Anda di halaman 1dari 169

1

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Kesehatan adalah salah satu kebutuhan pokok dan juga merupakan faktor penting yang mempengaruhi produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 28 H dan Undangundang nomor 23/1992 menetapkan bahwa kesehatan adalah hak fundamental setiap warga. Oleh karena itu negara bertanggung jawab dalam pengaturan hak hidup sehat bagi penduduknya. Pembangunan Kesehatan adalah pembangunan manusia seutuhnya dimana faktor kesehatan turut berperan mulai dari pra konsepsi, bayi, balita, remaja, dewasa hingga usia lanjut. Dalam buku Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 20102014 (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.HK.03.01/160/I/2010) ditetapkan Visi dan Misi Kementerian Kesehatan sekaligus juga sebagai Visi dan Misi Pembangunan Kesehatan selama 5 tahun kedepan (2010-2014). Visi baru yaitu Masyarakat Sehat Yang Mandiri dan Berkeadilan yang akan diwujudkan dengan misi-misi, pertama yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat melalui pemberdayaan masyarakat termasuk swasta dan masyarakat madani. Kemudian misi kedua adalah melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata, bermutu, dan

berkeadilan. Misi selanjutnya yaitu menjamin ketersediaan dan pemerataan sumberdaya kesehatan, dan misi terakhir adalah menciptakan tata kelola yang baik. Guna mempertegas rumusan Visi dan Misi Pembangunan Kesehatan selama 5 tahun kedepan (2010-2014) tersebut, telah ditetapkan pula indikator-indikatornya secara lebih terinci. Di samping itu, telah ditetapkan pula target yang ingin dicapai pada 5 tahun mendatang untuk setiap indikator tersebut. Indikator-indikator yang telah ditetapkan itu terdiri atas indikator untuk status kesehatan dan gizi masyarakat, indikator untuk morbiditas akibat penyakit menular, indikator untuk penyediaan anggaran publik untuk kesehatan, indikator untuk PHBS Rumah Tangga, indikator untuk tenaga kesehatan, indikator untuk pengendalian penyakit, dan indikator untuk Standar Pelayanan Minimal (SPM). Pengertian Kesehatan Masyarakat Menurut Winslow (1920) dalam (Notoatmodjo, 2003) menjabarkan bahwa Kesehatan Masyarakat (Public Health) adalah Ilmu dan Seni : mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan, melalui Usaha-usaha Pengorganisasian masyarakat untuk perbaikan sanitasi lingkungan, pemberantasan penyakitpenyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan,

pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan, dan pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya. Sedangkan menurut Ikatan Dokter Amerika

(1948) Kesehatan

Masyarakat

adalah

ilmu dan seni

memelihara,

melindungi dan meningkatkan kesehatan masyarakat melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat. Adapun Visi dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur yaitu peningkatan derajat kesehatan masyarakat Kalimantan Timur terbaik di luar Jawa dan Bali. Maknanya akses pelayanan komprehensif yang bermutu dengan mudah diperoleh masyarakat dan tercapainya sasaran MDGs pada akhir 2013 dengan pencapaian diatas rata nasional dan lebih baik dikawasan luar Jawa-Bali. Dengan misi diantaranya adalah memelihara dan meningkatkan berkeadilan, upaya kesehatan yang bermutu, untuk terjangkau, hidup sehat dan dan

memberdayakan

masyarakat

mambangun kemitraan dengan lintas sektor, mengembangkan sumber daya kesehatan yang memadai dan berkesinambungan, memantapkan manajemen kesehatan yang dinamis dan akuntabel, membangun dan mengembangkan Sistem Kesehatan Daerah (dinkes.pemprovkaltim). Dengan visi dan misi dari Departemen Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur maka Kabupaten Kutai Kartanegara mulai berfikir untuk sebuah perubahan dalam paradigma lama yang mengatakan bahwa pembiayaan kesehatan adalah beban anggaran pembangunan sehingga berangkat dari pradigma lama tersebut kita hanya mengalokasikan sedikit waktu, biaya dan tenaga kita bagi pembangunan kesehatan padahal dari sudut pandang ekonomi kesehatan dan dengan paradigma baru segala bentuk pembiayaan kesehatan adalah sebuah

investasi yaitu sebuah kegiatan yang akan mendatangkan keuntungan di kemudian hari. Salah satu desa yang terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara, Kecamatan Tenggarong Seberang adalah Desa Karang Tunggal. Secara umum, Desa Karang Tunggal berpenduduk 2947 jiwa atau sekitar 792 KK dengan luas wilayah kurang lebih 1.300 ha. Desa Karang Tunggal merupakan desa pemekaran dari Desa Manunggal Jaya pada tahun 2004. Terdiri dari 3 dusun yaitu Dusun Rejo Makmur, Dusun Rejosari, dan Dusun Mekar Jaya. Sebelah utara desa ini berbatasan dengan Desa Manunggal Jaya, sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Air Putih Samarinda, sebelah barat ini berbatasan dengan Desa Bukit Raya dan Desa Tanjung Batu, sedangkan sebelah timurnya berbatasan dengan Kelurahan Sempaja Samarinda. Desa Karang Tunggal merupakan salah satu desa yang terdapat di Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara. Desa Karang Tunggal berpenduduk 2947 jiwa atau sekitar 792 KK dengan luas wilayah kurang lebih 1.300 ha. Dengan tingkat pendidikan masyarakat sebagian besar adalah tamat SD/sederajat (18,73%) dan mayoritas penduduk bekerja pada sektor pertanian (62,61%). Berdasarkan hasil laporan PBL I pada tahun 2009, masalah-msalah kesehatan yang terdapat di Dusun Mekar Jaya meliputi masalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), masalah kesehatan lingkungan, masalah

Administrasi Kebijakan Kesehatan (AKK), dan masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Berdasarkan laporan PBL I tahun 2009, masalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang terdapat di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal yaitu masih buruknya penerapan 10 indikator PHBS di rumah tangga. Misalnya kurangnya ketersediaan air bersih pada 68% responden dari 100 responden, kemudian hanya 28% responden yang mengkonsumsi sayur dan buah-buahan setiap harinya, dan hanya 7% responden yang melakukan aktifitas fisik (berolahraga) setiap hari. Disamping itu

berdasarkan hasil survey, diketahui bahwa 68% responden merokok dan 36 responden diantaranya merokok didalam rumah. Kesehatan lingkungan pada hakikatnya, adalah kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum, sehingga berpengaruh positif terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Berdasarkan laporan PBL I tahun 2009, masalah kesehatan lingkungan yang terdapat di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal yaitu mengenai sampah. Dari 100 responden, sebanyak 86% responden membuang sampah dengan cara dibakar. Administrasi kesehatan adalah proses menyangkut perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, pengawasan, pengkoordinasian, dan

penilaian terhadap sumber, tata cara, dan kesanggupan yang tersedia untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan terhadap kesehatan. Berdasarkan laporan PBL I tahun 2009, masalah administrasi kebijakan kesehatan yang terdapat di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal adalah sebesar 69%

responden tidak memiliki jaminan kesehatan. Hal ini disebabkan kurangnya pengetahuan mengenai jaminan kesehatan (57%) akibat kurangnya sosialisasi jaminan kesehatan yang diberikan pemerintah seperti Askeskin, berobat gratis, dll. Permasalahan selanjutnya adalah mengenai Kesehatan Ibu dan Anak (KIA). Berdasarkan laporan PBL I tahun 2009, masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) yang terdapat di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal adalah masih tingginya angka ibu melahirkan pada usia muda (kurang dari 20 tahun) yaitu sebesar 46,32% responden. Selain itu, masih kurangnya pengetahuan responden yang dalam hal ini adalah para ibu mengenai ASI Eksklusif yaitu 83% dari 100 responden. Hal tersebut menyebabkan masih banyaknya para ibu yang tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayi mereka. Dalam rangka memberdayakan masyarakat untuk meminimilasir masalah kesehatan, terlebih dahulu dilakukan Focus Group Discussion (FGD) sebagai metode untuk mengetahui masalah kesehatan yang terjadi di Desa Karang Tunggal, khususnya Dusun Mekar Jaya. Berdasarkan masalah kesehatan yang ada di Dusun mekar Jaya Desa Karang Tunggal tersebut, maka dalam PBL II ini perlu dilakukan intervensi sebagai solusi penyelesaian masalah kesehatan berdasarkan sumber daya yang ada.

B. Analisis Situasi Status Kesehatan Masyarakat Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara Berdasarkan latar belakang di atas, situasi status kesehatan

masyarakat Dusun Mekar Jaya di Desa Karang Tunggal dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Ketidaktahuan

masyarakat

mengenai

program

JPKMM

dengan

presentase 57% dari 100 responden.


2. Tidak dimilikinya Program Pelayanan Kesehatan oleh masyarakat yaitu

sebesar 69% dari 100 responden. 3. Ketidaktahuan ibu mengenai pengertian dan manfaat dari ASI Eksklusif sebanyak 83% dari 100 responden.
4. Tingginya usia melahirkan pada usia muda (kurang dari 20 tahun) yaitu

sebesar 46,32% dari 95 responden.


5. Kurangnya

pengetahuan masyarakat mengenai pengolahan akhir

sampah rumah tangga yaitu sebesar 86% dari 100 responden (metode pembuangan sampah dengan cara dibakar). 6. Kurangnya ketersediaan sumber air bersih pada masyarakat yaitu sebesar 68% dari 100 responden. 7. Masih buruknya penerapan PHBS Rumah Tangga (tidak memenuhi 10 indikator PHBS) pada masyarakat yaitu 0% dari 100 responden. 8. Masih tingginya perilaku merokok di masyarakat yaitu dengan

persentase 68% dari 100 responden.

Sedangkan berdasarkan hasil penggalian masalah kesehatan terbaru yang dilaksanakan pada hari Jumat, 21 Januari 2011 ditemukan beberapa masalah, yaitu : a. Kurangnya ketersediaan air bor air untuk bersih karena MCK, masyarakat yang masih

menggunakan

aktivitas

masyarakat

khawatirkan dapat merusak gigi dan kulit. Serta penggunaan air minum yang didapatkan dari depo air minum isi ulang yang masyarakat khawatirkan higienitasnya kurang baik. b. Kurangnya penerapan PHBS di masyarakat terutama pada perilaku cuci tangan. c. Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai Jaminan Kesehatan Daerah (JAMKESDA) baik dari segi manfaatnya maupun alur untuk mendapatkannya. d. Kurangnya pengetahuan masyarakat terutama para ibu mengenai pengertian dan manfaat pemberian ASI Eksklusif kepada anaknya.

C. Identifikasi Masalah Berdasarkan latar belakang dan analisis situasi kesehatan masyarakat di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara, maka dapat diketahui identifikasi masalah kesehatan sebagai berikut :

1. Masalah Administrasi Kebijakan Kesehatan (AKK), seperti kurangnya

pengetahuan

masyarakat

tentang

JAMKESDA,

dan

kurangnya

masyarakat yang memiliki program pelayanan kesehatan.


2. Masalah Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), seperti kurangnya pengetahuan

masyarakat mengenai pengertian dan manfaat ASI Eksklusif serta waktu pemberiannya.
3. Masalah Kesehatan Lingkungan, seperti kurangnya ketersediaan sumber

air bersih dan air minum di lingkungan masyarakat.


4. Masalah Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti penerapan

PHBS Rumah Tangga yang masih buruk (perilaku cuci tangan) dan ketersediaan air bersih yang masih kurang di rumah tangga tersebut.

D. Rumusan Masalah Bagaimana diagnosa masalah kesehatan dan pengembangan program kesehatan di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara ?

10

BAB II TUJUAN DAN MANFAAT

A. Tujuan Umum Adapun tujuan umum dari pelaksanaan PBL II ini adalah agar mahasiswa mampu merencanakan dan melaksanakan kegiatan intervensi kesehatan masyarakat sesuai dengan permasalahan dan sumber daya yang ada di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.

B. Tujuan Khusus Tujuan khusus dari pelaksanaan PBL II ini memiliki dua tahapan, yaitu tahapan diagnosis masalah yang meliputi : 1. Tahapan Diagnosis Masalah Kesehatan a. Tujuan Umum Mahasiswa dapat melaksanakan identifikasi masalah

kesehatan bersama dengan segala unsur masyarakat di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara. a. Tujuan Khusus 1) Mahasiswa mampu melaksanakan identifikasi masalah

bersama masyarakat.

11

2) Mahasiswa mampu menyusun prioritas masalah bersama masyarakat. 3) Mahasiswa mampu menganalisa penyebab masalah. 2. Tahapan Pengembangan Program Kesehatan a. Tujuan Umum Mahasiswa mampu mengambangkan program kesehatan yang ditujukan untuk mengatasi masalah kesehatan masyarakat yang ditentukan pada tahap sebelumnya. b. Tujuan Khusus 1) Mahasiswa mampu memilih program kesehatan sebagai solusi dari masalah kesehatan masyarakat bersama masyarakat. 2) Mahasiswa mampu melaksanakan proses perencanaan

program kesehatan.
3) Mahasiswa mampu melaksanakan program kesehatan yang

telah dirancang. 4) Mahasiswa kesehatan. mampu melaksanakan evaluasi program

C. Manfaat 1. Manfaat Bagi Mahasiswa Adapun manfaat dari pelaksanaan PBL II ini bagi mahasiswa adalah mahasiswa mampu mendiagnosa masalah kesehatan dan mengembangkan program kesehatan.

12

2. Manfaat Bagi Masyarakat Adapun manfaat dari pelaksanaan PBL II ini bagi masyarakat adalah agar masyarakat mengetahui masalah-masalah kesehatan yang menjadi masalah di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara dan bagaimana solusi pemecahannya. 3. Manfaat Bagi Instansi Kesehatan Adapun manfaat dari pelaksanaan PBL II ini adalah membantu instansi kesehatan dalam rangka menetapkan kebijakan kesehatan khususnya perencanaan program-program kesehatan. 4. Manfaat Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat UNMUL Adapun manfaat dari pelaksanaan PBL II ini adalah : a. Sebagai kegiatan evaluasi penyelenggaraan program pendidikan Ilmu Kesehatan Masyarakat. b. Mewujudkan program perguruan tinggi dalam rangka pengabdian kepada masyarakat.

13

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

A. Administrasi Kebijakan Kesehatan (AKK) Pelayanan kesehatan masyarakat adalah bagian dari pelayanan kesehatan yang tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah penyakit dengan sasaran utamanya adalah masyarakat. (Azwar, 1996) 1. Stratifikasi Pelayanan Kesehatan Stratifikasi pelayanan kesehatan dibagi menjadi beberapa tingkatan yaitu : a. Pelayanan kesehatan tingkat pertama Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan tingkat pertama (Primary Health Services) adalah pelayanan kesehatan yang bersifat pokok (Basic Health Services), yang sangat dibutuhkan oleh sebagian besar masyarakat serta mempunyai nilai strategis untuk meningkatkan derajat kesehatan. Pada umumnya pelayanan kesehatan tingkat pertama ini bersifat pelayanan rawat jalan. b. Pelayanan kesehatan tingkat kedua Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan tingkat kedua (secondary health services) adalah pelayanan kesehatan yang lebih lanjut, telah bersifat rawat inap dan untuk

14

menyelenggarakannya spesialis.

dibutuhkan

tersedianya

tenagatenaga

c. Pelayanan kesehatan tingkat ketiga Yang dimaksud dengan pelayanan kesehatan tingkat ketiga (tertiary health services) adalah pelayanan kesehatan yang bersifat lebih kompleks dan umumnya diselenggarakan oleh tenaga spesialis (Azwar, 1996). 2. Syarat Pokok Pelayanan Kesehatan Untuk dapat disebut sebagai pelayanan kesehatan yang baik, maka ada beberapa syarat pokok yang harus dipenuhi, yaitu : a. Tersedia dan berkesinambungan Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat tidak sulit ditemukan, serta keberadaannya dalam masyarakat adalah pada setiap saat yang dibutuhkan. b. Dapat diterima dan wajar Artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan kepercayaan masyarakat. c. Mudah dicapai Pengertian ketercapaian yang dimaksudkan disini terutama dari sudut lokasi, maka pengaturan distribusi sarana kesehatan menjadi sangat penting.

15

d. Mudah dijangkau Pengertian keterjangkauan disini terutama dari sudut biaya, sehingga harus dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan yang sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. e. Bermutu Artinya lebih kepada tingkat kesempurnaan pelayanan

kesehatan yang disempurnakan, yang di satu pihak dapat memuaskan para pemakai jasa pelayanan, dan dipihak lain tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan kode etik serta standar yang telah ditetapkan (Azwar, 1996). 3. Sumber Biaya Kesehatan Secara umum sumber biaya kesehatan dapat dibagi menjadi dua macam yaitu : a. Seluruhnya bersumber dari anggaran pemerintah Seluruh pelayanan kesehatan diselenggarakan oleh pemerintah dan pelayanan kesehatan tersebut dilaksanakan secara cuma cuma. b. Sebagian ditanggung oleh masyarakat Masyarakat diajak berperan serta, baik dalam

menyelenggarakan kesehatan pada waktu memanfaatkan jasa pelayanan kesehatan. Sehingga pelayanan kesehatan tidaklah cumacuma karena masyarakat diharuskan membayar pelayanan kesehatan yang dimanfaatkannya (Azwar, 1996)..

16

4. Pengertian Asuransi Asuransi adalah suatu upaya untuk memberikan perlindungan terhadap kemungkinankemungkinan yang dapat mengakibatkan

kerugian ekonomi (Breider dan Breadles, 1972). Asuransi adalah suatu perjanjian dimana si penanggung dengan menerima suatu premi mengikatkan dirinya untuk memberi ganti rugi kepada tertanggung yang mungkin diderita karena terjadinya suatu peristiwa yang mengandung ketidakpastian dan yang akan

mengakibatkan kehilangan, kerugian atau kehilangan suatu keuntungan (Kitab UU Hukum Dagang, 1987). 5. MacamMacam Asuransi Kesehatan Tergantung dari ciri-ciri khusus yang dimiliki, maka asuransi kesehatan dapat dibedakan atas beberapa macam yaitu: a. Ditinjau dari pengelola dana 1) Asuransi Kesehatan Pemerintah 2) Asuransi Kesehatan Swasta b. Ditinjau dari keikutsertaan anggota 1) Asuransi Kesehatan Wajib 2) Asuransi Kesehatan Sukarela c. Ditinjau dari jenis pelayanan yang ditanggung 1) Menanggung seluruh jenis pelayanan kesehatan 2) Menanggung sebagian pelayanan kesehatan saja

17

d. Ditinjau dari jumlah dana yang ditanggung 1) Menanggung seluruh biaya kesehatan yang diperlukan 2) Hanya menanggung pelayanan kesehatan dengan biaya tinggi saja. e. Ditinjau dari jumlah peserta yang ditanggung 1) Peserta adalah perseorangan 2) Peserta adalah satu keluarga 3) Peserta adalah satu kelompok a. Ditinjau dari peranan badan asuransi 1) Hanya bertindak sebagai pengelola dana 2) Juga bertindak sebagai penyelenggara pelayanan kesehatan g. Ditinjau dari cara pembayaran kepada penyelenggara pelayanan kesehatan 1) Pembayaran berdasarkan jumlah kunjungan peserta
2)

Pembayaran dilakukan di muka (Azwar, 1996).

6. Jamkesda Program Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) adalah salah satu program jaminan kesehatan sosial yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah Kabupaten Kutai Kartanegara yang wajib diikuti oleh setiap penduduk di Kabupaten Kutai Kartanegara yang belum memiliki jaminan pemeliharaan kesehatan. Penyelenggaraan program Jamkesda tersebut merupakan amanat Undang-Undang No. 12 tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah

18

beserta peraturan pelaksanaanya dan Undang-Undang No. 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN) pasca putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Penyelenggaraan Jamkesda ditetapkan melalui peraturan Bupati Nomor 16 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan Sistem Jaminan Kesehatan Daerah di Kabupaten Kutai Kartanegara dan sebagai Badan Penyelenggara Program Jamkesda mempunyai kewenangan untuk menunjuk Pemberi Pelayanan Kesehatan (PKK) bagi pesertanya. Tujuan umum Jamkesda ini sendiri dapat meningkatkan status kesehatan masyarakat Kabupaten Kutai Kartanegara melalui pelayanan kesehatan dasar dengan menerapkan sistem pelayanan kesehatan yang bermutu dengan biaya yang terkendali. a. Prosedur Kepesertaan 1) Seluruh masyarakat yang memiliki KTP Kabupaten Kutai Kartanegara beserta anggota keluarganya yang belum memiliki jaminan kesehatandapat menjadi Peserta Program Jamkesda 2) Sebagai bukti kepesertaan Jamkesda, sertiap peserta harus mempunyai Kartu Peserta Jamkesda (KPJ), yang dapat

dipakai pada saat peserta atau anggota keluarganya akan berobat di PPK
3) Cara mendapatkan Kartu Peserta Jamkesda (KPJ) adalah :

19

a) Calon peserta datang ke Puskesmas Induk di wilayah tempat tinggalnya dengan membawa persyaratan fotocopy KTP dan fotocopy KK b) Selanjutnya petugas puskesmas akan melakukan verifikasi persyaratan tersebut dan bila dianggap memenuhi syarat maka petugas puskesmas akan menerbitkan Kartu Peserta Jamkesda Sementara c) Kartu peserta Jamkesda Sementara harus dibawa setiap peserta atau anggota keluarganya akan berobat baik di PPK tingkat I (Puskesmas) maupun PPK tingkat II (Rumah Sakit) 4) Dalam pendaftaran dan pembuatan Kartu Peserta Jamkesda Sementara, peserta tidak dipungut biaya apapun b. Persyaratan Peserta Jamkesda 1) Setiap warga masyarakat yang memiliki KTP Kabupaten Kutai Kartanegara beserta anggota keluarganya yang belum memiliki jaminan kesehatan manapun 2) Anggota keluarga yang belum memiliki sistem Jaminan Kesehatan (tidak masuk ke dalam sistem Jaminan Kesehatan orang tuanya, seperti ASKES/ Jamsostek, dll) c. Dasar hukum Jamkesda Kabupaten Kutai Kartanegara: 1) Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia tahun 1945 dan Amandemennya

20

2) Undang-Undang No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (UU SJSN) 3) Undang-Undang No. 3 Tahun 1992 tentang Jaminan Sosial Tenaga Kerja beserta Peraturan Pelaksanaannya 4) Undang-Undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan, beserta Peraturan Pelaksanaannya 5) Undang-Undang No. 12 Tahun 2008 tentang Pemerintah Daerah beserta Peraturan Pelaksanaanya 6) Peraturan Daerah Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara tentang Struktur Organisasi Perakat Daerah dan Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Kutai

Kartanegara 7) Peraturan Bupati Kutai Kartanegara No. 16 Tahun 2008 Tentang Penyelenggaraan sistem Jaminan Kesehatan Daerah di Kabupaten Kutai Kartanegara d. Ruang Lingkup Pelayanan Kesehatan Jamkesda Ruang lingkup pelayanan kesehatan Program Jamkesda di PPK Puskesmas Induk / Puskesmas Pembantu / Polindes, terdiri dari : 1) Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP) a) Pemeriksaan dan Pengobatan oleh Dokter Umum b) Pemeriksaan dan Pengobatan oleh Dokter Gigi c) Konsultasi medis dan penyuluhan kesehatan

21

d) Pelayanan Keluarga Berencana dan Kesehatan Ibu Anak (Imunisasi Tetanus Toxoid untuk ibu, Imunisasi dasar untuk anak serta ANC) e) Pelayanan Penunjang Diagnostik f) Tindakan Medis Sederhana

g) Pemberian Surat Rujukan 2) Rawat Inap Tingkat Pertama, dilakukan di Puskesmas yang memiliki fasilitas Rawat Inap a) Kamar perawatan b) Visit Dokter Umum c) Pemeriksaan Penunjang Diagnostik d) Tindakan Medis sederhana e) Pemberian Obat Generik/ daftar obat Jamkesda, serta bahan habis pakai selama masa perawatan f) Makan

g) Pemberian Surat Rujukan 3) Pelayanan Emergensi (Kegawatdaruratan) 4) Pelayanan Persalinan a) Biaya persalinan normal diberikan sebesar Rp 500.000,(tanpa penyulit)
b) Pelayanan persalinan yang dijamin meliputi :

(1) Kamar perawatan (2) Pertolongan partus oleh bidan atau dokter umum

22

(3) Perawatan ibu, meliputi: (a) Biaya perawatan ibu (b) Makan 3 kali sehari (c) Laundry alat-alat Rumah Bersalin (d) Visit dokter umum (4) Perawatan bayi, meliputi: (a) Perawatan bayi tanpa kelainan (b) Sidik jari (c) Imunisasi (5) Perawatan tali pusat, meliputi: (a) Cuci tali pusat (b) Pengemasan tali pusat (c) Penyimpanan ke kantong atau kendil (6) Tindakan hecting (7) Perlengkapan partus lainnya, meliputi: (a) Surat Keterangan Lahir (b) Peneng bayi (c) Peneng Ibu (d) Pembalut (8) Placenta Manual/ Induksi, yaitu: (a) Tindakan Manual Placenta (b) Pelayanan induksi untuk partus tidak maju

23

c)

Pelayanan Pra Rujukan Persalinan yang dijamin, meliputi : (1) Kamar perawatan (2) Visit dokter umum (3) Makan (4) Obat-obatan

(Juknis Jamkesda Kutai Kartanegara, 2011) e. Manfaat pengembangan Jamkesda 1) Terwujudnya akses pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang optimal, bermutu dan efisien 2) Meningkatnya derajat kesehatan masyarakat sehingga

produktivitas kerja juga meningkat 3) Meningkatnya efisiensi APBD


4)

ekonomi

masyarakat

sehingga

terjadinya

Adanya

mekanisme

fiscal

dan

sumber

pendanaan

pembangunan kesehatan alternative tambahan disamping mekanisme fiscal dan sumber pendanaan dari APBD 5) Tersedianya database tentang pelayanan kesehatan dan pembiayaannya sebagai sistem informasi di suatu daerah. Hal ini akan bermanfaat untuk perencanaan dan masukan dalam penetapan kebijakan di daerah. (Mukti dan Moertjahjo, 2008)

24

Gambar 2.1 Alur Pelayanan Kesehatan Program Jamkesda Berobat Di Rujuk

Peserta

PPK TK 1 Puskesmas, Dokter & Bidan Praktek Membawa Kartu Peserta Membawa Kartu Peserta Surat Rujukan

PPK TK 2 Rumah Sakit

Kasus Emergency (Gawat Darurat) (Dinkes Kutai Kartanegara, 2011)

B. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) 1. Gizi untuk Kelompok Bayi Dalam siklus kehidupan manusia, bayi berada dalam masa pertumbuhan dan perkembangan yang paling pesat. Bayi yang dilahirkan dengan sehat, pada umur 6 bulan akan mencapai pertumbuhan atau berat badan 2 kali lipat dari berat badan pada waktu dilahirkan. Untuk pertumbuhan bayi dengan baik zat-zat gizi yang sangat dibutuhkan ialah: a. Protein, dibutuhkan 3-4 gram/kilogram berat badan. b. Calsium (Cl). c. Vitamin D, tetapi karena Indonesia berada di daerah tropis maka hal ini tidak begitu menjadi masalah.

