Anda di halaman 1dari 18

EKA SRI LESTARI DEFINISI DIARE

Secara definisi Diare adalah Defekasi (BAB) lebih dari tiga kali sehari, dengan atau tanpa darah dan atau lendir dalam tinja. Diare dalam bahasa kasar disebut Mencret adalah Sebuah penyakit dimana penderita mengalami rangsangan buang air besar yang terus menerus dan tinja atau feses yang masih memilki kandungan air berlebihan. Diare adalah Apabila penderita buang air mengalami perubahan bentuk dan konsistensi tinja melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi berak lebih dari biasanya(3 kali atau lebih dalam 24 jam) Diare merupakan keadaan individu yang mengalami atau beresiko sering mengalami pengeluaran feses dalam bentuk cair.Diare sering disertai kejang usus, mungkin ada rasa mual dan muntah Diare menurut WHO adalah Buang air besar encer lebih dari 3 kali / hari.Buang air encer tersebut dapat atau tanpa

DINNY DAN AROFAH Diare Akut dengan Dehidrasi RinganSedang Posted on April 28, 2008. Filed under: Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Penyakit Dalam | Tags: Diare Akut, Dehidrasi, mencret |
Editor : Herbet P. Hutagaol, S.Ked. Fakultas Kedokteran Universitas Riau. RSUD Arifin Achmad Pekanbaru-Riau.

Definisi
<!--[if !supportLists]--> berdarah dalam 1 hari. 1 <!--[if !supportLists]--> hari.1 <!--[endif]-->Diare akut diare yang berlangsung < 14 <!--[endif]-->Diare episode keluarnya tinja cair

sebanyak 3x/ lebih, atau lebih dari 1x keluarnya tinja cair yg berlendir atau

Etiologi Etiologi diare dapat dibagi beberapa faktor : 2


1. Faktor infeksi a. Infeksi enteral infeksi pada GIT (penyebab utama) <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Bakteri : Vibrio cholerae,

Salmonella spp, E. coli dll <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Virus : Rotavirus (40-60%),

Coronavirus, Calcivirus dll

<!--[if !supportLists]-->

<!--[endif]-->Parasit : (Ascaris,

Oxyuris,dll), Protozoa (Entamoba histolica,Giardia Lambia, dll) Jamur (Candida Albicans) b. Infeksi parenteral infeksi di luar GIT (OMA, BP, Ensefalitis,dll) 2. Faktor malabsorbsi : KH, Lemak, Protein 3. Faktor makanan : basi/ beracun, alergi 4. Faktor psikologis : takut dan cemas

Patofisiologi Patofisiologi diare yang disebabkan oleh virus dan bakteri : 1,3
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->VIRUS masuk enterosit (sel epitel usus

halus) infeksi & kerusakan fili usus halus <!--[if !supportLists]--> fungsi blm baik <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Fili usus atropi tdk dpt <!--[endif]-->Enterosit rusak diganti oleh

enterosit baru (kuboid/ sel epitel gepeng yg blm matang)

mengabsorbsi makanan & cairan dgn baik Tek Koloid Osmotik motilitas DIARE <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->BAKTERI NON INFASIF (Vibrio

cholerae, E. coli patogen) masuk lambung duodenum berkembang biak mengeluarkan enzim mucinase (mencairkan lap lendir) bakteri masuk ke membran mengeluarkan subunit A & B mengeluarkan (cAMP) meransang sekresi cairan usus, menghambat absobsi tampa menimbulkan kerusakan sel epitel tersebut volume usus dinding usus teregang DIARE <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->BAKTERI INFASIF (Salmonella spp,

