Anda di halaman 1dari 18

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Pada praktikum ini dilakukan pengukuran kelimpahan relatif makrofauna tanah dengan metode perangkap jebak sumur (pitfall trap). Makrofauna tanah berperan penting dalam proses ekologis-ekologis yang terjadi di dalam tanah, seperti dekomposisi, siklus unsur hara dan agregasi tanah. Beberapa makrofauna tanah yang sering dijumpai antara lain Annelida, Insecta, Diplopoda, Chilopoda, Gastropoda, dan Squamata. Dalam suatu komunitas biotik, tidak selamanya populasi individu atau kerapatan populasinya dapat diukur atau perlu diukur. Oleh karena itu, informasi berupa kelimpahan atau kerapatn relatif dapat mencukupi data yang diperlukan. Kelimpahan relatif (relative abundance) adalah jumlah individu suatu jenis per jumlah individu total. Meskipun besar populasi yang sebenarnya tidak diketahui, gambaran mengenai kelimpahan populasi berupa indeks-indeks dapat memberikan informasi berharga mengenai berbagai hal. Sebagai contoh, kita dapat mengetahui perbedaan populasi hewan di suatu area pada waktu yang berbeda atau pada komunitas yang berbeda. Selain dari nilai kelimpahan relatif, gambaran tentang suatu komunitas juga dapat dilihat dari nilai keanekaragaman jenis. Keanekaragaman jenis terdiri atas dua komponen, yaitu kekayaan jenis (species richness) dan kelimpahan jenis (species abundance). Keanekaragaman jenis pada suatu komunitas dapata ditentukan berdasarkan nilai indeks keanekaragaman (diversity index H) dan indeks kemerataan (evenness index - E). Indeks keanekaragaman jenis menunjukkan hubungan antara jumlah jenis dengan jumlah individu yang menyusun suatu komunitas. Indeks kemerataan jenis menunjukkan perataan penyebaran individu dar jenis-jenis organisme yang menyusun suatu komunitas. Menurut (Wallwork, 1970) fauna tanah dalam melakukan aktivitas hidupnya sangat ditentukan oleh faktor-faktor lingkungan, baik faktor abiotik maupun biotik dimana dia berada (hidup), seperti kondisi-kondisi fisik, kimia, biotis, dan ketersediaan makanannya, serta cara pengelolaan tanah yang secara umum dapat

mempengaruhi populasi fauna tanah, baik kahadiran, penyebaran, kelimpahan maupun keanekaragaman spesiesnya. Perbedaan pengelolaan dan penggunaan lahan akan mempengaruhi populasi dan komposisi makrofauna tanah. Pengolahan tanah secara intensif, pemupukan dan penanaman secara monokultur pada sistem pertanian konvensional dapat menyebabkan terjadinya penurunan secara nyata biodiversitas makrofauna tanah (Crossley et al., 1992; Paoletti et al., 1992; Pankhurst, 1994) dalam (Maftuah et al 2005). Selanjutnya dijelaskan bahwa keberadaan fauna tanah pada suatu areal dapat digunakan sebagai bioindikator tentang kualitas tanah secara biologi. Fauna tanah memegang peranan penting dalam ekosistem tanah, karena proses dekomposisi material organik dalam tanah ikut ditentukan oleh adanya makrofauna tanah di habitat tersebut sehingga bermanfaat bagi kesuburan tanah (Buckman & Brady, 1982). Makrofauna tanah sangat besar peranannya dalam proses dekomposisi, aliran karbon, redistribusi unsur hara, siklus unsur hara, bioturbasi dan pembentukan struktur tanah (Anderson, 1994).

1. 2 Tujuan BAB II TINJAUAN PUSTAKA Mengumpulkan dan mengoleksi makrofauna tanah dengan menggunakan metode perangkap jebak sumur (pitfall trap) Menghitung keanekaragaman dan kelimpahan relatif makrofauna tanah. membandingkan keanekaragaman dan kelimpahan relatif jenis-jenis makrofauna tanah pada komunitas-komunitas yang berbeda.

