Mempersoalkan Kelas Menengah Indonesia Oleh: Kurnia C Effendi

Istilah 'Kelas menengah', dengan segala problematika yang melekat padanya, kembali memperoleh perhatian luas di Indonesia. Kompas, harian terkemuka di Indonesia sejak tahun lalu sering memberitakan fenomena kelas menengah. Berita biasanya bersemangat optimistis. 'Kelas menengah baru' telah muncul di Indonesia, dalam jumlah yang cukup spektakuler. Pada gilirannya, perkembangan ini dianggap sebagai pertanda kesejahteraan yang meningkat dan positif bagi proses konsolidasi demokrasi Indonesia. Puncaknya, minggu lalu, majalah Tempo juga menyoroti fenomena ini. Meski agak ragu-ragu, Tempo akhirnya memilih untuk tidak menggunakan istilah 'Kelas Menengah'. Mereka berargumen, untuk alasan praktis, 'Kelas Menengah' yang masih sangat bisa diperdebatkan itu dihindari. Tempo lebih memilih istilah 'Kelas Konsumen Baru'. Meskipun Kompas dan Tempo nampak berbeda dalam penggunaan istilah, keduanya memiliki semangat yang kurang lebih sama. Kelas menengah ditempatkan sebagai gambaran angka yang statis. Kedua media hanya membicarakan jumlah, ciri-ciri yang diambil begitu saja dari World Bank, dan baru sedikit menyinggung peran kelas menengah di berbagai arena kehidupan. Tidak ada gambaran tentang relasi antara kelas menengah dengan kelas atasnya ataupun kelas di bawahnya. Bahkan, apa yang digambarkan sebagai peran kelas menengah juga masih berbalut romantisme kelas menengah pada jaman Revolusi Prancis. Kelas menengah dianggap sebagai kelas yang berbudi luhur, penganjur demokrasi dan suka berpihak pada kelas bawah. Padahal sebagaimana disampaikan Gouldner, borjuis Eropa adalah penjilat kelas atas sebelum mereka mampu menggulingkan kekuasaan. Dari kedua posisi mengenai 'kelas menengah' ini, siapa sebenarnya mereka itu? Darimana dan kapan istilah 'kelas menengah' mulai muncul? Pertanyaan yang lebih penting: bagaimana sebenarnya peran ekonomi politik mereka? Dalam kondisi apa mereka akan menjilat kelas atas? Dalam kondisi apa pula mereka akan memihak kelas bawah? Kapan mereka pro perubahan dan kapan mereka pro status quo? Apa instrument yang mereka gunakan? Bersama Eric Hiariej (Dosen Fisipol UGM), pertanyaan-pertanyaan ini yang coba dijawab pada kesempatan diskusi MAP Corner-Klub MKP, selasa 6 Maret 2012.
Apa sih [spesies] kelas menengah?

Toh, pengikut Marxism tak pernah menganggap kelas menengah sebagai sebuah kelas—justru dianggap kelas banci. Pengantar Eric Hiariej dimulai dari "apa yang disebut kelas menengah" akan selalu merujuk pada perdebatan dua pemikiran. Pertama, pemikiran Marx. Marx menggunakan dasar hubungan faKtor produksi sebagai pembeda kelas, makanya Marx hanya percaya dua kelas yang saling bertentangan, yakni borjuis/capital atau kaum pemilik modal dan kaum buruh atau proletar/working class. Dalam kaca mata Marx, tidak ada kelas yang berada di antara kedua kelas tersebut. Kelas menengah sama dengan kelas banci ini dalam pengertian "plin-plan"; jika kepentingannya terpenuhi dengan mendekati capitalist class maka kelompok ini menjadi capitalist class, atau jika kepentingannya lebih dekat dengan kelas proletar maka kelas ini menjadi kelas proletar. Pada masa itu, teorisasi Marx tidak menaruh perhatian khusus terhadap pertumbuhan kelas menengah. Ternyata dalam perkembangan selanjutnya—bahkan setelah satu abad Marx—pertumbuhan kelas menengah sedemikian cepat dan besar. Awal abad 20 Eropa memunculkan banyak teoritisi Marxism baru mengenai studi kelas menengah. Nicos Poulantzas mengenalkan New petty bourgeoisie (kelas menengah saat ini) yang dibedakan dari kelas pekerja dengan cara pembayarannya. Jika kelas pekerja dibayar dengan upah, sedangkan new petty bourgeoisie dibayar berdasarkan prosentase profit. Sederhananya white-collar merepresentasikan new petty bourgeoisie dan blue-collar merepresentasikan kelas pekerja. Teorisasi ini cukup lama digunakan

