P. 1
Bab 2 Kondisi Umum

Bab 2 Kondisi Umum

|Views: 609|Likes:
Dipublikasikan oleh Hakim Gaul

More info:

Published by: Hakim Gaul on Apr 06, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

Sections

  • 2.1.1 Geografis
  • 2.1.2. Iklim
  • 2.1.3 Geologi dan Fisiografi
  • 2.1.4. Ekologi
  • 2.2. Kependudukan
  • 2.3. Tenaga Kerja
  • 2.4 Pemberdayaan Perempuan
  • 2.5.1. Kesehatan
  • 2.5.2 Kemiskinan
  • 2.5.3 Pendidikan
  • 2.5.4 Nilai Adat dan Hak Ulayat
  • 2.6 Politik
  • 2.7 Keamananan dan Ketertiban Wilayah
  • 2.8.1 Pertambangan
  • 2.8.2 Kehutanan
  • 2.8.3 Perikanan
  • 2.9.1 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)
  • 2.9.2 Pertumbuhan PDRB Perkapita
  • 2.9.3 Pertumbuhan Tenaga Kerja
  • 2.9.4 Struktur Perekonomian Daerah
  • 2.10 Keuangan Daerah
  • 2.11 Transportasi dan Komunikasi
  • 2.12 Ketersediaan Sarana
  • 2.13 Aparatur Pemerintahan
  • 2.14 Hukum dan Kelembagaan
  • 2.15 Daya Saing Wilayah
  • 2.16.1 Keterisoliran Wilayah (Kampung dan Distrik)
  • 2.16.2 Terbatasnya Kapasitas Sumber Daya Manusia
  • 2.16.3 Rendahnya Daya Saing Pengusaha Lokal
  • 2.16.4 Tingginya Angka Kemiskinan
  • 2.16.5 Pertumbuhan Wilayah yang Tidak Merata
  • 2.16.6 Ketidakseimbangan Struktur Ekonomi Wilayah
  • 2.16.7 Kurang efektifnya Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan
  • 2.16.8 Minimnya Akses Masyarakat terhadap Sumber Daya Alam
  • 2.16.9 Minimnya Sarana dan Prasarana Publik
  • 2.16.10 Lemahnya Kapasitas Kelembagaan Publik
  • 2.17.1 Pembangunan Manusia
  • 2.17.2 Pengakuan Hak Dasar
  • 2.17.3 Pengembangan Ekonomi Rakyat
  • 2.17.4 Penyediaan Prasarana Dasar
  • 2.17.5 Integrasi Wilayah
  • 2.17.6 Penyebaran dan Pemerataan Pertumbuhan
  • 2.17.7 Pelestarian Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam
  • 2.17.8 Pengembangan Kelembagaan

K o n d i s i

U m u m

2.1 Fisik 2.1.1 Geografis Secara geografis, wilayah Provinsi Irian Jaya Barat terletak dibawah katulistiwa, antara 00 25’ – 40 18’ Lintang Selatan dan 1240 0’-1320 0’ Bujur Timur dengan batas – batas administratif wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Selatan Sebelah Timur : : : : Samudera Pasifik Laut Seram Provinsi Maluku Laut Banda Provinsi Maluku Provinsi Papua

Secara administratif, Provinsi Irian Jaya Barat terdiri dari 8 Kabupaten dan 1 Kota. Luas wilayah Provinsi Irian Jaya Barat adalah 115.363,50 km2, dimana Kabupaten Teluk Bintuni merupakan daerah yang terluas yaitu 18.658 km2, sedangkan Kota Sorong merupakan daerah dengan luas terkecil, yaitu 1.105 km2. Gambar 2.1 : Peta Letak Geografis Provinsi Irian Jaya Barat

Samudera Pasifik

Laut Banda

Laut Seram

Provinsi Papua

RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011

II - 1

K o n d i s i

U m u m

Luas masing–masing Kabupaten/Kota dan Jumlah distrik serta kampung di Provinsi Irian Jaya Barat adalah sebagaimana terdapat pada Tabel 2.1 berikut : Tabel 2.1 : Luas Wilayah dan Jumlah Distrik Se-Kabupaten/Kota Jumlah Luas No Kabupaten/Kota 2 Km Distrik Kampung 1 Manokwari 14.448,50 29 414 2 Teluk Bintuni 18.658,00 11 95 3 Teluk Wondama 4.996,00 7 56 4 Kaimana 18.500,00 7 81 5 Fakfak 14.32,00 9 103 6 Sorong Selatan 13.265,00 14 214 7 Sorong 18.170,00 12 105 8 Kota Sorong 1.105,00 5 9 Raja Ampat 11.901,00 10 85 Total 115.363,50 104 1153 Sumber: Irian Jaya Barat Dalam Angka Tahun 2006

Kelurahan 9 2 1 5 3 5 22 47

Jumlah kampung dan kelurahan sebagaimana disajikan dalam tabel di atas, yaitu sebanyak 1153 Kampung dan 47 Kelurahan. Sebaran kampung dan kelurahan berdasarkan topografinya : 33,45% berada di pesisir, 15,17% berada di daerah aliran sungai, 25% berada di lereng/punggung bukit dan 26,38% berada di dataran.

2.1.2. Iklim Provinsi Irian Jaya Barat sebagai bagian dari pulau Papua terletak di Selatan garis khatulistiwa yang dipengaruhi dengan iklim tropis sepanjang tahun. Hasil pencatatan suhu udara pada stasiun yang berada di kabupaten/kota se-Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 menunjukkan bahwa suhu rata-rata tertinggi di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong yaitu sebesar 27,70 ºC. Kelembaban udara hampir merata di seluruh wilayah yakni sebesar 83,6-85 persen dimana angka terendah adalah Kabupaten Manokwari dan tertinggi di Kabupaten Fakfak. Tekanan udara rata-rata tertinggi terjadi di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong sebesar 1.010,7 mbs. Curah hujan sepanjang Tahun 2005 di beberapa wilayah di Provinsi Irian Jaya Barat tercatat bahwa curah hujan tertinggi berada di Kabupaten Fakfak yaitu sebesar 3.209 mm, sedangkan yang terendah terjadi di Kabupaten Kaimana yang hanya mencapai 127 mm. 2.1.3 Geologi dan Fisiografi Pulau Papua dalam proses pembentukan tektonik lempeng, secara umum erat kaitannya dengan posisi Indonesia dalam teori kulit bumi yang diapit oleh berbagai formasi lempeng dari berbagai arah. Posisinya terletak di ujung paling selatan dari lempeng Eurasia yang bergerak dari arah Barat Daya khatulistiwa kemudian bertumbukan dengan lempeng Indo-Australia dan Pasifik di bagian Utara Pulau
RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011

II - 2

K o n d i s i

U m u m

Papua. Kecepatan tumbukan kedua lempeng ini diperkirakan antara 7 - 11 cm per tahunnya akan tetapi implikasi lanjutannya sangat luar biasa seperti yang pernah terjadi pada tahun 1996 lalu, yaitu peristiwa Tsunami di Pantai Utara Papua yang berdampak pada Pesisir Utara Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Manokwari. Akibat interaksi kedua lempeng kerak bumi tersebut banyak terjadi lipatan (pegunungan) dan patahan di daerah Papua. Bentukan patahan-patahan ini yang menimbulkan daerah atau wilayah-wilayah yang berpotensi gempa. Secara keseluruhan jumlah gempa bumi yang dirasakan di Papua selama tahun 2004 sebanyak 45 kali, lebih banyak dirasakan bila dibandingkan tahun sebelumnya hanya 11 kali. Topografi wilayah Kepala Burung yang menjadi wilayah Provinsi Irian Jaya Barat sangat bervariasi dari datar sampai bergunung – gunung dengan puncak – puncak yang tinggi, dimana daerah lembah – lembah yang datar tersebar di sekitar Teluk Bintuni, Isim, Prafi, Warsamson, Wosimi dan Teluk Arguni. Sementara kelompok pegunungan dengan puncaknya yang mencapai 3000 m dpl, antara lain Pegunungan Arfak, Pegunungan Tamrauw, Pegunungan Kumawa, Pegunungan Fakfak dan Pegunungan Wondiboi. Berdasarkan data Topografi dan Kemiringan Lahan, lebih dari 50% lahan di Provinsi Irian Jaya Barat memiki prosentase kemiringan lahan lebih dari 40% atau dikategorikan sangat curam. Dari total luas lahan, hanya 2.524.944 Ha yang potensial dikembangkan sebagai areal permukiman. Tabel 2.2 : Topografi Luas Kemiringan Lahan
No. 1. 2. 3. Jenis Lahan Bergelombang Curam Sangat Curam Prosentase Kemiringan (%) 3 – 15 16 – 40 >40 Luas (Ha) 2.524.944 2.795.754 5.556.300

Sumber : Profil Daerah Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 2.1.4. Ekologi Pulau New Guinea secara administratif terbagi dalam dua wilayah, yaitu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terbagi kedalam Provinsi Papua dan Provinsi Irian Jaya Barat dan Negara Papua New Guinea. Sebagai pulau tropis yang terbesar di dunia, Pulau New Guinea memiliki keragaman dan keunikan ekosistem yang mengagumkan, termasuk glasier dan ekosistem alpine, hutan berkabut, hutan hujan dataran rendah, padang rumput, hutan Mangrove, terumbu karang dan hamparan rumput laut. Banyak spesies yang ada di New Guinea memiliki status endemik atau secara alamiah tidak dapat ditemukan di tempat lain. Secara keseluruhan, pulau New Guinea memiliki sedikitnya 500.000 jenis flora dan fauna. Dari jumlah tersebut, diduga sekitar 20.000 sampai 25.000 jenis tanaman hidup di wilayah Propinsi Papua dan Irian Jaya Barat.

RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011

II - 3

K o n d i s i

U m u m

Ekosistem berkelas dunia yang ada di wilayah ini adalah ekosistem Mangrove yang luas (260.000 Ha) di Teluk Bintuni yang merupakan salah satu yang terpenting di dunia dan ekosistem Terumbu Karang di Raja Ampat yang sangat kaya keanekaragaman hayatinya. 2.2. Kependudukan Dari hasil perhitungan berdasarkan Sensus Penduduk, laju pertumbuhan penduduk Provinsi Irian Jaya Barat selama tiga dasawarsa terakhir selalu meningkat. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk tahun 1971-1980, 1980-1990 dan 1990- 2000 berturut-turut adalah 2,78%, 3,12% dan 4,01%. Pada tahun 1971 jumlah penduduk tercatat sebanyak 221.457 jiwa, tahun 1980 meningkat menjadi 283.493 jiwa, dan pada tahun 1990 jumlah penduduk menjadi 385.509 jiwa. Pada tahun 2000 jumlahnya menjadi 571.107 jiwa. Peningkatan laju pertumbuhan penduduk ini diperkirakan akan terus berlangsung mengingat aktivitas kegiatan ekonomi dan pemekaran wilayah yang ada saat ini. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2005 jumlah penduduk tercatat sebesar 651.958 jiwa., terdiri dari 343. 920 jiwa penduduk laki-laki dan 308.038 jiwa penduduk perempuan. Bila dibandingkan dengan luas wilayah, maka kepadatan penduduk 6 jiwa per km dengan rata-rata 4 anggota setiap rumah tangga. Dari persebaran penduduk, Kota Sorong mempunyai kepadatan penduduk yang sangat mencolok dibandingkan dengan kabupaten lainnya yakni 137 jiwa per km² dan yang paling sedikit adalah Kabupaten Kaimana 2 jiwa per km². Tabel 2.3 : Jumlah dan Kepadatan Penduduk per km² dan per Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota Luas Wilayah Jumlah
Penduduk Rumah tangga

Kabupaten/Kota

Kepadatan Penduduk
Per km² Per Rumah tangga

Fakfak 14.320 59.773 Kaimana 18.500 37.649 Teluk Wondama 4.996 20.698 Teluk Bintuni 18.658 48.079 Manokwari 14.448,50 154.421 Sorong Selatan 13.265 55.001 Kabupaten Sorong 18.170 88.259 Raja Ampat 11.901 37.018 Sorong 1.105 151.060 Total 115.363,50 651.958 Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat 2006 2.3. Tenaga Kerja

14.943 9.412 5.174 12.020 38.605 11.000 22.065 9.254 37.765 162.990

4 2 4 3 11 4 5 3 137 6

4 4 4 4 4 5 4 4 4 4

Permasalahan mengenai ketenagakerjaan selalu menjadi pokok masalah yang dihadapi daerah, apalagi bagi Provinsi Irian Jaya Barat sebagai provinsi baru. Persoalan utama ketenagakerjaan adalah masih rendahnya penyediaan lapangan kerja dan minimnya tenaga terampil yang dibutuhkan oleh pasar kerja, akibat tingkat
RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011

II - 4

K o n d i s i U m u m pendidikan yang rendah. total jumlah pengangguran di Provinsi Irian Jaya Barat sebesar 32. penduduk bekerja paling banyak merupakan tamatan SD ke bawah. b. Secara keseluruhan alih pekerjaan dan program pembangunan ekonomi ini belum didukung sepenuhnya oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai.5 . Berdasarkan data BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006. Pengangguran Pengangguran meliputi empat kelompok. Dari total Angkatan Kerja di Provinsi Irian Jaya Barat yang paling tinggi ada di Kabupaten Manokwari. yaitu sebanyak 98.1%.07%) untuk laki-laki dan sebanyak 25.21%. mempersiapkan suatu usaha. yakni penduduk berusia 15 tahun ke atas disebut penduduk usia kerja Tahun 2005 mencapai 405.90%) untuk perempuan. Usia Kerja Data usia kerja. sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . yang terdiri dari 13.413 orang. sehingga masih terjadi pengangguran di seluruh wilayah.968 orang.250 perempuan.583 orang. Sedangkan jika dilihat berdasarkan kota/kabupaten.747 (63%) dari total jumlah penduduk. Sementara itu.333 laki-laki dan 19. Kemudian terbanyak kedua adalah Kota Sorong. sebesar 46. Penduduk yang bekerja dengan pendidikan S1 ke atas hanya 2.274 orang. a. Penduduk Bekerja Menurut Usia Pendidikan Berdasarkan tingkat pendidikan. Kabupaten Manokwari jumlah penduduk usia kerja paling banyak dibandingkan kota lainnya. yaitu sebesar 82%. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas Sumber Daya Manusia Irian Jaya Barat sangat rendah dan sulit memperoleh kesempatan dan bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di sektor-sektor modern.312 orang (24. sebanyak 86.917 orang (25. Untuk penduduk usia kerja yang tertinggi terkonsentrasi di kelompok umur 25-29 tahun yaitu sebesar 61. c. yakni penduduk yang sedang mencari pekerjaan. merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan. terjadi pergeseran pekerjaan dari sektor tradisional menjadi modern terjadi di Provinsi Irian Jaya Barat juga menjadi persoalan yang harus dihadapi Provinsi Irian Jaya Barat saat ini. Bahkan untuk perempuan yang bekerja yang berpendidikan SD ke bawah sangat tinggi. yaitu sebesar 69.