2.1 tanah dan makrofauna tanah Tanah merupakan suatu bagian dari ekosistem terestrial yang didalamnya dihuni oleh banyak organisme yang disebut sebagai biodiversitas tanah. Biodiversitas tanah merupakan diversitas alpha yang sangat berperan dalam mempertahankan sekaligus meningkatkan fungsi tanah untuk menopang kehidupan di dalam dan di atasnya. 2

Tanah

merupakan

habitat

bagi

organisme

yang

sangat

luas,

beranekaragam, berkumpul dan saling berinteraksi membentuk aktivitas yang sangat luas, yang pada akhirnya membentuk sifat-sifat kimia, biologi dan fisika tanah. Organisme-organisme tersebut kemudian ditakrifkan secara longgar sebagai biota tanah yang memiliki berbagai fungsi di dalam tanah (Pankhurst dan Lynch, 2000). Biota tanah terdiri dari kelompok-kelompok mikroorganisme dan makroorganisme tanah, meliputi bakteri, aktinomisetes, fungi, algae, dan protozoa, serta fauna tanah, baik mikrofauna (avertebrata dengan diameter <0,2 mm), mesofauna (diameter antara 0,2 mm-2 mm) , maupun makrofauna (diameter > 2mm) (Lavelle et al., 1994). Ukuran tubuh biota tanah sangat bervariasi, mulai dari kurang dari 1 mikrometer (bakteri) sampai dengan lebih dari 1 m panjangnya Hewan tanah berfungsi sebagai konsumen dan terkonsentrasi pada lapisan tanah permukaan yang diperkaya dengan bahan organik. Secara ekologis tanah tersusun oleh tiga kelompok material, yaitu material hidup (faktor biotik) yang berupa biota (jasad-jasad hayati), faktor abiotik berupa bahan organik, dan faktor abiotik berupa pasir (sand), debu (salt), dan liat (clay). Umunya sekitar 5 persen penyusun tanah merupakan biomassa (biotik dan abiotik) atau bahan organik. Ruangan yang tersedia hanya memungkinkan pembahasan beberapa jenis yang paling melimpah dan penting. Kebanyakan berupa antropoda dan filum antropoda. Antropoda tanah yang paling penting yang akan dibahas meliputi tungau, kelabang, kaki seribu, ekor pegas, serangga (semut, rayap, kumbang) dan larva serangga. Hewan tanah non antropoda penting yang akan dibahas adalah nematoda dan cacing. Makro fauna tanah merupakan salah satu komponen tanah, kehidupan makrofauna tanah sangat tergantung habitatnya, karena keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis fauna tanah disuatu daerah sangat ditentukan oleh keadaan daerah tersebut atau dengan kata lain keberadaan dan kepadatan populasi suatu jenis makro fauna tanah yang sangat tergantung dari faktor lingkungan, yaitu lingkungan biotik dan lingkongan abiotik. Makro fauna tanah merupakan bagian dari ekosistem tanah oleh karena itu dalam mempelajari ekologi makro fauna tanah kita harus mengetahui faktor fisik dan kimia tanah sebelumnya selalu diukur (Suin, 1997). fauna tanah dikelompokkan mulai dari Protozoa, Rotifera, Nematoda, Annelida, Mollusca, Arthropoda, hingga Vertebrata. Fauna tanah dapat

dikelompokkan atas dasar ukuran tubuhnya, kehadirannya di tanah, habitat yang dipilihnya dan kegiatan makannya. Berdasarkan kehadirannya, fauna tanah dibagi atas kelompok transien, temporer, periodik dan permanen. Berdasarkan habitatnya fauna tanah digolongkan menjadi golongan epigeon, hemiedafon dan eudafon. Fauna epigeon hidup pada lapisan tumbuh-tumbuhan di permukaan tanah, hemiedafon pada lapisan organik tanah, dan yang eudafon hidup pada tanah lapisan mineral. Berdasarkan kegiatan makannya fauna tanah ada yang bersifat herbivora, saprovora, fungifora dan predator (Suin, 1997). Sedangkan fauna tanah berdasarkan ukuran tubuhnya menurut Wallwork (1970), dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu; mikrofauna (20 - 200 ), mesofauna (200 - 1 cm) dan makrofauna (lebih dari 1 cm). Menurut Suhardjono dan Adisoemarto (1997), berdasarkan ukuran tubuh fauna tanah dikelompokkan menjadi: (1). mikrofauna adalah kelompok binatang yang berukuran tubuh < 0.15 mm, seperti: Protozoa dan stadium pradewasa beberapa kelompok lain misalnya Nematoda, (2). Mesofauna adalah kelompok yang berukuran tubuh 0.16 10.4 mm dan merupakan kelompok terbesar dibanding kedua kelompok lainnya, seperti: Insekta, Arachnida, Diplopoda, Chilopoda, Nematoda, Mollusca, dan bentuk pradewasa dari beberapa binatang lainnya seperti kaki seribu dan kalajengking, (3). Makrofauna adalah kelompok binatang yang berukuran panjang tubuh > 10.5 mm, sperti: Insekta, Crustaceae, Chilopoda, Diplopoda, Mollusca, dan termasuk juga vertebrata kecil. Fauna tanah memerlukan persyaratan tertentu untuk menjamin