Merujuk kelas menengah tidak hanya secara ekonomi. Kasus kelas menengah Indonesia menunjukkan memang secara statistik pendapatan ada. kelas menengah Indonesia ada dua level perdebatan yang berpusat pada pertanyaan kelas menengah ini pro atau anti "Orde Baru"? (pro atau anti "demokrasi"? pro atau anti "reformasi ")? pertanyaan seperti ini pun mengarah pada jawaban yang sama-sama kuat. Alih-alih mendebatkan tentang kelas menengah versi Weber. Kelas menengah menunjukkan tabiat yang seragam. Kelompok bourgeoisie mendorong revolusi (lihat penjelasan civil society milik Alexis de Tocqueville dalam revolusi Amerika). Indonesia tidak mempunyai kelas menengah. Tokoh seperti George Washington. namun persoalan berikutnya adalah terbentur pada ketiadaan kelas menengah di Indonesia. Kedua pemikiran ini juga mempengaruhi perdebatan tradisi akademis. media massa dst)? Sementara latar belakang kelas menengah pro atau anti demokrasi tidak dipentingkan lagi. Salah satu tokohnya EP Thompson—dengan temuan yang penting adalah "kelas. tetapi juga secara . dengan cara menggunakan culture studies—asumsi bahwa kelas menengah mempunyai karakter tabiat politik tertentu. bagi yang belajar ilmu social dengan tradisi Positivisme sangat kuat. Dengan latar belakang ini. Thomas Jefferson ataupun tokoh pemikir besar Eropa abad pertengahan merupakan bagian kelas menengah yang dikenal dengan istilah cendekiawan—tokoh pro demokrasi. maka pemikiran Weber digunakan. Perdebatan kelas menengah hingga tahun 80an merujuk pada pertama cara pandang kelas menengah apakah memakai Marx atau Weber. Studi baru lebih tertarik pada bagaimana kelas menengah menjadi sangat berpengaruh di Indonesia (misal jabatan publik. Ini adalah persoalan serius kelas menengah Indonesia—bahkan termasuk menjelaskan alasan Tempo enggan menggunakan istilah kelas menengah dalam edisi 20-26 Februari 2012 lalu. Sedangkan bagi yang belajar ilmu social dengan tradisi ekonomi politik yang kuat. Perdebatan ini masih berlanjut hingga tahun 60an terdapat kritik terhadap Marx maupun Weber. kedua. Kelas menengah tidak harus diukur melalui cara kepemilikan faktor produksi—justru Weber menggunakan cara berpikir BPS (Badan Pusat Statistik. pendidikan. Ukuran yang digunakan bisa merupakan gabungan pendapatan. Istilah kelas menengah pun tak digunakan di awal tahun 1990an. Studi pertama ini dilupakan. karena pertama takut menghindari tuduhan komunis dan kedua jangan-jangan memang bukan kelas. penentuan kelas menengah menggunakan data statistik—dilihat dari pendapatan yang berada di antara kelompok pendapatan kaya dan di bawah garis kemiskinan. Hal ini menunjukkan disjuncture karena ada kelompok secara ekonomi termasuk kelas menengah namun secara tabiat sama sekali bukan kelas menengah. Gampang-nya. Salah satu argumen yang sering digunakan berulang-ulang adalah sejarah revolusi yang berkaitan dengan demokrasi. red). Pun Lukman sutrisno maupun Kuntowijoyo pada jaman itu tidak menggunakan istilah kelas menengah.Selanjutnya pemikiran kedua yaitu pemikiran Weber. maka tabiatnya harus sama". Perkembangan kedua studi ini dari tahun 1990an hingga sekarang adalah kecenderungan baru studi