangat diperlukan pada persiapan operasi. c. meningkatkan transmisi inhibitori dengan mengaktifkan kerja reseptor GABA. Prosedur yang mahal ini sangat bermanfaat untuk penderita yang penyebabnya belum diketahui secara pasti. konsumsi kopi atau alkohol. serta bermanfaat pula untuk kasus epilepsi refrakter. MRI bermanfaat untuk membandingkan hipokampus kanan dan kiri. terlambat makan. perubahan jadwal tidur. • Farmakologi : menggunakan obat-obat antiepilepsi. epilepsi petit mal gambaran EEG nya gelombang paku ombak 3 siklus per detik (3 spd). Contoh: benzodiazepin. barbiturate. Bila dibandingkan dengan CT Scan maka MRl lebih sensitif dan secara anatomik akan tampak lebih rinci. Rekaman video EEG memperlihatkan hubungan antara fenomena klinis dan EEG. Rekaman video EEG Rekaman EEG dan video secara simultan pada seorang penderita yang sedang mengalami serangan dapat meningkatkan ketepatan diagnosis dan lokasi sumber serangan. Contoh: Vigabatrin . Tatalaksana Terapi • Non farmakologi: – Amati faktor pemicu – Menghindari faktor pemicu (jika ada). dll. lamotrigin. konsentrasi GABA meningkat. misalnya : stress. serta memberi kesempatan untuk mengulang kembali gambaran klinis yang ada. okskarbazepin. epilepsi mioklonik mempunyai gambaran EEG gelombang paku / tajam / lambat dan paku majemuk yang timbul secara serentak (sinkron). Contoh: fenitoin.Bentuk epilepsi tertentu mempunyai gambaran EEG yang khas. OR. b.

memperlama aksi GABA.• menghambat GABA transporter . Contoh: Tiagabin • meningkatkan konsentrasi GABA pada cairan cerebrospinal pasien . Contoh: Gabapentin . mungkin dg menstimulasi pelepasan GABA dari non-vesikular pool.

Sedangkan kita ketahui bahwa GABA . Beberapa peneliti mengatakan bahwa bangkitan epilepsi lebih sering terjadi pada kehamilan. terutama pada trimester I dan hanya sedikit meningkat trimester III. Kerja hormon estrogen adalah menghambat transmisi GABA (dengan merusak enzim glutamat dekarboksilase). Sedangkan kadar hormon khorionik gonadotropin mencapai puncak pada kehamilan trimester pertama yang kemudian menurun terus sampai akhir kehamilan.XI. Hal ini disebabkan adanya pengaruh kehamilan terhadap epilepsi dan sebaliknya. Perubahan hormonal Kadar estrogen dan progesteron dalam plasma darah akan meningkat secara bertahap selama kehamilan dan mencapai puncaknya pada trimester ketiga. Meningkatnya frekuensi serangan kejang pada wanita penyandang epilepsi selama kehamilan ini disebabkan oleh: A. Banyak penelitian mengatakan terdapat peningkatan risiko komplikasi obstetrik pada wanita penyandang epilepsi dibandingkan dengan kehamilan normal. pengaruh epilepsi terhadap janin dan pengaruh obat anti epilepsi terhadap perkembangan janin. Seperti diketahui bahwa serangan kejang pada epilepsi berkaitan erat dengan rasio estrogen-progesteron. sehingga wanita penyandang epilepsi dengan rasio estrogen-progesteron yang meningkat akan lebih sering mengalami kejang dibandingkan dengan yang rasionya menurun. PENGARUH KEHAMILAN TERHADAP EPILEPSI Kehamilan pada wanita penyandang epilepsi tergolong mempunyai faktor risiko tinggi.

