Anda di halaman 1dari 16

I.

D E F E N I S I

Meskipun asma telah dikenal sejak ribuan tahun yang lalu, para ahli masih belum sepakat mengenai defenisi penyakit tersebut. Dari waktu ke waktu defenisi asma terus mengalami perubahan. Defenisi asma ternyata tidak mempermudah membuat dignosa asma, sehingga secara praktis para ahli berpendapat bahwa asma adalah penyakit paru dengan karakteristik obstruksi saluran napas yang reversible (tetapi tidak lengkap pada beberapa pasien) baik secara spontan maupun dengan pengobatan, inflamasi saluran pernapasan, dan peningkatan respon saluran napas terhadap berbagai rangsangan (hipereaktivitas). Obstruksi saluran napas ini memberikan gejala-gejala asma seperti batuk, mengi, dan sesak napas. Penyempitan saluran napas pada asma dapat terjadi secara bertahap, perlahan-lahan dan bahkan menetap dengan pengobatan, tetapi dapat pula terjadi dengan mendadak, sehingga menimbulkan kesulitan bernapas yang akut. Derajat obstruksi ditentukan oleh diameter lumen saluran napas, dipengaruhi oleh edema dinding bronkus, produksi mucus, kontraksi dan hipertrofi otot polos bronkus. Diduga baik obstruksi maupun peningkatan respons terhadap berbagai rangsangan didasari oleh inflamasi saluran napas.

penyekat beta. bulu binatang 3. Lingkungan kerja : uap zat kimia 8. sinusitis . misalnya haid. Dengan mengetahui faktor pencetus.II. Infeksi virus saluran napas : influenza 2. Ekspresi emosional takut. marah. Faktor-faktor pencetus pada asma yaitu : 1. Kegiatan jasmani : lari 5. Pemajanan terhadap alergen tungau. debu rumah. Pengawet makanan : sulfit 10. Obat-obat aspirin. Polusi udara : asap rokok 9. frustasi 6. Lain-lain. maka diharapkan gejala asma dapat dicegah. kemudian menghindarinya. E T I O L O G I Yang perlu diketahui adalah faktor-faktor pencetus serangan. minyak wangi 4. kehamilan. Pemajanan terhadap iritan asap rokok. anti-inflamasi non-steroid 7.

 Kerusakan epitel. yang didukung dengan fakta bahwa intervensi pengobatan dengan anti-inflamasi dapat menurunkan derajat HSN dan gejala asma. Akhir-akhir ini syarat terjadinya radang hampir disertai satu syarat lagi yaitu infiltrasi selsel radang. mediator inflamasi serta mengakibatkan iritasi ujung-ujung saraf autonom sering lebih mudah diserang. . Ternyata keenam syarat tadi dijumpai pada asma tanpa membedakan penyebabnya baik yang alergik maupun non-alergik. Asma sebagai penyakit inflamasi Asma saat ini dipandang sebagai penyakit inflamasi saluran napas. metakolin) dan fisis (kegiatan jasmani). Sel-sel inflamasi serta mediator kimia yang dikeluarkan terbukti berkaitan erat dengan gejala asma dan HSN. Berbagai keadaan dapat meningkatkan hiperaktivitas saluran napas seseorang yaitu :  Inflamasi saluran napas. dan function laesa (fungsi yang terganggu). Perubahan struktur ini akan meningkatkan penetrasi alergen. tetapi sebagian lagi didapat. namun berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa dasar gejala asma adalah inflamasi dan respons saluran napas yang berlebihan. dolor (rasa sakit karena rangsangan sensoris).III. Otot polos saluran napas dan hipertrofi otot polos pada saluran napas diduga berperan pada HSN. pasien juga sangat peka terhadap alergen yang spesifik. Inflamasi ditandai dengan adanya kalor (panas karena vasodilatasi) dan rubor (kemerahan karena vasodilatasi). kerusakannya akan mengakibatkan bronkokonstriksi lebih mudah terjadi. Pada pasien asma terdapat peningkatan respon saraf parasimpatis. Pada asma alergik. Sel-sel epitel bronkus sendiri sebenarnya mengandung mediator yang dapat bersifat sebagai bronkodilator. tumor (eksudasi plasma dan edema). Sebagian HSN diduga didapat sejak lahir. Hipereaktivitas saluran napas (HSN) Yang membedakan asma dengan orang normal adalah sifat saluran napas pasien asma yang sangat peka terhadap berbagai rangsangan seperti iritan (debu). zat kimia (histamin. Gangguan intrinsik. P A T H O G E N E S I S Sampai saat ini patogenesis dan etiologi asma belum diketahui dengan pasti. selain peka terhadap rangsangan tersebut.   Mekanisme neurologis.