perdebatan kelas menengah "pro atau anti demokrasi" berakhir pada kejenuhan—karena mungkin belum ada titik temu. Pendapat pertama kelas menengah pro demokrasi sementara pendapat lain mengatakan kelas menengah anti demokrasi—mau enaknya saja. Dalam 30 tahun terakhir. status sosial atau semua hal yang bisa dikuantifikasi. padahal sampai sekarang masih diperdebatkan—kelas menengah pro atau anti demokrasi? Jawaban dominan menunjukkan kelas menengah pro demokrasi. Kelas menengah "versi" Indonesia Penentuan kelas menengah bisa dengan cara tersederhana adalah menggunakan statistik sederhana. maka orang yang percaya kelas menengah pro demokrasi akan menjawab dengan yakin. Namun secara tabiat. Eric Hiariej mengajak analisis tabiat untuk melihat kelas menengah Indonesia. maka pemikiran Marx yang dipilih. budaya politik. John Adams. Kedua. tetapi golongan menengah. Kelas menengah tidak hanya bisa dilihat kepemilikan Faktor produksi dan data statistik. Ada yang terlupa untuk melihat kelas menengah yaitu tabiat/ selera/ karakter yang sifatnya sangat cultural. Cara berpikir "selera akan menentukan cara berpikir anda" ini bermula dari kelompok ilmuan sosial yang belajar culture studies di Inggris. tabiat dari kelas.

Kondisi ini oleh Lukman Sutrisno mengakibatkan cikal kelas menengah tidak pernah tumbuh sebagai kelas menengah yang utuh. Eric Hiariej mengambil contoh kelas menengah di negara-negara Amerika Latin justru merupakan kelas yang pertama kali melarikan diri jika terjadi masalah—memilih save play atau kelas yang menunggu "situasi". Kasus Chile saat Presiden Chile Salvador Allende yang sangat kiri menjadi pemenang sah pemilu tahun 60an pun didukung oleh kelas menengah. Masalahnya sejarah pedagang kecil Indonesia: saat kolonial. Jadi gayanya sih berpikir. Kritik saat ini. Ini . Studi kelompok ini berbeda dengan studi kelompok pertama yang berkesimpulan kelas menengah berpengaruh pada perubahan (lihat negara maju). maka sebenarnya itu cikal bakal bourgeoisie—independent dan selalu kreatif. Studi ini dilakukan oleh Lukman Sutrisno dan Kuntowijoyo. Filipina dan sementara Indonesia. "kita punya middle class dalam pengertian status ekonomi. Padahal dunia akademik adalah fungsi untuk berkontemplasi menyemai cara berpikir independen. Grand Coalition Orde Baru oleh Ben Anderson menjadi penjelas Orde Baru kuat dan bertahan lama. maka pendidikan hanya bertujuan untuk masuk dalam "pabrik" saja (dunia kerja. tapi sebetulnya ndak mikir" Alasan penjelas dari kenyataan ini yang digunakan dari dulu hingga sekarang adalah karena sejak awal. Grand coalition ini berisi kelas menengah. Jika disederhanakan. pasti jumlahnya sedikit dan tidak berpengaruh. Masih pada kelompok pertama ini. Berkaitan dengan ini Eric Hiariej sempat mem-flashback pengalamannya bahwa ada situasi menakutkan karena berpikir kritis. Thomas Jefferson dan seterusnya bukan hanya menjadi kelas menengah secara pendapatan. belanda menyingkirkan pedagang dengan memasukkan pedagang timur asing. orang tidak boleh berfikir independen—tidak harus berhubungan jika berpikir bebas akan berakhir dengan penangkapan. Pun jika bisa ditemukan maka kelas menengah yang dimaksudkan Lukman Sutrisno dkk ini dapat ditemukan pada beberapa pedagang pesisir utara Pulau Jawa. kelas menengah menjadi penting secara politis—menjadi swinging voters dengan afiliasi yang tidak pernah tetap. Jelas karenanya. Terdapat kelompok yang "mengatasnamakan" rakyat yang melawan militer—kabir (kapitalis birokrat. operasionalisasi mesin. tetapi mejadi