Anda di halaman 1dari 6

karena asmara segalanya nampak sia hanya terpukau rupa wangi tubuh dan birahi menyala bertahun-tahun ia panggul

kutuk itu tapi tak mau jadi sisipus meski tubuhnya tak kurus atau kelopak matanya tirus sebab pertemuan kerap sisakan debar ketika ia bergetar pada setiap kesiut warna

"bagaimana aku tahu jika engkau ibuku; sedangkan berpuluh tahun kita tak bertemu?" ia mendesau sengau, juga permintaan yang panjang dari sumbi sebab nyala birahi, membuatnya berulang ditikam sepi

"aku sudah jadi lelaki perkasa. kecuplah segala urat tubuhku dan aku takjub pada siluet tubuhmu,"

* saat itu pagi merekah tertinggal basah pada bibir perempuan meskipun hujan belum tiba

betapa perempuan itu kembali jadi dara yang memecah mantra ketika bicara kelopak bibirnya setengah terbuka semacam tenung yang mengurung bagi dada lelaki

sungguh! perempuan itu telah mencatat prasasti di suatu pagi, liuk tatapnya seperti panah yang menancap dada tapi lelaki itu tak juga sakit bahkan saat panah itu kembali menancap berulangkali. toh, ia terbiasa menahannya sejak kecil dan mungil

kini, ia yakin bila jodohnya tiba

* apakah ia lupa menandai dulu; saat terbungkus di rahim milik siapa? hanya diingatnya hangat alir darah desir sayat kesakitan menjerti dan ia menangis saat bayi ia mengingat hari kelahiran

dan merasa ada mimpi baru yang tak pernah ditempuh

bertahun-tahun ia lupa pada ibu

tapi ibu bukan pendendam tak semacam ibunya kundang mengutuk jadi batu telanjang ihwal anak durhaka menandai bekas rahimnya yang pecah

berapa banyak engkau rendam; kangen yang merajam pada anak lanang ketika beratus malam tandang lenyap di tengah gelap lenyap ketika mengingat engkau yang sendirian setelah kelahiran kutinggalkan dirimu, sangkuriang

* di hari-hari yang kelabu ia masuk keluar hutan

akrab dan bertahan di rindang dahan tumbuh bersama tanah dan akar tapi ia telah bermimpi basah bayangan perempuan lingga yang basah dan suara penuh desah ia telah memanggul napas lelaki dewasa di kepalanya penuh dengan lekuk bidadari

* ketika ia tiba di sebuah rumah, cuma ada perempuan itu-yang beratus hari kemudian memanah dadanya. dan ia merasa bahagia

ada yang bercambah menyesaki tubuh ia yang menyerah pada harum tubuh

* mereka bertemu pada tahun yang lembap tembang asamara itupun bergeriap

dosakah satu kecupan bagimu, ibu?

dan burung-burung menyanyikan balada hutan bergema penuh dengan desah akar

"semestinya aku tahu tanda itu. bukankah kulit jangat tubuh begitu liat dan mengikat. aku ingat, kelahirannya yang dibisiki misteri. ah, anak lanagnku; mengapa engkau jatuh cinta padaku?" perempuan dengan tubuh wangi itu menyesali yang terjadi ia paham, tak mungkin menolak birahi dari perjaka muda itu ia senang dengan pertemuan ini bertahun-tahun kehilangan anak semata wayang tapi segalanya terlanjur celaka membuatnya limbung, jatuh di tahun-tahun ia masih muda

tapi kecantikan tak pernah sirna seperti cahaya matahari yang abadi tak bisa ditolak meskipun malamnya dipenuhi dengan isak

* "aku ingin sebuah perahu. tapi bukan nuh."

pagi yang tinggi lesung yang menyanyi ia tahu, lelaki muda sakti itu bakal marah

dan ia menjadi abu meskipun mencintainya sepenuh hati sebagai anak lelaki semata wayangnya