P. 1
Diktat HUKUM Pidana

Diktat HUKUM Pidana

|Views: 1,188|Likes:
Dipublikasikan oleh Amriy Nasution

More info:

Published by: Amriy Nasution on Apr 06, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/14/2013

pdf

text

original

Sections

  • A.Pengertian Hukum Pidana
  • B.Sejarah hukum pidana
  • E.Hukum Pidana dan Kriminologi
  • F.Kegunaan Hukum Pidana
  • I.Menurut Doctrine
  • II.Menurut KUHP
  • III.PENANGGUNG JAWAB PERISTIWA PIDANA DAN KESALAHAN
  • IV.PIDANA
  • V.ACARA PERKARA PIDANA

I. PENDAHULUAN A.

Pengertian Hukum Pidana Dalam ilmu hukum pidana dikenal perbedaan antara “ius punale” dan “ius puniend ”. Terjemahan istilah “ius punale” adalah hukum pidana, sedang “ius puniend ” adalah hak memidana, dalam bahasa latin, ius mungkin diartikan sebagai hukum maupun hak. Perbedaan lain yaitu antara hukum pidana substantif/materiel dan hukum pidana ajektif/formel yang berintikan “ius puniend ”. Ditinjau dari satu segi, hukum pidana substantif/materiel dapat disebut hukum delik. Kata delik asalnya dari bahasa latin “delictum” yang artinya “falen” (Belanda) atau gagal karena kesalahan dan memang ketentuan hukum pidana itu berupa perumusan sikap tindak dan salah (karena gagal mematuhi/melaksanakan yang baik atau benar). Disamping “delictum” dalam bahasa latin dikenal pengertian Crimen yang berarti “misdaad” dan dapat diterjemahkan dengan penyelewengan. Dari kata “Crimen” itulah kita mengenal “Criminal Law” dalam bahasa hukum Anglo Saxon. Dari segi lain hukum pidana substantif/materiel dapat dianggap sebagai hukum “sanctie”. Sanctie (Belanda) dari kata latin “Sanctum” yang arti asalnya ialah “bevestigen bekrachtiging” (Belanda) atau penegas yang bersifat positif dalam bentuk hadiah/anugrah atau bersifat negatif dan berupa hukuman termasuk pidana substantif/materiel dapat dirumuskan sebagai : Hukum mengenai delik yang diancam dengan hukuman pidana. Adapun hukum ajektif/formel atau hukum acara pidana yang berintikan “ius puniend ” sebagai sarana realisasi hukum pidana “substantif/materiel” adalah : hukum yang menyangkut cara laksana penguasa menindak warga yang didakwa bertanggung jawab atas suatu delik.

B. Sejarah hukum pidana Semua hukum pidana yang berlaku bagi penduduk asli indonesia, adalah hukum pidana adat walaupun hukum pidana adat ini disana-sini sangat dipengaruhi oleh hukum islam namun sebagian besar masih bersifat asli. Pentingnya pelajaran hukum pidana adat itu rupanya akan hanya ada bagi ilmu hukum saja. Sejarah hukum tertulis dimulai dengan waktu kedatangan orang Belanda yang pertama di Indonesia, sejak dahulu. Maka hukum yang berlaku bagi orang belanda di Indonesia sebanyak mengkin disamakan dengan hukum yang berlaku di negara Belanda. Asas konkordansi itu senantiasa dipegang teguh selama orang Belanda itu menguasai perundang-undangan di Indonesia (pasal 131 ayat (2) sub a. IS). Jadi sejak permulaan hukum pidana tertulis yang berlaku bagi orang Belanda dikonkordansi dengan hukum piadna yang berlaku di negeri Belanda. Hukum yang berlaku bagi orang Belanda di pusat-pusat dagang VOC yang pertama-tama disini adalah hukum yang dijalankan di atas kapal-kapal VOC. Hukum kapal itu sendiri terdiri atas dua bagian : hukum Belanda yang kuno ditambah dengan asas-asas hukum Romawi. Bagian terbesar hukum kapal tersebut adalah disiplin. Hukum yang berlaku di daerah yang dikuasai VOC itu terdiri dari : (E. Utrecht:1965). 1. 2. 3. Hukum Statuta (yang termuat dalam Statuta van Batavia); Hukum Belanda yang kuno; Asas-asas hukum Romawi.

Sebagaimana diketahui VOC dibubarkan tahun 1798. Pemerintah atas daerah bekas VOC dilakukan oleh suatu Raad Van Aziatische Bezittingen en Establissmenten, disingkat dengan Aziatiche Raad, yang mulai dengan pekerjaan pada tanggal 1 Januari 1800. Pada tanggal 27 September 1804 Pemerintah Batafsche Republik mengesahkan suatu charter voor de aziatische bezittingen van de Bataafsche Republik. Menurut Supomo dan Jokosutono bahwa : Rancangan dari charter ini adalah buah pikiran dari panitia yang dilangsungkan pada tanggal 11 November 1802. Didalam panitia ini

terdapatlah dua aliran-aliran yang tidak suka pada “perubahan” dan aliran yang suka “perubahan”. Akibat dari pertemuan di antara dua aliran ini ialah suatu kerukunan. Perubahan penting terhadap hukum pidana, khususnya mengenai sistem hukuman, diadakan setelah Daendels diangkat menjadi gubernur jendral dan tiba di Indonesia pada tahun 1808. Daendels dikirim ke Indonesia dengan tugas antara lain mengreorganisasi pemerintah dalam arti sempit, justisi dan polisi. Pada tahun 1810 atas perintah Daendels, dibuat suatu peraturan mengenai hukum dan peradilan. Bagi golongan Eropa berlaku statuta betawi baru, sedangkan bagi golongan pribumi berlaku hukum adatnya. Tetapi, gubernur jendral berhak mengubah sistem hukuman menurut hukum adat bilamana : a. dilakukan. b. menjatuhkan hukuman : a. b. c. d. e. f. g. sebagai berikut : 1. Apabila hukum pidana adat dijalankan terhadap orang yang melakukan suatu delik, sedangkan berdasarkan keyakinan hukum positif harus diberi sanksi hukuman. 2. Apabila hukuman yang dijatuhkan menurut hukum pidana adat terlalu ringan atau terlalu berat, sehingga tidak sesuai dengan keadilan. Dibakar hidup terikat pada satu tiang. Dibunuh dengan menggunakan sebilah keris. Dicap bakar Dipukul Dipukul dengan rantai Ditahan dalam penjara Bekerja paksa pada pekerjaan-pekerjaan umum. Hukum adat tidak dapat menyelesaikan suatu perkara. Menurut plakat tanggal 22 April 1808, maka pengadilan diperkenankan Hukuman dianggap tidak sesuai dengan kejahatan yang

Akhirnya hukum pidana dapat menyimpang dari hukum pidana adat dalam hal-hal

3. Apabila alat-alat pembuktian menuntut hukum adat kurang cukup, sehingga tidak dapat meyakinkan hakim akan salah tidaknya perbuatan terdakwa. Sebagian ahli hukum berpendapat, bahwa alasannya bukan karena hukum adat itu tidak cukup baik untuk orang Eropa, akan tetapi sejak zaman VOC telah terkandung niat dalam politik hukum orang Belanda apakah tidak lebih baik apabila orang pribumi ditundukan juga pada hukum Belanda. Pada zaman pendudukan tentara inggris, yang menjadi penguasa terpenting ialah Sir Thomas Raffles. Pentingnya orang ini, ialah minatnya terhadap adat istiadat dan bahasa rakyat Indonesia. Raffles berhasil menulis buku paling pertama yang bermutu tentang kebudayaan Indonesia, yaitu khususnya kebudayaan jawa. Pemerintah Inggris mengadakan perubahan atas hukum positif. Perubahan yang besar adalah atas hukum acara dan susunan pengadilan. Hukum material bagi orang Eropa tetap hukum statuta. Berdasarkan konvensi London tertanggal 13 Agustus 1914, maka bekas koloni Belanda dikembalikan kepada pemerintah belanda. Kepada komisaris jendral diberi suatu instruksi tanggal 3 Januari 1815 Instruksi ini menjadi undang-undang Dasar Pemerintah Kolonial pada waktu itu terkenal dengan nama : Regerings Reglement van 1815 (RR 1815). Tindakan pertama dari komisaris jendral, setibanya di Indonesia, terdapat hukum di Indonesia, ialah mempertahankan untuk sementara waktu, semua peraturan-peraturan bekas pemerintah Inggris, hal ini untuk menghindari “Rechts Vactum”. Berdasarkan LNHB Tahun 1828 No.16 diadakan suatu sistem kerja paksa sebagai sistem hukuman. Sistem kerja paksa dengan sendirinya hanya dilakukan bagi para terhukum bagi para pribumi yang terbagi dalam dua golongan : 1. 2. Yang dihukum kerja rantai; Yang dihukum kerja paksa;

Ada peraturan-peraturan hukum tersendiri untuk orang-orang Belanda dan lain-lain orang Eropa. Ke arah manakah ? (Utrecht: 1965) Sejarah KUH Pidana Pada zaman penjajahan Belanda di Indonesia sejak semula terdapat dualisme dalam perundang-undangan.Sejak kembalinya kekuasaan Belanda di Indonesia pada tahun 1815. : Hukum Belanda yang kuno. untuk hukum pidana tetap berlaku keadaan pada waktu sebelum tahun 1848. untuk orang-orang Eropa . LNHB 1848 No. Tugas membuat kodifikasi tersebut baru dapat diselesaikan pada tahun 1848 oleh Scholten van Haarlem dan Wicher. Tetapi hukum pidana tidak termasuk kodifikasi tahun 1848. Dari zaman tata hukum pidana yang dualistis ke zaman tata hukum idana yang terunifikasi.6 sampai tahun 1867 dan tahun 1873 mngenai hukum pidana tertulis berlaku : Primer Sekunder Lebih sekunder Lebih sekunder lagi : Hukum yang terdapat dalam statuta Betawi. : Asas-asas Hukum Romawi. dan India/Pakistan). Selanjutnya pada tahun 1848 dibuat peraturan hukum pidana. Idema dalam bukunya membagi zaman tahun 1848 sampai dengan tahun 1934 dalam : 1848 – 1873 1873 – 1918 1918 – 1934 Dari zaman tata hukum pidana yang sangat beraneka warna ke zaman tata hukum pidana yang dualistis. Dualisme ini mula-mula juga ada dalam hukum pidana. maka pada waktu itu tetap ada keinginan untuk mengadakan suatu kodifikasi. dan ada peraturan-peraturan hukum tersendiri untuk orangorang Indonesia dan orang-orang Timur asing (Cina. yang terkenal dengan nama Interimaire Strafbapalingen. yang merupakan jiplakan belaka dari hukum yang berlaku di negeri Belanda. Arab. : Apa yang disebut oleh Kolonial Verslag tahun 1849.

yang mulai efektif tanggal 1 Januari 1918. Berdasarkan atas aturan-aturan peralihan. Keadaan hukum pidana ini dilanjutkan pada zaman pendudukan Jepang dan pada prmulaan zaman kemerdekaan Indonesia. yang oleh Kaisar Napoleon dinyatakan berlaku di negeri Belanda pada waktu negara itu ditaklukan oleh Napoleon permulaan abad XIX. Dengan demikian. Pada tahun 1881 di negeri Belanda dibentuk suatu kitab Undang-undang pidana Baru yang mulai berlaku pada tahun 1886 yang bersifat nasional serta sebagian besar mencontoh pada kitab Undang-undang Hukum Pidana di negara Jerman.berlaku suatu kitab undang-undang Hukum Pidana tersendiri. Disitu disebutkan: “Dengan menyimpang seperlunya dari peraturan Presiden RI Peraturan ini ada dua pasal: . selama belum diadakan yang baru menurut undang-undang ini. baik dari pemerintah Jepang maupun dari Undang-undang Republik Indonesia 1945 pasal II AP yang berbunyi: Segala badan negara dan peraturan yang ada masih langsung berlaku.497). sekaligus juga menggantikan KUHP tersebut diatas untuk berlaku bagi semua penduduk di Indonesia.55). Kedua Kitab Undang-undang Hukum Pidana di Indonesia ini adalah jiplakan dari kode penal negara Prancis.85) yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 1873. yang termuat dalam berita RI II No. berakhirlah dualisme hukum pidana di Indonesia yang pada mulanya hanya untuk daerah yang langsung dikuasai oleh pemerintah Hindia Belanda dan akhirnya untuk seluruh Indonesia. Dengan Undang-undang No. mulai berlaku tanggal 1 Januari 1867. yang termuat dalam firman raja Belanda tanggal 10 Februari 1866 No. yang mengatur secara terperinci peralihan dari hukum pidana lama ke hukum pidana baru. KUHP ini pada mulai berlakunya disertai suatu “Invoerings verordening” berupa firman raja Belanda tanggal 4 Mei 1917 (Stb 1917 No.54 (Stb 1866 No. Sedang untuk orang-orang Indonesia dan orang-orang Timur asing berlaku suatu Kitab Undang-undang Hukum Pidana tersendiri yang termuat dalam ordonansi tanggal 6 Mei 1872 (Stb 1872 No. Dengan firman raja Belanda tanggal 15 oktober 1915 maka di Indonesia diberlakukan KUHP baru.1/146 tanggal 26 Februari 1946.9 diadakan penegasan tentang hukum pidana yang berlaku di RI.

2 oleh Undangundang No. Pasal 2 Peraturan ini mulai berlaku tanggal 17 Agustus 1945 yang isinya hampir sama dengan pasal II AP Undang-undang Dasar 1945 ditentukan. Dengan demikian. yang dengan demikian berganti berkuasa di Indonesia sampai tanggal 7 Agustus 1945. bahwa semua peraturan-peraturan hukum pidana dikeluarkan oleh pemerintah Jepang. masih berlaku. saat pemerintah Hindia Belanda menyerah kepada balatentara Jepang. ditegaskan pertama-tama. ialah peraturan hukum pidana yang ada pada tanggal 8 Maret 19442. apabila bertentangan dengan undang-undang tersbut. tetap berlaku tanpa terkecuali. Padahal diantara peraturanperaturan itu ada beberapa yang terang hanya layak dalam hubungan-hubungan Kolonial. Ketentuan yang belakangan ini sering dilupakan oleh mereka yang cenderung menganggap semua peraturan dari zaman penjajahan Belanda yang tidak secara tegas dicabut atau diganti. selama belum diadakan yan baru menurut UUD.1 Tahun 1946 ialah : Pasal I Undang-ungang No. Penyimpangan dari peraturan Presiden tanggal 10 Oktober 1946 No. asal tidak bertentangan dengan undang-undang tersebut. Pasal II .1/46: Bahwa peraturan hukum pidana yang sekarang (26 Februari 1946) berlaku. Perbedaannya ialah: bahwa kini disebutkan dan bahwa peraturan-peraturan yang dahulu itu dianggap tidak berlaku. dianggap tidak berlaku.Pasal 1 Segala badan negara dan peraturan-peraturan yang ada sampai berdirinya negara RI tanggal 17 Agustus 1945.

jawatan atau sebagainya.1/46: 1. harus dianggap seluruhnya atau sebagian sementara tidak berlaku. yang dikeluarkan oleh panglima tertinggi balatentara Hindia Belanda dahulu.1/46: mencabut semua peraturan-peraturan hukum pidana. yang sekarang tidak ada lagi. badan. Pasal IV Undang-undang No. Pasal V Undang-undang No. kekuasaan atau perlindungan itu harus dianggap diberikan dan larangan tersebut ditujukan kepada pegawai. jawatan. kewajiban kekuasaan atau perlindungan diberikan atau suatu larangan ditujukan kepada suatu pegawai. Pasal III Undang-undang No. badan.1/46: jikalau dalam suatu peraturan hukum pidana ditulis perkataan “Nederlandsch Indie” atau “Nederlandsch Indiesch” atau “Indonesisch” (E)/ (EN).1/46: Peraturan hukum pidana yang seluruh atau sebagian sekarang tidak dapat dijalankan atau bertentangan dengan kedudukan RI sebagai negara merdeka atau tidak mempunyai arti lagi. maka hak.Undang-undang No. dan sebagainya. Pasal VII voor Nederlandsch Indie” diubah menjadi “Wetboek van Strafrecht”.1/46: jikalau dalam suatu peraturan hukum pidana suatu hak. Pasal VI Undang-undang No. . kewajiban. 2. Nama Undang-undang Hukum Pidana “wetboek van strafrecht Undang-undang tersebut dapat disebut KUHP. yang harus dianggap penggantinya.

Pasal XIV mengenai penyiaran kabar bohong.8/1946. Pasal XIV mengenai penghinaan terhadap bendera kebangsaan Indonesia. beberapa pasal dari KUHP. maka semua perkataan “Nederlandsch Onderdaan” dalam KUHP diganti dengan WNI. baik Jawa.yang tentunya hanya berlaku bagi daerahdaerah yang didudukinya. Menurut pasal 44 Konstitusi RIS: suatu negara bagian atau daerah bagian dapat menggabungkan diri. mengenai penyiaran kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan atau kabar yang tidak lengkap. Madura dan Sumatera maupun diluar daerah-daerah itu dan mengeluarkan beberapa undang-undang yang mengubah. Pasal IV sampai dengan pasal XVI membuat beberapa tindak pidana baru. yang menamakan dirinya pemerintah federal sudah ada di Jakarta dan menguasai beberapa daerah. Pada akhirnya ditetapkan. Pada waktu itu pemerintah Hindia Belanda. bahwa undang-undang ini mulai berlaku buat pulau Jawa dan Madura pada hari diumumkannya tanggal 26 Februari1946 dan buat daerah lain pada hari yang akan ditetapkan oleh Presiden. Keadaan ini tetap berlangsung juga setelah pada 27 Desember 1949 kedaulatan RIS diakui oleh pemerintah Belanda. Pada tanggal 8 Agustus 1946 dengan Peraturan Pemerintahan No. Pasal VIII Beberapa pasal dari Kitab Undang-undang Hukum Pidana diubah atau dicabut. sehingga ada dua KUHP. yaitu : pasalpasal IX sampai dengan pasal XIII mengenai alat pembayaran yang sah berupa uang atau uang kertas. yang sengaja menerbitkan keonaran di kalangan rakyat: pasal XV. (Berita RI II 20-21 halaman 234) undang-undang ini berlaku di Sumatera.Dengan mengurangi apa yang ditetapkan dalam pasal 3. Pada negara (daerah) lainnya pada pertengahan tahun 1950 RIS hanya terdiri dari tiga negara bagian yaitu: – – Negara Republik Indonesia Negara Indonesia Timur .

