Anda di halaman 1dari 30

PETUNJUK PRAKTIKUM FARMAKOGNOSIS

Penyusus : Atik Hidayati, S.Si., Apt Saepudin, S.Si., Apt Asih Triastuti, S.F., Apt

JURUSAN FARMASI FMIPA UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YOGYAKARTA 2008

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, buku petunjuk praktikum Farmakognosi ini berhasil disusun. Petunjuk ini disusun sebagai sarana untuk memudahkan mahasiswa dalam pelaksanaan praktikum Farmakognosi Jurusan Farmasi Fakultas MIPA Universitas Islam Indonesia. Buku petunjuk ini merupakan penyempurnaan buku petunjuk praktikum farmakognosi-fitokimia II, yang disusun berdasarkan pada materi kuliah farmakognosi dengan mengacu pada buku-buku standar dan perkembangan obat alam. Akhir kata, buku petunjuk ini masih jauh dari sempurna oleh karena itu kritik dan saran sangat dibutuhkan untuk membantu penyernpurnaan praktikum ini agar sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan khususnya Farmakognosi-Fitokirnia.

Yogyakarta, Agustus 2005

Penyusun

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

DAFTAR ISI Kata Pengantar ............................................................................ Daftar Isi ..................................................................................... Unit 1 .......................................................................................... Unit 2 .......................................................................................... Unit 3 .......................................................................................... Unit 4 .......................................................................................... Unit 5 .......................................................................................... DAFTAR PUSTAKA i ii 1 9 18 25 36

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

UNIT I PEMERIKSAAN BAHAN NABATI Tujuan praktikum Dengan melaksanakan praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu memahami isi dan maksud deskripsi simplisia di dalarn buku Materia Medika Indonesia (MMI) dan buku-buku lain yang terkait. Pendahuluan Laboratorium farmakognosi mempunyai tugas antara lain mengevaluasi simplisia nabati dan kandungan kimianya. Identifikasi diantaranya dapat dilakukan terhadap simplisia baik dalam keadaan tunggal maupun campuran dari bahan utuh / rajangan ataupun serbuk. Dalam ruang lingkup obat tradisional (OT) dan fitofarmaka pertimbangan utama yang harus diperhatikan adalah tujuan dilakukannya analisis, macam kandungan tanaman pengganggu dan ketersediaan alat. Masalah aktual yang banyak memerlukan ketepatan pemilihan metode analisis adalah pembuktian kebenaran komposisi dan standarisasi kadar kandungan aktif atau zat identitas sediaan. Pemeriksaan mutu simplisia umumnya diawali begitu sampai pada tahap akhir proses penyimpanan simplisia, yaitu setelah dilakukan sortasi kering. Untuk memeriksa mutu simplisia sudah ada pedoman resmi dari Departemen Kesehatan RI yaitu monografi-monografi yang tertera dalam Farmakope Indonesia (FI), Ekstra farmakope Indonesia (EFI), dan Materia Medika Indonesia(MMI). Pengujian mutu simplisia meliputi pemeriksaan a. Organoleptis b. kebenaran jenis simplisia, yang dapat ditentukan secara 1. makroskopik dan mikroskopik 2. kimia, identifikasi komponen kimiawi dominan dalam simplisia secara kualitatif dan kuantitatif c. kadar air dan susut pengeringan dengan metode resmi yang berlaku atau metode lain yang sesuai

DAFTAR PUSTAKA Anonim, 1977, Materia Medika Indonesia, Jilid I, Departernen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Anonim, 1977, Materia Medika Indonesia, Jilid II. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Jakarta Anonim, 1977, Materia Medika Indonesia, Jilid III, Departernen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Anonim, 1977, Materia Medika Indonesia, Jilid IV, Departemen Kesehatan Republik !ndonesia, Jakarta Anonim, 1977, Materia Medika Indonesia, Jilid V, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Anoi.irn, 1977, Materia Medika Indonesia, Jilid VI, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta Bettolo, G.B.M., Nicoletti, M. and Patamia, M., 1981, Plant Screening by Chemical and Chromatographic Procedurs Under Field Condition, J. of Chromatog., p. 213 Claus, E.P., 1970, Pharmacognosy, Lea & Febiger, Philadelphia Stahl, E.,, Drug Analysis by Chromnatography and Microscopy, Ann Arbor Science Publisher Inc., Michigan Wagner, H., Bladt, S. and Zgainski. E.M., 1984, Plant Drug Analysis A Thin Layer Chromatography Atlas, Jilid I, Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Larutan D dan larutan E Fase gerak : sikloheksan-dietilamina (2:7) v/v Fase diam : Silika gel GF234 Deteksi : pereaksi semprot Dragendorf dilanjutkan dengan NaNO2 Larutan F Fase gerak : heksana-etil asetat (96:4), pengembangan 2x Fase diam : Silika gel GF254 Deteksi : sinar UV 254, anisaldehid asam sulfat Catatan : Untuk mendapatkan kromatogram yang baik, sari yang diperoleh dari penyarian perlu dipekatkan, dan residu dilarutkan dalam pelarut organik yang sesuai. Pembanding sang digunakan - Flavonoid : Larutan rutin 0,05% dalam metanol - Antrakinon : Larutan Rhei radix (0,5 g) dipanaskan dalam methanol (5 ml) selama 5 menit, saring, filtrat diuapkan sampai 0,5 ml. Totolkan 20 l. - Saponin : Larutan daging buah Sapindus rarak (2 g serbuk direfluks dengan 10 ml etanol 70% selama 10 menit) - Kumarin : Larutan Rutae Herba (0,5 g serbuk dipanaskan sambil diaduk dalam 5 ml metanol selama 30 menit, saring, filtrat diuapkan sampai 0,5 ml). Totolkan 20 l. - Tanin : Larutan asam tannat 0,05% dalam etanol 70% sebanyak 10 - Kardenolida : Larutan digoksin, lanatosida C (5 mg serbuk dalam 2 ml metanol pada 60C) - Alkaloida : Larutan piperin 1% dan kofein dalam etanol

d. kemurnian sari yang terlarut dalam etanol, batas bahan organik asing dan kadar abu e. pemeriksaan aktivitas farmakologi f. untuk simplisia asal kultur jaringan dilakukan pemeriksaan cemaran pestisida (apabila diperlukan) Metode mikroskopi merupakan salah satu cara yang dapat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya pemalsuan simplisia, namun terbatas pada segi kualitatif saja. Untuk maksud ini, penganalisis harus memahami betul ciri khas dari setiap simplisia secara mikroskopi. Yang dirnaksud haksel adalah simplisia dalam bentuk rajangan, irisan, fragmen atau utuh yang biasanya terdapat dalam ramuan atau sediaan (haksel tidak berbentuk serbuk). Pertelaan atau deskripsi yang diperlukan dalarn mendeskripsikan suatu simplisia melipuii tumbuhan atau tanaman asal, suku atau familia, bentuk sediaan dan pertelaan secara organoleptis, ciri khas (bila ada), ukuran bila perlu, serta gambar dari contoh simplisia yang dideskripsikan.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

PERCOBAAN I IDENTIFIKASI AMILUM SECARA KIMIAWI DAN MIKROSKOPI I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan percobaan ini diharapkan mahasiswa mengetahui dan dapat membedakan macam-macam amilum yang umum digunakan dalam sediaan farmasi. BAHAN UJI Amilum oryzae (pati beras) Amilum tritici (pati gandum) / maezena jagung Amilum manihot (pati tapioca) Amilum marantae (pati garut) Amilum solani (pati kentang)

Larutan A Larutan B Larutan C Larutan D Larutan E Larutan F

: untuk uji antrakinon, senyawa fenolat, flavonoid, kumarin dan steroid : untuk uji antrakinon, glikosida, saponin dan tanin : untuk uji kardenolida, saponin, glikosida antrakinon dan glikosida flavc:ioid : untuk uji alkaloid tertier : untuk uji alkaloid kuartener : untuk uji terpenoid

II. -

Sistern KLT yang digunakan adalah sebagai berikut : Larutan A Fase gerak : etil asetat-kloroforrn (9:11) Fase diam : Silika gel GF254. Deteksi : FeCl3, garam fast blue atau vanillin asam sulfat Larutan B Fase gerak : 1. etilasetat-metanol-air (100:13,5:10) Fase diam : 1. Silika gel 2. Silika gel GF254 Deteksi : 1. Besi (III) klorida 2. Sitroborat 3. KOH etanolis Larutan C Fase gerak : 1. n-butanol-asam asetat-air (5:1:4) v/v fase atas 2. Kloroform-metanol-air (64:50:10) v/v 20C Fase diam : 1. Silika gel GF254 2. Silika gel GF254 Deteksi : 1. Lieberrnann Burchard 2. Vanilin-asam sulfat

