Anda di halaman 1dari 57

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Pada dasarnya tujuan utama didirikan perusahan adalah untuk memperoleh

laba melalui kegiatan usahanya. Dengan laba semua kehidupan berjalan dengan normal, karena laba merupakan darah bagi perusahaan yaitu bagi pemilik manajer, karyawan, kreditur dan pemerintah. Untuk memproleh laba sebagai tujuan, maka perusahaan dituntut mempertahankan kelangsungan usahanya dengan mengolah kekayaan. Kekayaan yang dimiliki perusahaan bermacammacam perusahaan harus melindungi harta kekayaan. Perusahaan harus memanfaatkan sumber daya yang dimiliki semaksimal mungkin agar tujuan tersebut dapat tercapai. Dengan peningkatan kegiatan usaha akan didiringi pula dengan peningkatan kebutuhan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan peningkatan kegiatan usaha tersebut. Oleh karena itu pimpinan perusahaan harus dapat mengolah sumber daya yang dimliki perusahaan secara efektif dan efesien. Kas adalah salah satu sumber daya yang paling penting dan dibutuhkan dalam perusahaan. Apabila kas yang tersedia dalam perusahaan lebih kecil dari kebutuhannya maka perusahaan akan mengalami hambatan dalam kegiatan usahanya. Begitu pula apabila kas yang tersedia dalam perusahaan lebih besar dari kebutuhannya, juga akan mengakibatkan kerugian bagi perusahaan karena kas tersebut tidak dimanfaatkan untuk menghasilkan keuntungan. Agar kas yang

2 tersedia sesuai dengan kebutuhan perusahaan, perlu dilakukan pengendalian terhadap kas dengan menerapkan sistem pengendalian intern terhadap transaksi kas. Salah satu sistem pengendalian intern terhadap transaksi kas yaitu sistem pengendalian intern pengluaran kas. Tujuan pengendalian intern terhadap kas adalah untuk melindungi harta kekayaan perusahaan dalam bentuk kas dari kesalahan dan kekeliruan, tindakan yang merugikan perusahaan, seperti penyelewengan, pencurian dan sebagainya. Hal ini disebabkan karena kas memiliki tidak ada identitas siapa pemiliknya, bentuknya sederhana, ringan dan mudah dibawa, dapat digunakan sebagai alat pertukaran yang setiap saat dibutuhkan. Sistem pengendalian intern yang diterapkan oleh setiap perusahaan haruslah telah direncanakan yang baik guna memastikan akurasi, kejujuran, dan efisiensi penerangan sumber-sumber dan pencatatan transaksi-transaksinya. Prosedurprosedur pengendalian intern akan berbeda-beda antara perusahaan yang satu dengan perusahaan yang lainnya dan tergantung pada faktor seperti operasi dan besarnya perusahaan. Sistem pengendalian intern yang baik akan dapat mendorong ditetapkan kebijakan manajemen. Selain itu juga mendorong terciptanya efisiensi operasi, dan melindungi aktiva perusahaan dari pemborosan kecurangan, dan pencurian serta menjamin terciptanya data akuntansi yang tepat dan bisa dipercaya. Dalam menjalankan aktivitas operasionalnya suatu perusahaan besar ataupun perusahaan kecil pasti tak luput dari masalah. Dari sekian banyak permasalahan yang dihadapi perusahaan dalam menjalankan kegiatan operasional

3 suatu perusahaan. Salah satu satunya adalah yang berhubungan dengan penerimaan dan pengluaran kas. Untuk mengantisipasi permasalahan tersebut sangat diperlukan adanya suatu pengendalian intern terhadap kas dalam perusahaan guna meminimalisasi resiko yang timbul dari kecurangankecurangan yang dapat terjadi di dalam perusahaan. Transaksi pengeluaran kas merupakan salah satu jenis transaksi yang frekuensinya terjadi relaif tinggi daripada transaksi penerimaan kas. Transaksi pengluaran kas dapat berupa pembelian tunai, pembayaran hutang, pembayaran upah gaji, serta pengeluaran lainnya. Untuk mengawasi pengeluaran kas, maka semua pengeluaran kas harus dilakukan dengan cek, kecuali untuk pengeluaran yang jumlahnya kecil. Pengendalian pengeluaran kas meliputi, struktur organisasi, metode-metode, dan prosedur-prosedur pencatatan unsur praktik yang sehat, dan karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawab. Dengan unsur sistem pengendalian intern yang seharusnya ada dalam sistem pengeluaran kas ini dapat mencapai tujuan pokok pengendalian intern yaitu melindungi dan mengamankan harta kekayaan perusahaan, terciptanya ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi kegiatan usaha dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

1.2.Masalah Berdasarkan uraian Latar Belakang yang telah dikemukakan terlebih dahulu, maka yang menjadi permasalahan dalam laporan magang ini adalah :

4 1. Bagaimana praktek Sistem Pengendalian Intern Terhadap Pengeluaran Kas pada PT. FIF Cabang Jambi apakah sudah sesuai dengan teori Sistem Pengendalian Intern yang ada ? 2. Apakah Sistem Pengendalian Intern Terhadap Pengeluran Kas pada PT. FIF Cabang Jambi telah diterapkan sesuai dengan teori Sistem Pengendalian Intern yang ada ?

1.3.

Tujuan dan Manfaat Laporan

1.3.1. Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari hasil penulisan ini adalah : 1. Untuk menjelaskan prakek Pengendalian Intern terhadap Pengeluaran Kas pada PT. FIF Jambi. 2. Untuk menjelaskan apakah praktek Sistem Pengendalian Intern terhadap Pengeluaran Kas pada PT. FIF Jambi, sesuai dengan prinsip Sistem Pengendalian Intern yang ada ?

1.3.2. Manfaat Penulisan Adapun manfaat dari penulisan ini adalah : 1. Bagi Pihak Perusahaan, hasil penulisan dapat dijadikan sebagai bahan informasi dan masukan yang baik dalam merealisasikan Sistem

Pengendalian Intern terhadap Pengeluaran Kas. 2. Bagi Penulis, dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang Sistem Pengendalian Intern terhadap Pengeluaran Kas.

5 3. Bagi Pembaca, diharapkan hasil laporan ini dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi rekan-rekan mahasiswa atau penulis lain yang mengambil masalah yang sama untuk masa yang akan datang. 4. Laporan ini sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian akhir, pada penyelesaian studi program Diploma III Akuntansi Universitas Jambi. 1.4. Jenis Data Adapun jenis data yang dipelukan dalam penulisan laporan ini adalah : 1. Data primer adalah data yang diperoleh secara langsung dengan cara melakukan pengamatan di lapangan tentang sistem pengendalian intern terhadap pengluaran kas pda PT. FIF Cabang Jambi. 2. Data sekunder adalah data dan beberapa literatur yang sesuai dengan tema laporan yang diperoleh dari pihak perusahaan.

1.5.

Metode Penulisan Langkah awal dari penyusunan laporan ini penulis melakukan terlebih

dahulu terhadap objek yang akan diteliti, untuk mendapatkan data-data yang perlu dalam penyusunan laporan, maka penulis mengadakan beberapa metode pengumpulan data, di dalam pengambilan data primer penulis menggunakan metode pengumpulan data yaitu antara lain : 1.5.1. Metode Field Research Metode ini dilakukan dengan mengadakan penelitian langsung pada objek praktek kerja lapangan yaitu PT. FIF Cabang Jambi, yaitu : 1. Interview (Wawancara)

6 Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan langsung kepada pembimbing, instruktur lapangan, serta karyawan

pihak perusahaan yang bersangkutan. 2. Observasi (Pengamatan) Yaitu metode pengumpulan data dengan melakukann pengamatan secara langsung terhadap objek yang diteliti. 1.5.2. Metode Studi Kepustakaan (Library Research) Yaitu metode pengumpulan data dengan melakukan penelitian secara tidak langsung terhadap objek yang sedang diteliti, dengan cara membaca, mencatat, dan mempelajari buku-buku atau literatur yang berhubungan dengan penulisan yang sedang dilakukan.

1.6. Sistematika Penulisan Dalam penulisan laporan, diperlukan adanya susunan atau hal-hal yang akan dibahas di dalamnya. Sistematika tersebut dimasukkan agar hal-hal yang dibahas dari laporan ini diuraikan dengan jelas dan terarah, dalam menyusun laporan ini penulis melakukan sistematika pembahasan ke dalam 4 (empat) bab, yang selanjutnya setiap bab terbagi lagi dalam sub bab seperti diuraikan di bawah ini : BAB I : PENDAHULUAN Dalam bab ini dibahas mengenai uraian latar belakang, masalah, tujuan, dan manfaat penulisan, metode pengumpulan data, metode penulisan, dan sistematika penulisan. BAB II : LANDASAN TEORI

7 Dalam bab ini berisi tentang landasan teori atau konsep yang digunakan untuk pembahasan serta deskripsi mengenai data yang ditemui selama proses magang, yang relevan dan berhubungan erat dengan judul dan pokok pembahasan laporan. BAB III : PEMBAHASAN Dalam bab ini berisi penjelasan dan evaluasi terhadap data dan fakta yang ditemukan terkait dengan topik laporan. Yang memuat gambaran umum lokasi magang yaitu PT. Federal Internasional Finance Cabang Jambi, struktur organisasi, serta pembagian tugas masing-masing bagian dalam organisasi, dan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan selama PKL, hasil pengamatan yang ditemukan, identifikasi dan evaluasi data, serta fakta lapangan. BAB IV : KESIMPULAN DAN SARAN Dalam bab ini memuat kesimpulan yang bisa ditarik dari analisis atau evaluasi pada Bab III, dan saran-saran yang diajukan sesuai dengan kesimpulan tersebut.

