Anda di halaman 1dari 13

A. Latar Belakang Masalah PT.

Asih Sarana merupakan sebuah perusahaan yang memproduksi mainan yang terbuat dari kayu, seperti binatang-binatang, mainan yang dihela dan sebagainya. Terdapat beberapa proses atau tahap pembuatan mainan tersebut yaitu bagian pemotongan, diampelas, dirakit diruang kayu, dicelupkan ke dalam lak dan selanjutnya dicat. Mainan itu umumnya berwarna dua hanya sedikit yang dibuat lebih dari dua warna. Setiap warna memerlukan garis warna tambahan yang dilakukan diruang pengecetan. Seleruh pekerja yang mengerjakan pembuatan mainan tersebut adalah wanita. Proses pembuatan mainan tersebut dilakukan secara manual. Dalam memenuhi jumlah permintaan yang semakin meningkat, maka perusahaan membuat sebuah rekayasa baru dalam proses pengecetan yaitu delapan karyawan yang melakukan pengecetan kini duduk berjajar menghadapi rantai gantungan yang tidak berujung. Semua gantungan bergerak tanpa henti, melewati karyawan yang duduk berjajar menuju tungku horizontal yang panjang. Setiap karyawan duduk mengerjakan tugas pengecetan masingmasing yang dirancang sedemikian rupa sehingga dapat berfungsi dengan baik. Para karyawan mengambil mainan dari tempat yang disediakan disamping mereka, menempatkannya di dalam kotak pengecetan,

menyemprotkan cat sesuai dengan warna yang telah ditentukan, kemudian menggantungkannya pada gantungan yang bergerak melewati mereka. Tingkat gerak gantungan itu telah diperhitungkan sedemikian rupa sehingga setiap karyawan, apabila terlatih dengan baik, akan dapat menggantungkan mainan yang telah dicat pada setiap gantungan itu menjauh sehingga tidak dapat dijangkau. Para pekerja yang bekerja di ruang pengecetan memperoleh upah berdasarkan program bonus kelompok. Karena cara kerja itu masih baru bagi mereka, maka bonus masa belajar yang diterima cenderung lebih sedikit dibandingkan jumlah bonus yang biasa diterima setiap bulannya. Bonus masa belajar itu direncanakan akan berlangsung selama enam bulan, setelah itu mereka diharapkan dapat meningkatkan hasil yang diperoleh yaitu, dapat

memenuhi standar produksi yang ditetapkan dan akan mendapat bonus kelompok apabila melampaui standar. Pada bulan kedua masa pelatihan, timbul masalah. Kemajuan belajar pegawai ternyata lebih lamban dari yang diperkirakan, dan tampaknya tingkat produksi mereka cenderung tidak akan dapat mencapai standar yang ditetapkan. Para karyawan mengeluh bahwa gantungan itu bergerak terlalu cepat dan mereka berpendapat bahwa ahli pengkajian waktu mengatur kecepatannya terlalu tinggi. Beberapa karyawan berhenti dan harus digantikan dengan karyawan yang baru. Hal ini semakin memperburuk kinerja masa pelatihan. Para karyawan juga menolak bonus kelompok. Salah seorang karyawan, yang dipandang kelompok sebagai pemimpin mereka (pemimpin perusahaan cenderung memandangnya sebagai biang kerok), mengungkapkan berbagai keluhan kelompok kepada penyelia (supervisor), antara lain: pekerjaan yang mereka lakukan morat-marit, gantungan bergerak terlalu cepat, bayaran intensif tidak diperhitungkan dengan tepat, dan terlalu panas bekerja di dekat tungku pengeringan. Penyelia merasa bahwa langkah pertama yang perlu ditempuh adalah mengadakan pertemuan dengan karyawan untuk membicarakan kondisi kerja. Pada pertemuan pertama, para karyawan masih mengeluhkan hal yang sama yaitu gantungan yang bergerak terlalu cepat, pekerjaan terlalu kotor, ruang kerja terlalu panas dan pengatuaran udara yang tidak baik. Hal yang terakhir yakni pengaturan udara yang tidak baik, merupakan hal yang paling banyak dikeluhkan, sehingga penyelia berjanji untuk membicarakan masalah ventilasi dan temperatur ruang kerja dengan para ahli teknik dan ia menjadwalkan pertemuan kedua untuk melaporkan kembali hasil pembicaraannya kepada para karyawan. Para ahli teknik dan pengawas menganggap hal itu sebagai keluhan yang dibuat-buat dan biaya yang diperlukan untuk melakukan perbaikan akan sangat besar. Penyelia mengadakan pertemuan kedua dengan para karyawan. Pada pertemuan ini para karyawan mengusulkan agar dipasang beberapa kipas

