P. 1
LAKIP_2011

LAKIP_2011

|Views: 923|Likes:
Dipublikasikan oleh Kenik Sri Rahayuni

More info:

Published by: Kenik Sri Rahayuni on Apr 08, 2012
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

Kata Pengantar
Sejalan dengan ikhtiar kita untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui kegiatan pembangunan di segala bidang, sudah sepantasnya kita senantiasa memanjatkan puji syukur kehadirat Allah Subhanahu wa ta'ala, atas semua limpahan Rahmat dan Karunia-Nya yang tidak terhingga bagi bangsa dan negara tercinta ini. Tanpa terasa, masa pengabdian Kabinet Indonesia Bersatu II dalam upaya untuk mewujudkan Indonesia yang semakin adil, aman, makmur dan sejahtera telah memasuki tahun ke-3 (tiga). Dalam rentang waktu tersebut, telah banyak capaian strategis yang berhasil kita lakukan dengan semangat dan kerja keras di tengah kondisi bangsa yang sedang mengalami cobaan, tantangan dan ujian yang tidak ringan. Gerak langkah pelaksanaan reformasi birokrasi yang kreatif dan inovatif dalam berbagai aspek semakin nyata baik di pusat maupun di daerah, hendaknya tetap kita jaga dan pertahankan, bahkan harus terus ditingkatkan di masa mendatang. Saya menyampaikan apresiasi yang mendalam terhadap segenap tingkatan aparatur negara/birokrasi yang telah melakukan berbagai langkah terobosan untuk kemajuan dan pelaksanaan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Pada 5 (lima) bulan awal pengabdian saya selaku Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, saya terus mengharapkan dukungan dan kebersamaan dari segenap tingkatan aparatur negara/birokrasi untuk mewujudkan hasil nyata sebagai terobosan dalam rangka percepatan reformasi birokrasi. Tugas kita 2 (dua) tahun kedepan akan semakin berat dalam mengawal jalannya pemerintahan. Kita akan dihadapkan dengan tahun dengan situasi sosial dan politik yang dinamis menyongsong pemilu tahun 2014. Untuk itu, peran aparatur negara menjadi unsur yang sangat penting dalam mendinamisir jalannya keberlangsungan pemerintahan dan pembangunan di seluruh tanah air. Pelaksanaan reformasi birokrasi diharapkan mampu mengubah wajah birokrasi menjadi birokrasi bersih, mumpuni dan melayani sebagaimana harapan masyarakat. Ini adalah pekerjaan besar bagi kita jajaran Kementerian PAN dan RB yang diserahi tugas untuk mengkoordinasikan dan merumuskan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi.

i

Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Kita harus mampu secara konsisten terus menegakkan dan meningkatkan komitmen disertai produktivitas kinerja yang optimal dalam setiap pelaksanaan kinerja peran dan tugas ini. Pelaksanaan 9 (sembilan) program percepatan reformasi birokrasi elaksanaan sebagai ekstraksi dari berbagai kebijakan PAN dan RB yang telah kita canangkan harus dapat dilakukan secara efektif dan efisien yaitu : efisien, 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Penataan Struktur Birokrasi; Penataan Jumlah dan distribusi PNS; Sistem Seleksi CPNS dan Promosi secara Terbuka; Profesionalisasi PNS; Pengembangan Sistem Elektronik Pemerintah (E-Government); Government); Penyederhanaan Perizinan Usaha; Peningkatan Transpar Transparansi dan Akuntabilitas Aparatur; Peningkatan Kesejahteraan Pegawai Negeri; Efisiensi Penggunaan Fasilitas, Sarana dan Prasarana Kerja Pegawai Negeri. Fasilitas,

Terkait dengan pelaksanaan pencapaian kinerja kebijakan PAN dan RB tahun 2011, kita menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah 1, Akuntabilitas (LAKIP) Kementerian PAN dan RB Tahun 2011. Hal ini semata ementerian semata-mata kita tunjukkan kepada masyarakat bahwa Kementerian PAN dan RB mempunyai komitmen dan tekad yang kuat untuk melaksanakan kinerja organisasi yang berorientasi pada hasil, baik berupa output maupun outcomes. Di sisi yang lain, penyusunan LAKIP Kementerian PAN dan RB juga dimaksudkan sebagai pengejawantahan prinsip transparansi dan akuntabilitas yang merupakan pilar penting pelaksanaan tata kelola pemerintahan ya baik. yang Mudah-mudahan, penyajian LAKIP Kementerian PAN dan RB ini menjadi mudahan, cermin bagi kita semua untuk mengevaluasi kinerja organisasi selama satu tahun agar dapat melaksanakan kinerja ke depan secara lebih produktif, efektif dan efisien, baik dari aspek perencanaan, pengorganisasian, manajemen keuangan maupun koordinasi pelaksana pelaksanaannya. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi,

Azwar Abubakar

ii

Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 201 2011

C. B. A. E. Latar Belakang Kedudukan. II A. D. Tugas Pokok dan Fungsi Aspek Strategis Struktur Organisasi Sistematika Penyajian RPJMN 2010-2014 Rencana Strategi Tahun 2010-2014 Penetapan Kinerja Tahun 2011 Pengukuran Capaian Kinerja Tahun 2011 Analisis Capaian Kinerja Akuntabilitas Keuangan Simpulan Saran i iii iv 1 1 2 3 4 5 6 6 10 16 22 22 27 101 105 105 106 Perencanaan dan Perjanjian Kinerja III Akuntabilitas Kinerja Tahun 2011 Penutup Lampiran 1. B.Daftar Isi Kata Pengantar Daftar Isi Ringkasan Eksekutif I Pendahuluan A. 2. B. C. Struktur Organisasi Kementerian PAN dan RB Pengukuran Kinerja Tahun 2011 iii Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . C. IV A. B.

pasti. 1 Inpres. yaitu Sasaran Strategis 1. seluruh program kerja Kementerian PAN dan RB didasarkan pada tujuan. transparan. 6 dan 7. patut dan memuaskan Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan publik (PP. dan Per Men. terdapat 4 sasaran strategis yang berhasil dilaksanakan dengan baik (100% atau lebih). yaitu Sasaran Strategis 3. cepat. 2 Per. terus menerus dan berkesinambungan.Men. 2 dan 4. Kontrak Kinerja Menteri PAN dan RB dengan Presiden. Secara umum dapat disimpulkan bahwa dari tujuh sasaran strategis yang ditetapkan dalam Penetapan/Perjanjian Kinerja Tahun 2011. Rincian capaian kinerja masing-masing indikator tiap sasaran strategis tersebut dapat diilustrasikan dalam tabel berikut : Sasaran Strategis I Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. Secara keseluruhan. Untuk itu. PerPres.22%. Meskipun begitu tingkat pencapaian 3 sasaran strategis tersebut diatas 80%. Sedangkan 3 Sasaran Strategis lainnya belum sepenuhnya dilaksanakan dengan baik. Ke tujuh sasaran strategis tersebut selanjutnya diukur dengan mengaplikasikan 47 indikator kinerja dan 63 target kinerja. Rencana Kerja Pemerintah (RKP). Inpres.Ringkasan Eksekutif Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi mempunyai kedudukan dan peran strategis dalam melaksanakan prioritas pertama RPJMN 2010-2014 yaitu reformasi birokrasi dan tatakelola. sasaran strategis dan target kinerja yang telah ditetapkan baik pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. Kementerian PAN dan RB telah menetapkan 7 (tujuh) sasaran strategis yang akan dicapai dalam tahun 2011. PAN dan RB) Target 1 PP. serta Rencana Strategis (Renstra) Kementerian PAN dan RB Tahun 2010-2014 secara konsisten. murah.PAN-RB % 90 80 80 90 iv Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 5. 1 Perpres. adil. tingkat pencapaian kinerja Kementerian PAN dan RB adalah sebesar 105. Men. PAN dan RB Realisasi 1 Draft RPP 1 Draft Perpres 1 Draft Inpres 2 Draft Per.

25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Skor IKM unit pelayanan Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah Kabupaten/Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/Pemerintah Provinsi Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian 70 % Provinsi 30 % 42.86 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis I v Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .57 79 % 117. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Terlaksananya implementasi Undang-Undang No.58 105.Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Terlaksananya implementasi Undang-Undang No.33 26 Kab/kota 0 Kab/kota 0 5 Kab/kota 5 Kab/Kota 100 15 unit 80 unit 533.33 105 Kab/Kota 73 Kab/Kota 69.86 100 % 100 % 100 11 K/L 0 K/L 0 7 Pemda Provinsi 0 Pemda Provinsi 0 33 Kab/kota 28 Kab/kota 85 65 75 % 76.52 60 % 0% 0 60 % 0% 0 87.

PAN dan RB 2 Draft PerMen. 100 % 80 % Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB.1 83.24 30 % 25 % 30. Per.33 101 111. Perpres.04 30 % 30 % 28.57 % 95.26 % 95. PP.52 30 % 0% 0 30 % 28. berkinerja. PAN dan RB) Target Realisasi 3 Draft Perpres % 85 90 4 PerMen. BKN dan LAN Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase instansi pemerintah (PPKBLU) yang telah tertata kelembagaannya Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya 80 30 % 29. akuntabel dan sejahtera Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM Aparatur (UU. 1 RUU 9 RPP Target Realisasi 1 RUU 9 RPP % 100 100 vi Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Men.57 % 23. Per.31 30 % Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis II Sasaran Strategis III Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional.33% Kab/Kota 83.PAN dan RB. efektif dan efisien Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres.Sasaran Strategis II Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional.41 % 98. 6 Per.Men.PAN dan RB 3 Perpres.24 77.30% Provinsi 33.

Men.46 % % 80 62. PAN dan RB) 2 UU 2 RUU 1 PP 5 Per.PAN dan RB 59. sistematis.5 70 88 Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik 35 % 169 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis IV 93.Men.PAN dan RB 12 PP 8 Per.Men. efektif dan akuntabel Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana (UU. PAN dan RB Target Realisasi 2 RUU 2 RUU 1 RPP 2 Per. Per.PAN dan RB 95 % IP Pusat 92 % IP Daerah 5% 400 80 Persentase instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai Persentase peningkatan penghasilan PNS Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system 80 % IP Pusat 80 % IP Daerah 5% 119 115 100 5% 10 % 200 20 % 30 % 150 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis III 151.90 Sasaran Strategis V Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. 3 Draft Per. PAN dan RB. Men. Men.Men. PAN dan RB) 3 PP 10 Per. Men.55 Sasaran Strategis IV Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. dan komprehensif Indikator Kinerja Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan vii Target 7 kebijakan Realisasi 10 kebijakan % 143 Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . PP.

PAN dan RB 50.10 % 91.72 % 121.75 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis V Sasaran Strategis VI Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Akuntabilitas Kinerja (RUU. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) Persentase LAKIP yang diterima 1 RUU 3 Per.10 Persentase PK yang diterima Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis VI viii Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .36 87.62 76.Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah 12 K/L 20 K/L 167 30 % 47 % 156 80 % 100 % K/L 30 % Pemda 100 % K/L 10 % Pemda 81 % 100 % K/L 100 % Prov.29 % 30.81 22 % (Pusat dan Daerah) 87 % (Pusat dan Daerah) 55 % (Pusat dan Daerah) 32 % 20. 62 % - 101 100 333 62 132. Men. PAN dan RB 50 % Target Realisasi 1 RUU 3 Per.77 % 100. Men. Per. Men.42 % 60.34 % % 100 100 100.92 100.48 109.68 44 % 48.

88 % 79. PAN dan RB) Target 1 RUU 2 Per. efisien dan efektif Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Pengawasan (RUU.Men.61 65 % 51. PAN dan RB Realisasi 1 Draft RUU 2 Draft Per.30 65 % 81 % 124.81 Rata-rata capaian kinerja pada Sasaran Strategis VII 104. Per.22 ix Laporan Akuntabilitas Kinerja Sekretariat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Men.54 Rata-rata capaian kinerja keseluruhan 105. PAN dan RB % 95 98 Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman 50 % 62.Sasaran Strategis VII Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi.55 % 125. Men.

Ketika reformasi bergelora di Indonesia. Sejak awal terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). . segenap komponen bangsa terpacu untuk memperbaiki dan mengembangkan sistem. Meskipun gelombang pasang surut terjadi dalam dinamika sejarah perjuangan bangsa dan diwarnai pergolakan sosial yang kuat. mencerdaskan kehidupan bangsa. dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan. tata kerja dan upaya-upaya lainnya ke arah kemajuan. telah ditetapkan 11 prioritas pembangunan nasional yang menempatkan Reformasi Birokrasi dan tata kelola sebagai prioritas pertama untuk dilaksanakan 1 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 A. Tidak dapat dipungkiri pula bahwa aparatur negara yang ideal merupakan suatu keniscayaan hakiki bagi keberlangsungan pembangunan nasional. profesional dan beretika. tidak terlepas dari perjalanan panjang sejarah aparatur negara dalam mengawal perjuangan bangsa Indonesia untuk mewujudkan cita-cita luhur sebagaimana ditegaskan dalam Alinea IV Pembukaan UUD 1945 yaitu “membentuk suatu Pemerintahan Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum. Dengan memberikan arah kebijakan strategis yang menjadikan aparatur negara di pusat dan daerah dapat berperan aktif menyelenggarakan tugas-tugas pemerintahan dan pembangunan sehingga tetap berjalan sebagaimana mestinya. berkat komitmen dan kinerja aparatur negara yang netral. Pada era penyelenggaraan pemerintahan 2010-2014. pelaksanaan pembangunan nasional dalam rangka mewujudkan Indonesia yang aman. aparatur negara telah menyertai dan menjaga perjalanan sejarah bangsa Indonesia agar tidak tercabik-cabik dalam keterpurukan dan tetap utuh dalam kerangka NKRI.b Bab I Pendahuluan Latar Belakang Keberadaan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. adil. sejahtera dan bermartabat tetap berjalan sampai dengan yang diharapkan. perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Semangat itu pula yang memberikan dorongan betapa pentingnya melakukan upaya-upaya sistematis untuk mendayagunakan aparatur negara guna mewujudkan masyarakat madani yang dicita-citakan.

Tugas tersebut harus senantiasa dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab. dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara. serta peranannya dalam pengelolaan sumber daya dan kebijakan yang dipercayakan kepadanya berdasarkan perencanaan strategis yang ditetapkan. dan Fungsi Kementerian Negara serta Susunan Organisasi. tugas. Presiden Republik Indonesia telah memberikan tugas pokok kepada Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 untuk menyelenggarakan urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Reformasi Birokrasi untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. efisien dan akuntabel. susunan organisasi dan tata kerja Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi adalah sebagai berikut: 1. 2. Instruksi Presiden tersebut mewajibkan setiap Instansi Pemerintah sebagai unsur penyelenggara negara untuk mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas dan fungsi. Untuk melaksanakan amanat strategis tersebut. maka kedudukan. dan Fungsi Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan. Tugas Pokok Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi diberikan tugas untuk menyelenggarakan urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Reformasi Birokrasi dalam 2 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kedudukan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dipimpin oleh Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Tugas. Tugas.sebagaimana ditegaskan dalam Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014. Kolusi dan Nepotisme serta Undang-undang (UU) Nomor 28 Tahun 1999 tentang hal yang sama telah diterbitkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP). B. Tugas Pokok. efektif. Kedudukan. Sesuai dengan Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Nomor: XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara Yang Bersih dan Bebas Korupsi. fungsi.

Fungsi Dalam melaksanakan tugas tersebut. Kementerian PAN dan RB juga mendukung keseluruhan kegiatan prioritas lainnya dalam upaya peningkatan pelayan di berbagai sektor. iklim investasi dan usaha. ASPEK STRATEGIS Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 telah menetapkan 11 prioritas nasional yaitu : 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) 10) 11) reformasi birokrasi dan tata kelola. ketahanan pangan. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi menyelenggarakan fungsi: 1) Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi. sebagai berikut : 3 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . lingkungan hidup dan penanganan bencana. Selain itu. 3) Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggungjawab Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. dan paska konflik. terluar. Prioritas yang terkait tugas dan fungsi Kementerian PAN dan RB adalah prioritas pertama yaitu reformasi birokrasi dan tata kelola. 4) Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Berkaitan dengan pencapaian target RPJMN Tahun 2010-2014. ditetapkan Pokok-pokok strategi dan kebijakan Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi tahun 2010-2014 yang difokuskan pada 3 (tiga) aspek utama. pendidikan. penanggulangan kemiskinan. infrastruktur. 2) Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi. C. kesehatan.pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. energi. daerah tertinggal. kreativitas. dan inovasi teknologi. terdepan. serta kebudayaan. 3.

promosi. penegakan disiplin serta peningkatan tertib administrasi kepegawaian. (d) perbaikan pelaksanaan pengawasan dan akuntabilitas aparatur melalui peningkatan efektivitas. murah. ketatalaksanaan dan manajemen pemerintah di pusat dan daerah agar semakin efektif. komprehensif. Deputi Bidang Program dan Reformasi Birokrasi. (c) peningkatan profesionalisme SDM Aparatur melalui pembenahan manajemen kepegawaian yang mencakup seluruh aspek pembinaan mulai dari perencanaan. 2. 6. efisiensi dan kapasitas pengawasan aparatur pemerintah terhadap seluruh aspek manajemen pemerintahan dan kenegaraan. fungsi. dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Deputi Bidang SDM Aparatur. Deputi Bidang Tata Laksana. remunerasi. Sekretariat Kementerian. 4. 3. Struktur Organisasi Untuk melaksanakan tugas pokok. mencakup : (a) penyusunan dan penyempurnaan berbagai peraturan perundang-undangan dan petunjuk implementasi pelaksanaan Reformasi Birokrasi guna memberikan landasan dan arah pelaksaan yang sistemik. (b) pembenahan sistem kelembagaan. lintas sektoral. tepat. 2) Peningkatan kualitas pelayanan publik kepada masyarakat sehingga secara maksimal memenuhi asas-asas pelayanan prima yaitu cepat. penetapan formasi.1) Penyelesaian peraturan perundang-undangan/kebijakan sebagai landasan hukum yang memperkuat arah Reformasi Birokrasi. 5. susunan organisasi dan tata kerja tersebut. rekruitmen/seleksi. peningkatan pertumbuhan ekonomi. 4 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . D. sesuai Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dibantu oleh: 1. transparan. Deputi Bidang Kelembagaan. dan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang 3) Pemantapan menyeluruh. efisien dan responsif serta berorientasi pada peningkatan kinerja SDM Aparatur dan instansi. akuntabel dan tidak diskriminatif. diklat. Hal ini dilakukan dalam rangka menumbuhkan kepercayaan masyarakat dan memperbaiki iklim investasi sehingga multiplier efeknya terjadi pengurangan pengangguran. penempatan. Deputi Bidang Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur. berkelanjutan pada konteks good governance .

Bab IV – Penutup. Rencana Strategis Kementerian PAN dan RB Tahun 2010 . menjelaskan analisis pencapaian kinerja Kementerian PAN dan RB dikaitkan dengan pertanggungjawaban publik terhadap pencapaian sasaran strategis untuk Tahun 2011. Staf Ahli Bidang Sistem Manajemen. 10. menjelaskan secara ringkas latar belakang. Staf Ahli Bidang Budaya Kerja Aparatur. 8. Sistematika penyajian Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 Tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. serta struktur organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) bagi perbaikan kinerja di masa datang. Staf Ahli Bidang Kebijakan Publik. Bab II – Perencanaan dan Penetapan Kinerja. aspek strategis Kementerian PAN dan RB. Secara rinci struktur organisasi Kementerian PAN dan RB terdapat pada lampiran 1. 9. 11.2014 dan Penetapan Kinerja Tahun 2011. Staf Ahli Bidang Otonomi Daerah. 5 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . menjelaskan simpulan menyeluruh dari Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 dan menguraikan rekomendasi yang diperlukan bagi perbaikan kinerja di masa datang. Sistematika Penyajian Pada dasarnya Laporan Akuntabilitas Kinerja ini memberikan penjelasan mengenai pencapaian kinerja Kementerian PAN dan RB selama Tahun 2011. kegiatan dan anggaran Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 meliputi RPJMN 2010-2014. Capaian kinerja (performance results) Tahun 2010 tersebut diperbandingkan dengan Penetapan Kinerja (performance agreement) Tahun 2011 sebagai tolok ukur keberhasilan Tahunan organisasi.7. Deputi Bidang Pelayanan Publik. Bab III – Akuntabilitas Kinerja Tahun 2011. menjelaskan secara ringkas dokumen perencanaan yang menjadi dasar pelaksanan program. 12. E. Staf Ahli Bidang Hukum. sebagai berikut : Bab I – Pendahuluan.

Untuk menyelenggarakan tugas tersebut. 4. Renstra Kementerian PAN dan RB 2010-2014. Dan Berkeadilan. 3. dengan penjelasan sebagai berikut: 1. Kementerian PAN dan RB berpedoman pada dokumen perencanaan yang terdapat pada : 1. Perumusan dan penetapan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi.Bab II Perencanaan dan Perjanjian Kinerja Sebagaimana disebutkan di atas bahwa berdasarkan Pasal 612 Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010. RPJMN 2010-2014 RPJM 2010-2014 ditujukan untuk lebih memantapkan penataan kembali Indonesia di segala bidang dengan menekankan upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia termasuk pengembangan kemampuan ilmu dan teknologi serta penguatan daya saing perekonomian. RPJMN 2010-2014. Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsinya agar efektif. Demokratis. Pengawasan atas pelaksanaan tugas di lingkungan Kementerian PAN dan RB. A. 3. Kesejahteraan Rakyat. Berkaitan dengan ini telah di tetapkan kerangka Visi Indonesia 2014 adalah: Terwujudnya Indonesia Yang Sejahtera. efisien dan akuntabel. 2. Kementerian PAN dan RB menyelenggarakan fungsi : 1. Pengelolaan barang milik/kekayaan negara yang menjadi tanggungjawab Kementerian PAN dan RB. Kementerian PAN dan RB diberikan tugas untuk menyelenggarakan urusan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan Reformasi Birokrasi dalam pemerintahan untuk membantu Presiden dalam menyelenggarakan pemerintahan negara. melalui pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada 6 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Penetapan Kinerja Tahun 2011. Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi. 2. Terwujudnya peningkatan kesejahteraan rakyat.

(2) pendidikan. Visi Indonesia 2014 kemudian dijabarkan di dalam Misi pembangunan 2010-2014. berbudaya. Misi tersebut adalah : 1) Melanjutkan Pembangunan Menuju Indonesia yang Sejahtera. agenda. Misi ini adalah rumusan dari usaha-usaha yang diperlukan untuk mencapai visi Indonesia 2014 yaitu terwujudnya Indonesia Sejahtera. pemerintah menetapkan lima agenda utama pembangunan nasional tahun 2010-2014. kekayaan sumber daya alam. 2. (6) infrastruktur. yaitu : 1) Sasaran Pembangunan Ekonomi dan Kesejahteraan. Keadilan. pemerintah menetapkan Sebelas (11) Program Prioritas Nasional yaitu: (1) reformasi birokrasi dan tata kelola. yaitu: Agenda I : Pembangunan Ekonomi dan Peningkatan Kesejahteraan Rakyat. yang hasilnya dapat dinikmati oleh seluruh bangsa Indonesia. sasaran pembangunan dan arah kebijakan umum pemerintah tersebut. bermartabat dan menjunjung tinggi kebebasan yang bertanggung jawab serta hak asasi manusia. Tujuan penting ini dikelola melalui kemajuan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi. misi. Dalam mewujudkan visi dan misi pembangunan nasional 2010-2014. Demokrasi. Demokratis dan Berkeadilan. 3. bangsa dan negara yang demokratis. 2) Memperkuat Pilar-Pilar Demokrasi. Agenda II : Perbaikan Tata Kelola Pemerintahan. (9) 7 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . dan 3) Sasaran Program Penegakan Hukum. Selanjutnya berdasarkan visi. Ke lima agenda tersebut memiliki prioritaskan yang dirumuskan dalam bentuk sasaran pembangunan nasional 2010-2014. Terwujudnya masyarakat. yang dilakukan oleh seluruh masyarakat secara aktif. aman dan damai dan meletakkan fondasi yang lebih kuat bagi Indonesia yang adil dan demokratis. (3) kesehatan.keunggulan daya saing. Agenda III : Penegakan Pilar Demokrasi. (5) ketahanan pangan. dan 3) Memperkuat Dimensi Keadilan di Semua Bidang. 2) Sasaran Perkuatan Pembangunan Demokrasi. dan Agenda V: Pembangunan Yang Inklusif dan Berkeadilan. Terwujudnya pembangunan yang adil dan merata. (7) iklim investasi dan usaha. Agenda IV: Penegakkan Hukum Dan Pemberantasan Korupsi. (8) energi. sumber daya manusia dan budaya bangsa. (4) penanggulangan kemiskinan. Misi pemerintah dalam periode 2009-2014 diarahkan untuk mewujudkan Indonesia yang lebih sejahtera.

transparan dan akuntabel. 2) Bidang Ekonomi. Rencana Pembangunan Jangka Menengah 2010-2014 ini juga diarahkan untuk menjadi sebuah rencana kerja jangka menengah yang bersifat menyeluruh. dan inovasi teknologi. yaitu : terwujudnya peningkatan penyelenggaraan tata kelola pemerintahan yang baik yang mencerminkan supremasi hukum dan penegakan hak asasi manusia yang didukung oleh aparatur negara yang bersih. Kebijakan lintas bidang ini akan menjadi sebuah rangkaian kebijakan antar bidang yang terpadu meliputi prioritas. berwibawa. serta (11) kebudayaan. c. Berkaitan dengan hal ini telah ditetapkan 9 (sembilan) bidang pembangunan yaitu: 1) Bidang Sosial Budaya dan Kehidupan Beragama. dengan indikator tersedianya kerangka regulasi yang 8 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . (10) daerah tertinggal. perlindungan. terdepan. Tercapainya tertib peraturan perundang-undangan dengan indikator berkurangnya jumlah peraturan perundang-undangan yang bermasalah. 7) Bidang Hukum dan Aparatur. Oleh karena itu disusun pula rencana kerja yang bersifat lintas bidang. bertanggung jawab serta profesional melalui: a. Terwujudnya lembaga peradilan yang bersih dan berwibawa yang ditandai dengan diterapkannya sistem peradilan yang sederhana. Dari 9 (sembilan) bidang pembangunan terdapat 1 (satu) bidang yang sangat terkait dengan tugas dan fungsi Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi yaitu bidang (7) Bidang Hukum dan Aparatur dengan sasaran yang akan dicapai. kreativitas. Pencapaian kinerja pembangunan tersebut menjadi komitmen semua pihak khususnya instansi pemerintah untuk dapat merealisasikannya secara sungguh-sungguh untuk kepentingan rakyat dan bangsa Indonesia. pemajuan dan penegakan HAM. 5) Bidang Politik. cepat. fokus prioritas serta kegiatan prioritas lintas bidang untuk menyelesaikan permasalahan pembangunan yang semakin kompleks. 8) Bidang Wilayah dan Tataruang.lingkungan hidup dan bencana. dan 10) Bidang Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup. meningkatnya kualitas peraturan perundang-undangan sesuai dengan kebutuhan pembangunan dan aspirasi masyarakat. Terwujudnya pemenuhan. Persoalan yang bersifat lintas sektor harus ditangani secara holistik dan tidak terfragmentasi sehingga dapat menyelesaikan persoalan yang sebenarnya. terluar. 4) Bidang Sarana dan Prasarana. b. 6) Bidang Pertahanan dan Keamanan. dan paska konflik. 3) Bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi.

