Anda di halaman 1dari 4

OSTEOMIELITIS Osteomielitis adalah inflamasi yang terjadi pada bagian medula tulang, namun proses terjadinya osteomielitis tidak

terbatas pada endosteum, Osteomielitis juga dapat terjadi pada tulang kortikal dan periosteum. Oleh karena itu osteomielitis dapat diianggap kondisi inflamasi pada tulang yangbiasanya diawali sebagai inflamasi pada daerah medula, dengan cepat melibatkan sistem havers dan menyebar sampai ke periosteum pada area inflamasi. Inflamasi menjadi menetap pada bagian yang terkalsifikasi pada tulang, sedangkan pus berada di dalam kavitas medula. Osteomielitis pada rahang, seperti osteomielitis pada tulang-tulang panjang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis, streptococcus hemolitika, dan beberapa bakteri anaerob seperti bacteroides atau peptococci. Sering kali terjadi infeksi campuran. Hal ini berkaitan dengan pemilihan perawatan antibiotik : dapat digunakan penicillin dan metronidazole sebagai dual-drug atau clindamycin sebagai singledrug. Terapi antimikroba yang definit disesuaikan berdasarkan pemeriksaan akhir kultur dan sensitivitas untuk menghasilkan pengobatan yang maksimal. Faktor predisposisi Terjadinya osteomielitis diantaranya dipengaruhi oleh frekuensi dan keparahan infeksi odontogenik, penyakit sistemik yang dapat menurunkan pertahanan tubuh manusia, penyakitpenyakit seperti diabetes; penyakit autoimun; agranulosit; leukimia; anemia berat; malnutrisi; kemoterapi kanker; konsumsi obat steroid; penyakit sel bulan sabit; dan AIDS, rokok dan alkohol, dan kondisi-kondisi yang dapat mengubah vaskularisasi tulang tempat terjadinya osteomielitis termasuk radiasi, osteoporosis, osteopetrosis, penyakit Pagets tulang, displasia fibrosa, kanker tulang, dan nekrosis tulang yang disebabkan oleh merkuri, bismuth, dan arsen. Patogenesis Pada regio maksilofasial, osteomielitis terutama terjadi sebagai hasil penerusan penyebaran infeksi odontogenik atau hasil dari trauma. Pada orang dewasa, proses diawali dengan adanya inokulasi bakteri ke dalam tulang rahang. Hal ini dapat terjadi pada ekstraksi gigi, terapi saluran akar, atau fraktur pada maksila dan mandibula. Proses awal ini menghasilkan proses inflamasi yang diinduksi oleh bakteri Pada host yang normal dan imunokompromais, terdapat potensi untuk self limiting dan penyembuhan (healing) sampai pada saat suatu kondisi dipertimbangkan sebagai kondisi yang patologis. Dengan adanya inflamasi, terjadi hiperemi dan peningkatan aliran darah ke daerah inflamasi. Leukosit tambahan disuplai untuk mengurangi infeksi. Pus terbentuk ketika jumlah bakteri yang berlebih dan debris seluler tidak dapat dieliminasi oleh mekanisme pertahanan alami. Ketika pus dan proses respon inflamasi berlanjut, terjadi peningkatan tekaan intramedular yang mengakibatkan suplai darah ke sumsum tulang menjadi berkurang. Pus kemudian dapat bergerak ke sistem haversian dan kanal Volkmann menyebar keluar medula menuju tulang kortikal. Kemudian pus perforasi terhadap tulang kortikal dan

menumpuk di bawah periosteum, suplai darah perosteal terkompromais dan membuat keadaan lokal semakin memburuk. Pada tahap akhir, pus keluar menuju jaringan lunak melalui fistula intraoral maupun ekstraoral. Beberapa gejala umum yang tampak pada penderita osteomielitis adalah rasa sakit, bengkak dan eritema pada jaringan yang menutupi daerah inflamasi, adenopati, demam, paresthesia nervus alveolar inferior, trismus, malaise, dan adanya fistula. Osteomielitis diklasifikasikan sebagai supuratif dan non-supuratif dan sebagai akut, subakut dan kronis.