8 BAB II LANDASAN TEORI

2.1.

Sisem Pengendalian Intern Untuk memperoleh suatu pengertian yang jelas mengenai sistem

pengendalian intern, maka pertama akan dikemukan terlebih dahulu adalah pengertian sistem pengendalian intern. 2.1.1. Pengertian Sistem Dalam mendefinisikan sistem saat ini belum ada definisi yang baku. Jadi sistem dapat didefinisikan dari sudut masing-masing. Namun sebagai acuan berikut ini dituliskan beberapa definisi sistem. Menurut Narko (2002 : 1) adalah : Sistem adalah sebagai suatu kesatuan yang terdiri dari interaksi elemenelemen yang berusaha mencapai tujuan tertentu Menurut Chairol Marom (2000 : 1) adalah : Sistem adalah sebuah yang memproses data dan transaksi guna menghasilkan informasi yang bermanfaat untuk merencanakan, mengendalikan dan

mengoperasikan bisnis. Menurut Zaki Baridwan (1991 : 3) adalah : Sistem adalah suatu kerangka dari prosedur yang saling berhubungan yang disusun dengan suatu tema yang menyeluruh untuk melaksanakan suatu kegiatan atau fungsi utama dari suatu perusahaan. Menurut A.Moscove And Mark G.Sinkin (1981 : 4) adalah :

9 Sistem adalah suatu entity (kesatuan) yang terdiri dari bagianbagian yang saling berhubungan yang bertujuan untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. 2.1.2. Pengertian Pengendalian Intern Pengendalian intern pada dasarnya adalah suatu kegiatan intern yang mempunyai tujuan untuk memajukan sebuah perusahaan/instansi ataupun menambah harta kekayaan pada instansi yang bonafit, agar tujuan dasar instansi tersebut dapat terwujud. Menurut beberapa para ahli definisi Pengendalian Intern adalah sebagai berikut : Pengendalian Intern dalam arti sempit Adalah Internal Check, yaitu melakukan pengujian dan kebenaran perkalian, penjumlahan, dan pengurangan angka-angka yang tertera dalam formulir, serta penelitian cara penjurnalan. Pengendalian Intern dalam arti luas Adalah Pengendalian Intern tidak sekedar menguji kebenaran angka-angka dan pencatatan, tetapi mencangkup mekanisme dari seluruh perangkat yang digunakan manejemen untuk melaksanakan fungsi pengawasan.

Menurut Mulyadi (1997:163 ) Pengendalian Intern meliputi struktur organisasi, metode dan ukuran-ukuran yang dikordinasi untuk menjaga kekayaan organisasi. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi, mendorong efisiensi dan mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen.

10 Menurut Chairul Marom (2000 : 3) adalah : Pengendalian Intren adalah cara alat-alat yag dikordinasikan dan dipergunakan dalam perusahan dengan tujuan menjaga keamanan harta milik perusahan, memeriksa ketelitian, dan kebenaran data akuntansi. 2.1.3. Tujuan Sistem Pengendalian Intern Tujuan pengendalian intern terhadap kas adalah untuk melindungi harta kekayaan perusahaan dalam bentuk kas dari kesalahan dan kekeliruan, tindakan yang merugikan perusahaan seperti penyelewengan, pencurian, dan sebagainya. Pada hakikatnya yang hendak dicapai dari Pengendalian Intern : Menurut M.Samsul Dan Mustofa (1987 : 73) 1. Untuk menjamin kebenaran data akuntansi. Manajemen harus memiliki data akuntansi yang dapat diuji ketetapannya untuk melaksanakan operasi perusahaan berbagai macam data digunakan untuk mengambil keputusan penting. 2. Untuk mengamankan harta kekayaan dan catatan pembukuannya Harta fisik perusahaan dapat saja dicuri, disalah gunakan ataupun dirusak tidak sengaja. Hal yang sama berlaku untuk harta persahaan yang tidak nyata seperti perkiraan hutang, dokumen penting, surat berharga, dan catatan keuangan. Pengendalian intern dibentuk guna mencegah ataupun menemukan harta yang hilang dan catatan pembukuan pada saat yang tepat. 3. Untuk mengagalakkan efisiensi usaha

10

11 Pengendalian dalam suatu perusahan yang dimaksudkan untuk menghindari pekerjaan-pekerjaan berganda yang tidak perlu. Mencegah pemborosan terhadap penggunaan sumbersumber yang tidak efisien. 4. Untuk mendorong ditaatinya kebijakan manajemen Manajemen menyusun prosedur dan peraturan untuk mencapai tujuan prusahaan. Struktur pengendalian intern memberikan jaminan akan ditaatinya prosedur dan peraturan berlaku.

Menurut Mulyadi (1997 : 165) Tujuan pokok sistem pengendalian intern adalah : 1. Menjaga kekayaan organisasi 2. Mengecek ketelitian dan keandalan data akuntansi 3. Mendorong efesiensi 4. Mendorong dipatuhinya kebijakan manajemen Tujuan Sistem Pengendalian Intern menurut Mulyadi (1997 : 166) terbagi atas : 1. Pengendalian Intern Akuntansi (Internal Accounting Control) Meliputi struktur organisasi, dan ukuran-ukuran yang dikordinasikan terutama untuk menjaga kekayaan organisasi dan mengecek ketelitan dan keandalan data akuntansi. Dengan pengendalian intern yang baik akan menjamin kekayaan, kekayaan investor dan kreditur yang ditanamkan dalam perusahaan dan akan menghasilkan laporan keuangan yang dapat dipercaya.

12 2. Pengendalian Intern Administratif (Internl Adminisrative Control) Meliputi struktur organisasi, metode, dan ukuran-ukuran yang

dikordinasikan terutama untuk mendorong efisiensi dan dipatuhinya kebijakan manajemen.

2.1.4. UnsurUnsur Pengendalian Intern Terdapat empat sistem pengendalian intern, menurut Mulyadi (1997:167) antara lain : 1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas. Struktur organisasi merupakan kerangka (Frame Work) pembagian tanggung jawab fungsional kepada unitunit organisasi yang dibentuk

untuk melaksanakan kegiatankegiatan pokok perusahaan. Pada umumnya setiap perusahaan memiliki organisasi baik tertulis atau tidak. Suatu organisasi yang digambarkan pada bagan organisasi secara formal akan lebih berdaya guna, sebab ada kepastian tentang wewenang dan tanggung jawab, hubungan antar bagian hubungan antar atasan dan bawahan dan lainlain. Pembagian tanggung jawab fungsional dalam organisasi ini didasarkan pada prinsipprinsip berikut ini : a. Harus dipisahkan fungsifungsi operasi dan penyimpanan dari fungsi akuntansi. Fungsi operasi adalah fungsi yang yang memiliki wewenang untuk melaksanakan suatu kegiatan. Fungsi penyimpanan adalah fungsi yang

12

13 memiliki wewenang untuk menyimpan aktiva perusahaan. Fungsi akuntansi adalah fungsi yang memiliki wewenang untuk mencatat peristiwa keuangan perusahaan . b. Suatu fungsi tidak boleh diberi tanggung jawab penuh untuk melaksanakan sesuatu tahap dalam suatu organisasi. Dengan pemisahan fungsi akuntansi dari fungsifungsi operasi dan fungsi penyimpan, catatan yang diselengarakan dapat mencerminkan transaksi sesungguhnya yang dilaksanakan oleh unit organisasi yang memegang fungsi dan penyimpanan, sehingga dengan demikian kekayaan dapat menjamin keamanannya. 2. Sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya. Dalam organisasi setiap transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari pejabat yang memiliki wewenang untuk mensetujui terjadinya transaksi. Untuk itu harus dibuat sistem yang mengatur pembagian wewenang untuk otorisasi atas terlaksananya transaksi. 3. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi. Pembagian tanggung jawab fungsional dan sistem wewenang dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik jika tidak diciptakan cara-cara untuk menjalani praktik yang sehat dalam pelaksanaan. 4. Karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawabnya.

14 Bagaimanapun baiknya stuktrur organisasi, sistem otorisasi dan prosedur pencatatan serta berbagai cara yang diciptakan untuk mendorong praktik yang sehat, semuanya sangat tergantung kepada individu yang

melaksanakannya. Karyawan yang bertanggung jawab dan ahli dalam bidangnya akan dapat melaksanakan tugasnya dengan efektif. Untuk mendapatkan karyawan yang berkompeten dan dapat dipercaya maka, caracara yang dapat ditempuh perusahaan adalah : a. Seleksi calon karyawan berdasarkan persyaratan yang dituntut oleh pekerjaannya. b. Pengembangan pendidikan karyawan selama menjadi karyawan

perusahaan sesuai dengan tuntutan perkembangan pekerjaan. Sebaliknya meskipun suatu organisasi memiliki karyawan yang semula jujur, dapat saja berubah menjadi karyawan yang tidak jujur karena terdapat kesempatan yang luas untuk berbuat yang tidak jujur.

