Anda di halaman 1dari 15

Kelompok - 1

1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15.

MIGRAIN merupakan rasa nyeri kepala yang berdenyut yang sering kali disertai dengan rasa mual dan muntah. Penderita biasanya akan sensitif terhadap cahaya, suara, bahkan bau-bauan. Kebanyakan orang yang menderita penyakit ini hanya merasakan sakit kepala sebelah.

Pusing

dan sakit di daerah kepala, dahi, dan mata, kadang leher pun terasa berat. Bagaimana pun, migrain bisa mengganggu aktifitas bekerja dan dapat menurunkan produktivitas bekerja atau membuat emosi menjadi labil.

Belum diketahui secara pasti faktor penyebabnya, stress dan perubahan aktivitas rutin disinyalir dapat menjadi pencetus lainnya adalah mengonsumsi makanan tertentu seperti cokelat, MSG, dan kopi. Tidur secara berlebihan ataupun kurang tidur juga dapat menjadikan kita terserang migrain, tidak makan, perubahan cuaca atau tekanan udara, tekanan emosi, bau yang sangat menyengat atau asap rokok, sinar yang sangat terang atau sinar matahari.

Istirahat. Penderita migrain biasanya peka cahaya. Redakan migrain dengan istirahat di tempat gelap dan tenang. Jauhi keramaian dan cahaya terang. Kompres dingin di bagian sakit. Dingin akan membantu menyempitkan pembuluh darah. Olahraga teratur seperti jalan santai. Terapi relaksasi, membantu mengatasi migrain pada pasien tertentu. Teknik relaksasi yang digunakan bisa yoga dan meditasi. Teknik pijatan tertentu juga dapat membantu mengatasi migrain. Hindari dehidrasi, karena kurang cairan memicu migrain.

Kolik

berasal dari kata dalam bahasa Yunani, kolikos, yang berarti usus. Selama lebih dari 50 tahun, ilmuwan dan dokter berusaha mencari penyebab kolik, tapi belum ditemukan secara pasti penyebabnya. Kolik berhubungan dengan ketidakmampuan sistem pencernaan bayi untuk mengurai makanannya. Kolik bayi adalah istilah yang dipakai untuk keadaan dimana bayi terus menerus menangis secara berlebihan.

Bayi tiba-tiba menangis keras dan sering terjadi pada waktu yang sama setiap harinya. Episode menangis bisa berlangsung selama beberapa menit bahkan hingga beberapa jam. Menangis secara berlebihan terutama dimalam hari, setelah minum atau pada waktu bangun. (Bayi dalam keadaan normal dan sehat selain waktu tertentu). Sukar sekali didiamkan pada waktu serangan Bayi bisa menjadi kemerah-merahan dan kaki diangkat-angkat.

Bayi

Ibu menghirup terlalu banyak udara tanpa bersendawa usus besar bayi bekerja terlalu keras untuk mengeluarkan kotoran dari tubuh Menelan udara selama menangis, makan atau menghisap jari. Pemberian makan yang berlebihan (baik berupa ASI maupun susu formula). Alergi khusus terhadap susu.

Perempuan

yang berusia 35 tahun keastas yang diketahui melahirkan bayi juga termasuk kelompok yang diperkirakan mengidap migrain selama hamil. Penyakit migrain biasanya tidak disamakan dengan penyakit kepala sebagai akibat tekanan tertentu. Perempuan yang tengah mengandung dan kemudian terkena migrain tidak disarankan untuk mengkonsumsi obat seperti aspirin meski itu mendapatkan rekomendasi dari ahli kesehatan.

Penelitian Dr.Cheryl Bushnell dari Duke University, North Carolina, AS,menemukan ada kaitan erat antara migrain dengan penyakit vascular (pembuluhdarah). Ibu hamil penderita migrain berisiko 19 kali terserang stroke, 5 kali terserang penyakit jantung, pembekuan darah dan problem vascular lainnya. Kelompok ibu hamil ini juga punya resiko hingga 2 kali lipat menderita preeklampsia Ibu dengan keluhan migrain menetap selama kehamilan, harus dievaluasi faktor-faktor risikonya, yaitu tekanan darah tinggi, diabetes dan penyakit jantung. Dr. Bushnell juga mengatakan, migrain dapat berhubungan dengan stroke. 27% dari seluruh kejadian stroke yang diderita ibu pada usia di bawah 45 tahun, berhubungan dengan migrain.

Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh para peneliti,bayi memiliki resiko 2,5 kali lebih besar memiliki resiko menderita kolik jika sang ibu penderita migrain. Peneliti dari University of California, San Fracisco meneliti 154 rekam medis ibu dan bayi mereka. Dr. Amy Gelfand seorang ahli syaraf pada anak melaporkan kepada American Academy if Neurolgy bahwa, "Karena migrain merupakan gangguan yang bersifat genetik, penelitian kami meneliti mengenai penyakit kolik pada bayi yang mungkin saja merupakan sinyal awal bahwa sang anak akan cenderung mengalami sakit kepala migrain kedepannya."

Para peneliti mengatakan bahwa mengetahui mengenai hal ini penting karena tangisan yang tidak di tekahui penyebabnya adalah salah satu pemicu umum timbulnya sindrom terguncangnya bayi, yang juga dapat menyebabkan kematian, kerusakan otak dan ketidakmampuan lainnya. Kolik atau tangisan bayi yang berlebihan telah lama diasosiasikan dengan masalah pencernaan, diperkirakan berhubungan dengan makanan yang dikonsumsi oleh bayi. Walaupun begitu, dengan penelitian lebih dari 50 tahun, tidak ditemukan adanya hubungan antara kolik bayi dengan masalah pencernaan. Ibu-ibu yang menjadi responden penelitian ini ditanyakan mengenai kebiasaan menangis bayi mereka dan sejarah penyakit migrain yang dimiliki, setelah itu laporan tersebut dianalisa untuk mengetahui apakah tangisan yang terjadi benar-benar karena kolik.

Dari penelitian tersebut juga didapatkan bahwa ibu yang menderita migrain memiliki resiko 2,5 kali lebih besar untuk memiliki anak yang menderita kolik. Secara keseluruhan ada 29 % bayi yang memiliki ibu penderita migrain dan mengalami kolik dibandingkan dengan jumlah 11 % bayi dimana sang ibu tidak menderita migrain. Dr.Gelfand dan kolega meyakini bahwa kolik merupakan sinyal awal untuk sebuah rangkuman kondisi yang dikenal dengan nama periode sindrom anak, yang dipercaya akan menerima warisan sakit kepala migrain di hidupnya. Bayi penderita kolik diketahui lebih sensitif terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya, sama seperti para penderita migrain. Kemungkinan mereka memiliki kesulitan menerima stimulus baru setelah masa kelahiran. Bayi yang terbiasa berada di tempat gelap, hangat dan sunyi seperti dalam kandungan sang ibu, tiba-tiba harus merasakan lingkungan yang terang, dingin, berisik dan penuh dengan sentuhan tangan serta tumbukan lutut.