Anda di halaman 1dari 9

1 INVESTIGASI KANDUNGAN LOGAM BESI PADA TANAMAN KANGKUNG DENGAN METODE MAGNETIK Raos Aji K.

, Agus Yulianto dan Sulhadi Jurusan Fisika FMIPA Universitas Negeri Semarang Kampus Sekaran, Gunungpati, Semarang, 50229, Indonesia Abstrak Fenomena respon tumbuhan terhadap medan magnet telah menarik para peneliti untuk mengkajinya lebih jauh karena sebagai organisma yang tidak dapat bergerak bebas, tumbuh kembang tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan di sekelilingnya. Kangkung dikenal masyarakat sebagai tanaman yang mengandung zat besi relatif tinggi. Dengan tingginya kandungan zat besi tersebut diduga tanaman kangkung memiliki respon medan magnet luar yang mudah dideteksi. Studi ini dilakukan untuk menyelidiki kebenaran anggapan masyarakat mengenai tingginya kadar besi tanaman kangkung, serta dampak medan magnet terhadap nilai suseptibilitas tanaman kangkung. Selain itu juga untuk melihat kemungkinan pemanfaatan energi medan magnet untuk peningkatan kadar zat besi dan pengkonsentrasian zat besi pada bagian tertentu tumbuhan kangkung. Penelitian dilakukan dengan menumbuhkan tanaman kangkung dalam solenoida yang dialiri arus listrik searah. Besar arus searah dibuat bervariasi, yaitu 0,20mA, 0,15mA, 0,10mA, serta 0,08mA dengan harapan dapat memberikan pengaruh medan magnet yang bervariasi pula selama proses pertumbuhan tanaman. Di gunakan masing-masing 4 tanaman kangkung untuk setiap variasi kuat arus. Tanaman yang tumbuh normal (tanpa pengaruh medan) telah digunakan sebagai kontrol. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa nilai suseptibilitas ( m ) dari seluruh sampel adalah negatif berkisar antara -19,5 x10-8m3/kg hingga -24,6 x 10-8 m3/kg untuk bagian batang dan 11,3 x 10-8 m3/kg hingga -30,6 x 10-8 m3/kg untuk bagian daun yang mengindikasikan bahwa secara keseluruhan sampel tersebut adalah bahan diamagnetik. Suseptibilitas media tanam yang di gunakan, di peroleh nilai suseptibilitas antara 1014,7 x 10-8m3/kg hingga 1794,8 x 108 3 m /kg. Dari kedua hasil penelitian ini maka diduga kuat bahwa yang menjadi penyebab tingginya kandungan besi dalam tanaman kangkung adalah lama masa pertumbuhan dan medium tanamnya. Analisis kandungan kimia dengan spektroskopi serapan atom (SSA) mendukung hasil pengukuran suseptibilitas sampel yang bernilai negatif. Kata kunci : suseptibilitas magnetik ( m ), spektroskopi serapan atom (SSA), kangkung, zat besi

1. Pendahuluan Semua material akan memperlihatkan gejala kemagnetannya bila berada pada medan magnet. Sifat ini muncul sebagai respon dari gerakan-gerakan elektron, baik gerak orbital mengelilingi inti atom ataupun gerakan spin terhadap sumbunya sendiri. Gerakan ini yang menimbulkan adanya momen magnet pada atom.

