Anda di halaman 1dari 15

A.

Definisi Psikologi komunitas merupakan cabang ilmu psikologi yang mempelajari efek-efek sosial dan lingkungan terhadap perilaku yang muncul pada individu atau kelompok guna meningkatkan kualitas hidup individu, komunitas dan masyarakat. Psikologi komunitas pada dasarnya terkait dengan hubungan antarsistem sosial, kesejahteraan dan kesehatan individu dalam kaitan dengan masyarakat. Jadi, psikologi komunitas didefinisikan sebagai suatu pendekatan kepada kesehatan mental yang menekankan pada peran daya lingkungan dalam menciptakan masalah atau mengurangi masalah. Psikologi ini berfokus pada arah permasalahan kesehatan mental dan sosial yang dikembangkan melalui intervensi juga riset dengan seting mencakup masyarakat dan komunitas pribadi.

B. Latar Belakang Beberapa psikolog memiliki pandangan berbeda mengenai area yang dikaji dalam psikologi komunitas. Hal tersebut ditunjukkan dengan perdebatan yang masih muncul apakah psikologi komunitas merupakan kesamaan dari psikologi klinis ataukah berbeda. Ada kecenderungan kuat dari pandangan psikolog bahwa psikologi komunitas dan psikologi klinis adalah sama. Di sisi lain, beberapa psikolog menunjukkan adanya batasan-batasan yang jelas perbedaan antara dua bidang tersebut. Akan tetapi, ada juga yang mengatakan bahwa psikologi komunitas merupakan kajian yang meliputi psikologi secara keseluruhan. Pada awalnya, psikologi komunitas muncul sebagai respon dari perkembangan sosial di Amerika Serikat. Pada masa kolonial, fenomena pertumbuhan kota dan industrialisasi yang cepat memicu meningkatnya imigran yang berdatangan dari berbagai tempat. Tentunya hal ini

menimbulkan masalah sosial karena semakin banyak juga variasi-variasi populasi yang muncul seperti; orang-orang yang memiliki sakit mental, fakir miskin, dan populasi lainnya yang tergolong lemah dan atau tidak memiliki kekuatan. Hingga pada perkembangannya, populasi tersebut menyatu dan berkelompok menjadi suatu komunitas. Di sinilah permasalahan yang sebenarnya bagi komunitas yang inkompeten tersebut, di mana kasus-kasus psikologis yang mereka alami ditangani secara keliru dengan diagnosis yang salah karena ketidakmampuan secara finansial untuk memperoleh penanganan dari psikolog ahli. Melihat fenomena ini terus berkembang maka Kongres Amerika mencanangkan Gerakan Nasional Kesehatan Mental. Mulai dari sini, peran para psikolog dan institusi untuk mulai berfokus pada penanganan klinis bagi komunitaskomunitas yang tidak mampu. Tentunya dari latar belakang yang dipaparkan di atas menunjukkan kejelasan pembedaan antara psikologi komunitas dengan psikologi klinis. Hal ini tampak dari bagaimana sikap yang muncul di mana psikologi komunitas merupakan tindakan proaktif untuk mengantisipasi resiko permasalahan yang lebih besar serta meningkatkan kesehatan mental dalam suatu komunitas, sedangakan psikologi klinis cenderung reaktif karena akan memberikan perlakuan (treatments) setelah adanya kasus klinis yang muncul. Di Indonesia, psikologi komunitas dibahas sebagai Kesehatan

Masyarakat dalam disiplin ilmu kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat. Psikologi komunitas juga merupakan subbagian dalam Psikologi Sosial, Sosiologi dan ilmu-ilmu sosial lainnya. Tetapi dalam hal ini psikologi komunitas akan diuraikan sebagai suatu kegiatan yang berkaitan dengan memberi bantuan kepada orang lain mengenai hal-hal yang berhunungan dengan gangguan emosional, penyesuaian diri dan masalah-masalah psikologis lainnya.

