Anda di halaman 1dari 25

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja

di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Penyakit akibat kerja disebabkan oleh paparan terhadap bahan kimia dan biologis serta bahaya fisik di tempat kerja. Meskipun angka kejadiannya tampak lebih kecil dibandingkan dengan penyakitpenyakit utama penyebab cacat lain, terdapat bukti bahwa penyakit ini mengenai cukup banyak orang, khususnya di negara negara yang sedang giat mengembangkan industri. Data International Labour Organization (ILO) tahun 2007-2010 didapatkan 160 juta orang yang menderita penyakit akibat kerja setiap tahunnya. Jumlah pria yang meninggal dua kali lebih banyak daripada wanita. Indonesia menduduki peringkat ke-26 dari 27 negara. Data di Indonesia jumlah pekerja berdasarkan Biro Pusat Statistik tahun 2000 adalah 95 juta orang, 50% bekerja di sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, 70-80% angkatan kerja bergerak di sektor informal. Pekerja di sektor itu umumnya bekerja dalam lingkungan kerja yang kurang baik, manajemen kurang terorganisasi, perlindungan kerja tidak optimal, tingkat kesejahteraan yang kurang, dan populasi pekerja terus meningkat .Berdasarkan Profil Kesehatan Indonesia tahun 2004, jumlah tenaga kerja di Indonesia kini lebih dari 142 juta jiwa. Undang-undang No.36 tahun 2009 tentang Kesehatan Kerja, dimana kesehatan kerja bertujuan untuk melindungi pekerja agar hidup sehat dan terbebas dari gangguan kesehatan serta pengaruh buruk yang diakibatkan oleh pekerjaan. Kesehatan kerja juga merupakan bagian dari cakupan kerja dari Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) sesuai PERMENKES 2348/MENKES/PER/XI/2011 pasal 33E menyatakan bahwa salah satu tugas KKP di bidang upaya Pengendalian Resiko Lingkungan dan Kesehatan Lintas Wilayah adalah kesehatan kerja.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

Pada banyak kasus, penyakit akibat kerja ini bersifat berat dan mengakibatkan kecacatan. Akan tetapi ada dua faktor yang membuat penyakit penyakit ini mudah dicegah. Pertama, bahan penyebab penyakit dapat diidentifikasi, diukur, dan dikontrol. Kedua, populasi yang berisiko biasanya mudah didatangi dan dapat diawasi secara teratur serta diobati. Selain itu, perubahan-perubahan awal seringkali dapat pulih dengan penanganan yang tepat. Oleh karena itu, deteksi dini penyakit akibat kerja sangatlah penting. Dengan demikian, tenaga kerja yang sakit dapat segera diobati sehingga penyakitnya tidak berkembang dan dapat sembuh dangan segera. Selain itu, dapat dilakukan pencegahan agar tenaga kerja lainnya dapat terlindung dari penyakit.

1.2.

Tujuan

1.2.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui hasil survei karakteristik dan perilaku tenaga kerja bongkar muat (TKBM) tentang penyakit akibat kerja di KKP Kelas I Medan tanggal 14 Maret 2012. 1.2.2. Tujuan Khusus 1. Mengetahui karakteristik TKBM berdasarkan tingkat pendidikan 2. Mengetahui karakteristik TKBM berdasarkan umur 3. Mengetahui distribusi frekuensi perilaku

1.3.

Manfaat

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

1. Menambah pemahaman dan wawasan penulis mengenai hasil survei karakteristik dan perilaku TKBM tentang penyakit akibat kerja di KKP Kelas I Medan tanggal 14 Maret 2012.

2. Sebagai masukan untuk KKP Kelas I Medan untuk melaksanakan


perannya dalam survei karakteristik dan perilaku TKBM tentang penyakit akibat kerja di KKP Kelas I Medan tanggal 14 Maret 2012

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Tugas Pokok dan Fungsi KKP

Berdasarkan Permenkes nomor 2348/Menkes/PER/XI/2011 tentang organisasi dan tata kerja KKP, KKP adalah unit pelaksana teknis Kementerian Kesehatan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Adapun tugas pokok KKP Medan adalah melaksanakan pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah, surveilans

epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA dan pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia, serta pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara. Fungsi KKP kelas I Medan: 1. Pelaksanaan kekarantinaan 2. Pelaksanaan pelayanan kesehatan 3. Pelaksanaan pengendalian risiko lingkungan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara 4. Pelaksanaan pengamatan penyakit, penyakit potensial wabah, penyakit baru, dan penyakit muncul kembali 5. Pelaksanaan pengamanan radiasi pengion dan non pengion, biologi, dan kimia 6. Pelaksanaan sentra atau simpul jejaring surveilans epidemiologi suatu penyakit yang berkaitan dengan lalu lintas nasional, regional, dan internasional 7. Pelaksanaan, fasilitasi, advokasi kesiapsiagaan dan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana bidang kesehatan, serta

