Anda di halaman 1dari 7

A. Pengantar Boeing pertama kali didirikan pada tahun 1934 oleh dengan jumlah pekerja 227.

000, Boeing merupakan perusahaan aerospace dan pertahanan terbesar di dunia. Terdiri dari 3 divisi yang pertama adalah penerbangan komersil, sistem pertahanan yang terintegrasi, dan penyewaan aircraft. Dari ketiga divisi itu yang menjadi sumber pemasukan terbesar adalah penerbangan komersil. Tujuan dari Boeing sendiri adalah untuk memahami dan mengambil keuntungan dari perubahan pasar, dan untuk mengurangi pemborosan dan meningkatkan pemakaian yang optimal dari sumber daya yang ada. Competitive advantage Boeing terletak pada kualitas produknya terutama industri aerospace. Hal ini terbukti dari kepercayaan pemerintah memberikan kontrak kepada Boeing untuk menggarap proyek-proyek mereka. Begitu juga berkaitan dengan aircraft militer yang mayoritas merupakan hasil karya Boeing. Boeing pada awalnya adalah perusahaan yang berfokus pada produk. Hal ini berarti bahwa Boeing menunjukkan komitmennya dalam menjaga kualitas demi kenyamanan dan kepuasan pelanggan. Para pekerja juga memiliki kebanggaan yang tinggi atas hasil karya mereka karena Boeing berhasil membuktikan akan kepiawaiannya menguasai pasar penerbangan komersil dilihat dari kualitas produk-produk dan penawaran yang diajukan. Pada perkembangan selanjutnya Boeing melakukan merger dengan Douglas dan berakibat timbulnya beberapa perubahan terutama pada fokus manajemen yang awalnya adalah produk kemudian menjadi stock price. Shareholder menjadi kunci pada perkembangan Boeing yang baru. Meskipun begitu, ternyata perubahan ini tidak menimbulkan kepuasan para pekerja karena pemimpin yang baru lebih mementingkan pertemuan Wall Street dibandingkan memikirkan kemajuan dari perusahaan. Boeing

melakukan outsource terbanyak ketika memproduksi 787 yang meliputi manufaktur dan design. Meskipun awalnya terlihat baik-baik saja akan tetapi perubahan internal yang terjadi berdampak pada kualitas produk dan jasa yang diberikan oleh Boeing. Terbukti dari keterlambatan produk dan pengeluaran ekstra yang menyebabkan menurunnya kepercayaan pelanggan.

B. Pemaparan Kasus Tragedi WTC 9/11, sekelompok teroris membajak empat pesawat produksi Boeing dan menabrakkan keempat pesawat tersebut ke menara WTC, Pentagon, serta sebuah lahan di Pennsylvania yang menewaskan lebih dari 5.000 orang, membawa dampak yang besar dan buruk pada industri penerbangan serta pasar finansial dunia. Alan Mullaly, CEO Boeing beserta ketua umum Philip M. Condit memutuskan pada 19 September 2001 untuk memotong 20% sampai 30% dari 96.000 orang yang bekerja pada unit penerbangan komersil Boeing, dengan maksud menghadapi dampak dan lingkungan yang tidak jelas yang akan dihadapi oleh para pelanggan penerbangan komersil dan perusahaan Boeing sendiri

(http://www.businessweek.com/bwdaily/dnflash/sep2001/nf20010919_2675.htm). Tahun 2009, perusahaan Boeing mengumumkan bahwa mereka akan memutuskan hubungan kerja dari sekitar 4.500 tenaga kerja dari penerbangan komersil mereka sebagai bagian dari tindakan untuk memotong pengeluaran ditengah-tengah melemahnya ekonomi dunia. Mr. Scott Carson, presiden dan CEO dari Boeing Commercial Airplanes mengatakan bahwa, Kami mengambil tindakan yang berhati-hati untuk memastikan Boeing tetap kuat diposisinya pada lingkungan ekonomi yang sulit sekarang ini.

