Anda di halaman 1dari 18

Pengertian GIZI BURUK adalah keadaan kekurangan energi dan protein (KEP) tingkat berat akibat kurang mengkonsumsi

makanan yang bergizi dan atau menderita sakit dalam waktu lama. Ditandai dengan status gizi sangat kurus (menurut BB terhadap TB) dan atau hasil pemeriksaan klinis menunjukkan gejala marasmus, kwashiorkor atau marasmik kwashiorkor. Gizi buruk atau lebih dikenal dengan gizi di bawah garis merah adalah keadaan kurang gizi tingkat berat yang disebabkan oleh rendahnya konsumsi energi dan protein dari makanan sehari-hari dan terjadi dalam waktu yang cukup lama. Tanda-tanda klinis dari gizi buruk secara garis besar dapat dibedakan marasmus, kwashiorkor atau marasmic-kwashiorkor (RI dan WHO, Rencana Aksi Pangan dan Gizi Nasional 2001 – 2005, Jakarta, Agustus 2000). Gizi buruk merupakan keadaan kurang gizi yang disebabkan karena kekurangan asupan energi dan protein juga mikronutrien dalam jangka waktu lama. Anak disebut gizi buruk apabila berat badan dibanding umur tidak sesuai (selama 3 bulan berturut-turut tidak naik) Gizi buruk atau malnutrisi dapat diartikan sebagai asupan gizi yang buruk. Hal ini bisa diakibatkan oleh kurangnya asupan makanan, pemilihan jenis makanan yang tidak tepat ataupun karena sebab lain seperti adanya penyakit infeksi yang menyebabkan kurang terserapnya nutrisi dari makanan. Secara klinis gizi buruk ditandai dengan asupan protein, energi dan nutrisi mikro seperti vitamin yang tidak mencukupi ataupun berlebih sehingga menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan. Gizi buruk ini biasanya terjadi pada anak balita (bawah lima tahun) dan ditampakkan oleh membusungnya perut (busung lapar). Gizi buruk dapat berpengaruh kepada pertumbuhan dan perkembangan anak, juga kecerdasan anak. Pada tingkat yang lebih parah, jika dikombinasikan dengan perawatan yang buruk, sanitasi yang buruk, dan munculnya penyakit lain, gizi buruk dapat menyebabkan kematian. Perbedaan gizi buruk dengan kelaparan

gejala klinis yang bisa dijumpai pada anak adalah berupa kondisi badan yang tampak kurus. Jadi gizi buruk sebenarnya dapat dialami oleh siapa saja. Status gizi balita secara sederhana dapat diketahui dengan membandingkan antara berat badan menurut umur maupun menurut panjang badannya dengan rujukan (standar) yang telah ditetapkan. Orang yang menderita gizi buruk akan mudah untuk terkena penyakit atau bahkan meninggal dunia akibat efek sampingnya. Anakanak yang menderita gizi buruk juga akan terganggu pertumbuhannya. Apabila jauh di bawah standar dikatakan gizi buruk Gizi buruk yang disertai dengan tanda-tanda klinis disebut marasmus atau kwashiorkor. Walaupun demikian. Berat badan yang kurang menandai kalau gizi buruk yang dideritanya akut (belum . Seseorang dapat terkena gizi buruk dalam jangka panjang ataupun pendek dengan kondisi yang ringan ataupun berat. Indikasi Gizi Buruk Untuk KEP ringan dan sedang. biasanya mereka tidak tumbuh seperti seharusnya (kerdil) dengan berat badan di bawah normal. vitamin dan mineral secara mencukupi. Gizi buruk dapat mempengaruhi kesehatan fisik dan mental. Tinggi dan berat badan kurang dari standar deviasi ukuran normal sesuai dengan usia dan jenis kelamin. 2. Gizi buruk adalah bentuk terparah dari proses terjadinya kekurangan gizi menahun. Apabila berat badan menurut umur sesuai dengan standar. Kalau sedikit di bawah standar disebut gizi kurang. tanpa mengenal struktur sosial dan faktor ekonomi Orang yang menderita gizi buruk akan kekurangan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh untuk tumbuh atau untuk menjaga kesehatannya. anak disebut gizi baik. Orang yang menderita kelaparan biasanya karena tidak mendapat cukup makanan dan kelaparan yang diderita dalam jangka panjang dapat menuju ke arah gizi buruk.Gizi buruk berbeda dengan kelaparan. orang yang banyak makan tanpa disadari juga bisa menderita gizi buruk apabila mereka tidak makan makanan yang mengandung nutrisi.

