Anda di halaman 1dari 40

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah, dengan memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan Hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Kerja Praktek dengan judul Struktur Komunitas Echinodermata di Padang Lamun Pantai Karapyak, Ciamis, Jawa Barat. Laporan Kerja praktek ini merupakan salah satu syarat sebelum melaksanakan penelitian pada Program Sarjana Perikanan dan Kelautan, Universitas Jenderal Soedirman. Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini. Semoga Allah SWT berkenan melimpahkan rahmat-Nya hingga pelaksanaan serta penyelesaian laporan kerja praktek ini dapat selesai pada waktunya. Dukungan, saran dan kritik sangat diharapkan penulis demi menambah kesempurnaan laporan kerja praktek ini.

Purwokerto, Februari 2012

Penulis

RINGKASAN
Echinodermata merupakan salah satu biota yang berasosiasi kuat dengan padang lamun dan berperan dalam siklus rantai makanan di ekosistem tersebut. Kerja praktek ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas Echinodermata di Kawasan Padang Lamun di Pantai Karapyak, Ciamis, Jawa Barat. Pantai Karapyak terletak di Desa Bagolo, Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Kerja praktek ini dilakukan pada bulan Maret 2011 dan selesai pada bulan Januari 2012. Metode kerja praktek yang digunakan adalah metode transek kuadrat yang dipasang di empat stasiun yang berbeda. Parameter yang di ukur pada penelitian ini antara lain Kepadatan, Indeks Keanekaragaman (H), Indeks Kemerataan (E), dan Indeks Dominansi (C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa di kawasan Pantai Karapyak, Ciamis ditemukan 3 kelas dari 5 kelas echinodermata yaitu kelas echinoidea, ophiuroidea, dan holothuroidea . Kepadatan individu echinodermata berkisar antara 1-5 ind/m2 dengan kepadatan tertinggi dimiliki oleh Ophiomastix annulosa atau bintang ular. Indeks keanekaragaman echinoderamata berkisar antara 0,562-0,96. Indeks kemerataan echinodermata berkisar antara 0,8110,874. Indeks dominansi echinodermata berkisar antara 0,431-0,625. Kata kunci : Struktur Komunitas, Echinodermata, Pantai Karapyak

SUMMARY
Echinoderm is one of biota associated with sea grass area and plays role in food chain in the ecosystem. The purpose of this practical work is to find out community structure of echinoderm existing in sea grass area at Karapyak beach, Ciamis, West Java. Karapyak beach is located at Bagolo village of Kalipucang sub-district, Ciamis district, West Java. The study was conducted during March 2011 and January 2012. Quadrate transect method was applied and samples were taken in 4 different stations. Some parameters were measured in this study including density, and Diversity (H), Evenness (E), and Domination (C) Indexes. Finally, the result of this study shown that the 3 of 5 classes of echinoderm had been found at Karapyak beach, Ciamis, e.g. Echinoidea, Ophiuroidea, and Holothuroidea. Precisely, echinoderm density was about 1-5 ind/m2 with the highest density was reached by Ophiomastix annulosa or brittle star. Besides, the species variety of echinoderm was about 0.562-0.96; however, the evenness of the echinoderm species was about 0.811-0.874 with the species domination about 0.431-0.625. Keywords: Community structure, Echinodermata, Karapyak Beach.

I. PENDAHULUAN
Latar Belakang Pantai Karapyak terletak di Desa Bagolo, Kecamatam Kalipucang, Kabupaten Ciamis. Pantai Karapyak berjarak sekitar 20 km dari Pantai Pangandaran atau 78 km dari Alun alun Kota Ciamis. Pantai Karapyak memiliki padang lamun yang membentang luas dan terdapat berbagai organisme Echinodermata yang cukup banyak untuk diteliti. Padang lamun (seagrass bed) merupakan tumbuhan berbunga, berbuah, berdaun dan berakar sejati yang tumbuh pada substrat berlumpur, berpasir sampai berbatu yang hidup terendam di dalam air laut dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Lamun mengkolonisasi suatu daerah melalui penyebaran buah (propagule) yang dihasilkan secara seksual (Mann, 2000). Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustacea, moluska (Pinna sp., Lambis sp., Strombus sp.), Echinodermata (Holothuria sp., Synapta sp., Diadema sp., Arcbaster sp., Linckia sp.) dan cacing (Polichaeta) (Bengen, 2001). Echinodermata merupakan salah satu biota yang berasosiasi kuat dengan padang lamun dan berperan dalam siklus rantai makanan di ekosistem tersebut. Studi ekologi fauna Echinodermata telah banyak

1.1.

dilakukan di perairan wilayah Sulawesi Utara diantaranya oleh Darsono & Aziz., (2002) di Teluk Kwandang, Pulau Paniki, Pulau Tiga dan Pulau Tagulandang, Yusron & Susetiono., (2005) di perairan Tanjung Merah, Supono & Susetiono (2008) di perairan Wori dan Supono., (2009) di perairan Likupang Timur, yang bertujuan untuk mengetahui

keanekaragaman echinodermata di padang lamun perairan Kema (Supono & Ucu, 2010). Berdasarkan uraian tersebut maka perlu dilakukan penelitian tentang struktur komunitas echinodermata di padang lamun yang berada di pantai Karapyak, sehingga dapat diketahui keanekaragaman

echinodermata yang ada. Supono & Ucu (2010) menyatakan, bahwa asosisasi fauna dengan lamun merupakan salah satu kajian yang paling menarik serta mudah untuk diamati oleh para peneliti di Indonesia. 1.2. Perumusan Masalah Wilayah Pantai Karapyak merupakan wilayah yang memiliki padang lamun cukup luas. Banyak biota yang tinggal di padang lamun untuk mencari makan dan tempat perlindungan selama masa kritis dalam siklus hidupnya, terutama saat masih anakan. Jenisjenis biota yang tinggal menetap maupun tinggal sementara tersebut memiliki nilai ekonomis cukup tinggi, terutama jenis epibentik, misalnya berbagai kepiting, udang, keong, kerang, cumi-cumi, gurita, teripang dan berbagai jenis ikan (Howard et al., 1989). Sehingga perlu diketahui struktur

