Anda di halaman 1dari 7

4.

1 INVESTIGASI Investigasi adalah kegiatan awal dalam proses perbaikan transformator distribusi dengan cara melakukan pengamatan untuk mengetahui nilai-nolai data teknis. Tujuan dari investigasi adalah untuk mengetahui jenis kerusakan yang dialami transformator yang diperbaiki. Hal ini penting dilakukan untuk menentukan langkah dan harga perbaikannya. Bila trafo tidak memungkinkan untuk diperbaiki atau membutuhkan biaya yang tinggi maka transformator tersebut akan dikembalikan pada pemiliknya. Pada tahap ini dilakukan investigasi dan analisa kerusakan secara visual pada transformator distribusi, yang meliputi: a. Uji tahanan isolasi Menggunakan megger, dimaksudkan untuk mengetahui tahanan isolasi pada transformator. Yang perlu di tes adalah: Kumparan Primer-Kumparan Sekunder Kumparan Sekunder-Body Kumparan Primer-Body

Dengan ketentuan nilai harus nol (0), jika merger menunjukan angka maka terjadi hubung singkat pada kawat email/isolasi tembus. b. Uji nilai perbandingan kumparan (primer dan sekunder) Pada tes ini dilakukan pengecekan nilai kumparan dengan menggunakan TTR ( Transformator Turns Ratiometer ). Pengecekan ini untuk mengetahui perbandingan jumlah lilitan kumparan primer dan kumparan sekunder dengan nilai uji yang sesuai. Selain itu pada tahap ini TTR juga dapat mengetahui sambungan vektor dari transformator tersebut, selain itu juga TTR dapat mengetahui adanya kerusakan pada spuel, seperti hubung singkat antar kawat di sisi primer maupun sekunder.

c. Komponen dan aksesori pada tahap ini dilakukan pengecekan disemua bagian-bagian transformator, seperti bushing, isolator, kran minyak, tangki, dsb. Jiks ditemukan kerusakan di salah satu bagian maka akan segera diganti dengan yang baru. 4.2 PEMBONGKARAN

Pembongkaran transformator dilakukan dengan melepas baut-baut dek atas terlebih dahulu, kemudian mengeluarkan inti transformator dari bak trafo. Berikutnya adalah mengeluarkan minyak dari bak trafo, melepas hubungan vektor kumparan, membongkar inti besi dan melepas tap changer. Pembongkaran lilitan trafo yang telah ruusak harus diikuti dengan menghitung jumlah lilitannya. Untuk transformator distribusi ( step down ), jumlah lilitan sekunder relatif sedikit dan berpenampang besar, sedangkan jumlah lilitan primer mencapai ribuan dan berpenampang relatif kecil. Tidak perlu dilakukan perhitungan secara keseluruhan akan tetapi hanya dilakukan perhitungan jumlah lilitan per tap pada lilitan primer. Hal ini sudah dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan jumlah lilitan keseluruhan.

Gambar Mengeluarkan trafo dari bak

Gambar Memotong hubungan vektor

Gambar Membongkar inti besi

Gambar Pembongkaran lilitan

4.3 REWINDING LILITAN TRANSFORMATOR Proses rewinding atau penggulungan kembali lilitan transformator disesuaikan dengan jumlah lilitan transformator aslinya. Dalam melakukan proses rewinding dapat dilakukan dengan meniru kondisi asli transformator maupun melakukan inovasi dengan melakukan perubahan struktur lilitan yang semula satu shaft menjadi dua, tiga atau empat shaft. . Selain itu yang perlu diperhatikan adalah jumlah lilitan pada tiap tap. Kesalahan pada penghitungan jumlah lilitan

dapat mengakibatkan perbedaan tegangan keluaran yang dihasilkan. Diameter kawat yang digunakan juga harus sesuai dengan spesifikasi dari pabrik pembuat tidak boleh terlalu besar atau terlalu kecil. Jika kawat terlalu kecil maka trafo akan mudah terbakar akibat kemampuan hantar arus kawat tersebut kecil, jika kawat terlalu besar maka akan mempengaruhi besarnya trafo dikhawatirkan akan berpengaruh saat dimasukkan kembali ke bak tafo.

Gambar Proses rewinding

Jumlah lilitan haruslah sama dengan pada saat sebelum dibongkar. Untuk itu diperlukan penghitungan jumlah lilitan total sebelum dilakukan penggulungan. Perlu juga perencanaan jumlah tap dan jumlah lilitan tiap tap. Jumlah lilitan tiap tap bisa diketahui pada saaat pembongkaran lilitan. Sedangkan untuk jumlah lilitan total dapat dilakukan debgan penghitungan dengan rumus yang sesuai dengan vektor grup yang digunakan trafo. Contoh penghitungan lilitan, sebagai berikut : Diketahui : Merk No. Seri Milik Daya/Phs Vektor Grup : Bb. Jaya : 9701016 : Cabang Ponorogo : 25 kV/3 : Yzn5

Jumlah Lilitan Tap : 225 Tegangan Primer : 22000 V 21000 V 20000 V 19000 V 18000 V

Tegangan Sekunder : 400 V Ditanyakan : Jumlah lilitan total ? Jawab :

Trafo yang akan dihitung lilitannya memiliki vektor grup Yzn5, sehingga perbandingan lilitan yang dipakai adalah

Perbandingan lilitan adalah sebanding dengan nilai tegangan, maka

Mencari jumlah lilitan primer bila diketahui jumlah lilitan tiap tap:

Jumlah lilitan primer di atas masih merupakan nilai sementara belum merupakan nilai sebenarnya, nilai di atas akan digunakan untuk menghitung jumlah lilitan sekunder.