III. PEREALSI DAN ALAT Pereaksi yang digunakan : - Aquadest - Larutan iodium Alat yang digunakan : - Gelas obyek - Gelas penutup - Mikroskop - Beker glass - Pipet tetes - Tabung reaksi kecil

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

2. Skema penyarian alkaloida

Serbuk Simpleks (2-3 g) Disari dengan petroleum eter 10 ml, 50oC, 5 menit

Sisa Disari dengan HCl 1% 10 ml, 50oC, 5 menit

Fraksi petroleum eter (larutan F)

IV. CARA KERJA 1. Pemeriksaan amilum dengan larutan iodiurn Masukkan larutan amilum 1% (Ingat, apa arti %?) untuk semua jenis amilum yang diperiksa dalam tabung reaksi. Tambahkan beberapa tetes larutan iodium. Catat warna yang terjadi untuk masing-masing jenis amilum yang diperiksa. 2. Pemeriksaan amilum secara mikroskopi Ambil sedikit amilum (secukupnya). Letakkan di atas gelas obyek, tetesi dengan sedikit air dan tutup dengan gelas penutup. Amati di bawah mikroskop dengan perbesaran lemah (12,5 x 10) dan perbesaran kuat (12,5 x 40). Analisis bentuk amilum dari masing-masing spesies tanaman. V. TUGAS 1. Gambar hasil pengamatan yang anda peroleh pada kertas gambar. Tunjukkan bagian-bagian amilum hasil pengamatan anda, dan jelaskan perbedaan bagian-bagian untuk setiap jenis amilum yang anda periksa. 2. Sebutkan tanaman asal beserta familia untuk masing-masing amilum yang anda periksa.

Sisa dibuang

Fraksi HCl

Uji dengan pereaksi Dragendorf, bila positif + NaHCO3 1 M ad. PH 8-9 disari dengan CHCL3 10 ml

Lapisan atas

Dinetralkan dengan CH3COOH

Lapisan bawah

Disari dengan HCl 1% Larutan E

Lapisan bawah (disingkirkan)

Lapisan atas (larutan D)

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

PERCOBAAN II PEMERIKSAAN SIMPLISIA SECARA MIKROSKOPI I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan percobaan ini, diharapkan mahasiswa dapat mengidentifikasi simplisia dengan menggunakan mikroskop serta dapat menyebutkan ciri khas simplisia yang diperiksa. BAHAN UJI - Simplisia daun 1. Daun digitalis 2. Daun the 3. Daun tempuyung 4. Daun dewa - Simplisia kulit butang 1. Kulit manis jangan 2. kulit kina - Simplisia akar dan rimpang 1. Akar kelembak 2. Akar ipekak 3. Rimpang jahe 4. Rimpang temu lawak 5. Rimpang kunyit

1. Skema pembuatan larutan percobaan untuk KLT

II.

III. PEREAKSI DAN ALAT Pereaksi yang digunakan - Larutan kloralhidrat Alat yang diperlukan - Gelas obyek - Lampu spiritus - Gelas penutup - Penjepit - Mikroskop - Kertas dan pensil - Pipet tetes

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

9. Identifikasi glikosida sianogen - Identifikasi dilakukan terhadap potongan batang atau daun yang masih segar. - Kertas pikrat dibuat dengan mencelupkan potongan kertas saring ke dalarn larutan asarn pikrat jenuh (0,05 M) dalam air, yang sebelumnya dinetralkan dengan NahCO3 dan disaring. Setelah dikeringkan, kertas dapat disimpan lama. - Beberapa potongan helai bahan uji yang masih segar ditempatkan dalam tabung reaksi, lalu ditambahkan setetes atau dua tetes air dan toluena, kemudian dilumatkan dengan menggunakan batang pengaduk. Tabung kemudian ditutup sampai kedap dengan gabus yang digantungi kertas pikrat. Inkubasi dilakukan selama 2 jam pada suhu 40C. Adanya asam sianida yang dibebaskan akan mengakibatkan terjadinya perubaaan warna pada kertas pikrat dari kuning menjadi coklat kemerahan. Apabila reaksi negatif, tabung tersebut tetap disimpan selama 2 hari untuk diamati lagi. Setelah 2 hari, diamati apakah asam sianida dibebaskan atau tidak. 10. Identifikasi secara KLT Skema pembuatan larutan percobaan untuk KLT (Lihat pada halaman herikut)

IV. CARA KERJA 1. Ambil sedikit serbuk simplisisa yang akan diperiksa, letakkan di atas gelas obyek. Hangatkan di atas lampu spiritus, dan dijaga agar jangan sampai mendidih. Tutup dengan gelas penutup. 2. Amati masing-masing simplisia yang telah diperlakukan sesuai dengan cara pada point 1. Gunakan perbesaran lemah dan perbesaran kuat. V. TUGAS 1. Gambarlah hasil pengamatan yang telah anda peroleh pada kertas yang telah anda sediakan. Tunjukkan bagian-bagian atau fragmen-fragmen sel yang anda temukan pada pengamatan untuk masing-mamg simplisia. Bandingkan dengan gambar yang ada pada buku standar (MMI) 2. Sebutkan tanaman asal untuk masing-masing simplisia yang anda periksa, dan sebutkan pula kegunaan masing-masing simplisia secara empiris di masyarakat maupun aplikasinya dalam dunia farmasi.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

PERCOBAAN III PEMERIKSAAN HAKSEL I. TUJUAN PERCOBAAN Sesudah melakukan percobaan ini, mahasiswa diharapkan dapat melakukan identifikasi beberapa macam haksel yang biasa digunakan dalam ramuan untuk pengobatan atau tersedia di apotek. BAHAN DAN ALAT Bahan uji yang diperiksa yaitu simplisia yang berasal dari daun, kulit batang, akar dan rimpang : - Melaleuca Fructus (Merica bolong) - Curcuma aeruginosa Rhizoma (Rimpang Temu lawak) - Curcuma longae Rhizoma ( Rimpang Kunyit) - Abri Folium (Daun Saga) - Calami Rhizoma ( Dringo) - Guazumae Folium (Daun Jatilanda) - Languatis Rhizoma (Rimpang Lengkuas) - Parkiae Semen (Biji Kedawung) - Phyllanthi Herba (Herba Meniran) - Usneae Thallus ( Kayu angin) - Sappan Lignum (Kayu Secang) - Orthosiphonis Folium (Daun Kumis Kucing) - Andrographis Folium (Daun Sambiloto) - Tinosporae Caulis (Batang Brotowali) - Amomi Fructus (Buah Kapulaga) - Piper relrofractum fructus (buah cabe jawa) - Morinda citrifolia fructus (buah mengkudu) - Foeniculum vulgare fructus (buah adas) - Parameria barbata lignum (kayu rapat) - Alstonis scholaris korteks (kulit batang pule)

II.

7. Uji kardenolida Sebanyak 2 g serbuk simpleks diLambah 10 ml air, dipanaskan di atas penangas air mendidih selama 30 menit. Disaring, sebanyak 2 ml filtrat yang diperoleh ditambah dengan asam 3,5-dinitro benzoat sebanyak 0,4 ml dan KOH IN sebanyak 0,6 ml dalam metanol. Terjadinya warna biru-ungu menunjukkan adanya kardenolida (glikosida jantung). Untuk penegasan lebih lanjut, fltrat yang lain sebanyak 2 ml dicampur dengan kloroform sebanyak 2 mnl. Lapisan atas diambil dengan pipet. Lapisan bawah ditambah dengan asam 3,5 dinitrobenzoat sebanyak 0,5 ml. Terjadinya warna biru-ungu menunjukkan adanya kardenolida. 8. Identifikasi Saponin Sebanyak 100 mg serbuk simpleks ditambah dengan 10 ml air di dalam tabung reaksi, tutup dan, kocok kuat-kuat selama 30 detik. Biarkan iabung reaksi dalam posisi tegak selama 30 menit. Apabila buih yang berbentuk seperti sarang lebah setinggi kurang lebih 3 cm dari permukaan cairan terbentuk, menunjukkan adanya saponin. Uji lain dilakukan dengan pipa kapiler diameter 1 mm dan panjang 12,5 mm. Larutan hasil pemanasan serbuk simpleks sebanyak 2 g dalam 10 ml air selama 30 menit dan telah disaring, dimasukkan ke dalam pipa kapiler penuh-penuh. Pipa kapiler diletakkan dalam posisi tegak, kemudian cairan dibiarkan mengalir bebas. Tinggi cairan yang tertinggal dibandingkan dengan tinggi air suling yang diperlakukan sarna seperti filtrat. Bila tinggi cairan filtrat setengah atau kurang dari tinggi air suling maka adanya saponin dapat diperhitungkan.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