Di samping empat hal diatas, menurut Bambang Hartadi (1990 : 62) menambahkan bahwa ada 3 pengawasan tambahan agar tercapai suatu pengendalian intern yang memuaskan yang terdiri dari : 1. Anggaran Rencana kebijakan yang dinyatakan dalam nilai uang atau angka yang berlaku suatu periode tertentu guna mencapai suatu tujuan tertentu. 2. Laporan

14

15 Dalam lingkup sistem pengendalian intern laporan yaitu pernyataan mengenai suatu transaksi atau kegiatan baik bersifat kualitas ataupun kuantitas yang dibuat secara periodik. 3. Staf pemeriksa intern (intern auditor) Tugas pemeriksa intern yaitu menilai prosedur-prosedur yang tidak ada, mengadakan tindakan protektif yang meliputi pencegahan dan perbuatan yang tidak jujur serta membantu dam memberikan jasa-jasa lain yang diperlukan.

Jadi, pelaksanaan pengendalian intern yang sesuai dengan unsur-unsur dan prosedur pengendalian intern tentunya akan dapat mewujudkan tujuan dari pengendalian itu sendiri. Pengendalian intern menyarankan tindakan-tindakan yang harus diambil dalam perusahaan untuk mengatur dan mengarahkan aktivitasaktivitas perusahaan. 2.1.5. PrinsipPrinsip Pengendalian Intern Menurut Al Haryono Yusuf ( 1994 : 4) terdapat tujuh pokok pengendalian intern yaitu meliputi : 1. Penetapan tanggung jawab secara jelas Untuk menciptakan pengendalian intern yang baik, maka harus ditetapkan tanggung jawab secara jelas dan tiap orang memiliki tanggung jawab untuk tugas yang diberikan kepadanya. Apabila perumusan tanggung jawab tidak jelas dan terjadi suatu kesalahan, maka akan sulit untuk mencari siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan tersebut. prinsip

16 2. Penyelengaraan pencatatan yang memadai Untuk menciptakan pengendalian intren yang baik, perusahaan harus merancang formulirformulir secara cermat sesuai dengan kebutuhan, dan menggunakan dengan benar. 3. Pengasuransian kekayaan dan karyawan perusahaan Karyawan perusahaan harus diasuransikan sesuai dengan jumlah pertanggung jawaban yang memadai. Demikian pula dengan karyawan yang menangani kas dan suratsurat berharga harus dipertanggung jawabkan. Salah satu cara mempertanggung jawabkan karyawan yaitu dengan memberikan polis asuransi atas kerugian akibat pencurian, karena perusahaan asuransi (penanggung) akam melakukan pengusutan,

seandainya terjadi kekurangan (kehilangan) kas. 4. Pemisahan pencatatan dan penyimpanan aktiva Prinsip pokok pengendalian intern mensyaratkan bahwa pegawai yang menyimpan atau bertanggung jawab atas aktiva tertentu, tidak

diperkenankan mengurusi catatan akuntansi atas aktiva yang bersangkutan. Apabila prinsip ini diterapkan, karyawan yang bertanggung jawab atas aktiva cenderung untuk tidak manupulasi atau mencuri aktiva yang menjadi tanggung jawabnya, karena ia tau bahwa ada orang lain yang menyelengarakan pencatatan atas aktiva tersebut. Di lain pihak, karyawan yang menyelenggarakan pencatatan tidak mempunyai alasan untuk membuat catatan yang tidak benar, karena aktiva yang bersangkutan berada

16

17 di tangan orang lain. Prinsip ini hanya dapat diterobos melalui persengkokolan. 5. Pemisahan tanggung jawab atas transaksi yang berkaitan. Pertanggung jawaban atas transaksi yang berkaitan atau bagian bagian transaksi yang berkaitan harus ditetapkan pada orangorang atau bagianbagian dalam perusahaan, sehingga pekerjaan yang dilakukan oleh seseorang akan diperiksa (dicek) oleh orang lain. Cara seperti itu tidak perlu, mengakibatkan duplikasi pekerjaan, karena karyawan tidak perlu mengulangi pekerjaan yang telah dilakukan oleh orang lain. 6. Pemakaian peralatan mekanis (bila diperlukan) Apabila keadaan memungkinkan, sebaiknya perusahaan mengunakan peralatan mekanis, seperti kas register, check protector, mesin pencatat waktu dan peralatan mekanis lainya. Kas register yang memiliki pita pencatatan terkunci di dalamnya, akan mencatat penjualan tunai. Check protector yang dapat membuat perforasi mengenai setiap jumlah rupiah cek, akan bermanfaat untuk menghindarinya terjadinya angka rupiah pada cek. Mesin pencatat waktu akan mendapat mencatat dengan tepat saat karyawan mulai masuk kerja dan meninggalkan tempat kerjanya. 2.1.6. Pentingnya Pengendalian Intern Pentingnya pengendalian intern Menurut Bambang Hartadi (1990 : 2)

adalah karena alasan berikut ini :

18 1. as dan ukuran kesatuan usaha yang meliputi begitu kompleks dan meluas sehingga manajemen harus mempercayai barbagai macam laporanlaporan dan analisis-analisis. Pengawasan dan penelahaan yang dapat melihat pada struktur pengendalian yang baik mampu melindungi terhadap kelemahan manusia dan mengurangi kemungkinan kesalahan atau ketidak beresan akan terjadi. 2. Tidak praktis apabila akuntan untuk memeriksa secara keseluruhan keseluruhan dengan keterbatasan uang jasa ( fee ) tanpa mempercayai SPI . Dari pengertian di atas bahwa sistem pengendalian intern diperlukan manajemen untuk menjalankan dan mengawasi kegiatan operasional perusahaan akibat kegiatan perusahaan yang sedemikian kompleks sehingga tidak dapat diawasi secara langsung oleh pimpinan perusahaan. Jadi pengendalian intern itu sendiri bertujuan untuk mengamankan harta perusahaan dari kecurangan, ketidakefesienan, pemborosan dan mendorong ditaati kebijakan perusahaan. 2.1.7. Keterbatasan pengendalian intern Sistem pengendalian intern dapat dilakukan sesuai aturan memadai teganung pada unsur individunya. Oleh karena itu kita harus menyadari bahwa sistem pengendalian intern memiliki keterbatasan-keterbatasan yang melekat seperti dalam praktik, sebagian besar prosedur dalam pengendalian terdapat kemungkinan timbulnya kekeliruan yang disebabkan antara lain karyawan salah

18

19 paham terhadap instruksi-instruksi dan adanya kolusi antar karyawan maupun pihak luar. Keterbatasan lain yaitu pengendalian dapat mencakup semua transaksi sistem pengendalian intern tidak ditetapkan pada transaksi yang tidak rutin. Salah satu konsep yang telah disebutkan dimuka bahwa pengendalian intern hanya dapat memberikan keyakinan memadai bagi manajemen dan dewan komisaris sehubungan dengan pencapaian tujuan perusahaan. Alasannya adalah karena keterbatasan pada setiap struktur pengendalian intern. Menurut Al Haryono Yusuf (2001 : 254) Keterbatasan sturuktur pengendalian intern perusahaan adalah sebagai berikut : Kesalahan pertimbangan Kemacetan Kolusi Pelanggaran oleh manajemaen Biaya dan manfaat 2.1.8. Lingkungan Pengendalian Intern Menurut Narko (2002 : 62), lingkungan pengendalian intern memiliki 8 unsur, yaitu : 1. Falsafah dan Gaya Operasi Manajemen Manajemen mempunyai peran yang besar dalam memberikan lingkungan pengendalian dengan menekan arti pengendalian terhadap karyawan. Misalnya memberikan penghargaan kepada unit organisasi yang berhasil

20 mencapai target maka semua karyawan akan mendorong untuk menggunakan anggaran sebagai alat pengendalian. 2. Struktur Organisasi Struktur organisasi memberikan kontribusi bagi lingkungan pengendalian dalam hal memberikan kerangaka kerja (framework) secara menyeluruh bagi perencanaan, pelaksanaan ,dan pengendalian operasi. Struktur organisasi biasanya digambarkan dalam bentuk bagian organisasi. Bagan harus menggambarkan secara garis hubungan wewenang. 3. Dewan Komisaris Perusahaan akan memiliki lingkungan pengendalian yang baik jika mempunyai dewan komisaris yang berfungsi penuh. Sebaliknya bila dewan komisaris tidak berfungsi atau sebagai simbol saja maka besar kemungkinan sistem pengendalian tidak berjalan dengan baik. 4. Metode untuk mengkomunikasikan adanya wewenang dan tanggung jawab Pengendalian suatu perusahaan akan berjalan dengan baik bila ada kejelasan dan kepastian dan tanggung jawab cotohnya, kebijakankebijakn dan dekripsi jabatan 5. Metode Pengendalian Manajamen Cara-cara manajemen mengendalikan semua kegiatan perusahaan. Metode tersebut meliputi, rencana perusahaan, peramalan, dan anggaran perusahaan. 6. Auditing Intern

20

21 Pemeriksaan yang dilakukan suatu bagian yang independent dalam perusahaan yang bersangkutan. Fungsi audit intern akan efektif bila fungsi berdiri independent tidak merupakan bawahan organisasi yang diaudit. 7. Kebijakan Kepegawaian Kebijakan kepegawaian harus mampu menyediakan karyawan yang dapat dipercaya dan memiliki kemampuan di bidangnya masing-masing 8. Pengaruh Organisasi Luar Pengaruh organisasi luar dapat memberikan pengaruh yang baik terhadap lingkungan pengedalian. Misalnya perusahaan yang sudah go public diharuskan laporan keungannya diaudit oleh akuntan independent, maka akan mendorong terjadinya pengendalian di perusahaan yang

bersangkutan. Selain lingkungan pengendalian, terdapat unsur sistem akuntansi dan prosedur pengendalian yang juga menjadi unsur-unsur struktur pengendalian intern, yaitu : 1. Sistem Akuntansi Sistem akuntansi harus dirancang sedemikian rupa sehingga sistem menjamin bahwa : Sudah teridentifikasikan semua transaksi yang sah Transaksi yang terjadi sudah mendapat persetujuan Transaksi sudah dinilai benar Transaksi sudah diklasifikasikan dengan tepat