angin besar diruang kerja mereka untuk mengatur sirkulasi udara. Penyelia setuju dengan usul mereka, dan ia mendiskusikan hal ini dengan pengawas, kemudian perusahaan membeli tiga buah kipas angin besar. Kipas angin ini, ditempatkan diruang pengecatan. Para karyawan tampaknya benar-benar puas dengan hal itu, dan hubungan antara mereka dengan penyelia membaik kembali. Setelah mengalami masa yang menyenangkan, penyelia mengadakan pertemuan dengan karyawan untuk membicarakan aspek lain dari situasi kerja, dan mereka sangat setuju usulan penyelia. Pada pertemuan ini,

karyawan mengeluhkan tingkat kecepatan gerakan gantungan. Para karyawan berpendapat bahwa petugas pengkajian waktu mengatur kecepatannya pada tingkat yang tidak masuk akal, sehingga mereka tidak pernah dapat melampaui standar untuk memperoleh bonus. Pemimpin kelompok secara terus terang menjelaskan masalahnya bukan karena mereka tidak dapat bekerja sesuai dengan tingkat kecepatan gerakan gantungan, tetapi mereka tidak dapat bekerja secepat itu seharian penuh. Para karyawan berpendapat bahwa mereka sebenarnya dapat bekerja sesuai dengan kecepatan gerak rantai dalam beberapa saat apabila mereka memang ingin melakukannya. Akan tetapi, mereka tidak melakukan hal tersebut karena apabila mereka dapat melakukannya, maka mereka pasti diharapkan bekerja dengan kecepatan seperti itu seharian penuh. Pertemuan ini berakhir dengan permohonan para karyawan yaitu mari kita sesuaikan kecepatan gerak rantai gantungan. Cepat lambatnya bergantung pada bagaimana perasaan kami pada saat itu. Penyelia setuju untuk membicarakan usul mereka dengan pengawas dan para ahli. Penyelia menyuruh karyawannya untuk memasang alat kendali dengan tanda rendah, sedang, dan tinggi di dekat tempat duduk pemimpin kelompok. Sekarang ia dapat menyesuaikan kecepatan rantai gantungan itu kapan saja mereka inginkan. Setelah itu para karyawan mendiskusikan untuk memutuskan bagaimana meragamkan kecepatan rantai gantungan dari waktu ke waktu sepanjang hari, sehingga dalam seminggu mereka sudah dapat

meragamkan kecepatan rantai gantungan. Perubahan ini membuat produksi meningkat, dan dalam tiga minggu, para karyawan berhasil memproduksi sebanyak 30 sampai 50 persen di atas standar yang diharapkan. Dengan demikian penghasilan yang mereka peroleh juga meningkat dari yang semula diperkirakan. Sekarang mereka memperoleh upah pokok, bonus yang cukup besar, dan bonus masa pelatihan. Bonus terakhir memang direncanakan akan menyusut kemudian dan bukan berarti dengan tingkat produktiitas sekarang. Secara keseluruhan, sekarang mereka memperoleh upah lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan karyawan terampil pada bagian-bagian lain dipabrik itu. Pimpinan merasa tersuduy oleh banyaknya desakan untuk