kelangsungan hidupnya. Struktur dan komposisi makrofauna tanah sangat tergantung pada kondisi lingkungannya. Makrofauna tanah lebih menyukai keadaan lembab dan masam lemah sampai netral (Notohadiprawiro, 1998). Hakim dkk (1986) dan Makalew (2001), menjelaskan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi aktivitas organisme tanah yaitu, iklim (curah hujan, suhu), tanah (kemasaman, kelembaban, suhu tanah, hara), dan vegetasi (hutan, padang rumput) serta cahaya matahari. Cahaya matahari merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi sifat-sifat tumbuhan dan hewan (Soetjipta, 1992). Tumbuhan dan hewan yang berbeda memiliki kebutuhan akan cahaya, air, suhu, dan kelembapan yang berbeda (Reinjtjes et al.,1999). Jumar (2000) menyebutkan berdasarkan responnya terhadap cahaya, makrofauna tanah ada yang aktif pada pagi, siang, sore, dan malam hari. Sugiyarto

(2000) menjelaskan bahwa kebanyakan makrofauna permukaaan tanah aktif di malam hari. Selain terkait dengan penyesuaian proses metabolismenya, respon makrofauna tanah terhadap intensitas cahaya matahari lebih disebabkan oleh akitivitas menghindari pemangsaan dari predator. Dengan pergerakaannya yang umumnya lambat, maka kebanyakan jenis makrofauna tanah aktif atau muncul ke permukaan tanah pada malam hari. Bahan organik tanaman merupakan sumber energi utama bagi kehidupan biota tanah, khususnya makrofauna tanah (Suin, 1997), sehingga jenis dan komposisi bahan organik tanaman menentukan kepadatannya (Hakim dkk, 1986). Makrofauna tanah umumnya merupakan konsumen sekunder yang tidak dapat memanfaatkan bahan organik kasar/seresah secara langsung, melainkan yang sudah dihancurkan oleh jasad renik tanah (Soepardi, 1983). Cacing tanah yang pada umumnya Lumbricus terrestris, yang diimpor Amerika Serikat dari Eropa. Lumbricus terrestries membuat ronnga yang dangkal dan makan bahan tanaman setiap malam hari. Beberapa material tumbuhan ditarik kedalam liang. Cacing tanah memakan tumpukan jerami rumput dan membantu mencegah kenumpuknya jerami rumput yang dibentuk oleh rumput balap. Cacing juga memakan camputan tanah dan bahan organik, bersarang di dalam tanah dan saat bergerak Selain makrofauna yang hidup dalam tanah ada juga makrofauna yang hidup dalam kawasam mangrove seperti armadillidium vulgare yang merupakan pemakan seresan (saprofag), kepiting sesarmid memakan dedaunan, ranting, bunga dan buah dari tanaman mangrove, yang mati dan ada juga beberapa golongan pemakan seresah mangrove (decomposer), yaitu Polycheata (Euphorisme sp, Glicera sp,) Gastropoda ( littorina sp, polisines sp, Amauropsis sp), Bivalvia ( Lyonsia sp, Tharacia sp,), Crustacea (palicus sp, Dissodactylus sp). Faktor yang mempengaruhi aktivitas organisme tanah: Iklim (curah hujan, suhu, kelembaban dll) Tanah (kemasaman, kelembaban, suhu, hara dll) egetasi (hutan, padang rumput, belukar, dll Keragaman organisme dan bobot biomassa dari organisme sangatbesar

