Anda di halaman 1dari 27

KARAKTERISTIK FRAKTUR IGA DAN HUBUNGAN CEDERA ORGAN PENYERTANYA TERHADAP ANGKA MORTALITAS DI RSUP Dr.

HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE 1 JANUARI 2011 31 DESEMBER 2011


Hendra Cipta, Rama Nusjirwan Sub Bagian Bedah Kardiotorasik, RS. Hasan Sadikin Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran Bandung

ABSTRAK
Latar Belakang : Insiden penderita trauma toraks di Amerika Serikat diperkirakan 12 penderita per seribu populasi per hari dan kematian yang disebabkan oleh trauma toraks sebesar 20-25%

Tujuan: Untuk mengetahui karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia, lokasi cedera, cedera penyerta, komplikasi paru-paru, lamanya perawatan, serta hubungan cedera organ yang menyertainya dengan angka mortalitas pada pasien dengan fraktur iga di RS Hasan Sadikin Bandung . Metode: Penelitian ini dilakukan secara retrospektif di Subbagian Bedah Kardiotorasik RS Hasan Sadikin Bandung mulai Januari 2011 sampai Desember 2011 dengan menggunakan analisis chi square.

Hasil : Pada periode Januari 2011 sampai Desember 2011 didapatkan 54 kasus fraktur iga dengan usia rata-rata pasien adalah 29,8 tahun yang berkisar pada rentang 12-71 tahun dimana fraktur iga terjadi pada 68,5% laki laki dan 31,5 % pada wanita. Iga yang mengalami fraktur ditemukan bahwa iga 3-9 mengalami kemungkinan sekitar 77 % mengalami fraktur pada trauma toraks. Didapatkan fraktur terjadi pada aspek posterior (77%), bagian lateral sekitar 21 % dan terjadi pada rongga torak bagian kiri (46%) dan kanan (51%). Fraktur iga 82% menyebabkan terjadi komplikasi terhadap paru paru dengan penyebab trauma tumpul pada rongga toraks (98%). Fraktur iga diikuti dengan kejadian cedera pada organ lain 75,6 % (41 kasus). Angka kematian pada trauma dengan fraktur iga berkisar 9,3% Distribusi pasien sesuai dengan masa rawat pasien menunjukkan < 14 hari sebesar 64,5%. Fraktur iga dengan diikuti cedera penyerta mempunyai hubungan tidak bermakna dengan angka mortalitas (p=0.215, odd ratio: 3,42) tetapi resiko terjadinya mortalitas 3,42 kali lebih besar bila diikuti dengan cedera penyerta (trauma kepala, abdomen, ekstremitas, saluran kemih).

Kesimpulan: Didapatkan 54 kasus fraktur iga, terbanyak pada laki laki pada iga 4-9 aspek posterior rongga toraks kanan. Penyebab cedera akibat trauma tumpul torak dengan 75,6% diikuti cedera pada organ lain.. Angka mortalitas sebesar 9,3% dan 3,42 kali lebih besar terjadi bila diikuti dengan cedera penyerta. Cedera organ penyerta yang terjadi pada pasien dengan fraktur iga tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan mortalitas.

Kata Kunci : fraktur iga, trauma tumpul toraks

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Trauma adalah penyebab kematian terbanyak pada dekade 3 kehidupan diseluruh kota besar didunia dan diperkirakan 16.000 kasus kematian akibat trauma per tahun yang disebabkan oleh trauma toraks di Amerika. Sedangkan insiden penderita trauma toraks di Amerika Serikat diperkirakan 12 penderita per seribu populasi per hari dan kematian yang disebabkan oleh trauma toraks sebesar 20-25% . Dan hanya 10-15% penderita trauma tumpul toraks yang memerlukan tindakan operasi, jadi sebagian besar hanya memerlukan tindakan sederhana untuk menolong korban dari ancaman kematian.1,2 Berdasarkan hal diatas maka penelitian ini dilakukan Untuk mengetahui karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia, lokasi cedera, cedera penyerta,

komplikasi paru-paru, lamanya perawatan dan angka kematian, pada pasien dengan fraktur iga di RS Hasan Sadikin Bandung secara khusus, sehingga diharapkan data ini dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan kasus fraktur iga di RSHS.

1.2

Rumusan Masalah 1. Bagaimana karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia, lokasi cedera, cedera penyerta, komplikasi paru-paru, lamanya perawatan dan angka kematian, pada pasien dengan fraktur iga di RS Hasan Sadikin Bandung. 2. Bagaimanakah hubungan mortalitas dengan cedera penyerta pada paasien dengan fraktur iga?

