Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penyakit infeksi masih merupakan masalah kesehatan masyarakat yang utama di negara-negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Diantaranya adalah meningitis yang juga merupakan penyakit infeksi perlu perhatian kita. Meningitis adalah infeksi cairan otak disertai radang yang mengenai piamater, arakhnoid dan dalam derajat yang lebih ringan mengenai jaringan otak dan medula spinalis yang superfisial. Dalam bukunya Brunner & Sudart, Meningitis selanjutnya diklasifikasikan sebagai asepsis, sepsis dan tuberkulosa. Meningitis aseptik mengacu pada salah satu meningitis virus atau menyebabkan iritasi meningen yang disebabkan oleh abses otak, ensefalitis limfoma, leukemia, atau darah diruang subarakhnoid. Meningitis sepsis menunjukkan meningitis yang disebabkan oleh organisme bakteri seperti meningokokus, stafilokokus atau basilus influenza. Meningitis tuberkulosa disebabkan oleh basilus tuberkel. Infeksi meningeal umunya dihubungkan dengan satu atau dua jalan, melalui salah satu aliran darah sebagai konsekuensi dari infeksi-infeksi bagian lain, seperti selulitis, atau penekanan langsung seperti didapat setelah cedera traumatik tulang wajah. Dalam jumlah kecil pada beberapa kasus merupakan iatrogenik atau hasil sekunder prosedur invasif (seperti fungsi lumbal) atau alatalat infasif (seperti alat pantau TIK). Disamping angka kematiannya yang masih tinggi. Banyak penderita yang menjadi cacat akibat keterlambatan dalam diagnosis dan pengobatan. Penyakit ini dapat terjadi pada segala umur, tetapi jarang dibawah 6 bulan. Yang tersering adalah pada anak-anak umur 6 bulan sampai 5 tahun. Penyakit ini juga dapat menyebabkan kematian dan cacat bila pengobatan terlambat. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apa pengertian dan macam-macam dari meningitis? 2. Bagaimana patofisiologi dan manifestasi klinis dari meningitis ? 3. Bagaimana pencegahan dan pengobatan untuk meningitis ? 4. Bagaimana asuhan keperawatan yang tepat untuk pasien dengan meningitis ?
1

5. Bagaimana implikasi keperawatan yang tepat untuk klien dengan meningitis ?

1.3 Tujuan 1. Mengetahui pengertian dan macam-macam dari meningitis 2. Mengetahui patofisiologi dan manifestasi klinis dari meningitis 3. Mengetahui pencegahan dan pengobatan untuk meningitis 4. Mengetahui asuhan keperawatan yang tepat untuk pasien dengan meningitis 5. Mengetahui implikasi keperawatan yang tepat untuk klien dengan meningitis

1.4 Manfaat 1. Mahasiswa mampu memahami pengertian dan macam-macam dari meningitis 2. Mahasiswa mampu memahami gambaran klinis meningitis. 3. Mahasiswa dapat merumuskan asuhan keperawatan yang tepat bagi pasien meningitis 4. Mahasiswa mampu mengembangkan critical thinking nya.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

MENINGITIS 2.1 Definisi Meningitis merupakan inflamasi pada selaput otak yang mengenai lapisan piamater dan ruang subarachnoid maupun arachnoid, dan termasuk (Hickey, 1997). Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu membran atau selaput yang melapisi otak dan medulla spinalis, dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah cairan serebrospinal (CSS)

kedalam cairan otak (Black & Hawk, 2005). Meningitis adalah suatu reksi keradangan yang mengenai satu atau semua lapisan

selaput yang membungkus jaringan otak dan sumsum tulang belakang, yang menimbulkan eksudasi berupa pus atau serosa yang disebabkan oleh bakteri spesifik atau nonspesifik atau virus.

2.2 Patofisiologi Organisme penyebab meningitis memasuki meningen dapat secara langsung maupun tidak langsung (faktor predisposisi). Faktor faktor predisposisi mencakup infeksi jalan napas bagian atas, otitis media, mastoiditis, anemia sel sabit dan hemoglobinopatis lain, prosedur bedah saraf baru, trauma kepala, dan pengaruh imunologis. Saluran vena yang melalui nasofaring posterior, telinga bagian tengah, dan saluran mastoid menuju otak dan dan dekat dengan saluran vena-vena meningen itu semuanya merupakan penghubung yang menyokong perkembangan bakteri. Organisme masuk ke dalam aliran darah dan menyebabkan reaksi radang di dalam meningen dan di bawah daerah korteks, yang dapat menyebabkan thrombus dan aliran darah serebral. Jaringan serebral mengalami gangguan metabolism akibat eksudat meningen,

vaskulitis, dan hipoperfusi. Eksudat purulen dapat menyebar hinga dasar otak dan medulla sinallis. Radang juga menyebar ke dinding membrane ventrikel serebral.