kelas menengah karena tabiat independent thinker (pemikir bebas). Argentina dan Chile. Kalaupun kelas menengah jenis ini ada. tetapi ketika terjadi aliansi kudeta sektor finansial dan militer tampak akan menang. Bagi kelompok ini percaya kemampuan berpikir independen itu bukan saja karena ada koersif yang bersifat kasat mata tetapi juga ada situasi tertentu yang membuat orang berfikir independen. maka kelas menengah tiba-tiba berbondong pindah mendukung aliansi ini. justru kelas menengah melakukan demo melawan rezim militernya. tapi middle class kita bukan independent thinker bahkan mereka tidak pernah thinking sama sekali. John Adams. atau oleh orba memang dibiarkan "hidup ya mati nggak" lihat pedagang batik laweyan versus pabrik sritek masuk atau pedagang rokok kudus versus Jarum atau Sampoerno masuk. Karena jika setuju dengan link and match. kelas menengah Indonesia lebih menyukai sindrom Stockholm. Di negara lain fenomena ini tidak terjadi. Persoalan kelas Indonesia adalah kelas menengah bukanlah kelompok pemikir (bebas). maka Orba muncul dari revolusi 65 yang gagal—yang bisa dilihat sebagai perang kelas kecil. red)—yang dimenangi oleh kabir. Indonesia pernah ada kelompok menengah yang independent—yang mencari inovatif—yang ternyata dibumihanguskan oleh kolonialisme. Eric Hiariej mencontohkan Wardiman Djojonegoro yang mengenalkan konsep link and match yang oleh Eric Hiariej merupakan salah satu cara mematikan berpikir independen. Kelompok kedua tidak pernah percaya bahwa kelas menengah pro perubahan. ISO. Bahkan lama-kelamaan kelompok ini meminta bantuan negara untuk ditolong—melalui kredit lunak atau nasionalisasi. Makanya salah satu yang penting adalah mempertahankan kabir dengan cara memastikan kelas bawah tidak kuat lagi. dunia akademik pun juga mengalami kuantifikasi yang dalam taraf tertentu dapat menghalangi penciptaan independent thinker. Orde Lama maupun Orde Baru. red). Keputusan baru dibuat ketika sudah jelas siapa yang akan menang—terjadi Brazil. Kecenderungan ini terjadi di Korea Selatan. Alhasil. Jika dipadankan sejarah eropa.tabiat maka George Washington.

Contoh sederhananya orang memakai gadget yang menjadi bagian buzzing untuk menunjukkan "I am not you atau I am part of you". Representasi kelas menengah kala itu justru traumatik dan memilih "main aman" atau pragmatis saja. Dan pragmatism itu katanya dekat dengan konservatisme" Yang ditekankan Eric Hiariej adalah cara pandang pragmatism ini hingga sekarang turut memeriahi perdebatan kelas menengah tersebut di samping pilihan jangan terlalu pragmatism. BINMAS dan kegiatan-kegiatan di desa yang bertujuan untuk menyuplai "kota"—ada kekuatiran rezim Orba terhadap orang kota yang miskin tersebut berontak.. sumber daya manusia dsb. peran penting BULOG dalam green revolution. Relasinya adalah hampIr semua peristiwa besar yang menggoyang rezim berawal dari masyarakat kota yang marah (lihat peristiwa Malari). Kita bisa mengharapkan perubahan dari kelas pragmatic ini. Hal yang sama juga dijumpai sesaat sebelum Soeharto turun. Nurcholis Majid dsb—berteriak "turunkan Soeharto!" dan menginisiasi bahwa akan ada rencana demo besar-besaran namun ketika wajah kelas bawah yang garang muncul maka situsasi kemudian diredakan—demo besar-besaran dibatalkan. Maka dari itu tak jarang. Ada pertanyaan serius tentang . buzzing ini berimplikasi luas karena ditangkap oleh media. Kelas menengah memerlukan buzzing untuk menunjukkan eksistensi diri. Persoalannya. kelas ini tetap berpengaruh karena menguasai media