1.3

Tujuan Penelitian a. Untuk mengetahui karakteristik berdasarkan jenis kelamin, usia, lokasi cedera, cedera penyerta, komplikasi paru-paru, lamanya perawatan dan angka kematian, pada pasien dengan fraktur iga di RS Hasan Sadikin Bandung. b. Untuk mengetahui hubungan mortalitas dengan cedera penyerta pada pasien dengan fraktur iga di RS Hasan Sadikin Bandung.

1.4

Kegunaan Penelitian a. Teoritis Didapatkan suatu data mengenai karakteristik fraktur iga di RS Hasan Sadikin Bandung b. Praktis Untuk mendapatkan suatu hasil penelitian yang dapat dijadikan salah satu acuan di dalam pengelolaan kasus-kasus fraktur iga di RS Hasan Sadikin Bandung

BAB II TINJAUN PUSTAKADAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1

Anatomi dan Fisiologi2,3

Tulang iga atau iga jumlahnya 12 pasang (24 buah), kiri dan kanan, bagian depan berhubungan dengan tulang dada dengan perantaraan tulang rawan. Bagian belakang berhubungan dengan ruas-ruas vertebra torakalis dengan perantaraan persendian. Perhubungan ini memungkinkan tulang-tulang iga dapat bergerak kembang kempis menurut irama pernapasan. Tulang iga dibagi tiga macam: a. Iga sejati (os igavera), banyaknya tujuh pasang, berhubungan langsung dengan tulang dada dengan perantaraan persendian. b. Tulang iga tak sejati (os iga spuria), banyaknya tiga pasang, berhubungan dengan tulang dada dengan perantara tulang rawan dari tulang iga sejati ke- 7. c. Tulang iga melayang (os iga fluitantes), banyaknya dua pasang, tidak mempunyai hubungan dengan tulang dada. Berfungsi dalam sistem pernapasan, untuk melindungi organ paru-paru serta membantu menggerakkan otot diafragma didalam proses inhalasi saat

bernapas.Setelah tulang iga terdapat lapisan otot pektoralis mayor dan minor merupakan otot utama dinding anterior thorax.Muskulus latisimus dorsi, trapezius, rhomboideus, dan muskulus gelang bahu lainnya membentuk lapisan muskulus posterior dinding posterior thorax.Tepi bawah muskulus pectoralis mayor membentuk lipatan/plika aksilaris posterior.

Setelah lapisan otot.rongga dada berisi organ vital paru dan jantung, pernafasan berlangsung dengan bantuan gerak dinding dada. Inspirasi terjadi karena kontraksi otot pernafasan yaitu muskulus interigalis dan diafragma, yang menyebabkan rongga dada membesar sehingga udara akan terhisap melalui trakea dan bronkus.Paru-paru dilapisi oleh pleura.dimana lapisan ini adalah membran aktif yang disertai dengan pembuluh darah dan limfatik.Disana terdapat pergerakan cairan, fagositosis debris, menambal kebocoran udara dan kapiler. Pleura viseralis menutupi paru dan sifatnya sensitif, pleura ini berlanjut sampai ke hilus dan mediastinum bersama sama dengan pleura parietalis, yang melapisi dinding dalam thorax dan diafragma. Pleura sedikit melebihi tepi paru pada setiap arah dan sepenuhnya terisi dengan ekspansi paru paru normal, hanya ruang potensial yang ada. Rongga toraks dibentuk oleh suatu kerangka dada berbentuk kubah yang tersusun dari tulang otot yang kokoh dan kuat, namun dengan konstruksi yang lentur dan dengan dasar suatu lembar jaringan ikat yang sangat kuat yang disebut.Diafragma bagian muskular perifer berasal dari bagian bawah iga keenam kartilago iga, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung lumboigal, bagian muskuler melengkung membentuk tendo sentral.Nervus frenikus mempersarafi motorik dari interigal bawah mempersarafi sensorik. Diafragma yang naik setinggi putting susu, turut berperan dalam ventilasi paru paru selama respirasi biasa / tenang sekitar 75%.

2.2

Patofisiologi3,5 Fraktur iga dapat terjadi akibat trauma yang datangnya dari arah depan, samping ataupun dari arah belakang. Trauma yang mengenai dada biasanya akan menimbulkan trauma iga, tetapi dengan adanya otot yang melindungi iga pada dinding dada, maka tidak semua trauma dada dapat terjadi fraktur iga. Pada trauma 5