22 Transaksaksi dicatat pada saatnya 2. Prosedur Pengendalian Prosedur-prosedur tambahan yang dapat lebih menjamin adanya sistem pengendalian diantaranya : Pemisahan tugas antara fungsi operasi, penyimpanan dan akuntansi Terdapat otorisasi pada setiap transaksi dan pencatatan setiap kegiatan Adanya bukti- bukti dan catatan yang memadai Pengawasan fisik aktiva dan catattanya Pengecekan secara silang

2.2.Sistem Pengendalian Intern terhadap Pengeluaran Kas 2.2.1. Pengertian Kas Secara umum, yang dimaksud dengan kas dalam data akuntansi adalah seluruh alat yang tersedia yang dapat digunakan untuk membiayai seluruh kegiatan operasi tanpa ada pembatasan dalam penggunaannya. Menurut Mardiasmo (1995 : 1) Kas adalah uang tunai baik uang kertas maupun uang logam, simpanan uang di bank yang setiap saat dapat diambil dan bentukbentuk pembayaran alat pembayaran lainya yang mempunyai sifat seperti mata uang. Menurut M Munandar (1996 : 29)

22

23 Kas adalah semua mata uang dan logam, baik mata uang dalam negeri maupun mata uang luar negeri, serta semua suratsurat yang mempunyai sifat seperti mata uang, yaitu sifat dapat segera dipergunakan untuk melakukan pembayaranpembayaran pada setiap saat dikehendaki. Menurut Soermarso S.R. (2004 : 296) Kas adalah segala sesuatu (baik yang berbentuk uang atau bukan) yang dapat tersedia dengan segera dan diterima sebagai alat pelunasan kewajiban pada nilai nominalnya. Termasuk sebagai kas rekening giro di bank dan uang kas yang ada di perusahaan. 2.2.2. Sistem Pengendalian Intern Pengeluaran Kas Terdapat dua sistem akuntansi pokok yang digunakan untuk melaksanakan pengluaran kas yaitu sistem pengeluaran kas dengan cek dan sistem pengeluaran kas dengan dana tunai melalui kas kecil. Berikut ini dipaparkan sistem pengluaran kas melalui kas dua metode di atas : 1. Sistem akuntansi pengeluaran kas dengan cek Pengeluaran kas dalam perusahaan dapat dilakukan dengan menggunakan cek. Pengeluaran kas dengan cek memiliki kelebihan, ditinjau dari pengendalian intern sebagai berikut : a. Dengan digunakan cek atas nama, pengeluaran kas akan dapat diterima oleh pihak yang namanya sesuai dengan yang ditulis dalam formulir cek. Dengan demikian pengeluaran kas dengan cek menjamin diterimanya cek tersebut oleh pihak yang dimaksud oleh pihak pembayar.

24 b. Dilibatkan pihak luar dalam hal ini bank, dalam transakasi pengeluaran kas perusahaan. Dengan digunakannya cek dalan setiap pengeluaran kas perusahaan, transakasi pengeluran kas direkam juga oleh bank, yang secara periodik mengirimkan rekening koran (bank statement) kepada perusahaan nasabahnya. Rekening koran bank inilah yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengecek ketelitian catatan transaksi kas perusahaan yang direkam oleh jurnal penerimaan dan pengeluaran kas. c. Jika sistem perbankan mengambil cancelled check kepada check issuer, pengeluaran kas dengan cek memberikan tambahan bagi perusahaan yang mengeluarkan cek dengan dapat digunakannya cancelled check sebagai tanda terima kas dari pihak yang menerima pembayaran. Cancelled chek sebagai tanda terima pembayaran lebih andal karena di dalam ada endoserment terkait bank yang independent bagi pembayar maupun penerima pembayar. Menurut Mulyadi (1997 : 512), dokumen yang digunakan dalam sistem pengeluaran kas dengan cek adalah : a. Bukti Kas Keluar Dokumen ini berfungsi sebagai perintah pengeluaran kas kepada bagian kas sebesar yang tercantum dalam dokumen tersebut. Dokumen ini juga berfungsi sebagai surat pemberitahuan (remittance advice) yang dikirim kepada kreditur dan berfungsi pula sebagai dokumen sumber bagi pencatatan berkurangnya utang.

24

25 b. Cek Dari sudut sistem informasi akuntansi, cek merupakan dokumen yang digunakan untuk memerintahkan bank melakukan pembayaran sejumlah uang atau organisasi yang namanya tercantum pada cek. c. Permintaan Cek (Chek Reguest) Dokumen ini berfungsi sebagai permintaan dari fungsi yang memerlukan pengeluaran kas kepada fungsi akuntansi untuk membuat bukti kas keluar. 2. Sistem Akuntansi Pengeluaran Dana Kas Kecil Penyelenggaraan dana kas kecil untuk memungkinkan pengeluaran kas kecil dengan uang tunai dapat diselengarakan dengan dua cara yaitu : Sistem saldo Sistem saldo tetap Menurut Mulyadi (1997 : 531), dalam sistem saldo berfluktuasi penyelenggaraan dana kas kecil dilakukan dengan prosedur berikut ini : 1. Pembentukkan dana kas kecil dicatat dengan mendebit rekening dana kas kecil. 2. Pengeluaran dana kas kecil dicatat dengan mengkreditkan rekening dana kas kecil, sehingga setiap saat saldo rekening ini berfluktuasi. 3. Pengisian kembali dana kas kecil dilakukan dengan jumlah sesuai dengan keperluan, dan dicatat dengan mendebit dana kas kecil berfluktuasi dari waktu ke waktu.

26 Dokumen yang digunakan dalam sistem dana kas kecil menurut Mulyadi (1997 : 532), yaitu : 1. Bukti kas keluar berfungsi sebagai perintah pengeluaran kas dari fungsi akuntansi kepada fungsi kas sebesar yang tercantum dalam dokumen tersebut. 2. 3. Cek Permintaan pengeluaran kas kecil digunakan oleh pemakai dana kas kecil untuk meminta uang ke pemegang dana kas kecil. 4. Bukti pengeluaran kas kecil dibuat oleh pemakai dana kas kecil untuk mempertanggung jawabkan pemakaian dana kas kecil 5. Permintaan pengisian kembali dana kas kecil dibuat oleh pemegang dana kas kecil untuk meminta kepada bagian utang agar dibuatkan bukti kas keluar guna pengisian kembali dana kas kecil

2.3.

Elemen Sistem Pengendalian Intern Kas merupakan kekayaan perusahaan yang sulit diidentifikasi hak

kepemilikannya. Oleh karena itu, pengawasan terhadap kas di dalam perusahaan pada umumnya dilakukan. Menurut Mulyadi (1997 : 519), perlu diadakan sistem pengendalian intern terhadap pengeluaran kas sebagai berikut : 1. Organisasi a. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab profesional secara tegas

26

27 Fungsi penyimpanan kas harus terpisah dari fungsi akuntansi. Unsur pengendalian intern mengharuskan pemisahan fungsi akuntansi dari fungsi penyimpan kas, agar data akuntansi yang dicatat dalam catatan akuntansi dijamin keandalannya. Dalam sistem kas fungsi penyimpan kas yang dipegang bagian kas harus dipisahkan dengan fungsi akuntansi kas yang dipegang oleh bagian jurnal, yang menyelengarakan register cek atau jurnal penerimaan kas dan jurnal pengluaran kas. Dengan pemisahan ini, catatan akuntansi yang diselengarakan oleh fungsi akuntansi dapat berfungsi sebagai pengawas semua mutasi kas yang disimpan oleh fungsi penyimpanan kas. Transaksi pengeluaran kas tidak boleh dilaksanakan sendiri oleh bagian kas sejak awal sampai akhir, tanpa campur tangan dari fungsi yang lain. Unsur pengendalian intern mengharuskan pelaksanaan setiap transaksi lebih dari satu fungsi agar terciptanya adanya internal cek. Transaksi pengeluaran kas melibatkan fungsi pembelian, penerimaan barang, fungsi akuntansi, dan fungsi pengeluaran kas. Dengan pelaksanaan transaksi pengeluaran kas lebih dari satu maka kas perusahaan terjamin keamanannya dan data akuntansi yang dicatat dalam catatan akuntansi dapat dijamin ketelitian dan keandalannya.

28 b. Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan yang memberikan

perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya. Pengeluaran kas harus mendapat otorisasi dari pejabat wewenang Transaksi pengeluaran kas diotorisasi oleh pejabat yang berwenang dengan menggunakan dokumen bukti kas keluar. Berdasarkan bukti kas keluar ini kas perusahaan berkurang dan catatan akuntansi dimutahirkan (up dated ) Pembukuan dan penutup rekening bank mendapatkan persetujuan dari pejabat yang berwenang. Rekening giro perusahaan di bank merupakan sarana untuk menerima dan mengeluarkan kas perusahaan. Jika terjadi

pembukuan dan penutupan rekening giro perusahaan di bank tidak diotorisasi oleh pejabat yang berwenang, akan terbuka

kemungkinan penyaluran penerimaan kas perusahaan ke rekening giro yang tidak sah dan pengeluaran kas perusahaan untuk kepentingan pribadi karyawan. Pencatatan dalam jurnal pengeluaran kas (atau dalam metode pencatatan tertentu dalam register cek) harus didasarkan bukti kas keluar yang sudah diotorisasi dari pejabat yang berwenang dan yang dilampiri dengan dokumen yang lengkap. c. Praktik yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi setiap unit organisasi.