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

kesehatan

matra

termasuk

penyelenggaraan

kesehatan

haji

dan

perpindahan penduduk 8. Pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesehatan kerja di lingkungan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara 9. Pelaksanaan pemberian sertifikat kesehatan obat, makanan, kosmetika, dan alat kesehatan serta bahan adiktif (OMKABA) ekspor dan mengawasi persyaratan dokumen kesehatan OMKABA impor 10. Pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan muatannya 11. Pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara 12. Pelaksanaan jejaring informasi dan teknologi bidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara 13. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di bidang kesehatan di bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara 14. Pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian risiko lingkungan, dan surveilans kesehatan pelabuhan 15. Pelaksanaan pelatihan teknis bidang kesehatan bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara 16. Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtangaan KKP

Keputusan Menteri Perhubungan Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 25 Tahun 2002 tentang Pedoman Dasar Perhitungan Tarif Pelayanan Jasa Bongkar Muat Barang Dari dan Ke Kapal di Pelabuhan menyatakan bahwa (Kepmenhub, 2002): Pasal 1 Dalam keputusan ini yang dimaksud dengan: 1. Pelabuhan adalah tempat yang terdiri dari daratan dan perairan di sekitarnya dengan batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan

pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, berlabuh, naik turun penumpang dan/atau bongkar muat
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

barang yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan pelayaran dan kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan antar moda transportasi. 2. Kepelabuhan adalah meliputi segala sesuatu yang berkaitan dengan kegiatan penyelenggraan pelabuhan dan kegiatan lainnya dalam

melaksanakan fungsi pelabuhan untuk menunjang kelancaran, keamanan, dan ketertiban arus lalu lintas kapal, penumpang, dan/atau barang, keselamatan berlayar, serta tempat perpindahan intra dan antar moda. 3. Pelabuhan umum adalah pelabuhan kepentingan pelayanan masyarakat umum. 4. TKBM adalah semua tenaga kerja yang terdaftar pada pelabuhan setempat yang melakukan pekerjaan bongkar muat di pelabuhan. 5. Penyedia jasa bongkar muat adalah perusahaan bongkar muat yang melakukan kegiatan (stevedoring, cargodorifng, dengan menggunakan TKBM dan peralatan lainnya. 6. Pengguna jasa adalah pemilik barang (GINSI, GPEI, GAFEKSI) dan perusahaan pelayaran. 7. Stevedoring adalah pekerjaan membongkar barang dari kapal ke dermaga/tongkang/truk atau memuat barang dari dermaga/tongkang/truk ke dalam kapal sampai dengan tersusun dalam palka kapal dengan menggunakan derek kapal atau derek darat. 8. Cargodoring adalah pekerjaan melepaskan barang dari tali atau jala-jala (ex tackle) di dermaga dan mengangkut dari dermaga ke gudang/lapangan penumpukan selanjutnya menyusun di gudang/lapangan penumpukan dan sebaliknya. 9. Receiving/delivery adalah pekerjaan memindahkan barang dari receiving/delivery) yang diselenggarakan untuk

timbunan/tempat penumpukan di gudang/lapangan penumpukan dan menyerahkan sampai tersusun di atas kendaraan di pintu gudang/lapangan penumpukan atau sebaliknya.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

10. Stevedore adalah pelaksana penyusun rencana dan pengendalian kegiatan bongkar muat di atas kapal 11. Serikat pekerja atau Buruh TKBM adalah organisasi yang dibentuk dari, oleh, dan untuk pekerja/buruh bongkar muat baik di perusahaan maupun di luar perusahaan, yang bersifat bebas, terbuka, mandiri, demokratis, dan bertanggung jawab guna memperjuangkan, membela serta melindungi hak dan kepentingan pekerja/buruh serta meningkatkan kesejahteraan

pekerja/buruh dan keluarganya 12. Direktur Jenderal adalah Direktur Jenderal Perhubungan Laut

