Anda di halaman 1dari 2

BRINOVASUNY PATTY PANDYKA (11301243001) PENELITIAN KLINIS Sifat Dan Pengembangan Pemecahan Masalah Perilaku Pada Anak Usia

Dini A. PENDAHULUAN Dalam makalah ini akan dibahas mengenai pemecahan masalah pada perilaku anak dengan rentang usia 3 sampai 9 tahun. Terdapat beberapa hal yang menjadi fokus dalam penelitian ini, yaitu: mengidentifikasi, memilih, dan menyaring kriteria untuk menentukan dan mengkonstruksi masalah matematika yang dapat digunakan secara efektif untuk mempelajari perilaku pemecahan masalah pada anak-anak tersebut. Masalah tersebut kemudian dipilih untuk diteliti. Kemudian anak-anak dilibatkan berinteraksi dengan masalah di bawah pengawasan secara klinik. Anak-anak akan menunjukkan perilaku saat mereka terlibat dalam masalah sehingga, perilaku tersebut bisa diamati, dicatat, ditandai, dan dikelompokkan. Sehingga inti dari penelitian yang dilakukan adalah meneliti perkembangan prilaku pemecahan masalah sesuai rentang usia. Terdapat enam pokok bahasan yang berkaitan dengan penelitian yang dilakukan pada anak anak dalam rentang usia 3 sampai 9 tahun tersebut, yaitu: pemilihan kriteria masalah, merumuskan pertanyaan penelitian,desain dan pelaksanaan, analisa dan menduga, pengaruh profesi, kebutuhan penelitian. B. PEMBAHASAN 1. Pemilihan kriteria masalah. Untuk memperoleh masalah yang baik, maka harus diperhatikan beberapa kriteria sebagai berikut: 1)Masalah harus penting secara matematis, 2) Situasi masalah yang terjadi harus melibatkan benda-benda nyata atau simulasi jelas dari objek nyata, 3) Situasi masalah harus sesuai dengan kepentingan anak baik karena sifat bahan, situasi itu sendiri, memaksakan transformasi materi pada anak, atau karena kombinasi dari beberapa faktor, 4) Masalah harus mewajibkan anak membuat gerakan atau transformasi atau modifikasi dengan bahan, 5) Jika memungkinkan, masalah yang dipilih adalah masalah yang menawarkan kesempatan untuk tingkat perbedaan dari solusi, 6) Apapun situasi yang dipilih sebagai sarana tertentu untuk masalah,itu seharusnya untuk menciptakan situasi lain yang memiliki struktur matematika yang sama, 7) Anak harus yakin dapat memecahkan masalah dan harus tahu kapan dia memiliki solusi untuk memecahkan masalah tersebut. 2. Merumuskan pertanyaan penelitian. Persoalan penting dan sangat mendasar dalam melakukan penelitian adalah merumuskan pertanyaan penelitian, karena kualitas dan bobot penelitian sangat ditentukan oleh kualitas dan bobot pertanyaan itu sendiri. Betapa pun menariknya tema atau topik penelitian, namun jika pertanyaannya tidak dirumuskan dengan baik, maka penelitian tersebut tidak akan menarik minat pembaca. Sehingga dalam merumuskan masalah untuk dikaji menjadi pertanyaan penelitian membutuhkan kecermatan dan kehati-hatian serta tidak sekali jadi. Salah satu aspek yang lebih sulit pada tahap ini adalah memformulasikan himpunan kriteria yang dapat sebagai pedoman untuk mengkonstruksikan situasi masalah. Dengan pedoman yang telah tersedia, memungkinkan untuk mengajukan pertanyaan penelitian secara tepat, yaitu: apa sifat dan perkembangan dari perilaku pemecahan masalah pada anak usia dini saat pemecahan masalah dikonstruksikan sesuai dengan pedoman?

Desain dan pelaksanaan Untuk sebagian besar bagian, masalah didesain dalam bentuk keaslian mereka, secara khusus untuk menyediakan informasi dalam mengajukan pertanyaan penelitian pada sesi sebelumnya. Dalam peneletian ini, penyampaian beberapa topik geometri, salah satunya seperti bangun ruang tiga dimensi dengan elemen dua dimensi, dimaksudkan agar anakanak dapat melihat hubungan unsur-unsur satu sama lain dan bagaimana mereka bersamasama membuat hubungan bangun tiga dimensi yang disajikan dalam dua dimensi. Hal ini dibutuhkan untuk mempermudah mereka dalam melekatkan pencitraan bangun ruang tersebut. 4. Analisa dan menduga Dalam pelaksanaan dilakukan perekaman untuk setiap masalah individu yang telah dipisahkan. Pemisahan bagian rekaman untuk setiap masalah meliputi sejumlah besar dari perubahan rekaman sebagai tambahan untuk melihat waktu yang diperlukan untuk mendapatkan tanggapan dari anak-anak kepada beberapa macam bentuk pengelolaan di atas kertas. Setelah beberapa rekaman dari anak-anak dengan tingkat level yang berbeda telah dilihat, maka kategori solusi mulai muncul. Kategori ini membentuk dasar dari analisis, tetapi perilaku individu harus terperinci dalam katagori ini. Masalah paling serius dalam situasi ini adalah untuk mencari kode. 5. Pengaruh profesi Kemungkinan hasil dari penelitian ini tidak memiliki aplikasi langsung di dalam kelas. Namun, telah muncul fenomena tertentu yang pada akhirnya akan memiliki implikasi yang sangat penting untuk praktek kelas. Sebagai contoh, beberapa cara tertentu telah ditemukan di mana anak-anak terganggu ketika terlibat dalam situasi masalah. 6. Kebutuhan penelitian. Meskipun penelitian ini mengungkapkan informasi penting tentang berbagai aspek perilaku pemecahan masalah dan tanggapan pada anak-anak muda, penelitian ini tidak memberikan informasi tentang hubungan timbal balik dari perilaku tersebut maupun sarana untuk memprediksi tanggapan ketika berbagai elemen situasi dimanipulasi. Penelitian lebih lanjut dengan hipotesis yang tepat diperlukan sebelum informasi tersebut tersedia. Ini hanya awal dari jenis penelitian yang diperlukan jika kita ingin dapat memprediksi secara tepat bagaimana anak-anak akan terganggu dalam situasi tertentu dan apa efek dari gangguan tersebut, akan terdapat pada kemampuan anak untuk mengatasi masalah dengan melibatkan peralatan fisik atau interpretasi dari situasi fisik. Dalam hubungan ini, juga, beberapa anak-anak yang terganggu oleh unsur-unsur tertentu dari masalah masih bisa memecahkan masalah. C. KESIMPULAN Pembaca harus menyadari kekuatan serta keterbatasan dari penelitian klinis. Ini adalah sarana yang sangat efektif untuk melihat tanggapan anak-anak tanpa halangan yang biasa dari metodologi lain. Prosedur yang relatif tak terbatas memberikan pandangan segar yang mungkin mengarah pada wawasan tidak mungkin dengan metode yang lebih ketat. Hal ini dapat memberikan arahan untuk penelitian dengan menggunakan metodologi yang lebih sistematis. Ini memberi gambaran yang komprehensif yang dapat memberikan dimensi baru untuk studi tentang bagaimana anak belajar matematika.

3.