Anda di halaman 1dari 2

2.

2 Demam Demam didefinisikan secara kuantitatif sebagai temperatur tubuh > 37,8oC (100oF) oral atau 38,2oC (100,8oF) rektal, atau sebagai peninggian temperatur tubuh di atas variasi normal harian. Selama periode 24 jam, temperatur bervariasi dari nilai terendah di pagi hari sampai nilai tertinggi menjelang sore hari. Penyebab demam dapat infeksius atau noninfeksius (misalnya, inflamasi, neoplastik, dan gangguan yang diperantarai oleh imunologi). Pola demam mungkin intermiten, ditandai oleh peninggian temperatur (spike) sehari-hari diikuti oleh turunnya temperatur menjadi normal, atau remiten, di mana temperatur tidak kembali ke normal. Pasien tertentu, misalnya, pasien alkoholik, pasien lanjut usia, pasien yang sangat muda, mungkin menjadi hipotermik sebagai respons terhadap infeksi parah (Berkow, 1999). Pirogen adalah substansi yang menyebabkan demam; pirogen dapat eksogen atau endogen. Pirogen eksogen berasal dari luar tubuh; sebagian besar adalah mikroba, produ mikrobial, atau toksin. Yang paling banyak dipelajari adalah lipopolisakarida bakteri gramnegatif (umumnya dinamakan endotoksin) dan toksin dari strain Staphylococcus aureus yang diisolasi dari pasien dengan sindroma syok toksik (Berkow, 1999). Pirogen eksogen menyebabkan demam dengan menginduksi pelepasan pirogen endogen, yang merupakan polipeptida yang dihasilkan oleh berbagai sel tubuh (terutama monosit-makrofag). Pirogen endogen menyebabkan demam dengan memulai perubahan metabolik di pusat termoregulator hipotalamik. Sintesis prostaglandin E2 tampaknya memiliki peranan penting. Pirogen endogen (atau disebut sitokin pirogenik endogen) berupa interleukin-1, tumor necrosis factor, interleukin-6, dan interferon-. Selain sistem monositmakrofag, sel lain yang menghasilkan sitokin adalah sel keratinosit dan endotelial, B, mesangial, epitelial, dan glial (Berkow, 1999).

2.2.1 Respons Demam Pengendalian temperatur tubuh pada manusia terjadi di tingkat hipotalamik. Demam meningkatkan set-pont hipotalamus, sehingga memicu pusat vasomotor untuk memulai vasokonstriksi. Darah kemudian mengalami shunt dari sirkulasi perifer, jadi menurunkan pembuangan panas dengan akibat peningkatan temperatur tubuh. Menggigil juga dapat timbul, untuk meningkatkan produksi panas dari otot, tetapi hal ini seringkali tidak diperlukan jika mekanisme konservasi panas berhasil menaikkan temperatur tubuh sampai tingkat yang diperlukan. Proses konservasi dan produksi panas terus terjadi sampai temperatur darah yang mengalir ke neuron hipotalamik mencapai setting yang baru. Pada titik tersebut, hipotalamus mempertahankan temperatur febril yang baru, sama seperti pada tingkat temperatur normal. Resetting tingkat tersebut ke arah bawah memulai proses pembuangan panas melalui keringat dan vasodilatasi (Berkow, 1999).