4. Adentifikasi Antrakinon. Sebanyak 300 mng serbuk simpleks dididihkan selama 2 menit dengan 10 ml KOH 0,5N dan 1 ml larutan hidrogen peroksida. Setelah dingin, suspensi disaring melalui kapas. Filtrat sebanyak 5 ml ditambah dengan asam asetat sebanyak 10 tetes sampai pH 5 kemudian ditambah toluena sebanyak 10 ml. Lapisan atas sebanyak 5 ml dipindahkan dengan pipet dan dimasukkan dalam tabung reaksi, kemudian ditambah KOH 0,5N. Warna merah yang terjadi pada lapisar air (basa) menunjukkan adanya senyawa antrakinon. 5. Identifikasi Senyawa Polifenol Sebanyak 2 g serbuk simpleks dipanaskan dengan air sebanyak 10 ml selama l0 menit diatas penangas air mendidih. Disaring panas-panas, setelah dingin ditambah pereaksi besi (III) klorida febanyak 3 tetes. Terjadinya warna hijau-biru menunjukkan adanya polifenolat. Uji diulang dengan filtrat hasil pendidihan serbuk simpleks dengan etanol 80% selama 10 menit di atas penangas air.

Alat Yang digunakan : - Kaca pembesar (loup) - Pensil - Kertas Gambar III. CARA PEMERIKSAAN Ambil sedikit contoh yang dapat mewakili (representatif) simplisia yang akan diperiksa. Deskripsikan wujudnya secara umum, dan sebutkan ciri-ciri khas / spesifik yang mungkin dimiliki. Lakukan uji secara organoleptis (warna, bau, dan rasa), jika perlu haksel dapat dirobek, dipatahkan atau dirernuk. IV. TUGAS 1. Gambarlah contoh simplisia yang telah anda periksa sehingga anda dapat mengingatnya. 2. Sebutkan tanaman asal dari simplisia yang anda periksa beserta khasiatnya dalarn pengobatan.

6. Identifikasi Tanin Sebanyak 2 g serbuk simpleks dipanaskan dengan air sebanyak 10 ml selama 30 menit di atas panangas air. Disaring, filtrat sebanyak 5 m1 ditambah dengan natrium klorida 2% sebanyak 1 ml. Bila terjadi suspensi atau endapan, disaring melalui kertas saring. Filtrat kemudian ditambah dengan larutan gelatin 1% sebanyak 5 ml. Terbentuknya endapan menunjukkan adanya tanin atau zat samak.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

UNIT 2 MINYAK ATSIRI Minyak atsiri merupakan senyawa minyak yang berasal dari bahan tumbuhan dengan beberapa sifat, antara lain : sangat mudah menguap apabila dibiarkan pada udara terbuka, memiliki bau khas seperti pada tumbuhan aslinya, umumnya tidak berwarna tetapi semakin lama menjadi gelap karena mengalami oksidasi dan pendamaran. Karena sifatnya yang mudah menguap, minyak atsiri sering pula disebut sebagai minyak menguap (volatile oil) atau minyak eteris. Di dalam tumbuhan, minyak atsiri terutama terdistribusi pada daun dan bunga. Berdasarkan kategori familianya, minyak atsiri terakumulasi pada bagian khusus, misalnya pada trikoma glanduler (Lamiaceae), pada sel parenkim yang termodifikasi (Piperaceae), pada sel minyak / vittae (Apiaceae), pada kelenjar minyak (Rutaceae, Pinaceae). Pada tumbuhan dengan familia Coniferaceae, minyak atsiri terdapat hampir pada seluruh jaringan. Pada familia Rosaceae minyak atsiri terutama terdapat pada petala bunga, sedangkan pada tumbuhan genus Cinnamon minyak atsiri terdapat pada batang dan juga daun. Pada familia tumbuhan yang lain, minyak atsiri mungkin terakumulasi pada tempat-tempat tertentu yang berlainan. Minyak atsiri dapat terjadi langsung dari aktivitas protoplasma, dekomposisi lapisan resigen dinding sel atau dari hidrolisis senyawa tertentu. Komposisi minyak atsiri sangat beragam dan terdiri dari beberapa komponen yang sangat kompleks. Komponen minyak atsiri dapat berupa : 1. Hidrokarbon Monoterpena (C10H16) terdapat dalam hampir semua minyak atsiri. Seskuiterpena (C20H32) terdapat dalam banyak minyak atsiri. Diterpena (C20H32) hanya terdapat pada beberapa minyak atsiri. Terpena merupakan komponen utama minyak atsiri, misalnya : Fellandren (Piperis nigri Fructus) dan Kadinen (Piper cubebae Fructus)

gugus hidrofilik (gugus gula, asam, fenolat, dsb.). Pada penambahan KOH (3 tetes) warna larutan menjadi lebih intensif. 3. Identifikasi Alkaloid Serbuk tumbuhan (2 g) dipanaskan dalam tabung reaksi besar dengan asam klorida 1% sebanyak 10 ml selama 30 menit dalam penangas air mendidih. Suspensi disaring dengan kapas ke dalam tabung reaski A dan tabung reaksi B sama banyak. Larutan pada tabung A dibagi dua sama banyak, kemudian kedalam larutan dalam tabung A-1 ditambahkan pereaksi Dragendorf sebanyak 3 tetes, dan kepada larutan dalam tabung A-2 ditambahkan pereaksi Mayer 3 tetes. Terbentuknya endapan dengan kedua pereaksi pengendap alkaloid tersebut menunjukkan adanya alkaloid. Adanya alkaloid dari basa-basa tersier atau kuarterner dapat ditunjukkan dengan penambahan serbuk natrium karbonat sampai pH 8 - 9, kernudian dicampur dengan 4 ml kloroform, aduk pelan-pelan. Setelah kloroform memisah, diambil dengan pipet dan ditambah dengan asam asetat sampai pH 5. Aduk dan pisahkan lapisan atas dengan pipet. Tambahkan 5 tetes pereaksi Dragendorf pada lapisan atas yang diperoleh. Terbentuknya endapan menunjukkan adanya alkaloid dari basa kuarterner. Kemudian lapisan bawah ditambah asam klorida 1% sebanyak 10 tetes, diaduk dan pisahkan lapisan atas. Tambahkan 2 tetes pereaksi Dragendorf. Terbentuknya endapan menunjukkan adanya alkaloida dari basa tersier.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

PERCOBAAN XII SKRINING FITOKINIIA I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi senyawa golongan flavonoid, antrakinon, saponin, alkaloid dan senyawa golongan fenolikpolifenol dalarn suatu bahan. BAHAN UJI Serbuk simplisia yang akan diperiksa

2. Alkohol Terdapat dalam berbagai bentuk, misalnya alkohol alifatik, asiklik, dan dapat pula dalarn bentuk esternya. misalnya : menthol (Oleum Menthae piperitae) dan d-borneol (Oleum Cardamomi). 3. Aldehida Terdapat dalam minyak atsiri dalam bentuk alifatik, asiklik, heterosiklik dan aromatik. Contoh : Sinamil aldehida, (Oleum Cinnamomi). 4. Keton Terdapat dalarn minyak atsiri dalam bentuk alifatik, asiklik, heterosiklik dan aromatik. Contoh : Carvon (Oleum Sinapis dan Oleum Menthae piperitae) 5. Fenol Bersifat sebagai antiseptik, misalnya Carryophylli) dan timol (thymi herba)

II.

