Anda di halaman 1dari 11

TUGAS KOMUNIKASI MASSA Review Fungsi dan Proses Komunikasi Massa

Disusun oleh : Putra Setiawan D1210060

Program ilmu komunikasi Transfer Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret 2012

A. Fungsi Komunikasi Massa Jika membahas fungsi media massa maka tidak lepas dari pendapat Harold D. Lasswell yang merupakan tokoh rujukan yang sering disebut dalam sebuah buku. Dalam bukunya Mursito yang berjudul disebutkan Memahami Institusi Media Massa bahwa 3 (tiga) fungsi media massa menurut Lasswell1 yaitu (1)

pengawasan lingkungan, (2) korelasi antar bagian masyarakat dalam menanggapi lingkungan, dan (3) transmisi warisan sosial dari suatu generasi kegenerasi berikutnya. Menurut Wright2 ketiga fungsi itu tidak lengkap bila tidak ditambah fungsi keempat yaitu hiburan. Pengawasan menunjukkan pengumpulan dan distribusi informasi-informasi mengenai kejadian-kejadian yang berlangsung di lingkungan, baik didalam maupun di luar masyarakat tertentu. Fungsi ini berhubungan dengan penaganan berita dalam arti luas jurnalisme. Korelasi meliputi interpretasi informasi mengenai lingkungan dan pemakaianya untuk berperilaku dalam reaksinya terhadap peristiwa-peristiwa tadi. Aktivitas ini dikenal sebagai editorial atau propaganda. Editorial dapat dikatakan sebagai pertanggung jawaban atas berita-berita yang dipilih dan disajikan, tanggungjawab atas komitmen terhadap pembangunan masyarakat. Transmisi warisan sosial berfokus pada komunikasi pengetahuan, nilai-nilai dan norma-norma sosial dari generasi ke generasi lain atau dari anggota-anggota satu kelompok kepada Pendatang baru. Sering disebut pula sebagai fungsi pendidikan. Hiburan berkaitan dengan hiburan massa, yang digambarkan para kritikus kebudayaan sebagai hiburan massa adalah disfungsional selama ia gagal
1

Mursito, 2006, Memahami Institusi Media, Surakarta : Lindu Pusataka. hlm : 17

Dalam Mursito, 2006, Memahami Institusi Media, Surakarta : Lindu Pusataka. hlm : 17

menimbulkan atau menumbuhkan selera publik sampai pada tingkatan yang mungkin dicapai oleh bentuk-bentuk hiburan yang kurang meluas seperti teater, opera, dan drama-drama klasik. Sedangkan menurut Denis Mcquaild ide dasar mengenai fungsi komunikasi massa dalam masyarakat3 sebagai berikut: 1. Informasi Menyediakan informasi tentang peristiwa dan kondisi dalam masyarakat dan dunia Menunjukan hubungan kekuasaan Memudahkan inovasi, adaptasi, dan kemajuan. 2. Korelasi Menjelaskan, menafsirkan, mengomentari makna peristiwa dan informasi.
Menunjang otoritas dan norma-norma yang mapan.

Melakukan sosialisasi Mengkodinasi beberapa kegiatan. Membentuk kesepakatan. Menentukan urutan prioritas dan memberikan status relatif. 3. Kesinambungan Mengekspresikan budaya dominan dan mengakui keberadaan kebudayaan khusus (subculture) serta perkembangan budaya baru.