langsung dengan energi yang hebat dapat terjadi fraktur iga pada tempat traumanya. Pada trauma tidak langsung, fraktur iga dapat terjadi apabila energi yang diterimanya melebihi batas toleransi dari kelenturan iga tersebut, seperti pada kasus kecelakaan dimana dinding dada terhimpit dari depan dan belakang, maka akan terjadi fraktur depan dari angulus iga, dimana pada tempat tersebut merupakan bagian yang paling lemah. Letak fraktur iga juga sangat ditentukan dari arah benturan dan lengkungan iga, Hinton dan Steiner mengamati fraktur iga: a) Iga 5 dan 9 menerima akibat benturan yang paling berat. b) Fraktur yang terjadi pada bagian tengah biasanya disebabkan dari trauma tidak langsung akibant mendekatnya kedua ujung iga sehingga kelengkungan iga bertambah. c) Trauma langsung biasanya menyebabkan terjadinya fraktur satu atau lebih tulang iga dan bianya terjadi robekan pleura dan jaringan paru. Adanya fraktur iga 1-2 yang merupakan iga yang terlindung oleh sendi bahu, otot leher bagian bawah dan klavikula, mempunyai makna bahwa fraktur tersebut biasanya diakibatkan oleh trauma langsunng dengan energi yang hebat. Pada fraktur daerah ini perlu dipikirkan kemungkinan adanya komplikasi berupa cedera terhadap vasa dan saraf yang melewati apertura superior. Fraktur iga 4-9 biasanya akan mengakibatkan cedera terhadap vasa dan nervus intercostalis dan juga parenkim paru, ataupun terhadap organ yang terdapat pada mediastinum, sedangkan fraktur iga 10-12 perlu dipikirkan kemungkinan adanya cedera pada diafragma dan organ intrabdominal seperti hepar, lien, lambung ataupun usus besar.

2.3

Klasifikasi3 Menurut jumlah iga yang mengalami fraktur dapat dibedakan: a) Fraktur simple b) Fraktur multiple Menurut jumlah fraktur pada setiap iga dapat dibedakan: a) Fraktur segmental b) Fraktur simple c) Fraktur comminutif Menurut letak fraktur fraktur dibedakan: a) Superior (iga 1-3) b) Median( costa 4-9) c) Inferior (costa 10-12). Menurut posisi dibedakan : a) Anterior b) Lateral c) Posterior

2.4

Diagnosis 2,4,6 Sebanyak 25% dari kasus fraktur iga tidak terdiagnosis, dan baru terdiagnosis setelah timbul komplikasi seperti hematothoraks dan pneumotoraks.Hal ini dapat terjadi pada olahragawan yang memiliki otot dada yang kuat dan dapat mempertahankan posisi fragmen tulangnya.Nyeri merupakan keluhan yang paling sering dan biasanya menetap pada satu titik dan akan bertambah pada saat bernafas. 7

Pada saat inspirasi maka rongga dada akan mengembang dan keadaan ini akan menggerakkan fragmen iga yang patah, sehingga akan menimbulkan gesekan antara ujung fragmen dengan jaringan lunak sekitarnya dan keadaan ini akan menimbulkan rangsangan nyeri. Apabila fragmen iga ini menimbulkan kerusakan pada kerusakan pada vaskuler akan dapat menimbulkan hematotoraks, sedangkan bila fragmen iga mencederai parenkim paru-paru akan menimbulkan pneumotoraks.Pada anak dapat terjadi cedera paru maupun jantung, meskipun tidak dijumpai fratur iga. Keadaan ini disebabkan iga masih sangat lentur sehingga energi trauma langsung mengenai jantung ataupun paru-paru.

2.5

Pemeriksaan penunjang 2,3 Pemeriksaan mendiagnosis rontgen anteroposterior dan lateral ataupun dapat membantu paru.

adanya

hematotoraks,

pneumotoraks

kontusio

Pemeriksaan ini akan dapat mengetahu jenis dan letak fraktur iga. Pemeriksaan foto obliq hanya dapat membantu diagnosis fraktur multipel pada orang dewasa, rontgen abdomen apabila ada kecurigaan trauma abdomen yang mencederai hati, lambung ataupun limpa akan menimbulkan gambaran peritonitis, sedangkan pada kasus yang sulit didiagnosis dapat dilakukan dengan CT-Scan.

2.6

Penatalaksanaan

Pada fase akut, pasien harus istirahat dan tidak melakukan aktivitas fisik sampai nyeri dirasakan hilang oleh pasien. Pemberian oksigen membantu proses bernapas. Namun tidak dianjurkan dilakukan pembebatan karena dapat mengganggu mekanisme 8

bernapas.Pengobatan yang diberikan analgesia untuk mengurangi nyeri dan membantu pengembangan dada morphine sulfate, hidrokodon atau kodein yang dikombinasi dengan aspirin atau asetaminofen setiap 4 jam. Blok nervus intercostalis dapat digunakan untuk mengatasi nyeri berat akibat fraktur igadengan bupivakain (Marcaine) 0,5% 2 sampai 5 ml, diinfiltrasikan di sekitar nervus intercostalis pada iga yang fraktur serta igadi atas dan di bawah yang cedera. Tempat penyuntikan di bawah tepi bawahiga antara tempat fraktur dan prosesus spinosus dan jangan sampai mengenai pembuluh darah interigalis dan parenkim paru.