2.3 Jenis Meningitis Meningitis bacterial Meningitis bakterial sering disebut juga sebagai meningitis purulen atau

meningitis septik. Meningitis bakterial merupakan karakteristik inflamasi pada seluruh meningen, dimana organisme masuk kedalam ruang arahnoid dan subarahnoid. Bakteri yang dapat mengakibatkan serangan meningitis adalah Streptococcus pneuemonia (pneumococcus) Bakteri ini penyebab tersering meningitis akut, dan paling umum menyebabkan meningitis pada bayi ataupun anak-anak. Neisseria meningitides Bakteri ini merupakan penyebab kedua terbanyak setelah Streptococcu

pneumoniae, Meningitis terjadi akibat adanya infeksi pada saluran nafas bagian atas yang kemudian bakterinya masuk kedalam peredaran darah
4

Haemophilus influenza Haemophilus influenzae type b (Hib) adalah jenis bakteri yang juga dapat menyebabkan meningitis. Jenis bakteri ini sebagai penyebab terjadinya infeksi pernafasan bagian atas, telinga bagian dalam dan sinusitis. Pemberian vaksin (Hib vaksin) telah membuktikan terjadinya angka penurunan pada kasus meningitis yang disebabkan bakteri jenis ini Staphylococcus aureus dan Mycobakterium tuberculosis (Ginsberg, 2008). Bentuk penularan meningitis bakteri dapat melalui kontak langsung, mencakup droplet dan secret dari hidung dan tenggorok yang membawa kuman atau infeksi dari orang lain. Resiko terhadap penyebab bakteri yang berbeda bervariasi sesuai kelompok usia. Kebanyakan meningitis Haemophilus influenza terjadi pada bayi usia kurang dari 2 tahun dan paling banyak pada usia 6-12 bulan. Peningkatan resiko pada bayi terjadi pada keadaan-eadaan seperti pada bayi dengan defisiensi immunoglobulin, penyakit sel sabit, atau riwayat splenektomi. Bakteri Streptococcus pneuemonia adalah sumber paling sering di meningitis pada orang dewasa. Meningitis bakterial jika cepat dideteksi dan mendapatkan penanganan yang tepat akan mendapatkan hasil yang baik. Meningitis Virus Meningitis virus biasanya disebut meningitis aseptik. Sering terjadi akibat lanjutan dari bermacam-macam penyakit akibat virus, meliputi : measles, mumps, herpes

simplek, dan herpes zoster. Virus penyebab meningitis dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu : Virus RNA (ribonuclear acid) Contoh virus RNA adalah enterovirus (polio), arbovirus (rubella), flavivirus (dengue), mixovirus (influenza, parotitis, morbili)

Virus DNA (deoxyribo nucleid acid) Contoh virus DNA antaa lain virus herpes, dan retrovirus (AIDS) Virus ditularkan melalui jalur fekal-oral. Gejala yang timbul sering berkaitan dengan infeksi gastrointestinal dengan mual, muntah, dan lemah.. Meningitis Jamur Meningitis kriptokokus neoformans biasa disebut meningitis jamur, disebabkan oleh infeksi jamur pada sistem saraf pusat yang sering terjadi pada pasien acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) 1999). (Ignatavicius & Wrokman, 2006; Wilkinson, penyakit

Infeksi jamur dan parasit pada susunan saraf pusat merupakan

oportunistik yang pada beberapa keadaan tidak terdiagnosa sehingga penanganannya juga sulit. Manifestasi infeksi jamur dan parasit pada susunan saraf pusat dapat berupa meningitis (paling sering) dan proses desak ruang (abses atau kista).

2.4 Manifestasi klinik Walaupun banyak jenis organisme penyebab meningitis, secara umum tanda dan gejalanya hampir sama semua. Tanda dan gejala yang ditimbulkan merupakan akibat iritasi pada meningen dan peningkatan TIK. Secara umum gejala meningitis pada pasien dewasa adalah sakit kepala, demam, mual, muntah, photopobia, adanya tanda rangsang meningeal/iritasi meningen seperti; kaku kuduk positif, tanda Kernig kesadaraan, positif, dan tanda Brudzinski positif, perubahan tingkat

kejang, peningkatan tekanan intrakranial, disfungsi saraf kranial, dan

penurunan status mental (Ignatavicius & Wrokman, 2006; Hickey, 1997). Sakit kepala dan demam Sakit kepala dan demam adalah tanda gejala awal yan paling sering. Sakit kepala dihubungkan dengan meningitis yang selalu berat dan sebagai akibat iritasi meningen. Demam umumnya ada dan tetap tinggi selama perjalanan penyakit. Perubahan pada tingkat kesadaran