Dalam pendekatan psikologi klinis, treatment diberikan kepada seseorang atau kelompok yang mengalami gangguan atau yang memiliki masalah dan klien menerima treatment tersebut. Kenyataannya seringkali sulit untuk memastikan siapa yang memerlukan terapi atau bantuan psikologis. Dilihat dari pandangan sosiokultual, lingkungan sosio kultural dan interaksinya dengan subjek atau sekelompok subjeklah penyebab munculnya gangguan jiwa, hal ini dikarenakan tuntutan sosial kepada subjek untuk mengikuti kondisi yang berlaku misalnya norma sosial, dan sebagainya. Banyak perubahan-perubahan dalam tatanan masyarakat sekarang ini yang menyebabkan banyak munculnya gejala-gejala sosial seperti kemiskinan, kekumuhan, polusi udara, pengungsian penduduk bahkan bencana alam sehingga memungkinkan munculnya ancaman gangguan-gangguan psikologis terutama dalam hal gangguan emosional. Kondisi ini membutuhkan suatu pendekatan yang tidak menggunakan cara tradisional dari psikologi klinis, tetapi membutuhkan sutau pendekatan menyeluruh yakni pendekatan komunitas.

C. Sejarah Psikologi komunitas di Amerika mulai berkembang sejak 1955, ketika diumumkan undang-undang tentang pengembangan konsep kesehatan mental komunitas untuk mengurangi jumlah rumah sakit jiwa. Pada tahun 1963 Kennedy Bill mengemukakan sistem komprehensif dalam layanan kesehatan mental dengan melakukan deteksi dini dari gangguan kesehatan mental yang dapat menurunkan jumlah penderita yang dimasukkan ke RSJ. Tahun 1965 dianggap sebagai kelahiran psikologi komunitas. Pada saat itu diadakan konferensi di Massachusetts di mana para psikolog membahas masa depan dan peran kesehatan mental. Tak lama berselang, terbentuk Community Psychology dalam American Psychological Association (APA).

D. Filosofi

Psikologi komunitas cukup populer dengan definisi sebagai ilmu yang mempelajari efek-efek sosial dan faktor-faktor lingkungan terhadap perilaku yang terjadi pada individu, kelompok, organisasi, dan tingkatan sosial yang lain (Heller et .al., 1984, p.18). Definisi tersebut mengungkapkan bahwa fokus psikologi komunitas adalah isu-isu sosial, institusi-institusi sosial, dan setting lain yang mempebgaruhi kelompok-kelompok dan oraganisasi. Sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatkan serta mengoptimalkan kesejahteraan (wellbeing) dari komunitas dan individu dengan penanganan alternatif yang inovatif dengan berkolaborasi bersama anggota komunitas serta disiplin ilmu yang terkait baik di dalam maupun di luar psikologi. 1. Pencegahan lebih baik daripada penanganan Psikologi komunitas bercirikan adanya upaya untuk mencegah munculnya permasalahan klinis pada tingakatan sosial yang ada. Hal ini juga berarti intervensi psikologi sosial pada berkembangnya permasalahan sosial. Ada pembagian di antara tingkatan dari intervensi pencegahan, yaitu: pencegahan primer, pencegahan sekunder, dan pencegahan tersier. Pencegahan primer merupakan usaha mencegah suatu masalah yang terjadi secara umum dan bersama-sama atau permasalahan muncul paling awal pada situasi yang memungkinkan terjadi. Cowen berargumen ada kriteria yang harus diikuti dalam pencegahan pimer ini: a. Program harus beroientasi pada massa atau kelompok b. Harus dilakukan sebelum maladjustment c. Merupakan penyesuaian. Sedangkan pencegahan sekunder merupakan usaha untuk mengatasi masalah pada situasi mungkin muncul untuk pertama kalinya sebelum hal ini menjadi semakin parah. Pencegahan tersier merupakan usaha untuk mengurangi kuatnya masalah yang sekali muncul dari suatu kejadian yang terus menerus. tindakan sengaja sebagai fokus pada kekuatan

2. Penekanan pada kekuatan dan kompetensi Konsep dari kompetensi dimunculkan oleh psikolog komunitas mulamula. Pertama, ini berkaitan dengan setting ekologis, atau lingkungan dan implikasi-implikasinya untuk mengoptimalkan kompetensi individu dalam komunitas. Kedua, kompetensi dikaitkan dengan konsep pencegahan. Jika seseorang makin kuat di awal kehidupan individu atau kelompok maka permasalahan dapat dihindari dengan lebih mudah. Contoh : 3. Pentingnya Perspektif Ekologis Perspektif ekologis memiliki arti suatu tes dari hubungan diantara orang-orang dan lingkungan mereka (sosial maupun fisik) dan membangun suatu kecocokan yang optimal di antara setting lingkungan dengan orang-orang di dalamnya. a. Menghargai Perbedaan Dalam psikologi komunitas ada penghargaan terhadap