Maka secara resmi Undang-undang No. Soesilo: 1982). Pada tanggal 29 September 1958 mulai berlaku Undang-undang No. Jadi baru akan diusahakan.1/146 berlaku bagi seluruh wilayah Indonesia namun oleh kerena dalam piagam persetujuan pemerintah RIS dan pemerintah RI tanggal 19 Mei 1950 sub I a No.73 tahun 1958 yang berjudul: “Undang-undang tentang menyatakan tentang berlakunya undangundang No. Dengan demikian.1 Tahun 1946 RI akan mengubah KUHP”. Perpu No.1/1950 juncto No.8/50 pada pokoknya. undang RI.4 antara lain hanya ditetapkan: akan tetapi dimana mungkin diusahakan supaya perundang-undangan RI berlaku. daerah pilihan 2. Sumatera Timur. menyatakan sebagai berikut: 1. Walaupun perpu ini bernada menyatakan Undang-undang No. Kalimantan dan Indonesia Timur.1 tahun 1946 pada tahun 1950 itu belum berlaku bagi daerah Jakarta Raya. Segala peraturan dan undang-undang peralihan tidak berlaku lagi kecuali yang tidak bertentangan dengan peraturan-peraturan dan UndangBahwa segala peraturan dan Undang-undang RI berlaku di . untuk mengubah federal dari RIS menjadi negara kesatuan RI Konstitusi RIS diganti dengan Undang-undang Dasar sementara 1950. pada saat itu jelas berlakulah suatu hukum pidana untuk seluruh wilayah Republik Indonesia dengan KUHP sebagai intinya.– Negara Sumatera Timur Pada bulan Juli 1950 pemerintah dari ketiga negara bagian ini mencapai persetujuan. Sejarah KUHAP Pada waktu zaman penjajahan Belanda kita mengenal berbagai macam hukum acara pidana yang berlaku di Indonesia (R.

bagi golongan penduduk Indonesia dan Timur Asing. Pada zaman Jepang untuk semua golongan penduduk kecuali bangsa Jepang hanya ada dua pengadilan yaitu “Tie Hooin” dan “Kaizai Hooin” lanjutan dari pengadilan zaman Belanda “Landraad” dan “Landgerecht”. untuk luar Jawa dan Madura berlaku “Rechtsreglement voor de Buitengewesten” S 1927-227. Kemudian setelah keluar undang-undang Darurat Nomor 1 Tahun 1951 tentang tindakan-tindakan sementara untuk menyelenggarakan kesatuan dalam susunan. Reglement op de rechterlijke organisatie (Reglement organisasi kehakiman) S 1848-57. 4. HIR dipakai sebagai pedoman. Inlandsch Reglement itu kemudian dengan S 1941-44 diperbaharui sehingga menjadi “Herziene Inlandsch Reglement” disingkat HIR yang diperbaharui atau Reglement Indonesia yang diperbaharui disingkat RIB. dan yang terpenting. disingkat IR S Inlandsch Reglement (Reglement bumi putera) yang biasa 1848-16 memuat hukum acara perdata dan hukum acara pidana di muka pengadilan “Landraad”. pada pasal 6 undang-undang tersebut menetapkan bahwa untuk seluruh Indonesia hukum acara pidana pada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tinggi. Reglement op de strafvordering (Reglement hukum acara pidana) S 1849-63 yang memuat hukum acara pidana bagi golongan penduduk Eropa dan yang disamakan dengan mereka. 3. dan sebagai hukum acaranya dipergunakan HIR.1. hanya berlaku di Jawa dan Madura. yang memuat ketetapan-ketetapan mengenai organisasi dan peraturan kehakiman. kekuasaan dan acara pengadilan-pengadilan sipil di Indonesia. 2. Untuk mencapai kekuasaan kehakiman sebagaimana yang dimaksud . Di zaman mereka berdasarkan aturan peralihan yang berlaku tetap HIR dan Landgerechts reglement. Landgerechtsreglement (Reglement hakim kepolisian) s 1914317 yang memuat hukum acara di muka hakim kepolisian yang memeriksa dan memutuskan perkara-perkara kecil untuk segala golongan penduduk.

RUU hukum acara pidana tersebut disetujui oleh Sigab Komisi I dan komisi III DPR RI. Akhirnya pada tanggal 23 September 1981. maka disampaikan RUU hukum acara pidana kepada DPR RI untuk dibicarakan dalam sidang DPR RI guna mendapatkan persetujuannya.8 Tahun 1981 (LN No.dalam pasal 24 Undang-undang Dasar 1945 maka dibuatlah Undang-undang No. Dengan Amanat Presiden tanggal 12 September 1979 No. Setelah melakukan tugasnya pada tanggal 9 September 1981. maka RUU hukum acara pidana disetujui DPR untuk disahkan oleh Presiden menjadi Undang-undang. tentang ketentuan-ketentuan pokok kekuasaan kehakiman.3209). Pada tanggal 9 Oktober 1979 dalam pembicaraan tingkat II menteri kehakiman menyampaikan keterangan pemerintah tentang RUU hukum acara pidana dalam suatu sidang paripurna DPR RI. telah mengesahkan RUU tersebut menjadi Undang-undang No.14 Tahun 1970. . Sidang gabungan (Sigab) Komisi III + I DPR RI bersama pemerintah mulai membicarakan Rancangan Undang-undang Hukum Acara Pidana pada tanggal 24 November 1979 sampai dengan tanggal 22 Mei 1980 di gedung DPR RI Senayan Jakarta.19 Tahun 1964 yang kemudian diganti dengan Undang-undang No. Pembicara Tingkat III Rancangan Undang-undang Hukum Acara Pidana dilakukan oleh gabungan komisi III + I DPR RI. setelah penyampaian pendapat DPR RI dalam sidang paripurna. Prediden pada tanggal 31 Desember 1981. Pada pasal undang-undang tersebut menegaskan bahwa hukum acara pidana harus dibuat dalam undang-undang tersendiri.76 TLN No. Dalam jangka waktu tersebut sidang gabungan Komisi III dan Komisi I menghasilkan putusan penting yang terkenal dengan nama “13 Kesempatan Pendapat” yang mengandung materi pokok yang akan dituangkan dalam pasal-pasal RUU hukum acara pidana lebih lanjut dibentuk tim sinkronisasi yang diberi mandat penuh oleh Sigab Komisi III dan Komisi I DPR RI.06/P/U/IX/1979.

Asas teritorial atau asas wilayah Menurut asas teritorial ini berlakunya undang-undang hukum pidana dari suatu negara disandarkan pada tempat atau teritoir dimana perbuatan itu dilakukan. Asas ini diatur dalam pasal 2 dan pasal 3 KUHP. Dari asas ini dapat di ambil suatu kesimpulan. 3. bahwa asas ini khusus ditujukan terhadap tempat.C. hal ini disebabkan oleh karena setiap negara yang berdaulat wajib menjamin ketertiban hukum diwilayahnya. dimana perbuatan ini dilakukan. Ad. baik orang itu seorang warga negara maupun bukan. Dasar hukum dari pada asas ini adalah kedaulatan negara. tempat tersebut harus terletak dalam suatu wilayah dimana undang-undang hukum pidana tadi berlaku.1. Keempat asas tersebut adalah (Satochid Kartanegara): 1. Didalam pasal ini tampaklah dengan jelas bahwa yang diutamakan adalah “teritoir” Indonesia yang setiap orang yang melakukan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang di dalam wilayah itu.2. Berlakunya KUHP Didalam teori biasanya diadakan pembagian atas empat asas mengenai berlakunya KUHP. Asas nasinalitas aktif atau asas personalitas Menurut asas ini bahwa berlakunya undang-undang hukum pidana suatu negara disadarkan kepada kewarganegaraan atau nasionalitasnya seseorang yang Asas universalitas Asas teritorial atau asas wilayah Asas nasionalitas aktif atau personalitas Asas nationalitas pasif atau asas . dapat dituntut berdasarkan peraturan yang dilarang itu. Berlakunya KUHP dan KUHAP 1. Di dalam pasal 3 KUHP diterangkan bahwa Kitab Undang0undang Hukum Pidana juga dapat diperlakukan terhadap mereka yang melakukan suatu peristiwa pidana diatas kapal Republik Indonesia. sedang sifat orang yang melakukan diabaikan. Ad. perlindungan 4. 2.

Ad. yang menganut asas ini dilanggar oleh seseorang baik oleh warga negara atau orang asing dan pelanggaran tersebut dilakukan baik diluar maupun didalam negara yang menganut asas tadi. Asas universalitas Menurut asas ini undang-undang hukum pidana dari sutu negara yang menganutnya dapat diperlakukan terhadap siapa pun yang melanggar kepentingan hukum dari seluruh dunia. maka apabila kepentingan hukum dari suatu negara. Ad. Dalam KUHP asas ini diatur dalam pasal 4 ayat (2) dan ayat (4). pasal 6 KUHP. Asas ini lebih tepat kalau disebut asas perlindungan.4. bukan pada tempat perbuatan itu dilakukan. dan pasal 7 KUHP. hal ini disebabkan karena sandaran asas ini guna melindungi kepentingan hukum negara kita. Adapun yang mnjadi landasan hukum asas ini dianggap seolah-olah di seluruh dunia telah berlaku hukum pidana.3. undang-undang hukum pidana negara itu tetap berlaku terhadap dirinya. dalam hal ini dimana perbuatan itu dilakukan tidaklah menjadi persoalan. 2. Didalam KUHP asas ini diatur dalam pasa 4 dan pasal 8 KUHP. undang-undang hukum pidana negara itu dapat diperlakukan terhadap si pelanggar tadi.melakukan suatu perbuatan. Hal ini berarti bahwa undang-undang hukum pidana hanya dapat diperlakukan terhadap seseorang warga negara yang melakukan perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang. Asas ini diatur di dalam pasal 5 KUHP. Adapun yang menjadi dasar hukum dari asas ini adalah tiap-tiap negara yang berdaulat pada umumnya berhak untuk melindungi kepentingan hukumnya. Walaupun perbuatan itu dilakukan diluar negara asalnya. Asas nasionalitas pasif atau asas perlidungan Menurut asas ini berlakunya undang-undang hukum pidana suatu negara disandarkan kepada kepentingan hukum yang dilanggarnya. Dengan demikian. Berlakunya KUHAP . walaupun kepentingan hukum itu dilanggar oleh seorang yang berada diluar negara.

2. Yang dimaksud dengan “peradilan umum” termasuk pengkhususannya sebagaimana tercantum dalam penjelasan pasal 10:1 alenia terakhir Undang-undang No. 4. Tetapi disamping itu nasih dimungkinkan sumber dari hukum adat atau hukum rakyat yang masih hidup sebagai peristiwa pidana dengan batasan-batasan tertentu menurut Undang-undang darurat 1951 No.8 Tahun 1981 dikatakan bahwa: a. Undang-undang.1 pasal 5 ayat (3) B. 3. Sumber Hukum Pidana Ilmu hukum Indinesia mengenal sumber-sumber hukum. Undang-undang Republik Indonesia No. Ruang lingkup undang-undang hukum acara pidana ini mengikuti asas-asas yang dianut oleh hukum pidana D. Pendapat para ahli hukum (sumber hukum dalam arti formel) Di Indonesia sumber utama hukum pidana terdapat dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana dan peraturan perundang-undangan hukum pidana lainnya. Kebiasaan adat istiadat setelah melalui keputusan penguasa Traktat Yurisprudensi.8 tahun 1981. Indonesia. . 6.14 tahun 1970. Didalam penjelasan dari undang-undang RI No. b. ialah : 1. Untuk hukum acara pidana bersumber pada KUHAP.Ruang lingkup berlakunya KUHAP ini dapat kita baca pada pasal 2 KUHAP yang isinya adalah sebagai berikut: Undang-undang ini berlaku untuk melaksanakan tata cara peradilan dalam lingkungan peradilan umum pada semua tingkat peradilan. (Bambang Poernomo: 1978). 5.

Ilmu hukum pidana positif memandang kejahatan sebagai pelanggaran Norm (Rechtsnorm). Van Hamel. untuk mengetahui dan menjelaskan arti kata timbullah beberapa cara macam penafsiran. Perbedaan pandangan itu lazimnya menimbulkan aliran hukum pidana yang sempit dan aliran hukum pidana yang luas. berarti tidak akan lepas dari peninjauan terhadap manusia yang melanggar hukum dengan menyelidiki sebab- . agar pemakaiannya menjadi berlaku lancar. Sebagai contoh. Oleh sebab itu. apabila perkembangan hukum pidana positif telah sampai pada tujuan untuk memerhatikan masyarakat terhadap kejahatan dan penjahat (aliran hukum pidana modern). dapat dikemukakan disini adalah bahwa peraturan-peraturan yang berlaku itu disusun dalam kata-kata. Oleh karena itu. Hukum Pidana dan Kriminologi Ilmu hukum pidana mempunyai tugas untuk menjelaskan. Ditinjau dari sudut sifatnya. Zevebergen. akan tetapi. Sarjana-sarjana yang termasuk aliran hukum pidana yang luas misalnya. sedangkan sarjana yang termasuk aliran hukum pidana yang sempit misalnya Simons. maka di dalam ilmu hukum pidana terdapat pandangan yang berbeda diantara para sarjana. menguraikan dan seterusnya menyusun dengan sistematis norma hukum pidana dan sanksi pidana. serta mempunyai tugas menentukan agar setiap orang mentaati ketentuan dalam pergaulan hidup bermasyarakat dan menjamin ketertiban hukum. ilmu pengetahuan hukum pidana itu adalah bersifat dogmatis. kiranya dalam mempelajari sejarah dari timbul dan berkembangnya hukum pidana tidak akan lepas latar belakang sosial serta kejiwaannya. Yang dipelajari oleh ilmu pengetahuan itu adalah terutama mengenai asas-asas tadi dalam suatu sistem agar dapat dipahami apa yang menjadi maksud daripada peraturan-peraturan yang berlaku itu. maksud dan tujuan dari hukum pidana yang berlaku itu. dan penjahat mendapatkan pidana karena ancaman sanksi pidana (Strafsanctie) memang tidak dapat disangkal. dan Pompe.E. Apabila diingat kembali bahwa hukum pidana itu mempunyai unsur pokok norma dan sanksi. Sehubungan dengan latar belakang sosial serta kejiwaannya itu. Dengan demikian dapatlah diketahui makna. yang menjadi objek ilmu hukum pidana adalah hukum pidana positif.

mengenai sebab-sebab kejahatan. pelanggaran hukum. sebagai analisa ilmiah atas kondisiEtiologi kejahatan.sebab dan cara tindaknya kejahatan itu (Nose and therapy). 6. ada yang bila diganggu mengakibatkan penggantian kerugian oleh . Haskell dan Lewis Yoblonsky. c. Dalam hubungan ini kriminologi dapat dibagi dalam tiga bagian utama yaitu: a. 3. yang melakukan analisa ilmiah Penologi. dan reaksi atas pelanggaran hukum. Edwin H. 2. kriminologi sebagai studi ilmiah tentang kejahatan dan penjahat mencangkup analisa tentang: 1. yang menaruh perhatian pada pengendalian kondisi berkembangnya hukum pidana. 5. Ciri-ciri penjahat Pembinaan penjahat Pola-pola kriminalitas Akibat kejahatan atas perubahan sosial Sifat dan luas kejahatan Sebab-sebab kejahatan Perkembangan hukum pidana dan pelaksanaan peradilan Sosiologi hukum. Untuk itu diperlukan bantuan bahan-bahan dan pengaruh hasil penyelidikan kriminologi. Cressey dalam bukunya Principles of Criminology. Kepentingan itu bermacam-macam . Kegunaan Hukum Pidana Hukum adalah suatu wahana untuk melindungi kepentingan warga atau golongan dari gangguan warga atau golongan lain dalam masyarakat. pidana 4. mengemukaan ruang lingkup kriminologi mencakup proses-proses pembuatan hukum. Sutherland dan Donald R. dan F. 7. bertolak dari pandangan bahwa kriminologi adalah kesatuan pengetahuan mengenai kejahatan sebagai gejala sosial. kejahatan. b. Menurut Martin L.

ialah hukum pidana. itu saja tidak dijadikan tegaknya keadilan. Misalnya: Pok Ina membunuh (menguasakan kehidupan terhadap kepentigan) Bang Midi suaminya. memadai ganti rugi (kepada siapa?) atau pemecatan (dari kedudukan apa?) sebagai “sanctie” pembunuhan ? jelas kiranya bahwa macam “sanctie” tersebut tidak akan dianggap adil. Tidak boleh tidak menegaskan kedaruratan ihwalnya dan itulah sebabnya orang menganggap hukum mengenai “sanctie” pidana (hukum pidana) sebagai “noodrecht” atau hukum darurat. . maka tidak boleh tidak “sanctie” lainlah yang harus diberikan kepada penanggung jawab pembunuh itu. Apabila gangguan kepentingan itu sedemikian rupa sehingga tidak memadai bila akibatnya ganti rugi saja atau pemecatan saja sebagai “sanctie” nya. maka tidak boleh didak diperlukan penyelesaian lain yang lebih tepat dan dianggap adil. Karena selayaknya baru berperan hanya apabila penanggulangan gangguan kepentingan dengan “sanctie” macam lainnya seperti ganti rugi dan pemecatan dan sebagainya. ada juga kemungkinan penanggung jawab itu dipecat dari jabatannya sebagaimana yang disebut dalam perkara (hukum) administrasi negara.yang bertanggung jawab seperti dalam hal yang disebut perkara (hukum) perdata. Hal ini menunjukkan kegunaan hukum pidana sebagai “Ultimatum Remedium” atau Senjata pamungkas.

Beberapa sarjana telah berusaha memberikan perumusan tentang pengartian periatiwa pidana itu. Simons Pertama kita mengenal perumusan yang diintroduksikan oleh Prof. Perbuatan yang boleh dihukum (Mr. Penerbit Fasco.II. Jakarta 1955). Ringkasan Perbuatan yang dapat dihukum (undang-undang tentang pemberantasan tindak pidana korupsi). Tirtaamidjajas. Simons. D. e. Tentang Istilah dan Pengertian Istilah “peristiwa pidana” adalah sebagai terjemahan dari istilah bahasa Belanda “Strafbaar feit” atau “delictt”. pidato Dies Natalis Penyelenggaraan pidana (Mr. R. yang diancam pidana dan . karena yang diancam dengan pidana bukan saja yang berbuat atau bertindak tetapi juga yang tidak berbuat (melanggar suruhan/gebod) atau tidak bertindak. met schuld in verband staande handeling van een toerekeningsvatbaar persoon”. Jakarta 1959).12/Drt. Tahun 1951. Tentang Hukum Pidana. pasal 3. Universitas Gajah Mada VI tahun 1955 di Yogyakarta). Karni. Dalam bahasa Indonesia di samping istilah “peristiwa pidana” untuk terjemahan “Strafbaar feit” atau “delictt” itu (sebagaimana yang dipakai oleh Mr.3 Tahun 1971 Perbuatan pidana (Prof. Mulyanto. onrechtmatige. No. Penerbit Balai Buku Indonesia. PERISTIWA PIDANA A. d. tentang mengubah Ordonantie Tijdelijk Bijzondere strafbepalingen). H. I. Diantara beberapa istilah tersebut di atas yang paling tepat untuk dipakai adalah istilah peristiwa pidana. b. Terjemahan bebasnya perbuatan salah dan melawan hukum. Tresna dan E. Pokok-pokok Hukum Pidana. menurut simons peristiwa pidana itu adalah “Een Straf baargestelde. c. M. Utrecht) dikenal pula beberapa terjemahan yang lain seperti: a. Tindak pidana (Undang-undang No.

tersirat dalam pasal 531 KUHP. misalnya apakah melainkan atau tidak berbuat itu dapat disebut berbuat? Seseorang yang tidak berbuat atau melainkan dapat dikatakan bertanggung jawab atas suatu peristiwa pidana. Maka undang-undang merupakan sumber kewajiban hukum Contoh: – – KUHP. Keharusan untuk menjadi saksi. apabila ia tidak berbuat atau melalaikan sesuatu.dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung jawab. tersirat dalam pasal 164 KUHP. Dokter dan bidan pada suatu rumah sakit. tersiat dalam pasal 522 . Keharusan yang melekat pada jabatan. Contoh: – – c. Keharusan untuk melapor. Penjaga wesel jalan kereta api. Handeling: Perbuatan manusia Dengan handeling dimaksudkan tidak saja “een doen” (perbuatan) akan tetapi juga “een natalen” atau “neit doen” (melainkan atau tidak berbuat). – b. Dalam ilmu pengetahuan hukum pidana kewajiban hukum atau keharusan hukum bagi seseorang untuk berbuat dapat diperinci dalam tiga hal: a. Undang-undang (de wet) Undang-undang mengharuskan seseorang untuk berbuat. padahal kepadanya dibebankan suatu kewajiban hukum atau keharusan untuk berbuat. Dari perjanjian (overeenkomst) Keharusan menolong orang yang berada dalam saat-saat Dari jabatan (het ambt) membahayakan hidupnya. Perumusan Simons tersebut menunjukkan unsur-unsur peristiwa pidana sebagai berikut: 1.