Tingginya angka kemiskinan merupakan faktor penyebab rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. seperti penyakit menular dan penyakit yang berhubungan dengan sanitasi. 2. Akibatnya peluang dan kesempatan perempuan masih sangat terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumber daya pembangunan. terlihat bahwa perempuan yang bekerja dengan tingkat pendidikan SD kebawah adalah paling banyak.00 40.00 30. seperti malaria.00 60.00 SD Kebawah SLTP SMU & SMK D1 / II / III S1 Keatas LA KI-LA KI P EREM P UA N Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 2. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .K o n d i s i U m u m Gambar 2.5 Sosial Budaya 2.00 80. sebesar 82%. Kenyataannya dalam aspek pembangunan.00 10. Perempuan merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri.4 Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan dan Keadilan Gender sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut.2 : Persentase Penduduk Yang Bekerja Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 90. Nilai adat yang belum berpihak pada perempuan adalah salah satu kendala bagi kemajuan perempuan di Irian Jaya Barat.6 . perempuan kurang dapat berperan aktif. tuberkulosis. baik dalam lingkup keluarga maupun lingkungan sosial yang lebih luas. Ini menunjukkan bahwa masih rendahnya tingkat pendidikan perempuan di Provinsi Irian Jaya Barat.00 50.5. Kesehatan Tingkat kesehatan masyarakat di wilayah ini tergolong terendah dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia. Paling serius dari risiko kesehatan tersebut adalah angka kesakitan yang tinggi. dan diare. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi perempuan yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki. tidak hanya di propinsi Irian Jaya Barat saja. Partisipasi aktif perempuan dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan. juga rendahnya tingkat pendidikan. Dari data BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006.00 20.00 0. Kurang berperannya kaum perempuan.00 70.1.

2 Kemiskinan BPS Provinsi Irian Jaya Barat telah melakukan berbagai studi untuk menentukan kriteria rumah tangga miskin di Provinsi Irian Jaya Barat.5.7 .049 rumah tangga. Perkiraan jumlah tingkat infeksi di Papua pada umumnya mungkin merupakan yang tertinggi di Indonesia. Definisi Rumah tangga miskin dalam hal ini adalah rumah tangga yang memenuhi 9 atau lebih dari 14 variabel yang telah ditentukan.K o n d i s i U m u m Disamping malaria dan tuberkulosis yang ditemukan secara luas di banyak wilayah. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .778 rumah tangga). Jumlah rumah tangga miskin terbanyak berada di Kabupaten Manokwari (43. Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 2. 2. 1.156 atau 75.4% dari 170. Tabel 2. ancaman HIV/AIDS menyebar di seluruh bagian wilayah ini.773 rumah tangga) dan terendah berada di Kabupaten Teluk Wondama (3. Balai Pengobatan (Klinik) Puskesmas Puskesmas Puskesmas Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Umum Sarana Alat Kesehatan Sarana Alat Kesehatan Sarana Alat Kesehatan Sarana Alat Kesehatan Induk Pembantu Keliling (darat & laut) Kelas C Angkatan Darat Angkatan Laut Swasta Apotek Pedagang Besar Farmasi (PBF) Gudang Farmasi Jumlah Klinik KB Jenis Sarana Jumlah (Unit) 76 78 297 74 4 2 2 12 41 10 9 196 3. prevalensi norma dan praktek sosial serta jumlah pekerja yang berpindah-pindah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga miskin di Provinsi Irian Jaya Barat sebesar 128. akibat kombinasi faktor-faktor yang terkait dengan rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan. 4.4 : Fasilitas Sarana Kesehatan di Provinsi Irian Jaya Barat Menurut Jenis Kepemilikan No.

160 12.978 3.778 8. Gambar 2.406 56.259 19.51 74.6%) SMTA Kejuruan (4.311 4.3%) SD (35.272 9.88%.156 % Rumah Tangga Miskin 74.94 93. Hal ini tercermin dari komposisi persentase pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk di Irian Jaya Barat terbanyak adalah Sekolah Dasar sebanyak 35.3 : Persentase Pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk Berumur 10 Tahun Keatas di Provinsi Irian Jaya Barat Pada Tahun 2004 S1 (1.36 a.87%) SMTA (12.5.6%) Tidak/Belum pernah s ekolah.647 6.823 37.856 15.6%) SMTP (18.049 Jumlah Rumah Tangga Miskin 11.8 . Sedangkan masyarakat yang sama sekali tidak berpendidikan dan yang tidak tamat SD masih cukup besar persentasenya.351 128.980 43.47 77.3 Pendidikan Jumlah Rumah Tangga 15.379 6.05%) Tidak Tamat SD (19. (6.38 75.24 95.21 84.802 6.73 51.5 : Jumlah dan Persentase Rumah Tangga Miskin di Provinsi Irian Jaya Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005/2006 Kabupaten/Kota Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Irian Jaya Barat Sumber : BPS 2005 IJB 2.K o n d i s i U m u m Tabel 2.94 93.83%) D3 (0. Tingkat Pendidikan Penduduk Mayoritas tingkat pendidikan penduduk Provinsi Irian Jaya Barat masih tergolong rendah.23%) D1/D2 (0.74 91.659 170.052 9.88%) Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .719 18.773 11.

0 60.9 64. sehingga masyarakat adat hanya dapat memanfaatkan tanah yang sifatnya sementara atau sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh penguasa adat.1 60. esensi pokoknya menunjukan adanya pertalian hidup antara masyarakat adat dengan tanah.7 66.7 61.8 60.5.7 pada tahun 2004.6 : Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2004-2005 IPM Provinsi/Kabupaten/Kota 2004 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Irian Jaya Barat 67. Dibandingkan provinsi lain di Indonesia. Dalam penguasaan tanah adat.9 60. Peningkatan tersebut tidak berpengaruh pada status pembangunan manusia yang tetap pada tingkatan menengah bawah baik Tahun 2004 maupun Tahun 2005. sedangkan bila dilihat berdasarkan peringkat kinerja. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .9 74. Kekuasaan penguasa adat demikian berpengaruh dan menentukan.8 meningkat dari 63.1 65.7 2005 67.8 59. hal ini terlihat dari hampir seluruh kabupaten/kota di Provinsi Irian Jaya Barat menunjukkan adanya kemajuan yang ditunjukkan oleh IPM yang meningkat.8 Peringkat Provinsi/Kab di Nasional 2004 247 315 426 422 414 404 352 421 38 30 2005 264 304 423 424 420 404 354 419 41 30 Sumber: BPS Pusat Tahun 2006 2.3 64. Provinsi Irian Jaya Barat menunjukkan kinerja pencapaian pembangunan manusia semakin membaik.8 58.4 Nilai Adat dan Hak Ulayat Pada garis besarnya penguasaan tanah di Papua cukup dominan ditangan masyarakat adat.K o n d i s i U m u m b.9 . Rata-Rata Lama Sekolah dan Rata-rata Pengeluaran Riil.5 65.9 63.9 63. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tingkatan atau Level IPM dapat menggambarkan serta menyatakan kemajuan suatu daerah relatif terhadap daerah lain.5 60. Status IPM Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 adalah 64. IPM mencakup aspek pembangunan manusia meliputi Angka Harapan Hidup. peringkat IPM Provinsi Irian Jaya Barat adalah berada pada urutan 30 dari 33 provinsi pada Tahun 2004. Angka Melek Huruf.8 73.6 59. Tabel 2. IPM bisa juga memberikan gambaran komprehensif mengenai upaya pembangunan yang dilakukan khususnya dampak kinerja pembangunan manusia.

harus ada penyelesaian hak ulayat dulu dengan jaminan hukum yang pasti. Keberhasilan demokrasi tersebut akan menopang pilar politik di Provinsi Irian Jaya Barat dengan berbagai kegiatan pemerintahan dapat dilaksanakan serta semua aturan akan dapat dipatuhi untuk memperkuat sendi-sendi berbangsa dan bernegara. Kondisi politik yang sedang berjalan ini perlu dijaga dan ditumbuhkembangkan yang dimulai dari lapisan bawah dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan disegala bidang kehidupan dengan mengedepankan persatuan dan kesatuan didalam pemerintahan. pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan. Disamping itu kegiatan yang menjurus kepada separatis sedikit demi sedikit untuk ditiadakan dengan pendekatan yang berbasis masyarakat. Kondisi politik untuk mendatang cukup baik dengan melibatkan partisipasi masyarakat dengan menjalin adanya komunikasi dan koordinasi politik dan memantapkan budaya politik serta wawasan kebangsaaan yang dimulai dari lapisan bawah dalam berbangsa dan bernegara. Cara berpikir ini masih sulit diterima oleh pendatang. memberikan pengakuan terhadap hak ulayat. Persepsi mengenai tanah di Papua adalah bahwa • Setiap anak yang belum lahir mempunyai hak atas tanah yang telah dijual. • Tidak ada istilah jual beli tanah. tapi jika tidak digunakan lagi. Dengan telah definitifnya provinsi. Keberadaan Lembaga – lembaga formal ini di Provinsi Irian Jaya Barat dapat dilihat pada tabel dibawah ini. maka organisasi politik dan kemasyarakatan mulai membentuk dan membenahi dirinya dalam rangka menampung dan mewadahi aspirasi politik dan pemberdayaan masyarakat. Walaupun masih terdapat berbagai kendalah tetapi dengan mengedepankan peran semua elemen masyarakat pemecahan masalah tetap dapat dicapai. Permenag perlu ditingkatkan menjadi PP atau UU. Yang ada. harus ada jaminan kepastian hukum dulu untuk masyarakat serta sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.6 Politik Perkembangan politik di Provinsi Irian Jaya Barat pasca pelantikan gubernur dan wakil gubernur definitif hasil Pilkada Tahun 2006 menunjukan dimulainya suatu babak baru kehidupan demokrasi yang dinamis dimasa depan. 2. silakan boleh pakai.10 . tapi tidak pernah diberlakukan. Dengan demikian adanya kelembagaan yang terkonsolidasi dengan baik merupakan indikasi pemerintah mendatang akan memiliki kapasitas dalam melaksanakan agenda demokrasi di Provinsi Irian Jaya Barat. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Hal yang paling urgent perlu dilakukan adalah mengatasi bagaimana membuat hak pengelolaan tanah ulayat. Dengan modal demokrasi seperi ini diharapkan dapat menyelesaikan berbagai masalah yang timbul. Oleh karena itu. Eksekutif dan Yudikatif. Terkait dengan persoalan Tata Ruang. Permen Agraria 1999. tanah harus diserahkan ke masyarakat adat.K o n d i s i U m u m Kita harus memahami masalah pertanahan dan masa depan. Ada 3 (tiga) Lembaga formal yang bertanggung jawab terhadap kebijakan politik yaitu Lembaga Legislatif. Jadi Permenag itu tidak cukup. sehingga masyarakat bisa terlibat dalam pembangunan.

8 Sumber Daya Alam 2. ini perlu dipacu secara terus menerus sehingga cegah dini (early warning) dapat dilaksanakan oleh masyarakat yang paling bawah untuk ditindaklanjuti. Untuk lebih memantapkan keamanan dan ketertiban wilayah untuk dapat diaktifkan kepolisian daerah (Polda) persiapan serta lembaga penegakan hukum lainnya. namun belum dapat ditentukan besaran secara kuantitatif mengenai cadangan mineral tersebut secara pasti.7 : Lembaga . terdapat di RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Semua elemen masyarakat mempunyai tanggung jawab bersama terhadap keamanan dan ketertiban wilayah. 3. Pengadilan Kelas Ib Sumber : Profil Daerah Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 4 2 1 Nama Lembaga Jumlah 4 4 2.8.Lembaga Formal di Provinsi Irian Jaya Barat No. 2. diperkirakan mineral tersebar di wilayah ini.11 . kemajemukan suku menonjol serta pola tradisional yang cukup kuat. Keamanan dan ketertiban wilayah yang kondusif karena adanya kerja sama dan koordinasi yang mantap maka pembangunan di segala bidang kehidupan dapat dilaksanakan. 1. memerlukan sistem keamanan dan ketertiban wilayah yang khusus pula. 2. Kejaksaan Negeri b.1 Pertambangan Secara geologis wilayah ini dimungkinkan adanya potensi mineral yang berlimpah. sehingga mewujudkan keamanan dan ketertiban wilayah yang berbasis kepada rakyat sangat diperlukan untuk ikut rasa memiliki wilayah dan rasa tanggung jawab bersama. Penyebaran mineral tidak merata karena tidak meratanya penyebaran jenis batuan.K o n d i s i U m u m Tabel 2. Jenis pertambangan dan energi yang terdapat di Provinsi Irian Jaya Barat yang telah dan dan akan segera diekploitasi terdiri dari Minyak dan Gas Bumi. Dengan tertangani berbagai masalah keamanan dan ketertiban wilayah dengan baik dan tidak menimbulkan gejolak maka merupakan modal dasar dalam pembangunan pemerintahan dan pembinaan kemansyarakatan. Legislatif Eksekutif Yudikatif : a. Dengan mengetahui informasi geologi. Pengadilan Negeri Kelas I b c. Penanganan keamananan dan ketertiban masyarakat baik di kota. pesisir. Sehingga apa yang dilaksanakan tidak saling benturan tetapi keamanan dan ketertiban tetap terpelihara. pedalaman.7 Keamananan dan Ketertiban Wilayah Kondisi Provinsi Irian Jaya Barat akan bervariasi.