28

29 Saldo kas yang ada di tangan harus dilindungi dari kemungkinan pencurian atau pengunaan yang tidak semestinya. Saldo kas yang ada di tangan adalah berupa dana kas kecil dan penerimaan kas dari penjualan dari piutang-piutang yang belum disetor ke bank. Saldo kas ini perlu dilindungi dari kemungkinan pencurian dengan cara penyimpanannya dalam lemari besi dan menempatkan kasir di suatu ruangan terpisah. Dokumen dasar dan dokumen pendukung transaksi pengluaran kas harus dububuhi cap lunas setelah pengluran kas dilakukan. Dalam transaksi pengluran kas, bukti kas keluar dibuat olehh fungsi akuntansi (bagian hutang) setelah dokumen pendukungnya lengkap. Bukti kas keluar ini merupakan dokumen perintah pengluaran kas dari pejabat yang berwenang kepada fungsi akuntansi. Oleh karena itu untuk menghindari pengunaan dokumen pendukung yang lebih dari satu kali sebagai dasar pembuatan bukti kas keluar serta dokumen pendukungnya, segera setelah pengiriman cek kepada kreditur dilakukan. Penggunaan rekening koran bank, yang merupakan informasi dari pihak ketiga, untuk mengecek ketelitian pencatatan kas oleh fungsi yang tidak terkibat dalam pecatatan dan penerimaan kas. Dalam sistem kas dapat dirancang penggunaan rekening koran bank, sebagai alat untuk mengawasi pencatatan kas perusahaan. Rekening koran bank yang diterima secara periodik oleh perusahaan

30 digunakan untuk mengecek ketelitian register cek dan jurnal penerimaan kas dalam kegiatan yang disebut rekonsiliasi bank. Sistem pengendalian intern ini mengharuskan rekonsiliasi dilakukan oleh pihak yang tidak menyelengarakan catatan kas dan tidak memegang fungsi penyimpanan kas. Semua pengeluaran kas harus dilakukan dengan cek atas nama perusahaan penerima pembayaran. Cek yang dihasilkan dengan cara cek atas nama, yaitu cek hanya dapat diuangkan oleh orang atau perusahan. Yang namanya tercantum dalam cek tersebut. Pembayaran melalui bank dapat pula dilakukan dengan pemindahan dana dari rekening giro perusahaan pembayaran ke rekening giro perusahaan penerima. Pembayaran dengan menggunakan cek atas nama dan dengan cara pemindahan buku ini dilakukan agar perusahaan memperoleh kepastian bahwa kas yang dikeluarkan ini sampai ke alamat yang dituju (tidak ke tangan pribadi penagih atau karyawan perusahaan penerima). Jika pengeluaran kas hanya menyangkut jumlah yang kecil. Pengeluaran ini dilakukan dengan melalui dana kas kecil, yang akuntansinya diselenggarakan dengan imprest system. Agar catatan akuntansi kas perusahaan dapat diawasi ketelitian dan keandalannya dengan menggunakan jasa pihak luar yang bebas. Maka setiap pengeluaran kas harus dilakukan dengan cek

30

31 pengeluaran kas yang tidak dapat dilakukan dengan cek dilakukan melalui dana kas kecil dilakukan metode imprest system. Secara periodik dilakukan pencocokan fisik kas yang ada di tangan dengan jumlah kas menurut catatan. Penghitungan fisik yang ada di tangan perusahaan harus menggunakan kesempatan penyelewengan penggunaan kas. Penghitungan fisik kas dilakukan terhadap jumlah kas yang belum disetor ke bank dan saldo dana kas kecil yang diterima oleh perusahaan menurut jurnal penerimaan kas. Kas yang ada di tangan (cash in safe) dan kas yang ada di perjalanan (cash in transit) diasuransikan kerugian. Jika kas yang ada di tangan dan kas yang di perjalanan jumlahnya relatif besar, sehingga diperkirakan akan timbul kerugian yang besar jika terjadi perampokan dan pencurian, perusahaan sebaiknya menutup asuransi untuk menghindari resiko kerugian tersebut. Kasir diasuransikan Untuk menghindari kerugian akibat penyelewengan kas yang dilakukan karyawan yang mendapat tugas sebagai penyimpan kas, karyawan tersebut perlu diasuransikan menjamin penggantian atas kerugian yang timbul sebagai akibat penyelewengan dilakukan kasir. Kasir dilengkapi dengan alatalat yang mencegah terjadinya pencurian terhadap kas yang ada di tangan.

32 Untuk menjaga fisik kas yang ada di tangan bagian kas harus diberi perlengkapan yang memadai. Umumnya setiap perusahaan

menempatkan bagian kasir dalam suatu ruangan yang tidak setiap karyawan diperkenakan akses ke dalamnya, tanpa izin dari pejabat yang berwenang. Dan alat yang digunakan untuk melindungi kas yang ada di tangan perusahaan pada bagian kasir adalah mesin register kas, almari besi, strong room. Semua nomor cek harus dipertanggung jawabkan oleh bagian kasir Karena formulir cek berfungsi sebagai perintah kepada bank untuk membayarkan sejumlah uang perusahaan kepada orang tertentu atau kepada pembawa cek tersebut. Maka pengawasan cek diawasi dengan mengontrol penggunaan nomor urut cek tersebut. Setiap nomor cek harus dipertanggung jawabkan oleh bagian kasir, karena bagian ini bertugas untuk mengisi cek dan meminta otorisasi atas cek tersebut. Menurut Robert dan Louwers (2002 : 276 312) Sistem pengendalian intern yang harus perusahaan dalam sistem pengeluaran kas yaitu : 1. Orang yang memegang fungsi kas ataupun orang yang berwenang atas otorisasi cek harus tidak dapat mengakses buku jurnal, buku besar, dan rekonsiliasi bank. 2. Orang yang tidak memilki otorisasi cek harus tidak dapat mengakses buku cek.

32

33 3. 4. Semua pembayaran kecuali berjumlah kecil harus dilakukan dengan cek. Pejabat yang berwenang atas otorisasi cek dilarang mengambil kas melalui cek. 5. 6. 7. Cek yang belum diisi tidak boleh ditanda tangani. Cek kosong harus dimutilasi dan ditahan untuk inspeksi. Pejabat yang memberi otorisasi atau cek harus mereview faktur, laporan penerimaan dan order pembelian. 8. Dokumen pendukung pembelian harus dicap lunas sebelum diserahkan kepada fungsi akuntansi hutang untuk dicatat. 9. Cek harus dikirim langsung oleh pejabat yang mengotorisasi cek dan tidak dikembalikan pada fungsi akuntansi untuk pengirimannya. 10. Buku cek harus bernomor cetak dan urutan nomor cek harus diperiksa harus mengetahui adanya cek yang hilang. 11. Cek harus diotorisasi oleh dua pejabat 12. Rekening bank harus direkonsiliasi oleh orang yang independent terhadap fungsi kas dan fungsi pencatatan. 13. Rekonsiliasi bank dilaksanakan oleh seorang accounting official yang tidak terkait dengan penerimaan kas, pengeluaran kas maupun tanggung jawab pembukuan. 14. Internal auditor melakukan pemeriksaan mendadak terhadap rekonsiliasi bank secara periodik. 15. Tanggal cek pada jurnal pengeluaran kas harus sama dengan tanggal yang tercantum pada cek.

34 Sedangkan menurut Zaki Baridwan (1995 : 87), ada beberapa prosedur pengendalian yang penting dalam hal pengeluaran kas antara lain : 1. Semua pengeluaran uang menggunakan cek kecuali pengeluaran pengluaran kecil yang dibayar dari kas kecil. 2. 3. Dibentuknya kas kecil yang diawasi dengan ketat Penulisan cek hanya dilakukan apabila didukung bukti dan dokumen yang lengkap atau dengan kata lain digunakan sistem voucher. 4. Dipisahkan antara orang-orang yang mengumpulkan bukti pengeluaran kas, si penulis cek, yang menandatangani cek dan mencatat pengeluaran kas. 5. Diadakan pemeriksaan intern dalam jangka waktu tertentu.

2.4.

Penggelapan Uang Melalui Pengluaran Kas Penggelapan uang melalui pengluaran kas dilakukan dengan berbagai

macam cara menurut Bambang Hartadi (1990 : 53) yaitu : 1. Penggelapan uang dari kas kecil (dana kas kecil yang lainnya) adalah salah satu cara penggelapan uang. Penggelapan tersebut melalui cara voucher yang dipalsukan

persetujuannya. Voucher dibuat keliru, atau menggunakan voucher dengan mengubah tanggalnya untuk mendapatkan dana kas. 2. 3. Cek yang dipalsukan tanda tangannya, kemudian dicairkan. Pembuatan voucher yang fiktif dan membuat jurnal yang fiktif pula untuk pembelian yang fiktif pula dalam jurnal pengluaran kas.