Tujuan pengobatan adalah untuk mengontrol nyeri dan untuk mendeteksi serta mengatasi cedera.Sedasi digunakan untuk menghilangkan nyeri dan memungkinkan napas dalam dan batuk.pemberian ini harus hati-hati untuk menghindari oversedasi dan menekan dorongan bernapas.Strategi alternatif untuk menghilangkan nyeri termasuk penyekat saraf intercosta dan es di atas tempat fraktur, korset dada dapat menurunkan nyeri saat bergerak.Biasanya nyeri dapat diatasi dalam 5 sampai 7 hari dan rasa tidak nyaman dapat dikontrol dengan analgesia apidural, analgesia yang dikontrol pasien, atau analgesia non-opioid.Kebanyakan fraktur iga menyembuh dalam 3 sampai 6 minggu.Pasien dipantau dengan ketat terhadap tanda-tanda dan gejala yang berkaitan dengan cedera.

Setelah nyeri berkurang, lakukan latihan fisik dengan ahli fisioterapi pada keadaan fraktur yang tidak terlalu berat kemudian dilakukan peghisapan mukus. Pada keadaan fraktur yang sangat buruk seperti pada flalilchest, kasus ini membutuhkan pembedahan traksi pada bagian dinding dada yang mengambang, bila keadaan penderita stabil dapat dilakukan stabilisasi dinding dada secara operatif.2,5,6

BAB III SUBJEK DAN METODOLOGI PENELITIAN

3.1

Subjek Penelitian Pasien dengan fraktur iga yang datang berobat ke Unit Gawat Darurat Bedah RS.Hasan Sadikin, Bandung.

Kriteria Inklusi Pasien dengan fraktur iga pada dewasa Fraktur iga dengan kontusio paru Fraktur iga disertai atau tidak dengan cedera kepala, trauma abdomen, ekstremitas, dan saluran kemih Kriteria Eksklusi Tidak ada

Besar Sampel Semua pasien fraktur iga selama kurun waktu penelitian yaitu sebesar 54 kasus.

3.2 3.3.1

Metode Penelitian Desain Penelitian Penelitian ini adalah penelitian deskriptif pada pasien fraktur iga untuk mengetahui karakteristik jenis kelamin, usia, lokasi cedera, cedera penyerta, komplikasi paru-paru, lamanya perawatan dan angka kematian, pada pasien dengan fraktur iga.Datanya diambil secara retrospektif dari arsip catatan medis penderita.

10

3.3.2

Identifikasi Variabel Variabel Desktriptif Umur, jenis kelamin, jumlah fraktur, cedera penyerta, komplikasi paru, mortalitas, dan lama rawat

Variabel Analisis Variabel bebas : cedera kepala, trauma tumpul abdomen, cedera ekstremitas, cedera saluran kemih Variabel terikat : mortalitas

3.3.3

Teknik dan Cara Pengumpulan Data Data diambil secara retrospektif dari rekam medis,,,dst. Dikumpulkan data jenis kelamin, usia, lokasi cedera, cedera penyerta, komplikasi paru-paru, lamanya perawatan dan angka kematian, pada pasien dengan fraktur iga.

3.3.4

Analisis Data Data dikelompokkan berdasarkan jenis kelamin, usia, lokasi cedera, cedera penyerta, komplikasi paru-paru, lamanya perawatan dan angka kematian, pada pasien dengan fraktur iga. Dilihat jumlah kasus dan presentasinya. Pada data numerik dihitung rerata dan simpangan baku. Hubungan antara cedera penyerta, yaitu trauma kepala, abdomen, ekstremitas,dan saluran kemih dengan mortalitas, dilakukan uji analisis menurut uji X2 untuk memperoleh nilai p dan rasio odds pada kemaknaan

11

95%. Nilai p bermakna bila p < 0,05. Perhitungan analisis menggunakan Program Portable IBN SPSS v. 19.

3.3

Tempat dan Waktu Penelitian 3.2.1. Tempat Penelitian

Unit Gawat Darurat sub bagian bedah RS.Hasan Sadikin Bandung. 3.2.2. Waktu Penelitian

Satu Januari 2011 sampai dengan 31 Desember 2011

12

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian

Pada periode Januari 2011 sampai Desember 2011 didapatkan 54 kasus fraktur iga dengan usia rata-rata pasien adalah 29,8 tahun yang berkisar pada rentang 12-71 tahun.

Tabel 1Distribusi berdasarkan jenis kelamin pasien fraktur iga periode Januari 2011 sampai Desember 2011 Jenis kelamin Laki laki Perempuan Jumlah kasus 37 17 54 % 68,5 31,5 100

Dari data demografi didapatkan hasil fraktur iga terjadi pada 68,5% laki laki dan 31,5 % pada wanita. Hal ini sesuai dengan dengan literatur bahwa trauma toraks umumnya terjadi pada laki-laki. Penelitian yang dilakukan oleh Yung dkk juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh (70,1%) pada laki-laki.