lantaran suka buzzing. tapi tetap saja perubahan yang dikawal menjadi bersifat incremental saja. Bahkan ini sampai pada penggunaan istilah yang menghindari kelas struggle. Kedua pilihan cara pandang ini juga memunculkan konsekuensi-konsekuensi tersendiri terhadap perubahan. Kelas buzzing yang traumatic Apapun penyikapan terhadap kelas menengah.juga menjelaskan pemerintah Orba sangat berkepentingan dengan korporasi negara. Cara-cara ini dipilih rezim politik yang secara sistematis memastikan tidak ada lagi kelas stuggle (yang dianggap Orba identik dengan PKI). peristiwa 13-14 Mei 1998 inilah wajah asli kelas bawah yang setiap hari marah tidak bisa menikmati kue pembangunan. Repotnya. "Konon kabarnya revolusi tidak ada yang dimulai dari pragmatism. salah satunya memakai simbol. red). Bagi kelompok kedua ini. Namun diperjalanannya. Awalnya kelas menengah secara keseluruhan bersuara satu membentuk AJI (Aliansi Jurnalis Independen. atau pada jaman Orba subsidi beras menjadi sangat penting atau Green Revolution penting dipilih ternyata salah satunya agar bisa menyuplai beras murah ke kota. Memang dalam konteks 98 ini kelas menengah bukan berarti tidak pro perubahan. misal kata buruh diganti pekerja. penekanan bahwa kelas menengah justru bersikap "mendua" terhadap demokrasi terjadi pada saat Tempo dibredel. ledekan parodi kelas menengah kerap terselip oleh kelas bawah. sementara kelas orang miskin tidak mempunyai apapun untuk di-buzzing-kan atau dipeributkan dan cenderung diam. isu korupsi adalah isu kelas menengah. Kelas menengah menjadi trendsetter—bisa baik bisa buruk. pemimpin kelas menengah—termasuk Amien Rais. AJI pecah. Perbedaan kelas menengah terhadap kedua kelas lainnya adalah kelas orang kaya sudah tidak memerlukan buzzing lagi—kelompok kelas ini menyukai privat. misalnya adanya KORPRI dan bukan Serikat Pegawai Negeri? Karena dengan KORPRI. Kedua. Meski ini legitimated tetapi juga memunculkan persoalan kelas menengah apakah pro demokrasi atau tidak. man power. Ada yang memilih tetap AJI sebagai bentuk romantisme terhadap independent thinker. maka mereka ini juga aktor penyeting agenda. Dalam hubungan industrial terdapat Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) yang di dalamnya terdapat Kodim. Nah. kelas menengah bicara apapun hanya untuk kepentingannya sendiri. Makanya rezim Orba membuat bahkan melalui 10 program PKK di desa. saking berpengaruhnya kelas menengah. Sementara ada yang mendirikan GATRA karena pilihan menjadi kelas menengah yang realistis. negara mempunyai kontrol terhadap pegawai negeri menjadi lebih gampang. Kelas menengah ini kelas yang baru namun lebih canggih daripada kelas bawah yang di atasnya masih ada kelas orang kaya. Bagi Eric Hiariej.

menggelapkan uang negara. justru masyarakat berinterpretasi berbeda terhadap berita media. Dulu pembentukan kelas menengah berdasarkan bantuan konsensi usaha atau mengerjakan proyek pemerintah. Kejarangan ini dipengaruhi keputusan media yang mengagendakan apa saja berdasar preferensi bacaan kelas menengah.artinya kelas menengah yang sejak awal tidak akan independen. termasuk peran media besar turut di dalamnya. Misalnya isu konflik etnik Indonesia pada 10 tahun terakhir digadang-gadang melebihi konflik agama—hanya saja jarang diberitakan (berita konflik etnik Sepa di Pulau Seram). Perilaku kelas menengah akan tampil sedemikian rupa karena berada di social structure yang spesifik. Kelas menengah pasti mempunyai perhatian besar terhadap isu kemanusian. Istilah ini benar jika