Anda di halaman 1dari 10

RINGKASAN AUDIT

AL HARYONO YUSUP

BAB 1 LINGKUNGAN PENGAUDITAN - jenis jasa audit yaitu jasa penjaminan yang artinya jasa profesional independen untuk memperbaiki kualitas informasi bagi pengambil keputusan. jasa atestasi merupakan salah satu dari jasa penjaminan yang merupakan jasa penjaminan yang dilakukan oleh akuntan publik dengan menerbitkan laporan tertulis yang menyatakan kesimpulan tentang keandalan pernyataan yang dibuat oleh pihak lain. jasa atestasi contohnya antara lain: audit LK, review atas LK, dan lainnya. jasa non-assurance contohnya jasa pembukuan, jasa perpajakan, dan jasa konsultasi manajemen. - pengauditan adalah suatu proses sistematis untuk mendapatkan dan memperoleh bukti audit yang berhubungan dengan asersi tentang kejadiankejadian atau tindakan ekonomi untuk menentukan tingkat kesesuaian antara asersi tersebut dengan criteria yang telah ditetapakan yaitu prinsip akuntansi yang diterima umum. - jenis audit pada umumnya ada tiga jenis yaitu audit atas LK, audit operasional, audit ketaatan. audit operasional adalah audit tentang metode atau prosedur yang telah digunakan, sedang audit kesesuaian atau ketaatan adalah audit tentang apakah pihak yang diaudit tela mengikuti aturan yang telah ditetapkan. - SPAP ada 4 standar yang diterbitkan oleh IAI yaitu: standar auditing, standar atestasi, standar jasa akuntansi dan review, dan pedoman industry khusus. BAB 2 AUDIT LAPORAN KEUANGAN DAN TANGGUNGJAWAB AUDITOR - Audit diperlukan untuk mengurangi penyebab terjadinya risiko informasi, seperti informasi yang diterima oleh pihak lain, bias, volume transaksi, dan kerumitan transaksi. salah satu cara untuk mengurangi risiko informasi adalah menyediakan laporan keuangan yang telah diaudit. Manfaat dari audit yaitu bisa akses ke pasar modal, mudah mendapatkan kredit, mencegah kecurangan, perbaikan dan pengendalian. - standar auditing yaitu: a) standar umum 1. audit dilaksanakan oleh orang yang mempunyai keahlian dan pelatihan teknis yang cukup sebagai auditor 2. dalam semua penugasan mengutamakan indepedensi 3. wajib menggunakan profesionalnya dengan cermat dan seksama b) standar pekerjaan lapangan 1. harus direncanakan sebaik-baiknya dan asisten harus disupervisi 2. pemahaman yang memadai atas struktur pengendalian intern untuk menentukan sifat, saat, dan lingkup audit 3. bukti yang kompeten harus diperoleh melaui inspeksi, pengamatan, pengajuan pertanyaan, konfirmasi sebagai dasar untuk menyatakn pendapat c) standar pelaporan