Van Hamel Perumusan sarjana ini sebenarnya sama dengan perumusan Simons. Perbuatan manusia itu harus melawan hukum Perbuatan itu diancam dengan pidana oleh undang-undang Harus dilakukan oleh seseorang yang mampu bertanggung jika melalaikan kewajiban hingga orangnya meninggal. B. Seorang dokter swasta menolong orang sakit dapat dituntut Perjanjian “poenale sanctie”. 4. hanya Van Hamel menambahkan satu syarat lagi yaitu perbuatan itu harus pula patut dipidana (welke handeling een strafwaarding karakter heeft). Contoh. Kategoris Dalam hukum pidana dikenal beberapa kategorisasi peristiwa pidana: I. Vos Menurut Vos peristiwa pidana adalah suatu peristiwa yang dinyatakan dapat dipidanakan oleh undang-undang (Een strafbaar feit is een door de wet strafbaar gesteld feit). 3. “Culpose delicten” artinya perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana yang dilakukan Perbuatan itu harus terjadi karena kesalahan si pembuat. jawab 5. pasal 338 KUHP. II. . III. Dolus dan Culpa Dolus berarti sengaja. Culpa berarti alpa.Contoh: – – 2. Menurut Doctrine a. delik dolus adalah perbuatan sengaja yang dilarang dan diancam dengan pidana.

Komisionis Peromisionim: Delik yang ada umumnya dilaksanakan dengan perbuatan. hanya karena kealpaan (ketidak hati-hatian) saja. Seperti pasal 378 KUHP penipuan. Contoh: pasal 359 KUHP. Contoh: pasal 362 tentang pencurian. Contoh: pasal 338 tentang pembunuhan.dengan tidak sengaja. pasal 338 KUHP. Delik materiel yaitu delik yang perumusannya menitik beratkan pada akibat yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh Undang-undang. pasal 165 KUHP. biasanya delik formel. Contoh: pasal 338 KUHP. . Dalam praktek kadang-kadang sukar untuk dapat menentukan sesuatu delik itu bersifat materiel atau formel. Komisionis. seorang ibu hendak membunuh bayinya dengan berbuat tidak memberinya susu. With Victim : delik yang dilakukan dengan ada korbannya beberapa atau seorang tertentu. Materiel dan formel Kategorisasi ini didasarkan pada perumusan peristiwa pidana. b. Without Victim atau With Victim Without Victim : delik yang dilakukan dengan tidak ada koban. yang dapat meliputi baik delik formel maupun delik materiel. c. omisionis dan komisionis per omisionim Komisionis: Delik yang terjadi karena seseorang melanggar larangan. Contoh: pasal 362 KUHP. pasal 351 tentang penganiayaan. Omisionis: Delik yang terjadi karena seseorang melalaikan suruhan (tidak berbuat). d. tetapi mungkin terjadi pula bila orang tidak berbuat (berbuat tapi yang tampak tidak berbuat). jadi tidak berbuat. Contoh: pasal 164 KUHP. Delik formal yaitu delik yang perumusannya menitik beratkan pada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh Undang-undang.

Menurut KUHP Dalam KUHP yang berlaku di Indonesia sebelum tahun 1918 dikenal kategorisasi tiga jenis pertistiwa pidana yaitu: 1. 3. Kejahatan pada umumnya diancam dengan pidana yang lebih berat dari pada pelanggaran. (Tresna: 1959) Menurut KUHP yang berlaku sekarang. KUHP. b. Selain itu terdapat bebrapa ketentuan yang termuat dalam buku I yang menbedakan antara kejahatan dan pelanggaran: a. KUHP tidak memberikan ketentuan/syarat0syarat untuk membedakan kejahatan dan pelanggaran. Kedua jenis peristiwa pidana tersebut bukan berdasarkan perbedaan prinsipil. KUHP. KUHP hanya menentukan semua ketentuan yang dimuat dalam buku II adalah kejahatan sedang semua yang terdapat dalam buku III adalah pelanggaran. Percobaan (pogging) atau membantu (medeplictingheid) untuk pelanggaran tidak dipidana pasal 54.II. 2. Peraturan pada perbarengan (samenloop) adalah berlainan untuk kejahatan dan pelanggaran. melainkan hanya perbedaan graduel saja. 84. c. d. Daluwarsa (verjaring) bagi kejahatan lebih lama dari pada bagi pelanggaran pasal 78. 60. Kejahatan (crimes) Perbuatan buruk (delits) Pelanggaran (contraventions) . peristiwa pidana itu ada dalam dua jenis saja “misdriif” (kejahatan) dan “overtreding” (pelanggaran). Pengaduan (klacht) hanya ada terdapat beberapa kejahatan dan tidak ada dalam pelanggaran.

4. 1. 3. Pengetian Penanggung Jawab Sebelumnya perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan subjek hukum pada umumnya adalah manusia pribadi atau badan hukum yang menjadi pendukung hak dan kewajiban (drager van rechten pilchten). ad. Termasuk dalam kategori ini ialah: – – – Dader: penanggung jawab mandiri. 1. B. 5. Penanggung jawab peristiwa pidana Polisi yang melakukan penyidikan Jaksa yang melakukan penuntut pengacara Hakim yang mengadili Petugas lembaga permasyarakatan yang melaksanakan eksekusi keputusan hukum. yang diancam dengan pidana setinggi pidana pokoknya. Mededader: penanggung jawab bersama Medepleger: penanggung jawab serta Klasifikasi Penanggung jawab penuh Penanggung jawab sebagian Penanggung jawab peristiwa pidana dapat diklasifikasikan atas: . 2. 2.III. PENANGGUNG JAWAB PERISTIWA PIDANA DAN KESALAHAN A.Penanggung jawab penuh Yang dimaksud dengan penanggung jawab penuh disini ialah tiap orang yang menyebabkan peristiwa pidana. 6. Sedang subjek hukum pidana adalah manusia dalam kualifikasi tertentu yaitu: 1.

– – Dader

Doen pleger: penanggung jawab penyuruh Uitlokker: penanggung jawab pembujuk/perencana

Yaitu penanggung jawab peristiwa pidana atau dengan perkataan lain orang yang sikap tindaknya memenuhi semua unsur yang disebut dalam perumusan peristiwa pidana. Dalam delik formel terlihat apabila seseorang melakukan suatu perbuatan yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang. Dalam delik materiel terlihat apabila seseorang menimbulkan suatu akibat yang dilarang dan diancam dengan pidana oleh undang-undang. Mededader dan Medepleger KUHP pidana tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan Mededader dan Medepleger itu, maka beberapa sarjana berusaha menjelaskankedua istilah tersebut. Noyon yang diikuti Mr. Tresna dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana menyatakan bahwa nededader itu adalah orang-orang yang menjadi kawan pelaku, sedang medepleger adalah orang-orang yang ikut serta melakukan peristiwa pidana. Perbedaannya terletak pada peranan orang-orang yang menjadi

menciptakan/menyebabkan peristiwa pidana tersebut. Mededader itu orang yang bersama orang lain menyebabkan peristiwa pidana, dengan peranan yang sama derajatnya. Dengan perkataan lain orang-orang tersebut harus memenuhi semua unsur peristiwa pidana bersangkutan. Sedang pada medepleger peranan masing-masing yang menyebabkan peristiwa pidana tidak sama derajatnya, yang satu menjadi dader yang lain hanya ikut serta (medepleger) saja. Jadi medepleger tidak memenuhi semua peristiwa pidana tersebut, walaupun demikian, sesuai pasal 55 KUHP, baik mededader dan medepleger dipidana sebagai dader. Untuk jelasnya perbedaan kedua pengertian tersebut dapat dilihat pada contoh berikut:

Mededader A dan B sama-sama melakukan kejahatan pencurian dengan jalan membongkar. A membikin lubang pada dinding rumah yang akan dimasuki itu dan B masuk dari jalan lubang itu ke dalam rumah dan mengambil barang-barang dari dalam rumah itu. Di sini A dan B masing-masing melakukan perbuatan yang menjadi unsur kejahatan pencurian dengan jalan membongkar. Masing-masing perbuatannya sama derajatnya. Oleh karena itu, kedua-duanya sebagai dader dan yang satu terhadap yang lain adalah mededader (kawan pelaku). Medepleger Menurut pasal 284 KUHP untuk dapat dikatakan berzina pelakunya haruslah orang yang sudah beristri atau bersuami. Jadi unsur perbuatan zina itu pelakunya harus sudah kawin. Bila salah satu pelakunya belum kawin, maka dia tidak dapat dikatakan melakukan perbuatan zina, tapi hanya sebagai medepleger, karena tidak memenuhi unsur peristiwa pidana sebagaimana yang diatur dalam pasal 284 KUHP tersebut yaitu sudah kawin. Doen pleger Doenpleger ialah seorang yang menyuruh orang lain untuk melakukan suatu peristiwa pidana. Dalam bebtuk ini, yuridis adalah merupakan suatu syarat bahwa orang yang disuruh tersebut tidak mampu bertanggung jawab, jadi tidak dapat dipidana. Orang yang disuruh seolah-olah hanya menjadi alat belaka dari orang yang menyuruh. Orang yang menyuruh dari ilmu hukum pidana disebut manus domina dan orang yang disuruh disebut manus ministra. Tanggung jawab dari orang yang menyuruh sama dengan tanggung jawab orang yang membujuk (uitlokker) yaitu: Pertama : Tanggung jawab itu tidak melebihi dari apa yang dilakukan oleh orang yang disuruh, meskipun maksud orang yang menyuruh itu lebih jauh dari itu. Kedua : Tanggung jawab itu tidak lebih dari apa yang dikehendakinya.

Adapun sebab – sebab orang yang disuruh melakukan itu tidak dapat dipidana ialah : 1. 2. (pasal 48 KUHP). 3. 4. unsur delik. 5. 6. tersebut. Uitlokker Seperti halnya dengan doenpleger maka uitlokker juga memakai seorang perantara. Orang yang membujuk orang lain supaya melakukan peristiwa pidana dinamakan perencanaan atau sering disebut “intellectueel dader” atau “uitlokker” sedang orang yang dibujuk disebur “uitgelokte”. Antara doenpleger dan uitlokker mempunyai persamaan dan perbedaan. Persamaannya : kedua bentuk tersebut terdapat apabila seseorang menggerakkan orang lain untuk melakukan suatu peristiwa pidana. Perbedaannya : doenpleger menyuruh orang yang tidak dapat dipidana. Jadi hanya orang yang menyuruh melakukan saja dan dikenakan pidana. Pada bentuk uitlokken baik orang yang membujuk (uitlokker) atau orang yang dibujuk (uitgelokte) sama-sama dapat pidana. Orang Orang yang yang disuruh disuruh menimbulkan tidak delik tidak unsur mempunyai unsur opzet sebagaimana menjadi syarat dari pada delik. memiliki hoedanigheid /kualitas yang menjadi syarat deli, sedang menyuruh memiliki unsur Orang yang disuruh melakukan onbevoegd gegeven Orang yang disuruh itu salah paham mengenai salah satu ambtelijk bevel (51 ayat 2) KUHP. Orang yang jiwanya dihinggapi penyakit atau yang Orang yang disuruh, berada dalam keadaan overmacht jiwanya tidak tumbuh dengan sempurna (pasal 44 KUHP).

Selain itu perlu diingatkan bahwa untuk dapat dikatakan uitlokker si pembujuk harus menggunakan daya dan upaya sebagaimana yang terancam dalam limitatif dalam pasal 55 ayat (1) sub 2 KUHP. Gunanya adalah untuk kepastian hukum (rechtszekerheid). Di negara Jerman penyebutan ini ditambah dengan kata-kata “order durch andere mittel” atau dengan lain cara. Memang kelihatannya lebih lues dibandingkan KUHP kita, tetapi barangkali kurang baik bagi kepastian hukum (Wirjino Prodjodikoro: 1969). Pada mulanya daya upaya yang tercantum dalam pasal 5 ayat 1 sub 2 secara limitatif berupa: pemberian, kesanggupan, atau penipuan. Kemudian pada tahun 1925 pembuat undang-undang menambah penyebutan secara limitatif dengan tiga daya upaya bagi berupa memberi kesempatan (gelegenheid), sarana (middelen) atau keterangan (inlichtingen) gunanya untuk mengurangi kesempatan memakai cara-cara licik yang tidak disebut dalam pasal 55 KUHP membujuk orang lain melakukan peristiwa pidana. Catatan: doepleger dan uitlokker itu orangnya, dan doenplegen dan uitlikken itu sikap tindaknya. Tanggung jawab uitlokker Tanggung jawab uitlokker diatur dalam pasal 55 ayat (2) KUHP; apabila ketentuan yang tercantum dalam pasal tersebut ditinjau dengan teliti akan terlihat bahwa tanggung jawab uitlokker tersebut pada satu pihak dibatasi artinya uitlokker hanya bertanggung jawab atas perbuatan-perbuatan dari pada uitgelokte yang memang dengan sengaja digerakkan oleh uitlokker. Pada lain pihah tanggung jawab dari uitlokker dapat diperluas, artinya uitlokker bertanggung jawab juga terhadap akibat yang timbul dari perbuatan uitgelokte (Satochid Kartanegara). ad. 2.Penanggung jawab sebagian

A hanya dipersalahkan bila percobaan itu ditujukan pada B. . 2. A tidak semata-mata dipermasalahkan terhadap B saja. 3. Pasal 53 KUHP menyebutkan tiga syarat untuk dapat menyatakan bahwa perbuatan merupakan poging. Penjelasan: Syarat: 1 Kehendak atau “voornemen” itu dalam dpktrin ditafsirkan sebagai opzet. Penafsiran luas. semata-mata disesbabkan oleh hal-hal atau masalah yang tidak tergantung pada kehendaknya diluar kehendaknya tidak selesai. Termasuk dalam kategori ialah: – – Poging Pengertian dan syarat-syaratnya. Syarat: 1. yang mungkin ikut memakan kue tersebut (Satochid Kartanegara). Kehendak (voornemen) tersebut telah terwujud dalam suatu perbuatan permulaan pelaksanaan kejahatan. Yang dimaksud dengan poging itu “een beginvan uitvoering van het musfrijf” atau pelaksanaan mula suatu kejahatan yang tidak diselesaikan. tapi kepada istri dan anakanak B. Pelaksanaan yang telah dimulai itu tidak selesai. dengan mengirimkan kue tart yang beracun. KUHP hanya menentukan syarat-syarat agar sikap tindak dapat disebut poging. Contoh penafsiran sempit: A mencoba membunuh B. Timbul persoalan apakah opzet itu ditafsirkan secara sempit (opzet als oogmerk) atau opzet dalam arti luas. Poger (orangnya) dan poging (kegiatannya) Medeplichtige penanggung jawab bantuan.Yang dimaksud dengan penanggung jawab sebagian ialah: apabila seseorang bertanggung jawab atas bantuan. Orangnya mempunyai kehendak (voornemen) untuk melakukan kejahatan. percobaan suatu kejahatan dan diancam dengan pidana sebesar 2/3 pidana kejahatan yang selesai.

karena orangnya telah membuktikan kehendak jahatnya sehingga membahayakan kepentingan hukum (Satochid Kartanegara) 2. Teori objektif/objectieve pogimgstheorie Aliran ini memakai “systematische interpretatie”. Teori subjektif/subjectieve pogingstheorie Aliran ini memakai “taalkundige interpretatie”. “opzet in als zijn vormen”. Alam pikirannya ialah baru ada pada permulaan pelaksanaan bila telah nampak kehendak yang kuat dari poger untuk melaksanakan seatu kejahatan. Perbuatan persiapan itu tidak dapat dipidana sedangkan perbuatan pelaksana yang merupakan inti (wezen) dari percobaan(poging) adalah suatu perbuatan yang dapat dipidana. Uitvoering harus dihubungkan dengan voornemen. maka ia . Dalam ilmu hukum pidana maupun yurisprudensi diadakan perbedaan antara perbuatan persiapan (voorbreidingshandeling) misalnya perbuatan membeli pistol dan perbuatan pelaksana (uitvoeringshandeling) seperti mengarahkan pistol itu kepada yang dibunuh. Syarat: 2 Bagaimana permulaan pelaksana (begin van uitvoering) itu harus ditafsirkan. Penganut teori ini antara lain Van Hamel. Uitvoering dihubungkan dengan syarat ke dua. Di sini uitvoering disebut dua kali dan menurut ilmu pengetahuan hukum pidana apabila satu kata dipergunakan beberapa kali dalam undang-undang. Utrecht: 1960). Dinamakan “subjectieve pogingstheorie subjectieve pogingstheorie” karena aliran ini mencari sandaran pada diri orangnya. anrata lain berpendapat bahwa kehendak untuk melakukan kejahatan hanya dapat diartikan sebagai opzet dalam arti sempit. Dasar hukumnya adalah. Jadi persoalan penting dalam hal percobaan untuk melakukan kejahatan (poging) ialah persoalan tentang perbuatan-perbuatan mana yang merupakan perbuatan persiapan (E.Vos. Mengenai hal tersebut terdapat dua teori: 1. Sedang Jonkers mempersamakan opzet dalam segala bebtuknya.

Penganut teori ini adalah Simons dan H.harus ditafsirkan dalam arti yang sama. Biar ia membatalkan niatnya itu karena ia takut diketahui orang atau karena ia menyesal. Dalam delik formel suatu perbuatan itu merupakan permulaan pelaksanaan bila dilakukan oleh orang yang mempunyai kehendak untuk melaksanakan kejahatan dan merupakan permulaan dari perbuatan yang dilarang dan diancam pidana. Apa yang menjadi alasan untuk membatalkan selesainya kejahatan tidak menjadi soal buat undang-undang. Dasar hukum poging menurut “objectieve pogimgstheorie” karena perbuatan itu menurut sifatnya telah membahayakan kepentingan hukum. Bila kejahatan yang dilakukan itu diancam dengan pidana mati atauy seumur hidup. sama saja asal pembatalan itu keluar dari keinginannya. yang juga menganut teori objektatif. H. maka poging hanya diancam paling tinggi selama lima belas tahun (pasal 53 ayat (3) ) KUHP. bila menurut sifatnya dapat menimbulkan akibat yang dilarang dan diancam dengan pidana. . Poging terhadap pelanggaran tidak diancan pidana (pasal 54 KUHP). Syarat: 3 Jika melaksanakan kejahatan itu membatalkan berdasar niatnya sendiri maka ia tidak dikenakan pidana. Untuk menentukan perbuatan manakah yang menentukan permulaan pelaksanaan kejahatan. Alam pikirannya ialah dari sifat perbuatan yang dilakukan oleh orang itu dapat ditentukan apakah perbuatan itu termasuk permulaan pelaksanaan atau tidak. uitgeving van het misdriff. bila perbuatan itu mempunyai hubungan langsung dengan kejahatan yang dikehendaki oleh seseorang (Satochid Kartanegara).R. Dalam delik materiel suatu perbuatan itu merupakan perbuatan permulaan pelaksanaan. Yaitu pidana yang diancam ialah pidana kejahatan yang selesai dikurangi sepertiganya. karena poger harus dipidana. Ancaman pidana terhadap poger diatur dalam pasal 53 ayat (2) KUHP.R (Mahkamah Agung Belanda). dalam menentukan permulaan pelaksanaan. Disebut “objectieve pogimgstheorie” karena aliran ini mencari dasar pada objek diluar diri orangnya yaitu perbuatan. teori objektif (Simons) mengadakan delik formel dan delik materiel.

