Anda di halaman 1dari 67

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

MATERI :

LEMAK
Disusun Oleh : Kelompok : VII/Selasa Siang Anggota : 1. Aziz Syaefurrohman 2. Dian Ika romadhoni 21030110130088 3. Ilham Dirga Laksono 21030110120057 4. R.A. Anindya Chandra Dewi 21030110130103 5. Tondy Satria Sugiarto 21030110130105 21030110130099

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO

LEMAK

SEMARANG 2011

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


ii

LEMAK

LEMBAR PENGESAHAN Laporan resmi berjudul ANALISA LEMAK yang disusun oleh : Kelompok Anggota 21030110130099 2. Dian Ika Romadhoni 21030110130088 3. Ilham Dirga Laksono 21030110120057 4. R.A. Anindya Chandra Dewi 21030110130103 5. Tondy Satria Sugiarto 21030110130105 Telah diterima dan disetujui oleh Yunia Karyati selaku Asisten Laboratorium Dasar Teknik Kimia II pengampu materi lemak pada : Hari Tanggal : Jumat : 10 Juni 2011 NIM NIM NIM NIM : 7/Selasa Siang :1. Aziz Syaefurrohman NIM

Asisten Pengampu, Yunia Karyati NIM. L2C008115

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


iii

LEMAK

KATA PENGANTAR Puji syukur penyusun panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan anugerah-Nya sehingga penyusun dapat menyelesaikan Laporan berjudul Viskositas dan Tegangan Muka. Laporan ini disusun sebagai kelengkapan tugas mata kuliah Praktikum Dasar Teknik Kimia II. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dan kerja sama dari berbagai pihak maka laporan ini tidak akan dapat terselesaikan. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penyusun mengucapkan terima kasih kepada:
1. Ibu

Ir. C. Sri Budiyati, M.T selaku Dosen penanggung jawab

Laboratorium Praktikum Dasar Teknik Kimia II Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang tahun 2011.
2. Yunia Karyati Asisten Laboratorium Praktikum Dasar Teknik Kimia II

selaku asisten pembimbing penyusunan laporan resmi materi Lemak.


3. Segenap asisten Laboratorium Praktikum Dasar Teknik Kimia II

Jurusan

Teknik

Kimia

Fakultas

Teknik

Universitas

Diponegoro

Semarang.
4. Bapak Rustam dan Bapak Pandi selaku Laboran Laboratorium

Praktikum Dasar Teknik Kimia II Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro Semarang. Penyusun memohon maaf jika dalam penyusunan Laporan ini masih terdapat kekeliruan. Untuk itu, segenap kritik dan saran yang membangun yang sangat diharapkan oleh penyusun. Semoga Laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


iv

LEMAK

Semarang, 10 Juni 2011

Penyusun

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


v

LEMAK

DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN..............................................................................ii KATA PENGANTAR....................................................................................iii DAFTAR ISI...............................................................................................iv DAFTAR TABEL.........................................................................................vi DAFTAR GAMBAR.....................................................................................vii INTISARI..................................................................................................viii BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang......................................................................1 I.2 Tujuan I.2.1 Tujuan Instruksional Umum...........................................1 I.2.2 Tujuan Instruksional Khusus..........................................1 I.2.3 Tujuan Percobaan..........................................................1 I.3 Manfaat Percobaan...............................................................1 BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 Lemak.....................................................................2 II.2 Rumus Umum Lemak..................................................................................2 II.3 Sifat Fisis dan Kimia Lemak ..................................................................................................................3 II.4 Sifat Fisis dan Kimia n-Hexane ......................................................................5 II.5 Sifat Fisis dan Kimia Pelarut Organik Non Polar ..........................................5 II.6 Kegunaan Lemak......................................................................7 II.7 Pengukuran kualitas lemak...................................................7 II.8 Hal-hal yang diperhatikan dalam proses ekstraksi................8 II.9. Syarat solvent sebagai pelarut.8 Komponen-Komponen

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


vi

LEMAK

BAB III

METODE PERCOBAAN III.1 Bahan dan Alat III.1.1 Bahan.......................................................................9 III.1.2 Alat...........................................................................9 III.2 Gambar Rangkaian Alat.......................................................9 III.3 Cara Kerja.........................................................................10

BAB IV

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV.1Hasil Percobaan.................................................................11 IV.2 Pembahasan.....................................................................11

BAB V

PENUTUP V.1Kesimpulan.........................................................................14 V.2 Saran................................................................................................ ............14

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................15 LAMPIRAN LEMBAR SEMENTARA LEMBAR PERHITUNGAN LEMBAR KUANTITAS REAGEN REFERENSI LEMBAR ASISTENSI

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


vii

LEMAK

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


viii

LEMAK

DAFTAR GAMBAR Gambar 1. Struktur Gliserol.......................................................................2 Gambar 2. Struktur Lemak........................................................................3 Gambar 3. Rangkaian Alat Ekstraksi.......................................................10

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


ix

LEMAK

DAFTAR TABEL Tabel 1. Sifat Fisis n-hexane.....................................................................5 Tabel 2. Sifat Fisis dietil eter.....................................................................5 Tabel 3. Sifat Fisis kloroform.....................................................................6 Tabel 4. Tabel Hasil Percobaan...............................................................12

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


x

LEMAK

INTISARI Lemak adalah sekelompok besar molekul asam yang terdiri atas unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Lemak banyak digunakan untuk obatobatan, kosmetik, minyak goreng, dan sebagainya. Pengukuran kualitas lemak berdasarkan pada bilangan penyabunan, bilangan asam dan bilangan iod. Sifat fisis dan kimia seperti bau amis, titik didih meningkat seiring bertambahnya rantai karbon, esterifikasi dan hidrolisa. Praktikum analisa lemak ini bertujuan untuk menentukan kadar lemak pada daging sapi. Praktikum analisa lemak menggunakan bahan daging sapi, dengan solvent n-hexane yang dianalisa dengan serangkaian alat ekstraksi. Prosedur kerja yang dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan, bungkusa daging sapi yang sudah kering dan halus menggunakan kertas saring bebas lemak, menggunakan n-hexane ke dalam labu alas bulat dan sampel ke dalam labu alas soklet. Setelah semua siap, lakukan ekstraksi selama 1 jam 45 menit kemudian lakukan recovery sebanyak 1 kali. Setelah itu, keringkan sampel dan labu alas bulat kemudian timbang sampai 3 kali konstan. Kemudian tentukan kadar lemak dengan perhitungan. Dari hadil percobaan, kadar lemak pada sampel (32,5%) lebih bear dari kadar teoritis (14%) dengan persen error 132,14%. Sedangkan kadar lemak dalam labu alas bulat (38,6%) lebih besar dari kadar teoritis (14%) dengan persen error 175,71%. Kadar lemak yang ditemukan dalam sampel lebih besar dari kadar teoritis karena ada zat yang ikut larut dalam nhexane. Kadar lemak dalam labu alas bulat lebih besar dari kadar teoritis karena proses recovery yang kurang sempuran dan proses pengovenan kurang maksimal. Saran kami, lakukan proses recycle dengan optimal yang ditandai dengan warna solvent awal (jernih). Lakukan proses recycle dengan maksimal sehingga tidak ada lagi solvent yang mengembun pada labu soklet, dan lakukan pengovenan hingga diperoleh berat 3 kali konstan.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


xi

LEMAK

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


xii

LEMAK

BAB I PENDAHULUAN I.1 Latar Belakang Hampir semua orang mengenal dan menyukai daging sapi karena jenis makanan ini memiliki kandungan zat yang diperlukan oleh tubuh, termasuk lemak. Lemak adalah sekelompok besar molekul alam yang terdiri atas unsur karbon, hidrogen, dan oksigen. Lemak memiliki banyak kegunaan bagi tubuh kita seperti membantu mengatur suhu tubuh, pelarut vitamin A, D, E dan K, dan sumber energi serta daya tahan tubuh. Oleh karena itu, sebagai sarjana teknik kimia kita perlu menganalisis kandungan lemak dalam daging sapi. I.2 Tujuan I.2.1 Tujuan Instruksional Umum Setelah mengikuti praktikum mahasiswa mampu menyusun rangkaian alat dan mengoperasikannya, serta memahami reaksireaksi yang terjadi pada bahan organik serta cara menganalisa secara kuantitatif. I.2.2 Tujuan Instruksional Khusus Setelah mengikuti praktikum kimia orgaik dengan pokok bahasan kadar lemak mahasiswa akan dapat menyusun rangkaian alat analisa lemak dan mengoperasikannya serta memahami reaksi yang terjadi pada senyawa lemak dan cara menentukan kadar lemak pada suatu bahan sesuai dengan prosedur yang benar. I.2.3 Tujuan Percobaan Menentukan kadar lemak dalam sampel daging sapi secara kuantitatif. I.3 Manfaat Percobaan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


1

LEMAK

1. Menginformasikan kepada masyarakat umum mengenai komposisi gizi dari suatu bahan makanan khususnya lemak. 2. Masyarakat dapat mengetahui kadar lemak dalam daging sapi.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


2

LEMAK

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Lemak adalah senyawa organik yabg tidak larut dalam air tetepi larut dalam pelarut organik non polar termasuk ester yang tersusun atas asam lemak dan gliserol, dimana ketiga radikal hidroksil dari gliserol diganti dengan gugus ester. Istilah flat (lemak) biasanya digunakan untuk trigliserida yang berbentuk padat atau lebih tepatnya semi padat pada suhu kamar, sedang istilah minyak (oil) digunaan untuk trigliserida yang pada suhu kamar berbentuk cair.
II.1 Komponen-komponen lemak

a.