dilihat dari orang yang tidak menerima uang. Media Kompas) yang menulis berita dengan cara sangat aman—isinya tentang sekedar pendapat-pendapat. Slavoj Žižek mengatakan kelas menengah selalu menghindari pengalaman yang traumatik yang bisa menimbulkan ketakutan terhadap keamanan pribadinya secara psikologis. Pub berasal dari kata public. tindakan. Namun jika pertanyaan ditujukan langsung ke masyarakat bawah belum tentu sama. Kehidupan kelas bawah yang rumit jarang dilihat apa adanya karena cara pandang yang digunakan adalah cara kelas menengah yang tidak pernah hidup kepepet yaitu justru melihat kehidupan hanya secara "sederhana". Mengenai berita. bukan bangsawan bukan petani tetapi kaum bebas berdagang. Beda dengan Indonesia. Kota Yogyakarta) pada saat kampanye pemilu. Tradisi Koran besar menginginkan setting . Pengalaman traumatik berimplikasi pada penganggapan "isu". Kelas menengah sangat menjaga aset secara serius dibanding kelas atas. Representasinya pengusaha muda seperti Siswono Yudhohusodo. transparan atau fair yang menjadi bahasa khas kelas menengah tak bisa secara kaku dipadankan dengan kondisi kelas bawah. Kelas menengah juga mementingkan security –keamanan pribadi. tapi tetap bukan buzzing secara politik. Koran Merapi) karena kita bebas mengintepretasi isi beritanya. pub adalah tempat di mana seluruh yang menjadi agenda utama yang keluar di media tersebut di-scrutinized dengan parodi atau ledekan. strukturnya independen—maka sangat masuk akal berpikir independen. Fahmi Idris Atau Ponco Sutowo. Ini menjelaskan bantuan disumbangkan kepada masyarakat yang jauh secara geografi. Kelas menengah dapat ke atas maupun ke bawah karena secara struktur berada di tengah dan independen.. Sementara berita dari media besar (exp. Sementara pub ala Yogyakarta adalah angkringan—yang di dalamnya. rumah dst. Kelas menengah Eropa merupakan kaum burgher (orang kota) yang berarti secara historis. Pilihan facebook atau jejaring social lainnya untuk menghindari pengalaman traumatik. Situasi ini selalu terjadi. tapi yang pertanyaan lebih serius adalah uang negara itu digunakan untuk apa? atau kenapa justru tidak ada yang ribut ketika jumlah anggaran pendidikan lebih sedikit dibanding uang untuk rekapitulasi bank. Misalnya masyarakat kelas bawah di wilayah Terban (Kelurahan Terban. kelas menengah Indonesia tetap bisa buzzing.. namun pada saat yang sama ia tidak mau bertemu secara langsung dengan masalah kemanusian—karena ketakutan keadaan tersebut berbalik kepada si kelas menengah ini. Kecamatan Gondokusuman. artinya pembagian uang kampanye itu dilihat sebagai redistribusi pendapatan. Sejumlah uang kampanye yang diterima lantaran ikut kampanye dianggap money politic. Kelas menengah membuat setting agenda berita. Pengalaman masyarakat kelas bawah Eropa dalam melawan kelas kelas adalah melalui pub. kelas menengah tidak independen secara struktur—karena dibentuk oleh negara. Merujuk public sphere milik Habermas. Ginanjar Kartasasmita. salah satunya kelas. peristiwa ditentukan oleh social structure.. maka menarik untuk komparasi antara media besar dan lokal. Cara berpikir struktural maka setiap perilaku. Ini berlaku tidak hanya kelas menengah Indonesia tapi di seluruh dunia. Kelas menengah yang tidak pernah berhasil disapih oleh Negara" Meskipun demikian. ". yang balik lagi adalah kelas menengah Eropa—kaum yang muncul dengan sendirinya. Penyelewengan uang. Justru berita yang asli adalah berita dalam media lokal (exp. Buzzing ini menggunakan simbol seperti gadget. pakaian.