Dari jumlah lilitan sekunder di atas barulah dapat dihitung jumlah lilitan primer yang sebenarnya dengan cara mengalikan w2 dengan nilai rationya. Besarnya nilai ratio ditentukan sesuai standar SPLN No.50 tahun 1997. Trafo di atas memiliki nilai up tap 22 kV dengan vektor grup Yzn5, maka nilai rationya adalah 95,260.

Jadi nilai lilitan primer yang sebenarnya adalah 9907. *) catatan : w1=N1=lilitan primer w2=N2=lilitan sekunder

4.4 PERAKITAN TAHAP 1 Proses perakitan tahap 1 terdiri dari pemasangan lilitan dengan inti besi, penyambungan tap changer / pengubah sadapan dan pemasangan bushing. Diakhir tahap perakitan tahap 1 dilakukan tes megger untuk mengetahui tahanan isolasi antar lilitan dan tes TTR ( Transformer Turn Ratio ) untuk memastikan perbandingan tegangan primer dengan sekunder telah sesuai.

Gambar TTR (TransformerTurn Ratio)

Gambar Proses memasukkan lilitan trafo kedalam inti besi

Tabel nilai ratio sesuai dengan SPLN No. 50 tahun 1997 :


Nilai Ratio Transformator 3 Phasa SPLN No. 50 Tahun 1997 Up Tap 22 kV Nilai Ratio Tap 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 Batas Min 94.783 90.475 86.167 81.858 77.550 94.783 90.475 86.167 81.858 77.550 54.725 52.238 Standard 95.260 90.930 86.600 82.270 77.940 95.260 90.930 86.600 82.270 77.940 55.000 52.500 Batas Maks 95.736 91.384 87.033 82.681 78.329 95.736 91.384 87.033 82.681 78.329 55.275 52.763 Yyn5/6 Yzn5/11 Vektor Grup Tap 1 Dyn5/11 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 Up Tap 21 kV Nilai Ratio Batas Min 90.475 88.231 86.167 84.012 81.858 90.475 88.231 86.167 84.012 81.858 52.238 50.994 Standard 90.930 88.765 86.600 84.435 82.270 90.930 88.765 86.600 84.435 82.270 52.500 51.250 Batas Maks 91.384 89.208 87.033 84.857 82.681 91.384 89.208 87.033 84.857 82.681 52.763 51.506

3 4 5

49.750 47.263 44.775

50.000 47.500 45.000

50.250 47.738 45.225

3 4 5
Gambar Tabel Ratio

49.750 48.506 47.263

50.000 48.750 47.500

50.250 48.994 47.738

4.5 PENGERINGAN Pengeringan dilakukan menggunakan mesi pemanas / oven maupun dilakukan dengan injeksi arus pada terminal primer dengan terminal sekundernya dihubung singkat. Fungsi pengeringan transformator adalah untuk menghilangkan kadar air yang terkandung dalam bahan isolasi lilitan transformator sehingga didapatkan nilai tahanan isolasi yang tinggi.

Gambar Proses pengovenan trafo

4.6 PERAKITAN TAHAP 2 Proses perakitan tahap 2 terdiri dari pembersihan tangki transformator dan kotoran, memasukan inti besi dan lilitan yang telah terakit ke dalam tangki menggunakan crane serta pengisian minyak trafo ke tangki.

Gambar Proses memasukkan lilitan trafo kedalam tangki

4.7 TREATMENT Proses treatment merupakan proses purifikasi minyak trafo untuk mendapatkan nilai tegangan tembus minyak yang tinggi. Saat proses treatment minyak trafo mengalami heating atau pemanasan, penyaringan dan vakum pada sebuah tabung degassing yang bertujuan memisahkan kotoran yang mengkontaminasi minyak dan menghilangkan gas-gas yang terkandung dalam minyak.
Introduction pump

trafo

strainer

heater

Ultra filter
Uap air Oli bersih

Uap air keluar

vaccum
Pengembunan uap air

Drive regulator
Extration pump

degassing

Gambar Diagram alur mesin treatment . Proses ini berlangsung beberapa siklus putaran minyak sampai diperoleh tegangan tembus minyak memenuhi standar yang ditetapkan. Selama proses heating suhu minyak trafo dinaikkan secara bertahap sampai mencapai suhu 70 C.

4.8 PENGUKURAN Trafo yang telah selesai dilakukan treatment maka dilakukan pengukuran yang meliputi pengukuran tahanan isolasi (megger), tahanan lilitan (RDC), TTR (Transformer Turns Ratio), rugi inti besi (losses no load) dan rugi tembaga (losses full load / impedansi). Pengujian meliputi uji tegangan terapan 50 kV selama 60 detik, uji teganagn induksi lebih (induce test) sebesar dua kali tegangan nominal denagn frekuensi 400Hz selama 15 detik. 4.9 PENGECATAN Trafo yang telah selesai diperbaiki dan telah dilakukan pengetesan dengan hasil baik kemudian dilakukan pengecatan. Pengecatan dilakukan dengan metode spray. Tujuan pengecatan adalah untuk menghambat terjadinya korosi pada tangki trafo sehingga mencegah terjadinya keboocoran tangki. Pemilihan warna cat yang memiliki daya serap minimal.

Gambar Proses pengecatan trafo