Mangan. Hutan Produksi tetap. Emas. 2. Hutan Produksi Konversi. Batu Gamping 4. Batubara. Marmer dan Bahan Baku Semen 6. Potensi minyak yang terdapat di Kabupaten Sorong dan Teluk Bintuni merupakan komoditas unggulan Provinsi Irian Jaya Barat yang saat ini sedang dieksploitasi. Berdasarkan data Dinas Pertambangan dan Energi tahun 2006. Zink. hutan di Provinsi Irian Jaya Barat terdiri dari Hutan Produksi. Sorong Selatan Minyak & Gas bumi. Potensi minyak dan gas alam terdapat di Kabupaten Sorong dan Kabupaten Teluk Bintuni. 2. Provinsi Irian Jaya Barat memiliki potensi tambang yang tersebar di kabupaten/kota se provinsi Irian Jaya Barat. Nikel. Batu Gunung Api. Emas. Pasir Kuarsa. uranium. Pasir Kuarsa.769. Emas. Batu gamping.686. Tembaga. Kabupaten Sorong Tembaga.8. Batubara. Fosfat 5. Mika 3. Manokwari Bahan Galian Strategis : Timah. senk dan tembaga serta batu kapur. granit dan pasir kuarsa. Fakfak Mangan. Potensi bahan tambang yang siap dieksploitasi antara lain batu bara. Granit. Teluk Bintuni Bahan Galian Strategis : Minyak dan Gas Bumi. Batubara. Raja Ampat: Cobalt. Hutan Lindung dan Areal Penggunaan Lain. Emas. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Tanah Hitam. Pospat. Teluk Wondama: Mika. Kromit 7.12 . Berdasarkan fungsinya. Batubara. emas. Senk dan Tembaga.K o n d i s i U m u m wilayah Kabupaten Sorong. Potensi tambang antara lain : 1. Aranday dan Babo dengan Cadangan Minyak Bumi sebesar 20 TB dan Gas Bumi (LNG) 14 TCF.81 Ha. Potensi ini yang terbesar adalah di Distrik Merdey. Hutan PPA/KSA. Lempung. Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten-Kabupaten lainnya di Provinsi Irian Jaya Barat termasuk Gas Bumi (LNG Tangguh) yang akan segera melakukan produksi di Kabupaten Teluk Bintuni.2 Kehutanan Luas kawasan hutan di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 tercatat seluas 9. Selain itu terdapat potensi terpendam lainnya yang telah diekspolitasi namun belum dieksporasi dalam waktu dekat seperti bahan galian Nikel di Kabupaten Raja Ampat dan dan Mangan di Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana. Diorit. Pasir Batu. Bahan Galian Golongan C : Batu Gamping. Batu gamping.

K o n d i s i U m u m Gambar 2. Jatah Produksi Tahunan yakni Luas total penebangan sebesar 64.3 Perikanan Potensi perikanan di Provinsi Irian Jaya Barat cukup besar dan beraneka ragam terutama ikan permukaan dan ikan dasar.13 .751.2%.648 (18%) Hutan Produksi 1.280 (19%) Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 Pengelolaan hutan dilakukan melalui Hak Penguasaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). Mersawa.808. pemanfaatan sumberdaya perikanan bermuara pada peningkatan pendapatan nelayan serta penerimaan devisa negara. Taman Wisata. Perikanan memberikan andil terbesar dalam ekspor di Provinsi Irian Jaya Barat yang dihasilkan oleh Ikan Beku Campuran. Kabupaten Teluk Bintuni. Matoa. Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Kaimana. Resak. Pulai.482 Ha.456. kulit masohi.53 Ha. 2. Bagi nelayan.277 (17%) Hutan PPA/KSA 1.866. Bitangur.170. Jumlah HPH dan HTI di Provinsi Irian Jaya Barat adalah 29 perusahaan.144 (23%) Hutan Produksi Tetap 1. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .243 (19%) Hutan Produksi Konversi 2. Potensi kayu terbesar di Kabupaten Sorong Selatan.8.065 m³. Sementara untuk kepentingan konservasi di Provinsi Irian Jaya Barat. kulit lawang dan lain-lain. Gaharu dan non kayu seperti rotan.4% dan Udang Beku 27.707 Ha dengan jumlah volume produksi per tahun sebesar 1.648. damar.847. Medang. Berdasarkan data Dinas Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006. Suaka Marga Satwa. yakni sebesar 65. dan Taman Nasional. Kabupaten Fakfak. data tentang kawasan konservasi yang telah ditetapkan terdiri dari 4 kawasan yaitu Cagar Alam. dengan negara-negara tujuan ekspor antara lain Jepang. Jenis kayu yang diproduksi di Provinsi Irian Jaya Barat adalah Merbau.4 Pembagian Areal Hutan Menurut Fungsinya Areal Penggunaaan Lain 342. dan 6 perusahaan diantaranya berstatus tidak aktif. sedangkan Suaka Marga Satwa ada 3 Kawasan dengan total seluruh kawasan Marga Satwa seluas 65. Sebanyak 16 Cagar Alam terdapat di Provinsi Irian Jaya Barat dengan total luas kawasan seluas 1.087 (4%) Hutan Lindung 1. Nyatoh. Malaysia dan Korea.314.

Kepulauan Raja Ampat.K o n d i s i U m u m Tabel 2. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .488.10 Nilai Produksi Perikanan Laut menurut Jenis Ikan Di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2003 Produksi (Ton) Ikan 164. Bialola Fakfak dan Kaimana. Lobster.064.090 Sumber : Badan Pusat Statistik Papua Tahun 2003 Jenis Ikan Persentase (%) 25.627. 3. Jerman Aru Bialola dan 5 PT.9 Perusahaan Perikanan yang beroperasi menurut Jenis Komoditi dan Negara Tujuan Ekspor di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2003 No Eksport Komoditi Negara Tujuan 1 PT. WIF Ikan Tuna. Udang. 4 PT. Ikan Pelagis Sorong.8 Jenis. Bintuni Mina Karya Argo Teripang PT. Inter Galaxi Delta Fisheries 6 7 PT. Avona Mina Lestari Sumber : Badan Pusat Statistik Papua Tahun 2003 Jepang. seperti kepiting dan udang yakni sebesar 473.190 Hewan Kulit Keras 473.95 0. Udang. Jumlah ini memberikan indikasi bahwa potensi udang dan kepiting di Provinsi Irian Jaya Barat cukup besar. Waigeo Utara. Citra Raja Ampat Canning 2 PT. kepiting dan Sirip Hiu Sumber : Badan Pusat Statistik Papua Tahun 2003 Beberapa perusahaan perikanan yang beroperasi dalam wilayah Provinsi Irian Jaya Barat menurut jenis komoditi dan negara tujuan ekspor dapat dilihat pada tabel berikut.074. Tabel 2. Teripang Waigeo Selatan.95%. Korea. Lokasi Penyebaran Hasil Perikanan Provinsi Irian Jaya Barat tahun 2003 No Jenis Ikan Lokasi Penyebaran 1.65 73. 5. Udang Lobster 6.064. Ikan Tuna 2. Alsum Prakarsa Co 8 PT.14 . Mutiara 3 PT. 4.40 100 Tabel di atas menggambarkan bahwa nilai produksi perikanan terbesar di Provinsi Irian Jaya Barat disumbangkan oleh hewan laut yang berkulit keras. Philipina dan Malaysia Tabel 2.900 Jumlah 639. Teluk Bintuni.000 ton atau 73.000 Hewan Kulit Lunak 2.

nilai PDRB Atas Harga Konstan 2000 telah berkembang 1. Besarnya sumbangan Migas terhadap pembentukan perekonomian Provinsi Irian Jaya Barat hingga melebihi 20% tentu saja sangat mempengaruhi perekonomian Provinsi Irian Jaya Barat secara menyeluruh. Analisa PDRB tanpa Migas dilakukan dengan mengeliminir Sub sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi serta Sektor Industri Pengolahan dengan Sub Sektor Pengolahan Gas dan Minyak Bumi. perkembangan nilai tambah PDRB tersebut telah mencapai hampir dua kali lipat dari tahun 2000.39%. Informasi mengenai gambaran makro ekonomi daerah digambarkan oleh data pendapatan regional. 2.74%. Pada tahun 2005. Dari hasil perhitungan yang dilakukan oleh BPS Provinsi Irian Jaya Barat.3 Triliun rupiah mengalami peningkatan dari tahun 2004 yang besarnya 4. Sejak tahun dasar 2000 sampai pada tahun 2005.1 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan hasil kegiatan ekonomi dari seluruh unit ekonomi yang dihasilkan suatu daerah tanpa mengikutkan faktorfaktor produksi. yakni jumlah nilai barang dan jasa/pendapatan/pengeluaran yang dinilai sesuai dengan harga berlaku pada tahun bersangkutan. mengalami peningkatan dari tahun 2004 yang sebesar 6.97 Triliun rupiah. yakni jumlah nilai barang dan jasa/pendapatan/pengeluaran yang dinilai atas harga tetap (konstan) pada tahun tertentu/harga dasar (Tahun 2000). mengingat hasil migas yang dihasilkan oleh daerah-daerah Provinsi di Indonesia secara nasional sangat berpengaruh terhadap nilai Produk Domestik Brutto.9. Perekonomian Provinsi Irian Jaya Barat selama tahun 2005 menunjukkan pertumbuhan positif apabila dibandingkan pada tahun 2004. dapat diketahui tingkat pertumbuhan ekonomi daerah.K o n d i s i U m u m 2. Apabila mengamati pertumbuhan PDRB sektoral Provinsi Irian Jaya Barat dari sektor-sektor yang membentuk pertumbuhan ekonomi Provinsi Irian Jaya Barat.9 Perekonomian Wilayah Perekonomian wilayah menggambarkan indikasi makro ekonomi yang digunakan dalam menyusun rencana pengembangan ekonomi suatu daerah dan mengukur keberhasilan pembangunan yang telah dilaksanakan. Selisih antara PDRB Provinsi Irian Jaya Barat Tanpa Migas dan Dengan Migas berdasarkan Harga Berlaku mencapai 1 Triliun setiap tahunnya. Sejak tahun dasar 2000.3 kali lipat. besaran nilai tersebut selalu meningkat setiap tahunnya. lebih melambat bila dibandingkan Tahun 2004 yang mencapai 7. nampak bahwa pertumbuhan ekonomi riil Provinsi Irian Jaya Barat adalah sebesar 6. Hal ini dilakukan. tingkat inflasi dan deflasi.9 trilliun rupiah.57 trilliun rupiah. 2) PDRB Atas Harga Konstan.15 . maka dapat diketahui bahwa sektor yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Penyajian data PDRB terdiri dari dua jenis yaitu 1) PDRB Atas Dasar Harga Berlaku. struktur perekonomian daerah. Dari data ini. pendapatan per kapita. besaran PDRB (dengan Migas) Atas Dasar Harga Berlaku yang tercipta adalah sebesar 7. Sampai tahun 2005. Sedangkan perkembangan PDRB Atas Harga Konstan Tahun 2000 sebesar 5.

9.2 Pertumbuhan PDRB Perkapita PDRB Perkapita merupakan salah satu indikator ekonomi yang dapat digunakan untuk membandingkan tingkat kemakmuran suatu daerah dengan daerah lainnya. Industri Pengolahan dan Keuangan.11 Pertumbuhan PDRB Provinsi Irian Jaya Barat (Tanpa Migas) Tahun 2000-2005 Tahun ADH Berlaku ADH Konstan 2001 9.13%. mengalami peningkatan sebesar 14. Persewaan & Jasa Perusahaan yang pertumbuhan ekonominya melambat pada tahun 2005.K o n d i s i U m u m tahun 2005 adalah sektor-sektor Jasa yaitu sebesar 13.69 5.39 2005 20. Dari kesembilan sektor di atas. Jadi besaran PDRB Perkapita sangat tergantung dari besaran PDRB yang terbentuk dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun.74 Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 2.29 Juta Rupiah.16% dari tahun 2004 yang hanya sebesar 10. Gambar 2. Pertumbuhan tertinggi kedua setelah Sektor Jasa-Jasa adalah Sektor Angkutan dan Komunikasi sebesar 12.83 7.16 .26%.68 2004 18. Selama kurun waktu lima tahun.33% lebih tinggi dari tahun 2004 yang hanya sebesar 6.75% meningkat dari tahun 2004 yang hanya sebesar 10.34 2002 10.77 Juta Rupiah.17 6.19% yang mengalami peningkatan dari tahun 2004 yang hanya 7.07 2003 15. Nilai PDRB Perkapita Provinsi Irian Jaya Barat yang dihasilkan sebesar 12. sejak tahun 2000 nilai PDRB Perkapita Provinsi Irian Jaya Barat terus mengalami pertumbuhan yang RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .6%. Sementara di urutan ketiga tertinggi adalah Sektor Bangunan yaitu 12.38 7. hanya sektor Pertanian.5 Perkembangan PDRB (Dengan Migas) Tahun 2000-2005 Perkembangan PDRB (dalam%) 250 200 150 100 50 0 2000 ADH Berlaku ADH Konstan 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 Tabel 2. PDRB Perkapita diperoleh dari hasil pembagian besaran nilai PDRB atas dasar harga berlaku dengan jumlah penduduk pertengahan tahun pada tahun yang bersangkutan.49 3.

