Anda di halaman 1dari 5

L.A.

Lights Concert Massive OddsVille adalah sebuah pagelaran musik yang dipastikan bakal menyuguhkan pagelaran musik yang berbeda dari yang sudah ada. Perbedaan itu dimulai dari tatanan panggung, tata cahaya, hingga kostum yang dikenakan band yang akan mendukung acara yang bakal diadakan di GOR Kertajaya, Surabaya, 20 Maret dan diteruskan ke Jogja Expo Center (JEC) , Jogjakarta, 21 maret. L.A. Lights Concert Massive OddsVille akan menyuguhkan lima band dari genre yang beragam mulai dari The Racoon yang bergenre indie rock , Camera obscura dengan warna indiepopnya , Shaggy Dog yang masih setia di jalur ska, The S.I.G.I.T. yang memainkan campuran blues dan rock sampai sajian RB a la RAN. Semuanya bercampur dalam satu panggung. Jogjakarta sebagai kota kedua L.A. Lights Concert Massive OddsVille akan dimeriahkan oleh The S.I.G.I.T., band icon Jogjakarta Shaggy Dog dan Camera Obscura. Khusus untuk Camera Obscura, penampilan di Jogjakarta adalah konser kedua mereka di Indonesia. Karena malam sebelumnya band asal Skotlandia ini tampil di L.A. Lights Indiefest Festivesound 2010 di Bandung. CAMERA OBSCURA terbentuk di Glasgow, Skotlandia di tahun 1996 dan mereka merilis album debut Biggest Bluest Hi Fi di tahun 2001.Dua album terakhir mereka, Lets get Out of This Country serta My Maudlin Career yang dirilis di tahun ini oleh label legendaris 4AD, mendapat banyak respon positif dari berbagai media. Lagu mereka juga telah tampil pada beberapa film Hollywood serta serial televisi antara lain PS I Love You, Over Her Dead Body, Greys Anatomy hingga The OC yang semua itu membuat banyak orang di luar sana menjadi penggemar baru mereka. THE RACOONS adalah band asal British Colombia, Kanada yang dibentuk pada tahun 2008 oleh Matthew Lyall dan Murray Mckenzie. Band ini dikenal lewat albumnya Islomania yang dirilis pada tahun 2009 lalu dengan lagu-lagu andalan Be My Television, Room To Operate, Tangiers yang mengisi segment acara dari televisi Kanada, YTV dan telah berhasil meraih beberapa penghargaan seperti Most Promising Band (2009) dari Monday Magazine, Band Of The Month dari The Zone, nominasi Best New Artist 2009 dari CBC Radio.

L.A. Lights Concert Massive OddsVille adalah sebuah pagelaran musik yang dipastikan bakal menyuguhkan pagelaran musik yang berbeda dari yang sudah ada. Perbedaan itu dimulai dari tatanan panggung, tata cahaya, hingga kostum yang dikenakan band yang akan mendukung acara yang bakal diadakan di GOR Kertajaya, Surabaya, 20 Maret dan diteruskan ke Jogja Expo Center (JEC) , Jogjakarta, 21 maret. L.A. Lights Concert Massive OddsVille akan menyuguhkan lima band dari genre yang beragam mulai dari The Racoon yang bergenre indie rock , Camera obscura dengan warna indiepopnya ,

Shaggy Dog yang masih setia di jalur ska, The S.I.G.I.T. yang memainkan campuran blues dan rock sampai sajian RB a la RAN. Semuanya bercampur dalam satu panggung. Sebagai kota pertama yang menjadi gelaran L.A. Lights Concert Massive OddsVille, Surabaya bakal diramaikan oleh penampilan RAN, The S.I.G.I.T. dan The Racoon. Untuk nama yang terakhir, bagi yang belum familiar dengan nama ini, The Racoon adalah band asal Kanada yang dibentuk tahun 2008 silam. Meskipun mereka pendatang baru di industri musik, tapi jangan pandang remeh band satu ini. Band yang baru saja merilis debut album Islomania berhasil meraih beragam award seperti Most Promising Band (2009) dari Monday Magazine, Band Of The Month dari The Zone, nominasi Best New Artist 2009 dari CBC Radio. Setelah Surabaya, Jogjakarta sebagai kota kedua L.A. Lights Concert Massive OddsVille akan dimeriahkan oleh The S.I.G.I.T., band icon Jogjakarta Shaggy Dog dan Camera Obscura. Khusus untuk Camera Obscura, penampilan di Jogjakarta adalah konser kedua mereka di Indonesia. Karena malam sebelumnya band asal Skotlandia ini tampil di L.A. Lights Indiefest Festivesound 2010 di Bandung.[amn]

rcaya Dari Yogyakarta Untuk Indonesia Satu.

