Anda di halaman 1dari 14

Rekayasa Nilai : Konsep dan Penerapannya di dalam Industri Konstruksi

PUTI FARIDA MARZUKI Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung

1. PENDAHULUAN Rekayasa nilai atau value engineering (VE), yang sering juga disebut dengan value analysis, value management (VM), atau value planning, adalah suatu metoda yang didasarkan pada metodologi nilai atau value methodology. Metoda ini pertama kali digunakan di Amerika Serikat pada tahun 1940-an oleh perusahaan General Electric pada saat dihadapkan kepada tantangan pengambilan keputusan mengenai alternatif desain di dalam kondisi ketersediaan sumberdaya yang terbatas. Ketika itu disadari bahwa penelaahan kembali desain dan melakukan substitusi material ternyata sering menghasilkan produk yang lebih baik dengan harga yang lebih rendah dan dengan demikian mencapai nilai atau value yang lebih baik. Adalah Lawrence D. Miles, Manager of Purchasing pada perusahaan tersebut, yang mengembangkan metoda yang efektif untuk memperbaiki nilai yang dinamakan analisis nilai atau value analysis (VA) pada tahun 1947. Metoda ini didasarkan pada pemahaman bahwa fungsi yang disandang oleh sebuah produklah yang merupakan kunci untuk mencapai nilai yang lebih baik. Penggunaan VE berkembang di dalam institusi-institusi pemerintah di Amerika Serikat pada awal tahun 1960-an dan pada tahun 1965 pengadaan insentif untuk VE mulai diperkenalkan di dalam kontrak-kontrak konstruksi. Daya tarik VE terletak pada anggapan bahwa VE dapat memperbaiki cost-effectiveness proyek-proyek yang dibiayai publik. Pada saat ini VE telah diterapkan pada berbagai proyek konstruksi di berbagai negara terutama untuk proyek-proyek yang memakan biaya besar. Di Indonesia sendiri VE belum diterapkan sebanyak di Amerika Serikat atau negara-negara maju lainnya. Program VE hanya mengusulkan perubahan-perubahan di dalam desain atau persyaratanpersyaratan rencana. Tanggung jawab utama untuk desain tetap ada pada perencana dan karena itu perencana harus memutuskan apakah akan menerima dan mengimplementasikan perubahan-perubahan yang diusulkan atau menolaknya dengan argumentasi yang valid. Risiko yang terlibat di dalamnya merupakan faktor yang harus dipertimbangkan di dalam pengusulan gagasan-gagasan yang baru. Penerapan VE tidak lepas dari berbagai kendala. Berbagai faktor menentukan keberhasilan suatu studi VE. Salah satu faktor kritis bagi keberhasilan tersebut adalah kemampuan dan kesiapan masyarakat yang terlibat untuk mendukung program VE yang dioperasikan oleh suatu institusi. Perlu disadari bahwa VE atau value methodology bukan merupakan bagian dari suatu tahap-tahap proses desain yang konvensional, karena itu 1