Disorientasi dan gangguan memori biasanya merupakan awal adanya penyakit. Perubahan yang terjadi bergantung pada beratnya penyakit, serta respons individu terhadap proses fisiologik. Sesuai perkembangan penyakit, dapat terjadi letargik, tidak responsive dan koma Iritasi meningen Iritasi meningen mengakibatkan sejumlah tanda yang mudah dikenali dan umumnya terlihat pada semua tipe meningitis. Rigiditas nukai (kaku leher) Kesukaran untuk fleksi kepala karena adanya spasme otot-otot leher. Nyeri berat akan timbul jika melakukan fleksi secara paksa. Tanda kernig positif Suatu keadaan dimana ketika pasien dibaringkan dengan paha dalam keadaan fleksi ke arah abdomen, kaki tidak dapat diekstensikan secara sempurna Tanda Brudzinsky Merupakan keadaan ketika leher pasien difleksikan, maka dihasilnya adalah fleksi lutut dan pinggul serta bila dilakukan fleksi pasif pada ekstremitas bawah pada salah satu sisi, maka gerakan yang sama terlihat pada sisi ekstremitas yang berlawanan Kejang dan peningkatan TIK Kejang dan peningkatan tekanan intrakranial juga berhubungan dengan meningitis. Kejang sekunder terjadi akkibat area fokal kortikal yang peka. Tanda-tanda peningkatan TIK muncul akibat eksudat purulen dan edema serebral seperti perubahan karakteristik tanda vital, pernafasan tidak teratur, sakit kepala, muntah, dan hingga penurunan ketidaksadaran.

2.5 Komplikasi Komplikasi akut yang dapat terjadi pada meningitis diantaranya adalah kejang, pembentukan abses, hidrosephalus, sekresi hormone antidiuretik yang tidak sesuai dan syok septic. Komplikasi yang sering terjadi pada meningitis adalah peningkatan TIK yang menyebabkan penurunan kesadaran .Komplikasi lain pada meningitis yaitu disfungsi neurology, disfungsi saraf kranial (N.C III,IV VII atau VIII ), hemiparesis, dysphasia dan
7

hemiparesia. Juga dapat terjadi syok, gangguan koagulasi, komplikasi septic (bacterial endokarditis) dan demam yang terus menerus. DIC (Dimensi Intravascular Coagulation) adalah komplikasi yang serius pada meningitis yang dapat menyebabkan kematian. Manifestasi berat syok septic dengan koagulasi intravaskuler diseminata dan perdarahan adrenal adalah komplikasi meningitis meningokokal. Komplikasi meningokokal lainnya adalah arthritis, baik arthritis septic atau diperantarai kompleks imun.

2.6 Pemeriksaan Diagnostik Pemeriksaan diagnostik rutin pada pasien meningitis, meliputi laboratorium klinik rutin (Hb, leukosit, glukosa). Serum elektrolit dan glukosa dinilai untuk mengidentifikasi adanya ketidakseimbangan elektrolit terutama hiponatremi. Pemeriksaan laboratorium pada meningitis adalah cairan otak. Lumbal pungsi tidak bisa dikerjakan pada pasien dengan peningkatan tekanan intrakranial. Analisis cairan otak diperiksa untuk jumlah sel, protein, dan konsentrasi glukosa. Kadar glukosa darah dibandingkan dengan kadar glukosa cairan otak. Normalnya, kadar glukosa cairan otak adalah 2/3 dari nilai serum glukosa dan pada pasien meningitis kadar glukosa cairan otaknya menurun dari nilai normal. Pungsi lumbal pada meningitis bakterial akut yang tidak diterapi akan menunjukkan : Cairan serebrospinal keruh Peningkatan tekanan cairan serebrospinal leukositosis polimorfik (ratusan atau ribuan sel per L ) Peningkatan konsemtrasi protein (lebih dari 1g/L) Konsentrasi glukosa rendah (kurang dari setengah konsentrasi glukosa dalam darah, tetapi seringkali tidak terdeteksi) Tabel. Temuan LCS (Liquor Cerebrospinal/cairan serebrospinal) pada berbagai infeksi
Penyakit Meningitis bakterialis Meningitis virus Tekanan LCS Meningkat Normal Protein Meningkat sedang sampai tinggi Meningkat sedikit atau normal Hitung sel >50 PMN Limfosit Glukosa Rendah Normal

Meningitis tuberkulosis Ensefalitis Meningitis maligna

Meningkat Normal Meningkat atau normal Meningkat sedikit atau normal

Meningkat sedang Meningkat sedikit atau normal Meningkat

Pleositosis atau limfositosis Limfositosis Meningkat: baik limfosit reaktif atau sel-sel maligna

