Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

CARA KERJA ILMU-ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA


Dosen Pengampu : Novella Parchiano, M. Hum

DISUSUN OLEH: 1. HARI TAQWAN SANTOSo 2. ANTON SUJARWO 3. BEKTI AYU LESTARI 4. DEWI ARIYANA 5. PINGKY ARISTA 6. MASLIHATUN NIKMAH 7. SULAIMAN (11620017) (11620046) (11620016) (11620051) (11620018) (11620014) (11620013)

PRODI FISIKA FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan kesusahan dari kami dari segala kesusahan. Sesungguhnya Tuhan kami adalah Dzat yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dialah yang mewajibkan kami untuk mengerjakan sesuatu yang diperintahkan dan meninggalkan segala laranganNya. Dan aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang wajib disembah melainkan Allah dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad adalah utusanNya. Sholawat serta salam semoga tercurahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad Shollallohu Alaihi Wasallam, keluarga dan para shobatnya. Makalah ini dibuat dengan judul Cara Kerja Ilmu Sosial dan Humaniora demi memenuhi tugas dan memberi pengetahuan bagaimana kita memahami cara kerja ilmu sosial dan humaniora. Setelah pembaca mengetahui isi dari makalah yang telah dibuat, penulis mengharap kritik dan saran pembaca demi kelancaran pembuatan tugas selanjutnya. Penulis sadar betul bahwa dalam penulisan ini masih banyak kekurangan yang perlu disempurnakan. Akhirnya semoga makalah ini bisa memberikan manfaat bagi pembaca. Wassalamualaikum Wr. Wb. Yogyakarta, 10 Oktober 2011

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar Daftar Isi BAB I 1.1 1.2 1.3 2.1 3.1 .................................................................................................... PENDAHULUAN Latar Belakang Rumusan Masalah Tujuan Masalah ....................................................................... ................................................................. ........................................................... .............................................................

i ii 1 1 1 1 2 2 9 9 10

BAB II PEMBAHASAN ............................................................................. Cara kerja ilmu-ilmu sosial humaniora.......... .................................................................................... ........................................................................ .................................................................. Kesimpulan BAB III PENUTUP

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Filsafat dan ilmu jelas merupakan dua elemen yang sangat berdektan bahkan dapat dikatakan sebagai rumpun saling membesarkan. Filsafat adalah induk ilmu disatu sisi lain, dan filsafat juga merupakan bagian dari ilmu disisi lain. Oleh karena itu, pembicaraan filsafat dan ilmu bagaikan mendeskripsikan setali satu uang artinya berbicara dalam koridor yang sama. Dari konsep keduanyalah dibangun konsep filsafat ilmu. Oleh karena itu, menjelaskan filsafat ilmu tentunya tidak bisa memisahkan diri dari pembicaraan tentang filsafat dan ilmu. Salah satu pokok bahasan yang dikaji dalam filsafat ilmu adalah ilmu sosial dan humaniora. Berbeda dengan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial humaniora berkembang lebih kemudian dan perkembangannya tidak sepesat ilmu-ilmu alam. Hal ini karena, objek kajian ilmu-ilmu sosial humaniora tidak sekedar sebatas fisik dan material tetapi lebih dibalik yang fisik dan materi dan bersifat lebih kompleks. Selain itu, dibandingkan denganilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial humaniora nilai manfaatnya tidak bisa langsung dirasakan karena harus berproses dalam wacana yang panjang dan memerlukan negosiasi dan komprom.

1.2 Rumusan Masalah Menjelaskan bagaimana cara kerja ilmu sosial humaniora.

1.3 Tujuan Penelitian Mengidentifikasikan macam-macam cara kerja ilmu sosial humaniora. Memberi pemahaman kepada pembaca untuk mengaplikasikan cara kerja

ilmu sosial humaniora.