Gliserol Sering disebut gliserin atau propantial 1,2,3 adalah bermatabat tiga yang strukturnya adalah H2 C H C H2 C Gambar 1. OH OH OH Struktur gliserol

Sifat fisisnya yaitu berbentuk kristal, rasa manis, tidak berwarna, dlam b. keadaan murni bersifat higroskopis, netral terhadap lakmus.Tidak larut dalam benzena dan karbon disulfida. Asam lemak Yaitu asam karboksilat yang rantainya lurus dan radikal karboksilatnya terletak di ujung rantai. Asam lemak penyusun utamanya adalah :
1. Asam stearat (C17H35COOH) 2. Asam oleat (C17H33COOH) 3. Asam linoleat (C17H31COOH)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


3

LEMAK

II.2 Rumus umum lemak H2C HC H2C Gambar O O C R1 O O C R2 O O C R3 2. Struktur Lemak

Ada berbagai cara untuk mengambil minyak atau lemak dari tumbuhtumbuhan atau jaringan hewan. Cara tersebut antara lain :

Cara pressing (penekanan) Cara extraction (menggunakan solvent)

Ada berbagai jenis solvent yang dapat digunakan sebagai bahan pengekstrak lemak, diantaranya adalah n-hexane dan dietil eter. II.3 Sifat fisis dan kimia lemak a. Sifat fisis lemak Bau amis (fish flavor) yang disebabkan oleh terbentuknya trimetil amin dari lecitin. Bobot jenis dai lemak dan minyak buiasanya ditentykan pada temperatur kamar. Indeks bias dari lemak dan minyak dipakai pad pengenalan unsur kimia untuk pengujian kemurnian minyak. Minyak/lemak tidak larut dalam air kecuali minyak jarak (coastor oil, sedikit larut dalam alkohol dan larut sempurna dalam dietil eter, arbon disulfida dan pelarut halogen). Titik didih asam lemak semakin meningkat dengan bertambahnya panjang rantai karbon.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


4

LEMAK

Rasa pada lemak dan minyak selain terdapat secara alami, juga terjadi karena asam-asam yang berantai sangat pendek sebagai hasil pengurangan kerusakan minyak atau lemak.

Titik kekeruhan ditetapkan dengan cara mendinginkan campuran lemak/minyak dengan pelarut minyak. Titik dari lemak atau minyak ditetapkan untuk mengidentifikasi minyak atau lemak. Sifat melting point adalah temperatur pada saat terjadi tetesan pertama dari minyak atau lemak. Slipping digunakan untuk pengenalan minyak atau lemak alam serta pengaruh kehadiran komponennya.

b. Sifat kimia lemak Esterifikasi Proses esterifikasi bertujuan untuk asam-asam lemak dari trigliserida, menjadi bentuk ester. Reaksi erterifikasi dapat dilakukan melalui rekasi kimia yang disebut interifikasi atau penukara ester yang didasarkan pada prinsip esterifikasi fredalgraft. Hidrolisa Dalam reaksi hidrolisis, lemak dan minyak akan diubah menjadi asam-asam lemak bebas dan gliserol. Reaksi hidrolisis mengakibatkan kerusakan lemak dan minyak ini terjadi karena terdapat sejumlah air dalam lemak dan minyak tersebut. Penyabunan Reaksi ini dilakukan dengan penambahan sejumlah larutan basa kepada trigliserida. Bila penyabunan telah lengkap lapisan air yang mengandung gliserol dipulihkan dengan penyulingan. Hidrogenasi Proses hidrogenasi bertujuan untuk menjernihkan ikatan dari rantai karbon asam lemak pada lemak atau minyak. Setelah proses hidrogenasi selesai, minyak didinginkan dan katalisator

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


5

LEMAK

dipisahkan dengan disaring. Hasilnya adalah minyak yang bersifat plastis atau keras, tergantung dengan derajat kejenuhan. Pembentukan keton Keton dihasilkan melalui penguraian dengan cara hidrolisa ester. Oksidasi Oksidasi dapat berlangsung bila terjadi kontak antara sejumlah oksigen dengan lemak atau minyak. Terjadinya reaksi oksidasi ini akan mengakibatkan bau tengik pada lemak atau minyak. (http://repositoryusu.ac.id/bitstream/123456789/1320/1/tki mia-netti.pdf)

II.4 Sifat fisis dan kimia dari n-hexane Tabel 1. Sifat Fisis n-hexane Sifat Fisis n-hexane Bersih dan tidak

Penampilan

berwarna Rumus molekul C6H14 Densitas 0,6548 gr/ml Titik leleh -95C (178 K) Titik didih 69C (342 K) Kelarutan dalam air Tidak larut dalam air Viskositas 0,294 cp (25C) Bau Seperti bensin Berat molekul 86,18 gr/mol Sifat Kimia n-hexane 1. Hasil metabolism n-hexane (n-hexane-2,5-dione) dapat meracuni manusia. 2. Digunakan untuk mengekstraksi lemak. 3. Tidak mudah untuk di deprotonasi.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


6

LEMAK

4. Dalam industry digunakan untuk formula lem bagi sepatu, produk berbahan kulit. (http://www.jtbaker.com/msds/english/html/h2379.htm) (http://en.wikipedia.org/wiki/Hexane)

II.5 Sifat fisis dan kimia pelarut organik non polar Contoh pelarut organik non polar adalah dietil eter, kloroform. dietil eter C2H5OC2H5 74,12 gr/mol Jernih, cairan tidak berwarna 0,7134 gr/cm3 -116,3 (56,85 K) 34,6 (307,75 K) 6,9 gr/100ml (20C) 0,224 cp (25C) Tabel 2. Sifat Fisis dan Kimia dietil eter Rumus molekul Massa molar Penampilan Densitas Titik leleh Titik didih Kelarutan dalam air Viskositas Sifat Kimia dietil eter

1. Terkadang eter digunakan sebagai pengganti kloroform sebab eter memiliki indeks terapeutik yang lebih tinggi, perbedaan yang lebih besar antara dosis yang direkomendasikan dengan dosis berlebih yang beracun. Eter masih menjadi anestesi yang disukai di sejumlah negara berkembang karena indeks terapeutiknya yang tinggi (~1.5-2.2) [7] dan harganya yang murah. 2. Karena berefek anestetik, eter juga digunakan sebagai sebuah obat rekreasi, kendati tidak populer. Dietil eter tidak seberacun zat pelarut lainnya yang digunakan sebagai obat rekreasi. Eter cenderung sulit dikonsumsi sendirian, sehingga sering dicampur dengan etanol untuk penggunaan rekreasi. Eter juga digunakan sebagai sebuah obat inhalan (hirupan). 3. Dietil eter cenderung membentuk peroksida, dan bisa menghasilkan ledakan dietil eter peroksida. Eter peroksida bertitik didih lebih tinggi dan saat berada dalam keadaan kering bersifat mudah meledak ketika disentuh. 4. Eter merupakan salah satu bahan yang amat mudah terbakar. 5. Sebagian besar dietil eter diproduksi sebagai produk sampingannya fase-uap hidrasinya etilena untuk menghasilkan etanol. Proses ini menggunakan dukungan solid katalis asam fosfat dan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


7

LEMAK

bisa disesuaikan untuk menghasilkan eter lebih banyak lagi. Fase-uap dehidrasinya etanol pada sejumlah katalis alumina bisa menghasilkan dietil eter sampai 95%. (http://id.wikipedia.org/wiki/dietileter) Kloroform Sifat Fisis kloroform CHCl3 119,38 gr/mol Jernih, cairan tidak berwarna 1,48 gr/cm3 -63,5C 61,2C 0,8 gr/100ml (20C) Tabel 3. Sifat Fisis kloroform

Rumus molekul Massa molar Penampilan Densitas Titik leleh Titik didih Kelarutan dalam air

Sifat Kimia kloroform 1. Sebagai bahan pembius.


2. Sebagai pelarut nonpolar di laboratorium dan industri.

(http://id.wikipedia.org/wiki/kloroform) II.6 Kegunaan lemak


1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8.

Untuk obat-obatan. Untuk minyak goreng. Untuk cat vernis. Untuk pembuatan margarin. Untuk kosmetik. Untuk menyamak kulit. Untuk insektisida dan fungisida. Untuk pembuatan sabun dan deterjen. Untuk pembuatan biodiesel.

9.