Shigella spp, E. coli infasif, Champylobacter) prinsip perjalanan hampir

sama, tetapi bakteri ini dapat menginvasi sel mukosa usus halus reaksi sistemik (demam, kram perut) dan dapat sampai terdapat darah <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Toksin Shigella masuk ke

serabut saraf otak kejang

Berdasarkan patofisiologi diare dibagi atas : 1


<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Diare osmotik : diare akibat adanya bahan

yang tidak dapat diabsorbsi oleh lumen usus hiperosmoler hiperperistalsis <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Diare sekretorik : terjadi akibat stimulasi

primer dari enterotoksin atau oleh neoplasma <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Diare akibat gangguan motilitas usus :

gangguan pada kontrol otonomik

KOMPLIKASI Komplikasi diare dapat berupa : 4


<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Kehilangan air dan elektrolit _ Dehidrasi,

Hipokalemia, Asidosis metabolik, Kejang, Alkalosis metabolik <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Gangguan sirkulasi darah _ Syok

hipovolemik <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Gangguan gizi _Hipoglikemia, Malnutrisi

energi protein, Intolerasi laktosa sekunder

Penentuan derajat dehidrasi Derajat dehidrasi dapat ditentukan sebagai berikut : 1,5
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Berdasarkan BB <!--[endif]-->Ringan _pe BB < 5 %

<!--[if !supportLists]-->

<!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]-->

<!--[endif]-->Sedang _pe BB 5 10 % <!--[endif]-->Berat _pe BB > 10 %

<!--[endif]-->Menurut Haroen Noerasid (modifikasi) <!--[endif]-->Ringan _Rasa haus & Oliguria

<!--[if !supportLists]--> ringan <!--[if !supportLists]--> kulit, ubun2 & mata cekung <!--[if !supportLists]-->

<!--[endif]-->Sedang _Tanda diatas + turgor

<!--[endif]-->Berat _Tanda diatas + somnolen,

sopor, koma, syok, nafas kussmaul

Langkah diagnostik
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Riwayat5 <!--[endif]-->Jumlah dan konsistensi tinja <!--[endif]-->Muntah <!--[endif]-->Rasa haus <!--[endif]-->Episode diare

<!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]-->

<!--[endif]-->Pemeriksaan Fisik5 <!--[endif]-->Keadaan umum klien _gelisah,

<!--[if !supportLists]-->

mudah marah, lemah, kesadaran <!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Tandatanda vital <!--[endif]-->BB

<!--[if !supportLists]--> mata, Air mata <!--[if !supportLists]-->

<!--[endif]-->Status hidrasi _ kecekungan ubun-

ubun, Urin Output, Mukosa membran,Turgor kulit, Kecekungan kelopak

<!--[endif]-->Tanda2 hipokalemi _Bising usus,

distensi usus, Menurunnya kemampuan kontraksi otot <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Pola pernafasan _Pernafasan

Kussmaul

Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien diare : 1,5
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Pemeriksaan tinja <!--[endif]-->Makroskopis dan mikroskopis <!--[endif]-->PH dan kadar gula dalam tinja <!--[endif]-->Kultur dan uji resistensi

<!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> basa AGD <!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> kreatinin faal ginjal <!--[if !supportLists]-->

<!--[endif]-->Pemeriksaan keseimbangan asam

<!--[endif]-->Urinalisis : Bj, endapan <!--[endif]-->Pemeriksaan kadar ureum

<!--[endif]-->Pemeriksaan keseimbangan cairan &

elektrolit Hb-Ht, Na, K, Ca dan F <!--[if !supportLists]--> (biasanya kalium) <!--[endif]-->EKG menilai deplesi elektrolit

Penatalaksanaan diare
Prinsip penatalaksanaan diare adalah mempertahankan kebutuhan cairan tubuh supaya tidak terjadi dehidrasi karena penyebab diare yang paling banyak adalah Rotavirus. 2,3

Penatalaksanaan dehidrasi Penatalaksanaan dehidrasi pada pasien diare adalah sebagai berikut : 4,5
<!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Berikan cairan sesuai indikasi <!--[endif]-->Jumlah <!--[endif]-->Tanpa dehidrasi: ASI