BAB II PEMBAHASAN Berbeda dengan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial-humaniora berkembang lebih kemudian dan perkembangannya tidak sepesat ilmu-ilmu alam. Hal ini karena, objek kajian ilmu-ilmu sosial-humaniora tidak sekedar sebatas fisik dan material tetapi lebih dibalik yang fisik dan materi dan bersifat lebih kompleks. Selain itu, dibandingkan dengan ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial-humaniora nilai manfaatnya tidak bisa langsung di rasakan karena harus berproses dalam wacana yang panjang dan memerlukan negoisasi, kompromi dan konsensus. Seperti halnya ilmu-ilmu alam, manusia juga sudah barang tentu membutuhkan ilmu-ilmu sosial-humaniora untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang tidak fisikal material, melainkan lebih bersifat abstrak dan psikologis, seperti penemuan prinsip keadilan membawa manusia untuk mengatur perilaku sosialnya atas dasar prinsip tersebut, dan prinsip kemanusiaan universal membawa manusia kepada sikap tidak diskriminatif atas orang lain meski berbeda ras, warna kulit, agama etnis, budaya dan lain sebagainya. Cara kerja ilmu - ilmu sosial-humaniora bisa dirangkum dalam prinsip - prinsip seperti berikut: a. Gejala Sosial-Humaniora Bersifat Non Fisik, Hidup Dan Dinamis Berbeda dengan ilmu-ilmu alam, di mana gejala-gejala alam yang ditelaah lebih bersifat mati baik yang ada pada alam, pikiran (matematika), maupun dalam diri manusia, gejala-gejala yang diamati dalam imu-ilmu sosial-humaniora bersifat hidup dan bergerak secara dinamis. Objek studi ilmu-ilmu sosial-humaniora adalah manusia yang lebih spesifik lagi pada aspek sebelah dalam atau inner world-nya dan bukan outer world-nya yang menjadi ciri ilmu-ilmu alam. Perbedaan terlihat jelas, misalnya jika dibandingkan dengan ilmu kedokteran, meski sama-sama menelaah manusia, yang lebih membicarakan aspek luarnya manusia secara biologis atau fisikal, ilmu-ilmu sosial-humaniora lebih menekankan pada sisi bagian dalam manusia atau apa yang ada di balik manusia secara fisik, pada innerside, mental life, dan mind-affected world. . b. Objek Penelitian Tidak Bisa Berulang Dengan demikian gejala-gejala sosial-humaniora cenderung tidak bisa ditelaah secara berulang-ulang, karena gejala-gejala tersebut bergerak seiring dengan dinamika konteks historisnya. Jika dalam ilmu-ilmu alam, gejala-gejala alam bisa ditelaah secara berulang5

ulang, sehingga mampu dihasilkan hukum-hukum objektif dan nomotetik , sedangkan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora, objek yang ditelaah atau gejala-gejala sosial-humaniora hanya dilukiskan keunikannya atau bersifat idiographic. Ilmu-ilmu sosial-humaniora hanya memahami, memaknai dan menafsirkan gejala-gejala sosial humaniora, bukan menemukan dan menerangkan secara pasti. Pemahaman, pemaknaan, dan penafsiran ini lebih besar kemungkinan menghasilkan kesimpulan yang berbeda, bahkan bertentangan, dari pada menghasilkan kesimpulan yang sama. c. Pengamatan Relatif Lebih Sulit dan Kompleks Mengingat sifat gejala-gejala sosial-humaniora yang bergerak dan bahkan berubah, maka bisa dibayangkan ilmuwan sosial-humaniora dalam mengamati mereka sudah barang tentu lebih sulit dan komplek. Karena yang diamati oleh ilmu-ilmu sosial adalah apa yang ada dibalik penampakan fisik dari manusia dan bentuk-bentuk hubungan sosial mereka. Melihat seseorang tersenyum pada orang lain adalah hal yang sering bisa ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi makna senyum itu dalam ilmu sosial-humaniora bisa bermakna banyak,boleh jadi dia senang pada orang yg dilihatnya, boleh jadi dia tidak suka tetapi terpaksa tersenyum karena ia tidak ingin kelihatan sebagai orang yang tidak baik dimata orang-orang disekitar kejadian dia tersenyum itu, dan boleh jadi tersenyum karena orang yang dilihatnya adalah lucu dan aneh. Van Dalen menambahkan bahwa ilmuwan alam berkaitan dengan gejala fisik yang bersifat umum, dan pengamatannya hanya meliputi variable dalam jumlah yang relatif kecil dan karenanya mudah diukur secara tepat dan pasti sedangkan ilmu-ilmu sosial-humaniora mempelajari manusia baik selaku perorangan maupun selaku anggota dari suatu kelompok sosial yang menyebabkan situasinya bertambah rumit, dan karenanya variabel dalam penelaahannya sosial-humaniora relatif lebih banyak dan kompleks serta kadang-kadang membingungkan. Kuntowijoyo tentang hal ini menggaris bawahi bahwa manusia memiliki free will dan kesadaran, karena itulah, ia bukan benda yang ditentukan menurut hukum-hukum yang baku sebagaimana benda-benda mati lainnya yang tak memiliki kesadaran apalagi kebebasan kehendak. Benda mati bisa dikontrol dan dikendalikan secara pasti, tetapi manusia tidak bisa karena disamping dikendalikan, ia juga bisa mengendalikan orang lain. Determinisme dalam segala bentuk apakah itu ekonomi, lingkungan alam, lingkungan sosial, politik dan dan budaya hanya berharga sebagai dependent variable tetapi tidak pernah menjadi independent variable. Oleh karenaa itu, jelas bahwa pengamatan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora adalah jauh lebih kompleks, subjek