Medeplichtige Medeplichtigheid diatur dalam pasal 56 KUHP sebagai berikut (terjemahan). Hal tersebut ditegaskan kembalidalam pasal 60 KUHP bahwa mwmbantu melaksanakan kejahatan tidak dapat dipidana. 1. Medeplichtigheid tot het plegen van misdriff Perbedaan antara kedua jnis bantuan tersebut adalah sebagai berikut: Dalam hal membantu dalam pelaksanaan kejahatan bantuan itu diberikan pada saat atau ketika kejahatan sedang dilakukan sedang dalam hal membantu untuk melakukan kejahatan maka bantuan itu diberikan sebelum kejahatan itu dilakukan (E. atau keterangan untuk melakukan kejahatan. Dipidana sebagai orang yang membantu melakukan kejahatan.Catatan : Poger ialah orangnya Poging ialah sikap tindaknya. Jonkers. Selain dari pada itu perlu diperhatikan ketentuan yang terdapat dalam pasal 56 . Medeplichtigheid sebagaimana yang diatur dalam pasal 56 KUHP dapat dirinci: a. yang diancam dengan pidana dan berdasarkan penafsiran a cantrario membantu melakukan pelanggaran tidak diancam dengan pidana. Medeplichtigheid bij het plegen van misdriff b. Van Hamel. daya upaya. Vos. Barang siapa dengan sengaja memberi kesempatan. untuk mencegah agar pembuat undang-undang yang lebih rendah tingkatnya dari pada pembuat undangundang pusat tidak membuat ketentuan-ketentuan yang mengancam pidana terhadap bantuan mlakukan pelanggaran. Barang siapa dengan sengaja membantu kejahatan 2. Membantu untuk melakukan kejahatan. Membantu pelaksanaan kejahatan. b. Utrecht: 1965). Manfaatnya ketegasan dalam pasal 60 tersebut. dan Van Hattum merumuskan perbedaan antara kedua jenis bantuan itu sebagai berikut: a. Dari pasdal 56 tersebut dapat disimpulkan bahwa hanya membantu melakukan kejahatan.

seorang peserta yang melakukan kejahatan dengan menggunakansatu dari daya upaya tadi dapat merupakan seorang uitlokker atau seorang medeplichtige. Perkara itu berupa uitlokking apabila opzet dariorang yang dibujuk (uitgelokte) baru timbul setelah adanya daya upaya yang diberikan oleh uitlokker. Membantu dengan perbuatan Membantu dengan nasehat Membantu dengan perbuatan disebut matericele medeplichtiheid Membantu dengan nasehat disebut intellectueele medeplichtiheid (E. sedang pada membantu dalam pelaksanaan kejahatan daya upaya tersebut tidak dikenal. Kadang-kadang sukar untuk menentukan perbedaan. Sedang pada medeplichtiheid opzet dari dader sudah ada sebelum atau pada saat orang lain memberikan daya upaya atau dengan perkataan lain timbulnya opzet dari dader tidak terpengaruh oleh daya upaya yang diberikan oleh medeplichtiheid. atau keterangan/inlichtingen. daya upaya/middelen. Untuk menentukan apakah suatu perkara itu merupakan medeplichtiheid atau uitlokking dapat dilihat dari segi opzet. b.KUHP. Dengan demikian. Pada waktu membicarakan masalah uitlokken yang diatur pasal 55 ayat (1) sub 2 KUHP disana ditemukan juga daya upaya sebagaimana yang terdapat dalam hal bantuan melakukan kejahatan. Utrecht: 1996). Kedua jenis bantuan tadi berupa: a. Kalau uitlokking diancam dengan pidana maksimum sedang pada medeplichtiheid diancam seberat pidana maksimum dikurangi sepertiga pidana maksimum. Perbedaan dua bebtuk kesertaan tersebut penting karena menyangkut ancaman pidana. yaitu dalam hal membantu untuk melakukan kejahatan diisyaratkan adanya daya upaya berupa kesempatan/gelegenheid. Berlainan dengan perincian menurut KUHP maka doktrin memperinci medeplichtiheid atas: . apakah suatu perkara merupakan medeplichtiheid atau sebagai uitlokking.

untuk kepentingan keadilan dan kepastian hukum maka ditentukanlah suatu asas hukum. sedang yang dimaksud dengan medeplichtiheid pasif ialah apabila seorang tidak berbuat sesuatu apa ketika melakukan kejahatan. sebagaimana dapat disimpulkan dalam kalimat tentang melakukan bantuan itu hanyalah diperhatikan perbuatannya yang sengaja dipermudahkan atau dianjurkan oleh medeplichtige. bahwa semua orang dianggap mengetahui akan adanya perundangundangan serta peraturan yang berlaku. Adalah suatu kejanggalan untuk menyebut bahwa seseorang mengerti akan adanya undang-undang padahal orang itu sendiri tidak mengerti dan bahkan hendak membuktikan bahwa buta huruf.a. Kesalahan Setiap orang dianggap mengetahui atau mengerti akan adanya undang-undang serta peraturan-peraturan yang berlaku. Bila ditinjau pasal 54 ayat (4) maka tanggung jawab medeplichtige pada suatu pihak dibatasi. Tidak mengetahui atau tidak memahami akan adanya perundang-undangan bukanlah alasan untuk mengecualikan penuntutan atau bahkan bukan pula alasan untuk memperingan. Pada pihak lain diperluas seperti nampak dari anak kalimat serta dengan akibat perbuatan itu. Tanggung Jawab medeplichtige Tanggung jawab tersebut diatur dalam pasal 57 ayat (4) KUHP. maka setiap orang yang mampu memberi pertanggung jawaban pidana. medeplichtiheid pasif (passive medeplichtiheid) yang dimaksud dengan medeplichtiheid aktif ialah aktif menurut pengertian tata bahasa sehari-hari. Contoh : Medeplichtige ialah orangnya Medeplichtiheid ialah sikap tindaknya C. medeplichtiheid aktif (active medeplichtiheid) b. tidak dapat menggunakan alasan bahwa ia tidak mengetahui akan adanya sesuatu peraturan atau perundang-undangan dengan ancaman hukuman tentang perbuatan yang telah dilakukannya. Namun. Oleh karena itu. .

yaitu niat jahat atau suatu kesengajaan untuk menimbulkan perkara yang dituduhkan kepadanya.“ignorance or mistake of law is generally no defence to a criminal charge”. Tanpa bukti adanya mens rea dapat menyebabkan penuntutan pidana (Gerson W. misalnya perbuatan mengambil dalam perkara pencurian. asas ini tentu berguna bagi suatu studi perbandingan lengkapnya asas ini berbunyi sebagai berikut: “Actus non facid reum. Dolus . mens rea nya merupakan niat jahat untuk meniadakan nyawa orang dalam perkara pencurian mens rea nya merupakan niat jahat untuk mengambil dan memiliki benda orang lain. Beberapa Bentuk Kesalahan A. kehendak. Akan tetapi. Adanya perbuatan lahiriah sebagai penjelmaan dari pada Konsisi jiwa. misalnya dalam perkara pembunuhan.harus mengerti akan adanya undang-undang. Dua segi yang menjadi masalah penting dalam asas actus reus dan mens rea itu adalah: 1. nisi mens sit rea” Maksud dari kalimat tersebut adalah bahwa “suatu perbuatan tidak dapat membuat orang bersalah kecuali bila dilakukan dengan niat jahat” Dari kalimat itu diambil suatu ekspresi Actus reus ini berarti kesengajaan atau kelalaian yang dilanggar oleh hukum pidana. Nens rea itu merupakan unsur mental yang bervariasi dalam bebagai jenis peristiwa pidana. 2. sebetulnya bukan hanya kejanggalan saja bahkan ketentuan dengan kebenaran untuk menentukan bahwa seseorang buta huruf sekalipun. Bewangan: 1979). Namun kerugian/gangguan yang diciptakan serta kepentingan umum melalui cita-cita kepastian hukum harus lebih diutamakan. Actus reus itu harus dilengkapi dengan “mens rea” dan harus dibuktikan dalam penuntutan bahwa tersangka telah melakukan actus reus dengan disertai mens rea. iktikat jahat yang melandasi perbuatan tadi. Dalam hukum pidana Inggris dikenal suatu asas disebut asas “Actus Reus”.

Unsur niat sebagai suatu bagian dari pada proses psikis adalah merupakan kejadian/keadaan yang tak dapat dilihat atau dipegang yang mempunyai bentuk variasi dan dapat berkembang dan menyempit tergantung pada budaya lingkungan serta kepribadian orangnya (Gerson W. 2. Sebagai contoh: Barang siapa yang mengambil dengan sengaja mengambil jiwa orang lain dan sebagainya. Prof. Teori kehendak (Wilstheorie) . Pertama-tama perlu diketahui bahwa Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) sendiri tidak merumuskan apa yang dimaksud dengan “opzet”.Dalam bahasa Belanda disebut “opzet” dan dalam bahasa Inggris nya disebut “intention” yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan “sengaja” atau “kesengajaan”. Alasan mengartikan sengaja dalam peristiwa pidana sebagai niat/itikad yang diwarnai sifat melawan hukum dan dimanifestasikan sebagai sikap tindak. oleh karena dijadikan unsur sebagian besar peristiwa pidana disamping peristiwa pidana yang punya unsur “Culpa”. Satochid memberikan perumusan opzet itu sebagai berikut: “opzet” dapat dirumuskan sebagai melaksanakan suatu perbuatan yang didorong oleh suatu keinginan untuk berbuat atau bertindak. maka menjadilah suatu kesengajaan. yang langsung ditunjukan pada dasarnya. Dengan demikian. pengertian opzet ini sangat penting. Sebagai contoh misalnya kalau kita mencium istri teman di Prancis. Bawengan: 1979). Walaupun demikian. Teori-teori mengenai sengaja yang tampil pada abad XX ini pernah dikenal: 1. Perumusan itu hanya terbatas pada perbuatan melanggar hukum. dolus diartikan sebagai suatu niat/itikad diwarnai sifat melawan hukum. akan tetapi jangan coba-coba apabila seseorang Prancis memanifestasi niat demikian itu di tanah air kita. kemudaian dimanifestasikan dalam sikap tindak. ialah karena: 1. hal ini merupakan manifestasi dari sopan santun.

Teori angan-angan (Voorstellings theorie) Ad. Sengaja sebagai tujuan/arahan hasil perbuatan sesuai dengan Sengaja dengan kesadaran yang pasti mengenai tujuan atau Sengaja dengan kesadaran akan memungkinkan terciptanya maksud orangnya (opzet als oormerk).2. akibat perbuatannya (opzet bij zekerheidsbewustzijn). 3. Dengan kata lain andaikata pembuat sebelumnya sudah mengetahui bahwa akibat perbuatannya tidak akan terjadi maka ia sudah tentu tidak akan . ia bertindak dan menciptakan suatu akibat yang sesuai apa yang dikehendakinya. tujuan atau akibat perbuatan (opzet bij mogelijkheidsbewustzijn). Dalam ilmi hukum pidana sengaja itu dibedakan atas tiga gradatie: 1.1 Teori kehendak atau “wilstheorie” Penganjuran teori ini adalah Von Hippel yang mengemukakan bahwa “sengaja” adalah kehendak untuk melakukan sesuatu dan kehendak untuk menimbulkan akibat. Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana I menguraikan pendapat Vos sebagai berikut: “Adalah sengaja sebagai maksud apabila pembuat (dader) menghendaki akibat perbuatannya. Dalam kesengajaan bentuk yang pertama si pembuat mengkehendaki sesuatu. Dikatakan bahwa manusia hanya memiliki kemampuan untuk menghendaki terlaksananya sesuatu perbuatan tetapi tidak berkemampuan untuk menghendaki mengingini atau membahayakan akibat perbuatannya. 2. Ad. Ajaran Von Hippel ini dikenal dalam tulisan: Die Grenze Von Vorsatzund Fahrlassigkeit terbitan tahun 1903.2 Teori angan-angan atau “voorstellings theorie” Teori ini dikemukakan oleh Frank dalam Festschifi Gieszen sekitar tahun 1907 yang menyatakan bahwa suatu akibat tidak mungkin dapat dikehendaki.

Ia sadar bahwa tujuannya hanya dapat tercapai dengan cara menyingkirkan penghalang. A yakin bahwa ia hanya dapat membunuh B setelah lebih dahulu C dibunuhnya. walaupun matinya C pada mulanya tidak dimaksudkan A. Dalam kesengajaan bentuk kedua seseorang menghendaki sesuatu akan tetapi terhalang oleh keadaan. namun ia bertekad untuk memenuhi kehendaknya sambil menebus atau menyingkirkan penghalangnya. Utrecht dalam bukunya Hukum Pidana I memberikan contoh sebagai berikut: Untuk dapat mencapai tujuannya yaitu membunuh B. Dapat dikatakan bahwa memecahkan kaca itu dilakukan dengan sengaja sebagai maksud. A juga tahu perbuatan memukul kaca itu tentu mengakibatkan kaca itu akan pecah. Motif A ialah mengambil buah-buahan dan bukan pecahnya kaca. Menyingkirkan penghalang itupun merupakan suatu peristiwa pidana tersendiri namun si pembuat tetap melakukannya demi tercapainya tujuan utamanya. Sebagai contoh yang diberikan oleh Utrecht sehubung pendapat Vos itu ialah sebagai berikut: A memecahkan jendela etalase sebuah toko buah-buahan untuk mengambil buahbuahan yang dipamerkan dibelakang kaca tersebut. A terpaksa tetapi sengaja terlebih dahulu membunuh C. Hanyalah C kebetulan pengawal B.melakukan perbuatannya”. hal ini disebabkan karena pecahnya kaca tersebut memang dikehendaki oleh A untuk dapat mengambil buah-buahan tersebut. A yakin andaikata ia tidak terlebih dahulu membunuh C maka tentu tidak pernah akan dapat membunuh B. dan kemudian membunuh B. Selanjutnya mengambil buah-buahan itu di belakang kaca menjadi bayangan yang ditimbulkan setelah kaca dipukul pecah. Dengan matinya B berarti maksud A tercapai. maka A sebelumnya harus membunuh C hal ini disebabkan karena C adalah pengawal B. Antara A dan C sebelumnya tidak punya rasa dendam apapun. ini berarti bahwa satu jenis contoh . jadi pecahnya kaca tersebut merupakan akibat perbuatan. yaitu setelah terjadinya akibat yang dimaksud dengan perbuatan memukul kaca tersebut. Contoh-contoh yang dikemukakan di atas hanya untuk menguraikan suatu jenis kesengajaan.

Di depannya ia melihat ada beberapa anak-anak yang sedang bermain-main. Dengan . Dan terus saja melarikan kudanya dengan tidak ada usaha untuk menyelamatkan anak-anak itu. lazimnya disebut Dolus Evetualis.itu dipergunakan sekedar untuk kepentingan teori. jika ia terus melarikan kudanya itu. B. Timbul pertanyaan. R. Dilihat dari segi lain dwaling antara Error in persona dan Error in objecto. Para penulis ilmu hukum pidana berpendapat bahwa untuk terjadinya culpa maka yang harus diambil sebagai ukuran ialah bagaimanakah sebagian orang dalam masyarakat bersikap tindak dalam suatu keadaan yang nyata-nyata terjadi. Meskipun demikian. akan tetapi culpa didalam ilmu pengetahuan hukum mempunyai arti teknis yaitu : suatu macam kesalahan sebagai akibat kurang berhati-hati sehingga secara tidak sengaja sesuatu terjadi. merupakan kesengajaan bersyarat. Culpa Arti kata culpa ialah kesalahan pada umumnya. “Seorang penunggang kuda melarikan kudanya dengan sangat cepat di jalan yang ramai. sejauh manakah orang yang kurang berhati0hati dapat dipidana. Mr. Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu akan dikemukakan bahwasannya berhati-hati itu mempunyai sifat yang bertingkat-tingkat. – – – – Tingkat pertama adalah sangat berhati-hati Tingkat kedua adalah tidak begitu berhati-hati Tingkat ketiga adalah kurang berhati-hati Tingkat keempat adalah lebih kurang lagi berhati-hati sehingga menjadi serampangan dan ugal-ugalan. Jika diantara anak-anak itu ada yang mati atau luka karena telanggar kudanya. untuk memenuhi kegemarannya melarikan kuda ia tidaklah menghiraukan nasib anak-anak itu. Kesengajaan dalam bentuk ketiga. Tresna dalam bukunya Asas-asas Hukum Pidana memberi contoh mengenai Dolus Evetualis itu sebagai berikut: (Tresna: 1959). ia sadar akan kemungkinan bahwa anak itu akan telanggar kudanya. maka si penunggang dapat dipersalahkan dengan sengaja menyebabkan matinya atau lukanya anak-anak itu”.

orang bersikap tindak tanpa membahayakan akibat yang timbul.demikian seorang hakim juga tidak boleh mempergunakan sifatnya sebagai ukuran. Culpa levissima berarti kealpaan yang ringan sedangkan culpa lata itu adalah kealpaan besar. Van Hamel. walaupun demikian akibatnya tetap timbul juga. Untuk yang pertama si terdakwa masih dapat membuat tangkisannya. bahwa ia tidak mungkin untuk mengadakan pendugaan. padahal ia seharusnya membayangkan. bila sudah terbukti berarti implisit tidak mengadakan pendugaan di dalam hal itu karena tidak hati-hati. melainkan sifat kebanyakan orang-orang dalam masyarakat. 2. didalam ilmu pengetahuan dikenal kealpaan yang disadari dan kealpaan yang tidak disadari. Kemungkinan pendugaan terhadap akibat Kurangnya keberhati-hatian yang diperlukan. Sedangkan pada kealpaan yang tidak disadari. sedangkan untuk yang kedua maka. memperhatikan adanya culpa. Timbul suatu pertanyaan bagaimana hal ini dibedakan praktek? Praktek dapat menempuh dua jalan: 1. 2. Sedangkan Vos menyatakan bahwa culpa mempunyai dua unsur: 1. Lebih memperhatikan syarat tidak adanya keberhati-hatian Tanpa mempertimbangkan keberhati-hatian lebih mudah guna dalam pengertian orangnya tidak berbuat secara hati-hati sebagaimana mestinya. Kurangnya pendugaan yang diperlukan Kurangnya keberhati-hatian yang diperlukan. Akan tetapi. Culpa dibedakan menjadi culpa levissima dan culpa lata. juga mengatakan bahwa culpa juga mempunyai dua syarat: 1. KUHP tidak menegaskan apa arti kealpaan. Dalam hukum pidana orang baru dapat diminta tanggung jawab kalau ia . 2. Kealpaan yang disadari dapat digambarkan bila seseorang yang menimulkan delik tanpa sengaja dan telah berusaha menghalangi akibat yang terjadi.

Dolus Generalis ini misalnya pembunuhan yang dilakukan terhadapbeberapa orang yang tidak tertentu. Dari contoh ini terdapat dolus generalis dalam arti opzet tidak tertentu hal ini dalam ilmu hukum pidana disebut dengan dolus determinatus. Contoh: seseorang memasukkan racun dalam pusat air minum. hanya yang salah yang dipidana. Sengaja Kelalaian Walaupun terhadap kelalaian. asasnya: tiada pidana tanpa kesalahan. jika pembunuhan dilakukan terhadap orang-orang tidak tertentu. hukum pidana masih memberikan upaya pemaafnya. Pada umumnya. C.mempunyai unsur kesalahan. dengan maksud agar setiap orang minum air ledeng itu akan mati. . Dolus Generalis Kesengajaan ini dipandang sebagai opzet yang sifatnya tidak terbatas. maka dalam hal ini kita berhadapan dengan “dolus inditerminatus” atau opzet tidak tertentu D. Ini adalah opzet dalam arti absolut dan tidak ada dalam hukum pidana. Unsur kesalahan dalam hukum pidana berupa: 1. sebagai contoh dapat dikemukakan tidak mungkin orang membunuh orang lain semata-mata untuk membunuh saja. Akan tetapi. 2. opzet harus tertentu. Sebagai contoh misalnya mengacungkan pistolnya kearah B dan ketika itu juga C menghalanginya namun pistol sempat meledak dan mengenai D E. Aberratio Ictus (Salah Kena) Ini adalah suatu kesengajaan dengan membawa akibat diluar perhitungan yang berkehendak. maka dalam hal ini kita berhadapan orang-orang yang tidak tertentu. Dwaling/Kekeliruan Dalam bahasa Romawi “dwaling” dikenal dengan istilah Error yang berarti kesalahpahaman ataupun suatu kekeliruan dan biasanya dibedakan antara feitelijke dwaling rechts dwaling.

