Anda di halaman 1dari 4

Ekonomi India Tinggal Landas

Tata Steel Akuisisi Krakatau Steel Berita ekonomi awal bulan Mei 2008 yang menarik perhatian dan bahkan mengejutkan berbagai kalangan di Indonesia adalah berita bahwa Tata Steel dari India berminat untuk mengakuisisi Krakatau Steel (Bisnis Indonesia, 9 Mei, 2008, halaman 1). Ditambahkan bahwa Tata Steel akan bertemu dengan Menteri Perindustrian RI pada pertengahan Mei ini untuk menyampaikan minat akuisisinya tersebut. Berita ini menarik karena disatu pihak, Krakatau Steel merupakan salah satu icon dari ekonomi Indonesia, dan dilain pihak perusahaan yang akan mengakuisisi bukan merupakan korporasi yang biasanya akan datang dari negara yang telah maju tetapi korporasi yang datang dari India yang merupakan sesama negara yang masih membangun. Berita ini juga mengejutkan karena baru satu dasawarsa yang lalu Indonesia masih dianggap sebagai salah satu negara dari Asian Miracle sedang India masih dianggap sebagai negara yang pertumbuhannya lamban. Bahkan pada pertengahan tahun 1990an telah berkembang polemik di kalangan pengusaha, negarawan, dan akademika terkemuka Asia tentang India yang sebagai negara demokratis tumbuhnya lamban sedangkan China sebagai negara yang waktu itu lebih otokratis dapat tumbuh dengan kecepatan sangat tinggi. Teori yang dominan saat itu dan sampai sekarang adalah bahwa suatu negara akan lebih mungkin tumbuh dalam sistem politik yang demokratis daripada yang otokratis. Tanda-tanda bahwa India telah mulai tumbuh sebagai ekonomi yang harus diperhitungkan, paling tidak di kawasan Asia, sebenarnya tidak bermula dengan minat Tata Steel untuk mengakuisisi Krakatau Steel. Pada tahun 2007, Tata Power, salah satu perusahaan dari Kelompok Tata, telah mengakuisisi sebagian dari pertambangan batu bara milik Bumi Resources (Kelompok Bakrie). Gerakan gencar lain dari korporasi India dan yang lebih nyata bagi masyarakat Indonesia adalah upaya pemasaran sepeda motor Pulsar yang diproduksi kelompok usaha Bajaj. Selama empat dasawarsa terakhir masyarakat Indonesia hanya mengenal kendaraan roda tiga bajay sebagai kendaraan umum bagi masyarakat pendapatan menengah ke bawah. Munculnya Pulsar 200cc dengan harga Rp 18 juta telah dapat menyaingi sepeda motor Tiger buatan Honda yang harganya Rp 23 juta. Bajaj telah mulai memasarkan Pulsar 220 cc dan sedang memikirkan untuk memasarkan Pulsar 300cc. Bahkan Bajaj saat ini mentargetkan penguasaan pasar sepeda motor Indonesia, yang merupakan pasar sepeda motor ketiga terbesar di dunia, untuk terlebih dahulu menandingi dominasi sepeda motor Jepang. Sasaran berikutnya adalah negara-negara di Asia lainnya dan negara-negara Amerika Latin. Berbagai korporasi India lainnya juga telah memperluas sayapnya keseluruh belahan dunia. Misalnya, Bharti Airtel, sedang menandingi China, khususnya China Mobile, untuk memasuki pasar telekomunikasi Afrika Selatan. Pertumbuhan Ekonomi India Ditopang Oleh Kemajuan Teknologi dan SDM Kemajuan dan gencarnya para korporasi India telah ditopang oleh kemajuan yang mendasar di bidang teknologi dan sumber daya manusianya. Suatu prestasi yang telah mengejutkan dunia adalah ketika India mampu menghasilkan bom nuklir pada akhir tahun 1990an. Suatu prestasi lain di bidang pengembangan teknologinya adalah pusat IT di Bangalore yang juga disebut sebagai Silicon Valley India. Di bidang teknologi persenjataan moderen India juga telah semakin maju. Pada tanggal 14 Mei, 2008,

