Anda di halaman 1dari 4

Penggolongan obat di atas adalah obat yang berbasis kimia modern, padahal juga dikenal obat yang berasal

dari alam, yang biasa dikenal sebagai obat tradisional.Obat tradisional Indonesia semula hanya dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu obat tradisional atau jamu dan fitofarmaka. Namun, dengan semakin berkembangnya teknologi, telah diciptakan peralatan berteknologi tinggi yang membantu proses produksi sehingga industri jamu maupun industri farmasi mampu membuat jamu dalam bentuk ekstrak. Namun, sayang pembuatan sediaan yang lebih praktis ini belum diiringi dengan perkembangan penelitian sampai dengan uji klinik. Saat ini obat tradisional dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu jamu, obat ekstrak alam, dan fitofarmaka. 1.Jamu (Empirical based herbal medicine) Logo Jamu :

Jamu adalah obat tradisional yang disediakan secara tradisional, misalnya dalam bentuk serbuk seduhan, pil, dan cairan yang berisi seluruh bahan tanaman yang menjadi penyusun jamu tersebut serta digunakan secara tradisional. Pada umumnya, jenis ini dibuat dengan mengacu pada resep peninggalan leluhur yang disusun dari berbagai tanaman obat yang jumlahnya cukup banyak, berkisar antara 5 10 macam bahkan lebih. Bentuk jamu tidak memerlukan pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan bukti empiris. Jamu yang telah digunakan secara turun-menurun selama berpuluh-puluh tahun bahkan mungkin ratusan tahun, telah membuktikan keamanan dan manfaat secara langsung untuk tujuan kesehatan tertentu. 2. Obat Herbal Terstandar (Scientific based herbal medicine) Logo Obat Herbal terstandar :

Adalah obat tradisional yang disajikan dari ekstrak atau penyarian bahan alam yang dapat berupa tanaman obat, binatang, maupun mineral. Untuk melaksanakan proses ini membutuhkan peralatan yang lebih kompleks dan berharga mahal, ditambah dengan tenaga kerja yang mendukung dengan pengetahuan maupun ketrampilan pembuatan ekstrak. Selain proses produksi dengan tehnologi maju, jenis ini pada umumnya telah ditunjang dengan pembuktian ilmiah berupa penelitian-penelitian pre-klinik seperti standart kandungan bahan berkhasiat, standart pembuatan ekstrak tanaman obat, standart pembuatan obat tradisional yang higienis, dan uji toksisitas akut maupun kronis. 3.Fitofarmaka (Clinical based herbal medicine) Logo Fitofarmaka :

Merupakan bentuk obat tradisional dari bahan alam yang dapat disejajarkan dengan obat modern karena proses pembuatannya yang telah terstandar, ditunjang dengan bukti ilmiah sampai dengan uji klinik pada manusia.. Dengan uji klinik akan lebih meyakinkan para profesi medis untuk menggunakan obat herbal di sarana pelayanan kesehatan. Masyarakat juga bisa didorong untuk menggunakan obat herbal karena manfaatnya jelas dengan pembuktian secara ilimiah. Saat ini lebih dari 900 industri kecil, dan 130 industri menengah, 69 diantaranya telah mendapat sertifikat GTMMP (Good Traditional Medicine Manufacturing Practice). Kepmenkes 1076 th 2003 tentang pengobatan tradisional, pengobatan tradisional ramuan ini didorong keberadaannya serta dibina dan dilindungi. Standar pengobatan medis herbal telah diterbitkan oleh Dirjen Bina Pelayanan Medik Depkes th 2007 sebagai acuan penyelenggaraan pelayanan medis herbal di Rumah sakit atau klinik. Keputusan atau Peraturan Ka Badan POM tentang obat asli Indonesia mengatur, mengawasi pendaftaran, produksi dan pengedaran obat asli Indonesia. Fitofarmaka produksi Indonesia: 1. Nodiar (POM FF 031 500 361) Komposisi: Attapulgite (bahan kimia, obat untuk diare), 300 mg Psidii folium ekstrak (daun jambu biji), 50 mg Curcumae domesticae rhizoma ekstrak (kunyit), 7.5 mg

Khasiat: untuk pengobatan diare non spesifik. Indikasi : diare yang tidak spesifik, Ekstrak Folium Psidii dikenal memiliki efek farmakodinamik yang bekerja di otot polos usus. Attapulgite melindungi usus dan menyerap racun bakteri dan juga meningkatkan konsistensi feses dengan penyerapan cairan di lumen intestinals. Curcuma domestica Rhizoma bekerja dengan efek sebagai anti spasmolytical non kompetitif antagonis pada reseptor asetilkolin Produksi: PT. Kimia Farma 2. Rheumaneer (POM FF 032 300 351) Komposisi: Curcumae domesticae rhizoma (temulawak), 95 mg Zingiberis rhizoma ekstrak (kunyit), 85 mg Curcumae rhizoma ekstrak, (temulawak) 120 mg Panduratae rhizoma ekstrak, (temu kunci) 75 mg Retrofracti fructus ekstrak, (buah cabe jawa), 125 mg

Khasiat: pengobatan nyeri sendi ringan Produksi : PT. Nyonya Meneer 3. Stimuno (POM FF 041 300 411, POM FF 041 600 421)

