Anda di halaman 1dari 9

Tips Meredam Emosi Anak dengan Cepat dan Menyenangkan Jika emosinya sedang bergejolak,seorang anak tidak dapat

menerima nasehat, Hibernian, atau kritik dari siapa pun juga. Ia hanya ingin kita memahami situasinya. Ia hanya menghendaki kita mengerti apa yang sedang mendidih dalam hatinya. (Dr. Haim G. Ginott, Memesrakan hubungan Anda dengan Anak Anda, P.T. Gramedia, 1977) Ulasan Sangat tidak mudah memang, menunggu emosi anak mereda karena kita, orang dewasa, terkadang ikut terseret arus emosi si anak. Sementara di sini lain seolah-olah kita sudah mengetahui bagaimana penyelesaian masalah yang terbaik bagi si anak. Anak yang melonjak-lonjak gembira akan membuat kita senang. Padahal kita tahu bahwa jika tidak hati-hati, lonjakan-lonjakan tersebut akan membahayakan si anak yang sedang berdiri di dekat vas bunga. Anak yang menangis menyayat hati akan membuat kita seperti teriris-iris. Padahal kita tahu bahwa tangisan tidak akan menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi oleh si anak. Anak yang berteriak-teriak marah akan membuat kita pun terpancing untuk menggunakan nada yang lebih tinggi agar si anak mendengar. Padahal kita tahu persis bahwa teriakanteriakan tersebut justru membuat suasana menjadi tambah keruh. Sangat tidak mudah, memang, untuk menahan emosi yang sedang bergejolak. Namun, jika kita, orang yang dikatakan telah dewasa, berhasil menahan diri dan menunjukkan bahwa apa pun yang terjadi, masalah apa pun yang dihadapi si anak, kita akan tetap menyayangi dan menerima mereka apa adanya, maka emosi anak akan mereda dengan sendirinya. Bagaimana caranya? Menahan diri dan menunjukkan cinta yang tak bersyarat itu? Mudah saja, jika kita sudah terbiasa. Kami akan berbagi mengenai proses yang dilakukan oleh para pembimbing di Bintang Bangsaku jika menghadapi anak yang sedang dilanda turbulensi emosi, terutama marah maupun sedih. Pertama, ambil posisi di mana mata kita sejajar dengan mata mereka. Lebih baik jika kita duduk, bukannya mengangkat si anak. Dengan duduk, kita masih memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan emosinya. Sementara dengan mengangkatnya, kita memenjarakan si anak. Ke dua, ketika anak masih meluap-luap emosinya, pandang dengan lembut sembari menarik nafas untuk menenangkan diri sendiri. Usahakan agar terjadi kontak mata, tanpa memaksa si anak untuk memandang kita. Katakan kalimat berikut berulangkali dengan lembut Kakak tahu, kamu marah/sedih, karena Kakak juga akan

marah/sedih kalau mengalami hal yang sama Katakan kalimat yang sama terus menerus. Sesekali tambahkan Kakak sedih kalau lihat kamu marah/sedih Jika anak marah/sedih karena menuntut sesuatu, tambahkan Kakak tahu kamu marah/sedih karena tidak dapat . Tetapi, walaupun kamu marah/sedih, kamu tidak akan dapat . karena menurut kakak jika (sebutkan alasan mengapa si anak tidak memperoleh keinginannya) Hitung dalam hati, 1 sampai dengan 10, lalu katakan Kalau kamu sudah tidak marah/sedih, kita akan bicara. Kita cari penyelesaiannya. Kita tidak bisa bicara kalau kamu masih marah/sedih. Hitung kembali dalam hati, setiap di hitungan ke 10, katakan hal yang sama. Jangan lupa untuk selalu melakukan kontak mata. Jika ia sudah tampak mereda, posisikan tangan seolah-olah meminta si anak mendekat. Sembari berkata Kakak sedih lihat kamu marah/sedih. Kakak akan tunggu sampai kamu tidak lagi marah/sedih. Kita akan bicara. Jika proses di atas dilakukan dengan benar, anak akan mendekat dengan sendirinya dan meminta untuk dipangku. Pada saat inilah kita berdiskusi. Selama proses peredaan emosi tersebut, kakak pembimbing sama sekali tidak melakukan perlawanan dan menghindar jika digigit/dipukul/dicubit/dijambak/ditendang oleh si anak. Hanya mengatakan Sakit kalau dipukul/dicubit/dijambak/ditendang. Jika memang gigitan/pukulan/cubitan/jambakan/tendangan terasa membahayakan, biasanya pembimbing tidak gerakan menghindar, tetapi bertahan. Selama proses tersebut, pembimbing juga tidak pernah menggunakan intonasi yang tinggi. Justru intonasi yang datar dengan suara yang lirih, seolah-olah hanya dapat didengar oleh 2 orang. Proses anak meluapkan emosinya sampai reda terkadang menghabiskan waktu yang lama, bisa lebih dari 15 menit. Proses yang sebenarnya melelahkan bagi kedua belah pihak, sehingga terkadang anak tertidur ketika kemarahan atau kesedihannya mereda dan membuat kita lemas. Proses yang harus ditempuh, jika kita menginginkan yang terbaik untuk anak. Selamat mencoba. Sumber: http://id.shvoong.com/writing-and-speaking/presenting/2103930-tips-meredamemosi-anak-dengan/#ixzz1VHBE5kq4