dan objek penelitian adalah mahkluk sang sama-sama sadar yang jelas tidak mudah menangkap dan ditangkap semudah menangkap realitas batu misalnya. d. Subjek Pengamat (Peneliti) juga sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati Subjek pengamat atau peneliti dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora jelas jauh berbeda dengan ilmu-ilmu alam. Dalam ilmu-ilmu alam, subjek pengamat bisa mengambil jarak dan fokus pada objektivitas yang diamati, tetapi dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora karena sujek yang mengamati dan subjek yang diamati adalah manusia yang memiliki motif dan tujuan dalam setiap tingkah lakunya, maka subjek yang yang mengamati atau peneliti tidak mungkin bisa mengambil jarak dari objek yang diamati dan menerapkan prinsip objektivistik, dan tampaknya lebih condong ke prinsip subjektivistik. Karena subjek yang mengamati adalah manusia yang juga memiliki kecenderungan nilai tertentu tentang hidup maka ia menjadi bagian integral dari objek yang diamati yang juga manusia itu. Dalam mengamati gerak-gerik planet seorang ilmuwan alam tidak perlu berpusing-pusing memikirkan motif dan tujuan dari planet itu, ia hanya perlu menjelaskan apa yang dilihatnya, dan proses mengamati itu bisa diulang-ulang dengan gerak planet yang masih tetap sama. Namun dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora, peneliti yang mengamati perilaku sosial masyarakat tentang harus membongkar motif dan tujuan dari perbuatan yang dilakukan mereka dan dalam membongkar ini, peneliti tidak bisa melepaskan dari kecenderungankecenderungan nilai individu yang sedang dipeganginya. Dengan cara ini, objek sosialhumaniora yang sama diamati oleh beberapa pengamat hampir bisa dipastikan tidak akan menghasilkan kimpulan yang tunggal, tetapi cenderung beragam dalam interpretasiinterpretasinya. Subjek pengamat sosial-humaniora bukanlah sekedar sebagai spektator atas suatu kejadian sosial-humaniora, melainkan terlibat baik secara emosional maupun rasional dalam dan merupakan bagian integral dari objek yang diamatinya. Manusia bisa mengamati bendabenda fisik seperti gerak-gerak angin tanpa terlihat secara pribadi, tetapi manusia tidak mungkin mengamati manusia lain tanpa melibatkan minatnya, nilai-nilai hidupnya, kegemaran, motif, dan tujuan pengamatan manusia akan mempengaruhi pertimbanganpertimbangan dalam mempelajari gejala sosial-humaniora. Oleh karena itu, meminjam istilah Dilthey lagi, jika dalam ilmu-ilmu alam menggunakan Erklaren (penjelasan), maka dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora, pengamatannya memakai Versteben (pemahaman). Versteben atau memaknai memegangi 7