<!--[if !supportLists]--> <!--[if

!supportLists]-->

semaunya, kemudian oralit setiap kali mencret atau muntah dengan dosis : <!--[if !supportLists]--> tahun : 50-100cc <!--[if !supportLists]--> cc <!--[if !supportLists]--> semaunya <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Dehidrasi Berat <!--[endif]-->Kurang dari 1 tahun, <!--[endif]-->Lebih dari 5 tahun : <!--[endif]-->1-5 tahun 100-200 <!--[endif]-->Kurang dari satu

<!--[if !supportLists]-->

20-30 cc/kgBB dalam 1 jam, dilanjutkan 70 cc/kgBB dalam 5 jam berikutnya <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Lebih dari satu

tahun 20-30 cc/kgBB dalm 1/2 jam dilanjutkan 70 cc/kgBB dalam 2 jam berikutnya <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Dehidrasi ringan sedang

<!--[if !supportLists]--> 4 jam) <!--[if !supportLists]-->

<!--[endif]-->50 -100 cc/kgBB (2-

<!--[endif]-->Oralit setiap BAB

50-100 cc (< 24 bulan), 100-200 cc (> 24 bulan) <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Pilihan Cairan <!--[endif]-->Beri RL (utama) atau NaCl <!--[endif]-->Jika pasiennya tidak dapat

<!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]-->

makan diberi Dekstros dan RL <!--[if !supportLists]--> RL <!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Oralit <!--[endif]-->Jika muntah2 maka berikan

Dekstros dan NaCl, tetapi jika pasien muntah + diare utamakan

<!--[endif]-->Cara Pemberian <!--[endif]-->IV _ Untuk dehidrasi berat <!--[endif]-->Enteral _Untuk dehidrasi

<!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]-->

ringan, sedang tetapi anak tidak mau/ tidak dapat minum atau jika kesadaran menurun <!--[if !supportLists]--> ringan dan sedang <!--[if !supportLists]--> status hydrasi <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Kolaborasi <!--[endif]-->Pemeriksaan laboratorium <!--[endif]-->Observasi kondisi fisik pasien terutama <!--[endif]-->Oral _Bila kesadaran anak

baik, anak mau minum, biasanya diberikan untuk dehidrasi

<!--[if !supportLists]-->

<!--[if !supportLists]--> <!--[if !supportLists]-->

<!--[endif]-->Medikasi : antibiotik, antiparasitik

<!--[endif]-->Penyuluhan <!--[endif]-->Pemberian Cairan <!--[endif]-->Berikan ASI eksklusif 4-6

<!--[if !supportLists]-->

<!--[if !supportLists]-->

bulan _Menjaga kebersihan payudara <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Terus menyusui bayi ketika

sedang sakit maupun ketika sehat <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Cara menjaga ASI supaya

tetap baik dikonsumsi bayi jika Ibu bekerja <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Jenis dan jumlah cairan

yang dapat diberikan kepada anak jika anak diare, DLL <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Diet <!--[endif]-->Berikan makanan tambahan

<!--[if !supportLists]-->

sesuai dengan usia anak <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Berikan diet secara

bervariasi <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Cara memasak dan

menyajian makanan yang sehat (misal: menggunakan cangkir daripada botol, wadah harus bersih, makanan hangat, DLL) <!--[if !supportLists]--> <!--[endif]-->Penggunaan air <!--[endif]-->Air yang digunakan untuk

<!--[if !supportLists]-->

makan/ minum harus direbus matang <!--[if !supportLists]--> yang layak <!--[endif]-->Sumber air dan jamban

