Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

Kira-kira 60 % atau sekitar 42 liter pada tubuh manusia dewasa dengan berat rata-rata 70 kilogram berupa cairan, terutama berupa suatu larutan ion dan zat-zat lain di dalam medium air. Presentase ini dapat berubah, bergantung pada umur, jenis kelamin, dan derajat obesitas. Seiring dengan pertumbuhan seseorang, persentase total cairan tubuh terhadap berat badan berangsunr-angsur turun. Hal tersebut adalah sebagian akibat dari penuaan yang biasanya berhubungan dengan peningkatan persentase lemak tubuh, sehingga mengurangi persentase cairan dalam tubuh. Karena wanita pada normalnya memiliki lemak lebih banyak dari pria, wanita memiliki lebih sedikit cairan daripada pria dengan berat badan sebanding. Semua cairan tubuh didistribusikan terutama di antara dua kompartemen : cairan intrasel dan cairan ekstrasel. Cairan ekstrasel dibagi menjadi cairan interstisial dan plasma darah. Ada juga kompartemen cairan lainnya yang kecil yang disebut juga cairan transelular. Kompartemen ini meliputi cairan sinovia, peritoneum, perikardium, dan intraokular, serta cairan serebrospinal; cairan-cairan tersebut biasanya dianggap sebagai jenis cairan ekstrasel khusus, walaupun pada beberapa kasus, komposisinya dapat sangat berbeda dengan komposisi plasma atau cairan interstisial. Cairan transelular seluruhnya berjumlah sekitar 1 sampai 2 liter. Dalam tinjauan pustaka berikut ini akan disajikan mengenai kompartemen cairan tubuh dan permasalahannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pembagian Kompartemen Cairan Tubuh Air merupakan bagian terbesar pada tubuh manusia, persentasenya dapat berubah tergantung pada umur, jenis kelamin dan derajat obesitas seseorang. Pada bayi usia < 1 tahun cairan tubuh adalah sekitar 80-85% berat badan dan pada bayi usia > 1 tahun mengandung air sebanyak 70-75 %. Seiring dengan pertumbuhan seseorang persentase jumlah cairan terhadap berat badan berangsur-angsur turun yaitu pada laki-laki dewasa 50-60% berat badan, sedangkan pada wanita dewasa 50 % berat badan1. Tabel.1 Perubahan cairan tubuh total sesuai usia

Perubahan jumlah dan komposisi cairan tubuh, yang dapat terjadi pada perdarahan, luka bakar, dehidrasi, muntah, diare, dan puasa preoperatif maupun perioperatif, dapat menyebabkan gangguan fisiologis yang berat. Jika gangguan tersebut tidak dikoreksi secara adekuat sebelum tindakan anestesi dan bedah, maka resiko penderita menjadi lebih besar.1

Seluruh cairan tubuh didistribusikan ke dalam kompartemen intraselular dan kompartemen ekstraselular. Lebih jauh kompartemen ekstraselular dibagi menjadi cairan intravaskular dan intersisial.1 1. Cairan Intrasel

Cairan yang terkandung di antara sel disebut cairan intraselular. Pada orang dewasa, sekitar dua per tiga dari cairan dalam tubuhnya terdapat di intraselular (sekitar 27 liter rata-rata untuk dewasa laki-laki dengan berat badan sekitar 70 kilogram), sebaliknya pada bayi hanya setengah dari berat badannya merupakan cairan intraselular.1

Sekitar 28 liter dari 42 liter cairan tubuh ada di dalam 75 triliun sel dan secara keseluruhan disebut cairan intrasel. Jadi, cairan intrasel merupakan 40 % dari berat badan total pada orang rata-rata. Cairan masing-masing sel mengandung campurannya tersendiri dengan berbagai zat, namun konsentrasi zatzat ini mirip antara satu sel dengan sel yang lain. Sebenarnya komposisi cairan sel sangat mirip, bahkan pada hewan yang berbeda, mulai dari mikroorganisme paling primitif sampai manusia. Oleh sebab itu, cairan intrasel dari seluruh sel yang berbeda-beda dianggap sebagai satu kompartemen cairan yang besar.1 Secara spesifik, cairan intrasel mengandung sejumlah besar ion kalium dan fosfat ditambah ion magnesium dan sulfat dalam jumlah sedang, dan mengandung sejumlah kecil ion natrium dan klorida dan hampir tidak ada kalsium. Sel juga mengandung sejumlah besar protein, hampir empat kali jumlah protein dalam plasma. Cairan intrasel dipisahkan dari cairan ekstrasel oleh membran sel yang sangat permeabel terhadap air, tetapi tidak permeabel terhadap sebagian besar elektrolit dalam tubuh.1 2. Cairan Ekstrasel Semua cairan di luar sel secara keseluruhan disebut cairan ekstrasel. Pada bayi baru lahir, sekitar setengah dari cairan tubuh terdapat di cairan ekstraselular. Setelah usia 1 tahun, jumlah cairan ekstraselular menurun sampai sekitar sepertiga dari volume total. Ini sebanding dengan sekitar 15 liter pada dewasa muda dengan berat rata-rata 70 kg.1