25

d. Vitamin A dan K yang harus diberikan sejak post natal.


e.

Fe (zat besi) diperlukan karena dalam proses kelahiran sebagian Fe ikut terbuang (Notoatmodjo, 2003).

2. Air Susu Ibu Eksklusif (ASI Eksklusif) ASI eksklusif adalah pemberian ASI tanpa makanan dan minuman tambahan lain pada bayi berumur nol sampai enam bulan (Depkes RI, 2004). Bahkan air putih tidak diberikan dalam tahap ASI eksklusif ini. Pada tahun 2001 World Health Organization / Organisasi Kesehatan Dunia menyatakan bahwa ASI eksklusif selama enam bulan pertama hidup bayi adalah yang terbaik. Dengan demikian, ketentuan

sebelumnya (bahwa ASI eksklusif itu cukup empat bulan) sudah tidak berlaku lagi. Tabel 2.1 Peralihan ASI ke Makanan dan Kebutuhan Kalori Umur anak 0-4 bulan 4-9 bulan 9-12 bulan 18-24 bulan 24 bulan (2 th.) (Notoatmodjo, 2003) a. Bagaimana Mencapai ASI Eksklusif WHO dan UNICEF merekomendasikan langkah-langkah berikut untuk memulai dan mencapai ASI eksklusif : (WHO, 2001) 1) Menyusui dalam satu jam setelah kelahiran 2) Menyusui secara ekslusif: hanya ASI. Artinya, tidak ditambah makanan atau minuman lain, bahkan air putih sekalipun. PMT ASI saja Makanan halus Makanan lunak Makanan semi keras Makanan dewasa dan disapih Kebutuhan Kalori 300 kalori 800 kalori 1100 kalori 1300 kalori

26

3) Menyusui kapanpun bayi meminta (on-demand), sesering yang bayi mau, siang dan malam. 4) Tidak menggunakan botol susu maupun empeng. 5) Mengeluarkan ASI dengan memompa atau memerah dengan tangan, disaat tidak bersama anak. 6) Mengendalikan emosi dan pikiran agar tenang. Setelah ASI ekslusif enam bulan tersebut, bukan berarti pemberian ASI dihentikan. Seiiring dengan pengenalan makanan kepada bayi, pemberian ASI tetap dilakukan, sebaiknya menyusui dua tahun menurut rekomendasi WHO.
b. Manfaat ASI Eksklusif Enam Bulan

Menambahkan manfaat ASI, berikut adalah manfaat ASI Eksklusif enam bulan daripada hanya empat bulan :
1) Untuk Bayi a) Melindungi dari infeksi gastrointestinal

b) Bayi yang ASI eksklusif selama enam bulan tingkat pertumbuhannya sama dengan yang ASI eksklusif hanya empat bulan.
c)

ASI eksklusif enam bulan ternyata tidak menyebabkan kekurangan zat besi

2)

Untuk Ibu a) Menambah panjang kembalinya kesuburan pasca

melahirkan, sehingga :

27

(1) Memberi jarak antar anak yang lebih panjang alias menunda kehamilan berikutnya. (2) Karena kembalinya menstruasi tertunda, ibu menyusui tidak membutuhkan zat besi sebanyak ketika

mengalami menstruasi
b) Ibu lebih cepat langsing. Penelitian membuktikan bahwa ibu

menyusui enam bulan lebih langsing setengah kg dibanding ibu yang menyusui empat bulan (Health Canada, 2004). 3. Gizi Balita Makanan pendamping ASI diberikan bertujuan untuk memenuhi kebutuhan zat gizi untuk keperluan hidup, memelihara kesehatan dan untuk aktivitas sehari-hari, menunjang tercapainya tumbuh kembang yang sempurna, mendidik anak agar terbentuk selera dan pola makan sehat. Saat pemberian MP-ASI sebaiknya harus disesuaikan dengan maturitas saluran pencernaan bayi dan makanan anak. Sebaiknya MPASI baru diberikan pada usia 4 atau 6 bulan dengan alasan kebutuhan energi bayi untuk pertumbuhan dan aktivitas seamkin bertambah. Makanan bayi dan anak harus memenuhi syarat-syarat : a. Dapat memenuhi kebutuhan zat gizi secara adekuat, tidak berlebihan dan tida kekurangan. b. Mudah diterima dan dicerna.

28

c. Jenis makanan dan cara pemberian makanan disesuaikan dengan usia dan kebiasaan makanan yang sehat. d. Terjamin kebersihannya dan bebas dari sumber penyakit. e. Susunan menu seimbang (10-15% protein, 23-35% lemak dan 5065% karbohidrat) Pemberian MP-ASI yang terlalu dini dapat menyebabkan:

(Notoatmodjo, 2003): a. Bayi lebih sering menderita diare b. Bayi lebih sering menderita alergi terhadap zat makan tertentu c. Terjadi malnutrisi d. Produk ASI menurun

C. Kesehatan Lingkungan 1. Pengertian Kesehatan Lingkungan Ilmu kesehatan lingkungan merupakan ilmu yang mempelajari hubungan timbal ballik antara faktor kesehatan dan faktor lingkungan. Untuk dapat mempelajari ilmu kesehatan lingkungan, diperlukan beberapa pengertian termasuk pengertian dari ekologi, ekosistem, pencemaran lingkungan, AMDAL, dan dasar-dasar pengelolaan

lingkungan. Kesehatan menyangkut semua segi kehidupan yang lingkup jangkauannya sangat luas. Salah satu parameter untuk mengetahui status kesehatan dari suatu daerah adalah angka kesakitan, yang menunjukkan ratio penyakit di masyarakat. Dalam hal

29

ini

termasuk

usaha-usaha

peningkatan

(promotif),

pencegahan

(preventif), penyembuhan (kuratif) dan pemulihan (rehabilitatif) yang bersifat menyeluruh terpadu, dan berkesinambungan. Banyak faktor yang mempengaruhi usaha kesehatan tersebut di atas berupa faktor lingkungan fisik/kimia, lingkungan biologik ataupun lingkungan sosial ekonomi budaya yang bersifat dinamis dan kompleks. Faktor tersebut dapat mempengaruhi kondisi fisiologis dari manusia dan dapat menimbulkan penyakit. Akibat ekspansi dan ulah manusia yang tidak bertanggung jawab dan dapat menyebabkan timbulnya suatu ketimpangan ekologis, sehingga dapat menimbulkan pencemaran lingkungan dan akhirnya dapat menimbulkan gangguan fisiologis dan psikologis pada manusia. (Mukono, 1999) 2. Pengertian dan Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan Kesehatan lingkungan pada hakikatnya, adalah kondisi atau keadaan lingkungan yang optimum, sehingga berpengaruh positif terwujudnya status kesehatan yang optimum pula. Ruang lingkup kesehatan lingkungan tersebut, antara lain mencakup : perumahan, dan pembuangan kotoran manusia (tinja), penyediaan air bersih,

pembuangan sampah, pembuangan air kotor (air limbah), rumah hewan ternak (kandang), dan sebagainya. Adapun yang dimaksud dengan usaha kesehatan lingkungan adalah suatu usaha untuk memperbaiki atau mengoptimumkan lingkungan hidup manusia. Agar merupakan

30

media yang baik untuk terwujudnya kesehatan yang optimum bagi manusia yang hidup didalamnya. Mengingat bahwa masalah kesehatan lingkungan di negara-negara yang sedang berkembang adalah berkisar pada sanitasi (jamban), penyediaan air minum, perumahan (housing), pembuangan sampah, dan pembuangan air limbah (air kotor), maka hanya akan dibahas kelima masalah tersebut. (Notoatmodjo, 2003) 3. Penyediaan Air Bersih (PAB) a. Pengertian Air Bersih Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan seharihari yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat diminum setelah dimasak (Permenkes RI No.416 / Menkes / Per / IX / 1990). Manusia tidak dapat hidup tanpa air. Air bagi manusia adalah kebutuhan yang sangat mutlak, karena air adalah zat pembentuk tubuh manusia yang terbesar, yaitu mencapai 75 % dari bagian tubuh manusia tanpa jaringan lemak. Persediaaan air untuk keperluan rumah tangga harus cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya. Air untuk keperluan rumah tangga harus memenuhi 2 syarat utama, yaitu :

31

1) Syarat Kuantitas Syarat kuantitas, yaitu di daerah pedesaan untuk hidup secara sehat cukup dengan memperoleh 60 / liter / hari / orang, sedangkan daerah perkotaan 100-150 / liter / hari / orang. 2) Syarat Kualitas Air rumah tangga harus memenuhi 3 syarat, yaitu : a) Syarat fisik, yaitu air harus jernih, tidak berbau, tidak berasa, dan tidak berwarna.
b)

Syarat Kimiawi,

yaitu air tidak mengandung zat racun

(toksin), tidak mengandung mineral-mineral, dan zat organik yang lebih tinggi dari jumlah yang di tentukan. Misalnya zat besi (Fe) tidak boleh lebih dari 0,10 mg per liter, sulfat tidak boleh lebih dari 250,00 mg per liter, timah hitam tidak boleh lebih dari 0,05 mg per liter, zat organik tidak boleh lebih dari 10,00 mg per liter. PH (keasaman) antara 6-8, kesadahan antara 5-10 derajat Jerman (1 derajat Jerman = 10 mg CaO per liter).
c)

Syarat Bakteriologis, yaitu air tidak boleh mengandung kuman penyakit menular, antarenteria bacillaris dan lain Cholera dan Paracholera Eltor ; Typhus abdominalis dan Paratyphus A, B, dan C; Dysenteria amoebica; Hepatitis infectiosa; Poliomyelitis anterioracuta; dan cacing. Untuk kepentingan air minum, hendaknya air dimasak sampai

32

mendidih, agar semua bakteri parasit mati. (Notoatmodjo, 2003) b. Sumber dan Karakter Air Bersih 1) Sumber Air a) Air Hujan Air hujan adalah uap air yang sudah terkondensasi dan jatuh ke bumi, selain berupa zat cair, air hujan dapat jatuh ke bumi sebagai zat padat (es/salju). b) Air Permukaan Air permukaan adalah air yang tergenang/mengalir di atas permukaan tanah dan umumnya merupakan air yang kurang baik untuk langsung dikonsumsi manusia harus melalui pengolahan terlebih dahulu. c) Air Tanah Air tanah adalah air yang tersimpan/terangkap dalam lapisan tanah yang mengalami pengisian/penambahan secara terus-menerus oleh alam. Air tanah juga merupakan air hujan atau air permukaan yang meresap ke dalam tanah dan bergabung membentuk lapisan air tanah yang disebut aqiuifer. (Waryati, 2006) 2) Sumber Air Bersih Berbagai sumber air bersih dapat digunakan untuk kepentingan aktivitas dengan ketentuan harus memenuhi

33

syarat yang sesuai dari segi konstruksi sarana pengolahan, pemeliharaan, dan pengawasan kualitasnya. Urutan sumbersumber air bersih berdasarkan kemudahan pengolahan dapat berasal dari : a) Perusahaan Air Minum (PAM) b) Air tanah (sumur pompa, sumur bor, dan artesis) c) Air hujan 3) Karakterisitik Sumber Air a) Perusahaan Air Minum (PAM), dari segi kualitas relatif sudah memenuhi syarat (fisik, kimia, dan bakteriologis). b) Air tanah, mutu air sangat dipengaruhi keadaan geologis setempat.
c)

Air hujan, biasanya bersifat asam, CO2 bebas tinggi, mineral rendah, kesadahan rendah.

(Daud. A & Rosman, 2003) 4. Pengolahan Air Minum Air minum harus steril (steril = tidak mengandung hama penyakit apapun). Sumber-sumber air minum pada umumnya dan di daerah pedesaan khususnya tidak terlindung sehingga air tersebut tidak atau kurang memenuhi persyaratan kesehatan. Untuk itu perlu pengolahan terlebih dahulu. Pengolahan air untuk diminum dapat dikerjakan dengan 2 cara berikut :

34

a.

Menggodok atau mendidihkan air, sehingga semua kumankuman mati. Cara ini membutuhkan waktu yang lama dan tidak dapat dilakukan secara besar-besaran

b.

Dengan menggunakan zat-zat kimia seperti gas chloor, kaporit, dan lain-lain. Cara ini dapat dilakukan secara besarbesaran, cepat dan murah. Ada beberapa cara pengolahan air minum antara lain sebagai

berikut: a. Pengolahan Secara Alamiah Pengolahan ini dilakukan dalam bentuk penyimpanan dari air yang diperoleh dari berbagai macam sumber, seperti air danau, air sungai, air sumur dan sebagainya. Di dalam penyimpanan ini air dibiarkan untuk beberapa jam di tempatnya. Kemudian akan terjadi koagulasi dari zat-zat yang terdapat didalam air dan akhirnya terbentuk endapan. Air akan menjadi jernih karena partikel-partikel yang ada dalam air akan ikut mengendap. b. Pengolahan Air dengan Menyaring Penyaringan air secara sederhana dapat dilakukan dengan kerikil, ijuk dan pasir. Penyaringan pasir dengan teknologi tinggi dilakukan oleh PAM (Perusahaan Air Minum) yang hasilnya dapat dikonsumsi umum.

35

c.

Pengolahan Air dengan Menambahkan Zat Kimia Zat kimia yang digunakan dapat berupa 2 macam yakni zat kimia yang berfungsi untuk koagulasi dan akhirnya mempercepat pengendapan (misalnya tawas). Zat kimia yang kedua adalah berfungsi untuk menyucihamakan (membunuh bibit penyakit yang ada didalam air, misalnya klor (Cl).

d. Pengolahan Air dengan Mengalirkan Udara Tujuan utamanya adalah untuk menghilangkan rasa serta bau yang tidak enak, menghilangkan gas-gas yang tak diperlukan, misalnya CO2 dan juga menaikkan derajat keasaman air.
e.

Pengolahan Air dengan Memanaskan Sampai Mendidih Tujuannya untuk membunuh kuman-kuman yang terdapat pada air. Pengolahan semacam ini lebih tepat hanya untuk konsumsi kecil misalnya untuk kebutuhan rumah tangga. Dilihat dari konsumennya, pengolahan air pada prinsipnya dapat digolongkan menjadi 2 yakni : 1) Pengolahan Air Minum untuk Umum 2) Penampungan Air Hujan. Air hujan dapat ditampung didalam suatu dam (danau buatan) yang dibangun berdasarkan partisipasi masyarakat setempat. Semua air hujan dialirkan ke danau tersebut melalui alur-alur air. Kemudian disekitar danau tersebut dibuat sumur pompa atau sumur gali untuk umum. Air hujan juga dapat

36

ditampung

dengan

bak-bak

ferosemen

dan

disekitarnya

dibangun atap-atap untuk mengumpulkan air hujan. Di sekitar bak tersebut dibuat saluran-saluran keluar untuk pengambilan air untuk umum. Air hujan baik yang berasal dari sumur (danau) dan bak penampungan tersebut secara bakteriologik belum terjamin untuk itu maka kewajiban keluarga-keluarga untuk memasaknya sendiri misalnya dengan merebus air tersebut. f. Pengolahan Air Sungai Air sungai dialirkan ke dalam suatu bak penampung I melalui saringan kasar yang dapat memisahkan benda-benda padat dalam partikel besar. Bak penampung I tadi diberi saringan yang terdiri dari ijuk, pasir, kerikil dan sebagainya. Kemudian air dialirkan ke bak penampung II. Disini dibubuhkan tawas dan chlor. Dari sini baru dialirkan ke penduduk atau diambil penduduk sendiri langsung ke tempat itu. Agar bebas dari bakteri bila air akan diminum masih memerlukan direbus terlebih dahulu. g. Pengolahan Mata Air Mata air yang secara alamiah timbul di desa-desa perlu dikelola dengan melindungi sumber mata air tersebut agar tidak tercemar oleh kotoran. Dari sini air tersebut dapat dialirkan ke rumah-rumah penduduk melalui pipa-pipa bambu atau penduduk dapat langsung mengambilnya sendiri ke sumber yang sudah terlindungi tersebut.

37

h. Pengolahan Air Untuk Rumah Tangga

Air sumur pompa terutama air sumur pompa dalam sudah cukup memenuhi persyaratan kesehatan. Tetapi sumur pompa ini di daerah pedesaan masih mahal, disamping itu teknologi masih dianggap tinggi untuk masyarakat pedesaan. Yang lebih umum di daerah pedesaan adalah sumur gali. Agar air sumur pompa gali ini tidak tercemar oleh kotoran di sekitarnya, perlu adanya syarat-syarat sebagai berikut: 1) Harus ada bibir sumur agar bila musim huujan tiba, air tanah tidak akan masuk ke dalamnya. 2) Pada bagian atas kurang lebih 3 m dari ppermukaan tanah harus ditembok, agar air dari atas tidak dapat mengotori air sumur. 3) Perlu diberi lapisan kerikil di bagian bbawah sumur tersebut untuk mengurangi kekeruhan. 4) Sebagai pengganti kerikil, ke dalam sumur ini dapat

dimasukkan suatu zat yang dapat membentuk endapan, misalnya aluminium sulfat (tawas). 5) Membersihkan air sumur yang keruh ini dapat dilakukan dengan menyaringnya dengan saringan yang dapat dibuat sendiri dari kaleng bekas.

38

i.

Air Hujan Kebutuhan rumah tangga akan air dapat pula dilakukan melalui penampungan air hujan. Tiap-tiap keluarga dapat melakukan penampungan air hujan dari atapnya masingmasing melalui aliran talang. Pada musim hujan hal ini tidak menjadi masalah tetapi pada musim kemarau mungkin menjadi masalah. Untuk mengatasi keluarga memerlukan tempat penampungan air hujan yang lebih besar agar mempunyai tandon untuk musim kemarau.

(http://www.smallcrab.com/makanan-dan-gizi/609-penyediaan-airbersih-dan-sehat) 5. Teknik Penyaringan Air Ada berbagai macam cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk mendapatkan air bersih, dan cara yang paling mudah dan paling umum digunakan adalah dengan membuat saringan air, dan bagi kita mungkin yang paling tepat adalah membuat penjernih air atau saringan air sederhana. Perlu diperhatikan, bahwa air bersih yang dihasilkan dari proses penyaringan air secara sederhana tersebut tidak dapat menghilangkan sepenuhnya garam yang terlarut di dalam air. Gunakan destilasi sederhana untuk menghasilkan air yang tidak mengandung garam. Saran saya, sebelum anda membeli alat / mesin penjernih air yang harganya ratusan ribu sampai jutaan rupiah, anda mencoba terlebih dahulu beberapa alternatif cara sederhana dan

39

mudah guna mendapatkan air bersih dengan cara mempergunakan filter air / penyaringan air : a. Saringan Kain Katun Pembuatan saringan air dengan menggunakan kain katun merupakan teknik penyaringan yang paling sederhana / mudah. Air keruh disaring dengan menggunakan kain katun yang bersih. Saringan ini dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Air hasil saringan tergantung pada ketebalan dan kerapatan kain yang digunakan.

b. Saringan Kapas Teknik saringan air ini dapat memberikan hasil yang lebih baik dari teknik sebelumnya. Seperti halnya penyaringan dengan kain katun, penyaringan dengan kapas juga dapat membersihkan air dari kotoran dan organisme kecil yang ada dalam air keruh. Hasil saringan juga tergantung pada ketebalan dan kerapatan kapas yang digunakan.

40

c. Aerasi Aerasi merupakan proses penjernihan dengan cara mengisikan oksigen ke dalam air. Dengan diisikannya oksigen ke dalam air maka zat-zat seperti karbon dioksida serta hidrogen sulfida dan metana yang mempengaruhi rasa dan bau dari air dapat dikurangi atau dihilangkan. Selain itu partikel mineral yang terlarut dalam air seperti besi dan mangan akan teroksidasi dan secara cepat akan membentuk lapisan endapan yang nantinya dapat dihilangkan melalui proses sedimentasi atau filtrasi.

41

d. Saringan Pasir Lambat (SPL) Saringan pasir lambat merupakan saringan air yang dibuat dengan menggunakan lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan pasir terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan kerikil.

e. Saringan Pasir Cepat (SPC) Saringan pasir cepat seperti halnya saringan pasir lambat, terdiri atas lapisan pasir pada bagian atas dan kerikil pada bagian bawah. Tetapi arah penyaringan air terbalik bila dibandingkan dengan Saringan Pasir Lambat, yakni dari bawah ke atas (up flow). Air bersih didapatkan dengan jalan menyaring air baku melewati lapisan kerikil terlebih dahulu baru kemudian melewati lapisan pasir.

42

f.

