Anda di halaman 1dari 6

Nama : Inas Tsurayya Fauziah L NIM : I1A010028

Hipertensi dan Diabetes

Diabetes mellitus (DM) merupakan salah satu penyakit yang tidak ditularkan (NonCommunicable disease) dan sering ditemukan di masyarakat seluruh dunia. Di negara berkembang DM juga sebagai penyebab kematian 4 5 kali dibanding dengan penyakit lain. Insidensi DM terus meningkat secara tajam, sampai saat ini tercatat sebanyak 177 juta penderita diabetes di seluruh dunia, dan diperkirakan pada tahun 2025 akan didapatkan penderita diabetes sebanyak 300 juta penderita. Penyebab kematian utama pada penderita DM adalah penyakit kardiovaskuler. Berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskuler yang terhimpun dalam DM di antaranya adalah hipertensi, obesitas sentral, dislipidemia, mikroalbuminuria, kelainan koagulasi, tekanan darah dan nadi, serta hipertrofi ventrikel kiri. Di antara faktor risiko ini, hipertensi dapat mencapai dua kali lebih sering terjadi pada diabetes dibandingkan dengan penderita nondiabetes, pada DMt1 hipertensi terdapat pada 10-30% penderita, sedangkan pada DMt2 30-50% penderita mengidap hipertensi. Diagnosis dan pengobatan hipertensi penting untuk mencegah terjadinya penyakit kardiovaskuler pada penderita diabetes. Penelitian observasional menunjukkan bahwa penderita dengan komorbiditas diabetes dan hipertensi mempunyai risiko penyakit kardiovaskuler kurang lebih dua kali lipat dibanding penderita nondiabetik dengan hipertensi. Strategi penatalaksanaan hipertensi meliputi beberapa tahap yaitu, memastikan bahwa tekanan darah benar-benar mengalami kenaikan pada pengukuran berulang kali, menentukan target dalam penurunan tekanan darah, melakukan terapi non farmakologis meliputi pengamatan secara umum terhadap pola hidup pasien, kemudian terapi farmakologis meliputi pengoptimalan penggunaan obat tunggal anti-hipertensi dalam terapi, bila perlu berikan kombinasi penggunaan obat anti-hipertensi, dan melakukan monitoring secara rutin. Terapi

hipertensi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu terapi non farmakologis (tanpa obat) dan terapi farmakologis (menggunakan obat).

1. Terapi non-farmakologis Pengobatan non farmakologis berupa pengurangan asupan garam, penurunan berat badan bagi pasien gemuk dan olahraga.

2. Terapi farmakologis Menurut JNC VII, pengobatan dengan diuretik, ACE inhibitor, beta blocker, angiotensin reseptor bloker, dan calcium antagonis mempunyai manfaat pada terapi hipertensi pada diabetes tipe 1 dan tipe 2. Obat antihipertensi yang ideal untuk penyandang diabetes mellitus sebaiknya memenuhi syarat-syarat: a). Efektif menurunkan tekanan darah b). Tidak menganggu toleransi glukosa atau menganggu respons terhadap hipohiperglikemia c). Tidak mempengaruhi fraksi lipid d). Tidak menyebabkan hipotensi postural, tidak mengurangi aliran darah tungkai, tidak meningkatkan risiko impotensi e). Bersifat kardio-protektif dan reno-protektif

Berikut obat-obat dengan mekanisme dan manfaatnya: 1. Diuretik a. Mekanisme Diuretik bekerja meningkatkan ekskresi natrium, air dan klorida sehingga menurunkan volume darah dan cairan ekstraseluler. Akibatnya tejadi penurunan curah jantung dan tekanan darah. Selain itu beberapa diuretik juga menurunkan resistensi perifer sehingga menambah efek hipotensinya. Efek ini diduga akibat penurunan natrium di ruang intertisial dan di dalam sel otot polos pembuluh darah yang selanjutnya menghambat influks kalsium.

b. Manfaat Diuretik thiazid bermanfaat pada diabetes, bisa sendiri atau sebagai bagian dari regimen terapi yang dikombinasikan. Terapi dengan klortalidon menurunkan titik akhir primer pada penyakit jantung kronis fatal dan infark miokard untuk tingkat derajat yang sama sebagai dasar terapi pada lisinopril atau amlodipin. Perhatian potensial adalah kecenderungan dari diuretik tipe thiazid untuk hiperglikemia buruk, tetapi efek yang ditunjukkan kecil dan tidak memproduksi kejadian kardiovaskular dibandingkan golongan obat yang lain.

2. ACE Inhibitor (ACEI) a. Mekanisme ACE inhibitor menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II sehingga terjadi vasodilatasi dan penurunan sekresi aldosteron. Selain itu, degradasi bradikinin dalam darah meningkat dan berperan dalam efek vasodilatasi ACE inhibitor. Vasodilatasi secara tidak langsung akan menurunkan tekanan darah, sedangkan berkurangnya aldosteron akan menyebabkan ekskresi air dan retensi kalium. b. Manfaat Terapi dengan ACE Inhibitor juga komponen yang penting pada regimen untuk mengontrol tekanan darah pada pasien diabetes. ACE Inhibitor digunakan sendiri untuk menurunkan tekanan darah tetapi lebih banyak efektif ketika dikombinasikan dengan diuretik thiazid atau obat antihipertensi lain.