Bila pertumbuhan PDRB didominasi oleh sektor-sektor Jasa. justru yang terjadi adalah pertumbuhan tenaga kerja bertolak belakang dengan pertumbuhan PDRB.33% dan juga Sektor Bangunan yang mendominasi sebesar 12. Sungguh merupakan fenomena yang sangat unik. Tingginya pertumbuhan PDRB pada sektor Jasa sebesar 13.33% ternyata hanya diimbangi oleh jumlah tenaga kerja sebesar 3.1% sementara pertumbuhan ekonomi (PDRB) sektor Pertanian hanya sebesar 2. 2. namun pertumbuhan tenaga kerja didominasi oleh sektor Pertanian.1% sungguh sangat ironis untuk perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Provinsi Irian Jaya Barat ke depan.41%.51% dan 8.9.3 Pertumbuhan Tenaga Kerja Secara umum. Jasa dan Sektor Perdagangan.33%).75% hanya diimbangi oleh jumlah tenaga kerja sebesar 4. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .K o n d i s i U m u m melambat tahun 2004.19%. Di sisi lain.17 .47%. Begitu pula dengan sektor PDRB lainnya yang cukup mendominasi pertumbuhan ekonomi Provinsi Irian Jaya Barat seperti Sektor Angkutan dan Komunikasi yang mendominasi sebesar 12. Tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Irian Jaya Barat yang tinggi ternyata tidak diimbangi oleh pertumbuhan sektor tenaga kerja.51% saja. Begitu pun yang terjadi apabila kita mengamati tingkat pertumbuhan tersebut melalui sektor-sektor yang membentuknya. 8.75% dan 12. Namun apabila dicermati secara mendalam. 12. Tingginya angka PDRB per kapita jelas bukan mencerminkan tingkat kemakmuran penduduk Provinsi Irian Jaya Barat mengingat tingginya angka kemiskinan penduduk di wilayah ini. Angkutan dan Komunikasi serta Sektor Bangunan (masing-masing sebesar 13. tingginya jumlah tenaga kerja tanpa diimbangi oleh tersedianya lapangan usaha yang membentuk pertumbuhan ekonomi justru akan mengakibatkan jumlah pengangguran pada sektor pertanian sebesar 71.19% ternyata hanya diimbangi oleh jumlah tenaga kerja sebesar 8.07%. Hotel dan Restoran masing-masing 71. pertumbuhan ekonomi suatu wilayah yang ditunjukkan dengan tingkat pertumbuhan PDRB senantiasa akan diukur dengan tingkat pertumbuhan tenaga kerjanya.

00% PDRB TENAGA KERJA Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 2.00% 40.4 Struktur Perekonomian Daerah Struktur perekonomian suatu daerah sangat dipengaruhi oleh besarnya sumbangan atau peranan masing-masing sektor ekonomi dalam membentuk nilai tambah PDRB.00% 10.9.00% 0.18 . Sektor Pertanian di Provinsi Irian Jaya Barat didominasi dari Sektor Kehutanan dan Perikanan mampu memberikan sumbangan nilai tambah yang besar bagi perekonomiannya.00% 30. walaupun sejak tahun 2001 peranannya terus mengalami penurunan hingga 27.24% pada Tahun 2005 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .6 Persentase PDRB dan Mata Pencaharian Menurut Sektor Ekonomi di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 80.00% 50. Hasil di Sektor Pertanian sangat besar pengaruhnya tehadap penciptaan nilai tambah PDRB Provinsi Irian Jaya Barat.00% 70.00% 20.K o n d i s i U m u m Gambar 2. Dari struktur perekonomian tersebut diketahui corak perekonomian daerah ini.00% 60.

RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Dana Dekonsentrasi. Dalam hal ini Provinsi Irian Jaya Barat dituntut agar dapat memperluas sumber atau obyek pendapatan baru. dan Dana Otonomi Khusus dimana jumlah DAU masih mendominasi.19 . Optimalisasi sumber-sumber PAD perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan daerah. Sebagai daerah otonom justru seharusnya PAD khususnya pajak dan retribusi daerah harus menjadi bagian sumber keuangan terbesar. dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. Besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Irian Jaya Barat menunjukkan bahwa ketergantungan kepada bantuan pusat masih sangat besar dan belum sesuai dengan prinsip otonomi daerah.K o n d i s i U m u m Berikut ini adalah tabel mengenai kontribusi 9 sektor ekonomi terhadap PDRB Provinsi Irian Jaya Barat. Persew aan & Jasa Perusahaan 2% Angkutan & Komunikasi 6% Perdag. Hotel & Restoran 10% Jasa .7 Kontribusi Masing-Masing Sektor Ekonomi Terhadap PDRB Keuangan.10 Keuangan Daerah Peranan keuangan daerah dalam pembangunan adalah sangat vital. Struktur Anggaran pendapatan daerah Provinsi Irian Jaya Barat terdiri dari Dana DAU. Dana Alokasi Khusus dan Dana Reboisasi. & Penggalian 19% Industri Pengolahan 19% Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 2. Daerah otonomi yang ideal memiliki ciri utama yaitu harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan sendiri.jasa 8% Pertanian 29% Bangunan 7% Listrik & Air Bersih 0% Pertamb. Gambar 2.

Kambuaya .Makbon . 8. Bourof.Ambaruni-Rasie dan Wasior dengan status jalan Nasional dan Provinsi sepanjang 346 km dalam kondisi kerikil 14 Km. Manokwari . Fakfak .4 Km telah terbangun dengan kondisi 140 Km aspal. tanah 20 Km dan belum terbangun 312 km. 6. serta 150 km belum terbangun. Sorong . 9.Kamundan .Ransiki .5 km aspal. 23.Bourof. 5.Oransbari . Fakfak.Wondama.Mega .Ayawasi . Perhubungan darat. Penggunaan moda transportasi udara meliputi wilayah tengah (pedalaman) kepala burung yang sebagian besar masih terdiri dari hutan. Transportasi Darat Saat ini. Aimas – Seget sepanjang 116 Km berstatus Jalan Provinsi dengan kondisi 86 km jalan kerikil. perhubungan antar wilayah Kabupaten di Provinsi Irian Jaya Barat secara efektif melalui hubungan udara dan kapal laut. 10. 16 km jalan tanah dan belum terbangun 14 Km.5 jalan kerikil.Siboru merupakan Jalan Provinsi sepanjang 38. Sementara moda transportasi sungai meliputi wilayah pedalaman dengan aliran sungai besar. Ruas Mameh-Windesi.Snopy .Kambuaya Klamono-Sorong dengan status Jalan Nasional sepanjang 546 Km.Kebar . kendatipun masih sangat terbatas sampai dengan Tahun 2006. Windesi. 7. belum terbangun sepanjang 57 km. Jaringan hanya berada di sekitar kota/kabupaten lama yaitu Sorong. 4.20 .Maruni . 332 Km kerikil dan 70 Km belum terbangun. 20 km tanah dan belum terbangun 150 km. Susumuk . belum terbangun sepanjang 205 km. jalan tanah 21 km. Secara umum kondisi jaringan jalan di kota/kabupaten di Provinsi Irian Jaya Barat masih memprihatinkan.K o n d i s i U m u m 2. dengan kondisi 144 Km aspal.Sausapor merupakan Jalan berstatus Provinsi sepanjang 138 km dengan kondisi 36 km aspal.8 km dengan kondisi 25 Km aspal. Sementara moda transportasi penyeberangan meliputi wilayah yang RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Status serta kondisi beberapa ruas jalan yang terdapat di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat sebagai berikut: 1.Teminabuan berstatus Jalan Provinsi sepanjang 54 km dengan kondisi 33 km aspal.8 km. Jalur Manokwari .4 Km. Hubungan antar kota/kabupaten di Provinsi Irian Jaya Barat sekarang ini sebagian besar dilayani oleh transportasi laut dan udara.6 aspal.11 Transportasi dan Komunikasi a.Bintuni merupakan Jalan Provinsi sepanjang 225 km dengan kondisi 20 km jalan kerikil. Lemahnya interaksi antar wilayah di Provinsi Irian Jaya Barat menjadi penyebab belum terbentuknya ekonomi regional. tanah 13.Tanggaruni dan Kaimana sepanjang 181 km berstatus Nasional dan Provinsi sepanjang 181 km dengan kondisi 17.Bintuni yang merupakan kombinasi ruas Nasional dan Provinsi sepanjang 253. 87.4 kerikil.Mameh . Manokwari. tanah 113. kerikil 21 km. dan Fakfak. 45 km kerikil.Bomberay dan Fakfak dengan status Nasional dan Provinsi sepanjang 311 Km terdiri dari 52.Maruni .Kokas berstatus Provinsi sepanjang 44 km dengan kondisi 100 % aspal. 3.Bufer. 2.Prafi .

7 235 Total 869.12 : Panjang Jalan Menurut Tingkat Pemerintahan yang Berwenang di Provinsi Irian Jaya Barat Status Jalan (Km) Total No.039. Kabupaten/kota Total (M) Beton Baja Kayu 1 Kabupaten Fakfak 1.5 479 552 2. Klasifikasi jalan berdasarkan statusnya ditinjau berkaitan dengan rencana pengembangan jaringan jalan lintas batas administrasi.10 421. Tabel 2.237 3 Kabupaten Manokwari 177.12 8.12 0.14 : Panjang Jembatan Menurut Jenis di Provinsi Irian Jaya Barat Status Jembatan (M) No.127 4 Kota Sorong 15 530 0 545 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .20 1974.170.454. Sorong 62 129 20 0 211 3 Kab. yaitu jalan umum yang pembinaannya dilakukan oleh pemerintah pusat. Berdasarkan status dan wewenang pembinaan jalan.7 1947. yaitu jalan umum yang pembinaannya dilakukan oleh pemerintah Provinsi.K o n d i s i U m u m memiliki pelabuhan.21 . Kabupaten/Kota (Km) Negara Provinsi Kabupaten Kabupaten Fakfak 0 263 Kabupaten Sorong 90 121 Kabupaten Manokwari 237 86 Kota Sorong 18 17 Total 345 487 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 1 2 3 4 209.20 1115.28 19.28 648. Jaringan transportasi darat yang ada saat ini di Kabupaten memanfaatkan jalan logging HPH. 2) Jalan Kota. yaitu jalan perumahan teratur yang belum diserahkan kepada pemerintah kota yang pembinaannya dilakukan oleh swasta/pengembang.5 1. disamping sebagian diantaranya dibangun dengan dana pemerintah setiap tahun.13 : Panjang Jalan Menurut Tingkat Permukaan di Provinsi Irian Jaya Barat Jenis Permukaan (Km) No.20 472 211 1029 235. 4) Jalan Khusus.5 495 2. 3) Jalan Provinsi. Kabupaten/kota Total Aspal Diperkeras Tanah Lainnya (Km) 1 Kabupaten Fakfak 198 154 113 7 472 2 Kab. yaitu jalan umum (jalan kota termasuk jalan lokal dalam kota) yang pembinaannya dilakukan oleh pemerintah kota atau kabupaten.5 2 Kabupaten Sorong 739 877 621 2. Manokwari 439 346 243 1 1029 4 Kota Sorong 170. Data mengenai panjang jalan dan jembatan di Provinsi Irian Jaya Barat dapat dilihat pada tabel di bawah ini.20 Tabel 2.00 0 706 200. sistem jaringan jalan dikelompokkan sebagai berikut: 1) Jalan Negara/Nasional.10 45.20 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 Tabel 2.

beserta Domine Eduard Osok di Sorong. lapangan terbang Rendani Manokwari telah dapat didarati oleh pesawat Boeing 737-200 dengan kondisi komersial. pusat dan wilayah belakang). Fungsi angkutan laut dan sungai juga menonjol di semua kabupaten karena letaknya di pesisir pantai. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . c.031 unit.254 154 Kabupaten Sorong 3. Lapangan Utarum Kaimana. Mayado.031 Dalam bidang perhubungan udara.998 8. Bahkan untuk Kabupaten Raja Ampat sangat didominasi oleh angkutan laut. Pengembangan transportasi laut baik dari sisi frekuensi pelayanan dan kapasitas pelabuhannya berperan penting dalam menciptakan pertumbuhan wilayah mengingat terbatasnya pengembangan wilayah daratan.380 51. Kaimana secara teratur telah disinggahi oleh kapal penumpang yang dioperasikan oleh PT Pelni.302 10. Rendahnya aksesibilitas dari dan ke tiap bagian wilayah Provinsi Irian Jaya Barat ini selain karena faktor kesulitan geografis adalah karena permintaan/demand aktual dan permintaan potensial terhadap transportasi juga masih sangat terbatas. Bintuni. Bimtuni. Anggi.216 Kabupaten Manokwari 1. dapat didarati oleh Fokker 28 dengan kondisi komersial.22 .992 4. Kebar. Jumlah paling banyak adalah kendaraan sepeda motor sebanyak 39.190 6. Kemudian mobil penumpang sebanyak 9697 unit. antar pusat. Yang lainnya seperti : Babo.998 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 b. Selebihnya seperti Teminabuan. Transportasi Udara 1 2 3 4 15 95 18 18 146 1.584 684 Kota Sorong 1. Transportasi Laut Pelabuhan Manokwari. Inanwatan. Wasior. Torea Fakfak dengan Twin Otter dan DASH 8 dengan kondisi komersial. Kabupaten/kota Status Mobil (Unit) Mobil Mobil Mobil Penumpang Barang Bus Sepeda Motor Total (Unit) Kabupaten Fakfak 3. Data lengkap mengenai jumlah kendaraan di Wilayah Kepala Burung dapat dilihat pada tabel berikut ini. Merdey dan Minyambo dapat didarati oleh pesawat jenis Twin Otter dengan kondisi Perintis. Teminabuan. Sorong.K o n d i s i U m u m Banyaknya kendaraan di Provinsi Irian Jaya Barat tahun 2005 tercatat sebanyak 51. Tabel 2.190 2.15 : Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis di Provinsi Irian Jaya Barat No.569 1.290 628 Total 9697 1.222 4. Kambuaya.653 5. Ayawasi. Pengembangan prasarana regional selama ini dititikberatkan pada pengembangan transportasi jalur laut dan darat berdasarkan hubungan fungsional (hubungan eksternal. Saonek dilayani oleh kapal perintis secara terjadwal dan belum dapat disinggahi oleh kapal penumpang sebagaimana tersebut diatas. Fakfak.444 39.190 unit.

belum efektifnya integrasi ekonomi antar wilayah karena perhubungan yang buruk. sementara hubungan ke wilayah lain diluar Provinsi sudah baik dan teratur jadwalnya. telekomunikasi. Jaringan sarana perhubungan praktis belum efektif menyentuh kampung dan daerah terisolir. program pembangunan perumahan dalam rangka pemukiman kembali penduduk dapat dikatakan tidak seluruhnya berhasil. infrastruktur dalam wilayah Irian Jaya Barat masih belum memadai. Kualitas prasarana dasar termasuk penyediaan perumahan di semua kabupaten di Provinsi Irian Jaya Barat menunjukan bahwa tingkat ketersediaannya masih rendah. terutama terkait dengan perhubungan.23 .12 Ketersediaan Sarana Dalam bidang infrastruktur dasar. Berbeda dengan pemukiman transmigrasi yang telah tertata dengan baik prasarana dasarnya. belum terkaitnya kawasan pemukiman kampung dengan sarana perhubungan utama. Pada pemukiman penduduk asli. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Pendek kata. ketidak teraturan jadwal penerbangan dan perhubungan perintis.K o n d i s i U m u m Gambar 2. pemukiman. ketersediaan perumahan. energi. Transportasi Udara dan Transportasi Laut di Provinsi Irian Jaya Barat Sumber : Dinas PU Provinsi Irian Jaya Barat 2. kampung yang dimukimi oleh penduduk asli Papua belumlah demikian. rata-rata semua kabupaten mengalami keterbatasan.8 Sebaran Infrastruktur Jaringan Jalan.