Puti Farida Marzuki

untuk dapat mempertahankan dan menerapkan metodologi ini diperlukan kepemimpinan dan pengambilan kebijakan yang kuat. Di Indonesia kondisi ini belum terbangun. Tulisan ini antara lain menguraikan dasar-dasar rekayasa nilai dan penerapannya saat ini serta faktor-faktor yang mendukung keberhasilan program VE. 2. DASAR-DASAR REKAYASA NILAI Dari berbagai leteratur seperti (Dellisola, 1975; Zimmerman and Hart, 1982; PBS, 1992; Wilson, 2005) maka dasar-dasar rekayasa nilai disampaikan sebagai dibawah ini. 2.1. Definisi dan konsep Rekayasa nilai (VE) didefinisikan sebagai suatu usaha yang dilakukan secara sistematik dan terorganisir untuk melakukan analisis terhadap fungsi sistem, produk, jasa dengan maksud untuk mencapai atau mengadakan fungsi yang esensial dengan life cycle cost yang terendah dan konsisten dengan kinerja, keandalan, kualitas dan keamanan yang disyaratkan. Seperti yang telah disampaikan di atas berapa istilah lainnya sering digunakan untuk menyatakan value engineering. SAVE International (The Society of American Value Engineers International) menggunakan istilah yang lebih luas yaitu metodologi nilai atau value methodology yang juga bermakna sama. Setelah fungsi-fungsi suatu produk atau jasa teridentifikasi maka dilakukan evaluasi terhadap nilai kegunaan (worth) fungsi-fungsi tersebut. SAVE mendefinisikan nilai atau value sebagai biaya yang terendah untuk mengadakan fungsi yang diperlukan, secara andal, pada waktu dan tempat yang diinginkan dengan kualitas yang esensial disertai faktorfaktor kinerja lainnya untuk memenuhi keperluan pengguna. Rekayasa nilai (VE) mencari alternatif terhadap desain yang original yang dapat secara efektif meningkatkan nilai (value) atau mengurangi biaya proyek atau produk. Alternatifalternatif dapat dikembangkan dengan mengajukan pertanyaan yang mendasar sebagai berikut, Apa lagi yang dapat melaksanakan fungsi yang esensial, dan berapa biayanya? VE merupakan suatu studi yang dilakukan oleh sebuah tim yang independen dan multidisiplin beranggotakan para ahli. Proses VE, yang biasa disebut dengan Job Plan, meliputi sejumlah aktivitas yang dilakukan secara berurutan selama suatu studi VE yang meliputi suatu workshop VE. Selama workshop VE, tim mempelajari latar belakang proyek, mendefinisikan dan mengklasifikasikan fungsi-fungsi produk, mengidentifikasi pendekatan-pendekatan kreatif untuk menghasilkan fungsi-fungsi tersebut, dan kemudian mengevaluasi, mengembangkan dan mempresentasikan proposal-proposal VE kepada para pengambil keputusan kunci. Pemusatan perhatian kepada fungsi-fungsi yang harus dilaksanakan suatu proyek, produk, atau proses inilah yang membedakan VE terhadap pendekatan-pendekatan perbaikan kualitas atau penghematan biaya lainnya.

Rekayasa Nilai : Konsep dan Penerapannya di dalam Industri Konstruksi 2.2. Value Engineering Job Plan

Seperti telah disinggung di atas, VE Job Plan merupakan suatu urutan aktivitas di dalam studi VE yang dilakukan untuk suatu objek (proyek, proses, produk) yang meliputi pendefinisian fungsi-fungsi proyek, pengembangan dan evaluasi gagasan, dan selanjutnya pengembangan dan penyajian proposal VE di dalam suatu workshop. Pada saat ini tidak terdapat suatu proses yang baku untuk mengimplementasikan proposal VE. Metodologi VE (Job Plan) yang direkomendasikan untuk digunakan oleh tim VE selama workshop terdiri dari lima fase yang berbeda satu sama lain. Fase-fase tersebut diuraikan berikut ini. 2.2.1. Fase Informasi (Information Phase) Selama fase ini, tim VE menggali sebanyak mungkin informasi mengenai desain, latar belakang, kendala, dan proyeksi biaya proyek. Tim melaksanakan analisis fungsi dan menentukan peringkat biaya relatif produk sebagai sistem dan sub-sistem untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah biaya yang berpotensi akan tinggi. a. Analisis fungsi Analisis fungsi merupakan basis utama di dalam value engineering karena analisis inilah yang membedakan VE dari teknik-teknik penghematan biaya lainnya. Analisis ini membantu tim VE di dalam menentukan biaya terendah yang diperlukan untuk melaksanakan fungsi-fungsi utama dan fungsi-fungsi pendukung dan mengidentifikasi biaya-biaya yang dapat dikurangi atau dihilangkan tanpa mempengaruhi kinerja atau kendala produk. Fungsi diidentifikasi dengan menggunakan deskripsi yang terdiri dari dua kata, yaitu kata kerja dan kata benda. Kata kerja yang digunakan adalah kata kerja aktif dan kata benda yang digunakan merupakan kata benda yang terukur. Fungsi dasar suatu produk/bangunan merupakan pekerjaan utama yang harus dilaksanakannya. Fungsi-fungsi sekunder sering merupakan fungsi-fungsi yang mungkin diinginkan keberadaannya tetapi sebenarnya tidak diperlukan untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan tertentu. Fungsi-fungsi sekunder yang harus ada merupakan fungsi-fungsi yang secara absolut diperlukan untuk melaksanakan tugas atau pekerjaan tertentu, walaupun sebenarnya tidak melaksanakan fungsi dasar. Fungsi produk/bangunan secara menyeluruh ditentukan terlebih dahulu sebelum menentukan fungsi elemen-elemennya. Bagian yang paling sulit pada analisis fungsi adalah memperkirakan nilai kegunaan (worth) setiap subsistem atau komponen untuk membandingkannya dengan biaya yang diperkirakan. Nilai kegunaan (worth) memberikan indikasi nilai (value) artinya biaya terendah yang diperlukan untuk terlaksananya suatu fungsi tertentu. Untuk itu tidak diperlukan ketelitian yang sangat besar. Nilai kegunaan (worth) hanya digunakan sebagai suatu mekanisme untuk mengidentifikasi wilayah-wilayah dengan potensi penghematan dan perbaikan nilai (value) yang tinggi. Subsistem yang melaksanakan fungsi sekunder tidak memiliki worth karena tidak berhubungan langsung dengan fungsi dasar.

