Anda di halaman 1dari 4

KEMAJUAN BERBICARA Dengan meluasnya cakrawala sosial anak-anak, anak menemukan bahwa berbicara merupakan sarana penting untuk

k memperoleh tempat didalam kelompok. Hal ini membuat dorongan kuat untuk berbicara lebih baik. Anak juga mendapatkan bahwa bentuk-bentuk komunikasi yang sederhana seperti menulis dan gerak isyarat, secara sosial tidak diterima. Anak mengetahui bahwa inti komunikasi adalah ia mampu mengerti apa yang dikatakan orang lain. Membantu untuk memperbaiki pembicaraan pada akhir masa kanak-kanak berasal dari empat sumber : 1) Orang tua dari kelompok sosial ekonomi menengah ke atas merasa bahwa berbicara sangat penting sehingga mereka memacu anak-anak mereka untuk berbicara lebih baik dengan memperbaiki setiap ucapan yang salah, memperbaiki kesalahan tata bahasa, dan mendorong untuk berperan serta dalam setiap pembicaraan keluarga yang bersifat umum. 2) Radio dan televisi, memberikan contoh yang baik bagi pembicaraan anak-anak yang lebih besar seperti halnya bagi anak-anak selama tahun-tahun pra sekolah. 3) Setelah anak belajar membaca, ia menambah kosakata dan terbiasa dengan bentuk kalimat yang benar 4) Setelah anak mulai sekolah, kata-kata yang salah ucap dan arti-arti yang salah biasanya cepat diperbaiki oleh guru. Bidang-bidang yang Mengalami Kemajuan a. Penambahan Kosa Kata Sepanjang akhir masa kanak-kanak penambahan kosa kata umum terjadi secara tidak teratur. Dari berbagai pelajaran di sekolah, bacaan, pembicaraan dengan anak-anak lain dan usahanya melalui radio dan televisi, anak menambah kosa kata yang ia pergunakan dalam pembicaraan dan tulisan. Ini dikenal sebagai kosa kata umum, karena terdiri dari kata-kata yang digunakan secara umum, bukan kata-kata yang artinya terbatas yang hanya dapat digunakan dalam konteks yang khusus. Anak yang lebih besar tidak hanya belajar banyak kata baru tetapi juga mempelajari arti baru dari kata-kata lama. Umumnya, anak yang berasal dari keluarga yang berpendidikan baik peningkatan kosa katanya lebih banyak daripada anak yang berasal dari keluarga yang

orangtuanya berpendidikan tidak tinggi. Dari usia ke usia anak perempuan biasanya menambah lebih banyak kosa kata daripada anak laki-laki. Di samping mempelajari kata-kata baru dalam kosa kata umum, anak menambah kosa kata khusus. Anak perempuan mempunyai kosa kata tentang warna yang lebih banyak daripada anak laki-laki karena minat yang lebih besar terhadap pakaian dan setiap kegiatan yang mencakup penggunaan warna, seperti menata rumah boneka. Anak laki-laki mempunyai lebih banyak kata-kata populer yang kasar dan kata-kata makian karena kata-kata tersebut dianggap sebagai pertanda kejantanan, sedangkan anak perempuan lebih banyak mempunyai kosa kata rahasia. Perbedaan sosial ekonomi dalam kata-kata populer dan kata-kata makian tampak jelas kepada anak laki-laki maupun perempuan dari kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah, dengan lebih sering mengucapkannya dan lebih banyak menggunakan kata-kata penghinaan daripada kelompok sosial ekonomi yang lebih tinggi. Anak laki-laki dan perempuan dari kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah juga mempunyai lebih banyak kosakata uang karena lebih sering ditugaskan berbelanja oleh ibunya sehingga terbiasa berurusan dengan uang.

b. Pengucapan Sebuah kata baru mungkin ketika pertama kali digunakan, diucapkan dengan tidak tepat, tetapi setelah beberapa kali mendengar pengucapan yang benar, anak sudah mampu mengucapkannya secara benar. Namun tidak sama halnya pada anak dari kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah yang di rumah lebih banyak mendengar kosa kata salah ucap daripada anak dari lingkungan rumah yang lebih baik, apalagi anak dari lingkungan rumah yang berbahasa dua. c. Pembentukan Kalimat Anak usia enam tahun harus sudah menguasai hampir semua jenis struktur kalimat. Dari enam sampai sembilan atau sepuluh tahun panjang kalimat akan bertambah. Kalimat panjang biasanya tidak teratur dan terpotong-potong. Berangsur-angsur setelah usia sembilan tahun anak mulai menggunakan kalimat yang lebih singkat dan lebih padat. Kemajuan dalam Pengertian

