Anda di halaman 1dari 4

KITA MASUKI PASAR RIBA Kita pasar r iba Medan perang keserakahan Seperti ikan dalam air tenggelam

Tak bisa ambil jarak Tak tahu langit Ke kiri dosa ke kanan dusta Bernapas air Makan minum air Darah riba mengalir Kita masuki pasar riba Menjual diri dan Tuhan Untuk membeli hidup yang picisan Telanjur jadi uang recehan Dari putaran riba politik dan ekonomi Sistem yang membunuh sebelum mati Siapakah kita ? Wajah tak menentu jenisnya Tiap saat berganti nama Tegantung kepentingannya apa Tergantung rugi atu laba Kita pilih kepada siapa tertawa

ANTARA TIGA KOTA di yogya aku lelap tertidur angin di sisiku mendengkur seluruh kota pun bagai dalam kubur pohon-pohon semua mengantuk di sini kamu harus belajar berlatih tetap hidup sambil mengantuk kemanakah harus kuhadapkan muka

agar seimbang antara tidur dan jaga ? Jakrta menghardik nasibku melecut menghantam pundakku tiada ruang bagi diamku matahari memelototiku bising suaranya mencampakkanku jatuh bergelut debu kemanakah harus juhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga surabaya seperti ditengahnya tak tidur seperti kerbau tua tak juga membelalakkan mata tetapi di sana ada kasihku yang hilang kembangnya jika aku mendekatinya kemanakah haru kuhadapkan muka agar seimbang antara tidur dan jaga ?

RUMAH COR API demi keadilan hukum disingkirkan demi kebenaran pengabulan ganti rugi dibatalkan demi ketenteraman air ludah harus kembali ditelan karena cahaya kemajuan harus memancar maka panduan dan penerangan harus luas tersebar karena program - program pembangunan harus lancar maka terkadang pasar ini dan bangunan itu harus dibakar lihatlah rumah - rumah cor api lihatlah gedung - gedung berdiri di atas kuburan

batu - batanya terbuat dari kesengsaraan dan airmata tembok - temboknya rekat oleh akumulasi ratapan tiang - tiangnya tegak karena disangga oleh pengorbanan diseberang itu engkau memandang rumah - rumah didirikan dekat di sisiku aku saksikan rumah - rumah digilas dan dirobohkan nun disana engkau melihat rumah - rumah disusun - susun nun disini aku menatap perduduk terusir berduyun - duyun ketika engkau berdiri di depan hamparan tanah luas yang engkau beli untuk mendirikan ratusan rumah dan ribuan pemukiman manusia abad 21 pernahkah terlintas di kepalamu ingatan tentang beribu - ribu saudara - saudaramu yang kehilangan tanahnya pernahkah engkau ingat betapa beribu - ribu orang itu tak dianggap memiliki hak untuk mempertahankan tanahnya dan ketika mereka terpaksa menjualnya mereka juga tak dianggap memiliki hak untuk menentukan harga petak - petak tanah mereka ketika engkau menempati rumah itu tahukah engkau, siapa nama tukang -tukang yang menumpuk bata - batanya yang mengangkut pasir dan memasang genting - genting ketika engkau memijakkan kakiku di lantai rumahmu dan meletakkan punggungmu di kasur ranjang pernahkan engkau catat kemungkinan muatan korupsi dan kolusi di dalam proses pembuatannya sejak tahap tender sampai pemasangan cungkup puncaknya

bagi berjuta - juta saudara - saudaramu yang tak senasib dengan denganmu yang bertempat tinggal tidak di pusat uang dan kekuasaan pernahkah engkau sekedar berdoa saja bagi kesejahteraan mereka dunia sudah amat tua darahnya kita hisap bersama - sama kehidupan semakin rapuh dan sakit kita tidak semakin sembuh langit robek - robek badan kita akan semakin dipanggang hawa panas sejumlah pulau akan tenggelam lainnya menjadi rawa - rawa anak cucumu akan hidup sengsara karena ransum alam bagi masa depan telah dihisap dengan semena - mena