<!--[if !supportLists]-->

<!--[endif]-->Perilaku sehat <!--[endif]-->Cuci tangan

<!--[if !supportLists]-->

Daftar Pustaka 1. Noersaid H, Suraatmadja, Asnil P O. Gastroenteritis (Diare) Akut dalam Gastroenterologi anak Praktis. Jakarta. FKUI; 1999. 51-76 2. Cahyadi E, Gastroenteritis. http://emedicine.com/EMERG/topic380.htm (diakses 5 april 2008) 3. Alatas H, Hassan R. Buku Kuliah Ilmu Keehatan Anak jilid 1. Jakarta. FKUI; 1999 4. Diagnosa Diare dan Klasifikasi Dehidrasi. http://www.medicastore.com/med/index.php (diakses 5 April 2008) 5. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Diare akut dalam Standart Pelayanan Medis Kesehatan Anak Edisi I 2004 ; 49-52 Make a Comment

Make a Comment: ( None so far )


Your Comment Name E-mail (hidden) Website

blockquote and a tags work here.

Notify me of follow-up comments via email.

Topics

Cari/ Search
Search:

Top Rated

Recent Comments

oerleebook on Wallpapers Nice o Anonymous on S L A N K Rob Valentine on Thalasemia ida wulan on Retinopati Diabetik non P OVY DARMAWAN on S L A N K rahma on PETERPAN Sebuah Nama S rino on EPIDERMOLISIS BULOSA ardiyanto on Dampak Tranfusi Pada Thal

Yang dah Mampir...


o

217,571 pengunjung

Asal Pengunjung

DrsMeds Friends
o o o o o o o o o

All about balqiz Andri Journal Berbagi Cerita Dani Iswara Notes of DrsMed Yeanny Mulia, M.D Kamisah's Blog Mohan Dharma's Blog Lilik Kurniawan's Blog

Site's Manager

Ya2N^_^ Terima kasih telah berkunjung....silahkan tinggalkan pesan, komentar atau mengisi BUKU TAMU Email : Yayan_Akhyar@yahoo.co.uk
o

Arsip Blog

Upload Tulisan
Bagi yang ingin Tulisan / artikel-nya di tampilkan di Files of DrsMed, Silahkan kirimkan email ke Author atau sampaikan di BUKU TAMU

Top Posts
o o o

o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o o

ANTROPOLOGI FORENSIK PERDARAHAN POSTPARTUM (Post Partum Hemorrhagic) Gambaran Kasus Kehamilan Ektopik Terganggu di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Provinsi Riau Periode 1 Januari 2003-31 Desember 2005 Karakteristik Kasus Solusio Plasenta di Bagian Obstetri dan Ginekologi RSUD Arifin Achmad Pekanbaru Periode 1 Januari 2002-31 Desember 2006 Demam Tifoid (Thypoid Fever) Perpustakaan Universitas Riau (UNRI) Perpustakaan Univeristas Brawijaya Perpustakaan Universitas Airlangga (UNAIR) Perpustakaan Universitas Gajah Mada (UGM) Perpustakaan Universitas Indonesia (UI) Perpustakaan Universitas Padjajaran (UNPAD) Perpustakaan Universitas Sumatera Utara (USU) Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Perhimpunan Dokter Ahli Mata Indonesia (PERDAMI) Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI) Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi & Reaminasi Indonesia (IDSAI) Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga (PDSKO) Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit & Kelamin Indonesia (PERDOSKI) Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik Indonesia (PDSPATKLIN) Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI) Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Indonesia (PERAPI)