Puti Farida Marzuki

Sebagai bagian dari analisis fungsi, tim VE membandingkan rasio cost-to-worth berbagai alternatif untuk keseluruhan fasilitas dan subsistemnya. Rasio cost-to worth ini diperoleh dengan membagi biaya yang diperkirakan untuk sistem atau subsistem dengan total worth untuk fungsi dasar sistem atau subsistem. Rasio cost-to-worth yang lebih besar daripada dua biasanya mengindikasikan wilayah dimana terdapat potensi penghematan biaya dan perbaikan nilai (value). b. Diagram FAST FAST merupakan singkatan untuk Function Analysis System Technique. FAST merupakan alat bantu yang menggambarkan secara grafik hubungan logik fungsi suatu elemen, subsistem, atau fasilitas. Diagram FAST merupakan suatu diagram blok yang didasarkan atas jawaban-jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan Mengapa? dan Bagaimana? untuk item yang sedang ditinjau. Diagram FAST paling sesuai digunakan pada sistem-sistem yang kompleks untuk menggambarkan secara jelas fungsi dasar dan fungsi sekunder suatu sistem tertentu. 2.2.2. Fase Spekulatif/Kreatif Di dalam fase ini, Tim VE menggunakan suatu proses interaksi kelompok yang kreatif untuk mengidentifikasi gagasan alternatif guna memenuhi fungsi suatu sistem atau subsistem. 2.2.3 Fase Evaluasi/Analisis

Gagasan yang muncul selama Fase Spekulatif/Kreatif disaring dan dievaluasi oleh tim. Gagasan yang memiliki potensi penghematan biaya dan peningkatan mutu proyek dipilih untuk ditelaah lebih lanjut pada Fase Evaluasi ini. 2.2.4 Fase Pengembangan/Rekomendasi

Pada fase ini, Tim VE menelaah gagasan atau alternatif yang terpilih dan menyiapkan deskripsi, gambar-gambar dan estimasi life cycle cost terkait yang mendukung rekomendasi yang diajukan sebagai proposal VE yang resmi. Life cycle cost (LCC) merupakan seluruh biaya yang signifikan yang tercakup di dalam pemilikan dan penggunaan suatu benda, sistem atau jasa sepanjang suatu waktu yang ditentukan. Perioda waktu yang digunakan adalah masa guna efektif yang direncanakan untuk fasilitas yang bersangkutan. Analisis LCC dilakukan untuk menentukan alternatif dengan biaya paling rendah. Di dalam VE seluruh gagasan dapat dibandingkan atas dasar LCC bila seluruh alternatif di definisikan untuk menghasilkan fungsi dasar atau sekumpulan fungsi yang sama. Selain fungsi yang sebanding, analisis ekonomi mensyaratkan bahwa altenatif-alternatif dipertimbangkan atas dasar kesamaan kerangka waktu, kuantitas, tingkat kualitas, tingkat pelayanan, kondisi ekonomi, kondisi pasar, dan kondisi operasi.

Rekayasa Nilai : Konsep dan Penerapannya di dalam Industri Konstruksi

Elemen-elemen biaya yang diperhitungkan meliputi (PBS, 1992):