II.7 Pengukuran kualitas lemak berdasarkan pada :

1.Bilangan penyabunan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


8

LEMAK

Bilangan penyabunan adalah jumlah basa yang dibutuhkan untuk menyabunkan sejumlah minyak. 2.Bilangan asam Bilangan asam adalah mg kalium hidroksida yang diperlukan untuk menetralkan asam bebas dalam 1,0 gram zat. 3.Bilangan iod Bilangan iod adalah besarnya jumlah iod yang diserap oleh lemak, yang mana menunjukkan banyaknya ikatan rangkap atau ikatan tak jenuh pada lemak. (http://iyang.dagdigdug.com/2009/12/19/penentuan_bilangan_asam_asam_l emak_bebas) (http://techgroups.yahoo.com/group/kimia_indonesia/message/0294) II. 8. Hal-Hal yang perlu diperhatikan dalam proses ekstraksi : 1. Luas permukaan : makin luas bidang sentuh, ekstraksi makin baik. 2. Waktu ekstraksi : makin lama waktu ekstraksi makin banyak lemak yang dihasilkan, waktu maksimum 3 jam. 3. Temperatur : suhu menentukan, dapat diukur dari solvent yang digunakan dan kelarutan lemak. 4. Solvent : jenis solvent akan berpengaruh pada banyaknya lemak yang terambil. II.9. Syarat solvent sebagai pelarut

Selektivitas, pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak Kelarutan, pelarut sedapat mungkin memiliki

yang diinginkan.

kemampuan melarutkan ekstrak yang besar.

Kemampuan tidak saling bercampur, pada ekstraksi cair,

pelarut tidak boleh larut dalam bahan ekstraksi.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


9

LEMAK

Kerapatan,

sedapat

mungkin

terdapat

perbedaan

kerapatan yang besar antara pelarut dengan bahan ekstraksi.

Reaktivitas, pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan Titik didih, titik didh kedua bahan tidak boleh terlalu

secara kimia pada komponen bahan ekstraksi.

dekat karena ekstrak dan pelarut dipisahkan dengan cara penguapan, distilasi dan rektifikasi.

Kriteria lain, sedapat mungkin murah, tersedia dalam

jumlah besar, tidak beracun, tidak mudah terbakar, tidak eksplosif bila bercampur udara, tidak korosif, buaka emulsifier, viskositas rendah dan stabil secara kimia dan fisik. (http://lordbroken.wordpress.com/2010/02/17/ekstraksi-pelarut/

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


10

LEMAK

BAB III METODE PERCOBAAN III.1. Alat dan Bahan yang digunakan III.2.1. Bahan yang digunakan 1. Daging sapi 10 gram 2. n-hexane 160 ml III.2.2. Alat yang dipakai 1. Statif dan klem 2. Thermostat 3. Beaker glass 4. Corong III.2. Gambar Alat 6. Oven 7. Gelas ukur 8. Timbangan 9. Pendingin balik

Gambar 3. Rangkaian Alat Ekstraksi

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


11

LEMAK

Keterangan 1. Statif 2. Klem 3. Pendingin balik 4. Tabung soklet 5. Sampel dalam kertas saring 6. Pipa aliran embun 7. Pipa aliran uap 8. n-hexane 9. Labu alas bulat 10. Thermostat 11. Thermocouple 12. Heater 13. Waterbath III.3. Cara Kerja Ekstraksi Lemak 1. Mengeringkan labu ekstraksi dalam oven pada suhu 105C110C, dinginkan dan timbang. 2. Menimbang 10 gram daging sapi yang sudah dihaluskan dan dikeringkan. 3. Membungkus bahan dengan kertas saring bebas lemak dan diikat dengan benang dan dimasukkan dalam tabung soklet. 4. Masukkan 160 ml n-hexane dalam labu alas bulat. 5. Melakukan ekstraksi selama 1 jam 45 menit. Diusahakan jumlah tetesan sekitar 150 tetes per menit. 6. Setelah ekstraksi selesai sampekl diambil dan memasang kembali ekstraktor guna recovery solvent. 7. Melakukan recovery solvent.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


12

LEMAK

8. Mengeringkan daging sapi dalam oven pada suhu 110C selama beberapa saat dan setelah kering dinginkan dan timbang hingga 3 kali konstan. 9. Mengambil tabung ekstraksi dan sisa solvent diuapkan dalam oven pada suhu 80C90C dan dinginkan, kemudian timbang sampai 3 kali konstan. 10. Menentukan kadar lemak dengan perhitungan. BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN IV.1. Hasil Percobaan Tabel 4. Hasil Percobaan Sampel Berat awal Barat akhir Labu Daging sapi 97,74 gram 10 gram 100,6 gram 6,45 gram

Kadar praktis 38,6 % 32,5 %

Kadar teoritis 14 % 14 %

% error 175,71 % 132,14 %

IV.2. Pembahasan 1. Kadar lemak dalam kertas saring lebih besar (32,5 %) dari kadar teoritis (14 %) Pada percobaan yang telah kami lakukan, kadar praktis yang kami peroleh adalah 32,5 . Hasil ini lebih besar dari kadar teoritis (14 %). Hal ini disebabkan karena adanya zat yang ikut terlarut pada solvent selain itu sendiri. Zat yang ikut terlarut contohnya adalah senyawa hidrokarbon (dapat berupa protein atau karbohidrat yang bersifatorganik non polar) dan aseton. Zat-zat hidrokarbon dan aseton yang ikut larut saatproses ekstraksi inilah yang menyebabkan kadar yang kami peroleh lebih besar dibandingkan dengan kadar teoritis. Sedangkan solvent yang selektif dan hanya dapat melarutkan lemak adalah benzena.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


13

LEMAK

(http://bebas.ui.ac.id/412/sponsor_pendamping/Praweda/kimia/02364kim2131.html) 2. Kadar lemak dalam labu lebih besar (32,5 %) dari kadar teoritis (14 %) Pada percobaan yang telah kami lakukan, kadar praktis yang kami peroleh adalah 38,6 %. Hal ini disebabkan karena proses recovery yang kali lakukan kurang sempurna. Indikasi sempurnanya proses recovery adalah jika tidak terdapat n-hexane yang terdapat dalam labu. Selain itu, proses pengovenan labu yang kami lakukan belum maksimal karena kami belum memperoleh hasil penimbangan yang 3 kali konstan. Karena dalam labu masih terdapat solvent yang masih tersisa dan dapat mempengaruhi berat labu setelah ekstraksi, maka kadar praktis yang kami temukan lebih besar dari kadar teoritis. (Perry Chemical Engineering Handbook 19-48, 19-51) 3. Alasan pengembunan pada recycle dan recovery Hasil pengembunan digunakan sebagai pelarut lemak dari sampel yang terbungkus. Proses pengembunan dari solvent yang telah menjadi uap, terjadi pengembunan dan kembali ke fase cair maka larutan solvent hasil proses pengembunan akan jatuh pada sampel san sampel tersebut aka terlarut pada solvent yang telah kembali ke fase cair. Dengan demikian, solvent akan melarutkan kembali lemak yang masih tertinggal dalam sampel karena daya larut solvent dalam

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


14

LEMAK

melarutkan dalam recycle terbatas. Adanya penguapan solvent yang diikuti pengembunan membuat solvent dapat melarutkan lemak yang tersisa karena daya larut n-hexane kembali seperti semula. Selanjutnya pada proses recovery, proses pengembunan akan berguna sebagai pemisah lemak yang terlarut dalam solvent pada proses ekstraksi, sehingga pada labu alas bulat hanya akan terdapat lemak hasil proses ekstraksi dan n-hexane akan terpisah dari lemak, sehingga solvent n-hexane akan bebas lemak. (http://eskariakanachandra.wordpress.com/2010/03 /04/soklet) 4. Alasan recycle dilakukan berulang-ulang Pada percobaan kami recycle dilakukan berulang-ulang karena daya larut solvent dalam melarutkan lemak tiap recycle terbatas. Lemak dalam sampel dilarutkan oleh tiap tetes solvent yang menetes pada tabung soklet. Daya yang dilakukan tiap tetes solvent untuk melarutkan lemak pada proses recycle berbeda dengan cara mencelupkannya secara langsung. Pada proses recycle akan didapatkan kadar lemak yang lebih besar dibandingkan dengan cara mencelupkannya secara langsung. Selain itu, kita akan mempunyai parameter apakah lemak telah terkarut secara maksimal atau belum dengan melihat indicator warna solvent pada tabung soklet. Apabila warna solvent jernih (seperti warna solvent mula-mula) maka proses recycle dapat dihentikan. Hal ini menandakan sebagian besar lemak telah larut. (Perry R.H Chemical Engineering Handbook 1948, 19-51) 5. Mekanisme kerja tabung soklet