34

35 4. Kitting, yaitu penyelewengan dengan cara mentransfer uang dari satu bank ke bank lain dan mencatat transaksi tersebut secara tidak pantas. Agar efektif cara ini harus mendekati akhir tahun pembukuan, mengambil return dan potongan pembelian, dan penggelapan melalui daftar gaji. Perangkapan fungsi dalam suatu administrasi perusahaan akan memberikan kesempatan pada bagian tersebut untuk melakukan penyelewengan terhadap kas.

36 BAB III PEMBAHASAN

3.1. 3.1.

Gambaran Umum Perusahaan Sejarah Singkat PT. FIF Cabang Jambi PT. Federal International Finance (FIF) didirikan dengan nama PT.

Mitrapusaka Artha Finance pada bulan Mei 1989. Berdasarkan SK Mentri pada tanggal 30 Agustus 1990, berdasarkan izin usaha yang diperolehnya maka Perseroan bergerak dalam bidang Sewa Guna Usaha, Anjak Piutang dan Pembiayaan Konsumen. Pada tahun 1991, Perseroan mengubah nama menjadi PT. Federal Internasional Finance, namun seiring dengan perkembangan waktu dan guna memenuhi permintaan pasar Perseroan mulai memfokuskan diri pada bidang pembiayaan konsumen secara retail pada tahun 1996. Ketika badai krisis moneter mulai menerpa pada tahun 1997, saat itu pula merupakan titik balik bagi Perseroan untuk melakukan konsilidasi internal dalam rangka persiapan menuju ke suatu sistem komputerisasi yang tersentralisasi dan terintegritas. Walaupun krisis moneter tersebut di luar dugaan berkembang menjadi krisis multimidimensi, namun berkat kerja keras jajaran Direksi beserta seluruh karyawan Perseroan tetap dapat berjalan. Dalam rangka untuk menunjang kegiatan usaha, PT. Federal Internasionl Finance telah mengembangkan dan memiliki jaringan di seluruh wilayah Indonesia, sehingga para pelanggan dapat merasakan pelayanan yang diberikan oleh PT. Federal Internasional Finance baik di kota maupun di desa. Ia membuka

36

37 daerah operasinya di Jambi pada tanggal 18 Juni 2001, yaitu Kantor Cabang Jambi yang beralamatkan di Jl. Hayam Wuruk No. 164 Jelutung, Jambi. Peseroan yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh PT. Astra Internasional, tahun demi tahun lebih memantapkan dirinya sebagai perusahaan pembiayaan terbaik dan terpercaya di industrinya, sehingga pada saat penerbitan obligasi pertama pada tahun 2002. Hingga obligasi tahun 2004 mendapatkan tanggapan yang positif dari para Investor. PT. Federal International Finance (FIF) adalah perusahaan pembiayaan yaitu badan usaha diluar Bank dan Lembaga Keuangan bukan Bank, yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha Lembaga Pembiayaan. PT. Federal International Finance (FIF) telah banyak tersebar di Indonesia yaitu 87 cabang di Kepulauan Indonesia dan salah satunya cabang Jambi yaitu Kantor Cabang Jambi yang beralamatkan di Jl. Hayam Wuruk No. 164 Jelutung, Jambi. Kegiatan usaha perusahaan Pembiayaan adalah : a. Sewa Guna Usaha / Leasing b. Anjak Piutang / Factoring c. Usaha Kartu kredit d. Pembiayaan Konsumen Saat ini FIF fokus pada kegiatan usaha pembiayaan konsumen yang dimaksud dengan Pembiayaan Konsumen adalah kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran atau berkala oleh konsumen.

38 PT. FIF Cabang Jambi adalah salah satu perusahaan pembiayaan yang di dalam stuktur organisasi perusahaan ini, adanya pemisahaan tugas antara kasir dengan finance. Ruang lingkup PT. Federal Internasional Finance (FIF) adalah perusahaan yang menggunakan promosi sebagai sarana untuk memasarkan produknya dan dalam melaksanakan kegiatan pemasaranya melakukan berbagai bentuk promosi untuk menginformasikan kepada konsumen. Salah satu bentuk promosi yang dilakukan adalah publisitas. Publisitas yang digunakan FIF adalah Social Marketing yaitu berupa kegiatan social (CSR) FIF-AAB Peduli Konsumen. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat keberhasilan program publisitas salah satunya yaitu perusahaaan dapat mengetahui tanggapan melalui konsumen terhadap kegiatan CSR. 3.1.2. Visi Perusahaan Dan Misi Perusahaan 3.1.2.1. Visi Perusahaan Menawarkan solusi keuangan yang terbaik bagi pelanggan secara individual, yaitu fasilitas pembiayaan untuk pengadaan barang. Berdasarkan kebutuhan konsumen dengan prinsip Mudah, Aman, dan Menguntungkan (MAM) Mudah yaitu proses pengajuan permohonan pembiayaan sederhana dengan persyaratan yang standar seperti identitas diri (KTP/SIM/Keterangan Domisili). Proses persetujuan cepat dimana, pada hari yang sama sudah dapat diketahui keputusan persetujuan tersebut tergantung dari persyaratan angsuran dapat dilakukan dibanyak tempat seperti tempat Dealer, Kantor pos, Kantor FIF Dan ATM .

38

39 Aman yaitu barang yang dibiayai diasuransikan ke perusahaan asuransi Astra (Asuransi Astra Buana). BPKB disimpan dalam tempat yang aman di kantor Cabang FIF dan tidak dijaminkan ke pihak lain. Menguntungkan yaitu diikuti program-program loyaliti konsumen seperti program berhadiah, apabila repeat order maka akan mendapatkan fasilitas kredit angsuran yang lebih menarik seperti bunga yang lebih rendah dan tidak perlu melampirkan persyratan ulang. Paket kredit yang kompetitif (uang muka, angsuran, jangka waktu). 3.1.2.2. Misi Perusahaan Misi dari PT. Federal Internasional Finance (FIF) adalah 1. Beroperasi secara lugas dengan tetap menghindarkan aspek kehatihatian. 2. Berkontribusi dalam meningkatkan distribusi sepada motor produk Astra. 3. Memenuhi harapan para pelanggan, karyawan, pelanggan saham, kreditur, kreditur dan pemarintah. 4. Menawarkan produk yang terjangkau bagi pelanggan 5. Memanfaatkan instruktur untuk kredit mikro, pinjaman tanpa jaminan dan bisnis pengadaian. 3.1.3. Penghargaan Perusahaan 1. Majalah CIO telah memilih FIF sebagai salah satu dari 100

perusahaan di Asia yang berhasil menerapakan teknologi informasi dengan baik.

40 2. The Investor Group memberikan penghargaan kepada FIF sebagai perusahaan multi finance terbaik untuk triliun. Tahun 2003 : Penghargaan Kepuasan Pada Pelanggan Tahun 2004 : CIO Honouer Multi Finance Terbaik Penghargaan Kepuasan Pada Pelanggan Tahun 2005 : Penghargaan Jardine Metason Group Penghargaan Astra Obligasi Terbaik Multi Finance Terbaik Penghargaan Kepuasan Pada Pelanggan Costomer Focus Tahun 2006 : Penghargaan Kepuasan Pada Pelanggan CIO Honouer Tahun 2007 : The 2 nd Place Of Choice Award Service Quality Outstanding Achievement katagori aset diatas 2

40

41 Marketing Award Rekor Muri Rekor Muri Servise Gratis Tahun 2008 : Penghargaan Kepuasan Pada Pelanggan. 3.1.4. Struktur Organisasi Perusahaan Struktur organisasi merupakan bagan yang menerangkan hubungan diantara berbagai fungsi, bagian, status ataupun yang menunjukkan tanggung jawab dan wewenang yang berbeda-beda dalam perusahaan serta mempermudah seseorang untuk memahami batas-batas tanggung jawab dan wewenang. Tujuan dibentuknya struktur organisasi adalah untuk memudahkan penempatan para karyawan dalam suatu bidang tugas, dengan demikian mereka menghetahui apa yang menjadi wewenang dan kepada siapa mereka akan bertanggung jawab. Struktur organisasi PT FIF Cabang Jambi ditunjukkan pada halaman selanjutnya.

42

42

43 3.1.5. Uraian Tugas Pokok Dan Tanggung Jawab Berikut tugas pokok dan tanggung jawab dalam PT FIF Cabang Jambi. 1. Brance Manager Pimpinan pemegang cabang yang ada di Cabang Jambi sebagai oprasional cabang.