1. laporan audit harus menyatakan apakah laporan keuangan telah disusun sesuai dengan PABU 2. laporan audit harus menunjukkan keadaan jika ditemukan penerapan metode yang tidak konsisten 3. pengungkapan informatif atas laporan keuangan harus dipandang memadai kecuali jika dinyatkan lain dalam laporan audit 4. laporan audit harus memuat pernyataan mengenai laporan keuangan secara keseluruhan jika tidak maka harus dijelaskan beserta alasannya - perhatikan tentang bentuk laporan audit di hal.58-62 - jenis pendapat audit: wajar tanpa pengecualian, sesuai PABU dalam segala hal yang material wajar dengan pengecualian, tidak wajar, dan tidak memberi pendapat. - menurut sumber berbeda yaitu dari mulyadi 1) Pendapat wajar tanpa pengecualian (unqualified opinion) Pendapat wajar tanpa pengecualian diberikan oleh auditor jika tidak ada pembatasan dalam lingkup audit dan tidak ada pengecualian yang signifikan mengenai kewajaran dan penerapan prinsip akuntansi berterima umum dalam penyusunan laporan keuangan, konsistensi penerapan akuntansi berterima umum tersebut serta pengungkapan memadai dalam laporan keuangan. 2) Pendapat wajar tanpa pengecualian dengan bahasa penjelasan Jika terdapat hal-hal yang memerlukan bahasa penjelasan, namun laporan keuangan tetap menyajikan secara wajar posisi keuangan dan hasil usaha klien auditor dapat menerbitkan laporan audit baku, ditambah dengan bahasa penjelasan. 3) Pendapat wajar dengan pengecualian Jika auditor menjumpai kondisi-kondisi maka ia memberikan pendapat wajar dengan pengecualian dalam laporan audit: 1. Lingkup audit dibatasi oleh klien 2. Auditor tidak dapat melaksanakan prosedur audit penting atau tidak dapat memperoleh informasi penting, kondisi-kondisi yang berada di luar kekuasaan klien ataupun auditor. 3. Laporan keuangan tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum. 4. Prinsip akuntansi berterima umum yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan tidak ditetapkan secara konsisten. 4) Pendapat tidak wajar (adverse opinion) Akuntan memberikan pendapat tidak wajar jika laporan keuangan klien tidak disusun sesuai dengan prinsip akuntansi berterima umum, sehingga tidak menyajikan secara wajar posisi keuangan, hasil usaha, perubahan ekuitas, dan arus kas perusahaan klien. 5) Pernyataan tidak memberikan pendapat (disclaimer of opinion)

Kondisi yang menyebabkan auditor dinyatakan tidak memberikan pendapat adalah : 1. pembatasan yang luar biasa terhadap lingkup audit 2. auditor tidak independent dalam hubungannya dengan kliennya. (auditing I hal 19-22) BAB 3 ETIKA PROFESIONAL - etika profesional adalah prinsip atau aturan yang ditetapkan oleh organisasi profesi untuk tujuan praktis atau idealistis. - komposisi kode etik yang dibuat IAI 1. prisip etika melekat pada seluruh akuntan berprofesi apa saja 2. aturan etika melekat pada akuntan sebagai pihak independen 3. interpretasi aturan dan etika - prinsip prinsip etika 1. tanggungjawab profesi 2. kepentingan publik 3. integeritas 4. obyektifitas 5. kompetensi dan kehati-hatian 6. kerahasian 7. perilaku profesional 8. standar etis BAB 4 TUJUAN, BUKTI, DAN KERTAS KERJA AUDIT - tujuan umum audit LK memberikan pernyataan apakah LK (asersi manajemen) telah disajikan secara wajar dalam segala hal yang material sesuai dengan PABU. - asersi manajemen dalam LK Kategori asersi Makna asersi Keberadaan atau Aktiva dan kewajiban ada pada tanggal neraca, keterjadian dan transaksi pendapatan dan biaya terjadi pada periode tertentu Kelengkapan Semua transaksi dan rekening yang seharusnya dimasukkan dalam LK telah dimasukkan Hak dan kewajiban Aktiva adalah milik satuan usaha, utang adalah kewajiban pada tanggal tertentu Penilaian dan Aktiva, kewajiban, pendapatan dan biaya telah pengalokasian dimasukkan ke dalam LK dengan jumlah yang tepat Penyajian dan Komponen tertentu LK telah diklasifikasikan, pengungkapan diuraikan, dan diungkapakan dengan tepat - bukti audit mecakup data akuntansi : jurnal buku besar