Untuk LKKL diharapkan pada tahun 2014 seluruh KL (100%) mendapatkan opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP). Di samping itu. Terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bebas KKN. dan persentasi instansi yang dinilai akuntabel mencapai 80%. (4) Peningkatan Penyelenggaraan Pemerintahan yang Bersih dan Bebas Korupsi. Meningkatnya kapasitas dan akuntabilitas kinerja birokrasi yang ditandai dengan meningkatnya skor Indeks Efektivitas Pemerintahan dari 47. (6) Peningkatan Kapasitas dan Akuntabilitas Kinerja Birokrasi.4 pada tahun 2008 menjadi 60 pada tahun 2014. (5) Peningkatan Kualitas Pelayanan Publik. 9 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . peringkat Kemudahan Berusaha diharapkan terus membaik dari peringkat 122 pada tahun 2009 naik menjadi peringkat 75 pada tahun 2014. bila pada tahun 2008 adalah 6. d. jumlah penanganan kasus-kasus HAM. Kolusi dan Nepotisme (KKN). Di samping itu. yang ditandai dengan meningkatnya skor Integritas Pelayanan Publik dan peringkat Kemudahan Berusaha. Pemajuan. dan Penegakan HAM. termasuk perlindungan dan bantuan hukum bagi masyarakat miskin dan terpinggirkan. pada tahun 2014 ditargetkan seluruh instansi pemerintah telah menerapkan SAKIP. terbentuk dan terlaksananya pedoman dan mekanisme pemajuan HAM. Skor Integritas Pelayanan Publik pada unit layanan di instansi pusat. prioritas bidang hukum dan aparatur adalah Peningkatan Penyelenggaraan Tatakelola Pemerintahan yang Baik. Skor Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) pada unit pelayanan diharapkan tahun 2014 skornya mencapai 85. Untuk mencapai sasaran pembangunan bidang hukum dan aparatur. Sedangkan untuk daerah ditandai meningkatnya skor Integritas Pelayanan Publik dari 6. sedangkan opini atas LKPD pada tahun 2014 diharapkan yang mendapatkan opini WTP sebanyak 60% dan opini WDP sebanyak 40%. f. ditandai dengan meningkatkan Indeks Persepsi Korupsi menjadi 5 dan membaiknya opini BPK atas LKKL dan LKPD.69 pada tahun 2008 menjadi 8 pada tahun 2014. e. (2) Peningkatan Kinerja Lembaga di Bidang Hukum. dengan fokus prioritas pada: (1) Peningkatan Efektifitas Peraturan Perundang-Undangan.84 diharapkan pada tahun 2014 menjadi 8.berperspektif HAM. (3) Peningkatan Penghormatan. dan (7) Pemantapan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Instansi. Terwujudnya peningkatan kualitas pelayanan publik kepada penduduk dan masyarakat.

4) Meningkatkan koordinasi pengawasan. khususnya terkait dengan prioritas pembangunan bidang Hukum dan Aparatur. c.B. Proses penyusunan juga telah dilakukan secara partisipatif antara unit-unit di bawah Kementerian PAN dan RB maupun stakeholder eksternal. efisien dan akuntabel dalam pelaksanaan Reformasi Birokrasi Menuju Kepemerintahan Yang Baik Kelas Dunia 2025. Secara ringkas subtansi Renstra Kementerian PAN dan RB dapat diilustrasikan sebagai berikut : a. Rencana Strategis Tahun 2010 – 2014 Rencana Strategis (Renstra) Kementerian PAN dan RB 2010-2014 merupakan perencanaan jangka menengah Kementerian PAN dan RB yang berisi tentang gambaran sasaran atau kondisi hasil yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun oleh Kementerian PAN dan RB beserta strategi yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran sesuai dengan tugas. efektif.” b. Visi Visi Kementerian PAN dan RB adalah : “Terwujudnya aparatur negara yang profesional. 10 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 2) Meningkatkan pelaksanaan reformasi birokrasi: 3) Meningkatkan akuntabilitas kinerja aparatur. 6) Meningkatkan efektivitas dan efisiensi ketatalaksanaan. fungsi dan peran yang diamanahkan. 5) Terwujudnya kelembagaan yang efektif dan efisien. Misi Dalam rangka untuk mewujudkan Visi tersebut. Kementerian PAN dan RB menetapkan 7 ( tujuh) misi yang akan dilakukan secara konsisten. Penyusunan Renstra Kementerian PAN dan RB telah mengacu pada RPJM Nasional tahun 2010-2014 yang telah ditetapkan pemerintah. yaitu: 1) Meningkatnya kualitas pelayanan publik kepada masyarakat. Tujuan Berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan. 7) Meningkatkan profesionalitas SDM aparatur. Kementerian PAN dan RB menetapkan empat (4) tujuan yang akan dicapai oleh organisasi dalam jangka waktu sampai tahun 2014. yaitu: 1) Meningkatkan kualitas pelayanan publik.

efisien dan akuntabel dalam rangka percepatan reformasi birokrasi. adil. 3) Meningkatnya pengawasan intern pemerintah percepatan pemberantasan korupsi yang efektif. pasti. murah. 5) Persentase unit pelayanan yang berkategori baik sesuai penilaian. cepat. dalam rangka 4) Meningkatnya sumber daya Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. 4) Persentase instansi yang berkategori baik sesuai penilaian. Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. Sasaran Berdasarkan atas tujuan. Sasaran strategis dan indikator kinerja sebagai alat ukur keberhasilan sasaran strategis selama tahun 2010-2014 adalah sebagai berikut : Sasaran Indikator Kinerja Utama Tujuan 1 : Meningkatnya kualitas pelayanan publik kepada masyarakat Sasaran Strategis 1 : 1) Jumlah peraturan/kebijakan dibidang pelayanan publik. 11 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . d. efektif.2) Terwujudnya aparatur negara yang profesional. 7) Jumlah instansi yang menerapkan UU Nomor 25/2009 tentang pelayanan publik. 8) Jumlah Pemda yang melakukan peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis Sistem Manajemen Mutu (SMM) yang diakui secara internasional. 6) Jumlah instansi yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat. 2) Persentase Instansi yang skor IKM baik. patut dan 3) Persentase Pemerintah Daerah yang memuaskan menerapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). selanjutnya Kementerian PAN dan RB menjabarkan dalam sasaran-sasaran strategis yang akan dicapai secara tahunan selama periode Renstra. transparan.

Per. 4) Persentase instansi yang menegakkan disiplin sesuai aturan. 4) Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional. Per. berkinerja. 2) Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional.akuntabel dan sejahtera 1) Jumlah Peraturan Kebijakan dibidang SDM Aparatur (UU. Sasaran Strategis 3 : Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional. 2) Persentase peningkatan penghasilan PNS berdasarkan hasil analisis dikaitkan dengan tingkat inflasi. 3) Jumlah Pemda yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional. Men.Sasaran Indikator Kinerja Utama Tujuan 2 : Terwujudnya aparatur negara yang profesional. PP. dan komprehensif 1) Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan. Perpres. 3) Jumlah instansi pemerintah yang menyusun perencanaan kebutuhan pegawai dan penataan PNS sesuai aturan. Men. sistematis. 2) Persentase unit organisasi di lingkungan Kementerian/Lembaga yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. Sasaran Strategis 4 : Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. 5) Persentase instansi pemerintah yang melakukan penataan jabatan PNS. efektif dan efisien 1) Jumlah Peraturan Kebijakan dibidang kelembagaan (UU. 3) Jumlah kelembagaan Pemda yang telah dipantau dan dievaluasi organisasi dan tata kerjanya. PP. Perpres. efisien dan akuntabel dalam rangka percepatan Reformasi Birokrasi Sasaran Strategis 2 : Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. 12 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . efektif. PAN dan RB). 6) Jumlah instansi pemerintah yang telah melakukan pemeringkatan jabatan. PAN dan RB).

efisien dan efektif 1) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan. 3) Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah. Sasaran Strategis 7 : Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi. 2) Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik. 3) Persentase instansi pemerintah daerah yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik. 6) Persentase LAKIP yang diterima. 2) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan. Tujuan 3 : Meningkatnya pengawasan intern pemerintah dalam rangka percepatan pemberantasan korupsi yang efektif. 2) Persentase jumlah temuan yang ditindaklanjuti dalam waktu satu tahun. 13 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 7) Persentase PK yang diterima. efektif dan akuntabel Indikator Kinerja Utama 1) Jumlah peraturan/kebijakan dibidang ketatalaksanaan. Sasaran Strategis 6 : Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pengawasan dan akuntabilitas. 4) Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil. 3) Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik.Sasaran Sasaran Strategis 5 : Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. 4) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman. 5) Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU).

Sasaran Indikator Kinerja Utama Tujuan 4 : Mewujudkan peningkatan kapasitas aparatur negara Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi Sasaran Strategis 8 : Terwujudnya peningkatan kinerja manajemen internal dalam rangka pelaksanaan tugas Kementerian 1) Persentase dokumen administrasi keuangan yang diselesaikan tepat waktu. sebagai ukuran keberhasilan organisasi secara dalam mencapai sasaran strategis organisasi. 4) Persentase pejabat yang telah melaporkan LHKPN. Indikator Kinerja Utama (IKU) Kementerian PAN dan RB juga telah menetapkan Indikator Kinerja Utama (IKU) secara berjenjang. e. 2) Persentase barang milik negara yang tercatat/ terinventarisasi sesuai kaidah pencatatan BMN. Indikator kinerja utama ditetapkan dengan memilih indikator-indikator kinerja yang ada dalam Renstra Kementerian PAN dan RB tahun 2010-2014 yang memiliki fokus pada perspektif stakeholder. 8) Persentase kegiatan yang dilaksanakan sesuai dokumen perencanaan. sedangkan yang fokusnya pada internal bussines proses 14 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Penetapan IKU telah mengacu pada Renstra Kementerian PAN dan RB serta RPJMN tahun 2010-2011. 10) Persentase proses penyusunan peraturan perundang-undangan yang dilaksanakan sesuai prosedur. 9) Persentase publikasi/ pemberitaan tentang kebijakan PAN yang dilaksanakan. 7) Persentase dokumen pelaporan yang diselesaikan tepat waktu. 5) Rasio sarana dan prasarana yang tersedia dengan kebutuhan pegawai sesuai standar kualitas pelayanan yang baik. 6) Persentase dokumen program dan anggaran yang diselesaikan tepat waktu. 3) Opini BPK terhadap laporan keuangan KemPAN dan RB.

Indikator kinerja utama Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi yang akan digunakan untuk periode waktu tahun 2010-2014 sesuai periode Renstra telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Negara PAN dan RB Nomor 47 Tahun 2010. Persentase instansi yang skor IKM baik. transparan. Persentase instansi pemerintah yang melakukan penataan jabatan PNS. sebagai berikut : No. II. pasti. I. cepat. efisien. Persentase kelembagaan Pemda yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. 1. 3. Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional.(peningkatan kapasitas internal organisasi) tidak dijadikan sebagai Indikator Kinerja Utama. 4. Persentase instansi pemerintah daerah yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik. murah. Sasaran Strategis Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima.akuntabel dan sejahtera IV. Persentase instansi yang menegakkan disiplin sesuai aturan. patut dan memuaskan Indikator Kinerja Utama 1. 2. Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Persentase Instansi yang berkategori baik sesuai penilaian. Persentase instansi pemerintah yang menyusun perencanaan kebutuhan SDM aparatur sesuai aturan. 15 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . efektif dan efisien III. 1. berkinerja. adil. Terwujudnya penyelenggaraan 1. efektif dan akuntabel 2. Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional. 2. 2. Persentase Kementerian/ Lembaga yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. Persentase peningkatan penghasilan PNS. Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan tata laksana pemerintah yang ketatalaksanaan dengan baik. 3.

Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional. Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan. Penetapan kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang merepresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu Tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelolanya. 2. dan komprehensif Indikator Kinerja Utama 1. sebagai wujud nyata komitmen antara 16 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . transparansi. Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan. Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil. Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah.PAN/12/2004 tentang Penetapan Kinerja. Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi VII. 3. 2. Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman. dan kinerja aparatur. Sasaran Strategis Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik. 1. 2. sistematis. VI.No. 3. V. 1. efisien dan efektif C. Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi. Penetapan Kinerja Tahun 2011 Penetapan Kinerja merupakan amanat Inpres Nomor 5 Tahun 2004 dan Surat Edaran Menteri Negara PAN Nomor: SE/31/M. Tujuan khusus penetapan kinerja antara lain adalah untuk: meningkatkan akuntabilitas. Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional.

menciptakan tolok ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja aparatur. dan fungsi yang ada. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. PerPres. Kementerian PAN dan RB telah membuat penetapan kinerja tahun 2010 secara berjenjang sesuai dengan kedudukan. transparan. dan sebagai dasar pemberian reward atau penghargaan dan sanksi. patut dan memuaskan Indikator Kinerja Target Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan 1 PP. tugas. Men. Oleh karena itu Indikator – indikator kinerja dan target tahunan yang digunakan dalam penetapan kinerja ini adalah indikator kinerja utama tingkat kementerian yang telah ditetapkan dan telah diintegrasikan dalam Renstra Kementerian PAN dan RB tahun 2010-2014. 1 Inpres. 1 Perpres. publik (PP. Penetapan kinerja ini telah mengacu pada Renstra Kementerian PAN dan RB serta RPJMN tahun 2010-2014. cepat. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Skor IKM unit pelayanan 17 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 70 % Provinsi 100 % 11 K/L 7 Pemda Provinsi 33 Kab/kota 65 . adil. PAN dan 2 Per. pasti.penerima amanah dengan pemberi amanah. Penetapan Kinerja tingkat Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 yang telah ditandatangani pada bulan Maret 2011 adalah sebagai berikut : Sasaran Strategis I Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. PAN dan RB RB) Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. dan Per Men. Inpres. sebagai dasar penilaian keberhasilan/kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. murah.

BKN dan LAN Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 18 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 Target 3 Perpres. PAN dan RB) Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB. 6 Per. Per.Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah Kabupaten/Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/Pemerintah Provinsi Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian 75 % 26 Kab/kota 5 Kab/kota 15 unit 105 Kab/Kota 60 % 60 % Sasaran Strategis II Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional. efektif dan efisien Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres. Men. PAN dan RB 100 % 30 % 30 % 30 % 30 % 30 % . Men.

Men.Persentase instansi pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata kelembagaannya Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya 30 % 30 % Sasaran Strategis III Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. Perpres. Per. Per. Men. efektif dan akuntabel Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana (UU. PAN dan RB 35 % 19 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . berkinerja. 1 PP. Men. PP. PAN dan RB) 10 Per. 3 PP. akuntabel dan sejahtera Indikator Kinerja Target Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM 1 RUU. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik Target 2 UU. 2 RUU. Men PAN dan RB Persentase insansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai Persentase peningkatan penghasilan PNS Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system 80 % 5% 5% 20 % Sasaran Strategis IV Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. 9 RPP. 5 Per. PP. Aparatur (UU.

PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) Persentase LAKIP yang diterima Persentase PK yang diterima Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil Target 1 RUU. PAN dan RB 50 % 44 % 22 % (Pusat dan Daerah) 87 % (Pusat dan Daerah) 55 % (Pusat dan Daerah) 32 % 20 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . sistematis. Men. Men. dan komprehensif Indikator Kinerja Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Target 7 kebijakan 12 K/L 30 % 80 % 100 % K/L 30 % Pemda 100 % K/L 10 % Pemda Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah Sasaran Strategis VI Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Akuntabilitas Kinerja (RUU. 3 Per. Per.Sasaran Strategis V Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana.

21 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Men. sedangkan 2. Indikator Kinerja yang dipergunakan dalam pengukuran kinerja (LAKIP Kementerian PAN dan RB) tahun 2011 adalah indikator kinerja yang terdapat pada PK tahun 2011. Per. PAN dan RB 50 % 65 % 65 % Terdapat perbedaan indikator kinerja antara PK (Penetapan Kinerja) dan IKU (Indikator Kinerja Utama) dikarenakan : 1. efisien dan efektif Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Pengawasan (RUU. Men. PK Tahun 2011 telah ditetapkan pada bulan Maret tahun 2011. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman Target 1 RUU.Sasaran Strategis VII Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi. IKU Tahun 2011 baru ditetapkan pada bulan Oktober 2011. dikarenakan menyesuaikan dengan kondisi aktual bidang PAN dan RB saat ini. 2 Per.

pasti. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 22 70 % Provinsi 30 % 42.86 100 % 100 % 100 11 K/L 0 K/L 0 7 Pemda Provinsi 0 Pemda Provinsi 0 33 Kab/kota 28 Kab/kota 85 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . murah. 2 Per. PAN dan RB Realisasi 1 Draft RPP 1 Draft Perpres 1 Draft Inpres 2 Draft PerMenPAN-RB % 90 80 80 90 Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. PerPres. cepat. Men.Bab III Akuntabilitas Kinerja Tahun 2011 A. 1 Perpres. Pengukuran Capaian Kinerja Tahun 2011 Pengukuran tingkat capaian kinerja Kementerian PAN dan RB tahun 2011 dilakukan dengan cara membandingkan antara target pencapaian indikator sasaran yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja Kementerian PAN dan RB tahun 2011 dengan realisasinya. Inpres. PAN dan RB) Target 1 PP. adil. transparan. 1 Inpres. Tingkat capaian kinerja Kementeraian PAN dan RB tahun 2011 berdasarkan hasil pengukurannya dapat diilustrasikan dalam tabel sebagai berikut : Sasaran Strategis I Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima. patut dan memuaskan Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan publik (PP. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. dan Per Men.

52 60 % 0% 0 60 % 0% 0 Sasaran Strategis II Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional.57 117. Men.PAN dan RB 3 Perpres. efektif dan efisien Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres.58 75 % 79 % 105.33 105 Kab/Kota 73 Kab/Kota 69.PAN dan RB. 6 Per.Skor IKM unit pelayanan Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah Kabupaten/Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/Pemerintah Provinsi Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian 65 76. Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB.33 26 Kab/kota 0 Kab/kota 0 5 Kab/kota 5 Kab/Kota 100 15 unit 80 unit 533.Men. BKN dan LAN 100 % 80 % 80 23 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .PAN dan RB 2 Draft PerMen. Per. PAN dan RB) Target Realisasi 3 Draft Perpres % 85 90 4 PerMen.

Perpres.33 30 % 30.1 Sasaran Strategis III Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. Men. akuntabel dan sejahtera Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM Aparatur (UU.24 30 % 23.33 % Kab/Kota 101 111. Per.04 30 % 28.26 % 77.57 % 95.41 % 98.PAN dan RB % 100 100 400 80 80 % IP Pusat 80 % IP Daerah 95 % IP Pusat 92 % IP Daerah 119 115 5% 5% 100 5% 10 % 200 24 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . PAN dan RB) 1 RUU 9 RPP 3 PP 10 Per.57 % 95. Men. berkinerja.52 30 % 0% 0 30 % 28.30 % Provinsi 33.PAN dan RB Persentase instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai Persentase peningkatan penghasilan PNS Target Realisasi 1RUU 9 RPP 12 PP 8 Per.24 30 % 25 % 83. Men. PP.Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase instansi pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata kelembagaannya Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya 30 % 29.

efektif dan akuntabel Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana (UU. sistematis. 3 Draft Per. PAN dan RB. dan komprehensif Indikator Kinerja Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Target 7 kebijakan Realisasi 10 kebijakan % 143 12 K/L 20 K/L 167 30 % 47 % 156 80 % 81 % 101 25 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . PP.5 70 88 Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik 35 % 59.PAN dan RB % 80 62. PAN dan RB) 2 UU 2 RUU 1 PP 5 Per.Men. Men. Men.Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system 20 % 30 % 150 Sasaran Strategis IV Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. Per. PAN dan RB Target Realisasi 2 RUU 2 RUU 1 RPP 2 Per.46 % 169 Sasaran Strategis V Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. Men.

Men.48 109. Per. Men.68 44 % 48.62 32 % 30. Men. efisien dan efektif Indikator Kinerja Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Pengawasan (RUU. PAN dan RB) Target 1 RUU 2 Per.72 % 121. PAN dan RB % 100 100 Jumlah peraturan/kebijakan di 1 RUU bidang Akuntabilitas Kinerja 3 Per.10 % 91.92 Sasaran Strategis VII Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi.81 22 % (Pusat dan Daerah) 87 % (Pusat dan Daerah) 55 % (Pusat dan Daerah) 20. Men. PAN dan RB Realisasi 1 Draft RUU 2 Draft Permen. PAN dan (RUU.34 % 100.77 % 76. PAN dan RB) RB Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) Persentase LAKIP yang diterima Persentase PK yang diterima Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil 50 % 50.29 % 100. Per. 100 333 62 - 100 % K/L 10 % Pemda 62 % - Sasaran Strategis VI Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Indikator Kinerja Target Realisasi 1 RUU 3 Per.42 % 60.Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah 100 % K/L 30 % Pemda 100 % K/L 100 % Prov. Men. PAN-RB % 95 98 26 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .36 87.

murah.22 B.61 65 % 51.81 Rata-rata capaian kinerja 105.30 65 % 81 % 124. Inpres.Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman 50 % 62. Men.transparan Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan publik (PP. cepat. PerPres.55 % 125. PAN dan RB Target Realisasi 1 Draft RPP 1 Draft Perpres 1 Draft Inpres 2 Draft PerMenPAN-RB % 90 80 80 90 70 % 30 % 42.PAN dan RB) 2) Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik 3) Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi UndangUndang ttg Pelayanan Publik 1 PP 1 Perpres 1 Inpres 2 Per. Analisis Capaian Kinerja Sasaran Strategis 1 : Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima.88 % 79.86 100 % 100 % 100 27 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Men. pasti. dan Per.

25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi 6) Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) 7) Skor IKM unit pelayanan 8) Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) 9) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Target Realisasi % 11 K/L 0 K/L 0 7 Pemda Provinsi 0 Pemda Provinsi 0 33 Kab/kota 28 Kab/kota 85 65 76.57 117.33 26 Kab/kota 0 kab/kota 0 28 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .58 75 % 79 % 105.Indikator Kinerja 4) Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L 5) Terlaksananya implementasi Undang-Undang No.

33 105 Kab/Kota 73 Kab/Kota 69.52 60% 0% 0 60% 0% 0 Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : 29 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .Indikator Kinerja 10) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat 11) Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat 12) Jumlah Kabupaten/Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/Pemerintah Provinsi 13) Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian 14) Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian Target Realisasi % 5 Kab/kota 5 Kab/Kota 100 15 unit 80 unit 533.

Saat ini RPP telah di paraf ulang oleh Menteri PAN dan RB dan Menteri Keuangan.Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pelayanan publik 1. Kementerian PAN dan RB saat ini telah menyusun dan merumuskan Rancangan Perpres tentang Mekanisme dan Ketentuan Pembayaran Ganti Rugi sebagai pedoman bagi 30 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. telah dimintakan paraf terhadap konsep RPP dan telah diparaf oleh 3 Menteri yaitu Menteri PAN dan RB. c. e. Melalui Surat Sekretaris Kabinet Nomor: B. b. masyarakat penerima layanan berhak mengadukan penyelenggara pelayanan dan atau pelaksana pelayanan yang dalam memberikan pelayanan tidak sesuai dengan standar pelayanan. Dalam rangka peningkatan kualitas pelayanan publik sesuai dengan ketentuan Pasal 40 dan Pasal 42 ayat (4) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. Ketika meminta paraf ke Menteri Keuangan. Untuk membayar ganti rugi dimaksud. Perkembangan Rancangan PP a. Dalam surat pengaduan dimaksud masyarakat yang dirugikan oleh penyelenggara atau pelaksana pelayanan dapat mengajukan tuntutan ganti rugi. ada masukan masalah Tarif/Biaya PNBP sehingga perlu merubah pasal 29 sehingga RPP di perbaiki kembali. d. didalam Pasal 50 ayat (4) Undang-undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik menyatakan bahwa penyelenggara pelayanan wajib menyediakan anggaran guna membayar ganti rugi dan Pasal 50 ayat (8) disebutkan bahwa mekanisme dan ketentuan pembayaran ganti rugi dimaksud diatur lebih lanjut dengan Peraturan Presiden. Melalui Surat Menteri PAN dan RB Nomor S-703/MK. dan Menteri Dalam Negeri.02/2011 tanggal 7 November 2011 perbaikan RPP dikembalikan kembali ke Setneg untuk dimintakan kembali paraf ulang Menteri yang terkait.02/06/2011 tanggal 9 Juni 2011 yang ditujukan kepada Menterui terkait perihal Permohonan Paraf Naskah Asli Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pelaksanaan Undang-undang No. b.758/Sesneg/D4/PU. Sementara ini posisi RPP sedang berada di Kementerian Dalam Negeri untuk dimintakan paraf Menteri Dalam Negeri. R-Perpres tentang Ganti Rugi a. 2. c. Menteri BUMN.

d. R-Inpres Percepatan Peningkatan Kualitas Pelayan Rancangan Inpres sudah disusun dan dirumuskan oleh internal Kedeputian Pelayanan Publik Kementerian PAN dan RB. Mengingat pembayaran ganti rugi ini berkaitan erat dengan keuangan Negara. Provinsi Jawa Barat 7. Provinsi Maluku Utara 9. Rancangan Perpres perlu dibahas atau diharmonisasikan terlebih dahulu di internal Kementerian Keuangan guna disepakati bagaimana sistem penganggaran dalam pembayaran ganti rugi. Provinsi NTT 10. Provinsi Sulawesi Utara 6. Adapun Provinsi yang telah diberikan sosialisasi pada Tahun 2011 adalah : 1.penyelenggara dan penerima pelayanan publik dalam pemberian ganti rugi. Provinsi Lampung 3. Provinsi Papua 4. 3. Posisi Rancangan R-Perpres yang sudah dibahas dan disetujui oleh instansi terkait. akan dikirim kepada Presiden menunggu PP Pelaksaan UU Pelayanan Publik ditetapkan. Provinsi Sulawesi Selatan 8. Hasil pembahasan atau harmonisasi tersebut kiranya dapat disampaikan kepada kami sebagai bahan masukan penyempurnaan Rancangan Perpres dimaksud. yaitu sejumlah 23 Provinsi. e. R-Perpres ini telah dibahas dengan beberapa instansi terkait untuk memperoleh masukan penyempurnaan. Persentase Provinsi Pelayanan Publik yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Target awal adalah sebanyak 70% dari 33 provinsi. Namun mengingat R-Perpres ini berkaitan dengan anggaran maka perlu pemikiran yang mendalam untuk segera ditetapkan oleh Presiden. Kementerian Keuangan telah menaggapi R-Perpres dimaksud dan telah dikirim kembali ke Kementerian PAN dan RB untuk ditindak lanjuti. Provinsi Sumatera Selatan 11. Provinsi Jawa Tengah 5. Provinsi Jawa Timur 31 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . diakumulasikan dengan capaian pada tahun 2010 sehingga jumlah Provinsi yang tersosialisasi mencapai target sebanyak 23 Provinsi. f. Provinsi Kepulauan Riau 2. Capaian pada tahun 2011 sebanyak 11 Provinsi yang tersosialisasi.

Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik Target awal sosialisasi dilaksanakan pada 34 K/L dan pada pelaksanaannya sosialisasi telah sesuai dengan target. Kementerian BUMN 16. Kementerian Kehutanan 16. Kementerian Luar Negeri 8. Kementerian Tenaga Kerja Sedangkan pada Tahap II. yaitu sebanyak 34 K/L. Sekretariat Negara 5. Kementerian Pendidikan Nasional 4. Kementerian PPN/Bappenas 15. Kementerian Keuangan 10. Kementerian Hukum dan HAM 11. Kementerian Pemuda dan Olah Raga 32 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Sosialisasi dilaksanakan di Kementerian PAN dan RB yang dibagi dalam 2 tahap. Menko Perekonomian 2. Kementerian Kesehatan 3. Kementerian Pertanian 15. Adapun K/L yang telah diberikan sosialisasi pada tahap I adalah : 1. Kementerian Pertahanan 9. Kementerian Agama 6. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 12. Kementerian Pembangunan Daerah Tertinggal 14. Kementerian Sosial 5. Kementerian Koperasi dan UKM 10. Kementerian Pendaygunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 13. Kementerian Perdagangan 14. Kementerian Kelautan dan Perikanan 17. Menko Kesejahteraan Rakyat 4. Kementerian Riset dan Teknologi 9. Menko Politik Hukum dan Keamanan 3. Kementerian Perhubungan 6. Kementerian Pekerjaan Umum 2. Kementerian Prindustrian 13. Kementerian Komunikasi dan Informasi 8. Kementerian ESDM 12. Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata 7. yaitu : 1. Kementerian Perumahan Rakyat 17. Kementerian Lingkungan Hidup 11. Kementerian Dalam Negeri 7.

Prov. Kab. Kepahiang. Kubu Raya. Prov. Kota Pontianak. Kota Bekasi. Bantul. NAD. Bengkulu. Prov. Semarang. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Implementasi UU Nomor 25 Tahun 2009 pada 11 K/L belum dilaksanakan karena pedoman monev implementasi belum disusun. Kota Pekan Baru. Kota Yogyakarta.6 dari 467 unit pelayanan yang telah melaksanakan survei IKM.6 maka prosentase pencapaian 33 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Rencana Monev implementasi akan dilaksanakan di Tahun 2012. Kalimantan Barat. Skor IKM unit pelayanan Setelah melalui survei Skor IKM dilapangan maupun data yang diterima dari daerah yang telah melakukan survei IKM secara mandiri maka dapat diketahui bahwa Skor IKM rata-rata nasional adalah 76. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Implementasi UU Nomor 25 Tahun 2009 pada 7 Pemda Provinsi. Kab. Kota Surabaya.Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. Bali. Adapun dari target yang telah ditetapkan nilai indeks sebesar 65 dan pada kenyataannya rata-rata indeks yang dicapai adalah sebesar 76. Prov.Tanah Datar. Kab. Jepara. Prov. Kota Bengkulu. Kudus. Kab/Kota belum dilaksanakan karena pedoman monev implementasi belum disusun. Jawa Barat. DIY. Kab. Kab. Aceh Barat. Prov. Adapun target yang akan dilakukan survei IKM adalah 33 Kabupaten/Kota. namun dari target tersebut baru dapat dilaksanakan pada 28 Kabupaten/kota. Kota Bandung. menunggu pedoman monitoring dan evaluasi ditetapkan. Riau. menunggu pedoman monitoring dan evaluasi ditetapkan. Kab. Kota Cimahi. daerah-daerah yang telah mempresentasikan hasil survei IKM antara lain : Kota Solok. Kab. Kota Banda Aceh. Kota Padang. Rencana Monitoring dan evaluasi implementasi akan dilaksanakan di Tahun 2012. Jumlah Kabupaten/Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) Perkembangan terkini menunjukan bahwa daerah yang telah melaksanakan survei IKM tahun 2011 adalah 28 Provinsi/Kab/Kota. Kota Malang. Kota Denpasar. Kab. Terlaksananya implementasi Undang-Undang No. Prov. jadi capaian target yaitu sekitar 85% (delapan puluh lima persen).

Kebijakan pimpinan daerah yang sering melakukan mutasi pejabat pelayanan publik dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. 34 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . serta sebagai pemacu persaingan kinerja antar unit pelayanan itu sendiri. Banyak pejabat yang menangani koordinasi pelayanan publik (Kabag Otala maupun pimpinan SKPD) yang masih belum memahami pentingnya survey IKM dan juga ada yang sama sekali tidak mengerti.melebihi target 117. 2. (2) Berkinerja baik dengan skor 62. SDM yang kompeten. sistem manajemen dan sebagainya. Tidak dilakukan survey secara berkala sehingga skor tidak diketahui perkembangannya. perencanaan pembangunan dan anggaran pelayanan. 6. sedangkan penilaian di Pusat (Kementerian/Lembaga) belum dilaksanakan. direncanakan akan dilaksanakan di Tahun 2012 ini. (4) tidak baik dengan skor 25 – 43.50. mekanisme dan prosedur pelayanan. Upaya peningkatan kualitas unit pelayanan (meningkatkan skor IKM) sulit terlaksana. sarana dan prasarana. Sedikitnya kabupaten/kota yang melaksanakan survei IKM.75. Dari hasil penilaian Tim ke Provinsi/Kabupaten/Kota yang pernah mensosialisaikan Indeks Kepuasan Masyarakat kurang lebih 20 Provinsi/Kabupaten/Kota yang sudah tersosialisasi. 3. Hasil survei di dapat melalui pilihan pendapat publik atas 14 unsur pertanyaan menyangkut pelayanan.81% diatas target rata-rata tahun 2011 yaitu 65). Kurangnya komitmen para kepala SKPD dan kepala unit pelayanan untuk sunguh-sungguh menindaklanjuti pelaksanaan survey IKM (upaya memperbaiki unsur yang rendah atau lemah dan meningkatkan yang baik serta mempertahankan yang sangat baik). Survei IKM ini pada akhirnya bermanfaat sebagai bahan evaluasi penataan sistem pelayanan. karena tindaklanjutnya membutuhkan anggaran. dengan melingkari kode huruf oleh 150 responden yang kemudian menghasilkan 4 tingkat kinerja unit pelayanan yaitu: (1) Berkinerja sangat baik dengan skor 81. (3) kurang baik dengan skor 43. Dalam monitoring atas 467 kabupaten/kota tahun 2011 terjaring 50 kabupaten/kota yang melaksanakan survei IKM dengan nilai rata-rata IKM secara Nasional 76. disebabkan antara lain : 1.51 – 81. referensi perumusan kebijakan pelayanan.76 – 62. Rendahnya kepatuhan menindaklanjuti peraturan perundangundangan.26 – 100.81 (seratus tujuhbelas koma delapan puluh satu persen).6 (117.25. 4. 5.

3 77. Kabupaten Kubu Raya 9. Kota Pakan Baru 18.7 85. bimbingan dan supervisi.Rata IKM PerProvinsi 78. Sesuai dengan renstra untuk kegiatan dimaksud pada Tahun 2011 adalah dengan target 33 Kabupaten/Kota. Provinsi Kalimantan Barat 11. Provinsi 1 2 3 4 5 6 7 35 NANGGROE ACEH DARUSSALAM SUMATERA UTARA BENGKULU JAMBI RIAU SUMATERA BARAT SUMATERA SELATAN Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kota Yogyakarta 6. Kabupaten Tanah Datar 3.7 No. Kota Pontianak 10. Kota Padang 4. Provinsi Irian Jaya DATA SURVEI IKM DI PROVINSI KABUPATEN/KOTA TAHUN 2011 Jumlah Kab/ Kota 23 28 10 10 11 19 15 Data IKM Provinsi Kabupaten/Kota Tahun 2011 Mengirim 3 2 4 0 4 8 0 Tidak Mengirim 20 26 6 10 7 11 15 Banyakny a Unit Yang di survei 3 10 10 0 21 83 0 77. Provinsi Jawa Barat 19. Kota Bengkulu 15. dilakukan koordinasi intensif dengan segenap unsur pejabat dan pimpinan daerah terkait. Kabupaten Aceh Barat 13.5 75. Kabupaten Kepahiang 16. Tingkat pencapaian skor IKM tahun 2011 pada unit pelayanan publik dari hasil evaluasi yang telah dilakukan telah mencapai skor rata-rata di atas 76. serta monitoring. Kota Cimahi 20. Provinsi Riau 17. Kota Malang 7.3 Rata . Provinsi Bengkulu 14. Kabupaten Bekasi 5. evaluasi.Langkah-langkah untuk mengatasinya. Kota Solok 2. Realisasi Monev Survey IKM : 1.6. Provinsi Aceh 12. Kota Surabaya 8. Dengan demikian target skor IKM unit pelayanan pada tahun 2011 telah terlampaui.

6 78.81% 76.8 61.3 76.5 NILAI IKM RATA .0 77.6 86.1 72.RATA PROVINSI/NASIONAL Catatan : Nilai IKM Rata-rata Nasional Target Rata-rata Tahun 2011 Persentase Nilai rata-rata IKM nasional = = = 76.5 77.0 Total 741 Jumlah IKM Provinsi Kabupaten/Kota Total IKM Provinsi Kabupaten/Kota 20 1531.9 77.8 79.6 65 117. BANGKA BELITUNG KEPULAUAN RIAU BANTEN JAWA BARAT DKI JAKARTA JAWA TENGAH JAWA TIMUR D.I YOGYAKARTA BALI NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR KALIMANTAN BARAT KALIMANTAN SELATAN KALIMANTAN TENGAH KALIMANTAN TIMUR GORONTALO SULAWESI SELATAN SULAWESI TENGGARA SULAWESI TENGAH SULAWESI UTARA SULAWESI BARAT MALUKU MALUKU UTARA PAPUA BARAT P AP U A 11 7 6 8 26 6 35 38 5 9 9 20 14 13 14 14 6 23 12 10 13 5 9 8 9 21 467 100% 0 0 1 1 6 1 1 1 2 2 0 1 4 3 0 0 0 4 0 1 1 0 1 0 0 0 51 11% 11 7 5 7 20 5 34 37 3 7 9 19 10 10 14 14 6 19 12 9 12 5 8 8 9 21 416 89% 0 0 40 5 170 1 43 102 11 11 0 5 95 32 0 0 0 74 0 13 2 0 10 0 0 0 65.2 81.6 36 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .6 74.7 78.0 74.0 76.8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 LAMPUNG KEP.

pada Tahun 2010 menjadi 379 Kabupaten/Kota dengan 15 Provinsi. pada Tahun 2010 jumlah keseluruhan 394 OSS pada Provinsi/Kabupaten/Kota. Tahun 2009 menjadi 358 Kabupaten/Kota dan 2 Provinsi. yaitu: (a) Koordinasi dan Fasilitasi Penyelenggaraan PTSP/OSS dan Pengelolaan Pengaduan Masyarakat (Help Desk) terkait bidang perizinan dan investasi. Tahun 2007 menjadi 286 Kabupaten/Kota.Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Perkembangan Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (One Stop Service) menunjukkan hasil dengan terus meningkatnya jumlah daerah yang mereplikasinya. Dari 530 Kab/Kota dan Provinsi. 4) Disamping itu telah dilakukan verifikasi terhadap penyelenggaraan PTSP di beberapa daerah untuk melihat secara langsung proses penyelenggaraan lembaga PTSP yang meliputi dasar hukum 37 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Fokus kegiatan dalam upaya mendukung penerapan OSS di Provinsi dan Kabupaten/Kota dilakukan dalam dua fokus kegiatan. namun terimplementasi pada 9 provinsi. yaitu sebesar 105%). Tahun 2008 menjadi 329 Kabupaten/Kota. 3) Rapat koordinasi yang dilaksanakan di tiap provinsi telah menghasilkan rekomendasi yang terangkum dalam berita acara rapat koordinasi dan kemudian ditindaklanjuti pada tingkat pusat dengan mengadakan rapat koordinasi lintas sektor untuk melakukan pembahasan hasil rapat koordinasi tersebut. dan best practice sebanyak 10 Kabupaten/Kota dengan 2 Provinsi. Hingga saat ini dari 530 Kabupaten/Kota dan Provinsi. sebagaimana yang ditetapkan dalam RPJM. pada Tahun 2011 telah terbentuk sebanyak 420 OSS/PTSP di Provinsi/Kabupaten/Kota dengan presentase pembentukan PTSP telah mencapai 79% (tujuh puluh sembilan persen). Tahun 2006 jumlah OSS menjadi 95 Kabupaten/Kota. (b) Koordinasi dan fasilitasi penyelesaian kasus pada lembaga PTSP yang meliputi beberapa hal. sebesar 75%. 2) Target prosentase pembentukan PTSP. telah terbentuk sebanyak 420 PTSP yang berarti tercapai 97% dari indikator target utama yang ditetapkan sebesar 75% (pencapaian melebihi target. Adapun target penetapan kinerja yang diamanatkan dalam rencana kerja pemerintah Tahun 2011 adalah sebesar 75% (tujuh puluh lima persen). sebagai berikut: 1) Koordinasi dilakukan secara parsial terhadap beberapa daerah dengan melibatkan sektor terkait dalam bentuk rapat koordinasi fasilitasi penyelenggaraan PTSP dengan menargetkan sepuluh provinsi.

pembentukan. mekanisme penyelenggaraan serta penerapan standar operasional dan prosedur dalam rangka peningkatan kualitas penyelenggaraan PTSP. 11 Tahun 2009). terutama pada komponen sarana pengaduan (Help Desk). Sebagai tindak lanjutnya.Kota : 98 Jumlah seluruhnya : 530 Prov/Kab/Kota b. aspek kelembagaan dan struktur. Dalam hal ini Kementerian PAN-RB diminta berpartisipasi dalam menyusun indikatorindikator dalam Peraturan Kepala BKPM Nomor 6 Tahun 2011 tersebut.Kabupaten : 399 .Provinsi : 33 .Kabupaten : 317 . Jumlah Pemerintah Daerah yang telah membentuk/menerapkan PTSP hingga Desember 2011 : . Jumlah Administrasi Wilayah : . 6) Ringkasan data perkembangan lembaga PTSP adalah sebagai berikut: a.Provinsi : 16 .Kota : 87 Jumlah seluruhnya : 420 Prov/Kab/Kota c. implementasi survei IKM dan indikator prasarana lainnya untuk digunakan dalam penentuan kualifikasi secara proporsional bagi penyelenggara PTSP yang dituangkan dalam Perka BKPM Nomor 6 Tahun 2011 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pembinaan dan Pelaporan PTSP Bidang Penanaman Modal (sebagai pengganti Perka BKPM No. 5) Telah dilakukan penyempurnaan terhadap kebijakan untuk optimalisasi penyelenggaraan PTSP di daerah termasuk bagaimana mengukur keberhasilan penyelenggaraannya yang ditinjau dari semua aspek termasuk kompetensi aparatur penyelenggaranya.Provinsi : 6 : 90 . instrumen tersebut digunakan untuk melakukan penilaian dan menginisiasi penetapan kualifikasi kepada 256 penyelenggara PTSP di Kabupaten/Kota dalam bidang Penanaman Modal sesuai Keputusan Kepala BKPM Nomor 58 tentang Penetapan Kualifikasi Terhadap 256 Penyelenggara Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal Kabupaten dan Kota Tahun 2011.Kota : 22 Jumlah seluruhnya : 118 Prov/Kab/Kota 38 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .Kabupaten . Jumlah Pemerintah Daerah yang telah melaksanakan secara efektif Pelayanan Publik dalam PTSP hingga akhir Desember 2011: .

Pidie Jaya Kab. Dairi Kab. yaitu : 105%) PEMBENTUKAN PTSP SELAMA TAHUN 2011 NO. Labuhan Batu Kab. 1 2 1 1 2 3 4 5 6 7 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 PROVINSI/KABUPATEN/KOTA DKI Jakarta Kota Tual Kota Batam Kotamadya Jakarta Pusat Kotamadya Jakarta Timur Kotamadya Jakarta Selatan Kotamadya Jakarta Utara Kotamadya Jakarta Barat Kab. Batubara Kab. Indragiri Hilir Kab.d. Kepulauan Meranti Kab. Tabulasi target Pembentukan PTSP : WILAYAH PEMBENTUKAN Tahun 2010 Prov 15 Jumlah 394 Persentase 74 % 420 79 % Kab 292 Kota 87 Prov 16 Tahun 2011 Kab 317 Kota 87 Target Th. Bangka Tengah Kab. Demak Kab. Aceh Tamiang Kab. 2011:75 % (pencapaian melebihi target. Bengkulu Tengah Kab. Tana Toraja Kab. Humbang Hasundutan Kab. Minahasa Tengah DALAM PROVINSI DKI Jakarta Maluku Kepulauan Riau DKI Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta DKI Jakarta Aceh Aceh Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Sumatera Utara Riau Riau Bengkulu Kepulauan Bangka Belitung Jawa Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Utara 39 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

Parigi Moutong Kab. 3) Kab. Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Target awal 5 kabupaten/kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat. Dari ujicoba tersebut didapatkan hasil yang cukup baik. Untuk mencapai target tersebut dilakukan beberapa kegiatan. Wonosobo. dan unit layanan terpadu dari Cimahi dan Yogyakarta. Donggala Kab. dan 5 ) Kab. b) Beberapa kali pelaksanaan Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan akademisi/pakar dari UNS dan UGM. Penetapan. Dalam pelaksanaan FGD tersebut disampaikan beberapa pengalaman dari unit layanan yang telah memiliki standar pelayanan. d) Telah di lakukan Uji Coba di dua daerah yaitu: Kota Samarinda Provinsi Kalimantan Timur dan Kota Batu Provinsi Jawa Timur. akademisi. Kupang Kab. c) Telah dilakukan lokakarya di beberapa tempat untuk mengevaluasi draft rancangan sekaligus juga melakukan perbaikan draft rancangan berdasarkan masukan dari para pakar. yaitu : 1) Kota Pekalongan. Penyelesaian penyusunan kuesioner sudah mendekati waktu dengan pelaksanaan penilaian CBAN sehingga lebih prioritas pada penilaian CBAN.14 15 16 17 18 Kab. Siau Tagulandang Biaro Kab. yang capaiannya mencapai 100%. Jombang. dan Penerapan Standar Pelayanan dengan melibatkan beberapa pakar. Polri. birokrat. Kementerian dan Lembaga. 4) Kota Cimahi. birokrat. yaitu: 40 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 2) Kab. Sumba Barat Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Tengah Nusa Tenggara Timur Nusa Tenggara Timur Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Penyusunan Kuesioner Evaluasi Dampak CBAN sudah selesai dilaksanakan namun terkendala dengan kegiatan yang lebih prioritas. Bantul. yaitu: a) Rapat penyusunan draft rancangan Permen PAN-RB tentang Penyusunan. Kementerian dan Lembaga yang memiliki keterkaitan di bidang pelayanan publik.

sedangkan realisasinya mencapai 80 UPTD. dan SPP adalah hal yang sama 3) Adanya keinginan peserta uji coba untuk mengetahui bagaimana cara melakukan penyusunan standar pelayanan namun tidak mengetahui cara menyusunnya e) Capaian kinerja pada kegiatan ini hampir memenuhi target sasaran. Adapun ke 80 UPTD tersebut adalah : 1) 12 Puskesmas di Kota Pekalongan 2) 34 Puskesmas di Kabupaten Jombang 3) 21 Puskesmas di Kab.3%.1) Masih banyak daerah yang belum mengetahui apa itu standar pelayanan 2) Adanya persepsi bahwa standar yang terdiri dari SPM. Dari 75 yang memenuhi persyaratan pada tahun 2011 berhasil dinilai 73 kabupaten/kota. 41 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . atau 97. SOP. proses pelayanannya diformalkan dalam manual mutu berikut turunan SOPnya. dikarenakan Instansi/Pemerintah Provinsi hanya mengusulkan 75 kabupaten/kota yang memenuhi persyaratan. yang seluruhnya memberikan pelayanan. 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik. dan berkategori baik. Dengan demikian proses replikasi metoda kerja best practice tersebut ke unit kerja lainnya menjadi dimudahkan. Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Pada tahun 2011 target 15 unit. Kabupaten/Kota yang tidak memenuhi persyaratan di-drop dari daftar jumlah kabupaten/kota. sesuai persyaratan SNI ISO 9001:2008. dan saat sekarang sedang dalam tahap evaluasi akhir untuk ditetapkan Pemda yang berkategori terbaik. Proses penilaian kabupaten/kota sudah selesai pada tahun 2011. Wonosobo 4) 13 Puskesmas di Kota Cimahi Jumlah Kabupaten/Kota instansi/Pemerintah Provinsi yang dinilai Berdasarkan usulan Pada tahun 2011 target 105 kabupaten/kota tidak berhasil diwujudkan. Saat ini sedang menunggu terbitnya PP tentang Pelaksanaan UU No.

Luwu timur 62. Kota Bitung 70. Blitar 43. Barito Kuala Prov. Bungo Prov. Kab. Kab Tamiang Prov. Rejang Lebong Prov. Kalimantan Tengah : 72. Kutai Timur 53. Kab. Kab. Kab. Riau : 14. Kab. Kab. Kab. Gorontalo 55. Batu Bara 8. Dairi Prov. Kab. Bondowoso 45. Kab. Kota Banjar 32. Kab. Kab. Kab. Parigi Montong Prov. Kab. Kab. Kalimantan Selatan : 57. Kab. Ogan Komering Ulu Prov. Sulawesi Selatan : 60. Kab. Kota Samarinda 52. dan berkategori baik maka perhitungan pencapaian target 60% Pemda berkategori baik belum dapat dilakukan pada tahun 2011. Kab. Boyolali 38. Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian Sehubungan dengan proses penilaian kabupaten/kota sedang dalam tahap evaluasi akhir untuk ditetapkan Pemda yang berkategori terbaik. Kota Gorontalo 54. Sitaro Prov. NTB : 48. Bengkulu : 18. Kab. Kab. Kab. Kab. Sumatera Selatan : 20. Bojonegoro Prov. Kab. Kab. Kota Denpasar 47. dan 42 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kab. Bolmut 71. Kab. Sumbawa 49. Musi Rawas 21. Banyuasin 22. Kab.73 Kabupaten/Kota yang telah dinilai Prov. Kota Magelang 39. Kota Surakarta 36. Sulawesi Tenggara : 67. Jawa Timur : 42. Situbondo 44. Aceh Tengah 2. Pinrang 61. Kab. Hulu Sungai Selatan 59. Demak 40. Lampung Barat 24. Toli – Toli 65. Lombok Timur Prov. Kab. Kota Metro 25. Gorontalo : Prov. Kolaka Prov. Kab. Bogor Prov. Dharmasraya 13. Barito Utara 73. Jawa Tengah : 34. Sulawesi Utara : 69. Kerinci 17. Kab. Serang 27. Katingan Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Sehubungan dengan proses penilaian kabupaten/kota sedang dalam tahap evaluasi akhir untuk ditetapkan Pemda yang berkategori terbaik. Sulawesi Tengah : 64. Kab. Kab. Pasaman 12. Kota Pontianak Prov. Kab. Rokan Hulu Prov. Pak-Pak Barat 9. Mamuju Prov. Deli Serdang 7. Kab. Jambi : 16. Kalimantan Timur : 51. Kab. Kudus Prov. Nagan Raya 4. Jakarta Barat Prov. Kab. Aceh Barat 3. Kab. Lampung Selatan Prov. Kab. Muko-Muko 19. Kota Depok 33. Kab. Lampung : 23. Sleman Prov. Kab. Kab. Kab. Selayar Prov. Kab. Kab. Badung Prov. Berau Prov. Sumatera Barat : 10. Kab. Bali : 46. DKI Jakarta : 28. Kota Pekalongan 35. Demak 39. Majalengka 30. Kab. Kab. Sumatera Utara : 6. Sulawesi Barat : 66. Kab. Kab. Kalimantan Barat : 50. Kab. Kab. Tanah Datar Prov. Kab. Banten : 26. Kab. Wonogiri 37. Kendari 68. Tangerang Prov. Kab. Yogyakarta : 41. Kab. D. Kab. Aceh Tenggara 5. Kab. Kab. Kab. Pangkep 63. Kab.I. Hulu Sungai Utara 58. NAD : 1. Kapuas 56. Pelelawan 15. Padang Panjang 11. Jawa Barat : 29. Kota Cirebon 31.

26 % 77. Men. Men. efektif dan efisien Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres.41 % 98.52 30 % 0% 0 30 % 28.PAN dan RB. Per.PAN dan RB % 85 90 100 % 80 % 80 30 % 29.PAN dan RB Realisasi 3 Draft Perpres 4 PerMen. 2 Draft PerMen. Sasaran Strategis 2 : Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional.57 % 95.57 % 95.berkategori baik maka perhitungan pencapaian target 60% Pemda berkategori terbaik belum dapat dilakukan pada tahun 2011. BKN dan LAN 3) Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 4) Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 5) Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 6) Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 7) Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya 43 Target 3 Perpres 6 Per. PAN dan RB) 2) Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB.04 30 % 28.24 30 % 23.24 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

33 30 % Prov 30 % kab/Kota 30. Kelembagaan Lembaga 2. penyusunan Peraturan Presiden juga melibatkan instansi lain yang terkait. 2.1 Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : Jumlah peraturan/kebijakan di bidang kelembagaan Dari 3 (tiga) Peraturan Presiden yang ditargetkan belum terealisasi 100% karena sampai dengan akhir tahun 2011 baru dapat direalisasikan dalam bentuk Rancangan Peraturan Presiden dan belum ditetapkan menjadi Peraturan Presiden. Sedangkan Peraturan/kebijakan dalam bentuk Peraturan Menteri.33 % Kab/Kota 101 111.30 % Prov 33.Indikator Kinerja 8) Persentase instansi pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata kelembagaannya 9) Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya Target Realisasi % 30 % 25 % 83. RB tentang Pedoman Evaluasi 44 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Selain itu. Peraturan Menteri PAN dan Kelembagaan Pemerintah. Rancangan Peraturan Presiden tentang Kelembagaan Sekretariat Lembaga Negara. dari 6 (enam) peraturan/kebijakan telah terealisasikan 4 (empat) Peraturan Menteri PAN dan RB masing-masing: 1. Rancangan Peraturan Presiden tentang Sekretariat Lembaga Non Struktural. Adapun 3 (tiga) Rancangan Peraturan Presiden tersebut adalah: 1. Rancangan Peraturan Presiden tentang Pemerintah Non Kementerian (LPNK). Peraturan Menteri PAN dan RB tentang Kelembagaan Instansi Pemerintah yang menerapkan PPK-BLU. dan 3. Kondisi tersebut terjadi karena penyusunan Peraturan Presiden memerlukan proses administrasi yang cukup kompleks.