Denis, Mcquail, Teori Komunikasi Massa, Jakarta : Erlangga. hlm 70-71

Meningkatkan dan melestarikan nilai-nilai. 4. Hiburan Menyediakan hiburan, pengalihan perhatian, dan sarana relaksasi. Meredakan ketegangan sosial. 5. Mobilisasi Mengkampanyekan tujuan masyarakat dalam bidang politik, perang,

pembangunan ekonomi, pekerjaan, dan kadang kala juga pada bidang agama. Secara umum fungsi koumunikasi massa yang disebut dalam kebanyakan buku pada intinya mencakup 4 (empat) fungsi yaitu informasi, pendidikan control sosial dan hiburan. B. Proses Komunikasi Massa Dalam komunkasi massa prosesnya berlangsung dengan menggunakan teknologi media massa karena komunikasi massa lebih kompleks apabila dibandingkan dengan proses komunikasi yang terjadi dalam komunikasi antar personal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam proses-proses komunikasi massa berikut ini.
1. Proses Komunikasi Massa Yang Terjadi Dalam Institusi Media Menurut

Mursito
Si pengirim dalam komunikasi massa selalu merupakan bagian dari sebuah

kelompok yang terorganisir, dan seringkali merupakan anggota dari sebuah lembaga yang punya fungsi lain selain komunikasi.
Si penerima selalu seseorang tetapi juga dapat dilihat oleh si pengirim

sebagai suatu kelompok atau kumpulan dengan atribut umum tertentu. Misalnya

kelompok pengusaha, kelompok menengah ke bawah, kelompok eksekutif muda, dan sebagainya.
Salurannya tidak lagi terdiri dari hubungan antar manusia, alat-alat ekspresi

atau pancaindra, tetapi mencakup alat-alat dengan sistem penyebaran yang berdasarkan teknologi, karena terikat pada hokum, adat istiadat dan harapanharapan masyarakat.
Pesan-pesan dalam komunikasi massa bukan merupakan sesuat yang unik,

tetapi merupakan struktur simbolik yang diproduksi secara missal, dapat diulangulang dan sangat kompleks sifatnya.4
2. Proses Komunikasi Antar Personal Menurut DeFleur/Dennis5

Sebuah pesan diformulasikan oleh para komunikator professional.


Pesan dikirim secara cepat dan kontineu dengan meneruskannya melalui media. Pesan menjangkau audien yang luas dan beragam, yang menyertai media

dengan cara yang selektif.


Individu anggota audien menginterpretasikan pesan dengan cara sesuai dengan

makna berdasarkan pengalamannya yang diharapkan kurang lebih sama dengan yang dimaksud komunikator professional.
Sebagai hasil pengalaman makna ini anggota audien dipengaruhi dalam suatu

cara, bahwa komunikasi memiliki pengaruh. Komponen-komponen diatas mempunyai peran yang penting dalam sebuah proses komunikasi massa. Maka, selayaknya kita harus mengetahui maksud dari

Mursito, 2006, Memahami Institusi Media, Surakarta : Lindu Pusataka. hlm : 17 Ibid, hlm :31

masing-masing komponen tersebut. Untuk mengetahui maksud masing-masing komponen proses ini, maka bisa dilihat dalam rincian berikut ini. Pertama, Komunikator professional adalah sebuah tim, yang terdiri dari orangorang yang berperan memproduksi pesan komunikasi massa. Jika dilihat cara kerjanya maka dapat dibagi menjadi tiga yaitu: Tahap pertama komunikasi massa terjadi ketika sebuah pesan dibentuk dalam suatu format yang layak untuk ditransisikan oleh media.
Yang memformat pesan adalah komunikator professional : produser, editor,

reporter, dan lain-lain, yang mula-mula mengedit dan menyebarluaskan berita, hiburan, drama, dan isi yang lain.
Komunikator professional tergantung dari kelompok lain yang menolong

memformulasikan dan menyebarluaskan pesan-pesannya. Mereka adalah orangorang kreatif, artis, compouser, penulis, sutradara dan actor, membentuk format spesifik untuk transmisi akhir. Kedua, Penjaga Gawang (gatekeeper) adalah orang yang memilih, mengubah, dan menolak pesan, dapat mempengaruhi informasi kepada seseorang dan kelompok penerima. Keputusan penjaga gawang mengenai informasi mana yang diterima dan ditolak dipengaruhi oleh banyak variable. Bittner6 identifikasi variable-variabel ini sebagai berikut :
Ekonomi, kebanyakan perusahaan media adalah perusahaan swasta, yang

berarti harus mencari keuntungan, atau sangat peduli bagaimana keuntungan diperoleh. Maka para pengiklan dan sponsor dapat mempengaruhi seleksi berita dan editorial, karena mereka adalah institusi yang menjadi sumber utama pendanaan media.