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


15

LEMAK

Cara kerja tabung soklet yaitu pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensator melalui pipa kecil dan keluar dalam fase cair. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan masuk kembalin ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Sedangkan alasan mengapa n-hexane dapat turun dari tabung siklet ke labu alas bulat adalah menurut Hukum Pascal yang berbunyi tekanan yang bekerja pada fluida di dalam ruang tertutup akan diteruskan oleh fluida tersebut ke segala arah dengan sama besar, dengan kata lain tekanan di dalam tabung soklet lebih besar dibandingkan di dalam labu alas bulat. Akibatnya, n-hexane menjadi terdesak sehingga dapat turun dari tabung soklet ke labu alas bulat. (http://cobaberbagi_files.wordpress.com/2010/05/fl uida.doc) (http://www.majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi ) 6. Sampel dibuat halus Sampel yang digunakan harus halus agar mempercepat proses ekstraksi. Semakin halus suatu sampel maka luas permukaan akan semakin besar. Jika luas permukaan semakin besar maka kontak antara solvent dan sampel akan lebih banyak sehingga proses ekstraksi berjalan lebih sempurna dan lemak yang terkandung dalam sampel lebih mudah terlarut. (Perry R.H Chemical Engineering Handbook 19-48, 19-51)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


16

LEMAK

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


17

LEMAK

BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan 1. Kadar lemak yang ditemukan dalam kertas saring (32,5 %) lebih besar dari kadar teoritis (14 %) dengan % error 132,54 %. 2. Kadar lemak yang ditemukan dalam labu alas bulat (38,6 %) lebih besar dari kadar teoritis (14 %) dengan % error 175,41 %. V.2. Saran 1. Proses recycle dilakukan dengan optimal yang ditandai dengan warna solvent pada tabung soklet sama dengan warna solvent awal (jernih). 2. Melakukan proses recovery dengan maksimal sehingga tidak ada lagi solvent yang mengembun pada tabung soklet. 3. Melakukan pengovenan secara maksimal sehingga diperoleh berat 3 kali konstan. 4. Saat penimbangan harus cermat dan teliti. 5. Perangkaian alat ekstraksi lemak harus hati-hati dan melaksanakan percobaan dengan benar.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


18

LEMAK

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


19

LEMAK

DAFTAR PUSTAKA Durant.J, 1959 Organic Chemistry and Co, London Fieser, L, Fieser M, 1956, Introduction to Organis Compound Maruken Co Ltd, Tokyo Fieser, L, Fieser M, 1956, Organic Chemistry, Reinhold Publishing Coorporation, New York Groggins, PH, 1958, Unit Operation in Organic Synthesis, Hill Book Company, New York Jacobs, M, 1958, The Chemical Analysis of Food and Food Product, Van Norstrand Company Inc. New York Jamieson, GS, 1932, Vegetable, Fat, and Oil, The Chemical Catalog Company Inc Morrison, RT, Boyd, RN, 1978, Organis Chemistry India Private Limited New Delhi Woodman, AC, 1941, Food Analysis, Mc Graw Hill Book Company Inc, New York http://Bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/sponsor_pendamping/Praweda/kimia/0236 4html.139.htm http://cobaberbagi.files.wordpress.com/2010/05/fluida.doc http://en.wikipedia.org/wiki/Hexane http://eprints.undip.ac.id/3216/1/andara_tiwi_pdf.pdf http://eskariachandra.wordpress.com/2010/03/04/soklet http://id.wikipedia.org/wiki/dietileter http://id.wikipedia.org/wiki/kloroform http://inyoong.dagdigdug.com/2009/12/19/penentuan_bilangan_asam_asam _lemak_bebas http://jasmansyah.someas.com/korg1.htm http://lordbroken.wordpress.com/2010/02/17/ekstraksi_pelarut/ ed, Prentice Hall of ed, Mc Graw ed, Impression Longmans, Green

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


20

LEMAK

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1320/1/tkimia_Netti.pdf http://tech.groups.yahoo.com/group/kimia.indonesia/messages/0294 http://www.jtbaker.com/msds/englishhtml/h2379.htm http://www.majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


21

LEMAK

LAPORAN SEMENTARA PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II

MATERI : LEMAK

Disusun Oleh : Kelompok : VII/ Selasa Siang

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


22

LEMAK

Anggota

: 1. Aziz Syaefurrohman 2. Dian Ika romadhoni 3. Ilham Dirga Laksono 4. R.A. Anindya Chandra Dewi 5. Tondy Satria Sugiarto

21030110130099 21030110130088 21030110120057 21030110130103 21030110130105

LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO SEMARANG 2011 I. TUJUAN PERCOBAAN Untuk mengetahui kadar lemak pada daging sapi bagian paha dengan metode ekstraksi. II. PERCOBAAN II.1. BAHAN YANG DIGUNAKAN 1. Sampel : daging sapi bagian paha 10 gram 2. N-Hexane 150 ml II.2. ALAT YANG DIGUNAKAN 1. Statif dan klem 2. Thermostat 3. Beaker glass 4. Corong 5. Cawan porselen 6. Oven 7. Gelas ukur 8. Timbangan 9. Pendingin balik

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


23

LEMAK

II.3. CARA KERJA Ekstraksi Lemak 1. Mengeringkan labu ekstraksi dalam oven pada suhu 105C110C, dinginkan dan timbang. 2. Menimbang 10 gram daging sapi yang sudah dihaluskan dan dikeringkan. 3. Membungkus bahan dengan kertas saring bebas lemak dan diikat dengan benang dan dimasukkan dalam tabung soklet. 4. Masukkan 160 ml n-hexane dalam labu alas bulat. 5. Melakukan ekstraksi selama 1 jam 45 menit. Diusahakan jumlah tetesan sekitar 150 tetes per menit. 6. Setelah ekstraksi selesai sampekl diambil dan memasang kembali ekstraktor guna recovery solvent. 7. Melakukan recovery solvent. 8. Mengeringkan daging sapi dalam oven pada suhu 110C selama beberapa saat dan setelah kering dinginkan dan timbang hingga 3 kali konstan. 9. Mengambul tabung ekstraksi dan sisa solvent diuapkan dalam oven pada suhu 80C-90C dan dinginkan, kemudian timbang sampai 3 kali konstan. 10. Menentukan kadar lemak dengan perhitungan. II.4. HASIL PERCOBAAN Awal Akhir Berat sampel 10 gram 6,45 gram Berat labu 96,74 gram 100,6 gram

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


24

Recycle 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 PRAKTIKAN 26 27 28 29 30 31 32

Waktu (menit) 5 menit 44 detik 8 menit 44 detik 12 menit 41 detik 15 menit 21 detik 17 menit 58 detik 20 menit 30 detik 23 menit 6 detik 25 menit 44 detik 28 menit 22 detik 31 menit 2 detik 33 menit 46 detik 36 menit 31 detik 39 menit 24 detik 44 menit 5 detik 46 menit 44 detik 49 menit 27 detik 52 menit 17 detik 55 menit 9 detik 1 jam 45 detik 1 jam 3 menit 33 detik 1 jam 6 menit 24 detik 1 jam 8 menit 52 detik 1 jam 11 menit 28 detik 1 jam 14 menit 8 detik 1 jam 16 menit 57 detik 1 jam 19 menit 35 detik 1 jam 22 menit 14 detik 1 jam 24 menit 53 detik 1 jam 27 menit 42 detik 1 jam 30 menit 22 detik 1 jam 33 menit 3 detik 1 jam 35 menit 45 MENGETAHUI ASISTEN

LEMAK

Yunia Karyati NIM L2C0080

detik 33 1 jam 38 menit 38 Laboratorium Dasar Teknik detik Diponegoro 34 35 1 jam 41 menit 18 detik 1 jam 43 menit 58

Kimia II Universitas
25

LEMAK

LEMBAR PERHITUNGAN

Berat sampel Berat kertas saring

: 10 gram : 0,75 gram

(sebelum ekstraksi)

Sebelum ekstraksi Berat sampel Berat labu alas bulat : 10 gram : 96.72 gram

Setelah ekstraksi Berat sampel :

6.45 gram

100.6 gram

Kadar lemak teoritis :

. 100 % = 14 %

(http://www.infoternak.com/jangan_makan_daging_sapi) Kadar lemak praktis

1. Sampel =

. 100 % . 100 % . 100 % = 32.5 %

= = % eror = =
2. Labu =

. 100% = 132,14% . 100% . 100% . 100% = 38,6 %

= =

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


26

LEMAK

% error = =

. 100% . 100% = 175,71%

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


27

LEMAK

LEMBAR KUANTITAS REAGEN LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS DIPONEGORO PRAKTIKUM KE MATERI HARI KELOMPOK NAMA :6 : LEMAK : 10 Mei 2011 : VII/ Selasa Siang : 1. Aziz S 2. Dian Ika R 3. Ilham Dirga Laksono 4. R.A Anindya Chandra Dewi 5. Tondy Satria ASISTEN KUANTITAS REAGEN NO JENIS REAGEN 1 2 n-hexane Daging Sapi (dihaluskan dan dikeringkan) KUATITAS 160 ml 10 gr : Yunita Karyati

TUGAS TAMBAHAN : Kadar lemak pada daging sapi

CATATAN
Waktu ekstraksi 1 jam 45 menit catat waktu tiap kali recycle recovery 1x, T = 105C Bawa malam dan benang

SEMARANG, ASISTEN

Yunia Karyati NIM L2C0080

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


28

LEMAK

Sebagai perbandingan, berikut komposisi lemak dan kolesterol beberapa daging per 100 gram.