menanggulangi ketidaksamaan perolehan hasil tersebut. Sekarang timbul pertikaian antara pengawas dengan penyelia, antara ahli teknik dengan penyelia, dan antara pengawas dengan ahli teknik. Situasinya memuncak ketika pengawas menghapuskan bonus masa pelatihan dan mengembalikan tugas pengecatan pada keadaan semula, yakni rantai gantungan bergerak dengan kecepatan konsisten, yaitu tingkat kecepatan yang ditetapkan berdasarkan waktu. Hal ini mengakibatkan tingkat produksi kembali menurun dan dalam tempo sebulan , enam karyawan berhenti dari perusahaan itu, penyelia juga mengundurkan diri dan ia pindah ke perusahaan lain.

B. Rumusan Masalah Dari latar belakang masalah diatas, dapat disimpulkan beberapa rumusan masalah yaitu: 1. Keputusan/Tindakan apa yang harus dilakukan/diambil oleh pemimpin (pemimpin perusahaan, pengawas, ahli teknik dan penyelia) dalam mengatasi situasi yang terjadi di PT. Asih Sarana ?

C. Analisis Masalah 1. Landasan teori problem solving dan decision making

Pengambilan keputusan merupakan suatu proses dalam organisasi, dimana dalam mengambil keputusan, seorang pemimpin harus memilih diantara berbagai alternatif yang ada, dalam menyelesaikan suatu masalah. Adapun beberapa tahap pengambilan keputusan yaitu : Establishing specific goals and objective Identifying problem Developing alternatives Evaluating alternatives Choosing an alternatives Implementing the decision Controlling and evaluating

Sebelum menjawab pertanyaan yang terdapat dalam rumusan masalah, kita harus mengetahui apa pekerjaan pemimpin yaitu Dalam menjalankan tugas sehari-hari, apapun bidang tugasnya, pemimpin selalu menghadapi empat pertanyaan pokok : 1. Apa yang sedang terjadi di perusahaan (unit kerja) saya ? 2. Mengapa hal itu terjadi ? 3. Tindakan apa yang harus saya ambil ? 4. Apa yang mungkin menghambat rencana atau tindakan saya ? Adapun proses dalam melaksanakan pekerjaan pokok pemimpin Mengolah informasi yang masuk dalam benak pemimpin Menghasilkan keluaran (output) berupa: 1. sebab suatu persoalan, 2. alternatif terbaik, 3. atau rencana pelaksanaan keputusan

Dalam meningkatkan mutu keputusan (output), seorang pemimpin dapat melakukan beberapa hal yaitu : 1. Memperbaiki mutu masukan (input) : Informasi yang diterima harus benar, tepat waktu, dan relevan 2. Memperbaiki mutu proses : proses berpikir yang sistematis melalui : Analisis Situasi Untuk menghadapi pertanyaan apa yang terjadi? Analisis Persoalan Dari pola pikir sebab-akibat Analisis Keputusan Didasarkan pada pola berpikir mengambil pilihan Analisis Persoalan Potensial Didasarkan pada perhatian kita mengenai peristiwa masa depan, mengenai peristiwa yang mungkin terjadi, dan yang dapat terjadi 2. Analisa Kasus PT. Asih Sarana Dalam kasus ini, penyelia (supervisor) sebagai pemimpin, dihadapi empat pertanyaan pokok yaitu : 1. Apa yang sedang terjadi di PT. Asih Sarana, khususnya dibidang pengecatan? Untuk menjawab pertanyaan ini, penyelia mengadakan pertemuan dengan karyawan untuk membicarakan kondisi kerja. 2. Mengapa hal ini dapat terjadi? 3. Tindakan apa yang seharusnya diambil oleh penyelia dalam

menyelesaikan masalah ini? 4. Apa yang mungkin menghambat rencana atau tindakan penyelia? Untuk menjawab keempat pertanyaan ini, penyelia melakukan analisis situasi, analisis persoalan dan analisis keputusan. a. Analisis situasi

