K o n d i s i

U m u m

2.1 Fisik 2.1.1 Geografis Secara geografis, wilayah Provinsi Irian Jaya Barat terletak dibawah katulistiwa, antara 00 25’ – 40 18’ Lintang Selatan dan 1240 0’-1320 0’ Bujur Timur dengan batas – batas administratif wilayah sebagai berikut: Sebelah Utara Sebelah Barat Sebelah Selatan Sebelah Timur : : : : Samudera Pasifik Laut Seram Provinsi Maluku Laut Banda Provinsi Maluku Provinsi Papua

Secara administratif, Provinsi Irian Jaya Barat terdiri dari 8 Kabupaten dan 1 Kota. Luas wilayah Provinsi Irian Jaya Barat adalah 115.363,50 km2, dimana Kabupaten Teluk Bintuni merupakan daerah yang terluas yaitu 18.658 km2, sedangkan Kota Sorong merupakan daerah dengan luas terkecil, yaitu 1.105 km2. Gambar 2.1 : Peta Letak Geografis Provinsi Irian Jaya Barat

Samudera Pasifik

Laut Banda

Laut Seram

Provinsi Papua

RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011

II - 1

K o n d i s i

U m u m

Luas masing–masing Kabupaten/Kota dan Jumlah distrik serta kampung di Provinsi Irian Jaya Barat adalah sebagaimana terdapat pada Tabel 2.1 berikut : Tabel 2.1 : Luas Wilayah dan Jumlah Distrik Se-Kabupaten/Kota Jumlah Luas No Kabupaten/Kota 2 Km Distrik Kampung 1 Manokwari 14.448,50 29 414 2 Teluk Bintuni 18.658,00 11 95 3 Teluk Wondama 4.996,00 7 56 4 Kaimana 18.500,00 7 81 5 Fakfak 14.32,00 9 103 6 Sorong Selatan 13.265,00 14 214 7 Sorong 18.170,00 12 105 8 Kota Sorong 1.105,00 5 9 Raja Ampat 11.901,00 10 85 Total 115.363,50 104 1153 Sumber: Irian Jaya Barat Dalam Angka Tahun 2006

Kelurahan 9 2 1 5 3 5 22 47

Jumlah kampung dan kelurahan sebagaimana disajikan dalam tabel di atas, yaitu sebanyak 1153 Kampung dan 47 Kelurahan. Sebaran kampung dan kelurahan berdasarkan topografinya : 33,45% berada di pesisir, 15,17% berada di daerah aliran sungai, 25% berada di lereng/punggung bukit dan 26,38% berada di dataran.

2.1.2. Iklim Provinsi Irian Jaya Barat sebagai bagian dari pulau Papua terletak di Selatan garis khatulistiwa yang dipengaruhi dengan iklim tropis sepanjang tahun. Hasil pencatatan suhu udara pada stasiun yang berada di kabupaten/kota se-Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 menunjukkan bahwa suhu rata-rata tertinggi di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong yaitu sebesar 27,70 ºC. Kelembaban udara hampir merata di seluruh wilayah yakni sebesar 83,6-85 persen dimana angka terendah adalah Kabupaten Manokwari dan tertinggi di Kabupaten Fakfak. Tekanan udara rata-rata tertinggi terjadi di Kabupaten Sorong dan Kota Sorong sebesar 1.010,7 mbs. Curah hujan sepanjang Tahun 2005 di beberapa wilayah di Provinsi Irian Jaya Barat tercatat bahwa curah hujan tertinggi berada di Kabupaten Fakfak yaitu sebesar 3.209 mm, sedangkan yang terendah terjadi di Kabupaten Kaimana yang hanya mencapai 127 mm. 2.1.3 Geologi dan Fisiografi Pulau Papua dalam proses pembentukan tektonik lempeng, secara umum erat kaitannya dengan posisi Indonesia dalam teori kulit bumi yang diapit oleh berbagai formasi lempeng dari berbagai arah. Posisinya terletak di ujung paling selatan dari lempeng Eurasia yang bergerak dari arah Barat Daya khatulistiwa kemudian bertumbukan dengan lempeng Indo-Australia dan Pasifik di bagian Utara Pulau
RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011

II - 2

K o n d i s i

U m u m

Papua. Kecepatan tumbukan kedua lempeng ini diperkirakan antara 7 - 11 cm per tahunnya akan tetapi implikasi lanjutannya sangat luar biasa seperti yang pernah terjadi pada tahun 1996 lalu, yaitu peristiwa Tsunami di Pantai Utara Papua yang berdampak pada Pesisir Utara Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Manokwari. Akibat interaksi kedua lempeng kerak bumi tersebut banyak terjadi lipatan (pegunungan) dan patahan di daerah Papua. Bentukan patahan-patahan ini yang menimbulkan daerah atau wilayah-wilayah yang berpotensi gempa. Secara keseluruhan jumlah gempa bumi yang dirasakan di Papua selama tahun 2004 sebanyak 45 kali, lebih banyak dirasakan bila dibandingkan tahun sebelumnya hanya 11 kali. Topografi wilayah Kepala Burung yang menjadi wilayah Provinsi Irian Jaya Barat sangat bervariasi dari datar sampai bergunung – gunung dengan puncak – puncak yang tinggi, dimana daerah lembah – lembah yang datar tersebar di sekitar Teluk Bintuni, Isim, Prafi, Warsamson, Wosimi dan Teluk Arguni. Sementara kelompok pegunungan dengan puncaknya yang mencapai 3000 m dpl, antara lain Pegunungan Arfak, Pegunungan Tamrauw, Pegunungan Kumawa, Pegunungan Fakfak dan Pegunungan Wondiboi. Berdasarkan data Topografi dan Kemiringan Lahan, lebih dari 50% lahan di Provinsi Irian Jaya Barat memiki prosentase kemiringan lahan lebih dari 40% atau dikategorikan sangat curam. Dari total luas lahan, hanya 2.524.944 Ha yang potensial dikembangkan sebagai areal permukiman. Tabel 2.2 : Topografi Luas Kemiringan Lahan
No. 1. 2. 3. Jenis Lahan Bergelombang Curam Sangat Curam Prosentase Kemiringan (%) 3 – 15 16 – 40 >40 Luas (Ha) 2.524.944 2.795.754 5.556.300

Sumber : Profil Daerah Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 2.1.4. Ekologi Pulau New Guinea secara administratif terbagi dalam dua wilayah, yaitu wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang terbagi kedalam Provinsi Papua dan Provinsi Irian Jaya Barat dan Negara Papua New Guinea. Sebagai pulau tropis yang terbesar di dunia, Pulau New Guinea memiliki keragaman dan keunikan ekosistem yang mengagumkan, termasuk glasier dan ekosistem alpine, hutan berkabut, hutan hujan dataran rendah, padang rumput, hutan Mangrove, terumbu karang dan hamparan rumput laut. Banyak spesies yang ada di New Guinea memiliki status endemik atau secara alamiah tidak dapat ditemukan di tempat lain. Secara keseluruhan, pulau New Guinea memiliki sedikitnya 500.000 jenis flora dan fauna. Dari jumlah tersebut, diduga sekitar 20.000 sampai 25.000 jenis tanaman hidup di wilayah Propinsi Papua dan Irian Jaya Barat.

RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011

II - 3

K o n d i s i

U m u m

Ekosistem berkelas dunia yang ada di wilayah ini adalah ekosistem Mangrove yang luas (260.000 Ha) di Teluk Bintuni yang merupakan salah satu yang terpenting di dunia dan ekosistem Terumbu Karang di Raja Ampat yang sangat kaya keanekaragaman hayatinya. 2.2. Kependudukan Dari hasil perhitungan berdasarkan Sensus Penduduk, laju pertumbuhan penduduk Provinsi Irian Jaya Barat selama tiga dasawarsa terakhir selalu meningkat. Rata-rata laju pertumbuhan penduduk tahun 1971-1980, 1980-1990 dan 1990- 2000 berturut-turut adalah 2,78%, 3,12% dan 4,01%. Pada tahun 1971 jumlah penduduk tercatat sebanyak 221.457 jiwa, tahun 1980 meningkat menjadi 283.493 jiwa, dan pada tahun 1990 jumlah penduduk menjadi 385.509 jiwa. Pada tahun 2000 jumlahnya menjadi 571.107 jiwa. Peningkatan laju pertumbuhan penduduk ini diperkirakan akan terus berlangsung mengingat aktivitas kegiatan ekonomi dan pemekaran wilayah yang ada saat ini. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, pada tahun 2005 jumlah penduduk tercatat sebesar 651.958 jiwa., terdiri dari 343. 920 jiwa penduduk laki-laki dan 308.038 jiwa penduduk perempuan. Bila dibandingkan dengan luas wilayah, maka kepadatan penduduk 6 jiwa per km dengan rata-rata 4 anggota setiap rumah tangga. Dari persebaran penduduk, Kota Sorong mempunyai kepadatan penduduk yang sangat mencolok dibandingkan dengan kabupaten lainnya yakni 137 jiwa per km² dan yang paling sedikit adalah Kabupaten Kaimana 2 jiwa per km². Tabel 2.3 : Jumlah dan Kepadatan Penduduk per km² dan per Rumah Tangga Menurut Kabupaten/Kota Luas Wilayah Jumlah
Penduduk Rumah tangga

Kabupaten/Kota

Kepadatan Penduduk
Per km² Per Rumah tangga

Fakfak 14.320 59.773 Kaimana 18.500 37.649 Teluk Wondama 4.996 20.698 Teluk Bintuni 18.658 48.079 Manokwari 14.448,50 154.421 Sorong Selatan 13.265 55.001 Kabupaten Sorong 18.170 88.259 Raja Ampat 11.901 37.018 Sorong 1.105 151.060 Total 115.363,50 651.958 Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat 2006 2.3. Tenaga Kerja

14.943 9.412 5.174 12.020 38.605 11.000 22.065 9.254 37.765 162.990

4 2 4 3 11 4 5 3 137 6

4 4 4 4 4 5 4 4 4 4

Permasalahan mengenai ketenagakerjaan selalu menjadi pokok masalah yang dihadapi daerah, apalagi bagi Provinsi Irian Jaya Barat sebagai provinsi baru. Persoalan utama ketenagakerjaan adalah masih rendahnya penyediaan lapangan kerja dan minimnya tenaga terampil yang dibutuhkan oleh pasar kerja, akibat tingkat
RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011

II - 4

5 . Secara keseluruhan alih pekerjaan dan program pembangunan ekonomi ini belum didukung sepenuhnya oleh kualitas sumber daya manusia yang memadai. Untuk penduduk usia kerja yang tertinggi terkonsentrasi di kelompok umur 25-29 tahun yaitu sebesar 61.917 orang (25.413 orang.333 laki-laki dan 19. total jumlah pengangguran di Provinsi Irian Jaya Barat sebesar 32. Kemudian terbanyak kedua adalah Kota Sorong.1%. Kabupaten Manokwari jumlah penduduk usia kerja paling banyak dibandingkan kota lainnya. a. Sementara itu. Penduduk yang bekerja dengan pendidikan S1 ke atas hanya 2. merasa tidak mungkin mendapat pekerjaan. sudah punya pekerjaan tetapi belum mulai bekerja. yaitu sebanyak 98. Penduduk Bekerja Menurut Usia Pendidikan Berdasarkan tingkat pendidikan.250 perempuan. Sedangkan jika dilihat berdasarkan kota/kabupaten. Hal ini menunjukkan bahwa kualitas Sumber Daya Manusia Irian Jaya Barat sangat rendah dan sulit memperoleh kesempatan dan bersaing untuk mendapatkan pekerjaan di sektor-sektor modern. c. yaitu sebesar 69. yakni penduduk yang sedang mencari pekerjaan. Berdasarkan data BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .312 orang (24. sebanyak 86. yakni penduduk berusia 15 tahun ke atas disebut penduduk usia kerja Tahun 2005 mencapai 405.90%) untuk perempuan. Pengangguran Pengangguran meliputi empat kelompok. b. Bahkan untuk perempuan yang bekerja yang berpendidikan SD ke bawah sangat tinggi.747 (63%) dari total jumlah penduduk. terjadi pergeseran pekerjaan dari sektor tradisional menjadi modern terjadi di Provinsi Irian Jaya Barat juga menjadi persoalan yang harus dihadapi Provinsi Irian Jaya Barat saat ini.07%) untuk laki-laki dan sebanyak 25. sehingga masih terjadi pengangguran di seluruh wilayah. yaitu sebesar 82%.K o n d i s i U m u m pendidikan yang rendah. yang terdiri dari 13.274 orang. sebesar 46.583 orang.21%. penduduk bekerja paling banyak merupakan tamatan SD ke bawah. Usia Kerja Data usia kerja. mempersiapkan suatu usaha. Dari total Angkatan Kerja di Provinsi Irian Jaya Barat yang paling tinggi ada di Kabupaten Manokwari.968 orang.

tidak hanya di propinsi Irian Jaya Barat saja. Kesehatan Tingkat kesehatan masyarakat di wilayah ini tergolong terendah dibandingkan dengan wilayah lainnya di Indonesia.1. Paling serius dari risiko kesehatan tersebut adalah angka kesakitan yang tinggi. Dari data BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006.5. seperti malaria. Kenyataannya dalam aspek pembangunan. Kurang berperannya kaum perempuan. terlihat bahwa perempuan yang bekerja dengan tingkat pendidikan SD kebawah adalah paling banyak.00 40.00 50. akan memperlambat proses pembangunan atau bahkan perempuan dapat menjadi beban pembangunan itu sendiri. Perempuan merupakan sumberdaya pembangunan yang cukup besar.2 : Persentase Penduduk Yang Bekerja Dirinci Menurut Tingkat Pendidikan dan Jenis Kelamin di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 90.00 20.00 0. Ini menunjukkan bahwa masih rendahnya tingkat pendidikan perempuan di Provinsi Irian Jaya Barat. perempuan kurang dapat berperan aktif. Nilai adat yang belum berpihak pada perempuan adalah salah satu kendala bagi kemajuan perempuan di Irian Jaya Barat. 2. Akibatnya peluang dan kesempatan perempuan masih sangat terbatas dalam mengakses dan mengontrol sumber daya pembangunan. seperti penyakit menular dan penyakit yang berhubungan dengan sanitasi.00 70.00 80.00 30. Tingginya angka kemiskinan merupakan faktor penyebab rendahnya tingkat kesehatan masyarakat.K o n d i s i U m u m Gambar 2. dan diare.4 Pemberdayaan Perempuan Kesetaraan dan Keadilan Gender sudah menjadi isu yang sangat penting dan sudah menjadi komitmen bangsa-bangsa di dunia termasuk Indonesia sehingga seluruh negara menjadi terikat dan harus melaksanakan komitmen tersebut.00 SD Kebawah SLTP SMU & SMK D1 / II / III S1 Keatas LA KI-LA KI P EREM P UA N Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 2. tuberkulosis. sebesar 82%. baik dalam lingkup keluarga maupun lingkungan sosial yang lebih luas. Partisipasi aktif perempuan dalam setiap proses pembangunan akan mempercepat tercapainya tujuan pembangunan.5 Sosial Budaya 2.00 60. juga rendahnya tingkat pendidikan. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .6 .00 10. Hal ini disebabkan karena kondisi dan posisi perempuan yang kurang menguntungkan dibanding laki-laki.