Pasal 7 Dalam kegiatan bongkar muat, diwajibkan kepada: a. Perusahaan bongkar muat untuk menyediakan tenaga supervisi dan peralatan bongkar muat sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan yang berlaku b. Koperasi TKBM untuk menyediakan jumlah tenaga kerja bongkar muat sesuai dengan jumlah dan keterampilan berdasarkan standar yang telah ditetapkan

Pasal 8 Pelaksanaan kegiatan bongkar muat per hari dapat dilakukan dalam 3 (tiga) gilir kerja, dengan jam kerja yang ditetapkan untuk setiap gilir kerja hari Senin sampai dengan hari Minggu selama 8 (delapan) jam termasuk istirahat 1 (satu) jam, kecuali hari Jumat siang istirahat 2 (dua) jam.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

Pasal 11 1. Pekerjaan bongkar muat barang yang jenis dan sifatnya berbahaya dan mengganggu dikenakan tarif tambahan sebagai berikut: a. Barang sangat berbahaya = 100% b. Barang berbahaya c. Barang mengganggu = 50% = 20%

2. Pekerjaan bongkar muat barang bernilai tinggi dan yang memerlukan penanganan khusus dikenakan tarif tambahan yang besarnya ditetapkan berdasarkan kesepakatan bersama antara penyedia jasa bongkar muat dengan pengguna jasa bongkar muat 3. pengelompokan jenis barang berbahaya sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sesuai dengan International Maritime Organization (IMO)

Pasal 12 1. Dalam rangka memberikan perlindungan kepada tenaga kerja bongkar muat Koperasi TKBM diwajibkan menutup Jaminan Sosial Tenaga Kerja yaitu: a. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) b. Jaminan Hari Tua (JHT) c. Jaminan Kematian (JK) 2. Untuk kepentingan kesejahteraan TKBM beserta keluarganya, Koperasi TKBM menutup Jaminan Pemeliharaan Kesehatan (JPK).

Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2010 Tentang Angkutan di Perairan (PP RI, 2010): Pasal 80 1. Kegiatan usaha bongkar muat barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 79 ayat (2) huruf a merupakan kegiatan usaha yang bergerak dalam bidang bongkar dan muat barang dari dan ke kapal di pelabuhan yang meliputi kegiatan stevedoring, cargodoring, dan receiving/delivery.
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

2. Kegiatan usaha bongkar muat barang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh badan usaha yang didirikan khusus untuk bongkar muat barang di pelabuhan. 3. Selain badan usaha sebagaimana dimaksud pada ayat (2), kegiatan bongkar muat barang tertentu dapat dilakukan oleh perusahan angkutan laut nasional hanya untuk kegiatan bongkar muat barang tertentu untuk kapal yang dioperasikannya. 4. Kegiatan bongkar muat sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang dilakukan oleh perusahaan angkatan laut izin usahanya melekat pada izin usaha pokoknya. 5. Barang tertentu sebagaimana dimaksud pada ayat (3) meliputi barang: a. Milik penumpang b. Curah kering yang dibongkar atau dimuat melalui pipa c. Curah kering yang dibongkar atau dimuat melalui conveyor atau sejenisnya; dan d. Yang diangkut di atas kendaraan melalui kapal Ro-Ro 6. Perusahaan angkatan laut nasional dapat melakukan bongkar muat semua jenis barang apabila di pelabuhan tersebut tidak terdapat perusahaan bongkar muat barang. 7. Perusahaan angkatan laut nasional sebagaimana dimaksud pada ayat (6) harus memiliki kapal yang dilengkapi dengan peralatan bongkar muat barang dan tenaga ahli.

Pasal 81 1. Pelaksanaan kegiatan usaha bongkar muat barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 80 ayat (2) dilaksanakan dengan menggunakan peralatan bongkar muat oleh tenaga kerja bongkar muat. 2. Peralatan bongkar muat sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memenuhi persayaratan layak operasi dan menjamin keselamatan kerja

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

3. TKBM sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus memiliki kompetensi di bidang bongkar muat. 4. Untuk memnuhi kebutuhan TKBM di pelabuhan, pemerintah, pemerintah daerah, atau badan hukum Indonesia dapat menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang bongkar muat barang sesuai degan ketentuan peraturan perundangan-undangan.

Pasal 187 Penanganan pengangkutan, penumpukan, penyimpanan, dan bongkar muat barang khusus dan barang berbahaya dari dan ke kapal sebagaimana dimaksud dalam pasal 184 ayat (2) huruf a, dilakukan oleh tenaga kerja yang memiliki kompetensi dan dilengkapi dengan fasilitas keselamatan.