2 Secara kemagnetan, semua unsur yang ada di alam semesta dibedakan ke dalam bahan atau unsur yang lebih memiliki sifat kemagnetan feromagnetik, paramagnetik, atau diamagnetik, tidak terkecuali unsur-unsur hara penyusun jaringan tumbuhan dan berbagai senyawa organik di dalam sitoplasma tumbuhan. Keberadaan medan magnet di sekitarnya diduga mempengaruhi polarisasinya/magnetisasinya. Keberadaan medan magnit di sekitar bahan/unsur yang bersifat diamagnetik akan menyebabkan bahan/unsur tersebut mengalami magnetisasi dengan arah yang berlawanan dengan medan magnet tersebut sedangkan arah magnetisasi bahan/unsur yang bersifat feromagnetik dan paramegnetik akan searah dengan medan magnet (Reitz dkk., 1994). Fenomena respon tumbuhan terhadap medan magnet telah menarik para peneliti untuk mengkajinya lebih jauh. Hal ini karena sebagai organisma yang tidak dapat bergerak bebas, tumbuh kembang tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan di sekelilingnya termasuk gelombang elektromagnetik, baik berupa gelombang medan magnet maupun medan listrik. Pengaruh medan magnet terhadap metabolisma tumbuhan sudah banyak dilakukan, namun respon tumbuhan terhadap perlakuan medan magnet berbeda tergantung pada kuat medan magnet dan lama perlakuan, jenis, dan umur tumbuhan ( Esitken dan Turan, 2004). Beberapa sumber makanan dikenal masyarakat sebagai sumber zat besi. Diantara sumber tersebut adalah bayam, kangkung, kacang-kacangan, daging, serta ikan. Anggapan mengenai tingginya kadar zat besi ini memicu anggapan lainnya mengenai tumbuhan kangkung yang dapat menyebabkan kantuk (http://tanyasaja.detik.com), sehingga perlu dilakukan penyelidikan lebih lanjut mengenai kebenaran anggapan masyarakat ini. Penelitian dengan menggunakan metode magnetik yang dilakukan ini adalah pada tanaman kangkung. Kangkung dikenal masyarakat sebagai tanaman yang mengandung zat besi relatif tinggi. Dengan tingginya kandungan zat besi tersebut diduga tanaman kangkung memiliki respon medan magnet luar yang mudah dideteksi. Oleh karena itu metode pengukuran magnetik dapat digunakan untuk mengidentifikasi sifat mineral logam tumbuhan, yaitu melalui pengukuran suseptibilitas magnetik ( m ). Suseptibilitas magnetik ( m ) adalah kerentanan dari suatu bahan oleh medan magnet luar. Merujuk pada observasi sebelumnya bahwa tanaman kangkung yang tumbuh secara alami di daerah tercemar telah menunjukkan nilai suseptibilitas magnetik yang positif. Diketahui nilai suseptibilitas magnetik tanaman kangkung ditentukan oleh kandungan

3 unsur besi pada bagian tanaman yang diukur ( Aji, 2005 ). Berdasarkan fenomena di atas, studi ini dilakukan untuk menyelidiki kebenaran anggapan masyarakat mengenai tingginya kadar besi tanaman kangkung, serta dampak medan magnet terhadap nilai suseptibilitas tanaman kangkung. Selain itu juga untuk melihat kemungkinan pemanfaatan energi medan magnet untuk peningkatan kadar zat besi dan

pengkonsentrasian zat besi pada bagian tertentu tumbuhan kangkung. 2. Pelaksanaan Eksperimen Dalam penelitian ini digunakan benih kangkung super (kangkung darat / Ipomoea reptana Poir) diperoleh dari toko benih. Benih memiliki daya tumbuh minimal 70% dan kemurnian 98% . Pengukuran suseptibilitas juga dilakukan pada kangkung darat segar dan kangkung air segar yang didapat dari pasaran guna membandingkan hasil dengan sampel yang ditanam di dalam greenhouse. Media tanam yang digunakan adalah kompos dengan campuran pasir tanpa campuran pupuk kimia. Sebagai sumber medan magnet digunakan solenoida yang dihubungkan dengan transformator yang telah diberi dioda. Kuat arus, jumlah lilitan, jari-jari soleinoda ditentukan sedemikian rupa sehingga dapat dihasilkan kuat medan magnet sesuai dengan yang diinginkan dalam penelitian ini. Posisi arah arus diatur sehingga arah medan magnet menjauhi pusat bumi. Selama penumbuhan dalam medan magnet, tanaman dimasukkan dalam greenhouse untuk melindungi tanaman dari gangguan luar yang tidak diinginkan. Benih kangkung darat disemaikan pada media tanam kompos dan tanah hingga tumbuhan berumur 1 minggu tanpa tambahan pupuk kimia. Benih yang telah tumbuh dipindah dalam pot-pot dengan media tanam yang sama dan diletakkan di dalam soleinoda. Arus searah dialirkan dalam solenoida dengan variasi arus 0,20mA, 0,15mA, 0,10mA, 0,08mA. Selama pengamatan, kandungan air dikontrol sehingga asupan tumbuhan untuk setiap perlakuan diusahakan tetap sama. Tumbuhan kangkung tanpa perlakuan magnetik ditumbuhkan dalam media tanam yang sama sebagai pembanding pengukuran (gambar A). Tumbuhan kangkung yang lain ditubuhkan di dalam medan magnet dengan variasi kuat medan magnet (gambar B).

tanaman kangkung catu daya dc

tanaman kangkung
+

solenoida

(A)

(B)

Gambar 1. (A) Tumbuhan kangkung tanpa perlakuan magnetik, (B) Tumbuhan kangkung ditubuhkan di dalam medan magnet yang bervariasi.