Minggu, 01 Agustus 2010


Festival Malioboro 2010 Mengembalikan Ruh Malioboro

Jogja Banyak kalangan menilai Malioboro sudah kehilangan ruhnya, dimana kesibukan dan kemacetan terus mewarnai kawasan jantung kota Yogyakarta ini, termasuk romantisme malioboro yang kian memudar. Kawasan Malioboro yang merupakan ikon pariwisata kota pelajar ini sampai sekarang masih terkesan kotor, kumuh, dan semrawut. Jika tidak ditangani dengan baik dikhawatirkan bisa menurunkan citra pariwisata di kota ini. Apalagi kawasan ini tidak saja menjadi salah satu tempat tujuan wisatawan, namun juga sebagai pusat bisnis dan perkantoran di Kota Yogyakarta. Untuk mengangkat citra Kota Yogyakarta sekaligus mengembalikan ruh Malioboro, Dinas Pariwisata Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar Festival Malioboro 31 Juli 1 Agustus 2010. Kegiatan Festival Malioboro ini diikuti 10 propinsi di Indonesia ini yang dimulai Sabtu sore (31/7) dengan Kirab Budaya dan Pawai kesenian dari berbagai daerah yang start dari Taman Parkir Abu Bakar Ali Yogyakarta menuju Benteng Vredeburg. Selain kirab budaya dan kesenian dari masing-masing daerah di DIY, kegiatan ini juga diisi food bazaar, pentas seni, lomba foto serta lomba kebersihan pedagang kaki lima. Kirab Budaya dan Pawai Kesenian ini mewarnai kawasan malioboro yang dipadati masyarakat . Event yang sudah kali kedua ini melibatkan perwakilan mahasiswa dari berbagai daerah yang ada di Yogyakarta, yang juga didukung para seniman. Kasi Promosi Dinas Pariwisata Propinsi DIY, Dra.Putu Kertiyasa mengatakan pihaknya berusaha melakukan sesuatu yang berbasis budaya sebagai pengkayaan Jogja sebagai kota wisata melalui pertunjukan seni dan budaya serta atraksi kesenian dari masing-masing kabupaten di DIY. Festival Malioboro ini sengaja diangkat layaknya street art lainnya, namun kawasan Malioborolah yang menjadi panggung kesenian sehingga diharapkan dapat menarik wisatawan untuk menyaksikan berbagai macam kesenian dari DIY. Malioboro integrated menjadi panggung bersama, panggung terpanjang. Malioboro merupakan pusat pertumbuhan, sehingga tidak hanya berbelanja tapi juga menyaksikan pertunjukkan seni dan budaya, jelasnya. Festival Malioboro ini berbeda dibandingkan festival budaya lainnya yang diselenggarakan di

kawasan malioboro sehingga event tahunan ini memiliki kekhasan yang setidaknya mampu melibatkan daerah lain seperti komunitas pelajar dari daerah lain**(eyu) Label: festival malioboro, jogja, kirab budaya, seni

Tujuan event ini untuk apa? Iya, sih. Kebanyakan memang untuk mendatangkan pemasukan untuk si penyelenggara (nggak tau kalo event amal, lho ya). Tapi masa mau nulis itu di proposal? Apalagi kalo mau minta bantuan sponsor. Bikin tujuan yang sifatnya positif bagi masyarakat, misalnya, "Untuk memajukan kreativitas musisi kota A", atau "Untuk memuaskan dahaga masyarakat kota A akan hiburan", atau lainnya. Pastikan sudah ada deal dengan artis bersanganetan (dan ini perlu modal awal), juga dengan venue. Sponsor enggan untuk men-support event yang konsep dan artisnya masih tentatif. Inilah pentingnya penentuan artis yang tepat, sehingga bisa meyakinkan sponsor, bahwa event ini memang layak dan menguntungkan buat brand exposure si sponsor tersebut. Artis yang dimaksud nggak harus kelas nasional. Bisa juga artis lokal yang punya basis massa yang baik. Asal bukan artis yang over exposed atau udah keseringan tampil. Proposal ke sponsor harus mencanep: 1. Latar belakang & tujuan 2. Detail acara (nama event, tanggal, tempat, artis, rundown) 3. Biasanya budget terdiri dari fee & akomodasi artis, sewa alat musik, ijin keamanan, pawang hujan, pawang ular (ups!), fee design (penting!), dan biaya produksi material publikasi tetap harus dicantumin (spanduk, baliho, cetak tiket, iklan radio, majalah, dll), walau toh nantinya publikasi ditanggung sponsor. 4. Terakhir, cantumin management fee. Cantumkan juga berapa yang diminta dari sponsor. Jarang ada sponsor yang mau nanggung 100% biaya, kecuali kalo inisiatif event dari mereka sendiri. 5. Susunan kepanitiaan (nggak terlalu penting bagi sponsor. Nggak dicantumin juga nggak papa, kayaknya). Banyak EO yang berbobot yang hanya terdiri dari 1 atau 2 orang saja.Pilih sponsor yang segmen market-nya sesuai dengan konsep event kita. Jangan ngajukan proposal ke Hemaviton kalo mau ngadain konser indie. Intinya:

Sponsor harus bisa mendongkrak image event kita. Event kita harus bisa mendongkrak image sponsor.