K o n d i s i U m u m 2.16 : Banyaknya Pegawai Negeri Sipil Daerah menurut Tamatan Pendidikan Tahun 2004 Tingkat Pendidikan Unit Kerja SD SLT P 4 SLTA 158 1605 2302 2773 307 439 373 347 226 1164 9852 Diploma 91 775 1153 1158 147 267 174 100 91 799 4755 S1 110 649 964 1050 98 213 175 138 125 770 4292 S2 4 53 59 23 2 6 3 4 3 16 173 S3 Jumlah 367 3264 4829 5390 577 951 750 609 509 2861 20107 I. melibatkan pihak-pihak yang tidak ikut dalam proses-proses tersebut. Jadi harus dilakukan 1) Monitoring Partisipasi dan Evaluasi 2) Pendampingan yang intensif (harus ada atas-bawah yang mau menjembatani) 3) Partisipasi. pembagian dana pembangunan. Fakfak dan Sorong maka terjadi pembagian aparatur pemerintahan. T. Manokwari 182 204 4. Sorong 144 207 3. memenuhi kebutuhan hidup seharihari.13 Aparatur Pemerintahan Dengan adanya pemekaran kabupaten induk Manokawari. Bintuni 9 11 8. Pendidikan. T. Pemda Kabupaten/Kota 1. dana rutin dan lain sebagainya menyebabkan masalah baru terutama masalah kapasitas aparatur pemerintahan yakni bagaimana meningkatkan kapasitas aparatur pemerintahan agar mampu melaksanakan pelayanan sebaik-baiknya kepada publik dan materi-materi pelatihan apa saja yang diberikan dalam rangka peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Tabel 2. Dalam konteks Provinsi Irian Jaya Barat yang mayoritas masyarakatnya merupakan penduduk yang miskin dan berpegang kuat pada adat masih memerlukan banyak tenaga penyuluhan yang kreatif memberi pemahaman kepada masyarakat bagaimana hidup sehat dan lingkungan hygienis. Selain itu. peningkatan kapasitas Satu kelemahan program yang dijalankan adalah proses penerjemahan kebijakan ke tingkat lapangan. Wondama 24 9. Kaimana 6 17 5. Pemda IJB II. Proses pendampingan harus betul-betul intensif dilakukan. Raja Ampat 4 21 7. Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan dan Dinas Kependudukan.24 . Tenaga penyuluh diperlukan di berbagai dinas seperti Dinas Kesehatan. Fakfak 90 92 2. Sorong Selatan 4 22 6. Kota Sorong 41 71 Jumlah 480 673 Sumber: Irian Jaya Barat dalam Angka 2006 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .

Bintuni 8. Pemda IJB II. 3.169 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 Tabel 2. Wondama 9. Kota Sorong Jumlah 21 – 25 36 – 40 41 – 45 2 2 1 6 3 3 5 6 8 36 108 145 99 56 24 46 24 28 99 629 381 501 481 68 80 79 62 54 308 2015 565 894 978 66 63 57 44 33 482 3186 717 1430 1253 23 32 18 15 29 734 4266 540 861 937 1 517 2874 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 2. Manokwari 4.18 : Jumlah Pegawai Negeri Sipil Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi.K o n d i s i U m u m Tabel 2. Aparatur PNS PNS PNS PNS TOTAL Golongan/Eselon Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Jumlah 533 8. Kabupaten dan Kota Dirinci Menurut Usia Keadaan Agustus 2004 Usia 26 – 30 31 – 35 18 – 20 I.341 1. Sorong 3. Raja Ampat 7.25 • RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 . Melalui pembenahan sistim dan politik hukum maka akan diciptakan sistim hukum mnasional yang adil.17 : Jumlah Aparatur Pemerintah di Provinsi Irian Jaya Barat No.14 Hukum dan Kelembagaan Dalam pembangunan hukum di Provinsi Irian Jaya Barat tetap akan mengacu kepada RPJM Nasional. T. 1. Pemda Kab/Kota 1. T. konsekuen dan tidak diskriminatif serta mampu menjamin konsistensi peraturan perundang-undangan di semua tingkatan di Indonesia termasuk Provinsi Irian Jaya Barat. Sorong Selatan 6. 2. Fak fak 2. Kaimana 5. Pembangunan hukum akan diarahkan pada : • • Penataan kembali subtansi hukum melalui peninjauan dan penbataan kembali peraturan daerah Melakukan pembenahan struktur hukum dan sekaligus memberikan penghargaan dan pengakuan secara kongkrit atas hukum adat di Provinsi Irian Jaya Barat Meningkatkan budaya hukum II .781 20. Pembangunan Sistim dan Politik Hukum menjadi pedoman bagi program pembangunan yang akan dilaksanakan dalam bidang hukum.514 9. 4.

program pokok yang akan dilaksanakan adalah : • • • • • • • Evaluasi secara menyeluruh peraturan daerah Peningkatan program legislasi daerah Penataan kembali regulasi dan peraturan daerah Perumusan pola perencanaan kelembagaan hukum Peningkatan kualitas aparat penegak hukum Peningkatan kompetensi aparat hukum Peningkatan kesadaran hukum Dalam bidang kelembagaan. 5.K o n d i s i U m u m Untuk itu. Dengan paradigma desentralisasi. yang pada awalnya merupakan terminologi yang dikenal dalam dunia ekonomi khususnya perusahaan. Bagi daerah. Daya saing.26 . Dengan demikian jelas bahwa kemampuan untuk bersaing merupakan kunci bagi tercapainya kemajuan. 7. Kualitas managemen wilayah Pembangunan infrastruktur. 6. 4.15 Daya Saing Wilayah Daya saing didefinisikan sebagai suatu kapasitas tertentu yang dimiliki dan mengungguli lainnya untuk suatu kondisi tertentu. 2. Tata Ruang Pembangunan SDM RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Daya saing yang tinggi akan mampu membuat posisi yang lebih baik sehingga setiap waktu dapat mengatasi berbagai tantangan serta mampu memanfaatkan peluang. 2. kini masing-masing kabupaten akan saling bersaing menjadikan wilayahnya unggul dan otonomisasi akan menjadi realistis. melakukan penataan kelembagaan serta penyusunan sistim rekrutmen aparatur dan reward and punishment. kini menjadi relevan dalam kebijakan publik. pengembangan daya saing itu mencakup sektor publik tetapi juga dikalangan masyarakat madani serta dunia usaha. Untuk itu kebijakan yang akan ditempuh adalah peningkatan kualitas SDM. Dalam hal ini berbagai hal yang menjadi inti pokok mengembangkan daya saing daerah adalah sebagai berikut: 1. Efektivitas pelaksanaan otonomi daerah Kemampuan kelembagaan. platform pembangunan dimasing-masing daerah sangat penting karena akan menjadi acuan untuk mengembangkan daya saing masing-masing Daerah. Ini berarti daya saing menjadi penting untuk diwujudkan oleh lembaga pemerintahan dalam suatu wilayah administrasi. 3. sasaran yang akan kita tuju adalah terwujudnya tatanan birokrasi yang bersih dan berwibawa serta membangun kapsitas kelembagaan agar mampu melaksanakan visi dan misi organisasi serta TUPOKSI-nya. Oleh sebab itu. penyusunan produk kelembagaan. Kewenangan regulasi yang efektif di tingkat daerah.

Selain sulitnya akses menuju kampung dan distrik. belum terhubung dengan moda transportasi yang memadai. Hal ini disebabkan karena kondisi topografi di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat sangat khas dengan daerah pegunungan. Hal ini memperkuat kondisi keterisoliran wilayah. sarana perhubungan dan telekomunikasi pun masih minim. Namun demikian permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar distrik dan kampung di Provinsi Irian Jaya Barat adalah keterisolasian wilayah. rawa dan pesisir. Demi tujuan pemerataan pembangunan di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat maka membuka ketersoliran kampung dan distrik agar terhubung dan terintegrasi dengan pusat pertumbuhan di kota perlu dilakukan. khususnya untuk kampung-kampung yang berada di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat. Keberadaan sarana sanitasi dan air bersih umumnya berada dalam kondisi yang tidak layak secara kesehatan.16. Wilayah kampung dan distrik yang banyak berada di daerah bukit. Jalan darat belum banyak terbangun. Sehingga sub-standarisasi telah menjadi kondisi yang umum di sejumlah kampung-kampung di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat. Namun demikian hal ini pun belum memenuhi demand dari penduduk lokal karena adanya ketidakteraturan jadwal pelayaran akibat kapasitas muat yang kurang dari demand kebutuhan angkutan. b) Pola pembangunan yang belum sesuai dengan nilai lokal Berbagai pola pembangunan yang selama ini diterapkan oleh Pemerintah Pusat untuk pembangunan di daerah tidak semuanya dapat diimplementasikan sesuai RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . a) Kualitas Permukiman yang Tidak Memadai bagi Penduduk Asli Papua Kebanyakan dari penduduk asli Papua menetap dan hidup di kampung-kampung jauh dari jangkauan pelayanan pemerintah.1 Keterisoliran Wilayah (Kampung dan Distrik) Sebagai satuan terkecil dari struktur kewilayahan. terletak di daerah pesisir dan pegunungan. Hal ini dapat dilakukan melalui pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan darat dan sarana telekomunikasi yang dapat menghubungkan pusat pertumbuhan dengan daerah hinterland-nya atau daerah-daerah yang terisolir. Kampung yang terletak di wilayah pesisir merupakan wujud permukiman nelayan yang memiliki prasana dasar yang sangat minim.27 . bukit. sedangkan jalur perhubungan laut difasilitasi oleh pelayaran kapal perintis dan juga perahu-perahu kecil dengan motor tempel.K o n d i s i U m u m 2. Aspirasi tersebut kemudian dapat diangkat menjadi suatu isu dan kebutuhan pembangunan di tingkat distrik. listrik dan energi. Dari kampung berawal berbagai aspirasi penduduk lokal mengenai kebutuhan pembangunan. karst dan juga rawa. kampung memegang peranan penting dalam menampung aspirasi penduduk lokal di Tanah Papua.16 Permasalahan Pembangunan 2. Selain itu juga peningkatan pelayanan transportasi laut yang menghubungkan kampung-kampung di wilayah pesisir dengan distriknya perlu dilakukan sebagai alternatif yang dapat menjawab keterbatasan akses akibat kondisi topografi tersebut. Demikian pula halnya dengan kondisi permukiman di kampung yang terletak di daerah pegunungan. Sebagian besar kampung dan distrik belum memiliki akses terhadap saluran telepon.

disimpulkan bahwa penyebab persoalan rendahnya tingkat pendidikan di Provinsi Irian Jaya Barat disebabkan oleh berbagai macam faktor.28 • • • • • RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 . karena di Papua telah berkembang satuan komunitas yang dikelompokkan dan diikat berdasarkan nilai dan norma adat/kekerabatan sosial. maka diharapkan Pemerintah Provinsi dan Daerah dapat mewujudkan pola-pola pembangunan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan lokal. akibatnya pada saat musim panen mereka lebih banyak diperlukan tenaganya untuk membantu orang tuanya dan meninggalkan sekolah. Kualitas pendidikan bermutu rendah. Sebagai contoh konsep desa yang ada di pulau Jawa dengan kepemimpinan Kepala Desa yang digaji oleh Pemerintah tidak tepat diimplementasikan di Papua.4% (Indonesia Human Development Report 2004).2 Terbatasnya Kapasitas Sumber Daya Manusia Sumber Daya Manusia merupakan masalah utama di Papua khususnya di Provinsi Irian Jaya Barat. Anak-anak diperlukan untuk membantu kegiatan keluarga dan desa.K o n d i s i U m u m dengan kondisi daerah. Dengan adanya kewenangan pemerintah daerah untuk membangun daerahnya berdasarkan kebutuhan dan karakteristik lokal. Aturan-aturan hukum dalam komunitas ini didasarkan pada norma adat yang diajarkan secara turun-menurun oleh nenek moyang mereka. Sistem pendidikan tidak menjawab kebutuhan dan keadaan lokal. Dalam bidang pendidikan.16. Keterbatasan ekonomi orang tua. antara lain adalah: • • • • • Ketidakefisienan anggaran untuk pendidikan. II . Guru-guru yang ditempatkan di pedalaman menghadapi banyak hambatan yang kompleks dan kurangnya pelatihan untuk guru-guru. Terbatasnya kapasitas sumber daya manusia di Provinsi ini akibat dari rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan dari masyarakat lokal. Kurikulum pendidikan yang terpusat dan sistem penyampaiannya yang ditentukan oleh pemerintah pusat dalam banyak hal kurang relevan dengan murid di Irian Jaya Barat. Komunitas ini dipimpin oleh tokoh adat yang dihormati dan dipilih secara hukum adat. Adanya dualisme kepemimpinan di tingkat kampung ini telah menimbulkan konflik sosial diantara penduduk lokal yang tentunya dapat menghambat proses pembangunan. Fasilitas perumahan bagi guru di daerah pedesaan tidak mencukupi dan terkadang tidak ada. yaitu sebanyak 74. Di dalam aturan tersebut juga termasuk tata cara mengelola sumber daya alam yang menjadi sumber penghidupan bagi mereka. Guru memiliki komitmen yang rendah. Berdasarkan hasil serangkaian lokakarya Perencanaan Pembangunan Provinsi yang dilakukan di seluruh Kabupaten/Kota di Irian Jaya Barat (Tahun 2005). Jarak antara sekolah yang dibangun dengan desa-desa/permukiman sangat jauh dan medan yang berat. akibat status yang rendah dari profesi guru selain kondisi kerja yang kurang baik. 2. tingkat melek huruf orang dewasa yang paling rendah di Indonesia.