Daun dan batang tumbuhan hasil perlakuan tersebut diukur suseptibilitas magnetiknya untuk mengetahui pengaruh medan magnet terhadap distribusi zat besi tumbuhan kangkung. Sebelum diukur, contoh tanaman kangkung di potong-potong sesuai bagian yang diperlukan dan di oven dengan temperatur + 500 C selama 5 menit. Setelah di oven, sampel dikeringkan dengan diangin-anginkan tanpa terkena terik matahari langsung. Selanjutnya masing-masing potongan dihaluskan hingga berbentuk serbuk dengan cara ditumbuk. Serbuk kering daun atau batang kangkung disiapkan menjadi sampel yang siap diukur dengan cara dimasukkan ke dalam pot plastik berbentuk silinder dengan ukuran diameter d = 2,5 cm dan tinggi t = 2,5 cm. Ukuran ini disesuaikan dengan alat ukur yang digunakan. Setiap 2 tanaman dari perlakuan medan yang sama dijadikan 1 sebelum diukur suseptibilitas magnetiknya. Sample diukur suseptibilitasnya pada bagian batang & daun, selanjutnya sampel dari perlakuan medan yang sama dijadikan 1, diukur suseptibilitas magnetiknya. Sebagai pembanding, pengukuran diulangi dengan media plastisin. Pengukuran juga dilakukan dengan sampel kangkung darat segar dan kangkung air segar yang dibeli dari pasar. Suseptibilitas magnetik ( m ) masing-masing sampel hasil preparasi diukur dengan alat suseptibility meter. Sampel juga diukur kandungan zat besinya menggunakan spektroskopi serapan atom (SSA) sebagai pembanding hasil suseptibilitas magnetik yang telah diperoleh.

5 3. Hasil dan Pembahasan a. Suseptibilitas Magnetik Dari pengukuran suseptibilitas magnetik ( m ) terhadap bagian batang dan daun tumbuhan
kangkung, diperoleh data sebagai berikut :

Tabel 1. data suseptibilitas magnetik rata-rata no. sampel 1.1 & 1.2 1.3 & 1.4 2.1 & 2.2 2.3 & 2.4 3.1 & 3.2 3.3 & 3.4 4.1 & 4.2 4.3 & 4.4 0.1 & 0.2 0.3 & 0.4 batang -21,0 -20,5 -21,2 -20,4 -22,2 -20,0 -19,5 -22,5 -23,9 -24,6 Suseptibilitas ( x 10-8 m3/kg ) deviasi daun 3,0 -19,6 2,5 -24,0 2,1 -18,8 3,5 -26,6 0,7 -11,3 2,8 -25,7 3,5 -27,5 3,1 -21,4 1,8 -19,6 1,6 -30,6 deviasi 3,3 0,1 2,2 2,3 0,8 3,4 1,3 0,0 2,5 4,0

Terlihat bahwa nilai suseptibilitas dari seluruh sampel adalah negatif atau m < 0 yang mengindikasikan bahwa secara keseluruhan sampel tersebut adalah bahan diamagnetik. Nilai suseptibilitas negatif dikarenakan kandungan zat besi dalam kangkung sampel yang sangat sedikit sehingga hasil pengukuran material magnetik ini tertutupi oleh unsur penyusun tumbuhan yang lain yang bersifat diamagnetik. Hal ini dapat difahami karena yang terbaca oleh alat merupakan resultan medan magnetisasi dari semua unsur penyusun bahan dan bukan hanya dari unsur ferromagnetik.
0 1.1 & 1.2 1.3 & 1.4 2.1 & 2.2 2.3 & 2.4 3.1 & 3.2 3.3 & 3.4 4.1 & 4.2 4.3 & 4.4 -5 Xm (x 10-8 m3/kg) -10 -15 -20 -25 -30 -35 sampel
batang daun

0.1 & 0.2 0.3 & 0.4

Gambar 2. Hasil Pengukuran Mass Susceptibility Tanaman Kangkung.

