Anda di halaman 1dari 7

PERCOBAAN V

A. JUDUL PERCOBAAN : Pembuatan Alum

B. TUJUAN PERCOBAAN : Mengetahui cara pembuatan alum dengan prosedur yang telah ditetapkan

C. TEORI Alum merupakan salah satu senyawa kimia yang dibuat dari dari molekul air dan dua jenis garam, Salah satunya biasanya Al2(SO4)3. Alum kalium, juga sering dikenal dengan alum, Mempunyai rumus formula yaitu

K2SO4.Al2(SO4)3.24H2O. Alum kalium merupakan jenis alum yang paling penting. Alum kalium merupakan senyawa yang tidak berwarna dan mempunyai bentuk kristal oktahedral atau kubus ketika kalium sulfat dan aluminium sulfat keduanya dilarutkan dan didinginkan. Larutan alum kalium tersebut bersifat asam. Alum kalium sangat larut dalam air panas. Ketika kristalin alum kalium dipanaskan terjadi pemisahan secara kimia, dan sebagian garam yang terdehidrasi terlarut dalam air. Alum kalium memiliki titik leleh 900C. Tipe lain dari alum adalah aluminium sulfat yang mencakupi alum natrium, alum amonium, dan alum perak. Alum digunakan untuk pembuatan bahan tekstil yang tahan api, obat, dan sebagainya (http://encarta.com). Aluminium sulfat padat dengan nama lain: Alum, alum padat, alumunium alum, cake alum, atau aluminium salt adalah produk buatan berbentuk bubuk, butiran, atau bongkahan, dengan rumus kimia Al2(SO4)3.xH2O. Kekeruhan dalam air dapat dihilangkan melalui penambahan sejenis bahan kimia yang disebut koagulan. Pada umumnya bahan seperti Aluminium sulfat [Al2(SO4)3.18H2O] atau sering disebut alum atau tawas, fero sulfat, Poly Aluminium Chlorida (PAC) dan poli elektrolit organik dapat digunakan sebagai koagulan. Untuk menentukan dosis yang optimal, koagulan yang sesuai dan pH yang akan digunakan dalam proses penjernihan air, secara sederhana dapat dilakukan dalam laboratorium dengan menggunakan tes yang

sederhana (Alearts & Santika, 1984). Prinsip penjernihan air adalah dengan menggunakan stabilitas partikel-partikel bahan pencemar dalam bentuk koloid. Stabilitas partikel-partikel bahan pencemar ini disebabkan : a. Partikel-partikel kecil ini terlalu ringan untuk mengendap dalam waktu yang pendek (beberapa jam). b. Partikel-partikel tersebut tidak dapat menyatu, bergabung dan menjadi partikel yang lebih besar dan berat, karena muatan elektris pada permukaan, elektrostatis antara muatan partikel satu dan yang lainnya. Stabilitas partikelpartikel bahan pencemar ini dapat diganggu dengan pembubuhan koagulan. Dalam proses penjernihan air secara kimia melibatkan dua proses yaitu koagulasi dan flokulasi (Alearts & Santika, 1984). Proses koagulasi adalah suatu proses pertumbuhan dan pencampuran dilakukan secara tepat dari suatu proses koagulan, stabilisasi dan partikel-partikel koloid tersuspensi, serta agregasi awal dari partikel-partikel terstabilisasi (Reynold, 1982). Partikelpartikel koloid yang terbentuk umumnya terlalu sulit untuk dihilangkan jika hanya dengan pengendapan secara gravitasi. Tetapi apabila koloid-koloid tersebut distabilkan dengan cara agregasi atau koagulasi menjadi partikel yang lebih besar maka koloid-koloid tersebut dapat dihilangkan dengan cepat (Metcalf & Eddy, 1978). Terdapat tiga mekanisme koagulasi yaitu komponen lapisan ganda (doeble layer compression), adsorbsi (adsorbtion) dan absorbsi oleh polimer (absorption by polymer). Koagulasi merupakan proses penambahan bahan kimia (koagulan) yang memiliki kemampuan untuk menjadikan partikel koloid tidak stabil sehingga partikel siap membentuk flok. Flokulasi merupakan proses pembentukan dan penggabungan flok dari partikel-partikel tersebut yang menjadikan ukuran dan beratnya lebih besar sehingga mudah mengendap. Flokulan yang digunakan untuk penjernihan air yaitu NaOH. Hal ini karena pengotor banyak mengandung ion positif sehingga dengan penambahan polimer yang bersifat negatif dapat mengikat flok lebih besar dan proses pengendapan lebih cepat (Soeparman & Suparmin, 2002).

D. ALAT DAN BAHAN 1. Neraca analitik 2. Gelas kimia 3. Gelas arloji 4. Corong 5. Batang pengaduk 6. Kertas saring 7. Logam aluminium 8. Hotplate E. HASIL PENGAMATAN : No Perlakuan 1. Al + KOH

Hasil Al larut dan menghasilkan gas dan larutan berubah jadi berwarna hitam.

2.

Al + KOH+aquades

Larutan menjadi encerdan tidak ada gas yang dihasilkan.

3.

Al + KOH + aquades + H2SO4

Terdapat

endapan

atau

terjadi

penggumpalan, tidak ada gas yang dihasilkan, larutan berwarana putih.

No 1.

Alat Kertas

Massa 0,1 gr

2.