III. CARA KERJA 1. Pembuatan serbuk simpleks Pengumpulan bahan simpleks (seluruh tumbuhan atau bagian tumbuhan tertentu) dilakukan dari daerah tertentu, pada bulan tertentu, berasal dari tumbuhan tertentu yang berada dalam masa tertentu. Bahan yang sudah dikumpulkan tersebut dicuci dengan air mengalir, kemudian dikeringkan dengan cepat. Pengeringan dapat dilakukan dengan jalan diangin-anginkan dalam suhu kamar, dipanaskan dalam almari pemanas yang dilengkapi dengan kipas angin, atau dijemur dibawah sinar matahari langsung dengan ditutupi kain hitam. Setelah simpleks kering dan mudah dihancurkan, diserbuk dengan cara digiling atau cara lain, diayak, sehingga diperoleh serbuk simpleks yang kering yang siap untuk diteliti. 2. Uji pendahuluan Serbuk simpleks kering dipanaskan dengan air sebanyak 10 ml selama 30 menit di atas penangas air mendidih. Larutan yang terjadi disaring melalui kapas. Suatu larutan yang benwarna kuning sampai merah. Menunjukkan adanya senyawa yang mengandung kromofor (flavonoid, antrakinon, dsb.), dengan

Eugenol

(Oleum

6. Eter fenolat Anetol (Oleum Anisi) dan Safrol (Oleum Sassafras) metoksi safrol atau miristin (Oleum Myristicae). 7. Oksida Sineol atau Eukaliptol Oleurn Eucalypti dan Oleum Cayuputi. 8. Lain-lain Asam, ester, turunan furan, lakton dan lain-lain.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Meskipun minyak atsiri memiliki keragaman kimiawi yang cukup besar, namun sifat-sifat fisiknya satusama lain sangat mirip, yaitu bau khas, indeks refraksi yang tinggi, umumnya bersifat optis aktif dan nilai rotasi yang spesifik, tidak larut dalam air tetapi larut dalam eter, alkohol dan kebanyakan pelarut organik. Sifat-sifat minyak atsiri tersebut perlu diketahui dan dipahami dengan benar karena sangat penting untuk analisis minyak atsiri dan menganalisis adanya pemalsuan dalam suatu sediaan.

Aduk selama 5 menit, saring. Filtrat ditambah larutan KOH 5% dalam etanol 96%. Identifikasi positif bila terjadi warna ungu tua. - Menurut Duquenois-Levine 500 mg serbuk ganja disari dengan 8 - 10 ml petroleum eter. Bila yang diperiksa dalam bentuk rokok, maka sebatang rokok diperkolasi dengan petroleum eter sama banyak. Perkolasi dilakukan dengan jalan menjepit rokok pada bibir tabung dengan penjepit, kemudian ditetesi dengan petroleum eter. Tambahkan 2 ml perekasi Duquenois-Levine, putar tabung reaski dan amati warna yang terjadi. Kemudian tambahkan 2 ml HC1 aduk dan biarkan 10 menit. Amati warna yang terjadi. Akhirnya tambahkan 3 ml kloroform, gojog, biarkan terpisah menjadi 2 lapisan, amati warna lapisan kloroform. Uji positif bila terjadi warna ungu sampai ungu kemerahan pada lapisan kloroform. 7. Identifkasi alkaloid secara kromatogrufi lapis tipis Lakukan uji alkaloida piperin dalam serbuk merica secara kromatografi lapis tipis sebagai berikut : Fase diam : Silika gel GF Fase gerak : Toluena : Etil asetat ( 70 : 30 ) Cuplikan : 1 g serbuk disari dengan 10 ml etanol selama 10 menit (direfluks), lalu disaring. Filtrat yang diperoleh dipekatkan sampai 3 ml. Deteksi Diamati dibawah sinar UV, atau jika ada disemprot dengan pereaksi vanilin-asam sulfat pekat.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

6. Identifkasi Ganja (hanya untuk pengetahuan) a. Identifikasi secira inikroskopi Ambil sedikit serbuk yang diduga mengandung ganja, tempatkan pada gelas obyek, tambahkan 1 - 2 tetes kloralhidrat, campur baik-baik dengan batang pengaduk. Panaskan hati-hati diatas lampu spiritus, sampai larutan berwarna pucat. Perhatikan jangan sampai mendidih, bila perlu dapat ditambahkan kloralhidrat lagi. Tutup gelas obyek dengan gelas penutup sedemikian rupa, sehingga tidak ada gelembung udara. Periksa di bawah mikroskop dengan pembesaran lemah, bila diperlukan dengan perbesaran kuat. Amati cystolith yang terdapat pada rambut penutup, tambahkan HCl 6 N. Perhatikan juga fragmen-fragmen yang lain. cocokkan dengan pustaka yang ada. b. Uji kanabinoid - Menurut Ghamrawy (p-DAB-asam sulfat) 5 mg serbuk yang diduga mengandung ganja diektraksi dengan menggunakan 5 ml metanol, saring dan uapkan dengan ditambah sedikit pasir sampai kering. Residu disari dengan petroleum eter, saring, cuci berturut-turut dengan 2 ml natriun karbonat 5%, 2 ml asam sulfat 5%, dan 2 ml air. Bila perlu dapat ditambahkan norit untuk menghilangkan warna. Saring, uapkan flitrat di atas penangas air. Selanjutnya pada residu tambahkan sedikit kristal p-dimetil amino benzaldehida (pDAB) dan 3 tetes asam sulfat pekat. Identifikasi dikatakan positif bila terjasi warna merah ungu kecoklatan.

PERCOBAAN IV PEMERIKSAAN MINYAK ATSIRI I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan praktikum ini, mahasiswa diharapkan mengetahui sifat-sifat minyak atisir dan dapat melakukan caracara untuk mengidentifikasi bahan alami nabati yang mengandung minyak atsiri baik secara organoleptik, mikroskopi, maupun kimiawi. BAHAN UJI Bahan yang diperiksa : Minyak cengkeh ( Oleum Caryophilli) Minyak mentha (Oleum Menthae piperitae) Minyak kayu manis (Oleum Cinnamomi) Minyak kayu putih (Cajuputi oil) Oleum Anisi Minyak goreng (coconut oil) Minyak jagung (corn oil) Minyak kedelai

II.

- Menurut Beam (KOH etanolis 5%) 100 mg serbuk ganja disari dengan l ml etanol 96%.

III. PEREAKSI DAN ALAT Bahan yang digunakan : Larutan Ferri klorida Natrium klorida jenuh Petroleum eter Kloroform Etanol Natrium nitrit Fenilhidrazin hidroklorida Asam asetat glacial Natrium hidroksida

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Alat yang digunakan : - Gelas obyek - Mikroskop - Gelas penutup - Tabung reaksi besar IV. CARA KERJA A. Identifikasi minyak atsiri secara umum 1. Teteskan satu tetes minyak atsiri pada permukaan air, maka minyak atsiri akan menyebar dan air tidak akan menjadi keruh. Bandingkan dengan minyak lemak. 2. Teteskan satu tetes minyak atsiri pada sepotong kertas saring. Bila dibiarkan, maka minyak atsiri akan menguap dengan sempurna tanpa meninggalkan noda transparan. Banfingkan dengan minyak lemak. 3. Kocoklah 1 ml minyak atsiri dengan 1 ml larutan natrium klorida jenuh dalam tabung reaksi, biarkan memisah kembali. Volume lapisan air tidak boleli bertambah. 4. Ukurlah kelarutan minyak atsiri dalam etanol, petroleum eter, dan kloroform. Hitung berapa tetes pelarut yang diperlukan untuk melarutkan dengan sempurna satu tetes minyak atsiri. 5. Deteksi adanya senyawa fenol dalam minyak atsiri. Cara : ke dalam 2 rnl larutan minyak atsiri (25% dalam etanol 95% netral) tambahkan setetes larutan Ferri klorida. Amati warna yang terjadi. 6. Deteksi terjadinya reduksi volume minyak atsiri yang mengandung fenol dan turunannya.