2.2.

Penyakit Akibat Kerja

Penyakit Akibat Kerja (PAK) adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja. Dengan demikian PAK merupakan penyakit yang artifisial atau man made disease. WHO membedakan empat kategori PAK, yaitu : 1. Penyakit yang hanya disebabkan oleh pekerjaan, misalnya Pneumokoniosis. 2. Penyakit yang salah satu penyebabnya adalah pekerjaan, misalnya Karsinoma bronkogenik. 3. Penyakit dengan pekerjaan merupakan salah satu penyebab di antara faktorfaktor penyebab lainnya, misalnya bronkitis kronis. 4. Penyakit dimana pekerjaan memperberat suatu kondisi yang sudah ada sebelumnya, misalnya asma.

Faktor penyebab PAK sangat banyak, tergantung pada bahan yang digunakan dalam proses kerja, lingkungan kerja ataupun cara kerja, sehingga tidak mungkin disebutkan satu per satu.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

10

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

Pada umumnya faktor penyebab dapat dikelompokkan dalam 5 golongan, yaitu: 1. Golongan fisik : suara (bising), radiasi, suhu (panas/dingin), tekanan yang sangat tinggi, vibrasi, penerangan lampu yang kurang baik. 2. Golongan kimiawi: bahan kimiawi yang digunakan dalam proses kerja, maupun yang terdapat dalam lingkungan kerja, dapat berbentuk debu, uap, gas, larutan, awan atau kabut. 3. Golongan biologis : bakteri, virus atau jamur 4. Golongan fisiologis : biasanya disebabkan oleh penataan tempat kerja dan cara kerja 5. Golongan psikososial : lingkungan kerja yang mengakibatkan stress.

Ditinjau dari faktor penyebab, PAK mempunyai kesamaan dengan kecelakaan akibat kerja, namun ruang lingkup keduanya sangat berbeda, terutama dalam aspek pengelolaannya. Oleh karena itu, PAK dikelola oleh seorang dokter atau ahli kesehatan, sedangkan kecelakaan kerja dikelola oleh seorang ahli keselamatan kerja (safety engineering).

Gangguan kesehatan akibat kerja antara lain adalah: Gangguan alat reproduksi : Gangguan fertilitas, gangguan fungsi seksual, gangguan menstruasi, toksemia, aborsi spontan. Gangguan alat pendengaran Gangguan alat penglihatan : kesilauan, kelelahan mata, sakit kepala dekat mata, gangguan kornea atau sklera, katarak,kelelahan visual. Gangguan alat pernafasan : Pneumokoniosis (silikosis, asbestosis, Byssinosis,dan sebagainya), Alergis (asma, rhinitis), kanker paru, dan sebagainya. Gangguan pada kulit : dermatitis, peradangan pada kulit, tumor, alergi kulit, eksema. Gangguan kardiovaskuler : penyakit jantung, hipertensi, dan lain-lain.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

11

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

Gangguan ginjal : DM, nekrosis tubuh. Gangguan alat pencernaan : kerusakan hati, sindrom gastrointestinal, gangguan lambung dan sebagainya. Gangguan jiwa : stres kerja.

Untuk dapat mendiagnosis penyakit akibat kerja pada individu perlu dilakukan suatu pendekatan sistematis untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dan menginterpretasinya secara tepat. Pendekatan ini dapat dilakukan melalui dua cara, yaitu: 1. Pendekatan epidemiologis (bila ada gangguan atau keluhan pekerja, mengidentifikasi hubungan kausal antara pajanan dan penyakit) 2. Pendekatan klinis (individual) dgn cara : a) Menentukan Diagnosis Klinisnya b) Menentukan pajanan yg dialami oleh naker selama ini. c) Menentukan hubungan pajanan dgn penyakit d) Menentukan jumlah pajanan yg dialami e) Menentukan keberadaan faktor2 lain diluar pekerja yg mungkin mempengaruhi f) Mencari kemungkinan lain yang dapat merupakan penyebab penyakit. g) Membuat keputusan apakah penyakit tsb disebabkan oleh pekerjaannya.

2.3.