Perdana Menteri Mamohan Singh telah meresmikan DRDO (Defence Research and Development Organisation/Lembaga Penelitian dan Pengembangan Pertahanan) India mengatakan bahwa industri nasional India akan dalam waktu dekat mampu untuk mengembangkan teknolgi mutakhir senjata robotics, sensor dan stealth (teknologi untuk pesawat tempur yang tidak dapat dideteksi radar). Sementara itu, di bidang pengembangan sumber daya manusia, India telah berhasil membuat negaranya menjadi sasaran outsourcing (mengontrakkan pekerjaan suatu perusahaan kepada tenaga perusahaan lain) oleh negara IT utama seperti AS, selain telah memungkinkannya untuk menopang kemajuan industri teknologinya sendiri, seperti di Bangalore. Keberhasilan India di bidang SDM ini disebakan oleh strategi pembangunan pendidikannya yang memprioritaskan pendidikan ketrampilan tinggi untuk beberapa kelompok siswa tertentu daripada strategi pembangunan pendidikan dasar seperti wajib belajar 6 tahun dan sekarang 9 tahun yang diterapkan di Indonesia. Perkembangan Pertumbuhan Ekonomi Pertumbuhan ekonomi India untuk beberapa tahun setelah 1984 di tunjukkan pada Tabel I di bawah. Pertumbuhan ekonomi India yang rata-rata di atas 8,0% terjadi setelah tahun 2002. Pertumbuhan yang secara konsisten tinggi ini sebenarnya berkaitan erat dengan perkembangan sektoralnya dan dengan dengan langkah-langkah reformasi ekonomi yang telah dilakukan sejak tahun 1984. Pertumbuhan Ekonomi (%) 1985 4,5 1986 4,1 1987 3,6 1988 10,1 1989 6,7 2000 4,0 2001 5,9 2002 3,9 2003 8,6 2004 7,6 2005 8,2 2006 9,1 Sumber: Economywatch.com Pertumbuhan ekonomi India itu disertai oleh pertumbuhan sektoral yang semestinya terjadi di negara-negara berkembang yaitu pertumbuhan industri dan jasajasa yang relatif tinggi dan pertumbuhan sector pertanian yang relatif rendah. Pada tahun 2006 pertumbuhan ekonomi sebesar 9,1 % disertai oleh pertumbuhan sektor industri sebesar 10,5 %, sector jasa-jasa, seperti hotel, restoran dan transpor, sebesar 10,7 %, sektor pertanian sebesar 1,7 % dan sektor infrastruktur sebesar 7,8 %. Walaupun pertumbuhannya lebih rendah daripada sector industri, pertumbuhan sektor pertanian dapat menopang pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan melalui produksi pangan yang terus meningkat. Dengan tahun dasar 1981 (1981 = 100), maka produksi beras telah Tahun

meningkat dari 149 pada tahun 1990 menjadi 171 pada tahun 2004, dan produksi gandum meningkat dari 156 pada tahun 1990 menjadi 204 pada tahun 2004. Pertumbuhan ekonomi yang terutama tinggi sejak tahun 2003 tersebut juga ditopang oleh tingginya tingkat tabungan masyarakat sebesar rata-rata 32 % terhadap PDB, terdapatnya dividen demografi (meningkatnya kelompok penduduk usia kerja) yang disertai dengan kebijakan peningkatan sumber daya manusia yang cukup berhasil. Pertumbuhan ekonomi yang secara konsisten tinggi sejak tahun 2003 juga dilatarbelakangi oleh adanya langkah liberalisasi sejak tahun 1984. Sebelum tahun 1984, kebijakan ekonomi India didominasi oleh pengembangan industri subsititusi impor yang membutuhkan banyak kebijakan proteksi atas industri dalam negeri melalui berbagai kebijakan perizinan (dikenal sebagai license raj = rejim perijinan). Karena kebijakan perijinan ini hanya menghasilkan pertumbuhan ekonomi yang rendah, maka pada tahun 1984 Perdana Menteri Rajiv Gandhi (dari Congress Party) mengecualikan sekitar duapuluhlima jenis industri dari keharusan mengikuti kebijakan perijinan ini dan mengadakan langkah liberalisasi bagi banyak cabang industri lainnya. Pada tahun 1991, karena kesenjangan investasi dalam negeri dengan tabungan dalam negeri yang semakin besar, maka Perdana Menteri Rarashima Rao (dari Bharatiya Janata Party) mengambil langkah-langkah liberalisasi yang jauh lebih luas lagi dengan misalnya mengecualikan kebijakan perijinan bagi semua cabang industri dan membuka luas pintu untuk investasi asing. Langkah-langkah inilah merupakan embrio dari perekonomian India go global yang dampak mikronya terlihat antara lain dari upaya Tata Steel mengakuisis Krakatau Steel di Indonesia. Pertumbuhan Ekonomi India Bukan Tanpa Masalah Dalam sistem politik India yang menganut sistem kabinet parlementer (Presiden hanya sebagai Kepala Negara sedang Kepala Pemerintahan dipegang oleh Perdana Menteri) maka setiap kebijakan pemerintah yang bersifat strategis, seperti langkah liberalisasi, harus melalui proses perdebatan publik yang sengit terutama di tingkat parlemen. Dalam hal ini, walaupun Congress Party dan Bharatiya Janata Party sehaluan, pihak oposisi yang terdiri dari partai politik berhaluan sosialis semakin menentang langkah liberalsisasi lebih lanjut. Hal ini akan menghambat pembukaan lebih lanjut dari ekonomi India ke ekonomi global dan selanjutnya akan mengurangi peluang untuk pertumbuhan ekonominya. Selain itu, motor utama dari pertumbuhan ekonomi India, terutama sejak 1991, adalah perusahaan besar dan menengah, termasuk kelompok Tata dan Bajaj, yang umumnya dikelompokkan dalam sektor formal. Walaupun, pertumbuhan dari sektor formal ini mempunyai potensi untuk ikut menarik pertumbuhan dari sektor informal (melalui trickle down effect), kenyataannnya sebagian besar dari sektor informal ini mengamali peningkatan kesejahteraan yang masih jauh tertinggal. Belum berhasilnya pertumbuhan ekonomi India yang tinggi ini untuk mempunyai trickle down effect yang cukup besar juga terlihat pada masih tingginya tingkat kemiskinan. Dari data yang tersedia, tingkat kemiskinan di India memang telah turun dari 50% (1970an) menjadi 38% (1991), namun jumlah ini masih sangat besar apalagi kalau ditinjau dari angka absolutnya yaitu dari jumlah penduduk India yang mendekati satu milyar orang. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi ternyata juga belum dapat menyelesaikan masalah adanya kesenjangan pertumbuhan ekonomi antar negara-bagian. Suatu studi