Boeing mengatakan bahwa sebagian besar dari PHK yang akan mereka lakukan akan dipastikan untuk terjadi di negara bagian Washington pada kwartal kedua di tahun 2009. Pada saat itu Boeing mempekerjakan sekitar 76.400 orang di negara bagian tersebut, dan sebagian besar dari mereka bekerja di bagian penerbangan komersil. Namun, bagian penerbangan komersil Boeing juga meluncurkan sebuah program untuk mengurangi pengeluaran tambahan. Menurut AOL, Boeing menempati peringkat ke 7 dari 10 perusahaan dengan jumlah PHK terbanyak dalam satu waktu, dengan jumlah 31.000 pekerja pada September 2001, yang diakibatkan oleh tragedi WTC 9/11. Posisi ke-10 ditempati oleh Daimler Chrysler dengan jumlah 26.000 pada Januari 2001, sementara posisi ke-1 ditempati oleh IBM dengan jumlah 60.000 pada Juli 1993.

C. Analisis Kasus Downsizing bertujuan untuk memberhentikan pekerja secara permanen selain itu juga diperkirakan mampu memotong anggaran yang berlebih dan meningkatkan keuntungan. Sayangnya banyak perusahaan yang justru mengalami kegagalan akibat kebijakan yang mereka terapkan. Downsizing dianggap sebagai sebuah strategi sumber daya manusia yang efektif dalam meningkatkan daya saing global. Biaya tenaga kerja, yang secara umum merupakan salah satu biaya yang lebih besar bagi sebagian besar organisasi dapat diminimalisir melalui downsizing. Dalam banyak kasus, pada proses downsizing terdapat didalamnya outsourcing atau memberikan pekerjaan ke luar organisasi yang sebelumnya dikerjakan dalam organisasi tersebut. Meskipun organisasi biasanya menganggap downsizing penting agar organisasi tersebut tetap kompetitif, strategi ini tidak selalu menghasilkan peningkatan pada keuntungan maupun performa organisasi.

Lebih jelas lagi, alasan mengapa downsizing terjadi adalah bahwa banyak pekerjaan yang diberikan keluar organisasi atau outsourcing, baik secara domestik atau internasional, guna mengurangi pengeluaran tambahan. Terdapat tiga alasan mengapa sebagian besar perusahaan mengadakan kontrak tambahan untuk pekerjaan mereka, yaitu: a. Menurunkan total biaya produksi Didapatkan dengan cara melakukan relokasi pekerjaan pada daerah dengan upah berbiaya rendah, baik secara domestik atau internasional. b. Membantu dalam mendapatkan pangsa pasar Kadangkala suatu perusahaan diwajibkan oleh daerah lokal tempat perusahaan itu berada untuk memproduksi komponen komponen secara lokal. Negara negara lainnya membutuhkan fasilitas produksi agar bisa mendapatkan akses pada pasar mereka. c. Keinginan untuk menurunkan jumlah total biaya produksi Banyak negara yang akan berkontribusi terhadap biaya perkembangan dari suatu perusahaan agar bisa mendapatkan pabrik produksi dan mengembangkan industri dari perusahaan tersebut. Boeing dihadapkan pada perubahan dan permintaan yang tinggi serta teknologi yang lebih baik. Selain itu terjadi penurunan bisnis pesawat komersil dan pemotongan dalam pengeluaran alutista nasional. Dengan adanya kepentingan untuk melakukan ekspansi yang lebih besar ke pasar internasional dan adanya kerugian tersebut maka perusahaan mengambil kebijakan untuk meminimalkan pengeluaran. Hasilnya, Boeing men-downsize sekitar 55.000 pekerjaannya dalam kurun waktu 5 tahun, dari tahun 1997 sampai tahun 2002. Berkaitan dengan downsizing, satu survei yang dilakukan oleh Society for Human Resource Management menemukan bahwa hanya 26% dari organisasi yang melaporkan