Aktivitas organisme tanah dicirikan oleh : Jumlahnya dalam tanah Bobot tiap unit isi atau luas tanah (biomassa Aktivitas metabolic (Biologi Tanah.http:elisa.Ugm.ac.id)

2.1 contoh-contoh makrofauna tanah Springtail merupakan serangga primitive (biasanya tanpa mata dan pigmen) berukuran panjang < 1 mm, konsumen sisa tanaman/ hewan, kotoran humus dan miselia jamur, hidup dalam pori-pori makro lapisan tanah bawah Kutu (Arachnida) Sebagian besar makrofauna ini memakan serat-serat organik mati seperti hifa jamur dan benih, ada yang memakan telur serangga dan mikrofauna lain seperti springtail. Lipan mempunyai pasangan kaki banyak dan merupakan vegetarian atau pengurai, hewan ini memakan bahan organik mati (saprofag) dan beberapa mencari miselium fungi, sedangkan kelabang yang berkaki lebih sedikit ketimbang lipan, merupakan pemakan daging (karnivora)fauna berukuran sebesar kepalanya. Tempayak atau larva serangga sejenis kumbang coklat atau kutu busuk, berbentuk bulat, putih dan panjang 1-2 cm, berkepala hitamberkaki tiga. Makanan utamanya adalah rumput, taspi juga berbagai tanaman pertanian. Ekor pegas merupakan serangga primitif yang panjangnya kurang dari 1 milimeter. Hewan ini hidup dalam makropori lapisan serasah dan memakan jaringan tumbuhan dan hewan mati, tinja atau kotoran, humus, dan miselium fungi, hidup dalam pori-pori makro lapisan tanah bawah. Fauna ini menggunakan ekornya untuk melompat/bergerak melalui mekanisme kembang-kerut bagian ujung bawah posteriornya. Lundi putih adalah kumbang lonta coklat (Melolonthidae). Lundi berbentuk bulat, putih, dengan panjang sekitar 2,5 cm dan melengkung seperti berbentuk C bila terganggu. Lundi ini terutama memakan akar rumput, yang menyebabkan bercak-bercak kematian di halaman rumput. Tetapi juga berbagai tanaman pertanian sehingga menjadi hama tanaman yang penting. Semut hewan tanah yang berperan penting dalam perombakan bahan organik. Semut memakan sisa-sisa organisme yang mati dan membusuk. Pada

umumnya perombakan bahan-bahan organik dalam saluran pencernaandibantu oleh berbagai enzim pencernaan yang dihasilkan oleh mesenteron dan organisme yang secara tetap bersimbiosis dengan pencernaannya.

BAB III METODE 3.1 Waktu dan tempat Waktu : 20 oktober 2011 Tempat : tanah kosong di areal lahan parkir di depan pusat laboratorium terpadu

3.2 alat dan bahan Pada praktikum ini alat-alat yang digunakan adalah fiber plastik, gelas ukuran 250 ml, kayu patok ukuran 20 cm, tali rapia, detergen, gunting, alat gali.

3.3 cara kerja Teknik pencuplikan dilakukan berdasarkan pedoman pencuplikan standar yang dikeluarkan oleh International Biodiversity Observation Year (IBOY) (Toda dan Kitching, 1999) dengan menggunakan perangkap jebak sumur (pitfall trap). Perangkap jebak sumur yang digunakan berupa gelas plastik dengan diameter 6,5 cm dan volume 250 mL yang ditanam di dalam tanah sampai pinggir gelas sejajar dengan permukaan tanah. Untuk mencegah masuknya air hujan maka di atas gelas dinaungi oleh atap yang memiliki tiang, dimana jarak antara atap dengan permukaan tanah antara 5-10 cm. Pilih dua lokasi pencuplikan yang berbeda kondisi lingkungannya, misal di bawah kanopi pohon (bervegetasi pohon) dan di tempat terbuka (tidak bervegetasi pohon). Pada masing-masing lokasi, pilih salah satu titik secara acak untuk pemasangan perangkap jebak sumur. Pada setiap titik ditanam lima perangkap jebak dengan susunan (silang), dengan jarak antar perangkap jebak adalah 1 m. 3.4 analisis data Kelimpaha relatih