Rendah Normal Rendah

Kontraindikasi pungsi lumbal pada pasien dengan kecurigaan meningitis adalah edema papil, penurunan tingkat kesadaran, dan tanda neurologis fokal. Pada pasien dengan gejala tersebut, diperlukan CT scan kranial sebelum pungsi untuk menyingkirkan adanya massa pada fosa posterior, yang dapat menyerupai meningitis. Untuk mengetahui jenis mikroba, organisme penyebab infeksi dapat diidentifikasi melalui kultur kuman pada cairan serebrospinal dan darah. Counter Immuno Electrophoresis (CIE) digunakan secara luas untuk mendeteksi antigen bakteri pada cairan tubuh, umumnya cairan serebrospinal dan urine. Pemeriksaan lainnya diperlukan sesuai klinis klien, meliputi foto rontgen paru, dan CT scan kepala. CT scan dilakukan untuk menentukan adanya edema serebral atau penyakit saraf lainnya. Hasilnya biasanya normal, kecuali pada penyakit yang sudah sangat parah. 2.7 Penatalaksanaan Penatalaksanaan Medis a. Menentukan organisme penyebab. Jika organisme penyebab masih belum diketahui, maka digunakan kombinasi benzilpenisilin dan sefotaksim atau seftriakson. b. Isolasi pernapasan atau ketat tergantung pada organisme c. Puasakan, selanjutnya beri diet dari cairan jernih sampai diet yang sesuai usia dan toleransi pasien. Cairan dapat saat diet mulai diberikan. Cairan perenteral diturunkan sesuai peningkatan cairan per oral. d. Penatalaksanaan yang berhasil bergantung pada pemberian antibiotik yang melewati darah-barier otak ke dalam ruang subarakhnoid dalam konsentrasi yang cukup untuk menhentikan perkembangbiakan bakteri. Cairan serebrospinal (CSS) dan darah perlu dikultur, dan terapi mikroba dimulai segera. Dapat digunakan penisilin, ampisilin dan khloramfenikol, atau satu jenis dari sefalosforins. Antibiotik dosis tinggi diberikan

melalui intravena untuk mengisolasi organisme (antibiotik yang mencakup spektrum luas sampai organisme dapat diisolasi). Dalam jurnal Dexamethasone in Adults with Bacterial Meningitis disebutkan bahwa dengan terapi dexamethasone dapat meningkatkan outcome pada pasien dewasa dengan meningitis bakterial. Dexamethasone (10 mg setiap 6 jam selama empat hari) diberikan untuk semua pasien dewasa dimulai sebelum atau pada saat dosis pertama pemberian antibiotik. Pengobatan ini tidak meningkatkan risiko perdarahan gastrointestinal. e. Dehidrasi atau syok diobati dengan pemberian tambahan volume cairan. f. Kejang dapat terjadi pada awal penyakit, dikontrol dengan menggunakan diazepam atau fenitoin. Sedangkan untuk mengobati edema serebral dapat digunakan diuretik osmotik (seperti manitol). g. Ulangi pungsi lumbal untuk mengkaji efektivitas terapi. Jika pungsi lumbal ditunda karena harus dilakukan CT scan sebelumnya, maka terapi antibiotik harus segera dimulai sebelum scan, setelah sebelumnya diambil kultur darah. 2.8 Penatalaksanaan Keperawatan Prognosis pasien bergantung pada dukungan perawatan yang diberikan. Pasien yang parah dan dengan kombinasi adanya demam, dehidrasi, alkalosis dan edema serebral memungkinkan terjadinya kejang. Obstruksi jalan napas, henti napas atau disritmia jantung dapat terjadi, sehingga intervensi keperawatan harus bekerjasama dengan dokter. 1. Pada semua tipe meningitis, status klinis pasien dan tanda-tanda vital dikaji terusmenerus sesuai perubahan kesadaran yang dapat menimbulkan obstruksi jalan napas. Penentuan gas darah arteri, pemasangan selang endotrake (trakeostomi) dan penggunaan ventilasi mekanik. Oksigen dapat diberikan untuk mempertahankan tekanan oksigen arteri parsial (PO2) pada tingkat yang diinginkan. 2. Pantau tekanan arteri untuk mengkaji syok, yang mendahului gagal jantung dan pernapasan. Catat adanya vasokonstriksi, sianosis yang menyebar, dan ekstremitas dingin. Demam yang tinggi diturunkan untuk meningkatkan kerja jantung dan kebutuhan oksigen otak.

10

3. Penggantian cairan intravena dapat diberikan, tetapi perawatan tidak dilakukan untuk melebihi hidrasi pasien karena risiko edema serebral. 4. Berat badan, elektrolit serum, volume dan berat jenis urine, dan osmolalitas urine dipantau secara ketat, dan khususnya bila dicurigai hormon sekresi antidiuretik yang tidak tepat (ADH). 5. Penatalaksanaan keperawatan berkelanjutan memerlukan pengkajian yang terus menerus terhadap status klinis pasien, perhatikan kebersihan kulit dan mulut, peningkatan kenyamanan, dan perlindungan selama kejang dan saat koma. 6. Isolasi pernapasan dianjurkan sampai 24 jam setelah dimulainya terapi antibiotik 7. Bantu kebutuhan aktivitas dengan memberikan mobilisasi atau fisioterapi pada saat tidak kejang dan panas untuk mempertahankan Range of Motion (ROM) 8. Lakukan fisioterapi paru dan batuk efektif apabila ditemukan adanya masalah kurangnya oksigenasi. 9. Berikan lingkungan yang tenang dan bebas dari kebisingan atau yang dapat memberikan stimulus yang besar