Dalam materi reviu dimuat pembagian peran dan tugas yang jelas antara tiga instansi tersebut agar dapat diwujudkan sinergitas dalam pelaksanaan tugas dan fungsi yang pada akhirnya dapat mendorong pada terwujudnya koherensi dalam perumusan kebijakan di bidang pendayagunaan aparatur negara. Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Untuk indikator kinerja Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. BPKP. BKN dan LAN dan peningkatan Pada kegiatan ini telah dihasilkan 1 (satu) hasil reviu terhadap penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas kelembagaan Kementerian PAN dan RB. LAN. dan LAN yang efektif. BKN. belum dapat ditetapkan karena menunggu implementasi dari Surat Edaran yang baru saja ditetapkan. Persentase penyelesaian konsolidasi struktural kapasitas Kementerian PAN dan RB. 4. BKN.41%. dan struktur organisasi eselon II ke bawah pada Kementerian PAN dan RB.04 %. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah 98. PAN dan RB tentang Sistem Kelembagaan Selain 4 (empat) Peraturan Menteri sebagaimana tersebut di atas. BKN. dan LAN. Sedangkan 1 (satu) peraturan/kebijakan yaitu mengenai tugas. pembahasan usulan dan penyampaian rekomendasi kebijakan penataan. Dari target yang ditetapkan dapat terealisasi sebanyak 10 Kementerian atau sebesar 29. dan LAN. dan ANRI. efisien dan strategis. fungsi. BKN. Adapun Kementerian Negara yang ditata organisasi dan tata kerjanya meliputi: 45 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . juga diterbitkan 1 (satu) Surat Edaran Menteri mengenai konsolidasi struktural antara Kementerian PAN dan RB. Peraturan Menteri PAN dan RB tentang SOP Penataan Kelembagaan Pemerintah. Materi yang dimuat dalam reviu tersebut adalah konsolidasi dan sinergitas pelaksanaan tugas antara Kementerian PAN dan RB. Peraturan Menteri Pemerintah. Penataan yang dilakukan meliputi pemrosesan usulan penataan organisasi Kementerian Negara. target 30% dari 34 Kementerian. yang telah ditetapkan.3.

Kementerian Perumahan rakyat. Kementerian Kesehatan. 6.52%. Kementerian Kehutanan. terealisasi sebanyak 10 LNS atau sebesar 23. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah. Kelembagaan LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya.24%. 8. Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Sedangkan untuk kelembagaan LPNK. 4. Kementerian Perhubungan.57 % yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. Perpustakaan Nasional. 6. Kementerian Pertahanan. Adapun LPNK yang ditata meliputi: 1. 2. 3. 9. 5. Badan Pengawas Obat dan Makanan.1. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan. Kementerian Perindustrian. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional. Hasil penataan kelembagaan LNS yang diperoleh adalah berupa analisis beserta Rancangan keputusan Presiden tentang Rekomendasi Penghapusan 10 (sepuluh) LNS yang hingga saat ini belum ditetapkan menjadi Keputusan Presiden. target 30% dari 43 LNS. 10. Adapun jumlah LNS yang pembentukannya dilakukan dengan PP dan Perpres adalah sebanyak 43 LNS. realisasinya sebanyak 8 LPNK atau sebesar 28.25%. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah 95. 7. Kementerian Koperasi dan UKM. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional. dan Kementerian Pendidikan Nasional (sebelum resuffle). 5. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Adapun 10 LNS yang direkomendasikan untuk ditata adalah: 46 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kementerian Luar Negeri. Badan Narkotika Nasional. Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Pada tahun 2011 LNS yang ditargetkan untuk ditata adalah LNS yang dibentuk berdasarkan PP dan Perpres. 2. 7. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah sebesar 77. Lembaga Administrasi Negara. target 30% dari 28 LPNK. 8. 4. 3.

Dewan Pengembangan Kawasan Timur Indonesia.57%. 9. Adapun Sekretariat Lembaga Negara yang telah ditata organisasi dan tata kerjanya adalah: 1. Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Pada Indikator Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah sebesar 95. 2. 7. selanjutnya dilakukan pembahasan terhadap usulan penataan. terealisasi sejumlah 2 (dua) Sekretariat Lembaga Negara atau sebesar 28. 2. 1. Badan Kebijaksanaan dan Pengendalian Pembangunan Perumahan dan Permukiman Nasional. Dewan Pengembangan KAPET. Dewan Buku Nasional. Lembaga Koordinasi dan Pengendalian Peningkatan Kesejahteraan Sosial Penyandang Cacat. Komite Antar Departemen Bidang Kehutanan. Dewan Penerbangan dan Antariksa Nasional. 5. 8. Komite Aksi Nasional Penghapusan Bentuk-bentuk Pekerjaan Terburuk Untuk Anak. 3. 47 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 6. Sekretariat Jenderal DPD.Komisi Hukum Nasional.24 %. dan 10. Tahap selanjutnya adalah disampaikan rekomendasi kebijakan berdasarkan usul yang disampaikan. 4. Sekretariat Jenderal Mahkamah Konstitusi. Indikator kinerja persentase Sekretariat lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya target 30% dari 7 Sekretariat Lembaga Negara. Prosedur yang dilakukan dalam proses penataan adalah sama seperti yang dijelaskan di atas yaitu dimulai dari pemrosesan usulan yang dilengkapi dokumen. dari 30% target yang ditetapkan tidak dapat direalisasikan karena terdapat kebijakan pemerintah berupa pembatasan perjalanan dinas ke luar negeri dan kebijakan efisiensi anggaran tahun 2011 sehingga kegiatan penataan Perwakilan RI di Luar Negeri tidak dilaksanakan. Dewan Gula Indonesia. Persentase Sekretariat lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Saat ini terdapat 7 (tujuh) Sekretariat Lembaga Negara.

Pemilihan tersebut dengan tetap mempertimbangkan keterwakilan seluruh wilayah yaitu wilayah Barat. Pusat Pembiayaan Perumahan di Kementerian Perumahan Rakyat. Lembaga Pelayanan Dana Bergulir di Kementerian Koperasi dan UKM.1% untuk kabupaten/kota. Provinsi Lampung. target 30% dari 45 (empat puluh lima) kabupaten/kota terealisasi sebanyak 15 (lima belas) kabupaten/kota atau sebesar 33. 5. 3.33%.Persentase instansi kelembagaannya pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata Terdapat 12 (dua belas) Instansi yang telah menerapkan PPK-BLU. Dengan demikian capaian kinerja melebihi target yang ditetapkan yaitu 101% untuk daerah Provinsi dan 111. Provinsi Kepulauan Riau. terealisasi sebesar 10 (sepuluh) provinsi atau sebesar 30. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Provinsi Jawa Tengah.30%. 4. Adapun instansi pemerintah (PPKBLU) yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya adalah: 1. Provinsi Sumatera Selatan. 2. Seperti halnya penataan Sekretariat Lembaga Negara. Dengan demikian capaian kinerjanya adalah sebesar 83. 2. Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya Target yang ditetapkan untuk Pemda yang akan dievaluasi organisasi dan tata kerjanya adalah sejumlah 33 (tiga puluh tiga) Provinsi dan 45 (empat puluh lima) Kabupaten/Kota. 6. Indikator kinerja persentase Instansi Pemerintah yang menerapkan PPK-BLU yang Telah Tertata Organisasi dan Tata Kerjanya target 30% dari 12 Instansi. terealisasi sebanyak 3 (tiga) instansi atau sebesar 25%. tengah dan Timur. selanjutnya dilakukan pembahasan terhadap usulan penataan. PPK-BLU di lingkungan Kementerian Keuangan. Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Tahap selanjutnya adalah disampaikan rekomendasi kebijakan berdasarkan usul yang disampaikan. Sedangkan untuk Kabupaten/Kota. Dengan demikian total target yang akan ditata adalah sebanyak 12 (dua belas) instansi. 48 Provinsi Nusa Tenggara Barat. Indikator kinerja persentase Instansi Pemda Provinsi yang dievaluasi organisasi dan tata kerjanya target 30% dari 33 Provinsi.33%. bahwa proses penataan organisasi dimulai dari pemrosesan usulan yang dilengkapi dokumen. Adapun Provinsi yang telah dievaluasi organisasi dan tata kerjanya meliputi: 1. 3.

Kota Kupang. 13. Kabupaten Bengkulu Utara. 8. Kabupaten Padang Pariaman. Kabupaten Simalungun. 11. Kota Batam. Kota Padang Panjang. Kabupaten Aceh Utara. dan 9. akuntabel dan sejahtera Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM Aparatur (UU. Sasaran Strategis 3 : Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. 14. Perpres. 12. berkinerja. Kabupaten Bangka Tengah. Kabupaten Jembrana. Provinsi Jambi. Kabupaten Muara Enim. Sedangkan Kabupaten/Kota yang telah dilakukan evaluasi adalah: 1. 4. Kota Bandung. Kabupaten Lampung Tengah. 8. Kabupaten Kampar.Men PAN dan RB 95 % IP Pusat 92 % IP Daerah % 100 100 400 80 80 % IP Pusat 80% IP Daerah 119 115 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 9.7. Kota Surakarta. 6. 10. Men PAN dan RB 2) Persentase instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan 49 Realisasi 1 RUU 9 RPP 12 PP 8 Per. Men. 2. 7. Kabupaten lombok Utara. dan 15. 5. PAN dan RB) Target 1 RUU 9 RPP 3 PP 10 Per. 3. Per. Provinsi Bali. Provinsi Kalimantan Tengah. PP.

PP No. b. 6) PP No. Finalisasi RUU ASN dan DIM RUU ASN sudah selesai dibuat terkait dengan usulan DPR-RI terhadap RUU Aparatur Sipil Negara (ASN). PP No. 13 Tahun 2011 Tentang Gaji Polri. secara terinci kebijakan bidang SDM Aparatur yang dicapai pada tahun 2011 meliputi : a. 16 Tahun 2011 Tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan Polri dan Janda Dudanya. Penetapan Peraturan Pemerintah (PP). 14 Tahun 2011 Tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan PNS dan Janda Dudanya. 50 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . terdiri dari: 1) 2) 3) 4) PP No.Indikator Kinerja 3) Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai 4) Persentase peningkatan penghasilan PNS 5) Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system Target Realisasi % 5% 5% 100 5% 10 % 200 20 % 30 % 150 Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : Jumlah peraturan/kebijakan di Bidang SDM Aparatur Untuk memenuhi target “Jumlah kebijakan bidang SDM Aparatur yang diterbitkan” yang ditetapkan sebanyak 9 Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang gaji PNS/TNI dan POLRI dan peraturan pemerintah tentang sasaran kinerja pegawai dan pemberhentian pegawai. PP No. 12 Tahun 2011 Tentang Gaji TNI. yang sebelumnya yang diusulkan adalah RUU kebijakan tentang kepegawaian negara (SDM Aparatur). 11 Tahun 2011 Tentang Gaji PNS. 5) PP No. 15 Tahun 2011 Tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan TNI dan Janda Dudanya.

5) Per. 3) Penyempurnaan PP tentang Pengangkatan PNS Dalam Jabatan Struktural. 10) Perpres No. 34 Tahun 2011 tentang Pedoman Analisis Jabatan. 4) RPP tentang Pemberian Cuti PNS. Rencangan Peraturan Pemerintah (RPP)/R-Perpres. Promosi. Menteri Dalam Negeri dan Menteri Keuangan Tahun 2011 Tentang Moratorium Penerimaan CPNS. 8) RPP tentang Dana Pensiun PNS dan Tabungan Hari Tua PNS. 9) Perpres tentang Pedoman Pola Dasar Karir (Sistem Penempatan. 11) Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 44 Tahun 2011 Tentang Pemberhentian Wakil Menteri. 51 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 2) Per. 8) PP No. 3) Per. 26 Tahun 2011 tentang Pedoman Perhitungan Jumlah Kebutuhan PNS. 33 Tahun 2011 tentang Pedoman Evaluasi Jabatan.7) PP No. 19 Tahun 2011 Tentang Pemberian Tunjangan Veteran Kepada Veteran Republik Indonesia. 5) RPP tentang Wewenang Pengangkatan Pemindahan dan Pemberhentian PNS. 4) Peraturan Bersama Men.PAN-RB.MenPAN-RB No.MenPAN-RB tentang Pedoman Penataan Sistem Tunjangan Kinerja Pegawai (80%). 27 Tahun 2011 Tentang Penyesuaian Gaji Pokok PNS.MenPAN-RB No. d. dan Mutasi). c. 2) RPP tentang Pengadaan PNS. terdiri dari: 1) RPP tentang Pegawai Tidak Tetap. 9) PP No. terdiri dari: 1) Per. 6) RPP tentang Analisis Kebutuhan dan Pengembangan Sistem Diklat. 12) Penetapan Peraturan Pemerintah Nomor 46 Tahun 2011 Tentang Sasaran Kinerja Pegawai. 17 Tahun 2011 Tentang Pemberian Tunjangan Kehormatan Kepada Bekas Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat dan Janda/Dudanya.MenPAN-RB No. Peraturan Menteri PAN & RB. 18 Tahun 2011 Tentang Pemberian Tunjangan Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan. 7) RPP tentang Sistem Remunerasi SDM Aparatur Negara.

MENPANRB No. Pada tahun 2011 usulan dari instansi adalah sebagai berikut: a. 3) Peraturan Kepala BKN No. 14 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengembangan Database SDM Aparatur Negara. Dari 76 Instansi Pusat yang mengirimkan data usulan sejumlah 72 sehingga persentase instansi yang mengirimkan adalah 95% total usulannya adalah 147. Persentase instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Untuk memenuhi target instansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan sebesar 80% dari 600 Instansi Pemerintah Pusat/Daerah atau sebanyak 480 Instansi Pemerintah Pusat/Daerah dilakukan dengan cara mengadakan sosialisasi Per.463 b.Peraturan Kepala BKN: 1) Peraturan Kepala BKN No. 15 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengendalian Kepegawaian/Audit Kepegawaian. 26 Tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Kebutuhan Pegawai (formasi) secara nasional sehingga penyampaian formasi dari instansi pusat dan daerah tersebut dapat akurat dan benar. dimasukkan dalam lingkup Peraturan Menteri PAN & RB karena pembahasannya dikoordinasi oleh Kementerian PAN & RB. 13 Tahun 2011 tentang Pedoman Standar kompetensi Jabatan. Dari 524 Instansi Daerah yang mengirimkan data usulan sejumlah 484 sehingga persentase instansi yang mengirimkan adalah 92% total usulannya adalah 717. 2) Peraturan Kepala BKN No.178 Dikarenakan ada kebijakan moratorium Penerimaan CPNS. Persentase instansi yang pengembangan pegawai menerapkan kebijakan pemantapan Untuk mencapai indikator kinerja dari jumlah instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai salah satunya yang dilakukan adalah dengan melakukan penambahan jabatan fungsional 52 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . maka untuk tahun 2011 instansi pemerintah diminta menghitung kebutuhan PNS di masing-masing instansi dan tidak ada tambahan formasi. Terkait tiga peraturan Kepala BKN tersebut diatas.

Gaji Polri. Nama Instansi dan jabatan fungsional baru yang sudah dilakukan pembahasan pada tahun 2011 yaitu: No 1. yang dihasilkan terkait peningkatan PP No. 4. 14 Tahun 2011 tentang PNS dan Janda Dudanya. 13 Tahun 2011 tentang PP No. sehingga target peningkatan penghasilan PNS sebesar 5% telah melebihi target yang ditetapkan. 11 Tahun 2011 tentang PP No. d. Gaji PNS. 12 Tahun 2011 tentang PP No. 2. LKPP Setjen DPR-RI Pengadaan Barang dan Jasa Transkriptor Keterangan dilakukan pembahasan uji petik beban kerja Penyiapan peraturan Menteri PAN & RB Pemaparan naskah akademik di BKN Validasi (penetapan) besaran angka kredit dilakukan pembahasan uji petik beban kerja Persentase peningkatan penghasilan PNS Target awal peningkatan penghasilan PNS adalah 5% ternyata pada tahun 2011 pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang meningkatkan penghasilan PNS rata-rata sebesar 10% dari gaji pokok PNS. Instansi yang ditargetkan menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai pada tahun 2011 sebesar 5% dari 75 Instansi Pemerintah Pusat atau sebanyak 4 Instansi Pemerintah Pusat ternyata realisasinya telah tercapai 100% yaitu sebanyak 4 Instansi Pemerintah Pusat. c. Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan 53 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Dengan adanya penambahan jabatan fungsional yang baru tersebut maka akan memberi dampak pada pengembangan pegawai terkait dengan kompetensinya untuk masuk ke dalam jabatan fungsional baru yang dibentuk. Pada tahun 2011. b.tertentu. Gaji TNI. kebijakan kesejahteraan meliputi: a. LAN BKN Instansi Jabatan fungsional baru Analis Kebijakan Auditor Kepegawaian Assesor Kepegawaian 3.

e. 16 Tahun 2011 tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan Polri dan Janda Dudanya. PP No. h. g. Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system Untuk mencapai indikator kinerja persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system ditetapkan target 20% instansi Pemerintah Pusat dari 75 instansi Pemerintah Pusat yaitu sebanyak 15 instansi Pemerintah Pusat. f. j. Adapun Instansi Pemerintah Pusat yang telah menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system pada tahun 2011 adalah sebagai berikut : No. PP No. 18 Tahun 2011 tentang Pemberian Tunjangan Perintis Pergerakan Kebangsaan/Kemerdekaan. i. 27 Tahun 2011 tentang Penyesuaian Gaji Pokok PNS. 17 Tahun 2011 tentang Pemberian Tunjangan Kehormatan Kepada Bekas Anggota Komite Nasional Indonesia Pusat dan Janda/Dudanya. Capaian pada tahun 2011 sebanyak 23 Instansi Pemerintah Pusat (30%) yang dianggap telah menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system. PP No. Perpres No. PP No. 15 Tahun 2011 tentang Penetapan Pensiun Pokok Pensiunan TNI dan Janda Dudanya. 19 Tahun 2011 tentang Pemberian Tunjangan Veteran Kepada Veteran Republik Indonesia. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 54 Instansi Pemerintah Kementerian Riset dan Teknologi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) Badan Narkotika Nasional (BNN) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lembaga Ketahanan Nasional (LEMHANAS) Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Kementerian Perindustrian Badan POM RI Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . PP No.

PAN dan RB) 2 RUU 1 PP 5 Per. 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 Instansi Pemerintah Badan Kepegawaian Negara (BKN) Lembaga Administrasi Negara (LAN) Lembaga Sandi Negara (Lemsaneg) Kementerian Perdagangan Arsip Nasional Republik Indonesia Badan Pengawas Tenaga Nuklir Kementerian Pertanian Badan Pusat Statistik Badan Nasional Penanggulangan Teroris Kementerian Perumahan Rakyat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sasaran Strategis 4 : Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien. PP.46 % 169 55 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .5 70 88 Target 2 UU Realisasi 2 RUU % 80 2) Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik 35 % 59. efektif dan akuntabel Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana (UU.PAN dan RB 62.PAN dan RB.Men.Men. PAN dan RB 2 RUU 1 RPP 2 Per. 3 Draft Final Per. Men. Per. Men.No.

bahwa proses pembahasan RUU dengan DPR RI baru akan dapat dilakukan bila telah disampaikan oleh Presiden. dan telah masuk dalam program legislasi nasional (PROLEGNAS) tahun 2010-2014 dengan nomor urut 36 untuk RUU Administrasi Pemerintahan dan nomor urut 67 untuk RUU Etika Penyelenggara Negara. adalah: 1) Undang-undang tentang Administrasi Pemerintahan. dan ini semua di luar kendali kegiatan dari instansi pengusul/inisiator yang dalam hal ini adalah Kementerian PAN dan RB. menghasilkan rumusan RUU AP yang telah disempurnakan dan telah kembali disampaikan kepada Presiden.Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Tata Laksana 2 kebijakan di bidang Tata Laksana yang ditargetkan capaian kinerjanya menjadi Undang-Undang. Kendala yang dihadapi terkait dengan pencapaian target RUU Administrasi Pemerintahan adalah: 1) Sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Proses mendapatkan surat Presiden yang mengantarkan RUU kepada Pimpinan DPR ternyata memerlukan berkali-kali pembahasan dalam rangka penyempurnaan RUU yang akan diajukan. namun hingga berakhirnya tahun 2010 posisi RUU Administrasi Pemerintahan masih berada di Kantor Sekretariat Negara untuk dibicarakan kembali dalam rapat terbatas. Kedua Rancangan Undang-undang tersebut sejak tahun 2009 telah disampaikan kepada Presiden untuk diterbitkan surat yang akan mengantarkannya kepada Pimpinan DPR RI. 2) Tidak tercapainya target/sasaran kegiatan lebih disebabkan faktor di luar kendali instansi pemegang kegiatan disamping masih 56 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . dan 2) Undang-undang tentang Etika Penyelenggara Negara. 1) Penyusunan RUU Administrasi Pemerintahan pada tahun 2010. Bersamaan dengan itu telah pula dilakukan sosialisasi melalui kegiatan simulasi di berbagai daerah untuk memperkuat pendalaman substansi RUU ini. Pada tahun 2010 ditargetkan terbit surat Presiden yang mengantarkan RUU AP kepada Pimpinan DPR RI. sehingga pada tahun 2011 kembali masuk dalam proses penerbitan surat Presiden yang akan mengantarkan RUU tersebut kepada Pimpinan DPR untuk dapat dilakukan pembahasan bersama antara Panitia Khusus RUU DPR RI dan pihak Pemerintah.

Dengan demikian maka nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 70%. Sedangkan realisasi capaian kinerja saat ini adalah telah tersusunnya naskah akademik dan Draft RUU yang telah siap untuk dilakukan sinkronisasi antar instansi terkait. Disamping kurangnya SDM baik dalam jumlah maupun kompetensinya. 2 kebijakan bidang Tata Laksana yang ditargetkan menjadi Rancangan Undang-undang adalah : 1) Penyusunan RUU Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah Pada tahun 2011 ini. kegiatan Sinkronisasi dan Harmonisasi pada Kementerian Hukum dan HAM belum dapat dilaksanakan oleh karena Penyempurnaan Naskah Akademik tidak dapat dilakukan karena membutuhkan biaya yang cukup besar dan tidak tersedia 57 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . target kinerja kegiatan penyusunan RUU Tata Hubungan Kewenangan Pemerintah Pusat dan Daerah adalah Tersusunnya RUU yang telah mendapatkan surat presiden untuk disampaikan kepada DPR RI guna dilakukan pembahasan lebih lanjut. melalui pembahasan RUU EPN tingkat interdep (antar-instansi) yang masih perlu dilakukan untuk menyempurnakan RUU EPN ini pada tahapan harmonisasi sebelum diajukan ke Presiden. Kendala utama dalam pelaksanaan kegiatan RUU EPN adalah pengaturan jadual pada pakar/narasumber dalam pembahasan RUU EPN. Kegiatan Penyusunan RUU tentang Etika Penyelenggara Negara perlu ditindak lanjuti sesuai prosedur teknik penyusunan perundangundangan sampai menjadi sebuah Undang-undang.kurangnya dukungan SDM pengelola kegiatan baik dari sisi jumlah maupun kapasitas/kompetensinya. 2) Penyusunan RUU tentang Badan Layanan Umum (BLU) Dalam pelaksanan kegiatan Sinronisasi dan Harmonisasi RUU BLU pada tahun 2011. 2) Penyusunan RUU Etika Penyelenggara Negara (EPN) Secara umum dapat digambarkan bahwa capaian sasaran yang telah ditetapkan dalam Rencana Kinerja Tahun 2011 dalam rangka mengkongkritkan RUU EPN dapat diwujudkan berupa penyusunanan kembali naskah RUU EPN dengan perubahan substansi menjadi hukum acara dan dilakukan perbaikan naskah akademiknya. Dengn demikian nilai pencapaian kinerja adalah sebesar 65% dari target yang telah ditetapkan.

target yang telah direncanakan tercapai dengan baik. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 70%. Pedoman Umum Pemetaan Pemangku Kepentingan Pada tahun 2011. 2. Target kinerja pelaksanaan kegiatan ini pada tahun 2011 adalah tersusunnya Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Tata Laksana Perizinan tetapi karena adanya perubahan pada dasar hukum dan isi kebijakan ini maka targetnya direvisi menjadi tersusunnya Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Umum Tatalaksana Izin. Dispensasi dan Konsesi. Permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah belum ditetapkannya RUU tentang Administrasi Pemerintahan telah menimbulkan ketidaktuntasan dalam penyelesaian Draft Rancangan Peraturan Pemerintah ini. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah 100%. 5 kebijakan di bidang Tata Laksana yang ditargetkan selesai pada tahun 2011 adalah: 1. Target Capaian kegiatan sebesar 60%. 1 kebijakan di bidang Tata Laksana yang ditargetkan capaian kinerjanya menjadi Peraturan Pemerintah. disamping masih adanya kemungkinankemungkinan berubahan dalam RUU tersebut. yaitu tersedianya satu Pedoman Umum Hubungan Media yang telah dilengkapi dengan Peraturan Menteri 58 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .dalam RKA-KL serta waktu yang tidak mencukupi. Sedangkan capaian kinerja yang dapat direalisasi adalah Pedoman Umum Pemetaan Pemangku Kepentingan ini telah selesai dan telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan dan Reformasi Birokrasi Nomor 54 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Pemetaan Pemangku Kepentingan di Lingkungan Instansi Pemerintah. Dispensasi dan Konsesi. Pedoman Umum Hubungan Media Pada tahun 2011 ditargetkan bahwa Pedoman Umum Hubungan Media dapat terselesaikan dengan baik dan telah ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sampai akhir tahun 2011. target penyusunan pedoman ini adalah tersedianya Pedoman yang dalam bentuk Peraturan Menteri. Capaian kinerja pada tahun 2011 adalah tersusunnya Revisi Naskah Akademik dan Revisi Draft Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pedoman Umum Tatalaksana Izin. adalah: Kebijakan Tata Laksana Perizinan.

59 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 80%. Capaian kinerja ini salah satunya disebabkan oleh kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu kurangnya sumberdaya pelaksana kegiatan baik dalam segi jumlah maupun kompetensi. 3. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 80%. Penyusunan Pedoman Umum Standarisasi Tata Laksana Sarana dan Prasarana Kerja Aparatur di Lingkungan Instansi Pemerintah yang berupa tanah dan bangunan Target kinerja Tahun 2011 untuk kegiatan ini adalah tersedianya Pedoman Umum Standarisasi Tata Laksana Sarana dan Prasarana Kerja Aparatur di Lingkungan Instansi Pemerintah yang berupa Tanah dan Bangunan yang berbentuk Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Permasalahan yang dihadapi pada saat penyusunan pedoman ini tidak jauh berbeda dengan penyusunan Pedoman Umum Pemetaan Pemangku Kepentingan. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah 100%. Penyusunan Pedoman Umum Standarisasi Pakaian Kerja/Dinas Pegawai Negeri Sipil Rencana kinerja yang ingin dicapai pada tahun 2011 untuk kegiatan ini adalah tersedianya Pedoman Umum Standarisasi Pakaian Kerja/Dinas Pegawai Negeri Sipil yang ditetapkan dengan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. Sedangkan capaian kinerja yang dapat terealisasi pada tahun ini adalah berupa draft final Pedoman Umum Standarisasi Tata Laksana Sarana dan Prasarana Kerja Aparatur di Lingkungan Instansi Pemerintah yang berupa Tanah dan Bangunan yang telah siap untuk ditetapkan menjadi Peraturan Menteri. Besarnya capaian kinerja ini dipengaruhi oleh permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan kegiatan ini yaitu kurangnya tenaga pelaksana dari jumlah maupun kompetensinya. 4. Adapun realisasi dari kegiatan ini adalah draft final pedoman umum yang telah siap untuk ditetapkan dengan Peraturan Menteri.Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 55 Tahun 2011 tentang Pedoman Umum Hubungan Media di Lingkungan Instansi Pemerintah.