Cairan ekstraselular dibagi menjadi1 : Cairan Interstitial

Cairan yang mengelilingi sel termasuk dalam cairan interstitial, sekitar 11- 12 liter pada orang dewasa. Cairan limfe termasuk dalam volume interstitial. Relatif terhadap ukuran tubuh, volume ISF adalah sekitar 2 kali lipat pada bayi baru lahir dibandingkan orang dewasa. 1 Cairan Intravaskular Merupakan cairan yang terkandung dalam pembuluh darah (contohnya volume plasma). Rata-rata volume darah orang dewasa sekitar 5-6 L dimana 3 liternya merupakan plasma, sisanya terdiri dari sel darah merah, sel darah putih dan platelet.1 Cairan transeluler Merupakan cairan yang terkandung diantara rongga tubuh tertentu seperti serebrospinal, perikardial, pleura, sendi sinovial, intraokular dan sekresi saluran pencernaan. Pada keadaan sewaktu, volume cairan transeluler adalah sekitar 1 liter, tetapi cairan dalam jumlah banyak dapat masuk dan keluar dari ruang transeluler.1

Cairan ekstraselular ini merupakan 20 % dari berat badan, atau sekitar 14 liter pada orang dewasa normal dengan berat rata-rata 70 kilogram. Dua kompartemen terbesar dalam cairan ekstrasel adalah : a. Cairan Interstisial Berjumlah lebih dari tiga perempat bagian cairan ekstrasel. b. Plasma Berjumlah hampir seperempat cairan ekstrasel, atau sekitar 3 liter. Plasma adalah bagian darah yang tidak mengandung sel. Plasma terus-menerus menukar zat dengan cairan interstisial melalui membran kapiler. Pori-pori ini bersifat sangat permeabel untuk hampir semua zat terlarut dalam cairan ekstrasel, kecuali protein. Oleh karena itu, cairan ekstrasel secara konstan terus tercampur, sehingga plasma dan cairan interstisial mempunyai komposisi yang hampir sama kecuali untuk protein, yang konsentrasinya lebih tinggi di dalam plasma. Komposisi ion plasma serupa dengan komposisi cairan interstisial, karena keduanya hanya dipisahkan oleh membran kapiler yang sangat permeabel. Perbedaan paling utama dari kedua kompartemen cairan ekstrasel ini adalah konsentrasi protein dalam plasma yang lebih tinggi; karena kapiler mempunyai permeabilitas yang rendah terhadap protein plasma, hanya sejumlah kecil protein yang masuk ke dalam ruang interstisial di kebanyakan jaringan. Karena efek Donan, konsentrasi ion bermuatan positif (kation) sedikit lebih besar (sekitar 2 %) dalam plasma daripada cairan interstisial. Protein plasma mempunyai muatan akhir negatif dan, karenanya, cenderung mengikat kation,

seperti ion natriium dan kalium, sehingga sejumlah besar kation ini tertahan di dalam plasma bersama dengan protein plasma. Sebaliknya, konsentrasi ion bermuatan negatif (anion) dalam cairan intersitisial cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan plasma, karena muatan negatif protein plasma akan menolak anion yang bermuatan negatif. Cairan ekstrasel mengandung sejumlah besar ion natrium dan klorida, serta ion bikarbonat dalam jumlah yang cukup besar, namun cairan ekstrasel memiliki kandungan ion kalium, magnesium, fosfat, dan asam organik dalam jumlah yang sedikit. Cairan ekstrasel juga mengandung karbon dioksida yang diangkut dari sel ke paru untuk diekskresi, ditambah berbagai produk sampah sel lainnya yang diangkut ke ginjal untuk diekskresi. Komposisi cairan ekstrasel diatur oleh berbagai mekanisme, khususnya ginjal. Hal ini memungkinkan sel untuk tetap terus terendam dalam cairan yang mengandung konsentrasi elektrolit dan zat nutrisi yang sesuai untuk fungsi sel yang optimal. Darah mengandung cairan ekstrasel (cairan dalam plasma) dan cairan intrasel (cairan dalam sel darah merah). Akan tetapi, darah dianggap sebagao kompartemen cairan terpisah karena darah terkandung dalam ruangnya sendiri, yaitu sistem sirkulasi. Volume darah khususnya penting untuk mengatur dinamika sistem kardiovaskular. Rata-rata volume darah orang dewasa adalah sekitar 7 % dari beat tubuh, atau sekitar 5 liter. Sekitar 60 % darah berupa plasma dan 40 % berupa sel darah merah, namun persentase ini dapat bervariasi pada masing-masing orang bergantung pada jenis kelamin, berat badan, dan faktor lainnya.