http://www.infoternak.com/jangan-makan-daging-sapi

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


29

LEMAK

EKSTRAKSI LEMAK KASAR MENGGUNAKAN SOXHLET EXTRACTOR PRINSIP SOXHLET Prinsip soxhlet ialah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang umumnya sehingga terjadi ekstraksi kontiyu dengan jumlah pelarut konstan dengan adanya pendingin balik. Soklet terdiri dari: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. pengaduk / granul anti-bumping still pot (wadah penyuling) Bypass sidearm thimble selulosa extraction liquid Syphon arm inlet Syphon arm outlet Expansion adapter Condenser (pendingin)

10. Cooling water in 11. Cooling water out Bahan yang akan diekstraksi ialah jagung, dedak, tepung ikan, pelet. Penentuan kadar lemak dengan pelarut organik, selain lemak juga terikut Fosfolipida, Sterol, Asam lemak bebas, Karotenoid, dan Pigmen yang lain . Karena itu hasil ekstraksinya disebut Lemak kasar . MEKANISME KERJA Sampel yang sudah dihaluskan, ditimbang 5-10 gram dan kemudian dibungkus atau ditempatkan dalam Thimble (selongsong tempat sampel) , di atas sample ditutup dengan kapas. Pelarut yang digunakan adalah Petroleum Spiritus dengan titik didih 60 80C. Selanjutnya labu kosong diisi butir batu didih. Fungsi batu didih ialah untuk meratakan panas. Setelah dikeringkan dan didinginkan, labu diisi dengan Petroleum Spirit 60 80C sebanyak 175 ml. Digunakan petroleum spiritus karena kelarutan lemak pada pelarut organik.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


30

LEMAK

Thimble yang sudah terisi sampel dimasukan ke dalam soxhlet . Soxhlet disambungkan dengan labu dan ditempatkan pada alat pemanas listrik serta kondensor . Alat pendingin disambungkan dengan soxhlet. Air untuk pendingin dijalankan dan alat ekstraksi lemak mulai dipanaskan . Ketika pelarut dididihkan, uapnya naik melewati soklet menuju ke pipa pendingin. Air dingin yang dialirkan melewati bagian luar kondenser mengembunkan uap pelarut sehingga kembali ke fase cair, kemudian menetes ke thimble. Pelarut melarutkan lemak dalam thimble, larutan sari ini terkumpul dalam thimble dan bila volumenya telah mencukupi, sari akan dialirkan lewat sifon menuju labu. Proses dari pengembunan hingga pengaliran disebut sebagai refluks. Proses ekstraksi lemak kasar dilakukan selama 6 jam. Setelah proses ekstraksi selesai, pelarut dan lemak dipisahkan melalui proses penyulingan dan dikeringkan. DASAR PEMILIHAN METODE, KEUNTUNGAN DAN KERUGIAN METODE SOXHLET Metode soxhlet ini dipilih karena pelarut yang digunakan lebih sedikit (efesiensi bahan) dan larutan sari yang dialirkan melalui sifon tetap tinggal dalam labu, sehingga pelarut yang digunakan untuk mengekstrak sampel selalu baru dan meningkatkan laju ekstraksi. Waktu yang digunakan lebih cepat. Kerugian metode ini ialah pelarut yang digunakan harus mudah menguap dan hanya digunakan untuk ekstraksi senyawa yang tahan panas.

http://eskariachandra.wordpress.com/2010/03/04/soklet/

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


31

LEMAK

Senyawa Karbon: - Membentuk ikatan kovalen - Dapat membentuk rantai karbon - Non elektrolit - Reaksi berlangsung lambat - Titik didih dan titik lebur rendah - Larut dalam pelarut organik Senyawa anorganik: - Membentuk ikatan ion - Tidak dapat membentuk rantai karbon - Elektrolit - Reaksi berlangsung cepat - Titik didih dan titik lebur tinggi - Larut dalam pelarut pengion http://bebas.ui.ac.id/v12/sponsor/sponsorpendamping/praweda/kimia/0236a

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


32

LEMAK

Penentuan Bilangan Asam (Asam Lemak Bebas) Keasaman minyak lemak dan asam lemak dinyatakan sebagai jumlah ml alkali 0,1 N yang diperlukan untuk menetralkan asam bebas dalam 10,0 gram zat. Keasaman sering dinyatakan sebagai Bilangan Asam, Yaitu jumlah mg-kalium hidroksida yang diperlukan untuk menetralkan asam bebas dalam 1,0 gram zat. Prosedur Kecuali dinyatakan lain, timbang saksama lebih kurang 10,0 gram zat, larutkan dalam labu yang berisi 50 ml campuran etanol P-eter P (1:1) dan telah dinetralkan terhadap fenolftalein LP dengan natrium hidroksida 0,1 N. Bila contoh tidak larut dalam pelarut dingin, hubungkan labu dengan pendingin yang sesuai dan hangatkan perlahan-lahan, sambil sering dikocok sampai contoh larut. Tambahkan 1 ml fenolftalein LP, dan titrasi dengan Natrium Hidroksida 0,1 N LV sampai larutan tetap berwarna merah muda lemah setelah dikocok selama 30 detik. Hitung asam lemak bebas dengan bilangan asam atau jumlah ml alkali 0,1 N yang diperlukan untuk menetralkan 10,0 gram contoh. Jika volume Natrium Hidroksida 0,1 N LV yang diperlukan untuk titrasi kurang dari 2 ml, dapat digunakan titran lebih encer, atau jumlah contoh disesuaikan. Hasil dapat dinyatakan dalam volume titran yang digunakan atau dalam kesetaraan volume Natrium Hidroksida 0,1 N.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


33

LEMAK

Jika minyak telah dijenuhkan dengan karbondioksida untuk tujuan pengawetan, refluks perlahan-perlahan larutan etanol-eter selama 10 menit sebelum titrasi. Minyak juga dapat dibebaskan dari karbondioksida dengan menempatkannya pada cawan dangkal di dalam desikator vakum selama 24 jam sebelum contoh ditimbang.

http://iyoong.dagdigdug.com/2009/12/19/penentuan-bilangan-asam-asamlemak-bebas/

Hidrokarbon Dalam bidang kimia, hidrokarbon adalah sebuah senyawa yang terdiri dari unsur karbon (C) dan hidrogen (H). Seluruh hidrokarbon memiliki rantai karbon dan atom-atom hidrogen yang berikatan dengan rantai tersebut. Istilah tersebut digunakan juga sebagai pengertian dari hidrokarbon alifatik. Sebagai contoh, metana (gas rawa) adalah hidrokarbon dengan satu atom karbon dan empat atom hidrogen: CH4. Etana adalah hidrokarbon (lebih terperinci, sebuah alkana) yang terdiri dari dua atom karbon bersatu dengan sebuah ikatan tunggal, masing-masing mengikat tiga atom karbon: C2H6. Propana memiliki tiga atom C (C3H8) dan seterusnya (CnH2n+2). SENYAWA HIDROKARBON senyawa ini merupakan senyawakarbon paling sederhana yang terdiri dari atom karbon(C)dan hidrogen(H).sampai saat ini terdapat lebih kurang 2 juta senyawa hidrokarbon.sifat senyawa-senyawa hidrokarbon ditentukan oleh struktur dan jenis ikatan koevalen antar atom karbon.oleh karena itu,untuk memudahkan mempelajari senyawa hidrokarbon yang begitu banyak,para ahli melakukan PERGOLONGAN HIDROKARBON BERDASARKAN STRUKTURNYA,danJENIS IKATAN KOEVALEN ANTAR ATOM KARBON. http://id.wikipedia.org/wiki/Hidrokarbon

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


34

LEMAK

EKSTRAKSI Salah satu proses yang paling mendasar dari industri parfum adalah ekstraksi minyak-lemak. Contohnya dalam ekstraksi minyak atsiri dari biji pala (Myristica fragrans). Pertama-tama yang dilakukan adalah mengambil kandungan minyak-lemak dari bijinya, baru kemudian dilakukan pemurnian untuk mendapatkan minyak esensial atsirinya saja. Ekstraksi adalah suatu proses pemisahan dari bahan padat maupun cair dengan bantuan pelarut. Pelarut yang digunakan harus dapat mengekstrak substansi yang diinginkan tanpa melarutkan material lainnya. Ekstraksi padat cair atau leaching adalah transfer difusi komponen terlarut dari padatan inert ke dalam pelarutnya. Proses ini merupakan proses yang bersifat fisik karena komponen terlarut kemudian dikembalikan lagi ke keadaan semula tanpa mengalami perubahan kimiawi. Ekstraksi dari bahan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


35

LEMAK

padat dapat dilakukan jika bahan yang diinginkan dapat larut dalam solven pengekstraksi. Ekstraksi berkelanjutan diperlukan apabila padatan hanya sedikit larut dalam pelarut. Namun sering juga digunakan pada padatan yang larut karena efektivitasnya. [Lucas, Howard J, David Pressman. Principles and Practice In Organic Chemistry] Faktor-faktor yang mempengaruhi laju ekstraksi adalah:

Tipe persiapan sampel Waktu ekstraksi Kuantitas pelarut Suhu pelarut Tipe pelarut

Minyak dapat diekstraksi dengan perkolasi, imersi, dan gabungan perkolasiimersi. Dengan metode perkolasi, pelarut jatuh membasahi bahan tanpa merendam dan berkontak dengan seluruh spasi diantara partikel. Sementara imersi terjadi saat bahan benar-benar terendam oleh pelarut yang bersirkulasi di dalam ekstraktor. Sehingga dapat disimpulkan:

Dalam proses perkolasi, laju di saat pelarut berkontak dengan permukaan bahan selalu tinggi dan pelarut mengalir dengan cepat membasahi bahan karena pengaruh gravitasi. Dalam proses imersi, bahan berkontak dengan pelarut secara periodeik sampai bahan benar-banar terendam oleh pelarut. Oleh karena itu pelarut mengalir perlahan pada permukaan bahan, bahkan saat sirkulasinya cepat. Untuk perkolasi yang baik, partikel bahan harus sama besar untuk mempermudah pelarut bergerak melalui bahan. Dalam kedua prosedur, pelarut disirkulasikan secara counter-current terhadap bahan. Sehingga bahan dengan kandungan minyak paling sedikit harus berkontak dengan pelarut yang kosentrasinya paling rendah.

