P. 1
Pondasi 1

Pondasi 1

|Views: 2,828|Likes:
Dipublikasikan oleh Puspa Ningrum

More info:

Published by: Puspa Ningrum on Apr 09, 2012
Hak Cipta:Traditional Copyright: All rights reserved

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/03/2013

pdf

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Semua konstruksi yang direkayasa untuk bertumpu pada tanah harus didukung
oleh suatu pondasi. Pondasi merupakan bagian penting dalam bangunan yang
menyalurkan beban – beban elemen struktur ke tanah pendukung, oleh karena itu
pertimbangan teknis dalam memilih tipe, menentukan kedalaman dan dimensi, kapasitas
dukung, dan merancang strukturnya merupakan hal yang harus dipelajari dengan baik.
Perkembangan pengetahuan mengenai Mekanika Tanah dan Teknik Pondasi saat ini
memungkinkan para sarjana teknik sipil untuk merancang pondasi dengan ketelitian yang
memadai, yaitu dalam menentukan sifat – sifat teknis tanah, tipe pondasi yang sesuai
agar bangunan yang dirancang aman, ekonomis dan terjamin stabilitasnya.
Apabila pondasi dirancang dengan tidak benar, maka akan ada bagian struktur
yang mengalami penurunan yang lebih besar daripada bagian disekitarnya. Berbagai
elemen struktur yang bertemu pada titik tumpu kolom-balok akan mengalami tegangan
lebih yang diakibatkan oleh penurunan yang tidak sama tersebut pada akhirnya akan
terjadi deformasi yang berlebihan. Momen – momen lentur maupun torsi tambahan yang
melebihi kapasitas tahanan elemen struktur dapat mengakibatkan terjadinya keruntuhan.

1.2. Maksud dan Tujuan
Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan Desain Rekayasa Pondasi I ini adalah:
a. Merencanakan dimensi pondasi yang aman terhadap kapasitas dukung dan
penurunan.
b. Menyelesaikan perhitungan kapasitas dukung pondasi dengan hal-hal yang
mempengaruhinya.
c. Memenuhi salah satu syarat wajib dalam menempuh ujian semester akhir pada mata
kuliah Rekayasa Pondasi I Jurusan Teknik Sipil S1 di Fakultas Teknik Universitas
Riau.

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

1.3. Batasan Masalah
Pembuatan Desain Rekayasa Pondasi I ini hanya mencakup beberapa hal
pekerjaan, yaitu :
a. Menjelaskan defenisi dan prinsip perencanaan pondasi.
b. Menjelaskan hal-hal yang harus diperhatikan bagi seorang perencana.
c. Menjelaskan faktor-faktor yang menentukan dalam pemilihan pondasi.
d. Menjelaskan jenis-jenis keadaan tanah dasar yang mempengaruhi tipe pondasi.
e. Menjelaskan klasifikasi dan tipe dari pondasi.
f. Menjelaskan syarat-syarat umum dari pondasi.















Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Definisi dan prinsip perencanaan pondasi
Pondasi adalah bagian terendah dari struktur bangunan yang berhubungan
langsung (direct contact) dengan tanah yang berfungsi memindahkan beban-beban dari
struktur ke tanah. Penerusan beban pada pondasi harus bersifat penyebarluasan beban
yang diterimanya pada bidang tanah seluas mungkin sehingga beban persatuan luas yang
diberikan pondasi pada tanah relative kecil.
Adapun prinsip perencanaan pondasi yang perlu diperhatikan bagi seorang
perencana yaitu :
a. Seorang perencana harus memikirkan bagian-bagian konstruksi yang
mempengaruhi pemindahan beban dari bangunan atas ke tanah sehingga stabilitas
tanah yang dihasilkan dan deformasi yang diperkirakan masih dapat ditolerir.
b. Pengetahuan akan metode pelaksanaan praktis dan toleransi konstruksi yang
kemungkinan besar akan didapatkan. Penetapan toleransi yang sangat ketat dapat
mempunyai pengaruh yang sangat besar pada biaya pondasi.
c. Integrasi visual dari bukti geologis dilapangan dengan suatu data pengujian
lapangan dan pengujian laboratorium.
d. Seorang perencana juga harus cukup mengetahui perencanaan struktur.
Oleh karena itu suatu pondasi harus direncanakan dengan baik. Karena jika
pondasi tidak direncanakan dengan benar maka aka nada bagian yang mengalami
penurunan yang lebih besar dibagian sekitarnya.

2.2. Klasifikasi dan tipe pondasi
2.2a. Klasifikasi pondasi
Terdapat dua klasifikasi pondasi yaitu pondasi dangkal dan pondasi dalam.
Klasifikasi pondasi tersebut tergantung pada perbandingan kedalaman pondasi dengan
lebar pondasi.
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

a. Pondasi Dangkal merupakan pondasi yang mendukung bebannya secara
langsung, misalnya Pondasi Telapak, Pondasi Lajur (memanjang) dan Pondasi
Rakit. Kedalaman Pondasi ini umumnya adalah D s B.
b. Pondasi Dalam merupakan pondasi yang meneruskan beban bangunan ke tanah
keras atau batuan yang terletak relatif jauh dari permukaan, misalnya Pondasi
Tiang Pancang dan Pondasi Kaison. Kedalaman Pondasi D > 4B-5B.
Pada prinsipnya, pondasi dangkal hanya mengandalkan tahanan ujungnya saja dalam
mendukung beban bangunan, karena tahanan gesek dindingnya kecil. Sedangkan pondasi
dalam mengandalkan tahanan ujung dan tahanan gesek dalam mendukung beban
bangunan.
2.2b. Macam – macam tipe pondasi
1. Pondasi telapak (spread footing)
Merupakan pondasi yang berdiri sendiri dalam mendukung kolom. Pondasi ini
biasanya berbentuk lingkaran, bujursangkar, atau persegi dengan suatu ketebalan
pelat tertentu. Pondasi telapak yang memikul kolom baja yang lebih berat biasanya
diperkuat dengan terali baja.





Gambar 2.1 Tipe pondasi
(i) Pondasi telapak beton dengan kolom baja
(ii) Pondasi telapak beton bertulang dengan bagian atas miring
(iii) Pondasi telapak beton bertulang datar
(iv) Pondasi telapak beton bertulang bertingkat
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

2. Pondasi memanjang (continous footing)
Pondasi ini diperlukan apabila kapasitas dukung tanah tidak cukup kuat mendukung
beban, sehingga diperlukan telapak yang lebih besar dan diperkuat dengan tulangan.



