Anda di halaman 1dari 9

ACARA V STRUKTUR TANAH

ABSTRAKSI
Percobaan Struktur Tanah ini dilakukan pada hari Jumat tanggal 23 Maret 2010 di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Percobaan struktur tanah ini bertujuan untuk menetapkan kerapatan massa tanah (BV), kerapatan butir tanah (BJ) dan untuk menetapkan porositas tanah (n). Percobaan menetapkan kerapatan massa tanah, digunakan metode lilin, yaitu dengan melapisi bongkahan bulat tanah yang akan diteliti dengan lilin cair. Sedangkan percobaan untuk menetapkan kerapatan butir tanah atau BJ, dilakukan dengan metode piknometer. Pada metode ini larutan tanah didiamkan beberapa menit di dalam piknometer, lalu disuspensi. Untuk percobaan menetapkan porositas tanah, digunakan rumus [1-(BV/BJ)] X 100%. Harga berat jenis tanah seharusnya lebih besar dari harga berat volume karena pembagi pada BV lebih sedikit daripada BJ. Dari hasil percobaan didapatkan bahwa BV tertinggi terdapat pada tanah vertisol, BJ tertinggi pada tanah entisol, sedangkan porositas tanah tertinggi pada tanah alfisol. Hal ini berarti bahwa tanah vertisol mempunyai tekstur paling lemah, tanah alfisol mempunyai agregat yang pejal dan juga mempunyai jumlah pori yang banyak.

I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Pada dasarnya tanah merupakan tubuh alam. Namun demikian banyak tanah yang memperlihatkan tanda-tanda pengaruh antropogen. Sebagai contoh struktur tanah berubahubah karena lalu lintas, susunan kimia tanah berubah karena irigasi dan pemupukan. Struktur tanah adalah bagian dari sifat fisik tanah. Struktur tanah ini merupakan proses fisio kimia dan biologi yang dimulai dari penjojotan dan agregasi dengan diikuti sementasi (bahan pelekat). Hal ini juga dipengaruhi oleh perubahan iklim, aktivitas biologi, pengelolaan tanah dan kepekaan tanah terhadap gaya-gaya perusak mekanis dan fisiokimia. Oleh karena itu, belum ada metode yang secara objektif dapat digunakan untuk menentukan struktur tanah, yang dipakai yaitu metode kuantitatif, antara lain metode lilin, ring sampel, dan air raksa. Dengan penentuan berat volume (BV), berat jenis (BJ), dan porositas tanah dapat membedakan antara struktur yang ada. Kaitannya dengan daya serap air, struktur tanah mempengaruhi karena berdasarkan dari pori tanah. Pori-pori yang besar bermanfaat untuk aerasi dan infiltrasi, sedangkan pori-pori yang kecil untuk menyimpan lengas. B. Tujuan

Praktikum acara IV ini bertujuan untuk dapat menetapakan nilai kerapatan massa tanah (BV), kerapatan butir tanah (BJ) dan nilai porositas tanah (n).

II. TINJAUAN PUSTAKA Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat. Struktur tanah mencakup pengertian luas. Dalam tinjauan morfologi, struktur tanah diartikan sebagai susunan partikel primer menjadi satu kelompok partikel (cluster) yang disebut agregat, yang dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang berbeda dari sekumpulan pertikel primer yang tidak teragregasi. Dalam tinjauan edafologi, sejumlah faktor yang berkaitan dengan struktur tanah jauh lebih penting dari sekedar bentuk dan ukuran agregat (Sunarminto dan Handayani, 2003). Pembentukan struktur juga bergantung pada bahan primer, mineral, dan organik yang mengalami sedimentasi oleh CaCo3, Fe, dan alhidroksida sehingga terbentuk unit struktural yang disebut agregat. Satuan struktur tanah dibedakan atas (Hakim,2006) : 1. Ped, yaitu agregat permanen alamiah yang dipisahkan oleh pori atau bidang yang lemah. 2. Fragmen, yaitu agregat permanen atau buatan yang terbentuk karena kegiatan pengolahan tanah dan pembekuan sehingga tanah terpecah-pecah menjadi fragmen sepanjuang bidang lemah. Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanamanterjadi secara langsung. Struktur tanah yang remah pada umumnya menghasilkan laju pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan waktu yang lebih tinggi dibandingkan struktur tanah yang padat. Jumalah dan panjang akar tanaman yang tumbuh pada tanah remah umumnya lebih banyak dibandingkan dengan akar tanaman yang tumbuh pada tanah berstruktur berat (Anonim,2008). Tanah dengan tekstur sama belum tentu mempunyai perwatakan fisik yang sama. Hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur tanahnya. Istilah tekstur digunakan untuk menunjukkan ukuran-ukuran partikel, tetapi apabila ukuran partikel tanah sudah diketahui digunakan istilah struktur. Struktur menunjukkan kombinasi atau susunan-susunan partikel yang disebut agregat. Struktur mengubah pengaruh tekstur dengan memperlihatkan hubungan kelembapan udara (Foth,1984).