peningkatan pada produktivitas, sementara 58% lainnya melaporkan bahwa produktivitas berjalan di tempat atau mengalami penurunan setelah downsizing dilakukan (The Washington Post, 1996). Sebagai tambahan, studi tersebut menemukan bahwa sekitar 54% dari perusahaan yang diteliti melakukan PHK pada tahun 1996 namun hanya 25% yang mengharapkan downsizing secara lebih lanjut. Apapun kelanjutan dari downsizing di masa depan, banyak perusahaan yang menggunakan strategi bisnis ini untuk memenuhi permintaan dan tantangan dari kompetisi di Amerika Serikat dan secara global. Lantas apa yang terjadi pada para pekerja yang masih bertahan? Mereka tetap bekerja akan tetapi tidak sesuai dengan ketrampilannya. Sehingga setiap orang haruslah beradaptasi dan mempersiapkan diri jika terjadi perputaran lagi ke bagian yang meminta keahlian yang berbeda. Selain itu pekerja yang bertahan juga mengalami penurunan gaji. Sementara itu manajemen perusahaan, ikatan tenaga kerja, komunitas lokal, sejumlah tingkatan kepemerintahan, dan berbagai sekolah umum secara kolektif bekerja sama untuk membentuk Reemployment Centers untuk membantu transisi dari para tenaga kerja yang sebelumnya terspesialisasi agar dapat bekerja kembali (Mueller, Van Deusen, Hornsby; 1998). Reemployment Center merupakan upaya Boeing dalam

mensejahterakan bekas karyawan mereka yang sebelumnya merupakan korban dari downsizing yang dilakukan oleh Boeing pada beberapa kesempatan sebelumnya, seperti saat kelesuan ekonomi dunia dan tragedi WTC 9/11. Sebagai contoh, menyusul PHK yang dilakukan Boeing di negara bagian Washington pada tahun 1993, Boeing bekerja sama dengan ETA (Employment & Training Administration) Regional Dislocated Worker Team bagian Seattle, LMC (Labor Management Committee), dengan pendanaan dari berbagai macam sumber seperti dari pemerintah, Federal, serta swasta secara sukses telah menghasilkan program yang

komprehensif dan customer-focused yang membantu karyawan karyawan untuk bekerja kembali. Fase awal dari program tersebut memfokuskan pelayanan pada konseling dan asesmen karir, beserta konseling stres dan finansial. Setelah para pekerja mendapatkan karir baru yang mereka inginkan, mereka dapat mengambil program latihan jangka panjang sampai dua tahun untuk mendapatkan ketrampilan yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang bersangkutan. Ketika para pekerja menyelesaikan latihan mereka, pelayanan difokuskan pada pencarian dan penempatan kerja. Langkah lain yang dilakukan Boeing dalam menghasilkan downsizing yang sukses dan manusiawi diantaranya dengan memberikan pemberitahuan PHK selama dua minggu kepada sebagian porsi karyawan daripada dengan memutuskan PHK sepenuhnya dalam beberapa bulan. Pemberitahuan untuk para calon karyawan juga diberikan selama satu bulan sebelumnya sembari memberikan pesangon yang sesuai. Strategi ini mematuhi undang - undang yang berlaku. Boeing juga memberikan kepada para

karyawan yang mereka PHK keuntungan sebesar 343$ per minggu, selama 30 minggu. Dari penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa downsizing yang diterapkan perusahaan memberikan pengaruh negatif pada individu akan tetapi hal tersebut juga membantu perusahaan untuk bisa bertahan dan berkompetisi dengan pihak lain (http://febzki18402.blogspot.com/2008/06/evaluation-on-downsizing-of-boeing.html). Awalnya memang perusahaan mengalami kesulitan dengan kondisi yang ada tetapi para pekerja mampu beradaptasi dengan baik dan menunjukkan hasil yang cukup memuaskan sehingga perlahan-lahan perusahaan bisa bangkit kembali dan memastikan posisi mereka di pasar internasional tetap stabil. Sekalipun Boeing terbukti melakukan downsize secara besar-besaran terhadap pekerjanya akan tetapi Boeing tetap memperhatikan kesejahteraan mereka dengan

memberikan bekal baik psikologis nmaupun secara finansial guna membantu mereka untuk bertahan dan mencari pekerjaan untuk kelangsungan hidup mereka.