5. dari 74 (tujuh puluh empat) instansi pemerintah pusat terdapat 30 (tiga puluh) instansi (40. Pencapaian target ini dipengaruhi oleh kendala yang dihadapi dalam pelaksaaan kegiatan ini yaitu kurangnya sumber daya pelaksana kegiatan baik dalam segi jumlah maupun kompetensinya disamping konsep penataan tata laksana (business process) yang dianggap masih relatif baru bagi instansi pemerintah. Dengan demikian maka prosentase instansi pemerintah pusat yang telah melakukan penataan ketatalaksanaan 60 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Sampai awal tahun 2012 ini. Capaian kinerja yang dicapai dalam pelaksanaan kegiatan ini adalah tersusunnya draft final Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tentang Tata Cara Penataan Tata Laksana Pada Instansi Pemerintah. Dengan demikian nilai capaian kinerja kegiatan ini adalah sebesar 80% dari target yang telah ditentukan. Penyusunan Tata Cara Penataan Tata Laksana Pada Instansi Pemerintah Target Kinerja kegiatan tahun 2011 ini adalah tersusunnya Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi tentang Tata Cara Penataan Tata Laksana Pada Instansi Pemerintah. Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik Instansi pemerintah pusat yang telah melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik yang secara minimal dicirikan dengan adanya standar operasional prosedur (SOP) dan telah melaksanakan e-government secara minimal (e-office) pada instansi yang bersangkutan. Setiap instansi pemerintah yang telah mengajukan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi kepada Tim Pengelola Reformasi Birokrasi Nasional melalui Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi telah menyertakan dokumen SOP dan dokumen pelaksanaan e-governnment sebagai salah satu kelengkapannya.54%) yang telah mengajukan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi dan telah dilengkapi dengan Dokumen SOP dan dokumen e-government.92%) yang telah menerima tunjangan kinerja sebagai konsekuensi dari upayanya melaksanakan kebijakan Reformasi Birokrasi di Instransinya. Dengan demikian maka setiap instansi pemerintah pusat yang telah mengajukan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi telah memiliki Dokumen SOP dan melaksanakan e-government yang berarti telah melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik. disamping 14 (empat belas) instansi pemerintah pusat (18.

Aspek substansi kebijakan harus menjadi perhatian. dan komprehensif Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan 2) Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional 61 Target 7 kebijakan Realisasi 10 kebijakan % 143 12 K/L 20 K/L 167 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .88%. Perlu disusun kebijakan Menteri PAN dan RB mengenai Pedoman Umum Evaluasi Ketatalaksanaan Instansi Pemerintah. Hasil pemantauan ketatalaksanaan Pemerintah yang dilakukan pada Pemerintah Daerah dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut : 1. 3. terutama dalam hal penegasan isi beserta perangkat sanksi yang dibutuhkan untuk lebih memperkuat sifat mengikatnya. Perlu penguatan kapasitas kelembagaan Kementerian PAN dan RB. 4. maupun untuk pihak eksternal (stakeholder).46%. 2. sistematis. Dengan data ini maka dapat diketahui bahwa capaian kinerja instansi pemerintah pusat yang telah melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik adalah sebesar 169. Perlu dibangun operasionalisasi kebijakan-kebijakan Menteri PAN dan RB dengan strategi yang tepat dalam rangka penerapan keijakan-kebijakan tersebut. Ruang lingkup tata laksana dalam instansi pemerintah perlu diberikan batasan yang jelas.dengan baik adalah sebesar 59. baik untuk internal organisasi Kementerian PAN dan RB. Sasaran Strategis 5 : Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana. Angka ini tidak termasuk instansi pemerintah yang telah melaksanakan penyusunan SOP dan melaksanakan e-government tetapi belum mengajukan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi kepada Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi. khususnya terkait fungsi internalisasi kebijakan-kebijakan Menteri PAN dan RB. 5. yaitu instansi pemerintah pusat dan daerah.

Pedoman-pedoman tersebut ditetapkan melalui Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor : 7 sampai dengan Nomor 15 Tahun 2011 dan Nomor 53 Tahun 2011. Pedoman Pengajuan Dokumen Usulan Reformasi Birokrasi Kementerian/Lembaga (PerMenPANRB No. yang meliputi : Pengguna Utama K/L UPRBN Pedoman 1. 8/2011) Isi Pokok Proses pelaksanaan reformasi birokrasi dan langkah-langkah menyusun dokumen usulan. dan verifikasi pelaksanaan reformasi birokrasi di lapangan. UPRBN 62 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . sebagai pedoman pelaksanaan reformasi birokrasi.Indikator Kinerja 3) Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi 4) Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional 5) Jumlah instansi yang menerima sosialisasi 6) Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah Target 30 % Realisasi 47 % % 156 80 % 81 % 101 100 % K/L 30 % Pemda 100 % K/L 10 % Pemda 100 % K/L 100 % Prov. 62 % - 100 333 62 - Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut : Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan Untuk memenuhi target “Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan” yang ditetapkan sebanyak 7 kebijakan. telah dilakukan kegiatan Penyusunan Kebijakan Reformasi Birokrasi. Pedoman Penilaian Dokumen Usulan dan Road Map Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Kementerian/Lembaga (PerMenPANRB No. Penilaian dokumen usulan dan road map. 7/2011) 2. penilaian dokumen pelaksanaan. Dari hasil kegiatan ini telah berhasil ditetapkan 10 Peraturan Menteri PAN dan RB.

Perumusan dan penetapan quick wins. K/L dan PEMDA UPRBN TI TQA K/L dan PEMDA 7. perumusan rencana manajemen perubahan. Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Perubahan (PerMenPANRB No. 14/2011) K/L dan PEMDA Elemen dan tahapan UPRBN implementasi manajemen pengetahuan. mengimplementasikan manajemen pengetahuan. kaidah penggambaran tatalaksana. penguatan hasil perubahan. dan kementerian/lembaga dan pemerintah daerah. 6. dan Standard operating procedures. Pedoman Pelaksanaan Quick Wins (PerMenPANRB No. Kriteria dan Ukuran Keberhasilan Penilaian keberhasilan Reformasi Birokrasi pelaksanaan reformasi birokrasi. 12/2011) Pendekatan penataan tatalaksana. Merencanakan implementasi manajemen pengetahuan. 11/2011) Indikator keberhasilan reformasi birokrasi nasional. K/L dan PEMDA 5. dan Evaluasi dan monitoring implementasi manajemen pengetahuan. dan langkahlangkah dalam pelaksanaan quick wins. pengelolaan perubahan.Pedoman Isi Pokok Pengguna Utama K/L dan PEMDA 3. Pedoman Penyusunan Road Map Pengertian dasar road map. proses penataan tatalaksana. 9/2011) 4. Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Pengetahuan (Knowledge Management) (PerMenPANRB No. Pemerintah Daerah (PerMenPANRB No. Reformasi Birokrasi dan langkah-langkah Kementerian/Lembaga dan menyusun road map. 13/2011) 8. Pedoman Penataan Tatalaksana (Business Process) (PerMenPANRB No. 63 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . (PerMenPANRB No. 10/2011) Elemen dan tahapan manajemen perubahan.

PU 5. baik dari sisi Dokumen Usulan dan Road Map masing-masing maupun verifikasi lapangan. Kem. 15/2011) Isi Pokok Mekanisme pelaksanaan reformasi birokrasi. LH 6. LKPP 8. BKKBN 7. sebagai berikut: 64 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . LIPI Dari 30 K/L tersebut 24 diantaranya telah berhasil dinilai. Kemtan 24. Kem. KemPerhub 15. Bapeten 29. Kemenpora 25. BPS 18. KemPeRa 19. Kemdag 30. Kemparekk 23. BKPM 17. Mekanisme Persetujuan Pelaksanaan Reformasi Birokrasi dan Tunjangan Kinerja Bagi Kementerian/Lembaga (PerMenPANRB No. telah dilakukan kegiatan Implementasi Reformasi Birokrasi. BKN 16. BATAN 12. Pada awal tahun 2011 ditargetkan 12 K/L. BNN 21. Kemdikbud 22.Pedoman 9. BNPT 26. KemPerind 11. Pedoman Penjamin Kualitas (Quality Assurance) dan Pedoman Monitoring Evaluasi Reformasi Birokrasi (PerMenPANRB No. ternyata dari pelaksanaan kegiatan ini berhasil diajukan 20 K/L. Lemhannas 3. KemKP 27. LAPAN 28. Lemsaneg 20. monitoring dan evaluasi atas pelaksanaan reformasi birokrasi dilingkungan K/L. Pada tahun 2011 terdapat 30 K/L yang telah mengajukan usulan kepada Kementerian PAN dan RB sebagaimana tabel di bawah ini: 1. BPOM 13. Pengguna Utama K/L UPRBN TI TQA 10. Kemristek 10. ANRI 9. LAN 4. 53/2011) Aturan untuk melakukan TQA penjaminan kualitas. mekanisme persetujuan pelaksanaan reformasi birokrasi dan tunjangan kinerja bagi kementerian/lembaga. BPPT 2. KemPPA 14. Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Untuk memenuhi target “Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional”.

Kementerian Perumahan Rakyat 19. Kementerian Perhubungan 14. 2. 7. 4. Lembaga Ketahanan Nasional 3. 15. Kementerian Lingkungan Hidup 12. Lembaga Administrasi Negara 4. Lembaga Sandi Negara 20. 12. Arsip Nasional Republik Indonesia 17. 6. Pengajuan kepada Menteri Keuangan melalui : Surat No. 11. Hal : penetapan Usulan TK Tanggal 15 Nop 2011 No: B/2747/M. Kementerian Pertanian 22. Kementerian Riset dan Teknologi Kementerian Perindustrian Badan Tenaga Nuklir Badan Pengawas Obat dan Makanan 9. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah 5. Badan Kepegawaian Negara 10. Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 18.1. Badan Koordinasi Penanaman Modal 11. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme 23. 5. Hal: penetapan Usulan TK Tanggal 21 Nop 2011 No: B/2808/M. 8. 7. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dari 24 K/L yang sudah diverifikasi. Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi 2. 14. 9. Badan Narkotika Nasional 21. 16. 8. 6.PAN-RB/11/2011 65 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 18. 20 diantaranya sudah diproses lebih lanjut untuk diajukan tunjangan kinerjanya masing-masing. BKKBN 16. Kementerian Pekerjaan Umum 13. 10. 13. BPPT Lemhannas LAN LKPP KemPerind Kemristek BATAN BPOM BKN BKPM BPS BKKBN ANRI KemPPA KemPeRA Lemsaneg BNN Kemtan MenPANRB telah menyampaikan surat kpd Menkeu. MenPANRB telah menyampaikan surat kpd Menkeu. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia 24. Badan Pusat Statistik 15. 17.PAN-RB/11/2011 K/L yang diajukan 1. 3.

Kemristek 7. Dengan demikian pencapaian ini sudah melebihi target 30%.PAN-RB/11/2011 MenPANRB telah menyampaikan surat kpd Menkeu. LAN 4. Dengan penyelesaian sebanyak 20 K/L yaitu : 1. BNN 18.PAN-RB/12/2011 K/L yang diajukan 19. LIPI maka realisasi Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi nasional secara kumulatif adalah 47%. BATAN 8. KemPerind 6. ANRI 14. BPS 12.Surat No. KemPeRA 16. Kemtan 19. BNPT 20. Lemsaneg 17. BKN 10. LKPP 5. BKKBN 13. BPOM 9. BNPT 20. Lemhannas 3. Hal: penetapan Usulan TK Tanggal 28 Nop 2011 No: B/2879/M. BKPM 11. KemPPA 15. Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Untuk memenuhi target “Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional” sebesar 80% telah dilakukan pelaksanaan kegiatan Penjaminan Kualitas Pelaksanaan Reformasi Birokrasi oleh Tim Quality Assurance. LIPI Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Untuk Indikator Kinerja “Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi” yang ditargetkan 30% dari jumlah K/L seluruhnya. 66 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Hal: penetapan Usulan TK Tanggal 12 Desember 2011 No: B/3019/M. MenPANRB telah menyampaikan surat kpd Menkeu. BPPT 2.

yaitu di Sekretariat Negara. Pelaksanaan sosialisasi untuk kementerian/lembaga yang dihadiri oleh seluruh Kementerian/Lembaga dilaksanakan pada tanggal 5 April 2011. dengan pokok bahasan: • • • • • • 67 Kebijakan Reformasi Birokrasi Perkembangan Pengelolaan RB Review Hasil Penilaian Langkah yang diperlukan Organisasi Pelaksana RB Mekanisme Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Untuk memenuhi target “Jumlah instansi yang menerima sosialisasi”. Adapun hasil dari penjaminan kualitas tersebut adalah sebagai berikut: Instansi Sekretariat Negara Sekretariat Wakil Presiden Kementerian PAN dan RB Kementerian Keuangan (Ditjen Bea dan Cukai) BPK Rata-rata Nilai 82% 81% 65% 91% 86% 81% Instrumen tersebut telah ditetapkan melalui Peraturan Menteri PAN dan RB Nomor: 53 Tahun 2010 tentang Pedoman Penjaminan Kualitas (Quality Assurance) dan Pedoman Monitoring dan Evaluasi Reformasi Birokrasi. juga telah dirancang instrumen penjaminan kualitas. Sekretariat Wakil Presiden. selain telah dibentuk Tim Quality Assurance. Dalam pelaksanaannya kegiatan sosialisasi di bagi ke dalam dua pelaksanaan sosialisasi.Untuk menjamin kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi. Sementara pada tahun 2011 tidak dilakukan sosialisasi untuk pemerintah kabupaten/kota. Kementerian PAN dan RB. telah dilakukan kegiatan Sosialisasi Grand Design dan Road Map Reformasi Birokrasi pada K/L dan Pemda. Instrumen penjaminan kualitas dimaksud sudah diujicobakan di lima instansi pemerintah. yaitu pelaksanaan sosialisasi untuk kementerian/lembaga dan sosialisasi untuk pemerintah provinsi. Kementerian Keuangan (Ditjen Bea dan Cukai) dan BPK.

dan K/L yang bersangkutan. 4) Penyampaian dokumen usulan harus dilengkapi dengan Berita Acara validasi peringkat jabatan (job grading) yang ditanda-tangani oleh Kementerian PAN dan RB. 5) Hasil penilaian akan disampaikan kepada Komite Pengarah Reformasi Birokrasi Nasional untuk proses penetapan lebih lanjut. Sosialisasi diikuti oleh 200 orang peserta dari seluruh provinsi. yaitu: 1) Pejabat Pemerintah Provinsi sebanyak 165 orang peserta dari 33 provinsi. yang terdiri dari: (a) Sekretaris Daerah (b) Inspektur Povinsi (c) Kepala BAPPEDA Provinsi (d) Kepala BKD Provinsi (e) Kepala Biro Organsiasi Setda Provinsi 2) Pejabat pemerintah pusat sebanyak 35 orang yang terdiri dari: (a) Anggota Tim Independen (b) Anggita Tim Quality Assurance (c) Anggota UPRBN Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah Untuk memenuhi target “Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah” telah dilakukan kegiatan workshop dan kegiatan capacity building lainnya dalam rangka mempercepat proses pelaksanaan reformasi birokrasi. 2) K/L yang sudah menerima tunjangan kinerja akan segera dilakukan monitoring dan evaluasi terhadap pelaksanaan reformasi birokrasi. 3) Dokumen usulan yang diajukan akan segera dinilai oleh UPRBN dan dilanjutkan dengan verifikasi lapangan. Beberapa workshop yang dilakukan adalah sebagai berikut : 68 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Learning dan Capacity Building dilakukan melalui asistensi/workshop (lokakarya) atau seminar yang diikuti oleh para peserta dari kementerian/lembaga. BKN.Dalam sosialisasi tersebut ditetapkan beberapa hal sebagai berikut: 1) K/L yang sudah dan belum mengajukan dokumen usulan agar menyesuaikan dan menyusun serta menyampaikan kembali dokumen usulan mengikuti kebijakan baru.

Sementara asistensi untuk pemda tidak dapat dilakukan.Workshop Workshop untuk Fasilator Sosialisasi kebijakan RB Workshop Pelaksanaan Reformasi Birokrasi Peserta UPRBN Seluruh K/L 48 K/L 192 peserta (masing-masing K/L mengirimkan 4 orang peserta) Seluruh provinsi Seluruh K/L 5 K/L Frekuensi penyelenggaraan 1 kali 1 kali 3 Angkatan Sosialisasi Pelaksanaan Reformasi Birokrasi untuk Pemerintah Provinsi Forum Knowledge Management Workshop Change Management 1 kali 1 kali 1 kali Jika dilihat dari sisi capaian K/L yang sudah memperoleh asistensi.Men. hanya terdapat beberapa K/L yang mengajukan usulan. Sasaran 6 : Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Akuntabilitas Kinerja (RUU. karena terdapat perubahan kebijakan KPRBN yang menyatakan bahwa pada tahun 2011 reformasi birokrasi lebih menekankan fokus pada instansi pemerintah pusat.PAN dan RB) Target Realisasi % 1 RUU 1 RUU 100 69 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . jumlah itu meningkat hingga 30 K/L. Ini berarti bahwa capaian untuk target ini sebesar 62%. maka belum dilakukan asistensi terhadap pemerintah daerah. Sehingga capaian untuk asistensi pemerintah daerah masih belum dapat ditentukan. Jika dilihat pada semester pertama. Per. workshop berhasil mendorong K/L untuk segera mengajukan usulannya. Namun demikian jika dilihat dari sisi percepatan reformasi birokrasi di K/L. maka dari 76 K/L yang ada baru 48 diantaranya yang sudah memperoleh asistensi. namun setelah dilakukan workshop.

Indikator Kinerja

Target 3 Per. Men. PAN dan RB

Realisasi 3 Per. Men. PAN dan RB 50,34 %

%

100

2) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan SAKIP sesuai aturan 3) Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik 4) Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) 5) Persentase LAKIP yang diterima

50 %

100,68

44 %

48,72 %

121,81

22 % (Pusat dan Daerah)

20,10 %

91,36

87 % (Pusat dan Daerah) 55 % (Pusat dan Daerah) 32 %

87,42 %

100,48

6) Persentase PK yang diterima

60,29 %

109,62

7) Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil

30,77 %

76,92

Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut :
Jumlah peraturan/kebijakan di bidang akuntabilitas kinerja

Perumusan dan penyusunan peraturan/kebijakan di bidang akuntabilitas kinerja dalam tahun 2011, telah dihasilkan 1 buah Per.Men.PAN dan RB, yaitu Per.Men.PAN dan RB Nomor 35 Tahun 2011 tanggal 25 Juli 2011 tentang Petunjuk Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2011, serta 2 buah Surat Edaran yaitu SE Nomor 03 Tahun 2011 tanggal 15 April 2011 tentang Pelaksanaan Evaluasi Akuntabilitas Kinerja Internal; dan SE Nomor 11 Tahun 2011 tanggal 23 November 2011 tentang Penyampaian Dokumen Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah Tahun 2011 dan Dokumen Penetapan Kinerja Tahun 2012.

70

Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Sejak diberlakukannya Inpres Nomor 7 Tahun 1999 dan selanjutnya diikuti dengan peraturan-peraturan lainnya yang dimaksudkan untuk mempercepat penerapan Sistem AKIP secara lebih konsisten, arah perkembangan sistem manajemen kinerja ini dirasakan masih kurang terfokus pada peraturan dan ketentuan yang ada. Berdasarkan hasil evaluasi dan bimbingan teknis yang dilakukan di beberapa instansi pemerintah, baik di instansi pemerintah pusat maupun daerah, SDM penanggung jawab dan pengelola Sistem AKIP mengalami kesulitan dalam menyusun perencanaan kinerja tahunan, menetapkan indikator yang baik, mengukur hasil-hasil yang diperolehnya, dan melaporkannya dalam LAKIP. Sebagai akibatnya, hampir sepanjang tahun instansi pemerintah tersebut masih memerlukan pembimbingan/asistensi dalam menyusun dokumendokumen manajemen kinerjanya. Materi yang menjadi bahan bimbingan penyusunan perencanaan kinerja tahunan, penetapan kinerja, dan pelaporan (LAKIP) selalu sama dari satu kegiatan pembimbingan ke kegiatan pembimbingan berikutnya. Sebagai akibatnya, penerapan Sistem AKIP seolah-olah hanya berjalan di tempat (stagnasi) dan tidak terlihat adanya peningkatan di instansi pemerintah. Dengan kondisi yang demikian, diputuskan pada tahun 2011 disusun kembali modul yang substansinya lebih mudah dan sederhana untuk dipahami dan diterapkan oleh instansi pemerintah dalam mengelola kinerjanya, yaitu Modul tentang Penerapan PK. Pada tahun 2011 ini, memang direncanakan baru sampai pada tahap penyempurnaan draft RUU Akuntabilitas Kinerja Penyelenggara Negara (AKPN) yang ada. Untuk tahapan berikutnya seperti harmonisasi RUU, terbitnya Amanat Presiden dan proses legislasi serta terbitnya UU AKPN baru akan dilaksanakan pada tahun-tahun berikutnya. Dengan demikian dalam tahun 2011 memang tidak direncanakan untuk menghasilkan outcome apapun tetapi hanya sampai output saja, yakni draft RUU AKPN yang disempurnakan. Penyempurnaan RUU Tentang AKPN memang harus dilakukan berkaitan dengan perkembangan yang ada dan saran yang diterima melalui proses focus group discussion (FGD) maupun semiloka di Daerah dan Pusat. Konsekuensi logis dari terbitnya Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan yang diundangkan tanggal 12 Agustus 2011, maka RUU tentang AKPN maupun Naskah Akademisnya mesti disesuaikan dengan ketentuan Undang-Undang dimaksud.

71

Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Proses penyempurnaan RUU tentang AKPN yang telah dilalui selama Tahun 2011 antara lain dengan telah terbentuknya Panitia Antarkementerian yang keanggotaannya terdiri atas unsur Kementerian dan LPNK yang terkait dengan substansi RUU, Kementerian PAN dan RB serta Kementerian Hukum dan HAM, focus group discussion kelompok kerja panitia antarkementerian sebanyak dua kali, Semiloka di Pontianak, Palangka Raya, dan Jakarta, penyempurnaan Naskah Akademis dan RUU tentang AKPN. Dengan demikian untuk Tahun Anggaran 2011, baru sampai penyempurnaan RUU Tentang AKPN yang mengakomodasikan masukan dan saran yang diperoleh selama Tahun 2011 dari focus group discussion dan Semiloka. Untuk Tahun 2012 diharapkan sudah memasuki proses harmonisasi, yang akan dikoordinasikan oleh Direktorat Harmonisasi pada Direktorat Jenderal Perundang-undangan, Kementerian Hukum dan HAM. Proses harmonisasi RUU tersebut diharapkan selesai dalam tahun 2012, agar segera dikirimkan ke Sekretariat Negara untuk mendapat persetujuan Presiden dalam bentuk Amanat Presiden. Faktor penyebab capaian kinerja yang belum memuaskan tersebut antara lain lamanya proses penyempurnaan naskah akademis RUU tentang AKPN. Semula penyempurnaan naskah akademis tersebut akan dilaksanakan melalui Swakelola yang dikerjasamakan dengan Perguruan Tinggi Negeri. Namun sesuai dengan kebijakan Kementerian PAN dan RB terkait dengan Peraturan Presiden Nomor 54 Tahun 2010 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, maka polanya diubah menjadi swakelola murni. Konsekuensinya adalah perlu dilakukan revisi anggaran, sehingga kegiatan penyempurnaaan naskah akademis tersebut menunggu selesainya revisi anggaran tersebut. Dengan terlambatnya penyempurnaan naskah akademis, maka proses selanjutnya, seperti harmonisasi dan Amanat Presiden terhadap RUU tersebut, juga menjadi terhambat dan baru akan dilaksanakan pada Tahun Anggaran 2012.