perbedaan-perbedaan yang ada. Setiap orang memiliki hak untuk berbeda dan perbedaan tersebut bukan berarti menunjukkan posisi yang lemah (inferior). Bilamana perbedaan ini ditangkap sebagai suatu fakta yang tidak pernah lepas dari bagian hidup maka akan ada usaha mengenai kesamaan bagi semua perbedaan-perbedaan yang ada. Dari keyakinan mengenai perbedaan ini pula muncul suatu pengenalan dan pemahaman mengenai perbedaan gaya hidup, pandangan dunia, tatanan sosial yang bukan pokok utama dari kehidupan sosial tetapi dapat diterima sebagai bagian dari karakteristik sosial kita yang berbeda. b. Kekuasaan (empowerment) Zimmerman menjelaskan empowerment sebagai suatu konstruk yang menghubungkan kekuatan individu dan kompetensi-

kompetensi, sistem bantuan yang alami, dan perilaku proaktif

terhadapa kebijakan serta perubahan sosial. Teori Empowerment, penelitian, serta intervensi menghubungkan kesejahteraan individu dengan sosial yang lebih besar dan lingkungan politik. c. Pilihan-pilihan di antara alternatif Aspek penting dalam pilihan-pilhan adalah ketersediaan dan aksesbilitas dari pilihan-pilhan mengenai alternatif-alternatif bagi orang-orang untuk komunitas yang cocok baginya. Poin ini menekankan adanya keunikan dari setiap individu yang memerlukan komunitas yang sesuai dan tepat bagi dia. d. Perubahan Sosial Dengan dukungan penelitaian yang kuat maka salah satu sasaran yang ingin dicapai dari psikologi komunitas adalah untuk memdorong adanya perubahan sosial. Perencanaan mengenai perbahan sosial merupakan bagian penting dalam psikologi komunitas. Perubahan sosial ini dapat terjadi dengan direncanakan (planned social change) maupun tanpa ada perencanaan terlebih dahulu (unplanned social change). Dalam perubahan sosial yang terencana sangat memungkinkan pencapaian benar-benar sesuai dengan yang ditargetkan. Bukan hanya itu, dalam psikologi komunitas ini perubahan yang direncanakan pun seringkali menjadi sangat inovatif. e. Kolaborasi dengan dan integrasi dengan disiplin ilmu lainnya Menciptakan perubahan sosial merupakan tugas yang

monumental. Kolaborasi dengan disiplin ilmu lainnya berarti memberikan hasil perubahan yang lebih baik dan lebih masuk akal. 4. Sensitivitas Komunitas Sensitivitas pada komunitas juga merupakan satu dari konsep yang terpenting dalam psikologi komunitas. Lingkungan dan individu yang

sangat cocok dapat menciptakan komunitas yang lebih baik dengan sebuah semangat dan perasaan ke-kita-an. Ada empat elemen yang perlu dipikirkan secara matang yaitu: keanggotaan (membership), pengaruh, integrasi, dan perasaan emosi yang terkoneksi satu sama lain.

E. Tujuan Area psikologi komunitas terbentuk untuk membantu atau meningkatkan kemampuan individu yang powerless terhadap komunitas sosialnya misalnya kalangan minoritas, dan kemampuan individu untuk dapat mengambil kendali atas lingkungan dan kehidupan mereka. Hal ini sangat diperlukan karena akan membantu perkembangan individu dalam mengembangkan psychological sense of community. Psikologi komunitas memiliki berbagai pendekatan ke arah perubahan sistem sosial : 1. Mengenalkan pertumbuhan dan pengembangan individu dan mencegah munculnya suatu permasalahan kesehatan mental dan sosial. 2. Membuat suatu format intervensi yang sesuai dan cepat pada saat mana intervensi tersebut sangat diperlukan. 3. Memungkinkan mereka yang telah bermasalah untuk hidup dengan baik dan mendapat sokongan dari komunitasnya dan lebih baik lagi tingal pada tempat yang dapat menerima kondisinya dan dia akan mendapatkan dukungan. Sebagai contoh, psikologi komunitas mungkin dapat memberi intervensi terhadap individu dengan cara : 1. Menciptakan dan mengevaluasi arah kebijakan dan program yang membantu masyarakat mengontrol tekanan ayang muncul dari aspek dan lingkungan organisatoris yang memunculkan permasalahan. 2. Menilai kebutuhan suatu masyarakat dan memberi arahan anggotanya bagaimana cara mengenali suatu masalah yang masih permulaan dan menghadapi permasalahan yang sudah muncul dan besar.