Balai Pengobatan (Klinik) Puskesmas Puskesmas Puskesmas Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Umum Rumah Sakit Umum Sarana Alat Kesehatan Sarana Alat Kesehatan Sarana Alat Kesehatan Sarana Alat Kesehatan Induk Pembantu Keliling (darat & laut) Kelas C Angkatan Darat Angkatan Laut Swasta Apotek Pedagang Besar Farmasi (PBF) Gudang Farmasi Jumlah Klinik KB Jenis Sarana Jumlah (Unit) 76 78 297 74 4 2 2 12 41 10 9 196 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah rumah tangga miskin di Provinsi Irian Jaya Barat sebesar 128. akibat kombinasi faktor-faktor yang terkait dengan rendahnya tingkat kesehatan dan pendidikan. Jumlah rumah tangga miskin terbanyak berada di Kabupaten Manokwari (43. Perkiraan jumlah tingkat infeksi di Papua pada umumnya mungkin merupakan yang tertinggi di Indonesia.049 rumah tangga.K o n d i s i U m u m Disamping malaria dan tuberkulosis yang ditemukan secara luas di banyak wilayah.2 Kemiskinan BPS Provinsi Irian Jaya Barat telah melakukan berbagai studi untuk menentukan kriteria rumah tangga miskin di Provinsi Irian Jaya Barat. 4. ancaman HIV/AIDS menyebar di seluruh bagian wilayah ini.773 rumah tangga) dan terendah berada di Kabupaten Teluk Wondama (3. Tabel 2. Definisi Rumah tangga miskin dalam hal ini adalah rumah tangga yang memenuhi 9 atau lebih dari 14 variabel yang telah ditentukan.4 : Fasilitas Sarana Kesehatan di Provinsi Irian Jaya Barat Menurut Jenis Kepemilikan No.4% dari 170. 2.5.7 .156 atau 75. 1.778 rumah tangga). RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 2. prevalensi norma dan praktek sosial serta jumlah pekerja yang berpindah-pindah.

311 4.719 18.647 6.05%) Tidak Tamat SD (19.351 128.259 19.24 95. Hal ini tercermin dari komposisi persentase pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk di Irian Jaya Barat terbanyak adalah Sekolah Dasar sebanyak 35.K o n d i s i U m u m Tabel 2. (6.5 : Jumlah dan Persentase Rumah Tangga Miskin di Provinsi Irian Jaya Barat menurut Kabupaten/Kota Tahun 2005/2006 Kabupaten/Kota Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Irian Jaya Barat Sumber : BPS 2005 IJB 2.5.823 37.6%) Tidak/Belum pernah s ekolah.379 6.856 15.978 3.6%) SMTP (18.38 75.73 51.3%) SD (35.3 : Persentase Pendidikan tertinggi yang ditamatkan oleh penduduk Berumur 10 Tahun Keatas di Provinsi Irian Jaya Barat Pada Tahun 2004 S1 (1.83%) D3 (0.94 93.21 84.94 93.049 Jumlah Rumah Tangga Miskin 11.36 a.272 9.659 170. Tingkat Pendidikan Penduduk Mayoritas tingkat pendidikan penduduk Provinsi Irian Jaya Barat masih tergolong rendah.980 43.156 % Rumah Tangga Miskin 74.8 .88%.778 8.773 11.052 9.6%) SMTA Kejuruan (4.406 56.23%) D1/D2 (0.87%) SMTA (12. Gambar 2.51 74. Sedangkan masyarakat yang sama sekali tidak berpendidikan dan yang tidak tamat SD masih cukup besar persentasenya.3 Pendidikan Jumlah Rumah Tangga 15.47 77.802 6.88%) Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .160 12.74 91.

esensi pokoknya menunjukan adanya pertalian hidup antara masyarakat adat dengan tanah.5 60.8 73.7 66. Dibandingkan provinsi lain di Indonesia. sehingga masyarakat adat hanya dapat memanfaatkan tanah yang sifatnya sementara atau sewaktu-waktu dapat diambil kembali oleh penguasa adat. Angka Melek Huruf.5 65. hal ini terlihat dari hampir seluruh kabupaten/kota di Provinsi Irian Jaya Barat menunjukkan adanya kemajuan yang ditunjukkan oleh IPM yang meningkat.0 60. Rata-Rata Lama Sekolah dan Rata-rata Pengeluaran Riil.7 61.9 63. Provinsi Irian Jaya Barat menunjukkan kinerja pencapaian pembangunan manusia semakin membaik. Kekuasaan penguasa adat demikian berpengaruh dan menentukan.3 64. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .4 Nilai Adat dan Hak Ulayat Pada garis besarnya penguasaan tanah di Papua cukup dominan ditangan masyarakat adat.8 59. IPM mencakup aspek pembangunan manusia meliputi Angka Harapan Hidup. peringkat IPM Provinsi Irian Jaya Barat adalah berada pada urutan 30 dari 33 provinsi pada Tahun 2004. Status IPM Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 adalah 64.1 60.K o n d i s i U m u m b. IPM bisa juga memberikan gambaran komprehensif mengenai upaya pembangunan yang dilakukan khususnya dampak kinerja pembangunan manusia.9 74.7 pada tahun 2004.8 Peringkat Provinsi/Kab di Nasional 2004 247 315 426 422 414 404 352 421 38 30 2005 264 304 423 424 420 404 354 419 41 30 Sumber: BPS Pusat Tahun 2006 2.7 2005 67.8 meningkat dari 63.8 58.1 65. Tabel 2.9 60.9 . Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Tingkatan atau Level IPM dapat menggambarkan serta menyatakan kemajuan suatu daerah relatif terhadap daerah lain. Dalam penguasaan tanah adat.8 60.9 63. sedangkan bila dilihat berdasarkan peringkat kinerja.6 : Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2004-2005 IPM Provinsi/Kabupaten/Kota 2004 Fakfak Kaimana Teluk Wondama Teluk Bintuni Manokwari Sorong Selatan Sorong Raja Ampat Kota Sorong Irian Jaya Barat 67. Peningkatan tersebut tidak berpengaruh pada status pembangunan manusia yang tetap pada tingkatan menengah bawah baik Tahun 2004 maupun Tahun 2005.6 59.9 64.5.

Permen Agraria 1999. Hal yang paling urgent perlu dilakukan adalah mengatasi bagaimana membuat hak pengelolaan tanah ulayat. Dengan demikian adanya kelembagaan yang terkonsolidasi dengan baik merupakan indikasi pemerintah mendatang akan memiliki kapasitas dalam melaksanakan agenda demokrasi di Provinsi Irian Jaya Barat. harus ada jaminan kepastian hukum dulu untuk masyarakat serta sesuai dengan apa yang mereka pikirkan.10 . Keberhasilan demokrasi tersebut akan menopang pilar politik di Provinsi Irian Jaya Barat dengan berbagai kegiatan pemerintahan dapat dilaksanakan serta semua aturan akan dapat dipatuhi untuk memperkuat sendi-sendi berbangsa dan bernegara.6 Politik Perkembangan politik di Provinsi Irian Jaya Barat pasca pelantikan gubernur dan wakil gubernur definitif hasil Pilkada Tahun 2006 menunjukan dimulainya suatu babak baru kehidupan demokrasi yang dinamis dimasa depan. harus ada penyelesaian hak ulayat dulu dengan jaminan hukum yang pasti. Ada 3 (tiga) Lembaga formal yang bertanggung jawab terhadap kebijakan politik yaitu Lembaga Legislatif.K o n d i s i U m u m Kita harus memahami masalah pertanahan dan masa depan. Oleh karena itu. Walaupun masih terdapat berbagai kendalah tetapi dengan mengedepankan peran semua elemen masyarakat pemecahan masalah tetap dapat dicapai. pembangunan dan pembinaan kemasyarakatan. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Eksekutif dan Yudikatif. Permenag perlu ditingkatkan menjadi PP atau UU. Dengan telah definitifnya provinsi. Terkait dengan persoalan Tata Ruang. maka organisasi politik dan kemasyarakatan mulai membentuk dan membenahi dirinya dalam rangka menampung dan mewadahi aspirasi politik dan pemberdayaan masyarakat. Kondisi politik yang sedang berjalan ini perlu dijaga dan ditumbuhkembangkan yang dimulai dari lapisan bawah dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan disegala bidang kehidupan dengan mengedepankan persatuan dan kesatuan didalam pemerintahan. Dengan modal demokrasi seperi ini diharapkan dapat menyelesaikan berbagai masalah yang timbul. tapi jika tidak digunakan lagi. silakan boleh pakai. tanah harus diserahkan ke masyarakat adat. Keberadaan Lembaga – lembaga formal ini di Provinsi Irian Jaya Barat dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Yang ada. Persepsi mengenai tanah di Papua adalah bahwa • Setiap anak yang belum lahir mempunyai hak atas tanah yang telah dijual. Disamping itu kegiatan yang menjurus kepada separatis sedikit demi sedikit untuk ditiadakan dengan pendekatan yang berbasis masyarakat. sehingga masyarakat bisa terlibat dalam pembangunan. tapi tidak pernah diberlakukan. Jadi Permenag itu tidak cukup. Kondisi politik untuk mendatang cukup baik dengan melibatkan partisipasi masyarakat dengan menjalin adanya komunikasi dan koordinasi politik dan memantapkan budaya politik serta wawasan kebangsaaan yang dimulai dari lapisan bawah dalam berbangsa dan bernegara. 2. Cara berpikir ini masih sulit diterima oleh pendatang. memberikan pengakuan terhadap hak ulayat. • Tidak ada istilah jual beli tanah.

11 . diperkirakan mineral tersebar di wilayah ini. Legislatif Eksekutif Yudikatif : a. kemajemukan suku menonjol serta pola tradisional yang cukup kuat. namun belum dapat ditentukan besaran secara kuantitatif mengenai cadangan mineral tersebut secara pasti. Sehingga apa yang dilaksanakan tidak saling benturan tetapi keamanan dan ketertiban tetap terpelihara. terdapat di RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . 1.8 Sumber Daya Alam 2. 2.K o n d i s i U m u m Tabel 2. Pengadilan Negeri Kelas I b c. Semua elemen masyarakat mempunyai tanggung jawab bersama terhadap keamanan dan ketertiban wilayah. Jenis pertambangan dan energi yang terdapat di Provinsi Irian Jaya Barat yang telah dan dan akan segera diekploitasi terdiri dari Minyak dan Gas Bumi. Dengan mengetahui informasi geologi. Penyebaran mineral tidak merata karena tidak meratanya penyebaran jenis batuan. 3. pedalaman.Lembaga Formal di Provinsi Irian Jaya Barat No.7 Keamananan dan Ketertiban Wilayah Kondisi Provinsi Irian Jaya Barat akan bervariasi. pesisir. Penanganan keamananan dan ketertiban masyarakat baik di kota. Dengan tertangani berbagai masalah keamanan dan ketertiban wilayah dengan baik dan tidak menimbulkan gejolak maka merupakan modal dasar dalam pembangunan pemerintahan dan pembinaan kemansyarakatan. Kejaksaan Negeri b. Pengadilan Kelas Ib Sumber : Profil Daerah Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 4 2 1 Nama Lembaga Jumlah 4 4 2. Keamanan dan ketertiban wilayah yang kondusif karena adanya kerja sama dan koordinasi yang mantap maka pembangunan di segala bidang kehidupan dapat dilaksanakan. sehingga mewujudkan keamanan dan ketertiban wilayah yang berbasis kepada rakyat sangat diperlukan untuk ikut rasa memiliki wilayah dan rasa tanggung jawab bersama.8.1 Pertambangan Secara geologis wilayah ini dimungkinkan adanya potensi mineral yang berlimpah. 2. Untuk lebih memantapkan keamanan dan ketertiban wilayah untuk dapat diaktifkan kepolisian daerah (Polda) persiapan serta lembaga penegakan hukum lainnya. memerlukan sistem keamanan dan ketertiban wilayah yang khusus pula. ini perlu dipacu secara terus menerus sehingga cegah dini (early warning) dapat dilaksanakan oleh masyarakat yang paling bawah untuk ditindaklanjuti.7 : Lembaga .