2.9 Pencegahan Untuk mencegah terjadinya meningitis dapat dilakukan tindakan-tindakan sebagai berikut. 1. Kemoprofilaksis (rifampisin atau siprofloksasin) diindikasikan untuk orang yang serumah dengan pasien meningitis meningokokal. Individu yang kontak langsung dengan pasien harus diobservasi dan diperiksa secara langsung bila demam atau tanda dan gejala meningitis lain yang berkembang. Resiko dari meningitis pada kontak keluarga sekitar 4 dalam 1000, kurang lebih 500-1000 kali lipat dibandingkan populasi secara umum, dan resiko akan meningkat pada anak-anak. Resiko untuk terkena meningitis menjadi tinggi segera setelah kontak dengan penderita, dimana kebanyakan kasus timbul pada minggu pertama setelah kontak, paling lambat dalam 2 bulan. Pada kasus dengan penderita, secepatnya harus diberikan kemoprofilaksis. Kontak didefinisikan sebagai keluarga, perawat yang kontak dengan sekret oral dari pasien dan petugas kesehatan yang melakukan tindakan resusitasi mouth to mouth secara langsung.
11

Tabel. Kemoprofilaksis meningitis meningokokal

2. Imunisasi untuk pencegahan infeksi Haemophilus influenzae (menggunakan vaksin Haemophilus influenzae tipe b) direkomendasikan untuk diberikan secara rutin pada anak berusia 2, 3, dan 4 bulan.

12

BAB III PEMBAHASAN KASUS dan ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Kasus Tn. SS laki-laki 48 tahun, aktivitas sebagai mahasiswa S2, dating ke RS. A dibawa oleh keluarga karena terlihat gelisah, mengamuk, dan bicara merancau sejak dua belas jam SMRS. Lima hari SMRS pasien mengeuh sakit dirasakan memberat seperti diiris-iris pada puncak kepala, pandangan buram. Pasien berobat dan diberikan obat sakit kepala. Sakit mereda bila minum obat dan tidak lama kemudian kambuh dan sekarang obat tersebut tidak mempan lagi. Mengeluhkan mual, muntah, demam dan penurunan berat badan dan nafsu makan dan kandung kemih terasa penuh namun tidak bisa kencing. Riwayat penyalah gunaan obat disangkal. Pasien pernah mendapatkan tranfusi sebanyak dua kali sepuluh tahun yang lalu dan pernah menderita infeksi saluran nafas atas 3 tahun yang lalu. Pada pemerikasaan fisik saat masuk didapatkan tingkat kesadaran agitasi dengan tanda vital tekanan darah 150/90 mmHg, frekuensi nadi 80 kali per menit, frekuensi nafas 24 kali per menit, dan suhu 39,5C. pada pemeriksaan status neurologis nervus cranial dan ekstremitas tidak terkesan paresis. Pemeriksaan darah didapatkan Hb 9,2 g/dL, Ht 27%, leukosit 2500/uL, trombosil 125000, ureum 38 mg/dL, kreatinin 1.2 mg/dL, SGOT 24 U/L, SGPT 29 U/L, albumin 2.0 g/dL. 3.2 Pengkajian menggunakan 11 Pola fungsional Gordon 1. Persepsi kesehatan dan manajemen kesehatan 2. Nutrisi - metabolic 3. Eliminasi 4. Aktivitas latihan 5. Istirahat tidur 6. Kognitif perceptual 7. Persepsi diri / konsep diri 8. Peran hubungan 9. Seksual reproduksi
13

10. Koping toleransi stress 11. Nilai kepercayaan 1. Persepsi kesehatan dan manajemen kesehatan a. Status kesehatan: promosi dan praktek, pencegahan kesehatan, persepsi pengobatan atau perawawatan, follow up perawatan. o Status kesehatan sebelum : ( 5hari smrs) pasien mengeluh sakit yang memberat seperti diiris-iris pada puncak kepala, pandangan buram. o Status kesehatan sekarang : Pasien mengeluh mual, muntah, demam, penurunan berat badan dan nafsu makan, kandung kemih terasa penuh namun tidak bisa kencing. Pemeriksaan fisik: tingkat kesadaran agitasi. Tanda vital tekanan darah 150/90 mmHg, frekuensi nadi 80 kali per menit, frekuensi nafas 24 kali per menit, suhu 39,5 C Status neurologis nervus cranial dan ekstremitas tidak terkesan paresis Pemeriksaan darah Hb 9,2 g/dL, Ht 27%, leukosit 2500/uL, trombosit 125000, ureum 38 mg/dL, kreatinin 1,2 mg/dL, SGOT 24 U/L, SGPT 29 U/L, albumin 2,0 g/dL o Riwayat penyakit : pasien menderita infeksi saluran nafas atas (3 tahun lalu) o Riwayat pengobatan : Sebelum masuk rumah sakit, pasien berobat ke dokter dan diberikan obat sakit kepala. Sakit mereda bila minum obat dan tidak lama kemudian kamuh dan sekarang obat tersebut tidak mempan lagi. Riwayat penyalahgunaan obat disangkal o Riwayat perawatan dahulu : Pernah mendapatkan transfuse 2 kali 10 tahun yang lalu

b. Keamanan / proteksi : bahaya lingkungan, sumber-sumber yg potensial menimbulkan cidera fisik, terpapar dengan penyakit menular dan pathogen, alergi, daya tahan tubuh dan respon thd pathogen. c. Tumbuh kembang : Kepantasan perkembangan fisik, psikososial, dan moral (misal : erikson, piaget, kohlbreg), pencapaian dari tugas perkembangan dalam berbagai area Perkembangan fisik : mengalami gangguan karena menderita meningitis
14

Perkembangan psikososial : mengalami gangguan karena pasien harus dirawat dirumah sakit, sehingga perkembangan psikososial tidak bisa terpenuhi Perkembangan moral : mengalami gangguan, hal ini dapat dilihat dari 12 jam smrs, pasien merasa gelisah, mengamuk, dan bicara meracau.