6 Nilai dari suseptibilitas masing-masing sampel yang hampir sama menunjukkan bahwa pemberian medan magnet di sekeliling tumbuhan tidak memberikan pengaruh yang signifikan, terutama dalam transport mineral magnetik. Keadaan ini dapat diakibatkan karena kecilnya medan induksi yang diberikan sehingga tidak mampu menutupi pengaruh medan magnet bumi (50-100 T) selain itu dapat pula disebabkan tumbuhan mengambil unsur dari lingkungan hanya sebatas kebutuhannya saja, karena berdasarkan hasil pengukuran suseptibilitas media tanam yang digunakan, diperoleh nilai suseptibilitas positif yang relatif besar. Besarnya nilai suseptibilitas medium ini mengindikasikan bahwa dalam media tanam banyak mengandung mineral ferro, hanya saja mineral tersebut tidak terserap secara efektif oleh tumbuhan, yang dapat disebabkan kurang lamanya masa penumbuhan tanaman kangkung. Tabel 2. nilai suseptibilitas magnetik medium tanam
no. sampel 0 1 2 3 4 Suseptibilitas ( x 10 m /kg ) 1014.7 1444.2 1794.8 1438.5 1073.9 0.9 1.4 0.7 1.6 2
-8 3

deviasi

15 10 Xm ( x 10-8 m3/kg ) 5 0 sampel 1 -5 -10 -15 -20


tanpa plastisin dg plastisin

sampel 2

sampel 3

sample 4

sampel 0

Gambar 3. Hasil Pengukuran Mass Susceptibility Tanaman Kangkung setelah dijadikan satu menurut besarnya medan induksi.

7 Pada sampel yang diukur menggunakan plastisin terdapat satu sampel yang bernilai positif, yaitu pada sampel 1. Jika meninjau pengukuran sebelumnya (tanpa plastisin ) yang bernilai negatif, diperkirakan terdapat cemaran material magnetik dalam sampel 1 selama preparasi.

0 sampel 0 Xm (x 10-8 m3/kg) -5 -10 -15 -20 -25


tanpa plastisin dg plastisin

k.darat segar

k.air segar

Gambar 4. Grafik hasil Pengukuran Mass Susceptibility Tanaman Kangkung sampel dibandingkan dengan kangkung segar.

Dibandingkan dengan sample segar, sample yang kering menunjukkan nilai yang lebih besar. Hal ini dapat difahami mengingat air bersifat diamagnetik. Dalam pengukuran yang menggunakan plastisin tidak menunjukkan hasil demikian kemungkinan karena bahan diamagnetik yang terkandung dalam plastisin. Menarik untuk diperhatikan adalah hasil pengukkuran suseptibilitas magnetik untuk semua sampel kangkung adalah negatif, baik yang tumbuh normal dalam greenhouse, yang diberi perlakuan medan, atuapun yang dibeli dari pasar. Nilai suseptibilitas negatif ini juga terjadi pada kangkung darat dan kangkung air. Hasil ini menunjukkan bahwa kandungan besi dari semua sampel yang diukur sangatlah kecil. Bila hasil ini dihubungkan dengan hasil penelitian sebelumnya, yaitu pada tanaman kangkung yang hidup pada daerah tercemar besi, maka akan di- dapatkan nilai suseptibilitas yang kontras, karena nilai suseptibilitas magnetik pada kangkung yang tumbuh pada daerah tercemar tersebut menunjukkan nilai positif. Dari kedua hasil penelitian ini maka diduga kuat bahwa yang menjadi penyebab tingginya kandungan besi dalam tanaman kangkung adalah lama masa pertumbuhan dan medium tanamnya. Medium tanam dengan cemaran logam besi yang sangat tinggi memberikan kontribusi terhadap besarnya kandungan besi dalam tanaman kangkung.