komunitas (Kepadatan, Keanekaragaman, Kemerataan, dan Dominansi) di ekosistem padang lamun. Berdasarkan uraian tersebut dapat dirumuskan masalahnya sebagai berikut: 1. Berapakah jumlah jenis dan jumlah individu per-m2 yang didapat pada setiap ekosistem lamun? 2. Berapakah indeks struktur komunitas yang didapat dari seluruh ekosistem lamun yang diketahui? 1.3. Tujuan Kerja Praktek Tujuan dari kerja praktek ini adalah untuk mengetahui berapakah indeks struktur komunitas echinodermata yang didapat dari seluruh ekosistem lamun yang dihitung di Pantai Karapyak, Ciamis, Jawa Barat. 1.4. Manfaat Kerja Praktek Laporan kerja praktek ini diharapkan dapat memberikan informasi yang representatif dan sebagai dasar pengetahuan tentang struktur komunitas echinodermata di padang lamun Pantai Karapyak, Jawa Barat.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Struktur komunitas Struktur komunitas adalah susunan individu dari beberapa spesies yang terorganisir membentuk suatu komunitas. Struktur komunitas dapat dipelajari melalui beberapa aspek khusus seperti keragaman, zonasi dan kelimpahan (Odum 1971). Ravera (1979) menyatakan, komunitas alami yang mempunyai jumlah jenis relatif lebih besar dan hanya sedikit jenis yang mengandalkan komunitas, maka mereka dominan karena

2.1.

menempati bagian atau jumlah tertinggi dalam komunitas. Pada suatu komunitas, setiap biota mempunyai satu dari fungsi dasar yaitu produsen, konsumen, dan pengurai. 2.2. Padang Lamun Padang lamun (seagrass bed) merupakan tumbuhan berbunga, berbuah, berdaun dan berakar sejati yang tumbuh pada substrat berlumpur, berpasir sampai berbatu yang hidup terendam di dalam air laut dangkal dan jernih, dengan sirkulasi air yang baik. Menurut Romimohtarto (2007) seagrass atau lamun adalah tumbuhan laut yang termasuk tumbuhan tingkat tinggi, karena memiliki akar, batang dan daun. Tumbuhan ini hidup pada substrat yang berpasir dan berbatu. Akarnya memiliki rimpang yang berfungsi untuk menancapkan diri dengan kokoh pada dasar laut sehingga tahan terhadap hempasan gelombang dan arus. Lamun tumbuh membentuk dari kelompok

kelompok kelompokan kecil (patches) sampai komunitas yang lebat sehingga disebut padang lamun yang luasnya dapat mencapai ribuan hektar (Nontji 2007). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali di daerah kutub. Lamun yang telah ditemukan di dunia terdapat lebih dari 52 jenis. Di Indonesia hanya terdapat 7 genus dan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili yaitu : Hydrocharitacea ( 9 marga, 35 jenis ) dan Potamogetonaceae (3 marga, 15 jenis) (Bengen 2001). Lamun memiliki daun hijau untuk proses fotosintesis. Agar proses fotosintesis berjalan optimal, lamun membutuhkan sinar matahari yang cukup, karena itu lamun dapat tumbuh baik di perairan dangkal yang berair jernih, sampai kedalaman 40 m atau sampai batas cahaya matahari dapat masuk. Lamun juga dapat tumbuh di perairan relatif keruh. Di daerah pasang surut, lamun tetap dapat bertahan, meskipun daun lamun terjemur hingga mengering, ini dikarenakan rimpang dan akar lamun dapat menyesuaikan diri dengan berbagai dasar perairan. Hal ini yang menyebabkan lamun dapat tumbuh di daerah bersubstrat pasir, lumpur atau bahkan di daerah pecahan karang (Azkab, 2006). Lamun merupakan tumbuhan yang beradaptasi penuh untuk dapat hidup di lingkungan laut. Adaptasi tersebut berupa toleran terhadap salinitas yang tinggi, kemampuan untuk menancapkan akar di substrat sebagai jangkar, dan juga kemampuan untuk tumbuh dan melakukan reproduksi pada saat terbenam. Lamun juga memiliki 8

karakteristik tidak memiliki stomata, mempertahankan kutikel yang tipis, perkembangan shrizogenous pada sistem lakunar dan keberadaan diafragma pada sistem lakunar. Salah satu hal yang paling penting dalam adaptasi reproduksi lamun adalah hidrophilus yaitu kemampuannya untuk melakukan polinasi di bawah air. Sebagian besar lamun berumah dua, artinya dalam satu tumbuhan hanya ada bunga jantan saja atau bunga betina saja. Sistem pembiakannya bersifat khas karena mampu melakukan penyerbukan di dalam air (hydrophilous pollination), buahnya pun terendam di dalam air (Nontji, 2007). Lamun biasanya terdapat dalam jumlah yang melimpah dan sering membentuk padang yang lebat dan luas di perairan tropik. Sifat-sifat lingkungan pantai, terutama dekat estuari, cocok untuk pertumbuhan dan perkembangan lamun. Seperti halnya mangrove, lamun juga hidup di lingkungan yang sulit pengaruh gelombang, sedimentasi, pemanasan air, pergantian pasang surut dan curah hujan (Romimohtarto & Juwana, 2007). 2.3. Echinodermata Echinodermata berasal dari bahasa Yunani Echinus berarti landak, dan derma berarti kulit. Semua jenis Echinodermata hidup dilaut, mulai dari daerah litoral sampai kedalaman 6.000 m. Termasuk dalam filum Echinodermata antara lain bintang laut, bulu babi, teripang dan lain-lain. Umumnya berukuran besar, yang terkecil berdiameter 1 cm