pedoman akuntansi morandum dan lainnya - dan informasi penguat cek, faktur, kontrak surat konfirmasi hasil dari wawancara - kompetensi audit dipengaruhi oleh, relevansi, sumber, ketepatan waktu, obyektifitas - jenis informasi penguat; bukti analitis, dokumen, konfirmasi, pernyataan, perhitungan, lisan, fisik, elektronik - jenis-jenis prosedur audit prosedur analitis=membandingkan data yang memiliki hubungan inspeksi=pemeriksaan secara mendalam konfirmasi=pengajuan pertanyaan ke pihak independen pengajuan pertanyaan= ke pihak internal perusahaan menghitung menelusur mencocokkan ke dokumen atau vouching observasi melakukan ulang teknik berbantuan komputer - penggolongan prosedur audit; 1. prosedur untuk mendapatkan pemahaman SPI dilakukan dengan mengajukan pertanyaan tentang kebijakan dan prosedur SPI serta menginspeksi pedoman akuntansi dan bagan alir akuntansi 2. pengajuan pengendalian dilakukan untuk mendapatkan bukti tentang keefektifan rancangan dan pengoperasian kebijakan dan prosedur SPI 3. pengajuan substantif terdiri dari prosedur analitis, pengujian detil transaksi, dan pengujian detil saldo-saldo - kertas kerja adalah catatan-catatan yang diselenggarakan auditor mengenai yang ditempuhnya, dan kesimpulan yang dibuatnya sehubungan dengan auditnya. - jenis jenis kertas kerja daftar saldo pemeriksaan daftar dan analisis memo dan informasi penguat jurnal penyesuian dan reklasifikasi. jurnal penyesuaian merupakan koreksi atau kekeliruan, penghilangan atau kesalahan penerapan PABU. jurnal reklasifikasi merupakan penyajian saldo yang benar dalam LK. - pembuatan kertas kerja harus memerhatikan; judul, nomor index, referensi silang, tickmarks, tanda tangan dan tanggal. BAB 5 PENERIMAAN PENUGASAN DAN PERENCANAAN AUDIT - langkah penerimaan penugasan audit;

mengevaluasi integritas manajemen; 1. komunikasi dengan auditor pendahulu 2. mengajukan pertanyaan kepada pihak ketiga 3. mereview pengalaman masa lalu mengidentifikasi keadaan khusus dan risiko tidak biasa; 1. mengidentifikasi pemakai laporan keuangan 2. memperkirakan adanya persoalan hukum 3. mengevaluasi auditabilitas seperti mempunyai catatan akuntasi atau tidak menetapkan kompetensi; 1. penetapan tim audit 2. mempertimbangkan konsultasi dan kebutuhan spesialis seperti appraiser mengevaluasi independensi, menentukan kemampuan melakukan audit dengan cermat dan seksama 1. saat penjualan 2. penjadwalan audit 3. penaksiran waktu 4. personil klien menyiapkan surat penugasan. - tahapan dalam perencanaan audit; a. mendapatkan pemahaman tentang usaha klien 1. mereview kertas kerja tahun lalu 2. mereview data industry dan bisnis klien 3. melakukan peninjauan ke klien 4. mengajukan pertanyaan ke komite audit 5. mengajukan pertanyaan ke manajemen 6. menentukan adanya hubungan istimewa - tahapan prosedur analitis a. mengidentifikasi perhitungan analisis vertical, analisis rasio, analisis trend b. mengembangkan eksepektasi atau harapan c. analisis data dan identifikasi signifikan dan tidak signifikan BAB 6 MATERIALITAS, RISIKO DAN STRATEGI AUDIT AWAL - Materialitas menurut FASB besarnya salah saji informasi yang dipandang dari keadaan yang melingkupinya, memungkinkan pertimbangan yang dilakukan oleh orang yang mengandalkan pada informasi berubah atau dipengaruhi oleh salah saji tersebut. - biasanya auditor membuat pertimbangan awal tentang tingkat materialitas dalam perencanaan audit yang disebut dengan materialitas yang direncanakan. - dalam merencanakan audit auditor harus mempertimbangkan materialitas pada 2 tingkatan; tingkat laporan keuangan, besarnnya salah saji material karena tidak disajikan secara wajar sesuai PABU. pertimbangan awal auditor tentang materialitas sering dibuat antara 6 sampai dengan 9 bulan sebelum tanggal

