Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN

Kesadaran pasien dan para profesional kesehatan tentang adanya bahaya potensial yang berkaitan dengan kontaminasi makin meningkat karena adanya publikasi dan usaha pendidikan mengenai penularan penyakit infeksi. Bukti-bukti menunjukkan bahwa tingkat resiko bagi dokter gigi dan stafnya berkaitan langsung dengan kontaknya terhadap darah. Oleh karena itu, bedah mulut atau prosedur yang lain yang mengakibatkan keluarnya darah menempatkan dokter gigi dan stafnya pada resiko tinggi, tidak hanya terhadap AIDS tetapi juga kondisi-kondisi lain yang disebabkan virus dalam darah misalnya hepatitis B. Infeksi bisa meyebar melalui kontak langsung dengan darah, saliva, tetesantetesan, aerosol, dan instrumen yang terkontaminasi. Karena semua pasien yang terinfeksi tidak bisa dengan mudah diidentifikasi, baik secara historik, pemeriksaaan fisik, maupun laboratorium, maka persiapan prabedah secara rutin harus digunakan pada semua pasien. Persiapan prabedah yang meliputi persiapan pasien, operator, alat-alat dan ruangan penting sekali untuk memperkecil resiko operasi karena hasil akhir suatu pembedahan sangat bergantung pada keadaan penderita dan persiapan prabedah. Persiapan prabedah itu sendiri tidak bisa dipisahkan dengan tindakan asepsis.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Persiapan bedah yang baik akan memberi pengaruh baik pula terhadap kondisi pasca operasi. Persiapan sebelum bedah sangat diperlukan untuk berbagai hal, diantaranya untuk indikasi operasi, untuk evaluasi dan mengatasi kecemasan pasien, untuk kejelasan hukum dan perjanjian, serta yang terpenting adalah untuk meminimalisir komplikasi pada pasien setelah pembedahan dilaksanakan. Tidak semua operasi membutuhkan langkah-langkah persiapan yang sama. Ada operasi yang memerlukan persiapan yang mendetail dengan memerlukan waktu beberapa hari, dari persiapan fisik dengan pemeriksaan laboratorium, rontgen, jantung dan lain-lain bahkan hingga menentukan hari baik dalam pelaksanaannya. Persiapan prabedah ini erat kaitannya dengan komunikasi yang baik antara dokter dan pasien. Komunikasi antara dokter dan pasien ini dapat memastikan bahwa pasien benar-benar memahami masalah yang ada, mengapa tindakan operasi ini diambil, dan hasil operasi yang diharapkan. Waktu khusus antara dokter dan pasien serta keluarga pasien merupakan unsur penting dari persiapan prabedah. Pada saat diskusi ini juga disampaikan mengenai resiko yang dapat ditimbulkan setelah pembedahan. Persiapan prabedah ini terdiri dari tiga persiapan, yaitu persiapan pasien, persiapan operator staf, dan persiapan alat dan ruangan.

2.1 Persiapan Pasien Persiapan pasien prabedah mencakup persiapan psikologis maupun fisiologis. Perawatan prabedah melibatkan banyak komponen, dan dapat

dilakukan sehari sebelum operasi di rumah sakit, atau selama seminggu sebelum operasi secara rawat jalan. Pasien yang secara psikologis dan fisiologis telah dipersiapkan untuk pembedahan cenderung memiliki hasil bedah yang lebih baik. Diskusi bersama pasien dapat memenuhi kebutuhan pasien untuk mendapatkan informasi

mengenai pengalaman bedah, yang pada akhirnya nanti dapat mengurangi sebagian besar rasa takutnya. Pasien yang lebih luas pengetahuannya tentang harapan setelah operasi, dan yang memiliki kesempatan untuk mengekspresikan tujuan dan pendapat mereka, biasanya dapat mengatasi rasa nyeri pasca operasi dan penurunan mobilitas dengan lebih baik.

2.1.1 Persiapan Psikologis Persiapan mental merupakan hal yang penting dalam proses persiapan operasi karena mental pasien yang tidak siap atau labil dapat berpengaruh terhadap kondisi fisiknya. Kecemasan merupakan reaksi normal yang dapat dihadapi dengan sikap terbuka dan penerangan yang cukup. Tindakan pembedahan merupakan ancaman potensial maupun aktual pada integeritas seseorang yang dapat membangkitkan reaksi stres fisiologis maupun psikologis.

Contoh perubahan fisiologis yang muncul akibat kecemasan atau ketakutan antara lain; sulit tidur dan tekanan darah meningkat (pada pasien hipertensi) dan menstruasi lebih cepat dari biasanya, sehingga operasi terpaksa harus ditunda (pada wanita). Berbagai alasan yang dapat menyebabkan kecemasan pasien dalam menghadapi pembedahan antara lain : Takut nyeri setelah pembedahan (body image), takut keganasan, takut cemas mengalami kondisi yang sama dengan orang lain, takut ngeri menghadapi ruang operasi, peralatan pembedahan dan petugas, dan takut operasi gagal.