IV. CARA KERJA 1. Identifikasi Mikrokimiawi untuk Kinina Maserasi sebanyak kurang lebih 200 mg serbuk Chinae Cortex dengan 20 ml air dan 2 tetes asam sulfat encer selama 1 jam. Maserat berwarna coklat muda, disaring. Pada filtrat ditambahkan 2 tetes asam sulfat encer, didihkan sebentar, tambahkan 50 mg arang penyerap. Cairan akan menjadi bening, dan apabila dilihat dibawah lampu UV akan terjadi fluoresensi biru jelas. 2. Identifikasi Mikrokimiawi untuk Nikotin Sedikit serbuk daun Nicotiana tabacum (Tembakau). dimikrosublimasi. Sublimat yang diperoleh yang berupa cairan kental, ditetesi dengan asam pikrat LP dan diamati bentuk kristalnya. 3. Identifikasi mikrokimiawi untuk Piperin Beberapa tetes sari kloroform dari serbuk Piper nigrum pada obyek glass ditambah dengan 1 tetes asam klorida pekat dan kristal kadmium sulfat. Akan terjadi kristal piperin kadmium sulfat yang dapat dilihat dengan jelas di bawah rnikroskop. 4. Identifikasi mikrokimiawi untuk Emetin Hasil penyarian serbuk Ipecac radix dengan kloroform amonia alkalis pada obyek glass ditetesi dengan larutan asam pikrat 3% dalam asam klorida encer, maka akan terjadi kristal atau masa amorf. 5. Identifikasi mikrokimiawi untuk Kofein Sedikit serbuk kopi dimikrosublimasi. Sublimat yang diperoleh dilarutkan dalam beberapa tetes air (bila perlu dipanaskan supaya larut), kemudian ditetesi dengan larutan Raksa (II) klorida, diamati bentuk kristalnya. Percobaan juga dilakukan terhadap serbuk daun teh.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

PERCOBAAN XI IDENTIFIKASI KHUSUS UNTUK ALKALOIDA I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan percobaan ini mahasiswa diharapkan dapat melakukan identifikasi khusus untuk beberapa jenis senyawa alkaloida yang banyak digunakan. BAHAN UJI Serbuk Batang kina Serbuk Daun tembakau Serbuk Merica Serbuk Akar ipekak Serbuk Biji kopi

Cara : ke dalam 2 ml minyak atsiri, tambahkan larutan Natrium hidroksida. Kocok pelan-pelan dan amati apakah terjadi reduksi volume.

II.

III. BAHAN PEREAKSI DAN ALAT Alat yang digunakan : - Tabung reaksi - Beker glass - Pipet tetes - Gelas obyek - Mikroskop - Corong - Seperangkat alat KLT Bahan Pereaksi yang digunakan : - Asam sulfat encer - Asam pikrat - Arang penyerap - Kloroform - Amoniak - Raksa (II) Klorida - Asam klorida pekat - Kadmium sulfat

B. Identifikasi komponen Khusus dalam Minyak atsiri 1. Uji Osazon untuk Oleum Cinnamomi. Sari 50 mg Cinnamomi Cortex dengan 1 ml kloroform. Sari dibiarkan mengering di atas gelas obyek, kemudian dicampur dengan 2 tetes larutan fenilhidrazin hidroklorida dalam air. Amati kristal yang terbentuk di bawah mikroskop. 2. Uji terhadap adanya eugenol dalam Oleum Caryophylli. Setetes minyak diteteskan masing-masing pada dua buah gelas obyek. Pada salah satu gelas obyek ditambahkan setetes larutan natrium hidroksida 3% dijenuhi dengan kalium bromida. Amati kristal natrium eugenolat yang terbentuk di bawah mikroskop. Pada gelas obyek yang lain ditambah 2 tetes larutan besi (III) klorida, amati warna yang terjadi. 3. Uji perbedaan Cubeba Fructus dan Piperis nigri Fructus. Teteskan setetes asam sulfat pekat pada serbuk Cubeba Fructus dan Piperis nigri Fructus pada gelas obyek. Amati warna yang terjadi dengan latar belakang putih. 4. Uji adanya Felandren. Kocoklah 100 mg serbuk Piperis nigri Fructus dalam 5 ml petroleum eter, saring. Filtrat di campur dengan 5 ml natrium nitrit (dibuat dan 5 g natrium nitrit dalam 8 ml air), kemudian tambahkan 5 ml asam asetat glacial sedikit demi sedikit. Tunggu selama 10 menit sampai terbentuk kristal. Amati kristal yang terbentuk di bawah mikroskop.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

V.

TUGAS 1. Jelaskan perbedaan antara minyak atsiri dan minyak lemak? 2. Sebutkan metode untuk memperoleh minyak atsiri? 3. Sebutkan kegunaan minyak atsiri?

B. Reaksi Warna 1. Pembuatan Larutan Percobaan Penyarian dilakukan dengan campuran eter-kloroform seperti pada reaksi pengendapan. Beberapa ml filtrat dipindahkan ke cawan porselen dan diuapkan. 2. Reaksi identifikasi Lakukan reaksi identifikasi dengan menggunakan pereaksi-pereaksi warna yang tersedia (Asam sulfat P, asam nitrat P, Frohde LP, Erdman LP). V. Tugas Tulislah semua hasil identifikasi yang diperoleh baik dari reaksi pengendapan maupun reaksi warna, sajikan hasil yang diperoleh dalam bentuk tabel !

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

IV. CARA KERJA A. Reaksi Pengendapan 1. Pembuatan larutan percobaan Kurang lebih 500 mg serbuk simplisia, ditambah 1 ml HCI 2N dan 9ml air, dipanaskan di atas penangas air selama 2 menit, dinginkan dan saring. 2. Reaksi Pengendapan Ambil 3 tetes larutan percobaan, letakkan pada gelas arloji. Reaksikan dengan pereaksi Bouchardat LP atau dengan Mayer LP. Jika tidak terjadi endapan, maka serbuk yang diperiksa tidak mengandung alkaloid. Jika terjadi endapan, ada kemungkinan terdapat alkaloid (dengan Bouchardat LP terjadi endapan coklat hinga hitam, dengan Mayer LP terjadi endapan putih menggumpal yang larut dalam etanol). Jika terdapat endapan dengan salah satu pereaksi pengendap di atas, percobaan dilanjutkan dengan mengocok filtrat di dalam corong pisah dengan ditambahkan 3 ml amonia pekat dan 10 ml campuran 3 bagian volume eter P dan 1 bagian volume kloroform P (dikocok pelan agar tidak terbentuk emulsi). Pisahkan lapisan pelarut organik, tambahkan natrium sulfat anhidrat P, saring. Filtrat diuapkan di atas penangas air, sisa penguapan dilarutkan dengan sedikit HCl 2N. Larutan percobaan digunakan untuk 4 golongan uji pengendapan. Serbuk dikatakan mengandung alkaloid, jika reaksi yang positif membentuk endapan sekurang-kurangnya 2 reaksi dari golongan reaksi pengendapan yang dilakukan.

PERCOBAAN V PEMERIKSAAN MINYAK ATSIRI SECARA KROMATOGRAFI I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa diharapkan dapat melakukan pemeriksaan minyak atsiri dengan metoda kromatografi lapis tipis dan ~nampu mengidentifikasi komponen yang terdapat dalam minyak atsiri yang diperiksa. BAHAN UJI Bahan yang diperiksa : Oleum menthae piperitae Oleum caryophyli Oleurn anisi Oleum cayuputi

II.

III. BAHAN DAN ALAT Bahan dan alat yang digunakan : Fase diam : Silika Gel GF 254 Fase gerak : Heksana : Etil asetat (96 :4) Bejana kromatografi Pipa kapiler Alat semprot untuk deteksi Lampu UV254 IV. CARA KERJA 1. Jenuhkan bejana krornatografi dengan larutan fase gerak yang akan digunakan dengan menggunakan sehelai kertas saring. Jangan membuka bejana kromatografi selama penjenuhan berlangsung. 2. Buatlah larutan minyak atsiri 1 % dalarn toluene.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

3. Buatlah larutan pembanding timol 0,1 % dalam toluene. 4. Totolkan larutan percobaan dan larutan pembanding masingmasing sebanyak 5 l pada fase diam silika gel GF254 dengan menggunakan pipa kapiler. Buatlah totolan sekecil mungkin dengan jalan menotolkan larutan sedikit demi sedikit. Jarak antara totolan yang satu dengan yang lain minimal 1 cm. 5. Masukkan fase diam silika gel yang sudah ditotoli dengan larutan percobaan dan larutan pembanding ke dalam bejana kromatografi yang telah dijenuhkan dengan fase gerak, tunggu sampai fase gerak mencapai jarak yang sudah ditentukan. 6. Angkat fase diam dari bejana kromatografi, keringkan dengan pemanasan pada suhu 105 C selama 5 menit. Amati warna bercak yang terjadi di bawah lampu UV. catat warna masingmasing bercak. 7. Semprot bercak pada fase diam dengan pereaksi penampak bercak vanillin-asam sulfat atau anisaldehida asam sulfat. Keringkan dengan pemanasan pada suhu 105 C selama 5 menit. Amati warna bercak yang terjadi di bawah lampu UV. 8. Gambar kromatogram yang telah didapat pada kertas gambar. Hitung harga Rf masing-masing bercak, Tentukan kemungkinan komponen untuk masing-masing minyak atsiri yang diperiksa berdasarkan harga Rf yang diperoleh.