Perpustakaan Online

Perhimpunan Dokter Indonesia

Facebook

Spam Blocked

1,242 spam comments blocked by Akismet

DIAN RETNO

Tips dan Cara Mengobati & Mengatasi Diare / Mencret / Buang Air Besar - Pengobatan / Penyembuhan / Sembuh Penyakit Masyarakat
Sat, 29/07/2006 - 7:16pm godam64 Terkadang kita sebagai manusia lalai terhadap kesehatan tubuh kita, sehingga tidak bisa menghindarkan diri dari makanan yang tidak higienis atau bersih dari segala macam bibit kuman dan penyakit. Apabila kita makanan yang tidak higienis maka kita bisa terserang penyakit pencernaan yang salah satu akibatnya adalah diare atau mencretmencret. Selain itu diare dapat disebabkan oleh keracunan bahan kimia dalam makanan, masuk angin, dehidrasi (kekurangan cairan tubuh) dan lain sebagainya. Diare adalah suatu kondisi di mana seseorang buang air besar berkali-kali dalam satu hari yang melebihi batas normal dan tinja atau feses yang keluar berupa cairan encer atau kental disertai angin / kentut dari dalam perut. Berikut di bawah ini adalah 4 (empat) teknik atau cara untuk menanggulangi diare atau mencret-mencret. 1. Minum Air Putih yang Banyak Sering-seringlah minum air putih yang banyak karena dengan sering buang air besar maka tubuh akan kehilangan banyak cairan yang harus selalu digantikan dengan cairan yang baru. Setiap setelah BAB minumlah satu atau dua gelas air putih atau air mineral yang bersih dan sudah dimasak. Minumlah oralit yang merupakan larutan gula garam untuk membantu pembentukan energi dan menahan diare / berak setelah habis BAB. Hindari minum kopi, teh dan lain sebagainya yang mampu merangsang asam lambung. 2. Makan Makanan Khusus Hindari makan makanan yang berserat seperti agar-agar, sayur dan buah karena makanan berserat hanya akan memperpanjang masa diare. Makanan berserat hanya baik untuk penderita susah buang air besar. Bagi penderita diare sebaiknya makan makanan rendah serat dah halus seperti bubur nasi atau nasi lemes dengan lauk telur asin. Di sini nasi akan menjadi gula untuk memberikan energi, sedangkan telur asin akan memberikan protein dan garam untuk menahan mencret dan sebagai zat pembangun tubuh. Hindari makan makanan di luar sembarangan serta makanan yang pedas mengandung cabai dan lada. 3. Istirahat yang Cukup

Tidak dapat dipungkiri bahwa orang yang buang-buang air akan terasa lemah, lemas, lesu, kurang bergairah, dan sebagainya. Untuk itu bagi anda yang sudah merasa sangat lemas sebaiknya meminta izin sekolah atau kantor untuk menghindari dari kemungkinan yang terburuk atau memalukan di tempat umum. Tidur sebanyakbanyaknya namun tidak melupakan waktu makan makanan dan obat harus teratur, banyak minum, beribadah dan berdoa dan lain-lain. 4. Minum Obat Dengan Dosis yang Tepat Ada baiknya anda berkonsultasi dengan dokter dan meminta obat yang tepat untuk anda, karena setiap orang memiliki karakteristik masing-masing dalam pemilihan obat. Rumah sakit, dokter praktek, puskesmas atau balai pengobatan lain yang sesuai izin depkes adalah pilihan yang tepat karena memiliki dokter yang baik dengan obat-obatan yang baik pula. Bila anda ragu datangi saja dokter lain untuk mendapatkan informasi lebih lanjut. Setalah mendapatkan obat minumlah obat itu sesuai dosis yang waktu yang telah ditentukan. Biasanya dokter akan memberikan obat mules, obat mencret, vitamin dan antibiotik. Untuk obat mules dan mencret sebaiknya diminum jika perut mulas dan diare saja dan hentikan jika sudah berhenti mules dan diare. Sedangkan untuk antibiotik wajib dihabiskan agar kuman dan bibit penyakit lainnya mati total dan tidak membentuk resistensi. Untuk vitamin terserah anda mau dihabiskan atau tidak, akan tetapi tidak ada salahnya jika dihabiskan karena vitamin baik untuk anda asalkan tidak berlebihan

DWI ARIYANI & ERLINA WAHYU P


Gejala dan Tanda-tanda Diare 1. Adanya pengeluaran feses yang encer dengan frekuensi 3 kali atau lebih dalam sehari. Feses atau tinja yang cair mungkin disertai lendir atau darah. Warna feses makin lama akan berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu. Anus dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan feses makin lama makin asam sebagai akibat makin banyaknya asam laktat, yang berasal dari laktosa yang tidak dapat diabsorbsi usus selama diare. Gangguan bakteri dan parasit kadang-kadang menyebabkan tinja mengandung darah dan menyebabkan suhu badan meningkat ( demam).