Periostitis proliferatif ( Garres sclerosing osteomielitis) Periostitis proliferatif ( kronik nonsupuratif sclerosing osteomielitis, periostitis Garre, Garres sclerosing osteomielitis, dan periostitis osifikans) adalah iritasi yang menginduksi terjadinya penebalan pada periosteum dan tulang kortikal pada tibia. Penyakit ini terjadi terutama pada anak dan dewasa dan jarang pada orang tua. Karakteristik klinis periositits proliferatif adalah adanya penebalan tulang yang terlokalisasi, keras, tidak lembek, dan unilateral pada aspek lateral dan inferior mandibula. Kulit yang menutupi lesi tampak normal. Limfadenopati, demam, dan leukositosis biasanya tidak terjadi. periostitis proliferatif umumnya berkaitan dengan karies/lubang gigi pada molar pertama rahang bawah, dengan adanya riwayat rasa sakit gigi. Secara radiografi, sebuah area terpusat proliferasi pada tulang yang terkalsifikasi dengan baik tampak halus, dan terkadang terlapisi atau tampak onion skin. Penampakan radiolusen berhubungan dengan apeks pada gigi yang terlibat. Periostitis proliferatif dipertimbangkan sebagai respon terhadap infeksi tingkat rendah atau iritasi yang mempengaruhi aktivitas potensi periosteum pada individu muda untuk membentuk tulang baru. Staphylococcus aureus dan Staphylococcus epidermidis ditemukan dalam spesimen biopsi lesi. Ewings sarcoma, osteosarcoma, dan kortikal hiperperiostosis (penyakit Caffeys) memiliki gambaran radiografis yang mirip dengan proliferatif perostitis. Jika tidak ada penyakit pada gigi atau lesi tetap ada meskipun telah diberikan perawatan pada kondisi patologis dental, maka perlu dilakukan biopsi untuk menegakkan diagnosis. Secara histologis, lesi terdiri dari pembentukan tulang baru dengan sumsum tulang yang fibrous mengandung sel inflamasi kronis. Perawatan yang dilakukan adalah dengan menghilangkan sumber inflamasi. Jika gigi yang terlibat sudah tidak dapat direstorasi lagi, maka diindikasi untuk ekstraksi. Terapi endodontik dapat dilakukan dengan baik setelah menghilangkan massa inflamasi. Pemberian antibiotik tidak berhasil untuk penyakit ini. Perkembangan setelah dilakukan perawatan harus dipantau. Apabila lesi terus ada dan bertambah besar setelah dilakukan perawatan dengan

benar, maka perlu dilakukan biopsi segera. Remodeling dari mandibula pada umumnya terjadi setelah perawatan yang berhasil terhadap kondisis gigi, tapi deformitas bisa tetap statis. Pada kondisi ini operasi rekontur mungkin diperlukan.

Ciri khas Garres : onions skin Osteomielitis sklerosis kronis Sifat dan penyebab dari lesi sklerosis pada rahang belum dapat disepakati. Terdapat dua tipe lesi yang sangat berbeda pada sklerosis: lesi yang difus dan hanya melibatkan mandibula (osteomielitis sklerosis difus kronis) dan lesi yang tampak sebagai masa opak, terbatas pada prosesus alveolaris dan dapat terjadi pada kedua rahang ( florid osseus dysplasia). Osteomielitis sklerosis difus kronis Tanda primer osteomielitis sklerosis difus kronis adalah inflamasi, nonsupuratif, nyeri, dan berkepanjangan. Osteomielitis sklerosis difus kronis hanya terjadi pada mandibula dan mempengaruhi tulang basal dan prosesus alveolar, sehingga mempengaruhi ketinggian mandibula secara keseluruhan dan biasanya unulateral. Selain terjadi pada tubuh mandibula, dapat juga mempengaruhi angulus, ramus, dan bahkan kondilus. Tulang biasanya tampak lebar dan lunak. Terjadi pembengkakan yang berulang dan terasa sakit. Penyakit ini terutama terjadi pada orang dewasa usia 30-an dan mungkin dewasa tua usia 60-an.

Secara radiografi terdapat sklerosis intramedula dengan batas tak jelas yang dikenali dengan adanya area radioopak dan radiolusen yang jarang-jarang. Demam dan leukositosis biasanya tidak terjadi, namun biasanya terjadi peningkatan sedimentasi eritrosit. Penyebab terjadinya osteomielitis difus kronis masih menadi kontoversi, karena infeksi, penggunaan berlebih pada rahang, maloklusi, dan posisi rahang yang tidak normal. Pada pemeriksaan sampel jaringan, terdapat bakteri E. Corrodens, Actynomyces, Arachnia, dan Bacteroides sp. Perawatan yang dilakukan sama dengan perawatan untuk osteomielitis supuratif kronis: antibiotik dosis tinggi jangka panjang untuk perawatan osteomielitis actinomikotik, menghilangkan sumber infeksi, irigasi lesi, antibiotik dan debridement. Dekortikasi, reseksi, dan rekontruksi mungkin diperlukan pada penyakit yang menyebar dan berkepanjangan, dan terapi HBO untuk kasus yang sulit disembuhkan