PERCOBAAN X IDENTIFIKASI UMUM ALKALOID I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah selesai praktikum diharapkan mahasiswa dapat melakukan identifikasi umum untuk alkaloid dalam tumbuhan.

II. BAHAN UJI - Serbuk biji kopi - Serbuk daun the - Serbuk coklat - Serbuk tembakau - Serbuk pala - Serbuk kayu manis III. ALAT DAN BAHAN PEREAKSI Alat : - Tabung reaksi - Beker glass - Penangas air - Corong - Kapas - Pipet tetes Bahan Pereaksi - Pereaksi alkaloid golongan I, II, III, dan IV. - HCl 2N - Eter - Kloroform

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Untuk reaksi identifikasi alkaloida dapat dilakukan dengan cara : a. Reaksi pengendapan b. Reaksi warna Sebelum dilakukan reaksi tersebut, diadakan pemisahan / isolasi yang antara lain dapat dilakukan dengan cara : - Penyekatan dengan pelarut organik - Penyekatan air-asam - Mikrosublimasi

UNIT 3 MINYAK LEMAK, LEMAK DAN LILIN Minyak lemak, lemak dan lilin dikelompokkan dalam kelompok yang sama karena memiliki kesamaan komposisi kimia. Semuanya merupakan ester asam lemak yang memiliki bobot molekul yang tinggi dan memiliki rantai karbon yang panjang baik yang jenuh maupun yang tak jenuh. Minyak lemak dan lemak menghasilkan gliserol bila disabunkan (reaksi saponifikasi), sedangkan lilin tidak dapat tersabunkan. Lilin merupakan alkohol rantai panjang sehingga tidak larut dalam air. Pada tanaman, lilin terdapat pada dinding luar lapisan epidermis, biasanya pada buah dan daun. Minyak lemak dan lemak diperoleh dari tumbuhan maupun hewan. Pemisahan kedua bahan tersebut dapat dilakukan dengan pemerasan secara dingin maupun dengan pemanasan. Perbedaan yang nyata antara minyak lemak dengan lemak adalah bahwa minyak lemak berbentuk cair pada suhu kamar, sedangkan lemak berbentuk padat. Lilin memiliki kepadatan yang lebih besar daripada lemak dan bersifat rapuh, hal ini antara lain karena lilin merupakan hidrokarbon rantai panjang. Contoh bahan-bahan yang tergolong minyak lemak, lemak dan lilin yang banyak digunakan di bidang farmasi adalah : Minyak lemak : Oleum sesami, oleum lini, oleum cocos Lemak : Oleum cacao, adeps lanae Lilin : Cera alba, cera flava, cetaceum.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

PERCOBAAN VI IDENTIFIKASI MINYAK LEMAK, LEMAK, DAN LILIN I. TUJUAN PERCOBAAN Mahasiswa diharapkan mampu mengidentifikasi minyak lemak, lemak dan lilin, secara fisika dan kimia terutama untuk minyak lemak, lemak, dan lilin yang sering digunakan dalam bidang farmasi. BAHAN UJI 1. Minyak kelapa (Oleum Cocos) 2. Minyak jagung (Oleum Maydis) 3. Minyak kacang (Oleum Arachidis) 4. Minyak biji kapas (Oleum Gossipol) 5. Kacang tanah 6. Kemiri

UNIT 5 ALKALOIDA Alkaloida adalah senyawa yang mempunyai gusus dengan atom nitrogen, kebanyakan bersifat basa, biasanya terdapat dalam tumbuhan dan umumnya mempunyai aksi farmakologis tertentu. Alkaloida hanya terdapat pada tumbuhan dengan familia tertentu, di antaranya : Rubiaceae, Leguminosae, Pavaperaceae, Ranunculaceae, dan Solanaceae. Berdasarkan struktur kimianya, alkaloid dapat digolongkan sebagai : 1. Alkaloida golongan Piridina; Misalnya Arecolin (pada Areca catechu), Nikotin (pada Nicotiana tabacum). 2. Alkaloida golongan Tropane; Misalnya Hyosciamina, Scopolamina (Atropa belladonna, Hyosciamus niger, Datura stramonium). 3. Alkaloida golongan Quinoli; Misalnya kinina, kinidina (Chincona succirubra). 4. Alkaloida golongan Isoquinolina; Misalnya Hydrastin (Hydrastis canadensis), Emetin (Cephaelis ipecacuanhae), Morfin dan Codein (Pavaper somniferum). 5. Alkaloida golongan Indol; Misalnya Ergotamin (Secale cornutum), Strichnina dan Brussina (Stryhnos nux vomica), Reserpin (Rauwolvia serpentina). 6. Alkaloida golongan Amina; Misalnya Ephedrin (Ephedra sinica), Colchicin (Colchicum autumnale). 7. Alkaloida golongan Steroida; Acanitin (pada Aconitum napellus). 8. Alkaloida golongan Purine; Misalnya Coffein (Cola nitida, Camelia sinensis) Theofilin (Camelia sinensis), Theobromina (Theobroma cacao).

II.

III. PEREAKSI DAN ALAT Pereaksi Yang digunakan : Eter Petroleum eter Kloroform Etanol Aquadest HCl 2N NaOH 2N KCI 2% Air Sabun Raksa(II)Klorida Iodium Kalium hidrogen sulfat

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Cuplikan : 1 gram serbuk bahan disari dengan 10 ml metanol hangat selama 5 menit. Dinginkan dan saring, kemudian langsung ditotolkan.

Alat yang digunakan : Tabung Reaksi Pipet tetes Lampu spiritus Penangas air IV. CARA KERJA 1. Uji Noda Lemak Teteskan minyak lemak pada kertas saring, biarkan mengering. Amati noda lemak yang jernih dan transparan. Untuk bahan nabati, lakukan penyarian dengan eter, kemudian teteskan sari eter pada kertas saring. Amati noda lemak yang jernih. 2. Uji Kelarutan Ambillah satu tetes minyak dan tambahkan salah satu pelarut bertetes-tetes sampai tepat larut. Catat berapa tetes pelarut yang digunakan. Uji Pembentukan Emulsi Kocok satu tetes minyak kelapa dalam tabung reaksi dengan 5 ml air. Amati apa yang terjadi. Ulangi percobaan tersebut dengan penambahan sedikit air sabun. Pembentukan Sabun Didihkan 1 ml minyak lemak dalam 2 ml larutan Natrium hidroksida 2N, tambahkan 3 ml air. Amati apa yang terjadi. Bagi larutan menjadi 3 bagian. Netralkan satu bagian larutan dengan HCl 2N, satu bagian yang lain ditambah dengan kalium klorida, dan sisanya ditambah dengan magnesium sulfat. Amati apa yang terjadi.

3.

4.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

5.

Uji Ketidakjenuhan Siapkan 2 buah tabung reaksi. Masukkan ke dalam masingmasing tabung 0,2 ml minyak beserta pasangannya (misalnya minyak jagung dengan minyak kelapa), tambahkan 10 ml kloroform, lalu tambahkan pereaksi Hubl sampai warna iodium dalam iodoform tetap, yaitu ungu. Catat volume pereaksi Hubl yang digunakan. Kesimpulan apa yang dapat anda ambil ! Uji Khusus Minyak Biji Kapas Minyak biji kapas sering digunakan untuk memalsu minyak lemak maupun sebagai campuran dalam minyak atsiri. Minyak biji kapas mengandung gosipol (senyawa fenolat). Lakukan uji fenol dengan larutan besi (III) Klorida terhadap minyak biji kapas, amati warna yang terjadi.