Gravity-Fed Filtering System Gravity-Fed Filtering System merupakan gabungan dari

Saringan Pasir Cepat(SPC) dan Saringan Pasir Lambat(SPL). Air bersih dihasilkan melalui dua tahap. Pertama-tama air disaring menggunakan Saringan Pasir Cepat(SPC). Air hasil penyaringan tersebut dan kemudian hasilnya disaring kembali menggunakan Saringan Pasir Lambat. Dengan dua kali penyaringan tersebut diharapkan kualitas air bersih yang dihasilkan tersebut dapat lebih baik. Untuk mengantisipasi debit air hasil penyaringan yang keluar dari Saringan Pasir Cepat, dapat digunakan beberapa / multi Saringan Pasir Lambat.

43

g. Saringan Arang Saringan arang dapat dikatakan sebagai saringan pasir arang dengan tambahan satu buah lapisan arang. Lapisan arang ini sangat efektif dalam menghilangkan bau dan rasa yang ada pada air baku. Arang yang digunakan dapat berupa arang kayu atau arang batok kelapa. Untuk hasil yang lebih baik dapat digunakan arang aktif. Untuk lebih jelasnya dapat lihat bentuk saringan arang yang direkomendasikan UNICEF pada gambar di bawah ini.

h. Saringan air sederhana / tradisional Saringan air sederhana/tradisional merupakan modifikasi dari saringan pasir arang dan saringan pasir lambat. Pada saringan tradisional ini selain menggunakan pasir, kerikil, batu dan arang

44

juga ditambah satu buah lapisan injuk / ijuk yang berasal dari sabut kelapa.

i.

Saringan Keramik Saringan keramik dapat disimpan dalam jangka waktu yang lama sehingga dapat dipersiapkan dan digunakan untuk keadaan darurat. Air bersih didapatkan dengan jalan penyaringan melalui elemen filter keramik. Beberapa filter kramik menggunakan campuran perak yang berfungsi sebagai disinfektan dan

membunuh bakteri. Ketika proses penyaringan, kotoran yang ada dalam air baku akan tertahan dan lama kelamaan akan menumpuk dan menyumbat permukaan filter. Sehingga untuk mencegah penyumbatan yang terlalu sering maka air baku yang dimasukkan jangan terlalu keruh atau kotor. Untuk perawatan saringn keramik ini dapat dilakukan dengan cara menyikat filter keramik tersebut pada air yang mengalir.

45

j.

Saringan Cadas / Jempeng / Lumpang Batu Saringan cadas atau jempeng ini mirip dengan saringan keramik. Air disaring dengan menggunakan pori-pori dari batu cadas. Saringan ini umum digunakan oleh masyarakat desa Kerobokan, Bali. Saringan tersebut digunakan untuk menyaring air yang berasal dari sumur gali ataupun dari saluran irigasi sawah. Seperti halnya saringan keramik, kecepatan air hasil saringan dari jempeng relatif rendah bila dibandingkan dengan SPL terlebih lagi SPC.

46

k. Saringan Tanah Liat. Kendi atau belanga dari tanah liat yang dibakar terlebih dahulu dibentuk khusus pada bagian bawahnya agar air bersih dapat keluar dari pori-pori pada bagian dasarnya. (http://www.aimyaya.com)

D. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Upaya-upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat sudah dilakukan dalam rangka perubahan perilaku masyarakat menuju Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil dari pembelajaran yang menjadikan seseorang dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya. Atau upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku melalui pendekatan pimpinan (advocacy), bina suasana (social support) dan pemberdayaan masyarakat (empowerment) sebagai suatu upaya untuk membantu masyarakat mengenali dan mengetahui masalahnya sendiri, dalam tatanan rumah tangga, agar dapat menerapkan cara-cara hidup

47

sehat

dalam

rangka

menjaga,

memelihara

dan

meningkatkan

kesehatannya. Bidang PHBS yaitu : a. Bidang kebersihan perorangan, seperti cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun, mandi minimal 2x/hari, dll. b. Bidang Gizi, seperti makan buah dan sayur tiap hari,

mengkonsumsi garam beryodium, menimbang berat badan(BB) dan tinggi badan (TB) setiap bulan, dll. c. Bidang Kesling, seperti membuang sampah pada tempatnya, menggunakan jamban, memberantas jentik, dll. (Depkes RI, 2008) Menanamkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) kepada setiap orang bukanlah hal yang mudah, akan tetapi memerlukan proses yang panjang. Setiap orang hidup dalam tatanannya dan saling mempengaruhi serta berinteraksi antar pribadi dalam tatanan tersebut. Memantau, menilai, dan mengukur tingkat kemajuan tatanan adalah lebih mudah dibandingkan dengan perorangan. Oleh karena itu, pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dilakukan melalui pendekatan tatanan, yaitu tatanan rumah tangga, sekolah, tempattempat umum, tempat kerja, dan institusi kesehatan. (Depkes RI, 2008) 2. PHBS di Rumah Tangga Adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah tangga agar tahu, mau dan mampu mempraktikkan hidup bersih dan sehat, serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat. Syarat rumah tangga sehat yaitu : (Depkes RI, 2008)

48

a. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan (dokter, bidan) b. Memberi bayi ASI eksklusif c. Menimbang bayi dan balita setiap bulan d. Menggunakan air bersih e. Mencuci tangan dgn air bersih, mengalir, dan sabun f. Menggunakan jamban

g. Memberantas jentik di rumah h. Makan sayur dan buah setiap hari i. j. Melakukan aktivitas fisik setiap hari Tidak merokok di dalam rumah Sasaran PHBS di Rumah Tangga adalah seluruh anggota keluarga yaitu : Pasangan Usia Subur, ibu Hamil dan menyusui, anak dan remaja, usia lanjut, dan pengasuh anak. (Depkes RI, 2008) Manfaat PHBS di Rumah Tangga Anggota keluarga Mampu meningkat mengupayakan kesehatannya lingkungan sehat dan tidak mudah sakit Peningkatan kinerja dan citra Alokasi biaya penanganan masalah kesehatan dapat di alihkan untuk pengembangan lingkungan sehat & penyedian sarana kesehatan merat bermutu & dan terjangkau Anak tumbuh Mampu mencegah & Menjadi pusat sehat & cerdas menanggulangi pembelajaran bagi masalah kesehatan daerah lain dalam pengembangan PHBS di rumah tangga

49

Produktivitas Memanfaatkan anggota keluarga pelayanan kesehatan meningkat yang ada Pengeluaran Mampu biaya dapat di mengembangkan alokasikan untuk upaya kesehatan pemenuhan gizi bersumber masyarakat keluarga, seperti Posyandu, pendidikan & JPKM, tabungan modal usaha bersalin, arisan untuk jamban, kelompok peningkatan pemakai air, ambulan pendapatan desa Sumber : Depkes RI, 2008 3. PHBS di Sekolah Merupakan kebutuhan mutlak seiring munculnya berbagai penyakit yang sering menyerang anak usia sekolah (6 10 tahun), yang ternyata umumnya berkaitan dengan PHBS. PHBS di sekolah merupakan sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat. Penerapan PHBS ini dapat dilakukan melalui pendekatan Usaha Kesehatan Sekolah. Manfaat PHBS di sekolah di antaranya : (Depkes RI, 2008) a. Terciptanya sekolah yang bersih dan sehat sehingga peserta didik, guru, dan masyarakat lingkungan sekolah terlindungi dari berbagai gangguan dan ancaman penyakit b. Meningkatnya semangat proses belajar-mengajar yang berdampak pada prestasi belajar peserta didik

50

c. Citra sekolah sebagai institusi pendidikan semakin meningkat sehingga mampu menarik minat orang tua (masyarakat) d. Meningkatnya citra pemerintah daerah di bidang pendidikan e. Menjadi percontohan sekolah sehat bagi daerah lain Sedangkan syarat-syarat sekolah ber-PHBS yaitu : 1) Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun 2) Jajan di kantin sekolah yang sehat 3) Membuang sampah pada tempatnya 4) Mengikuti kegiatan olah raga di sekolah 5) Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan 6) Tidak merokok di sekolah 7) Memberantas jentik nyamuk di sekolah secara rutin 8) Buang air besar dan buang air kecil di jamban sekolah (Depkes RI, 2008). 4. Perilaku Mencuci Tangan Mencuci tangan adalah salah satu tindakan sanitasi dengan

membersihkan tangan dan jari jemari dengan menggunakan air ataupun cairan lainnya oleh manusia dengan tujuan untuk menjadi bersih, sebagai bagian dari ritual keagamaan, ataupun tujuan-tujuan lainnya. Perilaku mencuci tangan berbeda dengan perilaku cuci tangan yang merujuk pada kata kiasan.

51

Mencuci tangan baru dikenal pada akhir abad ke 19 dengan tujuan menjadi sehat saat perilaku dan pelayanan jasa sanitasi menjadi penyebab penurunan tajam angka kematian dari penyakit menular yang terdapat pada negara-negara kaya (maju). Perilaku ini diperkenalkan bersamaan dengan ini isolasi dan pemberlakuan teknik membuang kotoran yang aman dan penyediaan air bersih dalam jumlah yang mencukupi. Cuci tangan merupakan salah satu tindakan yang mudah dan murah untuk mencegah penyebaran penyakit, virus dan kuman. Tangan menjadi jembatan bagi bakteri untuk masuk ke dalam tubuh kita. Agar memperoleh hasil yang maksimal, sebaiknya mengetahui bagaimana cara mencuci tangan yang benar. Saat ini cuci tangan sebaiknya sudah menjadi menjadi gaya hidup, satu hal yang terlihat sepele tetapi sangat berpengaruh terhadap kesehatan, dikarenakan berbagai penyakit dapat dengan mudahnya masuk kedalam tubuh kita lewat tangan kita yang tercemar kuman, virus dan penyakit, hal itu bisa terjadi ketika kita memegang handel pintu, memegang uang, tombol lift, bersalaman dan lain-lain. Mencuci tangan dengan sabun sudah terbukti manfaatnya dengan mencuci tangan dengan benar kuman sebagai sumber penyakit dapat mati. 12 langkah langkah utama membersihkan tangan dengan sabun dan air :

52

1. Basuh tangan dengan air 2. Gunakan sabun. 3. Ratakan dengan kedua telapak tangan 4. Gosok punggung dan sela-sela jari tangan kiri dengan tangan kanan dan sebaliknya 5. Gosok kedua telapak dan sela-sela jari 6. Jari-jari dalam dari kedua tangan dan saling mengunci

53

7. Gosok ibu jari kiri berputar dalam genggaman tangan kanan dan lakukan sebaliknya 8. Gosokkan dengan memutar ujung jari-jari tangan kanan di telapak tangan kiri dan sebaliknya 9. Bilas kedua tangan dengan air. 10. Keringkan dengan handuk/tisue sekali pakai sampai benarbenar kering 11. Gunakan handuk/tisue tersebut untuk menutup kran dan tangan Anda kini sudah aman (http://www.ygdi.org)

E. Promosi Kesehatan 1. Pengertian Promosi Kesehatan Istilah dan pengertian promosi kesehatan adalah merupakan pengembangan dari istilah pengertian yang sudah dikenal selama ini, seperti : Pendidikan Kesehatan, Penyuluhan Kesehatan, KIE

(Komunikasi, Informasi dan Edukasi). Promosi kesehatan/pendidikan kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang bergerak bukan hanya dalam proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata, akan tetapi di dalamnya terdapat usaha untuk memfasilitasi dalam rangka perubahan perilaku masyarakat. WHO merumuskan promosi kesehatan sebagai proses untuk meningkatkan kemampuan

54

masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu, untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik fisik, mental, dan sosial masyarakat harus mampu mengenal, mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, serta mampu mengubah atau mengatasi lingkungannya. Dapat disimpulkan bahwa promosi kesehatan adalah program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa

perubahan (perbaikan), baik di dalam masyarakat sendiri, maupun dalam organisasi dan lingkungannya. Menurut Green (cit, Notoatmodjo, 2005), promosi kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan. Green juga mengemukakan bahwa perilaku ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu :
a.

Faktor

predisposisi

(predisposising

factors),

yang

meliputi

pengetahuan dan sikap seseorang.


b.

Faktor pemungkin (enabling factors), yang meliputi sarana, prasarana, dan fasilitas yang mendukung terjadinya perubahan perilaku.

c.

Faktor penguat (reinforcing factors) merupakan faktor penguat bagi seseorang untuk mengubah perilaku seperti tokoh masyarakat, undang-undang, peraturan-peraturan, surat keputusan.

55

2. Penyuluhan Salah satu kegiatan promosi kesehatan adalah pemberian

informasi atau pesan kesehatan berupa kesehatan untuk memberikan atau meningkatkan pengetahuan dan sikap tentang kesehatan agar memudahkan Penyuluhan terjadinya kesehatan perilaku adalah sehat (Notoatmodjo, 2005). dan

penambahan

pengetahuan

kemampuan seseorang melalui teknik praktik belajar atau instruksi dengan tujuan mengubah atau mempengaruhi perilaku manusia baik secara individu, kelompok maupun masyarakat untuk meningkatkan kesadaran akan nilai kesehatan sehingga dengan sadar mau mengubah perilakunya menjadi perilaku sehat (Muninjaya, 2004). Penyuluhan merupakan suatu usaha menyebarluaskan hal-hal yang baru agar masyarakat mau tertarik dan berminat untuk melaksanakannya dalam kehidupan mereka sehari-hari. Penyuluhan juga merupakan suatu kegiatan mendidikkan sesuatu kepada dan

masyarakat,

memberi

pengetahuan,

informasi-informasi,

kemampuan-kemampuan baru, agar dapat membentuk sikap dan berperilaku hidup menurut apa yang seharusnya. Pada hakekatnya penyuluhan merupakan suatu kegiatan nonformal dalam rangka mengubah masyarakat menuju keadaan yang lebih baik seperti yang dicita-citakan (Zulkarimein, 1989).

56

a. Langkah-langkah Penyuluhan Untuk melaksanakan program penyuluhan harus membuat perencanaan penyuluhan terlebih dahulu. Suatu perencanaan yang baik harus memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1) Dapat dilaksanakan terus menerus. 2) Berorientasi ke masa depan. 3) Dapat menyelesaikan suatu masalah. 4) Mempunyai tujuan. Menurut Herijulianti (2002) langkah-langkah yang perlu

dilakukan dalam menyusun perencanaan penyuluhan adalah : 1) Analisis Situasi. Analisis situasi merupakan suatu kegiatan dalam

mengumpulkan data tentang keadaan wilayah, masalahmasalah sehingga diperoleh informasi yang akurat tentang masalah yang dihadapi. 2) Penentuan Prioritas Masalah Mengurutkan masalah dari masalah yang dianggap paling penting sampai dengan urutan yang kurang penting. Ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode, antara lain dengan cara pembobotan. 3) Penentuan Tujuan Tujuan penyuluhan adalah mengubah perilaku anak dari perilaku yang tidak sehat ke arah perilaku sehat.

57

4) Penentuan Sasaran Sasaran untuk penyuluhan dapat dibedakan menjadi : a) Masyarakat umum b) Masyarakat sekolah, sebagai masyarakat yang mudah dicapai
c)

Kelompok masyarakat tertentu, misalnya kader kesehatan yang membantu menggerakkan dan menyebarkan

informasi. 5) Penentuan Pesan Pesan merupakan informasi yang akan disampaikan kepada sasaran. Pesan yang disampaikan harus disesuaikan dengan sasaran yang akan diberikan penyuluhan. 6) Penentuan Metode Pemilihan metode biasanya mengacu pada penentuan tujuan yang ingin dicapai, apakah pengubahan pada tingkat kognitif, afektif atau psikomotor (contoh : untuk mengubah kognitif/pengetahuan dapat memilih dengan menggunakan metode ceramah ataupun diskusi). 7) Penentuan Media Dalam menyampaikan penyuluhan digunakan media dan alat bantu peraga. Pemilihan media dan metode yang tepat serta didukung oleh kemampuan dari tenaga penyuluh

58

merupakan suatu hal untuk mempermudah proses belajar mengajar. 8) Penentuan Rencana Penilaian Penilaian yang dilakukan meliputi : penentuan tujuan penilaian, penentuan tolak ukur yang akan digunakan untuk penilaian. 9) Penyusunan Jadwal Kegiatan Rencana kegiatan dibuat dalam satu kurun waktu dan terjadwal yang disesuaikan dengan sasaran, tujuan, materi, media, alat peraga, petugas penyuluh, waktu dan rencana penilaian.
b. Metode Penyuluhan

Metode penyuluhan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tercapainya suatu hasil penyuluhan secara optimal. Semua metode akan baik bila digunakan secara tepat yaitu sesuai dengan kebutuhan (Notoatmodjo, 2007). Pada garis besarnya hanya ada dua jenis metode dalam penyuluhan, yaitu :
1) Metode One Way Methode

Menitikberatkan pendidik yang aktif, sedangkan pihak sasaran tidak diberi kesempatan untuk aktif. Yang termasuk metode ini adalah : metode ceramah, siaran melalui radio, pemutaran film, penyebaran selebaran, pameran.

59

2) Metode Two Way Methode

Pada metode ini terjadi komunikasi dua arah antara pendidik dan sasaran. Yang termasuk dalam metode ini adalah wawancara, demonstrasi, sandiwara, simulasi, curah pendapat, permainan peran (role playing) dan tanya jawab. Berdasarkan jumlah sasaran, metode yang dapat

digunakan antara lain :


a) Kelompok Besar (lebih dari 15 orang), metode yang baik

untuk kelompok besar ini antara lain adalah ceramah, demonstrasi dan seminar.
b) Kelompok Kecil (kurang dari 15 orang), metode yang baik

untuk kelompok ini antara lain : diskusi kelompok, curah pendapat (brain storming), memainkan peran (roleplay). Adapun metode penyuluhan yang digunakan adalah metode ceramah, demonstrasi dan praktik. a) Ceramah Ceramah merupakan suatu cara dalam menerangkan dan menjelaskan suatu ide, pengertian atau pesan secara lisan kepada sekelompok sasaran disertai tanya jawab sehingga memperoleh informasi tentang kesehatan. Ciri-ciri metode ceramah : ada sekelompok sasaran yang telah dipersiapkan sebelumnya, ada ide, pengertian dan pesan tentang kesehatan yang akan disampaikan, tidak adanya

60

kesempatan bertanya bagi sasaran, bila ada jumlahnya sangat dibatasi dan menggunakan alat peraga untuk mempermudah pengertian. Keuntungan metode ceramah : murah dan mudah menggunakannya, waktu yang diperlukan dapat

dikendalikan oleh penyuluh, dapat diterima oleh sasaran yang tidak dapat membaca dan menulis, penyuluh dapat menjelaskan dengan menekankan bagian yang penting. Kerugian metode ceramah : tidak dapat memberikan kesempatan kepada sasaran untuk berpartisipasi secara pro aktif (sasaran bersifat pasif), cepat membosankan jika ceramah yang disampaikan kurang menarik sasaran, pesan yang disampaikan mudah untuk dilupakan oleh sasaran, sering menimbulkan pengertian lain apabila sasaran kurang memperhatikan. b) Demonstrasi Demonstrasi adalah suatu cara untuk menujukkan pengertian, ide, dan prosedur tentang sesuatu hal yang telah dipersiapkan dengan teliti untuk memperlihatkan bagaimana cara melaksanakan suatu tindakan, adegan dengan menggunakan alat peraga. Metode ini

dipergunakan pada kelompok yang tidak terlalu besar jumlahnya.

61

Ciri-ciri demonstrasi : memperlihatkan pada kelompok bagaimana prosedur untuk membuat sesuatu, dapat meyakinkan peserta bahwa mereka dapat melakukannya dan dapat meningkatkan minat sasaran untuk belajar. Keuntungan demonstrasi : kegiatan ini dapat memberikan suatu keterampilan tertentu kepada kelompok sasaran, dapat memudahkan berbagai jenis penjelasan karena penggunaan bahasa yang lebih terbatas, membantu sasaran untuk memahami dengan jelas jalannya suatu proses prosedur yang dilakukan. Kerugian demonstrasi : tidak dapat dilihat oleh sasaran apabila alat yang digunakan terlalu kecil atau penempatannya kurang pada tempatnya, uraian atau penjelasan yang disampaikan kurang jelas, waktu yang disediakan terbatas sehingga sasaran tidak dapat diikutsertakan (Taufik, 2007). c) Praktik Praktik adalah cara untuk melihat tindakan yang dilakukan seseorang apakah sudah sesuai dengan yang diinstruksikan.
c. Alat Bantu Penyuluhan

Alat bantu penyuluhan adalah alat-alat atau perlengkapan yang diperlukan penyuluh guna memperlancar kegiatan penyuluhan. Alat bantu lebih sering disebut alat peraga yang merupakan alat atau

62

benda yang dapat diamati, didengar, diraba atau dirasakan oleh indera manusia yang berfungsi sebagai alat untuk memperagakan dan atau menjelaskan uraian yang disampaikan secara lisan oleh penyuluh guna membantu proses belajar mengajar, agar materi lebih mudah diterima dan dipahami oleh sasaran. Pada garis besarnya hanya ada tiga macam alat bantu, yaitu sebagai berikut :
1) Alat bantu lihat (visual aids) yang berguna dalam membantu

menstimulasi indera mata (penglihatan pada waktu terjadinya proses pendidikan). Alat ini ada dua bentuk, yaitu alat yang diproyeksikan (slide, film, dan film strip) dan alat-alat yang tidak diproyeksikan.
2) Alat bantu dengar (audio aids) yaitu alat yang dapat membantu

untuk menstimulasi indra pendengar pada waktu proses penyampaian dalam pendidikan, misalnya piringan hitam, radio, pita suara, dan sebagainya.
3) Alat bantu lihat/dengar (audio-visual aids) seperti televisi dan

video cassete. Alat bantu ini disusun berdasarkan prinsip bahwa pengetahuan yang ada pada setiap manusia diterima atau ditangkap melalui panca indera. Semakin banyak indera yang digunakan untuk menerima sesuatu maka semakin banyak dan semakin jelas pula pengertian/pengetahuan yang diperoleh. Elgar dale (cit, Notoatmodjo, 2005), membagi alat bantu alat peraga tersebut atas sebelas macam dan

63

menggambarkan tingkat intensitas tiap-tiap alat tersebut dalam sebuah kerucut. Secara berurutan dari intensitas yang paling kecil sampai yang paling besar alat tersebut adalah sebagai berikut : 1). Kata-kata; 2). Tulisan; 3). Rekaman; 4). Film; 5). Televisi; 6). Pameran; 7). Fieldtrip; 8). Demonstrasi; 9). Sandiwara; 10). Benda Tiruan; 11). Benda Asli. Alat bantu dalam melakukan penyuluhan sangat membantu agar pesanpesan dapat disampaikan lebih jelas dan tepat. Disamping pembagian tersebut, alat peraga juga dapat dibedakan menurut pembuatan dan penggunaannya :
a) Alat peraga yang rumit (complicated) seperti film, film strip,

slide, dan sebagainya yang menggunakan listrik dan proyektor.


b) Alat

peraga

sederhana

seperti

leaflet,

model

buku

bergambar, benda-benda yang nyata seperti buah-buahan dan sebagainya. Selain itu juga poster, spanduk, leaflet, flanel graph, boneka wayang dan sebagainya. d. Media Penyuluhan Media penyuluhan adalah semua sarana atau upaya untuk menampilkan pesan atau informasi yang ingin disampaikan oleh penyuluh, baik melalui media cetak, elektronik dan media luar ruang sehingga sasaran mendapat pengetahuan yang akhirnya

64

diharapkan dapat berubah perilakunya kearah positif terhadap kesehatan. Menurut bentuknya media penyuluhan dibedakan atas :
1) Media visual : media yang sifatnya dapat dilihat (slide,

transparansi). 2) Media audio : media yang sifatnya dapat didengar (radio). 3) Media audiovisual : media yang dapat didengar dan dilihat (televisi, film). 4) Media tempat memperagakan (papan tulis, papan tempel, OHP, papan planel). 5) Media pengalaman nyata atau media tiruan (simulasi, benda nyata).
6) Media cetakan (buku bacaan, leaflet, folder, poster, brosur).