Ibid, hlm :33

Pembatasan legal seperti hokum mengenai pencemaran nama baik akan

mempengaruhi seleksi dan penyajian berita.


Batas waktu (deadline) juga mempengaruhi kedalaman dan waktu yang tersedia

untuk menentukan kecermatan berita yang dipilih. Jika penjaga gawang memiliki batas waktu yang sempit untuk memilih berita yang mempunyai nilai sama maka biasanya dimedia televisi akan memilih berita yang disertai video.
Etika pribadi dan professional. Etika pribadi, dan tingkat kesadaran penjaga

gawang akan kepercayaannya sendiri akan mempengaruhi kesukaan dan ketidakkesukaan penjaga gawang, sikap dan minatnya akan mempengaruhi seleksi berita. Kompetisi diantara media yang akan mempegaruhi tingkat profesionalisme dalam penyajian informasi yang obyektif.
Nilai berita, penjaga gawang harus bisa menyeimbangkan jumlah ruang dan

waktu yang diperlukan untuk menyajikan berita. Selain itu penjaga gawang juga mempertimbangkan faktor umpan balik yang akan diterima dari audien ke media. Ketiga, cepat dan kontineu artinya media dapat menggerakkan pesan untuk mengatasi hambatan ruang dan waktu. Jadi, pengiriman pesan-pesan media massa dilakukan secara cepat dan menyebar dalam jangkaun yang luas. Keempat, keragaman audien artinya pesan-pesan media massa dapat menjangkau audiens yang luas dan beragam, yang menyertai media dengan cara yang efektif. Kelima, interpretasi pesan yang berarti bahwa pesan-pesan media massa selalu dinterpretasikan oleh audiens berdasarkan simpanan pengetahuan yang ada pada memori masin-masing individu. Komponen terakhir yaitu pengaruh yang berarti bahwa media dapat mempengaruhi sikap audiens melalui pesan-pesan yang disampaikan media massa terhadap audiens. Berjalannya proses komunikasi massa

dipengaruhi oleh model komunikasi massa yang dipakainya, menurut Morrisan model komunikasi massa ada empat model yaitu sebagai berikut.7 C. Model Komunikasi Massa 1. Model Transmisi Model transmisi memiliki pandangan bahwa komunikasi adalah proses pengiriman atau transmisi sejumlah informasi atau pesan kepada penerima, dalam hal ini pesan sangat ditentukan oleh pengirim atau sumber pesan. Sedangkan menurut Lasswell studi komunikasi massa adalah suatu untuk menjawab pertanyaan Who say what, siapa mengatakan apa? To whom, kepada siapa? Trough what channel, melalui saluran apa? and with what effect, dengan efek seperti apa? Sedangkan berbeda dengan yang diungkapkan oleh Westley dan Maclean (1957) urutan komunikasi massa tidak sederhana lagi seperti definisi Lasswell yaitu menjadi:
Peristiwa dan suara-suara. Dalam masyarakat (event and voice in

society)
Saluran/ peran komunikator (channel/ communicator role)

Pesan Penerima
7

Morissan, 2010, Teori Komunikasi Massa, Media, Budaya dan Masyarakat, Bogor; Ghalia Indonesia. hlm 10-14.