a. Biaya Awal (Initial Costs): (1) Biaya Bangunan/Produk (Item Cost): merupakan biaya untuk memproduksi atau membangun produk/bangunan yang bersangkutan. (2) Biaya Pengembangan (Development Cost): merupakan biaya-biaya yang terkait dengan desain, pengujian, prototype, dan model. (3) Biaya Implementasi (Implementation Cost): merupakan biaya yang diantisipasi ada setelah gagasan disetujui, seperti: desain ulang, inspeksi, pengujian, administrasi kontrak, pelatihan, dan dokumentasi. (4) Biaya Lain-lain (Miscellaneous Cost): merupakan biaya yang tergantung dari produk/bangunan yang bersangkutan, termasuk biaya peralatan yang diadakan oleh pemilik, pendanaan, lisensi dan biaya jasa (fee), dan pengeluaran sesaat lainnya. b. Biaya Tahunan (Annual Recurring Costs): (1) Biaya Operasi (Operation Cost): meliputi pengeluaran tahunan yang diperkirakan yang berhubungan dengan produk/bangunan tersebut seperti untuk utilitas, bahan bakar, perawatan, asuransi, pajak, biaya jasa (fee) lainnya, dan buruh. (2) Biaya Pemeliharaan (Maintenance Cost): meliputi pengeluaran tahunan untuk perawatan dan pemeliharaan preventif terjadwal untuk suatu produk/bangunan agar tetap berada dalam kondisi dapat dioperasikan. (3) Biaya-biaya Berulang Lainnya (Other Recurring Costs): meliputi biaya-biaya untuk penggunaan tahunan peralatan yang terkait dengan suatu produk/bangunan dan juga biaya pendukung tahunan untuk management overhead. c. Biaya Tidak Berulang (Nonrecurring Cost): (1) Biaya Perbaikan dan Penggantian (Repair and Replacement Cost): merupakan biaya yang diperkirakan atas dasar kerusakan dan penggantian yang diprediksi dari komponen-komponen sistem utama, biaya-biaya perubahan yang diprediksi untuk kategori-kategori ruang yang berhubungan dengan frekuensi perpindahan, perbaikan modal yang diprediksi perlu untuk pemenuhan standard sistem pada suatu waktu tertentu. Biaya yang diperkirakan tersebut adalah untuk suatu tahun tertentu di masa yang akan datang. (2) Nilai Sisa (Salvage): Nilai sisa (salvage value) sering disebut sebagai residual value. Nilai sisa merupakan nilai pasar atau nilai guna yang tersisa dari suatu produk/bangunan pada akhir masa layan yang dipilih dalam LCC.

Puti Farida Marzuki

Skema elemen-elemen biaya yang diperhitungkan di dalam life cycle cost diperlihatkan dalam Gambar 1.

Gambar 1. Elemen-elemen biaya yang diperhitungkan di dalam life cycle cost

2.2.5

Fase Pelaporan

Di dalam Fase Pelaporan, Tim VE akan bekerja dalam koordinasi erat dengan Konsultan Perencana serta perwakilan Pemberi Tugas untuk menghasilkan Laporan Pendahuluan VE secara tertulis yang merupakan representasi hasil-hasil kegiatan workshop VE dan ditujukan untuk memenuhi objektif program VE.

Rekayasa Nilai : Konsep dan Penerapannya di dalam Industri Konstruksi

Deskripsi proses yang tercakup di dalam Value Engineering Job Plan disajikan pada Gambar 2.

Gambar 2. Proses yang tercakup di dalam Value Engineering Job Plan (Didasarkan pada Dellisola, 1975)

3. PENERAPAN REKAYASA NILAI DI DALAM INDUSTRI KONSTRUKSI Di dalam industri konstruksi VE diterapkan terutama pada desain dan pelaksanaan konstruksi, baik untuk fasilitas yang baru maupun untuk perbaikan dan perubahan pada fasilitas yang ada. Penggunaan VE untuk konstruksi berkembang di lingkungan pemerintahan Amerika Serikat pada awal tahun 1960-an. Pada akhir tahun 1960-an, pada saat dimana jaringan jalan raya dikembangkan secara signifikan di AS, VE mulai diterapkan pada proyekproyek jalan yang dibiayai oleh pemerintah. Navy Facilities Engineering menerapkan VE

Puti Farida Marzuki

pada tahun 1963, dan pada tahun 1965 klausul insentif VE mulai dimasukkan dalam kontrak-kontrak konstruksi di negara tersebut. Berkembangnya perhatian terhadap VE didasari keyakinan bahwa VE dapat meningkatkan cost-effectiveness proyek-proyek pada sektor publik. Palmer (1992) berpendapat bahwa masuknya VE ke dalam industri konstruksi mengakibatkan dua perubahan utama di dalam teori VE. Yang pertama adalah dipergunakannya workshop yang berlangsung selama 40 jam sebagai metoda untuk melaksanakan studi VE. Kedua, adalah berkembangnya dua aliran mengenai bagaimana seharusnya VE diimplementasikan. Menurut aliran yang pertama, VE sebaiknya diimplementasikan pada saat desain mencapai 35% dengan menggunakan tim eksternal, sedangkan aliran kedua menyatakan bahwa implementasi VE pada tahap yang lebih dini dalam desain lebih efektif. Seperti di dalam bidang lainnya, di dalam dunia konstruksi penghematan atau penurunan biaya serta peningkatan nilai sebagai hasil VE dapat terjadi dalam bentuk penurunan biaya awal (first cost) atau penurunan life cycle cost. 3.1. Value Engineering Change Proposal meningkatkan nilai selama konstruksi (VECP) dan kesempatan