13

Tabel 2Distribusiberdasarkan nomor iga pasien dengan fraktur iga periode Januari 2011 sampai Desember 2011 Lokasi Iga 1 Iga 2 Iga 3 Iga 4 Iga 5 Iga 6 Iga 7 Iga 8 Iga 9 Iga 10 Iga 11 Iga 12 Jumlah kasus 3 16 22 27 35 31 30 24 20 8 0 0 216 % 1,3 7,4 10,1 12,5 16,2 14,3 13,8 11,1 9,3 3,7 0 0 100

Berdasarkan nomor iga yang mengalami fraktur ditemukan bahwa iga 3-9 memiliki kecenderungan lebih sering mengalami fraktur.Berdasarkan klasifikasi dapat dibagi menjadi aspek media (iga 4-9) mengalami kemungkinan sekitar 77 % mengalami fraktur pada trauma toraks.Pada ke 54 kasus tidak ditemukan terjadinya fraktur iga 11-12.

14

Tabel 3Distribusi lokasi fraktur iga selama periode Januari 2011 - Desember 2011 Klasifikasi Anterior Lateral Posterior Segmental Jumlah kasus 2 14 40 3 59 % 3,3 21,4 77 5 100

Berdasarkan pembagian lokasi anatomi fraktur iga didapatkan fraktur terjadi pada aspek posterior (77%), bagian lateral sekitar 21 % sedangkan bagian anterior hanya terjadi pada 2 kasus, fraktur segmental terjadi hanya pada 3 kasus.

Tabel 4Distribusi lokasi fraktur iga pada rongga torak selama periode Januari 2011 Desember 2011 Klasifikasi Kiri Kanan Bilateral Jumlah kasus 25 28 1 54 % 46,2 51,8 1,8 100

Berdasarkan data diata menunjukkan angka yang tidak jauh berbeda kejadian fraktur iga pada rongga torak bagian kiri (46%) dan kanan (51%).Lokasi ini penting diketahui karena kita harus mencurigai terjadi cedera pada liver apabila fraktur iga terjadi di kanan bawah, dan cedera lien apabila pada kiri bawah. 15

Tabel 4Distribusi jumlah fraktur yang terjadi pada pasien dengan fraktur iga pada periode Januari 2011 sampai Desember 2011

Jumlah 1-3 4-6 >6

Jumlah kasus 26 18 10 54

% 48,2 33,3 18,5 100

Rerata: 3,87 dengan SD: 2,4 dengan p=0,001 (distribusi normal) Berdasarkan jumlah terjadinya fraktur paling banyak hanya melibatkan 1-3 tulang iga, dengan angka 48% kejadian fraktur dengan > 6 iga hanya sekitar 18,5%. Fraktur iga yang terbanyak pada penelitian ini adalah fraktur yan melibatkan 2 iga sebanyak 11 kasus. Dari keseluruhan kasus di RSHS rata-rata jumlah fraktur yang terjadi sebanyak 3,87.

Tabel 5Distribusi komplikasi paru yang terjadi pada pasien fraktur iga periode Januari 2011 sampai Desember 2011 Komplikasi Pneumotoraks Hemotoraks Hemopneumotoraks Kontusio paru Tidak ada Jumlah kasus 9 18 10 14 11 62 % 14,5 29 16,1 22,5 17,7 100 16

Berdasarkan tabel didapatkan bahwa fraktur iga 82% menyebabkan terjadi komplikasi terhadap paru-paru. Angka kejadian pneumotoraks, hematotoraks,, hematotoraks dan konstusio paru menunjukkan angka yang relatif berimbang. Hanya 17 % kejadian fraktur iga yang tidak menimbulkan komplikasi paru-paru.

Tabel 6Distribusi penyebab terjadinya fraktur iga periode Januari 2011 sampai Desember 2011 Penyebab Trauma Tumpul Kecelakaan lalu lintas Jatuh Pukulan Trauma Tajam 35 5 13 1 54 64 9,2 24 1,8 100 Jumlah Persentase

Berdasarkan data didapatkan bahwa fraktur iga disebabkan oleh trauma tumpul pada rongga toraks (98%) dan hanya 2% kasus disebabkan trauma tajam. Trauma tumpul ini disebabkan 64 % karena kecelakaan lalu lintas (31% pengendara motor, 4 % pengendara mobil), karena jatuh dari ketinggian sebesar 9,2% dan akibat pukulan benda keras ataupun benturan dengan energy yang cukup besar sekitar 24%.