Tembaga.2 Kehutanan Luas kawasan hutan di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 tercatat seluas 9. Berdasarkan fungsinya. Hutan Produksi Konversi. Tanah Hitam. Potensi minyak yang terdapat di Kabupaten Sorong dan Teluk Bintuni merupakan komoditas unggulan Provinsi Irian Jaya Barat yang saat ini sedang dieksploitasi. Batubara. Kabupaten Teluk Bintuni dan Kabupaten-Kabupaten lainnya di Provinsi Irian Jaya Barat termasuk Gas Bumi (LNG Tangguh) yang akan segera melakukan produksi di Kabupaten Teluk Bintuni. Pospat. Potensi minyak dan gas alam terdapat di Kabupaten Sorong dan Kabupaten Teluk Bintuni. Mika 3. Diorit. uranium. Emas. Zink. emas.12 . Teluk Wondama: Mika.769. Selain itu terdapat potensi terpendam lainnya yang telah diekspolitasi namun belum dieksporasi dalam waktu dekat seperti bahan galian Nikel di Kabupaten Raja Ampat dan dan Mangan di Kabupaten Fakfak dan Kabupaten Kaimana. Emas. Bahan Galian Golongan C : Batu Gamping. 2. Lempung.686. Fakfak Mangan. Hutan PPA/KSA. Sorong Selatan Minyak & Gas bumi.81 Ha. Hutan Lindung dan Areal Penggunaan Lain. Fosfat 5.8. Pasir Kuarsa. Batubara. Batubara. Potensi bahan tambang yang siap dieksploitasi antara lain batu bara. Kabupaten Sorong Tembaga. Nikel. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Raja Ampat: Cobalt. hutan di Provinsi Irian Jaya Barat terdiri dari Hutan Produksi. Batu Gamping 4. Berdasarkan data Dinas Pertambangan dan Energi tahun 2006. Hutan Produksi tetap. Batu gamping. Pasir Kuarsa. Teluk Bintuni Bahan Galian Strategis : Minyak dan Gas Bumi. Marmer dan Bahan Baku Semen 6. Kromit 7. Manokwari Bahan Galian Strategis : Timah.K o n d i s i U m u m wilayah Kabupaten Sorong. Mangan. Pasir Batu. Granit. Emas. granit dan pasir kuarsa. 2. Batu Gunung Api. Senk dan Tembaga. Batubara. Emas. Potensi ini yang terbesar adalah di Distrik Merdey. senk dan tembaga serta batu kapur. Batu gamping. Potensi tambang antara lain : 1. Provinsi Irian Jaya Barat memiliki potensi tambang yang tersebar di kabupaten/kota se provinsi Irian Jaya Barat. Aranday dan Babo dengan Cadangan Minyak Bumi sebesar 20 TB dan Gas Bumi (LNG) 14 TCF.

Mersawa.751. Gaharu dan non kayu seperti rotan.144 (23%) Hutan Produksi Tetap 1.4% dan Udang Beku 27. sedangkan Suaka Marga Satwa ada 3 Kawasan dengan total seluruh kawasan Marga Satwa seluas 65.456. Kabupaten Teluk Wondama dan Kabupaten Kaimana.53 Ha. Sebanyak 16 Cagar Alam terdapat di Provinsi Irian Jaya Barat dengan total luas kawasan seluas 1. Nyatoh. Bagi nelayan.808.482 Ha.280 (19%) Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 Pengelolaan hutan dilakukan melalui Hak Penguasaan Hutan (HPH) dan Hutan Tanaman Industri (HTI). dan Taman Nasional.065 m³.648 (18%) Hutan Produksi 1.4 Pembagian Areal Hutan Menurut Fungsinya Areal Penggunaaan Lain 342. Jatah Produksi Tahunan yakni Luas total penebangan sebesar 64. yakni sebesar 65. Taman Wisata.3 Perikanan Potensi perikanan di Provinsi Irian Jaya Barat cukup besar dan beraneka ragam terutama ikan permukaan dan ikan dasar. Malaysia dan Korea.2%.707 Ha dengan jumlah volume produksi per tahun sebesar 1. Berdasarkan data Dinas Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006.8.648.170. Jumlah HPH dan HTI di Provinsi Irian Jaya Barat adalah 29 perusahaan. Kabupaten Teluk Bintuni. kulit masohi. Resak. Perikanan memberikan andil terbesar dalam ekspor di Provinsi Irian Jaya Barat yang dihasilkan oleh Ikan Beku Campuran. data tentang kawasan konservasi yang telah ditetapkan terdiri dari 4 kawasan yaitu Cagar Alam.847. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .K o n d i s i U m u m Gambar 2.277 (17%) Hutan PPA/KSA 1. Kabupaten Fakfak. 2. Pulai. Jenis kayu yang diproduksi di Provinsi Irian Jaya Barat adalah Merbau. kulit lawang dan lain-lain. Matoa. Bitangur.866.087 (4%) Hutan Lindung 1. Sementara untuk kepentingan konservasi di Provinsi Irian Jaya Barat. dengan negara-negara tujuan ekspor antara lain Jepang. dan 6 perusahaan diantaranya berstatus tidak aktif.243 (19%) Hutan Produksi Konversi 2. Medang.314. damar. Suaka Marga Satwa. pemanfaatan sumberdaya perikanan bermuara pada peningkatan pendapatan nelayan serta penerimaan devisa negara. Potensi kayu terbesar di Kabupaten Sorong Selatan.13 .

Teluk Bintuni. Jerman Aru Bialola dan 5 PT. 3.074. Udang. Philipina dan Malaysia Tabel 2. 4 PT.190 Hewan Kulit Keras 473. Ikan Pelagis Sorong. Udang.064.000 Hewan Kulit Lunak 2. seperti kepiting dan udang yakni sebesar 473. Inter Galaxi Delta Fisheries 6 7 PT. Alsum Prakarsa Co 8 PT.40 100 Tabel di atas menggambarkan bahwa nilai produksi perikanan terbesar di Provinsi Irian Jaya Barat disumbangkan oleh hewan laut yang berkulit keras.064. Korea. 4.95%. 5. Citra Raja Ampat Canning 2 PT.900 Jumlah 639. Kepulauan Raja Ampat.95 0. Udang Lobster 6. kepiting dan Sirip Hiu Sumber : Badan Pusat Statistik Papua Tahun 2003 Beberapa perusahaan perikanan yang beroperasi dalam wilayah Provinsi Irian Jaya Barat menurut jenis komoditi dan negara tujuan ekspor dapat dilihat pada tabel berikut.090 Sumber : Badan Pusat Statistik Papua Tahun 2003 Jenis Ikan Persentase (%) 25. Jumlah ini memberikan indikasi bahwa potensi udang dan kepiting di Provinsi Irian Jaya Barat cukup besar. Lokasi Penyebaran Hasil Perikanan Provinsi Irian Jaya Barat tahun 2003 No Jenis Ikan Lokasi Penyebaran 1.488. Waigeo Utara.K o n d i s i U m u m Tabel 2. Lobster. Mutiara 3 PT. Teripang Waigeo Selatan.65 73.8 Jenis. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .14 . Bintuni Mina Karya Argo Teripang PT. Avona Mina Lestari Sumber : Badan Pusat Statistik Papua Tahun 2003 Jepang. WIF Ikan Tuna.10 Nilai Produksi Perikanan Laut menurut Jenis Ikan Di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2003 Produksi (Ton) Ikan 164.9 Perusahaan Perikanan yang beroperasi menurut Jenis Komoditi dan Negara Tujuan Ekspor di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2003 No Eksport Komoditi Negara Tujuan 1 PT. Ikan Tuna 2.627.000 ton atau 73. Bialola Fakfak dan Kaimana. Tabel 2.

Informasi mengenai gambaran makro ekonomi daerah digambarkan oleh data pendapatan regional. 2. Dari data ini.9 trilliun rupiah.74%.39%. mengingat hasil migas yang dihasilkan oleh daerah-daerah Provinsi di Indonesia secara nasional sangat berpengaruh terhadap nilai Produk Domestik Brutto. Pada tahun 2005. nampak bahwa pertumbuhan ekonomi riil Provinsi Irian Jaya Barat adalah sebesar 6. Penyajian data PDRB terdiri dari dua jenis yaitu 1) PDRB Atas Dasar Harga Berlaku. Hal ini dilakukan. yakni jumlah nilai barang dan jasa/pendapatan/pengeluaran yang dinilai atas harga tetap (konstan) pada tahun tertentu/harga dasar (Tahun 2000). pendapatan per kapita. besaran nilai tersebut selalu meningkat setiap tahunnya. Analisa PDRB tanpa Migas dilakukan dengan mengeliminir Sub sektor Pertambangan Minyak dan Gas Bumi serta Sektor Industri Pengolahan dengan Sub Sektor Pengolahan Gas dan Minyak Bumi. Sampai tahun 2005. Selisih antara PDRB Provinsi Irian Jaya Barat Tanpa Migas dan Dengan Migas berdasarkan Harga Berlaku mencapai 1 Triliun setiap tahunnya.15 .97 Triliun rupiah.9. Apabila mengamati pertumbuhan PDRB sektoral Provinsi Irian Jaya Barat dari sektor-sektor yang membentuk pertumbuhan ekonomi Provinsi Irian Jaya Barat.1 Pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan hasil kegiatan ekonomi dari seluruh unit ekonomi yang dihasilkan suatu daerah tanpa mengikutkan faktorfaktor produksi. dapat diketahui tingkat pertumbuhan ekonomi daerah. Besarnya sumbangan Migas terhadap pembentukan perekonomian Provinsi Irian Jaya Barat hingga melebihi 20% tentu saja sangat mempengaruhi perekonomian Provinsi Irian Jaya Barat secara menyeluruh. perkembangan nilai tambah PDRB tersebut telah mencapai hampir dua kali lipat dari tahun 2000.K o n d i s i U m u m 2. Sedangkan perkembangan PDRB Atas Harga Konstan Tahun 2000 sebesar 5. Sejak tahun dasar 2000. tingkat inflasi dan deflasi. Perekonomian Provinsi Irian Jaya Barat selama tahun 2005 menunjukkan pertumbuhan positif apabila dibandingkan pada tahun 2004. Dari hasil perhitungan yang dilakukan oleh BPS Provinsi Irian Jaya Barat. maka dapat diketahui bahwa sektor yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi tertinggi pada RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Sejak tahun dasar 2000 sampai pada tahun 2005. yakni jumlah nilai barang dan jasa/pendapatan/pengeluaran yang dinilai sesuai dengan harga berlaku pada tahun bersangkutan. 2) PDRB Atas Harga Konstan.9 Perekonomian Wilayah Perekonomian wilayah menggambarkan indikasi makro ekonomi yang digunakan dalam menyusun rencana pengembangan ekonomi suatu daerah dan mengukur keberhasilan pembangunan yang telah dilaksanakan.57 trilliun rupiah. mengalami peningkatan dari tahun 2004 yang sebesar 6. besaran PDRB (dengan Migas) Atas Dasar Harga Berlaku yang tercipta adalah sebesar 7.3 Triliun rupiah mengalami peningkatan dari tahun 2004 yang besarnya 4. struktur perekonomian daerah. nilai PDRB Atas Harga Konstan 2000 telah berkembang 1.3 kali lipat. lebih melambat bila dibandingkan Tahun 2004 yang mencapai 7.

sejak tahun 2000 nilai PDRB Perkapita Provinsi Irian Jaya Barat terus mengalami pertumbuhan yang RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Persewaan & Jasa Perusahaan yang pertumbuhan ekonominya melambat pada tahun 2005.26%.9. Selama kurun waktu lima tahun.49 3.19% yang mengalami peningkatan dari tahun 2004 yang hanya 7. mengalami peningkatan sebesar 14.17 6.6%.5 Perkembangan PDRB (Dengan Migas) Tahun 2000-2005 Perkembangan PDRB (dalam%) 250 200 150 100 50 0 2000 ADH Berlaku ADH Konstan 2000 2001 2002 2003 2004 2005 Tahun Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 Tabel 2.33% lebih tinggi dari tahun 2004 yang hanya sebesar 6.07 2003 15.2 Pertumbuhan PDRB Perkapita PDRB Perkapita merupakan salah satu indikator ekonomi yang dapat digunakan untuk membandingkan tingkat kemakmuran suatu daerah dengan daerah lainnya. Nilai PDRB Perkapita Provinsi Irian Jaya Barat yang dihasilkan sebesar 12.83 7.68 2004 18.74 Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 2. Dari kesembilan sektor di atas.16 . hanya sektor Pertanian. Industri Pengolahan dan Keuangan.39 2005 20. Pertumbuhan tertinggi kedua setelah Sektor Jasa-Jasa adalah Sektor Angkutan dan Komunikasi sebesar 12.75% meningkat dari tahun 2004 yang hanya sebesar 10.77 Juta Rupiah.29 Juta Rupiah.K o n d i s i U m u m tahun 2005 adalah sektor-sektor Jasa yaitu sebesar 13.16% dari tahun 2004 yang hanya sebesar 10.69 5. Gambar 2.38 7. PDRB Perkapita diperoleh dari hasil pembagian besaran nilai PDRB atas dasar harga berlaku dengan jumlah penduduk pertengahan tahun pada tahun yang bersangkutan.34 2002 10.11 Pertumbuhan PDRB Provinsi Irian Jaya Barat (Tanpa Migas) Tahun 2000-2005 Tahun ADH Berlaku ADH Konstan 2001 9. Sementara di urutan ketiga tertinggi adalah Sektor Bangunan yaitu 12.13%. Jadi besaran PDRB Perkapita sangat tergantung dari besaran PDRB yang terbentuk dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun.

8. pertumbuhan ekonomi suatu wilayah yang ditunjukkan dengan tingkat pertumbuhan PDRB senantiasa akan diukur dengan tingkat pertumbuhan tenaga kerjanya. Di sisi lain. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .75% hanya diimbangi oleh jumlah tenaga kerja sebesar 4. Begitu pula dengan sektor PDRB lainnya yang cukup mendominasi pertumbuhan ekonomi Provinsi Irian Jaya Barat seperti Sektor Angkutan dan Komunikasi yang mendominasi sebesar 12.1% sementara pertumbuhan ekonomi (PDRB) sektor Pertanian hanya sebesar 2. Namun apabila dicermati secara mendalam.51% saja.33% ternyata hanya diimbangi oleh jumlah tenaga kerja sebesar 3. Bila pertumbuhan PDRB didominasi oleh sektor-sektor Jasa. Tingkat pertumbuhan ekonomi Provinsi Irian Jaya Barat yang tinggi ternyata tidak diimbangi oleh pertumbuhan sektor tenaga kerja. Tingginya pertumbuhan PDRB pada sektor Jasa sebesar 13. Hotel dan Restoran masing-masing 71. 12. Sungguh merupakan fenomena yang sangat unik. justru yang terjadi adalah pertumbuhan tenaga kerja bertolak belakang dengan pertumbuhan PDRB.47%.41%.07%. Jasa dan Sektor Perdagangan.19%.33%). Tingginya angka PDRB per kapita jelas bukan mencerminkan tingkat kemakmuran penduduk Provinsi Irian Jaya Barat mengingat tingginya angka kemiskinan penduduk di wilayah ini.1% sungguh sangat ironis untuk perkembangan dan pertumbuhan ekonomi Provinsi Irian Jaya Barat ke depan. 2.3 Pertumbuhan Tenaga Kerja Secara umum.9.51% dan 8.K o n d i s i U m u m melambat tahun 2004. Angkutan dan Komunikasi serta Sektor Bangunan (masing-masing sebesar 13.17 .33% dan juga Sektor Bangunan yang mendominasi sebesar 12.75% dan 12. tingginya jumlah tenaga kerja tanpa diimbangi oleh tersedianya lapangan usaha yang membentuk pertumbuhan ekonomi justru akan mengakibatkan jumlah pengangguran pada sektor pertanian sebesar 71.19% ternyata hanya diimbangi oleh jumlah tenaga kerja sebesar 8. Begitu pun yang terjadi apabila kita mengamati tingkat pertumbuhan tersebut melalui sektor-sektor yang membentuknya. namun pertumbuhan tenaga kerja didominasi oleh sektor Pertanian.