3. Pondasi rakit (raft foundation/mat foundation)
Pondasi rakit dapat dipakai pada tanah dengan kapasitas dukung rendah (tanah
lunak) atau apabila jarak antar kolom sangat dekat dalam kedua-dua arah sehingga
seluruh telapak bersentuhan satu sama lainnya.


4. Pondasi sumuran atau kaison (pier foundation/caisson)
Merupakan bentuk peralihan antara pondasi dangkal dan pondasi tiang, dimana
digunakan bila tanah dasar yang kuat terletak pada kedalaman yang relatif dalam.







Gambar 2.2 Pondasi memanjang
Gambar 2.3 Pondasi rakit
Gambar 2.4 Pondasi sumuran
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

5. Pondasi tiang (pile foundation)
Diperlukan apabila tanah dalam kondisi elevasi normal tidak dapat mendukung
pondasi telapak, pondasi lajur ataupun pondasi rakit atau apabila struktur terletak
diatas timbunan yang dalam sehingga mudah terjadi penurunan akibat beratnya
sendiri.


2.2c. Penggunaan macam – macam tipe pondasi
Penggunaan macam – macam tipe pondasi tergantung pada jenis tanahnya.
Contohnya untuk pondasi bangunan rumah tinggal dan gedung bertingkat biasa.
Karena berat bangunan relative tidak besar, maka biasanya cukup digunakan pondasi
dangkal yang disebut pondasi langsung (spread footing). Pondasi sumuran dipakai
untuk tanah yang labil, dengan sigma lebih kecil dari 1,5 kg/cm
2
. Pondasi tiang
digunakan pada tanah – tanah lembek, tanah berawa, dengan kondisi daya dukung
tanah kecil dan biasa digunakan pada bangunan tinggi.

2.2d. Faktor – faktor dalam pemilihan tipe pondasi
Hal – hal berikut merupakan faktor –faktor dalam pemilihan tipe pondasi :
a. Fungsi Bangunan (bangunan penting akan dibuat dengan keamanan yang lebih
terjamin daripada yang kurang penting)
b. Beban yang harus dipikul
c. Keadaan tanah dasar
d. Biaya pembuatan pondasi dibandingkan dengan biaya pembuatan bangunannya


Gambar 2.5 Pondasi tiang
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

2.3. Persyaratan umum dalam perencanaan pondasi
Sebuah pondasi harus mampu memenuhi beberapa persyaratan stabilitas dan
deformasi (penurunan) seperti :
a. Kedalaman harus memadai untuk menghindarkan pergerakan tanah lateral dari
bawah pondasi khususnya untuk pondasi telapak dan pondasi rakit.
b. Kedalaman harus berada dibawah daerah perubahan volume musiman yang
disebabkan oleh pembekuan, pencarian dan pertumbuhan tanaman.
c. Sistem harus aman terhadap penggulingan, rotasi, penggelinciran atau pergeseran
tanah (kegagalan kekuatan geser).
d. Sistem harus aman terhadap korosi atau kerusakan yang disebabkan oleh bahan
berbahaya yang terdapat di dalam tanah.
e. Sistem harus mampu beradaptasi terhadap beberapa perubahan geometri
konstruksi atau lapangan selama proses pelaksanaan dan mudah dimodifikasi
seandainya perubahan perlu dilakukan.
f. Metode pemasangan pondasi harus seekonomis mungkin.
g. Pergerakan tanah keseluruhan (umumnya penurunan) dan pergerakan diferensial
harus dapat ditolerir oleh elemen pondasi dan elemen bangunan atas.
h. Pondasi dan konstruksinya harus memenuhi syarat standar untuk perlindungan
lingkungan

2.4. Pondasi dangkal
2.4.1. Pengertian kapasitas dukung pondasi dangkal
Analisis kapasitas dukung tanah mempelajari kemampuan tanah dalam mendukung
beban pondasi dari struktur yang terletak diatasnya. Kapasitas dukung menyatakan
tahanan geser tanah untuk melawan penurunan akibat pembebanan, yaitu tahanan geser
yang dapat dikerahkan oleh tanah disepanjang bidang gesernya.
Tanah harus mampu mendukung dan menopang setiap konstruksi yang
direncanakan yang ditempatkan pada tanah tersebut tanpa suatu kegagalan geser dengan
lendutan pampat (settlement/penurunan) yang dihasilkan yang dapat ditolerir untuk
konstruksi tersebut.

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

2.4.2. Keruntuhan tanah
Berdasarkan pengujian model Vesic (1963) membagi mekanisme keruntuhan
pondasi menjadi 3 macam, yaitu :
1. Keruntuhan geser umum (general shear failure)
- Kondisi kesetimbangan plastis terjadi penuh
diatas failure plane.
- Muka tanah disekitarnya mengembang (naik).
- Keruntuhan (slip) terjadi di satu sisi sehingga
pondasi miring.
- Terjadi pada tanah dengan kompresibilitas
rendah (padat atau kaku).
- Kapasitas dukung ultimit (qult) bisa diamati
dengan baik.

2. Keruntuhan geser local (local shear failure)
- Muka tanah disekitar kurang berarti
pengembangannya, karena cukup besar
desakan ke bawah pondasi.
- Kondisi kesetimbangan plastis hanya terjadi
pada sebagian tanah saja.
- Miring pada pondasi diperkirakan tidak
terjadi.
- Terjadi pada tanah dengan kompresibilitas
tinggi – ditunjukan dengan setlement yang
relatif besar.
- Kapasitas dukung ultimit sulit dipastikan
sehingga sulit dianalisis, hanya bisa dibatasi
setlementnya saja.

3. Keruntuhan penetrasi (penetration failure/punching shear failure)
- Terjadi jika terdapat desakan pada tanah di bawah pondasi yang disertai
pergeseran arah vertikal disepanjang tepi.
Gambar 2.6 Keruntuhan
geser umum
Gambar 2.7 Keruntuhan
geser lokal
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

- Tak terjadi kemiringan dan pengangkatan
pada permukaan tanah.
- Penurunan relatif besar.
- Terjadi pada tanah dengan kompresibiltas
tinggi dan kompresibilitas rendah jika
- pondasi agak dalam.
- Kapasitas dukung ultimit tidak dapat
dipastikan.