17

Tabel 7Distribusi cedera penyerta fraktur iga (co existing injuries) periode Januari 2011 sampai Desember 2011 Cedera Cedera kepala Cedera abdomen Cedera Ginjal & traktus urinarius Fraktur tulang ekstremitas Fraktur maksilofasial Jumlah 4 13 10 22 1 Persentase 7 24 18,5 40 1,8

Trauma tumpul torak merupakan penyebab terjadinya fraktur iga yang paling sering terjadi.Pola terjadinya fraktur iga ini disebabkan adanya gerakan deselerasi yang sangat cepat terutama pada kejadian kecelakaan lalu lintas. Maka pada umumnya fraktur iga diikuti dengan kejadian cedera pada organ lain, pada penelitian ini didapatkan 75,6 % (41 kasus) selalu diikuti cedera organ lain, dan hanya 24,4 % (13) yang tidak diikuti cedera pada organ lain.

Tabel 8.Distribusi follow up pada pasien dengan fraktur iga pada periode januari 2011 sampai Desember 2011 Follow up Rawat inap LOS < 14 hari LOS 14 hari Meninggal Pulpak Jumlah 48 31 17 5 1 Persentase 88,8 64,5 35,5 9,3 1,9 18

Berdasarkan data diatas diketahui bahwa angka kematian pada trauma dengan fraktur iga berkisar 9,3% . Hal ini sangat berkaitan dengan faktor usia dimana 75 % (3 kasus) terjadi pada usia > 50 tahun., faktor cedera organ penyerta 75% (cedera kepala, abdomen, dan ginjal). Distribusi pasien sesuai dengan masa rawat pasien

menunjukkan < 14 hari sebsar 64,5%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Freda di RSHS yang menunjukkan angka LOS <14 hari sebsar 62,5 % pada pasien dengan trauma toraks.

Tabel 10 Analisis hubungan mortalitas dengan cedera penyerta pada fraktur iga Variabel Ya Cedera penyerta Ya Tidak 6 1 7 Mortalitas Tidak 29 18 47 35 19 54 Jumlah

Jumlah

Nilai p ( chi square test ) : 0,215; odd ratio 3,72

Pada analisa hubungan mortalitas dengan cedera penyerta menggunakan chi square didapatkan nilai p =0,215, jadi dapat diartikan bahwa cedera penyertai memiliki korelasi yang tidak bermakna sebagai penyebab kematian pada frakturi iga, namun didapatkan resiko kematian sebesar 3,72 kali besar tenjadi pada fraktur iga dengan cedera penyerta.

19

Tabel 11 Analisa hubungan jumlah fraktur iga dengan mortalitas Mortalitas Ya Jumlah fraktur 5 >5 Jumlah 7 0 7 Tidak 34 13 47 41 13 54 Jumlah

Nilai p ( chi square test ) : 0,11; odd ratio 0.82

Dari data ditemukan bahwa fraktur iga di bawah lima memiliki hubungan tidak bermakna dengan angka mortalitas pada penelitian ini, tetapi memiliki resiko sebesar 0,82 kali dapat meningkatkan angka mortalitas.

4.2 Pembahasan Dari data demografi didapatkan hasil fraktur iga terjadi pada 68,5% laki laki dan 31,5 % pada wanita. Hal ini sesuai dengan literatur bahwa trauma toraks

umumnya terjadi pada laki-laki. Penelitian yang dilakukan oleh Yung dkk juga menunjukkan hasil yang tidak berbeda jauh (70,1% pada laki-laki).5,9 Hal ini

didasarkan bahwa laki laki biasanya lebih aktif, lebih sering menggunakan kendaraan bermotor, dan lebih sering mengalami cedera daripada wanita meskipun pada Negaranegara yang memiliki kebudayaan yang berbeda. Penelitian yang dilakukan oleh Bergeron di Kanada juga mendapatkan hasil 66,1 % fraktur iga terjadi pada laki-laki.9 Berdasarkan nomor iga yang mengalami fraktur ditemukan bahwa iga 3-9 memiliki kecenderungan lebih sering mengalami fraktur.Berdasarkan klasifikasi dapat dibagi menjadi aspek media (iga 4-9) mengalami kemungkinan sekitar 77 % mengalami fraktur pada trauma toraks. Fraktur yang terjadi pada bagian tengah ini