Kelimpaha relatif (KR) =

Indeks keaanekaragaman (H H = - ( )

Indeks kemerataan (E) E = H/ln S Keterangan : ni = jumlah individu tiap jenis N = jumlah individu seluruh jenis S = jumlah jenis

sp

ni

ln (lnpi)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil pengamatan VEGETASI DIURNAL Sp. 1 9 ni ni/N(pi) 9/10 = 0,9 ln (lnpi) -0,105 (0,9)(-0,105) = 0,0945 3 6 6/10 = 0,6 -0,511 (0,6)(-0,511) = 0,3066 4 10 24 2 24/10 = 2,4 2/10 = 0,2 0,875 -1,609 (2,4)(0,875) = 2,1 (0,2)(-1,609) = 0,3218 11 1 1/10 = 0,1 -2,303 (0,1)(-2,303) = 0,230 12 2 2/10 = 0,2 -1,609 (0,2)(-1,609) = 0,3218 13 1 1/10 = 0,1 -2,303 (0,1)(-2,303) = 0,230 14 1 1/10 = 0,1 -2,303 (0,1)(-2,303) = 0,230 15 1 1/10 = 0,1 -2,303 (0,1)(-2,303) = 0,230 23 1 1/10 = 0,1 -2,303 (0,1)(-2,303) = 0,230 H = -0,3247 = 0,3247

VEGETASI NOCTURNAL Sp. 1 2 3 9 10 11 13 15 ni 15 1 2 1 1 1 1 2 ni/N(pi) 15/8 = 1,875 1/8 = 0,125 2/8 = 0,25 1/8 = 0,125 1/8 = 0,125 1/8 = 0,125 1/8 = 0,125 2/8 = 0,25 0,629 -2,079 -1,386 -2,079 -2,079 -2,079 -2,079 -1,386 ln (lnpi) (1,875)(0,629) = 1,179 (0,125)(-2,079) = -0,260 (0,25)(-1,386) = -0,347 (0,125) (-2,079) = -0,260 (0,125)( -2,079) = -0,260 (0,125)( -2,079) = -0,260 (0,125)( -2,079) = -0,260 (0,25)( -1,386) = -0,347 H = -0,815 = 0,815

NONVEGETASI DIURNAL Sp. 1 2 4 5 8 16 17 ni 13 6 5 1 1 1 1 28 ni/N(pi) 13/7 = 1,857 6/7 = 0,857 5/7 = 0,714 1/7 = 0,143 1/7 = 0,143 1/7 = 0,143 1/7 = 0,143 0,619 -0,154 -0,337 -0,1,945 -0,1,945 -0,1,945 -0,1,945 ln (lnpi) (1,857 )( 0,619) = 1,149 (0,857)( -0,154) = 0,132 (0,714)(-0,337) = -0,241 (0,714)(-0,337) = -0,241 (0,714)(-0,337) = -0,241 (0,714)(-0,337) = -0,241 (0,714)(-0,337) = -0,241 H = -0,336 = 0,336

10

NONVEGETASI NOCTURNAL Sp. 1 2 3 4 5 5 2 3 6 1 ni ni/N(pi) 5/14 = 0,357 2/14 = 0,142 3/14 = 0,214 6/14 = 0,428 1/14 = 0,0714 -1,030 -1,951 -1,541 -0,848 -2,639 ln (lnpi) (0,357)( -1,030) = -0,367 (0,142)( -1,951) = -0,277 (0,214)( -1,541) =-0,329 (0,428)( -0,848) = -0,362 (0,0714)( -2,639) = 0,188 6 1 1/14 = 0,0714 -2,639 (0,0714)( -2,639) = 0,188 7 1 1/14 = 0,0714 -2,639 (0,0714)( -2,639) = 0,188 10 17 2 1 2/14 = 0,142 1/14 = 0,0714 -1,951 -2,639 (0,142)( -1,951) = -0,277 (0,0714)( -2,639) = 0,188 18 1 I/14 = 0,0714 -2,639 (0,0714)( -2,639) = 0,188 19 20 21 22 10 7 4 4 10/14 = 0,714 7/14 = 0,5 4/14 = 0,285 4/14 = 0,285 -0,336 -0,693 -1,255 -1,255 (0,714)( -0,336) = -0,239 (0,5)(- 0,693) = -0,346 (0,285)( -1,255) = 0,357 (0,285)( -1,255) = -0,357 H = -3,851 = 3,851