Pandangan ini memiliki tiga cirri penting (1) media memiliki peran untuk melakukan pemilihan atau seleksi atas pesan apa saja yang dapat dikirimkan audien, (2) proses pemilihan pesan dilakukan atas pertimbangan pesan apa yang diinginkan audien dan pesan apa yang menarik audien, dan (3) komunikasi ridak bersifat purposive, dalam arti media massa tidak bertujuan untuk membujuk, mendidik dan tidak untuk memberikan informasi. Model transmisi memiliki sifat yang dapat mengatur diri sendiri. Model ini cocok dengan Negara yang menerapkan sistem media massa bebas dikelola menurut hukum pasar (free-market media) seperti di Amerika dan Indonesia saat ini dan tidak cocok dengan Negara yang menerapkan sistem media massa yang diikelola oleh Negara (state media system) seperti di Malaysia. 2. Model Ritual Selain model transisi Carey menambahkan sebuah model komunikasi massa yang sering disebut dengan ritual, model ini menyatakan , communication is link to such terms as sharing, participation, association, fellowship and possession of common faith a is ritual view is not directed toward the extension of message in space, but maintenance of society in time; not the act of imparting information but representation of shre belief (komunikasi massa memiliki hubungan dengan hal-hal, seperti kebersamaan, partisipasi, kerja sama, persahabatan, dan keyakinan atau kepercayaan yang sama. Model ritual diarahkan pada pengiriman pesan, tetapi pemeliharaan masyarakat yang dilakukan pada waktunya; komunikasi ritual bukan tindakan untuk memberikan informasi, namun representasi terhadap kepercayaan yang sama). Model ini juga disebut dengan model komunikasi ekspresif karena menekankan pada kepuasan bagi pengirim dan penerima pesan. Komunikasi ekspresif memiliki beberapa hal penting yang harus diperhatikan yaitu,

Komunikasi ritual / ekspresif

terkadang membutuhkan elemen

pertunujukan (performance) untuk terjadinya proses komunikasi. Komunikasi ritual hanya terjadi jika terdapat kesaman pemahaman dan emosi diantara para anggotannya. Pesan pada komunikasi ritual biasanya bersifat tersembunyi atau memiliki arti ganda, tergantung pada simbol-simbol yang ditunjukkan oleh kebudayaan masyarakat. Media dan pesan biasanya sulit untuk dipisahkan.
Komunikasi ritual tidak dibatasi oleh waktu dan sulit untuk berubah. Komunikasi ritual dapat menimbulkan dampak positif bagi masyarakat.

Misalnya, meningkatkan integrasi masyarakat dan mempererat hubungan sosial.


Komunikasi ritual kerap digunakan dalam kampanye komunikasi

terencana. Model ritual memiliki peran untuk menyatukan dan memobilisasi sentimen dan tindakan. 3. Model Publisitas Model publisitas (publicity model) berpendapat bahwa tujuan utama media massa tidak hanya untuk menirimkan informasi tertentu atau menyatukan masyarakat dalam suatu ekspresi yang bersifat budaya, kepercayaan, atau nilainilai tertentu. Model ini menimbulkan kontroversi di pengamat komunikasi, seperti yang dikemukakan oleh Elliot (1972) bahwa komunikasi publisitas itu sama sekali bukanlah suatu bentuk komunikassi massa, jika komunikasi massa mensyaratkan adanya pengiriman makna (transfer of meaning) sedangkan pada

model publisitas menganggap audien media sebgai penonton daripada penerima informasi. Pendapat ini didukung pula oleh pendapat yang dikemukakan Denis McQuaild; the fact of being known is often more important than the content of what is known is necessary condition for celebrity. A good deal of effort in media production is devoted to devices for gaining and keeping attention by catching the eye, arousing emotion, stimulating interest (fakta untuk diketahui sering kali lebih penting dibandingkan dengan apa yang ingin diketahui dan menjadi hal yang diperlukan hanya untuk meraih popularitas. Berbagai upaya dalam produksi media dicurahkan untuk produksi yang dapat memenangkan dan menahan perhatian dengan cara menarik mata, meningkatkan emosi, dan mendorong daya tarik). 4. Model Penerimaan Esensi dari model penerimaan ini adalah menempatkan atribusi dan konstruksi makna yang berasal dari media kepada penerima. Isi media adalah selalu terbuka dan memiliki banyak makna (polisemyc). Makna diberi interpretasi menurut konteks dan budaya dari penerimanya.