VE pertama kali diperkenalkan dalam proyek-proyek konstruksi dalam bentuk VECP pada tahun 1960an. Inti dari proses VECP adalah menggiatkan inovasi dengan harapan bahwa akan terjadi penghematan biaya. VECP merupakan salah satu unsur kontrak konstruksi. Tujuan program VECP adalah memacu kontraktor untuk mencari dan mempelajari metoda dan material konstruksi yang lebih baik, menyerahkan VECP, dan setelah diterima memperoleh kompensasi yang adil dan layak berupa pembagian penghematan yang dihasilkan. Proses VECP melibatkan Kontraktor, Pemberi Tugas, Manajer Konstruksi, Pengguna, dan Konsultan Perencana. Proses dasar untuk VECP adalah sebagai berikut (NCHRP, 2005): Kontraktor harus menyerahkan VECP yang memuat gagasan menurunkan biaya proyek (atau kadang-kadang juga penghematan waktu) Pemberi Tugas (dengan bantuan Konsultan Perencana) meninjau kualitas VECP untuk menentukan kelayakannya dalam mendukung proses pengambilan keputusan. Pemberi Tugas (dengan bantuan Konsultan Perencana) mengambil keputusan penerimaan atau penolakan VECP. Bila diterima, kontraktor dan Pemberi Tugas akan membagi penghematan yang diidentifikasi terhadap kontrak dengan pembagian 50%/50%. Dampak VECP terhadap biaya keseluruhan proyek sangat kecil dibandingkan dengan penghematan proyek yang diperoleh melalui proposal VE yang dikembangkan selama

Rekayasa Nilai : Konsep dan Penerapannya di dalam Industri Konstruksi

fase perencanaan (planning) dan desain. VECP hanya menghasilkan sekitar 5% dari penghematan biaya total proyek yang dihasilkan dengan penerapan VE. 3.2. Pengaruh saat diterapkannya VE selama berlangsungnya proyek Seperti telah disinggung sebelumnya, umumnya studi VE akan lebih bermanfaat bila dilaksanakan sedini mungkin. Ini disebabkan kenyataan bahwa 80-90% dampak terhadap kualitas dan biaya proyek ditentukan oleh fase perencanaan (planning) dan desain. Keadaan ini diperlihatkan pada Gambar 3 dan Gambar 4.

Gambar 3. Tingkat pengaruh penerapan VE terhadap biaya sepanjang perjalanan proyek ( Sumber: NCHRP, 2005)

Gambar 4. Kesempatan untuk mengimplementasikan perubahan sepanjang perjalanan proyek (Sumber: NCHRP, 2005)

Penerapan VE secara sangat dini selama berlangsungnya proyek juga akan melancarkan pengembangan alternatif, dibandingkan dengan mencoba mengoptimumkan desain pada tahap yang lebih lanjut. Penggunaan VE pada tahap awal memungkinkan tim proyek untuk secara cepat mendefinisikan konsep proyek. Selanjutnya, tim dapat mengambil manfaat dengan adanya keterlibatan stakeholders sejak awal untuk mencapai kesepakatan lebih dini yang akan mempersingkat keseluruhan waktu yang diperlukan untuk mencapai solusi optimal. Salah satu cara untuk mengukur manfaat penerapan VE adalah melalui