2.4.3. Metode analisis daya dukung tanah
2.4.3a. Analisis Terzaghi
Terzaghi (1943) menganalisis daya dukung tanah dengan beberapa anggapan, yaitu:
1) Fondasi memanjang tak terhingga.
2) Tanah di dasar fondasi homogen.
3) Berat tanah di atas dasar fondasi dapat digantikan dengan beban terbagi rata
sebesar p
o
= D
f.
¸ dengan D
f
adalah kedalaman dasar fondasi dan ¸ adalah berat
volume tanah di atas dasar fondasi.
4) Tahanan geser tanah di atas dasar fondasi diabaikan.
5) Dasar fondasi kasar.
6) Bidang keruntuhan terdiri dari lengkung spiral logaritmis dan linier.
7) Baji tanah yang terbentuk di dasar fondasi dalam kedudukan elastis dan bergerak
bersama-sama dengan dasar fondasinya.
8) Pertemuan antara sisi baji dan dasar fondasi membentuk sudut sebesar sudut
gesek dalam tanah
9) Berlaku prinsip superposisi.
Daya dukung ultimit (ultimit bearing capacity) (q
u
) didefinisikan sebagai beban
maksimum persatuan luas di mana tanah masih dapat mendukung beban tanpa
mengalami keruntuhan. Bila dinyatakan dalam persamaan, maka:



Gambar 2.8 Keruntuhan
penetrasi
A
Pu
q
U
=
Dimana : qu = daya dukung ultimate
Pu = beban ultimate
A = luas telapak pondasi
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09



Untuk per meter panjang pondasi, pada saat tercapainya keseimbangan batas, maka :








Adapun persamaan umum untuk kapasitas daya dukung ultimate Analisis Terzaghi :
1. Pondasi memanjang 
( ) ( ) W c BD P P
p u
÷ + ÷ = | ¢ | sin 2 cos 2
| cos 2
B
BD =
Dimana : Pp = tekanan pasif total pada AD dan BD
W = berat baji ABD per satuan panjang
c = kohesi tanah
| = sudut antara BD dan BA
¸
¸ ¸ BN N D cN q
q f c U
5 . 0 + + =
Gambar 2.9 Bentuk keruntuhan dalam analisis kapasitas dukung
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

2. Pondasi bujur sangkar 
3. Pondasi lingkaran 
4. Pondasi empat persegi panjang 


Dimana : q
u
= daya dukung ultimate pondasi
c = kohesi tanah
d
f
= kedalaman pondasi
¸ = berat volume tanah
B = lebar pondasi
N
¸
, N
c
, N
q
= faktor daya dukung terzaghi

2.4.3b. Analisis Rankine
Rankine (sekitar 1857) menganggap tanah dalam keadaan seimbang plastis dan
pada haikikatnya memakai asumsi yang sama seperti coulomb, kecuali bahwa ia
menganggap tidak ada gesekan dinding atau kohesi tanah.

Persamaannya :


2.4.3c. Analisis Skempton
Skempton (1951) mengusulkan persamaan kapasitas dukung ultimate pondasi yang
terletak pada lempung jenuh dengan memperhatikan faktor – faktor bentuk dan
kedalaman pondasi. Skempton menyarankan memakai faktor pengaruh bentuk pondasi
(S
c
) dengan :



Untuk daya dukung ultimate pondasi memanjang analisis Skempton :

¸
¸ ¸ BN N D cN q
q f c U
4 . 0 3 . 1 + + =
¸
¸ ¸ BN N D cN q
q f c U
3 . 0 3 . 1 + + =
|
.
|

\
|
÷ + +
|
.
|

\
|
+ =
L
B
BN N D
L
B
cN q
q f c U
2 . 0 1 5 . 0 3 . 0 1
¸
¸ ¸
| | |
| | |
2 2
2 2
cos cos cos
cos cos cos
÷ +
÷ ÷
=
a
K
|
.
|

\
|
+ =
L
B
S
c
2 . 0 1
Dimana : B = lebar pondasi
L = panjang pondasi
¸
f c u U
D N c q + =
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

2.4.3d. Analisis Hansen
Brinch Hansen (1970) menyarankan persamaan kapasitas dukung yang pada
dasarnya sama dengan Terzaghi, untuk tanah dengan | > 0, Brinch Hansen menyarankan
persamaan kapasitas dukung ultimate sebagai berikut :


Dimana : q
u
= daya dukung ultimate pondasi
c = kohesi tanah
d
f
= kedalaman pondasi
¸ = berat volume tanah
B = lebar pondasi
S
¸
, S
c
, S
q
= faktor bentuk
d
¸
, d
c
, d
q
= faktor kedalaman
i
¸
, i
c
, i
q
= faktor inklinasi beban
b
¸
, b
c
, b
q
= faktor inklinasi dasar pondasi
g
¸
, g
c
, g
q
= faktor inklinasi permukaan tanah sekitar
N
¸
, N
c
, N
q
= faktor daya dukung

2.4.4. Pengaruh air tanah terhadap daya dukung pondasi
a. Muka air tanah diatas telapak pondasi


( ) ( ) ( )
¸ ¸ ¸ ¸ ¸ ¸
¸N B g b i d S N P g b i d S cN g b i d S
L B
Qu
q
q o q q q q q c c c c c c U
5 . 0
' '
+ + =
×
=
( )
w b w f
d d D ¸ ¸ + ÷ '
w sat
¸ ¸ ¸ ÷ = '
( ) | |
¸
¸ ¸ ¸ BN N d d D cN q
q w w f c U
' 5 . 0 ' + + ÷ + =
Dimana yang berubah adalah
nilai ¸ nya >>

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

b. Muka air tanah dibawah


2.4.5. Beban eksentris
Dibeberapa kasus, misalnya sebagai dasar dari konstruksi dinding penahan tanah,
pondasi menerima beban momen dan beban vertikal. Dalam hal ini distribusi tekanan
pondasi terhadap tanah tidaklah merata. Besarnya tekanan adalah

dan

;

Q= Total beban vertikal, M= Beban momen pada pondasi









Untuk z < B :

( )
|
.
|

\
|
÷ + = ' ' ¸ ¸ ¸ ¸
b
z
rt
¸
¸ ¸ BN N D cN q
rt q f c U
5 . 0 + + =
Untuk z > B :

¸
¸ ¸ BN N D cN q
q f c U
5 . 0 + + =

Gambar 2.10 Diagram beban eksentrisitas
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


Jika besarnya eksentrisitas :

Maka jika disubsitusi :
Dan

Jika e= B/6 maka qmin = 0, jika e >B/6 maka akan terjadi negatif, sehingga akan terjadi
tegangan tarik dimana tanah tidak dapat menahan teganga tarik.
Jika e> 1/6 B atau >1/6 L, tegangan kontak maksimum yang terjadi adalah :

Terdapat 2 metoda analitik yang dapat digunakan untuk menghitung tegangan kontak
(maksimum) akibat beban eksentris, yaitu :
1. Linear Method
2. Limit State Method


1. Linear Method
Paling umum dipakai dalam praktek desain. Metoda ini mengasumsikan tegangan
kontak bervariasi linear dibawah pondasi dari maksimum ke minimum mudah
untuk digunakan pada nilai eksentris yang besar.