diare kronik atau konstipasi (susah buang air) 8. infeksi (diare. Dampak Gizi Buruk Dampak gizi buruk pada anak terutama balita 1. umumnya seluruh tubuh (terutama punggung kaki dan wajah) membulat dan lembab 3. Terjadi perubahan status mental menjadi apatis dan rewel 6. Sering disertai penyakit infeksi yang umumnya akut Adapun marasmic-kwashiorkor memiliki ciri gabungan dari beberapa gejala klinis kwashiorkor dan marasmus disertai edema yang tidak mencolok. Otot mengecil (hipotrofi). Mudah terkena infeksi seperti infeksi saluran nafas dan diare. jaringan lemak subkutis sangat sedikit sampai tidak ada (~pakai celana longgar-baggy pants) 5. Sedangkan jika tinggi badan kurang dan berat badan kurang berarti kondizi gizi buruk sudah kronis (menahun) Sedangkan gejala klinis KEP berat/gizi buruk secara garis besar bisa dibedakan menjadi tiga tipe: marasmus. TBC) 3. Pertumbuhan badan dan perkembangan mental anak sampai dewasa . Terdapat kelainan kulit berupa bercak merah muda yang meluas dan berubah warna menjadi coklat kehitaman lalu terkelupas (crazy pavement dermatosis) 9. Kulit keriput. Edema (pembengkakan). umumnya kronis berulang. Sering disertai: peny. Wajah seperti orang tua 2. 3. 2. Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung dan mudah dicabut tanpa rasa sakit dan mudah rontok 5.lama). kwashiorkor dan marasmic-kwashiorkor. Terjadi pembesaran hati 7. lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri atau duduk 8. Pandangan mata sayu 4. mudah menangis/cengeng dan rewel Gejala Klinis Kurang Energi Protein (KEP) dari kwasiokor adalah 1. Perut cekung 6. Tampak sangat kurus (tulang terbungkus kulit) 4. Gejala Klinis Kurang Energi Protein (KEP) dari marasmus adalah 1. Iga gambang 7.

Pencegahan Gizi Buruk Menimbang begitu pentingnya menjaga kondisi gizi balita untuk pertumbuhan dan kecerdasannya. 2. Berikut adalah beberapa cara untuk mencegah terjadinya gizi buruk pada anak: 1) Memberikan ASI eksklusif (hanya ASI) sampai anak berumur 6 bulan. 5) Jika anak telah menderita karena kekurangan gizi. Berikan pula suplemen mineral dan vitamin penting lainnya. Pada kondisi yang sudah berat. vitamin dan mineralnya. Bisa menyebabkan kematian bila tidak dirawat secara intensif. 3) Rajin menimbang dan mengukur tinggi anak dengan mengikuti program Posyandu. lemak. Cermati apakah pertumbuhan anak sesuai dengan standar di atas. 4) Jika anak dirawat di rumah sakit karena gizinya buruk. maka segera berikan kalori yang tinggi dalam bentuk karbohidrat. terapi bisa dilakukan dengan meningkatkan kondisi kesehatan secara umum. Mudah terkena penyakit ispa. Perbandingan komposisinya: untuk lemak minimal 10% dari total kalori yang dibutuhkan. . 2) Anak diberikan makanan yang bervariasi. Penanganan dini sering kali membuahkan hasil yang baik. Namun. maka sudah seharusnya para orang tua memperhatikan hal-hal yang dapat mencegah terjadinya kondisi gizi buruk pada anak. diare. bisa ditanyakan kepada petugas pola dan jenis makanan yang harus diberikan setelah pulang dari rumah sakit. dan gula. seimbang antara kandungan protein. Setelah itu. segera konsultasikan hal itu ke dokter. Jika tidak sesuai. lemak. biasanya akan meninggalkan sisa gejala kelainan fisik yang permanen dan akan muncul masalah intelegensia di kemudian hari.terhambat. Sedangkan untuk proteinnya bisa diberikan setelah sumber-sumber kalori lainnya sudah terlihat mampu meningkatkan energi anak. lalu disapih setelah berumur 2 tahun. sementara protein 12% dan sisanya karbohidrat. dan yang lebih sering terjadi 3. anak mulai dikenalkan dengan makanan tambahan sebagai pendamping ASI yang sesuai dengan tingkatan umur. 4.