Cairan ekstrasel diangkut ke seluruh bagian tubuh dalam dua tahap. Tahap pertama adalah pergerakan darah ke seluruh tubuh di dalam pembuluh darah, dan tahap kedua adalah pergerakan cairan antara kapiler darah dan ruang-ruang antarsel di antara sel-sel jaringan. Semua darah di dalam sirkulasi melintasi seluruh jalur sirkulasi dengan kecepatan rata-rata satu kali setiap menit pada saat istirahat dan sebanyak enam kali setiap per menit bila seseorang sangat aktif. Sewaktu darah melewati kapiler darah, terjadi pertukaran cairan ekstrasel yang kontinu diantara plasma darah dan cairan interstisial yang mengisi ruangruang antarsel. Dinidng kapiler bersifat permeabel terhadap kebanyakan molekul yang ada di dalam plasma darah, kecuali terhadap molekul protein plasma yang besar. Oleh karena itu, banyak sekali cairan dan zat-zat yang terlarut di dalamnya berdifusi bolak-balik di antara darah dan ruang-ruang di dalam jaringan. Proses difusi ini terjadi akibat gerakan kinetik molekul yang terdapat di dalam plasma maupun cairan interstisial. Yaitu, cairan dan molekul terlarut di dalamnya terus menerus dan bolak-balik ke segala arah di dalam plasma dan cairan di ruang antarsel, dan juga menembus pori-pori kapiler. Beberapa sel berjarak lebih dari 50 mikrometer dari sebuah kapiler, sehingga mempermudah difusi hampir semua zat dari kapiler ke sel tersebut dalam beberapa detik. Jadi, cairan ekstrasel di bagian tubuh manapunbaik di dalam plasma maupun di dalam cairan interstitial secara terus-menerus dicampur, sehingga dapat mempertahankan homogenitas cairan ekstrasel yang hampir sempurna di dalam tubuh. Sumber nutrien cairan ekstrasel : a. Sistem Respirasi

Setiap kali darah melintasi seluruh tubuh, darah juga mengalir melewati paru. Darah tersebut mengambil oksigen di alveoli, sehingga memperoleh oksigen yang dibutuhkan sel. Tebal membran antara alveoli dan lumen kapiler paru, membran alveolus, hanya 0,4 sampai 2,0 mikrometer, dan oksigen berdifusi dengan pergerakan molekular melintasi pori-pori membran ke dalam darah, sama seperti difusi air dan ion melintasi kapiler jaringan. b. Sistem Gastrointestinal Sebagian besar darah yang dipompakan oleh jantung juga akan melewati dinding traktus gastrointestinal. Berbagai nutrien terlarut termaksud karbohidrat, asam lemak, dan asam amino, diabsorpsi ke dalam cairan ekstrasel darah dari makanan yang dikonsumsi. c. Hati dan Organ lain yang Melaksanakan Fungsi Metabolik Primer Tidak semua zat yang diabsorpsi dari traktus gastrointestinal dapt digunakan oleh sel dalam bentuk asal sewaktu diabsoprsi. Hati mengubah susunan kimiawi banyak zat ini menjadi bentuk yang lebih mudah digunakan, dan jaringan tubuh yang lainnyasel lemak, mukosa gastrointestinal, ginjal, dan kelenjar endokrinmembantu mengubah zat-zat yang telah diabsorpsi tadi atau menyimpannya sampai zat tersebut dibutuhkan. d. Sistem Muskuloskeletal Seandainya otot tidak ikut berperan, tubuh tidak dapat bergerak menuju temapt yang tepat pada saat yang tepat untuk memperoleh makanan yang dibutuhkan nutrisi. Sistem muskuloskeletal juga memungkinkan pergerakan untuk

melindungi diri dari lingkungan sekitar yang berbahaya; tanpa gerakan ini, seluruh tubuh beserta semua proses homoestatiknya akan segera hancur. Mekanisme pengaturan konsentrasi oksigen dan karbon dioksida dalam cairan ekstrasel terutama bergantung pada sifat-sifat kimiawi hemoglobin, yang terdapat di dalam semua sel darah merah. Sewaktu darah melewati paru, hemoglobin mengikat oksigen. Selanjutnya, sewaktu darah melewati kapiler jaringan, hemoglobin tidak akan melepaskan oksigen ke dalam cairan jaringan bila oksigen sudah terlalu banyak di sana, karena afinitas kimiawinya sendiri terhadap oksigen cukup kuat. Namun, bila konsentrasi oksigen di dalam cairan jaringan sangat rendah, oksigen akan dilepaskan secukupnya agar konsentrasi oksigen dapat kembali mencukupi. Jadi, pengaturan konsentrasi oksigen di dalam jaringan sudah menyatu dengan sifat kimiawi hemoglobin itu sendiri. Pengaturan ini disebut sebagai fungsi penyangga hemoglobin terhadap oksigen. Karbon dioksida merupakan produk akhir utama reaksi oksidasi di dalam sel. Bila seluruh karbon dioksida yang terbentuk di dalam sel terus-menerus ditimbun di dalam cairan jaringan, efek massal penimbunan karbon dioksida itu sendiri akan segera menghentikan semua reaksi penghasil-energi yang terjadi di dalam sel. Untungnya, konsentrasi karbon dioksida dalam darah yang melebihi normal akan merangsang pusat respirasi sehingga orang tersebut akan bernapas cepat dan dalam. Respirasi seperti ini akan meningkatkan ekspirasi karbon dioksida sehingga kelebihan karbon dioksida dibuang dari darah dan cairan jaringan. Proses ini akan berlangsung terus menerus sampai konsentrasi karbon dioksida kembali ke nilai normal.

Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan non elektrolit.1 - Elektrolit Merupakan zat yang terdisosiasi dalam cairan dan menghantarkan arus listrik. Elektrolit dibedakan menjadi ion positif (kation) dan ion negatif (anion). Jumlah kation dan anion dalam larutan adalah selalu sama (diukur dalam miliekuivalen).1

Kation

Kation utama dalam cairan ekstraselular adalah sodium (Na+), sedangkan kation utama dalam cairan intraselular adalah potassium (K+). Suatu sistem pompa terdapat di dinding sel tubuh yang memompa keluar sodium dan potassium ini. Anion Anion utama dalam cairan ekstraselular adalah klorida (Cl-) dan bikarbonat (HCO3-), sedangkan anion utama dalam cairan intraselular adalah ion fosfat (PO4 3-). Karena kandungan elektrolit dalam plasma dan cairan interstitial pada intinya sama maka nilai elektrolit plasma mencerminkan komposisi dari cairan ekstraseluler tetapi tidak mencerminkan komposisi cairan intraseluler.1

a. Natrium Natrium sebagai kation utama didalam cairan ekstraseluler dan paling berperan di dalam mengatur keseimbangan cairan. Kadar natrium plasma: 135145mEq/liter.7 Kadar natrium dalam plasma diatur lewat beberapa mekanisme: - Left atrial stretch reseptor - Central baroreseptor - Renal afferent baroreseptor - Aldosterone (reabsorpsi di ginjal) - Atrial natriuretic factor - Sistem renin angiotensin - Sekresi ADH - Perubahan yang terjadi pada air tubuh total (TBW=Total Body Water) Kadar natrium dalam tubuh 58,5mEq/kgBB dimana + 70% atau 40,5mEq/kgBB dapat berubah-ubah. Ekresi natrium dalam urine 100180mEq/liter, faeces 35mEq/liter dan keringat 58mEq/liter. Kebutuhan setiap hari = 100mEq (6-15 gram NaCl).2 Natrium dapat bergerak cepat antara ruang intravaskuler dan interstitial maupun ke dalam dan keluar sel. Apabila tubuh banyak mengeluarkan natrium (muntah,diare) sedangkan pemasukkan terbatas maka akan terjadi keadaan dehidrasi disertai kekurangan natrium. Kekurangan air dan natrium dalam plasma akan diganti dengan air dan natrium dari cairan interstitial. Apabila kehilangan cairan terus berlangsung, air akan ditarik dari dalam sel dan apabila volume plasma tetap tidak dapat dipertahankan terjadilah kegagalan sirkulasi.2

b. Kalium Kalium merupakan kation utama (99%) di dalam cairan ekstraseluler berperan penting di dalam terapi gangguan keseimbangan air dan elektrolit. Jumlah kalium dalam tubuh sekitar 53 mEq/kgBB dimana 99% dapat berubahubah sedangkan yang tidak dapat berpindah adalah kalium yang terikat dengan protein didalam sel.2 Kadar kalium plasma 3,5-5,0 mEq/liter, kebutuhan setiap hari 1-3 mEq/kgBB. Keseimbangan kalium sangat berhubungan dengan konsentrasi H+ ekstraseluler. Ekskresi kalium lewat urine 60-90 mEq/liter, faeces 72 mEq/liter dan keringat 10 mEq/liter. 2 c. Kalsium Kalsium dapat dalam makanan dan minuman, terutama susu, 80-90% dikeluarkan lewat faeces dan sekitar 20% lewat urine. Jumlah pengeluaran ini tergantung pada intake, besarnya tulang, keadaan endokrin. Metabolisme kalsium sangat dipengaruhi oleh kelenjar-kelenjar paratiroid, tiroid, testis, ovarium, da hipofisis. Sebagian besar (99%) ditemukan didalam gigi dan + 1% dalam cairan ekstraseluler dan tidak terdapat dalam sel.2 d. Magnesium Magnesium ditemukan di semua jenis makanan. Kebutuhan unruk pertumbuhan +10 mg/hari. Dikeluarkan lewat urine dan faeces. 2 e. Karbonat Asam karbonat dan karbohidrat terdapat dalam tubuh sebagai salah satu hasil akhir daripada metabolisme. Kadar bikarbonat dikontrol oleh ginjal. Sedikit

sekali bikarbonat yang akan dikeluarkan urine. Asam bikarbonat dikontrol oleh paru-paru dan sangat penting peranannya dalam keseimbangan asam basa. 2 - Non elektrolit Merupakan zat seperti glukosa dan urea yang tidak terdisosiasi dalam cairan. Zat lainya termasuk penting adalah kreatinin dan bilirubin.1 2.2 Proses Pergerakan Cairan Tubuh