Profil dapat dikuasai oleh pola struktur tunggal. Seringkali dijumpai jumlah macam agregasi yang merupakan perkembangan dari horison. Dengan mudah dapat dilihat, bahwa keadaan dan ciri seperti gerakan air, pemindahan panas, kecepatan massa, dan gumpalan akan dipengaruhi oleh struktur. Sebenarnya perubahan fisik yang diusahakan petani pada tanahnya dengan membajak, mengolah, mendrainase, memberi kapur, dan memupuk bersifat struktural daripada tekstural (Harry,1982). Secara awam, istilah struktur tanah digunakan untuk menggambarkan tingkat kelonggaran atar partikel tanah. Bila suatu tanah mempunyai ikatan partikel yang jarang, maka biasanya orang menyebut struktur longgar dan sebaliknya bila merupakan struktur tanah yang padat maka disebut struktur mampat. Pada struktur longgar, fase gas udara cukup banyak. Sedangkan pada struktur mampat, udara dalam pori sedikit (Handayani,2008)..

III. METODOLOGI Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah pada acara ini yaitu Struktur Tanah dilaksanakan di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Jumat, 23 Maret 2010. Alat-alat yang digunakan antara lain, cawan, pemanas lilin, lampu spiritus, penumpu kaki tiga, tabung ukur, dan termometer. Untuk mengetahui kerapatan massa tanah (BV) mula-mula diambil sebongkah contoh tanah dibuat bola dengan kuku jari tangan, dimasukkan ke dalam tabung ukur (0,1-1,5 cm), diikat dengan benang sehingga dapat digantung, timbang bongkahan tanah (a gram). Sementara itu lilin dicairkan dalam cawan pemanas pada suhu 60-70C bongkah tanah dicelupkan lilin 5 detik, dipastikan lilin betul-betul menutupi permukaan bongkah. Setelah dingin lilin ditimbang (b gram). Tabung diisi aquades sampai volume tertentu (p ml), bongkahan tanah berlilin dimasukkan perlahan-lahan (volume aquades akan naik) dan volume tersebut dicatat. Jika volume air tidak jelas, ditambah air melalui pipet ukur sampai tepat di garis volume (q ml). Air aquades yang telah ditambahkan dicatat (r ml). Lalu bongkahan diangkat dan tabung ukur dibersihkan. Untuk mengetahui nilai butir tanah (BJ), mula-mula piknometer kosong ditimbang (a gram), diisi dengan tanah volume, sumbat dan ditimbang (b gram), lalu ditambahkan aquades sampai volume, dan aduk dengan pengaduk kawat, diamkan selama 1 jam, diukur suhu suspensi (misal t 1 C). BJ suspensi dibaca pada tabel BJ. Sambil diaduk, ditambahkan air secara perlahan-lahan sampai leher pikno. Sumbat hingga air aquades dapat mengisi pipa kapiler sampai penuh. Keringkan dinding pikno dan timbang (c gram). Lalu isi pikno dibuang dan dibersihkan. Piknometer

diisi kembali dengan aquades sampai penuh dan sumbat (misal t2C). Lihat BJ air pada suhu tersebut di dalam tabel BJ.

Jenis Tanah Entisol Alfisol Rendzina Ultisol Vertisol

IV. HASIL PENGAMATAN BV Rata-Rata (g/cm) BJ (g/cm) 1,16 2,23 1,091 2,108 1,26 1,894 1,286 1,92 1,48 1,959

n (%) 48 48,24 33,5 33 28

Contoh Perhitungan A. Kerapatan Massa Tanah ( BV ) Tanah Latosol 87 x a BV = ( 100 + KL ) [ 0,87 ( q-p-r ) ( b a ) ] 87 x 5,737 BV1 = ( 100 + 9,735 ) [ 0,87 ( 35-30-0 ) ( 5,954 5,737 ) ] 499,119 = 109,735 x 4,133 = 1,48 g/cm3 B. Kerapatan Butir Tanah ( BJ ) 100 ( b-a )`BJ1 BJ2 BJ = ( 100 + KL ) [ BJ1 ( d-a ) BJ2 ( c-b ) ] 100 ( 44,345 19,708 ) 0,996 x 1 BJ = ( 100 + 12,33 ) [ 0,996 ( 69,55-19,708 ) - 1 (82,835-44,345)]