Akhirnya beliau berkesimpulan istilah “pidana” lebih baik dari pada “hukuman” sebagai terjemahan dari kata straf. Roeslan Saleh kepada orang yang melakukan perbuatan yang memenuhi syarat-syarat tertentu. Sudarto. dan Kategorisasi Istilah: Istilah pidana adalah terjemahan kata “straf” disamping “pidana”. straf juga lazim diterjemahkan dengan “hukuman”. Prof. Pengertian.H. sebab mencangkup juga keputusan hakim dalam lapangan hukum perdata dan hukum administrasi Negara. PIDANA A. Pidana adalah reaksi atas delik. (Muladi dan Barda Nawawi Arief: 1982). istilah pidana lebih tepat dari pada hukuman sebagai terjemahan kata straf. baik hukum pidana maupun hukum perdata. “Hukuman” adalah hasil atau akibat dari penerapan hukum tadi yang maknanya lebih luas dari pidana. yang sinonim dengan “pemidanaan”. Menurut Prof. 3. kalau straf diterjemahkan dengan hukuman. Fitzgerald . Mulyanto “dihukum” berarti di terapi hukum. bahwa istilah “penghukuman” dapat disempitkan artinya yakni penghukuman dalam perkara pidana. Sudarto Guru Besar Hukum Pidana pada Fakultas Hukum UNDIP mengatakan bahwa “penghukuman” berasal dari kata dasar “hukum” sehingga dapat diartikan sebagai menetapkan hukuman atau memutuskan tentang hukumannya.IV. Begitu pula Prof. “menetapkan hukuman” untuk suatu peristiwa tidak hanya menyangkut hukum pidana saja. Prof. Karena. S. Mulyatno. tetapi juga menyangkut hukum perdata maupun lainnya. Istilah. Pengertian: 1. Selanjutnya menurut beliau. dan ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan Negara pada pembuat delik itu. Selanjutnya menurut Prof. penderitaan yang sengaja dibebankan Yang dimaksud dengan “pidana” ialah 2. maka dalam “strafrecht” harus diterjemahkan dengan “hukum atau hukuman”.

Sir Ruper Cross Punishment means “the infliction of pain by the state on some one who has been convicted of an offence”. 4. The Limits of The Criminal Sanction. L. b. Punishment must: a. 8. c.Punishment is the authoritative infliction of suffering for an offence. Be for an offence against legal rules. Involve pain or other concequences normally considered unpleasant. Be imposed and administrered by an authority consitueted by a legal Alf Ross Occurs where there is violation of a legal rule. Be intentionally administrered by human being other than the offender. b. 5. 6. 7. d. d. A. unpleasant. a. Hart Packer. halaman 21 tertulis : “be imposed on an actual or supposed offender for his offence”). Ted Honderich Punishment is an authority’s infliction of penalty (something involving deprivation or distress) on an offender for an offence. Is imposed an carried out by authorised persons on the legal order to Involves suffering or at least other consequences normally considered Expresses disapproval of the violator. Burton M. . Be of an actual of supposed offender for his offence. system against whit the offence is committed. Punishment is that social response which : which the violated rule belongs. L. Leiser A punishment is a harm inflicted by a person in position of authority upon another who is judged to have violated a rule or a law. (Dalam buku H. e. H. c.

1. (3) Pidana itu dikenakan kepada seseorang penanggung jawab peristiwa pidana menurut undang-undang. for some crime or offence committed by him. 4. (Muladi dan Barda Nawawi Arief: 1982). or for his omission of a duty enjoined by law. Pidana pokok. dalam hukum pidana positif dikenal juga jenis sanksi yang berupa tindakan. 2. yaitu: Pencabutan hak yang tertentu Perampasan barang-barang tertentu Pengumuman putusan hakim Disamping jenis sanksi yang berupa pidana. 3.9. b. yaitu: Pidana mati Pidana penjara Pidana kurungan Pidana denda Pidana tambahan. 2. Di dalam “Black’s Law Dictionary” dinyatakan bahwa “Punishment” adalah : Any find. penalty or confinement inflicted upon a person by authority of the law and the judgement and sentence ofa court. (2) Pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang). misalnya: . 3. Dari beberapa definisi diatas dapatlah disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut : (1) Pidana itu pada hakekatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat-akibat lain yang tidak menyenangkan. Kategorisasi Menurut KUHP Menurut pasal 10 KUHP jenis pidana tersendiri: a. 1.

Kewajiban mengerjakan apa yang meniadakan apa yang dilakukan tanpa hak. hakim dapat mengenakan tindakan berupa (lihat pasal 45 KUHP) : pemeliharaannya. bergelandangan. penyelenggaraannya diatur dalam peraturan pendidikan paksa (Dwangopvoedinggregeling. Penempatan dirumah sakit jiwa bagi orang yang tidak mampu bertanggung jawab karena jiwanya cacat pertumbuhannya atau terganggu karena penyakit (lihat pasal 44 ayat (2) KUHP). b. 3.7 Drt. waktu tertentu. Tindakan tata tertib dalam hal tindak pidana ekonomi (pasal 8 UndangPenenpatan perusahaan si terhukum undang No. anak tersebut dimasukkan dalam rumah pendidikan negara yang c. 1. Memerintahkan agar anak tersebut diserahkan kepada melakukan jasa-jasa untuk memperbaiki akibat0akibat satu sama lain semua . Penenpatan ditempat bekerja negara (Landswerkinrichting) bagi pengganggur dan malas bekerja dan tidak mempunyai mata pencaharian. 1. std. yang dilakukan. 1916 nomor 741). 2. 4. pemerintah Dalam hal yang kedua.a. dilalaikan tanpa hak. dan Pembayaran sejumlah uang sebagai pencabutan keuntungan menurut taksiran yang diperoleh dari tindak pidana Pembayaran uang jaminan selama Bagi anak yang sebelumnya umur enam belas tahun melakukan tindak Mengembalikan kepada orang tuanya. atau perbuatan asosial. wali atau pidana. 2. 1955) dapat berupa: dibawah pengampunan untuk selama waktu tertentu (tiga tahun untuk kejahatan TPE dan dua tahun untuk pelanggaran TPE). d. serta menggangu ketertiban umum dengan melakukan pengemisan.

Dalam usul rancangan KUHP dibedakan pidana pokok. Paket sanksi pidana tersebut adalah sebagai berikut : 1. e. (Prof. c. d. Letak perbedaan antara pidana dan tindakan pidana dimaksukan sebagai pembalasan atau pengimbalan terhadap kesalahan si pembuat. S.atas biaya si terhukum sekedar hakim tidak menentukan lain. Secara dogmatik pidana itu dikenakan kepada orang yang “normal” jiwanya/orangnya yang mampu bertanggung jawab. c. 3. 2. Sudarto. H. b. Sedang rindakan dikenakan kepada orang yang tidak mampu bertanggung jawab. (Muladi dan Barda Nawawi Arief: 1982).H. d.:1982). masih dianut sistem dua jalur yang artinya terhadap pelaku peristiwa pidana dapat dikenakan sanksi negatif berupa pidana dan atau tindakan. Menurut usul rancangan KUHP Dalam urusan rancangan KUHP baru. a. a. sedang tindakan dimaksudkan untuk perlindungan masyarakat terhadap orang yang melakukan perbuatan yang membahayakan masyarakat dan untuk pembinaan dan perawatan si pembuat. pidana tambahan dan pidana pokok yang bersifat khusus. b. Pidana mati Pidana pokok: Pidana pemasyarakatan Pidana tutupan Pidana pengawasan Denda Pidana tambahan: Pencabutan hak-hak tertentu Perampasan barang-barang tertentu dan tagihan Pengumuman keputusan hakim Pembayaran ganti rugi Pemenuhan kewajiban adat .

1.... Bertitik tolak dari ketentuan pasal 18 ayat (2) tersebut maka dalam suatu bab ini akan dibahas tiga macam alasanyang dapat memberatkan pidana yaitu: 1... maka satu tahun kurungan dapat ditambah menjadi satu tahun empat (= sepertiga x 12) bulan. Pemberantasan Pidana (Maksimum Plus sepertiga) Pasal 18 ayat (2) KUHP terjemahannya berbunyi: (1) (2) . Tanggung jawab penjabat (“Ambtelijkheid”) Ad.. Tanggung jawab ulang (Recidive) 3.... 1982) B..... H... Tindakan yang dengan putusan hakim dapat dijatuhkan kepada mereka yang memenuhi ketentuan dalam pasal yang menurut ketidakmampuan bertanggung jawab.. Jika ada pemberatan pidana yang disebabkan karena perbarengan kejahatan atau pengulangan kejahatan atau karena ketentuan pasal 52 dan 52a.... (3) . Sudarto......... Kesatu perawatan di rumah sakit jiwa Kedua penyerahan kepada pemerintah 2.. S.. Tanggung jawab majemuk (samenloop) .............. Tanggung jawab majemuk (Samenloop) 2..Pengaturan tentang tindakan berbunyi sebagai berikut: 1... Ke-1 Ke-2 Ke-3 Tindakan yang dengan putusan hakim dapat dijatuhkan bersama: Pencabutan surat izin mengemudi : Perampasan keuntungan yang diperoleh dari tindak pidana : Perbaikan akibat-akibat tindak pidana sama dengan pidana adalah: (Prof.....H..

Berhubungan dengan hal tersebut KUHP mengenal empat sistem yang terdiri dari dua stelsel pokok yaitu “Absorptie Stelsel” dan “Zuivere Cumulatie stelsel” dan dua stelsel antara yaitu: “Verschrepte Absorptie Stelsel” dan dua “Gematigde Cumulatie Stelsel” skemanya sebagai berikut: 1. Satochid Kartanegara dan pidana yang terberat saja. Tresna) Apabila dihubungkan dengan pertanggung jawaban (penanggung jawab). (Tresna: 1959). Absorptie Stelsel/sistem hisapan. 4. Samenloop itu dapat disebut “tanggung jawab majemuk” Samenloop apabila seseorang: – – Bersikap tindak dan sikap tindaknya itu memenuhi perumusan beberapa peraturan pidana sekaligus. yang dikenakan hanya Zuivere Cumulative stelsel/sistem himpunan yang murni. Verschrepte Absorptie Stelsel/sistem hisapan yang diperkeras. Pidana yang berat ditambah dengan seperiga dari maksimum. 2. Sejumlah pidana dijatuhkan dengan tidak diadakan pengangguran.Istilah Samenloop dapat diterjemahkan beberapa arti: – – Mr. . R. Mulyanto) Gabungan (Prof. 3. Gematigde Cumulative Stelsel/sistem himpunan yang Perbarengan (Prof. terbatas. Berkali-kali sikap tindak yang masingmasing sikap tindak yang merupakan peristiwa pidana yang berdiri sendiri dan antara peristiwa itu belum ada putusan pengadilan dan kesemua peristiwa pidana itu akan diadili sekaligus. Pidana lainnya seakan-akan terhisap kedalam. Beberapa pidana dijatuhkan akan tetapi jumlah semuanya tidak boleh melebihi dari pidana terberat ditambah sepertiganya. Yang menjadi pokok permasalahan dalam hal samenloop ini ialah pengenaan pidana terhadap orang yang bertanggung jawab atas pemenuhan beberapa ketentuan hukum pidana.

Perkosaan terhadap seseorang perempuan di taman yang merupakan tempat bagi umum. Dari contoh diatas terlihat bahwa hanya ada satu peristiwa (perbuatan) fisik. Pasal 63 KUHP (terjemahan) menentukan: . Penipuan yang dilakukan dengan mempergunakan dokumen palsu adalah sesuai perumusan pasal 378 KUHP dengan ancaman empat tahun dan pasal 263 (2) KUHP dengan ancaman enam tahun. yang mengakibatkan pegawai negeri itu luka berat adalah sesuai perumusan pasal 212 KUHP debgan ancaman satu tahun empat bulan dan pasal 351 KUHP dengan ancaman lima tahun.Bentuk-bentuk Samenloop I. tetapi satu peristiwa tersebut memenuhi perumusan beberapa peraturan dalam hukum pidana. Meerdaadse Samenloop/Concursus realis/gabungan peristiwa. Eendaad Samenloop/Concurcus idealis Een artinya Satu Daad artinya perbuatan Eendaad samenloop terjadi apabila seseorang melakukan satu perbuatan dan dengan melakukan satu perbuatan itu ia memenuhi beberapa perumusan ketentuan hukum pidana. III. Voortgezette Handeling/peristiwa berlanjut. 2. Eendaad Samenloop/Concurcus idealis/perbarengan peristiwa. untuk ini istilah perbarengan amat tepat Contoh: 1. Melawan seorang pegawai negeri dengan kekerasan. adalah sesuai dengan perumusan pasal 285 KUHP dengan ancaman dua belas tahun dan pasal 281 KUHP dengan ancaman dua tahun delapan bulan. Pidana apakah yang dapat dijatuhkan terhadap perbuatan yang demikian.I. ad. 3. II.

Jika sesuatu peristiwa yang terancam oleh ketentuan hukum pidana umum/ketentuan hukum pidana khusus. maka ketentuan hukum pidana khusus itu saja yang akan digunakan. hanya satu pidana saja yang dijatuhkan. Tetapi sekali hal macam itu disebut “Concursus idealis” yaitu hanya ada gabungan in de idee (dalam pikiran). Mengingat dua alasan itu maka Vos berpendapat hanya dalam dua hal saja dapat terjadi Eendaad Samenloop/Concursus idealis. maka hanyalah dikenakan satu dari ketentuan itu saja. Maksimum pidana yang ditentukan dalam ketentuan pidana ditujukan kepada penanggung jawab peristiwa pidana yang paling berarti sehingga dilakukannya suatu delik yang lebih ringan sekaligus itu tidak boleh dijadikan alasan untuk memperberat pidana maksimum tersebut. Dalam hal kelihatan hanya satu peristiwa saja. mengapa KUHP menentukan demikian. dengan kelihatan hanya satu akibat saja. karena itu lebih tepat lagi bila eendaadse samenloop disebut “Concursus Ab Normis/Concursus normatif. dia juga akan segan-segan sekaligus melakukan delik yang lebih ringan. Apa yang menjadi dasar pembuat KUHP menentukan pidana yang terberat terhadap pelaku Eendaad Samenloop. Barang siapa yang telah memberanikan diri untuk melakukan delik yang lebih berat.” Contoh: Memperkosa di pinggir jalan raya . 1.Jika sesuatu peristiwa termasuk perumusan beberapa ketentuan pidana. jika pidananya berlainan. Utrecht: 1965). Modderman. (E. bahwa Concursus idealis ini ialah: sebagai suatu perbuatan yang oleh mata fisik deilihat sebagai perbuatan tunggal. Ini berarti Slelsel yang digunakan ialah Absorptie Stelsel. apabila pidana pokoknya tidak sama maka yang dijatuhkan ialah yang terberat. Menurut ketentuan pasal 63 KUHP. Menurut Vos ada dua alasan. sedangkan mata pikiran melihat beraneka ragam pelanggaran kaidah. maka yang dikenakan ialah ketentuan yang terberat pidana pokoknya. Atau seperti yang dikatakan Menteri Kehakiman Belanda Mr.

ad. Contoh: . yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan sendiri dan masing-masing termasuk kejahatan yang terancam dengan pidana pokok yang sejenis.2. Dalam KUHP Meerdaadse Samenloop/Concursus realis itu dibedakan antara: Meerdaadse Samenloop yang berupa kejamakan kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis (pasal 64 KUHP). Contoh: A menembak mati B yang duduk dibelakang kaca.Meerdaadse Samenloop/Concursus realis Meerdaadse Samenloop/Concursus realis terdapat apabila seseorang menimbulkan beberapa peristiwa yang masing-masing merupakan kejahatan dan atau pelanggaran dan diantara peristiwa pidana tersebut belum ada yang diadili oleh hakim maka akan diadili sekaligus untuk bentuk lebih tepat digunakan istilah gabungan. maka dijatuhkan satu pidana saja. yang terjemahannya berbunyi: Bagi gabungan beberapa peristiwa.II. akan tetapi tidak boleh lebih dari pidana maksimum yang paling berat ditambah dengan sepertiganya. ad. Pecahnya kaca adalah conditio sine qua non untuk dapat membunuh B. Maksimum pidana ini ialah jumlah pidana tertinggi yang ditentukan untuk kesemua peristiwa itu. Dalam hal yang lebih meragukan (diluar kelihatan beberapa akibat) tapi masih juga salah satu diantara peristiwa itu sebagai conditio sinequa non (kondisi yang tidak bisa tidak ada) untuk yang lain. Meerdaadse Samenloop yang berupa kejamakan pelanggaran (pasal 70 KUHP). Meerdaadse Samenloop yang berupa kejamakan kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis (pasal 66 KUHP).a. Untuk menentukan ancaman pidana terhadap kejamakan kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis diatur dalam pasal 65 KUHP.

A telah melakukan dua kali kejahatan yang masing-masing diancam dengan pidana penjara dsatu tahun dan sembilan tahun. karena jumlah pidana tertinggi untuk kedua kejahatan itu (10 tahun) tidak melebihi (12 tahun) yaitu pidana maksimum yang paling berat ditambah sepertiga. jumlah pidananya tidak boleh melebihi pidana yang terlama di tambah dengan sepertiganya. B telah melakukan dua kali kejahatan yang masing-masing diancam dengan hukuman penjara selama empat tahun dan enam tahun. bukan 9 tahun + 1/3 x 9 tahun = 12tahun. Akan tetapi.b Untuk menentukan ancaman pidana terhadap kejamakan kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis diatur dalam pasal 66 KUHP yang terjemahannya berbunyi: Dalam gabungan beberapa peristiwa. yang masing-masing harus dipandang sebagai perbuatan tersendiri dan masin-masing merupakan kejahatan yang terancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. 6 tahun + 1/3 x 6 tahun = 8 tahun. maka tiap pidana itu dijatuhkan. karena pidana maksimum 10 tahun melebihi pidana terberat ditambah sepertiga dari yang berat yaitu delapan tahun. ad. Berlainan dengan kasus diatas maka pidana yang dapat diancam terhadap B bukan 4 tahun + 6 tahun = 10 tahun akan tetapi. Dari ketentuan yang terdapat dalam pasal 6 KUHP pada satu pihak ada yang menafsirkan bahwa stelsel yang digunakan adalah “Cumulatie Stelsel” yang dipetik dari kalimat pertama pasal 65 ayat (2) KUHP yaitu maksimum pidana ialah jumlah pidana yang tertinggi yang ditentukan untuk kesemua peristiwa. pidana yang dapat diancam hanya satu saja (walaupun melakukan dua kejahatan) yaitu: 1 tahun + 9 tahun = 10 tahun. . Dipihak lain terhadap beberapa sarjana yang berpendapat bahwa stelsel yang dipergunakan ialah: “Verschrepte Absorptie Stelsel” yang dipetik dari kalimat terakhir pasal 65 ayat (2) yaitu tidak boleh melebihi dari pada pidana maksimum yang paling berat ditambah dengan sepertiganya. Sesuai bunyi pasal 65 KUHP maka terhadap A.