"Jangan jadi orangtua, tapi jadilah manusia yang menjadi orangtua"


Dr. HAIM G. GINOTT

Untuk mendidik seorang anak agar menjadi seseorang manusia sempurna maka orangtua perlu mempelajari cara-cara yang manusiawi. Kasih sayang saja tidak cukup. Pengertian saja tidak memadai. Orangtua yang baik perlu memiliki ketrampilan dalam bertindak. Ketrampilan ini akan membantu orangtua untuk menterjemahkan cita-cita mereka dalam kehidupan sehari-hari. Orangtua harus diberdayakan agar memperoleh dan memakai ketrampilan mendidik anak untuk bisa mewujudkan visi, misi dan cita-cita dalam keluarga. Ada 8 ketrampilan utama pengasuhan (8 skills program parenting) yang dibutuhkan orangtua, yaitu : 1. Memahami untuk menjadi dan belajar menjadi orangtua yang baik adalah proses sepanjang hayat Sebagai orangtua yang juga berprofesi sebagai psikolog dan punya 3 orang anak yang menjelang dewasa, saya sangat yakin bahwa peran orangtua sangat krusial dalam kehidupan anak-anaknya. Sehingga tidak ada pekerjaan di dunia ini yang lebih penting daripada menjadi orangtua. Sayangnya tidak ada 'sekolah formal' yang bisa menjadikan kita sebagai orangtua yang baik. Anak anak kita terlahir tanpa disertai buku manual dari Tuhan yang (diharapkan) menguraikan cara-cara orangtua mendidik anak dengan baik. Maka orangtua perlu selalu 'harus' belajar sendiri baik dari pengalaman (learning by doing) atau bertanya kepada orang lain yang dianggap lebih berpengalaman, serta bisa pula dengan membaca buku, seminar, ceramah dan diskusi untuk mengembangkan ketrampilannya dalam mengasuh anak. Dr. Haim G. Ginott dalam bukunya Between Parent and Child (1965) mengatakan bahwa kehidupan sebagai orangtua merupakan serangkaian kejadian kecil, konflik berkala, dan krisis mendadak yang tak pernah berakhir dan memerlukan respon yang mengadung berbagai konsekwensi. Hal ini sangat mempengaruhi kepribadian dan harga diri. Semuanya menuju keadaan yang lebih baik atau buruk. Ini semua harus kita lewati dan adanya peristiwa/kejadian apapun bentuknya, maka kesemuanya itu akan menjadi pembelajaran dalam hidup kita sebagai orangtua pada umumnya dan nantinya akan sangat berguna dalam pengasuhan anak-anak kita. 2. Memahami tingkat perkembangan anak Apa yang dimaksud dengan tingkat perkembangan anak? Papalia & Olds (2001) mengatakan bahwa perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan manusia. Dan perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan

Olds (2001), yaitu: (1) perkembangan fisik, (2) perkembangan kognitif, dan (3) perkembangan kepribadian dan sosial. Jadi dapat kita simpulkan disini bahwa tingkat perkembangan seorang anak ialah tahap perubahan secara fisik, kognitif, kepribadian dan sosial yang terjadi pada seorang anak sesuai dengan pertambahan usianya sejak dari masa konsepsi (pembuahan), bayi, kanak-kanak,remaja hingga masa dewasa awal . Mengapa orangtua wajib memonitor/mencatat/mempelajari/memahami tingkat perkembangan (tumbuh kembang) anak? Ada 5 alasan yang bisa dikemukakan disini, yaitu : 1. Orangtua sebagai orang yang paling bertanggung jawab dalam pengasuhan harus mempunyai alat ukur dalam merawat/mengasuh anak-anaknya karena tumbuh kembang berjalan menurut norma-norma tertentu. 2. Diperlukan orangtua untuk mengetahui apakah anaknya tumbuh secara normal dan dan untuk secara dini mendeteksi adanya deviasi dari normal 3. Mempelajari tumbuh kembang memberikan guide line untuk menilai rata-rata atau perubahan fisik, intelektual, sosial dan emosional yang normal dari seorang anak. 4. Mengetahui adanya fase-fase kritis yang menjadi ciri dalam tiap tahap perkembangan. Pada dasarnya anak-anak menampilkan berbagai perilaku sesuai dengan ciri masing-masing fase tersebut. 5. Orangtua mampu bersikap tenang dan tepat menghadapi berbagai gejala yang mungkin muncul pada setiap tahap tertentu perkembangannya tertentu. 3. Memahami anak sebagai individu yang unik Anak sebagai individu yang unik dimaksudkan bahwa masing-masing anak berkembang dengan cara-cara tertentu sesuai dengan karakteristiknya. Sebagaimana manusia lain yang terus tumbuh dan berkembang, maka anak-anak juga terus mengalami pertumbuhan/perubahan pada aspek fisik, kognitif/intelektual, psikologis, sosial dan emosional. Perkembangan yang dialami seorang anak (meski bayi kembar identik sekalipun!) pada semua aspek perkembangan tidak akan pernah sama satu dengan lain alias unik. Jadi di samping adanya kesamaan-kesamaan umum dalam pola-pola perkembangan yang dialami oleh setiap individu, terjadinya vanasi individual dalam perkembangan anak bisa terjadi setiap saat. Hal ini terjadi karena perkembangan itu sendiri merupakan suatu proses perubahan yang kompleks, melibatkan berbagai unsur yang saling berpengaruh satu sama lain. Sehingga dengan demikian setiap anak yang dilihat sebagai satu individu tentunya memiliki potensi berbeda satu dengan yang lainnya namun saling melengkapi dan sangat berharga. Ada beberapa jenis keunikan/perbedaan anak, yaitu :

Perbedaan secara fisik. Tentunya secara kasat mata kita bisa melihat bahwa setiap anak memiliki bentuk fisik yang berbeda antara satu anak dengan anak yang lain. Dari tinggi dan berat badan, warna kulit, bentuk badan dan wajah, tidak akan pernah sama. Ada yang kurus, gemuk, tinggi, pendek, kulit putih/hitam, rambut panjang/pendek, wajah bulat/oval dan lain-lain.

Perbedaan dari sisi kognitif. Tidak semua anak memiliki kecerdasan yang sama. Ada yang sangat pintar, rata-rata dan ada juga yang kurang bahkan idiot. Jika mengacu kepada skala Weschler, ada yang mempunyai IQ 150 - super cerdas, ratarata 90-110 dan ada juga yang dibawah rata-rata atau bahkan idiot (dibawah 90). Perbedaan kecerdasan emosi dan karakter. Perbedaan-perbedaan ini bisa dilihat dari anak-anak sejak mereka kecil. Sebagian anak-anak dari semenjak kecil sudah mewarisi sifat-sifat seperti ini. Karakter-karakter ini bisa jadi turunan dari orangtua mereka atau karena faktor genetik yang diwariskan dari orangtua mereka, atau juga karena faktor-faktor nutrisi, atau juga karena lingkungan sekitar hidupnya. Jadi ada anak yang periang, aktif, rajin serta selalu optimis, ada juga anak yang pemalas , lamban, pasif dan selalu bersedih. Ada yang suka bicara, senang berteman, ada juga anak yang minder dan tidak suka bergaul. Perbedaan dalam kematangan atau kedewasaan . Setiap tahap perubahan anak ada tahap dimana seseorang anak mencapai kematangan/kedewasaan fisik, kognitif, psikologis dan sosial emosionalnya. Namun pencapaian ini tidak akan pernah sama antara satu anak dengan lainnya. Ada yang terlihat fisiknya lebih dulu matang sementara kognitifnya belum. Ada yang fisik dan kognitifnya sudah matang akan tetapi kematangan psikologis dan sosial emosionalnya masih belum. Ada yang psikologis dan sosial emosionalnya sudah matang, namun kematangan fisiknya belum tercapai maksimal. Kondisi ini akan bervarian antara anak yang satu dengan yang lain dimana kita tidak bisa meramalkan aspek yang mana dulu dari seorang anak yang lebih dulu mencapai kematangan atau kedewasaannya.