Alat Pelindung Diri

Alat Pelindung Diri (APD) adalah peralatan keselamatan yang harus digunakan oleh personil apabila berada pada suatu tempat kerja yang berbahaya. Semua tempat yang dipergunakan untuk menyimpan, memproses, dan pembuangan limbah bahan kimia dapat dikategorikan sebagai tempat kerja yang berbahaya. APD merupakan peralatan yang harus disediakan oleh pengusaha oleh karyawan. Kewajiban menggunakan APD itu sendiri telah disepakati oleh pemerintah melalui Departemen Tenaga Kerja Republik Indonesia.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

12

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

Adapun bentuk APD standar untuk bahan kimia berbahaya adalah pelindung kepala (helm), pelindung mata, pelindung wajah, pelindung tangan, dan pelindung kaki, pelindung telinga, tali keselamatan, dan jas laboratorium (bagi pekerja di industri yang banyak bekerja di laboratorium).

2.3.1. Pelindung kepala Pelindung kepala (safety helmet) dikenal ada 4 jenis,yaitu hard hat kelas A , kelas B, kelas C dan bump cap . Klasifikasi masingmasing jenis adalah sebagai berikut: a. Kelas A Hard hat kelas A dirancang untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh dan melindungi dari arus listrik sampai 2.200 volt. b. Kelas B Hard hat kelas B dirancang untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh dan melindungi dari arus listrik sampai 20.000 volt. c. Kelas C Hard hat kelas C melindungi kepala dari benda yang jatuh, tetapi tidak melindungi dari kejutan listrik dan tidak melindungi dari bahan korosif. d. .Bump cap Bump cap dibuat dari plastik dengan berat yang ringan untuk melindungi kepala dari tabrakan dengan benda yang menonjol. Bump cap tidak menggunakan sistem suspensi, tidak melindungi dari benda yang jatuh, dan tidak melindungi dari kejutan listrik. Karena itu, bump cap tidak boleh digunakan untuk menggantikan hard hat tipe apapun.

2.3.2. Pelindung mata Pelindung mata (safety glasses) berbeda dengan kaca mata biasa, baik normal maupun kir (prescription glasses), karena pada bagian atas kanan dan kiri bingkai terdapat pelindung dan jenis kacanya yang dapat menahan jenis sinar UV (Ultra Violet) sampai persentase tertentu. Sinar UV muncul karena lapisan ozon

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

13

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

yang terbuka pada lapisan atmosfer bumi, UV dapat mengakibatkan pembakaran kepada kulit dan bahkan kanker kulit.

2.3.3. Pelindung wajah Pelindung wajah yang dikenal adalah ; a. Goggles Goggles memberikan pelindungan lebih baik dari pada safety glasses karena goggles terpasang dekat wajah. Karena goggles mengitari area mata, maka goggles melindungi lebih baik pada situasi yang mungkin tejadi percikan cairan, uap logam, uap, serbuk, debu, dan kabut. b. Face shield. Face shield memberikan perlindungan wajah menyeluruh dan sering digunakan pada operasi peleburan logam, percikan bahan kimia, atau partikel yang melayang. Banyak face shield yang dapat digunakan bersamaan dengan pemakaian hard hat. Walaupun face shield melindungi wajah, tetapi face shield bukan pelindung mata yang memadai, sehingga pemakaian safety glasses harus dilakukan dengan pemakaian face shield. c.Welding helmets Jenis pelindung wajah yang lain adalah welding helmets (topeng las). Topeng las memberikan perlindungan pada wajah dan mata. Topeng las memakai lensa absorpsi khusus yang menyaring cahaya yang terang dan energi radiasi yang dihasilkan selama operasi pengelasan. Sebagaimana face shield, safety glasses atau goggles harus dipakai saat menggunakan topeng las. d.Masker wajah Masker berfungsi untuk melindungi hidung dari zat zat berbau menyengat dan dari debu yang merugikan.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

14

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

2.3.4. Pelindung Tangan Diperkirakan hampir 20% dari seluruh kecelakaan yang menyebabkan cacat adalah tangan. Tanpa jari atau tangan, kemampuan bekerja akan sangat berkurang. Tangan manusia sangat unik. Tidak ada bentuk lain di dunia yang dapat mencengkram, memegang, bergerak dan memanipulasi benda seperti tangan manusia. Karenanya, tangan harus dilindungi dan disayangi. Kontak dengan bahan kimia kaustik atau beracun, bahan-bahan biologis, sumber listrik, atau benda dengan suhu yang sangat dingin atau sangat panas dapat menyebabkan iritasi atau membakar tangan. Bahan beracun dapat terabsorbsi melalui kulit dan masuk ke badan. APD tangan dikenal dengan safety glove dengan berbagai jenis penggunaannya. Berikut ini adalah jenis-jenis sarung tangan dengan penggunaan yang tidak terbatas hanya untuk melindungi dari bahan kimia.