8 b. Hasil Uji Kandungan Fe Analisis kandungan kimia dengan spektroskopi serapan atom (SSA), sampel yang digunakan adalah tanaman (1) dan (0). Sampel (1) merupakan sampel dari tanaman yang diberi perlakuan medan, sedangkan sampel (0) adalah sampel tanaman tanpa perlakuan medan. Dari hasil uji kimia (lihat lampiran) diperoleh nilai absorbansi untuk sampel (1) sebesar 0,008 yang bila disesuaikan dengan kurva standar alat akan diperoleh nilai kandungan zat besi dalam sampel (1) sebesar 0,04 ppm. Sedangkan pada sampel (0) tidak terdeteksi kandungannya dikarenakan kecilnya nilai dari absorbansinya, yaitu 0,003
Kurva standar hubungan densitas vs absorbansi

0.07 0.06 densitas (ppm) 0.05 0.04 0.03 0.02 0.01 0 1.2 2.4 3.6 absorbansi 4.8 6

Gambar 5. Grafik kurva standar hubungan densitas vs absorbansi

Hasil uji kimia ini mendukung hasil pengukuran suseptibilitas sampel yang bernilai negatif, yang dapat diartikan bahwa sampel bersifat diamagnetik.

4. Simpulan

Berdasarkan karakterisasi dan hasil-hasil penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa tidak semua tanaman kangkung memiliki kandungan besi yang tinggi, tergantung pada umur tumbuhan dan lingkungan tempat tumbuhnya. Selain itu medan magnet yang relatif kecil tidak mempengaruhi kandungan besi dalam tubuh tanaman kangkung sehingga diperlukan medan induksi yang lebih besar untuk dapat mengamati pengaruh medan terhadap kandungan zat besi tumbuhan kangkung.

9 Daftar Pustaka Achmad, Rukaesih. 2004. Kimia Lingkungan. Jogjakarta: Penerbit ANDI. Agustrina, Rochmah. 2008. Perkecambahan dan Pertumbuhan Kecambah

Leguminoceae Dibawah Pengaruh Medan Magnet . Seminar Dies Natalis Unila Ke 43. Bandar Lampung, 1 September 2008. Aji , Mahardika Setia. 2005. Pengukuran Suseptibilitas Magnetik Pada Tanaman Kangkung Dari Area Yang Tercemar Di Semarang. Seminar Bahan Magnet IV. Semarang, 28 September 2005. Almatsier, Sunita. 2003. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. Ashari, Sumeru. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. Jakarta: UI-Press. Esitken, A dan M. Turan. 2004. Alternating magnetic field effects on yield and plant nutrient element composition of strawberry (Fragaria xananassa cv. Camarosa). Acta Agriculture Scandinavica, B, Vol 54 No 3 p.135-139. Halliday, D. dan Resnick, Robert. 1989. Fisika. Jakarta: Erlangga. Jordanova, N.V., Jordanova, D.V., Veneva, L., Yorova, K., dan Petrovsky,E. 2003. Magnetic Response of Soils and Vegetation to Heavy Metal Pollutions- A Case Study. Environ. Sci. Technol. Vol 37, 4417-4424. Kohar I., Hardjo,P.H., Lika,I.I. 2005. Studi Kandungan Logam Pb dalam Tanaman Kangkung Umur 3 dan 6 Minggu yang Ditanam di Media yang Mengandung Pb. Makara, Sains, Vol. 9, No. 2, 56-59. Kusandryani, Y. dan Luthfy. 2006. Karakterisasi Plasma Nutfah Kangkung. Buletin Plasma Nutfah, Vol.12, No.1. http://tanyasaja.detik.com/pertanyaan/1189. kenapa ya kalo makan kangkung cepet ngantuk . 9 September 2009. Reitz, J.R., Mildford, F.J. dan Cristy, R.W. 1994. Dasar-dasar Teori Listrik Magnit. Bandung : Institut Teknologi Bandung. Tipler, Paul A. 2001. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta: Erlangga. Michael, P. 1995. Metode Ekologi untuk Penyelidikan Ladang dan Laboratorium. Jakarta: UI-Press. Vaezzadeh, M., Noruzfar, E., Faezeh, G., Salehkotahi, M., Mehdian, R.2006. Excitation of Plant Growth in Dormant Temperature by Steady Magnetic Field. JMMM, Vol 302,105108.