00 pidana apakah dan berapa besarnya ancaman pidana terhadap kasus diatas. Jika ada pemberatan denda.000. Dalam putusan hakim lamanya kurungan pengganti ditetapkan demikian: jika dendanya lima puluh sen atau kurang dihitung satu hari. disebabkan karena perbarengan atau pengulangan. tiaptiap lima puluh sen dihitung paling banyak satu hari demikian pula sisanya yang tidak cukup lima sen. Bagaimana denda itu harus diperhitungkan. jika lebih dari lima puluh sen. yang ditentukan untuk peristiwa itu. yaitu pidana penjara. atau karena ketentuan pasal 52 dan 52a. Jika denda tidak dibayar. Lama kurungan pengganti paling sedikit adalah satu hari dan paling lama adalah enam bulan. Contoh: A telah melakukan tiga kejahatan yang masing-masing diancam pidana sembilan bulan penjara. Menurut pasal 66 ayat (2) pidana denda harus diperhitungkan dengan pidana kurungan pengganti denda. maka kurungan pengganti paling lama dapat menjadi delapan bulan. terdapat tiga kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis. berarti stelsel yang dipergunakan adalah Cumulatie Stelsel. enam bulan kurungan dan denda Rp. Oleh karena itu stelsel yang dipergunakan adalah Gematigde Cumulatie Stelsel. . 15. lalu diganti dengan kurungan.Pidana denda dalam hal ini dihitung menurut maksimum pidana kurungan pengganti denda. Kurungan pengganti sekali-kali tidak boleh lebih dari delapan bulan. akan tetapi dalam pasal 66 ayat (1) selanjutnya mengatakan dengan tegas bahwa jumlah pidana itu tidak boleh melebihi pidana terberat ditambah sepertiganya. Mulyanto: 1976) Denda paling banyak alalah dua puluh lima sen. Menurut pasal 66 ayat (1) dijatuhkan pidana itu satu persatu. kurungan dan denda. Cara menghitung pidana denda menjadi pidana kurungan pengganti denda diatur dalam pasal 30 KUHP yang terjemahannya sebagai berikut: (Prof. Dalam contoh diatas.

b.III. gabungan pidana kurungan pengganti. 2. Meerdaadse Samenloop berupa pelanggaran Diatur dalam pasal 70 KUHP yang terjemahannya berbunyi: 1. Bila pidana pokoknya tidak sejenis dipergunakan Gematigde Cumulatie Stelsel (pasal 66 KUHP) ad. Bentuk ini diatur dalam pasal 64 KUHP yang terjemahannya berbunyi sebagai berikut: . Bila pidana pokok sejenis dipergunakan Verschrepte Absorptie Stelsel (pasal 65 KUHP). termasuk pidana kurungam pengganti. karena tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan. Untuk pelanggaran. maka jumlah pidana kurungan tergabung dengan pidana kurungan pengganti. dipergunakan salah satu stelsel: a.Voortgezette Handeling/peristiwa berlanjut Yang dimaksud dengan Voortgezette Handeling ialah apabila seseorang melakukan beberapa perbuatan yang masing-masing merupakan kejahatan sendiri. Pengganti hal gabungan pelanggaran dengan pelanggaran stelsel yang dipergunakan adalah zuivere cumulatie stelsel artinya masing-masing terhadap pelanggaran tersebut dikenakan pidana sendiri-sendiri.c. Dalam hal gabungan kejahatan dengan pelanggaran. Jika secara yang dimaksud dalam pasal 65 dan 66 ada gabungan antara pelanggaran dengan kejahatan atau antara pelanggaran satu sama lain maka dijatuhkan pidana tanpa pengurangan bagi tiap-tiap pelanggaran itu. sedang jumlah pidana kurungan pengganti paling lama delapan bulan. akan tetapi kumulasi itu tidak mutlak.ad. diantara perbuatan-perbuatan itu terdapat hubungan yang demikian eratnya sehingga rangkaian perbuatan itu diartikan sebagai perbuatan lanjutan. tidak boleh lebih dari satu tahun empat bulan. tidak boleh dari delapan tahun.

hanya satu peraturan hukum pidana yang diperlukan. berhubungan sedemikian eratnya sehingga harus dianggap sebagai perbuatan lanjutan maka hanya satu ketentuan pidana saja yang digunakan untuk masing-masing.379. dan 406. KUHP tidak menberikan satu perumusan atau kriteria tentang itu. Beberapa perbuatan itu harus sejenis (Satochid Kartanegara). maka yang digunakan ialah peraturan yang terberat pidana pokoknya. bila orang dipersalahkan memalsukan atau merusak uang dan memakai benda untuk melakukan perbuatan memalsu atau merusak uang. jika pidana berlainan. Bila kita perhatikan bunyi pasal 64 KUHP. dilakukan sebagai perbuatan lanjutan dan jumlah dari kerugian atas harta orang lantaran perbuatan lanjutan itu semua lebih dari 25 rupiah (gulden). dan hanya satu pidana yaitu pidana yang terberat. uang itu tidak diambilnya sekaligus. jika kejahatan yang dirumuskan dalam pasal 364.00 yang tersimpan dalam lemari. Untuk menghindarkan jangan sampai cepat diketahui oleh majikannya.000. Menurut MVT hubungan itu harus memenuhi tiga syarat: Beberapa perbuatan itu harus timbul dari satu kehendak (wilbesluit) yang terlarang. 10.373. 378. Contoh : Seorang pembantu rumah tangga bermaksudmencuri uang majikannya sebesar Rp. 372. Akan tetapi.Jika beberapa peristiwa yang walaupun masing-masing sebagai kejahatan atau pelanggaran. Stelsel yang digunakan adalah Absorptie Stelsel. Yang menjadi persoalan dalam voortgezette handeling ini ialah apakah yang dimaksud dengan berhubungan sedemikian eratnya (zodanige verband) itu. Begitu juga hanya digunakan satu ketentuan saja. dan ayat pertama pasal 407. Dengan demikian. tetapi kita menemukannya pada Memorie van toelichting (MVT). maka dapat diketahui bahwa pada Voortgezette Handeling. Antara beberapa perbuatan yang dilakukan itu tidak boleh lampau waktu yang agak lama. maka masing-masing pidana menurut ketentuan pidana dalam pasal 362. tapi .

Spekulasi meleset maka ia mencuri lagi uang dari kas majikannya. Berlainan dengan pendapat simons maka H. Walaupun pembantu rumah tangga tersebut telah melakukan sepuluh kali pencurian.000. Vos berpendapat cukup dapat dibuktikan adanya hubungan (Samenhang) antara tiap-tiap keputusan kehendak untuk melakukan peristiwa pidana yang sejenis itu.00. kemudian memukul B dan selanjutnya ia merobek baju B. maksud pembuat KUHP . Hari kesepuluh majikannya baru mengetahui. asal saja dalam jangka waktu beberapa tahun ini fakta-fakta yang bersangkutan dilakukan pada waktu-waktu tertentu. Nampak bahwa keriga perbuatan tersebut timbul dari satu kehendak yang terlarang tapi tidak sejenis (Satochid Kartanegara). A mula-mula menghina B. Timbul dendam pada A. tetapi maksud dilakukannya masing-masing tidak sama (E. Kedua perbuatan itu sejenis. Dengan demikian. Utrecht: 1965). Terhadap syarat kedua. ialah pasal 64 ayat (2) KUHP bahwa: Perbuatan memalsu Menggunakan barang yang dipalsukan itu adalah perbuatan yang dianggap satu jenis dan hanya diancam dengan satu pidana. Untuk melaksanakan dendam itu. beberapa sarjana terkenal di negara Belanda memberikan tanggapan sebagai berikut: Vos termasuk yang tidak menerima syarat pertama. Contoh: A mencuri uang dari kas majikannya untuk spekulasi.R. tetapi kesepuluh kali perbuatan itu harus dianggap satu peristiwa saja yaitu peristiwa berlanjut. berpendirian sesuai MVT bahwa perbuatan yang dilakukan itu haruslah sejenis. Contoh: A dihina oleh B.bertahap.R. Jonkers berpendapat bahwa peristiwa berlanjut itu dapat dilangsungkan beberapa tahun berturut-turut. Tiap hari ia ambil Rp. Selanjutnya terhadap syarat ketiga Simons berpendapat bahwa perbuatan-perbuatan itu tidak perlu sejenis. Mengenai tiga syarat tersebut diatas. dan waktu antara saat-saat terjadinya masing-masing fakta yang bersangkutan tisak terlalu lama (Utrecht: 1965). 1. Yang menjadi alasan H.

melakukan penggelapan Oleh karena perkara yang dilakukan pada bulan Maret dan Juli sudah lengkap alatalat buktinya maka pada bulan Oktober kedua perkara itu diajukan dan telah diputus oleh hakim. Setelah kedua perkara itu diputus. Contoh: A pada tahun 1980 telah melakukan tiga peristiwa pidana yang masing-masing dilakukannya: Bulan Maret 1980. melakukan pencurian Bulan Juni 1980. perkara dengan mengajukan dan menuntut peristiwa pidana yang bersangkutan satu persatu (E. Utrecht: 1965). Ketentuan dari pasal 71 KUHP ini hanya berlaku dalam peristiwa-peristiwa pidana yang bersangkutan terjadi sebelum keputusan yang pertama dilaksanakan. Menurut pasal 71 KUHP dalam menentukan pidana terhadap perkara terakhir ini (prkara bulan Juni 1980) haruslah memperhitungkan kedua perkara yang telah diputus pada bulan Oktober 1980. sesudah dijatuhi pidana. disalahkan pula berbuat kejahatan atau pelanggaran yang dilakukan sebelum ia dipidana itu maka pidana yang telah dijatuhkan itu diperhitungkan. Pasal penutup dari ajaran samenloop ini ialah pasal 71 KUHP yang terjemahanya berbunyi: Jika seseorang. Hal tersebut . Ratio ketentuan ini menurut Jonkers & Vos. andaikata pasal 71 KUHP itu tidak ada maka jaksa dapat saja memecah (splitsen).menentukan pasal 64 ayat (2) adalah sebagai pengecualian terhadap ketentuan yang terdapat dalam pasal 64 ayat (1). tentang perkara yang diadili serentak. barulah perkara bulan Juni dapat diajukan ke depan sidang pengadilan. melakukan penipuan Bulan Juli 1980. dengan aturan dalam bab ini.

Recidive merupakan hal yang memberatkan pidana (grond van strafverzwaring). yang tidak memperlihatkan sifat peristiwa pidana yang diulangi. . sudah ada keputusan hakim yang berupa pidana. tidak terselang oleh suatu keputusan hakim. Perbedaannya : Dalah hal samenloop di antara peristiwa pidana yang satu dengan yang lain. Recidive (Tanggung Jawab Ulang) Recidive itu terjadi apabila seseorang yang pernah dipidana karena bertanggung jawab atas peristiwa pidana yang berdiri sendiri mengulangi kesalahannya. Walaupun ia sudah diberi peringatan berupa pidana. Persamaannya : Baik pada samenloop maupun recidive terjadi apabila seseorang melakukan beberapa peristiwa pidana. Oleh karena itu. Adapun yang menjadi alasan untuk memperberat ancaman pidana dalam hal recidive ialah orang yang demikian itu telah membuktikan mempunyai akhlak yang buruk dan oleh sebab itu dianggap merupakan bahaya besar bagi masyarakat. undang-undang memberikan kelonggaran kepada hakim untuk menjatuhkan pidana yang lebih berat kepadanya. Ancaman pidananya ditambah sepertiga maksimum pidana pokok.memungkinkan adanya pandangan bahwa samenloop itu tidak termasuk pemberatan tetapi peringanan pidana. sdang pada recidive di antara peristiwa pidana yang satu dengan yang lain. Asal saja terdakwa kembali melakukan peristiwa pidana macam apa pun. namun tidak menjadi perbaikan terhadap dirinya dan kembali ke jalan yang benar.2. Menurut doctrine recidive itu dapat diperinci: Algemeene recidive/recidive umum. Ad. Bebtuk ini bila kita bandingkan dengan samenloop mempunyai persamaan dan perbedaan.

dikelompokan dalam satu kelompok (groeps recidive). Contoh Accidentele recidive A telah melakukan suatu peristiwa pidana dan dijatuhi pidana. dalam ilmu hukum pidana modern perincian recidive yang lain yaitu: Accidentele recidive/pengulangan kebetulan Habituele recidive/pengulangan kebiasaan. Disamping itu menganut pula sistem antara sebagaimana yang diatur dalam pasal 486. KUHP menganut special recidive khusus. Menurut Vos maka dalam hal ini tidak diperlukan peraturan pemidanaan yang khusus (peraturan recidive) sudah cukup peraturan pemidanaan biasa tanpa tambahan sepertiga maksimum pidana pokok. Disamping kedua sistem tersebut terdapat pula sistem antara/tussen system dengan beberapa kejahatan menurut sifatnya dianggap sama. Dalam pasal 486 dikelompokan kejahatan terhadap harta kekayaan. Selain dari perinci menurut doctrine. Utrecht: 1965) Syatat-syarat yang diperlukan untuk berlakunya recidive: . Mengenai special recidive khusus yang juga dianut oleh KUHP. Dalam pasal 487 dikelompokan kejahatan terhadap pribadi orang dan. tidak diatur dalam sub bab tersendiri. Dalam pasal 488 dikelompokan kejahatan penghinaan.Speciale recidive/redive khusus. Sebaliknya dalam hal Habituele recidive perlu dikenakan peraturan recidive. Demi kepentingan keluarganya A terpaksa melakukan suatu peristiwa pidana untuk kedua kalinya. 487. 488. tapi tersebar di dalam beberapa pasal dalam KUHP. A dan keluarganya jatuh dalam keadaan yang menderita. karena sipembuat itu ternyata sudah membiasakan diri untuk melakukan peristiwa pidana (E. yaitu pengulangan peristiwa pidana yang semacam/sejenis dengan peristiwa pidana yang pernah menyebabkan dijatuhkan pidana. Akibat pemidanaan itu ia diberhentikan dari pekerjaannya.

yang meliputi anggota DPR pusat dan daerah yang dipilih maupun diangkat dan anggota ABRI. kesempatan atau sarana yang diperoleh berdasarkan jabatannya. 2. 3. Ambtelijkheid (Tanggung Jawab Penjabat) Ambtelijkheid menurut KUHP merupakan pula salah satu hal yang dapat memberatkan pidana. Ad. Bila dibaca dengan teliti rtedaksi pasal 52 KUHP diatas.3. disana tidak dijelaskan siapa yang disebut “ambtenaar”/pejabat itu. demikian ketua dan anggota dewan/peradilan agama.1. yaitu mereka yang menjalankan kekuasaan peradilan administratif. demikian pula semua pihak yang bukan karena pemilihan menjadi anggota lembaga perwakilan rakyat pusat maupun daerah yang dibentuk oleh atau atas nama pemerintah. menggunakan kekuasaan. . Pernah menjalankan pidana penjara baik seluruhnya maupun sebagian atau pidana itu dihapuskan baginya sama sekali ataupun beban pidana itu belum gugur karena daluarsa. seterusnya seluruh anggota dewan wilayah pengairan dan semua kepala adat pribumi dan timur asing yang melakukan kekuasaan yang sah. Yang diartikan dengan ambtenaar ialah sekalipun pribadi yang dipilih menurut pemilihan yang diadakan menurut peraturan pusat. Masalah ini diatur dalam pasal 53 KUHP yang terjemahannya berbunyi: jikalau seorang pejabat melakukan peristiwa pidana dengan melanggar kewajiban jabatan khusus atau pada waktu melakukan peristiwa pidana. termasuk pula wasit : yang termasuk sebutan hakim. Meraka yang masuk angkatan bersenjata dipandang juga sebagai ambtenaar pasal 92 KUHP hanya memperluas pengertian pejabat. Jangka waktu antara peristiwa pidana pertama dan yang kedua adalah titik lebih lima tahun. maka pidananya dapat ditambah dengan sepertiganya. Demikian juga dalam pasal 92 KUHP yang terjemahannya berbunyi: 1. Yang masuk sebutan ambtenaar dan hakim. 2. terhitung sejak selesai menjalankan hukuman penjara itu.

sehingga dalam melakukan pelanggaran pasal 52a ini tidak berlaku. Pasal 52a tersebut ditambahkan dalam KUHP dengan undang-undang No. Untuk ambtsdelicten dalam Buku II Bab XXVIII dan Bab VII KUHP sebaiknya digunakan pengertian tanggung jawab jabatan karena kesalahan dalam menggunakan jabatan (penyalahgunaaan jabatan/detournment du pouvoir yang diancam pidana). 2. bagian-bagiannya. tetapi dalam hal penanggung jawab itu kebetulan seorang pejabat/ ambtenaar yang melanggar suatu kewajiban khusus untuk menggunakan kekuasaan. maka pidananya untuk kejahatan tersebut dapat ditambahkan sepetiganya. Ambtenaar ialah: 1. Diangkat dengan keputusan kekuasaan hukum.Oleh kerena baik dari pasal 52 maupun pasal 92 KUHP tidak jelas persyaratan bagi ambtenaar/penjabat maka penting untuk diketahui menurut yurisprudensi negeri Belanda tanggal 30 Januari 1911. Penyalahgunaan bendera kebangsaan RI Diatur dalam pasal 52a KUHP yang terjemahannya berbunyi : Bilamana pada waktu melakukan kejahatan digunakan bendera Republik Indonesia. Dalam pasal ini dengan tegas disebutkan istilah kejahatan bukan peristiwa pidana. Untuk melakukan sebagian dari tugas negara atau 3a. 25 Oktober 1915 dan 26 Mei 1919. 73 Tahun 1958 tanggal 29 September 1958. melainkan peristiwa-peristiwa pidana yang dapat dilakukan oleh siapapun juga. kesempatan atau sarana yang diperoleh dari jabatannya (Wirjono Prodjodikoro: 1969). . Adapun peristiwa pidana yang dimaksud dalam pasal 52 ini bukanlah “ambtsdelicten” atau kejahatan-kejahatan jabatan dan pelanggaran-pelanggaran jabatan sebagaimana yang dimaksud dalam buku II Bab XXVIII dabn buku II bab VII KUHP. 3. Diangkat untuk suatu jabatan umum.

Poging / percobaan Dalam Bab III sudah dijelaskan secara lengkap hal-hal yang berkenaan dengan Poging. Percobaan melakukan kejahatan terancam pidana.C. maksimum pidana pokok yang diancam bagi kejahatan dikurangi dengan sepertiganya.1. 2. KUHP ad. bila maksud terpidana sudah nyata dalam awal pelaksanaan dan penyelesaian perbuatannya tidak terjasi smata-mata lantaran hal yang tidak tergantung kemauannya sendiri. Poging / percobaan Medeplichtigheid / pembantuan Yang diatur dalam pasal 47 . Pasal 53 KUHP: 1. 3. Dalam hal percobaan. Peringanan Pidana (Maksimum Minus 1/3) Yang dimaksud dengan peringanan pidana disini ialah apabila ancaman pidana maksimum dikurangi sepertiga bagi peristiwa tertentu termasuk dalam kategori ini ialah peristiwa: 1. Poging itu diatur dalam pasal 53 dan 54 KUHP yang terjemahannya berbunyi. 2.

atau pidana penjara seumur hidup. Jika kejahatan itu diancam dengan pidana mati.2. ad. Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan pidana tambahan bagi kejahatan yang telah selesai. 2. maka bagi percobaannya dijatuhkan pidana penjara selamalamanya lima belas tahun. Ancaman pidana terhadap medeplichtigheid diatur dalam pasal 57 ayat (1) KUHP yang menentukan Pecobaan melakukan Ancaman pidana terhadap Percobaan melakukan Ancaman pidana terhadap percobaan melakukan kejahatan ialah maksimum pidana pokok atas kejahatan yang .3. Sedangkan mengapa percobaan untuk melakukan pelanggaran tidak daqpat dipidana. Pasal 54 KUHP: Percobaan untuk pelanggaran tidak diancam pidana. Hal pertama ialah karena undang-undang beranggapan bahwa perbuatan percobaan itu tidak begitu menimbulkan kerugian bila dibandingkan dengan kejahatan yang selesai (voltooid delict). Medeplichtigheid Dalam Bab II tentang medeplichtigheid ini sudah dijelaskan pila. bersangkutan dikurangi sepertiga. Dari pasal 53 ayat (2) dan 54 KUHP di atad dapat disimpulkan bahwa: 1. pelanggaran tidak dapat dipidana. Apa rasio pembuat undang-undang menentukan: 1. percobaan kejahatan dikurangi sepertiga. 2. pelanggaran tidak dipidana. karena percobaan untuk melakukan pelanggaran itu tidak begitu membahayakan kepentingan hukum. 4.