6. Pengobatan pada penderita MEP (Malnutrisi Energi Protein) tentu saja harus disesuaikan dengan tingkatannya.5. diatasi dengan perbaikan gizi. contohnya. Penderita kurang gizi stadium ringan. status gizi anak tersebut terus diperbaiki hingga sembuh. Penderitapun sebaiknya dirawat di Rumah Sakit untuk mendapat perhatian medis secara penuh. Etiologi Penyebab terjadinya kwashiorkor adalah inadekuatnya intake protein yang berlansung kronis. Jenis Gizi Buruk A. Kwashiorkor adalah salah satu bentuk malnutrisi protein berat yang disebabkan oleh intake protein yang inadekuat dengan intake karbohidrat yang normal atau tinggi. Pengobatan Gizi Buruk Pengobatan gizi buruk • • Pada stadium ringan dengan perbaikan gizi. Kwasiorkor Definisi Kata “kwarshiorkor” berasal dari bahasa Ghana-Afrika yang berati “anak yang kekurangan kasih sayang ibu”. Penderita pun sebaiknya dirawat di rumah sakit untuk mendapat perhatian medis secara penuh. Dibedakan dengan Marasmus yang disebabkan oleh intake dengan kualitas yang normal namun kurang dalam jumlah. Dalam sehari anak-anak ini harus mendapat masukan protein sekitar 2-3 gram atau setara dengan 100-150 Kkal. Faktor yang dapat menyebabkan hal tersbut diatas antara lain: . Pengobatan pada stadium berat cenderung lebih kompleks karena masingmasing penyakit harus diobati satu persatu. Sejalan dengan pengobatan penyakit penyerta maupun infeksinya. Sedangkan pengobatan MEP berat cenderung lebih kompleks karena masing-masing penyakit yang menyertai harus diobati satu per satu.

Pola makan Protein (dan asam amino) adalah zat yang sangat dibutuhkan anak untuk tumbuh dan berkembang. keadaan sosial dan politik tidak stabil. Penyakit ini menjadi masalah di negara-negara miskin dan berkembang di Afrika. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. Di negara maju sepeti Amerika Serikat kwashiorkor merupakan kasus yang langka. ataupun adanya pantangan untuk menggunakan makanan tertentu dan sudah berlansung turun-turun dapat menjadi hal yang menyebabkan terjadinya kwashiorkor. kwashiorkor. telur. Dan sebaliknya MEP. terutama pada masa peralihan ASI ke makanan pengganti ASI.1. 3. walaupun dalam derajat ringan akan menurunkan imunitas tubuh terhadap infeksi. Faktor ekonomi Kemiskinan keluarga/ penghasilan yang rendah yang tidak dapat memenuhi kebutuhan berakibat pada keseimbangan nutrisi anak tidak terpenuhi. antara lain: • Gagal untuk menambah berat badan . 4. tahu dan lain-lain) sangatlah dibutuhkan. Faktor sosial Hidup di negara dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi. Berdasarkan SUSENAS (2002). keju. Kurangnya pengetahuan ibu mengenai keseimbangan nutrisi anak berperan penting terhadap terjadi kwashiorkhor. 26% balita di Indonesia menderita gizi kurang dan 8% balita menderita gizi buruk (marasmus. persediaan makanan yang terbatas. tidak semua makanan mengandung protein/ asam amino yang memadai. marasmus-kwashiorkor). saat dimana ibunya pun tidak dapat mencukupi kebutuhan proteinnya. 2. Amerika Tengah. namun bagi yang tidak memperoleh ASI protein adri sumber-sumber lain (susu. Epidemiologi Kasus ini sering dijumpai di daerah miskin. Bayi yang masih menyusui umumnya mendapatkan protein dari ASI yang diberikan ibunya. Gejala Klinis Tanda atau gejala yang dapat dilihat pada anak dengan Malnutrisi protein beratKwashiorkor. dan tingkat pendidikan yang rendah. Amerika Selatan dan Asia Selatan. Faktor infeksi dan penyakit lain Telah lama diketahui bahwa adanya interaksi sinergis antara MEP dan infeksi. Meskipun intake makanan mengandung kalori yang cukup.