Metode perkolasi biasa digunakan untuk mengekstraksi bahan yang kandungan minyaknya lebih mudah terekstraksi. Sementara metode imersi lebih cocok digunakan untuk mengekstraksi minyak yang berdifusi lambat. Ekstraksi bahan makanan biasa dilakukan untuk mengambil senyawa pembentuk rasa bahan tersebut. Misalnya senyawa yang menimbulkan bau dan/atau rasa tertentu. Ekstraksi Soxhlet Ada dua jenis ekstraktor yang lazim digunakan pada skala laboratorium, yaitu ekstraktor Soxhlet dan ekstraktor Butt. Pada ekstraktor Soxhlet, pelarut dipanaskan dalam labu didih sehingga menghasilkan uap. Uap tersebut kemudian masuk ke kondensor melalui pipa kecil dan keluar dalam

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


36

LEMAK

fasa cair. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong berisi padatan. Pelarut akan membasahi sampel dan tertahan di dalam selongsong sampai tinggi pelarut dalam pipa sifon sama dengan tinggi pelarut di selongsong. Kemudian pelarut seluruhnya akan menggejorok masuk kembali ke dalam labu didih dan begitu seterusnya. Peristiwa ini disebut dengan efek sifon. Prinsip kerja ekstraktor Butt mirip dengan ekstraktor Soxhlet. Namun pada ekstraktor Butt, uap pelarut naik ke kondensor melalui annulus di antara selongsong dan dinding dalam tabung Butt. Kemudian pelarut masuk ke dalam selongsong langsung lalu keluar dan masuk kembali ke dalam labu didih tanpa efek sifon. Hal ini menyebabkan ekstraksi Butt berlangsung lebih cepat dan berkelanjutan (rapid). Selain itu ekstraksinya juga lebih merata. Ekstraktor Butt dinilai lebih efektif daripada ekstraktor Soxhlet. Hal ini didasari oleh faktor berikut:

Pada ekstraktor Soxhlet cairan akan menggejorok ke dalam labu setelah tinggi pelarut dalam selongsong sama dengan pipa sifon. Hal ini menyebabkan ada bagian sampel yang berkontak lebih lama dengan cairan daripada bagian lainnya. Sehingga sampel yang berada di bawah akan terekstraksi lebih banyak daripada bagian atas. Akibatnya ekstraksi menjadi tidak merata. Sementara pada ekstraktor Butt, pelarut langsung keluar menuju labu didih. Sampel berkontak dengan pelarut dalam waktu yang sama. Pada ekstraktor Soxhlet terdapat pipa sifon yang berkontak langsung dengan udara ruangan. Maka akan terjadi perpindahan panas dari pelarut panas di dalam pipa ke ruangan. Akibatnya suhu di dalam Soxhlet tidak merata. Sedangkan pada ekstraktor Butt, pelarut seluruhnya dilindungi oleh jaket uap yang mencegah perpindahan panas pelarut ke udara dalam ruangan.

http://majarimagazine.com/2009/03/ekstraksi/

EKSTRAKSI DENGAN PELARUT

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


37

LEMAK

Ekstraksi adala jenis pemisahan satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan. Proses ekstraksi bermula dari penggumpalan ekstrak dengan pelarut kemudian terjadi kontak antara bahan dan pelarut sehingga pada bidang datar antarmuka bahan ekstraksi dan pelarut terjadi pengendapan massa dengan cara difusi. Bahan ekstraksi yang telah tercampur dengan pelarut yang telah menembus kapiler-kapiler dalam suatu bahan padat dan melarutkan ekstrak larutan dengan konsentrasi lebih tinggi di bagian dalam bahan ekstraksi dan terjadi difusi yang memacu keseimbangan konsentrasi larutan dengan larutan di luar bahan. Ekstraksi dengan pelarut dapat dilakukan dengan cara dingin dan cara panas. Jenis-jenis ekstraksi tersebut sebagai berikut:

Cara Dingin o Maserasi, adalah ekstraksi menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengadukan pada suhu kamar. Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metoda pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetic berarti dilakuakn pengadukan kontinyu. Remaserasi berarti dilakukan pengulangan penambahan pelarutsetelah dilakukan ekstraksi maserat pertama dan seterusnya. o Perkolasi, adalah ekstraksi pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya pada suhu ruang. Prosesnya didahului dengan pengembangan bahan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya (penampungan ekstrak) secara terus menerus samapai diperoleh ekstrak perkolat yang jumlahnya 1-5 kali bahan Cara Panas o Reflux, adalah ekstraksi pelarut pada temperature didihnya selamawaktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relative konstan dengan adanya pendingin balik o Soxhlet, adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru menggunakan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinyu dengan jumlah pelarut relative konstan dengan adanya pendingin balik. o Digesi, adalahmaserasi kinetic pada temperature lebih tinggi dari temperature kamar sekitar 40-50 C o Destilasi uap, adalah ekstraksi zat kandungan menguap dari bahan dengan uap air berdasarkan peristiwa tekanan parsial zat kandungan menguap dengan fase uap air dari ketel secara kontinyu sampai sempurna dan diakhiri dengan kondensasi fse uap campuran menjadi destilat air bersama kandungan yang memisah sempurna atau sebagian. o Infuse, adalah ekstraksi pelarut air pada temperature penangas air 96-98 C selama 15-20 menit.

Pelarut yang baik untuk ekstraksi adalah pelarut yang mempunyai daya melarutkanyang tinggi terhadap zat yang diekstraksi. Daya melarutkan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


38

LEMAK

yang tinggi ini berhubungan dengan kepolaran pelarut dan kepolaran senyawa yang diekstraksi. Terdapat kecenderungan kuat bagi senyawa polar larut dalam pelarut polar dan sebaliknya. Pemilihan pelarut pada umumnya dipengaruhi oleh: Selektivitas, pelarut hanya boleh melarutkan ekstrak yang diinginkan. Kelarutan, pelarut sedapat mungkin memiliki kemampuan melarutkan ekstrak yang besar. Kemampuan tidak saling bercampur, pada ekstraksi cair, pelarut tidak boleh larut dalam bahan ekstraksi. Kerapatan, sedapat mungkin terdapat perbedaan kerapatan yang besar antara pelarut dengan bahan ekstraksi. Reaktivitas, pelarut tidak boleh menyebabkan perubahan secara kimia pada komponen bahan ekstraksi. Titik didih, titik didh kedua bahan tidak boleh terlalu dekat karena ekstrak dan pelarut dipisahkan dengan cara penguapan, distilasi dan rektifikasi. Kriteria lain, sedapat mungkin murah, tersedia dalam jumlah besar, tidak beracun, tidak mudah terbakar, tidak eksplosif bila bercampur udara, tidak korosif, buaka emulsifier, viskositas rendah dan stabil secara kimia dan fisik.

Karena tidak ada pelarut yang sesuai dengan semua persyaratan tersebut, maka untuk setiap proses ekstraksi harus dicari jenis pelarut yang paling sesuai dengan kebutuhan.

http://lordbroken.wordpress.com/2010/02/17/ekstraksi-pelarut/

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


39

LEMAK

Dietil eter
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Dietil eter

Nama IUPAC[sembunyikan] ethoxyethane 3-oxapentane Nama lain[sembunyikan] dietil eter etil eter etil oksida Identifikasi Nomor CAS Nomor RTECS SMILES [60-29-7] KI5775000
CCOCC

Sifat Rumus molekul Massa molar Penampilan Densitas Titik leleh C4H10O C2H5OC2H5 74.12 g/mol jernih, cairan tak berwarna 0.7134 g/cm, cair 116.3 C (156.85 K)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


40

LEMAK

Titik didih Kelarutan dalam air Viskositas

34.6 C (307.75 K) 6.9 g/100 ml (20 C) 0.224 cP at 25 C Struktur

Momen dipol

1.15 D (gas) Bahaya

MSDS Bahaya utama

External MSDS Amat sangat mudah terbakar (F+), Berbahaya (Xn)

NFPA 704

4 2 0

Frasa-S Titik nyala

S9 S16 S29 S33 -45 C Senyawa terkait

Ethers terkait

Dimetil eter Metoksi propana

Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25C, 100 kPa) Sangkalan dan referensi

Dietil eter, yang juga dikenal sebagai eter dan etoksi etana, adalah cairan mudah terbakar yang jernih, tak berwarna, dan bertitik didih rendah serta berbau khas. Anggota paling umum dari kelompok campuran kimiawi yang secara umum dikenal sebagai eter ini merupakan sebuah isomernya butanol. Berformula CH3-CH2-O-CH2-CH3, dietil eter digunakan sebagai pelarut biasa dan telah digunakan sebagai anestesi umum. Eter dapat dilarutkan dengan menghemat di dalam air (6.9 g/100 mL).