Komposisi: Phyllanthi herba ekstrak (meniran), 50 mg Khasiat: Membantu memperbaiki dan meningkatkan daya tahan tubuh (sebagai imunomodulator) STIMUNO adalah imunomodulator dari herbal alami membantu meningkatkan daya tahan tubuh. Stimuno terdaftar sebagai FITOFARMAKA , dibuat dari ekstrak tanaman Phyllanthus niruri (meniran) yang terstandarisasi dan telah melalui berbagai uji pre-klinik dan klinik. Sebagai imunomodulator (pengatur sistem imun), Stimuno membantu merangsang tubuh memproduksi lebih banyak antibodi dan mengaktifkan sistem kekebalan tubuh agar daya tahan tubuh bekerja optimal. Produksi: PT. Dexa Medica 4. Tensigard Agromed (POM FF 031 300 031, POM FF 031 300 041) Komposisi: Apii Herba ekstrak (seledri), 95 mg Orthosiphon folium ekstrak (daun kumis kucing), 28mg

Indikasi: Menurunkan tekanan darah sistolik dan diastolik obat ini gabungan dari komposisi daun kumis kucing dan daun seledri, disini yang berperan sebagai agen penurun tekanan darah tinggi adalah extrak daun seledri, sedangkan untuk daun kumis kucing (Orthosiphon Folium) lebih ke infeksi ginjal, saluran kemih, dll Produksi: PT. Phapros 5. X-Gra (POM FF 031 300 011, POM FF 031 300 021) Komposisi: Ganoderma lucidum (jamur ganoderma), 150 mg Eurycomae radix (akar pasak bumi), 50 mg Panacis ginseng radix (akar ginseng), 30 mg Retrofracti fructus (buah cabe jawa), 2.5 mg Royal jelly 5 mg

Khasiat: Meningkatkan stamina dan kesegaran tubuh, membantu meningkatkan stamina pria, membantu mengatasi disfungsi ereksi dan ejakulasi dini, Kontra Indikasi : Hipersensitif terhadap bahan yang dikandung dalam X-gra, kanker prostat, hipertensi berat dan gagal ginjal. Produksi: PT. Phapros Kelima produk fitofarmaka ini merupakan produk Indonesia yang membanggakan. Melalui berbagai penelitian, prosedur, dan biaya yang tidak sedikit akhirnya produk ini dapat secara aman dikonsumsi masyarakat sesuai dengan indikasinya. Dengan berkembangnya fitofarmaka maka akan meningkatkan kepercayaan konsumen dalam menggunakannya, jelas karena fitofarmaka adalah grade tertinggi dari produk herbal di Indonesia. Fitofarmaka juga dalam proses produksinya sudah terstandardisasi dimulai sejak budi daya melalui adanya GAP (Good Agricultural Practice). JAMU, OBAT HERBAL TERSTANDAR dan FITOFARMAKA Jamu

Berdasarkan fakta sejarah, jamu adalah obat asli Indonesia yang ramuannya, cara pembuatan, pembuktian khasiat dan keamanan serta cara penggunaannya berdasarkan pengetahuan tradisional. Sebagai bentuk produk Obat Bahan Alam, jamu harus memenuhi kriteria aman sesuai persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiatnya dimana pembuktiannya hanya berdasarkan pengalaman/data empiris, memenuhi persyaratan mutu yang berlaku yaitu CPOTB (Cara Pembuatan Obat Tradisional Yang Baik), serta jenis klaim penggunaan sesuai jenis pembuktian tradisional tingkat umum dan medium. Bentuk penyajian jamu semestinya sesuai dengan cara empiris, tradisi masyarakat agar tetap mempertahankan pemahaman akan adanya keseimbangan holistik yang menjadi falsafah dasar obat tradisional Obat Herbal Terstandar Obat herbal terstandar adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik dengan hewan uji, meliputi uji khasiat dan uji manfaat, dan bahan bakunya telah distandarisasi. Ada 5 macam uji praklinis yaitu: uji eksperimental in vitro, uji eksperimental in vivo, uji toksisitas akut, uji toksisitas subkronik, dan uji toksisitas khusus. Fitofarmaka Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah melalui uji praklinik dan uji klinik (bahan obat diujikan ke manusia), bahan baku dan produk jadinya telah distandarisasi. Uji klinik harus mengikuti deklarasi Helsinki yang terdiri dari 4 fase. Fase pertama: untuk mengetahui dan mengklarifikasi efek dan farmakokinetik dalam tubuh. Sukarelawan yang sehat dan sejumlah tertentu diberi obat, lalu diamati pola penyerapan, metabolism, dan ekskresi pasca konsumsi obat. Fase kedua: obat diberikan pada orang yang sakit sesuai klaim obat, untuk control digunakan placebo sebagai pembanding. Fase ketiga: jumlah sukarelawan diperbanyak dan lokasi diperluas. Obat yang akan diteliti dibandingkan dengan innovator. Pembanding innovator adalah obat yang sudah mapan di pasaran dan terbukti banyak digunakan untuk mengobati penyakit yang diklaim. Setelah obat dibuktikan berkhasiat dan menunjukkan keamanan saat dipakai, maka obat itu diizinkan untuk diproduksi sebagai legal drug. Fase keempat: setelah obat dipasarkan masih dilakukan studi pasca pemasaran yang diamati pada pasien dalam berbagai kondisi, usia dan ras. Studi ini dilakukan dalam jangka waktu lama untuk melihat efek terapeutik dan pengamatan jangka panjang dalam menggunakan obat. Dari hasil evaluasi itu masih memungkinkan suatu obat ditarik dari peredaran jika terbukti membahayakan.

Hingga saat ini, tanaman unggulan nasional yang telah diuji klinis baru 9 yaitu: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Daun salam (Syzygium polyanthum (Wight.) Walp.) Sambiloto (Andrographis paniculata (Burm.F.) Nees) Kunyit (Curcuma domestica Val.) Jahe merah (Zingiber officinale var. rubrum) Jati belanda (Guazuma ulmifolia) Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb) Jambu biji (Psidium guajava L) Cabai jawa (Piper retrofractum Vahl.) Mengkudu (Morinda citrifolia L.)