neraca. juga bisa berdasarkan LK tahun lalu yang disesuaikan dengan berjalan. pertimbangan materialitas LK menyangkut pertimbangan kuantitatif dan kualitatif. tingkat saldo rekening salah saji yang ada pada suatu saldo rekening biasa disebut salah saji bisa diterima. - lihat gambar contoh pengalokasian materialitas laporan keuangan ke rekening-rekening hal 214 - RA = RB x RP x RD --- RD = RA / RB X RP RA = risiko audit, risiko yang terjadi dalam hal tanpa disadari auditor tidak memodifikasi pendapatnya atas LK yang mengandung salah saji material RB = risiko bawaan, kerentanan suatu saldo rekening terhadap salah saji material dengan asumsi tidak terdapat SPI RP = risiko pengendalian, salah saji material terjadi yang tidak dapat dicegah atau dideteksi oleh SPI RD = risiko deteksi, risiko bahwa auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material - jika risiko pengendalian tinggi maka luas pemahaman SPI, pengujian pengendalian, dan tingkat pengujian substantif serta biaya semakin tinggi. untuk lebih jelas lihat hal 227 BAB 7 PEMAHAMAN STRUKTUR PENGENDALIAN INTERN - pengendalian intern suatu proses yang dipengaruhi oleh dewan komisaris, manajemen, dan personil lain yang dirancang untuk mendapatkan keyakinan yang memadai tentang; keandalan laporan keuangan, kesesuaian dengan peraturan yang berlaku, efektifitas dan efisiensi operasi. - keterbatasan SPI; kesalahan dalam pertimbangan kemacetan kolusi pelanggaran oleh manajemen biaya dan manfaat - komponen SPI; 1. lingkungan pengendalian mempengaruhi suasana dan kesadaran human perusahaan tentang pengendalian intern merupakan landasan bagi komponen-komponen pengendalian lainnya. integritas nilai dan etika komitmen terhadap kompetensi falsafah manajemen dan gaya operasi dewan komisaris struktur organisasi 2. perhitungan risiko untuk tujuan pelaporan keuangan adalah identifikasi, analisis, dan pengelolaan risiko suatu perusahaan sehubungan dengan penyajian LK secara wajar sesuai PABU.

3. Informasi dan komunikasi, mendapatkan informasi yang rinci dari transaksi dan pemberian pemahaman yang jelas tentang peran dan tanggungjawab berkenaan dengan SPI atas pelaporan 4. aktivitas pengendalian, kebijakan dan prosedur yang membantu bahwa perintah manajemen telah dijalankan. kebijakan dan prosedur tersebut membantu meyakinkan bahwa tindakan yang diperlukan telah dijalankan untuk mencapai tujuan perusahaan. aktivitas pengendalian yang relevan pada audit LK; pengendalian informasi; pengendalian umum dan pengendalian aplikasi--pengotorisasian, dokumentasi dan catatan, pengecekan independen pembagian tugas/pemisahan tugas pengawasan fisik review kinerja 5. pemonitoran, adalah suatu proses penilaian kualitas kinerja SPI sepanjang masa. Apakah SPI telah berjalan sesuai dengan yang dikehendaki. menurut SA 319 faktor yang harus diperhatikan dalam menerapkan komponen SPI; besarnya satuan usaha karakateristik organisasi sifat kegiatan usaha keanekaragaman operasi metode pengolahan data persyaratan perundangan yang berlaku - umumnya jika telah ditetapkan tingkat risiko pengendalian minimum maka pemahaman atas SPI maksimum - pemahaman tentang lingkungan pengendalian, untuk mengetahui kebiasaan, kesadaran, dan tindakan, dan dewan komisaris mengenai lingkungan pengendalian dan mengetahui pengaruh spesifik dari faktor lingkungan pengedalian terhadap efektivitas operasi - pemahaman tentang perhitungan risiko - pemahaman tentang informasi dan komunikasi, bagaimana sistem alur transaksinya, bagaimana timbulnya transaksi, catatan akuntansi, pengolahan akuntansi dan pelaporannnya - pemahaman tentang aktivitas pengendalian, - pemahaman tentang pemonitoran. - prosedur untuk memperoleh pemahaman; mereview pengalaman masa lalu mengajukan pertanyaan ke manajemen, bisa membuat daftar pertanyaan menginspeksi dokumen mengobeservasi aktivitas, bisa dengan minta bagan alir atau flowchart - daftar pertanyaan, serangkaian pertanyaan tentang kebijakan dan prosedur pengendalian intern yang dipandang perlu oleh auditor untuk mencegah terjadinya salah saji dalam LK -