Pergerakan Cairan Tubuh Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan mekanisme transpor pasif dan aktif. Mekanisme transpor pasif tidak membutuhkan energy sedangkan mekanisme transpor aktif membutuhkan energi. Difusi dan osmosis adalah mekanisme transpor pasif. Sedangkan mekanisme transpor aktif berhubungan dengan pompa Na-K yang memerlukan ATP.123 Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara:

a. Osmosis Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membrane semipermeabel (permeabel selektif) dari larutan berkadar lebih rendah menuju larutan berkadar lebih tinggi hingga kadarnya sama. Seluruh membran sel dan kapiler permeable terhadap air, sehingga tekanan osmotik cairan tubuh seluruh kompartemen sama. Membran semipermeabel ialah membran yang dapat dilalui air (pelarut), namun tidak dapat dilalui zat terlarut misalnya protein.1,2,3 Tekanan osmotik plasma darah ialah 285+ 5 mOsm/L. Larutan dengan tekanan osmotik kira-kira sama disebut isotonik (NaCl 0,9%, Dekstrosa 5%, Ringer laktat). Larutan dengan tekanan osmotik lebih rendah disebut hipotonik (akuades), sedangkan lebih tinggi disebut hipertonik.2,3 b. Difusi Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan bergerak dari konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentrasi rendah. Tekanan hidrostatik pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi melewati poripori tersebut. Jadi difusi tergantung kepada perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik.1,2,3 c. Pompa Natrium Kalium Pompa natrium kalium merupakan suatu proses transpor yang memompa ion natrium keluar melalui membran sel dan pada saat bersamaan memompa ion kalium dari luar ke dalam. Tujuan dari pompa natrium kalium adalah untuk mencegah keadaan hiperosmolar di dalam sel. 1,2,3

2.3 Keseimbangan Osmotik Dipertahankan antara Cairan Intrasel dan Ekstrasel Dengan perubahan konsentrasi yang relatif kecil pada zat terlarut dalam cairan ekstrasel, tekanan osmotik yang besar dapat terbentuk di sepanjang membran sel. Dibutuhkan daya yang besar untuk memindahkan air agar dapat melintasi membran sel bila cairan intrasel dan ekstrasel tidak berada dalam keseimbangan osmotik. Akibat daya tersebut, perubahan yang relatif kecil pada konsentrasi zat terlarut impermeabel dalam cairan ekstrasel sudah dapat menyebabkan perubahan besar pada volume sel. Suatu sel diletakkan pada suatu larutan dengan zat trlarut impermeabel yang mempunyai osmolaritas 282 mOsm/liter, sel tidak akan mengkerut atau membengkak karena konsentrasi air dalam cairan intrasel dan ekstrasel adalah sama dan zat terlarut tidak dapat masuk atau keluar dari sel, hal ini disebut dengan isotonik. Jika sebuah sel diletakkan dalam larutan hipotonik yang mempunyai konsentrasi zat terlarut impermeabel lebih rendah dari 282 mOsm/liter, air akan berdifusi ke dalam sel dan meyebabkan sel membengkak; air akan terus berdifusi ke dalam sel, yang akan mengencerkan cairan intrasel dan juga memekatkan cairan ekstrasel sampai kedua larutan mempunyai osmolaritas yang sama. Hal ini menyebabkan pembengkakan sel. Jika sebuah sel diletakkan dalam larutan hipertonik yang mempunyai konsentrasi zat terlarut impermeabel yang lebih tinggi, air akan mengalir keluar dari sel ke dalam cairan ekstrasel. Dalam hal ini, sel akan mengkerut sampai kedua konsentrasi menjadi sama.

Kekentalan larutan bergantung pada konsentrasi zat terlarut impermeabel. Namun, beberapa zat terlarut dapat menembus membran sel. Larutan dengan osmolaritas yang sama dengan sel disebut isosmotik, tanpa memperhatikan kemampuan zat terlarut tersebut untuk dapat menembus membran sel atau tidak. Hiperosmotik merujuk pada larutan yang mempunyai osmolaritas lebih tinggi dibandingkan dengan cairan ekstrasel normal tanpa memperhatikan kemampuan zat terlarut tersebut untuk menembus membran sel. Hipo-osmotik adalah larutan yang mempunyai osmolaritas lebih rendah dibandingkan dengan cairan ekstrasel normal tanpa memperhatikan kemampuan zat terlarut tersebut untuk menembus membran sel.