ad.Pasal 47 KUHP tentang anak-anak Menurut pasal 47 KUHP jika seorang yang belum dewasa melakukan suatu peristiwa pidana pada waktu ia belum mencapai usia 16 tahun maka hakim dapat memutuskan salah satu dari tiga kemungkinan : a. Maka terhadap A diancam dengan pidana setinggi-tingginya selama 15 tahun. Anak itu diserahkan kembali kepada orang tua dengan tidak Diserahkan pada pemerintah untuk dididik dengan tidak Memidana anak yang bersalahitu. dikenakan pidana.3. dikenakan pidana. membantu melakukan pelanggaran tidak dapat dipidana (pasal 60 KUHP) Contoh: A telah membantu B melakukan kejahatan pembunuhan menurut pasal 338 ancaman pidana terhadap pembunuhan adalah sebesar 15 tahun.bahwa : membantu melakukan kejahatan diancam dengan pidana sebesar pidana pokok bagi kejahatan tersebut dikurangi sepertiga. Soesilo : 1976). c. Dalam praktek mungkin terjadi seorang pembantu dijatuhi pidana yang lebih berat daripada pidana bagi “dader” nya sendiri. Dengan demikian kepada hakim diberikan kebebasan untuk menilai kecakapan rohani dari anak yang masih muda itu. Jika kejahatan itu diancam dengan . maka pidana yang diancam tidak boleh lebih dari pidana pokok terhadap peristiwa pidana tersebut dikurangi sepertiga (pasal 47 ayat (1). b. Kendati pun demikian pidana yang lebih berat itu tidak boleh melebihi 2/3 dari pidana pokoknya (R. Jika suatu kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana seumur hidup maka orang yang membantu kejahatan itu hanya dapat diancam dengan pidana paling berat 15 tahun. Andaikata hakim menurut pertimbangannya memilih kemungkinan ketiga yaitu memidana anak yang bersalah itu. yang diancan dengan pidana itu hanya perbuatan membantu kejahatan.

maka ancaman pidana paling lama lima belas tahun. 2. 3. 2. Schuld-opheffingsgronden/Schulduitsluitingsgronden atau alasan pemaaf. KUHP tidak menggunakan perincian menurut doctrine tetapi MVT mengadakan perincian: 1. atau alsan pembenaran yaitu alasanyang menghapuskan sifat “wederrechterijk” daripada peristiwa yang memenuhi ketentuan pidana sehingga tidak merupakan peristiwa pidana. Macam Alasan Peniadaan Pidana Menurut doctrine. Bentuk Alasan Peniadaan Pidana Alasan peniadaan pidana dalam KUHP terdiri dalam bentuk: 1. (47 ayat 2) D.pidana mati atau pidana penjara seumur hidup. Rechtsvaardigingsgronden. 4. I. Alasan Peniadaan Pidana/Strafuitsluitingsgronden Yang dimaksuddengan alasan peniadaan pidana ialah hal atau keadaan yang mengakibatkan seseorang yang memenuhi perumusan peristiwa pidana tidak dapat dipidana. strafuitsluitingsgronden ini diperinci : 1. Inwendige gronden van ontoerekenbaarheid (karena keadaan yang Uitwending gronden vanbontoerkenbaarheid (karena keadaan diluar terdapat dalam pribadi penanggung jawab). II. 2. Ontoerekeningsvatbaarheid pasal 44 KUHP Overmacht pasal 48 KUHP Noodweer pasal 49 KUHP Wettelijk voorschrift pasal 50 KUHP . pribadi tanggung jawab). yaitu alasan yang menghilangkan kesalahan seorang yang seharusnya bertanggung jawab atas peristiwa pidana sehingga ia tidak dipidanakan tetapi peristiwanya tetap wederrechtelijk.

tiap paksaan yang tidak dapat dielakkan. orang yang menyebabkan peristiwa tidak dipidana karena: a. Jiwa/akal yang tumbuhnya tidak sempurna (gebrekkige out wikkeling). Keadaan jiwa orang itu sedemikian rupa sehingga ia tidak mengerti Ia tidak dapat menentukan kehendaknya terhadap sikap tindaknya. Menurut MVT seseorang tidak mampu bertanggung jawab apabila: 1. Orang yang jiwanya tidak sempurna tumbuhnya itu sebenarnya tidak sakit. 3.1. elke drang. akan tetapi karena cacat yang dibawa sejak lahir. Menurut MVT yang dimaksud Overmacht itu “elke kracht. seperti penyakit gila dan ad. sebagainya. Ontoerekeningsvatbaarheid atau ketidakmampuan bertanggung jawab Diatur dalam pasal 44 KUHP ayat (1) yang terjemahannya berbunyi : Siapapun tidak dapat dipidana dipertanggung jawabkan kepadanya dengan alasan akalnya cacat pertumbuhannya atau terganggu suatu penyakit. Ambtelijke bevel pasal 51 KUHP ad. Jiwa yang diganggu oleh penyakit. . akan harga dan nilai sikap tindaknya. Overmacht dalam arti luas ( pasal 48 KUHP) Overmacht atau keterpaksaan diatur dalam pasal 48 KUHP yang terjemahanya berbunyi siapapun tidak dapat dipidana karena menyebabkan peristiwa yang diakibatkan keterpaksaan. tiap dorongan. Artinya tiap kekuatan.2. Pada waktu lahirnya sehat. Menurut pasal 44 ayat )1) tersebut. 2. Apabila seseorang mempunyai penyakit seperti tersebut diatas maka perbuatannya tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya. elke dwang waaraan men geen weerstand kan bieden”. Ia tidak dapat menginsyafi bahwa sikap tindak itu terlarang. akan tetapi kemudian dihinggapi penyakit.5. b.

2. Contoh: Seorang kasir bank dengan ancaman senjata api menyerahkan uang kas yang berada dibawah pengawasannya. 1. maka untuk mengelakkan bahaya itu. Overmacht yang bersifat mutlak (Vis absoluta) Dalam hal ini orang yang terpaksa tidak mungkin dapat berbuat lain. Beda antara Overmacht yang bersifat absolut orang yang memaksa itulah yang berbuat. Overmacht dalam arti sempit yang bersifat nisbi (Vis Compulsiva) berat lawan.Perkataan keterpaksaan bukan saja berarti fisik/jasmani tapi juga tekanan psikis/rohani. Overmacht dalam arti Noodtoestand atau keadaan darurat. yang kuat buat seorang saja. Dua orang penumpang terapung berpegangan pada sebilah papan. Contoh: Si A dipegang tangannya oleh B yang lebih kuat dan dipaksa menulis tanda tangan palsu. Disini orang terpaksa masih ada kesempatan memilih berbuat yang lain. Keadaan darurat ada bila kepentingan hukum seseorang berada dalam keadaan bahaya. terpaksa melanggar kepentingan hukum orang lain (Satochid Kartanegara) Dalam keputusan keadaan darurat itu karena: 1. Kasir bank nasih dapat memilih menyerahkan uang bank atau melakukan perlawanan dengan kemudian dia akan ditembak karena itu “berat lawan”. sebaliknya pada relat orang yang dipaksa itu berbuat. Contoh: Kapal tenggelam di laut. 3. Menurut Jonkers Overmacht itu berwajah tiga rupa (Tresna: 1959). Terdapat pertentangan antara dua kepentingan hukum/hak (conflict van recht pichten). akan tetapi menurut perhitungan yang layak tidak mungkin dapat dielakkan. Ia tidak mungkin memilih jalan lain. Untuk menyelamatkan dirinya salah seorang terpaksa mendorong yang lain sehingga mati .

Terdapat pertentangan antara kewajiban hukum dengan kewajiban hukum (conflict van rechtsbelangen). Terdapat pertentangan antara kepentingan hukum dengan kepentingan hukum dengan kewajiban hukum (conflict van rechtsbelang en rechtsplicht). Contoh: A dipanggil sebagai saksi (kewajiban hukum) Pada hari yang sama mendadak kesehatannya (kepentingan hukum) terganggu sehingga ia tidak dapat hadir pada sidang di pengadilan. 2. kehormatan atau harta sendiri maupun orang lain dalam melawan ancaman serangan yang melawan hak yang seketika dan langsung. Pembelaan mendesak yang melampaui batas tidak dapat dipidana.3. bila itu berupa akibat langsung suatu goncangan rasa yang disebabkan oleh serangan. “Noodweer/pasal 49 ayat (1) KUHP pidana” Noodweer diatur dalam pasal 49 KUHP yang terjemahannya berbunyi: 1. Contoh ini dalam literatur hukum pidana dinamakan “papan dari Karenaedes”. 2. Menurut pasal 49 KUHP untuk dapat disebut noodweer harus memenuhi beberapa syarat yaitu: . Untuk menjaga kesehatan terpaksa ia melanggar kewajiban hukum. ad.tenggelam. Pada hari yang sama ia juga dipanggil sebagai saksi di Pengadilan Negeri Bengkulu. 3. Contoh: Pada suatu hari A dipanggil sebagai saksi di Pengadilan Negeri Palembang. Ia hanya mungkin memenuhi salah satu panggilan Pengadilan Negeri Palembang atau Bengkulu. Siapapun tidak dapat dipidana karena menyebabkan peristiwa sebagai akibat kewajiban pembelaan mendesak terhadap badan.

2. berarti bahwa serangan itu harus sudah mulai dan belum berakhir. badan. Jika ada orang diserang seekor anjing dan karena itu ia terpaksa membunuh anjing iti. Ini membawa kesimpulan bahwa serangan itu harus dapat dari manusia. b. apakah melarikan diri saja. c. Harus ada serangan: Yang seketika (ogenblikkeinjk) Mengancam serangan langsung (onmiddelijk dreigend) Melawan hak Ada pembelaaan: Sifat mendesak (noodzakelijk) Pembelaan itu menunjukkan keseimbangan antara kepentingan Kepentingan hukum yang dibela hanya. kehormatan. hukum yang dilanggar dan kepentingan hukum yang dibela (groboden). harta sendiri maupun orang lain. Bila suatu serangan itu dapat dikatakan telah mengancam secara langsung walaupun belum dimulai. Bagaimana bila yang diserang. Keterangan: Serangan seketika. itu tergantung pada keadaan dan serangan itu. “Noodzakelijk” artinya harus benar-benar diperlukan dan harus merupakan perbuatan yang satu-satunya dan tidak ada cara lain yang lebih ringan. tergantung pada keadaan yang meliputi serangan itu. b. Melawan hak artinya tidak sah. c. Kapan serangan itu dapat dikatakan sudah mulai dan belum berakhir. “Onmiddelijk dreigen” ialah serangan yang belum dimulai tapi sudang mengancam secara langsung. Bila disamping perbuatan yang dilakukan itu masih ada cara lain yang lebih ringan. apakah melarikan diri dapat dianggap sebagai cara yang . maka itu bukan perbuatan yang “noodzakelijk”. maka tidak dapat menyatakan ada noodweer karena anjing itu tidak dapat berlaku tidah sah. Hewan tidak dapat berbuat tidak sah karena hewan tidak mempunyai akal. melarikan diri saja. a.1. a.

meskipun untuk membela miliknya. maka lari tidak dapat dikatakan sebagai jalan yang lebih ringan. harta. kehormatan. harta sendiri dan orang lain. Karena itulah noodweer diperkenenkan oleh undang-undang. Kepentingan hukum yang dibela. 2. kehormatan. . Dalam keadaan yang demikian alat perlengkapan negara tidak sempat memberi pertolongan untuk mencegah kejahatan itu sendiri. seperti nama baik. Mengapa noodweer itu diperkenankan oleh undang-undang. Misal. tidak lain karena noodweer itu semata-mata dilakukan untuk membela diri. kehormatan. Dasar hukum noodweer Bila dilihat pintas lalu orang yang melakukan noodweer adalah melakukan suatu perbuatan yang dikenal sebagai “eigen richting”/menjadi hakim sendiri. Pada noodweer tidak demikian. seorang pencuri ayam tidak boleh ditembak mati oleh yang punya ayam. Disamping noodzakelijk harus pula “geboden” yang artinya harus ada keseimbangan antara kepentingan hukum yang dilanggar dengan kepentingan hukum yang dibela. Menurut Van Hamel cara membela diri dengan jalan lari. jadi recht terhadap recht. yang terdapat ialah recht/hak contra on recht/gangguan hak. Beda noodweer dengan noedtoestand 1. dan barang terhadap serangan yang dilakukan oleh orang lain. Didalam noedtoestand terdapat konflik dua kepentingan hukum. Sedang menjadi hakim sendiri adalah terlarang. Kepentingan hukum yang dibela itu terbatas dengan kepentingan hukum yang disebut dalam undang-undang yaitu badan. dalam noodweer terbatas pada badan. Kehormatan disini bukan kehormatan dalam pengertian umum. jika ini bertentangan dengan kehormatan dari orang yang diserang. pangkat dan sebagainya tapi kehormatan yang berhubungan dengan masalah seks sebab kejahatan terhadap kehormatan dalam pengertian umum diatur dalam pasal 310 KUHP (Satochid Kartanegara).lebih ringan. prestise.

misalnya. 4. sedang pada noedtoestand tidak demikian. Dalam noodweer dikenal dengan tegas noodweer exces sedang Kepentingan hukum yang dibela noodweer adalah kepentingan terhadap noedtoestand tidak ada.4. “Wettelijk Voorschrift” pasal 50 KUHP “Wettelijk Voorschrift” diatur dalam pasal 50 KUHP yang terjemahannya berbunyi : tidak boleh dipidana.3. kecuali jika pegawai bawahannya dengan itikad . ad. “Ambtelijke bevel” pasal 52 KUHP Ambtelijke bevel diatur dalam pasal 51 yang terjemahannya berbunyi: 1. Apa yang diperintahkan oleh suatu undang-undang untuk melakukan suatu hal tidak dapat dianggap seperti suatu peristiwa pidana. naik darah. maka perbuatan tersebut dapat dimaafkan oleh undang-undang. Perbuatan yang dilakukan tidak merupakan peristiwa pidana dan karena tidak ada dasar untuk mengenakan pidana terhadapnya. (Bambang Purnomo: 1978) “Noodweer exces / pasal 49 ayat (2) KUHP” Yang dimaksud dengan noodweer exces ialah pembelaan yang melampaui batas. hukum bagi diri sendiri dan orang lain. Sebenarnya pembelaan yang melampaui batas yang merupakan perbuatan yang terlarang. (Tresna: 1959). akan tetapi karena perbuatan berupa akibat suatu goncangan rasa yang disebabkan oleh serangan. membebaskan pemidanaan. ad. Tidak boleh dipidana ia yang melakukan perbuatan untuk Perintah jabatan yang diberikan secara tidak sah tidak menjalankan perintah jabatan yang diberikan oleh kekuasaan yang berhak. 2.5. ia yang melakukan perbuatan untuk menjalankan peraturan undang-undang. Yang dimaksud dengan peraturan hukum disini ialah sebagai peraturan yang dikeluarkan oleh penguasa yang berhak menetapkan peraturan di dalam batas wewenangnya.

Apabila ontoerekeningsvatbaarrheid pasal 44 KUHP dihubungkan . orang yang melaksanakan perintah yang tidak sah itu tidak dapat dipidana bila memenuhi syarat-syarat: 1. Doktrin: termasuk schuld-opheffingsgrond atau schulduitsluitingsgrond yaitu alasan pemaaf . Prajurit itu sebenarnya melakukan perampasan kemerdekaan orang itu. Jika diperintahkan itu terletak dalam lingkungan kekuasaan orang yang diperintah (Satochid Kartanegara). III. Jika ia dengan itikad baik mengira bahwa itu sah. Perintah yang diberikan untuk seorang majikan kepada bawahannya di dalam hubungan hukum perdata tidak termasuk di dalam pasal 51 ini. MVT ternasuk inwendige van ontoerekenibaarheid. Hubungan Bentuk dan Macam Peniadaan Pidana 1. Perlu diingat bahwa menjalankan perintah jabatan antara yang memerintah yang diperintah harus ada hubungan yang didasarkan pada hukum publik.baik memandang perintah itu sebagai sah dan menjalankan perintah itu menjadi kewajiban pegawai yang dibawah perintah tadi. Karena perbuatan yang dilakukan masih tetap wederrechtelijk tetapi orang itu tidak dipidana karena ia tidak dapat dipersalahkan/jiwanya tidak sempurna. dengan: a. b. tapi karena penangkapan itu berdasarkan atas perintah yang sah maka ia tidak dipidana. Pasal 51 ayat (2) mengatur tentang melaksanakan perintah yang tidak sah. Contoh: Seorang prajurit diperintahkan oleh seorang kapten polisi untuk menangkap seorang yang disangka melakukan pencurian. 2.

4. . “Ontekeningsvatbaarheid” atau ketidak mampuan bertanggung jawab menyangkut subjek yang tidak mampu bertanggung jawab atas sikap tindaknya.2. pasal 51 ayat (1) KUHP termasuk rechtsvaardigingsgrond. Wettelijk voorschrift/ pasal 50 KUHP Melaksanakan perintah jabatan sebagaimana yang diatur dalam Para sarjana berpendapat termasuk alasan pembnaran/rechtsvaardigingsgrond. Karena pada noodweer exces. Akan tetapi mengingat kesalahannya adalah akibat goncangan rasa. karena di situ perbuatannya dibenarkan. Sedangkan pada melaksanakan perintah yang tidak wenag sebagaimana yang diatur dalam pasal 51 ayat (2) KUHP termasuk alasan pemaaf asal dipenuhi syarat subjektif adanya itikad baik dan syarat objektif masuk dalam lingkungan pekerjaan orang yang diperintah (Satochid Kartanegara). D. 5. sikap melampaui batas itu merupakan keadaan yang khusus sehuingga dari wujudnya pembelaan yang melampaui batas itu masih tetap sebagai perbuatan yang wederrechtelijk. sdang menurut Van Hamel sebagai alasan pembenar/rechtsvaardigingsgrond. Simons berpendapat bahwa overmacht termasuk schulduitsluitingsgrond yaitu alasan pemaaf. 3. termasuk alasan pembenar/rechtsvaardigingsgrond. noodweer para sarjana berpendapat. Terdapat Mengenai noodweer pasal 49 ayat (1) KUHP. hapus kesalahan itu atau dapat dimaafkan (Bambang Purnomo: 1978). Mengenai apakah noodtoestand/ keadaan darurat termasuk dalam alasan pemaaf atau pembenar terdapat kesepakatan. Mengenai overmacht/ berat lawan (pasal 48 KUHP) diantara para sarjana terdapat perbedaan paham. noodtoestand/ keadaan darurat temasuk alasan pembenar/rechtsvaardigingsgrond. sedang pada noodweer exces yan diatur dalam pasal 49 ayat (2) KUHP termasuk alasan pemaaf. 6. Catatan: “Ontoerekenbaarheid” atau tidak dapat dipertanggung jawabkan berhubungan dngan sikap tindak itu tidak dapat dipertanggung jawabkan subjeknya.

Tersangka / terdakwa. Jaksa yang melakukan penuntutan. Hakim yang mengadili. tetapi hanya orang-orang yang mempunyai kualifikasi tertentu saja.V. 5. 3. Subjek dalam Acara Perkara Pidana Tidak setiap orang yang dapat menjadi subjek dalam hukum secara pidana. Mereka itu ialah: 1. . Penasihat hukum. 4. 2. 6. Polisi yang melakukan penyelidikan. ACARA PERKARA PIDANA A. Panitera.

Yang melakukan penyelidikan adalah penyidik. B. Soesilo: 1982). Saksi-saksi. ini untuk mencari serta mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya (pasal 1 ayat (2) KUHAP). (2) dilakukan : a. Peranan pnyidik diatur dalam pasal 8 KUHAP yaitu : 1. Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh undang-undang. Penyerahan berkas perkara sebagaimana dimaksud dalam ayat . Pelaksanaan Peranan Acara Perkara Pidana Menurut KUHP pelaksanaan peranan acara perkara pidana meliputi hal-hal seperti berikut : (R. umum. Penyelidikan Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan mnurut cara yang diatur dalam undang-undang. perkara. 1. Penyidik itu menurut pasal 6 ayat (1) KUHAP adalah: 1. b. Pegawai lembaga kemasyarakatan. Dalam hal penyidikan sudah dianggap selesai. Pejabat Polisi Negara Republik Indonesia. penyidik menyerahkan tanggung jawab atas tersangka dan barang bukti kepada penuntut Pada tahap pertama penyidik hanya menyerahkan berkas Penyidik menyerahkan berkas perkara kepada penuntut umum. 2. Penyidik membuat berita acara tentang pelaksanaan tindakan sebagaimana dimaksud dalam pasal 75 dengan tidak mengurangi ketentuan lain dalam undang-undang ini.7. 3. 8. 2.