(Brotowidjoyo, 1994). 9

Anggota filum Echinodermata adalah penghuni lingkungan bahari, terutama di laut bentik. Ciri khasnya adalah tubuh yang menjurus lima tersusun mengelilingi suatu sumbu polar. Hewan ini memiliki kerangka dalam yang mempunyai duri (spine). Sistem pencernaan cukup berkembang, tetapi tidak memiliki sistem ekskresi. Kebanyakan anggota filum Echinodermata diosius, bersaluran reproduksi sederhana, fertilisasi berlangsung eksternal (Ruppert, 1991). Brotowidjoyo (1994), menyatakan hewan ini memiliki sistem digesti lengkap walaupun anus tidak berfungsi. Menurut Niel A. Campbell et al (2003), bahwa reproduksi seksual anggota filum Echinodermata pada umumnya melibatkan individu jantan dan betina yang terpisah (diosius) dan membebaskan gametnya ke dalam air. 2.3.1. Klasifikasi Echinodermata Echinodermata dibagi dalam 5 kelas utama yakni: teripang (Holothuroidea), bintang laut (Asteroidea), bintang ular (Ophiuroidea), bulu babi (Echinoidea) dan lili laut (Crinoidea). Hewan ini sangat umum di jumpai di daerah pantai terutama di daerah padang lamun dan terumbu karang. Di Indonesia dan sekitarnya (kawasan Indi-Pasifik Barat) terdapat teripang kurang lebih 141 jenis, bintang laut 87 jenis, bintang ular 142 jenis, bulu babi 84 jenis dan lili laut 91 jenis (Nontji, 2007). 2.3.2. Kelas Asteroidea Asteroidea amat mudah dikenali dari bentuknya seperti bintang berlengan lima atau lebih. Banyak ditemukan di daerah paparan terumbu 10

karang atau pantai pantai yang berpasir hingga yang berbatu. Beberapa jenis bintang laut mempunyai warna cerah yang indah : merah, jingga, biru atau dengan berbagai pola menarik dengan warna warna yang kontras. Oleh karena itu beberapa jenis bintang laut yang kecil sering pula digunakan sebagai penghias dalam akuarium (Nontji, 2007). Pada permukaan tubuh bintang laut terdapat pediselariae sebagai alat tambahan dan bentuk seperti angkup yang berfungsi untuk menghilangkan benda-benda asing di permukaan tubuhnya. Mulut bintang laut terdapat di bagian pusat pada sisi oral yang menghadap ke dasar laut, sedangkan duburnya terletak di sisi aboral yang menghadap ke atas (Gambar 1). Meskipun jarak antara mulut dan duburnya amat pendek, tetapi saluran pencernaannya cukup panjang yang melanjut sampai ke tiap lengan (Vinomo, 2007). Nontji (2007) menyatakan, dibagian bawah tiap lengan terdapat celah ambulakral yang memanjang, dan dari situ mencuat deretan kakikaki kecil berupa kakikaki tabung. Kaki kakinya dapat bergerak atau melekatkan diri pada dasar tempat dia berada.

Gambar 1. Morfologi Asteroid (Nontji, 2007) 11

Reproduksi Asteroid umumnya dioecious, mempunyai lima pasang gonad pada tiap tangan. Telur dan sperma dilepas ke air, pembuahan diluar dan setelah 2 hari menjadi blastula yang berenang bebas. Larva mulai makan pada saat saluran pencernaan sudah terbentuk. Makanan larva adalah fitoplankton dan partikel tersuspensi. Enam atau tujuh minggu kemudian larva turun ke substrat dan mengalami metamorfosa menjadi dewasa. Kebanyakan bintang laut berumur 10 tahun, tetapi ada yang mencapai 34 tahun (Romimohtarto & Juwana, 2007). Bintang laut dan beberapa Echinodermata mampu melakukan regenerasi. Bintang laut dapat menumbuhkan kembali lengan yamg hilang dan bahkan anggota satu genus dapat menumbuhkan kembali keseluruhan tubuh dari sebuah lengan (Niel et al. 2003). 2.3.3. Kelas Crinoidea Kelompok hewan ini dinamakan lili laut atau bintang bulu yang mempunyai bentuk yang indah. Sebagian dari mereka hidup dilaut tengah dan beberapa jenis mendiami laut dangkal seperti padang lamun dan terumbu karang. Ukurannya tidak lebih dari 40 cm panjangnya dan warna mencolok. Hewan ini memiliki tangkai, kelopak dan lengan. Setiap lengan bercabang dua atau lebih. Setiap cabang mempunyai rantingranting melintang disebut pinula dan cabang- cabang ini membuat hewan ini berbulu (Gambar 2). Hewan ini memakan plankton kecil dibawa oleh lengan, dilewatkan sepanjang alur ambulakral dengan bulu getar yang bergerak gerak. Mereka hewan peka, tetapi memiliki tingkat regenerasi 12

tinggi sehingga dapat dengan cepat menyembuhkan diri dari luka (Romimohtarto & Juwana, 2007).

Gambar 2. Morfologi Crinoid (Matranga, 2005) Crinoid memiliki sifat alami sebagai filter feeder. Ia berpegang pada batu atau tumbuhan dengan alat yang disebut cirri (Matranga, 2005). Salah satu contoh yang sangat umum adalah Comatula pectinata yang mempunyai 12 lengan. Jenis lainya Himerometra magnipinna yang warnanya cokelat kemerah merahan mempunyai 40 lengan (Nontji, 2007). 2.3.4. Kelas Echinoidea Echinoidea merupakan hewan yang permukaan tubuhnya

memiliki tonjolan-tonjolan pendek yang bulat yaitu tempat menempel duri yang tersusun dari zat kapur. Tubuhnya terdiri dari duri, kaki tabung, turberkel (Gambar 3). Kulit hewan ini terbungkus oleh suatu struktur yang berupa cangkang (test), terdiri dari lempengan-lempengan yang menyatu membentuk kotak seperti cangkang keras (Romimohtarto & Juwana, 2007).