Selain itu kebijakan untuk menggerakkan kelompok usaha lokal Papua masih menggunakan pola konvensional yaitu memberikan jatah pekerjaan atau arahan yang RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Peningkatan efisiensi anggaran bidang kesehatan. 2. lokal maupun pemerintah. Namun di sisi lain rendahnya kualitas SDM penduduk asli papua menyebabkan pengusaha lokal kalah bersaing dengan pengusaha dari luar daerah untuk mendapatkan proyek-proyek yang mendukung kegiatan investasi tersebut. • • Alokasi anggaran untuk bidang kesehatan saat ini diprioritaskan untuk penyediaan sarana dan prasarana fisik (’pengobatan’) seperti penyediaan obat-obatan. Konsekuensinya kebutuhan SDM yang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut haruslah SDM yang memiliki kualitas yang baik dan menguasai teknologi atau ketrampilan khusus. budaya dan jaringan usaha dari pengusaha lokal. Kegiatan ekonomi di wilayah ini didominasi kegiatan investasi yang bergerak dalam kegiatan ekstraksi sumber daya alam. Belum ada informasi yang jelas mengenai berapa alokasi anggaran untuk program-program penyuluhan (terkait dengan ’pencegahan’). Berkaitan dengan upaya-upaya perbaikan tingkat kesehatan masyarakat .K o n d i s i U m u m Pada bidang kesehatan. Biasanya kegiatan investasi ini dimotori oleh para perusahaan asing yang bekerja sama dengan perusahaan nasional. Jasa kontraktual pun masih kecil dan terbatas pada pekerjaan yang membutuhkan syarat teknis yang ringan. faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan di Irian Jaya Barat adalah sebagai berikut : • • Tingkat pengetahuan masyarakat akan kesehatan rendah (terkait dengan pendidikan yang rendah dan minimnya informasi) Jangkauan layanan kesehatan sangat terbatas. Berdasarkan hal tersebut pengusaha lokal Papua cenderung mengantungkan sumber kegiatannya kepada kegiatan program/proyek dari Pemerintah.3 Rendahnya Daya Saing Pengusaha Lokal. maka upaya-upaya perbaikan tingkat kesehatan dititikberatkan pada : • • • • Peningkatan pelayanan kesehatan untuk dapat menurunkan angka kematian bayi dan meningkatkan usia harapan hidup. Hal ini diantaranya disebabkan oleh adanya keterbatasan kapasitas. Sifat dari kegiatan ini adalah padat modal dan memerlukan bantuan peralatan dan teknologi tinggi.16. Hasil kajian selama ini menunjukkan bahwa pengusaha lokal Papua banyak berperan dalam bidang perdagangan guna memenuhi kebutuhan Pemerintah Daerah dalam nilai transaksi yang terbatas (kurang dari Rp. Banyak daerah yang tidak terakses oleh pelayanan kesehatan yakni puskesmas keliling) Frekuensi tenaga medis yang datang ke wilayah terpencil sangat terbatas karena faktor tingginya biaya transportasi (Harga BBM). Tidak ada atau minimnya sarana perumahan bagi tenaga medis. 1 Milyar).29 . (Terkait dengan medan yang berat dan kondisi transportasi serta komunikasi tidak memungkinkan. Pendekatan spasial dalam pelayanan kesehatan Penyuluhan mengenai sanitasi dan lingkungan (Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan). gudang obat dan bangunan puskesmas. kelembagaan.

Penduduk miskin tersebut umumnya bermukim di kampung yang hanya mengandalkan pola hidup subsisten dan tradisional. Jika hal tersebut terus berlangsung dan tidak terdapat kebijakan yang dapat meningkatkan kapasitas pengusaha lokal agar memiliki daya saing yang tinggi.4% dari seluruh total penduduk.16. Berdasarkan hal tersebut upaya pemberdayaan masyarakat. Sebagai contoh Kota Sorong. Selama ini pertumbuhan wilayah di Irian Jaya Barat terbatas pada wilayah-wilayah tempat kegiatan investasi ekstraksi sumber daya alam berlangsung. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Selain itu wilayah yang cepat tumbuh adalah wilayah yang merupakan ibu kota kabupaten. keterisolasian sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja. Hal ini dapat dipahami karena dalam kegiatan eksploitasinya berbagai perusahaan tersebut telah berkontribusi untuk membangun infrastruktur yang diperlukan.16. pendekatan secara kultural perlu dilakukan walaupun memerlukan pendanaan yang cukup tinggi dan waktu yang lama. hal ini tentunya akan menghambat proses dan inisiatif pengembangan ekonomi lokal bagi kesejahteraan masyarakat asli Papua. telah berkembang menjadi kota yang memiliki sarana dan prasarana yang lengkap jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Provinsi ini. yang sejak dahulu merupakan pusat kota eksploitasi minyak bumi.K o n d i s i U m u m sifatnya captive policy yang sengaja diperuntukkan untuk pengusaha lokal. Adanya faktor supply dan demand dari kegiatan perekonomian akan memunculkan berbagai eksternalitas bagi pertumbuhan wilayah. maka lambat laun keberadaan pengusaha lokal asli Papua akan tereduksi. seperti Manokwari dan Sorong. dan kondisi permukiman yang tak layak. Persoalan ini berawal dari rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat.5 Pertumbuhan Wilayah yang Tidak Merata Salah satu pemicu pertumbuhan wilayah adalah kegiatan perekonomian yang dinamis. Khusus untuk wilayah Provinsi Irian Jaya Barat. Namun demikian wilayah hinterland dari pusat-pusat pertumbuhan tersebut belum berkembang akibat dari sulitnya akses yang menghubungkan ke pusat pertumbuhan. pembinaan komunitas adat terpencil. Semua persoalan tersebut berujung pada rendahnya pendapatan masyarakat. dengan kata lain penentuan pemberian pekerjaan tidak didasarkan pada persyaratan bisnis profesional. Pada dasarnya penyebab kemiskinan adalah persoalan multi-dimensi yang membentuk suatu lingkaran kemiskinan. kecilnya laju pertumbuhan ekonomi dan tingginya tingkat pengangguran.30 . kurangnya lapangan kerja. 2.4 Tingginya Angka Kemiskinan Berdasarkan data BPS. Di wilayah tersebut terletak pusat kegiatan pemerintahan dan usaha yang menjadi pemicu pertumbuhan wilayah. Lambatnya pertumbuhan dunia usaha lokal dipicu juga oleh tidak jelasnya pola penanganan yang dikembangkan selama ini dan juga praktek KKN yang marak dilakukan. 2. prosentase kemiskinan di Provinsi Irian Jaya Barat mencapai 75. rehabilitasi dan perlindungan sosial bagi masyarakat marginal terutama ditingkat kampung perlu dilakukan dan diprioritaskan guna menjawab permasalahan kemiskinan.

Tantangan di wilayah ini adalah mayoritas penduduk asli di wilayah ini masih memiliki pola subsisten yang sangat mengandalkan lingkungan sekitarnya untuk dapat bertahan hidup. Dari struktur PDRB tersebut dapat diindikasikan bahwa pertumbuhan sektor modern tidak banyak menghasilkan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Dengan membangun infrastruktur sesuai kebutuhan maka interaksi dan integrasi sektoral dan regional akan dapat terwujud. Saat ini di kelima wilayah eco-region tersebut. dataran rendah dan kepulauan.K o n d i s i U m u m mengingat kondisi topografis dan geografis yang membatasi ruang gerak pembangunan infrastruktur wilayah.6 Ketidakseimbangan Struktur Ekonomi Wilayah Struktur perekonomian yang membentuk PDRB di Provinsi Irian Jaya Barat masih didominasi dari sektor atau industri yang sifatnya ekstraktif terhadap sumber daya alam seperti pertambangan dan MIGAS. Komunitas masyarakat tersebut kebanyakan merupakan penduduk asli Papua yang telah bermukim sejak lama dengan kondisi kesejahteraan yang masih minim. Dengan mempertimbangkan kendala ekosistem dan juga peluang ekonomi wilayah. daerah pedalaman. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . pesisir. Prioritas program tersebut perlu disesuaikan dengan keunggulan dan kapasitas yang tersedia di wilayah masing-masing. maka pendekatan eco-region dapat menjadi acuan untuk mendorong program sektoral di wilayah ini. Berdasarkan hal tersebut program-program spesifik dapat muncul menurut kondisi eco-region seperti pegunungan. perikanan. Walaupun sebagian lainnya bermata pencaharian petani. Padahal produktivitas tenaga kerja pada sektor-sektor tersebut sangat rendah jika dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja di sektor jasa atau pertambangan dan industri. suatu strategi untuk memeratakan pertumbuhan di wilayah ini perlu diimplementasikan kedalam suatu tindakan nyata.16. Berdasarkan hal tersebut. 2. dan kehutanan.31 . Namun demikian kontribusi di sektor pertanian yang menjadi tumpuan penghidupan bagi kebanyakan masyarakat lokal sangat rendah jika dibandingkan dengan sektor pertambangan dan MIGAS. telah berkembang kegiatan ekonomi masyarakat lokal namun skalanya masih kecil dan sifatnya masih subsisten/tradisional. Penyebaran Pusat Pertumbuhan atau Diversified Growth Strategy dengan maksud menyebarkan pertumbuhan baik dalam konteks wilayah maupun sektor kegiatan dapat dijadikan acuan untuk mendorong pengembangan wilayah.

• Minimnya infrastruktur dasar (jaringan jalan). Minimnya data dasar.9 Daerah Bomberay: Potensial untuk dikembangkan sebagai peternakan skala besar a) Pertanian: Minimnya (terbatasnya) lahan dan keterbatasan pembukaan lahan baru sehingga perlu dikembangkan kawasan-kawasan sentra produksi. Sentra produksi perikanan jauh dari pasar nasional. perkebunan dan perikanan serta sektor penunjangnya yakni perhubungan secara lengkap diuraikan dibawah ini: Gambar 2. produksi nelayan. Minimnya upaya pembinaan Minimnya prasarana dan sarana Pemasaran produk baru terbatas pada perdagangan antar pulau. seperti jumlah nelayan. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .K o n d i s i U m u m Berbagai permasalahan yang menjadi ketidakseimbangan struktur ekonomi wilayah tersebut berawal dari permasalahan umum sektor perekonomian rakyat seperti pertanian.32 . terutama pada kawasan sentrasentra produksi sehingga penyediaan jaringan jalan dari dan ke kawasan sentra produksi harus segera diwujudkan. • Minimnya tenaga-tenaga penyuluh. • Adanya masalah pertanahan dan hak ulayat b) Perikanan : • • • • • • • • • Terbatasnya SDM perikanan (skill) Minimnya alat tangkap yang memadai Skala produksi yang masih kecil baik untuk perikanan tangkap maupun budidaya. • Tingginya biaya produksi. • Hasil produksi belum berskala ekonomi • Produksi petani yang masih subsisten dengan kepemilikan faktor produksi yang terbatas.

81 kw/ha. Selain komoditas tersebut juga terdapat komoditas Kelapa Sawit yang terdapat di Distrik Prafi dan Distrik Masni Kabupaten Manokwari dengan luas lahan sebesar 10. termasuk produk ikutannya dan hasil-hasil pengolahan sederhana seperti minyak kelapa rakyat.000 Ha yang dikelolah oleh PTP Nusantara II yang sudah memasuki tahap Produksi. mineral dan perairan. Dampak positif secara makro diantaranya adalah meningkatnya penerimaan devisa negara dari hasil pemanfaatan sumber daya alam hutan. Secara keseluruhan luas areal tanaman perkebunan ini pada tahun 2003 sebesar 26. Akses masyarakat lokal terhadap sumber daya alam dibatasi oleh kemampuan mereka dalam mengolah dan memanfaatkan hasil alam. 2.500 Ha.10 Perkebunan Kelapa Sawit di Prafi • Belum tersedianya bibit tanaman perkebunan yang terjamin kualitas. Jenis komoditi perkebunan yang diusahakan oleh masyarakat dan swasta di Provinsi Irian Jaya Barat antara lain : kopi. Farita Majutama dan Kebun Kakao seluas 5000 Ha oleh PT Nusa Irian Indah dan sisa lahan yang belum dimanfaatkan 159. ekologis dan sosial-budaya di wilayah Irian Jaya Barat. maupun perairan (hasil laut).7 Kurang efektifnya Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Irian Jaya Barat kaya akan sumber daya alam baik berupa hutan. mineral.K o n d i s i U m u m c) Perkebunan : • Minimnya pabrik pengolah sehingga banyak produk mentah terbuang • Rendahnya kemampuan produksi sehingga tidak menjamin kontinuitas produksi.16. kelapa dan lain sebagainya. Gambar 2. yang kemudian diikuti oleh RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . minyak dan gas bumi. Komoditas yang memiliki luas panen terbesar adalah kelapa (52. pala. Adanya pergeseran paradigma dalam era desentralisasi.99% selain itu komoditas lainnya adalah pala.578 Ha dengan rata-rata produksi per tahun 4. Namun implikasi negatif yang harus dikendalikan adalah penurunan kualitas lingkungan. • Status kepemilikan lahan oleh masyarakat adat seringkali menghambat pengembangan perkebunan besar. kopi olahan dan pala olahan yang tersebar di Kabupaten/Kota di Provinsi Irian Jaya Barat.33 . sehingga diperlukan upaya peningkatan produksi dan pengawetan produk. Kaimana dan Teluk Bintuni. cengkeh. selain itu juga terjadi perubahan pada masyarakat terutama dalam peningkatan kesejahteraan akibat pembangunan di berbagai sektor. Berbagai prakarsa pembangunan dalam mengelola sumber daya tersebut telah menghasilkan dampak yang luas secara ekonomi. • Adanya wabah serangan hama PBK yang sangat merugikan petani perkebunan rakyat. Sedangkan di Distrik Babo Kabupaten Teluk Bintuni telah dibangun Kebun Inti Kelapa Sawit oleh PT. coklat dan karet yang terdapat di Kabupaten Fakfak.35%) sementara kopi dan cengkeh yang merupakan komoditas ekspor hanya 5.