feses lengkap. iritabilitas dan apatis dapat terjadi. anak tampak lemas serta menjadi lebih pendiam. perut yang membuncit) Diare yang tidak membaik Dermatitis. Anamesis Keluhan yanga sering ditemukan adalah pertumbuhan anak yang kurang. Pada keadaan berat/ akhir (final stages) dapat mengakibatkan shock. gangguan fungsi ginjal. 2. profil lemak. punggung kaki dan perut) Atrofi otot Ganguan sistem gastrointestinal Perubahan rambut (warna menjadi kemerahan dan mudah dicabut) Perubahan kulit (perubahan pigmentasi kulit) Pembesaran hati Tanda-tanda anemia Darah lengkap. pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang. Edema gerenal (muka sembab. 1. urin lengkap. dan anemia. Perubahan warna rambut menjadi kemerahan dan mudah dicabut. dan sering menderita sakit yang berulang. Pemeriksaan Fisik Yang dapat dijumpai pada pemeriksaan fisik antara lain: • • • • • • • • Perubahan mental sampai apatis Edema (terutama pada muka. Foto thorak.• • • • • • • • • Pertumbuhan linear terhenti. Diagnosis Diagnosis ditegakkan dengan anamesis. coma dan berakhir dengan kematian. perubahan pigmen kulit (deskuamasi dan vitiligo). seperti berat badan yang kurang dibandingkan anak lain (yang sehat). protein serum (albumin. Komplikasi 3. Pemeriksaan penunjang . feritin. Perubahan lain yang dapat terjadi adalah perlemakan hati. Bisa juga didapatkan keluhan anak yang tidak mau makan (anoreksia). dan EKG. globulin). elektrolit serum. transferin. Penurunan masa otot Perubahan mental seperti lethargia. punggung kaki.

Protein diberikan setelah semua sumber kalori lain telah dapat menberikan tambahan energi. Vitamin dan mineral dapat juga diberikan. Tinggi maksimal dan kempuan potensial untuk tumbuh tidak akan pernah dapat dicapai oleh anak dengan riwayat kwashiorkor.Anak dengan kwashiorkor akan lebih mudah untuk terkena infeksi dikarenakan lemahnya sistem imun. khususnya apabila pemberian makanan dengan densitas kalori yang tinggi. Keadaan shock memerlukan tindakan secepat mungkin dengan restorasi volume darah dan mengkontrol tekanan darah. (Penatalaksaan gizi buruk menurut standar pelayanan medis kesehatan anak – IDAI (ikatan dokter anak Indonesia)) Prognosis Penanganan dini pada kasus-kasus kwashiorkor umumnya memberikan hasil yang baik. namun anak dapat mengalami gangguan fisik yang permanen dan gangguan intelektualnya. akan memberikan akibta yang fatal. Penatalaksanaan/ terapi Penatalaksanaan kwashiorkor bervariasi tergantung pada beratnya kondisi anak. dan lemak. Dikarenan anak telah tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu yang lama. Bukti secara statistik mengemukakan bahwa kwashiorkor yang terjadi pada awal kehidupan (bayi dan anakanak) dapat menurunkan IQ secara permanen. kalori diberikan dalam bentuk karbohidrat. Kasus-kasus kwashiorkor yang tidak dilakukan penanganan atau penanganannya yang terlambat. Banyak dari anak penderita malnutrisi menjadi intoleran terhadap susu (lactose intolerance) dan diperlukan untuk memberikan suplemen yang mengandung enzim lactase. Marasmus . B. Pada tahap awal. memberikan makanan per oral dapat menimbulkan masalah. gula sederhana. Penanganan yang terlambat (late stages) mungkin dapat memperbaiki status kesehatan anak secara umum. Makanan harus diberikan secara bertahap/ perlahan.

deformitas palatum. penyakit Hirschprung. lactose intolerance. ada beberapa faktor lain pada diri anak sendiri yang dibawa sejak lahir. akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak. terutama infeksi enteral misalnya infantil gastroenteritis. 6) Gangguan metabolik Misalnya: renal asidosis. palatoschizis. 8) Penyapihan . hiatus hernia. hidrosefalus. Selain faktor lingkungan. Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut: 1) Masukan makanan yang kurang Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit. misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer.pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan. bronkhopneumonia.Marasmus ialah suatu bentuk kurang kalori-protein yang berat. stenosispilorus. cystic fibrosis pancreas. 4) Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang akibat reflek mengisap yang kurang kuat. idiopathic hypercalcemia. Keadaan ini merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan penyakit infeksi. 3) Kelainan struktur bawaan Misalnya: penyakit jantung bawaan. galactosemia. micrognathia. 2) Infeksi Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus. 7) Tumor hypothalamus Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab marasmus yang lain telah disingkirkan. 5) Pemberian ASI Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makanan tambahan yang cukup. pielonephritis dan sifilis kongenital. diduga berpengaruh terhadap terjadinya marasmus.

terutama gastro enteritis akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus. Kemampuan tubuh untuk mempergunakan karbohidrat. menyebutkan marasmus environment (lingkungan). menentukan. Faktor-faktor ini dapat digolongkan atas tiga faktor penting yaitu : tubuh sendiri (host). 9) Urbanisasi Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya marasmus meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli susu dan bila disertai dengan infeksi berulang. Tubuh akan mempertahankan diri jangan sampai memecah protein lagi setelah kira-kira kehilangan separuh dari tubuh. sayangnya kemampuan tubuh untuk menyimpan karbohidrat sangat sedikit. Dalam keadaan kekurangan makanan. Otot dapat mempergunakan asam lemak dan keton bodies sebagai sumber energi kalau kekurangan makanan ini berjalan menahun. Akibatnya katabolisme protein terjadi setelah beberapa jam dengan menghasilkan asam amino yang segera diubah jadi karbohidrat di hepar dan di ginjal. Gambaran Klinis agent (kuman penyebab). malnutrition. tubuh selalu berusaha untuk mempertahankan hidup dengan memenuhi kebutuhan pokok atau energi. karbohidrat (glukosa) dapat dipakai oleh seluruh jaringan tubuh sebagai bahan bakar. protein dan lemak merupakan hal yang sangat penting untuk mempertahankan kehidupan.Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang kurang akan menimbulkan marasmus. Patofisiologi Sebenarnya malnutrisi merupakan suatu sindrom yang terjadi akibat banyak faktor. sehingga setelah 25 jam sudah dapat terjadi kekurangan. adalah compensated Memang factor diet (makanan) memegang peranan penting tetapi faktor lain ikut Gopalan . Selama puasa jaringan lemak dipecah jadi asam lemak. gliserol dan keton bodies.

Keadaan yang terlihat mencolok adalah hilangnya lemak subkutan. 8. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang.2 tahun. Dinding perut hipotonus dan kulitnya longgar. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas. Tulang rusuk tampak lebih jelas. Berat badan turun menjadi kurang dari 60% berat badan menurut usianya. 6. 10. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi. 5. 9. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap. Otototot lemah dan atropi. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi. Pencegahan Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui. berkeriput dan tampak lebih tua (old man face). Akibatnya ialah wajah si anak lonjong. Pencegahan penyakit infeksi. Diagnosis Diagnosis marasmus dibuat berdasarkan gambaran klinis. Suhu tubuh bisa rendah karena lapisan penahan panas hilang. dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan. 7. dengan cara penimbangan berat badan tiap bulan.Marasmus sering dijumpai pada usia 0 . Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi. terutama pada wajah. Pemberian imunisasi. bersamaan dengan hilangnya lemak subkutan maka anggota gerak terlihat seperti kulit dengan tulang. 4. Pengobatan . tetapi untuk mengetahui penyebab harus dilakukan anamnesis makanan dan kebiasaan makan serta riwayat penyakit yang lalu.

Cairan diberikan sebanyak 200 ml/kg BB/hari. i. berupa MgS04 50% 0. yaitu tindakan untuk menyelamatkan jiwa. Jenis makanan yang memenuhi syarat untuk penderita malnutrisi berat ialah susu. Vitamin A diberikan tanpa melihat ada/tidaknya gejala defisiensi Vitamin A. Kemudian 140 ml sisanya diberikan dalam 16-20 jam berikutnya.000.25 ml/kg BB/hari atau megnesium oral 30 mg/kg BB/hari. Pada hari-hari pertama jumlah kalori yang diberikan sebanyak 30-60 kalori/kg BB/hari atau rata-rata 50 kalori/kg BB/hari. Jumlah ini dinaikkan secara berangsur-angsur tiap 1-2 hari sehingga mencapai 150-175 kalori/kg BB/hari dengan protein 3-5 g/kg BB/hari. dengan protein 1-1. Tahap awal yaitu 24-48 jam pertama merupakan masa kritis. Penatalaksanaan penderita yang dirawat di RS dibagi dalam beberapa tahap. sedangkan penderita yang mengalami komplikasi serta dehidrasi.Tujuan pengobatan pada penderita marasmus adalah pemberian diet tinggi kalori dan tinggi protein serta mencegah kekambuhan. sebanyak 1-2 Meq/kg BB/hari/IV atau dalam bentuk preparat oral 75-100 mg/kg BB/hari dan Mg.000 i.5 g/kg BB/hari. Pemberian vitamin dan mineral yaitu vitamin A diberikan sebanyak 200. Sebagian besar penderita tidak memerlukan koreksi cairan dan elektrolit. Mula-mula diberikan 60 ml/kg BB pada 4-8 jam pertama. oral. Cairan diberikan sebanyak 150 ml/kg BB/hari.u peroral atau 100. Waktu yang diperlukan untuk mencapai diet tinggi kalori tinggi protein ini lebih kurang 7-10 hari. selanjutnya diberikan preparat oral atau dengan diet.u im pada hari pertama kemudian pada hari ke dua diberikan 200. Mineral yang perlu ditambahkan ialah K. C im. antara lain mengkoreksi keadaan dehidrasi atau asidosis dengan pemberian cairan intravena. syok. asidosis dan lain-lain perlu mendapat perawatan di rumah sakit. Dapat diberikan 1 ml vit Bc dan 1 ml vit.u. sehingga dapat langsung dimulai dengan penyesuaian terhadap pemberian makanan.000 i. . Cairan yang diberikan ialah larutan Darrow-Glucosa atau Ringer Lactat Dextrose 5%. Penderita marasmus tanpa komplikasi dapat berobat jalan asal diberi penyuluhan mengenai pemberian makanan yang baik. Tahap kedua yaitu penyesuaian.

Bila kadar gula darah kurang dari 40% diberikan terapi 1-2 ml glukose 40%/kg BB/IV b) Hipotermi Diatasi dengan penggunaan selimut atau tidur dengan ibunya. Setelah tercapai penyesuaian barulah dijumpai pertambahan berat badan. terutama mengenai pemilihan bahan makanan. Dapat diberikan botol panas atau pemberian makanan sering tiap 2 jam. Penderita yang telah kembali nafsu makannya dibiasakan untuk mendapat makanan biasa seperti yang dimakan sehari-hari.  Hal-hal yang lain perlu diperhatikan : a) Kemungkinan hipoglikemi dilakukan pemeriksaan dengan dextrostix. Sementara itu kepada orang tua diberikan penyuluhan tentang pemberian makanan. yang sesuai dengan daya belinya.Dalam pemilihan jenis makanan perlu diperhatikan berat badan penderita. dalam bentuk makanan cair kemudian makanan lunak dan makanan padat. pengukuran tinggi badan serta tebal lemak subkutan. Penderita boleh dipulangkan bila terjadi kenaikan sampai kira-kira 90% BB normal menurut umurnya. Kebutuhan kalori menjadi normal kembali karena tubuh telah menyesuaikan diri lagi. Pemantauan penderita dapat dilakukan dengan cara penimbangan berat badan. Penderita dengan BB di atas 7 kg diberikan makanan untuk anak di atas 1 tahun. Pada minggu-minggu pertama sering belum dijumpai pertambahan berat badan. Mengingat sulitnya merawat penderita dengan malnutrisi. bila nafsu makannya telah kembali dan penyakit infeksi telah teratasi. Dianjurkan untuk memakai pedoman BB kurang dari 7 kg diberikan makanan untuk bayi dengan makanan utama ialah susu formula atau susu yang dimodifikasi. pengolahannya. secara bertahap ditambahkan makanan lumat dan makanan lunak. karena penderita marasmus sering disertai infeksi. Antibiotik perlu diberikan. Pilihan obat yang dipakai ialah procain penicillin atau gabungan penicilin dan streptomycin. maka usaha pencegahan perlu lebih ditingkatkan. Prognosis .