Jean Soto mengatakan, bahwa setiap anak itu unik. Tujuan utama dari setiap pendidikan dan pengajaran adalah kita mendidik anak-anak kita dengan segala kekurangan dan segala potensinya yang ada sehingga potensi ini bisa kita kembangkan untuk kebaikannya secara lebih maksimal lagi. 4. Mempunyai kematangan pribadi dan keharmonisan dalam keluarga Seperti yang telah diuraikan pada pembahasan sebelumnya, bahwa keluarga merupakan wadah pendidikan yang memiliki pengaruh signifikan bagi perkembangan dan kedewasaan seorang anak. Salah satu syaratnya ialah orangtua harus selalu bisa menjaga keharmonisan keluarga yang dicapai dengan kematangan pribadi masing-masing orangtua tersebut. Muhdlor (1994) mengatakan bahwa kematangan pribadi sangat besar artinya bagi pasangan yang berumah tangga. Tidak adanya kematangan pribadi menyebabkan masing-masing pasangan kurang dapat menerima dan memahami pasangannya, tidak ada penyesuaian di antara mereka sehingga mengakibatkan keluarga kurang harmonis. Perlu diketahui bahwa usaha untuk membangun keluarga harmonis berasal dari kemampuan dan kemauan dari orang tua. Keharmonisan keluarga tergantung dari kemampuan orang tua untuk berperan sebagai orang tua secara utuh. Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang mampu mengembangkan potensi dan kepribadian dari masing-masing anggota keluarga secara optimal. Semakin baik dan harmonis hubungan antar anggota keluarga, akan semakin baik pula kehidupan yang dialami seorang anak dalam mencapai kedewasaan. Adanya lingkungan keluarga yang harmonis tentunya

menjadi dukungan positif yang berpengaruh terhadap pola pikir dan perilaku anak baik di lingkungan sekolah maupun di lingkungan tempat tinggalnya. 5. Memahami diri sendiri Dalam bersikap dan berperilaku anak-anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya khususnya orangtua. Disadari atau tidak oleh orangtua, anak mudah sekali meniru dan mencontoh perilaku, tindakan dan emosi psikologis mereka. Mengapa demikian, karena orangtua adalah dua orang yang paling berperan dalam pengasuhan anak sejak lahir kedunia. Orangtua adalah orang/lingkungan yang paling dekat sehingga menjadi model utama bagi anak-anak. Jika perilaku positif yang ditiru tentu orang tua akan senang. Tapi bagai mana jika perilaku yang buruk yang ditiru? Tentu tak satu pun orangtua ingin menularkan sisi buruknya kepada anak-anak mereka. Untuk itu kita (orangtua) harus memahami diri kita sendiri terlebih dahulu.. Apa kelebihan dan kekurangannya, apa saja kebiasaan baik dan buruk yang ada pada kita. Mengevaluasi kembali adakah ucapan, emosi dan perilaku dari kita yang bisa mempengaruhi dan ditiru oleh anak-anak. Jika ada perilaku yang kurang baik, maka secepatnya perilaku tersebut harus kita hilangkan. Sebaliknya untuk perilaku yang baik/positif, maka sebanyak mungkin kita lakukan didepan mereka. Bukan pada tempatnya jika orangtua 'hanya' menyuruh/menasehati anaknya berbuat sesuatu yang baik dan menghindari/melarang perbuatan yang jelek, sementara orangtua tidak mampu menerapkannya pada dirinya sendiri. Karena orangtua adalah orang yang paling dominan dalam mempengaruhi kepribadian anak, maka kita orangtua 'harus bisa' bercermin pada kita sendiri setiap saat. Untuk itu mari mulai sekarang kita memaksakan diri menjadi model yang baik untuk anak-anak kita. 6. Mempunyai kemampuan komunikasi Membangun komunikasi di dalam keluarga menjadi sebuah keharusan, karena tanpa komunikasi yang baik, tidak akan ada keluarga yang bahagia. Orang tua harus mampu bekerjasama sebagai satu tim yang solid, sehingga disiplin bisa tercapai. Itu semuanya mustahil terwujud tanpa komunikasi yang baik dalam keluarga tersebut. Konsistensi adalah dasar komunikasi yang baik dan bersikap konsisten akan membuat anak merasa aman dan memberi batasan yang jelas. Bersikap konsisten adalah aturan terberat yang harus dihadapi oleh orangtua mana pun, ketika orangtua tidak siap bersikap konsisten maka anak-anak tidak akan mau mendengarkan atau percaya pada orangtua. Agar semua itu bisa berjalan baik, maka orangtua harus mempunyai kemampuan komunikasi yang baik dengan anakanaknya. Menurut Elly Risman psikolog dari Yayasan Buah Hati, komunikasi dengan anak adalah cara yang baik untuk memproteksi anak supaya lebih aman di luar rumah. Dia lantas mengungkap banyak hasil penelitian yang menunjukkan pentingnya komunikasi dengan anak. `Anak-anak yang bicara dengan orang tua lebih banyak, lebih punya ketahanan di luar, dia mengutip hasil sebuah penelitian itu. Jadi, komunikasi di dalam keluarga yang terbuka dan hangat melindungi anak-anak kita dari pengaruh buruk lingkungan yang