10 Puti Farida Marzuki

Return on Investment (ROI) yang merupakan suatu index yang didasarkan atas biaya untuk melaksanakan suatu studi VE pada suatu proyek dan penghematan biaya yang diperoleh sebagai hasil implementasi rekomendasi VE. Sebagai contoh, VE pada tahap konsep telah dilakukan oleh New York District Corps of Engineers dalam pengendalian kerusakan pantai di utara New Jersey (Melby, 2003). Selanjutnya, penerapan VE pada tahap preliminary design antara lain telah dilakukan pada jembatan-jembatan jalan raya di Jepang (Hwang, 2003). Value study pada fase environmental assessment misalnya telah dilakukan pada Wadsworth Bypass di Amerika Serikat dengan hasil yang memuaskan sehingga dinominasikan untuk mendapat penghargaan dari AASHTO. 4. FAKTOR-FAKTOR YANG MENENTUKAN EFEKTIVITAS PENERAPAN Sebagai akibat perkembangan teknologi yang semakin cepat dan kompetisi pasar yang sangat ketat, tantangan yang semakin meningkat di dalam praktek VE atau VM saat ini adalah bahwa para pengguna jasa menuntut adanya studi VE yang lebih singkat dan lebih fokus, sementara ukuran dan kompleksitas proyek yang ditinjau dalam studi VE terus meningkat. Banyak peneliti melaporkan bahwa keterbatasan waktu dan sumberdaya yang tersedia untuk studi VE telah melemahkan efek metodologi ini (Shen & Liu,1997; Kelly & Male 2004). Secara menyeluruh, berbagai faktor menentukan keberhasilan studi VE. Pemahaman yang jelas tentang faktor-faktor ini sangat diperlukan untuk mengatasi kendala-kendala yang diakibatkan oleh ekspektasi yang lebih tinggi dari pengguna jasa. Gambaran mengenai faktor-faktor tersebut diuraikan berikut ini. 4.1. Integrasi studi VE Program VE perlu dipandang sebagai bagian integral dari keseluruhan proses project delivery, jadi bukan sebagai suatu entitas yang terpisah. Dengan demikian penerapan VE sebaiknya direncanakan dan dijadwalkan pada proyek untuk mendukung delivery of services yang tepat waktu, efisien dan efektif. Di dalam proses tersebut, seperti yang telah pula diuraikan sebelumnya, untuk mencapai efek yang maksimum tanpa dampak yang tidak diinginkan terhadap jadwal proyek, VE harus dimulai pada saat dini di dalam proses desain, sebaiknya pada desain konsep, dan kemudian berlanjut pada tahap desain dan penyiapan dokumen konstruksi bila diperlukan. Perhatian utama dipusatkan pada pencapaian nilai life-cycle yang maksimum untuk pengeluaran biaya awal (first-cost) dari anggaran proyek. Selanjutnya diusahakan adanya penurunan biaya awal sebagai hasil penerapan program. 4.2. Persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang Suatu kuesioner survey telah dikirimkan kepada badan-badan transportasi Amerika Serikat dan Kanada serta daerah yang terpilih untuk memperoleh pemahaman mengenai praktek VE saat ini dan tantangan serta kesempatan yang ada. Lima puluh badan berpartisipasi di dalam survey tersebut. Sekitar dua per tiga responden (33 dari 50)

Rekayasa Nilai : Konsep dan Penerapannya di dalam Industri Konstruksi 11 mengindikasikan bahwa persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang selalu atau sering menjadi penyebab digunakannya VE. Sekitar setengah dari responden (27 dari 50) mengindikasikan bahwa VE dilakukan untuk memenuhi persyaratan pendanaan (NCHRP, 2005). Pada sebagian besar tingkat pemerintahan di Amerika Serikat, penggunaan VE dianjurkan dan pada berbagai kasus disyaratkan. Untuk itu dalam penerapan program atau studi VE di sektor publik terdapat petunjuk dan kebijakan di berbagai lapisan pemerintahan. Sebagai contoh, pada tahun 1993 Office of Management and Budget (OMB) Amerika Serikat mengeluarkan sirkuler nomor A-131 yang mensyaratkan seluruh departemen dan badan federal agar menggunakan value engineering sebagai alat manajemen bila dipandang sesuai untuk menurunkan biaya program. Sebagai konsekuensi persyaratan OMB tersebut, U.S. Department of Transportation (USDOT) mengeluarkan Order DOT 1395.1A untuk menetapkan prosedur implementasi persyaratan OMB Circular A-131 dan kerangka untuk pelaksanaan VE di keseluruhan departemen tersebut. Peraturan ini menyampaikan dua kategori VE di lingkungan DOT, yaitu VE Change Proposals yang merupakan proposal yang diprakarsai oleh kontraktor dan diusulkan dalam lingkup suatu kontrak DOT, dan VE Proposals yang dikembangkan oaleh pegawai Pemerintah Federal atau personel VE dari kontraktor yang dipekerjakan oleh DOT untuk memberikan jasa VE di dalam suatu kontrak atau program. Di Kanada, pembiayaan proyek infrastruktur transportasi umumnya dilakukan pada level propinsi. Kementrian Transportasi (Ministry of Transportation) mengimplementasikan kebijakan yang fleksibel untuk mendukung Program VE yang tidak merupakan keharusan. Kebijakan tersebut menyatakan bahwa VE harus diterapkan pada proyekproyek yang sesuai secara maksimum sepanjang waktu dan sumberdaya yang tersedia memungkinkan. Rencana tahunan harus dibuat oleh setiap daerah untuk menggambarkan proyek-proyek mana yang sesuai untuk penerapan studi VE di daerah tersebut berdasarkan kriteria seleksi yang didefinisikan dan pengetahuan spesifik mengenai proyek. Di Indonesia, peraturan sejenis yang memuat klausul tentang VE seperti contoh-contoh di atas, baik pada peraturan yang terkait dengan jasa konstruksi maupun yang terkait dengan pembangunan infrastruktur publik secara spesifik, belum tersedia. Hal ini mungkin merupakan salah satu penyebab kurang terdorongnya pihak-pihak yang terkait untuk menerapkan VE walaupun dirasakan keperluannya terutama untuk proyek infrastruktur publik yang besar yang didanai oleh pemerintah. 4.3. Kesiapan komunitas Hal yang kritis bagi keberhasilan yang berkelanjutan di dalam VE adalah kemampuan dan kesiapan komunitas nilai untuk mendukung program VE yang dioperasikan oleh badanbadan yang terkait. Aspek utama yang perlu mendapat perhatian adalah dukungan manajemen, dan kualifikasi tim VE serta usaha bersama pihak-pihak yang terlibat.