2. Nutrisi-metabolik o Konsumsi Makanan dan cairan, tipe dan kuantitas dari makanan dan cairan, jenis makanan, waktu makan, diet khusus : Pasien mengeluhkan mual, muntah, demam, dan penurunan BB dan nafsu makan o Status cairan, kulit, integritas jaringan dan thermoregulasi: 3. Eliminasi o Pola BAB, BAK, fungsi ekskresi kulit, penggunaan alat untuk eliminasi: Kandung kemih terasa penuh namun tidak bisa kencing

4. Aktivitas-latihan o Pola latihan, ADL, aktifitas waktu luang, / rekreasi, keseimbangan energi, focus pada aktifitas yg penting : o Status kardiopulmonal dan pengaruhnya terhadap aktifitas : 5. Istirahat-tidur o Frekwensi dan durasi periode istirahat tidur, penggunaan obat tidur, kondisi lingkungan saat tidur : 6. Kognitif-perceptual o Fungsi sensori ( pendengaran, penglihatan, perasa, pembau, perabaan ) kenyamanan dan nyeri, fungsi kognitif ( bahasa, memori, penilaian, pengambilan keputusan ): Terlihat gelisah, mengamuk, dan bicara meracau sejak 12 jam SMRS 5 hari SMRS mengeluh sakit yang dirasakan memberat seperti diiris-iris pada puncak kepala, pandangan buram 7. Persepsi diri/konsep diri o Perasaan hargan diri secara umum, sikap tentang dirinya, identitas diri, pola emosional umum : 8. Peran-hubungan o Peran kelurga dan peran social, kepuasan dan ketidakpuasan dengan peran, persepsi terhadap peran yg terbesar dalam hidup : 15

9. Seksual-reproduksi o Focus pasutri terhadap kepuasan atau ketidakpuasan dengan seks, pola reproduksi ; menstruasi : 10. Koping-toleransi stress o Metode untuk mengatasi atau koping thd stress, mendefinisikan stressor, toleransi thd stress, efektifitas koping : 11. Nilai-kepercayaan o Nilai, tujuan, dan kepercayaan berhubungan dengan pilihan, atau membuat keputusan, kepercayaan spiritual, issu ttg hidup yg penting, hubungan antara pola nilai kepercayaan dengan masalah dan praktek kesehatan : -

3.3 Diagnosa, NOC dan NIC

NO

Masalah Keperawatan pasien mengeluh sakit yang

Diagnosa Keperawatan 1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologis).

memberat seperti diiris-iris pada puncak kepala, pandangan buram. Tanda vital tekanan darah 150/90 mmHg, frekuensi nadi 80 kali per menit, frekuensi nafas 24 kali per menit, suhu 39,5 C. kandung kemih terasa penuh namun tidak bisa kencing . 12 jam smrs, pasien merasa gelisah, mengamuk, dan bicara meracau. Pasien mengeluh mual, muntah, demam, penurunan berat badan dan nafsu makan. Diagnosa Keperawatan
16

2. Risk for ineffective cerebral tissue perpusion.

3. Retensi urin berhubungan dengan inhibisi arkus reflex

4. Risiko Cedera

5. Risiko infeksi

1. Nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologis). Domain 12 Class 1 : Comfort : Physical Comfort

Definisi: Pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jarungan yang actual atau potensial, digambarkan dalam istilah seperti kerusakan (International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan. Batasan karakteristik Subjektif Megungkapkan nyeri secara verbal. Objektif Perubahan nafsu makan Perubahan tekanan darah Perubahan frekuensi nafas Perilaku ekspresif (gelisah, mengamuk) Focus menyempit (bicara merancau) NOC Tingkat nyeri: jumlah nyeri yang dilaporkan atau ditunjukkan. Indikator : a. Melaporkan nyeri (frekuensi & lama) b. Perubahan vital sign dalam batas normal Tingkat kenyamanan: perasaan senang secara fisik dan psikologis. Indikator : a. Melaporkan kondisi fisik yang nyaman b. Menunjukan ekspresi puas terhadap manajemen nyeri Perilaku mengendalikan nyeri: tindakan seseorang untuk mengendalikan nyeri. Indikator : a. Mengungkap faktor pencetus nyeri b. Menggunakan tetapi non farmakologi c. Dapat menggunakan berbagai sumber untuk mengontrol nyeri
17