2.4 Asupan dan kehilangan cairan dan elektrolit pada keadaan normal Homeostasis cairan tubuh yang normalnya diatur oleh ginjal dapat berubah oleh stress akibat operasi, kontrol hormon yang abnormal, atau pun oleh adanya cedera pada paru-paru, kulit atau traktus gastrointestinal.4 Pada keadaan normal, seseorang mengkonsumsi air rata-rata sebanyak 2000-2500 ml per hari, dalam bentuk cairan maupun makanan padat dengan kehilangan cairan ratarata 250 ml dari feses, 800-1500 ml dari urin, dan hampir 600 ml kehilangan cairan yang tidak disadari (insensible water loss) dari kulit dan paru-paru.4 Kepustakaan lain menyebutkan asupan cairan didapat dari metabolisme oksidatif dari karbohidrat, protein dan lemak yaitu sekitar 250-300 ml per hari, cairan yang diminum setiap hari sekitar 1100-1400 ml tiap hari, cairan dari makanan padat sekitar 800-100 ml

tiap hari, sedangkan kehilangan cairan terjadi dari ekskresi urin (rata-rata 1500 ml tiap hari, 40-80 ml per jam untuk orang dewasa dan 0,5 ml/kg untuk pediatrik), kulit (insensible loss sebanyak rata-rata 6 ml/kg/24 jam pada rata-rata orang dewasa yang mana volume kehilangan bertambah pada keadaan demam yaitu 100-150 ml tiap kenaikan suhu tubuh 1 derajat celcius pada suhu tubuh di atas 37 derajat celcius dan sensible loss yang banyaknya tergantung dari tingkatan dan jenis aktivitas yang dilakukan), paru-paru (sekitar 400 ml tiap hari dari insensible loss), traktus gastrointestinal (100-200 ml tiap hari yang dapat meningkat sampai 3-6 L tiap hari jika terdapat penyakit di traktus gastrointestinal), third-space loses.1 2.5 Perubahan cairan tubuh Perubahan cairan tubuh dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu : 1. Perubahan volume a. Defisit volume Defisit volume cairan ekstraselular merupakan perubahan cairan tubuh yang paling umum terjadi pada pasien bedah. Penyebab paling umum adalah kehilangan cairan di gastrointestinal akibat muntah, penyedot nasogastrik, diare dan drainase fistula. Penyebab lainnya dapat berupa kehilangan cairan pada cedera jaringan lunak, infeksi, inflamasi jaringan, peritonitis, obstruksi usus, dan luka bakar. Keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan pada susunan saraf pusat dan jantung. Pada kehilangan cairan yang lambat lebih dapat ditoleransi sampai defisi volume cairan ekstraselular yang berat terjadi.4

* Dehidrasi Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium menjadi isonatremik (130-150 mEq/L), hiponatremik (<139 mEq/L) atauhipernatremik (>150 mEq/L). Dehidrasi isonatremik merupakan yang paling sering terjadi (80%), sedangkan dehidrasi hipernatremik atau hiponatremik sekitar 5-10% dari kasus.5 Dehidrasi Isotonis (isonatremik) terjadi ketika kehilangan cairan hampir sama dengan konsentrasi natrium terhadap darah. Kehilangan cairan dan natrium besarnya relatif sama dalam kompartemen intravaskular maupun kompartemen ekstravaskular.5 Dehidrasi hipotonis (hiponatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih banyak dari darah (kehilangan cairan hipertonis). Secara garis besar terjadi kehilangan natrium yang lebih banyak dibandingkan air yang hilang. Karena kadar natrium serum rendah, air di kompartemen intravaskular berpindah ke kompartemen ekstravaskular, sehingga menyebabkan penurunan volume intravaskular.5 Dehidrasi hipertonis (hipernatremik) terjadi ketika kehilangan cairan dengan kandungan natrium lebih sedikit dari darah (kehilangan cairan hipotonis). Secara garis besar terjadi kehilangan air yang lebih banyak dibandingkan natrium yang hilang. Karena kadar natrium tinggi, air di kompartemen ekstraskular berpindah ke kompartemen intravaskular, sehingga meminimalkan penurunan volume intravaskular.5 Terapi untuk dehidrasi (rehidrasi) dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan cairan untuk rumatan, defisit cairan dan kehilangan cairan yang sedang berlangsung.5

Strategi untuk rehidrasi adalah dengan memperhitungkan defisit cairan, cairan rumatan yang diperlukan dan kehilangan cairan yang sedang berlangsung disesuaikan. Cara rehidrasi dapat dilakun sebagai berikut 6. 1. Nilai status rehidrasi (sesuai tabel 4 di atas), banyak cairan yang diberikan (D) = derajat dehidrasi (%) x BB x 1000 cc 2. Hitung cairan rumatan (M) yang diperlukan (untuk dewasa 40 cc/kgBB/24 jam atau rumus holliday-segar seperti untuk anak-anak) 3. Pemberian cairan : o 6 jam I = D + M atau 8 jam I = D + M (menurut Guillot 17) o 18 jam II = D + M atau 16 jam II = D + M (menurut Guillot 17) b. Kelebihan volume Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenic (pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl ataupun pemberian cairan intravena glukosayang menyebabkan kelebihan air) ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi renal (gangguan pada GFR), sirosis, ataupun gagal jantung kongestif.4 Kelebihan cairan intaseluler dapat terjadi jika terjadi kelebihan cairan tetapi jumlah NaCl tetap atau berkurang. 2. Perubahan konsentrasi - Hiponatremia Jika < 120 mg/L maka akan timbul gejala disorientasi, gangguan mental, letargi, iritabilitas, lemah dan henti pernafasan, sedangkan jika kadar < 110 mg/L maka akan timbul gejala kejang, koma. Hiponatremia ini dapat disebabkan oleh euvolemia (SIADH, polidipsi psikogenik), hipovolemia (disfungsi tubuli ginjal,