obstruksi saluran napas diduga ikut berperan pada HSN. . Meskipun bukan faktor utama. Obstruksi saluran napas.

Obstruksi bertambah berat selama ekspirasi karena secara fisiologis saluran napas menyempit pada fase tersebut. Hal ini mengakibatkan udara distal tempat terjadinya obstruksi terjebak tidak bisa diekspirasi. agar kebutuhan oksigen terpenuhi.IV. 2) Ketidakseimbangan ventilasi perfusi di . sedangkan pada saluran napas yang kecil gejala batuk dan sesak lebih dominan disbanding mengi. kapasitas residu fungsional (KRF). Untuk mempertahankan hiperinflasi ini diperlukan otot-otot bantu napas. Penyempitan saluran napas ternyata tidak merata di seluruh bagian paru. Untuk mengatasi kekurangan oksigen. maupun kecil. tubuh melakukan hiperventilasi. Gejala mengi menandakan ada penyempitan di saluran napas besar. sumbatan mukus. sehingga darah kapiler yang melalui daerah tersebut mengalami hipoksemia. Penurunan PaO2 mungkin merupakan kelainan pada asma sub-klinis. PATHOFISIOLOGI Obstruksi saluran napas pada asma merupakan kombinasi spasme otot bronkus. Gangguan yang berupa obstruksi saluran napas dapat dinilai secara objektif dengan VEP1 (Volume Ekspirasi Paksa detik pertama) atau APE (Arus Puncak Ekspirasi). Selanjutnya terjadi peningkatan volume residu. Hal ini menyebabkan hipoksemia dan kerja otot-otot pernapasan bertambah berat serta terjadi peningkatan produksi CO2. dan pasien akan bernapas pada volume yang tinggi mendekati kapasitas paru total (KPT). Tetapi akibatnya pengeluaran CO2 menjadi berlebihan sehingga PaCO2 menurun yang kemudian menimbulkan alkalosis respiratorik. Gangguan ventilasi berupa hipoventilasi. edema. Peningkatan produksi CO2 yang disertai dengan penurunan ventilasi alveolus menyebabkan retensi CO2 (hiperkapnia) dan terjadi asidosis respiratorik atau gagal napas. dan inflamasi dinding bronkus. Hipoksemia yang berlangsung lama menyebabkan asidosis metabolik dan konstriksi pembuluh darah paru yang kemudian menyebabkan shunting yaitu peredaran darah tanpa melalui unit pertukaran gas yang demikian penyempitan saluran napas pada asma akan menimbulkan hal-hal sebagai berikut : 1). Ada daerah-daerah yang kurang mendapat ventilasi. sedang. Keadaan hiperinflasi ini bertujuan agar saluran napas tetap terbuka dan pertukaran gas berjalan lancar. Pada serangan asma yang lebih berat lagi banyak saluran napas dan alveolus tertutup oleh mucus sehingga tidak memungkinkan lagi terjadinya pertukaran gas. Penyempitan saluran napas dapat terjadi baik pada saluran napas yang besar. sedangkan penurunan KVP (Kapasitas Vital Paksa) menggambarkan derajat hiperinflasi paru.

mana distribusi ventilasi tidak setara dengan sirkulasi darah paru. Ketiga faktor tersebut akan mengakibatkan: hipoksemia. 3) Gangguan difusi gas di tingkat alveoli. hiperkapnia. . asidosis respiratorik pada tahap yang sangat lanjut.

