Anda di halaman 1dari 2

Kewajiban Perpajakan Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu (WP OPPT)

Submitted by Mas Ahmad on Saturday, 11 Jun 2011 Warning : Artikel atau peraturan pajak ini dipublish beberapa saat/ waktu yang lalu sehingga mungkin saja saat ini sudah tidak relevan lagi, karena sifat pajak yang dinamis.

Jika Anda mempunyai sebuah toko swalayan/ retail kecil bisa jadi Anda adalah termasuk Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu atau yang lebih dikenal dengan WP OP PT ( Pengusaha Tertentu ) yang mengharuskan Anda memiliki NPWP.

APA YANG YANG DIMAKSUD DENGAN WP OP PENGUSAHA TERTENTU ?

Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu adalah Wajib Pajak orang pribadi yang melakukan kegiatan usaha sebagai Pedagang Pengecer yang mempunyai 1 (satu) atau lebih tempat usaha. Pengertian Pedagang Pengecer sendiri adalah orang pribadi yang melakukan: a. penjualan barang baik secara grosir maupun eceran; dan/atau b. penyerahan jasa, melalui suatu tempat usaha.

KEWAJIBAN PERPAJAKAN WP OP PENGUSAHA TERTENTU

a. Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu wajib mendaftarkan diri untuk memperoleh Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) bagi setiap tempat usaha di Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat usaha tersebut dan di Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal Wajib Pajak. Hal ini berlaku juga jika tempat usaha dan tempat tinggal Wajib Pajak Orang Pribadi Pengusaha Tertentu berada dalam wilayah kerja Kantor Pelayanan Pajak yang sama.

b. Membayar angsuran PPh Pasal 25 yang besarnya adalah 0,75% (nol koma tujuh puluh lima persen) dari jumlah peredaran bruto setiap bulan dari masing-masing tempat usaha. Pembayaran ini dilakukan melalui Bank Persepsi atau Bank Devisa Persepsi atau Kantor Pos Persepsi dengan menggunakan Surat Setoran Pajak (SSP) dengan mencantumkan NPWP. Jika SSP ini sudah mendapat validasi dengan Nomor Transaksi Penerimaan Negara (NTPN) maka WP dianggap telah melaporkan PPh Pasal 25 ke KPP. c. Apabila hasil penghitungan angsuran PPh Pasal 25 adalah NIHIL, maka tetap harus menyampaikan Surat Pemberitahuan Masa Pajak Penghasilan Pasal 25. d. Menyampaikan SPT (Surat Pemberitahuan) Tahunan Pajak Penghasilan dengan melampirkan daftar jumlah penghasilan dan pembayaran Pajak Penghasilan Pasal 25 dari masing-masing tempat usaha ke Kantor Pelayanan Pajak dengan menggunakan formulir khusus seperti pada lampiran PER - 32/PJ/2010

CONTOH WP OP PENGUSAHA TERTENTU

Seorang pengusaha mempunyai 2 tempat usaha perdagangan, masing-masing di kota A dan di kota B. Masing-masing omset/ peredaran bruto usaha pada bulan Juni 2011 adalah sebagai berikut : KOTA A : 400 Juta KOTA B : 500 Juta Maka aspek perpajakannya dalam hubungannya dengan WP OP Pengusaha Tertentu adalah sebagai berikut : a. Masing-masing tempat usaha tersebut harus memiliki NPWP sesuai dengan wilayah kerja masing-masing tempat usaha tersebut. b. Membayar angsuran PPh Pasal 25 setiap bulan atas masing-masing tempat usaha, dalam contoh tersebut angsuran pasal 25 untuk bulan Juni 2011 adalah : Kota A = 0.75% x 400 jt= Rp 3 juta, Kota B= 0.75% x 500 juta = 3.75 juta. c. Melaporkan SSP tersebut ke KPP jika belum mendapat validasi NTPN dari bank. d. Melaporkannya seluruh peredaran usaha masing-masing tempat usaha di SPT Tahunan PPh OP