d. Melaporkan nyeri terkontrol Keterangan skala : 1 = Tidak pernah menunjukan 2 = Jarang menunjukan 3 = Kadang menunjukan 4 = Sering menunjukan 5 = Selalu menunjukan NIC 1) Penatalaksanaan nyeri: meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyamanan yang dapat diterima oleh pasien. Aktifitas: Lakukan pengkajian nyeri yang komprehansif meliputi lokasi, karakteristik, awitan/ durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keperahan nyeri, dan faktor presipitasinya. Observasi isyarat ketidaknyamanan nonverbal, khususnya pada mereka yang tidak mampu mengkomunikasikannya secara efektif. Ajarkan teknik nonfarmakologi (misalnya, biofeedback, TENS, hypnosis, relaksasi, guided imagery, terapi music, distraksi, terapi aktivitas, akupresur, kompres hangat/dingin, dan massage) sebelum nyeri terjadi atau meningkat, dan selama tindakan pengurangan nyeri yang lain. Pastikan bahwa pasien menerima attentive analgesic care. Gunakan lembar alur nyeri ntuk memantau pengurangan nyeri dari analgesk dan kemungkinan efek sampingnya. Kendalikan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya, suhu ruangan, cahaya, dan kegaduhan). 2) Vital sign monitoring: mengumpulkan dan menganalisis data respon

kardiovaskular, pernafasan, dan suhu tubuh untuk mencegah komplikasi. Aktivitas: Monitor tekanan darah, nadi, suhu tubuh, dan status pernafasan. Monitor tekanan darah setelah pasien menerima medikasi.

18

2. Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral Domain 4 Class 4 : Activity/Rest : Cardiovascular/ Pulmonary Responses

Definisi : berisiko mengalami penurunan sirkulasi jaringan serebral. Faktor risiko: Edema serebral (meningitis) Hipertensi

NOC: Cerebaral Tissue Perfusion : kecukupan aliran darah melalui pembuluh darah serebral untuk mempertahankan fungsi otak . Indikator : a. Perfusi jaringan yang adekuat didasarkan pada tekanan nadi perifer, kehangatan kulit, b. Urine output yang adekuat c. Tidak ada gangguan pada respirasi Perawatan sirkulasi NIC : Cerebral Perfusion Promotion : promosi perfusi yang adekuat dan mematasi

komplikasi untuk pasien yang berisiko mengalami terjadinya perfusi serebral yang tidak memadai. Aktivitas : Pertahankan tirah baring dengan posisi kepala datar dan panta tanda vital, seperti tekanan darah, catat tekanan hipertensi sistolik yang terus menerus dan tekanan nadi yang melebar. Pantau status neurologi dengan teratur dan bandingkan dengan normalnya. Kaji rangsangan dan adanya serangan kejang. Pantau pola dan irama pernafasan. Pantau suhu tubuh dan suhu lingkungan sesuai kebutuhan.

3. Retensi urin berhubungan dengan inhibisi arkus reflex Domain 3 : elimination and exchange
19

Class 1 Definisi

: urinary function : Keadaan individu yang mengalami ketidaksempurnaan pengosongan

kandung kemih. Batasan karakteristik Subjektif Sensasi kandung kemih penuh. Objektif Urine output sedikit atau tidak ada. NOC Kontinensia urin: Pengendalian eliminasi urin Kriteria Hasil: a. Kandung kemih kosong sempuma b. Tidak ada sisa setelah buang air > 100-200 cc. c. Asupan cairan dalam rentang yang diharapkan. Ket Skala: 1) = Tidak pernab menunjukkan 2) = Jarang menunjukkan 3) = Kadang menunjukkan 4) = Sering menunjukkan 5) = Selalu menunjukkan Eliminasi urin: kemampuan system perkemihan untuk menyaring sisa, menyimpan zat tertentu, dan mengumpulkan serta membuang urine dengan pola yang sehat. NIC Kateterisasi urin: pemasukan kateter ke dalam kandung kemih untuk waktu sementara atau permanen untuk pengeluaran urin. Jelaskan prosedur dan alasan intervensi. Pertahankan teknik aseptik.
20

Monitor intake dan output.

Perawatan retensi urine: Bantuan dalam menghilangkan distensi kandung kemih. Aktivitas: Pantau derajat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi. Berikan privasi untuk eliminasi.

4. Risiko Cedera Domain 11 Class 2 Definisi : Safety/ protection : Physical injury : Suatu kondisi indivisu yang berisiko untuk mengalami cedera sebagai

akibat dari kondisi lingkungan yang berhubungan dengan sumber-sumber adaptif dan pertahanan. Faktor risiko Disfungsi sensoris Profil darah yang abnormal. Menurunnya kadar hemoglobin. Nutrisi.

NOC Pengendalian risiko: tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman kesehatan actual, pribadi, yang dapat dimodifikasi. Perilaku keamanan: Pencegahan jatuh: Tindakan individu atau pemberi perawatan untuk meminimalkan faktor risiko. NIC Anger control assistance Aktivitas: Gunakan pendekatan yang menenangkan. Mencegah melukai diri jika kemarahan langsung pada diri sendiri atau orang lain. Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber kemarahan. Instruksikan penggunaan tindakan untuk menenangkan (misal, nafas dalam).