F. Identifikasi Masalah Perencanaan pada hakikatnya adalah suatu bentuk rancangan pemecahan masalah. Oleh sebab itu, langkah awal dalam perencanaan kesehatan adalah mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan

masyarakat di lingkungan unit organisasi yang bersangkutan. Sumber masalah kesehatan masyarakat dapat diperoleh dari berbagai cara antara lain : (Notoatmodjo, 2003)
1. Laporan-laporan kegiatan dari program-program kesehatan yang ada. 2. Surveilans epidemiologi atau pemantauan penyebaran penyakit.

65

3. Survei kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan

perencanaan kesehatan.
4. Hasil kunjungan lapangan supervisi dan sebagainya.

Ada 3 cara pendekatan yang dilakukan dalam mengidentifikasi masalah kesehatan, yakni : 1. Pendekatan Logis Secara logis, identifikasi masalah kesehatan dilakukan dengan mengukur mortalitas, morbiditas, dan cacat yang timbul dari penyakitpenyakit yang ada dalam masyarakat. 2. Pendekatan Pragmatis Pada umumnya setiap orang ingin bebas dari rasa sakit dan rasa tidak aman yang ditimbulkan penyakit/kecelakaan. Dengan demikian ukuran pragmatis suatu masalah gangguan kesehatan adalah

gambaran upaya masyarakat untuk memperoleh pengobatan, misalnya jumlah orang yang datang berobat ke suatu fasilitas kesehatan. 3. Pendekatan Politis Dalam pendekatan ini, masalah kesehatan diukur atas dasara pendapat orang-orang penting dalam suatu masyarakat (pemerintah atau tokoh-tokoh masyarakat). (Azwar, 2003)

Focus Group Discussion (FGD) Focus Group Discussion (FGD) adalah teknik pengumpulan data yang umumnya dilakukan pada penelitian kualitatif dengan tujuan

66

menemukan makna sebuah tema menurut pemahaman sebuah kelompok. Teknik ini digunakan untuk mengungkap pemaknaan dari suatu kelompok berdasarkan hasil diskusi yang terpusat pada suatu permasalahan tertentu. FGD juga dimaksudkan untuk menghindari pemaknaan yang salah dari seorang peneliti terhadap fokus masalah yang sedang diteliti. FGD adalah suatu metode riset yang oleh Irwanto (2006) didefinisikan sebagai suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok (Irwanto, 2006). Dengan perkataan lain FGD merupakan proses pengumpulan informasi bukan melalui wawancara, bukan perorangan, dan bukan diskusi bebas tanpa topik spesifik. Metode FGD termasuk metode kualitatif. Seperti metode kualitatif lainnya (direct observation, indepth interview, dsb) FGD berupaya menjawab jenis-jenis pertanyaan howand why, bukan jenis-jenis pertanyaan what-and-how-many yang khas untuk metode kuantitatif (survei, dsb). FGD dan metode kualitatif lainnya sebenarnya lebih sesuai dibandingkan metode kuantitatif untuk suatu studi yang bertujuan to generate theories and explanations (Morgan and Kruger, 1993).

67

G. Prioritas Masalah Penetapan prioritas dinilai oleh sebagian besar manager kesehatan sebagai inti proses perencanaan. Langkah yang mengarah pada titik ini dapat dikatakan sebagai suatu persiapan untuk keputusan penting dalam penetapan priotitas. Sekali prioritas ditetapkan, langkah berikutnya dapat dikatakan merupakan gerakan progresif menuju pelaksanaan. Dalam penentuan priotitas, aspek penilaian dan kebijaksanaan banyak diperlukan bersama-sama dengan kecakapan unik untuk mensintesis berbagai rincian yang relavan. Hal ini merupakan bagian dari proses perencanaan yang biasanya dikatakan paling naluriah. Namun penetapan prioritas mungkin dapat lebih jauh beramanfaat dibandingkan dengan langkah-langkah lain bila dibuat eksplisit dan menjadi tindakan yang ditentukan secara jelas. Keterampilan utama yang diperlukan dalam penentuan prioritas adalah menyeimbangkan variabel-variabel yang memiliki hubungan kuantitatif yang sangat berbeda dan dalam kenyataannya terletak dalam skala dimensional yang berbeda pula. Terlalu sering kesalahan timbul akibat memberikan penekanan terlalu banyak pada satu dimensi (Azwar, 2003). Seorang ahli epidemiologi cenderung untuk menilai penetapan prioritas terutama sebagai suatu masalah penentuan mortalitas dan morbiditas relative dari masalah-masalah kesehatan tertentu. Pendekatan ini dipakai secara berlebihan dalam virsi pertama Metode Amerika Latin dalam perencanaan kesehatan ilmuwan sosial, politikus dan masyarakat umum cenderung memandang penetapan prioritas sebagi suatu tangapan atas

68

perasaan

popular

mengenai

hal-hal

yang

penting.

Bagi

mereka

pertimbangan-perimbangan yang penting adalah : pertama, apa yang diinginkan masyarakat untuk dilakukan dan yang kedua adalah program kesehatan yang dapat diterima. Para administrator cenderung mengkaji prioritas terutama dalam hubungannya dengan metode perencanaan kesehatan Amerika Latin sebagai kerawanan masalah-masalah

kesehatan tertentu. Perhatiannya ada pada ketersediaan metode teknis untuk mengendalikan penyakit-penyakit atau kondisi-kondisi yang

memerlukan perhatian. Keterbatasan paling serius di Negara berkembang yang bahkan mungkin seringkali lebih berat dari pada kerangka kerja administrative untuk menyediakan pelayanan dan personil yang diperlukan. Para ekonomi memberi penekanan khusus pada biaya. Hal ini biasanya merupakan kendala akhir yang menentukan apa yang akan dilakuakan, ongkos-ongkos relative berbagai program pengendalian harus

diseimbangkan (Azwar, 2003). Kebijakan penting dalam menyeimbangkan ongkos perencanaan kesehatan umumnya adalah menyediakan pelayanan kesehatan

masyarakat secara maksimum dari pada memberian pelayanan dengan mutu tertinggi kepada sekelompok kecil masyarakat perencanaan

kesehatan harus mengembangkan keterampialan dalam semua disiplin ilmu yang diperlukan agar dapat melakukan pendekatan perencanaan yang seimbang. Yang terutama diperlukan adalah indeks-indeks tertentu yang valid di dalam informasi baik kualitatif maupun kuantitatif yang digunakan

69

dalam penilaian ini. Tanpa mengindahkan semua usaha pada pengukuran dan pengelompokan khusus, si perencana akhirnnya harus bersandar pada elemen-elemen kebijaksanaan yang tak pasti berdasarkan pengalaman atau evaluasi rencana-rencana sebelumnya dalam membuat keputusan akhir. Untuk dapat menetapkan prioritas masalah ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yakni:
1. Melakukan pengumpulan data

Untuk dapat menetapkan prioritas masalah kesehatan, perlu tersedia data yang cukup. Untuk itu perlulah dilakuakan pengumpulan data. Data yang perlu dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan lingkunagan, perilaku, keturunan dan pelayanan kesehhatan termasuk keadaan geografis, keadaan pemerintahan, kependudukan, pendidikan, pekerjaan, mata pencaharian, sosial budaya dan kesehatan. 2. Pengolahan data Apabila data yang telah berhasil dikumpulkan, maka data tersebut harus diolah, maksudnya adalah menyusun data yang tersedia sedemikian rupa sehingga jelas sifat-sifat yang dimiliki oleh masingmasing data tersebut. Cara pengolahan data yang dikenal ada tiga macam, secara manual, elerikal dan mekanik. 3. Penyajian data-data yang telah diolah perlu disajikan
4. Ada tiga macam penyajian yang lazim dipergunakan yakni secara

tekstular, tabular dan grafikal (Azwar, 2003) 5. Pemilihan prioritas masalah

70

Hasil penyajian data akan memunculkan berbagai masalah. Tidak semua masalah dapat diselesaikan. Karena itu diperlukan pemilihan prioritas masalah, dalam arti masalah yang paling penting untuk diselesaikan. Penentuan prioritas masalah kesehatam adalah suatu proses yang dilakukan oleh sekelompok orang dengan menggunakan metode tertentu untuk menetukan urutan masalah dari yang paling penting sampai dengan kurang penting. Penentuan prioritas

memerlukan perumusan masalah yang baik, yakni specific, jelas ada kesenjangan yang dinytakan secara kualitatif dan kuantitatif serta dirumuskan secara sistematis. Dalam menetapkan prioritas masalah ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan, yakni : 1. Besarnya masalah yang terjadi 2. Perimbangan politik 3. Persepsi masyarakat 4. Bisa tidaknya masalah tersebut diselesaikan (Azwar, 2003) Cara pemilihan prioritas masalah banyak macamnya. Secara

sederhana dapat dibedakan menjadi dua macam, yakni : 1. Scoring Technique Pada cara ini pemilihan prioritas dilakukan dengan memberikan score (nilai) yang berbagai parameter tertentu yang telah ditetapkan. Parameter yang dimaksud adalah : a. Besarnya masalah

71

b. Berat ringannya akibat yang ditimbulkan. c. Kenaikan prevalensi masalah. d. Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut. e. Keuntungan sosial yang dapat diperoleh jika masalah tersebut terselesaikan. f. Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah.

g. Sumber daya yang tersedia yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah. (Azwar, 2003). Secara terperinci cara-cara tersebut antara lain:
a.

Cara Bryant, cara ini telah dipergunakan dibeberapa Negara yaitu di Afrika dan Thailand. Cara ini menggunakan 4 macam criteria, yaitu :
1)

Community

Concern,

yakni

sejauh

mana

masyarakat

mengganggap masalah tersebut penting.


2)

Prevalensi, yakni berapa banyak penduduk yang terkena dampak yang ditimbulkan penyakit tersebut.

3)

Seriousness, yakni sejauh mana dampak yang ditimbulkan penyakit tersebut.

4)

Manageability, yakni sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Menurut cara ini masing-masing criteria tersebut diberi scoring, kemudian masing-masing skor

dikalikan. Hasil ini dibandingkan antara masalah-masalah yang dinilai. Masalah dengan skor tertinggi, akan mendapat prioritas yang tinggi pula.

72

b.

Cara Ekonometrik, cara ini dipergunakan di Amerika Latin. Criteria yang dipakai adalah :
1)

Magnitude (M), yakni criteria yang menunjukkan besarnya masalah.

2)

Importance (I), yakni ditentukan oleh jenis kelompok penduduk yang terkena masalah.

3)

Vulnerability (V), yakni tidak adanya metode atau cara penanggulangan yang efektif.

4)

Cost (C), yakni biaya yang diperlukan untuk penanggulangan masalah tersebut. Hubungan keempat criteria dalam

menentukan prioritas masalah (P) adalah sebagai berikut : P = M.I.V


c.

Metode Delbeq & Hanlon 1) Metode Delbeq Proses penentuan criteria diawali engan pembentukan kelompok yang akan mendiskusikan, merumuskan dan

menetapkan kriteria. Sumber informasi yang dipergunakan dapat berasal dari : (a) Pengetahuan dan pengalaman individual para anggota. (b) Saran dan pendapat narasumber. (c) Peraturan pemerintah yang relevan (Azwar, 2003). (d) Hasil perumusan analisa keadaan dan masalah kesehatan.

73

Langkah selanjutnya adalah menginventarisir criteria dan menginventalisir serta mengevaluasi kriteria. 2) Metode Hanlon Dalam metode Hanlon dibagi menjadi 4 kelompok kriteria, masing-masing adalah : (a) Kelompok kriteria A = besarnya masalah. (b) Kelompok kriteria B = tingkat kegawatan masalah. (c) Kelompok masalah. (d) Kelompok kriteria D = pearl factor, dimana : P = kesesuaian, E = secara ekonomi murah, A = dapat diterima, R = tersedianya sumber, L = legalitas terjamin. 2. Non Scoring Technique Memilih prioritas masalah dengan mempergunakan berbagai parameter, dilakukan bila tersedia data yang lengkap. Bila tidak tersedia data, maka akan menetapkan prioritas masalah yang lazim digunakan adalah :
a.

kriteria

kemudahan

penanggulangan

Delphin Technique yaitu pentapan prioritas masalah tersebut dilakukan melalui kesepakatan sekelompok orang yang sama keahliannya. Pemilihan prioritas masalah dilakukan melalui

74

pertemuan khusus. Setiap peserta yang sama keahliannya dimintakan untuk mengemukakan beberapa masalah pokok, masalah yang paling banyak dikemukakan adalah prioritas masalah yang dicari. (Azwar, 2003).
b. Delbeq Technique yaitu penetapan prioritas masalah dilakukan

melalui

kesepakatan

sekelompok

orang

yang

tidak

sama

keahliannya. Sehingga diperlukan penjabaran terlebih dahulu untuk meningkatkan mempengaruhi pengertian peserta. dan Lalu pemahaman diminta untuk peserta tanpa

mengemukakan

beberapa masalah. Masalah yang banyak dikemukakan adalah prioritas masalah.

H. Penyebab Masalah Digunakan untuk mencari penyebab yang paling utama. Untuk menentukan penyebab masalah ini dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode diantaranya yaitu : a. Metode Tulang Ikan (Fishbone) Suatu diagram yang menunjukkan hubungan antara faktor-faktor penyebab masalah dan akibat yang ditimbulkan. Manfaat dari fishbone diagram antara lain mengidentifikasi akar penyebab dari suatu masalah serta membangkitkan ide-ide untuk mengatasi permasalahan tersebut (Subirman, 2008).

75

Analisa tulang ikan dipakai jika ada perlu untuk mengkategorikan berbagai sebab potensial dari satu masalah atau pokok persoalan dengan cara yang mudah dimengerti dan rapi. Juga alat ini membantu kita dalam menganalisis apa yang sesungguhnya terjadi dalam proses. Yaitu dengan cara memecah proses menjadi sejumlah kategori yang berkaitan dengan proses, mencakup manusia, material, mesin, metode, waktu/lingkungan (Subirman, 2008). b. Pohon Masalah Untuk mengidentifikasikan semua masalah dalam suatu situasi tertentu dan memperagakan informasi ini sebagai rangkaian hubungan sebab akibat dilakukan denga teknik pohon masalah. Pohon masalah adalah suatu teknik untuk mengidentifikasikan semua masalah dalam suatu situasi tertentu dan memperagakan informasi ini sebagai rangkaian hubungan sebab akibat. Pohon masalah dimulai dengan masalah utama. Sebagai hasil analisis situasi di unit kerja, dianalisis penyebab masalah tersebut dalam forum curah pendapat. Mulailah dengan rumusan pernyataan masalah yang dihadapi unit kerja, pikirkan apa akibat yang mungkin timbul dari masalah tersebut, diskusikan dan tuliskan berbagai alternatif penyebab masalah tersebut secara bertahap, lukiskan dalam sebuah bagan pohon. Pohon masalah dimanfaatkan sebagai analogi/permisalan struktur dan hubungan antar peristiwa/kejadian, masalah, dan faktor-faktor

76

terkait yang sudah dirumuskan. Peristiwa/kejadian, masalah, dan/atau faktor apa (saja) yang menjadi batang tubuh pohon (sebagai permasalahan inti), menjadi daun/buah (sebagai akibat/dampak yang ditimbulkan peristiwa/kejadian, masalah, dan faktor lain), atau menjadi akar (penyebab dasar atas munculnya peristiwa/kejadian, masalah, dan faktor-faktor terkait). c. Metode Pendekatan Sistem Normatif Manajemen Semua proses manajemen/administrasi/apapun aktivitas organisasi selalu dilihat beberapa sistem yaitu input proses output. Bahkan dapat melanjutkan ke outcome atau dampak.

I.

Program Kesehatan Perencanaan adalah merupakan inti kegiatan manajemen, karena semua kegiatan diatur dan diarahkan oleh perencanaan tersebut. Dengan perencanan itu memungkinkan para pengambil keputusan atau manajer untuk menggunakan sumber daya mereka secara berhasil guna dan berdaya guna. Banyak batasan perencanaan yang telah dibuat oleh para ahli. Dari batasan-batasan dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa

perencanaan suatu kegiatan atau proses penganalisaan dan pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik. Dar batasan ini dapat di tarik kesimpulan-kesimpulan antara lain :

77

1. Perencanaan harus didasarkan kepada analisa dan pemahaman sistem dengan baik. 2. Perencanaan pada hakekatnya menyusun konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan dan misi organisasi. 3. Perencanaan secara implicit mengemban misi organisasi untuk mencapai hari depan yang lebih baik. (Maidan, 2004). Secara sederhana dan awam dapat dikatakan bahwa perencanaan adalah suatu proses yang menghasilkan suatu uarian yang terperinci dan lengkap tentang suatu program atau kegiatan yang akan dilaksanakan adalah Rencana (plan). Perencanaan atau rencana itu sendiri banyak macamnya, antara lain : 1. Dilihat dari jangka waktu berlakunya rencana
1)

Rencana jangka panjang (long term planning), yang berlaku antara 10-25 tahun.

2)

Rencana jangka menengah (medium range planning), umumnya hanya berlaku untuk 1 tahun.

2. Dilihat dari tingkatannya


a.

Rencana

induk

(masterplan),

lebih

menitikberatkan

uraian

kebijakan organisasi. Rencana ini mempunyai tujuan jangka panjang dan mempunyai ruang lingkup yang luas.
b.

Rencana operasional (operational planning), lebih menitikberatkan pada pedoman atau petunjuk dalam melaksanakan suatu program.

78

c.

Rencana harian (day to dat palnning) ialah rencana harian yang bersifat rutin.

3. Dilihat dari ruang lingkupnya


a.

Rencana strategis (strategic planning), berisikan uraian tentang kebijakan tujuan jangka panjang dan waktu pelaksanaan yang lama. Model rencana ini sulit untuk diubah.

b.

Rencana teknis (tactical planning) ialah rencana yang berisi uraian yang bersifat jangka pendek, mudah menyesuaikan kegiatankegiatannya, asalkan tujuan tidak diubah.

c.

Rencana menyeluruh (comprehensive planning) ialah rencana yang mengandung uraian secara menyeluruh dan lengkap.

d.

Rencana terintegrasi (intregrated planning) ialah rencana yang mengandung uarian yang menyeluruh bersifat terpadu, misalnya dengan program lain di luar kesehatan.

Meskipun ada berbagai jenis perencanaan berdasarkan aspek-aspek tersebut diatas, namun prakteknya sulit untuk dipisah-pisahkan seperti pembagian tersebut. Misalnya berdasarkan tingkatannya suatu rencana termasuk rencana induk tetapi juga merupakan rencana strategis berdasarkan ruang lingkupnya dan rencana jangka panjang berdasarkan jangka waktunya.

79

J. Proses Perencanaan Perencanaan dalam suatu organisasi adalah suatu proses, dimulai dari identifikasi masalah, penentuan prioritas masalah, perencanaan

pemecahan masalah, implementasi (pelaksanaan pemecahan masalah) dan evaluasi. Dari hasil evaluasi tersebut akan muncul masalah-masalah baru kemudian dari masalah-masalah tersebut dipilih prioritas masalah dan selanjutnya kembali ke siklus semula. Di bidang kesehatn khususnya, proses perencanaan ini pada umumnya menggunakan pendekatan pemecahan masalah (problem solving) seperti bagan Proses Perencanaan. Secara terinci, langkah-langkah perencanaan kesehatan adalah sebagai berikut :
1. Identifikasi Masalah

Perencanaan pada hakekatnya adalah suatu bentuk rancangan pemecahan masalah. Oleh sebab itu, langkah awal dalam perencanaan kesehatan adalah mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan

masyarakat di lingkungan unit organisasi yang bersangkutan. Sumber masalah kesehatan masyarakat dapat diperoleh dari berbagai cara antara lain : a. Laporan-laporan kegiatan dari program-program kesehatan yang ada. b. Surveilance epidemiologi atau pemantauan penyebaran penyakit. c. Survei kesehatan yang khusus diadakan untuk memperoleh masukan perencanaan kesehatan.

80

d. Hasil kunjungan lapangan supervisi, dan sebagainya. Suatu rencana yang baik haruslah mengandung uraian tentang asumsi perencanaan (planning assumption). Maksudnya adalah

mengetahui dengan jelas berbagai faktor penopang dan ataupun penghambat yang diperkirakan akan dihadapi apabila rencana tersebut dilaksanakan. Pengetahuan tentang berbagai faktor penopang dan ataupun penghambat ini, dalam pekerjaan administrasi dipandang cukup penting. Dengan diketahuinya berbagai faktor penopang serta penghambat tersebut akan dapat dilakukan berbagai persiapan, sedemikian rupa sehingga pelaksanaan rencana akan dapat lebih lancar. Untuk dapat mengetahui secara lengkap berbagai faktor penopang serta penghambat, perlu dilakukan kajian seksama tentang keadaan organiasasi yang akan melaksanakan rencana tersebut. Kajian yang seperti ini dikenal dengan nama analisis SWOT. 2. Pengertian Analisis SWOT Pengertian analisis SWOT banyak macamnya. Secara sederhana dapat diartikan sebagai suatu kajian yang dilakukan terhadap suatu organisasi sedemikian rupa sehingga diperoleh keterangan yang akurat tentang berbagai faktor kekuatan, kelemahan, kesempatan serta hambatan yang dimiliki dan atau yang dihadapi oleh organisasi.

81

a. Unsur-unsur SWOT Dari batasan sederhana ini, segera terlihat dalam analisis SWOT ditemukan ada empat unsur pokok yang perlu dipahami. Keempat unsur yang dimaksud adalah : 1. Kekuatan Yang dimaksud dengan kekuatan (strength) disini adalah berbagai kelebihan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila dapat dimanfaatkan akan berperan besar tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi. 2. Kelemahan Yang dimaksud dengan kelemahan (weaknesses) disini adalah berbagai kekurangan yang bersifat khas yang dimiliki oleh suatu organisasi, yang apabila berhasil diatasi akan berperan besar, tidak hanya dalam memperlancar berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan oleh organisasi, tetapi juga dalam mencapai tujuan yang dimiliki oleh organisasi. 3. Kesempatan Yang dimaksud dengan kesempatan (Opportunity) ialah peluang yang bersifat positif yang dihadapi oleh suatu organisasi, yang apabila dapat dimanfaatkan akan besar peranannya dalam mencapai tujuan organisasi.

82

4. Hambatan Yang dimaksud hambatan (threat) ialah kendala yang bersifat negatif yang dihadapi oleh suatu organisasi, yang apabila berhasil diatasi akan besar peranannya dalam

mencapai tujuan organisasi. 3. Menetapkan Prioritas Masalah Penetapan prioritas dinilai oleh sebagian besar manager kesehatan sebagai inti proses perencanaan. Langkah yang mengarah pada titik ini, dapat dikatakan sebagai suatu persiapan untuk keputusan penting dalam penetapan prioritas. Sekali prioritas ditetapkan, langkah

berikutnya dapat dikatakan merupakan gerakan progresif menuju pelaksanaan. Dalam penentuan prioritas, aspek penilaian dan

kebijaksanaan banyak diperlukan bersama-sama dengan kecakapan unik untuk mensintesiskan berbagai rincian yang relevan. Hal ini merupakan bagian dari proses perencanaan yang biasanya dikatakan paling naluriah. Namun, penetapan prioritas mungkin dapat jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan langkah-langkah lain bila dibuat eksplisit dan menjadi tindakan yang ditentukan secara jelas. Untuk dapat menetapkan prioritas masalah ini, ada beberapa hal yang harus dilakukan, yaitu : a. Melakukan pengumpulan data untuk dapat menetapkan prioritas masalah kesehatan, perlu tersedia data yang cukup. Untuk itu perlulah dilakukan pengumpulan data. Data yang perlu

83

dikumpulkan adalah data yang berkaitan dengan lingkungan, perilaku, keturunan, dan pelayan kesehatan, termasuk keadaan geografis, keadaaan pemerintahan, kependudukan, pendidikan, pekerjaan, kesehatan b. Pengolahan data apabila data yang telah berhasil dikumpulkan, maka data tersebut harus diolah,maksudnya adalah menyusun data yang tersedia sedemikian rupa sehingga jelas sifat-sifat yang dimiliki oleh masing-masing data tersebut. Cara pengolahan data yang dikenal ada tiga macam, secara manual, elektrikal dan mekanik. c. Penyajian data-data yang telah diolah perlu disajikan, ada tiga macam penyajian data yang lajim dipergunakan yakni secara tekstular, tabular dan grafikal. d. Pemilihan prioritas masalah hasil penyajian data akan mata pencaharian, sosial budaya dan keadaan

memunculkan pelbagai masalah. Tidak semua masalah dapat diselesaikan. Oleh karena itu diperlukan pemilihan prioritas masalah, dalam arti masalah yang paling penting untuk

diselesaikan. Penentuan prioritas masalah kesehatan adalah suatu proses yang dilakukan oleh sekelompok orang yang menggunakan metode tertentu untuk menentukan urutan masalah dari yang paling penting sampai dengan kurang penting. Penetapan prioritas memerlukan perumusan masalah yang baik, yakni spesifik, jelas

84

ada kesenjangan yang dinyatakan secara kualitatif dan kuantitatif, serta dirumuskan secara sistematis. Dalam menetapkan prioritas masalah ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan, yakni : a. Besarnya masalah yang terjadi b. Pertimbangan politik c. Persepsi masyarakat d. Bisa tidaknya masalah tersebut diselesaikan Cara pemilihan prioritas masalah banyak macamnya. Secara sederhana dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
a.