12 Puti Farida Marzuki

4.3.1 Dukungan manajemen Komitmen korporasi merupakan elemen yang esensial yang diperlukan untuk suatu program VE yang berhasil. Program VE harus dapat memastikan kepada pengambil keputusan kunci bahwa usaha yang diadakan setara dengan hasil yang akan diperoleh. Manajemen senior harus terlibat dan terkait secara penuh di dalam program VE, tidak hanya pada inisiasinya tetapi juga dalam mengimplementasikan solusinya. Pelatihan terkait perlu diadakan untuk mempertahankan program VE dan semangat korporasi untuk mengalokasikan sumber daya bagi VE. 4.3.2 Kualifikasi tim VE dan usaha bersama pihak yang terlibat Hasil penelitian yang dilakukan oleh Shen dan Liu (2003) memperlihatkan bahwa tim VE, pengguna jasa, fasilitator, dan pihak-pihak lainnya yang secara langsung atau tidak langsung terlibat di dalam studi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keberhasilan studi VE. Ini juga berarti bahwa keberhasilan studi VE memerlukan usaha bersama dari seluruh pihak yang terlibat. Tim VE, secara khusus, memegang peranan penting di dalam usaha tersebut. Faktorfaktor yang sangat menentukan di dalam suatu tim VE adalah kualitas (kualifikasi dan pengalaman), kepribadian pemimpin tim dan para ahli yang menjadi anggotanya. Tim VE harus bersifat mutidisiplin. Selanjutnya, persiapan yang cukup dari anggota tim merupakan prasyarat untuk pelaksanaan studi VE yang berhasil. Keberadaan individu yang dapat menjembatani aspek teknis dan manajemen program, serta yang dapat secara bersemangat mempromosikan penggunaan dan keberhasilan program VE akan sangat membantu kelancaran program. 4.4. Ukuran proyek dan ketersediaan sumber daya Di Amerika Serikat, kebijakan pemerintah telah dikembangkan dan diimplementasikan dengan mensyaratkan studi nilai (value studies) untuk proyek-proyek dengan nilai pengeluaran yang besar. Misalnya, sebagian besar studi VE untuk infrastruktur transportasi di Amerika Serikat dilaksanakan karena proyek yang sedang ditinjau dibiayai pemerintah atau biayanya lebih dari US $25 juta seperti yang disyaratkan oleh peraturan yang berlaku. Batas biaya proyek tersebut pada sebagian besar kasus merupakan kunci yang menjamin dilaksanakannya studi VE. Penerapan VE pada proyek-proyek yang kecil jarang atau tidak pernah dilakukan karena biasanya sumber daya yang tersedia terbatas. Selain itu, proyek yang lebih besar secara tipikal memiliki potensi yang lebih besar untuk perbaikan pelayanan karena lingkupnya dan batas pengeluarannya lebih tinggi. Sekalipun demikian, pada beberapa kasus, dipandang pantas untuk menerapkan VE pada proyek yang lebih kecil bilamana lingkupnya belum dapat dipastikan atau untuk membangun konsensus dengan stakeholders. Clark (1999) menyampaikan suatu metodologi seleksi untuk studi VE pada proyek transportasi yang kecil. Untuk itu proyek yang kecil didefinisikan sebagai proyek