diare, muntah, third space losses, diuretika), hipervolemia (sirosis, nefrosis). Keadaan ini dapat diterapi dengan restriksi cairan (Na+ 125 mg/L) atau NaCl 3% ssebanyak (140-X)xBBx0,6 mg dan untuk pediatrik 1,5-2,5 mg/kg.12 Koreksi hiponatremia yang sudah berlangsung lama dilakukan scara perlahanlahan, sedangkan untuk hiponatremia akut lebih agresif. Untuk menghitung Na serum yang dibutuhkan dapat menggunakan rumus Na= Na1 Na0 x TBW Na = Jumlah Na yang diperlukan untuk koreksi (mEq) Na1 = 125 mEq/L atau Na serum yang diinginkan Na0 = Na serum yang aktual TBW = total body water = 0,6 x BB (kg) - Hipernatremia Jika kadar natrium > 160 mg/L maka akan timbul gejala berupa perubahan mental, letargi, kejang, koma, lemah. Hipernatremi dapat disebabkan oleh kehilangan cairan (diare, muntah, diuresis, diabetes insipidus, keringat berlebihan), asupan air kurang, asupan natrium berlebihan. Terapi keadaan ini adalah penggantian cairan dengan 5% dekstrose dalam air sebanyak {(X-140) xBB x 0,6}: 140.12 - Hipokalemia Jika kadar kalium < 3 mEq/L. Dapat terjadi akibat dari redistribusi akut kalium dari cairan ekstraselular ke intraselular atau dari pengurangan kronis kadar totalkalium tubuh. Tanda dan gejala hipokalemia dapat berupa disritmik jantung,perubahan EKG (QRS segmen melebar, ST segmen depresi, hipotensi

postural,kelemahan otot skeletal, poliuria, intoleransi glukosa. Terapi hipokalemia dapatberupa koreksi faktor presipitasi (alkalosis, hipomagnesemia, obat-obatan), infuse potasium klorida sampai 10 mEq/jam (untuk mild hipokalemia ;>2 mEq/L) atau infus potasium klorida sampai 40 mEq/jam dengan monitoring oleh EKG (untuk hipokalemia berat;<2mEq/L disertai perubahan EKG, kelemahan otot yang hebat).8 Rumus untuk menghitung defisit kalium8 : K = K1 K0 x 0,25 x BB K = kalium yang dibutuhkan K1 = serum kalium yang diinginkan K0 = serum kalium yang terukur BB = berat badan (kg) - Hiperkalemia Terjadi jika kadar kalium > 5 mEq/L, sering terjadi karena insufisiensi renal atau obat yang membatasi ekskresi kalium (NSAIDs, ACE-inhibitor, siklosporin,diuretik). Tanda dan gejalanya terutama melibatkan susunan saraf pusat (parestesia, kelemahan otot) dan sistem kardiovaskular (disritmik, perubahan EKG). Terapi untuk hiperkalemia dapat berupa intravena kalsium klorida 10% dalam 10 menit, sodium bikarbonat 50-100 mEq dalam 5-10 menit, atau diuretik, hemodialisis.8 3. Perubahan komposisi - Asidosis respiratorik (pH< 3,75 dan PaCO2> 45 mmHg) Kondisi ini berhubungan dengan retensi CO2 secara sekunder untuk menurunkan ventilasi alveolar pada pasien bedah. Kejadian akut merupakan

akibat dari ventilasi yang tidak adekuat termasuk obstruksi jalan nafas, atelektasis, pneumonia, efusi pleura, nyeri dari insisi abdomen atas, distensi abdomen dan penggunaan narkose yang berlebihan. Manajemennya melibatkan koreksi yang adekuat dari defek pulmonal, intubasi endotrakeal, dan ventilasi mekanis bila perlu. Perhatian yang ketat terhadap higiene trakeobronkial saat post operatif adalah sangat penting. 4,8 - Alkalosis respiratorik (pH> 7,45 dan PaCO2 < 35 mmHg) Kondisi ini disebabkan ketakutan, nyeri, hipoksia, cedera SSP, dan ventilasi yang dibantu. Pada fase akut, konsentrasi bikarbonat serum normal, dan alkalosis terjadi sebagai hasil dari penurunan PaCO2 yang cepat. Terapi ditujukan untuk mengkoreksi masalah yang mendasari termasuk sedasi yang sesuai, analgesia, penggunaan yang tepat dari ventilator mekanik, dan koreksi defisit potasium yangterjadi.4,8 - Asidosis metabolik (pH<7,35 dan bikarbonat <21 mEq/L) Kondisi ini disebabkan oleh retensi atau penambahan asam atau kehilangan bikarbonat. Penyebab yang paling umum termasuk gagal ginjal, diare, fistula usus kecil, diabetic ketoasidosis, dan asidosis laktat. Kompensasi awal yang terjadi adalah peningkatan ventilasi dan depresi PaCO2. Penyebab paling umum adalah syok, diabetik ketoasidosis, kelaparan, aspirin yang berlebihan dan keracunan metanol. Terapi sebaiknya ditujukan terhadap koreksi kelainan yang mendasari. Terapi bikarbonat hanya diperuntukkan bagi penanganan asidosis berat dan hanyasetelah kompensasi alkalosis respirasi digunakan.4,8 - Alkalosis metabolik (pH>7,45 dan bikarbonat >27 mEq/L)