prinsip mengungkapkan makna dan tidak sekedar menjelaskan. Di dalam terkandung prinsip bahwa pengalaman dan pemahaman teoritis tak terpisahkan dan justru dipadukan. Pengalaman dan struktur-struktur simbolis yang dihasilkan di dalam dunia kehidupan sosialhumaniora itu tak bisa tampak dari luar seperti data alamiah yang doobservasi oleh ilmuilmu alam, melainkan harus dilibati dari dalam diri subjek sosial-humaniora. Apa yang ingin diketahui bukanlah sekedar kausalitas, malainkan pengertian dan makna. Versteben pada prinsip mengungkapkan pengertian dan makna adalah benar, tetapi untuk memahami pemikiran orang lain dengan berempati masuk dalam personalitas dan relung-relung bagian terdalam yang diamati tanpa melibatkan sedikitpun atau menanggalkan sepenuhnya relungrelung bagian terdalam dari sujek yang mengamati adalah hal yang belum tentu benar dalam Versteben karena ini terdorong oleh prinsip objektivistik. Dalam mengungkapkan pengertian dan makna, tetap bahwa relung-relung bagian terdalam dari subjek penelitian tetap tidak bisa sepenuhnya dilepaskan seperti yang dipegangi dalam hermeneutika Heidegger dan Gadamer. e. Memiliki Daya Prediktif Yang Relatif Lebih Sulit dan Tak Terkontrol Suatu teori sebagai hasil pengamatan sosial-humaniora tidak serta merta bisa dengan mudah untuk memprediksikan kejadian sosial-humaniora berikutnya pasti akan terjadi. Hal ini dikarenakan dalam ilmu-ilmu sosial-humaniora, pola-pola prilaku sosial-humaniora yang sama belum tentu akan mengakibatkan kejadian yang sama. Meskipun demikian, bukan berarti hasil temuan dalam ilmu-ilmu sosial tidak bisa dipakai sama sekali untuk meramalkan kejadian-kejadian sosial lain sebagai akibatnya dalam waktu dan tempat yg berlainan, tetap bisa tetapi tidak mungkin sepasti dan semudah dalam ilmu-ilmu alam.

BAB III PENUTUP 3.1 KESIMPULAN Beberapa abad lamanya dunia keilmuan berada dalam pengaruh positivisme. Dominasi yang demikian kuat itu dihasilkan oleh isu yang diangkatnya. Yakni masalah metodologi, dimana para positivistis tidak menerima pengetahuan melainkan ia dapat diverifikasi serta bersifat obyektif. Paradigma semacam itu tampak masuk akal sehingga dapat diterima para saintis dalam kurun waktu yang lama. Namun seiring dengan melebarnya "wilayah kekuasaan" positivisme, ia justru mulai menampakkan kelemahan - kelemahannya. Kekakuan paham ini membuat ilmuwan yang tidak menyukainya berusaha keras untuk melampauinya. Dalam tugas makalah ini dijelaskan mengenai cara kerja ilmu - ilmu sosial dan humaniora sebagai redefinisi dan sanggahan atas positivisme. Secara ringkas, cara kerja ilmu - ilmu sosial dan humaniora dapat dipahami sebagai berikut : 1. Gejala Sosial-Humaniora Bersifat Non Fisik, Hidup Dan Dinamis. 2. Objek Penelitian Tidak Bisa Berulang. 3. Pengamatan Relatif Lebih Sulit dan Kompleks. 4. Subjek Pengamat (Peneliti) juga sebagai Bagian Integral dari Objek yang Diamati. 5. Memiliki Daya Prediktif Yang Relatif Lebih Sulit dan Tak Terkontrol. Poin keempat jelas - jelas adalah fakta yang menyangkal positivisme, sedangkan alasannya diberikan oleh poin kelima. Namun demikian, bukan berarti positivisme salah. Akan tetapi wilayahnya hanya terbatas pada ilmu pengetahuan yang bersifat objektif saja, dalam hal ini ilmu alam.

BAB IV DAFTAR PUSTAKA

http://adianhusaini.blogspot.com/2006/07/ada-apa-dengan-syafii-maarif.html Dalen, Deobold B.Van. Filsafat Ilmu. 2003. Yayasan Obor, Jakarta Hardiman, Budi. Filsafat Ilmu. 2003. Kanisius. Yogyakarta Muslih, Mohammad. Filsafat Ilmu Edisi Pertama. 2004. Belukar. Yogyakarta

10