13

Adakalanya duri pada tubuh echinoidea panjang, runcing, di dalamnya berlubang dan rapuh ada juga yang pendek dan tumpul. Racunnya sangat keras dan menyakitkan bagi manusia bila tertusuk. Pedicellaria pada bulu babi juga ada yang beracun, berfungsi untuk menghalau atau melumpuhkan binatang binatang kecil yang mengotori atau mengganggu. Hewan ini biasanya hidup di sela-sela pasir atau bebatuan pantai atau di dasar laut. Tubuhnya tanpa lengan hampir bulat atau gepeng (Sugiarto, 2007).

Gambar 3. Morfologi Echinoidea (Nontji, 2007) Echinoidea memiliki sistem pembuluh air seperti bintang laut. Saluran pencernaannya lengkap, terdiri atas mulut, esofagus, perut, usus yang panjang dan melingkar, rectum dan anus. Mulut bulu babi dan dolar pasir terletak dibawah dan ditengah, sedangkan bulu hati terletak berlawanan dengan anus yang berada di sisi atas (Romimohtarto & Juwana, 2007). Bulu babi memakan ganggang laut, hewan sessile, bangkai, beberapa jenis memakan detritus dan lain-lain. Reproduksi secara seksual, dioecious dan pembuahan di luar (Ruppert, 1991). Contoh hewan 14

echinoidea yang banyak ditemukan di dasar pasir dan terumbu karang adalah Diadema setosum. Bulu babi ini berwarna hitam dengan duri runcing dan panjang serta mudah patah (Romimohtarto & Juwana, 2007). 2.3.5. Kelas Holothuroidea Holothuroidea sering disebut teripang atau timun laut. Tubuhnya lunak, berbentuk seperti kantung memanjang. Mulutnya berada di satu ujung dan anusnya di ujung yang lain. Pada ujung terdapat mulut dikelilingi oleh tentakel-tentakel bercabang (Gambar 4). Tentakel ini berongga dan dapat memanjang karena tekanan air, hewan ini tidak memiliki duri (Sugiarto, 2007).

Gambar 4. Morfologi Holothuroidea (Nontji, 2007) Tubuh teripang (Holothuroidea) umumnya berbentuk bulat panjang atau silindris sekitar 10 30 cm. Tubuhnya berotot dapat dapat tipis atau tebal, lembek atau licin, kulitnya dapat halus atau berbintilbintil. Warnanya bermacam-macam ada yang hitam pekat, cokelat, abuabu atau mempunyai bercak-bercak atau garis pada punggung dan sisinya. Ia biasanya dijumpai menggeletak pada satu sisi saja yakni pada bagian tubuh yang berwarna lebih pucat (Nontji, 2007).

15

Teripang (Holothuroidea) merupakan golongan yang paling umum dijumpai. Hewan ini banyak terdapat di paparan turumbu karang, pantai berbatu atau berlumpur dan padang lamun. Bukan hanya dilaut dangkal, ada juga yang hidup di laut dalam sekitar 7.000 m. Susunan bentuk dasar tubuh Echinodermata tidak jelas terlihat pada bentuk luar teripang ini karena karangka luarnya tidak ada. Hewan ini sangat bergerak lamban sehingga seakan-akan teripang selalu dalam keadaan diam pada waktu kita lihat di alam bebas. Hewan ini mengeluarkan lendir yang beracun dari tubuhnya untuk melindungi diri dari musuhnya. Ada juga jenis yang menyemprotkan getah yang sangat lengket dari duburnya apabila diganggu (Nontji, 2007). 2.3.6. Kelas Ophiuroidea Bintang ular (Ophiuroidea) memiliki bentuk luar yang mirip dengan bintang laut tetapi lenganya langsing panjang dan dapat digerakgerakkan, yang dapat digunakan untuk merayap (Gambar 2.3.5). tubuh bagian tengahnya yang bundar pipih mempunyai batas yang tegas dengan lengan-lenganya. Celah ambulakralnya tak ada. Apabila merasa terancam atau terganggu hewan ini biasanya cendeung melepaskan atau memutuskan lenganya, oleh sebab itu orang inggris menyebutnya brittle star (brittle = rapuh) (Nontji, 2007).

16

Gambar 5. Morfologi Ophiuroidea (Nontji,2007) Hewan Ophiuroidea hidup dilaut, bersembunyi diantara rumput laut, dalam lumpur atau dalam pasir yang aktif pada malam hari dan hidup berenang, makanan terdiri dari moluska, krustacea, jasad renik dan zat organik yang sedang membusuk yang berada di dasar parairan. Cara makan dengan mengangkat lengan ke atas dalam air untuk menangkap plankton dan bahan makanan lainnya. Hewan ini tidak memiliki anus, makanan yang tidak dicerna dimuntahkan kembali keluar mulut (Romimohtarto & Juwana, 2007). Nontji (2007) menyatakan bintang mengular biasanya sukar dijumpai karena lebih senang pada tempat tempat yang agak gelap di bawah batu atau celah-celah karang. Diatom merupakan makanannya utama, tetapi ada pula yang memakan berbagai hewan kecil. Bintang ular tidak mempunyai anus. Makanan yang tidak tercernar dimuntahkan kembali melewati mulut. Kegiatan makan dilakukan dimalam hari di perairan dangkal. Menurut (Romimohtarto & Juwana, 2007) mereka terbagi dalam dua kelompok berdasarkan tipe lengan :

17

a. Lengan sederhana dan tak bercabang, bintang mengular b. Lengan banyak bercabang, bintang keranjang. Dengan bantuan lendir, lengan bercabang ini menjadi efektif sebagai penyaring untuk memisahkan plankton dan air. Mereka berkembang biak dengan kelamin terpisah, pembuahandi luar dan perkembangan melalui larva. Ada yang membawa telurnya kedalam kantung, tetapi sebagian besar melalui perkembangan larva planktonik sebelum masak telur (Romihtotarto & Juwana, 2007)