00% 40. Sektor Pertanian di Provinsi Irian Jaya Barat didominasi dari Sektor Kehutanan dan Perikanan mampu memberikan sumbangan nilai tambah yang besar bagi perekonomiannya.18 .00% 30. Dari struktur perekonomian tersebut diketahui corak perekonomian daerah ini.00% PDRB TENAGA KERJA Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 2.00% 70.00% 20. walaupun sejak tahun 2001 peranannya terus mengalami penurunan hingga 27.00% 50.00% 0.K o n d i s i U m u m Gambar 2.00% 10.24% pada Tahun 2005 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .9.00% 60.4 Struktur Perekonomian Daerah Struktur perekonomian suatu daerah sangat dipengaruhi oleh besarnya sumbangan atau peranan masing-masing sektor ekonomi dalam membentuk nilai tambah PDRB. Hasil di Sektor Pertanian sangat besar pengaruhnya tehadap penciptaan nilai tambah PDRB Provinsi Irian Jaya Barat.6 Persentase PDRB dan Mata Pencaharian Menurut Sektor Ekonomi di Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 80.

& Penggalian 19% Industri Pengolahan 19% Sumber : BPS Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2005 2. Persew aan & Jasa Perusahaan 2% Angkutan & Komunikasi 6% Perdag. Dana Alokasi Khusus dan Dana Reboisasi.10 Keuangan Daerah Peranan keuangan daerah dalam pembangunan adalah sangat vital. Dana Dekonsentrasi.19 . dan menggunakan keuangan sendiri yang cukup untuk membiayai penyelenggaraan pemerintahan daerahnya. Sebagai daerah otonom justru seharusnya PAD khususnya pajak dan retribusi daerah harus menjadi bagian sumber keuangan terbesar. Gambar 2. Besarnya Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Irian Jaya Barat menunjukkan bahwa ketergantungan kepada bantuan pusat masih sangat besar dan belum sesuai dengan prinsip otonomi daerah. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Struktur Anggaran pendapatan daerah Provinsi Irian Jaya Barat terdiri dari Dana DAU. Dalam hal ini Provinsi Irian Jaya Barat dituntut agar dapat memperluas sumber atau obyek pendapatan baru.7 Kontribusi Masing-Masing Sektor Ekonomi Terhadap PDRB Keuangan. Hotel & Restoran 10% Jasa . dan Dana Otonomi Khusus dimana jumlah DAU masih mendominasi.K o n d i s i U m u m Berikut ini adalah tabel mengenai kontribusi 9 sektor ekonomi terhadap PDRB Provinsi Irian Jaya Barat. Daerah otonomi yang ideal memiliki ciri utama yaitu harus memiliki kewenangan dan kemampuan untuk menggali sumber-sumber keuangan sendiri. Optimalisasi sumber-sumber PAD perlu dilakukan untuk meningkatkan kemampuan daerah.jasa 8% Pertanian 29% Bangunan 7% Listrik & Air Bersih 0% Pertamb.

4. Status serta kondisi beberapa ruas jalan yang terdapat di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat sebagai berikut: 1.8 km dengan kondisi 25 Km aspal.Snopy . Ruas Mameh-Windesi. Kambuaya . 332 Km kerikil dan 70 Km belum terbangun. 8. 2.Bomberay dan Fakfak dengan status Nasional dan Provinsi sepanjang 311 Km terdiri dari 52. dan Fakfak.Kambuaya Klamono-Sorong dengan status Jalan Nasional sepanjang 546 Km.Wondama. 87.Bintuni merupakan Jalan Provinsi sepanjang 225 km dengan kondisi 20 km jalan kerikil.Mameh . 20 km tanah dan belum terbangun 150 km. Fakfak . 10. 5. 3. Hubungan antar kota/kabupaten di Provinsi Irian Jaya Barat sekarang ini sebagian besar dilayani oleh transportasi laut dan udara.20 . belum terbangun sepanjang 205 km. belum terbangun sepanjang 57 km. Jalur Manokwari . Aimas – Seget sepanjang 116 Km berstatus Jalan Provinsi dengan kondisi 86 km jalan kerikil.Kamundan . tanah 113.Siboru merupakan Jalan Provinsi sepanjang 38.4 kerikil. Fakfak. 6.K o n d i s i U m u m 2.Kebar . Windesi.Bintuni yang merupakan kombinasi ruas Nasional dan Provinsi sepanjang 253. Penggunaan moda transportasi udara meliputi wilayah tengah (pedalaman) kepala burung yang sebagian besar masih terdiri dari hutan.8 km. 45 km kerikil.11 Transportasi dan Komunikasi a. tanah 20 Km dan belum terbangun 312 km.Mega .Teminabuan berstatus Jalan Provinsi sepanjang 54 km dengan kondisi 33 km aspal. serta 150 km belum terbangun.5 jalan kerikil. 16 km jalan tanah dan belum terbangun 14 Km. tanah 13. Manokwari . kendatipun masih sangat terbatas sampai dengan Tahun 2006.Kokas berstatus Provinsi sepanjang 44 km dengan kondisi 100 % aspal. Sementara moda transportasi sungai meliputi wilayah pedalaman dengan aliran sungai besar.Sausapor merupakan Jalan berstatus Provinsi sepanjang 138 km dengan kondisi 36 km aspal. dengan kondisi 144 Km aspal. Transportasi Darat Saat ini.Ransiki . Susumuk .Ambaruni-Rasie dan Wasior dengan status jalan Nasional dan Provinsi sepanjang 346 km dalam kondisi kerikil 14 Km. Sorong . Manokwari.5 km aspal. jalan tanah 21 km. Sementara moda transportasi penyeberangan meliputi wilayah yang RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . 9. Jaringan hanya berada di sekitar kota/kabupaten lama yaitu Sorong.6 aspal.Tanggaruni dan Kaimana sepanjang 181 km berstatus Nasional dan Provinsi sepanjang 181 km dengan kondisi 17. perhubungan antar wilayah Kabupaten di Provinsi Irian Jaya Barat secara efektif melalui hubungan udara dan kapal laut. kerikil 21 km.Bufer. Bourof.Oransbari . Lemahnya interaksi antar wilayah di Provinsi Irian Jaya Barat menjadi penyebab belum terbentuknya ekonomi regional.Prafi .4 Km telah terbangun dengan kondisi 140 Km aspal.Maruni . 7.Bourof. Perhubungan darat.Makbon .Maruni .Ayawasi . Secara umum kondisi jaringan jalan di kota/kabupaten di Provinsi Irian Jaya Barat masih memprihatinkan. 23.4 Km.

20 1115. Tabel 2.5 2 Kabupaten Sorong 739 877 621 2.454.5 495 2. 4) Jalan Khusus. Sorong 62 129 20 0 211 3 Kab.28 19. Jaringan transportasi darat yang ada saat ini di Kabupaten memanfaatkan jalan logging HPH. sistem jaringan jalan dikelompokkan sebagai berikut: 1) Jalan Negara/Nasional.20 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 Tabel 2. yaitu jalan umum yang pembinaannya dilakukan oleh pemerintah pusat.7 235 Total 869. Kabupaten/Kota (Km) Negara Provinsi Kabupaten Kabupaten Fakfak 0 263 Kabupaten Sorong 90 121 Kabupaten Manokwari 237 86 Kota Sorong 18 17 Total 345 487 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 1 2 3 4 209. 3) Jalan Provinsi.12 : Panjang Jalan Menurut Tingkat Pemerintahan yang Berwenang di Provinsi Irian Jaya Barat Status Jalan (Km) Total No.237 3 Kabupaten Manokwari 177.12 0.5 479 552 2.14 : Panjang Jembatan Menurut Jenis di Provinsi Irian Jaya Barat Status Jembatan (M) No. 2) Jalan Kota. yaitu jalan umum (jalan kota termasuk jalan lokal dalam kota) yang pembinaannya dilakukan oleh pemerintah kota atau kabupaten.10 421.20 472 211 1029 235.K o n d i s i U m u m memiliki pelabuhan.5 1.10 45. disamping sebagian diantaranya dibangun dengan dana pemerintah setiap tahun. yaitu jalan umum yang pembinaannya dilakukan oleh pemerintah Provinsi.13 : Panjang Jalan Menurut Tingkat Permukaan di Provinsi Irian Jaya Barat Jenis Permukaan (Km) No. Kabupaten/kota Total (M) Beton Baja Kayu 1 Kabupaten Fakfak 1.170.00 0 706 200. Manokwari 439 346 243 1 1029 4 Kota Sorong 170.28 648. Klasifikasi jalan berdasarkan statusnya ditinjau berkaitan dengan rencana pengembangan jaringan jalan lintas batas administrasi.039.127 4 Kota Sorong 15 530 0 545 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .12 8.21 .20 Tabel 2.7 1947. Kabupaten/kota Total Aspal Diperkeras Tanah Lainnya (Km) 1 Kabupaten Fakfak 198 154 113 7 472 2 Kab. yaitu jalan perumahan teratur yang belum diserahkan kepada pemerintah kota yang pembinaannya dilakukan oleh swasta/pengembang. Data mengenai panjang jalan dan jembatan di Provinsi Irian Jaya Barat dapat dilihat pada tabel di bawah ini.20 1974. Berdasarkan status dan wewenang pembinaan jalan.

Transportasi Laut Pelabuhan Manokwari.190 2.302 10. Inanwatan. Rendahnya aksesibilitas dari dan ke tiap bagian wilayah Provinsi Irian Jaya Barat ini selain karena faktor kesulitan geografis adalah karena permintaan/demand aktual dan permintaan potensial terhadap transportasi juga masih sangat terbatas. Kebar. Tabel 2.444 39.15 : Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis di Provinsi Irian Jaya Barat No. Bahkan untuk Kabupaten Raja Ampat sangat didominasi oleh angkutan laut.290 628 Total 9697 1. Kemudian mobil penumpang sebanyak 9697 unit. Sorong. beserta Domine Eduard Osok di Sorong.998 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 b. dapat didarati oleh Fokker 28 dengan kondisi komersial. Fungsi angkutan laut dan sungai juga menonjol di semua kabupaten karena letaknya di pesisir pantai. Bintuni. Saonek dilayani oleh kapal perintis secara terjadwal dan belum dapat disinggahi oleh kapal penumpang sebagaimana tersebut diatas.031 Dalam bidang perhubungan udara.584 684 Kota Sorong 1. Transportasi Udara 1 2 3 4 15 95 18 18 146 1. Merdey dan Minyambo dapat didarati oleh pesawat jenis Twin Otter dengan kondisi Perintis.190 unit. lapangan terbang Rendani Manokwari telah dapat didarati oleh pesawat Boeing 737-200 dengan kondisi komersial.653 5. Pengembangan transportasi laut baik dari sisi frekuensi pelayanan dan kapasitas pelabuhannya berperan penting dalam menciptakan pertumbuhan wilayah mengingat terbatasnya pengembangan wilayah daratan. Ayawasi. c.569 1.998 8. Kaimana secara teratur telah disinggahi oleh kapal penumpang yang dioperasikan oleh PT Pelni. Jumlah paling banyak adalah kendaraan sepeda motor sebanyak 39.216 Kabupaten Manokwari 1. Torea Fakfak dengan Twin Otter dan DASH 8 dengan kondisi komersial. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .190 6. Bimtuni.992 4. Fakfak. Lapangan Utarum Kaimana. Wasior.380 51. pusat dan wilayah belakang). Selebihnya seperti Teminabuan. Kambuaya. antar pusat.22 .K o n d i s i U m u m Banyaknya kendaraan di Provinsi Irian Jaya Barat tahun 2005 tercatat sebanyak 51. Mayado. Pengembangan prasarana regional selama ini dititikberatkan pada pengembangan transportasi jalur laut dan darat berdasarkan hubungan fungsional (hubungan eksternal.222 4. Kabupaten/kota Status Mobil (Unit) Mobil Mobil Mobil Penumpang Barang Bus Sepeda Motor Total (Unit) Kabupaten Fakfak 3. Anggi. Teminabuan. Data lengkap mengenai jumlah kendaraan di Wilayah Kepala Burung dapat dilihat pada tabel berikut ini. Yang lainnya seperti : Babo.031 unit.254 154 Kabupaten Sorong 3.

program pembangunan perumahan dalam rangka pemukiman kembali penduduk dapat dikatakan tidak seluruhnya berhasil. telekomunikasi. belum efektifnya integrasi ekonomi antar wilayah karena perhubungan yang buruk.12 Ketersediaan Sarana Dalam bidang infrastruktur dasar. Pendek kata. ketersediaan perumahan. sementara hubungan ke wilayah lain diluar Provinsi sudah baik dan teratur jadwalnya. energi.8 Sebaran Infrastruktur Jaringan Jalan. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Pada pemukiman penduduk asli.K o n d i s i U m u m Gambar 2. ketidak teraturan jadwal penerbangan dan perhubungan perintis. Jaringan sarana perhubungan praktis belum efektif menyentuh kampung dan daerah terisolir. kampung yang dimukimi oleh penduduk asli Papua belumlah demikian. rata-rata semua kabupaten mengalami keterbatasan. terutama terkait dengan perhubungan.23 . infrastruktur dalam wilayah Irian Jaya Barat masih belum memadai. Kualitas prasarana dasar termasuk penyediaan perumahan di semua kabupaten di Provinsi Irian Jaya Barat menunjukan bahwa tingkat ketersediaannya masih rendah. Berbeda dengan pemukiman transmigrasi yang telah tertata dengan baik prasarana dasarnya. belum terkaitnya kawasan pemukiman kampung dengan sarana perhubungan utama. Transportasi Udara dan Transportasi Laut di Provinsi Irian Jaya Barat Sumber : Dinas PU Provinsi Irian Jaya Barat 2. pemukiman.