2. Credit Section Memiliki tugas, antara lain : 1. Memastikan proses credit management berjalan dengan baik dan lancar. 2. Melakukan fungsi komite kredit. 3. Melakukan kontrol terhadap proses kerja bawahan 4. Menjaga hubungan baik dengan dealer 5. Menganalisa performance kualitas credit 6. Menganalisa performance credit (BKPB) 7. Melakukan pelatihan dan bimbingan untuk bawahan 8. Membuat rencana kerja bawahan (termasuk target) dan melakukan penilaian kinerja atas tugas bawahan

3. Collection Section Head Memiliki tugas, antara lain : 1. Bertanggung jawab dalam memastikan semua proses collection di cabang yang menjadi tanggung jawabnya harus berjalan sesuai dengan ketentuan

44 yang telah ditetapkan perusahaan dan mencapai target collection dan recovery departement di cabang 2. Menangani account di CO dan CI 3. Memastikan seluruh proses colletion process berjalan sesuai SOP 4. Melakukan control atas kinerja Collection process coordinator dan CR coordintor yang menjadi tanggung jawabnya. 5. Membuat strategi dan program yang tepat untuk meningkatkan performance di masing- masing KPI 6. Memberikan improvement dalam rangka strategi dan perbaikan

performance kepada CR Dep Head Office

4. Recovery Section Head Memiliki tugas, antara lain : 1. Bertanggung jawab dalam memastikan semua proses Recovery dicabang yang mejadi tanggung jawabnya. 2. Menangani account di C2, C3, C4, C4, C5 dan CX 3. Memastikan seluruh process Collections Recovery berjalan sesuai SOP 4. Melakukan control atas kinerja Recovery Process Coordinator dan CR Coordinator yag menjadi tanggung jawabnya. 5. Membuat strategi dan program yang tepat untuk meningkatkan performance di masingmasing KPI

5. Repossesion Inventory Section Head

44

45 Memiliki tugas, antara lain : 1. Bertanggung jawab terhadap kesahan proses unit masuk dan unit keluar sesuai dengan standar opersasional prosedur FIF dengan tujuan agar tidak ada selisih fisik unit dan pencatatan. 2. Bertanggung jawab dalam memastikkan HJM proses berjalan sesuai dengan SOP. Dengan tujuan agar stock yang siap untuk dijual. 3. Bertanggung jawab dalam memastikkan proses-proses penangan didalam gudang sesuai dengan standar kerja yang berlaku dengan tujuan agar proses FIFO tercapai. 4. Bertanggung jawab dalam memastikkan bahwa semua proses di fungsi RI cabang berjalan dengan prosedur yang telah ditetapkan dengan tujuan agar proses kerja RI mencapai target.

6. Finance Section Head Memiliki tugas, antara lain : 1. Bertanggung jawab dalam menjalankan proses-proses admintrasi finance dan memastikkan proses kerja subordinate berjalan sesuai dengan standar yang telah ditetapkan oleh perusahaan 2. Bertanggung jawab dalam pembukuan transaksi dan pengiriman report accounting bulanan ke head office. 3. Bertanggung jawab dalam menyelesaikan admintrasi pembayaran dan pelaporan perpajakan perusahaan.

46 4. Bertanggung jawab dalam melaksanakan supervisi terhadap proses kerja kasir dicabang untuk memmastikkan bahwa targettarget yang telah ditetapkan kepada kasir tercapai dengan baik. 7. Business Support Head Memiliki tugas, antara lain : 1. Bertanggung jawab dalam implementasi BCP dan system keamanan di kantor cabang POS dan gudang. Dengan tujuan agar program- program BCP dan kesiapan team BCP mencapai target yang ditentukan. 2. Bertanggung jawab dalam pemenuhan MPP cabang agar target MPP dari HO tercapai dalam periode yang ditentukan. 3. Bertanggung jawab dalam implementasi proses-proses yang ada di fungsi Business Support (GA & Personal) sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 4. Bertanggung jawab dalam menjalankan mensosialisasikan programprogram terkait dengan pelaksanaan integritas karyawan dan budaya perusahaan. 5. Bertanggung jawab dalam pembuatan report analisa biaya di fungsi business support dengan tujuan untuk memberikan rekomendasi. 6. Bertanggung jawab dalam sosiliasi dan implentasi program-program dari departemen-departemen terkait. 7. Bertanggung jawab dalam membina hubungan baik dengan instansiinstansi.

3.2.

Sistem pengendalian intern PT. FIF Cabang Jambi

46

47 1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab fungsional secara tegas. Struktur organisasi dalam suatu perusahaan merupakan hal yang penting bagi kinerja perusahaannya. Dalam menjalankan usahanya PT. FIF Cabang Jambi menggunakan struktur organisasi yang berbentuk garis lurus yaitu struktur yang menggambarkan dimana pimpinan melimpahkan wewenangnya kepada

bawahannya. Di dalamnya terdapat garis wewenang yang menghubungkan secara vertikal yaitu antara atasan dan bawahan. 2. Sistem otorisasi dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan dan biaya. Setiap organisasi dituntut untuk melakukan aktivitasnya secara efektif dan efesien. Salah satu cara yang digunakan adalah dengan pembagian wewenang yang ada ke fungsi-fungsi lainya. Pembagian wewenang melalui pemberian sistem otorisasi atas transaksi-transaksi yang telah dilaksanakan. Dengan sistem otorisasi untuk setiap transaksi yang telah terjadi harus diotorisasi oleh karyawan yang berwenang. Hal ini dimaksudkan agar dapat menjamin dihasilkannya dokumendokumen yang dapat dipercaya bagi proses pencatatan aktivitas transaksi perusahaan guna melindungi kekayaan perusahaan. PT. FIF Cabang Jambi telah melakukannya dengan sistem otorisasi, dimana setiap transaksi harus diotorisasi oleh kepala cabang dan bagian finance. 3. Praktek yang sehat dalam melakukan tugas dan fungsi setiap unit organisasi.

48 Untuk mencapai tujuan sistem pengendalian intern, pihak perusahaan harus dapat menciptakan praktik yang sehat bagi setiap fungsi atau fungsi unit organisasi. Hal ini dilakukan terutama untuk menghindari penyalahgunaan tanggung jawab dan wewenang masing-masing fungsi yang terkait dengan transaksi pengeluaran kas perusahaan pada PT. FIF Cabang Jambi untuk menciptakan praktek yang sehat dari setiap fungsi organisasi yaitu setiap pengeluaran kas sekecil apapun telah memiliki bukti kwitansi yang bernomor urut. 4. Karyawan merupakan unsur yang paling penting dalam perusahaan. Jika perusahaan yang memiliki karyawan yang berkompeten dan bertanggung jawab, maka unsur pengendalian lain dapat dikurangi. Jadi bagaimanapun baiknya struktur organisasi, sistem otorisasi dan prosedur pencatatan dan berbagai cara menciptakan praktik yang sehat sudah diterapkan perusahaan sesuai dengan unsur pengendalian intern bila karyawan yang melaksanakan tidak kompeten dan tidak bertanggung jawab maka tujuan sistem pengendalian intern akan sulit tercapai. Untuk memperoleh karyawan berkompeten PT. FIF Cabang Jambi melakukan beberapa langkah yaitu : 1. Seleksi bahan calon karyawan, yang diutamakan yang telah berpengalaman dalam bidangnya. Dan sesuai dengan bidang yang dicari dan diperlukan oleh perusahaan. 2. Wawancara ( Interview) calon karyawan yang dilakukan oleh 1. HRD 2. Salah satu karyawan Departement yang membutuhkan

48

49 3. Kepala Cabang 3. Tes Kesehatan / pysicotest 4. Tes Online (E-learning), yang telah ada format khusus dari perusahan. Dan harus dijawab secara benar, agar tes terlewati dengan lancar. Sesuai dengan ulasan di atas dalam perekrutan karyawan PT. FIF Cabang Jambi telah dilakukan seleksi dan analisis jabatan seperti disyaratkan dalam prinsip pengendalian intern. Calon karyawan harus melewati semua langkahlangkah yang telah ditetapkan perusahaan untuk menjadi karyawan. Karyawan yang diterima oleh perusahaan terlebih dahulu akan dikontrak oleh perusahaan yang artinya karyawan tidak langsung diterima langsung menjadi karyawan tetap tetapi dikontrak dengan jangka waktu tertentu, yaitu tiga bulan. Setelah itu apabila kinerjanya baik maka kontrak akan diperpanjang oleh perusahaan. Di samping itu, karyawan PT. FIF Cabang Jambi telah mengembangkan pendidikan bagian karyawannya. 5. Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dari fungsi setiap unit organisasi. Pembagian tugas dan tanggung jawab fungsional serta pelaksanaan sistem otorisasi dan prosedur pencatatan yang telah ditetapkan tidak akan terlaksana dengan baik. Jika tidak diciptakannya cara-cara untuk menjamin praktek yang sehat dalam pelaksanaannya. Berikut penerapan elemen praktik yang sehat yang telah dilaksanakan oleh PT. FIF Cabang Jambi :

50 1. Perusahaan telah menggunakan rekening koran yang merupakan laporan untuk mengetahui saldo kasnya yang ada di bank. 2. Untuk pengeluaran kas yang jumlahnya relatif kecil dan rutin terjadi perusahaan telah menyelenggarakan kas kecil. 3. Semua transaksi pengeluaran dan pemasukan kas dikendalikan oleh bagian kasir dan bagian finance beserta bawahanya, sesuai tugas dan wewenang masing-masing.

3.3.

Sistem pengendalian intern Terhadap pengeluaran kas pada PT. FIF Cabang Jambi.