18

III. MATERI DAN METODE


3.1 Materi Kerja Praktek

3.1.1. Alat Alat alat yang digunakan dalam kerja praktek ini terdiri dari transek 1 x 1m. 3.1.2. Bahan Bahan yang digunakan dalam kerja praktek ini hanya terdiri dari larutan formalin 5% sebagai media pengawetan untuk sampel

Echinodermata yang diambil agar mempermudah proses identifikasi. 3.2 Metode Kerja Praktek

3.2.1. Metode Teknik Pengambilan Sampel Metode yang digunakan adalah metode transek kuadrat,

digunakan untuk menjangkau areal yang luas dengan waktu yang relatif singkat. Metode tersebut biasanya hanya menemukan jenis jenis yang umum terlihat, yaitu jenis yang populasinya relatif besar dan tersebar merata serta jarang tersembunyi. Heyer et al (1994) menyatakan bahwa metode transek merupakan salah satu metode terbaik untuk digunakan. 3.2.2. Prosedur Kerja Praktek 3.2.2.1. Proses Pengambilan Data dan Pemasangan Transek Transek berukuran 1x1m dipasang pada stasiun dengan panjang total 10 meter dan jarak antar transek satu dengan yang lainya sekitar 10 meter. Jumlah echinodermata yang didapat dimasukan ke dalam data. 19

Salah satu sampel diambil lalu diawetkan ke dalam formalin 5% untuk dilihat genusnya dalam skala lab. 3.2.3. Analisis Data Perhitungan populasi echinodermata bertujuan untuk mengetahui jumlah struktur komunitas echinodermata yang bersimbiosis dengan lamun. Perhitungan dilihat dari segi indeks keanekaragaman jenis (H), indeks kemerataan jenis (E), indeks Dominansi (C) dan kepadatan (indvidu/m2). 3.2.3.1. Kepadatan Individu (ind/m2) Untuk menghitung kepadatan menggunakan rumus: Keterangan: X A S ni = kepadatan individu/m2 = luas transek pengambilan sampel (m2) = jumlah transek pengambilan sampel = jumlah individu suatu spesies ke-i

3.2.3.2. Indeks Keanekaragaman (H) Perhitungan indeks keanekaragaman menggunakan rumus

Shannon Weiner (1963) dalam Nortiningsih et al (2008) sebagai berikut:

20

Keterangan : H ni N = Indeks keanekaragaman = Jumlah jenis ke-i = Jumlah total individu Indeks Keanekaragaman Jenis dapat dijadikan tolak ukur kualitas suatu komunitas perairan. Kriteria komunitas lingkungan berdasarkan Indeks Keanekaragaman Jenis menurut Lee et al. (1978) dalam Soegianto (1994) disajikan pada Tabel 1. Tabel 1. Kriteria Komunitas Lingkungan Berdasarkan Indeks Keanekaragaman Indeks Keanekaragaman Jenis Kriteria Indeks Keanekaragaman Jenis > 2,0 Tinggi 2,0 Sedang < 1,6 Rendah < 1,0 Sangat rendah

3.2.3.3. Indeks Kemerataan (E) Nilai indeks kemerataan jenis dapat menggambarkan kestabilan suatu komunitas. Nilai indeks kemerataan (E) berkisar antara 0-1. Semakin kecil nilai E atau mendekati nol, maka semakin tidak merata penyebaran organisme dalam komunitas tersebut yang didominansi oleh jenis tertentu dan sebaliknya semakin besar nilai E atau mendekati satu, maka organisme dalam komunitas akan menyebar secara merata (Krebs, 1989). Rumus dari indeks keseragaman Pielou (E) menurut Pielou (1966) dalam Odum (1983) yaitu sebagai berikut :

21

Keterangan : E H S =Indeks Keseragaman = Indeks Keanekaragaman = Jumlah spesies Sebaran fauna seimbang atau merata apabila mempunyai nilai indeks kemerataan jenis yang berkisar antara 0,6 - 0,8 (Odum, 1963). Berikut disajikan tabel kondisi suatu komunitas perairan berdasarkan nilai indeks kemerataan menurut Krebs (1989) pada Tabel 2. Tabel 2. Kriteria Komunitas Lingkungan Berdasarkan Indeks Kemerataan Nilai Indeks Kemerataan (E) Kondisi Komunitas 0,00 < E 0,50 Komunitas berada pada kondisi tertekan 0,50 < E 0,75 Komunitas berada pada kondisi labil 0,75 < E 1,00 Komunitas berada pada kondisi stabil 3.2.3.4. Indeks Dominansi (C) Perhitungan indeks dominansi menggunakan rumus Simpson

(1949) dalam Odum (1993) dan kategori indeks dominansinya yaitu: ( ) Keterangan : C ni N = Indeks Dominansi Jenis = jumlah individu tiap jenis = jumlah individu seluruh jenis Tabel 3. Kategori Indeks Dominansi Dominansi (C) Kategori 0,00 < D 0,50 Rendah 0,50 < D 0,75 Sedang 0,75 < D 1,00 Tinggi

22

3.3.

Lokasi dan Waktu Kerja Praktek Lokasi untuk pengambilan terletak di Pantai Karapyak, Desa

Bagolo, Kecamatan Kalipucang, Ciamis Jawa Barat pada posisi garis lintang 741'18.12"S dan garis bujur 10844'48.93"T pada tanggal 19 Maret 2011.

23

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Kepadatan Echinodermata Berdasarkan hasil pengamatan, pada empat stasiun didapatkan tiga kelompok kelas yaitu holothuroidea, echinoidea dan ophiuroidea, sedangkan kelas crinoidea kelas dan asteroidea tidak ditemukan. dua genus,

Echinodermata

pada

holothuroidea

ditemukan

sedangkan pada kelas echinoidea dan ophiuroidea masing-masing hanya ditemukan satu genus. Kelompok yang paling tinggi kehadirannya dalam pengamatan ini adalah Ophiuroidea yang ditemukan di semua stasiun pengamatan.

