Anda di halaman 1dari 8

TUGAS MANAJEMEN LINGKUNGAN & LIMBAH INDUSTRI PENGOLAHAN LIMBAH KULIT PISANG MENJADI PEKTIN DENGAN METODE EKSTRAKSI

OLEH: Kelompok 2 RIFQI AULYA RAHMAN M. ANJANG T. SYAIFANI ELMA R. YOLANDHA ANGELICA A. YAKUN M. (115100309011001) (0911030104) (0911030058) (0911030127) (0911030062)

JURUSAN TEKNOLOGI INDUSTRI PERTANIAN FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG 2012

1. LATAR BELAKANG Pisang (Musa paradisiaca) merupakan salah satu jenis buah yang sangat digemari oleh masyarakat di dunia pada umumnya. Beberapa negara seperti di Afrika, Amerika Latin dan termasuk Indonesia, dikenal sebagai negara konsumen buah Pisang. Buah ini memiliki cita rasa yang khas, harga relatif murah serta memiliki nilai kandungan gizi yang cukup tinggi. Buahnya banyak dikonsumsi secara langsung sebagai buah atau diolah menjadi produk konsumsi, seperti kripik, selai, dan lain sebagainya. Namun hal ini tidak diimbangi dengan pengolahan limbah dari kulit pisang yang sangat banyak jumlahnya. Kulit pisang ini dianggap sebagai limbah oleh masyarakat dan belum banyak dimanfaatkan secara optimal dan hanya dibuang begitu saja. Berdasarkan hasil penelitian di tahun 2003, kulit pisang mengandung beberapa unsur seperti air (68,9%), karbohidrat (18,5%), lemak (2,11%), protein (0,23%), mineral (kalsium, fosfor, dan besi) dan vitamin (B dan C). Kulit Pisang juga banyak mengandung pektin yang cukup besar. Pektin sebagai hasil industri mempunyai banyak manfaat diantaranya bahan dasar industri makanan dan minuman, industri farmasi. Pektin biasa dimanfaatkan sebagai pengental dalam berbagai produk seperti jeli, selai, dan sebagainya. 2. TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pisang Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang. Tumbuhan ini berdasarkan klasifikasi ilmiahnya tergolong dalam keluarga besar Musaceae, sebagaimana penggolongan dari tingkat Kingdom hingga species berikut ini (Satuhu dan Supriyadi, 2000): Kerajaan Divisi Kelas : Plantae : Magnoliophyta : Liliopsida

Bangsa Keluarga Marga Spesies

: Zingiberales : Musaceae : Musa : Musa Paradisiaca, Linn

Tinggi tanaman pisang (dewasa) berkisar antara 2 8 m (tergantung jenisnya), dengan daun-daun yang panjangnya ada yang mencapai 3,5 m. Tanaman pisang akan menghasilkan satu tandan buah pisang, sebelum dia mati dan digantikan oleh batang pisang baru. Untuk satu tandan pisang sendiri terdiri atas 5 20 sisir, yang masing-masing sisir terdiri lebih dari 20 buah pisang. Pisang berkembang dengan subur pada daerah tropis yang lembab, terutama di dataran rendah. Di daerah hujan turun merata sepanjang tahun, produksi pisang dapat berlangsung tanpa mengenal musim, seperti di Indonesia (Satuhu dan Supriyadi, 2000). Buah pisang mengandung gizi yang sangat baik. Di dalam buahnya terdapat energi yang cukup tinggi dibandingkan buah-buahan yang lain. Pisang kaya mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, besi dan kalsium. Berdasarkan kandungan energi dalam buah pisang maka pisang direkomendasikan oleh para ahli herbal untuk mengobati berbagai jenis penyakit, seperti: pendarahan rahim, sariawan usus, ambeien, cacar air, telinga dan tenggorokan bengkak, disentri, amandel, kanker perut, sakit kuning, pendarahan usus besar, diare, dll. Pisang juga dapat mengobati tekanan darah tinggi, karena pisang mengandung potassium yang tinggi yang berguna bagi orang yang harus melakukan diet rendah garam (Satuhu dan Supriyadi, 2000). 2.2 Pektin Pektin merupakan polimer dari asam D-galakturonat yang dihubungkan oleh ikatan _-1,4 glikosidik. Pektin diperoleh dari dinding sel tumbuhan daratan. Pada dinding sel tanaman tersebut pektin berikatan dengan ion kalsium dan berfungsi untuk memperkuat struktur dinding sel. Karena itu, untuk memaksimalkan proses ekstraksi, pektin harus dilepaskan dari ion kalsium. Cara yang dapat digunakan adalah dengan mengkelat ion kalsium dengan pengkelat logam. Salah satu pengkelat logam yang dapat digunakan adalah asam sitrat (Satria dan Ahda, 2011).