Persoalan pengelolaan SDA pada dasarnya adalah bagaimana pengelolaan SDA dapat memberdayakan masyarakat lokal dan bagaimana dengan kearifan lokal (local wisdom)-nya. masyarakatnya tidak miskin. Dengan demikian tidak dapat dihindari jika masih terdapat penduduk miskin di sekitar sentra-sentra produksi sumber daya alam yang berlimpah. minyak dan gas bumi dan perikanan. 2. Sebagai contoh moda transportasi yang ada saat ini dalam menghubungkan wilayah antar-kabupaten/kota. yaitu transportasi laut (karena daerah yang RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . agar SDA dikelola secara berkelanjutan.16. air bersih.34 . persoalannya adalah bagaimana mengatasi SDA terseut sebelum habis. Prasarana publik tersebut meliputi sarana perhubungan. merupakan suatu komitmen untuk memperbaiki pola pembangunan di daerah. Minimnya pengadaan prasarana dasar di wilayah ini disebabkan karena adanya keterbatasan dalam pembangunannya. bahan tambang. Selain memberikan tambahan pendapatan bagi pemerintah untuk kebutuhan pembangunan wilayah. Era desentralisasi. Daerah dimungkinkan untuk mengembangkan kemampuan pengelolaan sumber daya alam berdasarkan prinsip otonomi. Namun desentralisasi yang semula diharapkan tampaknya belum mampu menjamin pengelolaan SDA secara adil dan bijaksana. sangat tergantung dari kondisi topografis di wilayah ini. telekomunikasi. Sedangkan pada SDA yang dapat diperbaharui. Padahal penduduk setempat yang sudah lama mendiami tanahnya telah memiliki cara-cara sendiri dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. serta sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia. Kegiatan eksploitasi sumber daya alam tersebut lebih banyak dilakukan dalam skala besar oleh para investor.K o n d i s i U m u m diberlakukannya otonomi daerah. 2. Sementara penduduk asli yang masih memiliki pola hidup subsisten hanya dapat mengakses sebagian kecil dari sumber daya alam tersebut untuk kehidupannya. Manokwari dan Fakfak. Sedangkan penduduk setempat dan masyarakat pada umumnya masih terbatas sehingga mereka pada akhirnya mengalami keterbatasan. Daya dukung ini penting untuk diketahui. yang harus dipertimbangkan adalah daya dukung (carrying capacity) SDA. Pada SDA yang tidak dapat diperbaharui (non renewable) seperti pada pertambangan. energi.8 Minimnya Akses Masyarakat terhadap Sumber Daya Alam Sumber daya alam yang terdapat di wilayah ini diantaranya adalah sumber daya hutan.16. kegiatan eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh investor masih menyisakan permasalahan dalam bidang lingkungan dan juga belum memberikan manfaat optimal kepada penduduk asli. Dunia usaha dengan teknologi yang moderen mampu memanfaatkan sumber daya alam dan dapat menjangkau wilayah yang cukup luas. kecuali untuk wilayah di tiga kabupaten induk yaitu Sorong. Kebijakan pemanfaatan sumber daya alam yang kurang melibatkan penduduk asli dalam proses kegiatannya telah melemahkan potensi mereka dalam menjaga lingkungan. memunculkan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup. perumahan dan permukiman.9 Minimnya Sarana dan Prasarana Publik Secara umum kondisi sarana dan prasarana publik di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat masih jauh dari kondisi optimum.

10 Lemahnya Kapasitas Kelembagaan Publik Secara administratif. maka dapat dipahami bahwa kapasitas kelembagaan publik yang melaksanakan tugas-tugas pemerintah untuk melakukan pembangunan di daerah masih sangat lemah. praktik-praktik manajemen yang buruk dan kurangnya sumber daya finansial dan mekanisme kontrol finansial. kesetaraan RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . padahal untuk kondisi di wilayah ini kriteria tersebut tidak cocok untuk diterapkan. terutama di kampungkampung permukiman penduduk asli. dan transportasi udara.16. sehingga kriteria jumlah penduduk seringkali tidak dapat dipenuhi untuk membangun prasarana dasar di tingkat kampung. Dengan kondisi yang masih sangat serba baru baik kabupaten maupun Provinsi. Distribusi penduduk asli yang mendiami kampung-kampung di Provinsi Irian Jaya Barat memiliki karakteristik yang menyebar. kecuali pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan klinik. Berbagai masalah yang selama ini telah berhasil didokumentasikan diantaranya adalah struktur organisasi yang tidak tepat. energi dan telekomunikasi di tingkat kampung masih belum memadai. ditambah dengan sikap yang kondusif terhadap praktikpraktik yang tidak efisien dan terhadap korupsi telah lama terbentuk. Berdasarkan hal tersebut peningkatan kapasitas kelembagaan publik di Provinsi Irian Jaya Barat merupakan salah satu target utama guna melaksanakan program pembangunan yang berkelanjutan di wilayah ini. 2.17. Selain itu ketersediaan prasarana dasar seperti air bersih. 2. dimana dari segi alokasi tenaga dan dana. unit perumusan kebijakan menjadi terbesar/tergemuk dan unit-unit pelayanan di tingkat distrik dan kampung justru terlemah/terkecil. Selain itu kapasitas kelembagaan ditingkat distrik kurang diberdayakan untuk melaksanakan pelayan publik/teknis.17 Isu dan Kebutuhan Pembangunan 2. Hal ini disebabkan karena penyediaan prasarana dasar masih menggunakan pola klasik yang didasarkan pada kriteria jumlah penduduk. mencakup hampir semua aspek kehidupan manusia . Provinsi Irian Jaya Barat meliputi 8 Kabupaten dan 1 Kota.K o n d i s i U m u m berkembang di wilayah ini adalah daerah pesisir). Tambahan lagi.35 . Pelayanan transportasi laut dan udara pun masih kurang efektif akibat belum teraturnya jadwal kapal dan jadwal penerbangan. Pemerintah daerah sendiri tidak pernah melaksanakan paradigma pembangunan yang terdesentralisasi secara konsisten dan mempertahankan kekuasaan.1 Pembangunan Manusia Konsep pembangunan manusia sangat luas. Awalnya jumlah kabupaten dan kota di wilayah ini hanya meliputi 3 kabupaten induk yang kemudian dimekarkan. keterampilan sumber daya manusia yang tidak memadai.mulai dari kebebasan menyampaikan pendapat. unit pemerintah daerah punya pengalamanan yang minim dengan kewenangan independen dan tanggung jawab yang lebih besar. Hal ini berbeda dengan kondisi di kampung atau daerah permukiman transmigrasi. Sedangkan transportasi darat hanya dapat menjangkau daerah-daerah di dalam kota atau kabupaten. Dilihat dari struktur organisasi pemerintah daerah masih nampak adanya bentuk yang disebut piramide terbalik. Akibatnya pelayanan tidak dapat dilaksanakan dengan baik ditingkat kampung. sanitasi.

IPM yang disusun UNDP di New York tahun 2001 memberi Indonesia skor 68 dari 100 dan menempatkan Indonesia pada peringkat 102 di dunia dalam hal pembangunan manusia. Eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi oleh NNGPM Belanda dan kemudian dilanjutkan oleh PT Pertamina dan Kontraktor Bagi Hasil (Petromer Trend. Penyebabnya adalah kapasitas yang tidak berkembang dan tidak dikembangkan. Begitu pula syarat mutlak dalam mengatasi tantangan dengan angka partisipasi pendidikan ketertinggalan daerah ini. formal di pedesaan masih rendah dibandingkan di perkotaan. disamping pola pendidikan yang tidak tepat serta mutu pendidikan yang rendah menyebabkan komunitas penduduk asli Papua tetap saja tertinggal. dan perusahaan kehutanan dan perikanan yang secara intensif dilakukan di Provinsi Irian Jaya Barat. Sarana pendidikan di Provinsi Irian Jaya Barat dari mulai TK sampai Perguruan tinggi telah lengkap di perkotaan. angka partisipasi dalam bidang pendidikan bagi penduduk asli menunjukkan variasi antar wilayah. Kehidupan modern pertama kali datang di Tanah Papua terlebih dahulu di Provinsi Irian Jaya Barat. usia harapan hidup dan pendidikan terakhir. hingga kemampuan untuk membaca dan menulis bagi orang dewasa. gizi anak. kesempatan memperoleh pekerjaan. Hal tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam dua hal pokok yaitu pendidikan dan kesehatan. Hal ini mengakibatkan sangat minimnya penduduk asli yang dapat berpartisipasi dalam perekonomian dan pembangunan. Tidak adanya atau sangat minimnya akses pendidikan menghambat perkembangan kapasitas penduduk asli.K o n d i s i U m u m jender. Berdasarkan data yang diperoleh.11 Pembagunan SDM menjadi masih kurang di pedesaan. namun Gambar 2. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Tambahan nilai modern ini belum mampu mengubah kondisi sosial ekonomi penduduk asli dan tetap saja hidup dalam keterisolasian dan subsisten. maka pembangunan manusia menjadi syarat mutlak bagi Provinsi Irian Jaya Barat untuk dapat mengejar ketertinggalannya dengan Provinsi lain dan juga untuk mensejahterakan masyarakatnya. Dalam analisa pembangunan manusia digunakan suatu tolok ukur khusus yang disusun oleh UNDP yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator tingkat kemiskinan non-ekonomi. dan lain lain) dan saat ini perusahaan Gas Bumi oleh BP Tangguh.36 . Konsep tersebut menempatkan manusia sebagai pusat dari keseluruhan proses pembangunan. Secara global. Terdapat perbedaan yang mencolok dalam hal kapasitas di kalangan penduduk asli dengan bukan penduduk asli. Angka partisipasi dalam bidang pendidikan pada umumnya cukup rendah. Kuantitas dan kualitas Sumber Daya Manusia merupakan persoalan pokok yang dihadapi dalam pembangunan di wilayah ini. IPM ini merupakan ukuran yang menggabungkan ukuran tingkat pendapatan. Santa Fe. Permasalahan mengenai rendahnya kualitas SDM yang tercakup didalamnya adalah rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan.

Pada tahun 1986 lahir Deklarasi PBB mengenai Hak atas Pembangunan yang tidak hanya meliputi hak-hak tersebut saja tetapi juga menjamin kesediaan kesehatan. sarana pendidikan secara kuantitas terlengkap terdapat di Kabupaten Manokwari. mereka juga memandang bahwa adat merupakan warisan leluhur dan panduan hidup di dunia yang dapat menjamin kesejahteraan sosial dan keadilan. yakni Peringkat IPM. 6. namun secara indikator kemiskinan Non Ekonomi di tingkat Nasional. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . pengakuan hak-hak dasar terhadap masyarakat Papua belum lengkap jika tidak diikuti dengan pengakuan terhadap hak adat mereka. 2. Kabupaten/Kota Fakfak Sorong Manokwari Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Bintuni Teluk Wondama Kota Sorong Total TK 30 47 32 8 1 2 6 1 35 162 SD 87 111 164 67 109 79 63 42 66 788 SLT P 13 17 27 10 16 17 14 4 22 140 SLTA Umu Kejurua m n 5 3 3 1 12 2 4 4 4 1 2 0 4 0 1 0 15 7 50 18 Perguruan Tinggi Negeri 1 0 2 0 1 0 0 0 1 5 Swasta 0 1 3 2 1 0 1 0 13 21 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator tingkat kemiskinan nonekonomi. 3. Tabel 2. politik. Sedangkan jumlah fasilitas pendidikan terendah adalah Raja Ampat dan Teluk Wondama. 9. 8.2 Pengakuan Hak Dasar Pengertian hak-hak dasar jika merujuk pada Deklarasi Universal terhadap Hak Asasi Manusia yang disepakati tahun 1949.37 . yang sangat menjunjung tinggi adat tanah leluhurnya. 4. 1. gizi dan pendidikan dengan standar yang baik. 2. 5. Bagi masyarakat Papua. Ini menunjukkan bahwa pendapatan dari sumber daya alam Provinsi Irian Jaya Barat belum diinvestasikan dengan memadai untuk memperbaiki kondisi kehidupan bagi masyarakatnya. menempati deretan urutan rendah di Indonesia. 7. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat Papua percaya bahwa adat merupakan hal yang penting untuk memahami dan menyelesaikan masalah-masalah di Papua.19 : Banyaknya Sarana Pendidikan di Provinsi Irian Jaya Barat dirinci menurut Jenisnya per Kabupaten/Kota No. ekonomis. menunjukkan kendati PDRB Per kapita Provinsi Irian Jaya Barat termasuk yang tinggi pada level nasional. menyangkut beberapa jenis hak yaitu hakhak sipil.17.K o n d i s i U m u m Berdasarkan data. Angka partisipasi pendidikan menempatkan Provinsi Irian Jaya Barat di deretan bawah di tingkat nasional dan menggambarkan situasi pembangunan yang jauh lebih serius daripada angka PDRB perkapita yang tinggi. sosial dan budaya.