Pada asma alergik. Ada sebagian kecil pasien asma yang gejalanya hanya batuk tanpa disertai mengi. putih kadang-kadang purulen. dan sesak napas.V. . Lain halnya dengan asma akibat pekerjaan. dan pada asma alergik mungkin disertai pilek atau bersin. sering hubungan antara pemajanan alergen dengan gejala asma tidak jelas. dikenal dengan istilah cough variant asthma. Bila hal yangterakhir ini dicurigai. tetapi pada perkembangan selanjutnya pasien akan mengeluarkan sekret baik yang mukoid. Pada awal serangan sering gejala tidak jelas seperti rasa berat di dada. seperti sewaktu cuti misalnya. infeksi saluran napas ataupun perubahan cuaca. gejalanya mungkin akan membaik bila pasien dijauhkan dari lingkungan kerjanya. Pada pasien yang gejalanya tetap memburuk sepanjang minggu. GEJALA KLINIS Gejala klinis asma klasik adalah serangan episodik batuk. mengi. Meskipun pada mulanya batuk tanpa disertai sekret. asap yang merangsang. Gejala biasanya memburuk pada awal minggu dan membaik menjelang akhir minggu. Terlebih lagi pasien asma alergik juga memberikan gejala terhadap factor pencetus non-alergik seperti asap rokok. perlu dilakukan pemeriksaan spirometri sebelum dan sesudah bronkodilator atau uji provokasi bronkus dengan metakolin. Pemantauan dengan alat peak flow meter atau uji provokasi dengan bahan tersangka yang ada di lingkungan kerja mungkin diperlukan untuk menegakkan diagnosis.

dan merelaksasi otot-otot polos bronkus. Obat tersebut tidak dapat mengatasi spasme bronkus yang telah terjadi. strategi pengobatan asma dapat ditinjau dari berbagai pendekatan. Seperti mengurangi respons saluran napas. Obat golongan agonis beta 2 maupun teofilin selain bersifat sebagai bronkodilator juga dapat mencegah penglepasan mediator. prokaterol) merupakan obat-obat terpilih untuk mengatasi serangan asma akut. Dapat diberikan secara inhalasi melalui MDI (Metered Dosed Inhaler) atau nebulizer . mencegah ikatan alergen dengan IgE. meskipun juga efektif pada sebagian pasien asma intrinsik dan asma karena kegiatan jasmani. b. diikuti dengan dosis pemeliharaan. Mencegah penglepasan mediator Premedikasi dengan natrium kromolin dapat mencegah spasme bronkus yang dicetuskan oleh alergen. Aminofilin dipakai sewaktu serangan asma akut. Hiposensititasi. oleh karena itu hanya dipakai sebagai obat profilaktik pada terapi pemeliharaan. Natrium kromolin paling efektif untuk asma anak yang penyebabnya alergi. Simpatomimetik : 1). Menghindari alergen. b. PENANGANAN / TERAPI Berdasarkan pathogenesis yang telah dikemukakan. . 2). terbutalin. Natrium kromolin mekanisme kerjanya diduga mencegah penglepasan mediator dari mastosit. fenotarol . Mencegah ikatan alergen-IgE a. tampaknya sederhana. Agonis beta 2 (salbutamol.VI. mencegah penglepasan mediator kimia. Diberikan dosis awal. tetapi sering sukar dilakukan. Dianjurkan hanya dipakai pada asma anak atau dewasa muda. Epinefrin diberikan subkutan sebagai pengganti agonis beta 2 pada serangan asma yang berat. Melebarkan saluran napas dengan bronkodilator a. Efek hiposensititasi pada orang dewasa saat ini masih diragukan. dengan menyuntikkan dosis kecil alergen yang dosisnya makin ditingkatkan diharapkab tubuh akan membentuk IgG (blocking antibody) yang akan mencegah ikatan alergen dengan IgE pada sel mast.