Persentase instansi pemerintah yang menerapkan SAKIP sesuai aturan

Efektivitas penerapan SAKIP dapat dilihat mulai dari segi formalitas, substansi maupun pemanfaatannya. Formalitas penerapan SAKIP dapat dilihat dari tingkat kepatuhan instansi pemerintah dalam menyampaikan dokumen-dokumen yang terkait dengan Sistem AKIP seperti dokumen Penetapan Kinerja dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) serta yang telah menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU).
72
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Sejak mulai diterbitkannya Inpres Nomor 7 Tahun 1999 dan selanjutnya diikuti dengan berbagai peraturan lain. efektivitas penerapan Sistem AKIP dapat dilihat dari seberapa banyak instansi pemerintah yang telah menerapkan Sistem AKIP yang baik. berdasarkan hasil evaluasi adalah sebanyak 50.62% 57% 30% 20% 67% 40% 24% 60% na na na 40% 41% 102% 45% 49% 109% 50% 50% 100% Jika dikaitkan dengan tujuan yang ditetapkan dalam rencana strategis yaitu “Terwujudnya Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang efektif”. sampai dengan saat ini masih banyak instansi pemerintah yang belum secara utuh menerapkan ketentuan-ketentuan tersebut diatas sebagaimana yang diharapkan. berdasarkan hasil 73 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . namun demikian perlu juga diakui bahwa apa yang telah dilakukan berada pada jalur yang benar (on the right track) dan perlu upaya yang sungguhsungguh untuk mewujudkan tujuan tersebut.68%. Mulai dari ketepatan waktu penyampaian dokumen-dokumen yang diwajibkan sampai kepada kualitas substansi penerapan Sistem AKIP. Dengan demikian. sesuai dengan kondisi yang ada. Saat ini. capaian kinerja indikator ini adalah sebesar 100. Efektivitas penerapan Sistem AKIP akan terlihat jika seluruh komponen sistem tersebut diterapkan atau dimanfaatkan. PERKEMBANGAN PENERAPAN SISTEM AKUNTABILITAS KINERJA INDIKATOR % IP yang menerapkan Sistem AKIP yang baik Target Realisasi % Capaian 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 15% 8. instansi pemerintah yang dikategorikan telah menerapkan Sistem AKIP yang baik adalah instansi yang berhasil dalam usaha-usaha penguatan akuntabilitas kinerja dilingkungannya seperti yang telah menyusun perencanaan kinerja yang baik. harus diakui bahwa capaian yang diperoleh belumlah memuaskan. melaporkan capaian kinerja secara tepat waktu serta telah melakukan evaluasi kinerja internal secara memadai.Dari segi substansi. Realisasi instansi pemerintah yang telah mampu menerapkan Inpres Nomor 7 Tahun 1999 dan Inpres Nomor 5 Tahun 2004. Tabel diatas juga menunjukkan masih perlunya upaya untuk meningkatkan konsistensi dalam penetapan indikator kinerja dan penjelasan yang logis terhadap penetapan target kinerja. baik dari segi formal maupun substansial. melakukan pengukuran kinerja secara memadai.34%.

instansi pemerintah bekerja berdasarkan perencanaan yang ukuran keberhasilannya kurang memadai. Dari rangkaian alur tersebut dapat disimpulkan bahwa instansi pemerintah yang akuntabel adalah instansi yang menunjukkan komitmen kuat untuk menghasilkan kinerja tertentu dengan ukuran keberhasilan yang 74 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Rencana tersebut diikuti dengan penyusunan anggaran yang dibutuhkan dalam rangka mewujudkan target kinerja yang dimaksud. Banyak instansi pemerintah yang mengklaim keberhasilannya semata-mata berdasarkan persentase (banyaknya) anggaran yang diserap atau banyaknya program dan kegiatan yang telah dilaksanakan.evaluasi. sebagian besar instansi pemerintah memperoleh hasil penilaian yang masih belum memuaskan. Saat ini pola pikir seperti itu harus segera diubah dan diarahkan agar instansi pemerintah mulai merencanakan hasil atau outcome yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan mengukur capaian serta melaporkannya kinerjanya secara periodik. Sikap akuntabel tersebut diwujudkan dalam menyusun rencana strategis yang memuat kondisi ideal yang ingin diwujudkan dalam jangka menengah dan tahunan. Dengan diterbitkannya Inpres tersebut. Kemudian dalam rangka memperkuat komitmen untuk berkinerja disusunlah semacam perjanjian kinerja yang menggambarkan kesepakatan atau kebulatan tekad untuk menghasilkan kinerja tertentu berdasarkan anggaran yang tersedia dan pada akhir periode melaporkannya dalam laporan kinerja atau LAKIP. instansi pemerintah didorong untuk lebih akuntabel dan lebih bertanggung jawab terhadap kinerja atau hasil yang telah dicapai. Akuntabilitas kinerja adalah suatu kondisi dimana instansi pemerintah telah merubah orientasinya dari yang biasanya berorientasi kepada anggaran (input) atau kegiatan (output) semata menjadi berorientasi kepada hasil atau outcome. Mereka merasa berhasil jika telah sukses menyerap anggaran lebih dari 95% atau pekerjaan fisik bangunan dan sarana prasarana selesai 100% tanpa mengaitkannya dengan manfaat yang (seharusnya) diperoleh atau dirasakan masyarakat atau stakeholdersnya. Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Sebagaimana diketahui penerapan manajemen kinerja di instansi pemerintah dilakukan secara bertahap dimulai sejak diterbitkannya Inpres 7 Tahun 1999 yang mewajibkan instansi pemerintah menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP). Sebelum diterapkannya SAKIP. menetapkan indikator (ukuran) keberhasilannya serta target kinerja yang akan dicapai.

perlu banyak sekali perbaikan & perubahan yang sangat 6. dan sangat akuntabel Akuntabel. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk manajemen kinerja. dan perlu sedikit perbaikan 3. reviu. berkinerja baik. Mereka tidak lagi merasa cukup dengan hanya berhasil menyerap anggaran atau telah melakukan kegiatan tertentu setiap tahunnya. memiliki sistem yang dapat digunakan untuk memproduksi informasi kinerja untuk pertanggung jawaban. dan perlu sedikit perbaikan. B >65-75 4. termasuk perubahan yang mendasar Kurang. perlu banyak perbaikan. C >30-50 Agak kurang. sebagian perubahan yang sangat mendasar. berbudaya kinerja. Akuntabilitas kinerjanya sudah baik. terdapat beberapa predikat penilaian akuntabilitas kinerja mulai dari yang paling rendah yaitu kategori D sampai dengan yang tertinggi yaitu kategori AA. CC >50-65 Cukup baik (memadai). Untuk mengetahui tingkat akuntabilitas instansi pemerintah terhadap kinerjanya. Akuntabilitas kinerjanya cukup baik.pantas. PREDIKAT AA NILAI ABSOLUT >85-100 INTERPRETASI Memuaskan KARAKTERISTIK AKUNTABILITAS INSTANSI Memimpin perubahan. Berdasarkan Peraturan MenPAN dan RB No 13 Tahun 2010. baik di tingkat Pusat maupun Daerah. taat kebijakan. perlu beberapa perbaikan tidak mendasar. 1. setiap tahun Kementerian PAN dan RB melakukan evaluasi atas akuntabilitas kinerja instansi pemerintah. Sistem dan tatanan kurang dapat diandalkan. berkinerja tinggi. konfirmasi dan wawancara selama proses evaluasi serta mereviu capaian kinerja instansi. memiliki sistem untuk manajemen kinerja tapi perlu banyak perbaikan minor dan perbaikan yang mendasar. A >75-85 Sangat Baik Baik. Pengelompokkan predikat tersebut dilakukan berdasarkan hasil penilaian yang direpresentasikan dengan nilai (score) tertentu yang diperoleh berdasarkan hasil penelitian. memiliki sistem manajemen kinerja yang andal. perlu banyak perbaikan. Sistem dan tatanan tidak dapat diandalkan untuk manajemen kinerja. pembuktian. D 0-30 75 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 2. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing predikat serta karakteristiknya: NO. perlu banyak perbaikan yang tidak mendasar 5.

92% 39 49.NO. 2.29% akuntabilitas kinerjanya dinilai baik. dari 82 instansi pusat yang dievaluasi.22% 74 100% 2009 0 0 7 9. telah memperoleh predikat “CC” ke atas.38% 39 52. Hasil evaluasi Tahun 2010. Sebanyak 23 instansi atau 31. Pada tahun 2011. 56 instansi atau 68. KATEGORI AA A B CC C D 2008 0 0 2 2. evaluasi implementasi Sistem AKIP dilakukan terhadap 74 instansi pemerintah pusat. 5. 3. 6. Perkembangan instansi pusat yang akuntabilitas kinerjanya baik.00% 82 100% Total Instansi Yang Dievaluasi Pada tahun 2008.70% 12 16. terdapat 48.08% akuntabilitas kinerjanya dinilai baik/akuntabel.18% 2 2.22% 26 31.21% 76 100% 2010 0 0 11 13.07% 42 51. 4. Perkembangan hasil evaluasi instansi pusat (Kementerian/ Lembaga). PREDIKAT NILAI ABSOLUT INTERPRETASI mendasar KARAKTERISTIK AKUNTABILITAS INSTANSI Instansi pemerintah yang dinilai akuntabel atau yang akuntabilitas kinerjanya baik adalah instansi yang berdasarkan hasil evaluasi Kementerian PAN dan RB memperoleh predikat minimal “CC” atau “Cukup Baik”.42% 7 9.53% 79 100% 2011 0 0 14 17.70% 21 28.16% 33 43. Kemudian tahun 2009 instansi pusat yang akuntabilitas kinerjanya baik meningkat menjadi 36 instansi atau 47.72% instansi pemerintah yang dievaluasi.29% dari 79 instansi.36% dari 76 instansi dan pada tahun 2010 naik lagi menjadi 50 instansi atau 63.21% 29 38. sebagaimana tabel berikut : PERKEMBANGAN HASIL EVALUASI ATAS AKUNTABILITAS KINERJA KEMENTERIAN/LEMBAGA NO.71% 0 0. dapat dilihat pada grafik berikut: 76 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .37% 27 34. 1. Untuk Tahun 2010 Kedeputian Pengawasan dan Akuntabilitas menargetkan 44% instansi pemerintah yang dievaluasi oleh Kementerian PAN dan RB meraih predikat minimal “CC”.

22% 27 100% 2010 0 0 0 9 31. yakni a menjadi 9 instansi atau 31.33% 0 30 100% Total Instansi Yang Dievaluasi Pada tahun 2008.76% dari 27 pemerintah provinsi yang dievaluasi. yaitu menjadi 17 instansi atau 56. 2.33% 27 100% 2009 0 0 0 1 3. Pada tahun 2011 kenaikannya kembali signifikan.07% 6 22.67% 9 33.90% 29 100% 2011 0 0 1 3. evaluasi implementasi Sistem AKIP dilakukan terhadap 27 pemerintah provinsi.33% 16 53. dapat dilihat sebagaimana tabel berikut : PERKEMBANGAN HASIL EVALUASI ATAS AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH PROVINSI NO.07% 2 6.03% dari 29 pemerintah provinsi yang dievaluasi.Perkembangan hasil evaluasi pemerintah provinsi. KATEGORI AA A B CC C D 2008 0 0 0 0 18 66. namun dari 27 pemerintah provinsi masih belum ada yang mencapai akuntabilitas kinerjanya baik. Sedangkan pada tahun 2010 terjadi kenaikan yang cukup berarti.33% 13 43. Kemudian pada tahun 2009 pemerintah provinsi yang akuntabilitas kinerjanya baik baru mencapai 1 instansi atau 3. Perkembangan pemerintah provinsi yang akuntabilitas kinerjanya baik.70% 20 74. 5. 6.03% 18 62.67% dari 30 pemerintah provinsi yang dieva dievaluasi. 3. 1. 4. dapat dilihat pada grafik berikut: 77 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 201 2011 .

77% dari 57 pemerintah kabupaten/kota yang dievaluasi. Pada tahun 2011.Perkembangan hasil evaluasi pemerintah kabupaten/kota. naik menjadi 5 instansi atau 8.15% 27 45. 3. 7 instansi atau 21. 5. Perkembangan pemerintah kabupaten/kota yang akuntabilitas kinerjanya baik. dapat dilihat sebagaimana tabel berikut: PERKEMBANGAN HASIL EVALUASI ATAS AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH KABUPATEN/KOTA NO.18% 20 60. Pada tahun 2009 pemerintah kabupaten/kota yang akuntabilitas kinerjanya baik mencapai 3 instansi atau 5. 2.75% 4 7.76% 59 100% 2010 0 0 1 1.03% 6 18.18% 33 100% Total Instansi Yang Dievaluasi Pada tahun 2009.08% 29 49. 4. Sedangkan pada tahun 2010 pemerintah kabupaten/kota yang akuntabilitas kinerjanya baik. evaluasi terhadap implementasi sistem AKIP di perluas pada pemerintah Kabupaten/Kota.21% akuntabilitas kinerjanya baik. 6.70% 6 10. KATEGORI AA A B CC C D 2009 0 0 0 3 5. dari 33 pemerintah kabupaten/kota yang dari dievaluasi. dapat dilihat pada grafik berikut: 78 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 201 2011 .08% dari 59 pemerintah kabupaten/kota yang dievaluasi.61% 6 18.53% 57 100% 2011 0 0 1 3. 1.02% 46 80.

57% 33 7.76% 60.87% 20.36%.88% 612 2011 Menyusun 49 20 54 123 % 59. Perhatian yang terlampau indikator-indikator berlebihan pada indikator kegiatan menyebabkan instansi pemerintah kurang berfokus pada keberhasilan organisasi.24% 497 15. tentang Pedoman Umum Penetapan Indikator Kinerja Utama di Lingkungan Instansi Pemerintah. setiap instansi pemerintah diwajibkan untuk menyusun IKU. sehingga capaian kinerja yang diperoleh indikator ini adalah sebesar 91. Indikator Kinerja Utama (IKU) adalah seperangkat indikator yang menggambarkan keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran sasaran-sasaran strategisnya. INSTANSI PEMERINTAH YANG MENYUSUN IKU Populasi 81 33 497 611 2010 Menyusun 42 19 36 97 % Populasi 51. PERKEMBANGAN PENYUSUNAN IKU INDIKATOR % IP yang menyusun IKU Target Realisasi % Capaian 2010 20% 15% 75% 2011 22% 20% 91% Realisasi instansi pemerintah yang menyusun IKU selama tahun 201 2011 adalah sebesar 20.85% 82 57.10%. Dengan diterbitkannya Peraturan MenPAN Nomor 09/M.Persentase instansi pemerintah yang menyusun IKU Perkembangan penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja yang mengarah kepada manajemen kinerja masih dipengaruhi oleh orientasi kegiatan dengan indikator indikator kegiatan.PAN/5/2007.10% Instansi Pusat Provinsi Kab/Kota Jumlah 79 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 201 2011 .61% 10.

tengah dan timur. Pemerintah Daerah yang berdasarkan hasil evaluasi. antara lain: Pemerataan wilayah barat. mencapai 80% dari 15 Provinsi Kabupaten/Kota yang ditetapkan. Pemerintah Kabupaten Belitung Barat. Pemerintah Kabupaten Muara Enim. Pemilihan regional ataupun provinsi sebagai tempat penyelenggaraan diseminasi akan ditentukan kemudian berdasarkan beberapa kriteria. Peserta yang diundang adalah pejabat/pegawai Pemerintah Daerah yang menangani/bertanggung Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 80 . Pemerintah Provinsi Papua. Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Pelaksanaan diseminasi SDM Pelaksanaan diseminasi di Bidang Akuntabilitas Kinerja untuk Instansi Pemerintah Daerah dan diseminasi Evaluator Akuntabilitas Kinerja untuk Instansi Pemerintah Daerah. Pemerintah Kabupaten Sumba Timur. b. yaitu: Pemerintah Kabupaten Belitung Timur. penerapan Sistem AKIP-nya masih kurang baik.Dari tabel terlihat bahwa belum seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah menaati ketentuan tentang penyusunan IKU. Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara. tengah dan timur. Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. serta Kesediaan Pemerintah Daerah yang bersangkutan untuk menjadi mitra penyelenggaraan diseminasi. antara lain: Pemerataan wilayah barat. kegiatan-kegiatan yang dilakukan telah selama tahun 2011 adalah : a. Pemerintah Provinsi Papua Barat. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat. Untuk mencapai sasaran ini. Pemilihan Pemerintah Daerah yang akan diberikan sosialisasi dan bimbingan teknis penerapan akuntabilitas kinerja ditentukan berdasarkan beberapa kriteria. Jumlah Daerah yang diberikan Sosialisasi penerapan SAKIP dan capaian terhadap output jumlah sosialisasi yang dilakukan di pemerintah daerah sampai 31 Desember 2011. Pemerintah Kabupaten Kupang. termasuk Pemerintah Daerah yang memerlukan bimbingan teknis. Bimbingan teknis penerapan akuntabilitas kinerja Bimbingan teknis direncanakan dilaksanakan pada 15 (lima belas) Pemerintah Provinsi/Kabupaten/Kota. seperti Kabupaten/Kota yang baru terbentuk sebagai hasil pemekaran wilayah. Hal ini mengindikasikan belum efektifnya pengukuran atas pencapaian kinerja instansi pemerintah. dilaksanakan selama 2 (dua) hari pada 3 (tiga) regional/provinsi dengan jumlah peserta sebanyak 60 orang untuk setiap kali penyelenggaraan diseminasi.

42% 90% 87. Persentase LAKIP yang diterima LAKIP merupakan produk dari proses perencanaan kinerja.jawab dalam penerapan Sistem AKIP di instansi masing-masing. Hal ini menunjukkan terdapat kecenderungan adanya peningkatan ketaatan dalam penyampaian LAKIP.03% 96.46% 97. mencapai 100% dari 3 daerah regional yang ditetapkan.27% 91. Demikian pula halnya dalam ketepatan waktu penyampaian LAKIP. PERKEMBANGAN PENYAMPAIAN LAKIP INDIKATOR % IP yang menyampaikan LAKIP Target Realisasi % Capaian 90% 74.82% 90% 82. Oleh karena itu. 81 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .17% 82.07% 100. setiap instansi pemerintah yang menyusun perencanaan kinerja dan selanjutnya melaksanakan rencana-rencana kinerjanya tersebut (yang berarti menggunakan sumber-sumber daya untuk melaksanakannya) wajib untuk mempertanggung-jawabkan hasilnya. pengukuran kinerja. Pelaksanaan diseminasi di Bidang Akuntabilitas Kinerja untuk Instansi Pemerintah Pusat dan diseminasi Evaluator Akuntabilitas Kinerja untuk Instansi Pemerintah Pusat dilaksanakan pada tanggal 22 s. dan pertanggungjawaban kinerja dalam Sistem AKIP. baik berupa keberhasilan maupun kegagalan.48% 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 Realisasi instansi pemerintah yang menyerahkan LAKIP-nya selama tahun 2010 adalah sebesar 87. sehingga capaian kinerja yang diperoleh indikator ini adalah sebesar 100.d 23 November 2011 di Hotel Ambhara Jakarta dengan jumlah peserta 160 orang. Materi diseminasi ditekankan pada praktik penerapan Sistem AKIP yang mengacu pada Peraturan Presiden tentang Sistem AKIP yang baru. terdapat kecenderungan adanya peningkatan kesadaran instansi pemerintah untuk menyampaikan LAKIP secara tepat waktu.70% 90% 86.41% 90% 87. Realisasi kegiatan diseminasi SAKIP dan Evaluasi AKIP sampai 31 Desember 2011.24% 95. Pemilihan kementerian/lembaga yang mengikuti diseminasi yaitu berdasarkan hasil evaluasi Sistem AKIP kementerian/lembaga tahun 2010 yang nilai akuntabilitas kinerjanya masih belum baik.42% 100. yaitu di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.08% 87% 87. dan Provinsi Papua Barat.48%.42%. Provinsi Nusa Tenggara Barat.17% 87% 87.

17% dari jumlah populasi 582 IP. Dengan adanya kebijakan tersebut.5 bulan sejak tahun anggaran berakhir.INSTANSI PEMERINTAH YANG MENYAMPAIKAN LAKIP 2007 2008 2009 2010 P M % P M % P M % P M % 72 70 97% 76 75 99% 77 76 99% 81 79 98% 33 31 94% 33 29 86% 33 30 91% 33 31 94% P 82 33 2011 M % 81 99% 32 97% 85% 87% Instansi Pusat Provinsi Kab/Kota 440 369 84% 472 363 77% 472 403 85% 497 422 85% 497 422 Jumlah 545 217 86% 581 467 80% 582 509 87% 611 532 87% 612 535 *) P= populasi. telah menaati ketentuan batas waktu penyampaian LAKIP. yaitu selambat-lambatnya tanggal 31 Maret. yaitu berupa hasil atau manfaat. Peraturan MenPAN dan RB terakhir meminta instansi pemerintah pusat untuk menyerahkan LAKIP selambat-lambatnya 2. Sedangkan pada tahun 2011 realisasi instansi pemerintah yang menyampaikan LAKIP secara tepat waktu adalah sebanyak 412 IP Pusat dan Daerah atau sebesar 67. Sedangkan pada tahun 2010 realisasi instansi pemerintah yang menyampaikan LAKIP secara tepat waktu adalah sebanyak 372 IP Pusat dan Daerah atau sebesar 60. Kewajiban untuk menyusun penetapan kinerja ini diatur dalam Inpres Nomor 5 Tahun 2004 butir ketiga dan selanjutnya ditindaklanjuti dengan SE MenPAN Nomor 31 Tahun 2004 dan terakhir telah diperbarui dengan Peraturan MENPAN dan RB Nomor 29 Tahun 2010. Batas waktu penyampaian PK paling lambat adalah tanggal 31 Maret setiap tahunnya. Persentase PK yang diterima Penetapan kinerja (PK) merupakan pernyataan janji instansi pemerintah untuk mencapai suatu kinerja tertentu dengan menggunakan indikator-indikator kinerja yang menggambarkan keberhasilan pencapaiannya. Indikator ini ditetapkan untuk mengukur ketaatan instansi pemerintah dalam menyampaikan LAKIP-nya secara tepat waktu sesuai ketentuan. terutama yang telah menerapkan Sistem AKIP secara baik.32% dari jumlah populasi IP Pusat dan Daerah yang wajib menyampaikan LAKIP yaitu 612 IP. indikator ini ditetapkan untuk menilai 82 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . M= menyampaikan Pada tahun 2009 realisasi instansi pemerintah yang menyampaikan LAKIP secara tepat waktu adalah sebanyak 292 IP Pusat dan Daerah dengan capaian 50. Dalam ketentuan tersebut diatur bahwa penetapan kinerja dibuat secara berjenjang mulai dari tingkat eselon II atau SKPD sampai ke pimpinan instansi atau kepala daerah.88% dari jumlah populasi IP Pusat dan Daerah yang wajib menyampaikan LAKIP yaitu 611 IP. Hal ini menunjukkan bahwa semakin banyak instansi pemerintah.

M= menyampaikan Dibandingkan dengan populasi instansi pemerintah yang harus menyerahkan PK. Dengan realisasi persentase instansi pemerintah yang menyampaikan PK sebesar 60.35% 60% 47.72% 50% 41. 33 pemerintah provinsi dan 497 pemerintah kabupaten/kota.36% 42.17% 82. maka capaian kinerja dari indikator ini adalah sebesar 109%. PERKEMBANGAN PENYAMPAIAN PENETAPAN KINERJA INDIKATOR % IP yang menyampaikan Penetapan Kinerja Target Realisasi % Capaian 50% 21. KPK dan Kementerian PAN dan RB telah 83 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .29%. INSTANSI PEMERINTAH YANG MENYAMPAIKAN PENETAPAN KINERJA P 72 33 440 Jumlah 2007 M % 38 58% 22 157 67% 36% 40% P 76 33 472 581 2008 2009 M % P M % P 36 47% 77 54 70% 81 20 152 61% 33 20 61% 33 2010 M % 54 67% 24 73% P 82 33 2011 M % 64 78% 22 67% Instansi Pusat Provinsi Kab/Kota 32% 472 201 43% 497 266 54% 497 283 60% 545 217 208 36% 582 275 47% 611 344 56% 612 369 60% *) P= populasi. yang terdiri dari 82 instansi pusat.25% 78.18% 74. Persentase instansi peserta model island of integrity yang berhasil Penerapan prinsip kepemerintahan yang baik saat ini merupakan kebutuhan nyata yang harus direalisasikan dalam upaya meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap kinerja instansi pemerintah.18% Sampai dengan tahun 2011.28% 50% 37.11% dalam 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 55% 60. Pelaksanaan island of integrity merupakan program pencegahan korupsi dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bekerja sama dengan Kementerian PAN dan RB.29% 109. Hal ini mengindikasikan belum efektifnya pengendalian atas pelaksanaan rencana-rencana instansi pemerintah.75% 45% 56.37% 67.30% 125. belum seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah menaati ketentuan tentang penyampaian PK.keefektifan pencapaian sasaran-sasaran instansi pemerintah memberikan hasil dan manfaat terutama bagi masyarakat.33% 60% 40. jumlah instansi pemerintah yang wajib menyampaikan PK adalah sebanyak 612 instansi.

Pemprov Kaltim. Island of Integrity adalah suatu pemerintah daerah/wilayah yang telah mengembangkan sistem penyelenggaraan negara dan pembangunan yang mengindahkan prinsip-prinsip ”good governance” dalam rangka mewujudkan suatu pemerintahan yang bersih dan bebas dari KKN sehingga dapat dijadikan model atau percontohan bagi pemerintah daerah lainnya. Pemkot. Pemkab Donggala.merencanakan untuk membentuk model-model Island of Integrity pada pemerintahan provinsi/kabupaten/kota dalam upaya pencegahan korupsi yang komprehensif dan terpadu. Pemkot Kupang dan 6 Pemkab/Kota di Kalimantan Timur. Pemkot Balikpapan. Pemkab Kuningan. Pemkab Bandung Barat. jadual dan penanggungjawabnya. Pemkot Sukabumi. Tana Tidung. Selanjutnya disusunlah rencana aksi yang memuat langkah-langkah kongkrit yang harus dilakukan. 3. kolusi. menerapkan prinsip kepemerintahan yang baik dan meningkatnya pelayanan kepada publik. Dalam tahun 2011. ditargetkan sebanyak 32% peserta model island of integrity dinilai dengan katagori baik atau berhasil. Suatu pemerintah daerah peserta kesepakatan bersama dapat dikatagorikan berhasil dalam pelaksanaan kesepakatan bersama ini jika dari hasil evaluasi menunjukkan pencapaian angka rata-rata minimal C atau di atas 50. Pemkot Denpasar. Pemkab Kutai Timur. 1. Pencanangan sebagai wilayah island of integrity tersebut dilakukan dengan penandatanganan kesepakatan bersama dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik sebagai upaya pencegahan korupsi. Pemkab Sukabumi. Samarinda. Pemkab PPU. dan nepotisme di beberapa propinsi dan kabupaten/kota. Setiap periode tertentu Kementerian PAN dan RB melakukan evaluasi atas kemajuan target-target yang telah disusun. 50 – 75 7 84 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Nilai Capaian Rata-rata Tidak dievaluasi <25 25 – 50 Jumlah Pemda Keterangan Pemerintah Daerah yang masuk dalam kesepakatan namun tidak dievaluasi adalah Pemprov Sulawesi Tengah. Pemkot Bandung. Pemkot Makassar. 1 7 4. Pemprov Bali. Pemkot Bontang. Pemkab. 10 2. target. Model daerah percontohan ini diharapkan dapat mendorong terwujudnya daerah-daerah yang memiliki komitmen dan integritas dalam mencegah dan menurunkan tingkat korupsi. Pemprov Jabar. Dari hasil evaluasi menunjukkan hasil sebagai berikut : No.

Jika telah dilakukan evaluasi terhadap pelaksanaan standar pelayanan. Jika dibandingkan pada tiga tahun terakhir. Jika semakin banyak unit pelayanan yang berstandar. Dari hasil tersebut tampak bahwa hanya 8 dari 26 entitas atau 30. 5. Peningkatan kualitas Pelayanan Publik Sebaran unit pelayanan yang berstandar Pelaksanaan evaluasi pelayanan Kualitas pelayanan Perencanaan kinerja Penganggaran berbasis kinerja Pelaporan kinerja Monitoring dan evaluasi kinerja Pencatatan keuangan Kriteria Penilaian Jika setiap rincian pelayanan telah diberikan sesuai dengan standar yang ditetapkan sebelumnya. Selanjutnya setiap aspek ini akan dibagi kedalam beberapa sub aspek yang relevan serta setiap sub aspek tersebut ditetapkan kriteria penilaiannya sebagai berikut : No. Aspek Sub Aspek Penerapan standar pelayanan 1. keberhasilannya dapat digambarkan sebagai berikut : Tahun 2011 2010 2009 Pemda Yang Mengikat Kerjasama 26 90 107 Pemda Yang Berhasil 8 42 31 maka tingkat Tingkat Keberhasilan 30.77 46.2 Evaluasi dilakukan terhadap keseluruh materi kesepakatan yang ditetapkan sebagai aspek evaluasi. Jika dikaitkan dengan target pencapaian di tahun 2011 ini. Berdasarkan hasil survei IKM Berdasarkan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja yang dilakukan MenPAN dan BPKP Opini BPK 2. Penerapan manajemen kinerja 85 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . maka tingkat keberhasilannya hanya sebesar 75%. Nilai Capaian Rata-rata 75 – 100 Jumlah Jumlah Pemda 1 26 Keterangan Pemerintah Kota Yogyakarta.No.77% pemerintah daerah yang telah mengikat kesepakatan bersama dengan Kementerian PAN dan RB telah berhasil menerapkan tata pemerintahan yang baik sesuai dengan kesepakatan bersama tersebut.67 29.