Anak segera mengetahui bahwa komunikasi yang bermakna tidak dapat dicapai kecuali dia mengerti arti dari apa yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Ini menimbulkan dorongan untuk meningkatkan peningkatannya. Peningkatan dalam pengertian juga dibantu oleh pelatihan konsentrasi di sekolah. Anak segera mengetahui bahwa dia harus menaruh perhatian terhadap setiap kejadian di kejadian di kelas (apa yang dikatakan oleh guru-guru dan teman-teman) jika ingin mengerti semua pelajaran dengan baik. Anak yang lebih muda, konsentrasinya ditingkatkan dengan mendengar radio dan melihat televisi dan hal ini selanjutnya meningkatkan pengertian. Di samping itu anak yang lebih besar tidak ragu-ragu bertanya tentang kata, ungkapan, bahkan kalimat yang kurang berarti bagi dirinya. Isi Pembicaraan Anak lebih sering berbicara tentang dirinya dan itu biasanya terjadi dalam bentuk bualan. Anak membual tentang segala hal yang berhubungan dengan diri sendiri seperti kehebatannya dalam keterampilan dan prestasi. Anak tidak terlampau banyak membual mengenai apa yang dimiliki seperti apa yang sering dilakukan oelh anak yang lebih muda. Biasanya, membual sangat umum dilakukan antara usia sembilan dan duabelas tahun, terutama oleh anak laki-laki. Anak-anak juga sering mengkritik dan menertawakan orang. Kritik dapat disampaikan secara terbuka dan juga secara diam-diam. Kritik terhadap orang dewasa biasanya diungkapkan dalam bentuk usulan atau keluhan, seperti Mengapa Anda tidak melakukannya begini? atau Anda tidak memperbolehkan aku melakukan hal-hal yang dilakukan oleh teman-teman lain. Kritik terhadap anak lain seringkali dalam bentuk memaki, menggoda, memberi komentar yang merendahkan. Berapa banyak peningkatan dalam isi pembicaraan dan dalam cara mengungkapkan apa yang ingin dikatakan tidak sepenuhnya bergantung pada kecerdasan tetapi juga pada tingkat sosialisasi. Anak yang populer mempunyai keinginan yang kuat untuk memperbaiki mutu pembicaraan. Dari pengalaman pribadi, anak belajar bahwa kata-kata dapat menyakitkan hati dan bahwa anak yang populer adalah anak-anak yang pembicaraannya menambah kegembiraan dalam hubungan teman-teman sebaya. Banyak Bicara

Tahap mengobrol, yang merupakan ciri dari awal masa kanak-kanak, berangsurangsur digantikan oleh pembicaraan yang lebih terkendali dan lebih terseleksi. Anak tidak lagi bicara sekedar untuk bicara tanpa memperdulikan apakah ada yang memperhatikan. Sekarang anak menggunakan pembicaraan sebagai bentuk komunikasi, bukan sebagai bentuk latihan verbal. Dengan berjalannya periode akhir masa kanak-kanak, banyaknya bicara makin lama makin berkurang. Di dalam kelompok teman-teman sebaya, anak yang lebih besar juga menemukan bahwa berbicara terus menerus dapat menganggu teman-teman dan merupakan cara yang tepat untuk kehilangan teman. Di samping itu anak menmukan bahwa temna-teman juga ingin memperoleh kesempatan untuk berbicara dan tidak menyukai yang menguasai pembicaraan. Sepanjang tahun-tahun akhir masa kanak-kanak, anak perempuan berbicara lebih banyak daripada anak laki-laki, dan anak dari kelompok sosial ekonomi yang lebih rendah. Anak laki-laki mengetahui bahwa terlalu banyak bicara kurang sesuai dnegan peran seks lakilaki sedangkan anak dari kelompok sosial ekonomi lebih rendah akan ditertawakan karena mutu pembicaraannya buruk. Secara normal, menjelang berakhirnya masa kanak-kanak, anak-anak semakin sedikit berbicara karena sebagian dari sindroma menarik diri yang merupakan ciri dari masa puber. Emosi dan Ungkapan-Ungkapan Emosi Anak segera mengetahui bahwa ungkapan emosi terutama emosi yang kurang baik, secara sosial tidak diterima oleh teman-teman sebaya. Anak belajar bahwa teman-teman menganggap ledakan amarah sebagai perilaku bayi, reaksi mundur karena takut dianggap pengecut dan menyakiti hati orang lain karena cemburu dianggap kurang supportif. Oleh karena itu, anak mempunyai keinginan yang kuat untuk mengendalikan ungkapan-ungkapan emosinya. Keinginan kuat untuk mengendalikan emosi ini tidak berlaku di rumah. Tidak semua emosi pada usia ini menyenangkan. Banyak ledakan amarah terjadi dan anak menderita kekhawatiran dan perasaan kecewa. Anak perempuan sering mencurahkan airmata atau mengungkapkan ledakan amarah seperti perilaku pada masa pra sekolah; anak laki-laki lebih banyak mengungkapkan kesalahan atau kekhawatirannya dengan cemberut dan merajuk.