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


41

LEMAK

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Sejarah 2 Metabolisme 3 Penggunaan o 3.1 Penggunaan anestetik o 3.2 Penggunaan yang berkaitan dengan rekreasi 4 Produksi 5 Keselamatan 6 Rujukan kultural 7 Rujukan 8 Pranala luar

[sunting] Sejarah
Ahli alkimia bernama Raymundus Lullus diyakini sebagai penemu senyawa ini pada 1275 M, meski tidak ada bukti kontemporer mengenainya. Dietil eter pertama kali disintesiskan pada 1540 oleh Valerius Cordus, yang menjulukinya "minyak vitriol manis" (oleum dulcis vitrioli) karena awalnya ditemukan dengan menyuling campuran etanol dengan asam sulfat (yang lalu dikenal sebagai minyak vitriol)--serta mencatat sejumlah sifat yang berhubungan dengan obat. Kira-kira pada tahun yang sama pula, Theophrastus Bombastus von Hohenheim, yang lebih dikenal sebagai Paracelsus, menemukan sifat analgesik dari eter. Nama eter diberikan kepada zat ini dalam 1730 oleh August Siegmund Frobenius.

[sunting] Metabolisme
Enzim sitokrom P450 dipercaya memetabolisir dietil eter.[1] Dietil eter menghambat alkohol dehidrogenase, dan dengan begitu memperlambat metabolisme etanol.[2] Dietil eter juga menghambat metabolisme obat yang membutuhkan metabolisme oksidatif.[3]

[sunting] Penggunaan
Dietil eter merupakan sebuah pelarut laboratorium yang umum dan memiliki kelarutan terbatas di dalam air, sehingga sering digunakan untuk ekstrasi cair-cair. Karena kurang rapat bila dibandingkan dengan air, lapisa eter biasanya berada paling atas. Sebagai salah satu pelarut umum untuk reaksi Grignard, dan untuk sebagian besar reaksi yang lain melibatkan berbagai reagen organologam, Dietil eter sangat penting sebagai salah satu pelarut dalam produksi plastik selulosa sebagai selulosa asetat.[4] Dietil eter memiliki angka setana yang tinggi, 85 sampai 96, digunakan sebagai salah satu cairan awal untuk mesin diesel dan bensin[5] karena keatsiriannya yang tinggi dan temperatur autosulutan.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


42

LEMAK

[sunting] Penggunaan anestetik


Dokter Crawford Williamson Long, M.D., dari Amerika adalah ahli bedah yang pertama kali menggunakan dietil eter sebagai sebuah anestetik umum, pada 30 Maret 1842.[6] William Thomas Green Morton memperagakan penggunaan eter sebagai anestesi penghirupan yang pertama kalinya di hadapan publik pada 16 Oktober, 1846 di Ether Dome yang berada di Boston, Massachusets. Terkadang eter digunakan sebagai pengganti kloroform sebab eter memiliki indeks terapeutik yang lebih tinggi, perbedaan yang lebih besar antara dosis yang direkomendasikan dengan dosis berlebih yang beracun. Eter masih menjadi anestesi yang disukai di sejumlah negara berkembang karena indeks terapeutiknya yang tinggi (~1.5-2.2) [7] dan harganya yang murah. Karena diasosiasikan dengan Boston, penggunaan eter mendapat julukan "Yankee Dodge." Saat ini, eter jarang digunakan. Eter yang mudah terbakar tidak lagi dipakai semenjak sejumlah agen anestesi yang tidak mudah terbakar seperti halotana mulai tersedia. Lagipula eter memiliki efek-efek sampingan yang tak diinginkan, seperti perasaan pening paska pembiusan dan muntah. Beberapa agen anestesi modern, seperti metoksi propana (Neothyl) dan metoksifluran (Penthrane) mengurangi efek-efek sampingan itu.[6]

[sunting] Penggunaan yang berkaitan dengan rekreasi


Karena berefek anestetik, eter juga digunakan sebagai sebuah obat rekreasi, kendati tidak populer. Dietil eter tidak seberacun zat pelarut lainnya yang digunakan sebagai obat rekreasi. Eter cenderung sulit dikonsumsi sendirian, sehingga sering dicampur dengan etanol untuk penggunaan rekreasi. Eter juga digunakan sebagai sebuah obat inhalan (hirupan). Karena tidak dapat dicampur dengan air dan adanya fakta bahwa senyawa organik tak berkutub sangat mudah larut di dalamnya, eter digunakan pula dalam produksi kokain freebase, dan terdaftar sebagai sebuah Table II precursor dalam Konvensi PBB Menentang Peredaran Ilegal Narkotika dan Zat Psikotropika.[8]

[sunting] Produksi
Sebagian besar dietil eter diproduksi sebagai produk sampingannya fase-uap hidrasinya etilena untuk menghasilkan etanol. Proses ini menggunakan dukungan solid katalis asam fosfat dan bisa disesuaikan untuk menghasilkan eter lebih banyak lagi.[4] Fase-uap dehidrasinya etanol pada sejumlah katalis alumina bisa menghasilkan dietil eter sampai 95%[9] . Dietil eter bisa dipersiapkan di dalam labolatorium dan pada sebuah skala industri oleh sintesis eter asam. Etanol dicampur dengan asam yang kuat, biasanya asam sulfat, H2SO4. Disosiasi asam menghasilkan ion hidrogen, H+. Sebuah ion hidrogen memprotonasi atom oksigen elektronegatifnya etanol, memberikan muatan positif ke molekul etanol:
CH3CH2OH + H+ CH3CH2OH2+

Sebuah atom oksigen nukleofilnya etanol tak terprotonasi mengsubsitusi molekul air (elektrofil), menghasilkan air, sebuah ion hidrogen dan dietil eter.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


43

LEMAK

CH3CH2OH2+ + CH3CH2OH H2O + H+ + CH3CH2OCH2CH3

Reaksi ini harus berlangsung pada suhu yang lebih rendah dari 150 C agar tidak menghasilkan sebuah produk eliminasi (etilena). Pada temperatur yang lebih tinggi, etanol akan terdehidrasi untuk membentuk etilena. Reaki menghasilkan dietil eter adalah kebalikannya, sehingga pada akhir reaksi akan tercapai kesetimbangan antara reaktan dengan produk. Untuk menghasilkan eter yang bagus maka eter harus disuling dari campuran reaksi sebelum eter kembali menjadi etanol, dengan memanfaatkan prinsip Le Chatelier . Reaksi lainnya yang bisa digunakan untuk mempersiapkan eter adalah sintesis eter Williamson, dimana sebuah alkoksida (yang dihasilkan dengan memisahkan/menguraikan sebuah logam alkali di dalam alkohol) melakukan substitusi nukleofilik di sebuah alkil halida (haloalkana).

[sunting] Keselamatan
Dietil eter cenderung membentuk peroksida, dan bisa menghasilkan ledakan dietil eter peroksida. Eter peroksida bertitik didih lebih tinggi dan saat berada dalam keadaan kering bersifat mudah meledak ketika disentuh. Dietil eter biasanya disuplai dengan beberapa jumlah kelumitnya antioksidan hidroksitoulena berbutil (2,6-di-tert-butyl-4-methylphenol), yang mengurangi pembentukan peroksida. Penyimpanan NaOH mengendapkan eter hidroperoksida tingkat menengah. Air dan peroksida bisa dihilangkan baik dengan penyulingan dari natrium dan benzofenon, atau dengan melewatkannya melalui sekolom alumina teraktivasi.[10] Eter merupakan salah satu bahan yang amat mudah terbakar. Kobaran api terbuka dan bahkan piranti pemanas yang menggunakan listrik sebaiknya dihindari saat sedang menggunakan eter karena eter mudah tersulut oleh kobaran maupun percikan api. Praktek yang paling umum dalam labolatorium kimia adalah menggunakan uap (dengan begitu membatasi suhu sampai 100 C (212 F) saat eter harus dipanaskan atau disuling.

[sunting] Rujukan kultural


Pada akhir episode Water, Water Every Hare, sebotol eter pecah saat para ilmuwan jahat sedang mengejar Bugs Bunny yang membuat mereka bergerak dan berbicara dengan pelan lalu jatuh tertidur. http://id.wikipedia.org/wiki/Dietileter

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


44

LEMAK

Kloroform
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Kloroform adalah nama umum untuk triklorometana (CHCl3). Kloroform dikenal karena sering digunakan sebagai bahan pembius, meskipun kebanyakan digunakan sebagai pelarut nonpolar di laboratorium atau industri. Wujudnya pada suhu ruang berupa cairan, namun mudah menguap.