Paradigma kelas tidak pernah hilang. Justru penampilan fisik si politisi menjadi komoditas. Ada Kelas Itself ada kelas for itself. . Cox yang bukan penganut posivitism untuk menjelaskan pertanyaan relevansi kelas menengah. Kecenderungan ini dibaca oleh gerakan 1% lawan 99% yang sebenarnya terdapat persoalan akan pertentangan kesadaran subjektif dan situasi objektif. red) sebagai upaya pembebasan public yang premeditate yang hingga saat ini masih diupayakan. Sedangkan "batu menjadi batu" karena dinamai manusia disebut thing for itself.. Menanggapi Kelas menengah dan ruang publik. Kelas pekerja di Tangerang selalu lebih merasa menjadi orang dengan identitas asal daerahnya—Wonogiri. Kelas for itself berbicara juga tentang membangun tradisi bersama. Kelas antara Thing Itself dan thing for itself Penting membedakan kelas sebagai konsep maupun jargon. EP Thompson mengembangkan studi spesifik melihat kelas for itself: bagaimana buruh merasa dirinya sebagai buruh? Karena bisa jadi buruh tidak merasa menjadi buruh atau buruh merasa orang kaya. Sederhananya. Celakanya. PR bertugas memastikan politisi berpenampilan bagus. bukan kelas bawah. Pengkonsepan ini akan berkembang dan berubah secara terus menerus. Tegal atau Jombang.kalau Marx ambil itu tuh.. Ruang public recently bisa dilihat dari mall yang juntrungannya dikuasai dengan sedemikian rupa melalui bahasa liberal. karena spesifikasi cara berpikir kelas itu adalah materialistik. yang sering kita baca sebagai berita itu hasil dari intepretasi kelas menengah terhadap berita dan kelas menengah yang sering kali mengintegrasi berita tersebut adalah akademisi. ternyata menunjukkan telah terjadi penguasaan wilayah publik yang canggih. Lanjut. Mall dianggap bebas dan public sphere.. kelas menggunakan definisi yang jelas dan spesifik. Porsi lainnya adalah simbol kelas menengah terhadap politik mengabarkan politik kita itu gadget. Maka dari itu politik kita saat ini adalah politik kelas menengah. Kemudian ada kelas for itself yang merujuk "Anda merasa nggak menjadi bagian kelas tersebut?". Publik diciptakan sebagai alat segregasi sosial. gerakan reclaiming the common (melawan papan reklame. Eric Hiariej mengutip Robert W. Kelas for itself dari pekerja dipreteli. kelas for itself mengatasi kecenderungan strukturalisme yang menganggap "anggota kelas menerima nasib". Masih bertalian. ". Karena melihat kelas bisa dengan banyak kategori. Ini menjelaskan banyaknya politisi yang menyewa PR ketika berkampanye. padahal "bebas" terhadap pilihan sudah ditentukan. Jika kelas tidak relevan maka sebenarnya terdapat usaha untuk menetralkan ideologi dari ilmu—yang merupakan kritikan terpenting terhadap posivitism. Bisa juga menggunakan berpikir beyond class tetapi kita tidak bisa menemukan banyak hal yang penting. Konteks perdebatan kelas tidak harus dilihat "relevan atau tidak" untuk saat ini tetapi harus dilihat dalam konteks struggle of power karena perjuangan ideologi tertentu. dia bilang kelas juga gitu. thing it itself itu tentang (misal) "batu" ketika benar-benar menjadi batu tanpa ada manusia. Eric Hiariej lagi-lagi menekankan gerakan seperti itu adalah masih perlawanan kelas menengah. Sebagai konsep.. tabiat yang seragam dst.agenda berita—baik secara sengaja atau tidak—justru menggiring kita melihat sesuatu dengan cara tertentu. Kelas dalam hal ini bisa dipandang dengan dua cara ini. Eric Hiariej dalam hal ini membahas dua konsep Thing It self dan thing for itself milik Imanuel Kant yang sampai sekarang bukanlah perdebatan filosofis yang tidak menyenangkan. meski terjadi penolakan. Substansi pesan politik sudah tidak dipentingkan lagi. bahkan bisa dengan meminjam habitus-nya Bourdieu. kelas in itself buruh tetapi kelas for itself nya etnik—Ini berlaku secara internasional juga. Konsep kelas for itself menjadi penting karena konsep tersebut digunakan untuk membuat kelas pekerja tidak melawan. Sebagai konsep. Hal ini dikarenakan tempat tinggalnya diorganisir sehingga lupa akan identitas sebagai buruh." Kelas secara in itself tidak terbantahkan dan tak terhindarkan karena data statistik memang menunjukkan leveling kelas. Bahasa enaknya.