meskipun masih selalu diperdebatkan. Sebaliknya kerja hormon progesteron adalah menekan pengaruh glutamat sehingga menurunkan kepekaan untuk terjadinya serangan epilepsi. karena sebagian besar obat anti epilepsi yang dikonsumsi berperan sebagai antagonis terhadap asam folat dan juga didapatkan thrombositopenia. meningkatnya volume distribusi. Deprivasi tidur Wanita hamil sering mengalami kurang tidur yang disebabkan beberapa keadaan seperti rasa mual muntah. Perubahan metabolik Adanya kenaikan berat badan pada wanita hamil yang disebabkan retensi air dan garam serta perubahan metabolik seperti terjadinya perubahan metabolisme di hepar yang dapat mengganggu metabolisme obat anti epilepsi (terutama proses eliminasi). terjadinya alkalosis respiratorik dan hipomagnesemia. E. gerakan janin dalam kandungan. penurunan protein binding plasma. Keadaan ini dapat menimbulkan kejang. Suplementasi asam folat Penurunan asam folat (37%) dalam serum darah dapat ditemukan pada penderita yang telah lama mendapat obat anti epilepsi.merupakan neurotransmiter inhibitorik. Penurunan serum albumin sesuai dengan bertambahnya usia gestasi mempengaruhi kadar plasma obat anti epilepsi. Pada umumnya dalam beberapa hari-minggu setelah partus kadar obat anti epilepsi akan kembali normal. Semuanya ini dapat meningkatkan serangan kejang. sehingga obat anti epilepsi yang terikat dengan protein berkurang dan menyebabkan peningkatan obat anti epilepsi bebas. Namun obat anti epilepsi ini akan cepat dikeluarkan sesuai dengan meningkatnya drug clearance yang disebabkan oleh induksi enzim mikrosom hati akibat peningkatan hormon steroid (estrogen dan progesteron). pada kehamilan trimester ketiga menjelang partus dan pada masa puerperium bagi ibu hamil yang sebelumnya tidak pernah mendapat suplemen asam folat. D. nyeri pinggang. C. Wanita hamil dengan epilepsi lebih mungkin menjadi anemia 11% (anemia mikrositer). Perubahan farmakokinetik pada obat anti epilepsi Penurunan kadar obat anti epilepsi ini disebabkan oleh beberapa keadaan antara lain berkurangnya absorbsi (jarang). . nokturia akibat tekanan pada kandung kencing dan stress psikis. berkurangnya kadar albumin dan meningkatnya kecepatan drug clearance pada trimester terakhir. sehingga nilai ambang kejang makin rendah dengan akibat peningkatan kepekaan untuk terjadinya serangan epilepsi. B.

phenytoin dan karbamazepin) sehingga timbul kejang. terutama wanita yang mendapat obat anti epilepsi asam valproat dan karbamazepin. hiperventilasi.5 Jadi walaupun terdapat sedikit kekhawatiran terhadap pemberian asam folat namun dosis rendah minimal 0. obat anti epilepsi bukanlah kontraindikasi untuk pemberian ASI. Jadi pada wanita penyandang epilepsi. gangguan nutrisi dan gangguan psikologik sekunder. Dari penelitian terhadap 125 wanita hamil dengan epilepsi. Disamping itu intoksikasi alkohol mapun obat-obatan terlarang akan menyebabkan gangguan siklus tidur normal sehingga meningkatkan frekuensi kejang. Psikologik (stres dan ansietas) Stres dan ansietas sering berhubungan dengan peningkatan jumlah terjadinya serangan kejang.Suplementasi asam folat dapat mengganggu metabolisme obat anti epilepsi (phenytoin dan phenobarbital) sehingga mempengaruhi kadarnya dalam plasma. G. Sebenarnya obat anti epilepsi di ASI jumlahnya relatif sedikit. Rendahnya asam folat selama kehamilan mempunyai risiko terjadinya insiden abortus spontan dan anomali neonatal. F. Dosis tinggi (4 mg/hari) diberikan pada wanita hamil yang sebelumnya melahirkan anak dengan kelainan neural tube defect.4 mg/hari tiap hari secara teratur masih dianggap aman dan dapat dilanjutkan selama kehamilan pada wanita penyandang epilepsi. gangguan perkembangan pada bayi yang dilahirkan. Penggunaan alkohol dan zat Penggunaan alkohol yang berlebihan akan menginduksi enzim hati dan menurunkan kadar plasma obat anti epilepsi (phenobarbital. Keadaan ini sering disertai dengan gangguan tidur. Made and Edited by AKBARSYAH RIDAR ADITAMA . Namun dapat dikatakan tidak sampai meningkatkan jumlah serangan kejang. Hal lain yang meningkatkan frekuensi serangan kejang pada wanita penyandang epilepsi selama kehamilan adalah faktor kesengajaan menghentikan makan obat karena takut efek obat terhadap janin yang dikandungnya. 27% tidak meneruskan penggunaan obatnya dengan alasan ketakutan akan efek samping (termasuk teratogenik) dan kekhawatiran pengaruhnya pada bayi yang diberi ASI.