Kaimana 6 17 5. Wondama 24 9. Proses pendampingan harus betul-betul intensif dilakukan. Sorong 144 207 3. pembagian dana pembangunan.13 Aparatur Pemerintahan Dengan adanya pemekaran kabupaten induk Manokawari. Fakfak 90 92 2.16 : Banyaknya Pegawai Negeri Sipil Daerah menurut Tamatan Pendidikan Tahun 2004 Tingkat Pendidikan Unit Kerja SD SLT P 4 SLTA 158 1605 2302 2773 307 439 373 347 226 1164 9852 Diploma 91 775 1153 1158 147 267 174 100 91 799 4755 S1 110 649 964 1050 98 213 175 138 125 770 4292 S2 4 53 59 23 2 6 3 4 3 16 173 S3 Jumlah 367 3264 4829 5390 577 951 750 609 509 2861 20107 I. Tenaga penyuluh diperlukan di berbagai dinas seperti Dinas Kesehatan. Raja Ampat 4 21 7. Kota Sorong 41 71 Jumlah 480 673 Sumber: Irian Jaya Barat dalam Angka 2006 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Jadi harus dilakukan 1) Monitoring Partisipasi dan Evaluasi 2) Pendampingan yang intensif (harus ada atas-bawah yang mau menjembatani) 3) Partisipasi. Tabel 2. Pendidikan. dana rutin dan lain sebagainya menyebabkan masalah baru terutama masalah kapasitas aparatur pemerintahan yakni bagaimana meningkatkan kapasitas aparatur pemerintahan agar mampu melaksanakan pelayanan sebaik-baiknya kepada publik dan materi-materi pelatihan apa saja yang diberikan dalam rangka peningkatan kapasitas pemerintah daerah. Selain itu. Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan dan Dinas Kependudukan. Pemda Kabupaten/Kota 1. memenuhi kebutuhan hidup seharihari. Pemda IJB II. Dalam konteks Provinsi Irian Jaya Barat yang mayoritas masyarakatnya merupakan penduduk yang miskin dan berpegang kuat pada adat masih memerlukan banyak tenaga penyuluhan yang kreatif memberi pemahaman kepada masyarakat bagaimana hidup sehat dan lingkungan hygienis. Manokwari 182 204 4. Fakfak dan Sorong maka terjadi pembagian aparatur pemerintahan.24 . Bintuni 9 11 8. peningkatan kapasitas Satu kelemahan program yang dijalankan adalah proses penerjemahan kebijakan ke tingkat lapangan.K o n d i s i U m u m 2. T. T. Sorong Selatan 4 22 6. melibatkan pihak-pihak yang tidak ikut dalam proses-proses tersebut.

Kabupaten dan Kota Dirinci Menurut Usia Keadaan Agustus 2004 Usia 26 – 30 31 – 35 18 – 20 I. 4. konsekuen dan tidak diskriminatif serta mampu menjamin konsistensi peraturan perundang-undangan di semua tingkatan di Indonesia termasuk Provinsi Irian Jaya Barat. Sorong 3. Wondama 9.781 20.14 Hukum dan Kelembagaan Dalam pembangunan hukum di Provinsi Irian Jaya Barat tetap akan mengacu kepada RPJM Nasional. 1. Pemda IJB II. Raja Ampat 7. T.18 : Jumlah Pegawai Negeri Sipil Daerah di Lingkungan Pemerintah Provinsi. Bintuni 8. Kaimana 5. 2.514 9.K o n d i s i U m u m Tabel 2. Melalui pembenahan sistim dan politik hukum maka akan diciptakan sistim hukum mnasional yang adil. Fak fak 2. Sorong Selatan 6.169 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 Tabel 2.341 1.25 • RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 . T.17 : Jumlah Aparatur Pemerintah di Provinsi Irian Jaya Barat No. Aparatur PNS PNS PNS PNS TOTAL Golongan/Eselon Golongan I Golongan II Golongan III Golongan IV Jumlah 533 8. Pembangunan Sistim dan Politik Hukum menjadi pedoman bagi program pembangunan yang akan dilaksanakan dalam bidang hukum. 3. Pemda Kab/Kota 1. Kota Sorong Jumlah 21 – 25 36 – 40 41 – 45 2 2 1 6 3 3 5 6 8 36 108 145 99 56 24 46 24 28 99 629 381 501 481 68 80 79 62 54 308 2015 565 894 978 66 63 57 44 33 482 3186 717 1430 1253 23 32 18 15 29 734 4266 540 861 937 1 517 2874 Sumber : Irian Jaya Barat dalam Angka Tahun 2006 2. Manokwari 4. Pembangunan hukum akan diarahkan pada : • • Penataan kembali subtansi hukum melalui peninjauan dan penbataan kembali peraturan daerah Melakukan pembenahan struktur hukum dan sekaligus memberikan penghargaan dan pengakuan secara kongkrit atas hukum adat di Provinsi Irian Jaya Barat Meningkatkan budaya hukum II .

5. 4. Ini berarti daya saing menjadi penting untuk diwujudkan oleh lembaga pemerintahan dalam suatu wilayah administrasi. 2. 3. Untuk itu kebijakan yang akan ditempuh adalah peningkatan kualitas SDM. Dengan demikian jelas bahwa kemampuan untuk bersaing merupakan kunci bagi tercapainya kemajuan. Daya saing. kini masing-masing kabupaten akan saling bersaing menjadikan wilayahnya unggul dan otonomisasi akan menjadi realistis. Dengan paradigma desentralisasi. penyusunan produk kelembagaan. melakukan penataan kelembagaan serta penyusunan sistim rekrutmen aparatur dan reward and punishment. Dalam hal ini berbagai hal yang menjadi inti pokok mengembangkan daya saing daerah adalah sebagai berikut: 1. 7.15 Daya Saing Wilayah Daya saing didefinisikan sebagai suatu kapasitas tertentu yang dimiliki dan mengungguli lainnya untuk suatu kondisi tertentu. Oleh sebab itu. program pokok yang akan dilaksanakan adalah : • • • • • • • Evaluasi secara menyeluruh peraturan daerah Peningkatan program legislasi daerah Penataan kembali regulasi dan peraturan daerah Perumusan pola perencanaan kelembagaan hukum Peningkatan kualitas aparat penegak hukum Peningkatan kompetensi aparat hukum Peningkatan kesadaran hukum Dalam bidang kelembagaan.26 . sasaran yang akan kita tuju adalah terwujudnya tatanan birokrasi yang bersih dan berwibawa serta membangun kapsitas kelembagaan agar mampu melaksanakan visi dan misi organisasi serta TUPOKSI-nya. Kewenangan regulasi yang efektif di tingkat daerah. 6. Efektivitas pelaksanaan otonomi daerah Kemampuan kelembagaan. Tata Ruang Pembangunan SDM RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . kini menjadi relevan dalam kebijakan publik. yang pada awalnya merupakan terminologi yang dikenal dalam dunia ekonomi khususnya perusahaan. platform pembangunan dimasing-masing daerah sangat penting karena akan menjadi acuan untuk mengembangkan daya saing masing-masing Daerah. pengembangan daya saing itu mencakup sektor publik tetapi juga dikalangan masyarakat madani serta dunia usaha. Daya saing yang tinggi akan mampu membuat posisi yang lebih baik sehingga setiap waktu dapat mengatasi berbagai tantangan serta mampu memanfaatkan peluang.K o n d i s i U m u m Untuk itu. Kualitas managemen wilayah Pembangunan infrastruktur. 2. Bagi daerah.

Kampung yang terletak di wilayah pesisir merupakan wujud permukiman nelayan yang memiliki prasana dasar yang sangat minim. Wilayah kampung dan distrik yang banyak berada di daerah bukit. sarana perhubungan dan telekomunikasi pun masih minim. khususnya untuk kampung-kampung yang berada di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat. Namun demikian permasalahan yang dihadapi oleh sebagian besar distrik dan kampung di Provinsi Irian Jaya Barat adalah keterisolasian wilayah. Keberadaan sarana sanitasi dan air bersih umumnya berada dalam kondisi yang tidak layak secara kesehatan.K o n d i s i U m u m 2. Selain sulitnya akses menuju kampung dan distrik.16. Demi tujuan pemerataan pembangunan di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat maka membuka ketersoliran kampung dan distrik agar terhubung dan terintegrasi dengan pusat pertumbuhan di kota perlu dilakukan. a) Kualitas Permukiman yang Tidak Memadai bagi Penduduk Asli Papua Kebanyakan dari penduduk asli Papua menetap dan hidup di kampung-kampung jauh dari jangkauan pelayanan pemerintah. Namun demikian hal ini pun belum memenuhi demand dari penduduk lokal karena adanya ketidakteraturan jadwal pelayaran akibat kapasitas muat yang kurang dari demand kebutuhan angkutan. Selain itu juga peningkatan pelayanan transportasi laut yang menghubungkan kampung-kampung di wilayah pesisir dengan distriknya perlu dilakukan sebagai alternatif yang dapat menjawab keterbatasan akses akibat kondisi topografi tersebut. karst dan juga rawa.1 Keterisoliran Wilayah (Kampung dan Distrik) Sebagai satuan terkecil dari struktur kewilayahan.16 Permasalahan Pembangunan 2. Sehingga sub-standarisasi telah menjadi kondisi yang umum di sejumlah kampung-kampung di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat. terletak di daerah pesisir dan pegunungan. bukit. Demikian pula halnya dengan kondisi permukiman di kampung yang terletak di daerah pegunungan. Jalan darat belum banyak terbangun. b) Pola pembangunan yang belum sesuai dengan nilai lokal Berbagai pola pembangunan yang selama ini diterapkan oleh Pemerintah Pusat untuk pembangunan di daerah tidak semuanya dapat diimplementasikan sesuai RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Hal ini disebabkan karena kondisi topografi di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat sangat khas dengan daerah pegunungan. Aspirasi tersebut kemudian dapat diangkat menjadi suatu isu dan kebutuhan pembangunan di tingkat distrik. Dari kampung berawal berbagai aspirasi penduduk lokal mengenai kebutuhan pembangunan. listrik dan energi. Hal ini dapat dilakukan melalui pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan darat dan sarana telekomunikasi yang dapat menghubungkan pusat pertumbuhan dengan daerah hinterland-nya atau daerah-daerah yang terisolir. kampung memegang peranan penting dalam menampung aspirasi penduduk lokal di Tanah Papua.27 . Sebagian besar kampung dan distrik belum memiliki akses terhadap saluran telepon. Hal ini memperkuat kondisi keterisoliran wilayah. sedangkan jalur perhubungan laut difasilitasi oleh pelayaran kapal perintis dan juga perahu-perahu kecil dengan motor tempel. belum terhubung dengan moda transportasi yang memadai. rawa dan pesisir.

Terbatasnya kapasitas sumber daya manusia di Provinsi ini akibat dari rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan dari masyarakat lokal. yaitu sebanyak 74. akibat status yang rendah dari profesi guru selain kondisi kerja yang kurang baik. Fasilitas perumahan bagi guru di daerah pedesaan tidak mencukupi dan terkadang tidak ada. Berdasarkan hasil serangkaian lokakarya Perencanaan Pembangunan Provinsi yang dilakukan di seluruh Kabupaten/Kota di Irian Jaya Barat (Tahun 2005). Guru-guru yang ditempatkan di pedalaman menghadapi banyak hambatan yang kompleks dan kurangnya pelatihan untuk guru-guru.16. disimpulkan bahwa penyebab persoalan rendahnya tingkat pendidikan di Provinsi Irian Jaya Barat disebabkan oleh berbagai macam faktor. Aturan-aturan hukum dalam komunitas ini didasarkan pada norma adat yang diajarkan secara turun-menurun oleh nenek moyang mereka.4% (Indonesia Human Development Report 2004). 2. Sebagai contoh konsep desa yang ada di pulau Jawa dengan kepemimpinan Kepala Desa yang digaji oleh Pemerintah tidak tepat diimplementasikan di Papua. Dengan adanya kewenangan pemerintah daerah untuk membangun daerahnya berdasarkan kebutuhan dan karakteristik lokal. Guru memiliki komitmen yang rendah. Dalam bidang pendidikan.K o n d i s i U m u m dengan kondisi daerah. antara lain adalah: • • • • • Ketidakefisienan anggaran untuk pendidikan. Keterbatasan ekonomi orang tua. Kurikulum pendidikan yang terpusat dan sistem penyampaiannya yang ditentukan oleh pemerintah pusat dalam banyak hal kurang relevan dengan murid di Irian Jaya Barat. Di dalam aturan tersebut juga termasuk tata cara mengelola sumber daya alam yang menjadi sumber penghidupan bagi mereka. Anak-anak diperlukan untuk membantu kegiatan keluarga dan desa. Komunitas ini dipimpin oleh tokoh adat yang dihormati dan dipilih secara hukum adat. karena di Papua telah berkembang satuan komunitas yang dikelompokkan dan diikat berdasarkan nilai dan norma adat/kekerabatan sosial.2 Terbatasnya Kapasitas Sumber Daya Manusia Sumber Daya Manusia merupakan masalah utama di Papua khususnya di Provinsi Irian Jaya Barat. Adanya dualisme kepemimpinan di tingkat kampung ini telah menimbulkan konflik sosial diantara penduduk lokal yang tentunya dapat menghambat proses pembangunan. maka diharapkan Pemerintah Provinsi dan Daerah dapat mewujudkan pola-pola pembangunan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan lokal.28 • • • • • RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 . Kualitas pendidikan bermutu rendah. Sistem pendidikan tidak menjawab kebutuhan dan keadaan lokal. II . akibatnya pada saat musim panen mereka lebih banyak diperlukan tenaganya untuk membantu orang tuanya dan meninggalkan sekolah. Jarak antara sekolah yang dibangun dengan desa-desa/permukiman sangat jauh dan medan yang berat. tingkat melek huruf orang dewasa yang paling rendah di Indonesia.