3. Belajar dan menerapkan jalan yang lebih efektif dan menyesuaikan dengan populasi untuk hidup secara lebih produktif dalam tedensi masyarakat. Hal-hal yang perlu diperhatikan pada pendekatan komunitas : 1. Pendekatan komunitas menekankan kepada efek dari dukungan sosial dan tekanan sosial masyarakat serta tindakan preventif dan self-help. 2. Pemberdayaan lokal dan pentingnya keanekaragaman dan relatifitas budaya. 3. Menekankan kepada masyarakat, kemampuan dan kekuatan pribadi sebagai counter terhadap penyakit dan kelemahan. 4. Perspektif komunitas menekankan pada fungsi riset tidak hanya sebagai pengembangan teori tetapi juga untuk kebijakan dan evaluasi program analisis, dan kehadirannya secara implisit dan berharga bagi

pengembangan kesejahteraan masyarakat dan juga ilmu pengetahuan. Pada intinya pendekatan komunitas tidak meletakkan gangguan di dalam individu yang terganggu dan juga tidak secara totalitas menyalahkan lingkungan akan tetapi fokusnya kepada interaksi orang dengan lingkunganmengidentifikasikan peran dan daya lingkungan yang dapat

menciptakan/mengurangi masalah individu dan kemudian memusatkan diri pada pemberdayaan individu dan kelompok individu untuk lebih dapat dapat menyesuaikan diri dengan keadaan yang dihadapinya.

F. Peran 1. Melakukan penelitian untuk mengidentifikasi masalah dan menganalisa masalah-masalah komunitas, melakukan penelitian mengenai sikap-sikap masyarakat, mengevaluasi program-program sosial tertentu. 2. Berpartisipasi dalam merancang/membuat pola-pola pelayanan sosial serta memberikan evaluasi terhadap program tersebut. 3. Secara profesional berpartisipasi aktif dalam program gerakan-gerakan, sosial bagi pengembangan masyarakat, termasuk juga merancang lingkungan sosial yang dapat memperkecil kesulitan-kesulitan

penyesuaian dan memperluas kesempatan pengembangan pribadi di lingkungan sosial tersebut.

G. Sistem Kerja 1. Psikologi komunitas menekankan kepada dua aspek secara serentak yakni kondisi masyarakat sebagai dasar teori dan riset pada proses lingkungan sosial. 2. Memusatkan, tidak hanya bertitik tolak pada kondisi psikologis individu, akan tetapi atas berbagai tingkatan analisa yang bergerak dari individu kemudian mengkelompokkannya ke dalam organisasi dan akhirnya kepada struktur yang terbesar yakni kelompok masyarakt secara utuh dimana individu berada. 3. Psikologi komunitas meliputi atau cakupan jangkauan luas berupa setting dan substansi dari suatu area/daerah komunitas. Dari ketiga dasar tersebut di atas psikologi komunitas dalam menganalisis permasalahan individu memiliki keunikan tersendiri dimulai dari kondisi individu itu sendiri kemudian mengarah kepada suatu pergerakan sosial masyarakat atau sebaliknya atau juga dimulai secara bersama-sama. Pada dasarnya psikologi komunitas orientasi kerjanya hampir sama dengan psikologi klinis dan kesehatan mental masyarakat dengan tujuan untuk mengenalkan kesejahteraan manusia. Tetapi psikologi komunitas tidak hanya puas denan kencenderungan klinis yang hanya menempatkan permasalahan kesehatan mental yang berfokus di dalam diri individu. Psikologi komunitas lebih melihat ancaman terhadap kesehatan mental dari lingkungan sosial atau konflik/ ketidakcocokan antara individu dengan lingkungannya. Penekanan secara spesifik lebih kepada dukungan sosial bukan kepada perubahan individu. Psikologi komunitas lebih memusatkan perhatian pada kesehatan bukan kepada penyakit, dan kepada peningkaan kemampuan individu dan komunitasnya. Hal inilah yang mungkin merupakan simbol dari psikologi