meskipun sebenarnya kurang tepat. antileukotrien. parenteral. Implikasi terapi proses inflamasi di atas adalah meredam inflamasi yang ada baik dengan natrium kromolin. bronkodilator atau obat golongan lain sering dianggap termasuk obat pencegah. Kortikosteroid Sistemik. natrium kromolin. Obat-obat anti alergi. d. Termasuk golongan obat pencegah adalah kortikosteroid hirup. menurunkan reaktivitas bronkus dan memperbaiki kualitas hidup. Antikolinergik (ipatropium bromida) terutama dipakai sebagai suplemen bronkodilator agonis beta 2 pada serangan asma. yaitu obat-obat yang dipakai setiap hari. Secara histopatologis ditemukan adanya infiltrasi sel-sel radang seta mediator inflamasi di tempat tersebut. Tidak termasuk obat golongan bronkodilator tetapi secara tidak langsung. dan obat-obatan anti alergi Falmaterol. mengurangi gejala asma kronik. memperbaiki fungsi paru. perbaikan fungsi paru serta penurunan reaktivitas bronkus lebih baik bila dibandingkan bronkodilator. agonis beta 2 kerja panjang hirup (salmaterol dan formoterol) dan oral. Pencegah (controller). Fungsi . Dipakai pada serangan asma akut atau terapi pemeliharaan asma yang berat. teofilin lepas lambat (TLL). dan anti-IgE. Dengan pengobatan antiinflamasi jangka panjang ternyata perbaikan gejala asma. Obat antiinflamasi dapat mencegah terjadinya inflamasi serta mempunyai daya profilaksis dan supresi. Termasuk golongan ini yaitu obat-obat anti-inflamasi dan bronkodilator kerja panjang (long acting). natrium nedokromil. atau secara lebih poten dengan kortikosteroid baik secara oral. dengan tujuan agar gejala asma persisten tetap terkendali. atau inhalasi seperti pada asma akut atau kronik. kortikosteroid sistemik. Obat-obat anti-asma Pada dasarnya obat-obat anti-asma dipakai untuk mencegah dan mengendalikan gejala asma.c. dapat melebarkan saluran napas. Obat-obat anti-inflamasi khususnya kortikosteroid hirup adalah obat yang paling efektif sebagai pencegah. penggunaan obat anti-asma antara lain : a. karena obat-obat tersebut mencegah dalam ruang lingkup yang terbatas misalnya mengurangi serangan asma. Mengurangi respons dengan jalan meredam inflamasi saluran napas Banyak peneliti telah membuktikan bahwa asma baik yang ringan maupun yang berat menunjukkan inflamasi saluran napas.

Peran kortikosteroid sistemik pada asma akut adalah untuk mencegah perburukan gejala lebih lanjut. Teofilin maupun agonis beta 2 oral dipakai pada pasien yang secara teknis tidak bisa memakai sediaan hirup. kortikosteroid sistemik. dapat mencegah serangan asma karena kegiatan jasmani. . agonis beta 2 oral kerja pendek. Penghilang gejala (reliever). Termasuk golongan ini yaitu agonis beta 2 hirup kerja pendek (short-acting). juga dipakai sebagai obat alternative pada pasien yang tidak dapat mentoleransi efek samping agonis beta 2. Obat penghilang gejala adalah obat-obat yang dapat merelaksasi bronkokonstriksi dan gejala-gejala akut yang menyertainya dengan segera. serta dapat dipakai sebagai penghilang gejala pada asma episodik. Agonis beta 2 hirup (fenoterol. teofilin kerja pendek. Obat tersebut secara tidak langsung mencegah atau mengurangi frekuensi perawatan di ruang rawat darurat atau rawat inap. anti kolinergik hirup. prokaterol) merupakan obat terpilih untuk gejala asma akut serta bila diberikan sebelum kegiatan jasmani. salbutamol. Antikolinergik hirup atau Ipatropium bromide selain dipakai sebagai tambahan terapi agonis beta 2 hirup pada asma akut.b. terbutalin.