3. Angiotensin reseptor bloker (ARB) a. Mekanisme Dengan mencegah efek angiotensin II, senyawa antagonis reseptor angiotensin II ( losartan, kandesartan, irbesartan, valsatran dan erprosartan) merelaksasi otot polos sehingga mendorong vasodilatasi, meningkatkan ekskresi garam dan air di ginjal, menurunkan volume plasma, dan mengurangi hipertropi sel.

b. Manfaat Angiotensin reseptor bloker memproduksi perbaikan lebih besar dibandingkan dengan beta bloker pada 1,195 pasien dengan diabetes, termasuk menurunkan 37% mortalitas pada kejadian kardiovaskular. ACE inhibitor dan angiotensin reseptor bloker mempunyai efek yang baik pada fungsi renal dan memperbaiki sensitivitas insulin, oleh karena itu ACE Inhibitor dan angiotensin reseptor bloker adalah pilihan utama dan ideal pada terapi pasien dengan diabetes dengan hipertensi.

4. Beta bloker a. Mekanisme (1). Penurunan denyut jantung dan kontraktilitas miokard sehingga menurunkan curah jantung. (2). Hambatan sekresi renin di sel-sel jukstaglomeruler ginjal dengan akibat penurunan produksi angiotensin II (3). Efek sentral yang mempengaruhi aktivitas saraf simpatis, perubahan pada sensitivitas baroreseptor, perubahan aktivitas neuron adrenergik perifer dan peningkatan biosintesis prostasiklin. b. Manfaat Beta bloker, terutama beta-1 selektif agen, bermanfaat pada diabetes sebagai bagian pada terapi beberapa obat, tetapi sebagai monoterapi nilai mereka kurang jelas. Meskipun beta-bloker menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan pada homeostasis glukosa pada diabetes, termasuk sensitivitas insulin yang buruk, dan penutup potensi epinefrin menengahi gejala dari hipoglikemia, masalah ini biasanya mudah di tangani dan bukan kontraindikasi yang absolut untuk penggunaan beta-bloker.

5. Calsium channel bloker (CCB) a. Mekanisme Antagonis kalsium menghambat influks kalsium pada sel otot polos pembuluh darah dan miokard. Di pembuluh darah, antagonis kalsium terutama menimbulkan relaksasi arteriol, sedangkan vena kurang dipengaruhi. Penurunan resistensi perifer ini sering diikuti oleh reflek

takikardia dan vasokonstriksi, terutama bila menggunakan golongan dihidropiridin kerja pendek (nifedipin). Sedangkan diltiazem dan verapamil tidak menimbulkan takikardi karena efek kronotropik negatif langsung pada jantung. b. Manfaat Calsium channel bloker digunakan pada diabetes, sebagai bagian kombinasi terapi untuk mengontrol tekanan darah. Calcium channel bloker menurunkan kejadian penyakit kardiovaskular pada diabetes dibandingkan plasebo pada beberapa hasil percobaan klinik.

Tabel Petunjuk pemilihan obat pada Compelling indication:

Semua pasien dengan diabetes dan hipertensi dapat diatasi dengan pemberian antihipertensi yang lainnya termasuk ACE Inhibitor atau ARB. Secara farmakologi, kedua golongan obat ini memberikan nephrotection memperlihatkan vasodilatasi oleh karena arteriole pada ginjal. Lebih dari itu inhibitor-inhibitor ACE mempunyai pengurangan resiko yang besar sekali ditunjukkan data pengurangan pada kedua resiko kardiovaskular (kebanyakan dengan ACE inhibitor) dan resiko dari kelainan fungsi tubuh ginjal yang progresif (kebanyakan dengan ARBs) pada pasien-pasien diabetes.

Terapi obat pilihan dalam tugas ini adalah kaptopril yang merupakan golongan obat antihipertensi ACE inhibitor. Obat-obat golongan ini diindikasikan untuk hipertensi pada diabetes mellitus dan hipertensi pada diabetes dengan nefropati. Pada beberapa pasien, obat golongan ini menyebabkan penurunan tekanan darah yang sangat cepat. Komposisi: Setiap tablet mengandung kaptopril 12,5 mg. Setiap tablet mengandung kaptopril 25 mg. Setiap tablet mengandung kaptopril 50 mg. Dosis: Kaptopril harus diberikan 1 jam sebelum makan, dosisnya sangat tergantung dari kebutuhan penderita (individual). Dewasa: Hipertensi, dosis awal: 12,5 mg tiga kali sehari. Bila setelah 2 minggu, penurunan tekanan darah masih belum memuaskan maka dosis dapat ditingkatkan menjadi 25 mg tiga kali sehari. Maksimum dosis kaptopril untuk hipertensi sehari tidak boleh lebih dari 450 mg.

Referensi: 1. International Diabetes Federation www.idf.org 2. www.strokebethesda.com/doc/Simposium%20hipertensi.pdf 3. Nafrialdi, 2007, Antihipertensi, dalam Gunawan, S.G (Editor), Farmakologi dan Terapi, Edisi V, Bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 4. www.nhlbi.nih.gov/guidelines/hypertension/jnc7full.pdf