2.3.5. Pelindung Kaki Para ahli selama berabad-abad membuat rancangan dan struktur umtuk kaki manusia. Kaki manusia sangat kokoh untuk mendukung berat seluruh badan, dan cukup fleksibel untuk memungkinkan berlari, bergerak, taupun pergi. Tanpa kaki dan jari-jari kaki, kemampuan bekerja akan sangat berkurang. Hal-hal yang dapat menyebabkan kecelakan pada kaki salah satunya adalah akibat bahan kimia. Cairan seperti asam, basa, dan logam cair dapat menetes ke kaki dan sepatu. Bahan berbahaya tersebut dapat menyebabkan luka bakar akibat bahan kimia dan panas.

2.3.6. Pelindung telinga Pelindung telinga tidak boleh dianggap tidak berguna terutama untuk pekerja yang bekerja di tempat yang berkondisi bising baik itu dari gesekan benda-benda keras ataupun bunyi-bunyi keras dari mesin. APD yang digunakan untuk kondisi seperti ini adalah dengan menggunakan ear phone, sIstem kerja alat earphone ini yaitu meredam suara yang

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

15

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

akan masuk ke telinga sehingga suara bising tidak mengganggu dan merusak sistem kerja telinga, karena manusia mempuinyai batas pendengaran, apabila kekerasan suara yang terlalu keras maka akan memyebabkan kerusakan pada gendang telinga.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

16

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

BAB 3 PEMBAHASAN

Analisis karakteristik dan perilaku TKBM tentang PAK di KKP Kelas I Medan dilakukan melalui proses survei. Berikut ini diuraikan bagaimana survei tersebut berlangsung di wilayah kerja Kantor Kesehatan Medan berlangsung.

3.1.

Rancangan Survei

Jenis survei ini adalah metode survei deskriptif yang bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan perilaku TKBM tentang PAK di KKP Kelas I Medan tanggal 14 Maret 2012.

3.2.

Lokasi dan Waktu Survei

3.2.1. Lokasi Survei Survei dilaksanakan di wilayah kerja KKP Kelas I Medan yaitu Sektor Gudang Arang.

3.2.2. Waktu Survei Survei ini dilakukan pada hari Rabu tanggal 14 Maret 2012.

3.3.

Populasi dan Sampel Survei

3.3.1. Populasi Survei Populasi dalam survei ini adalah TKBM, yaitu sebanyak 20 orang.

3.3.2. Sampel Survei Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling dengan studi deskriptif. Yang dimaksud total sampling adalah semua yang menjadi populasi dijadikan sampel survei. Jumlah sampel adalah 20 orang.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

17

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

3.4.

Metode Pengumpulan Data

Data yang dikumpulkan berasal dari data primer. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden yaitu dari hasil wawancara terpimpin dengan menggunakan kuesioner kepada responden kemudian hasil tersebut diolah dan dianalisis. Data primer meliputi karakteristik koresponden, yaitu nama, alamat, umur, jenis kelamin, status perkawinan, dan tingkat pendidikan (SD, SMP, SMU, D3, dan S1).

3.5.

Metode Analisis Data

Pengolahan data pada survei ini menggunakan teknik deskriptif dan statistik, yaitu data dikumpulkan terlebih dahulu dan diolah secara deskriptif kemudian dilakukan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solution).

3.6.

Prosedur Pengumpulan Data

KKP Kelas I Medan melakukan proses surat- menyurat atau perizinan dengan otoritas pelabuhan dan PT Pelindo untuk analisis hasil karakteristik dan perilaku tentang PAK pada TKBM. Kemudian KKP Kelas I Medan juga melakukan

proses surat-menyurat kepada koperasi upaya karya. Dalam pelaksanaan di lapangan KKP Kelas I Medan membawa surat tugas dan menandatangani surat perjalanan dinas ke penanggung jawab setiap sektor.

3.7.

Hasil Survei

3.7.1. Deskripsi Responden Salah satu gambaran karakteristik responden yang diamati adalah jenis kelamin, dimana seluruh tenaga kerja bongkar muat yang menjadi responden adalah lakilaki (100%) dan menikah (100%). Pada survei ini, didapatkan tingkat pendidikan responden paling banyak pada tingkat pendidikan SMP yaitu sebanyak 9 orang (45%).