Kelainan ini merupakan akibat dari kehilangan asam atau penambahan bikarbonat dan diperburuk oleh hipokalemia. Masalah yang umum terjadi pada pasien bedah adalah hipokloremik, hipokalemik akibat defisit volume

ekstraselular. Terapi yang digunakan adalah sodium klorida isotonik dan penggantian kekurangan potasium. Koreksi alkalosis harus gradual selama perode 24 jam dengan pengukuran pH, PaCO2 dan serum elektrolit yang sering.4,8

BAB III KESIMPULAN Semua cairan tubuh didistribusikan terutama di antara dua kompartemen : cairan intrasel dan cairan ekstrasel. Cairan ekstrasel dibagi menjadi cairan interstisial dan plasma darah. Ada juga kompartemen cairan lainnya yang kecil yang disebut juga cairan transelular. Kompartemen ini meliputi cairan sinovia, peritoneum, perikardium, dan intraokular, serta cairan serebrospinal. Selain air, cairan tubuh mengandung dua jenis zat yaitu elektrolit dan non elektrolit. Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan mekanisme transpor pasif dan aktif. Proses pergerakan cairan tubuh antar kompertemen dapat berlangsung secara osmosis, difusi, dan pompa natrium kalium. Perubahan cairan tubuh dapat dikategorikan menjadi 3, yaitu : perubahan volume, perubahan konsentrasi dan perubahan komposisi.

DAFTAR PUSTAKA

1. Pandey CK, Singh RB. Fluid and electrolyte disorders. Indian J.Anaesh. N 2003;47(5):380-387. 2. Kaswiyan U. Terapi cairan perioperatif. Bagian Anestesiologi dan Reanimasi. Fakultas Kedokteran Unpad/ RS. Hasan Sadikin. 2000. 3. Holte K, Kehlet H. Compensatory fluid administration for preoperative dehydrationdoes it improve outcome? Acta Anaesthesiol Scand. 2002; 46: 108993 4. Keane PW, Murray PF. Intravenous fluids in minor surgery. Their effect on recover from anaesthesia. 1986; 41: 635-7. 5. Heitz U, Horne MM. Fluid, electrolyte and acid base balance. 5th ed. Missouri: Elsevier-mosby; 2005.p3-227

6. Guyton AC, Hall JE.Textbook of medical physiology. 9th ed. Pennsylvania: W.B. saunders company; 1997: 375-393 7. Latief AS, dkk. Petunjuk praktis anestesiologi: terapi cairan pada pembedahan. Ed. Kedua. Bagian anestesiologi dan terapi intensif, FKUI. 2002 8. Mayer H, Follin SA. Fluid and electrolyte made incredibly easy. 2nd ed. Pennsylvania: Springhouse; 2002:3-189. 9. Schwartz SI, ed. Principles of surgery companion handbook. 7th ed. New york: McGraw-Hill; 1999:53-70. 10. Silbernagl F, Lang F. Color atlas of pathophysiology. Stuttgart: Thieme; 2000: 122-3. 11. Lyon Lee. Fluid and Electrolyte Therapy. Oklahoma State University - Center for Veterinary Health. 2006. (Diakses tanggal 29 September2007). Tersedia dari: http://member.tripod.com/~lyser/ivfs.htm 12. Leksana E. Terapi cairan dan elektrolit. Smf/bagian anestesi dan terapi intensif FK Undip: Semarang; 2004: 1-60. 13. Barash PG, Cullen BF, Stoelting RK. Handbook of clinical anesthesia. 5th ed. Philadelphia: Lippincot williams and wilkins; 2006: 74-97. 14. Sunatrio S. Resusitasi cairan. Jakarta: Media aesculapius;2000:1-58. 15. Ellsbury DL, George CS. Dehydration. eMed J [serial online] 2006 Mar [dikutip 6 Okt 2007]. Tersedia dari: URL:

http://www.emedicine.com/CHILD/topic925.htm. 16. Fakultas Kedokteran Unpad. Protokol Tindakan Bedah. Bandung. 2003

17. Graber MA. Terapi cairan, elektrolit dan metabolik. Ed.2. Farmedia; 2003: 1740.