komunitas dan yang membedakannya dengan psikologi klinis dan kesehatan mental yang lebih berfokus kepada perubahan individu. Bloom mengemukakan perbedaan antara layanan psikologi tradisional dengan layanan pendekatan kesehatan mental komunitas terletak pada: penekanan pencegahan, intervensi dalam komunitas dilakukan dalam populasi yang terbatas, promosi dalam pelayanan tak lamgsung misalnya melalui pelatihan dan pemberdayaan, pelaksanaan yang dilakukan oleh ahli dari berbagai bidan ilmu. Psikologi komunitas lebih berorientasi kepada tindakan preventif (pencegahan). Maknanya psikologi komunitas berusaha untuk mencegah permasalahan terjadi ke depan, dibandingkan menunggu permasalahan tersebut muncul dan menjadi lebih serius. Psikologi komunitas lebih melihat kepada adanya indikasi dari suatu keadaan sehingga bisa melakukan tindakan preventif, dan memiliki prediktor apa yang akan terjadi ke depan dengan kondisi yang ada sekarang. Dengan adanya prediktor inilah yang menjadikan psikologi komunitas berbeda dengan kesehatan masyarakat, dalam memandang kesehatan mental, institusi sosial, dan mutu hidup secara umum. Psikologi komunitas harus memiliki orientasi riset yang kuat, karena sangat tergantung kepada suatu dugaan yang mengarah kepada permasalahan-permasalahan sosial yang akan muncul dengan kondisi yang ada. Psikologi komunitas seperti halnya juga psikologi sosial di dalam pengambilan suatu sistem atau kelompok melalui pendekatan kepada tingkah laku manusia, akan tetapi lebih terkait kepada suatu pengetahuan psikologis untuk memecahkan permasalahan sosial sedangkan psikologi sosial lebih berorientasi kepada fenomena-fenomena interaksi individu dengan sosialnya. Psikologi komunitas juga banyak mengunakan orientasi-orientasi psikologi industri dan organisasi tetapi diterapkan kepada organisasi masyarakat,

bagaimana individu mengikuti sistem sosial yang ada dan mendukung jaringan sosial tersebut. Permasalahan para pekerja dan klien pada sistem manajemen diaplikasikan ke dalam penelaahan isu peraturan sosial dan kontrol masyarakat, dan karakteristik serta kemampuan menghadapi kelompok sosial secara lemah, seperti permasalahan minoritas dan lain sebagainya.

H. Proses Di sini akan dipaparkan sedikit bagaimana sudut pandang psikologi komunitas dalam melihat atau menganalisis dan melakukan pendekatan terhadap permasalahan psikologi pada diri individu. Sebagai ilustrasi, ahli psikologi mengatakan gangguan jiwa disebabkan oleh fenomena intra psikis (interaksi yang terjadi diantara aspek-aspek psikis). Ahli psikoanalisis mengatakan terdapat 3 struktur kepribadian pada individu : id, ego dan superego. Menurut pandangan psikoanalisis timbulnya permasalahan kejiwaan dikarenakan adanya ketidakseimbangan di 3 struktur kepribadian tersebut. Misalnya psikopat dikatakan sebagai gangguan kepribadian yang berat dengan ciri perkembangan superego yang terhambat, fungsi ego baik dan id yang normal. Tapi dilihat dari sudut pandang psikologi komunitas muculnya gangguan ini merupakan produk dari interaksi anatar individu dengan lingkungan sosialnya. Dalam menganalisis kedudukan individu dalam komunitasnya, psikologi komunitas menggunakan 2 titik tolak : 1. Individu sebagai agen (tokoh; pelaku) di dalam kehidupan komunitasnya. Dalam hal ini komunitas berfungsi sebagai : Arena/tempat munculnya tingkah laku. Tempat individu berinteraksi dan merupakan lingkungan yang dapat mendukung/menghambat individu. Contoh : Individu yang cerdas, tidak akan berkembang pada lingkungan sosial yang tidak mendukungnya, dan tidak memiliki fasilitas pendukung.