Rekayasa Nilai : Konsep dan Penerapannya di dalam Industri Konstruksi 13 yang dibiayai oleh pemerintah, bernilai kurang dari US $10 juta. Faktor-faktor yang disarankan di dalam pemilihan termasuk biaya, kompleksitas, dan dampaknya. 5. PENUTUP VE, atau secara umum value management (VM), yang pada awal-awal keberadaannya lebih banyak diterapkan pada sektor manufaktur dan kemudian pada proyek-proyek pembangunan infrastruktur di Amerika Serikat, sejak pertengahan tahun 1980-an telah meluas penggunaannya di dalam industri konstruksi di berbagai negara di dunia. Pada saat ini telah banyak pula pengembangan lebih lanjut di dalam pemikiran dan praktek value management. The European Standard for Value Management, misalnya, mendefinisikan VM sebagai suatu style of management dan dalam evolusinya tidak hanya diterapkan pada produk tetapi juga pada jasa, proyek, dan prosedur administratif dengan sasaran mempertemukan perbedaan pendapat di antara stakeholders mengenai makna value di dalam konteks yang dihadapi untuk mencapai tujuan dengan menggunaan sumber daya yang minimum. Di tengah perkembangan tersebut, sebagian besar praktisi dan peneliti masih meyakini analisis fungsi sebagai inti dari proses value management yang membedakannya dari metodametoda lainnya yang digunakan untuk memperbaiki value. Pendekatan dasar yang digunakan adalah prinsip bahwa selalu ada lebih dari satu jalan untuk mencapai tujuan proyek dan penelaahan alternatif-alternatif akan menghasilkan solusi yang paling dapat diterima. Penerapan metodologi ini di Indonesia masih terbatas dan bila akan digunakan lebih luas, terutama untuk proyek-proyek yang besar, perlu disadari perlunya perundangan yang menunjang, komitmen manajemen puncak, dan ketersediaan sumber daya untuk itu. 6. DAFTAR PUSTAKA Dellisola, A.J., 1975, Value Engineering in the Construction Industry, Van Nostrand Reinhold Company. Clark, J.A., 1999, Value Engineering for Small Transportation Projects, Thesis, Worcester Polytechnic Institute Worcester, Mass. Hwang, Yih-Hong, 2003, Structure Process: A New VE Approach to the Preliminary Design Stage of Highway Bridges, SAVE Knowledge Bank Database, Available: http://www.value-eng.org/knowledge-bank/ Hunter, K., Kelly, J., 2004, Is One Day Enough? The Argument for Shorter VM/VE Studies, SAVE Knowledge Bank Database, Available: http://www.valueeng.org/knowledge-bank/ Lehman, T., Reiser, P., 2004, Maximizing Value & Minimizing Waste: Value Engineering & Lean Construction, SAVE Knowledge Bank Database, Available: http://www.valueeng.org/knowledge-bank/ Male, S., Kelly, J., 2004, A Re-appraisal of Value Methodologies in Construction SAVE Knowledge Bank Database, Available: http://www.value-eng.org/knowledgebank/ Melby, J.A. et al, Designing an Outfall Extension through a Beach Renourishment for Deal Lake, New Jersey, ASCE Conference Proceedings (Coastal Structure 2003).

14 Puti Farida Marzuki

Palmer, A.J., Kelly, J., Male, S., 1996, Holistic Appraisal of Value Engineering in Construction in United States, Journal of Construction Engineering and Management, ASCE, December. PBS-PQ250, 1992, Value Engineering Program Guide for Design and Construction, U.S. General Services Administration, Public Buildings Service. Pulaski, M.H., Horman, M.J., 2005, Continuous Value Enhancement Process, Journal of Construction Engineering and Management, ASCE, December. Rains, J.A., 2005, Creating and Maintaining an Effective and Successful Value Analysis Program, Knowledge Bank Database. Available: http://www.value-eng.org/knowledgebank/. Cell, C.L., Arratia, B., 2003, Creating Value with Lean Thinking and Value Engineering, SAVE International Conference. Shen, Q., Liu, G., 2003, Critical Success Factors for Value Management Studies in Construction, Journal of Construction Engineering and Management, ASCE, September/October. Wilson, D.C., 2005, NCHRP Synthesis 352: Value Engineering Applications in Transportation, A Synthesis of Highway Practice, Transportation Research Board, Washington D.C. Zimmerman, L.W., Hart, G.D., 1982, Value Engineering. A Practical Approach for Owners, Designers, and Contractors, Van Nostrand Reinhold Company.