. otonomi diukur dari pikiran. Ketiga. pub dibayangkan sebagai tempat beradu argumen secara independen dan bebas muncul—karena independensi diukur dari pikiran. Tradisi berpikir Barrington. Butuh culture untuk menyelesaikan persoalan simbolik semacam ini.. Ruang publik yang baru berkembang sedemikian rupa yang bahkan di luar pikiran Habermas. Nah.mungkin gabungan kelas menengah dan kelas bawah bisa menghasilkan demokrasi. Bertalian dengan kelas dan sejarah kemunculan demokrasi di banyak negara oleh Barrington Moore menghasilkan tiga rumus bentuk Negara. Atau penjelasan lain oleh Gramsci yang mengatakan "membimbing bukan hanya untuk membentuk Vanguard Party tetapi juga membimbing "counter discourse". Pertama. Tapi yang lebih penting. Lenin dan Gramsci bertahan di kampus UGM—paling tidak pada generasi Eric Hiariej—bahkan hingga terjadi dua kubu yaitu pendukung Lenin bahwa mahasiswa harus menjadi pelopor bagi buruh yang diwakili SMID. tapi dia hanya berhenti di situ..Ruang publik diupayakan untuk diredifinisi. Kasus Indonesia. kelas for itself harus diciptakan oleh kelas menengah—melalui Vanguard Party. Hipotesis ini tidak terjadi. Vanguard Party cendekiawan karena berperan membimbing buruh. kelas atas ditambah kelas bawah menghasilkan pemerintah seperti pemerintah komunis Uni Soviet. Sedangkan dewan mahasiswa yang mewakili dukungan bahwa mahasiswa berjuang secara independent yang akan diikuti oleh buruh—partai mahasiswa. self being free ditunjukkan dengan seberapa jauh bias menyampaikan pikiran secara bebas. Hegemoni ini harus dilawan dan bagi Gramsci.ac. Terakhir masih dalam saling adu argumen dalam cara berpikir ala kelas Marx ataupun mendukung ruang publik ala Habermas—atau pertarungan antara identitas versus kelas—maka konklusinya tidak akan bertemu—begitu menurut Eric Hiariej. Jika dulu. Di ruang publik (sekarang) orang beradu tubuh.. Untuk itu. Hal ini ditunjukkan dengan keadaan Indonesia yang menghadapi kelas bawah yang kadang berfikir fatalistik—nrimo. "." Barrington Moore ternyata hanya sampai pada rumusan pembentukan demokrasi ini. misalnya penelitian Eric Hiariej menggambarkan kelompok fundamentalis di Ngruki berusaha reclaiming the common pada level tubuh. mall merubah definisi ini. Reclaiming the common berproses. Lenin merujuk Marx bahwa revolusi akan terjadi jika penindasan terhadap buruh secara masif dan buruh melakukan perlawanan untuk revolusi.id/index.ada orang namanya Mohtar Mas'oed sangat percaya dengan itu.. jika kelas atas ditambah kelas menengah yang berkuasa.php/component/content/article/20-map-corner/171mempersoalkan-kelas-menengah-baru-indonesia- . bagi Lenin alasan kelas buruh tidak melawan karena tidak ada yang memberi tahu "kelas for itself". jika gabungan antara kelas menengah dan kelas bawah maka yang muncul adalah pemerintahan demokrasi seperti Inggris Perancis Amerika Serikat.. ternyata penjelasan detail dilakukan oleh Vladimir Ilyich Ulyanov Lenin. Vanguard Party pernah organisasi yang bernama Serikat Mahasiswa untuk Demokrasi (SMID) tahun 90an yang kemudian bermetamorfosis menjadi Partai Rakyat Demokratik (PRD). perargumentasian tersebut kembali kepada pemaknaan itu sendiri. karena konsekuensi dari cara pandang tersebut akan sangat menentukan masa depan itu sendiri. http://map. maka pemerintah fasis yang dihasilkan seperti Jerman dan Jepang. Kedua. Independen bukan lagi dilihat dari mind tetapi body. Siap tidak melihat dunia dengan cara berpikir kelas. hegemoni ini dilawan oleh kampus—kampus juga simbol kelas menengah. Harus didudukkan bagaimana cara berpikir kita apakah positivism atau tidak posivitism untuk melihat seluruh dunia ini.ugm.ini Barrington Moore datang dengan formulanya itu dan itu dipercaya banyak orang. Merunut sejarah.