Dalam melakukan analisis situasi, langkah pertama yang dilakukan penyelia adalah mengadakan pertemuan dengan karyawan untuk membicarakan kondisi kerja, dimana dalam pertemuan ini, penyelia mendengarkan keluhan dari karyawan. Dari keluhan ini terdapat 4 masalah yang timbul yaitu gantungan bergerak terlalu cepat, pekerjaan terlalu kotor, ruang kerja yang panas dan pengaturan udara yang tidak baik. Dalam analisis situasi, kita harus memisah-misahkan masalah, menentukan prioritas dan menempatkan. Dalam kasus tersebut, penyelia telah memisah-misahkan masalah yang ada menjadi 3 bagian gantungan bergerak terlalu cepat, pekerjaan kotor dan pengaturan udara yang tidak baik. Dan untuk alasan tertentu, masalah terakhir yakni pengaturan udara yang tidak baik, yang menjadi prioritas. Setelah mendapatkan masalah yang menjadi prioritas, penyelia membicarakan masalah ventilasi dan temparatur ruang kerja dengan pada ahli teknik dan pengawas. Para ahli teknik dan pengawas menganggap bahwa hal itu sebagai keluhan yang dibuat-buat dan biaya yang diperlukan untuk melakukan perbaikan sangat besar. Setelah melakukan pembicaraan, penyelia

mengadakan pertemuan kedua, dalam pertemuan ini, penyelia menggunakan analisis keputusan, di mana penyelia membawa beberapa usulan, namun usulan-usulan ini tidak diterima oleh karyawan. Karyawan memberikan usulan kepada penyelia untuk membeli kipas angin yang besar untuk dipasang diruang kerja mereka, untuk mengatur sirkulasi udara, dan alternatif atau usulan ini yang diambil oleh penyelia untuk menyelesaikan masalah ini. Hasilnya para karyawan puas dan hubungan antara penyelia dan karyawan membaik kembali.

b. Analisis persoalan Dalam kasus tersebut, penyelia mengadakan pertemuan lagi dengan karyawan untuk membicarakan aspek lain dari situasi kerja. Dalam pembicaraan tersebut mereka menemukan satu masalah yakni tingkat kecepatan gerak gantungan. Dalam analisis persoalan, kita harus mencari sebab-sebab yang mungkin dan menentukan penyebab yang paling mungkin. Untuk itu sebabsebab terjadinya masalah tingkat kecepatan gerak gantungan adalah - Para karyawan tetap berpendapat bahwa petugas pengkajian waktu mengatur kecepatan pada tingkat yang tidak masuk akal, sehingga mereka tidak pernah dapat melampaui standar untuk memperoleh bonus - Para karyawan berpendapat bahwa mereka sebenarnya dapat bekerja sesuai dengan kecepatan gerak rantai dalam beberapa saat apabila mereka memang ingin melakukannya. Akan tetapi, mereka tidak melakukan hal itu karena apabila terlihat melakukannya, maka mereka pasti diharapkan bekerja dengan kecepatan seperti itu seharian penuh. Dari dua penyebab ini, penyebab yang paling mungkin adalah penyebab yang kedua, sehingga para karyawan mengusulkan kepada penyelia untuk menyesuaikan kecepatan gerak rantai gantungan, dimana cepat lambatnya bergantung pada bagaimana perasaan kami pada saat itu. Usulan ini disetujui oleh penyelia. Dan hal ini dibicarakan dengan pengawas dan ahli teknik. Setelah adu pendapat, disepakati untuk menguji coba usul para karyawan. Penyelia memasang alat kendali dengan tanda rendah, sedang, tinggi di dekat tempat duduk pemimpin kelompok. Sekarang ia dapat menyesuaikan kecepatan rantai gantungan kapan saja mereka inginkan. Hasilnya produksi meningkat, dan dalam tiga minggu

para karyawan berhasil memproduksi sebanyak 30 sampai 50 persen diatas standar yang diharapkan. Penghasilan yang mereka peroleh meningkat. Secara keseluruhan, sekarang mereka

memperoleh upah lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan karyawan terampil pada bagian-bagian lain di pabrik itu.