Gambar. Komunikasi dokter-pasien sebagai persiapan psikologis pasien prabedah

Persiapan mental yang kurang memadai dapat mempengaruhi pengambilan keputusan pasien dan keluarganya. Sehingga tidak jarang pasien menolak operasi yang sebelumnya telah disetujui. Oleh karena itu persiapan mental pasien menjadi hal yang penting untuk diperhatikan dan didukung oleh keluarga orang terdekat pasien. Kehadiran dan keterlibatan keluarga sangat mendukung persiapan mental pasien. Keluarga dapat mendampingi pasien sebelum operasi, memberikan doa dan dukungan dengan kata-kata yang

menenangkan hati dan meneguhkan keputusan pasien untuk menjalani operasi. Peranan dokter dan dibantu perawat dalam memberikan dukungan mental dapat dilakukan dengan membantu pasien mengetahui tentang tindakan-tindakan yang dijalani sebelum operasi, memberikan informasi tentang waktu operasi, hal-hal yang akan dialami selama proses operasi, dan menunjukkan tempat kamar operasi. Dengan mengetahui berbagai informasi selama operasi maka diharapkan pasien menjadi lebih siap menghadapi operasi. Gunakan bahasa yang sederhana dan jelas, misalnya: jika pasien harus puasa, perawat akan menjelaskan kapan mulai puasa dan sampai kapan, manfaatnya untuk apa. Diharapkan dengan pemberian informasi yang lengkap, kecemasan pasien akan dapat diturunkan. Untuk menimbulkan kenyamanan lagi, dokter memberi kesempatan pada pasien dan keluarganya untuk menanyakan tentang segala prosedur yang ada. Dokter juga dapat mengoreksi pengertian yang salah tentang tindakan pembedahan dan hal-hal lain karena pengertian yang salah akan menimbulkan kecemasan pada pasien.

2.1.2 Persiapan Fisiologis Persiapan fisiologis terdiri dari riwayat medis yang lengkap dan pemeriksaan fisik, termasuk latar belakang pasien bedah dan anestesi. Bagian dari persiapan yaitu meliputi penilaian terhadap faktor risiko yang dapat mengganggu penyembuhan, seperti kekurangan gizi, penggunaan steroid,

radiasi atau kemoterapi, penyalahgunaan obat atau alkohol, atau penyakit metabolik seperti diabetes. Pasien juga harus menyediakan daftar semua obat, vitamin, dan suplemen herbal atau makanan yang ia gunakan.

1) Riwayat Kesehatan Riwayat pemeriksaan ini sangatlah penting dilakukan. Data yang kita perlukan dapat kita dapatkan dari melakukan anamnesa terhadap pasien tersebut. Dokter juga perlu menanyakan kemungkinan penyakit sistemik atau penyakit tertentu yang diderita pasien karena data ini sangat berharga untuk mengidentifikasi pasien yang memiliki resiko menularkan penyakit dan infirmasi riwayat kesehatan ini juga berguna untuk mengetahui apakah perlu dilakukna modifikasi perawatan.Pada riwayat kesahatann ini paling tidak meliputi kesehatan umum pasien, rasa sakit yang ada, obat-obatan yang sedang dikonsumsi, alergi dan riwayat tindakn medis sebelumnya.

2) Konsultasi Medis Selain dilakukannya komunikasi pra bedah antara dokter gigi dengan pasien diperlukan pula komunikasi pra bedah antara dokter gigi dengan dokter umum atau dokter spesialis lain mengenai indikasi dan rencana operasi. Konsultasi medis meliputi, konsultasi bedah, konsultasi anestesi, konsultasi dengan sejawat anestesi dan spesialis lain, konsultasi untuk mendapat dan memberi informasi tambahan, konsultasi untuk dapat menghilangkan kecemasan dan ketakutan pasien, dan konsultasi untuk

mempertimbangkan

apakah

pasien

perlu

melakukan

pemeriksaan

tambahan. Konsultasi yang saling berkaitan ini bertujuan untuk mempersiapkan pasien untuk tindakan pembedahan agar tidak

menimbulkan komplikasi atau kecelakaan saat pembedahan, dan dapat membantu untuk mempermudah dalam pengelolaan pasca operasinya.

3) Puasa Penderita yang akan dipersiapkan operasi dengan pembiusan umum membutuhkan puasa beberapa jam sebelum operasi dijalankan. Lamanya puasa berkisar antara 6 sampai 8 jam sebelum operasi dilakukan. Tujuan dari puasa ini adalah untuk pengosongan lambung dan kolon agar terhindar dari aspirasi (masuknya cairan lambung ke paru-paru) atau reflek muntah di saat penderita tidak sadar, dan untuk menghindari kontaminasi feses ke area pembedahan sehingga menghindarkan terjadinya infeksi pasca pembedahan. Pada pembiusan lokal masalah ini bisa diabaikan.

DAFTAR PUSTAKA

Archer W. H. 1975. Oral and Maxillofacial Surgery 5th ed. W.B. Saunders. Pederson, Gordon W. 1996. Buku ajar praktis BEDAH MULUT. Jakarta: EGC. Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah: Persiapan Prabedah. Jakarta: EGC. Sabiston, DC. 1994. Buku Ajar Bedah. Jakarta: EGC.

Anda mungkin juga menyukai