Individu/m2
6 5 4 3 2 2 1 1 0 Diadema setosum Ophiomastix annulosa Stichopus chloronotus Holothuria atra 1 5

Spesies

Gambar 6. Grafik Kepadatan Echinodermata di Pantai Karapyak Hasil perhitungan data pengamatan, kepadatan jenis

echinodermata di Pantai Karapyak berkisar antara 15 individu/m2. Hal ini menunjukkan adanya jenis echinodermata yang mendominasi. Hal ini

24

dimungkinkan karena adanya kompetisi atau persaingan dalam berbagai hal diantaranya ruang dan makanan. Kompetisi tersebut kemudian memunculkan beberapa jenis yang lebih kuat posisinya yang dilihat dari jumlah individu lebih banyak dibandingkan yang lain dalam satu area (Yusron, 2003). Beberapa jenis echinodermata seperti Stichopus chloronotus. dan Holothuria atra ditemukan tidak merata atau tidak hadir pada beberapa stasiun dengan nilai kepadatan terendah yaitu 1 individu/m2. Rendahnya nilai kepadatan ini menunjukkan sedikitnya kehadiran jenis tersebut di pantai Karapyak (Gambar 6). Hal ini diduga pula karena adanya kompetisi yang menjadikan jenis-jenis teripang ini tersisih dan jumlahnya menjadi lebih sedikit dibandingkan jenis echinodermata yang lain. Nilai kepadatan tertinggi dimiliki oleh jenis Ophiomastix annulosa (Ophiuroidea). Hal ini mungkin disebabkan oleh kondisi lingkungan baik secara fisik maupun kimia yang sesuai sehingga mendukung jenis ini hidup dengan baik, dan cukupnya makanan yang tersedia seperti detritus dan zat organik lainnya. Ophiomastix annulosa merupakan yang diduga mampu menentukan kondisi ekologik untuk pertumbuhannya. Hasil penelitian Yusron (2003) menyatakan, perairan Tapak Tuan, Aceh Selatan Nangroe Aceh Darussalam, didapatkan jumlah Ophiuroid yang lebih tinggi dibanding kelas yang lainya. Nilai kepadatan yang tinggi menunjukkan bahwa habitat pada lokasi tersebut mampu mendukung kehidupan organisme didalamnya. 25

Faktor lain diantaranya adalah cara hidupnya yang berkelompok sehingga meningkatkan daya saing hidupnya dengan jenis lain (Cappenberg, 2008). Odum (1971) menyatakan, penyebaran individu yang berkelompok diakibatkan oleh perubahan musim, perubahan habitat dan proses reproduksi. Sifat individu yang berkelompok dapat meningkatkan persaingan dalam mendapatkan makan dan ruang gerak. 4.2. Indeks Keanekaragaman Echinodermata Berdasarkan hasil perhitungan data pengamatan, nilai

keanekaragaman jenis echinodermata di Pantai Karapyak berkisar antara 0,5620,960 (Gambar 7). Ini menunjukan bahwa keanekaragaman echinodermata berada pada kisaran rendah yaitu < 1. Hal ini diduga karena hanya sedikit jenis-jenis echinodermata yang ditemukan pada stasiun-stasiun penelitian, dan hanya empat jenis yang mewakiili satu filum echinodermata menyebabkan nilai keanekaragaman yang sangat rendah. Tinggi rendahnya nilai indeks keanekaragaman jenis dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain jumlah jenis atau individu yang didapat dan adanya beberapa jenis yang ditemukan dalam jumlah yang melimpah dan kondisi ekosistem penting di daerah pesisir (padang lamun, terumbu karang dan hutan mangrove) sebagai habitat dari fauna perairan (Supono dan Ucu, 2010). Yusron (2009) menyatakan bahwa bila nilai keanekaragaman jenis kecil (<1) maka kondisi substrat perairan tersebut sudah buruk atau rusak. Dengan demikian dapat dikatakan 26

bahwa keanekaragaman jenis echinodermata di Pantai Karapyak berada dalam keanekaragaman jenis yang rendah dan kondisi substratnya rusak.
1.2 1 0.8 0.6 0.4 0.2 0 Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 0.562 0.598 0.96

0.917

Stasiun

Gambar 7. Grafik Keanekaragaman Echinodermata di Pantai Karapyak 4.3. Indeks Kemerataan Echinodermata Nilai rata-rata indeks kemerataan jenis yang didapat berkisar antara 0,811-0,874 (Gambar 8). Nilai kemerataan pada kondisi stabil ditemukan pada Stasiun 3 (mendekati 1). Hal ini diduga karena banyaknya jenis echinodermata yang ditemukan di stasiun tersebut dibandingkan dengan stasiun yang lain. Berdasarkan hal tersebut diduga bahwa stasiun tersebut memiliki mikrohabitat lamun yang tinggi sehingga sesuai habitat dengan organisme tersebut (Yusron dan Susetiono, 2005). Nilai indeks kemerataan di semua stasiun berada pada kisaran antara 0,751. Berdasarkan kriteria Krebs (1989), maka indeks kemerataan

27

echinodermata di Pantai Karapyak termasuk pada komunitas dengan kondisi stabil.