Masalah yang lain, yang terdapat dalam PT. Asih Sarana adalah masalah ketidaksamaan perolehan hasil antara upah yang didapat oleh karyawan bidang pengecatan dan upah yang didapat oleh karyawan-karyawan terampil pada bagian-bagian lain di pabrik itu. Dalam memecahkan masalah ini, para pemimpin perusahaan tidak melakukan analisis terlebih dahulu terhadap permasalahan tersebut, melainkan mereka langsung mengambil tindakan yaitu pengawas menghapuskan bonus masa pelatihan dan mengembalikan tugas pengecatan pada keadaan semula, yakni rantai gantungan bergerak dengan kecepatan konsisten, yaitu tingkat kecepatan yang ditetapkan berdasarkan telaah waktu. Hasilnya tingkat produksi kembali menurun dan dalam tempo sebulan , enam karyawan berhenti dari perusahaan itu, penyelia juga mengundurkan diri dan ia pindah ke perusahaan lain. Untuk memecahkan permasalahan tersebut, seharusnya pemimpin perusahaan terlebih dahulu melakukan analisa terhadap permasalahan tersebut, setelah barulah mengambil suatu tindakan untuk memecahkan masalah tersebut. Menurut saya, untuk memecahkan masalah tersebut, pemimpin perusahaan seharusnya melakukan analisis persoalan, analisis keputusan dan analisis persoalan potensial. Analisis persoalan Dalam analisis persoalan, kita harus mencari sebab terjadinya masalah ketidaksamaan perolehan hasil. Menurut saya, ada beberapa penyebab yaitu: a. Pada saat perusahaan mendapatkan jumlah permintaan yang meningkat, perusahaan hanya melakukan perubahan pada bidang pengecatan,

sedangkan bidang yang lain tidak, seharusnnya perusahaan juga melakukan perubahan pada bidang yang lain. b. Hanya para pegawai yang bekerja di ruang pengecatan yang memperoleh upah berdasarkan program bonus kelompok, dimana mereka yang melampaui standar produksi yang ditetapkan akan mendapatkan bonus kelompok, sehingga bidang yang lain sudah pasti tidak mendapatkan bonus, walaupun mereka melampaui standar produksi yang ditetapkan. c. Para karyawan pengecatan berhasil memproduksi sebanyak 30-50 persen diatas standar yang diharapkan, dengan demikian penghasilan yang mereka peroleh meningkat, sehingga secara keseluruhan, sekarang mereka memperoleh upah lebih besar dibandingkan dengan kebanyakan karyawan terampil pada bagian-bagian lain di pabrik itu. d. para karyawan pengecatan dapat mengatur sendiri gerak rantai gantungan, sehingga mereka dapat memproduksi lebih cepat,

dibandingkan karyawan dibidang yang lain Dari keempat penyebab ini, penyebab yang paling mungkin adalah b. Untuk itu pemimpin perusahaan harus mencari cara untuk mengatasi hal ini. Analisis Keputusan Dalam analisis keputusan, pemimpin harus mencari alternatif-alternatif yang ada dan memilih alternatif yang paling terbaik untuk memecahkan masalah. Setelah mengetahui penyebab terjadi masalah, maka, alternatif yang ada adalah: a. Pemimpin perusahaan harus melakukan perubahan terhadap kinerja bidang-bidang lain diperusahaan, yang memungkinkan bidang lain dapat memproduksi barang atau mainan sama dengan bidang produksi pengecatan