11

Kelimpahan relatif (KR) VEGETASI DIURNAL 48% NONVEGETASI 57% 19%

NOCTURNAL 37,5%

4.2 pembahasan Pengamatan kali ini dilakukan dengan menggunakan metode pit fall trap, yaitu dengan membuat perangkap berupa lubang di tanah yang dan dimasukkan gelas dengan volume 250 ml sedalam 10 cm yang didalamnya diisi dengan larutan detergen sebanyak 250 ml. Larutan detergen berfungsi sebagai cairan yang dapat meurunkan tegangan permukaan air, karena terdapat beberapa jenis serangga dapat berdiri diatas air karena tingginya tegangan permukaan air. Diversitas makro fauna tanah dan Tinggi rendahnya jumlah makrofauna tanah pada pengamatan yang dilakukan ditentukan oleh banyak faktor diantaranya tersedianya sumber makanan yang cukup dan kondisi lingkungan yang sesuai. Jumlah individu makrofauna tanah dari dua kali pengambilan terdapat perbedaan jenis makrofauna tanah. Hal ini dapat dipengaruhi oleh berbagi faktor seperti faktor makanan yang melimpah, suhu, pH, dan lingkungan (habitat) yang tidak sesuai dengan pola kehidupan makrofauna tanah. populasi, biomasa dan diversitas makrofauna tanah dipengaruhi oleh praktek pengelolaan lahan dan penggunaannya. Pada lahan terlantar karena kualitas lahannya tergolong masih rendah menyebabkan hanya makrofauna tanah tertentu yang mampu bertahan hidup, sehingga diversitas makrofauna tanah baik yang aktif di permukaan tanah maupun di dalam tanah juga sangat rendah. Dari hasil penyortiran semua jebakan di vegetasi pohon, terdapat 148 individu. Diversitas makrofauna tanah yang didapat dari beberapa kali penagamatan diperoleh beberapa spesies dari beberapa ordo. Pada lingkungan bervegetasi pohon terdapat dua ordo yang termasuk predominan yaitu ordo hymenoptera dan ordo diptera dengan jumlah spesies tebesar didapat dari ordo hymenoptera. Pada vegetasi ini total jumlah individu tertinggi adalah jenis semut