bagan alir, diagram sistematik dengan menggunakan symbol yang menggambarkan tahapan pengolahan informasi melalui sistem akuntansi.

BAB 8 PENETAPAN RISIKO PENGENDALIAN DAN PENGUJIAN PENGENDALIAN - penetapan risiko pengendalian, proses penilaian tentang efektivitas rancangan dan pengoperasian kebijakan dan prosedur SPI dalam mencegah dan mendeteksi salah saji material dalam LK. - dalam menetapkan risiko pengendalian untuk suatu asersi, auditor perlu mempertimbangkan; mempertimbangkan pengetahuan yang diperoleh dari prosedur-prosedur untuk mendapatkan pemahaman tentang apakah pengendalian yang berhubungan dengan asersi telah dirancang dan dioperasikan oleh manajemen perusahaan mengidentifikasi salah saji potensial mengidentifikasi pengendalian yang diperlukan melakukan pengujian pengendalian mengevaluasi bukti dan menetapkan risiko - tahapan mulai dari penetapan tingkat risiko pengendalian hingga perancangan pengujian substantive lihat hal 313 - pengujian pengendalian berbarengan adalah pengujian pengendalian yang dilakukan sekaligus untuk mendapatkan pemahaman SPI, digunakan untuk menghemat biaya dan didasarkan atas bukti yang diperoleh - pengujian bertujuan ganda merupakan pengujian pengendalian tambahan yang dilakukan pada periode interim bersamaan dengan pengujian substatif contoh; pemerikasaan faktur penjualan memastikan ada tanda tangan pegawai berwenang sekaligus memeriksa ketelitian jumlah rupiah. - penggabungan antara penetapan risiko transaksi berbeda dengan tingkat risiko pengendalian yang direncanakan maka selanjutnya harus merevisi perancangan pengujian substantive. BAB 9 RISIKO DETEKSI DAN RANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF - risiko deteksi artinya auditor tidak dapat mendeteksi salah saji material yang ada dalam asersi - RD = RA / RB X RP risiko deteksi adalah dasar untuk menetapkan rencana tingkat pengujian substantif, jika rencana risiko deteksi rendah maka tingkat pengujian substantif lebih tinggi, dan sebaliknya. - perancangan pengujian substantif meliputi; a. sifat, berhubungan dengan jenis dan efektivitas prosedur pengauditan yang akan dilakukan. jika tingkat risiko deteksi rendah maka auditor harus menggunakan prosedur yang lebih efektif yang biasanya lebih mahal, dan juga sebaliknya. pengujian substantif ada 3 jenis :