Strategi proses penambahan nilai sektor primer dalam skala kecil dan menengah merupakan salah satu alternatif untuk menggerakkan pertumbuhan wilayah pedalaman. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . kegagalan pemerintah dalam mengakui hak tanah adat dan dan pengabaian terhadap hak-hak dasarnya di masa lalu. Kendala-kendalanya antara lain adalah: • • • Belum adanya ‘jembatan’ antara hukum nasional dan hukum adat. peningkatan daya tarik investasi dan juga mendukung kegiatan perekonomian lokal. dan guna memobilisasi anggota masyarakat untuk mengatasi tantangan dari luar. Di lain pihak. Adanya ketidakjelasan batas dan dasar klaim tanah ulayat. Tantangan ini meliputi eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh Pemerintah dan perusahaan swasta. produk pertanian rakyat merupakan bahan baku yang membutuhkan proses penambahan nilai melalui sektor sekunder dan mampu menggerakkan multiplier effect sektor pertanian. Berdasarkan hal tersebut. Adanya ketidakjelasan struktur/kepemimpinan masyarakat adat. Namun sektor-sektor yang memberikan kontribusi besar tersebut nyatanya tidak selalu membentuk tata kaitan ekonomi dengan sektor pertanian yang diusahakan masyarakat. akan tetapi juga memberikan hambatan serius untuk meningkatkan akses masyarakat pada layanan kesehatan dan pendidikan selain komunikasi dengan pemerintah dan pasar di luar.3 Pengembangan Ekonomi Rakyat Sektor dominan pembentuk PDRB Provinsi Irian Jaya Barat adalah pertambangan dan pertanian.4 Penyediaan Prasarana Dasar Minimnya ketersediaan prasarana dasar yang memadai tidak hanya membatasi peluang bagi mata pencaharian potensial. Untuk itu diperlukan suatu upaya yang dapat meningkatkan nilai tambah kegiatan ekonomi bagi masyarakat lokal Gambar 2. Industri pengolahan cenderung berskala besar yang diusahakan oleh korporasi.17.17.12 Pekerjaan tradisional masyarakat asli: Menokok Sagu 2.K o n d i s i U m u m Adat telah menjadi wahana utama bagi masyarakat Papua untuk mengekspresikan identitas lokal guna menyatakan kembali hak-hak dasar mereka yang telah diabaikan sejak lama dimasa lalu. penyediaan prasarana dasar atau infrastruktur wilayah sebaiknya ditekankan pada peningkatan kapasitas prasarana kota dan pengembangan wilayah pinggiran terutama yang mendukung kelancaran arus barang dan jasa.38 . Namun demikian upaya pengakuan hak dasar orang Papua di Provinsi Irian Jaya Barat. masih memiliki beberapa kendala. 2.

Gambar 2. Gubernur Provinsi Irian Jaya Barat beserta seluruh kepala daerah masingmasing kabupaten/kota di Provinsi Irian Jaya Barat telah menandatangani Nota kesepakatan Tahun 2004 pembangunan jalan yang disebut dengan jalan Trans Irian Jaya Barat untuk memenuhi tuntutan pembangunan mencakup kecepatan dan ketepatan pelayanan di berbagai sektor pembangunan (Fisik dan Non Fisik).14 Faktor topografis yang berat menjadi kendala dalam perwujudan integrasi wilayah ini. Sehubungan dengan hal tersebut. Kabupaten Sorong dan II . terutama transportasi darat yaitu jalan dan jembatan.17. mengakibatkan wilayah permukiman yang terisolir akan tetap terisolir menyebabkan Gambar 2. masyarakat di daerah pedalaman tetap terisolir dari dunia informasi dan kesulitan dalam meningkatan taraf hidupnya. Pola sebaran penduduk terpencar dan terpencil terpisah oleh medan topografi yang berat. Integrasi wilayah oleh sarana transportasi darat akan meningkatkan interaksi wilayah.K o n d i s i U m u m 2. Program pembangunan Trans Irian Jaya Barat menjadi relevan dalam masa datang untuk keperluan integreasi antar wilayah dimaksud. Rasio antara luas wilayah dengan panjang jalan yang tersedia sangat tidak sebanding. dimana Pemerintah Kabupaten manokwari.5 Integrasi Wilayah Kendala utama dalam rangka percepatan pembangunan masyarakat di Papua adalah keterisolasian disebabkan oleh terbatasnya sarana dan prasarana transportasi. Dana Sektoral dan Dana APBD. Kabupaten Sorong dan Kota Sorong. 3.39 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 . tipe kontur yang perbedaannya sangat tajam antara pegunungan dan lembah 2.13 Kondisi Jalur transportasi darat Manokwari-Bintuni Beberapa fakta yang terkait dengan perwujudan integrasi wilayah adalah: 1. Pembangunan ruas jalan Trans Irian Jaya Barat adalah sebagai berikut : Seksi I : Ruas jalan yang menghubungkan Manokwari. Sorong Selatan. Dana yang dialokasikan untuk pembangunan jalan tersebut bersumber dari dana Otsus. Sorong Selatan. Faktor topografis.

2. Seksi II : Ruas jalan yang menghubungkan Kabupaten Manokwari. d. dinilai kurang fleksibel dan sangat terbatas. Salah satu diantaranya adalah mega proyek LNG Tangguh milik Beyond Petroleum (BP) di Teluk Bintuni. Oleh karena itu pembangunan jalan diupayakan semaksimal mungkin dengan cara : • • • • Berada di luar kawasan cagar alam baik yang direncanakan maupun yang sudah ditetapkan. Manokwari-(25 km)-Maruni-(50. Ruas jalan Windesi-(40 Km)-Bourof-(76 Km)-Bomberai(161 km)-Fakfak. Cukup dilematis antara pemilihan alternatif dalam integrasi wilayah antara darat dan kombinasi darat-lautudara. Sedangkan integrasi melalui kombinasi darat-laut-udara. Pembangunan jalan logging oleh HPH sebaiknya terintegrasi dengan jalan trans.7 km)-Oransbari-(36. wilayah Kepala Burung merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki keanekaragaman hayati yang unik yang tidak terdapat di tempat lain sehingga perlu dilindungi keberadaannya.(47 Km)Kumurkek. Namun. b. Fakfak. Pembangunan jalan yang melalui kawasan lindung harus memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan. Ruas jalan Bourof –(120 Km)-Kaimana. Kaimana membangun ruas jalan : a. Dalam penentuan trasse jalan belum didahului dengan studi kelayakan yang detail.6 km)Ransiki-(48)-Mameh-(89 Km)-Bintuni. banyak mengalami kendala misalnya tersendat-sendatnya pembangunan jalan akibat melewati dataran rawa yang membutuhkan biaya konstruksi yang sangat mahal. perikanan dan pertambangan yang mulai beroperasi di wilayah tersebut.17. Salah satu aset lingkungan yang penting dan mendapat perhatian internasional adalah kawasan hutan bakau di Teluk Bintuni yang merupakan hutan bakau terluas kedua di Asia Tenggara (426. Teluk Wondama. Di sisi lain. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .K o n d i s i U m u m Kota Sorong meningkatkan ruas jalan Sorong-(42 km)-Klamono (129 km)-Ayamaru. sangatlah pesat.(50 km)-Kebar.40 . Teluk Bintuni. kondisi jalan sebagian masih buruk. Integrasi melalui darat akan menimbulkan berkurangnya luasan kawasan lindung. Ruas jalan Mameh-(115 Km)-Windesi-(181 Km)-Tandia-(9 Km) Rasiei.6 Penyebaran dan Pemerataan Pertumbuhan Selama dekade terakhir dinamika pembangunan di Provinsi Irian Jaya Barat. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah proyek-proyek di berbagai sektor antara lain sektor kehutanan.000 Ha). Pengawasan yang ketat terhadap kontraktor pembebasan untuk menjamin agar pekerjaan sesuai dengan yang telah direncanakan. Sebagian besar pembangunan telah dilakukan (70%). sehingga pada saat pembangunan di ruas-ruas tertentu. c. yang merupakan wilayah jurisdiksi Provinsi Irian Jaya Barat.

Gambar 2. tambang-mineral dan perairan untuk mendapatkan pemahaman yang maju sesuai perkembangan perundangundangan. Dengan demikian tidak semata-mata tergantung pada bidang gas alam saja. pemanfaatan sumber daya alam cenderung dilakukan secara eksploitatif tanpa memperhatikan keberlanjutan dan daya dukung lingkungan disekitarnya. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Melakukan kegiatan peningkatan kapasitas anggota legislatif dan eksekutif mengenai permasalahan sumber daya hutan. • • • Merancang sistem dan pola pengelolaan hutan dan kepentingan masyarakat adat di Provinsi Irian Jaya Barat untuk mendapatkan bentuk pengelolaan hutan berbasis masyarakat dengan penerapan sistem silvikultur yang menjamin keberlanjutan sumber daya alam di Irian Jaya Barat.7 Pelestarian Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Seperti yang banyak terjadi di wilayah lain di Indonesia. Cara ini akan dapat menjawab kebutuhan pembangunan yang ”equitable” serta menghadirkan opsi lain yang sifatnya sektoral. Berdasarkan uraian tersebut maka beberapa kebutuhan yang diperlukan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di wilayah Irian Jaya Barat demi mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan adalah sebagai berikut: • Memastikan adanya dukungan regulasi yang efektif dalam pengelolaan sumber daya alam hutan. Penyebaran pusat pertumbuhan serta pengembangan sektor lain juga akan dapat memperbaiki serta memperkuat struktur ekonomi yang cenderung berisifat monosektor. Disamping itu pula.41 . Mengefektifkan peraturan pengelolaan sumber daya alam. perlu dipastikan bahwa Penyebaran Pusat Pertumbuhan menjadi program prioritas pada tingkat lokal baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota. disadari oleh semua pihak bahwa sangatlah penting mencegah pemusatan pertumbuhan di kawasan di mana terdapat investasi berskala besar yang mana kondisi alamnya sangat sensitif seperti wilayah Teluk Bintuni.17.15 Aktivitas logging yang Intensif dapat mengancam kelestarian Lingkungan. pelajaran yang diperoleh disini adalah perlunya pengembangan wilayah Kepala Burung dengan menggunakan prinsip penyebaran pusat pertumbuhan serta diversifikasi sektor usaha. 2. Sebagai suatu pendekatan pembangunan.K o n d i s i U m u m Belajar dari pengalaman sebelumnya (dalam hal ini kasus Freeport di Timika). mineraltambang dan perairan di Provinsi Irian Jaya Barat.

Dari pengalaman di beberapa provinsi di Indonesia. Mengalokasikan sebagian besar dana pembangunan pada tingkat yang berwenang atau paling kompeten dalam memberikan pelayanan publik.8 Pengembangan Kelembagaan Sebagai provinsi baru. SDA sebagian besar masih potensi. Meningkatkan kemampuan DPRD (kapasitas menjalankan fungsi legislasi dan pengawasan.42 . meskipun sudah ada Peraturan Pemerintah (PP) yang ditentukan oleh pemerintah pusat. disini ada Multinational Cooperation high tech seperti BP Tangguh atau Petro China yang padat modal. bagaimana capacity buiding/pemberdayaan lembaga-lembaga yang ada dan keterkaitan sinergi antara lembaga-lembaga itu. Mengembangkan kemasyarakatan. penganggaran dan penyediaan pelayanan. peranan aparatur menjadi penting Sebagai provinsi baru. Guna merumuskan bentuk dan mekanisme kelembagaan pembangunan yang efektif dan sesuai dengan karakteristik wilayah Irian Jaya Barat. masalah pemberdayaan aparatur : dalam penyusunan struktur dan penempatan personil ada subjektivitas dalam pemilihan personil. belajar dari kasus-kasus yang sudah diteliti di provinsi lain. penempatan personil. mengingat Provinsi Irian Jaya Barat menghadapi tantangan situasi yang berat dan serba kontras.17. beberapa hal berikut perlu dilakukan sebagai pra-syarat dasar pengembangan kelembagaannya.K o n d i s i U m u m 2. peran aparatur sangat penting. Oleh karena itu tantangan yang harus dihadapi terutama oleh pemberintah daerah dalam pelayanan publik adalah bagaimana menghadapi masalah masyarakat golongan ini. • • • • • • Desentralisasi struktur dan kapasitas pemerintahan dari segi dana. Misalnya. tidak mempertimbangkan ‘the right man on the right place’. Provinsi Irian Jaya Barat terbentuk pada era otonomi fase konsolidasi dan tuntutan terhadap manifestasi prinsip ‘Good Governance’. Jadi Provinsi Irian Jaya Barat dapat belajar banyak dari provinsi lain mengenai penataan struktur organisasi. Provinsi Irian Jaya Barat terbentuk pada era otonomi fase konsolidasi tahun 2006. Dalam Pemberdayaan aparatur. Sebagai provinsi baru. kapasitas pengelolaan dan instrumen) dalam dari organisasi-organisasi Memperkuat/menambah kemitraan dan kerjasama antara pemerintah dengan lembaga CSO yang berkompeten dalam perumusan kebijakan dan pelaksanaan pelayanan publik. proses pembentukan struktur tidak diikuti dengan ‘Job analysis’ yang tepat. maka sebagai provinsi baru. dan tenaga ke arah distrik dan kampung. Masalah berkaitan dengan kemampuan pemda dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. harus disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Dari domain-domain tadi. pemograman. riil belum diolah. Mengembangkan kapasitas dari pemerintah provinsi dan kabupaten baru dalam perencanaan. tapi masih ada food gathering complex belum sampai taraf subsisten. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Salah satu faktor kunci dalam ‘Good Governance’ adalah kapasitas pemerintah daerah.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->