2. Muntah-muntah Rasa mual dan muntah-muntah dapat mendahului diare yang disebabkan oleh infeksi virus. Infeksi bisa secara tiba-tiba menyebabkan diare, muntah, tinja berdarah, demam, penurunan nafsu makan atau kelesuan. Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asambasa dan elektrolit. Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala dehidrasi mulai tampak, turgor kulit berkurang, mata dan ubunubun besar menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering. 3. Badan lemah dan lesu karena kekurangan banyak caiaran dan disertai rasa haus Diare seringkali disertai oleh dehidrasi (kekurangan cairan) dan tanpa dehidrasi. Berdasarkan banyaknya cairan yang hilang dapat dibagi menjadi dehidrasi ringan, sedang dan berat, sedangkan berdasarkan tonisitas plasma dapat dibagi menjadi dehidrasi hipotonik, isotonic dan hipertonik. Dehidrasi ringan hanya menyebabkan bibir kering. Dehidrasi sedang menyebabkan kulit keriput, mata dan ubun-ubun menjadi cekung (pada bayi yang berumur kurang dari 18 bulan). Dehidrasi berat bisa berakibat fatal, biasanya menyebabkan syok. Untuk menilai derajat dehidrasi pada anak, bisa digunakan panduan sebagai berikut : Diare tanpa dehidrasi Anak sadar , keadaan umumnya baik. Anak minum biasa dan tidak kelihatan haus Kalau kulit di bagian perut dicubit, akan kembali kebentuk semula dengan cepat. Mata kelihatan normal Air mata ada Mulut dan lidah basah

Diare dengan dehidrasi ringan atau sedang


Anak kelihatan gelisah atau rewel Anak kelihatan sangat haus dan ingin minum banyak Jika kulit perut dicubit, lambat kembali ke bentuk semula Mata kelihatan cekung Air mata tidak ada Mulut dan lidah kelihatan kering

Diare dengan dehidrasi berat

Anak lesu, lunglai atau tidak sadar Malas minum atau tidak bisa minum Kalau perut di bagian perut dicubit akan sangat lambat kembali kebentuk semula Mata sangat cekung dan kering Air mata tidak ada Mulut dan lidah sangat kering.

Pada dehidrasi berat, volume darah berkurang sehingga dapat terjadi renjatan hipovolemik dengan gejala-gejalanya yaitu denyut jantung menjadi cepat, denyut nadi cepat, kecil, tekanan darah turun, penderita menjadi lemah, kesadaran menurun (apatis, somnolen dan kadang-kadang sampai soporokomateus). Akibat dehidrasi, dieresis berkurang (oliguria sampai anuria). Bila sudah ada asidosis metabolic, penderita akan tampak pucat dengan pernapasan yang cepat dan dalam (pernapasan Kussmaul). Asidosis metabolik terjadi karena :
1. Kehilangan NaHCO3 melalui tinja. 2. Ketosis kelaparan 3. Produk-produk metabolic yang bersifat asam tidak dapat dikeluarkan (karena oliguria atau anuria) 4. Berpindahnya ion natrium dari cairan ekstrasel ke cairan intrasel. 5. Penimbunan asam laktat (anoksia jaringan tubuh)

Dehidrasi hipotonik (dehidrasi hiponatremia) yaitu bila kadar natrium dalam plasma kurang dari 130 mEq/l, dehidrasi isotonik (dehidrasi isotremia) bila kadar natruim dalam plasma 130-150 mEq/l sedangkan dehidrasi hipertonik (hipertremia ) bila kadar natrium dalam plasma lebih dari 150 mEq/l. pada dehidrasi isotonic dan hipotonik penderita tampaknya tidak begitu haus, tetapi pada penderita dehidrasi hipertonik.

Gejala dan tanda-tanda Diare