21

Mencegah jatuh: menyelenggarakan pencegahan pada pasien berisiko cedera karena jatuh. Aktivitas: Identifikasi faktor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan, misalnya perubahan status mental, keletihan, pengobatan, dan deficit motorik/sensorik. Gunakan restrain fisik untuk membatasi risiko cedera. Jauhi bahaya lingkungan (misal, berikan pencahayaan yang adekuat).

5. Risiko infeksi Domain 11 Class 1 Definisi : Safety/Protection : Infection : suatu kondisi individu yang mengalami peningkatan risiko terserang

organisme patogenik. Faktor risiko Pertahanan sekunder yang tidak adekuat (penurunan hemoglobin, leucopenia, respon inflamasi tersupresi) NOC Status imun: Keadekuatan alami yag didapat dan secara tepat ditujukan untuk menahan antigen-antigen internal maupun eksternal. Pengetahuan: Pengandalian Infeksi: Tingkat pemahaman mengenai pencegahan dan pengendalian infeksi. Pengendalian Infeksi: Tindakan untuk menghilangkan atau mengurangi ancaman kesehatan actual, pribadi, serta dapat dimodifikasi. NIC Pengendalian Infeksi: Meminimalkan penularan agen infeksius. Perlindungan terhadap Infeksi: Mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien yang berisiko. Aktivitas Pantau tanda/gejala infeksi (misalnya suhu tubuh, denyut jantung, keletihan) Kaji faktor yang meningkatkan serangan infeksi.
22

Pantau hasil laboratorium. Jelaskan kepada pasien dan keluarga mengapa sakit dan pengobatan meningkatkan risiko terhadap infeksi. Instruksikan untuk menjaga hygiene pribadi untuk melindungi tubuh terhadap infeksi. Terapkan universal precaution. Ajarkan kepada pengunjung untuk mencuci tangan sewaktu masuk dan meninggalkan ruangan pasien. Ajarkan pasien dan keluarga tanda/gejala infeksi dan kapan harus melaporkannya ke pusat kesehatan.

23

BAB IV PENUTUP

4.1 Kesimpulan 1. Meningitis adalah peradangan yang terjadi pada meningen, yaitu membran atau selaput yang melapisi otak dan medulla spinalis, dapat disebabkan berbagai organisme seperti virus, bakteri ataupun jamur yang menyebar masuk kedalam darah dan berpindah

kedalam cairan otak (Black & Hawk, 2005). 2. Jenis meningitis dibagi menjadi tiga, yaitu : Meningitis bacterial, meningitis virus, meningitis jamur. 3. Tanda dan gejala yang ditimbulkan merupakan akibat iritasi pada meningen dan peningkatan TIK. Secara umum gejala meningitis pada pasien dewasa adalah sakit

kepala, demam, mual, muntah, photopobia, adanya tanda rangsang meningeal/iritasi meningen seperti; kaku kuduk positif, tanda Kernig positif, dan tanda Brudzinski positif, perubahan tingkat kesadaraan, kejang, peningkatan tekanan intrakranial, disfungsi saraf kranial, dan penurunan status mental (Ignatavicius & Wrokman, 2006; Hickey, 1997). 4. Diagnose keperawatan yang sesuai untuk Tn. SS adalah nyeri akut berhubungan dengan agen injuri (biologis), risk for ineffective cerebral tissue perpusion, retensi urin berhubungan dengan inhibisi arkus reflex, resiko infeksi dan resiko cedera.

4.2 Saran Bagi Mahasiswa Sebagai calon perawat yang memiliki salah satu fungsi sebagai educator diharapkan mampu mengembangkan wawasan dan keterampilan termasuk pengetahuan dan keterampilan untuk menangani meningitis. Bagi Profesi Perawat Perawat memiliki peran penting dalam memberikan pendidikan kesehatan kepada individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat. Perawat diharapkan mampu memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan optimal yang mendukung kesembuhan pasien Bagi keluarga
24

Keluarga memberikan dukungan dan bantuan dalam berbagai aspek baik kognitif, sosial dan spiritual pasien terutama dalam hal pengaturan pola makan. Keluarga memberikan motivasi pada pasien sehingga pasien tidak putus asa dengan penyakitnya.

4.3 Implikasi Keperawatan Perawat memberikan edukasi mengenai meningitis serta informasi mengenai tindakan pencegahan untuk menghindari memburuknya penyakit yang dapat dilakukan pasien dan keluarga. Perawat memberikan konsultasi mengenai intervensi yang dapat dilakukan untuk perawatan dan pencegahan komplikasi meningitis. Perawat mampu melakukan pengkajian dan memberikan asuhan keperawatan yang tepat terkait dengan penyakit meningitis. Perawat melakukan penelitian lebih lanjut mengenai intervensi non farmakologi yang dapat digunakan untuk mencegah memburuknya penyakit dan komplikasi akibat meningitis.

25