2. Penangkapan harus ditujukan kepada orang yang diduga keras melakukan tindak pidana berdasarkan bukti permulaan yang cukup (pasal 17 KUHAP). Dalam hal tertangkap tangan penangkpan dilakukan tanpa surat perintah dengan ketentuan bahwa penangkap harus segera menyerahkan tertangkap beserta barang bukti yang ada kepada penyidik atau penyidik pembantu.1. ad. ad. Penahanan Penahanan adalah penempatan tersangka atau terdakwa di tempat tertentu oleh penyidik atau penuntut umum atau bahkan hakim dengan penetapannya.2. Penangkapan Penangkapan menurut pasal 1 ayat (20) KUHAP ialah : suatu tindakan penyelidikan berupa pengekangan sementara waktu kebebasan tersangka atau terdakwa apabila terdapat cukup bukti guna kepentingan penyidikan atau penuntutan dan atau peradilan dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini. Penangkapan dan Penahanan . dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini (pasal 1 ayat (21) KUHAP). Tembusan surat perintah penangkapan harus diberikan kepada keluarganya segera setelah penangkapan dilakukan (pasal18 KUHAP). Pelaksanaan tugas penangkapan dilakukan oleh petugas kepolisian Negara Republik Indonesia dengan memperlihatkan surat tugas serta memberikan kepada tersangka surat perintah penangkapan yang menentukan identitas tersangka dan menyebutkan alasan penangkapan serta uraian singkat perkara kejahatan yang dipersangkakan serta tempat ia diperiksa. Terhadap tersangka pelaku pelanggaran tidak diadakan penangkapan kecuali dalam hal ia telah dipanggil secara sah dua kali berturut-turut tidak memenuhi panggilan itu tanpa alasan yang sah.Tindakan-tindakan sebagaimana yang dimaksud dalam pasal 75 antara lain : 1.

351 ayat (1). Syarat-syarat penahanan diatur dalam pasal 21 KUHAP yaitu : 1. tersangka atau terdakwa akan melarikan diri. 335 ayat (1). Tahun 1955). 8 Drt. pasal 36 ayat (7). 2. 2. 454. 9 Tahun 1976 tentang Narkotika. pasal 1. 3. 2. : Penahanan rumah. (42). Tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam pasal tersebut : 282 ayat (3). : Penahanan kota. Diduga keras telah melakukan Adanya kekhawatiran bahwa tindalk pidana berdasarkan bukti yang cukup. pasal 25 dan 26 Rechtenordonantie. lebih. .Menurut pasal 20 KUHAP petugas penegak hukum yang berwenang melakukan penahanan ialah : 1. (41). 379a. 4 Undang-undang Tindak Pidana Imigrasi (UU No. 372. 455. dan pasal 506 KUHPidana. penuntutan. merusak atau menghilangkan barang bukti dan atau mengulangi tindak pidana. 378. dalam hal. Tindak pidana diancam dengan pidana penjara lima tahun atau Tersangka atau terdakwa melakukan tindak pidana dan atau pertcobaan maupun pemberian bantuan Hakim untuk kepentingan pemeriksaan Penyidik dan penyidik pembantu (atas Penuntut umum untuk kepentingan perintah penyidik) untuk kepentingan penyidikan. Menurut pasal 22 KUHAP penahanan itu dibedakan atas : Pertama Kedua Ketiga : Penahanan rumah tahanan Negara. 3. (43). 353 ayat (1). b. a. pengadilan. 453. (47). 480. dan (48) UU No.

Menurut pasal 137 KUHAP penuntut umum berwenang melakukan penuntutan. Dalam KUHAP masalah penuntutan diatur dalam bab XV dari pasal 137-144. penuntutan atau pemeriksaan disidang pengadilan. Penahanan kota dilaksanakan di kota tempat tinggal atau tempat kediaman tersangka atau terdakwa. 27.Penahanan rumah dilaksanakan dirumah tempat tinggal atau rumah kediaman tersangka atau terdakwa dengan mengadakan pengawasan terhadapnya untuk menghindarkan segala sesuatu yang dapat menimbulkan kesulitan dalam penyidikan. 25. penuntutan ialah tindakan penuntut umum untuk melimpahkan perkara pidana ke Pengadilan Negeri yang berwenang dalam hal ini dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini dengan permintaan supaya diperiksa dan diputus oleh hakim disidang pengadilan. 26. sedang untuk penahanan kota seperlima dari jumlah lamanya penahanan dan untuk rumah sepertiga dari jumlah lamanya waktu penahanan. Penuntutan 20 hari 40 hari 20 hari 30 hari 30 hari 60 hari 30 hari 60 hari 50 hari 60 hari Menurut pasal 1 ayat (7) KUHAP. Menurut pasal 24. 28 KUHAP lamanya masa penahanan sebagai berikut : Penyidik berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh penuntut umum paling lama Penuntut umum berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh Ketua Pengadilan Negeri paling lama Hakim Pengadilan Negeri yang mengadili berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh Ketua Pengadilan Negeri paling lama Hakim Pengadilan Tinggi yang mengadili berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh Ketua Pengadilan Tinggi paling lama Hakim Mahkamah Agung yang mengadili berwenang menahan paling lama Dapat diperpanjang oleh Ketua Mahkamah Agung paling lama 2. tehadap siapapun yang didakwa . dengan kewajiban bagi tersangka atau terdakwa melapor diri pada waktu yang ditentukan. Masa penangkapan dan atau penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatukan.

“Relative Kompetentie”. Dalam hal penuntut umum berpendapat bahwa dari hasil penyidikan dapat dilakukan penuntutan. setelah menerima hasil penyidikan dari penyidik. Dalam hal hasil perkara kepada penyidik disertai petunjuk tentang hal yang harus dilakukan untuk dilengkapi dan dalam waktu empat belas hari sejak tanggal penerimaan berkas. wajib segera dibebaskan (140 ayat (2b)). pengadilan. penuntut umum menerangkan hal tersebut dalam suatu ketetapan (140 ayat (2a)). ia segera menentukan apakah berkas perkara itu sudah memenuhi persyaratan untuk dapat atau tidak dilimpahkan ke pengadilan (pasal 139 KUHAP). Setelah penuntut umum menerima atau menerima kembali hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik.. “Absolute Kompetentie”. Isi surat ketetapan tersebut diberikan kepada tersangka dan bila ia ditahan. tidak kepada lainmacam . segera mempelajari dan menelitinya dan dalam waktu tujuh hari wajib memberitahukan kepada penyidik apakah hasil penyidikan itu sudah lengkap atau belum (ayat 1). ia dalam waktu secepatnya membuat surat dakwaan (140 ayat (1)). Kewenangan/kompetensi mengadili ada dua macam yaitu : (Wirjono Prodjodikoro : 1962).melakukan suatu tindak pidana dalam daerah hukumnya dengan melimpahkan perkara ke pengadilan yang berwenang mengadili. mengenai pemberian kekuasaan mengadili (atributie van rechtsmacht) kepada Pengadilan Negeri. penyidik dan hakim ( 140 ayat (2c)). 2. Pasal 138 KUHAP menentukan penuntut umum. Turunan surat ketetapan itu wajib disampaikan kepada tersangka atau keluarga atau penasihat hukum. penyidik harus sudah menyampaikan kembali berkas perkara kepada penuntut umum (ayat (2)). pejabat rumah tahanan Negara. Dalam hal penuntut umum memutuskan untuk menghentikan penuntutan karena tidak terdapat cukup bukti atas peristiwa tersebut ternyata bukan merupakan tindak pidana atau perkara ditutup demi hukum. mengenai pembagian kekuasaan mengadili (distributie van rechtsmacht) diantara berbagai Pengadilan Negeri. 1.

Setelah semuanya selesai maka akhirnya penuntut umum melimpahkan perkara ke pengadilan negeri dengan permintaan agar segera mengadili perkara tersebut disertai dengan surat dakwaan (pasal 143 ayat (1) KUHAP). apabila pada waktu yang sama atau hampir bersamaan ia menerima beberapa berkas perkara dalam hal ini : a. Beberapa tindak pidana yang bersangkut paut satu dengan Beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh seorang yang sama dan kepentingan pemeriksaan tidak menjadikan halangan terhadap 3. yang lain. Menurut pasal 141 KUHAP maka penuntut umum dapat melakukan penggabungan perkara dan membuatnya dalam satu surat dakwaan. Peradilan Perkara Pidana / Pemeriksaan di Sidang Sesuai dengan ketentuan yang diatur dalam KUHAP ada tiga macam acara pemeriksaan di sidang pengadilan yaitu : 1. Pasal 142 KUHAP selanjutnya menentukan dalam hal penuntut umum menerima salah satu berkas perkara yang memuat beberapa tindak pidana yang dilakukan oleh beberapa orang tersangka yang tidak termasuk dalam ketentuan pasal 141. . penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap masing-masing terdakwa secara terpisah. yang dalamhal ini penggabungan tersebut perlu bagi kepentingan pemeriksaan. Beberapa tindak pidana yang tidak bersangkut paut satu dengan yang lain akan tetapi yang satu dengan yang lain itu ada hubungannya. penuntut umum dapat melakukan penuntutan terhadap tersangka (140 ayat (2d)). b. c.Apabila kemudian ternyata ada alasan baru. penggabungannya. Acara pemeriksaan biasa.

Pada permulaan sidang yang terbuka untuk umum. rumusnya singkat dan jelas. Apabila penuntut umum berkeberatan terhadap surat penetapan Pengadilan Negeri. Apabila Ketua Pengadilan Negeri berpandapat bahwa : perkara yang dilimpahkan penuntut umum tidak termasuk wewenang pengadilan yang dipimpinnya maka ia : 1. diperkirakan tidak mengerti isi surat dakwaan yang dibacakan penuntut umum. Acara pemeriksaan biasa Acara pemeriksaan biasa diatur dalam Bab XVI pasal 152-202 KUHAP. Tertuduh atau penasihat hukumnya mempunyai hak . Surat dakwaan yang tidak dimengerti tertuduh harus dijelaskan oleh penuntut umum. Acara pemeriksaan singkat. 2. harus mudah dimengerti terdakwa.2. Surat dakwaan yang dibuat oleh penuntut umum. hakim ketua sidang menanyakan identitas terdakwa yang tidak memahami seluk-beluk hukum. penuntut umum dalam waktu tujuh hari mengajukan perlawanan ke Pengadilan Tinggi (Pedoman pelaksanaan KUHAP : 1982). b. a. Ketua Pengadilan Negeri berkewajiban mempelajari berkas perkara yang dilimpahkan oleh penuntut umum. Disidang pengadilan yang terbuka itulah pemeriksaan dijalankan seobjektif-objektifnya yang dihadiri oleh khalayak ramai agar dapat mengikuti atau mengawasi jalannya pemeriksaan. Acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu-lintas jalan. Menyerahkan kembali surat pelimpahan perkara tersebut kepada penuntut umum yang selanjutnya Kejaksaan Negeri yang bersangkutan menyampaikan kepada Kejaksaan Negeri di tempat Pengadilan Negeri yang tercantum dalam surat penetapan. Menyerahkan surat pelimpahan perkara tersebut kepada Pengadilan Negeri lain yang dianggap berwenang mengadilinya dengan surat penetapan dan memuat alasannya. Acara pemeriksaan cepat yang membedakan antara : Acara pemeriksaan tindak pidana ringan. 3.

Apabila hakim berpendapat bahwa keberatan terdakwa atau penasihat hukumnya tidak dapat diterima atau baru dapat diputus setelah pemeriksaan selesai maka sidang dilanjutkan. Acara Pemeriksaan Cepat 1. Pemberitahuan yang dicatat dalam berita acara sidang merupakan pengganti surat dakwaan.untuk mengajukan keberatan atas putusan pengadilan untuk mengadili atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus dibatalkan (pasal 156 ayat (1)). Atas keberatan terdakwa atau penasihat hukumnya penuntut umum diberi kesempatan untuk memberikan pendapat dan apabila penuntut umum berkeberatan terhadap keputusan pengadilan yang menerima keberatan terdakwa. . Ada kalanya pada saat pemeriksaan tambahan dinyatakan dalam pasal 203 ayat (3) sub b sebagai berikut : “dalam hal hakim memandang perlu pemeriksaan tambahan. Acara pemeriksaan singkat Yang dimaksud dengan Acara pemeriksaan singkat ialah : Acara pemeriksaan yang menurut penuntut umum pembuktiannya mudah dan sederhana (pasal 203 KUHAP).Acara pemeriksaan tindak pidana ringan. Penuntut umum menghadapkan terdakwa dengan memberitahukan dari catatan kepada terdakwa tentang tindak pidana yang didakwakan kepadanya. penuntut umum dapat mengajukan perlawanan kepada pengadilan tinggi. sedangkan isi surat putusan tersebut adalah sama dengan putusan pengadilan acara biasa atau mempunyai kekuatan hukum yang sama (Pedoman Pelaksanaan KUHAP : 1982). maka hakim memerintahkan sidang diajukan ke sidang pengadilan dengan acara biasa”. Dalam acara pemeriksaan singkat ini penuntut umum tidak hanya menerima berkas perkara dari penyidik. tetapi juga secara langsung menerima dari penyidik pembantu. tetapi dicatat dalam berita acara sidang. Dalam acara pemeriksaan singkat ini. supaya diadakan pemeriksaan tambahan dalam waktu paling lama empat belas hari dan bilamana dalam waktu tersebut penuntut umum belum juga dapat menyelesaikan pemeriksaan tambahan. amar putusan tidak dibuat secara khusus.

Berita acara pemeriksaan sidang. berdasarkan buku register. Z. Dasar dari pemeriksaan dalam sidang ialah buku register yang disediakan khusus untuk itu. Untuk mengadili perkara dengan acara pemeriksaan tindak pidana ringan ini pengadilan menetapkan hari tertentu (pasal 206).Yang dimaksud dengan acara pemeriksaan tindak pidana ringan ialah acara pemeriksaan perkara pidana yang diancam denga pidana penjara atau kurugan paling lama tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp 7.00 dan penghinaan ringan (pasal 205 ayat (1)). Dalam pemeriksaan tindak pidana ringan antara lain ditentukan bahwa pengadilan mengadili dengan hakim tunggal pada tingkat pertama dan terakhir. : Pemeriksaan dilakukan oleh hakim tunggal. . Loudoe: 1982). Putusan dicatat oleh hakim dalam daftar catatan perkara dan selanjutnya oleh panitera dicatat dalam buku register surat. selanjutnya catatan bersama berkas dikirim ke pengadilan yang harus menyidangkan perkara tersebut pada hari itu juga. Pertama Kedua Ketiga : Sidang tanpa hadirnya penuntut umum. ditandatangani oleh hakim yang bersangkutan dan panitera pasal 209 ayat (1). dan tempat ia harus menghadap pengadilan. Acara pemeriksaan tindak pidana ringan diawali dengan pemberian secara tertulis kepada terdakwa tentang hari. Saksi dalam acara tidak mengucap sumpah atau janji kecuali hakim menganggap perlu (pasal 208). : Putusan dicatat dalam buku register berdasarkan daftar catatan perkara yang dibuat oleh hakim. tanpa kewajiban membuat berita acara. tidak dibuat kecuali jika dalam pemeriksaan ternyata ada hal yang tidak sesuai dengan berita acara pemeriksaan yang dibuat oleh penyidik (pasal 209 ayat (2)). jam.500. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam acara pemeriksaan tindak pidana ringan ialah (J. tanggal. kecuali dalam hal dijatuhkan pidana perampasan kemerdekaan terdakwa dapat minta banding (pasal 205 ayat (3)).

melainkan penyidik hanya mengirimkan catatan dengan segera ke pengadilan selambat-lambatya pada kesempatan hari sidang pertama berikutnya setelah catatan tersebut diserahkan ke pengadilan. (pasal 77a). Jika putusan setelah mengajukan perlawanan tetap berupa pidana dimana sebelumnya terdakwa tidak hadir telah dijatuhi putusan pidana perampasan kemerdekaan. penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan . Pemeriksaan tentang sah atau tidaknya suatu penangkapan atau penahanan atau tentang ganti rugi dan atau Perkara mengenai sengketa tentang sah atau tidaknya penangkapan. : Acara pemeriksaan tidak mengenal putusan diluar hadirnya terdakwa. Dalam acara pemeriksaan perkara ini tidak memerlukan berita acara pemeriksaan. Dalam perkara ini terdakwa dapat mengajukan perlawanan dalam waktu tujuh hari setelah putusan diucapkan. Penuntut umum tidak perlu membuat kontra memori banding (Pedoman pelaksanaan KUHAP 1982). Perkara mengenai ganti kerugian atau rehabilitasi bagi sseorang yang perkara pidananya dihentikan pada tingkat penyidikan atau tingkat penuntutan (pasal 77b). 2.Keempat Kelima : Pengadilan mengadili dalam tingkat pertama dan terakhir dengan pengecualian pidana perampasan kemerdekaan. Sidang cukup dipimpin oleh hakim tunggal dibantu oleh seorang panitera. penahanan. 2. Disamping ketiga acara pemeriksaan yang sudah diuraikan diatas dalam KUHAP dikenal “pra peradilan” (yang tidak dikenal dalam HIR). maka terhadap putusan tersebut terdakwa dapat mengajukan banding. Komposisi sidang pra peradilan berbeda dengan pengadilan negeri. Pra peradilan merupakan wewenang lain dari pengadilan negeri untuk memeriksa : 1.Acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu-lintas jalan Yang dimaksud dengan acara pemeriksaan perkara pelanggaran lalu-lintas jalan ialah perkara pelanggaran tertentu terhadap peraturan perundang-undangan lalu-lintas jalan.

yang untuk itu panitera mengirimkan salinan surat putusan kepadanya. kecuali dalam putusan acara pemeriksaan cepat yang harus segera dilunasi (273 ayat (1) KUHAP). Loudoe: 1982). putusan pengadilan dapat berupa : Pertama Kedua Ketiga : Bebas dari segala tuduhan / vrijspraak : Lepas dari segala tuntutan hukum / ontslag van rechtsvervolging. Acara pemeriksaan pra peradilan harus cepat dan singkat oleh karena dalam jangka waktu sepuluh hari setelah diterimanya penuntutan. hakim yang bersangkutan sudah harus menjatuhkan putusannya (J. 4. akibat tidak sahnya penangkapan atau penahanan atau akibat sahnya penghentian penyidikan atau penghentian penuntutan diawali dengan suatu permintaan (request) oleh tersangka. Menurut pasal 270 KUHAP pelaksanaan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dilakukan oleh jaksa. Z. Dalam hal pengadilan menjatuhkan juga putusan ganti kerugian pelaksanaannya dilakukan menurut tata cara putusan . Pelaksanaan Putusan Pengadilan Yang dimaksud dengan putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka. Dalam KUHAP pelaksanaan putusan pengadilan diatur dalam bab XIX pasal 270276. Jika putusan pengadilan menjatuhkan pidana denda tersebut. Yang dimaksud dengan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap ialah terhadap putusan tersebut tidak dapat lagi dilawan dengan upaya hukum (rechtsmiddelen) yang ada seperti banding dan kasasi. yang dapat berupa pemindahan atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam KUHAP (pasal 1 ayat (111) KUHAP). Bila diperinci lebih lanjut pengertian tersebut diatas.rehabilitasi. Dalam hal pidana mati pelaksanaannya dilakukan tidak dimuka umum dan menurut ketentuan undang-undang (271 KUHAP). keluarga atau kuasanya kepada ketua pengadilan negeri dengan menyebutkan akhirnya. : Pemindahan / veroordelend vonnis.

maka biaya perkara dan atauganti kerugian dibebankan kepada mereka bersama-sama secara berimbang. . Apabila lebih dari satu orang dipidana dalam satu perkara.perdata (274 KUHP).

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->