Tapi individu ini akan berkembag jika berada pada lingkugan sosial yang mendukung dan memiliki fasilitas yang cukup. 2. Individu dipandang sebagai objek dari kehidupan komunitasnya. Di sini fungsi komunitas sebagai sarana/media untuk terjadinya perubahanperubahan kualitas dari individu. Contoh : Suatu daerah yang terpencil, mengalami perubahan yang radikal seiring dengan perkembangan zaman, menjadi daerah yang ramai dan pesat. Secara langsung akan mengubah perilaku individu-individu yang ada di dalamnya. Proses psikologi komunitas merupakan konteks (ruang lingkup) untuk menerapkan model-model psikologi komunitas. Istilah model digunakan untuk menunjuk pada suatu penyajian struktur dan fungsi dalam hal ini permasalahan komunitas. Dalam masalah-masalah komunitas, psikologi komunitas menerapkan model : 1. Model Kesehatan Mental (The Mental Health Model). Model ini beranggapan bahwa mencegahterjadinya gangguan mental akan lebih efektif daripada mengobati. Model kesehatan mental lebih menekankan pada pendekatan preventif/prevention. 2. Model Organisasi (The Organization Model). Model ini didasarkan pada penelitian-penelitian sosial, terutama penelitian yang menelaah, mengenai pengaruh kondisi/organisasi atau sistem organisasi pada sistem sosial terhadap kelompok. Misalnya pengaruh gaya kepemimpinan. Model ini beranggapan bahwa manajemen/pengelolaan bertanggung jawab untuk mengorganisir elemen-elemen dalam kelompok., seperti : uang,

materi/benda, alat-alat, manusia yang bertujuan untu7k mendapatkan profit. Dalam hubungannya dengan manusia, proses ini bertujuan untuk mengarahkan usaha-usaha memotivasi dan mengontrol tindakan serta mengontrol perilaku gara sesuai dengan tujuan. Tanpa adanya intervensi dari manajemen, manusia akan menjadi pasif dan tidak responsif terhadap kebutuhan-kebutuhan kelompok.

3. Model Tindakan Sosial (The Social Action Model). Model ini menggunakan pendekatan dengan berpartisipasi langsung terhadap

kondisi yang menyebabkan timbulnya gangguan/masalah di dalam masyarakat. Misalnya : mengatasi masalah kemiskinan, caranya dengan memobilisasi dan mengkoordinasikan sumber-sumber yang ada dalam komuniti, keterlibatan secara langsung dalam mengatasi kemiskinan, misalnya menciptakan lapangan kerja, merangsang pertumbuhan usahausaha wiraswasta, memberikan pinjaman/kredit. 4. Model Ekologi (The Ecological Model). Model ini dipegaruhi oleh Teori Kurt Lewin yang menekankan pada saling ketergantungan antara manusia dengan lingkungan. Model ini beranggapan bahwa prinsip-prinsip ekologi dapat digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang timbul serta untuk menciptakan proses-proses intervensi yang dibutuhkan. Dalam memahami sebuah komunitas, psikolog komunitas perlu memperhatikan tingkat ekologikal komunitas tersebut sebelum melakukan

pendekatan/intervensi: a. Tingkat individual b. Mikrosistem, merupakan lingkungan terdekat individu, yang mana berulang-ulang digunakan individu secara langsung untuk melakukan interaksi personal dengan orang lain. dalam mikrosistem, individu membentuk hubungan interpersonal, mengambil peran sosial dan berbagi kegiatan. Mikrosistem meliputi: keluarga, ruang kelas, kelompok diskusi, teman, tim olahraga. c. Organisasi, merupakan kumpulan mikrosistem yang lebih kecil yang mana memiliki stuktur formal yaitu adanya peraturan, kebijakan, waktu pertemuan, dsb. Contohnya, sekolah, tempat kerja, kelompok paduan suara, dan sebagainya. d. Locality, merupakan sekumpulan organisasi atau mikrosistem yang mana tiap-tiap individu berpatisipasi bagi kehidupan daerah mereka melalui kelompok-kelompok yang lebih kecil. Contohnya, pedesaan, kota kecil, lingkungan urbanisasi atau kota besar.

e. Makrosistem, merupakan lingkungan jarak terjauh individu, yang mempengaruhi kehidupan individu melalui kebijakan atau keputusan spesifiknya. Contohnya, masyarakat, budaya, partai politik,

perusahaan, mass media, internet, dan sebagainya.

DAFTAR PUSTAKA

Dalton, Elias, & Wandersman. 2007. Community Psychology: Individuals and Communities. Second Edition. Thomson Wadsworth: USA. Karen G. Duffy & Frank Y. Young. Community Psychology. Boston: Allyn & Bacon.