1) prosedur analitis, terkadang prosedur analitis dianggap kurang efektif dan hanya sebagai pelengkap dari pengujian detil namun dalam keadaan tertentu prosedur ini justru dianggap lebih efektif, contoh; perbandingan antara jumlah seluruh pembayaran kepada seorang pemasok dengan barang sesungguhnya terdapat kelebihan pembayaran. dengan pengujian detil mungkin lebih terdeteksi. audit atas perusahaan listrik, gas, dan telepon dengan volume transaksi yang tinggi dengan nilai individual yang rendah akan sangat menjemukan dan mahal. auditor bisa melakukan mengalikan pemakaian data pemakaian air rata-rata per pelanggan per bulan dengan tarif dan jumlah pelanggan 2) pengujian detil transaksi, berupa tracing dan vouching. contoh tracing faktur penjualan dan voucher ditelusur ke catatan akuntansi. vouching, jurnal pengeluaran kas dicocokkan ke dokumen pendukungnya. dalam pengujian ini auditor memeriksa sebagian sampel ke arsip dan dokumen klien. pengujian detil transaksi biasanya lebih banyak menyita waktu dan karenanya lebih mahal dibandingkan dengan analitis, tapi masih lebih murah dibandingkan dengan pengujian detil atas saldo 3) pengujian detil atas saldo, dilakukan untuk mendapatkan bukti secara langsung tentang sebuah saldo rekening dan bukan pada masing masing pendebetan atau pengkreditan yang telah menghasilkan saldo tersebut. contoh pengujian detil saldo; auditor meminta bank memberikan konfirmasi saldo kas dan pelanggan mengkonfirmasi saldo piutang dagang. auditor juga bisa melakukan inspeksi atas aktiva tetap dan melakukan perhitungan fisik persediaan serta melakukan pengujian harga atas persediaan akhir. b. saat, jika risiko deteksi tinggi maka pengujian bisa dilakukan beberapa bulan sebelum akhir tahun, sebaliknya jika risiko deteksi rendah maka pengujian substantif biasanya akan dilakukan pada tanggal akhir tahun atau mendekati akhir tahun. pengujian substantif detil transaksi bisa dilakukan sebelum tanggal neraca tetapi harus didasarkan pada pertimbangan bahwa auditor dapat; 1) mengendalikan tambahan risiko audit bahwa salah saji material yang ada pada saldo rekening pada tanggal neraca tidak akan terdeteksi oleh auditor. risiko ini semakin bertambah jika jarak antara pengujian interim dan akhir tahun semakin panjang 2) mengurangi biaya untuk melaksanakan pengujian substantif pada akhir tahun c. luas pengujian, luas dalam hal ini adalah sampel. hubungan antara risiko audit, sifat, saat, dan luasnya pengujian lihat hal.360. jika risiko deteksi yang bisa diterima sangat rendah maka pengujian substantif sifat maksimum, saat akhir tahun, luas sampel lebih besar.

BAB 10 SAMPLING AUDIT DAN PENGUJIAN PENGENDALIAN

risiko sampling adalah kemungkinan bahwa suatu sampling yang telah diambil dengan benar tidak mewakili populasi. risiko non sampling adalah semua aspek risiko yang tidak berhubungan dengan sampling seperti; kesalahan manusia, ketidaktepatan penerapan sampel, kesalahan menafsirkan sampel, kesalahan karena mengandalkan informasi yang keliru sampling statistik, memerlukan biaya yang lebih besar untuk melatih auditor, merancang dan menerapkannya dan keuntungannya lebih akurat. sampling non-statistik, lebih murah karena menentukan ukuran sampel dan mengevaluasi hasil sampel berdasarkan kriteria subyektif serta pengalamannya. dalam sampling statistik ada; sampling atribut dipakai dalam pengujian pengendalian tujuannya untuk menaksir tingkat deviasi dari pengendalian yang telah ditetapkan sampling variabel dipakai dalam pengujian substantif untuk menaksir jumlah kekeliruan rupiah dalam populasi tahapan dalam rencana sampling atribut untuk pengujian pengendalian 1) menentukan tujuan audit, mengevaluasi keefektifan rancangan SPI 2) menentukan populasi dan unit sampling, populasi adalah kelompok transaksi, sedang unit sampling adalah elemen individual dalam populasi 3) menetapkan atribut, atribut adalah karakter dalam suatu populasi 4) menentukan ukuran sampel 5) menentukan metode pemilihan sampel, sampling nomor acak dan sistematis, acak banyak digunakan 6) menentukan rencana sampling 7) mengevaluasi hasil jenis sampling lainnya sampling temuan, sampling atribut yang dirancang untuk melokalisasi paling sedikit satu penyimpangan sampling non statistik dalam pengujian pengendalian

Anda mungkin juga menyukai