2454,34 = 1252,82 C. Porositas Total Tanah ( n ) n = [ 1- (BV/BJ) ] x 100 % n = [ 1- (1,48/1,959) ] x 100% = 28% = 1,959 g/cm3

V. PEMBAHASAN Praktikum mengenai struktur tanah dilakukan dua percobaan yaitu menentukan kerapatan bongkah (BV) dan kerapatan partikel (BJ). Dari data BV dan BJ maka dapat dicari nilai porositasnya. Metode yang digunakan dalam mencari BV adalah metode lilin. Metode ini adalah metode yang melapisi sebongkah tanah dengan lilin secara merata. Sebelum dilapisi lilin, sebongkah tanah dihaluskan permukaannya. Pori-pori tanah harus tertutup supaya lilin cair tidak masuk. Lilin cair yang digunakan haraus bersuhu antara 60 o-70oC supaya bila lilin terlalu panas dapat mengakibatkan meresapnya lilin ke permukaan tanah.saat dicelupkan, bongkah tanah cukup dicelupkan selama 5 detik karena untuk menghindari pelapisan yang terlalu tebal. Hal tersebut tentu saja akan mempengaruhi nilai BV. Pada percobaan BJ digunakan metode piknometer. Pada percobaan ini, tanah dicampur dengan air dan dilakukan pengadukan agar larutan antar air dan tanah dapat homogen. Suspensi tanah didiamkan selama satu jam agar semua partikel tanah dapat larut dalam air. Kemudian dilakukan pengukuran suhu untuk mengetahui nilai BJ. Berat volume (BV) tanah disebut juga kerapatan bongkah. Merupakan berat bongkah tiap satu-satuan volume total bongkah tanah dan dinyatakan dalam g/cm 3. Semakin tinggi nilai BV maka semakin mampat suatu tanah. Berdasarkan percobaan dan perhitungan yang telah dilakukan, tanah vertisol memiliki BV yang tinggi dan tanah alfisol memiliki BV terendah. Tanah vertisol merupakan tanah dengan struktur paling rempah. BV yang diperoleh 1,091 g/cm3 untuk alfisol, 1,286 g/cm3 untuk ultisol, 1,48 g/cm3 untuk vertisol, 1,26 g/cm3 untuk rendzina, dan 1,16 g/cm3 untuk entisol. Berat jenis (BJ) atau kerapatan butir adalah perbandingan relatif antara berat padatan tanah dengan volume padatan dengan satuan g/cm3. Dari data yang diperoleh maka urutan BJ dari tinggi ke rendah yaitu 2,23 g/cm3 untuk entisol, 2,108 g/cm3 untuk alfisol, 1,959 g/cm3 untuk vertisol, 1,92 g/cm3 untuk ultisol, dan 1,894 g/cm3 untuk rendzina. Dapat disimpulkan bahwa tanah entisol lebih banyak mengandung mineral. Biasanya BJ tanah berada pada kisaran 2,60-2,75 g/cm3, namun tanah yang ada memiliki BJ dibawah batas minimum. Mungkin bahan organik tanah yang tinggi menyebabkan nilai BJ turun. Porositas adalah prosentase pori-pori terhadap volume bongkah tanah. Urutan jenis tanah dari porositas paling tinggi ke rendah yaitu alfisol, entisol, rendzina, ultisol,dan vertisol. Struktur tanah dipengaruhi beberapa faktor antara lain bahan padat tanah yang terdiri dari koloid mineral dan organik yang mempunyai sifat koagulasi dan peptisasi, organisme tanah dan perakaran tanaman tingkat tinggi. Koagulasi terjadi karena pengeringan, penambhan larutan yang bermuatan listrik dan sel hidrat dari koloid akibat subtitusi ion hidrat rendah. Adanya pembekuan juga mempengaruhi struktur karena penggenangan menyebabkan lempung terdispersi menjadi partikel terisolasi. Sementara adanya kegiatan organisme tanah akan membentuk struktur tanah yang remah. Manfaat mengetahui BJ, BV, dan porositas dalam menentukan struktur tanah adalah membantu sistem pertanian dalam menentukan jenis tanah yang sesuai dengan tanaman yang mereka tanam. Selain itu dapat diketahui bagaimana sistem aerasi tanah dan kandung hara yang terdapat dalam tanah, serta mengetahui kemampuan tanah dalam menyimpan air. VI. KESIMPULAN Dari percobaan diperoleh bahwa : 1) Nilai BV dari tinggi ke rendah yaitu : vertisol, ultisol, rendzina, entisol, kemudian alfisol.