Tegangan kontak (

) dapat dituliskan sebagai berikut :



=

(

)

(

)

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


Dimana :

Sehingga :


2. Limit State Method
Diusulkan oleh Meyerhof (1963). Metoda ini mempertimbangkan tegangan
kontak berbentuk segi empat pada batas tanah akan runtuh (limit state). Adapun
metode ini lebih mudah digunakan dibandingkan metoda linier.
Luas tapak pondasi (A = B x L) dimodifikasi menjadi luas efektif (A’ = B’ x L’),
dimana :










2.4.6. Pondasi telapak gabungan dan kantilever
Jika dua kolom atau lebih letaknya terlalu dekat satu sama lain, lebih baik digunakan
pondasi telapak gabungan yang menggabungkan kolom – kolom tersebut menjadi satu
pondasi tunggal. Pondasi gabungan digunakan pula untuk mendukung beban – beban
struktur yang tidak begitu besar, namun tanahnya mudah mampat atau lunak, dan pondasi
dipengaruhi momen penggulingan.


(

)
' '
2 '
2 '
L B
P
c
e B B
e L L
x
y
×
=
÷ =
÷ =
o
Gambar 2.11 Modifikasi distribusi tegangan kontak menurut Meyerhof
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


2.4.6a. Pondasi telapak gabungan (combined footing)
Perancangan pondasi telapak gabungan dilakukan dengan anggapan – anggapan sebagai
berikut :
(1) pondasi atau pelat pondasi dianggap sangat kaku. Oleh karena itu, pelengkungan
pondasi tidak mempengaruhi penyebaran tekanan.
(2) Distribusi tekanan sentuh pada dasar pondasi disebarkan secara linier.




2.4.6b. Pondasi kantilever (cantilever footing)
Jika pondasi terdiri dari 2 atau lebih pondasi telapak yang diikat oleh suatu balok,
pondasi semacam ini disebut pondasi telapak kantilever. Pondasi ini digunakan jika
luasan pondasi yang berada di tepi luasan bangunan yang terbatas oleh batas pemilikan
atau oleh pondasi yang sudah ada sebelumnya.
Gambar 2.12 Perancangan pondasi telapak gabungan berbentuk empat
persegi panjang
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09







2.5 Penurunan Pondasi Dangkal
Penurunan (settlement) fondasi yang terletak pada tanah berbutir halus yang
jenuh dapat dibagi menjadi 3 komponen, yaitu : penurunan segera (immediate
settlement), penurunan konsolidasi primer dan penurunan konsolidasi sekunder.
Penurunan total adalah jumlah dari ketiga komponen penurunan tersebut, atau bila
dinyatakan dalam persamaan :
Gambar 2.14 Contoh struktur pondasi telapak kantilever
Gambar 2.13 Perancangan pondasi telapak kantilever
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09



dengan :
S = penurunan total
S
i
= penurunan segera
S
c
= penurunan konsolidasi primer
S
s
= penurunan konsolidasi sekunder
Penurunan segera atau penurunan elastis adalah penurunan yang dihasilkan
oleh distorsi massa tanah yang tertekan, dan terjadi pada volume konstan. Penurunan
pada tanah-tanah berbutir kasar dan tanah-tanah berbutir halus yang tidak jenuh termasuk
tipe penurunan segera, karena penurunan terjadi segera setelah terjadi penerapan beban.
Penurunan konsolidasi terdiri dari 2 tahap, yaitu tahap penurunan konsolidasi
primer dan tahap penurunan konsolidasi sekunder. Penurunan konsoliasi primer adalah
penurunan yang terjadi sebagai hasil dari pengurangan vollume tanah akibat aliran air
meninggalkan zona tertekan yang diikuti oleh pengurangan kelebihan tekanan air pori
(excess pore water pressure). Penurunan konsolidasi merupakan fungsi dari waktu.
Penurunan konsolidasi sekunder, adalah penurunan yang tergantung dari waktu juga,
namun berlangsung pada waktu setelah konsolidasi primer selesai, dimana tegangan
efektif akibat bebannya telah konstan.
Besarnya penurunan bergantung pada karakteristik tanah dan penyebaran
tekanan fondasi ke tanah dibawahnya. Penurunan fondasi bangunan dapat diestimasi dari
hasil-hasil uji laboratorium pada contoh-contoh tanah tak terganggu yang diambil dari
pengeboran, atau dari persamaan-persamaan empiris yang dihubungkan dengan hasil
pengujian dilapangan secara langsung.

2.5.1 Penurunan Segera
2.5.1a Tanah Homogen dengan Tebal Tak Terhingga
Persamaan penurunan segera atau penurunan elastis dari fondasi yang terletak
diperrmukaan tanah yang homogen, elastis, isotropis, padaa media semi tak terhingga,
dinyatakan oleh :

s c i
S S S S + + =
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

dengan :

penurunan segera
q = tekanan pada dasar fondasi
B = lebar fondasi
E = mdulus elastis
= angka Poisson

= faktor pengaruh

2.5.1b Lapisan Tanah Pendukung Fondasi Dibatasi Lapisan Keras
Jika tebal lapisan terbatas dan lapisan yang mendasari lapisan tersebut berupa
lapisan keras tak terhingga, maka penurunan segera pada sudut luasan beban terbagi rata
empat persegi panjang fleksibel yang terletak dipermukaan, dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan yang diusulkan Steinbrenner (1934):

dimana :

Dengan

dan

adalah koefisien-koefisienn yang diusulkan oleh Steinbrenner (1934)
dalam bentuk grafik.
Penurunan disembarang titik pada fondasi empat persegi panjang dipermukaan
tanah dengan tebal terbatas, dihitung dengan menggunakan persamaan :

(

)
Dengan

adalah masing-masing luasan.