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

18

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

Tabel 3.1. Karakteristik Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pendidikan SD SMP SMA Total Frekuensi 5 9 6 20 Persen(%) 25.0 45.0 30.0 100.0

Dalam survei ini, karakteristik responden berdasarkan ditampilkan pada tabel 3.2

Tabel 3.2. Karakteristik responden berdasarkan umur Umur Frekuensi 35 40 42 43 44 45 46 47 49 50 53 54 58 59 2 1 1 1 1 1 2 1 3 1 1 2 1 1 Persentase (%) 10.0 5.0 5.0 5.0 5.0 5.0 10.0 5.0 15.0 5.0 5.0 10.0 5.0 5.0

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

19

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

61 Total

1 20

5.0 100.0

Dari tabel dan diagram 3.2. dapat dilihat karakteristik responden berdasarkan umur paling banyak ditemukan responden yang berumur 49 tahun yaitu sebanyak 3 orang (15%).

3.7.2. Distribusi Frekuensi Jawaban Pertanyaan Distribusi frekuensi jawaban pertanyaan dapat dilihat di tabel 3.3.

Tabel 3.3 Distribusi Frekuensi Jawaban Pertanyaan No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Pertanyan Pengetahuan tentang APD Cara penggunaan APD Pengetahuan tempat penyimpanan APD Pernah memotivasi teman untuk menggunakan APD Perasaan terganggu dengan pemakaian APD Pernah mengalami kekurangan penggunaan APD Mengalami batuk Batuk menimbulkan sesak nafas Mengalami sakit kepala saat bekerja Mengalami cedera kepala akibat tertimpa barang Mengalami sakit mata Mengalami gatal-gatal Mengalami cedera kaki Mengalami terpeleset Mendapat pemeriksaan kesehatan secara berkala Jawaban Responden Ya Tidak N % N % 17 85 3 15 17 85 3 15 16 16 5 9 14 7 11 5 14 9 2 14 10 80 80 25 45 70 35 55 25 70 45 10 70 50 4 4 15 11 6 13 9 15 6 11 18 6 10 20 20 75 55 30 65 45 75 30 55 90 30 50 Total n 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 20 % 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

20

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

16 17

Penyediaan layanan kesehatan bagi pekerja Pernah memeriksa kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan

15 13

75 65

5 7

25 35

20 20

100 100

Dari table di atas,tampak bahwa mayoritas TKBM telah mengetahui apa arti dari APD serta cara memakainya (85% untuk pengertian APD dan 85% untuk cara pemakaian APD). Selain itu, mayoritas TKBM (80%) telah memotivasi TKBM lain yang tidak memakai APD untuk memakainya. Dari data di atas juga dapat diketahui bahwa mayoritas TKBM (75%) tidak terganggu dengan pemakaian APD tersebut. Walaupun mayoritas TKBM tidak terganggu dengan pemakaian APD, tetapi TKBM yang mengeluh batuk akibat pemakaian masker sebagai alat pelindung diri juga dominan, yaitu sebanyak 70%. Selain itu, TKBM yang mengeluh gatal-gatal akibat pemakaian sarung tangan juga cukup banyak (45%). Dari table di atas,tampak bahwa TKBM yang pernah mengalami sakit mata akibat pekerjaan yaitu sebanyak 70%. Hal ini menunjukkan bahwa pekerja di pelabuhan juga berisiko untuk terkena penyakit mata, sehingga diperlukan kaca mata pelindung bagi TKBM. Sebagian besar pekerja (70%) juga pernah terpeleset saat bekerja. pekerja yang terpeleset tersebut berisiko untuk mengalami trauma, baik trauma kepala, trauma tulang belakang, dan lain-lain, sehingga pemakaian alat pelindung diri sangat diperlukan untuk pekerjaan bongkar muat di pelabuhan. Sebagian besar TKBM (75%) mengatakan sarana pelayanan kesehatan bagi tenaga kerja telah tersedika. Sebanyak 65% TKBM pernah memeriksakan kesehatannya di fasilitas pelayanan kesehatan tersebut. Namun, 50% TKBM mengaku tidak melakukan pemeriksaan kesehatannya secara berkala.

3.8.