Pendekatan spasial dalam pelayanan kesehatan Penyuluhan mengenai sanitasi dan lingkungan (Pemberdayaan masyarakat dalam bidang kesehatan). Berkaitan dengan upaya-upaya perbaikan tingkat kesehatan masyarakat . 2. Sifat dari kegiatan ini adalah padat modal dan memerlukan bantuan peralatan dan teknologi tinggi. Namun di sisi lain rendahnya kualitas SDM penduduk asli papua menyebabkan pengusaha lokal kalah bersaing dengan pengusaha dari luar daerah untuk mendapatkan proyek-proyek yang mendukung kegiatan investasi tersebut. Peningkatan efisiensi anggaran bidang kesehatan. kelembagaan. (Terkait dengan medan yang berat dan kondisi transportasi serta komunikasi tidak memungkinkan. Berdasarkan hal tersebut pengusaha lokal Papua cenderung mengantungkan sumber kegiatannya kepada kegiatan program/proyek dari Pemerintah. Banyak daerah yang tidak terakses oleh pelayanan kesehatan yakni puskesmas keliling) Frekuensi tenaga medis yang datang ke wilayah terpencil sangat terbatas karena faktor tingginya biaya transportasi (Harga BBM).K o n d i s i U m u m Pada bidang kesehatan. gudang obat dan bangunan puskesmas. Hasil kajian selama ini menunjukkan bahwa pengusaha lokal Papua banyak berperan dalam bidang perdagangan guna memenuhi kebutuhan Pemerintah Daerah dalam nilai transaksi yang terbatas (kurang dari Rp.3 Rendahnya Daya Saing Pengusaha Lokal. Belum ada informasi yang jelas mengenai berapa alokasi anggaran untuk program-program penyuluhan (terkait dengan ’pencegahan’). 1 Milyar). Konsekuensinya kebutuhan SDM yang dapat terlibat dalam kegiatan tersebut haruslah SDM yang memiliki kualitas yang baik dan menguasai teknologi atau ketrampilan khusus. Jasa kontraktual pun masih kecil dan terbatas pada pekerjaan yang membutuhkan syarat teknis yang ringan. Tidak ada atau minimnya sarana perumahan bagi tenaga medis. faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan di Irian Jaya Barat adalah sebagai berikut : • • Tingkat pengetahuan masyarakat akan kesehatan rendah (terkait dengan pendidikan yang rendah dan minimnya informasi) Jangkauan layanan kesehatan sangat terbatas. Kegiatan ekonomi di wilayah ini didominasi kegiatan investasi yang bergerak dalam kegiatan ekstraksi sumber daya alam. maka upaya-upaya perbaikan tingkat kesehatan dititikberatkan pada : • • • • Peningkatan pelayanan kesehatan untuk dapat menurunkan angka kematian bayi dan meningkatkan usia harapan hidup. • • Alokasi anggaran untuk bidang kesehatan saat ini diprioritaskan untuk penyediaan sarana dan prasarana fisik (’pengobatan’) seperti penyediaan obat-obatan.29 .16. budaya dan jaringan usaha dari pengusaha lokal. Selain itu kebijakan untuk menggerakkan kelompok usaha lokal Papua masih menggunakan pola konvensional yaitu memberikan jatah pekerjaan atau arahan yang RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . lokal maupun pemerintah. Biasanya kegiatan investasi ini dimotori oleh para perusahaan asing yang bekerja sama dengan perusahaan nasional. Hal ini diantaranya disebabkan oleh adanya keterbatasan kapasitas.

Hal ini dapat dipahami karena dalam kegiatan eksploitasinya berbagai perusahaan tersebut telah berkontribusi untuk membangun infrastruktur yang diperlukan. Selama ini pertumbuhan wilayah di Irian Jaya Barat terbatas pada wilayah-wilayah tempat kegiatan investasi ekstraksi sumber daya alam berlangsung. Namun demikian wilayah hinterland dari pusat-pusat pertumbuhan tersebut belum berkembang akibat dari sulitnya akses yang menghubungkan ke pusat pertumbuhan. Selain itu wilayah yang cepat tumbuh adalah wilayah yang merupakan ibu kota kabupaten. dan kondisi permukiman yang tak layak. 2. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .4% dari seluruh total penduduk. Semua persoalan tersebut berujung pada rendahnya pendapatan masyarakat. Di wilayah tersebut terletak pusat kegiatan pemerintahan dan usaha yang menjadi pemicu pertumbuhan wilayah.16. Berdasarkan hal tersebut upaya pemberdayaan masyarakat. maka lambat laun keberadaan pengusaha lokal asli Papua akan tereduksi. pendekatan secara kultural perlu dilakukan walaupun memerlukan pendanaan yang cukup tinggi dan waktu yang lama. Khusus untuk wilayah Provinsi Irian Jaya Barat. telah berkembang menjadi kota yang memiliki sarana dan prasarana yang lengkap jika dibandingkan dengan kota-kota lain di Provinsi ini. pembinaan komunitas adat terpencil.16. Penduduk miskin tersebut umumnya bermukim di kampung yang hanya mengandalkan pola hidup subsisten dan tradisional. Jika hal tersebut terus berlangsung dan tidak terdapat kebijakan yang dapat meningkatkan kapasitas pengusaha lokal agar memiliki daya saing yang tinggi. Sebagai contoh Kota Sorong.5 Pertumbuhan Wilayah yang Tidak Merata Salah satu pemicu pertumbuhan wilayah adalah kegiatan perekonomian yang dinamis. rehabilitasi dan perlindungan sosial bagi masyarakat marginal terutama ditingkat kampung perlu dilakukan dan diprioritaskan guna menjawab permasalahan kemiskinan. Lambatnya pertumbuhan dunia usaha lokal dipicu juga oleh tidak jelasnya pola penanganan yang dikembangkan selama ini dan juga praktek KKN yang marak dilakukan.4 Tingginya Angka Kemiskinan Berdasarkan data BPS. prosentase kemiskinan di Provinsi Irian Jaya Barat mencapai 75. 2. Persoalan ini berawal dari rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan masyarakat. Pada dasarnya penyebab kemiskinan adalah persoalan multi-dimensi yang membentuk suatu lingkaran kemiskinan. keterisolasian sehingga dapat menurunkan produktivitas kerja.K o n d i s i U m u m sifatnya captive policy yang sengaja diperuntukkan untuk pengusaha lokal. yang sejak dahulu merupakan pusat kota eksploitasi minyak bumi. Adanya faktor supply dan demand dari kegiatan perekonomian akan memunculkan berbagai eksternalitas bagi pertumbuhan wilayah. hal ini tentunya akan menghambat proses dan inisiatif pengembangan ekonomi lokal bagi kesejahteraan masyarakat asli Papua. kurangnya lapangan kerja. dengan kata lain penentuan pemberian pekerjaan tidak didasarkan pada persyaratan bisnis profesional.30 . kecilnya laju pertumbuhan ekonomi dan tingginya tingkat pengangguran. seperti Manokwari dan Sorong.

Padahal produktivitas tenaga kerja pada sektor-sektor tersebut sangat rendah jika dibandingkan dengan penyerapan tenaga kerja di sektor jasa atau pertambangan dan industri. daerah pedalaman. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Dengan mempertimbangkan kendala ekosistem dan juga peluang ekonomi wilayah.K o n d i s i U m u m mengingat kondisi topografis dan geografis yang membatasi ruang gerak pembangunan infrastruktur wilayah. suatu strategi untuk memeratakan pertumbuhan di wilayah ini perlu diimplementasikan kedalam suatu tindakan nyata. Dengan membangun infrastruktur sesuai kebutuhan maka interaksi dan integrasi sektoral dan regional akan dapat terwujud. dataran rendah dan kepulauan. Tantangan di wilayah ini adalah mayoritas penduduk asli di wilayah ini masih memiliki pola subsisten yang sangat mengandalkan lingkungan sekitarnya untuk dapat bertahan hidup. Saat ini di kelima wilayah eco-region tersebut. Penyebaran Pusat Pertumbuhan atau Diversified Growth Strategy dengan maksud menyebarkan pertumbuhan baik dalam konteks wilayah maupun sektor kegiatan dapat dijadikan acuan untuk mendorong pengembangan wilayah. 2. Berdasarkan hal tersebut. Prioritas program tersebut perlu disesuaikan dengan keunggulan dan kapasitas yang tersedia di wilayah masing-masing. Komunitas masyarakat tersebut kebanyakan merupakan penduduk asli Papua yang telah bermukim sejak lama dengan kondisi kesejahteraan yang masih minim.6 Ketidakseimbangan Struktur Ekonomi Wilayah Struktur perekonomian yang membentuk PDRB di Provinsi Irian Jaya Barat masih didominasi dari sektor atau industri yang sifatnya ekstraktif terhadap sumber daya alam seperti pertambangan dan MIGAS. Namun demikian kontribusi di sektor pertanian yang menjadi tumpuan penghidupan bagi kebanyakan masyarakat lokal sangat rendah jika dibandingkan dengan sektor pertambangan dan MIGAS. maka pendekatan eco-region dapat menjadi acuan untuk mendorong program sektoral di wilayah ini. perikanan. Walaupun sebagian lainnya bermata pencaharian petani. telah berkembang kegiatan ekonomi masyarakat lokal namun skalanya masih kecil dan sifatnya masih subsisten/tradisional. Berdasarkan hal tersebut program-program spesifik dapat muncul menurut kondisi eco-region seperti pegunungan.16. pesisir. Dari struktur PDRB tersebut dapat diindikasikan bahwa pertumbuhan sektor modern tidak banyak menghasilkan nilai tambah bagi pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. dan kehutanan.31 .

• Tingginya biaya produksi. Minimnya upaya pembinaan Minimnya prasarana dan sarana Pemasaran produk baru terbatas pada perdagangan antar pulau. seperti jumlah nelayan. • Adanya masalah pertanahan dan hak ulayat b) Perikanan : • • • • • • • • • Terbatasnya SDM perikanan (skill) Minimnya alat tangkap yang memadai Skala produksi yang masih kecil baik untuk perikanan tangkap maupun budidaya. • Minimnya infrastruktur dasar (jaringan jalan). Minimnya data dasar.9 Daerah Bomberay: Potensial untuk dikembangkan sebagai peternakan skala besar a) Pertanian: Minimnya (terbatasnya) lahan dan keterbatasan pembukaan lahan baru sehingga perlu dikembangkan kawasan-kawasan sentra produksi. perkebunan dan perikanan serta sektor penunjangnya yakni perhubungan secara lengkap diuraikan dibawah ini: Gambar 2. Sentra produksi perikanan jauh dari pasar nasional. • Hasil produksi belum berskala ekonomi • Produksi petani yang masih subsisten dengan kepemilikan faktor produksi yang terbatas. terutama pada kawasan sentrasentra produksi sehingga penyediaan jaringan jalan dari dan ke kawasan sentra produksi harus segera diwujudkan. • Minimnya tenaga-tenaga penyuluh.K o n d i s i U m u m Berbagai permasalahan yang menjadi ketidakseimbangan struktur ekonomi wilayah tersebut berawal dari permasalahan umum sektor perekonomian rakyat seperti pertanian. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . produksi nelayan.32 .

coklat dan karet yang terdapat di Kabupaten Fakfak. minyak dan gas bumi.16. kopi olahan dan pala olahan yang tersebar di Kabupaten/Kota di Provinsi Irian Jaya Barat. Akses masyarakat lokal terhadap sumber daya alam dibatasi oleh kemampuan mereka dalam mengolah dan memanfaatkan hasil alam. mineral.10 Perkebunan Kelapa Sawit di Prafi • Belum tersedianya bibit tanaman perkebunan yang terjamin kualitas.578 Ha dengan rata-rata produksi per tahun 4.000 Ha yang dikelolah oleh PTP Nusantara II yang sudah memasuki tahap Produksi. • Status kepemilikan lahan oleh masyarakat adat seringkali menghambat pengembangan perkebunan besar.7 Kurang efektifnya Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Irian Jaya Barat kaya akan sumber daya alam baik berupa hutan. pala. 2. kelapa dan lain sebagainya. sehingga diperlukan upaya peningkatan produksi dan pengawetan produk. • Adanya wabah serangan hama PBK yang sangat merugikan petani perkebunan rakyat. Kaimana dan Teluk Bintuni.K o n d i s i U m u m c) Perkebunan : • Minimnya pabrik pengolah sehingga banyak produk mentah terbuang • Rendahnya kemampuan produksi sehingga tidak menjamin kontinuitas produksi. termasuk produk ikutannya dan hasil-hasil pengolahan sederhana seperti minyak kelapa rakyat.33 . selain itu juga terjadi perubahan pada masyarakat terutama dalam peningkatan kesejahteraan akibat pembangunan di berbagai sektor. Adanya pergeseran paradigma dalam era desentralisasi. Gambar 2. yang kemudian diikuti oleh RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .99% selain itu komoditas lainnya adalah pala. Namun implikasi negatif yang harus dikendalikan adalah penurunan kualitas lingkungan.81 kw/ha. Komoditas yang memiliki luas panen terbesar adalah kelapa (52.500 Ha. Jenis komoditi perkebunan yang diusahakan oleh masyarakat dan swasta di Provinsi Irian Jaya Barat antara lain : kopi. cengkeh. maupun perairan (hasil laut). Farita Majutama dan Kebun Kakao seluas 5000 Ha oleh PT Nusa Irian Indah dan sisa lahan yang belum dimanfaatkan 159. Berbagai prakarsa pembangunan dalam mengelola sumber daya tersebut telah menghasilkan dampak yang luas secara ekonomi. ekologis dan sosial-budaya di wilayah Irian Jaya Barat. Dampak positif secara makro diantaranya adalah meningkatnya penerimaan devisa negara dari hasil pemanfaatan sumber daya alam hutan. Secara keseluruhan luas areal tanaman perkebunan ini pada tahun 2003 sebesar 26. mineral dan perairan.35%) sementara kopi dan cengkeh yang merupakan komoditas ekspor hanya 5. Selain komoditas tersebut juga terdapat komoditas Kelapa Sawit yang terdapat di Distrik Prafi dan Distrik Masni Kabupaten Manokwari dengan luas lahan sebesar 10. Sedangkan di Distrik Babo Kabupaten Teluk Bintuni telah dibangun Kebun Inti Kelapa Sawit oleh PT.