2.5.1c Penurunan Segera dari Hasil Pengujian di Lapangan
(a) Penurunan segera dari hasil uji beban plat
Terzaghi dan Peck (1967) menyarankan persamaan penurunan fondasi dengan
intensitas beban q dan lebar B yang terletak pada pasir, sebagai berikut :

(

)

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

dengan :

= penurunan fondasi

= penurunan pada uji beban pelat
b = lebar pelat uji
(b) Penurunan segera dari hasil uji SPT
Penurunan pada tanah pasir dapat diestimasi dengan menggunakan hasil uji SPT
(Standard Penetration Test). Untuk hal ini, Meyerhof (1965) menyarankan persamaan
berikut :

untuk B 1,2 m

(

)

untuk B
dengan :
q = intensitas beban dalam
B = lebar fondasi dalam

= penurunan dalam inci
N = jumlah pukulan dalam uji SPT

2.6 Dinding penahan tanah
Dinding penahan tanah berfungsi untuk menyokong tanah serta mencegahnya
dari bahaya kelongsoran. Baik akibat beban air hujan, berat tanah itu sendiri maupun
akibat beban yang bekerja di atasnya. Pada saat ini, konstruksi dinding penahan tanah
sangat sering digunakan dalam pekerjaan sipil walaupun ternyata konstruksi dinding
penahan tanah sudah cukup lama dikenal di dunia.
Terdapat beberapa tipe dinding penahan tanah yaitu :
1. Dinding gravitasi
2. Dinding semi gravitasi
3. Dinding kantilever
4. Dinding counterfort
Prosedur perencanaan dilakukan berdasarkan analisa terhadap gaya-gaya yang
bekerja pada dinding penahan tanah tersebut. Dinding juga harus direncanakan
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

sedemikian rupa sehingga tidak ada tegangan tarik pada tiap titik pada dinding untuk
setiap kondisi pembebanan.
Pada perencanaan dinding penahan tanah, beberapa analisis yang harus dilakukan adalah:
a. Analisis kestabilan terhadap guling
b. Analisis ketahanan terhadap geser
c. Kapasitas daya dukung tanah pada dasar dinding penahan
d. Analisis tegangan dalam dinding penahan tanah
e. Analisis penurunan
f. Analisis stabilitas secara umum













Gambar 2.15 Distribusi tekanan tanah at rest pada dinding penahan
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

BAB III
PERENCANAAN PONDASI DANGKAL
3.1. Menghitung dimensi pondasi


Diketahui data – data berikut :
P
A
= 100 Kn
P
B
= 50 Kn
P
C
= 300 Kn
P
D
= 90 Kn
P
E
= 45 Kn
P
F
= 350 Kn
Dan akan direncanakan :
1. Pondasi gabungan untuk : * kolom A dan B
* kolom D dan E
2. Pondasi telapak untuk : * kolom C
* kolom F
Nilai Mx = 15 Kn.m
Nilai My = 20 Kn.m



Gambar 3.1 Denah kolom bangunan
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

1. Pondasi gabungan kolom A dan B
















a. Cek eksentrisitas

b. Menghitung letak resultan (tinjauan dari titik P
B
)

Tinjauan dari titik P
A

Cek total jarak dari as ke as =
Gambar 3.2 Perencanaan pondasi gabungan di titik A dan B
e
y

e
x

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

c. Asumsi dimensi pondasi





(

)


Check tension develops :

d. Menghitung tegangan yang terjadi


e. Menghitung Q
ultimate

Direncanakan pondasi terletak dibawah muka air tanah


Syarat pondasi dangkal yaitu :

2.307

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09











Lapisan 1 : Lapisan 2 : Lapisan 3 :


Digunakan untuk mencari nilai Nq, Nc, N¸ dengan rumus Terzaghi :
-

(

)

-

(

)

-

(

)

Gambar 3.3 Perencanaan kedalaman pondasi
3
2
2 . 17
45
7
m kN
m kN c
=
=
° =
¸
|
3
2
5 . 16
35
4
m kN
m kN c
=
=
° =
¸
|
3
2
5 . 16
17
7
m kN
m kN c
=
=
° =
¸
|
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


(

) [

]

(

)

(

) [ ]
(

)



f. Cek Faktor keamanan

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


2. Pondasi telapak tunggal kolom C
















a. Cek eksentrisitas

b. Asumsi dimensi pondasi
Direncanakan pondasi bujur sangkar :

Check tension develops :

Gambar 3.4 Perencanaan pondasi telapak tunggal
e
y

e
x

dimensi pondasi : B = 2 m ; L = 2 m

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

c. Menghitung tegangan yang terjadi


d. Menghitung Q
ultimate

Direncanakan pondasi terletak diatas muka air tanah


















Gambar 3.5 Perencanaan kedalaman pondasi
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


Syarat pondasi dangkal yaitu :

Digunakan untuk mencari nilai Nq, Nc, N¸ dengan rumus Terzaghi :
-

(

)

-

(

)

-

(

)


(

)




e. Cek Faktor keamanan

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09



3. Pondasi gabungan kolom D dan E
















Dengan cara yang sama dengan perhitungan pondasi gabungan pada kolom A dan B,
maka didapat :
a. Cek eksentrisitas

b. Menghitung letak resultan (tinjauan dari titik P
D
)

Tinjauan dari titik P
A

Gambar 3.6 Perencanaan pondasi gabungan titik D dan E
e
y

e
x

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


Cek total jarak dari as ke as =
c. Asumsi dimensi pondasi





(

)


Check tension develops :

d. Menghitung tegangan yang terjadi


e. Menghitung Q
ultimate

Direncanakan pondasi terletak dibawah muka air tanah

Syarat pondasi dangkal yaitu :

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

2.231
Digunakan untuk mencari nilai Nq, Nc, N¸ dengan rumus Terzaghi :
-

-

-


(

) [

]

(

)



f. Cek Faktor keamanan

4. Pondasi telapak kolom F
P
F
= 350 Kn
Dengan cara yang sama dengan perhitungan pondasi telapak tunggal pada kolom C,
direncanakan pondasi bujur sangkar dengan dimensi :
B = 2 m
L = 2 m
a. Menghitung tegangan yang terjadi



Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


b. Menghitung Q
ultimate

Direncanakan pondasi terletak diatas muka air tanah




Digunakan 




f. Cek Faktor keamanan

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

3.2. Menghitung penurunan pondasi
1. Pondasi gabungan kolom A dan B













- Penurunan segera pada lapisan II (menggunakan metode Steinbrenner)


Dari grafik hubungan m dan n, diperoleh nilai


'
'

'

Gambar 3.7 Sketsa penurunan pondasi
gabungan titik A dan B
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

(

)

Dari grafik hubungan

dan

, diperoleh nilai

- Penurunan segera pada lapisan III


Dari grafik hubungan m dan n, diperoleh nilai



'
'

'

(

)

Dari grafik hubungan

dan

, diperoleh nilai

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

- Penurunan konsolidasi pada lapisan II

Tambahan tekanan :







- Penurunan konsolidasi pada lapisan III

'

'

Tambahan tekanan :







Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09




Ket : Lapisan II (I
z
= 0.225)
Lapisan III (I
z
= 0.08)

Gambar 3.8 Grafik hubungan m dan n untuk variasi nilai I
z

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09






Ket : Lapisan II (F
1
= 0.2)
Lapisan III (F
1
= 0.61)