Kertas+Alumunium

0,35 gr

3.

Alumunium

0,25 gr

4.

Alum

6,432 gr

F. ANALISIS DATA 1. Perhitungan Hasil perhitungan alum


( ( ( )( )( ( )( )( )( )( )( )( ) ) ) )

=
=

Persen hasil alum

=
= =

G. PEMBAHASAN Dari hasil pengamatan yang dilakukan di laboratorium pada percobaan ini praktikam dapat mengerti dan mengetahui tentang cara pembuatan alum. Dimana pada percobaan kali ini ada beberapa alat yang digunakan antara lain alumunium foil, kertas saring, timbangan, gelas kimia,erlenmeyer dan bahan yang digunakan larutan KOH dan H2SO4. Adapun prosedur kerja dalam proses pembuatan alum, yaitu : Menimbang alumunium yang sudah diamplas sampai permukaannya bersih sekitar 0,5 gram, bersama kertas saring. Kemudian gunting lembaran alumunium tersebut menjadi potongan yang kecil agar mudah larut. Lalu masukkan ke dalam gelas kimia yang berukuran 100 ml. Tambahkan larutan KOH sebanyak 5 ml yang telah diukur dari gelas ukur. Kemudian letakkan gelas kimia yang berisi larutan larutandan alumunium tersebut diatas hotplate untuk dipanaskan sambil diaduk. Dari reaksi ini menghasilkan gas hidrogen yang dilepaskan. Setelah alumunium larut sempurna dalam larutan, masukkan aquades secukupnya dalam gelas kimia dari reaksi pemanasan, larutan berwarna hitam dan setelah ditambahkan aquades lama kelamaan larutan menjadi warna abu-abu. Setelah dipanaskan, larutan tersebut disaring dengan menggunakan kertas saring kedalam erlenmeyer ukuran 250 ml. Proses penyaringan ini dilakukan dalam lemari asam karena bertujuan untuk menghindari konntak langsung dengan larutan yang berbahaya dari

praktikan. Kemudian hasil penyarinngan tersebut dicampur dengan larutan H2SO4 sebanyak 10ml. Pencampuran ini dilakukan secara perlahan-perlahan sambil diaduk secara terus-menerus dan larutan tersebut menjadi endapan/menggumpal dan lama-kelamaan mengental. Setelah itu penaskan kembali larutan tersebut sambil diaduk dan menambahkan aquades lagi. Terlihat larutan yang berwarna putih ini lama-kelamaan berkurang. Angkat gelas kimia dari hotplate dan kemudian gelas kimia yag berisi larutan disimpan dalam wadah yang berisi potongan es baru untuk didinginkan. Setelah itu disaringlah kembali larutan yang sudah dingin dengan menggunakan kertas saring, corong kaca dan batang pengaduk untuk memisahkan endapan dengan cairan. Setelah disarig,endapan hasil penyaringan di letakkan bersama kertas saring di atas kaca arloji kemudian tambahkan sedikit alkohol di endapan larutan tersebut. Langkah

terakhir,masukkan endapan (alum) ke dalam oven untuk pengeringan kemudian tunggu beberapa jam kemudian untuk melihat apakah hasil percobaan berhasil atau tidak. Dalam percobaan dilakukan proses penyaringan, pendinginan dan pengeringan dalam oven. Dimana pada proses penyaringan ini bertujuan untyuk memisahkan cairan dengan endapan. Proses penyaringan dilakukan 2 kali yaitu penyaringan pertama bertujuan untuk mengambil cairannya yang telah disaring sudah menjadi jernih dan penyaringan kedua bertujuan untuk mengambil endapannya. Adanya proses pengerinan dalam oven bertujuan untuk mengeringkan hasil endapan yang masih basah agar menjadi kering dan menghasilkan alum yang sempurna. Sedangkan tujuan pendinginan adalah memadatkan dan mengkristalkan larutan tersebut. Adapun beberapa kegunaan dari alum yaitu dimanfaatkan dalam industri kertas, pengolahan air, pengolahan limbah, mengurangi bau amis ikan, mengurangi rasa pahittanpa mengurangi kadar proteinnya dan juga menjadi minyak rambut untuk rambut kering.

H. KESIMPULAN Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa alum merupakan suatu zat kimia yang dibuat dari molekul air dan dua jenis garam rangkap. Dimana hasil reaksi keseluruhan yaitu : 2Al(s) + 2KOH(ag) + 10H2O(e) + 4H2SO4(ag) 2KAL (SO4)2 + 12H2O(s) + 3H2(g) Kalium alumunium sulfat dedokahidrat Hasil persen alum yaitu 146,54 %

DAFTAR PUSTAKA Alaerts, G dan Santika, S.S. 1984. Metoda Penelitian Air. Surabaya: Usaha Nasional.

Anonim. 2001. Alum. Diperoleh dari http://www.encarta.com

Metcalf & Eddy. 1991. Waste Water and Engineering Treatment. Graw Hill. Reynold, T.D. 1982. Unit Operation and Process in Enviromental Engineering. California: Broks/Cole Engineering.

Soeparman & Suparmin. 2002. Pembuangan Tinja dan Limbah Cair. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.

http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:RyZIURv47rEJ:tutorialk uliah.blogspot.com/2009/05/proses-pembuatan-alumtawas.html+pembuatan+alum&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id&client=firefox-a