Aktualisasi di Lapangan

Pada saat penulis tiba di lapangan, sebagian responden telah menunggu di Sektor Gudang Arang. Kemudian pewawancara langsung mewawancarai responden secara acak dan tidak tersistematisasi. Sehingga tidak didapatkan data responden
KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

21

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

yang telah diwawancarai dan responden yang belum diwawancarai. Oleh sebab itu kemungkinan terjadinya bias akan menjadi besar. Selain itu, kueisoner yang dipakai dalam wawancara terpimpin berisi tentang alat pelindung diri serta akibat jika tidak menggunakan alat pelindung diri ketika sedang bekerja di pelabuhan. Menurut penulis, kuesioner tersebut kurang sesuai untuk menilai pengetahuan dan perilaku tentang penyakit akibat kerja pada TKBM. Pada saat yang sama, staf KKP Medan juga mengdakan kegiatan

pemeriksaan kadar gula darah dan pengobatan umum terhadap responden setelah diwawancarai. Namun demikian, pemeriksaan kadar gula darah hanya dilakukan pada responden yang berusia diatas 40 tahun dan memiliki riwayat penyakit gula darah.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

22

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

BAB 4 KESIMPULAN DAN SARAN

4.1.

Kesimpulan 1. Survei ini dilakukan dengan menggunakan metode survei

deskriptifdimana sampel diambil dengan menggunakan metode total sampling. 2. Survei ini menggunakan teknik wawancara terpimpin dengan alat bantu kuesioner. 3. Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan, alat kerja, bahan, proses maupun lingkungan kerja.

4.2.

Saran 1. Diharapkan adanya peninjauan ulang terhadap pertanyaan dan jawaban kuesioner dan melakukan observasi langsung terhadap penilaian perilaku responden. 2. Diharapkan teknik pelaksanaan survei lebih tersistematisasi

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

23

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

DAFTAR PUSTAKA

American Thoracic Society.Standard for The Diagnosis And Care Of Patient With Chronic Obstructive Pulmonary Diseases (COPD) and Asthma. Am. Rev. Respir Dis, 1995 : 225 43. Amin. M, Penyakit Paru Obstruktif Kronik. Laboratorium SMF Penyakit Paru, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, RSUD DR. Sutomo, Surabaya, 2000. Anonim. Alat Pernafasan. Prevada Cipta Karsa Informatika, Jakarta, 2003. Depkes, RI. (2008). Panduan Petugas Kesehatan Tentang International Health Regulations (IHR) 2005. Jakarta Andriono, GA., Kecacatan Akibat Kecelakaan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja pada Mata. Available from: www.jamsostek.co.id/content_file/mata.pdf

[Accessed at 14 Mar 2012]. Djuanda A., Hamzah M., Aisah S. 2008. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin.: Dermatitis. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 129-138. Epler. G.R, Environmental and Occupational Lung Disease. In : Clinical Overview Of Occupational Diseases, Return To Epler. Com, 2000 FK UGM, 2008. Art of Therapy. Yogyakarta: Pustaka Press. Ismayanti, S. 2010. Evaluasi Antibiotik pada Pasien Infeksi Saluran Pernafasan Atas Dewasa di Instalasi Rawat Jalan RSUD Dr. Moewardi Surakarta Tahun 2008. Surakarta: Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta James, Brus, dkk., 2005. Lecture Notes Oftalmologi. Jakarta: Erlangga. Jeyaratnam, J. & Koh, D., 2010. Buku Ajar Praktik Kedokteran Kerja: Gangguan Mata. Mukono. Cetakan 2010. Jakarta: EGC; 263-268 Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Airlangga University Press,

Surabaya, 2000.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

24

Laporan Kegiatan KKP Kelas I Medan Analisis Hasil Survei Karakteristik Perilaku TKBM tentang Penyakit Akibat Kerja di KKP Kelas I Medan Tanggal 14 Maret 2012

PERDAMI, 2002. Ilmu Penyakit Mata Untuk dokter umum dan mahasiswa kedokteran. Jakarta: Sagung Seto. Ramaddan, 2008.Gambaran Perilaku Pemakaian Masker dan Pengukuran Kadar Debu pada Pekerja Bagian Bongkar Muat Karet Kering Instalasi Belawan PTPN III Tahun 2008. Fakultas kesehatan masyarakat universitas sumatera utara medan Susanti DR., 2010.Hubungan Pemakaian Alat Pelindung Diri (Sarung Tangan) Terhadap Penurunan Kejadian Dermatitis Kontak Iritan pada Pekerja Bagian Penyelesaian Akhir di CV.Roda Jati Karanganyar. Available from: etd.eprints.ums.ac.id/9065/1/J500060003.pdf [Accessed 14 February 2012]. Vaughan, Daniel G. dkk., 2000. Oftalmologi Umum.Jakarta : Widya Medika.

KKS Ilmu Kesehatan Masyarakat/Ilmu Kedokteran Pencegahan/Ilmu Kedokteran Komunitas Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

25