Peran serta pimpinan Keteladanan Pemberian informasi Kriteria Penilaian Jika telah dilakukan penilaian kinerja individu berdasarkan kinerja organisasi. Tingkat kesesuaian organisasi dengan RPJMD Jika telah menunjukkan efisiensi pelaksanaan kerja dan prosedur. diklat hingga pensiun. Jika telah menunjukkan efisiensi efektivitas organisasi. Telah terdapat berbagai upaya dan inovasi dalam rangka pencegahan korupsi. pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan kesepakaan bersama ini. Aspek Sub Aspek Penilaian kinerja individu Evaluasi kelembagaan Kesesuaian organisasi dengan RPJMD Evaluasi SOP 3. Telah terdapat berbagai publikasi tentang hal-hal yang telah dilaksanakan Pemda. Jika telah terdapat berbagai kebijakan yang mendukung pelaksanaan tata pemerintahan yang baik. Hasil IPK Jika telah dilakukan mekanisme dan penanganan pengaduan masyarakat.No. Keterlibatan 5. Jika semakin banyak pejabat yang menyampaikan LHKPN Pelaksanaan berbagai upaya kampanye anti korupsi. Pimpinan pada berbagai tingkatan terlibat dalam perencanaan. penempatan. 86 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Jika telah terdapat pengelolaan SDM aparatur yang memadai mulai dari rekrut. standar kompetensi jabatan. Pimpinan secara nyata telah memberikan contoh baik dalam perbuatan maupun kebijakan yang dihasilkan. Telah dilakukan penerapan Perpres 54/2010 serta telah terlihat kehematannya. Peningkatan kapasitas organisasi Penerapan pengendalian internal Manajemen SDM Penyampaian LHKPN Pelaksanaan program anti korupsi Mekanisme pencegahan korupsi Inovasi dalam pencegahan korupsi Pengadaan barang dan jasa IPK Penanganan pengaduan masyarakat Kebijakan yang mendukung 4. Jika telah tercermin adanya pengendalian internal pada berbagai SOP yang ada.

penyusunan pedoman dan sebagainya. Jika setelah kesepakatan ditandatangani telah dilakukan berbagai upaya perbaikan seperti penyusunan kebijakan.75 1.50 0.Selanjutnya untuk setiap kriteria yang telah ditentukan tersebut akan dilakukan penilaian ketercapaiannya.25 0. 87 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . D dan E dengan kriteria sebagai berikut: Predikat Penilaian E D C B A Nilai 0 0. Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kementerian PAN dan RB melalui Deputi Bidang Pengawasan dan Akuntabilitas Aparatur telah merencanakan untuk tetap mengawal pelaksanaan penerapan kepemerintahan yang baik pada pemerintah daerah yang memiliki kepala daerah yang berkomitmen tinggi untuk melakukan perubahan dan mewujudkan kepemerintahan yang baik di wilayahnya. evaluasi. Dengan pemikiran tersebut dan sesuai dengan isi kesepakatan yang telah ditandatangani oleh pemerintah daerah yang menjadi wilayah percontohan maka Komisi Pemberantasan Korupsi dan Kementerian PAN dan RB akan membentuk tim terpadu di tingkat pusat untuk membangun zona integritas (wilayah berintegritas) dalam rangka mewujudkan kepemerintahan yang baik pada pemerintah daerah. B. Untuk menyederhanakan penilaian. maka akan digunakan predikat A. Jika perbaikan tersebut telah memberikan manfaat berupa perbaikan pelayanan atau outcome seperti yang diharapkan. Jika perbaikan tersebut juga menggambarkan inovasi serta memberikan hasil melebihi yang diharapkan. Maksud dibentuknya tim terpadu tersebut adalah untuk lebih mengoptimalkan fungsi supervisi dan pemantauan dalam pelaksanaan penerapan kepemerintahan yang baik dan sekaligus memberikan bantuan teknis dan pelatihan terhadap pelaksanaan kesepakatan bersama yang telah ditandatangani. C. Untuk masa depan. Jika upaya tersebut telah ditindaklanjuti dengan hasil nyata berupa perbaikan sistem.00 Kondisi Jika setelah kesepakatan ditandatangani relatif tidak terdapat upaya perbaikan yang signifikan.

Sasaran Strategis 7: Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi, efisien dan efektif

Pencapaian target kinerja atas sasaran ini adalah sebagai berikut : Indikator Kinerja 1) Jumlah peraturan/kebijakan di bidang Pengawasan (RUU, Per. Men. PAN dan RB) Target Realisasi 1 Draft RUU 2 Draft Per.Men. PAN-RB 62,55 % %

1 RUU 2 Per. Men. PAN dan RB

95

98

2) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan 3) Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah 4) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman

50 %

125,30

65 %

81 %

124,61

65 %

51,88 %

79,81

Analisis atas capaian indikator-indikator kinerja sasaran ini adalah sebagai berikut:
Jumlah peraturan/kebijakan di bidang pengawasan

Dalam tahun 2011, telah disusun 2 (dua) peraturan di bidang pengawasan yaitu satu PerMenPAN dan RB tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyusunan Ikhtisar LHP APIP Nomor 42 Tahun 2011. Peraturan tersebut telah ditandatangani dan diterbitkan per tanggal 29 September 2011, sehingga capaian kinerja untuk penyusunan peraturan ini adalah 100%. Peraturan ini disusun dalam rangka mewujudkan koordinasi pengawasan APIP sehingga dapat diperoleh gambaran tentang kinerja APIP secara
88
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

nasional. Dengan demikian, akan mendukung pencapaian outcome yaitu meningkatnya efisiensi dan efektivitas pengawasan intern pemerintah. Peraturan ini disusun melalui kegiatan seminar sebanyak dua kali di Banten dan Palembang serta beberapa kali konsinyasi dengan melibatkan beberapa APIP kementerian/ lembaga dengan realisasi anggaran sebesar Rp. 307.142.200,- atau 85,36%. Peraturan yang kedua adalah tentang Pedoman Telaah Sejawat Hasil Audit APIP yang posisinya telah mencapai 95% yaitu setelah melalui proses/kegiatan seminar dan FGD dalam rangka mendapatkan masukan dari beberapa inspektorat/badan pengawas, baik dari kementerian/lembaga maupun pemerintah daerah. Sampai dengan akhir tahun 2011, draft Peraturan Menteri tentang Pedoman Telaah Sejawat tersebut sedang dalam proses pengusulan harmonisasi di tingkat Eselon I Kementerian PAN dan RB. Sampai dengan akhir tahun 2011, draft RUU tentang Pengendalian Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan (RUU-PPAP) telah mencapai target 95%. Capaian ini diukur berdasarkan proses penyusunan RUU dimaksud hampir selesai, yaitu setelah melalui tahapan 2 kali uji publik dan 2 kali FGD di tahun 2011, baik di lingkungan instansi pemerintah pusat maupun instansi daerah. Kegiatan semiloka uji publik dilaksanakan di Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur, dan di Provinsi Sumatera Selatan serta FGD sebanyak dua kali di Jakarta dan Bogor. Selanjutnya tahap akhir yang akan dilaksanakan dalam tahun 2012 adalah melaksanakan harmonisasi dan mendapatkan amanat presiden (ampres).

Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan

Secara ringkas, peran Kementerian PAN dan RB dalam penerapan Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) adalah sebagai perumus kebijakan yang mendorong diterapkannya SPIP oleh instansi pemerintah, baik secara mandiri maupun peningkatan peran APIP sebagai evaluator SPIP pada seluruh instansi pemerintah secara konsisten dan berkelanjutan. Oleh karenanya, kegiatan pemantauan dan evaluasi pelaksanaan SPIP serta melakukan koordinasi pelaksanaan SPIP dengan pihak yang terkait dengan pembinaan dan penerapan SPIP pada instansi pemerintah. Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan Sistem Pengendalian Intern (SPI) sesuai dengan ketentuan adalah sebesar 62,65% IP Pusat dan 8,94% IP Daerah sehingga capaian kinerjanya masing-masing adalah sebesar 125,30% IP Pusat dan 44,70% IP Daerah dari targetnya.
89
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Hasil evaluasi BPK atas implementasi SPI antara lain menunjukkan kondisi berikut ini: • Hasil evaluasi menunjukkan bahwa laporan keuangan K/L yang memperoleh opini WTP dan WDP pada umumnya pengendalian intern telah memadai. Sedangkan laporan keuangan K/L yang memperoleh opini TMP memerlukan perbaikan pengendalian intern dalam hal keandalan informasi yang disajikan dalam laporan keuangan. • Selain itu, hasil evaluasi dengan menggunakan unsur-unsur pengendalian tersebut menunjukkan adanya kelemahan unsur lingkungan pengendalian dan aktivitas pengendalian yang menimbulkan kasus-kasus kelemahan SPI yang dapat dikelompokkan sebagai berikut: o Kelemahan sistem pengendalian akuntansi dan pelaporan o Kelemahan sistem pengendalian pelaksanaan anggaran pendapatan dan belanja o Kelemahan struktur pengendalian intern Terkait dengan Sistem Pengawasan, secara garis besar, terdapat 2 (dua) jenis pengawasan yang diterapkan dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas pemerintahan dan mengurangi peluang terjadinya penyimpangan, yaitu: 1) Sistem Pengendalian Intern yang sebelumnya dikenal dengan Pengawasan Melekat yang semula diatur dengan Keputusan Menteri Negara PAN No. : KEP/46/M.PAN/4/2004 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pengawasan Melekat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan. Dengan terbitnya Peraturan Pemerintah No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP), maka SPIP telah ditata kembali mengikuti perkembangan. 2) Pengawasan Fungsional dengan koordinasi antar APIP (Aparat Pengawasan Intern Pemerintah) pada seluruh jenjang pemerintahan, mulai Inspektur Kabupaten/Kota dan Provinsi, Inspektorat Jenderal/Inspektur Kementerian, Inspektur Utama/Inspektur pada LPNK, dan BPKP sebagai pengawas fungsional bagi Presiden. Sebagaimana yang diamanatkan dalam Pasal 59 Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah, BPKP ditunjuk untuk melakukan pembinaan penyelenggaraan SPIP di setiap kementerian/lembaga maupun pemerintah provinsi/kabupaten/kota. Sampai dengan akhir tahun 2011, implementasi
90
Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011

Proses reviu belum dapat berjalan dengan baik sebab umumnya SDM APIP yang berfungsi sebagai evaluator belum memiliki pengetahuan mendasar mengenai konsepsi SPIP sesuai dengan PP No. Dalam pelaksanaan pengawasan intern oleh Pemerintah. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. terdapat Kelemahan menonjol sebagai berikut: • Kurangnya pemahaman sebagian besar pimpinan instansi dan staf terhadap SPIP secara keseluruhan berdampak pada tidak efektifnya sistem pengendalian intern di instansi. masih terdapat kendala yaitu belum sinkronnya pengaturan atas kewenangan pada masing-masing jenjang APIP.01/2009 tanggal 8 Mei 2009 tentang Pembentukan Tim Koordinasi Penyelenggaraan SPIP. Hal ini disebabkan masih dalam tahap sosialisasi oleh BPKP. Hal ini secara tegas tertuang dalam Pasal 59 ayat (2) bahwa pembinaan penyelenggaraan SPIP dilakukan oleh BPKP. Lahirnya PP Nomor 60 Tahun 2008 telah merubah peran pembinaan SPIP.atas SPI di lingkungan instansi pemerintah daerah masih tergolong rendah. Sehubungan dengan hal ini Kementerian PAN dan RB aktif dalam Tim Koordinasi Pembinaan Penyelenggaraan SPIP sebagaimana yang ditetapkan dalam Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor 175/KMK. Untuk mengatasi hal ini maka langkah yang ditempuh terkait dengan aspek pengawasan. • Dalam hal pengawasan fungsional. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Intern Pemerintah. Diharapkan dengan sosialisasi dan asistensi secara berkesinambungan yang dilakukan oleh BPKP sesuai dengan amanah pasal 59 Peraturan Pemerintah No. Namun demikian dalam konteks peran Kementerian PAN dan RB sebagai perumus kebijakan nasional di bidang pengawasan maka kegiatan pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan SPIP tetap harus berada di bawah kendali Kementerian PAN dan RB. kendala ini akan bisa diatasi. • SPIP sebagai bagian dari proses manajemen yang dinamis harus direviu secara berkesinambungan. sebagai berikut: 91 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Melalui Tim ini diharapkan akan diperoleh kesepahaman antara berbagai instansi mengenai posisi strategis Menteri PAN dan RB dalam melahirkan rumusan kebijakan pengawasan intern pemerintah untuk mempercepat penerapan SPIP.

mekanisme. ditanggapi 84. • Melakukan reformasi terhadap konsep dan implementasi Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) yaitu dengan diterbitkan Surat Edaran (SE) Menteri Kementerian PAN dan RB Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penerapan Sistem Pengendalian Intern di Lingkungan Instansi Pemerintah. Jumlah surat yang disalurkan selama tahun 2011 sebanyak 6909 surat. ditanggapi 81. 92 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . • Tahun 2009 surat 1221. disalurkan 310. ditanggapi 55. dan belum ditanggapi 229 surat. Dengan demikian capaian kinerja adalah 81% dari target yang ditentukan 65%. sedangkan surat penyaluran tahun-tahun sebelumnya sebanyak 6. Dilihat dari tren perkembangan penanganan pengaduan masyarakat yang dilakukan dalam tiga tahun terakhir adalah sebagai berikut: • Tahun 2008 surat 1183. sistem kelembagaan. • Tahun 2010 surat 1623. Kementerian PAN selaku perumus kebijakan telah membuat Surat Edaran Nomor 12 Tahun 2010 tentang Penerapan Sistem Pengendalian Intern di Lingkungan Instansi Pemerintah. dan belum ditanggapi 114 surat.637 surat. disalurkan 509. Oleh sebab itu. dan belum ditanggapi 252 surat. dan koordinasi pengawasan fungsional menuju tersusunnya Undang-undang Pengendalian Penyelenggaraan Administrasi Pemerintahan (PPAP). telah ditindaklanjuti pada periode yang sama 5. ditanggapi 109. disalurkan 207. Persentase laporan Dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Surat pengaduan masyarakat yang telah disalurkan oleh Kementerian PAN dan RB baik yang berkadar pengawasan maupun yang tidak berkadar pengawasan kepada instansi terlapor atau APIP dalam tahun 2011 sebanyak 310. Dari jumlah tersebut. prosedur. disalurkan 336.599.• Menata kembali dan menyempurnakan kebijakan. • Tahun 2011 surat 1030. Kondisi di atas menunjukkan bahwa masih diperlukan berbagai langkah oleh pemerintah untuk memperbaiki penerapan SPIP. dan belum ditanggapi 400 surat.

• Khusus Kementerian BUMN. karena pola penanganan pengaduan masyarakat di setiap instansi khususnya instansi pusat tersebar pada beberapa unit kerja sesuai dengan substansi pengaduannya. sehingga kesulitan untuk menindaklajuti pengaduan tersebut karena terlapornya sudah meninggal.Dari Hasil pelaksananan Kegiatan Pengembangan Kebijakan. khususnya untuk provinsi yang wilayahnya merupakan kepulauan yang sarana komunikasi dan transportasinya terbatas. • Pola penanganan pengaduan masyarakat belum efektif. • Lemahnya koordinasi antar pejabat yang menangani pengaduan masyarakat dengan Unit Teknis dari masing-masing Instansi. APIP tidak bisa melakukan pemeriksaan terhadap penyimpangan yang terjadi pada BUMN. sedangkan unit kerja yang khusus untuk mengkoordinasikan penanganan pengaduan masyarakat pada unit kerja tersebut belum ada. dan telah mutasi. 93 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . pensiun. • Kasus pengaduan sudah lama. • Terbatasnya SDM yang menangani pengaduan masyarakat baik kwalitas maupun kwantitas. Koordinasi dan Evaluasi Pengawasan Masyarakat dan Pemberantasan Korupsi Tahun 2011. Pemeriksaan terhadap kasus pengaduan harus dilakukan secara tuntas dan berisiko tinggi. terdapat beberapa permasalahan dalam pelaksanan kegiatan penanganan pengaduan masyarakat sebagai berikut: • Pengaduan masyarakat tidak semuanya ditangani oleh APIP tetapi ditangani oleh Unit Teknis atau SKPD. sedangkan hasil penanganan atas pengaduan masyarakat oleh Unit Teknis/SKPD tidak dilaporkan kepada APIP sehingga APIP tidak mengetahui perkembangan penanganannya. • Perubahan organisasi. hal ini akan mempengaruhi kewenangan dari masing-masing unit organisasi. • Ada keengganan dari APIP untuk melakukan pemeriksaan terhadap kasus pengaduan masyarakat dikarenakan pemeriksaan terhadap kasus pengaduan berbeda dengan pemeriksaan regular. • Hilangnya berkas pengaduan masyarakat karena pengarsipan yang kurang tertib. • Letak geografis. sehingga hal ini mempengaruhi terhadap ketepatan surat pengaduan masyarakat yang diterima maupun hasil tindaklanjut yang harus disampaikan kepada instansi terkait.

Dari permasalahan-permasalahan yang telah diperoleh dalam melakukan koordinasi maupun monitoring ke beberapa instansi pusat maupun daerah tersebut Kementerian PAN dan RB memberikan beberapa saran sebagai pemecahan masalah sebagai berikut: • APIP masing-masing instansi agar meningkatkan koordinasi yang baik dan berkesinambungan dengan Unit Teknis/SKPD sehingga pengaduan masyarakat dapat segera diselesaikan. • Setiap instansi agar mencari pola penanganan yang efektif. 94 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . • Terhadap kasus di Kementerian BUMN. a) Surat Pengaduan Masyarakat Surat pengaduan adalah surat yang disampaikan oleh pelapor (pengadu) kepada Kementerian PAN dan RB. Adapun jumlah surat masuk selama periode 1 Januari 2011 s. Surat Masuk Surat masuk yang perlu dilakukan penatausahaan dikelompokkan menjadi dua jenis yaitu surat pengaduan masyarakat dan surat tanggapan. Kementerian PAN dan RB merencanakan akan mengundang Kepala SPI pada masing . Setelah dilakukan análisis dan telaahan. • Terhadap pengaduan masyarakat yang dianggap bukan menjadi kewenangannya. agar tetap memonitor/memantau perkembangan penyelesaiannya.d. untuk menghindari hilangya berkas dan untuk mempermudah pencarian arsip surat.030 surat. Desember 2011 sebanyak 1.masing BUMN yang mempunyai tagihan pengaduan masyarakat. adalah sebagai berikut : 1. Hasil penatausahaan pengaduan masyarakat selama tahun 2011. sehingga kasus pengaduan dapat segera diselesaikan. berupa sumbang saran. maka instansi tersebut agar segera menyalurkan kembali kepada instansi yang mempunyai kewenangan dengan tembusan kepada Kementerian Negara dan Reformasi Birokrasi. • Penataan arsip yang baik. dari surat masuk tersebut dapat dibagi menjadi dua jenis surat yaitu: Surat berkadar pengawasan sebanyak 984 surat dan surat tidak berkadar pengawasan 46 surat. gagasan dan keluhan yang bersifat membangun. • Bagi instansi yang melimpahkan kasus pengaduan masyarakat ke instansi lain.

yang telah diterima oleh Kementerian PAN dan RB. sedangkan jumlah surat dumas yang telah ditindaklanjuti (tanggapan) yang masuk pada periode yang sama sebanyak 5. Jumlah surat yang disalurkan periode sebelumya sebanyak 6. Dengan demikian jumlah surat dumas yag telah disalurkan sampai dengan 31 Desember 2011 sebanyak 6.076 surat. Dari jumlah surat tanggapan yang masuk tersebut sebanyak 81 surat menanggapi surat penyaluran tahun 2011. b) Surat kepada Pelapor Hak masyarakat sebagai sosial kontrol terhadap penyelenggaraan pemerintah oleh aparatur adalah informasi mengenai perkembangan atas pengaduan masyarakat yang telah disampaikan. a) Surat Penyaluran Surat penyaluran adalah surat pengaduan masyarakat yang telah disalurkan oleh Kementerian PAN dan RB baik yang berkadar pengawasan maupun yang tidak berkadar pengawasan kepada instansi terlapor atau APIP. 2. Surat Keluar Surat keluar yang perlu dilakukan penatusahaan dikelompokan menjadi dua. setelah ditelaah dan dianalisis dapat disampaikan kepada pelapor.599 surat.599 + 310 = 6909. Adapun jumlah surat tanggapan yang telah diterima oleh Kementerian PAN dan RB dalam tahun 2011 sebanyak 1.637 surat (81%). sebanyak 310 surat dengan perincian sebagai bahan penelitian 298 surat dan sebagai bahan Informasi 12 surat. yaitu surat penyaluran dan surat kepada pelapor. Untuk memenuhi hak masyarakat tersebut maka Kementerian PAN dan RB maka hasil tindak lanjut pengaduan masyarakat (tanggapan surat) yang telah diterima oleh Kementerian PAN dan RB. sedangkan target yang ditetapkan pada awal tahun adalah 65%. Surat yang telah disalurkan dalam tahun 2011.b) Surat Tanggapan Surat tanggapan adalah hasil tindak lanjut pengaduan masyarakat. Surat tanggapan yang telah dilakukan penelaahan dan di entry kedalam sistem aplikasi TP 5000 dan di entri arsip elektronis. oleh Aparat Pengawasan Internal Pemerintah (APIP). Dalam tahun 2011 Kementerian PAN dan RB telah menyampaikan hasil tindak lanjut pengaduan masyarakat kepada pelapor sebanyak 66 surat. 95 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .

(1) Surat pengaduan masyarakat yang diterima oleh Kementerian PAN dan RB setelah dilakukan penelahan dan analisis. karena berdasarkan analisis: • • • • Sumbang saran atau keinginan pelapor yang secara normatif tidak sesuai dengan ketentuan Peraturan perundang-undangan yang berlaku dan pemerintah tidak mungkin memenuhinya. surat yang berkadar pengawasan sejumlah 984 surat dan surat yang tidak berkadar pengawasan sejumlah 46 surat. Surat pengaduan berupa pencabutan atas pengaduan yang telah disampaikan. Surat pengaduan telah ditindaklanjuti oleh instansi lain yang berwenang menangani. karena berdasarkan analisis: • Alamat tujuan surat sudah tepat. Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi hanya tembusan. (2) Surat pengaduan masyarakat Dimonitor. dengan adanya tembusan kepada Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi atas penanganan pengaduan tersebut. tidak seluruhnya disalurkan kepada instansi terkait. Sanggahan. Surat pengaduan masyarakat dengan status Tidak Diproses. sumbang saran. namun juga ada yang cukup dimonitor dan tidak diproses. Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi hanya tembusan. Hal ini untuk menghindari duplikasi pengaduan yang sama pada instansi yang berwenang menangani. himbauan pemberitahuan dan tujuan surat sudah tepat. surat yang dimonitor sebanyak 487 surat dan surat yang tidak diproses sebanyak 187 surat. 1. • • 96 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Dari 984 surat yang berkadar pengawasan. Hanya berupa masukan/saran. Dari jumlah surat masuk sebanyak 1030 surat. misalnya sanggahan atas pelaksanaan lelang dan tujuan surat sudah tepat kepada instansi pelaksana proses pelelangan tersebut. • Pengaduan dengan masalah yang sama pernah diterima oleh Kementerian Negara PAN dan Reformasi Birokrasi dan telah diproses.

• Tahun 2010 : target 60%. realisasi 51. Dari tren Pelaksanaan dan Pelaporan Instansi Pemerintah. realisasi 52. realisasi 43. Sulawesi Utara. Sedangkan untuk instansi Pemerintah Pusat Kementerian Hukum dan HAM.26% atau 95% dari target tahun yang bersangkutan. Sasaran Instansi Pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004 pada tahun 2011 adalah 65%. Banten.8% atau 79% dari sasaran yang ditetapkan. sedangkan target yang ditetapkan sebanyak 65%. Bogor. Sampai dengan akhir tahun 2011. Kegiatan ini dilaksanakan dengan melalui kegiatan Sosialisasi.Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman Pelaksanaan pemantauan (monitoring) terhadap laporan implementasi Inpres Nomor 5 Tahun 2004 dilakukan menggunakan format laporan sebagaimana diatur di dalam Pedoman Umum Kormonev. Kabupaten Malang.71% dari target tahun yang bersangkutan. • Tahun 2009 : target 55%. sedangkan realisasinya adalah 51. Bali. Dari data yang tercantum dalam tabel dapat dilihat bahan Laporan Kinerja Pelaksanaan dan Pelaporan Inpres nomor 5 tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi telah mendekati sasaran yang ditetapkan. telah melaporkan pelaksanaan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tersebut. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Sekretariat Kabinet. Sumenep. dapat dilihat bahwa dari tahun ke tahun terjadi peningkatan persentase Pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004 yaitu : • Tahun 2008 : target 50%. • Tahun 2011 : target 65%. jumlah instansi yang diwajibkan menyampaikan laporan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tercatat berjumlah 613 instansi.88%. atau 51. Sampai dengan 31 Desember 2011 sebanyak 318 instansi. realisasi 57. Maluku Utara. 97 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .38% atau 95.67% dari target tahun yang bersangkutan. Kepulauan Riau. Cianjur. dan Bimtek ke 13 Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Utara.33% atau 86. Bandung dan Kediri. Kementerian Keuangan.8% atau 79% dari target tahun yang bersangkutan.

