Anda di halaman 1dari 2

Nama : Sri Wahyu Widya Yusmawati Nim : E0011303 Kelas :

Orang Kaya Terima BLT


Das sollen : Berbagai cap negatif direkatkan pada program Bantuan Langsung Tunai (BLT). Ada yang mengatakan, BLT membuat rakyat miskin yang menerimanya menjadi pengemis. Ada yang menyebut BLT sebagai politik citra pemerintah sekarang mencari pujian dari rakyat miskin. Ada pula yang menyebutnya politik uang dalam rangka memenangkan Pemilihan Umum Presiden tahun depan. Ada yang mengibaratkan BLT dengan obat penghilang rasa sakit atau demam, tanpa menyentuh sumber sakitnya. Tiap orang, terutama yang menganggap dirinya tokoh, bebas mencap atau menjuluki program pemerintah yang sangat kontroversial ini. Sumber utama anggaran untuk program BLT ini pastilah dari seluruh rakyat yang setia dan jujur membayar pajak, apapun jenis pajaknya. Sakit ekonomi-sosial mayoritas rakyat gara-gara tiga kali (1 Maret dan 1 Oktober 2005 dan 24 Mei 2008) pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak sampai hampir 160 persen, dicoba diobati dengan menyuntikkan obat BLT. Menurut perhitungan Direktur ECONIT Jakarta, Hendri Saparini, pada periode 2004-2008 alokasi dana (subsidi) untuk rakyat miskin naik dari Rp 18 triliun menjadi Rp 60 triliun, Rp 44,16 triliun di antaranya tergolong bantuan langsung. Dana ini disalurkan melalui sembilan jenis subsidi / program. Tahun depan, menjelang Pemilu, jumlah BLT pasti lebih menggelembung lagi karena subsidi pupuk, minyak goreng, dan kedelai juga di-BLT-kan oleh pemerintah. Belanja Rokok 12,43 Persen, terlepas dari kontroversi besar BLT, satu hal yang pasti, ternyata tak semua orang miskin (berpenghasilan di bawah Rp 20.000/hari) menerima sedekah tersebut. Aggaran untuk program BLT ini pastilah dari seluruh rakyat yang setia dan jujur membayar pajak, apapun jenis pajaknya. Anggaran tersebut tertuju untuk rakyat kurang mampu. Das sein : Sebaliknya, sebagian penerima BLT sesungguhnya tak berhak menerimanya. Yang paling menarik, ternyata ada segelintir orang kaya raya turut pula menerima BLT melalui orang-orang miskin. Siapakah mereka? Para pemilik industri rokok. Kini ada 62,8 juta perokok aktif di republik ini, 70 persen (43,96 juta orang) di antaranya tergolong kaum miskin. Tahun lalu mereka mengonsumsi 215 miliar batang rokok bernilai Rp 130 triliun. Tiap perokok aktif rata-rata mengonsumsi sepuluh batang rokok/hari. Bila harga sebatang rokok Rp 500, berarti belanja rokok per orang rata-rata Rp 150.000/bulan (bandingkan dengan uang BLT yang cuma Rp 100.000/bulan). Menurut hasil Sensus Ekonomi Nasional 2003-2005, dari total konsumsi harian keluarga miskin ternyata hanya 19,30 persen untuk makanan, sedangkan untuk belanja rokok sebesar 12,43 persen, sementara anggaran pendidikan hanya 1,47 persen dan untuk kesehatan 1,99 persen saja. Tahun ini sebanyak 19,12 juta keluarga miskin di 33 provinsi menerima BLT sebesar Rp 14,17 triliun (jatah Juni-Desember 2008), termasuk Rp 806,64 juta untuk biaya operasional. Uang ini pastilah bersumber dari rakyat, termasuk dari kita/kami yang tak merokok atau dipaksa menjadi perokok pasif.

Apabila semua keluarga miskin penerima BLT itu membelanjakan 12,43 persen saja uang tersebut untuk rokok, berarti lebih Rp 1,76 triliun uang rakyat mereka bakar pada periode Juni-Desember 2008. Dengan ungkapan lain, segenap pembayar pajak di negeri ini melalui orang-orang miskin yang menerima BLT tahun ini menyumbang orang kaya raya (para pengusaha rokok) sebesar hampir Rp 2 triliun. Subsidi buat kaum miskin selama empat tahun ini lebih Rp 60 triliun. Bila 12,43 persen saja dari dana ini mereka belanjakan untuk rokok, mereka telah membakar uang rakyat, termasuk uang kita / kami yang tak merokok, sebesar Rp 7,45 triliun. Silakan hitung sendiri bila 70 persen penerima BLT membakar semua uang kaget yang mereka terima itu. Pada fakta lapangan, Dana BLT yang tertuju pada rakyat miskin, tampaknya tidak sedemikian rupa. Karena disini yang mendapatkan dana BLT tersebut juga meliputi orang mampu (orang kaya). Artikel 2

Kemewahan Istana Arthalyta


Das sollen : Arthalyta Suryani Selama masih di Indonesia,penjara bukan menjadi penjera.Dipenjara, pada umumnya seseorang dipenjara karena bersalah. Dan kesalahan itulah ditebus di balik penjara yang seharusnya bisa membuat jera si tahanan. Pidana Penjara adalah merupakan pidana hilang kemerdekaan yang terberat. Das sein : Fakta lapangannya adalah Arthalyta dipenjara benar- benar membuatnya jera. Justru di dalam penjara, ia menyulap tempat tahanannya menjadi istananya yang berisikan berbagai teknologi mewah, aksesoris mewah dalam ruangan, dan ijin keluar yang sangat mudah didapat seperti acara jagong dan ke salon. Artalyta Suryani alias Ayin benar-benar diperlakukan khusus di Rutan Pondok Bambu Jakarta. Nggak seperti tahanan lain, dia punya ruangan khusus di lantai 3, selain sel penjara. Ruangan ini dilengkapi AC dan TV. Di ruangan ini, juga ada ranjang atau tempat tidur yang nyaman. Selain itu, Ayin juga mempunyai meja kerja. Fakta ini ditemukan lewat sidak Satgas Pemberantasan Mafia Hukum. Ruang khusus milik Artalyta dilengkapi pendingin udara (AC), pesawat televisi, sofa, meja kerja hingga kulkas. Satgas mengungkap fakta itu setelah inspeksi mendadak (sidak) selama tiga jam tadi malam, antara pukul 19.00 hingga 22.00 WIB.Tim Satgas yang ikut dalam sidak antara lain Denny Indrayana, Mas Achmad Santosa,Yunus Husein, dan Herman Effendi. Lima narapidana yang didatangi adalah Artalyta Suryani (Ayin), Aling,Darmawati,Ines Wulandari, dan Eri.