2. Padahal penduduk setempat yang sudah lama mendiami tanahnya telah memiliki cara-cara sendiri dalam mengelola sumber daya alam dan lingkungan secara berkelanjutan. merupakan suatu komitmen untuk memperbaiki pola pembangunan di daerah. Daerah dimungkinkan untuk mengembangkan kemampuan pengelolaan sumber daya alam berdasarkan prinsip otonomi.9 Minimnya Sarana dan Prasarana Publik Secara umum kondisi sarana dan prasarana publik di wilayah Provinsi Irian Jaya Barat masih jauh dari kondisi optimum. sangat tergantung dari kondisi topografis di wilayah ini. perumahan dan permukiman. Selain memberikan tambahan pendapatan bagi pemerintah untuk kebutuhan pembangunan wilayah. kecuali untuk wilayah di tiga kabupaten induk yaitu Sorong. yaitu transportasi laut (karena daerah yang RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Sementara penduduk asli yang masih memiliki pola hidup subsisten hanya dapat mengakses sebagian kecil dari sumber daya alam tersebut untuk kehidupannya. Era desentralisasi.K o n d i s i U m u m diberlakukannya otonomi daerah.16.34 . persoalannya adalah bagaimana mengatasi SDA terseut sebelum habis. masyarakatnya tidak miskin. Persoalan pengelolaan SDA pada dasarnya adalah bagaimana pengelolaan SDA dapat memberdayakan masyarakat lokal dan bagaimana dengan kearifan lokal (local wisdom)-nya. energi. minyak dan gas bumi dan perikanan. air bersih.8 Minimnya Akses Masyarakat terhadap Sumber Daya Alam Sumber daya alam yang terdapat di wilayah ini diantaranya adalah sumber daya hutan. Kebijakan pemanfaatan sumber daya alam yang kurang melibatkan penduduk asli dalam proses kegiatannya telah melemahkan potensi mereka dalam menjaga lingkungan. Dunia usaha dengan teknologi yang moderen mampu memanfaatkan sumber daya alam dan dapat menjangkau wilayah yang cukup luas. Sedangkan penduduk setempat dan masyarakat pada umumnya masih terbatas sehingga mereka pada akhirnya mengalami keterbatasan. agar SDA dikelola secara berkelanjutan. telekomunikasi. yang harus dipertimbangkan adalah daya dukung (carrying capacity) SDA. Namun desentralisasi yang semula diharapkan tampaknya belum mampu menjamin pengelolaan SDA secara adil dan bijaksana. Manokwari dan Fakfak. kegiatan eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh investor masih menyisakan permasalahan dalam bidang lingkungan dan juga belum memberikan manfaat optimal kepada penduduk asli. serta sarana peningkatan kualitas sumber daya manusia.16. Kegiatan eksploitasi sumber daya alam tersebut lebih banyak dilakukan dalam skala besar oleh para investor. Dengan demikian tidak dapat dihindari jika masih terdapat penduduk miskin di sekitar sentra-sentra produksi sumber daya alam yang berlimpah. Daya dukung ini penting untuk diketahui. bahan tambang. Minimnya pengadaan prasarana dasar di wilayah ini disebabkan karena adanya keterbatasan dalam pembangunannya. Pada SDA yang tidak dapat diperbaharui (non renewable) seperti pada pertambangan. memunculkan paradigma baru dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian lingkungan hidup. Sedangkan pada SDA yang dapat diperbaharui. Sebagai contoh moda transportasi yang ada saat ini dalam menghubungkan wilayah antar-kabupaten/kota. 2. Prasarana publik tersebut meliputi sarana perhubungan.

17 Isu dan Kebutuhan Pembangunan 2. praktik-praktik manajemen yang buruk dan kurangnya sumber daya finansial dan mekanisme kontrol finansial. Berbagai masalah yang selama ini telah berhasil didokumentasikan diantaranya adalah struktur organisasi yang tidak tepat. Provinsi Irian Jaya Barat meliputi 8 Kabupaten dan 1 Kota. Tambahan lagi. Pemerintah daerah sendiri tidak pernah melaksanakan paradigma pembangunan yang terdesentralisasi secara konsisten dan mempertahankan kekuasaan. Pelayanan transportasi laut dan udara pun masih kurang efektif akibat belum teraturnya jadwal kapal dan jadwal penerbangan. kecuali pelayanan kesehatan melalui puskesmas dan klinik. 2. ditambah dengan sikap yang kondusif terhadap praktikpraktik yang tidak efisien dan terhadap korupsi telah lama terbentuk. mencakup hampir semua aspek kehidupan manusia . padahal untuk kondisi di wilayah ini kriteria tersebut tidak cocok untuk diterapkan. unit perumusan kebijakan menjadi terbesar/tergemuk dan unit-unit pelayanan di tingkat distrik dan kampung justru terlemah/terkecil. sanitasi. Dilihat dari struktur organisasi pemerintah daerah masih nampak adanya bentuk yang disebut piramide terbalik. dimana dari segi alokasi tenaga dan dana. unit pemerintah daerah punya pengalamanan yang minim dengan kewenangan independen dan tanggung jawab yang lebih besar. Distribusi penduduk asli yang mendiami kampung-kampung di Provinsi Irian Jaya Barat memiliki karakteristik yang menyebar. Berdasarkan hal tersebut peningkatan kapasitas kelembagaan publik di Provinsi Irian Jaya Barat merupakan salah satu target utama guna melaksanakan program pembangunan yang berkelanjutan di wilayah ini.1 Pembangunan Manusia Konsep pembangunan manusia sangat luas. Selain itu kapasitas kelembagaan ditingkat distrik kurang diberdayakan untuk melaksanakan pelayan publik/teknis. Sedangkan transportasi darat hanya dapat menjangkau daerah-daerah di dalam kota atau kabupaten.10 Lemahnya Kapasitas Kelembagaan Publik Secara administratif. Hal ini berbeda dengan kondisi di kampung atau daerah permukiman transmigrasi.17. Hal ini disebabkan karena penyediaan prasarana dasar masih menggunakan pola klasik yang didasarkan pada kriteria jumlah penduduk. Selain itu ketersediaan prasarana dasar seperti air bersih. keterampilan sumber daya manusia yang tidak memadai. Akibatnya pelayanan tidak dapat dilaksanakan dengan baik ditingkat kampung. kesetaraan RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . dan transportasi udara. energi dan telekomunikasi di tingkat kampung masih belum memadai.35 . Awalnya jumlah kabupaten dan kota di wilayah ini hanya meliputi 3 kabupaten induk yang kemudian dimekarkan.K o n d i s i U m u m berkembang di wilayah ini adalah daerah pesisir).16. 2.mulai dari kebebasan menyampaikan pendapat. maka dapat dipahami bahwa kapasitas kelembagaan publik yang melaksanakan tugas-tugas pemerintah untuk melakukan pembangunan di daerah masih sangat lemah. terutama di kampungkampung permukiman penduduk asli. sehingga kriteria jumlah penduduk seringkali tidak dapat dipenuhi untuk membangun prasarana dasar di tingkat kampung. Dengan kondisi yang masih sangat serba baru baik kabupaten maupun Provinsi.

disamping pola pendidikan yang tidak tepat serta mutu pendidikan yang rendah menyebabkan komunitas penduduk asli Papua tetap saja tertinggal. Sarana pendidikan di Provinsi Irian Jaya Barat dari mulai TK sampai Perguruan tinggi telah lengkap di perkotaan. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . maka pembangunan manusia menjadi syarat mutlak bagi Provinsi Irian Jaya Barat untuk dapat mengejar ketertinggalannya dengan Provinsi lain dan juga untuk mensejahterakan masyarakatnya. hingga kemampuan untuk membaca dan menulis bagi orang dewasa.36 . Kuantitas dan kualitas Sumber Daya Manusia merupakan persoalan pokok yang dihadapi dalam pembangunan di wilayah ini. formal di pedesaan masih rendah dibandingkan di perkotaan. IPM ini merupakan ukuran yang menggabungkan ukuran tingkat pendapatan. Permasalahan mengenai rendahnya kualitas SDM yang tercakup didalamnya adalah rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan. Terdapat perbedaan yang mencolok dalam hal kapasitas di kalangan penduduk asli dengan bukan penduduk asli. Begitu pula syarat mutlak dalam mengatasi tantangan dengan angka partisipasi pendidikan ketertinggalan daerah ini.K o n d i s i U m u m jender. Angka partisipasi dalam bidang pendidikan pada umumnya cukup rendah. Konsep tersebut menempatkan manusia sebagai pusat dari keseluruhan proses pembangunan. Tambahan nilai modern ini belum mampu mengubah kondisi sosial ekonomi penduduk asli dan tetap saja hidup dalam keterisolasian dan subsisten. Berdasarkan data yang diperoleh. usia harapan hidup dan pendidikan terakhir. gizi anak.11 Pembagunan SDM menjadi masih kurang di pedesaan. Hal ini mengakibatkan sangat minimnya penduduk asli yang dapat berpartisipasi dalam perekonomian dan pembangunan. dan perusahaan kehutanan dan perikanan yang secara intensif dilakukan di Provinsi Irian Jaya Barat. Kehidupan modern pertama kali datang di Tanah Papua terlebih dahulu di Provinsi Irian Jaya Barat. Secara global. kesempatan memperoleh pekerjaan. Eksplorasi dan eksploitasi minyak bumi oleh NNGPM Belanda dan kemudian dilanjutkan oleh PT Pertamina dan Kontraktor Bagi Hasil (Petromer Trend. Santa Fe. IPM yang disusun UNDP di New York tahun 2001 memberi Indonesia skor 68 dari 100 dan menempatkan Indonesia pada peringkat 102 di dunia dalam hal pembangunan manusia. Penyebabnya adalah kapasitas yang tidak berkembang dan tidak dikembangkan. angka partisipasi dalam bidang pendidikan bagi penduduk asli menunjukkan variasi antar wilayah. Tidak adanya atau sangat minimnya akses pendidikan menghambat perkembangan kapasitas penduduk asli. Hal tersebut dapat dilakukan melalui peningkatan kapasitas masyarakat dalam dua hal pokok yaitu pendidikan dan kesehatan. dan lain lain) dan saat ini perusahaan Gas Bumi oleh BP Tangguh. namun Gambar 2. Dalam analisa pembangunan manusia digunakan suatu tolok ukur khusus yang disusun oleh UNDP yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator tingkat kemiskinan non-ekonomi.

Angka partisipasi pendidikan menempatkan Provinsi Irian Jaya Barat di deretan bawah di tingkat nasional dan menggambarkan situasi pembangunan yang jauh lebih serius daripada angka PDRB perkapita yang tinggi. Kabupaten/Kota Fakfak Sorong Manokwari Kaimana Sorong Selatan Raja Ampat Teluk Bintuni Teluk Wondama Kota Sorong Total TK 30 47 32 8 1 2 6 1 35 162 SD 87 111 164 67 109 79 63 42 66 788 SLT P 13 17 27 10 16 17 14 4 22 140 SLTA Umu Kejurua m n 5 3 3 1 12 2 4 4 4 1 2 0 4 0 1 0 15 7 50 18 Perguruan Tinggi Negeri 1 0 2 0 1 0 0 0 1 5 Swasta 0 1 3 2 1 0 1 0 13 21 Sumber : Dinas Pendidikan Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai indikator tingkat kemiskinan nonekonomi. Bagi masyarakat Papua. yakni Peringkat IPM.37 .19 : Banyaknya Sarana Pendidikan di Provinsi Irian Jaya Barat dirinci menurut Jenisnya per Kabupaten/Kota No. 4. sarana pendidikan secara kuantitas terlengkap terdapat di Kabupaten Manokwari. Pada tahun 1986 lahir Deklarasi PBB mengenai Hak atas Pembangunan yang tidak hanya meliputi hak-hak tersebut saja tetapi juga menjamin kesediaan kesehatan. 6. ekonomis. menempati deretan urutan rendah di Indonesia. yang sangat menjunjung tinggi adat tanah leluhurnya. menyangkut beberapa jenis hak yaitu hakhak sipil. namun secara indikator kemiskinan Non Ekonomi di tingkat Nasional. 1. 5.K o n d i s i U m u m Berdasarkan data.2 Pengakuan Hak Dasar Pengertian hak-hak dasar jika merujuk pada Deklarasi Universal terhadap Hak Asasi Manusia yang disepakati tahun 1949. sosial dan budaya. mereka juga memandang bahwa adat merupakan warisan leluhur dan panduan hidup di dunia yang dapat menjamin kesejahteraan sosial dan keadilan. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II .17. 2. pengakuan hak-hak dasar terhadap masyarakat Papua belum lengkap jika tidak diikuti dengan pengakuan terhadap hak adat mereka. 9. Beberapa hasil penelitian menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat Papua percaya bahwa adat merupakan hal yang penting untuk memahami dan menyelesaikan masalah-masalah di Papua. politik. Ini menunjukkan bahwa pendapatan dari sumber daya alam Provinsi Irian Jaya Barat belum diinvestasikan dengan memadai untuk memperbaiki kondisi kehidupan bagi masyarakatnya. menunjukkan kendati PDRB Per kapita Provinsi Irian Jaya Barat termasuk yang tinggi pada level nasional. 7. Tabel 2. 3. 8. Sedangkan jumlah fasilitas pendidikan terendah adalah Raja Ampat dan Teluk Wondama. 2. gizi dan pendidikan dengan standar yang baik.