0.88 0.87 0.86 0.85 0.84 0.83 0.82 0.81 0.8 0.79 0.78 0.77 Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4 0.811 0.835 0.866 0.874

Stasiun

Gambar 8. Grafik Kemerataan Echinodermata di Pantai Karapyak 4.4. Dominansi Echinodermata Indeks dominansi echinodermata di Pantai Karapyak berkisar antara 0,431 0,625 (Gambar 9). Berdasarkan Odum (1983), kriteria nilai dominansi (Tabel 2) pada stasiun 1 dan 2 termasuk golongan sedang karena berada pada kisaran antara 0,5 0,75, dan stasiun 3 dan 4 termasuk golongan rendah karena berada pada kisaran di bawah 0,5. Hal ini mungkin dikarenakan pada stasiun 1 dan 2 kondisinya kurang stabil untuk menjadi habitat lebih banyak spesies dibandingkan stasiun 3 dan 4. Terdapat 2 spesies yang ada di stasiun 1 dan 2 dengan jumlah yang hampir berbeda. Hal ini menunjukkan persentase salah satu spesiesnya lebih dominan walau masih dalam taraf sedang. Sedangkan pada stasiun 3 dan 4 indeks dominansinya termasuk rendah karena terdapat 3 spesies didalamnya yang masing-masing jumlahnya hampir sama. Stasiun 3 dan 4 28

cenderung memiliki jumlah spesies yang merata sehingga persentase masing-masing spesies tidak tergolong dominan. Hal di atas sesuai dengan pendapat Kaswadji (1976) yang menyatakan bahwa banyak sedikitnya spesies yang terdapat dalam suatu perairan akan mempengaruhi indeks dominansi, meskipun nilai ini sangat tergantung dari jumlah individu masing-masing spesies. Menurut Widodo (1997), faktor utama yang mempengaruhi jumlah organisme, keragaman jenis dan dominansi antara lain adanya perusakan habitat alami seperti pengkonversian lahan, pecemaran kimia dan organik, serta perubahan iklim. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembentukan habitat hewan menurut Ningsih (2009) adalah ketersediaan sumber makanan, tempat bersarang, predator, kondisi mikrohabitat.
0.7 0.6 0.5 0.4 0.3 0.2 0.1 0 Stasiun 1 Stasiun 2 Stasiun 3 Stasiun 4

0.625

0.592

0.431

0.438

Stasiun

Gambar 9. Dominansi Echinodermata di Pantai Karapyak Indeks dominansi tertinggi terdapat pada stasiun 1, sedangkan yang terendah pada stasiun 3. Kondisi ini berbanding terbalik dengan

29

nilai keanekaragaman dan kemerataan dimana yang tertinggi pada kedua nilai tersebut terdapat pada stasiun 3, dan yang terendah pada stasiun 1. Hal ini sesuai dengan pendapat Odum (1971) yang menyatakan bahwa bila nilai-nilai indeks keanekaragaman dan kemerataan jenis rendah menunjukkan adanya konsentrasi dominan yang tinggi.

30

V. KESIMPULAN DAN SARAN


5.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan pada penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: 1. Echinodermata yang ditemukan di Pantai Karapyak yaitu Diadema setosum dengan kepadatan 2 individu/m2, Ophiomastix annulosa 5 individu/m2, Stichopus chloronotus 1 individu/m2, dan Holothuria arta 1 individu/m2. 2. Pantai Karapyak memiliki indeks keanekaragaman jenis (H) echinodermata pada kriteria sangat rendah, indeks kemerataan jenis (E) echinodermata pada kondisi stabil, dan indeks dominansi (C) echinodermata dalam kategori rendah. 5.2. Saran Berdasarkan informasi kondisi echinodermata yang telah

disebutkan pada kesimpulan penelitian ini, sebaiknya dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai kajian faktor yang mempengaruhi kondisi echinodermata di Pantai Karapyak, seperti kualitas air, kondisi lamun, rumput laut, dan karang.

31

DAFTAR PUSTAKA
Azkab, H. M. 2006. Ada Apa dengan Lamun. Oseana. XXXI : 4555. Bengen, D.G. 2001. Sinopsis ekosistem dan sumberdaya alam pesisir. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Lautan, Institut Pertanian Bogor. Brotowidjojo, M.D. 1994. Zoologi Dasar. Jakarta: Erlangga. Hlm: 118-124. Cappenberg, H.A.W. 2008. Moluska Bentik di Perairan Muara Sungai Cisadane, Tangerang, Banten. Pusat Penelitian Oceanografi LIPI. 34 : 13-23. Darsono, P., & A. Aziz. 2002. Komunitas ekinodermata dari beberapa pulau di daerah Sulawesi Utara. Majalah Ilmu Kelautan. 26 (7): 77-88 Heyer, W.R., M.A. Donnelly, R.W. McDiarmid, L.C. Hayek, & M.S. Foster (eds.). 1994. Measuring and monitoring biological diversity: Standard methods for Amphibians. Smithsonian Institution Press, Washington: 103107. Howard, R.K., G.J. Edgar and P.A. Hutchings 1989 Faunal assemblages os seagrass beds. In : A. W. D, LARKUM., A.J Mc. COMB and S.A. SHERPHERD (eds.). Biology of Seagras. Elsevier. Amsterdam : 536 564. Kaswadji, R.F. 1976. Preliminary study on the distribution and phytoplankton abundance in Upang Delta, South Sumatera. Undergraduate Thesis. Faculty of Fisheries, Bogor Agriculture Institute. Unpublished. (In Indonesian). Kiswara, W. 2004. Kondisi Padang Lamun (Seagrass) di Perairan Teluk Banten Tahun 1998 2001. Pusat Pengetahuan Oseanografi, Jakarta. Krebs, C.J. 1989. Ecology: The Experimental Analysis of Distribution and Abundance Third Edition. Harper and Row Publisher, New York. 776 pp. Mann, K.H. 2000. Ecology of Coastal Water : With Implication for Management. Blackwell Science, Inc. Massachusets. Matranga. V, Zito. F, Costa. C, Sciarrino. S, Cavalcante. C and Poma. V. 2005. Cell Adhesion and Communication: A Lesson from Echinoderm