kurang baik yang bisa menimbulkan penyimpangan perilaku dan perbuatan negatif yang melanggar norma-norma masyarakat seperti kenakalan remaja. 7. Mempunyai kemampuan mengelola diri Kedewasaan seorang anak ditandai dengan kemampuannya untuk mengelola dirinya sendiri. Sebagai orang yang bertanggung jawab mendidik anak-anaknya menuju kedewasaan orangtua seharusnya punya kemampuan untuk mengelola dirinya terlebih dulu. Bagaimana mungkin dia akan berhasil dalam mendidik anak-anaknya apabila tidak mampu mengelola dirinya sendiri. Jadi sebagai orangtua kita dituntut untuk mengembangkan dan meningkatkan kemampuan diri kita dahulu sebelum terjun dalam mendidik anak untuk menyongsong masa depan gemilang mereka. 8. Mempunyai kecerdasan kognitif, emosi, sosial dan spiritual Orangtua diharapkan selalu belajar dan bermasyarakat untuk bisa mencapai tingkat kecerdasan kognitif yang cukup tinggi yang diperlukan dalam mendidik anak-anaknya. Dia juga harus mampu memngontrol emosinya dengan baik sehingga tidak mudah terpancing oleh rayuan, bujukan dan rengekan anak-anaknya yang memang kadangkala terasa begitu menjengkelkan. Selain itu orangtua diharapkan mampu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya sehingga dia mampu untuk membimbing anaknya terjun ke masyarakat dan memberkan contoh dalam pergaulan. Untuk bisa mencapai itu semua, sebagai orangtua wajib mempunyai tingkat spiritualitas yang tinggi dimana adanya kesadaran terhadap pengatur alam semesta yang mutlak menyebabkan adanya rasa aman dan perlindungan bahwa diantara usaha yang kita lakukan dalam mendidik anak sebaikbaiknya, kita dibantu juga oleh Yang Maha Kuasa dalam mewujudkan cita-cita mulia itu.

Pensil kamu hilang? Pasti kamu taruh sembarangan! Sudah berapa kali Mama bilang, "simpan barang-barangmu di laci." Kenapa sih kamu nggak pernah mau dengar omongan Mama?