2. GINA merekomendasikan 5 komponen yang saling terkait dalam penatalaksanaan asma.VII. Publikasi lokakarya tersebut dikenal sebagai GINA. Berbagai alergen. kecoa. Lung and Blood Institute Amerika Serikat dan WHO. Sampai sejauh ini belum ada cara untuk menyembuhkan asma. kapan harus segera mengunjungi instalasi gawat darurat dan akhirnya akan meningkatkan kepercayaan diri dan ketaatan berobat. Bina hubungan yang baik antara pasien dengan dokter Kerja sama yang baik antara dokter-pasien. Tujuan penatalaksanaan asma adalah untuk :       Mencapai dan mempertahankan kontrol gejala-gejala asma Mempertahankan aktivitas yang normal termasuk olahraga Menjaga fungsi paru senormal mungkin Mencegah eksaserbasi asma Menghindari reaksi adverse obat asma Mencegah kematian karena asma Untuk mencapai tujuan tersebut. antara lain: 1. akan mempercepat tujuan penatalaksanaan asma. namun dengan penatalaksanaan yang baik tujuan untuk dapat memperoleh kontrol asma yang bai. lingkungan kerja. pasien didukung untuk mampu mengontrol asmanya. baik yang di dalam rumah seperti tungau debu. Pasien akan mampu mengenal kapan asmanya memburuk. . pada sebagian besar dapat tercapai. mengetahui tindakan sementara sebelum menghubungi dokter. Dengan bimbingan dokter. bulu binatang. PENATALAKSANAAN Para ahli asma dari berbagai negara terkemuka telah membentuk suatu lokakarya Global Initiative for Asthma : Management and Prevention yang dikoordinasikan oleh National Hear. Menghindari faktor pencetus diharapkan dapat mengurangi gejala dan serangan asma. Identifikasi dan kurangi pemaparan faktor resiko Untuk mencapai kontrol asma diperlukan identifikasi mengenai faktor-faktor yang dapat memperburuk gejala asma atau lebih dikenal sebagai factor pencetus. kapan harus menghubungi dokternya. atau di luar ruangan serta polusi udara.