Scoring Tehnique. Pada cara ini pemilihan prioritas dilakukan dengan memberikan score (nilai) untuk berbagai parameter tertentu yang telah ditetapkan. Parameter yang dimaksud adalah : 1) Besarnya masalah 2) Berat ringannya akibat yang ditimbulkan 3) Kenaikan prevalensi masalah 4) Keinginan masyarakat untuk menyelesaikan masalah tersebut
5) Keuntungan sosial yang dapat diperoleh jika masalah tersebut

terselesaikan. 6) Rasa prihatin masyarakat terhadap masalah 7) Sumber daya yang tersedia yang dapat dipergunakan uuntuk mengatasi masalah.

85

Dalam menentukan prioritas masalah terdapat salah satu cara yang mudah yaitu dengan menggunakan analisis CARL

(Capability / kemampuan, Accibillity / kemudahan, Reaccneess / kesiapan, Levareage / faktor pendukung). 1) Capabillity / kemampuan Penilaian prioritas masalah dengan mengukur kemampuan penilai sendiri dalam menyelesaikan masalah yang menjadi prioritas. 2) Accibillity / kemudahan Penilaian prioritas masalah dengan mengukur kemudahan dalam alternatif pemecahan masalah.
2) Reaccneess / kesiapan

Penilaian prioritas masalah dengan mengukur kesiapan penilaian dalam menyelesaikan masalah yang ada.
3) Levareage / faktor pendukung

Penilaian prioritas masalah dengan mengukur faktor-faktor yang dapat menunjang dalam penyelesaian masalah. b. Non Scoring Tehnique. Teknik ini masalah dinilai melalui diskusi kelompok, oleh sebab itu juga disebut Nominal Group Technique (NGT). Ada 2 NGT yakni :

86

1) Delphi Tehnique Masalah-masalah didiskusikan oleh sekelompok orang yang mempunyai keahlian sama. Melalui diskusi tersebut akan menghasilkan prioritas masalah yang disepkati bersama. 2) Delbeq Tehnique Menetapkan prioritas masalah menggunakan teknik ini adalah juga melalui diskusi kelompok namun peserta diskusi terdiri dari para peserta yang tidak sama keahliannya maka sebelumnya dijelaskan dulu sehingga mereka mempunyai persepsi yang sama terhadap masalah-masalah yang akan dibahas. Hasil diskusi ini adalah prioritas masalah yang disepakati bersama. e. Menetapkan Tujuan Menetapkan tujuan perencanaan pada dasarnya adalah membuat ketetapan-ketetapan tertentu yang ingin dicapai oleh perencanaan tersebut. Penetapan tujuan yang baik apabila dirumuskan secara konkret dan dapat diukur. Pada umumnya dibagi dalam tujuan umum dan tujuan khusus. a. Tujuan umum Suatu tujuan masih bersifat umum dan masih dapat dijabarkan kedalam tujuan-tujuan khusus dan pada umumnya masih abstrak. Contoh : Meningkatnya status gizi anak balita di Kecamatan Cibadak.

87

b. Tujuan khusus

Tujuan-tujuan yang dijabarkan dari tujuan umum. Tujuan khusus merupakan jembatan untuk tujuan umum, artinya tujuan umum yang ditetapkan akan tercapai apabila tujuan-tujuan khususnya tercapai. Contoh : Apabila tujuan umum seperti contoh tersebut di atas dijabarkan ke dalam tujuan khusus menjadi sebagai berikut : 1) Meningkatnya perilaku ibu dalam memberikan makanan bergizi kepada anak balita. 2) Meningkatnya jumlah anak balita yang ditimbang di posyandu. 3) Meningkatnya jumlah anak yang berat badannya naik, dan sebagainya. f. Menetapkan Rencana Kegiatan Rencana kegiatan adalah uraian tentang kegiatan-kegiatan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan. Pada umumnya kegiatan mencakup 3 tahap pokok, yakni: a. Kegiatan pada tahap persiapan, yakni kegiatan-kegiatan yang dilakukan sebelum kegiatan pokok dilaksanakan, misalnya rapatrapat koordinasi, perizinan dan sebagainya. b. Kegiatan pada tahap pelaksanaan yakni kegiatan pokok program yang bersangkutan. c. Kegiatan pada tahap penilaian, yakni kegiatan untuk mengevaluasi seluruh kegiatan dalam rangka pencapaian program tersebut.

88

g. Menetapkan Sasaran (Target Group) Sasaran (target group) adalah kelompok masyarakat tertentu yang akan digarap oleh program yang direncanakan tersebut. Sasaran program kesehatan biasanya dibagi dua, yakni : a. Sasaran langsung, yaitu kelompok yang langsung dikenai oleh program tersebut. Misalnya kalau tujuan umumnya : meningkatkan ststus gizi anak balita seperti tersebut diatas maka sasaran langsungnya adalah anak balita. b. Sasaran tidak langsung, adalah kelompok yang menjadi sasaran antara program tersebut namun berpengaruh sekali terhadap sasaran langsung. Misalnya : seperti contoh tersebut di atas, anak balita sebagai sasaran langsung sedangkan ibu anak balita sebagai sasaran tidak langsung. Ibu anak balita, khususnya perilaku ibu dalam memberikan makanan bergizi kepada anak sangat

menentukan status gizi anak balita tersebut. h. Waktu Waktu yang ditetapkan dalam perencanaan adalah sangat

tergantung dengan jenis perencanaan yang dibuat serta kegiatankegiatan yang ditetapkan dalam rangka mencapai tujuan. Oleh sebab itu, waktu dan kegiatan sebenarnya dapat dijadikan satu dan disajikan dalam bentuk matriks, yang disebut gant chart.

89

i. Organisasi dan staf Dalam bagian ini digambarkan atau diuraikan organisasi sekaligus staf atau personel yang akan melaksanakan kegiatan-kegiatan atau program tersebut. Disamping itu juga diuraikan tugas (job description) masing-masing staf pelaksana tersebut. Hal ini penting karena masingmasing orang yang terlibat dalam program tersebut mengetahui dan melaksanakan kewajiban. j. Rencana Anggaran Uraian tentang biaya-biaya yang diperlukan untuk pelaksanaan kegiatan, mulai dari persiapan sampai dengan evaluasi. Biasanya rincian rencana biaya ini dikelompokkan manjadi : a. Biaya personalia b. Biaya operasional c. Biaya sarana dan fasilitas d. Biaya penilaian k. Rencana Evaluasi Rencana evaluasi sering dilupakan oleh para perencanaan padahal hal ini sangat penting. Rencana evaluasi adalah suatu uraian tetntang kegiatan yang akan dilakukan untuk menilai sejauh mana tujuan-tujuan yang telah ditetapkan tersebut telah tercapai

90

K. Pelaksanaan Program Kesehatan Pekerjaan pelaksanaan bukanlah merupakan pekerjaan yang mudah, karena dalam melaksanakan suatu rencana terkandung berbagai aktifitas yang bukan saja satu sama lain saling berhubungan, tetapi juga bersifat komplek dan majemuk. Kesemua katifitas ini harus dipadukan sedemikian rupa sehingga tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan memuaskan. Memadukan berbagai aktifitas yang seperti ini dan apalagi menugaskan semua orang yang terlibat dalam organisasi untuk melaksanakan aktifitas yang dimaksud, memerlukan suatu keterampilan khusus. Untuk dapat melaksanakan suatu rencana, seorang administrator dan ataupun manager, perlu menguasai berbagai pengetahuan dan keterampilan yang jika disederhanakan dapat dibedakan atas 6 macam, yaitu : 1. Pengetahuan dan keterampilan motivasi (motivation). 2. Pengetahuan dan keterampilan komunikasi (communication). 3. Pengetahuan dan keterampilan kepemimpinan (leadership). 4. Pengetahuan dan keterampilan pengarahan (directing). 5. Pengetahuan dan keterampilan pengawasan (controlling). 6. Pengetahuan dan keterampilan supervise (supervision). Untuk melaksanakan program kesehatan, pengetahuan, dan

keterampilan yang seperti ini juga amat diperlukan. Apalagi jika yang ingin dilaksanakan tersebut adalah program kesehatan masyarakat.

91

Mudah dipahami karena memanglah ruang lingkup program kesehatan masyarakat tidak hanya menyangkut pengaturan bawahan yang dimiliki, tetapi juga masyarakat banyak kepada siapa program kesehatan masyarakat tersebut ditujukan.

L. Evaluasi Program Kesehatan 1. Pengertian Evaluasi


a.

Suatu proses menentukan nilai atau besarnya sukses dalam mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya (American Public Health Association).

b.

Suatu proses yang memungkinkan administrator mengetahui hasil programnya dan berdasarkan itu mengadakan penyesuaian untuk mencapai tujuan secara efektif (klineberg).

2. Terminologi dalam Evaluasi a. Evaluasi Formatif Evaluasi pada tahap pengembangan program, jadi sebelum program dimulai, digunakan untuk mengembangkan program, agar program itu dapat lebih sesuai dengan situasi dan kondisi sasaran. b. Evaluasi Proses Evaluasi terhadap proses untuk memberi gambaran yang sedang berlangsung dalam suatu program (tentang apa, seberapa banyak, untuk siapa, kapan, dan oleh siapa).

92

c. Evaluasi Summatif Evaluasi untuk memantau program sesudah program

dijalankan, memberikan pernyataan efektifitas suatu program dalam kurun waktu tertentu. d. Evaluasi Dampak Program Evaluasi untuk menilai keseluruhan efektifitas program dalam menghasilkan perubahan pengetahuan, sikap dan perilaku sasaran. e. Evaluasi Hasil Evaluasi untuk menilai perubahan-perubahan perbaikan dalam hal morbiditas, mortalitas atau indicator status kesehatan lainnya untuk sekelompok penduduk tertentu. f. Efektifitas Pengukuran seberapa besar program mencapai tujuan yang sudah ditetapkan sebelumnya. g. Efisien Pengukuran cost dari sumber daya yang terpakai untuk mencapai tujuan program. h. Analisa Cost Efektif Pemantauan hubungan antara hasil yang dilihat dengan cost program, dinyatakan sebagai cost per unit dan dampak yang dicapai.

93

i.

Intervensi Kombinasi elemen-elemen program yang dirancang untuk mencapai perubahan pengetahuan, sikap dan keterampilan, perilaku dan status kesehatan pada sasaran secara terencana dan sistemtis pada tempat dan kurun waktu tertentu.

j.

Validitas Internal Seberapa besar pengaruh yang terlihat disebabkan oleh intervensi yang dilakukan.

k. Validitas Eksternal Seberapa banyak pengaruh yang terlihat yang disebabkan intervensi yang diadakan.

94

BAB IV METODE KEGIATAN

A. Rancang Bangun Kegiatan Adapun rancang bangun kegiatan Pengalaman Belajar Lapangan II (PBL II) ini adalah sebagai berikut : 1. Jenis Kegiatan Jenis kegiatan yang dilakukan adalah survey penentuan masalah dan intervensi program kesehatan. 2. Alur Kegiatan Kegiatan Pengalaman Belajar (PBL) II dimulai dari pengumpulan data secara kuantitatif yang berasal dari hasil survey pada PBL I di tahun 2009. Kemudian dilakukan identifikasi masalah didapatkan sejumlah masalah yang berasal dari hasil survey dan masalah insidentil yang berasal dari masyarakat pada saat pelaksanaan Focuss Group Discussion (FGD). Setelah proses identifikasi masalah dilakukan penentuan prioritas masalah dengan menggunakan metode Bryant. Selanjutnya untuk menganalisis penyebab masalah digunakan metode fish bone metode teknik kesepakatan kelompok digunakan untuk menentukan prioritas program. Perencanaan program dilaksanakan dengan menggunakan metode diskusi kelompok selanjutnya dilakukan pelaksanaan program serta evaluasi program.

95

Gambar 4.1 Alur Kegiatan PBL II Analisis Data Sekunder (Data PBL I) Brainstorming Identifikasi Masalah Bryant

Penentuan Prioritas Masalah Fish bone

Analisa Penyebab Masalah

Teknik Kesepakatan Kelompok

Perencanaan Program Kesehatan Diskusi Kelompok Penentuan Prioritas Program

Pelaksanaan Program Kesehatan

Evaluasi Program Kesehatan

96

3. Definisi Operasional Tabel 4.1 Definisi Operasional No 1. Variabel Identifikasi Masalah Definisi Mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan meliputi masalah gizi, kesling, epidemiologi, KIA, PKIP dan AKK. Menyusun prioritas utama dari identifikasi masalah yang ada Menganalisis penyebab masalah yang menjadi prioritas utama Memilih program kesehatan yang menjadi solusi masalah kesehatan masyarakat Melakukan tahapantahapan dalam perencanaan Metode FGD / Brain Storming Hasil Masalah Kesehatan

2.

Menyusun Prioritas Masalah Menganalisis Penyebab Masalah Memilih Program Kesehatan

Bryant

Prioritas Masalah

3.

Fishbone

Penyebab Masalah

4.

Diskusi Kelompok

Prioritas Program Kesehatan

5.

Melaksanakan Proses Perencanaan Program

6.

7.

Melaksanakan Program Kesehatan yang telah di rencanakan Melaksanakan evaluasi program

Melaksanakan program kesehatan yang terdapat dalam perencanaan program Melihat keberhasilan pelaksanaan program

Diskusi kelompok serta diskusi bersama tokoh masyarakat Diskusi Kelompok

Perencanaan Program Kesehatan

Evaluasi dampak program

Terlaksananya program kesehatan yang direncanakan Keberhasilan program

B. Tempat dan Waktu

97

Adapun tempat dan waktu pelaksanaan kegiatan ini yaitu di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara pada tanggal 27 Januari 2011 05 Februari 2011.

C. Populasi dan Informan

Adapun populasi dari kegiatan ini yaitu seluruh masyarakat di Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara khususnya RT.08, RT.09, RT.10, RT.11, RT.12, RT.13, dan RT.15 Dusun Mekar Jaya. Sedangkan untuk informan, terdiri dari Kepala Desa, petugas Puskesmas, kader Posyandu, dan ibu-ibu PKK sebagai informan formal, dan petugas kesehatan, tokoh masyarakat, tokoh agama sebagai sumber informal.

D. Sasaran Adapun sasaran dari kegiatan ini adalah masyarakat RT.08, RT.09, RT.10, RT.11, RT.12, RT.13, dan RT.15 Dusun Mekar Jaya di Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara.

E. Metode Pemecahan Masalah

98

1. Identifikasi Masalah-masalah Kesehatan a. Tujuan Menemukan masalah-masalah kesehatan yang ada di RT.08, RT.09, RT.10, RT.11, RT.12, RT.13, dan RT.15 Dusun Mekar Jaya di Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang Kabupaten Kutai Kartanegara. b. Metode Kegiatan Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah yaitu dengan metode brainstorming. c. Proses Kegiatan Kegiatan identifikasi masalah dengan cara penyampaian pendapat (Focus Group Discussion) dengan mengumpulkan faktafakta dari hasil survey PBL I yang lalu dan pemaparan masalah kesehatan yang sedang ada saat ini oleh pihak mahasiswa 10 orang, perwakilan masyarakat 6 orang, 1 orang Ketua RT, dan 1 orang Kepala Dusun. d. Hasil Kegiatan Dari hasil identifikasi masalah menggunakan metode FGD tersebut, diperoleh masalah kesehatan sebagai berikut :
1) Kurangnya ketersediaan air bersih karena masyarakat masih

menggunakan air bor untuk aktivitas MCK, yang masyarakat khawatirkan dapat merusak gigi dan kulit. Serta penggunaan air

99

minum yang didapatkan dari depo air minum isi ulang yang masyarakat khawatirkan higienitasnya kurang baik. 2) Kurangnya penerapan PHBS di masyarakat terutama pada perilaku cuci tangan.
3) Kurangnya

pengetahuan

masyarakat

mengenai

Jaminan

Kesehatan Daerah (JAMKESDA) baik dari segi manfaatnya maupun alur untuk mendapatkannya. 4) Kurangnya pengetahuan masyarakat terutama para ibu

mengenai pengertian dan manfaat pemberian ASI Eksklusif kepada anaknya. 2. Penentuan Prioritas Masalah a. Tujuan Menentukan 4 besar prioritas masalah dari masalah-masalah yang diidentifikasi sebelumnya, agar dapat menentukan penyebab masalah-masalah yang ada. b. Metode Kegiatan Metode yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah yaitu dengan metode Bryant. Cara ini telah digunakan di beberapa Negara yaitu Afrika dan Thailand. Cara ini menggunakan 4 macam kriteria, yaitu :
1) Community

Concern,

yakni

sejauh

mana

masyarakat

menganggap masalah tersebut penting.

100

2) Prevalensi, yakni seberapa banyak penduduk yang terkena

penyakit tersebut.
3) Seriousness, yakni sejauh mana dampak yang ditimbulkan

penyakit tersebut.
4) Managebility, yakni sejauh mana kita memiliki kemampuan

untuk mengatasinya. Menurut cara ini masing-masing kriteria tersebut diberi skoring, kemudian masing-masing skor ditambahkan. Hasil ini dibandingkan antara masalah-masalah yang dinilai. Masalah-masalah dengan skor tertinggi akan mendapat prioritas yang tinggi pula. c. Proses Kegiatan Kegiatan penentuan prioritas masalah dilakukan setelah identifikasi masalah dengan metode Bryant. Tahap ini dilakukan oleh pihak mahasiswa 8 orang, perwakilan masyarakat 3 orang, 1 orang Ketua RT, dan 1 orang Kepala Desa. d. Hasil Kegiatan Tabel 4.2 Prioritas Masalah
Alternatif Masalah Kesehatan Lingkungan (Sampah) ASI Eksklusif Status Gizi Balita Pengetahuan Kesehatan Reproduksi P 5 4 3 3 S 5 5 5 4 C 3 3 3 2 M 3 3 3 3 Total 225 180 135 72 Prioritas I II III IV

101

Berdasarkan penentuan prioritas masalah diatas, dari alternatif masalah yang ada, keempat masalah tersebut akan diintervensi, yaitu Kesehatan Lingkungan (Sampah), ASI Eksklusif, Status Gizi Balita dan Pengetahuan Kesehatan Reproduksi. Dari keempat

masalah itu akan didiskusikan kembali untuk memecahkan masalah tersebut, baik kegiatan fisik maupun nonfisik. 3. Penyebab Masalah a. Tujuan Mendapatkan penyebab masalah dari 3 besar prioritas masalah yang ada, agar dapat menentukan program kesehatan yang tepat. b. Metode Kegiatan Metode kegiatan yang digunakan untuk menemukan penyebab masalah yaitu dengan metode Fish Bone. c. Proses Kegiatan Kegiatan analisa penyebab masalah dilakukan setelah

menemukan prioritas masalah. d. Hasil Kegiatan 1) Berdasarkan hasil prioritas masalah yang pertama adalah masalah air bersih dan air minum.

102

Fishbone methode Man Air Bersih & Air Minum Methode Money Market Penjelasan : Man : - Kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai pengelolaan dan pengolahan air bersih serta dampak dari mengkonsumsi air yang terkontaminasi.
-

Material

Machine

Time

Perilaku masyarakat yang mengkonsumsi air galon tanpa diolah

Perilaku memakai air sumur bor Kurangnya dengan koordinasi antara pihak desa di

petugas

kesehatan

lingkungan

Puskesmas setempat. Methode Material Money Machine Market Time :: Tidak tersedia saluran PDAM ::: Kurangnya sosialisasi mengenai air bersih :-

103

2) Berdasarkan hasil prioritas masalah yang kedua adalah

masalah Jamkesda. Fishbone methode Man Material Machine Time

Penjelasan : Man : - Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang pemanfaatan Jamkesda


-

Methode Material Money Machine Market

Time

Jamkesda Methode Money Market Alur pelayanan Jamkesda yang berbelit-belit ::: Dana pengobatan yang semakin mahal :: Kurangnya sosialisasi Jamkesda oleh pihak Kantor Desa, RT maupun Puskesmas setempat :-

104

3) Berdasarkan

hasil prioritas masalah yang ketiga adalah

masalah perilaku cuci tangan. Fishbone methode Man Perilaku cuci tangan Methode Money Market Penjelasan : Man : - Kurangnya kesadaran masyarakat untuk mencuci tangan
-

Material

Machine

Time

Kurangnya pengetahuan masyarakat tentang dampak buruk tidak mencuci tangan

Methode

: Cara mencuci tangan yang tidak memakai sabun dan air mengalir

Material Money Machine Market Time

:::::-

105

4) Berdasarkan hasil prioritas masalah yang keempat adalah

masalah ASI Eksklusif. Fishbone methode Man ASI Eksklusif Methode Money Market Penjelasan : Man : - Kurangnya eksklusif
-

Material

Machine

Time

pengetahuan

ibu

tentang

ASI

Pemberian makanan tambahan kepada bayi yang terlalu dini

Methode Material Money

::: Susu formula yang cukup terjangkau oleh masyarakat

Machine Market Time

:: Maraknya produk susu formula : ASI yang belum keluar pada ibu nifas

106

4. Penentuan Prioritas Program a. Tujuan Menentukan prioritas program dari 4 besar prioritas masalah dan penyebab masalah yang ada. b. Metode Kegiatan Metode yang digunakan untuk menentukan prioritas program yaitu dengan metode teknik kesepakatan kelompok. c. Proses Kegiatan Penentuan prioritas program dilakukan setelah melakukan analisa penyebab masalah. Tahap ini dilakukan dengan metode diskusi kelompok PBL. d. Hasil Kegiatan Program yang diprioritaskan dari keempat masalah yang ada adalah program penyuluhan air bersih dan pengolahannya, kemudian program sosialisasi Jamkesda, program penyuluhan cuci tangan (PHBS), dan program penyuluhan ASI Eksklusif. 5. Perencanaan Program a. Tujuan Tujuan kegiatan adalah agar pelaksanaan program kesehatan yang direncanakan dapat berjalan dengan lancar. b. Metode Kegiatan Metode yang digunakan untuk perencanaan program adalah diskusi kelompok.

107

c. Proses Kegiatan Kegiatan perencanaan program kesehatan dilakukan setelah penentuan prioritas program setelah sebelumnya dilakukan

pemilihan media promosi kesehatan. d. Hasil Kegiatan Hasil perencanaan program kesehatan berupa Program

Rencana Kegiatan (Planning of Action)

108

Tabel 4.3 Plan of Action No. 1. Kegiatan Non Fisik : Penyuluhan Air Bersih dan Air Minum Sehat Tujuan Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang air bersih dan pengolahannya Sasaran Target Waktu & Tempat Aula Kantor Desa / tanggal 01 Februari 2011 Penanggung Sumber Jawab Biaya Armyade, Swadaya Dessy, dan masyarakat Fatimah dan Tim PBL Indikator Keberhasilan Peserta bisa menjawab lebih 80% pertanyaan benar dengan nilai pre-post test : a. Pengetahuan baik jika responden bisa menjawab pertanyaan dengan benar dengan bobot nilai lebih dari 3 b. Pengetahuan sedang jika responden bisa menjawab pertanyaan dengan benar dengan bobot nilai 2

Ketua RT, 80% dari Kadus, undangan perwakilan hadir masyarakat dusun

109

Fisik 1 : Pembagian leaflet tentang air bersih

Meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang air bersih dan pengolahannya melalui media informasi (poster) Menciptakan alat penjernih air yang berfungsi membersihkan air dari segi warna, bau, dan rasa.