Gambar 3.9 Grafik untuk menentukan F
1
dan F
2
(Steinbrenner, 1934)
Grafik berlaku untuk semua perhitungan penurunan pondasi
di semua titik pada desain ini.
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

2. Pondasi telapak tunggal kolom C













- Penurunan segera pada lapisan I (menggunakan metode Steinbrenner)


Dari grafik hubungan m dan n, diperoleh nilai


'
'

'

Gambar 3.10 Sketsa penurunan pondasi
tunggal titik C
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

(

)

Dari grafik hubungan

dan

, diperoleh nilai

- Penurunan segera pada lapisan II dan III

Dari grafik hubungan m dan n, diperoleh nilai

dan



'
'

'

(

)

Dari grafik hubungan

dan

, diperoleh nilai

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

- Penurunan konsolidasi pada lapisan I

Tambahan tekanan :

- Penurunan konsolidasi pada lapisan II

'


Tambahan tekanan :

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

- Penurunan konsolidasi pada lapisan III

'


Tambahan tekanan :

3. Pondasi gabungan kolom D dan E
Untuk gambar, sama seperti pondasi gabungan kolom A dan B












Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

- Penurunan segera pada lapisan II (menggunakan metode Steinbrenner)


Dari grafik hubungan m dan n, diperoleh nilai


'
'

'

(

)

Dari grafik hubungan

dan

, diperoleh nilai

- Penurunan segera pada lapisan III


Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Dari grafik hubungan m dan n, diperoleh nilai



'
'

'

(

)

Dari grafik hubungan

dan

, diperoleh nilai

- Penurunan konsolidasi pada lapisan II

Tambahan tekanan :







Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

- Penurunan konsolidasi pada lapisan III

'

'

Tambahan tekanan :







4. Pondasi telapak tunggal kolom F
Untuk gambar, sama seperti pondasi telapak tunggal kolom C








- Penurunan segera pada lapisan I (menggunakan metode Steinbrenner)


Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Dari grafik hubungan m dan n, diperoleh nilai


'
'

'

(

)

Dari grafik hubungan

dan

, diperoleh nilai

- Penurunan segera pada lapisan II dan III

Dari grafik hubungan m dan n, diperoleh nilai

dan



'
'

'

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

(

)

Dari grafik hubungan

dan

, diperoleh nilai

- Penurunan konsolidasi pada lapisan I

Tambahan tekanan :

- Penurunan konsolidasi pada lapisan II

'


Tambahan tekanan :

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


- Penurunan konsolidasi pada lapisan III

'


Tambahan tekanan :

Total Penurunan pondasi A-B : 4.6527 mm
Total Penurunan pondasi D-E : 4.1887 mm
Total Penurunan pondasi C : 6.3 mm
Total Penurunan pondasi F: 7.08 mm
Jadi, Differencial settlement = 7.08 – 4.1887 = 2.891 < 25 mm ...  “OK”
Jenis Bangunan Penurunan maksimum
Bangunan umum 25,4 mm
Bangunan pabrik 38,1 mm
Gudang 50,4 mm
Pondasi mesin 0,5 mm
Sumber : Internet (http/www.script/pondasi-dangkal.htm)



Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

3.3. Menghitung penulangan
1. Pondasi gabungan kolom A dan B






















'

 Kontrol terhadap tegangan geser satu arah

'

Gambar 3.11 Perencanaan tulangan pada pondasi gabungan A dan B
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

*

+

*

+





[

]

[ ]

(

)
(

)
……........OK!!

 Kontrol terhadap tegangan geser dua arah






[

] [

]
[

] [

]

[ ] [ ]
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


-

(

) (


)

(

)

-

(

)


(

)

-



……........OK!!

 Perhitungan tulangan lentur pondasi

'

*

+

*

+




*

+


*

+

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

[ ]

[ ]

…………….OK!

' ( √

)
' (

)

Untuk (SNI 03 – 2847 – 2002, pasal 12.5.1)

Dipilih nilai As yang terbesar, maka As = 2105.836 mm
2

Jumlah tulangan :

Jarak antar tulangan :

'







Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Syarat :
 S




 Tulangan susut pondasi

Karena pondasi gabungan, maka jumlah tulangan yang digunakan = 6 x 2 = 12

'





Dimana untuk satu kolom :

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

2. Pondasi telapak tunggal kolom C













'

 Kontrol terhadap tegangan geser satu arah

'

Gambar 3.12 Perencanaan tulangan di titik C
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

*

+

*

+





[

]

[ ]

(

)
(

)
……........OK!!

 Kontrol terhadap tegangan geser dua arah






[

] [

]
[

] [

]

[ ] [ ]


Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


-

(

) (


)

(

)

-

(

)


(

)

-



……........OK!!

 Perhitungan tulangan lentur pondasi

'

*

+

*

+




*

+


*

+

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

[ ]

[ ]

…………….OK!

' ( √

)
' (

)

Untuk (SNI 03 – 2847 – 2002, pasal 12.5.1)

Dipilih nilai As yang terbesar, maka As = 2626.18 mm
2

Jumlah tulangan :

Jarak antar tulangan :

'






Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Syarat :
 S




 Tulangan susut pondasi

'





















Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

3. Pondasi gabungan kolom D dan E






















'

 Kontrol terhadap tegangan geser satu arah

'

Gambar 3.13 Perencanaan tulangan pada pondasi gabungan D dan E
4
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

*

+

*

+





[

]

[ ]

(

)
(

)
……........OK!!

 Kontrol terhadap tegangan geser dua arah






[

] [

]
[

] [

]

[ ] [ ]
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


-

(

) (


)

(

)

-

(

)


(

)

-



……........OK!!

 Perhitungan tulangan lentur pondasi

'

*

+

*

+




*

+


*

+

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

[ ]

[ ]

…………….OK!

' ( √

)
' (




)

Untuk (SNI 03 – 2847 – 2002, pasal 12.5.1)

Dipilih nilai As yang terbesar, maka As = 1995.319 mm
2

Jumlah tulangan :

Jarak antar tulangan :

'







Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Syarat :
 S




 Tulangan susut pondasi

Karena pondasi gabungan, maka jumlah tulangan yang digunakan = 6 x 2 = 12

'





Dimana untuk satu kolom :

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

4. Pondasi telapak tunggal kolom F













'

 Kontrol terhadap tegangan geser satu arah

'

Gambar 3.14 Perencanaan tulangan di titik F
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

*

+

*

+





[

]

[ ]

(

)
(

)
……........OK!!

 Kontrol terhadap tegangan geser dua arah






[

] [

]
[

] [

]

[ ] [ ]


Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


-

(

) (


)

(

)

-

(

)


(

)

-



……........OK!!

