Anda di halaman 1dari 4

KLASIFIKASI DAN DIAGNOSIS PTERYGIUM

Pterygium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Pertumbuhan ini biasanya terletak pada celah kelopak bagian nasal ataupun temporal konjungtiva yang meluas kedaerah kornea. Menurut Hamurwono pterygium merupakan konjungtiva bulbi patologik yang menunjukkan penebalan berupa lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke kornea dengan puncak segitiga di kornea. Pterygium mudah meradang dan bila terjadi iritasi, maka bagian pterygium akan berwarna merah. Pterygium dapat mengenai kedua mata.1,2,3 Pterygium berasal dari bahasa yunani, yaitu pteron yang artinya wing atau sayap. Insidens pterygium di Indonesia yang terletak digaris ekuator, yaitu 13,1%. Diduga bahwa paparan ultraviolet merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterygium.1,2,3 Secara histologis, pterygium menujukkan perubahan yang sama dengan pinguekula. Epitel dapat saja normal, akantotik, hiperkeratosis atau bahkan displasia. Pemeriksaan sitologi pada permukaan sel pterygium terlihat abnormal dan menunjukkan peningkatan densitas sel goblet dengan metaplasia squamosa juga menunjukkan adanya permukaan sitologi yang abnormal pada area lain di konjungtiva bulbi pada area tanpa adanya pterygium. Substansia propria menunjukkan degenerasi elastotik jaringan kolagen seperti yang dilaporkan oleh Austin dkk2 seperti elastodisplasia dan elastodistropi. Kolagen selanjutnya menghasilkan maturasi dan degenarasi abnormal. Sumber serat atau fiber kemungkinan berasal dari fibroblast yang mengalami degenerasi.1 Patogenesis pterygium belum diketahui dengan pasti. Terdapat beberapa teori tentang patogenesis pterygium yang berkembang sekarang teori degenerasi, inflamasi, neoplasma, tropik ataupun teori yang menghubungkan dengan sinar UV.1

Gambar 2. Pterygium

1. Faktor Risiko Faktor risiko yang mempengaruhi antara lain : 1. Usia Prevalensi pterygium meningkat dengan pertambahan usia banyak ditemui pada usia dewasa tetapi dapat juga ditemui pada usia anak-anak. Tan berpendapat pterygium terbanyak pada usia dekade dua dan tiga. Di RSUD AA tahun 2003-2005 didapatkan usia terbanyak 31 40 tahun yaitu 27,20%. 2. Pekerjaan Pertumbuhan pterygium berhubungan dengan paparan yang sering dengan sinar UV. 3. Tempat tinggal Gambaran yang paling mencolok dari pterygium adalah distribusi geografisnya. Distribusi ini meliputi seluruh dunia tapi banyak survei yang dilakukan setengah abad terakhir menunjukkan bahwa negara di khatulistiwa memiliki angka kejadian pterygium yang lebih tinggi. Survei lain juga menyatakan orang yang menghabiskan 5 tahun pertama kehidupannya pada garis lintang kurang dari 300 memiliki risiko penderita pterygium 36 kali lebih besar dibandingkan daerah yang lebih selatan. 4. Jenis kelamin Tidak terdapat perbedaan risiko antara laki-laki dan perempuan.

5. Herediter Pterygium diperengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara autosomal dominan. 6. Infeksi Human Papiloma Virus (HPV) dinyatakan sebagai faktor penyebab pterygium. 7. Faktor risiko lainnya Kelembaban yang rendah dan mikrotrauma karena partikel-partikel tertentu seperti asap rokok , pasir merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterygium.2,5

2. Klasifikasi Berdasarkan gradasi klinis menurut Youngson: 1. Kepala jaringan pterygium pada limbus. 2. Kepala jaringan pterygium di kornea berada diantara limbus dan pertengahan jarak limbus ke tepi pupil. 3. Kepala jaringan pterygium di kornea berada diantara pertengahan jarak limbus ke tepi pupil dan tepi pupil. 4. Kepala jaringan pterygium telah melewati tepi pupil.4

Daftar Pustaka
1. Ilyas S. Ilmu Penyakit Mata, edisi kedua. Jakarta: Balai Penelitian FKUI,2003. 119120 2. Hamurwono GD, Nainggolan SH, Soekraningsih. Buku Pedoman Kesehatan Mata dan Pencegahan Kebutaan Untuk Puskesmas. Jakarta: Direktorat Bina Upaya Kesehatan Puskesmas Ditjen Pembinaan Kesehatan Masyarakat Departemen Kesehatan, 1984. 14-17 3. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia (PERDAMI), Editor Tahjono. Dalam panduan manajermen klinik PERDAMI. CV Ondo Jakarta; 2006. 56 58

4. Departemen Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Prosedur Diagnostik dan Penatalaksanaan Pengobatan di Sub Bagian Kornea, Lensa dan Bedah Refraktif. Dalam: Standard Pelayanan Medis Mata. Palembang;2007. 9091 5. Tan D T.H Ocular Surface Diseases Medical and Surgical Management. New York: Springer, 2002. 65 83