10

b. Pemimpin perusahaan, harus memberikan bonus yang sama kepada para karyawan-karyawan yang terampil dibidang-bidang lain sesuai dengan bonus yang didapat oleh karyawan bidang pengecatan, jikalau mereka melebihi standar produksi yang ditetapkan. c. pemimpin perusahaan memberikan pelatihan kepada pekerja terampil dibidang yang lain sehingga mereka dapat memproduksi lebih banyak mainan d. pemimpin perusahaan melakukan perampingan karyawan, dimana setiap bidang yang sama dijadikan satu, sehingga ada pengurangan jumlah karyawan. Dari keempat altarnatif ini, untuk memecahkan masalah tersebut, maka menurut saya, alternatif yang kedua (b) yang harus dilakukan oleh perusahaan. Namun setelah melakukan keputusan tersebut, perusahaan harus melakukan evaluasi sehingga perusahaan dapat mengetahui hasil atau dampak dari keputusan tersebut. Analisis persoalan potensial Setelah melakukan hal diatas, maka pemimpin perusahaan harus memikirkan hal-hal apa saja yang akan terjadi, ketika keputusan ini dijalankan dan tindakan preventif apa yang diharus dilakukan pemimpin perusahaan agar dampak negatif yang terjadi akibat keputusan tersebut tidak terjadi. Hal yang mungkin akan terjadi adalah a. Jika semua karyawan dibidangnya melewati standar produksi yang ditetapkan, maka perusahaan harus memberikan bonus kepada mereka, sehingga perusahaan akan mengalami pembengkakan pada biaya yang dikeluarkan untuk upah setiap karyawan. Usaha atau tindakan preventif a. melakukan penilaian secara berkala terhadap kinerja karyawan, bukan hanya per kelompok, namun per individu sehingga jika individu memang tidak melampaui standar produksi maka tidak mendapatkan bonus

11

b. Menaikkan standar produksi, sehingga setiap karyawan dibidangnya berusaha lebih keras untuk melampaui standar sehingga pendapatan yang diterima perusahaan dapat membayar bonus dan upah karyawan yang telah ditetapkan. c. Menentapkan jumlah bonus yang didapat, dengan cara menghitung pendapatan dan pengeluaran sehingga pengeluaran yang dikeluarkan, tidak sampai merugikan perusahaan, dan perusahaan masih bisa mendapatkan untung.

D. Kesimpulan Tindakan atau keputusan apa yang harus dilakukan atau diambil oleh pemimpin perusahaan, dalam menghadapi setiap permasalahan di PT. Asih Sarana, yaitu para pemimpin harus melakukan cara berpikir yang sistematis melalui analisis situasi, analisis persoalan, analisis keputusan, dan analisis persoalan potensial, untuk memecahkan setiap masalah yang terjadi di PT. Asih Sarana. Saran saya, para pemimpin perusahaan harus lebih peka terhadap situasi yang terjadi perusahaan, dan melakukan analisis masalah sebaik mungkin untuk memecahkan masalah. Dalam kasus ini analisis yang belum dilakukan oleh setiap pemimpin perusahaan di PT. Asih Sarana, adalah analisis persoalan potensial. Hal ini terlihat dari analisis yang dilakukan penyelia, di mana ia hanya melakukan analisis situasi, analisis persoalan dan analisis keputusan, dalam setiap permasalahan yang terjadi di PT. Asih Sarana, sehingga dia tidak memikirkan dampak dari keputusan yang diambil, di masa yang akan datang, yang akibatnya ia tidak melakukan tindakan preventif atau proteksi, di mana terjadi masalah baru yang timbul yaitu terjadi ketidaksamaan perolehan hasil antara karyawan di bidang pengecatan dengan karyawan terampil di bidang-bidang lainnya di pabrik itu. Untuk itu, saya merekomendasikan analisis persoalan potensial terhadap kasus ini, sehingga para pemimpin perusahaan dapat memperkirakan masalah yang akan terjadi

12

di masa yang akan datang, yang merupakan dampak dari keputusan saat ini, sehingga pemimpin perusahaan dapat melakukan upaya atau tindakan preventif atau proteksi terhadap masalah yang akan terjadi.

13