 Perhitungan tulangan lentur pondasi

'

*

+

*

+




*

+


*

+

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

[ ]

[ ]

…………….OK!

' ( √

)
' (




)

Untuk (SNI 03 – 2847 – 2002, pasal 12.5.1)

Dipilih nilai As yang terbesar, maka As = 2604.085 mm
2

Jumlah tulangan :

Jarak antar tulangan :

'






Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Syarat :
 S




 Tulangan susut pondasi

'




















Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

BAB IV
DINDING PENAHAN TANAH
4.1. Menghitung dimensi dinding penahan tanah


Diketahui data – data berikut :
q = 20 kN/m
3

H
tot
= 7.5 m (asumsi)
z = 2 m (asumsi kedalaman tanah pasif)
B = 0.5 – 0.7H
tot
= digunakan 0.7H
tot
= 5.25 m
b
3
=

b
2
= 0.1 H
tot
= 0.75 m h
1
= 2.62 m
b
1
= B – b
3
– b
2
= 2.75 m h
2
= 4.88 m
a = 0.3 d = 0.75 m
Lapisan 1 : Lapisan back fill : Material beton :


Gambar 4.1 Perencanaan dimensi dinding penahan tanah
3
2
2 . 17
45
7
m kN
m kN c
=
=
° =
¸
|
3
2
17
30
30
m kN
m kN c
cut
=
=
° =
¸
|
3
24
400
25
m kN
Mpa f y
Mpa f c
concrete
=
=
=
¸
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

a. Menghitung luas (A)
-

-

-

-

-

-

b. Menghitung berat (w)
-

-

-

-

-

-

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

c. Menghitung jarak titik berat / moment arm (x)
-

-

-

-

-

-

d. Menghitung momen (M)
-

-

-

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

-

-

-

e. Menghitung tekanan lateral dengan cara Rankine






-

-

-

(

)

Pa
5

Pa
1

Pa
3 B

Gambar 4.2 Distribusi tekanan metode Rankine
Pa
2

Pa
3 A

Pa
4

Pada soal nilai | awal = 10⁰ tidak bisa
digunakan, karena terlalu kecil.
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

-

-

(

)



f. Tekanan pada tanah pasif

(

)

(

)

(

) (

)

( √ )

 Checking of wall against overtuning

(

)

(

) (

)

……….OK!!




Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

 Checking of wall against sliding

(

) (

)

…………….OK!!!

 Checking of wall against bearing capacity
q
1
= q
max

q
2
= q
min
+ (

.(

-

)
Mencari nilai q maks dengan persamaan Hansen
Xe =

- ∑



-

Cek eksentrisitas e =

=

-

=

…………….OK!!!

:
q
maks
=

(

)
=

(

)
= 163.69 kN/m
2

q
min
=

(

)
=

(

)
= 39.64 kN/m
2

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

4.2. Menghitung penulangan dinding penahan tanah












Gambar 4.3 Sketsa penulangan dinding penahan tanah
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


 Menghitung Momen Maksimum
1.









Ra. 6,75 – (80 . 6,75) . (6,75 /2) = 0
Ra = Rb = 270 kN

- ½ . L
Mc = 270. (

) – (80.

) . (

)
= 455,625 kN.m

- 1/3 . L 1/3 dari 6,75 dari kanan
M
D
= 270. (

) – (80.

) . (

)
= 405 kN.m

2.




Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09



Ra. 6,75 – (31,484. 6,75) . (6,75/2) = 0
Ra = Rb = 106,260 kN

- ½ . L
Mc = 106,260. (

) – (31,484.

) . (

)
= 179,315 kN.m

- 1/3 . L 1/3 dari 6,75 dari kanan
M
D
`= 106,260. (

) – (31,484.

) . (

)
= 159,391 kN.m

3.







R1 =

= 549,598 kN
Ra =

= 119,201 kN
Rb = R1 – Ra = 430,396 kN



Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09








- ½L
X = ( 6/2 . 2,62 ) = 1,13

qx = 52,157 kN/m
Rx = ½. qx. x
= ½. 52,157. 1,13
= 29,468 kN
Mc = 119,201 (6/2) – (29,468. 1/3 . 1,13)
= 435,906 kNm

- 1/3 . L 1/3 dari 1,14 dari kanan







X = ( 2/3 . 1,14) = 3,253

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

qx = 255,813 kN/m
Rx = ½. qx. x
= ½. 255,813.3,253
= 415,746 kN
M
D
= 202,884 (2,62 + 2/3. 4,13) – (255,813 1/3 . 3,253)
= 740,753 kNm

4.







R1 =

= 44,245 kN
Ra =

= 9,596 kN
Rb = R1 – Ra = 34,649 kN

- ½ . L






X = ( 6/2 . 4,13 ) = 1,13

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

qx = 4,198 kN/m
Rx = ½. qx. x
= ½. 4,198. 1,13 = 2,372 kN
Mc = 9,596(6/2) – (2,372. 1/3 . 1,13)
= 35,092 kNm

- 1/3 . L 1/3 dari 4,13 m dari kanan








X = ( 2/3 . 4,88) = 3,253

qx = 12,088 kN/m
Rx = ½. qx. x
= ½.12,088. 3,253
= 19,664 kN
M
D
=9,596.(2,62 + 2/3. 4,88) – (19,664. 1/3 . 3,253)
= 35,037 kNm






Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09





























Mu di ½ L
= 455,625+179,315+ 435,906+ 35,092
= 1105,94 kNm

Mu di 1/3 L
= 405+ 159,391+ 435,218+ 35,037
= 1034,647 kNm

Momen maksimum = 1034,647 kNm

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Mencari base half
Momen maksimum = 1105.940 kNm
d
eff
= b
3
– selimut beton
= 750 – 50
= 700 mm
Keperluan rasio baja
Rn =

2.507

min
=

0,0035

perlu
= 0,85 .

. [ √

]
= 0,85 .

. [ √


]
=0.006 >
min…………..
maka digunakan
perlu

As =
= 0,006 . 1000 . 700
= 4683.568 mm
2

Menggunakan 2 :
Asd = ¼ .

. 2
= 1608,5 mm
2
Banyaknya tulangan :
n =

2.911
Spasi tulangan :
=

475,000

Mencari a half top
Mu = 2/3 . Mu maks
= 2/3 . 1105.940
= 737.293 kN.m
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Deff = 300 + [ ]
= 525 mm
Keperluan Rasio baja
Rn =

2.972

min
=

0,0035

perlu
= 0,85 .

. [ √

]
= 0,85 .