Wujud pektin yang diekstrak adalah bubuk putih hingga coklat terang. Sebagian gugus karboksil pada polimer pektin mengalami esterifikasi dengan metil (metilasi) menjadi gugus metoksil. Senyawa ini disebut sebagai asam pektinat atau pektin. Asam pektinat ini bersama gula dan asam pada suhu tinggi akan membentuk gel seperti yang terjadi pada pembuatan selai. Derajat metilasi atau jumlah gugus karboksil yang teresterifikasi dengan metil menentukan suhu pembentukan gel. Semakin tinggi derajat metilasi semakin
Kulit Pisang 50 tinggi suhu pembentukan gel (Satria dan Ahda, 2011).

Pektin dapat membentuk gel dengan bantuan adanya asam dan


dicuci

kg

gula.

Penggunaannyaair paling umum adalah sebagai bahan perekat/pengental yang air (gelling agent) pada selai dan jelly. Pemanfaatannya sekarang meluas sebagai bahan pengisi, komponen permen, serta sebagai stabiliser emulsi untuk jus
dikeringkan buah dan minuman dari susu, juga sebagai sumber serat dalam makanan

(Yohana, 2008).
dihancurkan (diblender)

3. DIAGRAM ALIR PEMBUATAN PEKTIN DARI KULIT PISANG


Dimasukkan ke dalam DENGAN METODE EKSTRAKSI labu ukur 15 gram kulit HCl (0,05 N; 500 mL) pisang kering Diekstraksi (80; 1,5 - 2 jam)

Disaring dg kertas saring (dlm keadaan panas) Etanol 96% (perb. 1:1)

Filtrat Diaduk-aduk sampai terbentuk endapan Disaring dgn kertas saring supernata n

Filtrat Etanol 96%

dimurnikan Dikeringkan dgn oven (37 45)

Pektin 4 kg

supernata n

4. ESTIMASI BIAYA PEMBUATAN PEKTIN

A. Biaya Tetap
1. Gedung 2. Hot Plate Sitter 3. Oven 4. Timbangan digital 5. Blender 6. Gelas ukur

: Rp 18.000.000 : Rp 3.500.000 : Rp : Rp : Rp : Rp : Rp : Rp : Rp 900.000 400.000 375.000 100.000 50.000 50.000 300.000 +

7. Long pan 8. Baskom 9. Sealer

Total

Rp 23.675.000

B. Biaya Variabel (dalam sebulan) 1. Bahan baku (kulit pisang) 750 kg 2. Etanol 15 liter 3. HCL 15 liter 4. Listrik 5. Pengemas 6. Tenaga kerja 3x@ Rp 800.000 : Rp 150.000 : Rp 450.000 : Rp 750.000 : Rp 200.000 : Rp 350.000 : Rp 2.400.000 + Total : Rp 4.300.000

Asumsi dalam sebulan industri menghasilkan 60 kg pectin bubuk Omset penjualan = 60 kg x Rp 250.000 = Rp 15.000.000

BEP

Biaya Tetap Omset Penjualan - Biaya Variabel

Rp 23.675.000 Rp 15.000.000 - Rp 4.300.000

= 2,21 Dengan kata lain, modal akan balik dengan kurun waktu 2 bulan produksi

DAFTAR PUSTAKA Satria, B., Ahda, Y. 2011. Pengolahan Limbah Kulit Pisang menjadi Pektin dengan Metode Ekstraksi. Jurusan Teknik Kimia, Fak. Teknik, Universitas Diponegoro. Semarang. Satuhu S., Supriyadi A. 2000. Pisang Budidaya, Pengolahan dan Prospek Pasar. Penebar Swadaya. Jakarta. Yohenta. 2008. Pektin dan Kegunaannya. Diakses dari situs :http://yohentasblog.blogspot.com pada tanggal 26 Maret 2012.