Pada tingkat berapa pengobatan untuk mencapai kontrol dimulai. yang tidak menggunakan fungsi paru. Derajat serangan asma bervariasi dari yang ringan sampai berat yang dapat mengancam jiwa. ketegangan jiwa. Pada sebagian besar pasien dengan intervensi obat asma dan dengan dokter pasien yang baik sangat menunjang pencapaian tujuan tersebut. nilai APE. pengobatan dan pemantauan keadaan kontrol asma Tujuan terpenting penatalaksanaan asma adalah mencapai dan mempertahankan kontrol asma. Sebaliknya bila respons pengobatan belum memadai. Satu hal yang perlu diingat bahwa serangan asma akut menunjukkan rencana pengobatan jangka panjang telah gagal atau pasien sedang terpajan faktor pencetus. mudah pemakaiannya dan praktis karena sebagian besar dokter negeri kita tidak menggunakan fungsi paru dalam prakteknya. Dalam penatalaksanaan serangan asma perlu diketahui lebih dahulu derajat beratnya serangan asma baik berdasarkan cara bicara. Oleh karena itu sekarang diperkenalkan istilah kontrol asma yang lebih mengarah kepada upaya pencegahan dengan cara mengendalikan gejala klinik penyakit termasuk juga perbaikan fungsi paru. tingkat pengobatan dinaikkan. Derajat berat asma juga dapat berubah seiring dengan berjalannya waktu atau pengaruh pengobatan. terdapat 5 tingkatan pengobatan asma. Bila kontrol asma dapat tercapai dan dapat dipertahankan terkontrol paling tidak selama 3 bulan maka tingkat pengobatan asma dapat dicoba untuk diturunkan. tergantung berat atau tidaknya kontrol asma. tanda-tanda fisis. batuk. Penilaian. Berbagai alat tingkat kontrol asma saat ini telah dikembangkan baik yang menggunakan fungsi paru sebagai salah satu komponen pengukuran kontrol maupun yang tidak. 3. dan yang agak berat pada tingkat 3. dan lain sebagainya. aktivitas. Salah satu diantaranya adalah Tes Kontrol Asma (TKA). TKA ini telah pula divalidasi di Indonesia. Bila dengan obat yang diberikan saat ini asma belum terkontrol. rinosinusitis. obat-obatan. Merencanakan pengobatan asma akut (serangan asma) Serangan asma ditandai dengan gejala sesak napas. dan semuanya divalidasi. 4. dosis atau jenis obat ditingkatkan.pengawet makanan. Bila dianggap ringan berada pada tingkat 2. Seperti diketahui pada panduan penatalaksanaan asma yang baru. Pengobatan merupakan proses yang berkesinambungan. virus influenza. dan bila mungkin analisis gas . atau kombinasi dari gejala-gejala tersebut. refluks gastroesofagal. patut untuk diidentifikasi dan selanjutnya dihindari. mengi. Serangan bisa mendadak atau bisa juga perlahan-lahan dalam jangka waktu berhari-hari.

Tetapi bila tidak ada perbaikan atau minimal. Dosis prednisolon antara 0. sehingga bila penderita telah mempunyai Sa O2 oksigen.5-1 mg/kgBB atau ekuivalennya. Pada serangan asma yang lebih berat. oleh karena itu pengobatan diteruskan untuk beberapa hari. Perbaikan biasanya terjadi secara bertahap. Pada serangan asma ringan atau sedang. Kortikosteroid sistemik diberikan bila respon tehadap agonis beta 2 hirup tidak memuaskan.darah. melebarkan saluran napas dengan pemberian bronkodilator aerosol (agonis beta 2 dan Ipratropium bromida) dan mengurangi inflamasi serta mencegah kekambuhan dengan memberikan kortikosteroid sistemik. Serangan asma berat APE 60% nilai prediksi 92% sebenarnya tidak lagi membutuhkan inhalasi c. segera pasien dirujuk ke fasilitas pengobatan yang lebih baik. yaitu pasien yang :     Sedang memakai atau baru saja lepas dari kortikosteroid sistemik Riwayat rawat inap atau kunjungan ke UGD karena asma dalam setahun terakhir Gangguan kejiwaan atau psikososial Pasien yang tidak taat mengikuti rencana pengobatan Pengobatan asma akut Prinsip pengobatan asma akut adalah memelihara saturasi oksigen yang cukup (Sa O2 92%) dengan memberikan oksigen. dan bila ada respons hanya bertahan kurang dari 3 jam . Pasien harus segera dirujuk bila: a. Pasien dengan resiko tinggi untuk kematian karena asma b. pemberian aerosol 2-4 kali setiap 20 menit cukup memadai untuk mengatasi serangan. dan agonis beta 2 oral merupakan obat-obat alternative karena mula kerja yang lama serta efek sampingnya yang lebih besar. Bronkodilator khususnya agonis beta 2 hirup (kerja pendek) merupakan obat anti-asma pada serangan asma. karena dapat mengurangi perawatan rumah sakit dan mengurangi biaya pengobatan. diusahakan mencapai Sa O2 92%. Hal lain yang juga perlu diketahui apakah pasien termasuk pasien asma yang berisiko tinggi untuk kematian karena asma. baik dengan MD1 atau nebulizer. Sebagian peneliti menganjurkan pemberian kombinasi Ipratropium bromida dengan salbutamol. Obat-obat anti-asma yang lain seperti antikolinergik hirup. dosis agonis beta 2 hirup dapat ditingkatkan. teofilin. Pemberian oksigen 1-3 liter/menit. Respons bronkodilator tidak segera.