Kenapa dan kenapa. Itulah yang sering kita ucapkan pada anak ketika dia mengatakan sesuatu. Tanpa kita sadari, kita telah mengomelinya sepanjang hari. Pernahkah Anda merekam diri Anda satu hari saja dengan memosisikan kembali diri Anda sebagai anak yang sedang diomeli orangtua? Tahukah Anda bahwa anak sulit berpikir jernih atau konstruktif jika dia diinterogasi, disalahkan, atau dinasihati? Komunikasi yang baik adalah solusi untuk menyelesaikan semua permasalahan di atas. Namun kebanyakan orangtua tidak tahu bagaimana caranya berkomunikasi dengan anakanak mereka, sehingga yang terjadi setiap harinya adalah teriakan, bentakkan, dan pengibaan. Buku ini ditulis oleh dua orang pakar komunikasi antara anak dan orang dewasa yang telah diakui secara internasional. Buku ini akan membantu Anda untuk: Mengatasi perasaan-perasaan negatif anak Anda Mengungkapkan kemarahan Anda tanpa menyakiti anak Mencari alternatif pengganti hukuman dan pengganti kata "tidak" Bacalah buku ini, jadilah bagian dari ribuan orangtua yg telah berhasil menciptakan hubungan yg harmonis dengan anak-anak mereka. Dan ucapkan selamat tinggal pada teriakan, bentakkan, atau pun pengibaan! ************************ Tulisan di atas adalah sinopsis yang aku buat untuk back kover buku "Berbicara agar Anak mau Mendengar dan Mendengar agar anak mau bicara." Tentu saja aku merekomendasikan buku itu untuk dibaca oleh para orangtua yang memiliki hubungan komunikasi yang "kurang baik" dengan anak-anak mereka. Karena duo pakar komunikasi (adele faber dan elaine mazlish) menulis buku ini dengan kalimat-kalimat yang mudah dicerna. Tips-tips yang diberikannya pun sangat sederhana namun manjur untuk dicoba. Contoh kasus yang dikemukakannya begitu "dekat" dengan permasalahan keseharian yang kita hadapi bersama anak-anak kita. Bahkan beberapa contoh kasus dan tips yang harus kita terapkan dibuat dalam bentuk kartun, sehingga asyik untuk dibaca. Dalam buku itu juga dikemukakan bahwa, anak-anak tidak senang jika orangtua mengulangi julukan kasar yang mereka gunakan untuk menyebut diri sendiri. Jadi, bila seorang anak memberitahu orangtuanya bahwa dia bodoh atau jelek atau gendut, tidak akan membantu jika orangtuanya menjawab dengan, Oh, jadi kamu pikir kamu bodoh, atau Kamu benar-benar ngerasa kamu jelek. Jadi, janganlah bekerja sama atau mendukungnya jika dia memberi julukan kasar pada dirinya sendiri. Kita bisa menerima rasa sakitnya tanpa perlu mengulangi julukan tersebut. Contohnya: ANAK ----> Aku nggak mau pakai kawat gigi lagi. Sakit banget. Sebodo amat sama dokter

gigi! Lagian, aku terlihat jelek kalau tersenyum. Yang terlihat cuma kawat gigiku. Aku jelek! ORANGTUA (biasanya akan membantah perasaan anak yang mengeluh demikian) ----> Nggak mungkin kawat giginya sesakit itu. Papa sudah bayar mahal, kamu harus pakai kawat gigi itu, suka atau nggak suka! ***mendengar omongan gitu, anak pasti tambah betek :p :p :p :p Alternatif yang ditawarkan dalam buku untuk ORANGTUA ----> Sakit ya Sayang? Kamu tidak suka ya penampilanmu karena kawat gigi itu. Tapi buat Ayah, kamu tetap cantik, lhodengan atau tanpa kawat gigi. ***anak pasti akan merasa terbantu dengan pernyataan seperti itu :D :D :D :D Ow yah, buatku, mengedit buku ini memberikan satu tambahan ilmu baru tentang bagaimana berkomunikasi yang efektif dengan anak-anak. Yang tentunya bakal berguna untuk saat ini (ketika aku menghadapi anak-anak kecil di sekitarku) dan di masa depan (saat aku menghadapi anakku sendiri :p) ************** TENTANG PENULIS: Kedua penulis belajar dari almarhum psikolog anak Dr. Haim Ginott, dan pernah mengajar pada fakultas New School of Social Research di New York City serta Family Life Institute di Long Island University. Selain kerap memberikan kuliah di seluruh penjuru AS & Kanada, mereka juga tampil di semua acara televisi besar, mulai Good Morning America sampai Oprah. Mereka tinggal di Long Island, New York, dan masing-masing memiliki tiga anak.[]