Ketua RT, 80% dari Kadus, peserta perwakilan masyarakat dusun

Fisik 2 : Pembuatan dan Sosialisasi Alat penjernih air

Kades, 80% dari PKK, dan sasaran perwakilan masyarakat dusun

Posko PBL dan Aula Kantor Desa / tanggal 01 Februari 2011 29 Jan 04 Februari 2011 / Posko PBL dan di Kediaman Kepala Desa

Armyade, Dessy, dan Fatimah

Swadaya Tim PBL

c. Pengetahuan kurang jika responden bisa menjawab pertanyaan dengan benar dengan bobot nilai 1 80% peserta mendapatkan dan membaca leaflet

Armyade, M. Arif, Dessy, dan Fatimah

Swadaya masyarakat dan Tim PBL

Terjadi perubahan air dari segi warna, bau, dan rasa setelah diolah melalui alat tersebut.

110

Non Fisik : Penyuluhan JAMKESDA

Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Jamkesda

Kades, 80% dari Ketua RT, undangan Kadus, hadir perwakilan masyarakat dusun Kades, 80% dari Ketua RT, peserta Kadus, perwakilan masyarakat dusun

Aula Kantor Desa / tanggal 01 Februari 2011 Posko PBL dan Aula Kantor Desa / tanggal 01 Februari 2011 Halaman SDN 021 Karang Tunggal / tanggal 29 Januari 2011

Lioni, Laila, dan M. Arif.

Swadaya masyarakat dan Tim PBL

2. Fisik : Pembagian leaflet tentang JAMKESDA 3. Non Fisik : Penyuluhan PHBS (Cuci Tangan)

Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai Jamkesmas melalui media informasi (leaflet) Meningkatkan pengetahuan tentang cuci tangan yang baik dan benar sejak usia dini

Lioni, Laila, dan M. Arif.

Swadaya Tim PBL

75% pengetahuan masyarakat meningkat mengenai Jamkesmas melalui hasil pre-postest 80% peserta mendapatkan dan membaca leaflet

Seluruh siswa-siswi SDN 021 Karang Tunggal

100% dari siswasiswi SDN 021 Karang Tunggal

Fitri dan Kartina

Swadaya Tim PBL dan pihak sekolah

80% dari siswa-siswi mengetahui cara mencuci tangan yang baik dan benar

111

Fisik : Pembuatan poster cuci tangan 4. Non Fisik : Penyuluhan ASI Eksklusif

Meningkatkan pengetahuan siswa-siswi mengenai cuci tangan melalui media informasi (poster) Meningkatkan pengetahuan para wanita dan ibu tentang pengertian ASI Eksklusif dan manfaatnya

Seluruh siswa-siswi SDN 021 Karang Tunggal

100% dari siswasiswi SDN 021 Karang Tunggal

Posko Tim PBL / 28 Januari 2011

Fitri dan Kartina

Swadaya Tim PBL

Ibu-ibu 75% dari PKK, para undangan wanita usia hadir subur, ibu hamil, dan ibu menyusui di Dusun Mekar Jaya

Kantor PKK / tanggal 03 Februari 2011

Erina, Erlita, dan Fembriana

Swadaya masyarakat dan Tim PBL

80% dari siswa-siswi mambaca poster dan menerapkan cuci tangan yang baik dan benar Peserta bisa menjawab lebih 80% pertanyaan benar dengan nilai pre-post test : a. Pengetahuan baik jika responden bisa menjawab pertanyaan dengan benar dengan bobot nilai lebih dari 4-6 b. Pengetahuan sedang jika responden bisa menjawab

112

Fisik 1 : Pembagian leaflet tentang ASI Eksklusif Fisik 2 : Pembagian stiker ASI Eksklusif

Meningkatkan pengetahuan para wanita dan ibu tentang pengertian ASI Eksklusif dan manfaatnya melalui media informasi (leaflet) Mensosialisasika n program gerakan 6 bulan ASI Eksklusif kepada para peserta penyuluhan ASI

Ibu-ibu PKK, para wanita usia subur, ibu hamil, dan ibu menyusui di Dusun Mekar Jaya Ibu-ibu PKK, para wanita usia subur, ibu hamil, dan ibu menyusui

75% dari peserta

75% dari peserta

Posko Tim PBL dan Kantor PKK / tanggal 03 Februari 2011 Posko Tim PBL dan Kantor PKK / tanggal 03

Erina, Erlita, dan Fembriana

Swadaya Tim PBL

pertanyaan dengan benar dengan bobot nilai 3 c. Pengetahuan kurang jika responden bisa menjawab pertanyaan dengan benar dengan bobot nilai 1-2 75% peserta mendapatkan dan membaca leaflet.

Erina, Erlita, dan Fembriana

Swadaya Tim PBL

75% peserta mendapatkan dan menempelkan stiker tersebut di rumah mereka

113

Eksklusif

di Dusun Mekar Jaya

Februari 2011

sehingga pesan kesehatan dapat tersampaikan kepada orang lain juga.

114

BAB V HASIL

A. Pelaksanaan Program Kesehatan PBL II Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal 1. Penyuluhan Cuci Tangan
a.

Tujuan Kegiatan Meningkatkan pengetahuan tentang cuci tangan yang baik dan benar sejak usia dini.

b. Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan ini adalah seluruh siswa-siswi kelas I-VI SDN 021 Desa Karang Tunggal. c. Pelaksanaan Kegiatan
1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Penyuluhan cuci tangan dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 29 Januari 2011 dari pukul 09.00 10.30 WITA. Bertempat di halaman SDN 021 Desa Karang Tunggal. 2) Metode Pelaksanaan Penyuluhan Metode pelaksanaan penyuluhan cuci tangan ini adalah dengan penyampaian materi dan menggunakan metode demonstrasi (senam cuci tangan) dan praktek. Senam cuci tangan tersebut diiringi oleh musik dan nyanyian cuci tangan, sedangkan untuk gerakan senam

115

merupakan hasil kreasi sendiri oleh tim PBL. Dalam penyuluhan ini digunakan media informasi kesehatan seperti poster dan puzzle. Adapun materi penyuluhan yang disampaikan yaitu mengenai alasan mengapa harus mencuci tangan, resiko apabila tidak mencuci tangan, tata cara dan urutan mencuci tangan yang baik dan benar, serta waktu yang tepat untuk mencuci tangan. 3) Penanggung Jawab Pelaksana Penanggung Jawab : Kartina W. Dan Fitri Noviyani MC Pemateri Humas Perlengkapan Notulen Dokumentasi Transport Instruktur 4) Susunan Acara
-

: Dessy Nur Rosidah : Laila Puspitasari dan Lioni Farahita : Lioni Farahita : M. Arif, Armyade, Fembriana Wiwik : Erina Widya Astuti : Kartina Wulandari : Erlita Budiarti : Fitri Noviyani dan Fatimah M. Noor

Pembukaan Sambutan Kepala Sekolah SDN 021 Karang Tunggal Penyampaian Materi Senam Cuci Tangan Games

116

Penutup

5) Rincian Biaya Kertas kado Tissu Sabun cuci tangan Permen Buku tulis Tinta Printer Total d. Pihak Terlibat Rp 7.500 Rp 25.000 Rp 20.000 Rp 17.000 Rp 40.000 Rp 19.000 Rp 128.500

Pihak guru SDN 021 Desa Karang Tunggal. e. Hasil Kegiatan Penyampaian materi berjalan tepat waktu, antusias peserta yang tinggi dengan tingkat kehadiran hampir 100% dari jumlah siswa yang ada yaitu sebanyak 213 siswa, terlaksananya senam cuci tangan yang dilakukan oleh seluruh siswa-siswi SDN 021 Karang Tunggal dimana gerakan yang dilakukan merupakan gerakan urutan cuci tangan yang baik dan benar, tingginya tingkat keberanian siswa untuk maju menjawab pertanyaan dan mempraktekkan senam cuci tangan dengan baik dan benar.

2.

Pembuatan Poster Cuci Tangan a. Tujuan Kegiatan

117

Meningkatkan pengetahuan siswa-siswi SDN 021 Desa Karang Tunggal mengenai cuci tangan melalui media informasi yaitu poster. b. Sasaran Kegiatan Seluruh siswa-siswi kelas I-VI SDN 021 Desa Karang Tunggal. c. Pelaksanaan Kegiatan 1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pembuatan poster cuci tangan dikerjakan pada tanggal 27 Januari 2011 dan dipasang di SDN 021 pada hari Sabtu tanggal 29 Januari 2011 seusai penyuluhan cuci tangan tepatnya pada pukul 10.30 WITA.
2) Metode Pelaksanaan

Metode

pemasangan

poster

cuci

tangan

yaitu

dilaksanakan dengan memberikan poster kepada pihak sekolah dan memasangnya di dinding sekolah yang sering dilalui para siswa.
3) Penanggung Jawab Pelaksana

Penanggung Jawab : Kartina Noviyani Desain poster 4) Rincian biaya

Wulandari

dan

Fitri

: Lioni Farahita

118

Pencetakan dua buah poster mengeluarkan biaya sebesar Rp 20.000,-. d. Hasil Kegiatan Terpasangnya poster cuci tangan di lingkungan sekolah untuk meningkatkan pengetahuan para siswa SDN 021 Desa Karang Tunggal yang sebelumnya kedua poster tersebut diserahkan secara simbolik dari mahasiswa PBL kepada pihak sekolah. e. Isi Poster Poster tersebut memuat konten atau isi yaitu gambar dan tulisan mengenai tahapan atau urutan cara mencuci tangan yang baik dan benar. 3. a. Penyuluhan Jamkesda Tujuan Kegiatan Tujuan kegiatan dari penyuluhan Jamkesda yaitu

pemberian informasi serta sosialisasi Jamkesda Kabupaten Kutai Kertanegara kepada masyarakat. b. Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan penyuluhan Jamkesda ini adalah warga Dusun Mekar Jaya RT. 08, RT. 09, RT. 11, RT. 12, RT. 13, RT.15 termasuk didalamnya adalah para Ketua RT dan beberapa perwakilan masyarakat Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang.

119

c.

Pelaksanaan Kegiatan 1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penyuluhan Jamkesda dilaksanakan di Aula Kantor Desa Karang Tunggal yang biasa disebut Balai

Pertemuan Umum (BPU) Desa Karang Tunggal pada hari Selasa tanggal 01 Februari 2011 pukul 20.30 - 22.00 WITA.
2) Metode Pelaksanaan Penyuluhan

Penyuluhan Jamkesda dilaksanakan dengan metode diskusi kelompok besar dimana sebelumnya ada

penyampaian materi Jamkesda oleh Tim PBL. Dimana, jumlah pesertanya lebih dari 15 orang dengan pembagian leaflet di akhir acara untuk perluasan informasi kepada orang yang ada disekitarnya. Adapun materi yang diberikan yaitu mengenai pengertian Jamkesda, tujuan, sasaran, persyaratan, dan pendaftaran peserta, dan alur pelayanan kesehatan Jamkesda. Seluruh konten atau isi materi penyuluhan tersebut diperoleh dari buku Petunjuk Teknis Program Jamkesda PKK Tingkat I Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2011. Sebelum dan sesudah penyuluhan, para peserta terlebih dahulu diberikan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat mengenai Jamkesda.

120

3) Penanggung Jawab Pelaksana Penanggung Jawab : Lioni, Laila, dan M.Arif MC + Moderator Pemateri Dokumentasi Perlengkapan Notulen Konsumsi Korlap 4) Susunan Acara
-

: Kartina Wulandari : Muhammad Arif : Fitri Noviyani dan Fatimah M. Noor : Erlitha, Armyade, Fembriana Wiwik : Erina Widya Astuti : Laila P. dan Dessy Nur Rosidah : Lioni Farahita

Pre test Pembukaan Doa Sambutan Korlap dan Kepala Desa Karang Tunggal Penyampaian Materi Jamkesda Penyampaian Materi Air Bersih Diskusi Post test Door prize Penutup

5) Rincian Biaya Souvenir Pulpen Rp 85.000 Rp 64.800

121

Jam dan baterai Kertas minyak Foto copy kuesioner Konsumsi Aqua Mika kue Door prize Jam dinding Total d. Pihak Terlibat

Rp 25.500 Rp 6.000 Rp 60.000 Rp 106.000 Rp 36.000 Rp 24.000 Rp 110.000 Rp 16.000 Rp 533.300

Dalam penyuluhan Jamkesda ini pihak yang terlibat adalah pihak Puskesmas Karang Tunggal yaitu Ibu Mei Purwanti yang bertugas sebagai narasumber yang

memberikan informasi lebih lanjut mengenai Jamkesda. e. Hasil Kegiatan Penyuluhan Jamkesda yang dilaksanakan pada tanggal 01 Februari 2011 ini digabung dengan pelaksanaan

penyuluhan air bersih. Tingkat kehadiran peserta telah mencapai 80% yaitu 28 peserta yang terdiri dari Kepala Desa, Kepala Dusun, Ketua RT, serta perwakilan masyarakat dari masing-masing RT. Untuk tingkat antusiasme peserta, dapat dikatakan baik. Hal ini ditandai dengan banyaknya peserta yang bertanya dan berdiskusi dengan narasumber untuk mengetahui segala sesuatu tentang Jamkesda. Untuk tingkat pengetahuan peserta mengenai Jamkesda sebelum diberikan materi pada penyuluhan Jamkesda, diukur melalui hasil pre-test, hasilnya adalah sebagai berikut :

122

Tabel 5.1 Distribusi Pengetahuan Peserta saat Pre-test Penyuluhan Jamkesda RT. 08, RT. 09, RT. 10, RT. 11, RT. 12, RT. 13 dan RT, 15 Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Tahun 2011 No. 1. 2. 3. Tingkat Pengetahuan Baik Sedang Kurang Jumlah Jumlah 2 11 12 25 Persentase (%) 8% 44 % 48 % 100%

Dari tabel 5.1 diatas diketahui bahwa sebelum diberikan materi, peserta penyuluhan Jamkesda yang tingkat

pengetahuannya baik mengenai Jamkesda hanya ada 8 %, sedangkan yang berpengetahuan sedang ada 44%, dan yang berpengetahuan rendah ada 48%. Untuk tingkat pengetahuan peserta mengenai Jamkesda setelah diberikan materi pada penyuluhan Jamkesda, diukur melalui hasil post-test, hasilnya adalah sebagai berikut : Tabel 5.2 Distribusi Pengetahuan Peserta saat Post-test Penyuluhan Jamkesda RT. 08, RT. 09, RT. 10, RT. 11, RT. 12, RT. 13 dan RT, 15 Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Tahun 2011 No. Tingkat Jumlah Persentase (%)

123

Pengetahuan 1. 2. Baik Sedang Jumlah 21 4 25 84 % 16 % 100%

Dari tabel 5.2 diatas diketahui bahwa setelah diberikan materi, peserta penyuluhan Jamkesda yang tingkat

pengetahuannya baik mengenai Jamkesda sebesar 84%, sedangkan yang berpengetahuan sedang hanya ada 16%.
4. a.

Pembagian Leaflet Jamkesda Tujuan Kegiatan Meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Karang Tunggal mengenai Jamkesda melalui media informasi yaitu leaflet. Selain itu leaflet yang dibagikan sebagai perluasan informasi kepada orang yang ada disekitarnya.

b.

Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan pembagian leaflet Jamkesda ini adalah warga Dusun Mekar Jaya RT. 08, RT. 09, RT. 11, RT. 12, RT. 13, RT.15 termasuk didalamnya adalah para Ketua RT dan beberapa perwakilan masyarakat Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang yang menjadi peserta penyuluhan Jamkesda.

c.

Pelaksanaan Kegiatan

124

1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pembuatan leaflet Jamkesda dikerjakan oleh tim PBL pada tanggal 31 Januari 2011 dan dibagikan pada hari Selasa tanggal 01 Februari 2011 kepada seluruh peserta seusai penyuluhan Jamkesda di Aula Kantor Desa Karang Tunggal tepatnya pada pukul 22.00 WITA. 2) Metode Pembagian Leaflet Metode pembagian leaflet tentang Jamkesda yaitu dilaksanakan dengan membagi leaflet setelah penyuluhan Jamkesda. 3) Penanggung Jawab Pelaksana Penanggung Jawab : Lioni F, Laila P, dan M. Arif Desain leaflet : Lioni Farahita

4) Rincian Biaya Biaya fotokopi leaflet tentang Jamkesda ini

mengeluarkan biaya sebesar Rp 10.000,-. d. Pihak Terlibat Dalam pembuatan leaflet Jamkesda ini pihak yang terlibat adalah pihak Puskesmas Karang Tunggal yang memberikan materi Jamkesda dari buku Petunjuk Teknis Program Jamkesda PKK Tingkat I Kabupaten Kutai Kartanegara.

125

e.

Hasil Kegiatan Terbaginya dan dibacanya leaflet Jamkesda kepada seluruh peserta penyuluhan Jamkesda. Sehingga ada 25 lembar leaflet yang diberikan sesuai jumlah kehadiran peserta dan target pencapaiannya adalah 80% yaitu 25 peserta dari 35 undangan yang diharapkan kehadirannya.

f.

Isi leaflet Konten atau isi materi yang dimuat dalam leaflet terdiri dari pengertian Jamkesda, siapa yang berhak menerima Jamkesda, prosedur kepesertaan, cara mendapatkan

Jamkesda, pelayanan kesehatan yang ditanggung Jamkesda, dan alur pelayanan kesehatan. Seluruh konten atau isi leaflet tersebut diperoleh dari buku Petunjuk Teknis Program Jamkesda PKK Tingkat I Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur Tahun 2011.
5.

Penyuluhan Air Bersih a. Tujuan Kegiatan Tujuan pemberian kegiatan informasi dari serta penyuluhan air bersih yaitu

meningkatkan

pengetahuan

masyarakat tentang kriteria air bersih serta dampak yang ditimbulkan apabila menggunakan air yang tidak bersih atau yang sudah terkontaminasi dan memberikan pengetahuan

126

kepada masyarakat bagaimana cara sederhana menguji kualitas kimia dan biologi air di tingkat rumah tangga. b. Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan penyuluhan air bersih ini adalah warga Dusun Mekar Jaya RT. 08, RT. 09, RT. 11, RT. 12, RT. 13, RT.15 termasuk didalamnya adalah para Ketua RT dan beberapa perwakilan masyarakat Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang.
c.

Pelaksanaan Kegiatan 1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Penyuluhan air bersih dilaksanakan di Aula Kantor Desa Karang Tunggal yang biasa disebut Balai

Pertemuan Umum (BPU) Desa Karang Tunggal pada hari Selasa tanggal 01 Februari 2011 pukul 20.30 - 22.00 WITA setelah penyuluhan Jamkesda.

2) Metode Pelaksanaan Penyuluhan

Penyuluhan air bersih dilaksanakan dengan metode diskusi kelompok besar dimana sebelumnya ada

penyampaian materi air bersih oleh Tim PBL. Dimana, jumlah pesertanya lebih dari 15 orang dengan pembagian leaflet di akhir acara untuk perluasan informasi kepada orang yang ada disekitarnya. Adapun materi yang

127

diberikan yaitu mengenai pengertian air bersih, ciri-ciri air bersih, resiko yang ditimbulkan oleh penggunaan air tidak bersih, cara pengolahan air bersih, dan cara sederhana untuk menguji kualitas air rumah tangga. Sebelum dan sesudah penyuluhan, para peserta terlebih dahulu

diberikan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat mengenai air bersih. 3) Penanggung Jawab Pelaksana Penanggung Jawab : Lioni, Laila, dan M.Arif MC + Moderator Pemateri Dokumentasi Perlengkapan Notulen Konsumsi Korlap 4) Susunan Acara
-

: Kartina Wulandari : Armyade : Fitri Noviyani dan Fatimah M. Noor : Erlitha, Armyade, Fembriana Wiwik : Erina Widya Astuti : Laila P. dan Dessy Nur Rosidah : Lioni Farahita

Pre test Pembukaan Doa Sambutan Korlap dan Kepala Desa Karang Tunggal Penyampaian Materi Jamkesda Penyampaian Materi Air Bersih

128

Diskusi Post test Door prize Penutup

5) Rincian Biaya Souvenir Pulpen Jam dan baterai Kertas minyak Foto copy kuesioner Konsumsi Aqua Mika kue Door prize Jam dinding Total d. Pihak Terlibat Rp 85.000 Rp 64.800 Rp 25.500 Rp 6.000 Rp 60.000 Rp 106.000 Rp 36.000 Rp 24.000 Rp 110.000 Rp 16.000 Rp 533.300

Dalam penyuluhan Jamkesda ini pihak yang terlibat adalah pihak Puskesmas Karang Tunggal yaitu Bapak Bato S.Sos yang bertugas sebagai narasumber yang memberikan informasi lebih lanjut mengenai air bersih. e. Hasil Kegiatan Penyuluhan air bersih yang dilaksanakan pada tanggal 01 Februari 2011 ini digabung dengan pelaksanaan penyuluhan Jamkesda. Tingkat kehadiran peserta telah mencapai 80% yaitu 28 peserta yang terdiri dari Kepala Desa, Kepala Dusun, Ketua RT, serta perwakilan masyarakat dari masing-masing RT. Untuk tingkat antusiasme peserta, dapat dikatakan baik. Hal ini ditandai dengan banyaknya peserta yang bertanya dan

129

berdiskusi dengan narasumber untuk mengetahui segala sesuatu tentang air bersih. Untuk tingkat pengetahuan peserta mengenai air bersih sebelum diberikan materi pada penyuluhan air bersih, diukur melalui hasil pre-test, hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 5.3 Distribusi Pengetahuan Peserta saat Pre-test Penyuluhan Air Bersih RT. 08, RT. 09, RT. 10, RT. 11, RT. 12, RT. 13 dan RT, 15 Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Tahun 2011 No. 1. 2. 3. Tingkat Pengetahuan Kurang Sedang Baik Jumlah Jumlah 13 1 11 25 Persentase (%) 52 % 4% 44 % 100%

Dari tabel 5.3 diatas diketahui bahwa sebelum diberikan materi, dari 25 peserta penyuluhan air bersih yang tingkat pengetahuannya baik mengenai air bersih ada 44%,

130

sedangkan yang berpengetahuan sedang ada 4%, dan yang berpengetahuan rendah ada 52%. Untuk tingkat pengetahuan peserta mengenai air bersih setelah diberikan materi pada penyuluhan air bersih, diukur melalui hasil post-test, hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 5.4 Distribusi Pengetahuan Peserta saat Post-test Penyuluhan Air Bersih RT. 08, RT. 09, RT. 10, RT. 11, RT. 12, RT. 13 dan RT, 15 Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Tahun 2011 No. 1. 2. 3. Tingkat Pengetahuan Kurang Sedang Baik Jumlah Jumlah 2 1 22 25 Persentase (%) 8% 4% 88% 100%

Dari tabel 5.4 diatas diketahui bahwa setelah diberikan materi, peserta penyuluhan air bersih yang tingkat

pengetahuannya baik mengenai air bersih sebesar 88%,

131

sedangkan yang berpengetahuan sedang ada 4%, dan yang berpengetahuan kurang hanya ada 8%.
6.

Pembagian Leaflet Air Bersih a. Tujuan Kegiatan Meningkatkan pengetahuan masyarakat Desa Karang Tunggal mengenai air bersih melalui media informasi yaitu leaflet. Selain itu leaflet yang dibagikan sebagai perluasan informasi kepada orang yang ada disekitarnya.

b.

Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan pembagian leaflet air bersih ini adalah warga Dusun Mekar Jaya RT. 08, RT. 09, RT. 11, RT. 12, RT. 13, RT.15 termasuk didalamnya adalah para Ketua RT dan beberapa perwakilan masyarakat Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang yang menjadi peserta penyuluhan air bersih.

c.

Pelaksanaan Kegiatan 1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pembuatan leaflet air bersih dikerjakan oleh tim PBL pada tanggal 31 Januari 2011 dan dibagikan pada hari Selasa tanggal 01 Februari 2011 kepada seluruh peserta

132

seusai penyuluhan air bersih di Aula Kantor Desa Karang Tunggal tepatnya pada pukul 22.00 WITA. 2) Metode Pembagian Leaflet Metode pembagian leaflet tentang air bersih yaitu dilaksanakan dengan membagi leaflet setelah penyuluhan air bersih bersamaan dengan pembagian leaflet

Jamkesda. 3) Penanggung Jawab Pelaksana Penanggung Jawab : Armyade, Dessy N, dan Fatimah Desain leaflet : Lioni Farahita

4) Rincian Biaya Biaya fotokopi leaflet tentang air bersih ini

mengeluarkan biaya sebesar Rp 10.000,-. d. Hasil Kegiatan Terbaginya dan dibacanya leaflet air bersih kepada seluruh peserta penyuluhan air bersih. Sehingga ada 25 lembar leaflet yang diberikan sesuai jumlah kehadiran peserta dan target pencapaiannya adalah 80% yaitu 25 peserta dari 35 undangan yang diharapkan kehadirannya. e. Isi Leaflet Konten atau isi materi yang dimuat dalam leaflet terdiri dari pengertian air bersih, ciri-ciri air bersih, resiko yang

133

ditimbulkan

oleh

penggunaan

air

tidak

bersih,

cara

pengolahan air bersih, dan cara sederhana untuk menguji kualitas air rumah tangga.
7.

Pembuatan dan Sosialisasi Alat Penjernih Air a. Tujuan Kegiatan Menciptakan alat penjernih air yang berfungsi

membersihkan air dari segi warna, bau, dan rasa. Serta untuk memberikan percontohan kepada warga bagaimana cara membuat alat penjernih air sederhana, sehingga dapat mengatasi permasalahan air di lingkungan Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kabupaten Kutai Kartanegara. b. Sasaran Kegiatan Sasaran kegiatan ini adalah Kepala Desa, PKK, Ketua RT dan perwakilan masyarakat Dusun Mekar Jaya. c. Pelaksanaan Kegiatan 1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Proses pembuatan alat penjernih tersebut

dilaksanakan mulai dari tanggal 31 Januari 2011 hingga tanggal 03 Februari 2011 bertempat di posko kelompok VII PBL II. Sedangkan kegiatan sosialisasi dan

percobaannya dilaksanakan pada hari Jumat tanggal 04 Februari 2011 pada pukul 10.00 11.00 WITA di kediaman Bapak Kepala Desa Karang Tunggal.

134

2) Metode Pelaksanaan Metode pelaksanaan program ini adalah dengan mempelajari tata cara pembuatan alat penjernih air, pembelian alat dan bahan, uji coba, sosialisasi, dan selanjutnya penyerahan alat penjernih air kepada Kepala Desa Karang Tunggal. 3) Penanggung Jawab Pelaksana Penanggung Jawab : Armyade, Dessy N, dan Fatimah Pembuat Alat 4) Rincian Biaya Karbon Aktif 2 kg @Rp 150.000 Zeloid 4 bungkus @Rp 15.000 Pasir Silika 6 kg @Rp 10.000 Ijuk Pipa 4 Inci Pipa 3 inci Pipa inci Batang T 3 batang @Rp 2.000 Elbow 4 biji @Rp 1.500 Stop Kran 3 biji @Rp 7.000 Noksel 2 buah @Rp. 3.000 Drat masuk 2 biji @Rp. 1.500 Lem Pipa Lem Besi 2 buah @Rp 10.000 Selotif Karet Dop Pipa 3 biji @ Rp 15.000 Dop Drat 3 biji @ Rp. 18.000 Filter 0,5 micron Total Pihak Terlibat Rp 300.000 Rp 60.000 Rp 60.000 Rp 50.000 Rp 15.000 Rp 10.000 Rp 30.000 Rp 6.000 Rp 6.000 Rp 21.000 Rp 6.000 Rp 3.000 Rp 7.000 Rp 20.000 Rp 2.000 Rp 45.000 Rp 54.000 Rp 20.000 Rp 715.000 : Armyade dan M. Arif

d.

Kabid Penyehatan Lingkungan (PL) Puskesmas Teluk dalam sebagai pembimbing dan memberikan buku panduan pembuatan alat penjernih air yang berjudul Merakit Sendiri

135

Alat Penjernih Air Untuk Rumah Tangga karya Sujana Alamsyah. Pihak yang juga ikut terlibat adalah Kepala Desa Karang Tunggal dan Badan Perwakilan Desa Karang Tunggal yang memfasilitasi lokasi dan sarana-prasarana uji coba alat tersebut. e. Hasil Kegiatan Dari hasil percobaan alat filter penjernih air di Rumah Kepada Desa Karang Tunggal dengan sumber air baku adalah air sumur bor dengan karakteristik berbau, berasa dan jernih, Setelah pemasangan alat di rumah tersebut hasil air mengalami perubahan fisik air menjadi tidak berbau, tidak

berasa dan air menjadi lebih jernih. Untuk mengetahui kualitas kimia air, dilakukan percobaan sederhana dengan menggunakan teh. Dari percobaan

tersebut perbandingan kepekatan air teh diantara dua sampel air berbeda. Tingkat kepekatan warna teh pada sampel air yang belum diberi perlakuan (filterisasi) lebih pekat

dibandingkan dengan sampel air yang telah diberi perlakuan (filterisasi). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa alat filter penjernih air sangat efektif dalam mengatasi masalah air yang di alami warga Dusun Mekar Jaya Desa Karang tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang.

136

8.

Penyuluhan ASI Eksklusif a. Tujuan Kegiatan Meningkatkan pengetahuan wanita dan ibu tentang pengertian ASI Eksklusif dan manfaatnya. b. Sasaran Kegiatan Para wanita usia subur, ibu hamil, dan ibu menyusui di Dusun Mekar Jaya serta ibu-ibu PKK Desa Karang Tunggal. Dalam pelaksanaannya peserta yang hadir adalah sebanyak 24 orang yaitu para ibu-ibu PKK Desa Karang Tunggal. c. Pelaksanaan Kegiatan 1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 3 Februari 2011 bertempat di Kantor PKK Desa Karang Tunggal. Acara ini dimulai dari pukul 16.00 17.00 WITA. 2) Metode Pelaksanaan Penyuluhan Penyuluhan ASI Eksklusif dilaksanakan dengan

metode diskusi kelompok besar dimana sebelumnya ada penyampaian materi ASI Eksklusif oleh Tim PBL. Dimana, jumlah pesertanya lebih dari 15 orang dengan pembagian leaflet di akhir acara untuk perluasan informasi kepada orang yang ada disekitarnya. Adapun materi yang diberikan yaitu mengenai pengertian ASI Eksklusif,

137

pentingnya ASI Eksklusif, manfaat ASI Eksklusif bagi bayi dan ibu, serta resiko yang ditimbulkan akibat pemberian cairan selain ASI sebelum bayi berusia 6 bulan. Sebelum dan sesudah penyuluhan, para peserta terlebih dahulu diberikan pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pengetahuan masyarakat mengenai ASI Eksklusif. 3) Penanggung Jawab Pelaksana Penanggung Jawab : Erina Widya Astuti, Fembriana Wiwik, dan Erlita Budhiarti. Pembawa Acara Pemateri : Kartina Wulandari : Erina Widya Astuti

Seksi Perpubdekdok : M. Arif, Armyade, Fitri Noviyani. Seksi Konsumsi Notulen Operator 4) Susunan Acara Susunan acara penyuluhan ASI Eksklusif tersebut adalah : Pembukaan Pre test Pemutaran video ASI Eksklusif Penyampaian materi Diskusi dan tanya jawab : Dessy Nur Rosidah, Laila P. : Lioni Farahita : Fatimah M. Noor

138

Post test Pembagian leaflet ASI Eksklusif Pembagian stiker ASI Eksklusif

5) Pengeluaran Dana Kue Air mineral Fotokopi leaflet Souvenir Pulpen Total Pihak Terlibat Rp 80.000 Rp 17.000 Rp 10.000 Rp 20.000 Rp 30.000 Rp 157.000

d.

Dalam kegiatan penyuluhan ASI Eksklusif ini melibatkan pihak Puskesmas Teluk Dalam yaitu Ibu Bidan Andriani, A.Md.Keb. sebagai narasumber. e. Hasil Kegiatan Terlaksananya seluruh rangkaian kegiatan penyuluhan ASI Eksklusif yang disertai dengan meningkatnya

pengetahuan ibu tentang ASI Ekslusif. Selain itu tingkat antusiasme peserta cukup tinggi yang ditandai dengan banyaknya peserta yang bertanya. Tingkat kehadiran peserta mencapai 96% yaitu 24 peserta dari 25 peserta yang diharapkan kehadirannya yang terdiri dari Ibu-ibu PKK, wanita usia subur, dan ibu hamil.. Untuk tingkat pengetahuan peserta mengenai ASI Ekslusif sebelum diberikan materi pada penyuluhan ASI Ekslusif, diukur melalui hasil pre-test, hasilnya adalah sebagai berikut :

139

Tabel 5.5 Distribusi Pengetahuan Peserta saat Pre-test Penyuluhan ASI Ekslusif RT. 08, RT. 09, RT. 10, RT. 11, RT. 12, RT. 13 dan RT, 15 Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Tahun 2011 No. 1. 2. Tingkat Pengetahuan Sedang Baik Jumlah Jumlah 1 23 24 Persentase (%) 4,2 % 95,8 % 100%

Dari tabel 5.5 diatas diketahui bahwa sebelum diberikan materi, dari 24 peserta penyuluhan ASI Ekslusif yang tingkat pengetahuannya baik mengenai ASI Ekslusif sebesar 95,8%, sedangkan yang berpengetahuan sedang hanya sebesar 4,2%. Untuk tingkat pengetahuan peserta mengenai ASI Ekslusif setelah diberikan materi pada penyuluhan ASI Ekslusif, diukur melalui hasil post-test, hasilnya adalah sebagai berikut :

Tabel 5.6 Distribusi Pengetahuan Peserta saat Post-test Penyuluhan ASI Ekslusif RT. 08, RT. 09, RT. 10, RT. 11, RT. 12, RT. 13 dan RT, 15 Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Tahun 2011

140

No. 1.

Tingkat Pengetahuan Baik Jumlah

Jumlah 24 24

Persentase (%) 100% 100%

Dari tabel 5.6 diatas diketahui bahwa setelah diberikan materi, peserta penyuluhan ASI Ekslusif yang tingkat

pengetahuannya baik mengenai ASI Ekslusif mencapai persentase 100% dari 24 peserta. 9. a. Pembuatan Leaflet ASI Eksklusif Tujuan Kegiatan Meningkatkan pengetahuan wanita dan ibu tentang pengertian ASI Eksklusif dan manfaatnya melalui media informasi yaitu leaflet.
b.

Sasaran Kegiatan Para wanita usia subur, ibu hamil, dan ibu menyusui di Dusun Mekar Jaya serta ibu-ibu PKK Desa Karang Tunggal.

c.

Pelaksanaan Kegiatan 1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pembuatan leaflet dilaksanakan pada tanggal 27 Januari 2011 dan dibagikan kepada peserta penyuluhan

141

pada akhir kegiatan Penyuluhan ASI Eksklusif di Kantor PKK yaitu pada hari Kamis tanggal 03 Februari 2011 tepatnya pada pukul 17.00 WITA.
2) Metode Pembagian Leaflet

Metode pembagian leaflet tentang ASI Eksklusif yaitu dilaksanakan dengan membagi leaflet setelah berakhirnya penyuluhan ASI Eksklusif. 3) Penanggung Jawab Pelaksana Penanggung Jawab : Erina Widya Astuti, Fembriana Wiwik, dan Erlita Budhiarti. Desain leaflet 4) Pengeluaran Dana Fotokopi leaflet ASI Eksklusif mengeluarkan biaya sebesar Rp 10.000,-. d. Hasil Kegiatan Terbaginya dan dibacanya leaflet ASI Eksklusif pada para peserta penyuluhan dan diperolehnya informasi untuk : Lioni Farahita

meningkatkan pengetahuan peserta mengenai pengertian dan manfaat ASI Eksklusif. Sehingga ada 24 lembar leaflet yang diberikan sesuai jumlah kehadiran peserta dan pencapaiannya adalah 95,8% yaitu 24 peserta dari 25 undangan yang diharapkan kehadirannya. e. Isi Leaflet

142

Isi atau konten leaflet ASI Eksklusif yaitu memuat pengertian ASI Eksklusif, manfaat ASI Eksklusif untuk ibu dan bayi, serta langkah-langkah ASI Eksklusif.
10.

Pembuatan Stiker ASI Eksklusif a. Tujuan Kegiatan Mensosialisasikan program ASI Eksklusif kepada yaitu 6 bulan pemberian ASI Eksklusif kepada bayi. b. Sasaran Kegiatan Para peserta yang hadir pada penyuluhan ASI Eksklusif yaitu para wanita usia subur, ibu hamil, dan ibu-ibu PKK. c. Pelaksanaan Kegiatan 1) Waktu dan Tempat Pelaksanaan Pembuatan stiker dilaksanakan pada tanggal 28 Januari 2011 dan dibagikan kepada peserta penyuluhan pada akhir kegiatan Penyuluhan ASI Eksklusif di Kantor PKK yaitu pada hari Kamis tanggal 03 Februari 2011.
2) Metode Pembagian Stiker

Metode pembagian stiker tentang ASI Eksklusif yaitu dilaksanakan pasca membagi leaflet setelah berakhirnya penyuluhan ASI Eksklusif. Saat membagikan stiker, tim PBL sambil meminta kepada para peserta untuk

menempelkan stiker tersebut di rumah mereka. 3) Penanggung Jawab Pelaksana

143

Penanggung Jawab : Erina Widya Astuti, Fembriana Wiwik, dan Erlita Budhiarti. Desain stiker 4) Pengeluaran Dana Pembelian kertas stiker mengeluarkan biaya sebesar Rp 10.000,-. d. Hasil Kegiatan Terbaginya stiker ASI Eksklusif pada para peserta penyuluhan dan diperolehnya informasi untuk meningkatkan pengetahuan peserta mengenai program ASI Eksklusif. Sehingga ada 24 buah stiker yang diberikan sesuai jumlah kehadiran peserta dan pencapaiannya adalah 95,8% yaitu 24 peserta dari 25 undangan yang diharapkan kehadirannya. e. Isi Stiker Stiker berisi slogan 6 Bulan ASI Eksklusif ! : Lioni Farahita

BAB VI PEMBAHASAN

144

A. Analisis Situasi Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Pada

Pelaksanaan PBL II Situasi Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal saat

pelaksanaan Pengalaman Belajar Lapangan II (PBL II) telah banyak berubah dibandingkan dengan pada saat pengambilan sampel di Pengalaman Belajar Lapangan I (PBL I) pada tahun 2009. Hal ini terlihat dari beberapa infrastruktur desa yang ada, seperti jalan raya desa yang hampir 99% telah dilakukan pengaspalan. Selain itu di Dusun Mekar Jaya khususnya, terjadi penambahan RT yang dahulunya hanya berjumlah 6 RT (yaitu RT.08, RT.09, RT.10, RT.11, RT.12, dan RT.13), saat ini bertambah menjadi 7 RT yaitu yaitu RT.08, RT.09, RT.10, RT.11, RT.12, RT.13, dan RT.15.

B. Diagnosis Masalah 1. Identifikasi Masalah Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah kesehatan yang ada di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang adalah metode brain storming dan Focus Group Discussion (FGD). Brain storming atau curah pendapat merupakan modifikasi diskusi kelompok. Prinsipnya sama dengan metode diskusi kelompok. Bedanya, pada permulaannya pemimpin kelompok memancing dengan satu masalah kemudian tiap peserta

145

memberikan

tanggapan

terhadap

permasalahan

yang

disampaikan. Tanggapan tersebut ditampung dan ditulis. Sebelum semua peserta mencurahkan pendapatnya, tidak boleh diberi komentar oleh siapa pun. Setelah semua anggota mengeluarkan pendapatnya, tiap anggota dapat mengomentari dan terjadilah diskusi (Azwar, 2003). Sedangkan FGD adalah suatu metode riset yang oleh Irwanto (2006) didefinisikan sebagai suatu proses pengumpulan informasi mengenai suatu permasalahan tertentu yang sangat spesifik melalui diskusi kelompok (Irwanto, 2006). Dengan perkataan lain FGD merupakan proses pengumpulan informasi bukan melalui wawancara, bukan perorangan, dan bukan diskusi bebas tanpa topik spesifik. Metode FGD termasuk metode kualitatif. Seperti metode kualitatif lainnya (direct observation, indepth interview, dsb) FGD berupaya menjawab jenis-jenis pertanyaan how-and why, bukan jenis-jenis pertanyaan what-and-how-many yang khas untuk metode kuantitatif (survei, dsb). FGD dan metode kualitatif lainnya sebenarnya lebih sesuai dibandingkan metode kuantitatif untuk suatu studi yang bertujuan to generate theories and explanations (Morgan and Kruger, 1993). Dari hasil FGD bersama masyarakat pada hari Jumat tanggal 21 Januari 2011, diketahui bahwa permasalahan kesehatan yang sedang terjadi di Dusun Mekar Jaya adalah kurangnya

146

pengetahuan

masyarakat

mengenai

Jamkesda,

kurangnya

ketersediaan air bersih, kurangnya penerapan PHBS (cuci tangan), dan kurangnya pengetahuan masyarakat terutama wanita mengenai pengertian dan manfaat ASI Eksklusif. 2. Penentuan Prioritas Masalah Metode yang digunakan untuk menentukan prioritas masalah kesehatan di Dusun Mekar Jaya Kecamatan Tenggarong

Seberang adalah metode Bryant. Cara ini telah digunakan di beberapa Negara yaitu Afrika dan Thailand. Cara ini

menggunakan 4 macam kriteria, yaitu : a) Community Concern, yakni sejauh mana masyarakat

menganggap masalah tersebut penting. b) Prevalensi, yakni seberapa banyak penduduk yang terkena penyakit tersebut. c) Seriousness, yakni sejauh mana dampak yang ditimbulkan penyakit tersebut. d) Managebility, yakni sejauh mana kita memiliki kemampuan untuk mengatasinya. Menurut cara ini masing-masing kriteria tersebut diberi skoring, kemudian masing-masing skor ditambahkan. Hasil ini dibandingkan antara masalah-masalah yang dinilai. Masalahmasalah dengan skor tertinggi akan mendapat prioritas yang tinggi pula.

147

Berdasarkan penentuan prioritas masalah diatas, maka didapatkan empat masalah yang akan diintervensi, yaitu

mengenai Jamkesda, air bersih, PHBS cuci tangan, dan ASI Eksklusif. 3. Penyebab Masalah Metode yang digunakan untuk menentukan penyebab

masalah kesehatan di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang adalah metode Fishbone. Dimana, masyarakat kurang mengerti mengenai apa yang dimaksud dengan Jamkesda dan pengolahan air bersih. Selain itu kesadaran masyarakat untuk menerapkan PHBS dalam hal ini perilaku mencuci tangan masih rendah. Dan selanjutnya adalah kurangnya pengetahuan masyarakat terutama wanita mengenai ASI Eksklusif.

C. Penentuan Prioritas Program Metode yang digunakan untuk menentukan prioritas program dalam penyelesaian masalah kesehatan di Dusun Mekar Jaya, Desa Karang Tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang adalah kesepakatan masyarakat dan kelompok PBL. Berdasarkan kesepakatan masyarakat dengan kelompok PBL, maka

didapatkan prioritas program yaitu penyuluhan air bersih dan

148

pembuatan

alat

penjernih

air,

penyuluhan

JAMKESDA,

penyuluhan cuci tangan dan penyuluhan Asi Eksklusif.

D. Pelaksanaan Program Kesehatan


1. Penyuluhan Cuci Tangan dan Pembuatan Poster Cuci Tangan

Promosi kesehatan di sekolah dibuat untuk memperluas manfaat kesehatan masyarakat dengan cara meningkatkan pengetahuan dan perilaku kesehatan dan sanitasi pada anakanak sekolah dasar. Selain itu promosi kesehatan sekolah bertujuan agar murid-murid tersebut bertindak sebagai agen perubahan bagi orang tua, saudara-saudara, tetangga dan kawankawan mereka. Program promosi kesehatan di sekolah harus diintegrasikan ke dalam program usaha kesehatan sekolah, melalui koordinasi dengan tim pembina UKS ditingkat kecamatan, kabupaten, provinsi dan pusat. Promosi kesehatan sekolah harus

dikoordinasikan dengan program penyuluhan kesehatan yang dilakukan oleh puskesmas, dinas kesehatan kabupaten, dinas kesehatan provinsi dan departemen kesehatan pusat. Keberhasilan promosi kesehatan di sekolah banyak

dipengaruhi oleh hubungan jaringan komunikasi antara cabang dinas pendidikan (termasuk kepala sekolah, guru, komite sekolah, orang tua siswa), Puskesmas (pimpinan puskesmas, sanitarian,

149

staf puskesmas lainnya, bidan desa), serta tokoh masyarakat (aparat desa, tokoh masyarakat, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, serta semua anggota masyarakat). Kegiatan penyuluhan cuci tangan dilaksanakan di SDN 021 Desa Karang Tunggal yang dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 29 Januari 2011 dengan sasaran seluruh siswa-siswi kelas I sampa kelas VI. Tujuan kegiatan meningkatkan pengetahuan tentang cuci tangan yang baik dan benar sejak usia dini. Kegiatan penyuluhan ini menggunakan metode penyampaian materi, demonstrasi, dan praktek dimana dilakukan senam cuci tangan yang mencakup gerakan mencuci tangan yang baik dan benar. Penyuluhan cuci tangan ini mencapai target perencanaan yaitu 100% siswa yang bersekolah di SDN 021 Desa Karang Tunggal yaitu sebanyak 213 siswa. Peningkatan pengetahuan para siswa mengenai cuci tangan diketahui dari keaktifan mereka dalam memperagakan kembali senam cuci tangan yang telah di contohkan oleh tim PBL. Tim PBL juga sebelumnya telah mempersiapkan 20 pertanyaan seputar cuci tangan yang diajukan kepada para siswa setelah diberikan materi dengan metode reward (hadiah). Alhasil dari 20 pertanyaan yang diajukan, masing-masing 20 siswa mampu menjawabnya dengan baik dan benar. Metode lainnya yang digunakan adalah dengan mengadakan games/permainan

150

menggunakan puzzle sederhana. Puzzle tersebut memuat gambar tentang urutan mencuci tangan yang harus bisa disusun oleh para siswa. Dalam metode permainan tersebut, para siswa juga bisa menyusunnya dengan benar. Untuk membantu para siswa SDN 021 dalam mengingat selalu cara mencuci tangan yang baik dan benar serta agar mereka selalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, maka poster cuci tangan yang dipasang oleh tim PBL di lingkungan SDN 021 Desa Karang Tunggal sangat membantu hal tersebut sebagai media informasi kesehatan. Kendala yang terjadi pada saat pelaksanaan penyuluhan cuci tangan adalah praktek cuci tangan menggunakan air mengalir tidak terlaksana karena terbatasnya sarana dan prasana yaitu air bersih mengingat Desa Karang Tunggal yang cukup sulit dalam mengakses air bersih.
2. Penyuluhan Jamkesda dan Pembagian Leaflet Jamkesda

Menurut

Green

(dalam,

Notoatmodjo,

2005),

promosi

kesehatan adalah segala bentuk kombinasi pendidikan kesehatan dan intervensi yang terkait dengan ekonomi, politik, dan organisasi, yang dirancang untuk memudahkan perilaku dan lingkungan yang kondusif bagi kesehatan. Maka penyuluhan merupakan intervensi yang cocok bagi meningkatkan

pengetahuan tentang Jamkesda.