Sistem pengendalian intern pengeluaran kas pada PT. FIF Cabang Jambi. Perusahaan ini didasarkan pada unsur-unsur pengendalian intern pengeluran kas. Unsur-unsur tersebut perlu diterapkan untuk mengurangi resiko terjadinya kesalahan ataupun penggelapan terhadap aktivitas transaksi pengeluaran kas perusahaan. 1. Struktur organisasi yang memisahkan tanggung jawab secara tegas. PT. FIF Cabang Jambi mempunyai struktur organisasi yang lurus yaitu berdasarkan atas kedudukan wewenang dan tanggung jawab. Struktur organisasi merupakan panduan bagi setiap karyawan bagi setiap karyawan dalam melaksanakan tugas dan wewenangnya. Dari struktur organisasi terlihat fungsi kasir dengan fungsi keuangan (finance) dipisahkan secara tegas. Hal ini sesuai dengan unsur pengendalian

50

51 intern, dimana salah satunya adalah ada pemisahan tugas fungsional secara tegas antara kedua fungsi yang berkaitan. Tugas pemisahan secara tegas menjadikan terdapatnya dua pihak yang memegang data mutasi kas perusahaan sehingga catatan aktivitas kas perusahan dapat diawasi dengan baik yang artinya catatan akuntansi yang diselenggarakan fungsi keuangan dapat berfungsi sebagai pengawasan semua mutasi kas yang disimpan oleh fungsi kas. Sehingga dengan adanya pemisahan tugas ini akan menghasilkan informasi yang wajar dan dapat dipercaya serta mengurangi kesempatan manipulasi pencatatan. 2. Sistem dan prosedur pencatatan yang memberikan perlindungan yang cukup terhadap kekayaan, utang, pendapatan, dan biaya. Dalam organisasi transaksi hanya terjadi atas dasar otorisasi dari pejabat yang berwenang untuk mensetujui terjadinya transaksi tersebut. Dengan demikian otorisasi akan menjamin dihasilkan dokumen yang dapat dipercaya sehingga menghasilkan pencatatan yang dapat dipercaya dan teliti. PT. FIF Cabang Jambi dalam sistem otorisasi dan prosedur pencatatan telah dilaksanakan sesuai dengan unsur- unsur pengendalian intern yaitu : 1. Pada perusahaan transaksi pengeluaran kas hanya boleh dilakukan setelah mendapat otorisasi dari pejabat yang berwenang yaitu kepala cabang dan bagian finance. 2. Pencatatan dalam Laporan hasil harian pada perusahaan telah mendapat otorisasi dari pejabat yang berwenang dengan membubuhkan tanda tangan kepala cabang dan finance.

52 Pengeluaran kas hanya bersumber dari penerimaan angsuran, karena perusahaan bergerak dalam pembiayaan Konsumen yaitu kegiatan pembiayaan untuk pengadaan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan sistem pembayaran angsuran atau berkala oleh konsumen. 3. Praktek yang sehat dalam melaksanakan tugas dan fungsi unit organisasi. PT. FIF Cabang Jambi dalam melaksanakan praktik yang sehat pada pengeluaran kas yang telah dilaksanakan sesuai dengan unsur-unsur pengendalian intern di antaranya : 1. Semua transaksi dipertanggung jawabkan oleh bagian finance salah satunya memakai invoice dimana permintaan dana, dicairkan melalui cash, bank, atau orang bersangkutan. Pengawasan ini dilakukan oleh bagian finance. 2. Setiap pengluaran kas perusahaan file dikirim ke Head Office, lalu Report. Dalam ini merupakan langkah preventif terhadap kemungkinan

penyelewengan penggunaan kas serta memastikan dan keandalan data informasi akuntansi. 3. Semua kwitansi bukti pengeluaran kas telah bernomor urut dan dibubuhi tanda tangan pihak yang berwewenang. Hal ini merupakan tindakan untuk mengantisipasi penggandaan kwitansi dan tindakan kecurangan kas perusahaan. 4. Perusahaan telah menggunakan rekening koran untuk mengetahui saldo kasnya yang ada dibank, selanjutnya dilakukan rekonsilias bank.

52

53 5. Untuk pengeluaran kas yang jumlahnya relatif kecil dan rutin terjadi, perusahaan telah menyelenggarakan dana kas kecil. Namun masih terdapat kelemahan di PT. FIF Cabang Jambi yang menyebabkan pelaksanaan praktik yang sehat dalam aktivitas pengluaran kas belum dilaksanakan sesuai dengan unsurunsur pengendalian intern di antaranya : 1. Tidak adanya pencocokkan fisik kas yang ada ditangan dengan jumlah menurut catatan kas perusahan secara periodik, agar kemungkinan penggelapan kas perusahaan. 2. Perusahaan tidak menyelanggarakan Laporan bulanan pengluaran kas baik buku besar atau laporan lainya, agar semua transaksi pengeluaran dapar terdeteksi secara lugas dalam periode bulan tertentu. Sehingga tidak terjadinya penyelewengan terhadap kas perusahaan. 4. Karyawan yang mutunya sesuai tanggung jawab PT. FIF Cabang Jambi belum sepenuhnya memiliki karyawan yang mutunya sesuai dengan tanggung jawab. Hali ini dapat dilihat dari perusahaan merekrut karyawan memiliki latar belakang tidak sesuai dengan pendidikan tidak terjadinya

pekerjaanya. Dalam penarikkan karyawan pada PT. FIF Cabang Jambi Perusahaan telah melakukan seleksi dan analisis jabatan yang telah disyaratkan oleh prinsip pengendalian intern, diutamakan calon karyawan yang telah memiliki pengalaman kerja dalam bidangnya. Di samping itu untuk karyawan perusahaan telah melaksanakan pengembangan pendidikan untuk mengembangkan kinerjanya bagi karyawan selama menjadi karyawan tetap.

54 BAB IV PENUTUP

4.1.

Kesimpulan Berdasarkan uraian teori dan pembahasan tentang sistem pengendalian

intern terhadap pengluaran kas pada PT. FIF Cabang Jambi, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Sistem pengendalian intern PT. FIF Cabang Jambi. Dalam struktur organisasi perusahaan tersebut terdapat adanya pemisahan tugas dan wewenang yaitu kasir dan bagian finance (keuangan). 2. Sistem dan prosedur pencatatan yang dilaksanakan PT. FIF Cabang Jambi belum sesuai dengan unsur pengandalian intern. Hal ini dilihat dari tidak diselenggarakannya laporan bulanan atau laporan lainnya yang

menimbulkan setiap pengeluaran dalam satu bulan tertentu tidak dapat diketahui secara keseluruhan. 3. Perusahaan telah mengasuransikan kas sesuai unsur pengendalian intern. Untuk menghindari resiko kerugian akibat penyelewengan kas, dan pencurian atau perampokan. 4. Perusahaan telah menggunakan nomor urut untuk kwintansi, bukti pengeluaran kas, dan bukti kwitansi kas kecil sehingga mudah mengidentifikasi penetapan tanggung jawab formulir tersebut. 5. Dalam prosedur lainnya dalam PT. FIF Cabang Jambi telah menggunakan rekening koran yang merupakan informasi tentang kas perusahaan melalui bank dimana saldo kas harus sama dengan saldo bank atau di rekening 54

55 koran dan telah dilakukan rekonsiliasi bank. Hal ini sesuai dengan pengendalian intern, bertujuan untuk menjamin ketelitian dan keandalan data akuntansi menurut catatan-catatan kas perusahaan dan rekonsiliasi bank bertujuan untuk mengecek ketelitian pencatatan kas perusahaan. 6. Prosedur-prosedur lainnya dalam perusahaan PT. FIF Cabang Jambi untuk pengeluaran kas yang jumlahnya relatif kecil dan rutin, untuk hal ini perusahaan menggunakan dana kas kecil, menghindari perusahaan. terjadi penyelewengan atau dengan tujuan untuk penggelapan dana kas

4.2.

Saran Berdasarkan penjelasan pada bab sebelumnya, maka dapat dikemukakan

beberapa saran untuk meningkatkan sistem pengendalian terhadap pengeluaran kas adalah sebagai berikut : 1. Sebaiknya perusahaan menyusun laporan bulanan atau laporan lainnya dalam periode tertentu. Agar semua pengeluaran kas perusahaan dapat terdeteksi secara tegas. 2. Hendaknya perusahaan membangun sistem manajemen yang lebih baik lagi, sehingga pengendalian intern dapat berjalan dengan lebih baik pula. Misalnya, dapat dimulai dari sistem pengumpulan pengeluaran kas, sistem pencatatan yang dilakukan mungkin bisa jauh lebih dikembangkan.

56 3. Untuk memperoleh karyawan yang lebih berkompeten lagi sebaiknya perusahaan sering melakukan perkembangan pendidikan khusus sesuai dengan tugas dan tanggung jawab dalam perusahaan.

56

57 DAFTAR PUSTAKA

Al Haryono Yusuf, 1994, Dasar-Dasar Akuntansi Jilid Dua, Edisi Enam, STIE YKPN, Yogyakarta. Al Haryono Yusuf, 2001, Auditing (Pengauditan), Buku 1, STIE YKPN, Yogyakarta. Bambang Hartadi, 1990, Sistem Pengendalian Intern, BPFE, Yogjakarta. Chairul Marom, 2002, Sistem Akuntansi Perusahan Dagang, Cetakan III, Penerbit Grasindo, Jakarta. HS. Hadibroto dan Oemar Witarsa, 1984, Sistem Pengawasan Intern, Edisi Dua, LPEUI, Jakarta. M. Munandar, 1991, Pokok-Pokok Intermediate Accounting, Edisi Enam, Liberty, Yogjakarta M. Samsul,dan Mustofa, 1987, Sistem Akuntansi Pendekatan Manajerial, Edisi Satu, Liberty, Yogyakarta. Mardismo, 1986, Akuntansi Keuangan Dasar II, Edisi Satu, BPFE, Yogyakarta. Mulyadi, 1997, Sistem Akuntansi, Edisi III, Penerbit Salemba Empat, Jakarta. Narko, 2004, Sistem Akuntansi, Cetakan IV, Yayasan Pustaka Nusatama, Yogyakarta. Soermarso S.R, 2004, Akuntansi Suatu Pengantar, Edisi V, Salemba Empat, Jakarta. Zaki Bariwan, 1995, Intermediate Accounting, BPFE, Yogyakarta.