12

(ordo hymenoptera). Hal ini dikarenakan pada vegetasi ini menyadiakan makanan yang berlimpah untuk jenis semut tersebut. Selain itu, vegetasi seperti ini merupakan habitat yag ideal bagi semut yaitu pepohonan dan rerumputan. Selain sebagai sumber makanan, bahan organik tanaman juga digunakan sebagai tempat untuk berlindung dari tekanan lingkungan (Sugiyarto, 2000). Semakin banyak bahan organik yang tersedia maka jumlah individu makrofauna tanah akan semakin bertambah, karena mampu melindungi dari tekanan lingkungan baik tingginya suhu lingkungan maupun kemungkinan adanya predator. Selain jenis semut, spesies yang total individunya tinggi di kedua vegetasi ini adalah spesies dari ordo Diptera yaitu nyamuk. Dengan adanya saluran air sebagai tempat bertelur dan rendahnya intensitas cahaya merupakan lingkungan yang sesuai bagi nyamuk untuk berkembang biak. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai indeks keanekaragaman pada vegetasi pohon lebih tinggi daripada indeks keanekaragaman pada vegetasi rumput. Untuk nilai indeks kesamaan, pada vegetasi pohon juga lebih tinggi daripada vegetasi rumput. hal ini menunjukkan bahwa pada vegetasi pohon makrofauna tanahnya lebih variatif bila dibandingkan dengan makrofauna di vegetasi rumput. Hal ini dapat dikarenakan pada vegetasi pohon merupakan habitat yang sesuai untuk berbagai makrofauna tanah. Pada vegetasi pohon menyediakan sumber makanan yang lebih bagi berbagai jenis serangga dan pepohonan dapat memberi perlindungan lebih daripada di daerah rerumputan bagi sebagian jenis makrofauna. Faktor fisik lingkugan Pada vegetasi pohon dan vegetasi rumput suhu udara awal rata-rata keduanya tidak berbeda jauh yaitu 28 pada vegetasi pohon dan 28,5 pada vegetasi rumput. Hal ini dikarenakan jarak kedua tempat pengamatan tidak jauh terlalu jauh. Hal yang sama juga terlihat pada hasil pengukuran untuk suhu akhir, hasilnya juga tidak jauh berbeda. Dari hasil pengukuran pH atau derajat keasaman tanah, di vegetasi pepohonan dan vegetasi rumput juga meunjukkan hasil yang relatif sama, yaitu sekitar 6 sampai 6,9. Kelembaban udara di kedua vegetasi yaitu di pohon dan di rumput relatif sama ya sekitar 72-79. Untuk nilai intensitas cahaya, di vegetasi rerumputan relatif lebih tinggi daripada intensitas cahaya di vegetasi pohon. Hal ini dikarenakan pada vegetasi rumput cahaya langsung sampai pada lahan tersebut tanpa ada penghalang. Pada vegetasi pohon cahaya sebagian terhalang oleh pepohonan sehingga intensitas cahayanya relatif lebih rendah.

13

Kelimpahan relatif makro fauna tanah pada vegetasi pohon lebih banyak dibandingkan dengan kelimpahan relatif makro fauna tanah pada

nonvegetasi/vegetasi rumput. Pada vegetasi pohon KR diurnal sebesar 48% dan pada nocturnal sebesar 37,5%. Dan pada vegetasi rumput KR diurnal sebesar 57% dan pada nocturnal sebesar 19%. Perbedaan kelimpahan relatif ini disebabkan karena faktor-faktor fisik yang mendukung keberlangsungan hidup makrofauna tanah.

14

BAB V KESIMPULAN ordo hymenoptera banyak ditemukan di vegetasi pohon Kelimpahan relatif vegetasi lebih besar dibandingkan dengan kelimpahan relatif nonvegetasi Ordo diptera merupakan makrofauna yang jumlah individunya paling bayak ditemukan di vegetasi pohon dan di vegetasi rumput

15

BAB VI DAFTAR PUSTAKA Campbell, N.A. Reece,J.B, and Mitchell, L.G. 2000. Biology Five Edtion. Addison wesley longman, Inc. California. Soemarwoto,Otto.1991.Ekologi lingkungan hidup dan pembangunan.Djambatan .Jakarta Suin, N.M. 1997. Ekologi Hewan Tanah. Bumi aksara. Jakarta Indriyanto. 2005. Ekologi Hutan. Jakarta: Bumi Aksara. Handayanto, E. Hiriah, K. 2009. Biologi Tanah. Yogyakarta: Pustaka Adipura.

LAMPIRAN

16

Sp.

VEGETASI DIURNAL NOCTURNAL 8, 7 = 15 1 5, 1 = 6 24 2

NONVEGETASI DIURNAL 13 5, 1 = 6 NOCTURNAL 1, 4 = 5 1, 1 = 2 3 5 1 1, 5 = 6 1 1 1 1 1

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23

2,4,3 = 9

2 1 1, 1 = 2 1 1 1

1 1

1, 1 = 2 1 1 1 1 10 7 4 4

kelompok vegetasi 1 2 3 4 5

nonvegetasi

Intensitas cahaya 1 7,46 1,54 19,29 18,27

kelembaban udara tanah 79 3,5 72 2 93 1,4 72 2,5 78 1,3

pH Tanah 6 6,9 6,9 6,8 6,9

suhu udara 27 29 28 29 28,5 tanah 26 26 27 27 27

17

Kelimpaha relatif (KR) = Vegetasi Diurnal = Nocturnal =

Nonvegetasi Diurnal = Nocturnal =

18