2) Nilai BJ tertinggi tanah entisol entisol, alfisol, vertisol, ultisol, dan rendzina. 3) Urutan nilai porositas dari yang tertinggi ialah alfisol, entisol, rendzina, ultisol, dan vertisol. 4) Semakin tinggi kandungan organik dalam tanah, maka nilai BJ semakin rendah .

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 2008. Pengaruh Struktur Tanah Terhadap Tanaman. <http://hwn123.wordpress.com /2008/09/06/struktur> Diakses tanggal 29 April 2010. Fath, D. H. 1984. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. John Willey and Suns, Inc., New York. Hakim. 2006. Karakteristik tanah dari tiga macam bahan induk pada daratan lahan kering. Jurnal Tanah 83:18-19 Handayani. 2008. Panduan Praktikum dan Bahan Asistensi Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. Harry. 1982. Ilmu Tanah. Penerbit Briartara Karya Aksara, Jakarta. Sunarminto dan Handayani, S. 2003. Kajian struktur tanah olah: pengaruh pembahasan dan pelarutan selektif terhadap agihan ukuran agregat dan dispersi agregat. Agrosains 16 : 72-77 LAMPIRAN

A. Kerapatan Massa Tanah ( BV )


BV1 87 x a (100 KL) [0,87 (q - p - r) - (b - a)]

1. Tanah Vertisol 87 x 5,737 BV1 = ( 100 + 9,735 ) [ 0,87 ( 35-30-0 ) ( 5,954 5,737 ) ] 499,119 = 109,735 x 4,133 = 1,48 g/cm3

2. Tanah Alfisol 87 x 1,095 BV1 = ( 100 + 16,885 ) [ 0,87 ( 21-20-0 ) ( 1,218 1,095 ) ] 95,265 = 116,885 x 0,747 = 1,091 g/cm3 3. Tanah Ultisol 87 x 6,402 BV1 = ( 100 + 12,22 ) [ 0,87 ( 25-20-0 ) ( 6,894 6,402 ) ] 556,974 = 112,22 x 2,14 = 1,286 g/cm3 4. Tanah Rendzina 87 x 1,247 BV1 = ( 100 + 10,95 ) [ 0,87 ( 35-30-0 ) ( 1,340 1,247 ) ] 108,489 = 110,95 x 4,257 = 1,26 g/cm3 5. Tanah Entisol 87 x 0,545 BV1 = ( 100 + 7,805 ) [ 0,87 ( 15,5-15-0 ) ( 0,604 5,545 ) ] 47,415 = 107,405 x 0,026 = 1,10 g/cm3

B. Kerapatan Butir Tanah ( BJ ) 100 (b-a) BJ1 BJ2 BJ = ( 100 + KL ) [ BJ1 (d-a) BJ2 (c-b) ]

1. Tanah Vertisol 100 ( 44,345 19,708 ) 0,996 x 1 BJ = ( 100 + 12,33 ) [ 0,996 ( 69,55-19,708 ) - 1 (82,835-44,345)] 2454,34 = 1252,82 2. Tanah Entisol 100 ( 52,456 26,493) 0,996 x 1 BJ = ( 100 + 9,685 ) [ 0,996 ( 73,98-26,493 ) - 1 (88,993-52,456)] 2585,915 = 1180,21 3. Tanah Rendzina 100 ( 52,211 24,078 ) 0,996 x 1 BJ = ( 100 + 12,905 ) [ 0,996 ( 70,338-24,708 ) - 1 (85,213-52,211)] 2801,947 = 1476,003 4. Tanah Ultisol 100 ( 46,679 19,479 ) 0,996 x 1 BJ = ( 100 + 16,02 ) [ 0,996 ( 69,016-19,479 ) - 1 (83,862-46,679)] 2079,12 = 1410,32 5. Tanah Alfisol 100 ( 48,717 23,332 ) 0,995 x 1 BJ = ( 100 + 12,38 ) [ 0,995 ( 73,263-23,332 ) - 1 (87,737-48,717)] 2525,8 = 1199,43 C. Porositas Total Tanah ( n ) n = [ 1- (BV/BJ) ] x 100 % = 2,108 g/cm3 = 1,92 g/cm3 = 1,894 g/cm3 = 2,23 g/cm3 = 1,959 g/cm3

1. Tanah Vertisol n = [ 1- (1,48/1,959) ] x 100% = 28% 2. Tanah Entisol n = [ 1- (1,16/2,23) ] x 100% = 48% 3. Tanah Rendzina n = [ 1- (1,269/1,894) ] x 100% = 33,5% 4. Tanah Alfisol n = [ 1- (1,091/2,108) ] x 100% = 48,24% 5. Tanah Ultisol n = [ 1- (1,286/1,92) ] x 100% = 33%