4. Reaksi Taubeck tint uk.flavonoid Ambil larutan percobaan sebanyak kira-kira 1 ml, uapkan hingga kering dan sisanya dibasahi dengan aseton, tambahkan sedikit serbuk asam borat dan asam oksalat. Panaskan hati-hati di atas penangas air, hindari panas yang berlebihan. Ke dalam sisa ini ditambahkan eter. Pengamatan dilakukan di bawah sinar UV366. Akan terjadi warna kuning jika terdapat flavonoid 5. Reaksi Wilson untuk flavonoid Ambil larutan percobaan sebanyak kira-kira 1 ml, uapkan hingga kering dan sisanya dibasahi dengan aseton. Tambahkan sedikit serbuk asam borat dan asam sitrat. Panaskan hati-hati di atas penangas air, hindari panas yang berlebihan. Ke dalam sisa di tambahkan aseton. Adanva flavonoid akan ditunjukkan dengan terjadinya warna kuning namun tidak berfluoresensi. 6. Reaksi lain untuk flavonoid Uapkan sebanyak kira-kira 1 ml larutan percobaan hingga kering, larutkan sisanya dalam 2 ml etanol 95%. Lakukan reaksi warna atau pengendapan dengan pereaksi berikut, dan amati warna atau endapan yang terjadi : Larutan FeCl3 2% dalam air Larutan Pb asetat 25% dalam air Larutan NaOH 0,2N 7. Identifikasi glikosida flavonoid dengan kromatografi Lapis tipis Fase diam : Silika gel GF254 Fase gerak : Etil asetat : asam formiat : air (10:2:3) v/v Deteksi : Dilihat di bawah sinar UV sebelum dan sesudah diuapi ammonia

6.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

IV. CARA KERJA 1. Pembuatan Larutan Percobaan 0,5 gram serbuk disari dengan 10 ml metanol selama 10 menit di atas penangas air, dicegah agar pelarut tidak banyak menguap, saring selagi pelarut masih panas dengan menggunakan kertas saring kecil berlipat. Encerkan filtrat dengan 10 ml air dan dipindah ke corong pisah, tambahkan 5 ml petroleum eter, kocok hati-hati. Setelah didiamkan beberapa saat, pisahkan fase metanol. Uapkan fase metanol hingga kering, dan residu yang tersisa dilarutkan dalam 5 ml etil asetat. Ambil bagian yang jernih untuk larutan percobaan 2. Uji glikosida 3- flavonol Ambil larutan percobaan sebanyak kira-kira 1 ml, uapkan hingga kering, sisa dilarutkan dalam 2 ml etanol 95%, dan tambahkan logam Zn, 2 ml HCl 2N, diamkan selama 1 menit. Kemudian tambahkan HCI pekat, jika dalam waktu 2 sampai 5 menit terjadi perubahan warna, menunjukkan adanya glikosida 3-flavonol. 3. Uji shinoda Ambil larutan percobaan sebanyak kira-kira 1 ml, uapkan hingga kering dan sisa dilarutkan kembali dalam 1 ml etanol 95%. Selanjutnya ditambahkan logam magnesium dan 10 ml HCl pekat. Jika terjadi perubahan warna merah sampai merah ungu, menunjukkan adanya flavonoid, sedangkan jika terjadi warna kuning jingga, menunjukkan adanya flavon, kalkon, dan auron.

PERCOBAAN VII PEMERIKSAAN MINYAK LEMAK DENGAN METODE KLT I. TUJUAN PERCOBAAN Mahasiswa diharapkan mampu melakukan pemeriksaan / uji kualitatif minyak lemak dengan metode kromatografi lapis tipis, terutama untuk minyak lemak yang sering digunakan dalam sediaan farmasi. BAHAN UJI Minyak kelapa Minyak jagung Minyak kacang tanah Minyak zaitun Kacang tanah Kemiri

II.

III. BAHAN DAN ALAT Bahan yang digunakan : Fase diam : Lempeng silika gel G, diaktifkan pada suhu 110C selama 30-45 menit, lalu didinginkan. Celupkan dalam larutan paraffin cair 6% (v/v) dalam petroleum eter pada suhu 40-60C sampai naik 15 cm, biarkan petroleum eternya menguap. Fase gerak : Asam asetat glasial p.a. Reagen penampak bercak o Uap iodium kemudian disemprot dengan larutan amilum 4% o Pereaksi semprot asam fosfomolibdat.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Alat yang digunakan : Bejana kromatografi Pipa kapiler Beker glass Lampu UV IV. CARA KERJA 1. Pembuatan larutan cuplikan Bahan nabati, dilakukan penyarian dengan mengocok biji yang dilumatkan dengan 1 ml kloroform selama 6 menit. Minyak lemak atau lemak dibuat larutan 1 % dalam kloroform. 2. Totolkan masing-masing cuplikan yang akan diperiksa pada lempeng silika sebanyak 5 l unrtuk larutan cuplikan dari bahan nabati dan 1 l untuk larutan cuplikan minyak lemak. 3. Totolkan larutan pembanding (jika ada) sebanyak 1 ul. Sebagai larutan pembanding dapat digunakan larutan asam stearat, asam palmitat atau asam oleat 1% dalam kloroform. 4. Lakukan KLT dengan metode menaik, satu arah dengan jarak rambat 14 cm. 5. Deteksi lempeng silika gel G yang telah selesai dielusi dengan pereaksi penampak bercak setelah sebelumnya dikeringkan pada suhu 105C selama 5 menit. Amati bercak yang terbentuk di bawah sinar tampak dan di bawah sinar UV. 6. Hitung harga hRf dan hRx (jika ada pembanding) untuk setiap bercak yang terdeteksi. Gambarlah kromatogram yang didapat pada kertas gambar.

PERCOBAAN IX IDENTIFIKASI GLIKOSIDA FLAVONOID I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah praktikum diharapkan mahasiswa dapat melakukan identifikasi glikosida flavonoid dalam suatu sediaan simplisia. BAHAN UJI serbuk Sonchii Folium serbuk Orthosiphonis Folium serbuk Datura Folium Serbuk Elepanthopi Folium Serbuk Andrographis Folium

II.

III. ALAT DAN BAHAN Alat : Tabung reaksi Corong Beker glass Pipet tetes Kertas saring Lempeng silica untuk KLT Bejana kromatografi Bahan : Methanol Etanol 95% Logam Zn HCl 2 N HCl pekat Aseton

Asam borat Asam oksalat Asam sitrat Larutan FeCl3 2% Larutan Pb asetat 25% dalam air NaOH 0,2 N

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

4. Uji dengan Pereaksi Legal Ambil sari kloroform secukupnya, encerkan dengan metanol 3-5 kali lipat volume asal, kemudian tambahkan perekasi Legal. Terjadinya perubahan warna larutan setelah beberapa menit menjadi merah jingga menunjukkan adanya glikosida dengan aglikon kardenolida. 5. Uji dengan Pereaksi Raymond Ambil sari kloroform secukupnya, encerkan dengan metanol 3-5 kali lipat volume asal, kemudian tambahkan pereaksi Raymond. Terjadinya warna ungu setelah beberapa menit menunjukkan adanya glikosida dengan aglikon Kardenolida. 6. Identifikasi Glikosida Jantung dengan Metode KLT Lakukan pemeriksaan glikosida jantung dengan metode KLT dengan mengunakan : Fase diam : Silika Gel GF254 Fase gerak : Etil asetat : Metanol : air ( 100 : 13,5 : 10) Deteksi : Pereaksi SbCl3 dipanaskan 110C, diamati dibawah sinar UV. Cuplikan : 1 g bahan dilarutkan dalam 10 ml campuran kloroform : metanol (1:1) v/v, aduk sambil dihangatkan di atas penangas air selama 10 menit. Dinginkan dan saring, filtrat diuapkan sampai kering. Residu dilarutkan dalam 2 ml campuran kloroform : metanol (1:1) v/v untuk ditotolkan.

V.

PERTANYAAN 1. Sebutkan jenis-jenis minyak lemak! 2. Dari kromatogram yang anda dapatkan, kesimpulan apa yang dapat anda ambil!

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

UNIT 4 GLIKOSIDA Glikosida adalah suatu senyawa apabila terhidrolisa akan menghasilkan gugus aglikon (genin) dan molekul gula (glikon). Bagian gula yang terdapat pada glikosida dapat berupa gula yang tidak spesifik (misalnya glukosa) atau gula yang spesifik (misalnya digitoksosa, sarmentosa). Molekul gula yang sering terdapat pada glikosida lazimnya adalah -D-glukosa, tetapi kadang-kadang ditemukan juga gula jenis lain yaitu ramnosa, digitoksosa, simarosa dan lain-lain. Bila ikatan glikosidik terjadi dengan molekul glukosa maka disebut glukosida, sedangkan bila berikatan dengan gula yang lain (bukan glukosa) disebut glikosida. Dari segi biologi, ada senyawa glikosida yang menunjukkan beberapa macam aktivitas biologik, misalnyya sebagai zat pengatur tumbuh, protektif, fungisida, memacu atau menghambat kerja enzim dan sebagainya. Beberapa glikosida yang menunjukkan aktivitas biologik yang spesifik pada manusia antara lain 1. Mempengaruhi kerja otot jantung. Sebagai contoh yaitu glikosida yang terdapat pada daun digitalis. 2. Bersifat sebagai laksatif (pencahar), misalnya pada glikosida emodina dan antrakinon yang terkandung dalam Senae Folium, Rhei Radix, Rhamni frangulae Cortex. 3. Bersifat sebagai lokal iritan, seperti pada glikosida Sinigrin yang terkandung dalam Sinapis Semen (Black Mustard), jika terhidrolisis secara enzimatik akan menghasilkan alil-isotiosianat yang bersifat sebagai lokal iritan. 4. Bersifat sebagai analgetikum, seperti pada Gaulterin dari tumbuhan Gaultheria sp. yang pada hidrolisis secara enzimatik akan menghasilkan metil salisilat yang bersifat sebagai analgetikum.