. [ √


]
= 0,008 >
min…………..
maka digunakan
perlu

As =
= 0,008 . 1000 . 450
= 4220.324 mm
2

Karena tulangan a half top dan base half sama-sama berada di tulangan beban dan
letaknya pun sama, maka untuk mencari banyaknya tulangan digunakan As yang
terbesar yaitu As yang berada di base half sebesar 4683.568 mm
2












Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Mencari distribusi steel bar di penulangan badan

deff = 750 – cover
= 750 – 50
= 700 mm

Untuk distribution steel bar , jika fy
Maka Ah min = 0,0025 . l . d
= 0,0025 . 1000 .700
= 1750 mm
2

As = Ah min = 1750 mm
2

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Menggunakan diameter tulangan D-14
Asd = ¼ .

= ¼ .

= 153,94 mm
2
Banyaknya tulangan :
n =

11,3682102
Spasi tulangan :
S =

86,363636
Maka tulangan distribusi steel bar di penulangan badan dibutuhkan D14 – 90 mm
Mencari tulangan shrinkage steel bar
Fy = 400 MPa
l = 1000 mm
deff = l – cover
= 1000 – 50
= 950 mm
Ah min = 0,0018 . l . d
= 0,0018 . 1000 . 950
= 1710 mm
2

Menggunakan diameter tulangan D-25
Asd = ¼ .

= ¼ .

= 490,87 mm
2

Banyaknya tulangan :
n =

Spasi tulangan :
=

Maka tulangan shrinkage steel bar pada tulangan badan dibutuhkan D25 – 315 mm
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Menghitung tulangan di telapak
- Heel steel bar

hs =

Vu = 1,2 ( B
2
. Hh
1
.
= 1,2 (2.75 . 6.75 . 17+ 2.75 . 0,75. 24) + 1,6 (2.75 . 1,176 . 17)
= 526.075 kN/1m
Mencari momen ultimate
Mu = Vu .

.

1775.503

Keperluan rasio baja
deff = H
2
– tebal selimut
= 750 – 50
= 700 mm
Rn =

4,026

min
=

0,0035
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

perlu
= 0,85 .

. [- √-

]
= 0,85 .

. [ √


]
= 0,0112 >
min…………..
maka digunakan
perlu

As =
=0,0112. 1000 . 700
= 7880.672 mm
2

Menggunakan diameter tulangan D-32
Asd = ¼ .

= ¼ .

= 804,248 mm
2

Banyaknya tulangan :
n =

9.798
Spasi tulangan :
S =
-
-

-
-


= 0,75 . 0,17 . MPa .√

= 0,75 . 0,17 . MPa .√

*--

+
= 0,75 . 0,17 . √ *

+
= 556,45 kN/1m
> Vu , maka tidak memerlukan tulangan geser

Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Mencari distribution steel di tulangan heel
Sketsa penulangan

Av min = 0,0015 . l . d
= 0,0015 . 1000 . 700
= 1050 mm
2
Menggunakan diameter tulangan D-14
Asd = ¼ .

= ¼ .

= 153,938 mm
2
Banyaknya tulangan :
n =

6,82092613
Spasi tulangan :
S =
-
-

-
-
158,333333




Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

- Toe Steelbar

q
1
= q
max

q
2
= q
min
+ (

.(

-

)
Vu = 1,6 . (

) (-)- (-)
Mencari nilai q maks dengan persamaan Hansen :
Xe =

- ∑



-

Cek eksentrisitas e =

=

-

=

…………….OK!!!





Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

:
q
maks
=

(

)
=

(

)
= 163.69 kN/m
2

q
min
=

(

)
=

(

)
= 39.64 kN/m
2

Maka :
q2 = q
min
+ (

.(

-

)
= 42.757 + (
(– )

)
= 104.618 KN/1m

Vu = 1,6 . (

) (

- )- (

- )
= 1,6 . (
.

) (-) - (-)
= 40.492 kN/1m

Mu = 1,6 * (

- )-

(

- )
(

- )-

+ - * - (
(

- )

)+
= 1,6* (-)-

(-)
(-) -.

+
- * - (
(-)

)+
= 415.65 kN/1m



Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

deff = d – cover
= 750 – 50
= 700 m
Rn =

min
=

0,0035

perlu
= 0,85 .

. [ √

]
= 0,85 .

. [ √


]
= 0,00241 <
min…………..
maka digunakan
min

As =
= 0,00241. 1000 . 700
= 2450 mm
2

Menggunakan diameter tulangan D-16
Asd = ¼ .

= ¼ .

= 201,06 mm
2
Banyaknya tulangan :
n =

12,185
Spasi tulangan :
S =

79,1667



Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

Mencari Distribusi Steel di Tulangan Toe
l = 1000 mm
fy
d = 0,6 – cover
= 750 – 50
= 700 mm
Av min = 0,0015 . l . d
= 0,0015 . 1000 . 700
= 1050 mm
2
Menggunakan diameter tulangan D-14
Asd = ¼ .

= ¼ .

= 153,938 mm
2

Banyaknya tulangan :
n =

6,820
Spasi tulangan :
S =
-
-

-
-
158,333







Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09

BAB V
KESIMPULAN
1. PONDASI DANGKAL
 Pondasi Gabungan A-B
Df = 3 m
L = 4.60 m
B = 1,30 m
Total Penurunan = 4.6527 mm
Dimensi kolom = 30 X 30 cm
Tulangan memanjang = 12 D10-200
Tulangan melintang = 6 D22-220

 Pondasi Gabungan D-E
Df = 3 m
L = 4.80 m
B = 1,34 m
Total Penurunan = 4.1887 mm
Dimensi kolom = 30 X 30 cm
Tulangan memanjang = 12 D10-210
Tulangan melintang = 6 D22-230

 Pondasi Setempat C
Df = 2 m
L = 2 m
B = 2 m
Total Penurunan = 6.3 mm
Dimensi kolom = 30 X 30 cm
Tulangan susut = 8 D10-270
Tulangan melintang = 7 D22-310

 Pondasi Setempat F
Df = 2 m
L = 2 m
B = 2 m
Total Penurunan = 7.08 mm
Dimensi kolom = 30 X 30 cm
Tulangan susut = 8 D10-270
Tulangan melintang = 7 D22-310
Rekayasa Pondasi I 2011

Kelompok 3 kelas A - 09


2. DINDING PENAHAN
H = 7.5 meter
B = 5.25 meter

 Penulangan Pada Badan Dinding Penahan
Distribution steel bar = 12 D14-90
Upper stem wall steel bar = 3 D32-300
Shrinkage steel bar = 4 D25-315

 Penulangan Pada Telapak Dinding Penahan
Distribution steel bar = 7 D14-160
Heel steel bar = 10 D32-95
Toe steel bar = 13 D16-80



You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->