32

Embryos for the Exploitation of New Therapeutic Tools. Verlag Berlin Heidelberg. Niel, A. C, Jane, B. R & Lawrence, G. M. 2003. Biologi. Edisi 5. Jilid 2. Jakarta: Erlangga. Hlm: 240-242. Ningsih, H. 2009. Struktur Komunitas Pohon Pada Tipe Lahan Yang Dominan Di Desa Lubuk Beringin, Kabupaten Bungo, Jambi. Skripsi Program Studi Biologi Sekolah Ilmu Dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung. Nontji, A. 2007. Laut Nusantara. Jakarta: Djambatan. Hlm: 201-210. Noortiningsih., I. S. Jalip, dan S. Handayani. 2008. Keanekaragaman Makrozoobenthos, Meiofauna dan Foraminifera di Pantai Pasir Putih Barat dan Muara Sungai Cikamal Pangandaran, Jawa Barat. Jurnal
Vis Vitalis, Vol. 01 No. 1, tahun 2008

Nybakken, J. W. 1988. Biologi Laut Suatu Pendekatan Ekologis. Jakarta: PT. Gramedia. Hlm: 198. Odum, E. P. 1971. Fundamental of Ecology, Third Edition. W.B. Soundeerss. Company Phyladelphia, London. 697 pp. Odum, E.P. 1983. Basic Ecology. Saunders College Publishing, New York. Prahoro, P., M.M. Wahyono dan W. Santoso. 1992. Sumberdaya Moluska di Perairan Teluk Pemenang, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Pen. Perikanan Laut. 71 : 39-46 Ravera, O. 1979. Biology Aspects of Fresh Water Pollution. Pergamon Press. London. 84-102 pp. Romimohtarto, K. & S. Juwana. 2007. Biologi Laut. Jakarta: Djambatan. Hlm: 245-250. Ruppert, E. E. & Barnes D. R. 1991. Invertebrate Zoology. Sixth Edition. America: Sounders College Publishing. Hlm: 921-927. Sugiarto, H. 2007. Warta Oseanografi. Jakarta: Pusat Penelitian Oseanografi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Hlm: 8. Supono, 2009. Komunitas ekinodermata padang lamun perairan Likupang Timur, Sulawesi Utara. Dalam: Perairan Maluku dan Sekitarnya. UPT LKBL Ambon : 12 hal.

33

Supono dan Susetiono,2008. Struktur komunitas ekinodermata di beberapa Lokasi perairan Wori, Sulawesi Utara : 17 hal (unpublished). Supono dan U. Y. Arbi, 2010. Struktur Komunitas Ekhinodermata di padang lamun perairan Kema, Sulawesi Utara. Oseanologi dan Limnologi Indonesia 36(3): 329-341. Vinomo, B. I. 2007. Sekilas Mengenai Landak. Oseana Majalah Ilmiah Semi Populer 2007. Jakarta: Lipi Pusat Penelitian Oseanografi. Hlm: 38. Wardhana, W. A. 1995. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yokyakarta: Penerbit Andi. hlm: 90. Widodo, J. 1997. Biodiversitas sumber daya perikanan laut peranannyadalam pengelolaan terpadu wilayah pantai. Prosiding Simposium Perikanan Indonesia II, Ujung Pandang, 2-3 Desember 1997. Yusron, E. Beberapa Catatan Fauna Ekhinodermata Dari Perairan Tapak Tuan, Aceh Selatan Nangroe Aceh Darussalam. Makara Sains, 7 (3) : 97-104. Yusron, E. Keanekaragaman Jenis Ekhinodermata di Perairan Teluk Kuta, Nusa Tenggara Barat. Makara Sains 13 (1) : 45-49. Yusron, E. dan Susetiono 2005. Fauna ekinodermata dari perairan Tanjung Merah, Selat Lembeh Sulawesi Utara. Makara Sains 2 (9) : 6065.

34

Lampiran 1.

LAMPIRAN

35 Gambar Peta Lokasi Penelitian

Lampiran 2. Gambar Stasiun Tempat Pengambilan Sampel

Stasiun 1

Stasiun 2

36

Stasiun 3

Stasiun 4 Lampiran 3. Kepadatan (individu/m2)


X

ni
i 1

A S

X Diadema sp. X Ophiumastix sp.

= =

= 1,75 = 2 individu/m2 = 5,25 = 5 individu/m2

37

X Stichopus sp. X Holothuria sp.

= =

= 0,75 = 1 individu/m2 = 0,75 = 1 individu/m2

Lampiran 4. Indeks Keanekaragaman H Stasiun 1 = = ( )+( )

= - ((-0,215761554) + (-0,34657359)) = - (-0,562335144) = 0,562335144 = 0,562 H Stasiun 2 = = ( )+( )

= - ((-0,240337311) + (-0,357932276)) = - (-0,598269587) = 0,598269587 = 0,598 H Stasiun 3 = = ( )+( )+( )

= - ((-0,34657359) + (-0,314414625) + (-0,298626578) = - (-0,959614793) = -0,959614793 = 0,960 H Stasiun 4 = = ( )+( )+( )

= - ((-0,367854877) + (-0,330619529) + (-0,217990479) = - (-0,916464885) = -0,916464885 = 0,917 Lampiran 5. Indeks Kemerataan E Stasiun 1 = = = 0,811 E Stasiun 2 =

38

= = 0,866 E Stasiun 3 = = = 0,874 E Stasiun 4 = = = 0,835 Lampiran 6. Indeks Dominansi ( ) C Stasiun 1 = ( C Stasiun 2 = ( C Stasiun 3 = ( C Stasiun 4 = (
2

+( +(
2

=( =(
2

= 0,625 = 0,592
2

+( +(

+( +(

= =

= 0,431 = 0,438

Lampiran 7. Hasil Pengamatan Echinodermata di Pantai Karapyak Stasiun 1 2 3 Diadema sp. 0 0 3 Ophiomastix sp. 3 5 7 Stichopus sp. 1 2 0 Holothuria sp. 0 0 2 Jumlah (N) Spesies Total individu 7 21 3 3 34 Kepadatan (ind/m2) 2 5 1 1 (H)

4 4 6 0 1

1,051

39

Lampiran 8. Gambar Pengambilan Sampel Echinodermata di Pantai Karapyak

40