Kloroform

Nama IUPAC[sembunyikan] Chloroform Nama lain[sembunyikan] Formyl trichloride, Methane trichloride, Methyl trichloride, Methenyl trichloride, TCM, Freon 20, R-20, UN 1888 Identifikasi Nomor CAS PubChem Nomor EINECS KEGG ChEBI [67-66-3] 6212 200-663-8 C13827 35255

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


45

LEMAK

Nomor RTECS SMILES InChI Sifat

FS9100000 C(Cl)(Cl)Cl 1/CHCl3/c2-1(3)4/h1H

Rumus molekul CHCl3 Massa molar Penampilan Densitas Titik leleh Titik didih Kelarutan dala m air Struktur Bentuk molekul Tetrahedral Bahaya Bahaya utama NFPA 704 Harmful (Xn), Irritant (Xi),Carc. Cat. 2B 119.38 g/mol Colorless liquid 1.48 g/cm3 -63.5 C 61.2 C 0.8 g/100 ml at 20 C

0 2 0 Frasa-R Frasa-S Titik nyala R22, R38, R40,Templat:R48/ 20/22 S2, S36/37 Non-flammable

Kecuali dinyatakan sebaliknya, data di atas berlaku pada temperatur dan tekanan standar (25C, 100 kPa)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


46

LEMAK

http://id.wikipedia.org/wiki/Kloroform

Hexane
From Wikipedia, the free encyclopedia Jump to: navigation, search

n-Hexane

IUPAC name[hide] Hexane Other names[hide] n-Hexane Identifiers CAS number PubChem ChemSpider 110-54-3 8058 7767

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


47

LEMAK

UNII KEGG ChEMBL RTECS number Jmol-3D images

2DDG612ED8 C11271 CHEMBL15939 MN9275000 Image 1

SMILES [show] InChI [show]


Properties Molecular formula C6H14 Molar mass Appearance Density Melting point Boiling point 86.18 g mol1 Colorless liquid 0.6548 g/mL 95 C, 178 K, -139 F 69 C, 342 K, 156 F

Solubility in water 13 mg/L at 20C[1] Viscosity 0.294 cP Hazards MSDS External MSDS Flammable (F) Harmful (Xn) Repr. Cat. 3 Dangerous for the environment (N) R11 R38 R48/20 R62 R65 R67 R51/53 (S2) S9 S16 S29 S33 S36/37 S61 S62

EU classification

R-phrases S-phrases NFPA 704

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


48

LEMAK

3 1 0
Flash point Autoignition temperature 23.3 C 233.9 C Related compounds Related alkanes Related compounds Pentane Heptane Cyclohexane

Supplementary data page Structure and properties Thermodynamic data Spectral data n, r, etc. Phase behaviour Solid, liquid, gas UV, IR, NMR, MS

(what is this?) (verify) Except where noted otherwise, data are given for materials in their standard state (at 25 C, 100 kPa) Infobox references

Hexane is a hydrocarbon with the chemical formula C6H14; that is, an alkane with six carbon atoms. The term may refer to any of four other structural isomers with that formula, or to a mixture of them.[2] In the IUPAC nomenclature, however, hexane is the unbranched isomer (n-hexane); the other four structures are named as methylated derivatives of pentane and butane. IUPAC also uses the term as the root of many compounds with a linear six-carbon backbone, such as 2methylhexane C7H16, which is also called "isoheptane". Hexanes are significant constituents of gasoline. They are all colorless liquids at room temperature, with boiling points between 50 and 70 C, with gasoline-like odor. They are

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


49

LEMAK

widely used as cheap, relatively safe, largely unreactive, and easily evaporated non-polar solvents.

Contents
[hide]

1 2 3 4 5

Isomers Uses Production Physical properties Toxicity o 5.1 Use in food processing o 5.2 Poisoning from touchscreen cleaner 6 See also 7 References 8 External links

Isomers
Common name normal hexane n-hexane IUPAC name Text formula Skeletal formula

hexane

CH3(CH2)4CH3

isohexane

2(CH3)2CH(CH2)2CH3 methylpentane 3CH3CH2CH(CH3)CH2 methylpentane CH3

2,3CH3CH(CH3)CH(CH3 dimethylbutan )CH3 e

2,2neohexane dimethylbutan CH3C(CH3)2CH2CH3 e

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


50

LEMAK

Uses
In industry, hexanes are used in the formulation of glues for shoes, leather products, and roofing. They are also used to extract cooking oils from seeds, for cleansing and degreasing all sorts of items, and in textile manufacturing. A typical laboratory use of hexanes is to extract oil and grease contaminants from water and soil for analysis.[3] Since hexane cannot be easily deprotonated, it is used in the laboratory for reactions that involve very strong bases, such as the preparation of organolithiums, e.g Butyllithiums are typically supplied as a hexane solution. In many applications (especially pharmaceutical), the use of n-hexane is being phased out due to its long term toxicity, and often replaced by n-heptane, which will not form the toxic (hexane-2,5-dione) metabolite.

Production
Hexanes are chiefly obtained by the refining of crude oil. The exact composition of the fraction depends largely on the source of the oil (crude or reformed) and the constraints of the refining. The industrial product (usually around 50% by weight of the straight-chain isomer) is the fraction boiling at 6570 C.

Physical properties
The boiling points of the various hexanes are somewhat similar and, as for other alkanes, are generally lower for the more branched forms. The melting points are quite different and the trend is not apparent.[4]
Isomer n-hexane 3-methylpentane 2-methylpentane (isohexane) 2,3-dimethylbutane 2,2-dimethylbutane (neohexane) M.P. (C) 95.3 B.P. (C) 68.7

118.0 63.3 153.7 60.3 128.6 58.0 99.8 49.7

Normal hexane has considerable vapor pressure at room temperature:[5]

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


51

LEMAK

temperature (C) 40 30 20 10 0 10 20 25 30 40 50 60

vapor pressure (mmHg) 3.36 7.12 14.01 25.91 45.37 75.74 121.26 151.28 187.11 279.42 405.31 572.76

Toxicity
The acute toxicity of hexane is relatively low, although it is a mild anesthetic. Inhalation of high concentrations produces first a state of mild euphoria, followed by somnolence with headaches and nausea. The long-term toxicity of n-hexane in humans is well known.[6] Extensive peripheral nervous system failure is known to occur in humans chronically exposed to levels of n-hexane ranging from 400 to 600 ppm, with occasional exposures up to 2,500 ppm. The initial symptoms are tingling and cramps in the arms and legs, followed by general muscular weakness. In severe cases, atrophy of the skeletal muscles is observed, along with a loss of coordination and problems of vision. Similar symptoms are observed in animal models. They are associated with a degeneration of the peripheral nervous system (and eventually the central nervous system), starting with the distal portions of the longer and wider nerve axons. The toxicity is not due to hexane itself but to one of its metabolites, hexane-2,5-dione. It is believed that this reacts with the amino group of the side chain of lysine residues in proteins, causing cross-linking and a loss of protein function. Chronic intoxication from hexane has been observed in recreational solvent abusers and in workers in the shoe manufacturing, furniture restoration and automobile construction industries, and recently, plastic recyclers and assemblers and cleaners of capacitive touchscreen devices.[7]

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


52

LEMAK

In 1994, n-hexane was included in the list of chemicals on the US Toxic Release Inventory (TRI).[8] In 2001, the U.S. Environmental Protection Agency issued regulations on the control of emissions of hexane gas due to its potential carcinogenic properties and environmental concerns.[9]

Use in food processing


According to a report by the Cornucopia Institute, hexane is used to extract oil from grains as well as protein from soy, to such an extent that in 2007, grain processors were responsible for more than two-thirds of hexane emissions in the United States.[10] The report also pointed out that the hexane can persist in the final food product created; in a sample of processed soy, the oil contained 10 ppm, the meal 21 ppm and the grits 14 ppm hexane.[10] The adverse health effects seem specific to n-hexane; they are much reduced or absent for other isomers. Therefore, the food oil extraction industry, which relied heavily on hexane, has been considering switching to other solvents, including isohexane.[11][12][13]

Poisoning from touchscreen cleaner


In February 2010, reports surfaced saying that an employee of Wintek Corporation in China, a company that manufactures touchscreen components, died in August 2009 due to hexane poisoning. Hexane was used as a replacement for alcohol for cleaning the screens. Reports suggest up to 137 Chinese employees required treatment for hexane poisoning around the same time.[14][15][16] An ABC Foreign Correspondent episode covertly interviewed several women who had been in the hospital for over six months. The women claimed that they were exposed to hexane while manufacturing iPhone hardware.

http://en.wikipedia.org/wiki/Hexane

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


53

LEMAK

DIPERIKSA NO . TANGGAL KETERANGAN

TANDA TANGAN

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


54

LEMAK

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II Universitas Diponegoro


55