dan guna memobilisasi anggota masyarakat untuk mengatasi tantangan dari luar. Di lain pihak. 2.3 Pengembangan Ekonomi Rakyat Sektor dominan pembentuk PDRB Provinsi Irian Jaya Barat adalah pertambangan dan pertanian. Berdasarkan hal tersebut.17. kegagalan pemerintah dalam mengakui hak tanah adat dan dan pengabaian terhadap hak-hak dasarnya di masa lalu. Untuk itu diperlukan suatu upaya yang dapat meningkatkan nilai tambah kegiatan ekonomi bagi masyarakat lokal Gambar 2.4 Penyediaan Prasarana Dasar Minimnya ketersediaan prasarana dasar yang memadai tidak hanya membatasi peluang bagi mata pencaharian potensial. penyediaan prasarana dasar atau infrastruktur wilayah sebaiknya ditekankan pada peningkatan kapasitas prasarana kota dan pengembangan wilayah pinggiran terutama yang mendukung kelancaran arus barang dan jasa. Namun sektor-sektor yang memberikan kontribusi besar tersebut nyatanya tidak selalu membentuk tata kaitan ekonomi dengan sektor pertanian yang diusahakan masyarakat. akan tetapi juga memberikan hambatan serius untuk meningkatkan akses masyarakat pada layanan kesehatan dan pendidikan selain komunikasi dengan pemerintah dan pasar di luar.K o n d i s i U m u m Adat telah menjadi wahana utama bagi masyarakat Papua untuk mengekspresikan identitas lokal guna menyatakan kembali hak-hak dasar mereka yang telah diabaikan sejak lama dimasa lalu. peningkatan daya tarik investasi dan juga mendukung kegiatan perekonomian lokal. Tantangan ini meliputi eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan oleh Pemerintah dan perusahaan swasta. Industri pengolahan cenderung berskala besar yang diusahakan oleh korporasi.12 Pekerjaan tradisional masyarakat asli: Menokok Sagu 2. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Kendala-kendalanya antara lain adalah: • • • Belum adanya ‘jembatan’ antara hukum nasional dan hukum adat. produk pertanian rakyat merupakan bahan baku yang membutuhkan proses penambahan nilai melalui sektor sekunder dan mampu menggerakkan multiplier effect sektor pertanian. Namun demikian upaya pengakuan hak dasar orang Papua di Provinsi Irian Jaya Barat.38 . masih memiliki beberapa kendala. Strategi proses penambahan nilai sektor primer dalam skala kecil dan menengah merupakan salah satu alternatif untuk menggerakkan pertumbuhan wilayah pedalaman. Adanya ketidakjelasan struktur/kepemimpinan masyarakat adat. Adanya ketidakjelasan batas dan dasar klaim tanah ulayat.17.

Dana yang dialokasikan untuk pembangunan jalan tersebut bersumber dari dana Otsus. Pola sebaran penduduk terpencar dan terpencil terpisah oleh medan topografi yang berat.39 RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 . Faktor topografis.13 Kondisi Jalur transportasi darat Manokwari-Bintuni Beberapa fakta yang terkait dengan perwujudan integrasi wilayah adalah: 1. masyarakat di daerah pedalaman tetap terisolir dari dunia informasi dan kesulitan dalam meningkatan taraf hidupnya. Sorong Selatan. Pembangunan ruas jalan Trans Irian Jaya Barat adalah sebagai berikut : Seksi I : Ruas jalan yang menghubungkan Manokwari. Kabupaten Sorong dan Kota Sorong.K o n d i s i U m u m 2. 3. Integrasi wilayah oleh sarana transportasi darat akan meningkatkan interaksi wilayah. dimana Pemerintah Kabupaten manokwari. Program pembangunan Trans Irian Jaya Barat menjadi relevan dalam masa datang untuk keperluan integreasi antar wilayah dimaksud. terutama transportasi darat yaitu jalan dan jembatan.5 Integrasi Wilayah Kendala utama dalam rangka percepatan pembangunan masyarakat di Papua adalah keterisolasian disebabkan oleh terbatasnya sarana dan prasarana transportasi. Gambar 2. Sorong Selatan.14 Faktor topografis yang berat menjadi kendala dalam perwujudan integrasi wilayah ini. tipe kontur yang perbedaannya sangat tajam antara pegunungan dan lembah 2. Kabupaten Sorong dan II .17. Rasio antara luas wilayah dengan panjang jalan yang tersedia sangat tidak sebanding. Sehubungan dengan hal tersebut. mengakibatkan wilayah permukiman yang terisolir akan tetap terisolir menyebabkan Gambar 2. Dana Sektoral dan Dana APBD. Gubernur Provinsi Irian Jaya Barat beserta seluruh kepala daerah masingmasing kabupaten/kota di Provinsi Irian Jaya Barat telah menandatangani Nota kesepakatan Tahun 2004 pembangunan jalan yang disebut dengan jalan Trans Irian Jaya Barat untuk memenuhi tuntutan pembangunan mencakup kecepatan dan ketepatan pelayanan di berbagai sektor pembangunan (Fisik dan Non Fisik).

Cukup dilematis antara pemilihan alternatif dalam integrasi wilayah antara darat dan kombinasi darat-lautudara. wilayah Kepala Burung merupakan wilayah yang kaya akan sumber daya alam dan memiliki keanekaragaman hayati yang unik yang tidak terdapat di tempat lain sehingga perlu dilindungi keberadaannya. b.40 .7 km)-Oransbari-(36. yang merupakan wilayah jurisdiksi Provinsi Irian Jaya Barat. Fakfak.(50 km)-Kebar. Dalam penentuan trasse jalan belum didahului dengan studi kelayakan yang detail. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Teluk Bintuni. Salah satu diantaranya adalah mega proyek LNG Tangguh milik Beyond Petroleum (BP) di Teluk Bintuni. Oleh karena itu pembangunan jalan diupayakan semaksimal mungkin dengan cara : • • • • Berada di luar kawasan cagar alam baik yang direncanakan maupun yang sudah ditetapkan. Ruas jalan Mameh-(115 Km)-Windesi-(181 Km)-Tandia-(9 Km) Rasiei. Pengawasan yang ketat terhadap kontraktor pembebasan untuk menjamin agar pekerjaan sesuai dengan yang telah direncanakan. sehingga pada saat pembangunan di ruas-ruas tertentu.K o n d i s i U m u m Kota Sorong meningkatkan ruas jalan Sorong-(42 km)-Klamono (129 km)-Ayamaru. Sebagian besar pembangunan telah dilakukan (70%). Manokwari-(25 km)-Maruni-(50. d. sangatlah pesat.6 Penyebaran dan Pemerataan Pertumbuhan Selama dekade terakhir dinamika pembangunan di Provinsi Irian Jaya Barat. Teluk Wondama. Kaimana membangun ruas jalan : a. Di sisi lain.(47 Km)Kumurkek.000 Ha). c. Namun. Ruas jalan Windesi-(40 Km)-Bourof-(76 Km)-Bomberai(161 km)-Fakfak. Hal ini ditunjukkan dengan meningkatnya jumlah proyek-proyek di berbagai sektor antara lain sektor kehutanan. perikanan dan pertambangan yang mulai beroperasi di wilayah tersebut. 2. Sedangkan integrasi melalui kombinasi darat-laut-udara.6 km)Ransiki-(48)-Mameh-(89 Km)-Bintuni. Pembangunan jalan yang melalui kawasan lindung harus memenuhi persyaratan peraturan perundang-undangan. Salah satu aset lingkungan yang penting dan mendapat perhatian internasional adalah kawasan hutan bakau di Teluk Bintuni yang merupakan hutan bakau terluas kedua di Asia Tenggara (426. Ruas jalan Bourof –(120 Km)-Kaimana. Pembangunan jalan logging oleh HPH sebaiknya terintegrasi dengan jalan trans. banyak mengalami kendala misalnya tersendat-sendatnya pembangunan jalan akibat melewati dataran rawa yang membutuhkan biaya konstruksi yang sangat mahal.17. Integrasi melalui darat akan menimbulkan berkurangnya luasan kawasan lindung. kondisi jalan sebagian masih buruk. Seksi II : Ruas jalan yang menghubungkan Kabupaten Manokwari. dinilai kurang fleksibel dan sangat terbatas.

15 Aktivitas logging yang Intensif dapat mengancam kelestarian Lingkungan. Melakukan kegiatan peningkatan kapasitas anggota legislatif dan eksekutif mengenai permasalahan sumber daya hutan. • • • Merancang sistem dan pola pengelolaan hutan dan kepentingan masyarakat adat di Provinsi Irian Jaya Barat untuk mendapatkan bentuk pengelolaan hutan berbasis masyarakat dengan penerapan sistem silvikultur yang menjamin keberlanjutan sumber daya alam di Irian Jaya Barat. perlu dipastikan bahwa Penyebaran Pusat Pertumbuhan menjadi program prioritas pada tingkat lokal baik Provinsi maupun Kabupaten/Kota. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . pemanfaatan sumber daya alam cenderung dilakukan secara eksploitatif tanpa memperhatikan keberlanjutan dan daya dukung lingkungan disekitarnya. pelajaran yang diperoleh disini adalah perlunya pengembangan wilayah Kepala Burung dengan menggunakan prinsip penyebaran pusat pertumbuhan serta diversifikasi sektor usaha.K o n d i s i U m u m Belajar dari pengalaman sebelumnya (dalam hal ini kasus Freeport di Timika). Cara ini akan dapat menjawab kebutuhan pembangunan yang ”equitable” serta menghadirkan opsi lain yang sifatnya sektoral. mineraltambang dan perairan di Provinsi Irian Jaya Barat. tambang-mineral dan perairan untuk mendapatkan pemahaman yang maju sesuai perkembangan perundangundangan. Penyebaran pusat pertumbuhan serta pengembangan sektor lain juga akan dapat memperbaiki serta memperkuat struktur ekonomi yang cenderung berisifat monosektor. Berdasarkan uraian tersebut maka beberapa kebutuhan yang diperlukan untuk memperbaiki sistem pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan di wilayah Irian Jaya Barat demi mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan adalah sebagai berikut: • Memastikan adanya dukungan regulasi yang efektif dalam pengelolaan sumber daya alam hutan.41 . Sebagai suatu pendekatan pembangunan. Gambar 2. Mengefektifkan peraturan pengelolaan sumber daya alam. Disamping itu pula. Dengan demikian tidak semata-mata tergantung pada bidang gas alam saja.7 Pelestarian Lingkungan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Seperti yang banyak terjadi di wilayah lain di Indonesia. disadari oleh semua pihak bahwa sangatlah penting mencegah pemusatan pertumbuhan di kawasan di mana terdapat investasi berskala besar yang mana kondisi alamnya sangat sensitif seperti wilayah Teluk Bintuni. 2.17.

peran aparatur sangat penting. disini ada Multinational Cooperation high tech seperti BP Tangguh atau Petro China yang padat modal. peranan aparatur menjadi penting Sebagai provinsi baru. SDA sebagian besar masih potensi. meskipun sudah ada Peraturan Pemerintah (PP) yang ditentukan oleh pemerintah pusat. beberapa hal berikut perlu dilakukan sebagai pra-syarat dasar pengembangan kelembagaannya.17. Guna merumuskan bentuk dan mekanisme kelembagaan pembangunan yang efektif dan sesuai dengan karakteristik wilayah Irian Jaya Barat. Jadi Provinsi Irian Jaya Barat dapat belajar banyak dari provinsi lain mengenai penataan struktur organisasi. belajar dari kasus-kasus yang sudah diteliti di provinsi lain. Salah satu faktor kunci dalam ‘Good Governance’ adalah kapasitas pemerintah daerah. Mengembangkan kemasyarakatan. masalah pemberdayaan aparatur : dalam penyusunan struktur dan penempatan personil ada subjektivitas dalam pemilihan personil. mengingat Provinsi Irian Jaya Barat menghadapi tantangan situasi yang berat dan serba kontras. Oleh karena itu tantangan yang harus dihadapi terutama oleh pemberintah daerah dalam pelayanan publik adalah bagaimana menghadapi masalah masyarakat golongan ini. penganggaran dan penyediaan pelayanan. Misalnya.8 Pengembangan Kelembagaan Sebagai provinsi baru. Mengembangkan kapasitas dari pemerintah provinsi dan kabupaten baru dalam perencanaan. pemograman. Provinsi Irian Jaya Barat terbentuk pada era otonomi fase konsolidasi tahun 2006. Meningkatkan kemampuan DPRD (kapasitas menjalankan fungsi legislasi dan pengawasan. harus disesuaikan dengan kebutuhan lokal. Dari domain-domain tadi. riil belum diolah.42 . • • • • • • Desentralisasi struktur dan kapasitas pemerintahan dari segi dana. Mengalokasikan sebagian besar dana pembangunan pada tingkat yang berwenang atau paling kompeten dalam memberikan pelayanan publik. Sebagai provinsi baru. bagaimana capacity buiding/pemberdayaan lembaga-lembaga yang ada dan keterkaitan sinergi antara lembaga-lembaga itu. penempatan personil. maka sebagai provinsi baru. proses pembentukan struktur tidak diikuti dengan ‘Job analysis’ yang tepat. kapasitas pengelolaan dan instrumen) dalam dari organisasi-organisasi Memperkuat/menambah kemitraan dan kerjasama antara pemerintah dengan lembaga CSO yang berkompeten dalam perumusan kebijakan dan pelaksanaan pelayanan publik. tapi masih ada food gathering complex belum sampai taraf subsisten. dan tenaga ke arah distrik dan kampung. Dari pengalaman di beberapa provinsi di Indonesia. tidak mempertimbangkan ‘the right man on the right place’.K o n d i s i U m u m 2. RPJMD Provinsi Irian Jaya Barat Tahun 2006 – 2011 II . Dalam Pemberdayaan aparatur. Masalah berkaitan dengan kemampuan pemda dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Provinsi Irian Jaya Barat terbentuk pada era otonomi fase konsolidasi dan tuntutan terhadap manifestasi prinsip ‘Good Governance’.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful