Anda di halaman 1dari 2

MEMBANGUN KREDIBILITAS DIRI DENGAN BERSIKAP AMANAH

Melihat berbagai fakta dan realita sekarang, nampaknya amanah merupakan sebuah kata yang bermakna berat. Bagaimana tidak, amanah merupakan sebuah kata yang sangatlah mahal melebihi berlian termahal sekalipun di dunia ini. Amanah atau kejujuran akan menentukan apakah seseoang itu memiliki kredibilitas atau tidak. Tanpa kredibilitas, segala perkataan, janji, pendapat dan tindak tanduk seseorang tidak akan bernilai dan dihargai ditengah ummat. Dalam Al Qur’an surah Al-Ahzab, Allah bahkan beerfirman “ Sesungguhnya, Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi dan gunung, tetapi mereka enggan memikulnya. Sesungguhnya mereka sangat zalim lagi kurang pengetahuannya.” Ayat diatas menunjukkan bahwa amanah adalah suatu hal yang penting dan besar maknanya dalam kehidupan. Tanpa amanah, kualitas akan digadaikan manusia karena kepentingan pribadi. Jadi, tidak diragukan lagi amanah adalah sesuatu yang berat sehingga makhluk-makhluk Allah yang besar sekalipun seperti langit, bumi serta gunung tidak sanggup untuk memikulnya. Sebaliknya, manusia yang kecil sanggup menerimanya. Sebagian dari manusia akhirnya mendapatkan azab Allah karena mengkhianatinya. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Nabi bersabda; “Apabila amanah diabaikan orang, tunggulah waktu kehancuran”. Hal senada juga turut diungkapkan oleh Drs. H. Nafiah Muhja, ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjarbaru. Menurut beliau, Sikap Amanah saat ini sepertinya sudah sangat sulit kita temui di sebagian masyarakat terutama apabila kita melihat gelaja sosial yang akhir-akhir terjadi. “Amanah merupakan sesuatu yang harus disampaikan”. Seperti sifat nabi sendiri yakni Amanah, bahkan beliau sebelum diangkat menjadi rasul memiliki gelar “Al Amin”, yakni orang yang dapat dipercaya. “Amanah disini dapat berupa barang, pesan, jabatan dan lain-lain, pungkas beliau lagi. Ketika dihubungkan mengenai tingkat kekecewaan masyarakat terhadap para wakil rakyat yang dianggap mengecewakan dalam memikul amanahnya, terutama jika dikaitkan dengan keputusan terhadap BBM yang mempengaruhi hajat rakyat banyak, beliau berpendapat bahwa masyarakat sendirilah yang akhirnya dapat menilai apakah wakil-wakil mereka itu memihak atau tidak terhadap suara-suara yang diwakilkannya. Selain itu faktor kesadaran mereka terhadap pertanggung-jawabannya didalam agama. Sebab, tidak semua wakil rakyat itu tak amanah , ada sebagian yang memihak pada rakyat dan ada yang di nilai tidak, maka dari itu berlaku pula peribahasa karena nila setitik rusak susu sebelanga. Maka dari itu jika melihat kondisi seperti ini wakil rakyat yang duduk di posisi DPR tentunya harus introspeksi diri, apakah dirinya sudah amanah atau tidak. Melihat realita sekarang haruslah wakil rakyat sadar betul akan pentingnya mengutamakan kepentingan umat dibandingkan kepentingan pribadi sendiri atau kepentingan kelompok. Faktor lingkungan, nafsu, dan kepentingan-kepentingan lainnya yang tak bermanfaat jangan sampai melalaikan kita terhadap pertanggung jawabannya di hari akhir. Maka dari itu. penanaman nilai -nilai agama lah yang penting dan harus di utamakan di instansi dan lembaga-lembaga pendidikan apapun untuk memperbaiki dan mempersiapkan akhlak para calon generasi penerus. Tentunya agar tercipta sifat amanah yang membekali profesi-profesi yang di amanahkan kepada mereaka. Tak lupa, peran serta dan keaktifan orang tua lah yang utama untuk mengontrol serta mengevaluasi anak-anaknya. Sebagai generasi pengganti inilah yang nantinya membedakan dengan generasi yang sekarang, yang mana juga ditentukan dari berbagi lintas sektor untuk mendukung sifat akhlak mulia yang nanti di aplikasikan di masyarakat. “Seperti yang di contokan oleh Rasulullah SAW, dimana beliau memiliki 4 sifat dasar yang terpuji, yakni Jujur ( As- Siddiq), cerdas ( Tabligh), rajin (Fathonah) serta terpercaya ( Amanah). Kesemuanya apabila kita ikuti akan berdampak sangat luar biasa dalam hidup. Karena sebagai ummat Islam, kita harus bersikap sebagaimana Nabi mUhammd bersikap, sebab didalam diri beliau terdapat

suri teladan ( Uswatun Hasanah ) untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia mauun di akhirat kelak”. tutup H. . Nafiah Muhja.