20

disebabkan karena dari trauma tidak langsung akibat mendekatnya kedua ujung iga sehingga kelengkungan iga bertambah dan mudah mengalami fraktur. Posisi fraktur iga ini sangat membantu mengidentifikasi cedera yang mungkin terjadi pada spesifik organ. Fraktur iga bagian median dihubungkan dengan terjadi komplikasi pada parenkim paru, sedangkan pada bagian inferior biasanya dihubungkan dengan cedera organ abdominal atau cedera pada ginjal daripada parenkim paru. 3,9,11 Berdasarkan pembagian lokasi anatomi fraktur iga didapatkan fraktur terjadi pada aspek posterior (77%). Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Kleinmen mengenai biomekanika fraktur iga yang menunjukkan bahwa apabila terjadi kompresi anteroposterior pada rongga torak seperti yang terjadi pada trauma deselerasi pada kecelakaan lalu lintas maka angka terjadi fraktur iga aspek posterior bisa mencapai 80%.11 Fraktur segmental terjadi pada sekitar 5 % kejadian fraktur iga.Penyebab fraktur segmental ini biasanya terjadi akibat trauma pada dinding dada bagian lateral missal akibat pukulan benda keras dan benturan dengan energy yang sangat besar. Terjadinya fraktur segmental ini akan mnyebabkan terjadi pergerakan dinding dada yang paroksismal dan menimbulkan flail chest. Penelian yang dilakukan oleh Chang dkk menunjukkan angka terjadinya flail chest pada trauma toraks berkisar 3 % dengan angka mortalitas sebesar 11-40%.9 Berdasarkan jumlah terjadinya fraktur paling banyak hanya melibatkan 1-3 tulang iga, dengan angka 48% kejadian fraktur dengan > 6 iga hanya sekitar 18,5%. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sirmali dkk menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara jumlah fraktur iga dengan angka komplikasi yang terjadi. Penelitian lain yang dilakukan Kulshretha menyimpulkan bahwa fraktur lebih dari 5 iga dapat meningkatkan terjadinya angka mortalitas. Pada penelitian Lien dkk menunjukkan

21

bahwa fraktur lebih dari 6 iga memiliki kecenderungan 3 kali lebih banyak menyebabkan terjadinya mortalitas.7,8,9 Analisa pada penelitian ini menunjukkan hal yang tidak sesuai dengan yang ditemukan di literature dimana pada penelitian ini fraktur iga lebih dari 6 memiliki hubungan yang tidak bermakna dengan mortalitas. Berdasarkan komplikasi yang terjadi pada paru-paru didapatkan bahwa

fraktur iga 82% menyebabkan terjadi komplikasi. Angka kejadi pneumotoraks, hematotoraks,, hematotoraks dan konstusio paru menunjukkan angka yang relatif berimbang. Hanya 17 % kejadian fraktur iga yang tidak menimbulkan komplikasi paru-paru. Sebagai pembanding menurut data penelitian lain tentang trauma toraks tahun 2005 oleh Saman dkk dalam European Journal of Trauma menyebutkan komplikasi yang terbanyak adalah fraktur iga dengan kontusio paru pada 43% pasien,sedangkan dalam bukuTrauma tahun 2006 disebutkan bahwa trauma toraks paling sering berupa fraktur iga disertai pneumotoraks ( sebanyak 20% dari seluruh pasien trauma toraks).1,9,11 Berdasarkan data didapatkan bahwa fraktur iga disebabkan oleh trauma tumpul pada rongga toraks (98%) dan hanya 2% kasus disebabkan trauma tajam. Trauma tumpul ini disebabkan 64 % karena kecelakaan lalu lintas (31% pengendara motor, 4 % pengendara mobil), karena jatuh dari ketinggian sebesar 9,2% dan akibat pukulan benda keras ataupun benturan dengan energy yang cukup besar sekitar 24%. Hal ini sesuai dengan literatur; penelitian yang dilakukan Kuradayi dkk menunjukkan etiologi terjadinya fraktur iga 97,6% disebabkan oleh trauma tumpul toraks dengan penyebab kecelakaan lalu lintas sebesar 64,5%, jatuh sebesar 24% dan pukulan sebesar 9%.6,11 Berdasarkan data diatas diketahui bahwa angka kematian pada trauma dengan fraktur iga berkisar 9,3% hal ini sangat berkaitan dengan faktor usia dimana 75 % (3

22

kasus) terjadi pada usia > 50 tahun., factor cedera organ penyerta 75% (cedera kepala, abdomen, dan ginjal). Angka kematian ini lebih tinggi daripada yang terdapat pada literature, penelitian yang dilakukan oleh Chang dkk mendapatkan angka mortalitas fraktur iga sebanyak 4,4% yang juga diikuti penelitiandari Kuradayi dkk yang memperoleh angka 5,4%. Kedua penelitian ini juga mendapatkan data bahwa kematian umumnya terjadi pada penderita dengan usia lanjut (72%). Distribusi pasien sesuai dengan masa rawat pasien menunjukkan < 14 hari sebesar 64,5%. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Freda di RSHS yang menunjukkan angka LOS <14 hari sebsar 62,5 % pada pasien dengan trauma toraks.9,10Berdasarkan data penelitian ini didapatkan bahwa angka mortalitas memiliki hubungan yang tidak bermakna dengan terjadinya cedera penyerta tetapi memiliki angka resiko 3,42 lebih besar mengalami mortalitas.