Revitalisasi posyandu. Prognosis tergantung dari stadium saat pengobatan mulai dilaksanakan. mungkin disebabkan perubahan yang irreversibel dari set-sel tubuh akibat under nutrition. kelainan kulit dan sebagainya. seperti edema. 7. Gejala khas kedua penyakit tersebut nampak jelas. sering tidak dapat dibedakan antara kematian karena infeksi atau karena malnutrisi sendiri. MARASMIK-KWASHIORKOR Penyakit ini merupakan gabungan dari marasmus dan kwashirkor dengan gabungan gejala yang menyertai :  Berat badan penderita hanya berkisar di angka 60% dari berat normal. Pendidikan (penyuluhan) gizi melalui promosi kadarzi 2. bila penyakitnya progesif kematian tidak dapat dihindari. C. Penemuan aktif dan rujukan kasus gizi buruk. seperti meningkatnya kadar natrium dan fosfor inorganik serta menurunnya kadar magnesium. kematian sering disebabkan oleh karena infeksi. karena berkurangnya lemak dan otot.  Mineral lain dalam tubuh pun mengalami gangguan. Perawatan balita gizi buruk 3.  Kalium dalam tubuh menurun drastis sehingga menyebabkan gangguan metabolic seperti gangguan pada ginjal dan pankreas. kelainan rambut.  Tubuh mengandung lebih banyak cairan. . 2. Pendampingan balita gizi buruk pasca perawatan • Upaya Kesehatan Promotif dan Preventif 1. Gejala klinis Kwashiorkor-Marasmus tidak lain adalah kombinasi dari gejala-gejala masingmasing penyakit tersebut. Penanggulangan Gizi Buruk Upaya Kesehatan Mengatasi Masalah Gizi • Upaya Kesehatan Kuratif dan Rehabilitatif 1.Malnutrisi yang hebat mempunyai angka kematian yang tinggi. Dalam beberapa hal walaupun kelihatannya pengobatan adekuat.

Konseling. b. Peningkatan daya beli keluarga miskin 7. Pemberian MP – ASI bagi balita gakin Kerangka Kerja Pencegahan Dan Penanggulangan Gizi Buruk • • Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi Komponen SKPG: 1. Suplementasi gizi. Penggunaan garam beryodium 5. Keluarga 2. Bantuan pangan darurat: a. Gizi seimbang. Balita yang sembuh dan perlu PMT. 5. Gizi kurang diberikan PMT Penyuluhan dan Konseling 9. Mengatasi masalah medis yang mempengaruhi gizi buruk 2. 6. Pemantauan pertumbuhan anak 4. Semua balita mempunyai KMS. Berat badan Tidak naik (T2). Mengaktifkan Posyandu: SKDN 2. 4. Pola asuh ibu dan anak 3. perlu dikembalikan ke Pusat Pemulihan Gizi untuk diberikan PMT . 3. ASI eksklusif dan MP-ASI. BB Tidak naik (T1). Penyuluhan/Konseling Gizi: a. Pemanfaatan pekarangan 6. Raskin Peran Masyarakat dan Lintas Sektor 1. BGM. Pelayanan kesehatan dasar 7. Masyarakat dan Lintas Sektor 3. b. Pelayanan Kesehatan Peran Keluarga: 1. sakit.3. Penimbangan balita (D). Gizi buruk. Pemberian suplementasi gizi. ibu hamil. 2. 4. dirujuk ke RS atau Puskesmas Peran Pelayanan Kesehatan 1. PMT balita. Berat badan naik (N) sehat dikembalikan ke peran keluarga 8.

Pendekatan Pemberdayaan masyarakat serta keterlibatan dalam proses pengambilan keputusan. 4. Pendekatan komprehensif: Mengutamakan upaya pencegahan dan upaya peningkatan. 5. Menggalang kemitraan antara pemerintahan. Kebijakan Operasional Pencegahan Dan Penanggulangan Gizi Buruk 1. Merupakan Program Nasional: Perencanaan. Meningkatnya cakupan suplementasi gizi terutama pada kelompok penduduk rawan dan keluarga miskin. 3. mengenali dan menanggulangi secara dini gangguan pertumbuhan pada balita utamanya baduta. Puskesmas dan Rumah Sakit. Semua kabupaten/kota secara terus menerus melakukan upaya pencegahan dan penanggulangan gizi buruk. pelaksanaan. Meningkatnya cakupan deteksi dini gizi buruk melalui penimbangan balita di Posyandu. dengan koordinasi lintas instansi/dinas dan organisasi masyarakat. 2. .5 % pada tahun 2014. dikembalikan kepada masyarakat Tujuan Penanggulangan Gizi Buruk Tujuan Umum: • Menurunnya prevalensi Kurang Energi Protein (KEP) menjadi setinggi-tingginya 15 % dan gizi buruk menjadi setinggi-tingginya 2. dan tidak perlu PMT. 3. 5. yang didukung upaya pengobatan dan pemulihan. Meningkatnya kemampuan dan ketrampilan keluarga dalam menerapkan Keluarga Sadar Gizi (KADARZI).3. Meningkatnya jangkauan dan kualitas tata laksana kasus gizi buruk di Rumah Tangga. Balita yang sembuh. Tujuan Khusus: 1. Strategi Pencegahan Dan Penanggulangan Gizi Buruk • Mengembalikan fungsi posyandu dan meningkatkan kembali partisipasi masyarakat dan keluarga dalam memantau. 4. Puskesmas dan jaringannya. pemantauan dan evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan antara pusat dan daerah 2. Berfungsinya Sistem Kewaspadaan Pangan Dan Gizi (SKPG). dunia usaha dan masyarakat di berbagai tingkat.