Prognosisnya sama dengan wanita hamil tidak asma. karena mempunyai hubungan yang erat. Secara umum dapat dikatakan wanita hamil dengan asma yang terkontrol. Perlu diwaspadai adanya asma. Sekitar 70-80% pasien asma mempunyai gejala rhinitis. sebaliknya sekitar 30% pasien rinitis mempunyai asma. Gejala asma makin memburuk 5. menyebabkan kematian perinatal. Infeksi saluran napas atas yang disebabkan virus sering memicu terjadinya serangan asma. Kortikosteroid sistemik oral dapat diberikan bila pada fungsi paru menunjukkan adanya obstruksi. Untuk kepastian diagnosis sinusitis dianjurkan pemeriksaan CT Scan sinus paranasal. agar bila terjadi kelainan dapat diatasi sebelum operasi. Rinitis dan sinusitis Pada pasien asma perlu dipikirkan adanya rhinitis.d. dsb. Dengan demikian penatalaksanaan asma pada kehamilan ditujukan untuk memperoleh kontrol asma. meskipun keamanannya pada kehamilan belum terbukti. Oleh karena itu pemakaian obat-obat anti-asma untuk memperoleh kontrol asma dapat diterima. Steroid mulai dikurangi 24 jam setelah operasi. perlu mendapat perlindungan dengan 100mg hidrokortison sebelum operasi. . sinusitis dan polip hidung. rinitis dan polip hidung yang sering disertai alergi terhadap asam asetil saliksilat. Pembedahan Komplikasi pembedahan juga ditentukan oleh beratnya asma sewaktu operasi. Demikian pula pasien asma yang 6 bulan terakhir mendapat kortikosteroid sistemik. lokasi operasi dimana daerah torak dan abdomen atas mempunyai resiko yang paling besar serta jenis anestesi dengan intubasi mempunyai resiko yang lebih tinggi. Penatalaksanaan asma pada kondisi khusus Beberapa keadaan pada asma yang perlu mendapat perhatian khusus apabila pasien asma juga mengalami : Kehamilan Asma yang tidak terkontrol akan berdampak pada janin. Penilaian sebaiknya dilakukan beberapa hari sebelum operasi. Pengobatan tidak berbeda dengan serangan asma yang disebabkan oleh faktor pencetus lainnya. Tidak ada perbaikan dalam waktu 2-6 jam setelah mendapat pengobatan kortikosteroid e. prematurias dan berat lahir rendah.

hindari makan atau minum sebelum tidur.3 ml IM yang dapat diulangi beberapa kali. Anafilaksis Kejadian anafilaksis bisa terjadi pada pasien asma. Penanganan keadaan ini diharapkan mengurangi gejala asma.Refluks gastroesofageal Refluks gastroesofageal perlu dipikirkan terutama pada pasien asma yang sulit di kontrol. teofilin. dan agonis beta 2 oral. alkohol. pengobatan utamanya adalah epinefrin atau adrenalin 0. Sekali diagnosis anafilaksis ditegakkan. . Berikan “Proton Pump Inhibitor” atau antagonisH 2 serta tidur dengan tempat tidur bagian kepala yang ditinggikan. sehingga pada serangan asma yang resisten terhadap pengobatan perlu dicari gejala-gejala lain dari anafilaksis. hindari makanan yang berlemak. Pengobatan yang dianjurkan yaitu porsi makanan yang sedikit tetapi sering.

DAFTAR PUSTAKA Tim penulis.VIII. InternalPublihing. Jakarta. . Edisi kelima. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid 3.