151

Berdasarkan tujuan kegiatan penyuluhan Jamkesda dan pembagian leaflet Jamkesda yaitu pemberian informasi serta sosialisasi Jamkesda Kabupaten Kutai Kartanegara kepada masyarakat yang termasuk didalamnya mengenai tujuan program Jamkesda, sasaran program Jamkesda, persyaratan peserta Jamkesda, prosedur kepesertaan program Jamkesda dan alur pelayanan kesehatan program Jamkesda. Program Jamkesda (Jaminan Kesehatan Daerah) adalah salah satu program oleh jaminan pemerintah kesehatan daerah sosial yang Kutai

diselenggarakan

Kabupaten

Kartanegara yang wajib diikuti oleh setiap penduduk di Kabupaten Kutai Kartanegara yang belum memiliki jaminan pemeliharaan kesehatan. Pelaksanaan penyuluhan Jamkesda dan pembagian leaflet yang dilakukan pada tanggal 1 Februari 2011 bertempat di Balai Pertemuan Umum (BPU) Desa Karang Tunggal. Acara ini di hadiri oleh Kepala Desa Desa) Karang Karang Tunggal, Tunggal, BPD LPM (Badan (Lembaga

Permusyawaratan

Pemberdayaan Masyarakat) Karang Tunggal, Kepala Dusun Mekar Jaya, para Ketua RT (RT. 08, RT. 09, RT. 10, RT. 11, RT. 12, RT. 13 dan RT, 15), perwakilan Puskesmas Teluk Dalam yang juga sebagai narasumber serta perwakilan masyarakat (RT. 08, RT. 09, RT. 10, RT. 11, RT. 12, RT. 13 dan RT, 15).

152

Adapun metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu metode pendidikan kelompok besar, dimana pesertanya lebih dari 15 orang. Metode yang baik untuk kelompok ini yaitu metode ceramah. Metode tinggi ceramah maupun digunakan rendah. untuk sasaran perlu

berpendidikan

Hal-hal

yang

diperhatikan dalam menggunakan metode ceramah yaitu : a. Persiapan Ceramah yang berhasil apabila penceramah sendiri menguasai materi dari apa yang diceramahkan. Untuk itu penceramah harus memepersiapkan diri dengan : 1) Mempelajari materi dengan sistematika yang baik, lebih baik lagi kalau disusun dalam diagram atau skema 2) Menyiapkan alat-alat bantu pengajaran, misalnya makalah singkat, slide, transparan, sound sistem dan sebagainya 3) Cara penyampaiannya dapat dimengerti dan dipahami oleh peserta yang hadir b. Pelaksanaan Kunci dari keberhasilan pelaksanaan ceramah apabila penceramah tersebut dapat menguasai sasaran ceramah. Untuk dapat menguasai sasaran ceramah (dalam arti psikologis), penceramah dapat melakukan hal-hal sebagai berikut :

153

1) Sikap dan penampilan yang meyakinkan, tidak boleh bersikap ragu-ragu dan gelisah 2) Suara hendaknya cukup keras dan jelas 3) Pandangan harus tertuju keseluruh peserta ceramah 4) Berdiri di depan (pertengahan), tidak boleh duduk
5)

Menggunakan alat-alat bantu lihat (AVA) semaksimal mungkin (Notoadmodjo, 2003)

Saat kegiatan berlangsung, peserta tampak aktif dalam diskusi serta tanya jawab yang dilakukan. Dikarenakan sosialisasi program Jamkesda Kabupaten Kutai Kartanegara ini sendiri masih sangat kurang kepada masyarakat terutama masyarakat Dusun Mekar Jaya serta peluncuran program ini sendiri baru dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara pada awal bulan Januari 2011. Oleh karena itu kegiatan penyuluhan dan pembagian leaflet Jamkesda selain sebagai upaya pemberian informasi juga sebagai upaya memfasilitasi dan advokasi bagi stakeholder Desa Karang Tunggal, Puskesmas Teluk Dalam serta perwakilan masyarakat RT. 08, RT. 09, RT. 10, RT. 11, RT. 12, RT. 13 dan RT, 15, agar program Jamkesda ini tersebar secara merata di kalangan masyarakat. Pendekatan yang dilakukan dalam intervensi ini adalah dengan menggunakan teknik one group pre test and post tes design, yaitu suatu penelitian yang dilakukan untuk menilai satu

154

kelompok saja secara utuh (Notoatmodjo, 2005). Melalui pre and post test, diketahui bahwa sebelum intervensi pengetahuan masyarakat akan program Jamkesda hanya 52%, namun setelah diberikan penyuluhan pengetahuan masyarakat meningkat hingga 100%, dimana terjadi peningkatan pengetahuan masyarakat sebesar 48%. Kemudian didapatkan hasil berdasarkan

perhitungan jumlah responden dengan tingkat pengetahuan baik dan sedang dalam penilaian pre-test adalah 13 peserta dari 25 peserta. Untuk penilaian kuestioner post-test terdapat 25 peserta atau seluruh peserta dengan tingkat pengetahuan baik dan sedang bagi peserta yang mengikuti penyuluhan. Tingkat pengetahuan responden terbagi menjadi 3 tingkatan, yaitu pengetahuan baik, pengetahuan sedang, dan pengetahuan kurang. Dari hasil perhitungan kuesioner pre-test diketahui bahwa 12 peserta berpengetahuan kurang, 11 peserta berpengetahuan sedang dan 2 peserta berpengetahuan baik. Berdasarkan hasil perhitungan kuesioner post-test diketahui bahwa 21 peserta berpengetahuan baik, 4 peserta

berpengetahuan sedang, dan tidak ada peserta berpengetahuan kurang. Kendala dalam kegiatan ini yaitu keterlambatan pada mulainya acara, dikarenakan warga masyarakat yang masih sibuk

155

dengan aktivitas masing-masing serta narasumber yang kesulitan untuk mengakses tempat berlangsungnya kegiatan.
3. Penyuluhan Air Bersih, Pembagian Leaflet Air Bersih, dan

Pembuatan Alat Penjernih Air Air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari sebaiknya adalah air yang memenuhi kriteria sebagai air bersih. Air bersih merupakan air yang dapat digunalan untuk keperluan sehari-hari yang kualitasnya memenuhi syarat-syarat kesehatan dan dapat diminum apabila telah dimasak. Sedangkan yang dinamakan air minum adalah air yang melalui proses pengolahan atau tahap proses pengolahan memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Persyaratan terbaru seperti yang telah ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik Indonesia memulai Kepmenkes RI Nomor 907/Menkes/SK/VII/2002/Tanggal 29 Juli 2002 (Waluyo, 2005). Penyuluhan air bersih yang dilaksanakan menggunakan beberapa pendekatan metode pendidikan kesehatan. Pada penyampaian materi menggunakan metode ceramah serta

simulasi percobaan sederhana uji kualitas kimia air. Selanjutnya pada sesi tanya jawab menggunakan metode seminar yang dilakukan oleh narasumber dari Puskesmas Teluk Dalam. Peserta dalam kegiatan ini diambil secara acak pada setiap rukun tetangga (RT) masing-masing adalah 5 orang perwakilan.

156

Hasil pre dan post test menunjukkan efektifitas kegiatan penyuluhan memberikan nilai positif untuk pengetahuan

responden dalam hal mengenal air bersih. Dimana presentasenya pada pre test adalah 52% responden dengan dengan

pengetahuan sedang, dan

kurang, 4% 44%

responden

dengan

pengetahuan baik.

responden

dengan

pengetahuan

Sedangkan pada post test hanya 8% responden dengan pengetahuan kurang, 4% responden dengan pengetahuan

sedang, dan 88% resonden dengan pengetahuan baik. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa penyuluhan air bersih sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai air bersih. Hal ini didukung oleh adanya faktor predisposisi dalam bentuk pemberian informasi atau pesan dalam mengenal air bersih dengan tujuan meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai air bersih. Dalam Notoatmodjo (2007) pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga, pengetahuan kognitif

merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Tingkat pengetahuan

memang tidak selalu berkorelasi dengan perilaku yang baik,

157

namun demikian mengetahui ciri-ciri air bersih, dampak buruk kesehatan mengkonsumsi air yang tidak memenuhi syarat kesehatan dan cara mengetahu air yang sehat melalu percobaan sederhana merupakan langkah awal yang perlu diketahui masyarakat dengan resiko tinggi untuk mengkonsumsi air didesa yang mayoritas bersumber dari sumur bor. Sebagai upaya tindak lanjut dari permasalahan penyedian air bersih di Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal, Tim PBL melakukan demonstrasi dan percontohan sebuah alat penjernih air sederhana pada salah satu rumah warga. Hal ini bertujuan untuk memberikan praktek percontohan sederhana yang dapat dilakukan dalam mengatasi permasalahan air bersih

dimasyarakat. Hal ini sejalan dengan pernyataan yang menyatakan bahwa kesehatan bukan hanya diketahui atau disadari (knowledge) dan disikapi (attitude) melainkan harus dikerjakan atau dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari (practice). Hal ini berarti bahwa tujuan akhir dari pendidikan kesehatan adalah agar masyarakat dapat mempraktekkan hidup sehat bagi dirinya sendiri (health life style) (Notoatmodjo, 2005). Demikian pula berdasarkan teori Skinner (1938) dalam Notoatmodjo (2005) perilaku manusia dikelompokkan menjadi dua yaitu perilaku tertutup dan perilaku terbuka. Respon dalam prilaku

158

tertutup masih terbatas dalam bentuk perhatian, perasaan, persepsi dan sikap terhadap stimulus yang bersangkutan. Metode yang digunakan dalam perubahan sikap mengatasi permasalahan air bersih adalah dengan menggunakan metode pengembangan keahlian (skill development). Karena dengan menggunkan metode ini dapat melakukan pemberdayaan masyarakat, sehubungan ada beberapa masyarakat yang memiliki keahlian dalam bidang sumur bor (tukang gali sumur) yang akhirnya bertujuan sebagai fasilitator keberlanjutan program mengatasi air bersih di Dusun Mekar Jaya tersebut. Dari hasil percobaan alat filter penjernih air di Rumah Kepada Desa Karang Tunggal dengan sumber air baku adalah air sumur bor dengan karakteristik berbau, berasa dan jernih, Setelah pemasangan alat di rumah tersebut hasil air mengalami perubahan fisik air menjadi tidak berbau, tidak berasa dan air menjadi lebih jernih. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa alat filter penjernih air sangat efektif dalam mengatasi masalah air yang di alami warga dusun mekar Jaya Desa Karang tunggal Kecamatan Tenggarong Seberang. Sehingga air yang diberi perlakuan menggunakan alat penjernih air dapat memenuhi syarat kesehatan dari segi fisik yaitu bau, rasa, dan warna. Kendala yang dialami dalam pelaksanaan kegiatan ini terutama terdapat pada pembuatan alat penjernih air. Untuk

159

mendapatkan alat dan bahan-bahan yang dibutuhkan, tim PBL harus kembali ke kota Samarinda beberapa kali untuk membeli dan mendapatkan alat dan bahan yang diperlukan.
4. Penyuluhan ASI Eksklusif, Pembagian Leaflet, dan Pembagian

Stiker ASI Eksklusif Pendidikan kesehatan pada hakikatnya adalah suatu kegiatan atau usaha untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat, kelompok, atau individu. Dengan harapan bahwa dengan adanya pesan tersebut masyarakat, kelompok, atau individu dapat memperoleh pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik. Akhirnya pengetahuan tersebut diharapkan dapat berpengaruh terhadap perilakunya. Dengan kata lain, dengan adanya pendidikan tersebut dapat membawa akibat terhadap perubahan perilaku sasaran (Notoatmodjo, 2003). Berdasarkan tujuan kegiatan dari penyuluhan ASI Eksklusif adalah untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat terutama para wanita dan para ibu mengenai apa yang dimaksud dengan ASI Eksklusif. Kegiatan penyuluhan dibantu dengan media informasi tambahan seperti leaflet dan stiker yang diharapkan mampu menjadi perluasan informasi dari peserta penyuluhan kepada orang lain disekitar mereka. Stiker ASI Eksklusif bertujuan mensosialisasikan program ASI Eksklusif 6 bulan kepada bayi.

160

Dalam kegiatan penyuluhan ASI Eksklusif, metode yang digunakan adalah metode ceramah dan diskusi. Setelah

penyampaian materi oleh tim PBL, ada sesi tanya-jawab dan diskusi dari peserta. Tim PBL menghadirkan tokoh masyarakat yang juga merupakan seorang tenaga kesehatan (bidan) di Desa Karang Tunggal sebagai narasumber dan penjawab pertanyaan yang diajukan peserta. Dengan hadirnya ibu bidan tersebut, tingkat antusiasme masyarakat sangat tinggi untuk bertanya dan berdiskusi mengenai permasalahan yang terkait dengan ASI. Dari segi tingkat kehadiran telah mencapai target yaitu 96% kehadiran, terdiri dari ibu-ibu PKK, wanita usia subur, ibu hamil, dan ibu menyusui. Hasil pre dan post test menunjukkan efektifitas kegiatan penyuluhan memberikan nilai positif untuk pengetahuan responden dalam hal mengenal ASI Eksklusif. Dimana

presentasenya pada pre test adalah 4,2% responden dengan dengan pengetahuan sedang dan 95,8% responden dengan pengetahuan baik. Sedangkan pada post test 100% responden berpengetahuan pengetahuan baik. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa penyuluhan ASI Eksklusif sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai ASI Eksklusif. Terlihat bahwa sebagian besar pengetahuan para ibu sudah baik mengenai ASI Eksklusif, namun tidak demikian dalam praktek pemberiannya. Hampir seluruh ibu yang hadir dalam

161

penyuluhan tersebut tidak memberikan ASI Eksklusif kepada bayi mereka dengan berbagai macam alasan seperti rasa kasihan pada anak apabila tidak diberi makanan tambahan. Namun permasalahan tersebut dapat diberikan solusinya oleh

narasumber yaitu ibu Bidan Andriani, A.Md.,Keb. Tidak ada kendala yang berarti dalam pelaksanaan kegiatan ini.

E. Evaluasi Program Kesehatan 1. Input Dalam pelaksanaan program, alat dan bahan yang digunakan berasal dari dua sumber yaitu swadaya mahasiswa PBL (tim PBL) dan swadaya masyarakat. Pendanaan yang berasal dari swadaya masyarakat adalah alat dan bahan pembuatan alat penjernih air. Sedangkan pendanaan yang berasal dari swadaya mahasiswa PBL (Tim PBL) adalah pada kegiatan pembuatan media untuk penyuluhan Jamkesda, penyuluhan air bersih, dan penyuluhan ASI Eksklusif, serta penyediaan konsumsi pada masing-masing kegiatan. Tim PBL membuat leaflet dan stiker penyuluhan Jamkesda, air bersih, dan ASI Eksklusif, serta poster dan puzzle penyuluhan cuci tangan. Selain itu pada pelaksanaan penyuluhan cuci tangan, tim PBL menyiapkan bahan, seperti sabun cuci tangan, hadiah /

162

doorprize sebagai reward bagi siswa yang mampu menjawab pertanyaan yang diajukan dan yang mampu mempraktekkan senam cuci tangan. 2. Proses Semua program telah berjalan sesuai rencana yang telah ditentukan dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan. Warga Dusun Mekar Jaya yang menjadi peserta penyuluhan terlihat antusias dibuktikan dengan banyaknya warga yang hadir serta ikut berpartisipasi aktif dalam diskusi pada akhir acara. Namun, terkendala oleh keterbatasan waktu karena acara penyelenggaraan pada malam hari yaitu penyuluhan Jamkesda dan penyuluhan air bersih. Sedangkan pada program pembuatan alat penjernih air, kendala yang terjadi adalah dalam mendapatkan alat dan bahan-bahan yang tidak terjangkau di lokasi PBL II, sehingga tim PBL harus kembali ke Samarinda beberapa kali untuk mendapatkan alat dan bahan yang diperlukan. Sedangkan untuk penyuluhan cuci tangan dan ASI Eksklusif berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala berarti. Antusiasme peserta penyuluhan tersebut cukup tinggi ditandai dengan banyaknya peserta yang mengajukan pertanyaan dan berdiskusi. 3. Output Keberhasilan pelaksanaan program dilihat dari diskusi yang dilakukan pada proses penyuluhan dan terjadinya peningkatan

163

pengetahuan masyarakat mengenai air bersih, Jamkesda, dan ASI Eksklusif (dilihat dari perbandingan hasil pre-test dan posttest). Sedangkan untuk penyuluhan cuci tangan, keberhasilan pelaksanaannya dilihat dari kemampuan para siswa-siswi SDN 021 mempraktekkan senam cuci tangan yang diperagakan oleh tim PBL. Untuk pembuatan alat penjernih air, keberhasilan terlihat dari perubahan fisik pada air yang berupa perubahan bau, warna, dan rasa setelah melalui alat penjernih air. Antusiasme

masyarakat dalam kegiatan uji coba alat penjernih ini juga tinggi.

BAB VII PENUTUP

A. Kesimpulan

164

Dari hasil diagnosa masalah dan pengembangan program kesehatan yang dilaksanakan di RT.08, RT.09, RT.10, RT.11, RT.12, RT.13, dan RT.15 Dusun Mekar Jaya Desa Karang Tunggal Tenggarong Seberang yang dilakukan mulai tanggal 27 Januari sampai dengan 05 Februari 2011 diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Identifikasi masalah dengan menggunakan metode curah pendapat

(Brain Storming) serta Focus Group Discussion (FGD) dan dapat diketahui bahwa masalah kesehatan yang ada di Dusun Mekar Jaya antara lain meliputi permasalahan air bersih, pengetahuan masyarakat mengenai Jamkesda, permasalahan penerapan

PHBS (perilaku cuci tangan), dan permasalahan pemahaman masyarakat mengenai ASI Eksklusif.
2. Prioritas masalah disusun dengan menggunakan metode Bryant

dan dapat diketahui bahwa prioritas masalah kesehatan yang ada di Dusun Mekar Jaya yaitu permasalahan kesehatan lingkungan, permasalahan Administrasi Kebijakan kesehatan (AKK),

permasalahan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), dan permasalahan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA).
3. Analisa penyebab masalah disusun dengan menggunakan metode

fish bone. Penyebab masalahnya antara lain adalah masyarakat kurang mengerti mengenai apa yang dimaksud dengan Jamkesda dan pengolahan air bersih. Selain itu kesadaran masyarakat untuk

165

menerapkan PHBS dalam hal ini perilaku mencuci tangan masih rendah. Dan selanjutnya adalah kurangnya pengetahuan

masyarakat terutama wanita mengenai ASI Eksklusif.


4. Alternatif

pemecahan

masalah

sampah

adalah

penyuluhan

kesehatan terhadap masyarakat air bersih, Jamkesda, PHBS cuci tangan, dan ASI Eksklusif. Pembuatan media promosi kesehatan air bersih, Jamkesda, PHBS cuci tangan, dan ASI Eksklusif seperti poster, stiker, dan leaflet, pemberdayaan masyarakat, dengan melibatkan stakeholder terkait seperti pihak Puskesmas untuk program air bersih, jamkesda, dan ASI Eksklusif. Untuk

pemecahan masalah sulitnya air bersih, maka dibuat sebuah alat penjernih air.
5. Prioritas pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan

metode Focus Group Discussion (FGD) dimana masing masing pihak mencurahkan pendapatnya untuk mencari prioritas masalah. Pemecahan penyuluhan, permasalahan pembuatan adalah dengan melakukan: dan

media

informasi

kesehatan

pembuatan alat penjernih air.


6. Metode pelaksanaan program kesehatan untuk masalah air bersih:

adalah penyuluhan air bersih, pembagian leaflet, dan pembuatan alat penjernih air. Sedangkan untuk permasalahan Jamkesda, PHBS, dan ASI Eksklusif program kesehatan yang dilakukan adalah penyuluhan, pembagian leaflet dan poster. Metode yang

166

digunakan dalam pelaksanaan program adalah penyuluhan dengan metode ceramah, diskusi, praktek, dan demonstrasi.
7. Evaluasi program kesehatan dilakukan di Dusun Mekar Jaya Desa

Karang Tunggal. Evaluasi dilaksanakan dengan menggunakan metode diskusi kelompok PBL II berdasarkan hasil yang diperoleh disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.

B. Saran Sehubungan dengan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas maka disarankan hal-hal sebagai berikut: 1. Diharapkan penyuluhan petugas secara kesehatan berkala di Puskesmas masyarakat melakukan mengenai

kepada

masalah-masalah kesehatan yang ada, khususnya mengenai masalah kesehatan lingkungan.


2. Diharapkan peran aktif tokoh masyarakat baik dari Kepala Desa,

Kepala Dusun, maupun Ketua RT dalam permasalahan Jamkesda yang masih banyak belum diketahui masyarakat. Selain itu para masyarakat juga dapat aktif mencari informasi kepada pihak Puskesmas dan bekerjasama secara rutin. 3. Diharapkan pihak Puskesmas khususnya bagian Kesling

melakukan pengecekan terhadao air yang ada di masyarakat. sehingga apabila terkontaminasi, pihak Puskesmas dapat

167

memberitahukan kepada masyarakat mengenai dampak dari air yang terkontaminasi tersebut. 4. Diharapkan pihak Puskesmas dapat bekerjasama dengan pihak sekolah dalam rangka memberikan pendidikan kesehatan kepada murid SD. 5. Diharapkan peran aktif pihak Puskesmas, Ibu-ibu PKK, dan masyarakat dalam mendukung Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) terutama dalam program ASI Eksklusif.

DAFTAR PUSTAKA
Alamsyah, Sujana. 2007. Merakit Sendiri Alat Penjernih Air Untuk Rumah Tangga. Jakarta : Kawan Pustaka. Azwar, Azrul. 1996. Pengantar Administrasi Kesehatan (Edisi Ketiga). Jakarta : Binarupa Aksara.

168

-------------------. 2003. Metode Penelitian. Jakarta : Bina Rupa Aksara. Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara. 2011. Petunjuk Pelaksana dan Petunjuk Teknis Program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda) di PPK Tingkat I. Kabupaten Kutai Kartanegara Provinsi Kalimantan Timur. Daud, A, dan Rosman. 2003. Aspek Kesehatan Penyediaan Air Bersih. Makassar : FKM UH. Daud, A. 2004. Pencemaran Air dan Dampaknya Terhadap Kesehatan. Makassar : FKM UH. Departemen Kesehatan RepubIik Indonesia. 2004. Ibu Berikan ASI Eksklusif Baru Dua Persen. Jakarta. -------------------. 2008. Panduan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. Jakarta. D.L. Morgan and R.A. Kruger. 1993. When to Use Focus Group and Why, , in ed. D.L. Morgan Successful Focus Groups, pp. Health Canada. 2004. Exclusive Breastfeeding Duration - 2004 Health Canada Recommendation. Herijulianti. 2002. Pendidikan Kesehatan Gigi. Jakarta : EGC. Indrawati.1995. Penggunaan Alat Kontrasepsi. Jakarta : Gramedia Pustaka. Irwanto. 2006. Focused Group Discussion. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia. Maidin, Alimin. 2004. Dasar-dasar Administrasi Kebijakan Kesehatan. Makassar.

169

Mukono, H.J. 2000. Prinsip Dasar Kesehatan Lingkungan. Airlangga Surabaya : University Press. Muninjaya, Gde. 2004. Manajemen Kesehatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, Nasution, Zulkarimein. 1989. Teknologi Komunikasi Dalam Perspektif. Jakarta : Lembaga Penerbit FE-UI. Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2010-2015 (Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.HK.03.01/160/I/2010). Suririnah, 1999. www.infoibu.com. Jadwal Imunisasi / Vaksinasi. Tanggal Akses 7 Juli 2009. WHO. Exclusive Breastfeeding. 2001.

http://www.smallcrab.com/makanan-dan-gizi/609-penyediaan-air-bersihdan-sehat http://www.aimyaya.com http://www.ygdi.org