PMT ini diberikan setiap hari. dalam rangka program UPGK. Mengoptimalkan surveilans berbasis masyarakat melalui SKDN. sampai keadaan gizi penerima makanan tambahan ini menunjukkan perbaikan dan hendaknya benar-benar sebagai penambah dengan tidak mengurangi jumlah makanan yang dimakan setiap hari dirumah. untuk meningkatkan manajemen program perbaikan gizi. Menggalang kerjasama lintas sektor dan kemitraan dengan masyarakat beserta swasta/dunia usaha dalam memobilisasi sumberdaya untuk penyediaan pangan di tingkat rumah tangga. makanan tambahan dan diet khusus. peningkatan daya beli keluarga. manajemen laktasi dan konseling gizi. Pada saat ini program PMT tampaknya masih perlu dilanjutkan . Sistem Kewaspadaan Dini Kejadian Luar Biasa (SKD-KLB) Gizi Buruk.• Meningkatkan kemampuan dan keterampilan SDM puskesmas beserta jaringannya dalam tatalaksana gizi buruk dan masalah gizi lain. rehabilitatif dan sebagai sarana untuk penyuluhan merupakan salah satu bentuk kegiatan pemberian gizi berupa makanan dari luar keluarga. Salah Satu Program Penanggulangan Gizi Buruk Pemberian Makanan Tambahan merupakan salah satu komponen penting Usaha Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK) dan program yang dirancang oleh pemerintah. dan Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG). 8. • Menanggulangi secara langsung masalah gizi yang terjadi pada kelompok rawan termasuk keadaan darurat melalui suplementasi zat gizi mikro. MP-ASI. sosialisasi dan KIE gizi seimbang. dan perbaikan pola asuhan gizi keluarga. PMT sebagai sarana pemulihan gizi dalam arti kuratif. • • Mengembangkan model intervensi gizi tepat guna yang evidence based. • • Mewujudkan keluarga sadar gizi melalui advokasi.

sayuran hijau. mempergunakan resep daerah atau dimodifikasi. PMT berupa makanan selingan atau makanan lengkap (porsi) kecil. aman memenuhi syarat kebersihan serta kesehatan. . ikan. serta dipersiapkan. Komposisi PMT Menurut Departemen Kesehatan RI seperti yang dikutip oleh Judiono (2003) bahwa prasyarat pemberian makanan tambahan pada anak usia pra sekolah adalah nilai gizi harus berkisar 200 – 300 kalori dan protein 5 – 8 gram. dan diberikan dengan kriteria anak balita yang tiga kali berturut-turut tidak naik timbangannya serta yang berat badannya pada KMS terletak dibawah garis merah. kacang-kacangan. Tujuan Pemberian Makanan Tambahan Pemberian makanan tambahan bertujuan untuk memperbaiki keadaan gizi pada anak golongan rawan gizi yang menderita kurang gizi. dan dikemas dengan baik. Pemberian makanan tambahan (PMT) diberikan dengan frekuensi minimal 3 kali seminggu selama 100 – 160 hari. sehingga kemungkinan kelestarian program lebih besar. Bahan makanan yang digunakan dalam PMT hendaknya bahan-bahan yang ada atau dapat dihasilkan setempat.mengingat masih banyak balita dan anak-anak yang mengalami kurang gizi bahkan gizi buruk. Diutamakan bahan makanan sumbar kalori dan protein tanpa mengesampingkan sumber zat gizi lain seperti: padipadian. mempergunakan bahan makanan setempat dan diperkaya protein nabati/hewani. kelapa dan hasil olahannya. dimasak. umbi-umbian.