IV. CARA KERJA 1. Penyiapan cuplikan Sebanyak 10 gram (kurang lebih seujung batang pengaduk) bahan yang akan diperiksa dimaserasi selama 1 jam menggunakan penyari alkohol 70%. Setelah maserasi selesai, saring dan filtratnya ditambah larutan Pb asetat pekat sampai pengendapan terjadi sempurna. Pisahkan endapan melalui pemusingan, dan supernatan yang jernih ditambah dengan larutan natrium sulfat 6,3%. Apabila terjadi endapan, pusingkan lagi dan supernatan yang jernih diambil. Supernatan yang didapat kemudian disari dengan kloroform sebanyak 2 kali masing-masing dengan 15 ml, sari yang didapat kemudian dipekatkan sampai tinggal 5 ml. 2. Uji Keller-Kiliani Ke dalam sebuah tabung, 1-2 ml sari kloroform dilarutkan dengan 3 ml larutan FeCl3 3,5% dalam asam asetat glasial, biarkan selama 1 menit. Kemudian secara hati-hati ditambahkan asam sulfat pekat melalui dinding tabung sampai terjadi dua lapisan yang berwarna. Pada pertemuan dua lapisan terjadi warna coklat, sementara cairan bagian atas menunjukkan warna hijau. 3. Uji dengan Pereaksi Baljet Ambil sari kloroform secukupnya, encerkan dengan metanol 3-5 kali lipat volume asal, kemudian tambahkan pereaksi Baljet. Terjadinya perubahan warna larutan setelah beberapa menit menjadi jingga menunjukkan adanya glikosida dengan aglikon kardenolida.

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

PERCOBAAN VIII IDENTIFIKASI GLIKOSIDA JANTUNG I. TUJUAN PERCOBAAN Setelah selesai praktikum mahasiswa diharapkan mengetahui dan mampu melakukan identifikasi glikosida jantung dari suatu bahan. BARAN UJI Serbuk Digitalis Folium Serbuk Nerii Folium

II.

III. ALAT DAN BAHAN Alat : Tabung reaksi Kapas Penangas air Pipet tetes Bahan : Alkohol 70% Larutan Pb asetat Natrium sulfat Kloroform Asam asetat glacial FeCl3 3,5% Asam sulfat pekat Pereaksi Baljet Pereaksi Legal Etil asetat Metanol Vanilin-asam sulfat Lempeng silika

Glikosida pada umumnya larut dalam air, sedangkan aglikonnya tidak larut dalam air. Oleh karena itu cara ekstraksinya akan berbeda. Berdasarkan jenis aglikonnya, glikosida dikelompokkan menjadi : 1. Glikosida Antrakinon; Senyawa ini bersifat purgatif, mempunyai gugus fenolik pada posisi atom C-1 dan C-8, serta gugus keto pada posisi C-9 dan C-10. Kadang-kadang pada atom C-3 terdapat gugus metil , oksimetil atau karboksil, atau pada atom C-6 terdapat gugus hidroksi dan metoksi. Contoh glikosida antrakinon misalnya : Emodin (dalam Rhei Radix, Rhamni frangulae/ Rhamni purshianae Cortex), Aloe emodin (dalam Aloe Folium) Sennoside A dan Sennoside B (dalam Sennae Folium). 2. Glikosida Saponin; Senyawa ini terdiri dari turunan triterpen dengan sejumlah kecil steroid (saponin steroid, sapogenin steroid). Kelompok gula yang terikat pada gugus hidroksil tunggal (umumnya atom C-3 hidroksi) dari aglikon, disebut sebagai saponin monodesmosida, sedangkan gula yang terikat lebih dari satu biasanya pada gugus hidroksi dan gugus karboksil, disebut sebagai saponin bis-dismosida. Kebanyakan saponin mempunyai sistem cincin Oleanan, banyak diantaranya bersifat asam karena adanya gugus karboksil, baik pada aglikon maupun pada lingkungan gulanya. Jenis gula yang lazim terikat pada saponin adalah umumnya unit 1-6 monosakarida, seperti glukosa, galaktosa, ramnosa, arabinosa, fruktosa, xilosa, asam glukoronat, dan asam galaktoronat. Seluruh saponin triterpen dan kelompok saponin monodesmosida mempunyai aktivitas menghemolisis darah, sedangkan saponin bis-desmosida tidak. Contoh-contoh saponin antara lain : Giycirhizin (pada Liquiritae Radix) Sarsapogenin (pada Smilax Radix) Diosgenin (pada Dioscorea bulbus), Sarmentogenin (pada Strophantus semen).

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

Jurusan Nama MP

: Farmasi : Farmakognosi

Modul ke mulai berlaku

: 01 : 01 September 2005

3. Glikosida Flavonoid; Misalnya Rutin (pada Citrus Fructi Cortex), Luteolin-7-0-glukosida (pada Sonchi Herba) Liquiritine (pada Liquiritae Radix). 4. Glikosida Jantung; Senyawa ini mengandung glikosida steroid dengan efek spesifik, yaitu mempengaruhi irama pergerakan kerja jantung. Steroid ini strukturnya merupakan turunan sistem cincin tetrasiklik, yaitu 10'-13 dimetilsiklo pentano perhidro phenantrena, yang mempunyai lingkaran - lakton disebut Kardenolida, sedangkan yang mempunyai lingkaran - lakton disebut Bufadienolida, keduanya terletak pada posisi atom C-17. Contoh glikosida jantung yaitu Digitoksin (pada Digitalis Folium), Oleandrin (pada Nerii Folium), Strophantoside (pada Strophantii semen). 5. Glikosida Sianogenin; Pada umumnya deteksi glikosida sianogen didasarkan pada keberadaan gas HCN yang dibebaskan oleh hasil hidrolisis glikosida sianogen baik secara kimiawi maupun enzim endogen dalam sistem tertutup. Glikosida sianogenik dapat di isolasi dan dimurnikan dengan cara umum yang digunakan untuk glikosida tumbuhan lain, namun selama proses isolasi penting untuk menonaktifkan enzim glikosidase yang ada bersama dalam jaringan tumbuhan. Glikosida sianogen ini antara lain terdapat sebagai Laurocerasin (pada Laurocerasii Folium), amigdalin (pada Amigdalae Semen), Prunasin (dalam Prunus sp.), juga terdapat dalam kubis (Brassica oleraceae), sawi (Brassica nigra). 6. Glikosida alil-isotiosianat; Senyawa ini selalu .berada dalam bentuk glukosinolate (S-glukosinolat). Apabila sel tanaman dirusak atau jaringan tumbuhan didestilasi uap, naka senyawa tersebut akan dipecah atau diuraikan oleh enzim myrosine (-thioglikosidase). Contoh senyawa ini antara lain : Sinigrin (dalam Sinigris Semen) juga terdapat Allii sativi bulbus, Sinapis Nigri Semen, Sinapis Albi Semen.

7. Glikosida Fenolat; Misalnya Arbutin (pada Ovae ursi Folium). Umumnya berbentuk hidrokinon -O-glukosida yang berada bersama-sama dengan metilarbutin dan sejumlah kecil 2-Ogaloilarbutin, 6-O-asetilarbutin dan hidrokinon bebas. 8. Glikosida alkohol; Misalnya Salisin (pada Salix purpurea) 9. Glikosida aldehida; Misalnya glukovanilin (pada Vanilla planifolia) 10. Glikosida lakton; Misalnya glikosida kumarin (dalam Anthoxantum odoratum, Melliatus albus, Trifolium pratense), glikosida Psoralen (pada Ammi majus).