• Adanya pertukaran formasi yang cukup cepat terutama ditingkat Kabupaten dan Kota. Upaya mewujudkan penyelenggaraan pemerintahan yang bersih dan bebas KKN telah menunjukkan hasil yang nyata. Instansi Pemerintah yang dinyatakan telah melaksanakan dan melaporkan Pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004 adalah Instansi Pemerintah yang sekurang-kurangnya menyampaikan satu kali laporan semester dalam satu tahun kepada Presiden melalui Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi. telah menunjukkan peningkatan dari 98 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Lembaga dan Sekretariat Lembaga Tinggi Negara dan Instansi Pemerintah Daerah yang terdiri atas Pemerintah Provinsi. • Kurangnya tenaga monitoring dan evaluasi Inpres nomor 5 tahun 2004 sehingga monitoring dan evaluasi lebih bersifat “desk monitoring and evaluation”. Kabupaten dan Kota. Dari catatan yang ada. • Adanya anggapan pada sebagian Instansi Pemerintah di pusat.Yang dimaksud dengan Instansi Pemerintah Pelaksana Inpres nomor 5 tahun 2004 adalah Instansi Pemerintah Pusat yang terdiri atas Kementerian. Hal ini dapat dilihat dari berbagai indikator. antara lain Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia yang diterbitkan Transparansi Internasional. terdapat 263 Instansi Pemerintah yang belum atau memenuhi dalam pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004. Hambatan yang dialami secara umum adalah : • Masih belum seluruh Pimpinan Instansi Pemerintah Daerah menunjukkan komitmen yang tinggi dalam Pemberantasan Korupsi. yang mengakibatkan sulitnya pelaksanaan monitoring dan evaluasi pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004. Kegiatan gelar monev apada hakekatnya adalah berupa sosialisasi dan bimbingan teknis pelaksanaan dan pelaporan Inpres Nomor 5 tahun 2004 terhadap Instansi Pemerintah yang belum sama sekali atau baru satu kali melaporkan pelaksanaan Inpres Nomor 5 Tahun 2004. sedangkan “field monitoring and evaluation” hanya dapat dilakukan secara sampling (tidak menyeluruh). Pelaksanaan gelar monev diharapkan dapat meningkatkan kepedulian Instansi Pemerintah dalam pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004. Langkah yang telah diambil terutama dalam rangka meningkatkan jumlah Instansi Pemerintah yang melaksanakan dan melaporkan pelaksanaan Inpres nomor 5 tahun 2004 adalah melaksanakan gelar monev pada tujuh lokasi. bahwa Inpres Nomor 5 Tahun 2004 tidak berlaku lagi dengan berakhirnya Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) I.

dari yang semula 1. Upaya penghapusan pungutan liar dalam pemberian pelayanan publik di bidang perijinan. perpajakan. proses pembayaran. Upaya peningkatan peringkat IPK Indonesia merupakan tanggung jawab kolektif seluruh komponen bangsa. sangat berpengaruh terhadap keberhasilan upaya ini.0 pada tahun 2011.tahun ke tahun. perpajakan. lembaga legislatif. pengadaan barang dan jasa. yang dapat dilihat dari semakin membaiknya opini BPK atas Laporan Keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL) dan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD). Upaya pemberantasan korupsi yang dilakukan secara bersama-sama dan komitmen yang tinggi dari semua pihak dan tidak hanya upaya yang dilakukan oleh para penegak hukum namun oleh seluruh pihak baik di instansi pemerintah dan swasta serta didukung oleh pengawasan secara eksternal dan internal dari instansi atau lembaga masing-masing termasuk sektor swasta. Kinerja Instansi-instansi teknis yang berurusan dengan pelayanan publik berpengaruh besar terhadap peningkatan peringkat IPK Indonesia. termasuk pelaksanaan upaya penegakan hukum dan penyelesaian kasus hukum. Secara nasional dapat diyakini bahwa pelaksanaan Inpres Nomor 5 Tahun 2004.5/2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi. dan pemantauan serta evaluasinya sesuai dengan Instruksi Presiden (Inpres) No. pengadaan barang dan jasa. penindakan. Adapun hasil evaluasi sementara terhadap diktum-diktum Inpres Nomor 5 Tahun 2004 adalah sebagai berikut : 99 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Kenaikan skor IPK Indonesia menunjukkan bahwa telah dilakukan upaya perbaikan dalam pemberian pelayanan publik di bidang perijinan. pemantauan. Peningkatan integritas birokrasi tersebut didukung oleh adanya upaya pencegahan korupsi yang dilakukan melalui kegiatan koordinasi. penanganan barang di pelabuhan di berbagai instansi pelayanan publik. lembaga yudikatif dan masyarakat diharapkan dapat menghasilkan peningkatan Indeks Persepsi Korupsi untuk tahun mendatang. pelaksanaan pengadaan barang dan jasa secara e-procurement dan peningkatan pelayanan publik selalu berperan dalam peningkatan IPK. Peningkatan integritas birokrasi ditunjukkan pula dari semakin meningkatnya akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. penanganan barang di pelabuhan. serta termin pembayaran proyek. dan evaluasi (Kormonev) atas pelaksanaan Rencana Aksi Nasional Pemberantasan Korupsi (RAN-PK) yang terdiri dari strategi pencegahan.7 pada tahun 1999 menjadi 3.

I & II : Pelaporan HKPN III : Penetapan kinerja IV : Pelayanan publik V : Program/ wilayah bebas korupsi VI : Pengadaan barang dan jasa VII : Penerapan kesederhanaan VIII : Dukungan kepada APH dalam penindakan korupsi IX : Kajian sistem timbulkan korupsi X : Peningkatan pengawasan Sosialisasi pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan Inpres Nomor 5 Tahun 2004 terus dilakukan dan jangkauannya semakin diperluas. target dan capaian • Pelaporan cenderung tidak jelas dalam memberikan uraian pelaksanaan atas kegiatan program diktum ini • Indikator “menurunnya % kegiatan PBJ tidak sesuai Keppres 80 / 2003”. • Mayoritas (> 50%) telah melaporkan indikator kinerja yang menjadi tolok ukur keberhasilan. serta “menurunnya kebocoran dan pemborosan” belum banyak dilaporkan. • Pelaporan diktum ini masih sangat jarang dilaporkan • Instansi yang melaporkan juga belum jelas indikator yang digunakan • Umumnya laporan hanya menyebutkan mengenai jumlah program pengawasan dalam rangka meniadakan perilaku koruptif • hasil evaluasi atas pelaksanaan program dan indikator penurunan perilaku koruptif tidak ada dalam laporan. selebihnya belum melaporkan. baik atas prakarsa Kementerian PAN dan RB maupun atas prakarsa dari Instansi 100 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . • Mayoritas (> 90%) telah melaporkan jumlah pejabat yang telah melakukan penetapan kinerja • Hasil evaluasi penetapan kinerja yg menggambarkan pencapaian hasil atau manfaat belum banyak dilaporkan.DIKTUM SIMPULAN • Hampir seluruh instansi melaporkan diktum I dan II ini • Mayoritas telah menetapkan SK wajib lapor LHKPN • Realisasi LHKPN 81% dilaporkan. • Indikator kinerja tentang hasil evaluasi diktum ini belum banyak dilaporkan. • Hanya beberapa instansi dan baru memulai program ini • Mayoritas belum melaporkan uraian indikator. seperti Standar Pelayanan Minimum • beberapa laporan menjelaskan indikator tersebut secara rinci • 18% Indikator kepuasan masyarakat dilaporkan meningkat. sehingga evaluasi untuk mengetahui efektivitas diktum ini sulit dilakukan. • Mayoritas sudah melakukan kegiatan program diktum ini dan melaporkan hasil kegiatannya dengan baik sekalipun terkadang belum ada kasus yang ditemukan seiring dengan berjalannya kegiatan program. tetapi belum membedakan Kewajiban Form A dan Form B • NHK belum banyak dilaporkan. tidak semata-mata kepada lingkungan eksekutif tetapi juga kepada beberapa kalangan di lingkungan legislatif dan masyarakat.

500.200.272.21%). 60.-) ..159. diperluas dengan bentuk talkshow.491.416.294. 8.000.704.586. Program Program Dukungan Manajemen dan Pelaksanaan Tugas Teknis Lainnya Kementerian PAN dan RB Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur Kementerian PAN dan RB Program Pendayagunaan Aparatur Negara Anggaran Rp. Pagu Tahun 2011 adalah sebesar Rp.827.720. Realisasi Anggaran Per Program Tahun Anggaran 2011 No.000. 78. Rp. 50.020. 101 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .- Rp.23%) .(92.427. 24.- Rp.karena tidak ada realisasinya.000.316. 26.747.056.772.025.- 75.Belanja pegawai Rp.485. karena tidak ada realisasinya) .2. 7.000. 6.000.124.(Seratus lima puluh sembilan milyar delapan ratus dua puluh tujuh juta dua ratus tujuh puluh dua ribu rupiah).000.000.416. 36.000.846.500.902.- 62.074.(52%) (tidak termasuk hibah.7.Belanja barang/jasa Rp.000. 1. Realisasi anggaran pada per 31 Desember 2011 adalah sebesar Rp.074.Belanja pegawai Rp.- Rp.- 47.9.(90.Pemerintah di luar Kementerian PAN dan RB dan dari kalangan Lembaga Swadaya Masyarakat.563.14 2.349.. dengan rincian: .93. Metode sosialisasi juga telah diperluas dari sematamata sosialisasi yang dilaksanakan di sebuah ruangan.Belanja modal Rp.978.039.902 (Sembilan puluh tiga milyar empat ratus enam belas juta tujuh puluh empat ribu sembilan ratus dua rupiah) atau 58.92 Total Rp.116..Belanja barang/jasa Rp.00 Catatan : Realisasi diatas tidak termasuk hibah sebesar Rp. 152.141.681.500.312.400.653. Rp. baik melalui radio maupun televisi.(termasuk hibah Rp.500.187. 67.287.22 3.45% dari pagu anggaran. dengan rincian : . C..312.772.- 92.Belanja modal Rp.391. 93.000..- Realisasi Anggaran % Rp.514.689. 7. maupun konsultasi dan diskusi dari berbagai kalangan. Akuntabilitas Keuangan Realisasi anggaran dan kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 adalah sebagai berikut : 1..

Penerimaan Negara Bukan Pajak Kementerian PAN dan RB tidak memiliki Bendahara Penerimaan.020. 908.046.. Rp.353.Rp.Belanja Modal B. Rp.Penerimaan Negara Bukan Pajak .Belanja Pegawai .427. 117. Uraian Realisasi Pendapatan Negara .- % 58. 102 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .074.Rp. 93.025.Rp.391.141.Penerimaan Pajak . Rp.846.23 52.349.Belanja Barang . 9.Rp.000. 1. Kementerian PAN dan RB tidak memiliki pendapatan hibah.Realisasi Anggaran per 31 Desember 2011 No.046. 60.45 92.312.485.Rp.-. karena itu tidak ada alokasi anggaran penerimaan negara bukan pajak.978.00 90.004.056.353. Rp. Realisasi Pendapatan Negara Pendapatan Negara dan Hibah Realisasi Pendapatan Negara Kementerian PAN dan RB per 31 Desember 2011 adalah sebesar Rp.827. Pinjaman dan Hibah .272. Rp.Rp.21 0.416.Rp.046.Penerimaan Hibah Realisasi Belanja Negara A.000. Pencatatan PNBP yang ada di Kementerian PAN dan RB bukan berasal dari hasil penerimaan kas/bendahara penerimaan tetapi merupakan PNBP yang berasal dari pendapatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah.491.000.353. 908.yang merupakan Pendapatan Negara Bukan Pajak yang berasal dari pendapatan denda keterlambatan penyelesaian pekerjaan pemerintah.902. Realisasi Anggaran 908.563..Rp. Anggaran Rp.00 2.7. 26. 8.747.000.000.Belanja Barang Rp. - Adapun penjelasan per pos dari realisasi anggaran adalah sebagai berikut : 1. 159. Realisasi PNBP tahun per 31 Desember 2011 adalah sebesar Rp. 24.500. Rupiah Murni . penerimaan kembali belanja lainnya rupiah murni tahun anggaran yang lalu.153. penerimaan kembali belanja pegawai pusat tahun anggaran yang lalu dan pendapatan dari penerimaan kembali belanja lainya rupiah murni tahun anggaran yang lalu. Rp.

978.000.00%.141.(tidak termasuk realisasi dana hibah) atau sebesar 52.653. Hal ini dikarenakan pagu yang dianggarkan tahun anggaran 2011 lebih besar dari pagu tahun anggaran 2010. tetapi penyerapannya lebih rendah dibandingkan dengan tahun anggaran yang lalu jika dilihat dari perbandingan pagu anggaran dengan realisasinya. 26.056. 9. 8. 24. 60.-) dengan nilai realisasi belanja barang sebesar Rp.000.atau sebesar 90. Belanja Pegawai Pagu Anggaran Belanja Pegawai Kementerian PAN dan RB tahun anggaran 2011 adalah sebesar Rp.391. 93.312. 124.dengan nilai realisasi belanja pegawai sebesar Rp.074. Beberapa faktor penyebab rendahnya penyerapan Kementerian PAN dan RB adalah sebagai berikut : anggaran di • Beberapa usulan revisi DIPA dari berbagai unit kerjahingga akhir semester I. Belanja Modal Pagu Anggaran Belanja Modal Kementerian PAN dan RB tahun anggaran 2011 adalah sebesar Rp.23% dari pagu anggaran Belanja Pegawai Kementerian PAN dan RB.-(termasuk dana hibah sebesar Rp.020.. maka sampai dengan akhir semester I jumlah usulan untuk pekerjaan yang akan diswakelola masih sangat sedikit. 7. Belanja Barang Pagu Anggaran Belanja Barang Kementerian PAN dan RB tahun anggaran 2011 adalah sebesar Rp.416.485.563..491. Realisasi Belanja Negara Realisasi belanja negara Kementerian PAN dan RB per 31 Desember 2011 setelah dikurangi dengan pengembalian belanja adalah sebesar Rp.000. 103 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . sehingga menghambat pelaksanaan anggaran.747.500.. sebagian besar belum mendapat persetujuan dari Ditjen Anggaran.427.atau sebesar 92. Realisasi belanja Kementerian PAN dan RB mengalami penurunan sebesar 6% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.000.025.2.349.-.846.. • Dengan semakin ditertibkannya persyaratan perlaksanaan pekerjaan terutama yang akan dilaksanakan secara swakelola.21%.316.902..dengan nilai realisasi belanja modal sebesar Rp.

I. 104 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . 3. sehingga tidak ada realisasinya. sehingga mendekati ahir tahun anggaran 2011 terjadi penumpukan SPM (Surat Perintah Membayar).• Pekerjaan sarana dan prasarana fisik sampai dengan semester I baru pada tahap penentuan pemenang tender.000. 2) Terhitung mulai triwulan IV.999.048 yang selama ini dialokasi pada DIPA BA.. • Kegiatan yang melibatkan pihak ketiga (rekanan) yang mendapat alokasi pagu kegiatan yang cukup besar tidak di dorong sebagai prioritas utama.yang dalam hal ini dikelola oleh (GIZ). • Ada akun belanja yang dapat dilaksanakan kegiatannya dengan mekanisme pembayaran LS akan tetapi sampai dengan akhir triwulan ketiga kegiatannya baru sebagian dilaksanakan. 7..312. Namun sampai dengan akhir tahun anggaran 2011 dana tersebut tetap dalam posisi dibintangi oleh Kementerian Keuangan R. Catatan Penting Lainnya 1) Pada Tahun Anggaran 2011 dalam DIPA Kementerian PAN dan RB tercatat ada pagu dana Hibah dari Pemerintah Jerman sebesar Rp. alokasi Tunjangan Kinerja Pegawai Negeri (Remunerasi) Kementerian PAN dan RB telah masuk kedalam DIPA BA.500.08 (BUN).

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP) Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 ini menyajikan berbagai keberhasilan maupun kegagalan capaian strategis yang ditunjukkan oleh Kementerian PAN dan RB pada Tahun anggaran 2011. Kementerian PAN dan RB merupakan instansi Pemerintah yang diberikan tugas. pelaksanaan Reformasi Birokrasi serta pemberantasan korupsi secara keseluruhan sangat ditentukan oleh komitmen. Road Map Reformasi Birokrasi 20102014. Dalam melaksanakan tugasnya. Berbagai capaian strategis tersebut tercermin dalam capaian Indikator Kinerja Utama (IKU). Simpulan 1. Kontrak Kinerja Menteri PAN dan RB dengan Presiden.Bab IV Penutup A. Meskipun demikian. sasaran dan program kerja yang ditetapkan baik dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2010-2014. masyarakat. dunia usaha dan civil society sebagai bagian integral dari pembaharuan sistem administrasi negara. Kementerian PAN dan RB berlandaskan pada tujuan. 2. Hasil capaian kinerja sasaran yang ditetapkan secara umum dapat memenuhi target dan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. maupun analisis kinerja berdasarkan tujuan dan sasaran. 3. maupun Rencana Strategis (Renstra) Kementerian PAN dan RB Tahun 2010-2014. keterlibatan dan dukungan aktif segenap komponen aparatur negara. berbagai pencapaian target indikator kinerja Kementerian PAN dan RB memberikan gambaran bahwa keberhasilan dalam pelaksanaan pendayagunaan aparatur negara. tanggungjawab dan amanah untuk melakukan perumusan kebijakan dan koordinasi pelaksanaan kebijakan bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 612 Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010. 105 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Rencana Kerja Pemerintah (RKP).

maka optimalisasi mekanisme manajemen internal organisasi di lingkungan Kementerian PAN dan RB akan ditingkatkan untuk secara pro aktif memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan berbagai kegiatan yang dilaksanakan. 6. Diperlukan komitmen dan dukungan semua pihak untuk memperteguh pelaksanaan reformasi birokrasi sehingga tidak hanya menjadi wacana dan pergulatan pemikiran semata-mata. Upaya koordinasi dan peningkatan kerjasama dengan berbagai instansi terkait baik di pusat maupun daerah akan dilakukan dengan lebih intensif. 3. 2. Agar pelaksanaan program dan kegiatan dapat dilaksanakan secara optimal sesuai dengan target indikator kinerja yang telah ditetapkan. 4. 5. Penyusunan rencana pelaksanaan program dan kegiatan guna pencapaian target indikator kinerja yang telah ditetapkan akan dilakukan secara lebih cermat dengan mempertimbangkan tujuan organisasi secara tepat dan kemampuan sumber daya yang tersedia serta kemampuan yang ada termasuk berbagai faktor yang mempengaruhi perubahan alokasi anggaran tahun berjalan. berbasis kinerja dan bertujuan melayani serta memberdayakan masyarakat. Diperlukan terobosan baru agar pelaksanaan program kerja dan anggaran menjadi lebih efektif berupa perubahan mekanisme penyusunan program kerja/anggaran dari pola “top down” menjadi “bottom up” sehingga mencerminkan kebutuhan organisasi. mengingat berbagai pencapaian target indikator yang telah ditetapkan hanya dapat dilakukan dengan melibatkan segenap instansi 106 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . Saran 1. Dalam rangka mempertegas fungsi koordinasi pelaksanaan tugas di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi yang diemban oleh Kementerian PAN dan RB. langkah percepatan pelaksanaan kegiatan pada awal tahun anggaran dan perkembangan masalah-masalah aktual di bidang pendayagunaan aparatur negara dan reformasi birokrasi.B. namun benar-benar dapat diaplikasikan dalam penyelenggaraan sistem pemerintahan yang berorientasi pada hasil. perlu kiranya memperkuat peran kelembagaan Kementerian PAN dan RB sehingga dapat lebih efektif mengendalikan pelaksanaan reformasi birokrasi di seluruh instansi pemerintah sebagai bentuk memenuhi tuntutan berbagai kalangan.

sehingga realisasi anggaran yang digunakan untuk melakukan kegiatan berbanding lurus dengan out put maupun out comes kegiatan yang bersangkutan. dengan menerapkan fungsi reward and punishment yang tegas dan ketat. bermanfaat dan akuntabel. Agar implementasi Sistem AKIP benar-benar efektif. Menjadikan SAKIP sebagai ukuran kinerja organisasi pemerintah secara nyata dan akuntabel. dunia usaha dan civil society. 7. Dengan sinergitas tersebut. 8.pemerintah pusat dan daerah. Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi 107 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 . perlu segera direalisasikan sinergitas antara laporan kinerja dan laporan keuangan sebagai satu kesatuan. masyarakat. kinerja organisasi dari setiap lembaga pemerintah yang dibiayai oleh APBN/APBD benar-benar terukur.

Struktur Organisasi Kementerian PAN dan RB Pengukuran Kinerja Tahun 2011 108 Laporan Akuntabilitas Kinerja Kementerian PAN dan RB Tahun 2011 .Lampiran 1. 2.

PENGUKURAN KINERJA KEMENTERIAN PENDAYAGUNAAN APARATUR NEGARA DAN REFORMASI BIROKRASI 2011 TAHUN ANGGARAN 2011
Anggaran Pagu 14.975.000.000,Realisasi 6.781.121.000,% 45,28

Sasaran Strategis Terwujudnya kualitas pelayanan publik prima, cepat, pasti, murah, transparan, adil, patut dan memuaskan

Indikator Kinerja Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang pelayanan publik (PP, PerPres, Inpres, dan Per Men. PAN dan RB)

Target 1 PP

Realisasi 1 Draft RPP

% 90

Program/ Kegiatan Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi

1 Perpres

1 Draft Perpres 1 Draft Inpres

80

1 Inpres

80

2 Per. Men. PAN dan RB Persentase Provinsi yang diberi sosialisasi Undang-Undang ttg Pelayanan Publik

2 Draft Per.Men. PAN dan RB

90

70%

30 %

42,86

1

Sasaran Strategis

Indikator Kinerja Persentase Instansi Pusat yang diberi sosialisasi UndangUndang ttg Pelayanan Publik Terlaksananya implementasi UndangUndang No. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada K/L Terlaksananya implementasi UndangUndang No. 25 Tahun 2009 ttg Pelayanan Publik pada Provinsi Jumlah Kabupaten/ Kota yang mempresentasikan kepuasan pelanggan berdasarkan Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM)

Target

Realisasi

%

Program/ Kegiatan

Anggaran Pagu Realisasi %

100 %

100 %

100

11 K/L

0 K/L

0

7 Pemda Provinsi

0 Pemda Provinsi

0

33 Kab/kota

28 Kab/kota

85

2

33 3 .Sasaran Strategis Indikator Kinerja Skor IKM unit pelayanan Persentase Pemerintah Daerah yang menerapkan OSS (pelayanan terpadu) Jumlah Kabupaten/Kota yang dilakukan evaluasi dampak Pemberian Penghargaan Citra Bahkti Abdi Negara (CBAN) Jumlah Kab/Kota yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Jumlah unit pelayanan publik yang menerapkan pedoman peningkatan kualitas pelayanan publik berbasis partisipasi masyarakat Target 65 Realisasi 76.57 % 117.58 Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 75 % 79 % 105.33 26 Kab/kota 0 Kab/kota 0 5 Kab/kota 5 Kab/Kota 100 15 unit 80 unit 533.

Men.000.PAN dan RB 85 6. 3 Draft Perpres 4 Per. BKN dan LAN 100 % 80 % 80 4 .000.000. Per.Sasaran Strategis Indikator Kinerja Jumlah Kabupaten/ Kota yang dinilai Berdasarkan usulan instansi/ Pemerintah Provinsi Persentase Pemda yang berkategori baik sesuai penilaian Persentase Pemda yang berkategori terbaik sesuai penilaian Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 105 Kab/Kota 73 Kab/Kota 69.39 6 Per. efektif dan efisien Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang Kelembagaan (Perpres. Men.857.742.Men. PAN dan RB) 3 Perpres.- 42.52 60 % 0% 0 60 % 0% 0 Terwujudnya organisasi pemerintah yang proporsional. PAN dan RB 90 Persentase penyelesaian konsolidasi struktural dan peningkatan kapasitas Kementerian PAN dan RB. PAN dan RB 2 Draft PerMen.- 2.743.

24 30 % 25 % 83.33 5 .57 % 95.Sasaran Strategis Indikator Kinerja Persentase Kementerian Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LPNK yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase LNS yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Perwakilan RI di Luar Negeri yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase Sekretariat Lembaga Negara yang telah tertata organisasi dan tata kerjanya Persentase instansi pemerintah (PPK-BLU) yang telah tertata kelembagaannya Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 30 % 29. 57 % 95.26 % 77.04 30 % 28.24 30 % 23.41 % 98.52 30 % 0% 0 30 % 28.

akuntabel dan sejahtera Jumlah peraturan/ kebijakan di Bidang SDM Aparatur (UU.PAN dan RB 1RUU 9 RPP 12 PP 8 Per.- 5. PP. PAN dan RB) 1 RUU 9 RPP 3 PP 10 Per. Men. Per. Perpres.850.33 Terwujudnya SDM Aparatur yang profesional. PAN dan RB 100 100 400 80 13.265. Men. Men.33 % Kab/ Kota 83.16 Persentase insansi pemerintah yang mengirimkan data usulan formasi PNS secara akurat dan benar sesuai aturan Persentase instansi yang menerapkan kebijakan pemantapan pengembangan pegawai Persentase peningkatan 80 % IP Pusat 80 % IP Daerah 95 % IP Pusat 92 % IP Daerah 119 115 5% 5% 80 5% 10 % 200 6 .000.000.- 38.Sasaran Strategis Indikator Kinerja Persentase Pemda yang dievaluasi organisasi dan tatakerjanya Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 30. berkinerja.30 % Prov 30 % 33.879.799.

Men. Per.PAN dan RB 80 62.46 % 169 7 .779.000. PP. efektif dan akuntabel Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang Tata Laksana (UU.168.Sasaran Strategis Indikator Kinerja penghasilan PNS Persentase instansi yang menyusun informasi jabatan dalam rangka penyusunan sistem remunerasi berdasarkan merit system Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 20 % 30 % 150 Terwujudnya penyelenggaraan tata laksana pemerintah yang efisien.22 88 Persentase instansi pemerintah pusat yang melakukan penataan ketatalaksanaan dengan baik 35 % 59.5 70 9. PAN dan RB 2 RUU 2 RUU 1 RPP 2 Per. 3 Draft Per.Men. PAN dan RB) 2 UU 2 RUU 1 PP 5 Per. Men.520.000. PAN dan RB. Men.411.- 3.- 41.

953.000.000.567.110. 62 % - 100 333 62 - Jumlah asistensi reformasi birokrasi kepada instansi pusat dan daerah 8 .% 56.869.18 7 kebijakan 10 kebijakan 143 12 K/L 20 K/L 167 30 % 47 % 156 80 % 81 % 101 100 % K/L 100 % K/L 30 % Pemda 100% K/L 10% Pemda 100 % Prov. dan komprehensif Indikator Kinerja Jumlah kebijakan pelaksanaan Reformasi Birokrasi yang diterbitkan Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi sesuai kebijakan RB Nasional Jumlah K/L yang telah melaksanakan reformasi birokrasi Tingkat kualitas pelaksanaan RB yang terukur sesuai dengan kebijakan RB Nasional Jumlah instansi yang menerima sosialisasi Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu 17. sistematis.Realisasi 9.Sasaran Strategis Terwujudnya pelaksanaan reformasi birokrasi nasional secara terencana.

935.000.36 87.72 % 121.000.34 % 100.45 50 % 50. Men.68 44 % 48.42 % 100. Men.Realisasi 10.Sasaran Strategis Terwujudnya instansi pemerintah yang akuntabel dan berkinerja tinggi Indikator Kinerja Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang Akuntabilitas Kinerja (RUU.81 22 % (Pusat dan daerah) 87 % (Pusat dan daerah) 20. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang menerapkan Sistem Akuntabilitas Kinerja sesuai aturan Persentase instansi pemerintah yang akuntabilitas kinerjanya baik Persentase instansi pemerintah yang menyusun Indikator Kinerja Utama (IKU) Persentase LAKIP yang diterima Target 1 RUU 3 Per.% 63. Men. PAN dan RB % 100 100 Program/ Kegiatan Anggaran Pagu 15.110.020.998.48 9 .10 % 91. Per. PAN dan RB Realisasi 1 RUU 3 Per.

81 10 .55 % 125.30 65 % 81 % 124. PAN-RB 95 98 50 % 62.62 Persentase instansi peserta model Island of Integrity yang berhasil Terwujudnya penyelenggaraan pengawasan intern pemerintah yang terintegrasi.Sasaran Strategis Indikator Kinerja Persentase PK yang diterima Target 55 % (Pusat dan daerah) 32 % Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % 60. Per.88 % 79. Men.29 % 109.77 % 76. efisien dan efektif Jumlah peraturan/ kebijakan di bidang Pengawasan (RUU.61 65 % 51. Men. PAN dan RB) Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan SPI sesuai dengan ketentuan Persentase laporan dumas yang disalurkan dan telah ditindaklanjuti oleh instansi pemerintah Persentase instansi pemerintah yang melaksanakan dan 30. PAN dan RB 1 draft RUU 2 draft Permen.92 1 RUU 2 Per.

Sasaran Strategis Indikator Kinerja melaporkan Inpres Percepatan Pemberantasan Korupsi yang dievaluasi sesuai pedoman Target Realisasi % Program/ Kegiatan Anggaran Pagu Realisasi % Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara Dan Reformasi Birokrasi 11 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->