(Catriona Purfield, Mind the Gap Is Economic Growth in India Leaving Some States Behind?, IMF Working Paper), telah menunjukkan bahwa kesenjangan pendapatan antara negara-negara bagian yang kaya dan negara-negara bagian yang miskin telah menjadi semakin melebar, bahwa negara-negara bagian yang miskin kurang berhasil dalam menarik investasi swasta dan dalam menciptakan lapangan kerja, bahwa adanya mobilitas modal dan tenaga kerja antara berbagai negara bagian ternyata tidak mempunyai dampak yang berarti bagi penurunan kesenjangan pendapatan antara negara bagian (catatan: temuan ini berbeda dengan pandangan Michael Spence ketika menyampaikan presentasinya di Bappenas), dan bahwa negara-negara bagian yang miskin mengalami fluktuasi pertumbuhan ekonomi yang paling besar. Beberapa Catatan Tentang Pertumbuhan Ekonomi India dan Maknanya Bagi Perekonomian Indonesia. Ekonomi India yang pertumbuhannya nampaknya akan terus berlangsung pada tingkat yang tinggi dapat dikategorikan sebagai perekonomian yang menurut teori tahapan pertumbuhan ekonomi (W.W. Rostow, Stages of Economic Growth) telah mencapai tahap tinggal landas. Syarat-syarat tinggal landas, yaitu tingkat tabungan yang minimal 5% terhadap PDB, berkembangnya beberapa industri unggulan, dan adanya sistem politik dan sosial budaya yang menopang pertumbuhan, telah terpenuhi. Dilain pihak, syarat yang dikemukakan Spence (Michael Spence, Paparan di Bappenas) untuk mencapai sustained high and inclusive growth belum sepenuhnya terpenuhi. Ini disebabkan oleh pertumbuhan ekonomi India yang tinggi belum disertai oleh cukup meningkatnya kesejahteraan sektor informal dan masih banyaknya negara bagian yang tertinggal. Bagi Indonesia hal ini merupakan pelajaran bahwa tujuan mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi yang kurang didesain secara cermat cenderung disertai oleh adanya berbagai kesenjangan ekonomi dan sosial, yang karena sifatnya yang tidak inklusif ini dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi itu sendiri menjadi tidak berkelanjutan. Hal ini perlu diwaspadai mengingat diterapkannya desentralisasi/otonomi daerah dapat membangkitkan ego daerah yang tinggi sehingga akan menuju pada makin besarnya kesenjangan ekonomi antar daerah. Perbedaan sistem politik India dan Indonesia dapat lebih menguntungkan upaya peningkatan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebagaimana dibahas di atas, walaupun sama-sama negara yang demokratis, sistem pemerintahan India berbentuk kabinet parlementer yang dipimpin seorang perdana menteri, sedangkan yang di Indonesia merupakan kabinet presidensial yang dipimpin seorang presiden. Dalam pada itu, proses pengambilan keputusan suatu kebijakan publik, akan melibatkan pembahasan publik yang lebih panjang dan keras pada sistem kabinet parlementer daripada di sistem kabinet presidensial. Contohnya, di India, langkah-langkah yang harus cepat diambil untuk menggerakkan roda ekonomi sempat terhambat oleh keberatan dari berbagai partai oposisi atas pandangan partai yang berkuasa saat itu (Bharatiya Janata Party). Namun pengalaman India yang hikmahnya perlu dipetik Indonesia adalah bahwa motor pertumbuhan ekonomi terletak pada semangat berwiraswata dari dunia usahanya. Bagi Indonesia, yang dalam RPJPN 2005-2025, akan mewujudkan bangsa yang berdaya saing melalui perkuatan perekonomian domestik yang berorientasi dan berdaya saing global (RPJPN Butir IV.1.2.) ini berarti harus semakin bangkitnya dunia usaha yang juga dapat bertanding di arena global.