23

BAB V KESIMPULAN

1. Pada periode Januari 2011 sampai Desember 2011 didapatkan 54 kasus fraktur iga dengan usia rata-rata pasien adalah 29,8 tahun yang berkisar pada rentang 12-71 tahun dimana fraktur iga terjadi pada 68,5% laki laki dan 31,5 % pada wanita. 2. Iga yang mengalami fraktur ditemukan bahwa iga 3-9 memiliki kecenderungan lebih sering mengalami fraktur. Berdasarkan klasifikasi dapat dibagi menjadi aspek media (iga 4-9) mengalami kemungkinan sekitar 77 % mengalami fraktur pada trauma toraks. Pada ke 54 kasus tidak ditemukan terjadinya fraktur iga 11-12. 3. Didapatkan fraktur terjadi pada aspek posterior (77%), bagian lateral sekitar 21 % sedangkan bagian anterior hanya terjadi pada 2 kasus, fraktur segmental terjadi pada 3 kasus; fraktur iga terjadi pada rongga torak bagian kiri (46%) dan kanan (51%). 4. Fraktur iga 82% menyebabkan terjadi komplikasi terhadap paru paru. Angka kejadi pneumotoraks, hematotoraks,, hematotoraks dan konstusio paru menunjukkan angka yang relative berimbang. Hanya 17 % kejadian fraktur iga yang tidak menimbulkan komplikasi paru-paru. 5. Fraktur iga disebabkan oleh trauma tumpul pada rongga toraks (98%) dan hanya 2% kasus disebabkan trauma tajam. Trauma tumpul ini disebabkan 64 % karena

kecelakaan lalu lintas (31% pengendara motor, 4 % pengendara mobil), karena jatuh dari ketinggian sebesar 9,2% dan akibat pukulan benda keras ataupun benturan dengan energy yang cukup besar sekitar 24%. 6. Fraktur iga diikuti dengan kejadian cedera pada organ lain, pada penelitian ini

didapatkan 75,6 % (41 kasus) selalu diikuti cedera organ lain, dan hanya 24,4 % (13) yang tidak diikuti cedera pada organ lain.

24

7. Angka kematian pada trauma dengan fraktur iga berkisar 9,3% hal ini sangat berkaitan dengan faktor usia dimana 75 % (3 kasus) terjadi pada usia > 50 tahun., factor cedera organ penyerta 75% (cedera kepala, abdomen, dan ginjal). Distribusi pasien sesuai dengan masa rawat pasien menunjukkan < 14 hari sebsar 64,5%. 8. Analisa angka mortalitas dengan cedera penyerta menunjukkan hubungan yang tidak bermakna, tetapi fraktur iga dengan cedera penyerta memiliki resiko 3,42 kali lebih besar mengalami mortalitas. 9. Korelasi antara jumlah fraktur iga < 5 dan mortalitas tidak ditemukan bermakna pada penelitian ini.

25

Daftar Pustaka

1. Mackenzie E, Fowler C; Epidemiology of trauma. Dalam : Feliciano D, Mattox K, Moore E, penyunting. Trauma. Edisi ke6. New York : McGraw-Hill & Companies ; 2008.Halaman78 2. De Jong W, Sjamsuhidajat. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi Revisi, penerbita buku Kedokteran EGC.1997; Jakarta 3. Rasjad C. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi. Penerbiy Bintang Lamupatue. 2003.Makasar 4. Biffl, Walter. Trauma. Dalam :Brunicardi C, penyunting. Schwartzs Principles of Surgery. New York : McGraw-Hill & Companies; 2008. Halaman134 5. Safari T,Nusjirwan R. PolaPasien Trauma Toraks di RS HasanSadikin 2009. Dibacakanpada MABI XVII di Manado bulanJuli 2010. 6. Livingston DH,Kauser C. Chest Wall & Lung. Dalam : Feliciano D, Mattox K, Moore E, penyunting. Trauma. New York : McGraw-Hill & Companies; 2008. Halaman1045 7. Ziegler DW, Agarwal NN. The morbidity and mortality of rib fractures. J Trauma. Dec 1994;37(6):975-9. 8. Bulger EM, Arneson MA, Mock CN, Jurkovich GJ. Rib fractures in the elderly. J Trauma. Jun 2000;48(6):1040-6; discussion 1046-7. 9. Yung, Chang Lien. Risk Factor for 24 hour mortality after traumatic rib fractures owing to motor Vehicle accident. Ann Thoracic Sur. 2009; 88: 1124-1130 10. Freda H , Tri Wahyu. Hubungan LIS dengan Komplikasi dan lama rawat Pasien Trauma toraks di RS HasanSadikin 2010.MKB Bandung. 2011. 11. Karadayi, nadir. An analysis of 214 cases of rib fracture. Clinics. 2011; 66:449-451

26

27

Anda mungkin juga menyukai